Aberration (Old Home) Part 1/2

0
Aberration (Old Home) Part 1/2
Author: Psychofloat
Title: Aberration [Old Home] #1 (Bukan Sequel!)
Category: Rating NC21, Type Yadong, Genre Romance, Married Life, Suspense & Kekerasan,
Length Twoshot.
Cast: Cho Kyuhyun (조규현), Cha Songjun (차송준)
Other Cast: Lee Sungmin, Yesung, Kim Heechul, Lee Donghae, Choi Siwon, etc.
Note: (authornya mejeng lagi^^v)
Second: Question You Probably Wonder About…
Ih, serem! Tapi kok kesannya alay ya?
Hampir kisah-kisah yang kutulis itu real, lho! Yeah, nggak perlu banyak-banyak deh. Contohnya Jeffrey Dahmer. Dia keliatan normal, kan? Dan kenapa korbannya sampai puluhan orang? Ya karena dia pintar menyembunyikan. Inti: kita nggak tahu hati orang kayak gimana. So, ff ini memang menggambarkan dunia, bukan mengada-ada—yah, meski dilumas sedikit biar seru dibaca (iya deh, nih ff emang alay!).

Psychofloat, kalo bikin cast dan jadi jahat itu karena dendam atau benci sih?
Enggak, kok. Aku nggak sepicik itu. Ini temanya memang suspense. Yah, sama aja kayak idola kita sedang baca skrip naskah film action yang mengharuskan mereka jadi terlihat begitu jahat. Mereka nggak beneran jahat, kan? Sutradaranya milih mereka bukan karena dendam, kan? Justru karena mereka menarik dan pas untuk memerankannya.
Mau protes? Jangan di sini, di akun pribadi authornya aja, ya. Yang udah tau nama penaku di ff biasa, tinggal tempelin ‘apsup’ di belakang nama penaku—ditempel ya, jangan kasih spasi!—untuk Instagram. Untuk Line, tinggal tambah ‘Puspa’ setelah nama pena. Oke? *Promosi boleh, ya? Meski bukan author famous*
Gaya bahasa © Phychofloat, Author paling resek yang pernah ada
***
PROLOG
???
Mereka menyebalkan.
Mereka terlalu sempurna untuk menjadi penghuni rumah yang keren banget itu. Oh, tidak…
Mereka terlalu sempurna untuk hidup….
            Tapi, itulah fungsi rumah itu. Kubiarkan mereka terlena sejenak dengan semua ini. Karena nanti, segala yang begitu menakjubkan di awal akan menjadi bukti sidang para pesakitan. Mereka hanya bisa diam.
Tak sulit bagiku untuk menganggu hidup mereka. Sesuai rencana, mereka benar-benar terjebak. Yang satu akan kubiarkan lolos, tapi yang satu… selamat datang di neraka saja deh.
Dan dari kegiatanku ini, setidaknya bukan hanya aku yang akan mendapatkan hasil dari jerih payah ini…
… tapi satu oknum lagi yang berada di sekitarku.
Menyenangkan, bukan?
***
Old Home #1: Gertak sambal yang terlalu pedas.
Cho Kyuhyun
Akhirnya!
Aku memberhentikan mobilku di ujung gang perumahan. Di depanku ada tembok besar yang menandakan bahwa ini jalan buntu. Di sebelah kiri kami, terlihatlah sebuah rumah yang cukup besar dan halaman yang terlihat sedikit tak terurus tapi tetap bersih.
Songjun menatap rumah baru kami dari kaca jendela mobil. Ia terkagum-kagum dan tak bisa menutup mulutnya. “Ini keren banget!”
“Sudah kubilang, kan?” Aku tersenyum padanya. “Rumah yang sudah kuincar ini memang keren?”
Kami berdua turun dan mengambil koper dari bagasi mobil. Setelah itu, aku dan Songjun berdiri menatap bangunan tua yang terlihat begitu klasik dan agak creepy. Kurangkul pundak Songjun dan mengecup puncak kepalanya. “Ini hasil jerih payah kita, Songjun-ah. Akhirnya kita bisa memiliki rumah sendiri.”
Yeah, kami memang belum punya rumah sebelumnya. Selama dua tahun kami menumpang. Tiga bulan di rumahku, tiga bulan di rumah Songjun, dan terus seperti itu. Selama dua tahun itu kami menabung. Aku bekerja di kantor pos, sementara Songjun membantu dengan berjualan kue dan menitipkannya di toko-toko kecil serta dengan royalti bukunya.
Songjun dari dulu bercerita padaku ingin memiliki rumah yang berada di kawasan yang tenang dan damai agar bisa membuat cerita-cerita menarik dengan santai. Dan karena itulah aku sampai pergi jauh dari Seoul hanya untuk mencarikan rumah yang istriku idam-idamkan.
Jasa pengangkut perabotan datang. Mereka mengeluarkan barang-barang kami dari kontainer masuk ke rumah. Aku dan Songjun sedikit membantu mereka untuk mengangkat benda-benda berat dan menatanya.
“Ini seru sekali,” ucap salah satu karyawan. “Anda berdua pemilik rumah yang ramah. Bahkan Anda membantu kami.”
“Mengangkat perabotan sih bukan masalah besar,” ujar Songjun riang. “Itu olahraga. Lumayan untuk melatih otot.”
Karyawan itu tertawa. Mereka pun pamit pergi dan meninggalkan kami di dalam rumah berdua.
“Bagaimana kalau kita sapa para tetangga?” tanya Songjun. “Kita bisa beli daging dan membuat pesta barbeque di halaman belakang rumah.”
Aku mengangguk sambil mengusap rambutnya. “Ide yang bagus. Bagaimana kalau kita beli jus dan beberapa snack… untuk malam kita?”
Songjun meninju perutku pelan. “Jangan bahas itu di siang hari, Kyu. Otakmu yang sudah geser itu bisa makin geser entar.”
Aku tertawa. Yeah, itulah istriku. Selalu bisa mencairkan suasana dengan candaannya. Karenanya, aku merasa menjadi manusia paling beruntung.
Kami berjalan keluar dan menatap tetangga kami yang sedang menyiram tanaman. Ia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum saat melihat kami. “Wah, ada tetangga baru rupanya.”
Kami membungkuk padanya lalu berjalan menghampirinya. “Yeah, kami baru saja pindah. Perkenalkan, namaku Cho Kyuhyun.” Aku merangkul wanita di sampingku. “Dan ini istriku, Cho Songjun.”
“Kalian berdua benar-benar serasi.” Ia tersenyum begitu ramah dan menenangkan hati. “Namaku Kim Heechul. Aku tinggal sendiri di sini.”
“Mungkin sebentar lagi kau tidak akan sendiri,” kata Songjun sambil membalas senyum Heechul. “Orang yang begitu ramah seperti Heechul-ssi tentu menjadi incaran para wanita.”
“Termasuk kau?”
“Ah, bukan begitu.” Wajah Songjun langsung memerah. Ia memelukku dan menyembunyikan wajahnya di belakang lenganku. “Aku sudah punya suami dan sedang hamil 6 minggu.”
“Oh, sudah berisi toh,” cetus Heechul kaget sekaligus senang. “Wah, makin ramai saja kompleks ini.”
“Oh ya,” kataku sambil mengusap lengan atas Songjun yang masih betah nempel di lenganku, “selain Heechul-ssi, di sini ada siapa lagi?”
“Ada banyak, tapi mereka jarang di rumah karena sibuk.” Heechul menunjuk rumah di depan rumahnya. “Di depanku adalah Yesung. Dia tetangga yang senang sekali memasak. Biasanya dia akan keluar dengan makanan eksperimennya. Ia tinggal dengan adiknya, Jongjin. Jangan heran jika melihat adiknya agak gemuk—kakaknya hobi mencekoki adiknya dengan makanan.”
Aku tersenyum mendengar penjelasan Heechul yang begitu ringan dan santai. Caranya bicara seperti Songjun. Ah, sepertinya dua orang ini bisa berteman.
Heechul menunjuk rumah-rumah yang berada di depan gang. “Itu rumah Donghae yang hobi bersepeda saat pagi. Sebelahnya adalah Ryeowook,” Heechul menunjuk orang yang sedang membersihkan kaca jendela rumah. “Dia tetangga yang senang sekali bersih-bersih di pagi hari.”
“Di depan Donghae adalah Kangin yang bekerja sebagai rentenir.” Tiba-tiba seorang pria bertubuh agak tambun dan wajah sangar keluar dan membuang sampah pada tong di halamannya. “Dan yang paling ujung itu rumah Hyukjae. Ia bekerja di minimarket dekat sini sebagai kasir.” Terlihat seorang pria dengan rambut pirang keluar dengan seragam yang tak asing di mataku. “Mereka semua ramah pada tetangga.”
Aku mengangguk paham mendengar penuturan Heechul.
“Nah, kalau yang di depan rumah kalian…” Heechul tiba-tiba terhenti saat tangannya menunjuk rumah yang berada tepat di depan rumahku. “Dia Lee Sungmin. Dia tinggal dengan adiknya yang masih berusia 7 tahun, Sungjin. Mereka agak misterius. Adiknya tak pernah bermain ke luar, dan kakaknya selalu mengintip tetangga-tetangga dari jendela kamarnya.”
Aku menoleh ke arah jendela yang dimaksud, dan aku hampir saja menjerit saat melihat wajah pucat yang menatapku dengan mata yang melotot tajam. Bibirnya lurus tanpa ekspresi, dan dia benar-benar mengingatkanku pada hantu.
Aku berkedip, dan bayangan itu hilang.
“Sudah kubilang, kan?” Heechul menatapku, lalu Songjun yang makin mengkeret dan mendekap lenganku. “Lebih baik kalian tidak dekat-dekat dengannya.”
***
Cha Songjun
Bermalas-malasan….
Yap, hanya itu yang aku dan Kyuhyun lakukan di rumah. Ia tidur di sofa, dan aku menindihnya sambil menyanyikan musikalisasi puisi ciptaanku. Ia terus mengusap-usap perutku dan mengecup beberapa kali pucuk kepalaku.
“Bagaimana?” tanyaku. “Apa lagu ini keren?”
“Apa yang tidak keren dari istriku?” canda Kyuhyun. Ia terdiam, lalu menguap. “Rasanya aku capek sekali.”
“Ini sudah jam setengah 6 sore, Kyu. Kau tidak mau makan?” tanyaku sambil mendongak, menatap wajahnya yang menatapku.
“Aku masih senang posisi seperti ini,” ucapnya, lalu mengecup bibirku. “Aku merasa sedang duduk dengan keluarga kecilku.”
Aku tersenyum bahagia. Aku berbalik dan menindihnya. Matanya langsung terbelalak kaget. Kenapa dia?
“Eh, jangan tindih anak kita!” pekiknya heboh sambil berusaha membalikkan posisiku. Uh, padahal niatku tadi ingin mengecup bibirnya! Ah, aku sudah tidak bernapsu!
“Kau ini!” Ia menjitak kepalaku pelan. “Nanti kalau dia kenapa-napa bagaimana?!”
“Maaf,” ujarku sambil menunduk. Iya deh, aku salah.
Ding dong.
Kyuhyun menoleh menatap pintu depan. Begitu juga denganku. Aku buru-buru bangkit dan berjalan menuju pintu dengan Kyuhyun yang mengekori.
Ternyata Yesung dengan makanannya.
“Selamat datang, tetangga baru!” serunya ceria. Ia menyodorkan cup cake warna-warni yang amat menarik. “Aku Yesung, dan aku suka masak!”
Aku mengangguk dan mempersilakannya masuk. Ia duduk di ruang tamu dan menatap seisi rumah. “Wah, ternyata aura spooky-nya masih terasa.”
“Awalnya memang seram, tapi kalau dipandang-pandang lagi sih biasa saja,” sahutku. “Aku Cha Songjun.”
“Aku sudah mendengar cerita tentangmu dari Heechul, Nyonya Cho.” Ia tersenyum. Wah, orang-orang kompleks ini hobi tersenyum ternyata. “Dan katanya, kau ramah.”
“Orang-orang di sini juga ramah-ramah, kok,” balas Kyuhyun. “Kami juga sudah mendengar tentangmu dari Heechul-ssi. Dia bilang kau hobi memberi makan warga kompleks.”
“Iya, karena sekarang jajanan menyeramkan.” Ada raut sedih di wajahnya. “Banyak oknum-oknum tertentu yang menggunakan bahan berbahaya hanya agar ia mendapat keuntungan besar. Makanya, aku membuat makanan dengan bahan yang baik agar warga tidak membeli makanan sembarangan.”
“Kau tidak rugi?” tanyaku.
“Tentu saja tidak, karena gajiku sebagai manager terlalu banyak untuk aku yang hanya butuh untuk makan, beli pulsa, listrik, bensin, dan uang jajan adikku.” Ia nyengir lebar. “Makanya, sisa gajinya kugunakan untuk bikin makanan.”
Yesung memintaku dan Kyuhyun mencicipi makanannya. Dan, wah, enak banget!
“Kalau dijual padahal lumayan, lho,” ucapku sambil memakan cup cake itu lagi.
“Jual saja di toko depan kompleks,” saran Yesung. “Di sana sering lewat anak-anak sekolah. Aku bisa mengajarimu memasak kalau kau mau.”
“Tentu saja aku mau!”
***
“Sepeda listrik untuk istriku!!!”
Aku meloncat-loncat senang—yang langsung mendapat pelototan Kyuhyun yang marah melihatku menggoncang-goncangkan anak kami—dan menghambur kepelukannya. “Terima kasih, Kyu.”
Ia mengusap kepalaku yang hanya mencapai dadanya (yap, aku pendek! Tapi suamiku bilang dia suka yang mungil tapi dewasa, hehehe). “Ini agar kau bisa berjualan di toko depan tanpa harus berjalan kaki.”
Aku mendongak, menatap mata Kyuhyun yang sedang menatapku. “Kau tidak akan sering di rumah?”
Ia menggeleng. “Maafkan aku, tapi di kantor sedang banyak masalah. Maaf, ya?”
Kini giliran diriku yang menggeleng. “Aku baik-baik saja, kok!”
Ia menatapku penuh arti sebelum melumat bibirku.
“Nah, sekarang kita coba sepeda barunya!” Kyuhyun menggeser sepeda itu ke dekatku. Ia mengajariku menggunakannya dan menyuruhku berkeliling jalan blok ini. Dalam setengah jam, Kyuhyun memujiku karena langsung mahir.
“Wah, ada yang pakai sepeda juga!” Seseorang datang dengan sepeda gunungnya yang terlihat amat keren. Aku sampai mangap menatap sepedanya. “Tetangga baru, toh!”
Aku mengangguk senang. “Kau pasti Donghae!”
“Wah, kalian sudah mengenalku, rupanya.” Ia menatap kami berdua dengan tampang tertarik. “Pindah dari kota, ya?”
Kyuhyun mengangguk. “Istriku ingin rumah yang lingkungannya tenang dan membuatnya konsentrasi menulis. Dia penulis kumcer.”
“Cool!” Donghae mengangkat jempolnya. “Kau harus bertemu dengan Ryeowook. Dia sering cerita tentang kisah hidupnya yang menurutku menarik.”
“Ide yang bagus!”
Aku tersenyum menatap Donghae. Kyuhyun menghampiri Donghae dan berbincang sekadar ingin lebih dekat dengan tetangga. Sementara itu, tatapanku stuck pada sesuatu yang berada di jendela rumah Sungmin.
            Kalian akan mati….
***
“Jangan terlalu dipikirkan.”
Yesung menuangkan susu ke dalam adonan yang sedang kukocok. “Sungmin memang sering menulis hal-hal aneh begitu. Dia hanya terlalu takut keluar.”
“Kenapa dia bisa takut keluar?”
Yesung mengelap pipiku yang tak sengaja terkena terigu. “Yah, trauma mengingat adiknya.”
“Mengingat?” aku mengerutkan keningku. “Dia kan tinggal dengan adiknya, Sungjin.”
Yesung menghentikan tangannya yang sedang mengolesi cup dengan margarin. “Sungjin? Siapa yang bilang begitu?”
“Heechul-ssi,” jawabku. “Kau juga tinggal dengan Jongjin, adikmu yang gemuk, kan?”
Yesung menatap mataku dalam. Beberapa detik ia hanya diam, hingga akhirnya ia menghela napas. “Kau akan tahu nanti.”
“Tahu tentang apa?”
Yesung diam. Ia mengambil sendok dan menuangkan adonan itu ke dalam cup. Dari raut wajahnya, ia terlihat ketakutan. Ada apa?
***
Cho Kyuhyun
Sepi.
Itulah yang kudapati saat masuk ke dalam rumahku. Tak ada Songjun, tak ada suara, tak ada cahaya. Ke mana istriku yang mungil itu?
Aku menyalakan lampu rumah. Rumah tampak bersih kecuali dapur yang masih banyak terigu berserakan. Selebihnya, keadaan baik-baik saja.
Aku paling anti bersih-bersih, tapi istriku sedang hamil. Jadi, sekarang aku ada di dapur, dengan seragam khas pos yang menempel di tubuh, sapu di tangan, pengki di ujung undakan dapur, dan seseorang yang berdiri di depan kamar kami.
Siapa dia?
Aku menghampirinya. Bayangan itu tiba-tiba berlari ke dalam, membuatku reflek mengejarnya. Namun, saat aku ke dalam kamarku, hanya ada Songjun yang sedang tertidur begitu pulas.
Ah, aku hanya mengkhayal.
Aku duduk di pinggir ranjang. Kubenarkan selimut yang menyelimuti tubuh Songjun dan mencium bibirnya.
“Kyu?”
Aku melepaskan bibirku, menatap Songjun yang baru saja berujar lirih. “Iya?” tanyaku.
“Kenapa masih pakai seragam kantor?” tanyanya sambil berusaha duduk. Kubantu ia dan menyenderkannya di headboard.
“Aku baru pulang tadi,” jawabku. “Tadinya mau langsung ganti baju, tapi dapur berantakan. Jadi aku bersihkan dapur dengan seragam ini. Sekalian kotor, kan?”
Songjun menatapku aneh. “Benar-benar baru pulang?”
“Iya,” anggukku. “Memangnya kenapa?”
“Kau kan sudah ada di rumah dari tadi sore. Saat aku pulang dari toko, kau duduk di sofa depan teve dan menyuruhku minum jus yang kau siapkan di kamar. Setelah minum, aku mengantuk dan…”
Kami sama-sama terdiam.
            Ada seseorang yang menyelinap ke rumah kami.
***
Aku jadi waswas.
Aku mengambil cuti selama 2 hari untuk menjaga istri mungilku. Aku takut jika harus meninggalkannya saat ada seseorang yang hendak mencelakai dia.
Yeah, mencelakainya! Kira-kira apa tujuan orang itu membius Songjun kalau bukan untuk menyakitinya?
“Kau mau tambah?”
Aku menggeleng. “Supnya memang enak, tapi bukan berarti harus makan banyak-banyak, kan?”
Ia tersenyum manis. “Makin lama kau makin dewasa.”
“Aku memang dewasa.” Aku membusungkan dadaku. “Aku sudah 34 tahun, sedangkan kau 23 tahun. Siapa yang lebih dewasa?”
“Itu sih siapa yang lebih tua, bukan yang dewasa!” Songjun mencebikkan bibirnya kesal. Ah, itulah Songjun-ku. Terkadang dewasa, terkadang sesuai umurnya.
Aku menariknya kepangkuanku. Ia duduk di atas pahaku dan mengalungkan tangannya di leher. “Tapi kau memang benar-benar jadi dewasa sekarang. Bukan Kyuhyun yang dulu pacaran sama anak SMA yang bahkan hanya bisa diajak nonton dan makan.”
“Iya deh, dulu aku kekanakan.” Aku mengusap rambut Songjun, menatap wajah yang makin lama makin dewasa. Yeah, Songjun sudah bukan Cha Songjun anak SMA yang selalu diejek temannya karena pacaran dengan om-om, tapi sudah menjadi Cho Songjun istrinya Cho Kyuhyun.
“Tak apa, itulah dirimu.” Ia mencium pipiku, lalu kembali menatapku. “Kau selalu berusaha mencari wanita yang dewasa karena kau anak mami. Meskipun hasratmu tetap ingin menjadi kepala keluarga yang tertua. Makanya, melihat aku yang kolot dan tua sebelum umurnya, kau buru-buru mengejarku.”
Meski kedengarannya sombong, tapi ucapan Songjun semua adalah benar. Aku menikahinya karena ia bisa bersikap dewasa padaku yang anak mami dan perlu sosok pengganti ibuku. Dan dia benar-benar mewakili.
Aku memeluknya, mencoba merasakan makhluk dalam perut Songjun yang tentu tidak terasa apa-apa. Tapi, aku ingin merasakannya… firasatku berkata akan ada yang tidak beres.
Aku melepaskan pelukanku. Kutatap Songjun yang tersenyum begitu bersahaja. Serta-merta aku mencium dan melumat bibirnya. Ia membalas setiap lumatanku dan mengalungkan tangannya di leherku.
Kami terus bergumul dengan panas hingga akhirnya Songjun mendorong bahuku karena kehabisan napas. “Kau ingin asmaku kambuh, ya?”
Aku hanya menggeleng sambil bangkit dari dudukku, menyingkirkan mangkuk supku sejauh mungkin, lalu menidurkan Songjun di atas meja. “Kau mau di sini atau di kamar?”
“Kau sendiri bagaimana?”
“Aku sih di mana saja tak masalah.” Aku mengusap lengannya, menyatukan keningku lalu menempelkan hidungku yang mancung pada hidungnya yang ambles. “Tapi di atas meja kan keras, punggungmu bisa sakit. Tidak apa-apa?”
Sebetulnya meskipun Songjun menggeleng, aku akan tetap khawatir. Jadi, sebelum Songjun membalas, aku menggendongnya menuju kamar.
Kurebahkan tubuhnya perlahan ke atas ranjang. Songjun memposisikan tubuhnya agar nyaman dan mengangguk ketika siap. Aku bangkit berdiri, membuka kaus dan celana pendekku lalu merangkak di atasnya dalam keadaan bulat.
Kulumat kembali bibir Songjun. Mata kami terpejam menikmati lidah yang terus beradu dan sesekali menyapa rongga mulut. Setelah agak lama saling melumat, tanganku mulai menarik ujung kausnya ke atas tubuhnya dan melepaskannya. Kini hanya tersisa kaus dalam—dia memang masih menggunakan benda biadab itu!—dan branya.
Ia mendesah saat kuraba payudaranya dari luar. Kumasukkan tanganku dan menyusup menuju gundukan yang menggoda itu. Putingnya kupilin-pilin sambil mulutku bermain di lehernya. Desah Songjun membahana dalam kamar kami.
“Aaaah, Kyu….ouuuugh!” Tangan Songjun meraih rambutku dan meremasnya pelan.
Aku benar-benar tidak tahan.
Kusibak kaus dalam dan mengangkat branya. Saat payudaranya mencuat, buru-buru kulahap benda kenyal itu dan menyedot-nyedotnya. Desah Songjun makin mengalun.
Kuangkat wajahku. Ia menatapku dengan gelisah. Kuraba selangkangannya. Yeah, dia basah.
Tidak mau menyiksa istriku, aku membuka celana pendeknya beserta celana dalamnya. Terlihat lipatan basah yang merah dan menggoda itu. kudekatkan mulutku da menjilatnya.
“Aaaah, Kyu… cepatlah—Oooohh!” racau Songjun tak jelas.
Mungkin malam-malam kemarin ia masih bisa bermain dua ronde denganku. Namun, semenjak ia hamil, ia jadi gampang lelah. Dan sekarang matanya seperti sudah akan menutup. Karena tak tega, aku pun mengocok juniorku lalu memasukkannya ke dalam Songjun.
Kami sama-sama mendesah. Kali ini kugerakan lembut, takut menganggu calon anakku yang mungkin sedang beristirahat. Meski begitu, Songjun dan aku tetap menikmatinya. Aku kembali meraih dada Songjun, sedangkan Songjun terus meremas rambutku.
“Ooooh, Songjun-aaaahh, akuuuu…..uuugh!” Aku kesulitan berkata-kata. Juniorku berkedut, sementara vaginanya meremasku dengan kuat dan cepat. Aku langsung meraih bibir Songjun dan menusukkan juniorku ke dalamnya.
“Aaaaah!”
Desah lega keluar dari mulut kami. Songjun mengusap pipiku dan mengecup hidungku. “Kau menginginkan lagi?”
“Kau sudah lelah, sayang.” Aku bangkit dari tubuhnya. Kuambil tisu di nakas samping ranjang dan mengelap wajahnya yang berkeringat. “Apa aku salah?”
“Yaaaa, aku sedikit lelah,” dustanya. Padahal untuk bangkit pun ia tidak mampu.
Kuambil handuk yang biasa kugunakan untuk mengelap tubuh Songjun dari dalam laci nakas. Kubersihkan selangkangan Songjun yang basah karena cairan kami berdua dan membersihkan milikku juga. Setelah itu aku mengambil pakaian ganti untuk Songjun. Biasanya setelah bercinta Songjun dan aku hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Selesai mengenakan celana dalam, bra, dan kaus dalam—Songjun tak bisa tak memakai kaus dalam—dan aku sudah mengenakan boxer-ku, kuposisikan diriku di samping Songjun. Hari sudah malam, tapi aku malas menutup jendela.
Baru saja aku akan terpejam, suara sirene mengalun dari luar rumah. Songjun yang sejak tadi sudah terlelap terbangun.
Kami sama-sama mengintip keluar jendela, menatap kerumunan polisi serta ambulans di depan rumah Kangin.
Aku buru-buru mengenakan kaus yang tergeletak dekat kakiku, sementara kusodorkan gaun tidur yang tergantung di dekat pintu pada Songjun dan memberikannya jaket.
Kami keluar. Kupeluk Songjun yang kedinginan dan menuntunnya menuju kerumunan. Donghae berdiri tak jauh dari kami, sedang berbicara dengan seorang inspektur polisi. Sementara Yesung sedang menatap pintu rumah Kangin yang terbuka.
“Ada apa ini?” tanyaku yang membuat Yesung menatap kami berdua.
Dia terdiam. Tak menjawab. Dan seakan mewakili apa yang ada dipikiran Yesung, sesuatu keluar dari rumah Kangin.
Sebuah kantung mayat dan ceceran darah di sisi-sisinya.
Songjun langsung membelalakkan matanya. Buru-buru kupeluk ia dan menyuruhnya bersembunyi di dadaku. Kuusap kepalanya dan menenangkannya. Dia pasti shock.
“Dia dibunuh,” terang Yesung. “Dan Sungmin lolos dari polisi.”
Aku menatap rumah Sungmin yang begitu gelap tanpa lampu yang menyala. Kutajamkan mataku, dan pandanganku bertubrukkan dengan seorang berwajah pucat dengan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya.
Aku berkedip, dan lagi-lagi orang itu menghilang.
“Tubuhnya dicabik-cabik dengan bringas. Semua organ pentingnya diremas hingga hancur. Bahkan jantungnya sudah bucat dekat pecahan kepalanya,” sambung Yesung muram.
“Apa yang membuatnya bisa lolos?” tanya Songjun dengan nada keder yang tak bisa disembunyikan.
“CCTV di rumah Kangin menunjukkan rumah Sungmin yang tetap seperti itu. Dia tak keluar rumah atau mendekati rumah Kangin. Dan lokasi pembunuhan berada di kamar mandi yang tak ada CCTV-nya. Pelakunya buron.”
Songjun mengeratkan pelukannya padaku. Ia menatap ke arah mataku, sama halnya denganku. Yeah, kami menyadari satu hal.
Pembunuhan ini belum berakhir.
***
Cha Songjun
Kyuhyun melarangku di rumah.
Yap, saat ini aku sedang di kantor Kyuhyun, duduk di kursi empuk milik bos suamiku yang baik hati, menatap laptopku yang berisikan cerpen buatanku, dan sesekali memandang Kyuhyun yang mengerjakan berkas-berkas anehnya dengan posisi tiduran. Aku sudah mengingatkannya bahwa itu tidak baik untuk matanya, tapi ia tidak mau dengar.
Dasar ngeyel!
“Cho Kyuhyun?”
Dari suaranya, sepertinya itu bos suamiku. Ia langsung bangkit, membereskan berkas-berkas itu dan berdiri di depan pintu.
Siwon masuk ke dalam. Ia menatapku dengan ramah. “Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?”
“Tidak,” gelengku. “Aku benar-benar berterima kasih karena membolehkanku menggunakan ruanganmu untuk mengetik.”
“Tak masalah. Anakku juga seorang penulis. Dia pernah mengamuk karena aku dan istriku mengobrol terlalu keras.” Ia menyeringai lucu ke arah Kyuhyun. “Ada kerjaan lagi.”
Kyuhyun mengangguk. Ia melambaikan tangannya dan pergi bersama Siwon, meninggalkanku di ruangan ini sendirian.
Ah, tak apa. Memangnya apa yang akan terjadi di kantor yang sedang padat pegawai ini?
Saat aku sedang konsen mengetik, di sudut kanan bawah layar laptopku terlihat sebuah notifikasi. Seseorang mengirimku email dengan subjek: Pesan untuk tetangga baru.
Aku membuka pesan itu tanpa curiga. Dan kalimat yang tertulis sedikit banyak membuatku bingung.
Kucoba menjelaskan melalui apa yang mereka lakukan. Hanya dua huruf paling depan, dan kalian akan mengerti maksudku.
Entah apa yang dia maksud, tapi ingatanku langsung terbang pada kejadian semalam, di mana tetanggaku mati karena dibunuh.
Kangin, yang kalau hanya dibaca dua huruf paling depan menjadi…
Ka! (Dari kata “ga”: pergi.)
Seseorang menyuruhku pergi.
Tapi kenapa?
***
Kyuhyun uring-uringan di rumah.
Melihat email yang dialamatkan pada kami—atau padaku, barang kali—membuat Kyuhyun agak frustrasi. Yap, dokter pernah bilang bahwa kehamilan tidak hanya berdampak padaku yang mengandung, tapi pada suami yang juga punya ikatan dengan istrinya. Ia akan mudah stres jika ada masalah.
“Kita harusnya pindah,” kataku Kyuhyun sambil uring-uringan di depanku. “Tapi tak ada rumah yang langsung siap tinggal. Paling sebentar harus menunggu seminggu.”
“Kita bisa menunggu,” hiburku.
Namun Kyuhyun benar-benar frustrasi. Ia tidak bisa ditenangkan dengan mudah. “Kita tidak bisa lebih lama di sini!”
“Memangnya ada solusi lain?!” kini aku membentaknya. “Jangan hanya uring-uringan begini! Kita bisa! Ini hanya seminggu!”
“Tapi aku punya firasat kau akan pergi!” Kini Kyuhyun yang membentakku. Matanya merah dengan raut yang benar-benar ketakutan.
Aku yang duduk di pinggir ranjang hanya bisa mengejang kaget tanpa beranjak. Kami memang pernah bertengkar, tapi Kyuhyun  tidak pernah membentakku—beda denganku yang hobi membentaknya.
Kali ini mata itu benar-benar menunjukkan ketakutan. Ia berlutut di depanku, memegang kedua tanganku yang berada di atas paha, dan menunduk. “Aku bermimpi… gigi-gigiku rontok, darah mengalir deras dari mulutku, dan darah itu menjadi sungai. Kau berada di atas perahu bersama malaikat bersayap… berlayar menjauhiku. Aku takut, Songjun-ah!”
Kini giliranku yang ingin menangis.
Kyuhyun menyedot ingusnya beberapa kali. Aku menuntunnya berbaring di ranjang. Kuselimuti tubuhnya dan menyusup ke dekatnya. Kuusap rambut cokelat itu beberapa kali. “Aku akan tetap di sisimu, Kyu. Aku janji.”
“Aku benar-benar tidak mau kehilangan kalian berdua.” Kyuhyun mendekapku, menangis di leherku dengan agak keras. “Tapi firasatku benar-benar tidak enak, Songjun-ah. Aku merasa semua itu amat nyata.”
“Tuhan beserta kita, Kyu.” Kutepuk-tepuk punggungnya pelan. “Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Kau harus seperti biasanya, oke? Tuhan pasti punya rencananya sendiri. God’s will is always wonderful, Kyu.”
Kyuhyun menjauhkan wajahnya dari leherku. Ia menatapku lama, lalu mengecup keningku selama beberapa menit dan melepasnya. “Aku benar-benar mencintaimu, Songjun-ah.”
“Aku tahu,” jawabku.
Malam ini, dengan isakan Kyuhyun yang tak bisa berhenti, suara jangkrik dari luar kamar, dan… siluet seseorang yang berdiri di depan jendela kamarku….
Aku terlelap.
***
Pagi yang damai.
Aku hanya menyapu ruang tamu, sementara Kyuhyun sarapan di meja makan sambil membaca koran. Beberapa kali ia berdeham, memintaku menemaninya. Tapi, debu di ruang tamu sudah menumpuk. Dia bisa gatal-gatal kalau terkena debu-debu ini.
Aku membuka pintu depan dan memasukkan debu pada pengki. Dari ekor mataku, aku bisa melihat Sungmin sedang memperhatikanku. Matanya nyalang dan begitu menyeramkan. Untungnya aku bisa mengabaikan itu dan kembali masuk ke dalam rumah.
“Aku berangkat, ya!” seru Kyuhyun dari dalam kamar. Ia keluar dengan tas, sepatu, dan kemeja kantor yang rapi. Ia tersenyum padaku lalu melambaikan tangannya. “Karyawan ini mau pergi dulu.”
“Tidak mau morning kiss lagi?” tanyaku bercanda.
Kyuhyun terkekeh. Ia menghampiriku, menyampirkan tangannya di bahuku, lalu mencium bibirku. “Doakan aku semoga aku segera mendapat promosi, oke?”
“Tidak ah.” Aku mengangkat bahuku ogah. “Aku lebih suka kau menjadi karyawan. Setidaknya kau akan sering keluar kalau naik jabatan. Lagian, kita tidak kelaparan, kan?”
“Istri yang pintar—dan tak matrealistis. I like it.” Kyuhyun kembali meraih bibirku. Kali ini ia juga mencium keningku dan pergi.
Aku mengekorinya dari belakang. Kyuhyun membuka pintu dan menatap lingkungan sekitar….
Tiba-tiba ia menarik tanganku dan mendekapku.
“Ada apa?”
Aku ikuti arah pandangannya. Dan seketika mataku membelalak.
Polisi berada di depan rumah Eunhyuk. Sirenenya baru kudengar—atau baru kusadari?—setelah sebuah kantung keluar dengan bercak darah.
Pembunuhan lagi.
“Aku benar-benar akan di rumah menemanimu,” celetuk Kyuhyun sambil mendekapku lebih erat. “Di sini banyak yang tak beres, Songjun-ah.”
***
Kyuhyun terpaksa meninggalkanku di rumah.
Aku tidak enak jika harus membuat Siwon mengerjakan tugas-tugasnya di meja tamu ruangannya. Tapi aku juga tidak bisa mengetik di sembarang meja. Perutku bisa sakit jika salah posisi.
Aku juga harus menyuci, membereskan rumah, dan membuat kue untuk berjualan. Dan setelah setengah jam menimbang-nimbang, ia akhirnya membiarkanku di rumah dengan syarat meneleponnya setiap setengah jam.
Mungkin konyol, tapi aku lebih konyol lagi. Hampir tiap menit aku meneleponnya. Seperti sekarang.
“Yesung sedang sibuk, dia bilang kantornya sedang dalam masalah.” Aku mengeluarkan kue dari dalam oven. “Tapi nanti sore Donghae mengajakku berkeliling kompleks naik sepeda.”
Aku kembali bersenandung, menyanyikan puisi ciptaanku yang terinsipari dari cerpen buatanku. Dan setelah selesai, Kyuhyun kembali memujiku. Beberapa detik kemudian ia bertanya, “Kapan Yesung akan ke sana?”
“Dia bilang akan kemari setelah…”
Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari sebuah pintu. Yap, pintu menuju basement yang tak pernah kubuka. “Kyu, ada suara gaduh dari pintu basement.”
Kyuhyun terdiam lama. “Kau panggil Heechul-ssi dan minta tolong padanya untuk memeriksa.”
“Baik,” anggukku. Kumatikan sambunganku dan berjalan menuju pintu basement. Kubuka pintu itu, dan sebuah tangga menuju pintu lain terlihat samar. Setelah kunyalakan lampu, terlihat jelas tangga dengan debu tebal dan pintu kayu yang sudah lepek.
Aku buru-buru keluar mencari Heechul. Saat sudah sampai pekarangan, kulihat Hecchul sedang menyiram tanaman. Aku berjalan sambil menyapanya. “Siang, Heechul-ssi.”
“Siang juga, Nyonya Cho,” balasnya sambil terkekeh. “Ada apa?”
Aku tadinya ingin to the point, tapi ada sesuatu yang janggal—dan setelah kuingat-ingat, saat pertama kali aku bertemu dengannya pun kejanggalan ini terjadi. “Kenapa menyiram tanaman pada siang hari? Bukankah tidak baik?”
“Aku benci tanaman,” akunya ringan. “Jadi kusiram mereka setiap siang, agar mereka layu dan mati.”
Aku terdiam mendengar penuturannya yang benar-benar aneh. Terdengar amat keji di telingaku. Untuk apa repot-repot menyirami mereka pada siang hari jika ia bisa langsung mencabutnya?
Kini aku malah takut padanya.
“Ah, sepertinya kueku hampir gosong,” dustaku sambil menunjuk pintu rumah. “Aku masuk dulu, ya?”
Aku membungkuk dan berjalan sesantai mungkin. Dari ekor mataku, aku bisa melihat Heechul yang menatapku dengan sorot tajam.
Oke, itu hanya perasaanku saja.
Aku akan mengecek basement sekali lagi.
Aku berjalan menuju pintu basement dan membuka pintu itu. Melihat keadaannya yang gelap, aku menyalakan lampu dan menatap tangga…
Sebentar. Tadi aku meninggalkan pintu ini dalam keadaan terbuka dan dengan lampu yang menyala, kan?
Seketika kurasakan sesuatu di belakangku. Aku hendak menoleh, namun aku sudah didorong hingga tersungkur dan jatuh terguling di anak tangga penuh debu.
Tubuhku menabrak pintu kayu reyot basement. Debu-debu yang beterbangan langsung membuat asmaku kambuh. Dan dari sisa kesadaranku, aku melihat siluet seseorang di atas, dengan tubuh kecil yang sepertinya aku kenal.
Benarkah itu kau, Yesung?
***
Cho Kyuhyun
Aku menangis.
Donghae meneleponku dan mengatakan bahwa istriku terjatuh dari tangga menuju basement yang bahkan aku tidak tahu. Saat aku sampai di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa calon bayi kami harus pergi.
Calon bayi kami, yang selama ini kami rawat, kami beri vitamin, kami jaga dari segala yang berbahaya kini telah tiada.
Siapa iblis yang tega melakukan ini pada kami.
Songjun belum sadarkan diri, padahal ini sudah tengah malam. Ia harusnya makan. Jam segini biasanya ia sedang anteng di depan laptop. Biasanya, ia sedang mencumbuku jam segini.
Tapi kini ia hanya terbaring dengan alat bantu pernapasan, infus, dan kateter. Wajahnya pucat dan bibirnya biru. Aku sudah mencoba menghangatkannya, tapi ia tetap seperti ini.
Dia benar-benar mengenaskan.
“Cha Songjun, bangunlah,” lirihku sambil mengecup beberapa kali punggung tangannya. “Cha Songjun, cintaku, kasihku, milikku, istriku. Kau harus bangun….”
“Aku benar-benar minta maaf karena telat menolongnya,” lirih Donghae di sebelahku. “Harusnya aku lebih cepat tadi.”
“Ini bukan salahmu.” Aku menenangkannya. “Justru karena kau berniat mengajak istriku bersepeda, kau bisa tahu keadaannya. Ini salahku karena meninggalkannya di rumah.”
Dokter masuk ke dalam ruangan. Melihatnya yang berjalan menghampiriku, aku langsung bangkit dari dudukku dan membungkuk di depannya. “Kuharap ini berita baik.”
“Tergantung bagaimana Anda menilainya, Tuan,” sahut dokter itu. “Karena hanya mengalami luka temporer, istri Anda bisa pulang malam ini. Keadaannya stabil. Hanya saja mungkin ia akan sedikit terguncang karena kehilangan bayinya.”
Aku menatap nanar dokter tadi. “Sedikit terguncang?”
“Yah, mungkin Nyonya Cho akan sedikit menjadi pendiam.” Dokter itu menepuk bahuku pelan. “Luangkan waktu dengannya. Dia akan segera lupa jika lingkungan membantunya.”
***
Dan benar saja.
Sampai di rumah, Songjun hanya terus tertidur. Dia tak sepenuhnya tidur. Beberapa kali aku tak sengaja memergokinya menatapku. Aku juga terkadang melihatnya sesenggukkan. Tapi, aku masih mengerti. Dia shock, dan menginterogasinya bisa membuatnya makin down.
Aku duduk di sampingnya. Ia sedang tidur terlentang. Kuusap perutnya sambil menatap wajahnya yang mulai berwarna lagi. “Kau ingin aku bernyanyi untukmu?”
Tak ada jawaban dari mulut tebal itu. Aku akhirnya menyanyi karena inisiatif. Lagu kesukaan Songjun waktu itu adalah Santa Tell Me yang dinyanyikan Ariana Grande. Sepanjang natal ia terus bernyanyi lagu itu. Tapi, belakangan ia sering menyanyikan musikalisasi puisinya.
Sebuah lorong menuju pintu
Bukan pintu ruangan seperti biasa
Ini hanya seperti fatamorgana
Di mana seakan pintu itu berisi segala cita…
Aku terdiam sejenak. Aku baru sadar bahwa lirik lagu ini agak seram. Tapi, hei, ini ciptaan istriku yang senang bikin cerpen bertemakan horor. Tentu saja dia punya esensi horor di mana-mana.
           
           
            Aku berjalan di atas karpet
Panjang membentang menutupi ubin
Ubin dingin kaku seperti deretan nisan
Bertuliskan nama-nama orang…
Untuk bait kedua, sepertinya aku benar-benar merinding. Oke, terserah ini lagu ciptaan siapa, tapi lagu ini benar-benar membuatku bergidik. Tapi tentu aku tidak bisa berhenti. Istriku menyanyikannya untukku. Aku juga harus seperti dirinya.
Jurang terjal malam sunyi
Bunyi gema langkah kaki
Desah napas yang tercekat menemani…
            Karpet itu telah berakhir
Berhenti di depan pintu
Pintu yang membuatku jatuh…
Dalam jurang…
Aku baru mengerti sekarang makna lagu itu. Yeah, puisi istriku ini menggambarkan angan yang tak sampai. Maksudnya, orang dalam cerita itu ingin meraih pintu yang bisa berarti apa saja—entah itu impian, keinginan, kenangan, atau masa depan. Karpet melambangkan bahwa inilah jalan yang benar. Dan yang dimaksud jurang adalah akhir mimpi itu.
Yeah, dia mungkin sudah memimpikan pintu yang berisi impiannya, namun yang ia dapatkan justru jalan menuju kehancuran.
Ini menyedihkan.
Oke, sepertinya aku kurang cermat. Menurutku, interpretasi lagu ini adalah di mana seseorang yang maruk untuk menggapai pintu impian. Yeah, pintu itu melambangkan cita-cita alias keinginan, arti karpet masih sama, dan arti ubin itu adalah korban. Ia menginjak nisan, yang menurutku adalah orang-orang yang harus ia jatuhkan agar dapat meraih pintu itu.
Bunyi langkah kaki melambangkan bahwa ia berhasil menyingkirkan semua halangan yang membuat jalan di depannya menjadi sunyi. Desah napas yang tercekat menemani, menurutku mengarah pada oknum lain. Yeah, desah itu bukan milik seseorang itu…
…tapi milik yang menemaninya. Orang lain yang berkemungkinan membuat seseorang itu jatuh ke dalam jurang. Karena tidak mungkin orang itu membuka pintu dan langsung masuk. Yeah, kesimpulanku orang dalam cerita itu jatuh ke jurang karena si pemilik desah yang mendorongnya.
Ah, makin lama kok aku makin takut?
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah luar kamar. Aku bangkit dari dudukku, mengambil tempat lilin yang terbuat dari besi sebagai senjata, lalu berjalan keluar.
Di sampingku, terlihat pintu basement terbuka dengan lampu yang menyala. Ini jelas-jelas menunjukkan ada seseorang di rumahku.
Tapi siapa?
Aku berjalan mendekati, dan aku menyesalinya! Harusnya aku tidak menghiraukan ini! Harusnya aku buru-buru menggendong Songjun dan keluar dari rumah—atau keluar dari kompleks ini.
Aku menyesal.
To be continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: