I Will Try Part 2

0
ff nc donghae I will try
Tittle : I Will Try [ Part 2 ]
Author :
Cast : Lee Dong Hae | Lee Hyuk Jae | Moon Hyo Reen | Hyo Rim
Genre : Romance, AU, Chapter
Rate : PG – 17+

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.

Cinta adalah kesesuaian jiwa.~ Kahlil Gibran

Sinar mentari pagi mengintip malu-malu di ufuk timur,  memberi kehangatan secara perlahan dengan cahayanya, orang-orang menyambut suka cita datangnya pagi ini, memulai aktifitasnya sehari-hari seperti biasa, pergi berkebun.

Di sebuah desa, sebut saja namanya Daehanri Wachonmyun, berada di  provinsi Gyeongsang Utara, sebagian besar lahan desa tersebut di dominasi oleh bukit-bukit luas yang ditanami bunga mawar, orang sekitar biasa menyebutnya kebun Skylake, sedangkan dunia punya julukan tersendiri untuk tempat tersebut yaitu ‘Cleopatra Rose’.  Keindahan lahan luas yang di dominasi bunga mawar di tempat ini sangatlah mengaggumkan, kalian juga harus mencoba  pergi kesana jika ingin menambah suatu pengalaman, disana, siapapun bisa melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan produk-produk kecantikan yang bahan dasarnya berasal dari kelopak bunga mawar.

Rumah produksi kosmetik tradisional yang berasal dari daerah tersebut cukup dikenal sebagian besar masyarakat Korea Selatan. Bunga-bunga mawar yang telah dipetik bukan hanya digunakan untuk rangkaian buket bunga, melainkan untuk diolah dan dijadikan berbagai macam produk kosmetik, salah satunya adalah Lip Gloss.

Kesunyian masih melingkupi salah satu rumah sederhana yang berada tidak jauh dari lahan-lahan bunga mawar tersebut. Seorang gadis dengan mata almond, menyandarkan tubuhnya pada pembatas pintu, menatap pemandangan menggelikan di depannya, senyum remeh tak sampai ke mata menghiasi wajahnya, melihat dua orang pria yang kini  tertidur lelap, masih bergelung  dengan futon di atas lantai.  Gadis itu membuang nafas kasar, dia kesal karena semalaman tidak bisa tidur akibat ulah dua orang tamu yang datang tak di undang ke rumah  mereka.

Tidak bisa dipungkiri, sempat terbersit dalam hatinya,  gadis itu ingin sekali kembali menjadi sosoknya yang dulu. Menjadi sorotan dan mendapatkan perhatian public adalah impiannya sejak masih kecil, gadis itu-Moon Hyoreen merindukan dirinya sendiri beserta kesuksesaannya bergelut di dunia hiburan, menjadi orang terkenal membuatnya tidak perlu bersusah payah dan kesulitan untuk mendapatkan uang, tidak seperti saat ini, dia harus rela bekerja ekstra hanya untuk mendapatkan uang berlebih itupun hanya cukup untuk menghidupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Tapi sayangnya di sisi lain sudut hatinya, gadis itu dia menanamkan keyakinan bahwa dunia yang dulu pernah dia arungi adalah tempat mengerikan yang hanya akan menenggelamkan tubuhnya secara perlahan-lahan, dunia tersebut tak ubahnya seperti neraka, penuh dusta dan kepalsuan, dan Hyoreen sangat membenci kenyataan itu. saat itu Hyoreen masih mengingat dengan jelas malam terakhir saat mereka memutuskan ingin meninggalkan semuanya, meninggalkan apa yang sudah mereka miliki selama bertahun-tahun, semua itu tidaklah berguna jika hati mereka terasa seperti disayat.

Reen~ah, kita mau kemana? Apa yang harus kita lakukan sekarang? saat itu  Hyorim sedang menangis, gadis itu memang tidak sekuat Hyoreen, dia bingung, tidak tau mereka akan pergi kemana setelah meninggalkan tempat ini.

Entahlah, kita harus pergi dari tempat ini sebelum besok pagi. Cepatlah berkemas. Hanya satu yang Hyo Reen yakini, pergi dari tempat itu secepatnya. Membungkam mulutnya rapat-rapat tidak ingin menunjukkan pada dunia seberapa besar kesedihannya saat itu. Hingga sebelum fajar menyingsing dua bersaudara tersebut telah meninggalkan rumah besar yang sudah mereka tempati selama hidup mereka. Rumah yang penuh dengan kenangan kedua orang tuanya dan masa kecil mereka.

Suara erangan menyadarkan lamunan Hyoreen,  membuatnya menoleh pada sumber suara yang berasal dari pria itu, Lee Donghae menggeliat dalam tidurnya, perlahan-lahan kelopak matanya terbuka, menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Tanpa berbasa basi, Hyoreen menyuarakan pertanyaannya. “apa semalam tidurmu nyenyak Tuan Lee?” lebih pada sebuah sindiran, seorang Lee Donghae tidur hanya dengan ber-alaskan futon, berani bertaruh pria itu pasti merasakan sakit di seluruh tubuhnya.

Donghae sudah bangun dari posisinya, sedangkan temannya- Eunhyuk masih tetap setia berlayar di alam mimpinya, mungkin pria itu sangat kelelahan akibat perjalanan mereka seharian penuh. Mata sayu khas bangun tidur milik Donghae, menatap gadis yang kini sedang berdiri menyandarkan tubuhnya pada pembatas pintu ruang tengah yang menjadi  tempatnya tidur semalam. “tentu saja Nona Moon. Bahkan sangat nyeyak.” Jawab Donghae dengan senyuman tipis yang terkembang pada wajah tampanya, sedetik Hyoreen merasa silau dengan senyum pria tersebut.

Yah, kali ini Lee Donghae memang berkata jujur. Tidak pernah sekalipun selama puluhan tahun bersama kesuksesannya, merasakan tidur nyenyak seperti semalam, karena hari-harinya hanya di penuhidengan kegiatan super padat yang menguras banyak tenaganya. sedangkan saat ini dia merasa seperti pulang kerumahnya sendiri, meskipun tanpa kasur empuk dan hanya berlapiskan futon dan selimut seadanya, hal itu saja sudah membuatnya sangat nyaman.

Donghae tidak mengalihkan pandangannya pada Hyoreen, sedangkan gadis itu terlihat gelisah di tempatnya, bola matanya menatap ke sekeliling, tidak fokus, seperti sedang berusaha keras menghindari tatapan pria itu.

Dalam hati Donghae mengakui, meskipun semalam  sempat kecewa melihat respon dan pengusiran yang dilakukan oleh gadis di hadapannya ini, namun dia juga bersyukur karena sang malaikat baik hati ‘Hyorim’ mau membujuk saudara setannya itu agar memberi tumpangan tidur untuk mereka hanya semalam saja.

Pengusiran yang sempat dilakukan gadis itu, tidak membuatnya terpengaruh, bahkan sebelum terlelap dalam tidurnya, Donghae menyempatkan diri memikirkan, bagaimana cara, agar bisa membujuk gadis itu.

Rasa percaya dirinya justru semakin bertambah, akibat dari rasa penasaran yang dia miliki pada Hyoreen. Alasan itulah yang membuat Lee Donghae memutuskan tidak akan menyerah, sebelum berhasil mendapatkan gadis itu dan saudaranya, mendapatkan bukan dalam definisi lain, arti mendapatkan disini adalah membawanya kembali ke Seoul untuk membintangi project drama terbarunya.

“Tsk! apa kalian tidak malu pada matahari yang sudah meninggi di luar sana? bangunkan dulu temanmu! dan cepat pergi dari rumah kami!,” Tegas dan dingin, mulut Donghae bungkam mendengar pernyataan tak terbantahkan tersebut. Gadis itu melenggang pergi meninggalkan Donghae yang masih ternganga di tempatnya. Ucapan sinis gadis itu benar-benar membuat tubuhnya terasa kaku. Lihatlah! ini merupakan pengusiran kedua secara terang-terangan dari gadis tanpa perasaan itu, nyaris saja rahang Donghae akan jatuh ke lantai  jika Eunhyuk tidak menepuk pundaknya.

“Kita lihat saja Hyoreen~ssi, tidak semudah itu mengusirku. Tidak akan ku biarkan kedatanganku jauh-jauh kesini, pulang membawa tangan kosong. Tidak akan!” gumamnya lirih, namun masih bisa didengar Eunhyuk yang sedang duduk di sampingnya, pria itu sedang sibuk menggeliatkan otot-otot kaku tubuhnya yang terasa sangat pegal. Eunhyuk mengumpat dalam hati, semua ini karena Lee Donghae, pria itu harus membayar mahal dirinya atas penderitaan ini.
.

Moon Hyorim keluar dari kamar dengan senyum cerah menghiasi wajahnya, akibat semalam dia mendapatkan kejutkan menyenangkan karena kedatangan Lee Donghae yang tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya.  Pria yang diam-diam mencuri hatinya tersebut mampu membuat pagi ini sedikit terasa berbeda. Letupan-letupan bahagia yang membanjiri hatinya, membuat gadis manis itu sedikit melupakan perubahan sikap  menyebalkan dari kembarannya.

“Ah! kalian berdua sudah bangun rupanya.” sapa Hyorim saat pandangannya jatuh pada dua orang pria yang kini masih duduk di atas lantai beralaskan futon tipis. Gadis itu sedikit mengernyitkan kening melihat pemandangan di depannya, merasa tidak enak hati dengan keadaan mereka, Hyorim memutuskan untuk bertanya sekalian, “apa kalian jadi pergi hari ini?” tanya gadis itu dengan suara lirih, takut didengar  Hyoreen, sekaligus karena dia tidak ingin menyinggung mereka. Tapi sepertinya saudaranya itu sudah pergi ke tempat Madam Young.

“Untuk masalah itu kami sedang memikirkannya, emm! bisakah kau membantu kami?” tak perduli dengan wajah bangun tidurnya, Donghae tetap berusaha menguarkan senyum manis pada gadis itu, membuat Eunhyuk yang duduk di sampingnya, mengernyitkan kening akibat perutnya terasa mual karena melihat rayuan gombal Donghae.

“Me- membantu apa?” tanya Hyorim sedikit gugup, jujur dia akan merasa sangat senang jika bisa melakukan sesuatu untuk Lee Donghae, tanpa gadis itu sadari,  detak jantungnya bertabuh dua kali lipat efek dari senyuman Donghae yang sialan.

“Bisakah kau mencarikan kami penginapan disekitar sini. Kami hanya ingin menikmati pemandangan desa ini dalam waktu beberapa hari, selagi kami sedang libur, sayang sekali jika kami pulang begitu saja tanpa melihat keindahan alam di sekita desa ini, udara Seoul membuat sistem pernafasan kami sedikit tercemar akibat banyaknya polusi.” Jelas Donghae panjang lebar berusaha meyakinkan Hyorim yang terlihat sedikit bingung.

“Hae~ya, kita tidak jadi kem….. auch!” belum sempat  Eunhyuk melanjutkan kalimatnya, rasa nyeri di kaki lebih mendominasi membuatnya berteriak kesakitan.  Semua itu akibat injakan dahsyat kaki Donghae yang menekan kakinya secara tidak manusiawi.

Donghae hanya tersenyum simpul saat Hyorim menolehkan kepalanya mendengar teriakan Eunhyuk, sementara Eunhyuk tersenyum canggung merasa bodoh karena diperlakukan Donghae seperti itu. Lagi-lagi pria itu mengutuk dalam hati, bersumpah akan membuat Lee Donghae membayar semua penderitaannya di tempat ini.

“Ah, itu. Disini hanya ada satu tempat yang menyewakan kamarnya.” jawab Hyorim seraya mengingat-ingat sesuatu.

“Bisakah kau mengantar kami?”

Donghae hanya menunjukkan sikap manis dan senyum simpul miliknya yang membuat Hyorim semakin terpesona melihatnya, gadis itu hanya bisa mengangggukkan kepala. Dalam hati Donghae tersenyum penuh kemenangan, satu langkah sudah dilewatinya, membuat Eunhyuk bergidik ngeri melihat perubahan sikap Lee Donghae.

***

“Hyorim~ssi.”

“Ne, wae?” Hyorim membalikkan tubuhnya kebelakang saat suara Donghae memangil namanya. Lagi-lagi, gadis itu memamerkan senyum termanis miliknya, tapi sayangnya bukan Donghae yang terpesona dengan senyuman itu, melainkan justru Eunhyuk yang sejak tadi hanya diam dengan mata tak berkedip, Eunhyuk mengumpat dalam hati, apa yang salah dengan senyum gadis itu? kenapa detak jantungnya menjadi tidak karuan.

Mereka bertiga sedang berjalan  menuju ke sebuah penginapan yang berjarak kurang lebih 800 meter dari rumah si kembar. Kali ini Hyorim beralih tugas menjadi pemandu bagi dua pria tersebut. Gadis itu berjalan di depan meraka. Sepertinya Hyorim akan terlambat datang ketempat kerjanya pagi ini. Namun tidak nampak sedikitpun  raut khawatir pada wajah  gadis itu, tentu saja ada alasanya, Hyorim tidak pernah mempermasalahkan keterlambatannya, karena seperti biasa Hyoreen yang selalu datang rajin akan memberikan alasan yang tepat atas keterlambatannya pada madam Young, membuatnya bebas dari hukuman maupun pemotongan gaji.

“Emmb! jika boleh tahu. selama kalian disini, kalian bekerja dimana?” Donghae menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pria itu sedikit tidak enak menanyakan hal pribadi tersebut, tapi rasa penasaranlah yang membuatnya terpaksa harus bertanya. Keduanya masih berjalan mengekor di belakang Hyorim.

“Ah! itu, jadi begini, setiap senin sampai rabu kami membantu memetik bunga mawar di kebun paman Go, sementara sisanya bekerja di tempat Madam Young bersama warga lain mengolah bunga mawar untuk di jadikan Lip gloss.”  Hyorim menjelaskan dengan senyum lebar yang terus merekah di kedua sudut bibirnya namun sayangnya dua pria itu tidak bisa lagi melihat senyum itu karena Hyorim berbicara sambil berjalan membelakangi mereka.

“Owh! jadi kalian berdua setiap hari bekerja bersama.” Tak ingin melewatkan moment langka, Eunhyuk berjalan menyamai langkah Hyorim, meninggalkan Donghae sendiri di belakang mereka.

“Ne, tapi Hyoreen setelah pulang berkebun dan dari Madam Young biasanya membantu menjaga minimarket di ujung jalan sana.” Telunjuk  Hyorim mengarah pada minimarket sederhana yang terdapat di seberang jalan,  hanya berjarak 500 meter dari tempat mereka saat ini.

“Mwo?!” seru Donghae dan Eunhyuk bersamaan. “Jadi setiap hari gadis itu bekerja mulai pagi hingga larut malam?” Eunhyuk yang sedikit tidak percaya, ingin memperjelas penuturan Hyorim barusan. Pria itu menggelengkan kepalanya takjub, mana ada  gadis muda setangguh itu, bekerja siang dan malam, Ya Tuhan! hanya membayangkannya saja membuat tubuh Eunhyuk serasa diperas.

Sedangkan dalam diamnya, Donghae mengagumi sifat Hyoreen yang pekerja keras dan terlihat selalu kuat, hal itulah yang membuatnya semakin penasaran.  Adakah kelemahan tersembunyi pada diri gadis itu? Donghae sangat ingin tau.

“Ah! kenapa aku jadi  berbicara yang tidak – tidak pada kalian!” tiba-tiba saja Hyorim menghentikan langkahnya, membuat Donghae dan Eunhyuk yang berdiri dibelakangnya menahan nafas dalam diam, mereka berfikir gadis itu akan marah karena meraka berani bertanya macam-macam padanya.

Gadis itu membalikan tubuhnya dengan cepat, diluar dugaan, Hyorim justru menguarkan senyum tulusnya seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “maaf, aku hanya bisa mengantar kalian sampai di sini.” ujar Hyorim merasa tidak enak.

“Itu bukan masalah, kami tidak akan tersesat, kau tunjukkan saja tempatnya.” jawab Eunhyuk penuh percaya diri.

“Nanti kalian tinggal jalan saja lurus ke arah sana,” telunjuk Hyorim mengarah pada sebuang gang kecil yang berada di ujung jalan.”setelah itu di ujung belokan terakhir, kalian akan menemukan beberapa rumah yang di sewakan untuk beristirahat.” jelas Hyorim panjang lebar, memberi arahan pada dua pria tersebut.

“Baiklah, kami mengerti, khamsamnida Hyorim~ssi.” Donghae membungkukkan sedikit tubuhnya, memberi salam pada Hyorim sebagai tanda ucapan terimakasih, di ikuti oleh Eunhyuk.

“Ne. Cheonma. Annyeong!.” pamit Hyorim, seraya berjalan pergi meninggalkan mereka berdua di depan sebuah halte bus yang terlihat sepi di desa itu. Memang jarang sekali penduduk yang menggunakan angkutan umum, keseharian mereka hanyalah menghabiskan waktunya di kebun.

Setelah itu keduanya kompak melangkahkan kaki secara beriringan sesuai instruksi yang di berikan Hyorim tadi,  “Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Tanya Eunhyuk mulai membuka suara. “Mengapa wajahmu terlihat sangat santai pagi ini, padahal semalam aku melihatnya dengan jelas, kau terlihat sangat takut saat gadis itu tidak mau memberikan tumpangan tidur untuk kita.” tanya Eunhyuk seraya menjabarkan semua spekulasi yang menggantung di dalam otaknya.

“Apa kau ingin, semalam kita tidur di jalanan hach! Ahh, sudahlah, diam dan ikuti saja. Nanti akan aku jelaskan.” dengan tidak acuhnya, Donghae mengabaikan semua pertannyaan Eunhyuk, pria itu justru berjalan semakin cepat meninggalkan sahabatnya.

“Yak! Aku tidak mau membantumu, aku akan pulang sekarang.” Teriak Eunhyuk lantang di belakang tubuh Donghae, pria itu tidak terima Donghae berjalan lebih dulu meninggalkannya.

“Baiklah! kau pulang saja. Tapi ingat, saat kau sampai di Seoul nanti, aku pastikan Sora Noona akan mencincangmu hidup-hidup Lee-Hyuk-Jae.!!” Ancam Donghae dengan penuh penekanan di setiap  kata nama Eunhyuk.

“Yak! sialan kau! Lee Donghae-ikan!!! Berani sekali saja kau bicara pada noonaku, akan ku pastikan tubuhmu tergantung indah di namsan, ingat itu!.” Eunhyuk berteriak emosi mendengar ancaman Donghae. “Seharusnya aku tidak memberi tahumu lagi tentang video dan majalah porno yang masih aku sembunyikan sampai saat ini, kalau tahu, kau hanya akan mengancamku seperti ini.” Lanjut Eunhyuk dengan nada frustasi seraya mengacak rambutnya gusar.

Bukan menjadi masalah jika hal itu diketahui semua orang saat dulu dia masih bersama Super Junior, hampir jutaan ribu fansnya memang mengetahui jika Eunhyuk mengoleksi barang berharga tersebut. Tapi berbeda cerita jika saat ini hal itu di ketahui orang lain apalagi keluarga bahkan noonanya yang terkenal sangat seram jika sudah marah, bisa dipastikan Eunhyuk akan tamat saat itu juga, mengingat dia sudah berjanji akan berubah tidak menyimpan hal-hal berbau porno seperti itu lagi.

***

Tepat pukul sepuluh malam, Hyoreen baru akan pulang dari minimarket milik Ahn Halmonie.  Melihat sekeliling jalanan desa yang sudah sepi dan sunyi membuat hatinya terasa nyaman sekaligus sedikit ngeri, jujur Hyoreen adalah tipe gadis yang takut akan kegelapan, Namun secara diam–diam suasana sepi seperti inilah yang tiga tahun belakangan menjadi favoritnya.

Perasaan damai dan tenteram selalu dia rasakan saat berada di tempat ini. karena di sinilah dia bisa bernafas lega, tidak ada lagi orang di dunia ini yang menghujat dan menghakimi keluarga mereka dengan kata-kata kotor yang menjijikan, jika boleh berkata jujur ingin sekali Hyoreen berteriak pada dunia bahwa dia sangat rindu terhadap kedua orang tuanya.

Tanpa di sadari dan tak mampu ditahan, setetetes cairan bening itu lolos begitu saja menerpa pipi mulusnya, tangis dalam diamnya mengiringi langkah gadis itu di sepanjang jalan, perlahan ingatannya kembali berputar saat pertama kali gadis itu bersama saudaranya, menginjakkan kaki di tempat ini,  dalam keterpurukan dan suasana hati yang perih.

Dua gadis itu turun dari bus saat mereka sampai di Provinsi Gyeongsang Utara. Keduanya merasa bingung karena tidak ada lagi tujuan yang mereka datangi selain tempat ini. Hari sudah menjelang malam saat mereka sampai, keduanya hanya bisa berharap semoga tempat yang menjadi tujuan mereka masih bisa di tinggali.

Merasa lega karena bekas rumah orang tua dari ayah mereka yang berada di kawasan Daehanri Wachonmyun, masih berdiri dengan kokoh. Tidak ada uang sepeserpun, hanya berbekal dua koper baju dan beberapa barang berharga yang mugkin nanti berguna, dan mereka telah memutuskan untuk  tinggal disini.

Rumah yang hanya mempunyai dua kamar tanpa alas tidur ini menjadi tempat persinggahan mereka terakhir setelah harta dan aset mereka di tahan dan di sita sebagai bukti korupsi yang dituduhkan kepada ayah mereka. Tidak hanya itu, skandal – skandal yang terjadi di kehidupan merekapun mewarnai perjalanan mereka sampai akhirnya agency mereka memberikan ultimatum dan meminta mereka untuk mengundurkan diri dari tempat mereka bernaung.

Setelah kejadian itu keluarganya hancur, saudara dan teman – tamannya tidak ada yang ingin menolong maupun membantu mereka. Bahkan memberikan tumpangan untuk tidur sekalipun, tidak ada yang peduli. Ibu mereka mengalami gangguan jiwa setelah ayahnya di penjara karena tuduhan yang di alamatkan padanya.

Satu tahun kemudian Tuan Moon di adili dan dihukum mati karena dituduh terbukti bersalah dalam sebuah kasus pembunuhan dan korupsi uang negara. Setelah kematian Tuan Moon, Nyonya Moon yang sedang di rawat di rumah sakit jiwa pun ditemukan tewas bunuh diri dengan memotong urat nadinya di dalam kamar isolasinya.

Hal itulah yang membuat kedua bersaudara ini merasa terguncang dan terpaksa pergi, hidup terasa sangat tidak adil bagi mereka, dengan berat hati keduanya memutuskan untuk berhenti dari dunia yang sudah membesarkan sekaligus menghancurkan nama mereka. Memilih tinggal di tempat yang jauh dan tidak seorangpun yang mengenali.

Setelah dua tahun meninggalkan kota Seoul mereka mendapat kabar bahwa semua skandal, pemberitaan dan kasus tuduhan terhadap ayah mereka hanya sebuah rekayasa yang dilakukan salah satu rival politik sang ayah. Dan kini mereka semua yang telah menyebabkan fitnah tersebut telah mendapatkan hukumannya masing-masing.  Kendati demikian, hal itu tidaklah mengubah apapun, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Itulah yang terjadi, permohonan maaf serta dikembalikannya nama baik mereka tidak membuat kedua orang tuanya kembali bangkit dari kematian. Tidak bisa mengembalikan sakit dan penderitaan yang mereka terima dan alami.

Beberapa agency-pun berlomba – lomba mencari mereka dan mencoba menghubungi mereka untuk bergabung dalam perusahaan mereka, memberikan penawaran yang besa sekaligus sangat menggiurkan bagi setiap artis dan model seperti mereka. Tapi sayangnya, mereka tetap menolak semua itu dan lebih memilih menjalani kehidupan biasa di desa tempat kelahiran sang ayah. Mereka tetap bersembunyi di desa kecil itu, tidak perduli dengan dunia yang sedang membicarakan berbagai macam hangatnya berita tentang mereka.

Hyoreen menengadahkan kepalanya, menghalau air mata yang semakin deras menetes. Kenangan itu bagaikan cambuk penanam luka untuknya, setiap mengingatnya, gadis itu tidak akan berhenti menangis, sebelum seseorang yang dia sayangi datang menenangkannya. Untuk saat ini hanya saudaranya- Hyorim yang bisa melakukan hal itu.

Kenangan-kenangan tersebut seperti mimpi buruk yang  selalu datang di setiap malam yang dia lewati. Bahkan mungkin tanpa dia sadari, hal itu menjadikan guncangan dan trauma tersendiri di dalam dirinya.

Tidak ada yang tau, tanpa gadis itu sadari, dari kejauhan, seseorang sedang mengamati setiap gerak geriknya, orang itu tak lain adalah-Lee Donghae, pria itu saat ini memang lebih cocok di juluki sebagai penguntit, profesi sebagai sutradara sepertinya telah dia tanggalkan begitu saja.

Donghae memang sengaja sejak beberapa jam yang lalu, terus mengawasi Hyoreen saat gadis itu masih di dalam minimarket, dengan penuh kegigihan pria itu terus menunggu Hyoreen di luar minimarket, tidak perduli dengan udara malam yang menerpa dan membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Hingga pada akhirnya kesabaran pria itu membuahkan hasil, Hyoreen berjalan seorang diri  meninggalkan minimarket dengan langkahnya yang terseok-seok.

Tanpa menimbulkan suara apapun, Donghae terus mengikuti langkah gadis itu dari belakang, samar-samar dia masih bisa mendengar gumaman lirih yang menguar dari bibir gadis itu. “eomma, appa.” lirih Hyoreen dengan isak tangis yang memilukan. Donghae terperanjat di tempatnya, dia sungguh tidak menyangka, kenyataan bahwa gadis sekuat itu ternyata, bisa juga menangis sungguh menusuk hatinya, jadi sejak kemarin pemikiran buruk Donghae yang terpendam di hatinya terhadap Hyoreen merupakan kesalahan besar,  gadis itu terus melanjutkan langkahnya kembali tanpa menyadari ada orang lain di belakangnya.

Donghae menghela nafas iba. “Jadi, seperti inilah dirimu yang sesungguhnya Moon Hyoreen, terlihat kuat diluar tapi kau terlihat sangat rapuh di dalam.” gumamnya sangat lirih. “Kau terlalu kuat dalam bersembunyi dibalik topng dinginmu.” ujarnya lagi. Samar –samar pria itu masih mendengar suara isak tangis dari Hyoreen, gadis itu kini terus menundukkan wajahnya. Merasa tidak tega, Donghae berjalan cepat menghampiri gadis itu, langkah kakinya lebarnya berakhir tepat di depan gadis itu, dalam sekejab Donghae langsung meneggelamkan wajah Hyoreen dalam rengkuhannya. Memeluk tubuh gemetar gadis itu,  mengusap punggungnya lembut, berusaha menenangkan.

“Menangislah, aku akan disini bersamamu.”

***

Donghae mengingat kembali kejadian semalam, hal itulah yang semakin membulatkan tekatnya, pria itu tidak ingin menyerah begitu saja, apapun akan Donghae lakukan untuk mendapatkan yang di inginkannya. Setelah bertanya kesana kemari pada warga sekitar tentang siapa dan bagaimana si kembar Moon bersaudara tersebut, akhirnya Donghae mulai melancarkan aksinya.

Eunhyuk sebenarnya enggan mengikuti keinginan Donghae, pria itu ingin sekali kembali ke Seoul, tapi lagi-lagi dengan tidak tau dirinya Donghae selalu mengancamnya hanya dengan sebuah video, sedangkan Eunhyuk juga menyadari kebodohnya, kenapa hanya dengan sebuah video dia bisa menurut begitu saja.

Ahh biarlah! Kali ini Eunhyuk ingin mengambil hikmah dari apa yang mereka lakukan di tempat ini, siapa tau di sini nanti dia bias membawa pulang wanita cantik ke Seoul untuk dipertemukan dengan eommanya, mengingat sang ibu selalu merecokinya dengan satu keinginan, yaitu cepat-cepat memperkenalkan calon istrinya.

Acting bukanlah kegiatan yang sulit di lakukan bagi mereka, karena itulah ditempat ini mereka akan menunjukkan kemampuan mengagumkan tersebut. Dengan pakaian dan peralatan berkebun yang telah mereka siapkan, keduanya pergi ke kebun paman Go, tempat si kembar Moon bekerja,

Jika boleh jujur sebenarnya Donghae dan Eunhyuk tidak tau menahu sama sekali tentang cara bagaimana memetik bunga mawar yang baik, mereka tidak bisa membedakan mana bunga yang sudah siap dipetik atau yang belum boleh, karena hal itulah keduanya kini lebih mirip disebut sebagai penguntit tak tau diri.

Lihat saja! kini tingkah keduanya tak ubahnya sepeti  mafia yang akan menjebak korbannya, mengintai dan mengawasi secara diam-diam dari tempat yang tak terlihat, Donghae dan Eunhyuk bersembunyi pada semak-semak tumbuhan bunga mawar yang sebagian bunganya masih kuncup, sedangkan tidak jauh dari mereka, hanya berjarak beberapa meter saja, dua moon bersaudara itu sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hyorim berada disisi kanan sedang sibuk memetik bunga dengan gunting di tangannya, sedangkan sedikit jauh di sisi kiri ada Hyoreen sedang menyiangi mawar-mawar yang masih kuncup.

“Hei! sampai kapan kau hanya akan mengawasi mereka dari sini, bodoh!” suara Eunhyuk mengintrupsi acara pengintaian Donghae.

“Sialan kau! lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Dekati saja salah satu di antara mereka? kau yang mengatur rencana, kenapa jadi kau yang bertanya. Aish, menyebalkan!!” rutuk Eunhyuk kesal.

“Menurutmu siapa yang harus aku dekati?”

“Cho Kyuhyun!.” jawab Eunhyuk jengah membuat Donghae meringis ngeri. Bagaimana mungkin dia akan merayu magnae kurang ajar itu.

“Terserah kau saja, tapi sepertinya Moon Hyorim lebih pas, dia gadis lembut yang selalu terbuka, siapa tau gadis itu akan menceritakan banyak hal padamu, seperti kemarin.”

“Binggo!, kau benar sekali, lalu kau?”

“Aku akan tidur saja disini,” jawab Eunhyuk tidak peduli, membuat Donghae membulatkan matanya lebar, bersiap melontarkan sumpah serapahnya. belum apa-apa Eunhyuk sudah bergidik ngeri melihat ekspresi tidak biasa Donghae.

”Arra arra! aku akan mendekatinya juga.” tunjuk Eunhyuk pada Hyoreen dengan dagunya. Melihat ke arah yang di maksud Eunhyuk, sedikit ada rasa tidak rela, ingin sekali dia yang mendekati gadis itu, hanya saja Eunhyuk merasa, itu akan membutuhkan waktu lama. Pada akhirnya mereka berpisah dengan jalan yang berbeda, menghampiri target masing-masing.

“Hai…” sapa Donghae, tidak lupa menampilkan senyum menawan kebanggaannya. Hyo rim sedikit terkejut akibat kedatangan pria itu.  Jantungnya bekerja  dua kali lipat, menjadi tidak semestinya.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini?”

“Aku hanya ingin merasakan bagaimana sensasi saat bekerja di kebun seperti ini, emmb bisakah kau membantuku, bagimana cara memetik bunga mawar yang baik?”

“Ahhh! baiklah aku akan membantumu.” tentu saja tak akan pernah ada kata tolakan. Hyorim membantu Donghae, memberi arahan bagaimana cara memetik bunga mawar  yang baik, hati dalam hati dia merasa sangat senang sekali seperti ada kupu-kupu indah yang berterbangan di perutnya dan tidak henti-hentinnya menggelitik tubuhnya agar terus tersenyum, sesekali mata coklat Hyorim tertuju pada Donghae, gadis itu memandanginya dalam diam, saat pria itu tidak melihatnya ketika berbicara.

“Apa kau tidak rindu dengan dunia entertain, sebenarnya aku mempunyai penawaran yang bagus untukmu.”

Setelah kalimat tersebut meluncur dari bibirnya, Donghae tidak berhenti mengutarakan niatnya pada Hyorim, menceritakan banyak hal, berusaha membuat gadis itu tergiur agar mau  kembali ke dunia yang dulu pernah di gelutinya. Hyorim  yang mendengar dengan baik setiap cerita – cerita Donghae merasa sedikit terpengaruh , dalam hati dia ingin sekali kembali menjadi Moon Hyorim sang artis papan atas.

Hyoreen mengintip dari celah bulu matanya, saudara kembarnya dan  pria itu terlihat sangat akrab, meraka bercanda gurau bersama saling melemparkan senyum kebahagiaan, seperti itukah nanti jika mereka bersatu? renung Hyoreen dalam hati dengan perasaan perih.

Diam – diam tanpa di sadari oleh siapapun, Donghae juga melakukan hal yang sama, sesekali bola matanya melirik sekilas, memperhatikan dua orang manusia berlawanan jenis yang tak jauh dari tempatnya sedang tertawa bersama, baru kali ini Donghae melihat senyum malu-malu dari gadis itu. Dalam hati Donghae mengutuk pria itu yang tak lain adalah Eunhyuk, berani sekali dia menggoda Hyoreen, membuat gadis itu merona dengan rayuan murahannya.  kenyataan Eunhyuk yang berhasil membuat Hyoreen tersenyum membuat Donghae merasa terkalahkan sekaligus muak.

“Donghae~ssi..” pangilan dan guncangan di tubuhnya menyadarkan Donghae dari lamunannya.

“Ah, ne, waeyo Hyorim~ssi?” tanya Donghae sedikit bingung karena tidak fokus.

“Lihat! tanganmu berdarah terkena duri mawar, kau terlalu  erat memegang tangkainya.” Hyorim meraih telapak tangan Donghae yang terluka, dengan cekatan gadis itu mengusap darah yang keluar dari telapak tangan pria itu,  namun sayangnya Donghae tidak merasakan perih sedikitpun, tangannya terasa kebas, sebenarnya apa yang terjadi padanya?

To Be Continued

%d blogger menyukai ini: