Sex Society (SS)

0
FF NC Kyuhyun donghae super junior 2014
1. Author : Choi Hyemin
2. Judul : Sex Society (SS)
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
– Cho Kyuhyun

– Kim Hyunra


– Sung Ji Ae

– Lee Hyunhae
– Lee Donghae
– Lee Hyuk Jae

Kim Hyunra’s POV
Eomma memang sudah gila! Aku memang memaksa untuk melanjutkan sekolah menengah ke atas, tapi bukan sekolah yang sekarang sedang diagung-agungkan eomma. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran eomma. Memangnya apa yang eomma harapkan dari aku kalau aku lulusan terbaik dari sekolah yang eomma pilihkan??
Kalian pasti penasaran sekolah apa yang membuatku muring-muring seperti ini, kan? Nama sekolahnya adalah: SEX HIGH SCHOOL. Kalian pasti sudah mengerti arti dari nama sekolah itu, bukan? Dan apa yang akan kalian lakukan jika eomma mu sendiri yang menyuruhmu untuk masuk ke sekolah tersebut? Itu membuatku GILA!
Eomma mendapat brosur dari entah siapa lalu tertarik dengan kata-kata—yang aku tidak tahu apa itu—yang ada di dalam brosur itu lalu memintaku err.. memaksaku lebih tepatnya, untuk masuk ke sekolah itu. Oke, sebut saja itu SHS. Aku terlalu geli untuk mengatakan kepanjangan dari sekolah itu.

Aku mengurung diri di kamar karena masih tidak setuju dengan kemauan eomma. Aku bukan anak kecil lagi! Jadi aku tahu apa yang akan terjadi jika aku masuk ke SHS. Tidak butuh otak supranatural untuk menebak pelajaran apa saja yang diajarkan di sekolah itu.
Aku mencoba Googling dan mengetik nama sekolah itu. Aku mengklik artikel paling atas. Ternyata fasilitas sekolah tersebut komplit dan bertaraf Internasional. Gila! Aku langsung men close browser lalu mematikan laptopku.
“Hyunra, buka! Eomma ingin berbicara denganmu!” eomma menggedor pintu perlahan tapi cukup keras dan sangat bernafsu.
Ah! seingatku pintunya tidak….
KLEK! Pintu pun terbuka. Aku tidak menunjukkan tanda peduli akan kedatangan eomma.
“Eomma tahu kau tidak setuju. Tapi ini demi kebaikanmu!” jelas eomma to the point.
“Eomma gila? Kebaikanku yang mana?? Eomma sama saja menyiapkan jalan menjadi pelacur!” aku memprotes.
“Tidak akan. Lulusan dari sana tidak ada yang rendahan seperti itu. Kamu tinggal memilih jurusan saja. Ingin menjadi model, geisha, pemain video atau menjadi aktris! Kau akan sukses dan dibayar mahal, Hyunra! Kau harus memikirkan dengan otak jernih! Pikirkan matang-matang! Aish, sebenarnya memikirkanpun tidak ada gunanya. Aku sudah mendaftarkanmu, akan ada yang menjemputmu besok, itu seperti sekolah asrama. Jadi kau hanya bisa pulang saat liburan semester. Tergantung apakah kau sibuk koas atau tidak.” Eomma menjelaskan dengan lancar. Jadi ini yang eomma inginkan? Uang semata?
“Eomma! Aku tidak mau bersekolah di sana!” aku membentak eomma dengan kasar. Eomma tersentak kaget. Aku belum pernah membentak eomma. Mungkin dengan begini eomma tahu kalau aku benar-benar tidak ingin bersekolah di sana.
“Di sana ada semacam pelajaran kepribadian. Aku harap attitude burukmu itu bisa leyap tak terbekas setelah lulus dari sana. Sekarang siapkan barang-barangmu! Bawa yang penting saja! Baju-baju akan di siapkan dari sana. Aku tidak akan mau mendengar protesmu lagi!” eomma berlalu meninggalkan kamarku.
-oo-
Sesampainya di SHS, aku pun terpengarah melihat sekolah tersebut. Lebih mewah dari yang ku bayangkan. Bangunannya megah dan sangat elegan. Aku curiga mereka mendapatkan duit darimana.
“Ayo, pendaftar baru murid Sex High School berkumpul di tengah lapangan dalam waktu 2 menit! Hurry up!” terdengar suara dari megaphone, dan murid-murid baru pun berlarian untuk cepat-cepat berkumpul di lapangan.
Ternyata banyak sekali murid-murid sekolah ini. Bahkan tak jarang aku melihat bule-bule cantik yang terlihat polos mengikuti barisan.
“Aku adalah Miss Scrape. Kepala sekolah Sex High School. Selamat datang di sekolah kami yang sederhana ini. Saya tidak akan mengucapkan banyak basa-basi kampungan. Kalian akan mendapatkan kamar sendiri tergantung nomor undiannya. Silahkan kalian istirahat terlebih dahulu lalu setelah mendengar bell berbunyi, kalian harus berkumpul di aula! Oh, ya! kalian berbarislah yang rapi dan mengantri untuk mendapatkan 3 benda! Kunci kamar, peta dan sebuah baju yang harus kalian kenakan saat di aula nanti. Bagi yang tidak mengenakan baju tersebut akan diberi sanksi D.O! terimakasih.”
Terdengar tepuk tangan riuh dari murid-murid baru yang terlihat bersemangat ini. Aku merasa asing.
Setelah mengantri sebentar, akhirnya giliranku pun tiba. Aku harus mengambil kupon undian dan aku mendapatkan angka 13 untuk kamarku. Aku juga mendapatkan peta dan sebuah kotak yang berisi pakaian. Segera aku membuka peta lalu menyusuri lorong-lorong panjang yang sangat sayang untuk dilewati begitu saja, tapi aku takut kalau bell nya berdering tiba-tiba, jadi aku langsung mencari kamarku tanpa memperdulikan lukisan-lukisan extra ordinary yang di pajang di sepanjang lorong.
Ternyata kamarku dekat dengan aula, jadi tidak terlalu repot untuk menuju ke sana. Aku pun membuka kamar dengan tidak sabar dan ternyata isi ruangan itu mencengangkan! Ini bukan seperti kamar biasa! Ini seperti kamar kerajaan yang mungkin sama dengan kamar yang dihuni Ratu Elizabeth. Besar dan menakjubkan!
Interiornya dibuat menyerupai dewa-dewi yunani. Kasurnya big size dan ini membuatku sayang untuk berkedip. Benar-benar luas biasa.
Kalau tidak tersandung karpet, aku tidak akan ingat kalau harus buru-buru. Aku pun langsung membuka kotak elegan itu dan…kalian tebak apa isinya!
Ini hanya berupa pakaian dalam wanita! Di dalam kotak itu hanya terdapat rok mini setinggi 30senti di atas lutut dan sebuah bra sewarna. Oranye pula warnanya. Mau tidak mau aku penasaran juga bagaimana ‘bentuk’ ku jika memakai pakaian seperti ini. cukup lama aku memantut-mantut diriku di depan cermin. Ternyata lekuk tubuhku dalam sekali dan aku takut itu salah dan aku langsung di deportasi.
Saat ingin mencoba mengakali rok tersebut agar terlihat lebih panjang, bell pun nyaring terdengar. Ternyata di kamar ada speaker kecil tapi memekakkan telinga. Aku segera menuju ke aula dengan perasaan malu-malu takut salah kostum. Ternyata semua murid-murid memakai pakaian yang sama! Hanya warnanya saja yang berbeda.
Terlihat Miss Scrape di atas panggung dengan wajah misteriusnya.
“Bagus, ku lihat kalian semua menaati peraturan. Kalian tahu kenapa kalian disuruh untuk mengenakan pakaian seperti ini? ini adalah pakaian resmi kalian. Jadi gunakan pakaian ini jika aku menyuruh kalian. Ok?”
“Sekarang untuk pengukuran badan, kalian menuju ke arah Barat. Yang rapi, anak-anak!”
Tiba-tiba ada yang mencolek pundakku.
“Hai! Room 13? Aku ada pembimbingmu! Panggil aku Hyemin! Mari ku ukur tubuhmu~” ia memberikan isyarat agar aku mengikutinya. Saat ia mengatakan ‘tubuh’ seperti akan terjadi sesuatu yang mengerikan.
Ternyata yang dikatakan mengukur tubuh memang benar-benar TUBUH! By God, ini benar-benar gila! Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. eomma sudah mentandatangani kontrak dengan SHS dan aku harus berada di sini sampai lulus.
Hyemin mengukur ukuran sepatuku. Lalu mengukur lingkar betisku, lalu pahaku dan bokongku. Ia juga menyibakkan rokku lalu menepuk-nepuk bokongku. Lalu menulis sesuatu di kolom ‘kekenyalan bokong’. Mengukur lingkar perut, lingkar dada, dan tiba-tiba saja ia sudah menarik lepas braku. Refleks aku menutupi sepasang benda keramat di baliknya dan menatap Hyemin sengit.
“Apa-apaan ini?”
“Tenang, aku hanya mengetes sesuai kolom.” Ia menunjukkan subject PAYUDARA dan kolom-kolom di bawahnya seperti kedalaman belahan dada, kekenyalan, kehangatan, lingkar payudara, ukuran bra, kebersihan, dll. Membuatku mengeryit ngeri.
“Tapi tidak bisa seenaknya! Ini tempat umum!” Hyemin menatapku innocent lalu melambaikan tangan ke sekeliling ruangan menunjuk orang-orang.
Mataku terpusat pada seorang cewek bule berkulit cokelat, berambut keriting. Pengujinya adalah namja, tapi ia dengan gaya sensualnya menyodorkan payudaranya pada namja itu. Namja itu menjilat putingnya lalu mereka terkikik geli. Ukuran bra nya pasti antara 40 atau 42. Besar sekali.
“Come on, girl! Aku tidak bisa mengukur payudaramu kalau kau menutupinya seperti itu!” tegur Hyemin.
“T..tapi aku malu…” aku menatap mata Hyemin minta dimaklumi. Ia spertinya memaklumi tingkahku dan mendesah panjang menyerah.
“Oke. Bagaimana kalau kita mengukurnya di ruangan yang agak tertutup?” Hyemin memutar badannya dan mencari tempat gelap. “Nah! Coba lihat! Di sana sepi dan lumayan gelap! Kajja!” Hyemin menarik tanganku tanpa minta persetujuan. Aku pun pasrah mengikutinya dengan sebelah tangan masih mengamankan payudaraku.
“Nah! Biar ku lihat!” Hyemin mencoba berkata dengan lembut. Aku sangat ingin dimaklumi karna aku benar-benar ditelanjangi bulat-bulat di sekolah ini. Ternyata perkiraanku tidak ada yang hampir menyerupai ini, padahal semalaman aku berpikiran hal yang paling buruk dan ternyata pikiranku belum ada apa-apanya dengan ini.
Aku menurunkan tanganku perlahan dan dengan mata terpejam pun aku merelakan gadis di depanku melihat payudaraku.
Ada jeda sebentar lalu aku merasakan tangan lembut dan halus meraba payudaraku dengan sikap hati-hati. Aku memberanikan mengintip dan ternyata Hyemin mencoba mengukurnya dengan perlahan tapi cekatan. Sepertinya ia juga ingin cepat-cepat menyelesaikan proses pengukurannya.
“Kenapa kau harus malu menunjukkan payudaramu?” Hyemin bergumam pelan.
“Mwo? Memangnya kenapa?”
“Payudaramu ini sempurna. Besar, hangat, lembut dan bersih. Walaupun aku perempuan sekalipun, aku rasa aku mau menatap payudaramu lama-lama.” Aku bergidik ngeri mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya dan refleks menutupi payudaraku.
“Yak! Aku hanya bercanda, baboya!” Hyemin pun dengan cuek menulis sesuatu di kolom pengukuran. “Nah! Sekarang kau boleh memakai bra mu lagi. Payudaramu sudah bagus.”
Setelah payudara, ia pun menilai ketiakku, wajahku, rambutku dan penampilanku secara keseluruhan. Ia tidak lagi berbicara padaku. Aku pun tidak berminat untuk mengajaknya berbicara walaupun banyak pertanyaan berseliweran di otakku.
Murid yang sudah selesai diukur, duduk di bangku-bangku depan panggung dan aku berusaha untuk menggabungkan diri pada teman-teman. Mungkin saja ada yang senasib denganku.
“Annyeong!” aku mencoba menyapa ramah dengan teman di sebelahku.
“Annyeong! Wah, siapa namamu?” tanya gadis itu. Ia tersenyum ramah padaku.
“Kim Hyunra. Kau sendiri?”
“Aku Sung Ji Ae!” aku pun bersalaman dengan gadis periang itu.
“Annyeong! Kenalkan aku Lee Hyunhae!” seorang yeoja duduk di sebelah kiriku dan langsung memperkenalkan diri dengan membungkuk sopan.
Setelah berkenalan, kami pun mulai berkasak-kusuk tentang sekolah ini.
“Kau kamar nomor berapa, Ji Ae? Aku 12!” tanya Hyunhae dengan bersemangat.
“Aku nomor 14! Ternyata kamar kita dekat, ya? kau nomor berapa, Hyunra?”
“Aku 13. Angka sial, ya?” aku tersenyum kecut memikirkan apa akibat bila aku berada di kamar bernomor keramat tersebut.
“Sial? Dengar-dengar kamar nomor 13 adalah kamar yang paling beruntung! Katanya akan dibimbing oleh namja tampan! Aku lupa namanya! Seingatku marganya Cho!” jelas Ji Ae.
“Ne! Cho Kyuhyun! Dia adalah namja tampan yang membuat yeojadeul kelabakan dan tergila-gila padanya! Aigoo….” Hyunhae menatap Hyunra seperti membayangkan dirinyalah yang berada di kamar nomor 13.
“Mwo? Tadi pembimbingku adalah yeoja, bukanlah namja!” aku menggaruk kepalaku dengan bingung.
“Bukan pembimbing seperti itu maksud kami! Pembimbingmu untuk menjadi yeoja sex berkualitas. Dia yang akan tidur denganmu untuk pertama kalinya! Dan kalau kau belum pernah berciuman, pembimbing kamar itulah yang akan mencuri ciumanmu itu! Tapi di sini tidaklah ada pembimbing yang jelek! Semuanya tampan dan mempesona. Tapi Kyuhyun adalah namja yang paling mengagumkan. Begitulah sekiranya!” jelas Hyunhae dengan semangat menggebu-gebu.
“Bukan pembimbing, Hyunhae! Namja seperti itu namanya Guardian atau pelindung. Guardian itu seperti namjachingu mu sendiri. Dia yang akan menjadi pasanganmu sampai lulus!” jelas Ji Ae tak mau kalah.
“Memangnya…Kyuhyun itu seperti apa?” aku bertanya malu-malu. Aku sama sekali tidak tertarik dengan SHS, jadi aku pun tidak sudi untuk mengorek informasi lebih banyak tentang sekolah menggelikan ini di internet kemarin. Tapi tentu saja rasa penasaran itu datang tiba-tiba.
“Sepertinya aku memiliki fotonya di ponsel! Ne! Coba lihat ini!” Hyunhae menunjukkan foto Kyuhyun di ponselnya. Namja…seperti ini? aku tidak bisa memalingkan mataku dari wajah pria yang berada di foto tersebut. Bahkan tidak sudi untuk berkedip.
“Bagaimana? Sudah merasa bersyukur telah masuk di kamar nomor 13?” Ji Ae bertanya sambil terkikik geli melihat ekspresiku yang sepertinya terlihat tolol. Cepat-cepat aku memperbaiki ekspresiku dan menatap foto namja itu dengan acuh.
“Sedikit.” Aku menaikkan bahuku tidak peduli. Hyunhae dan Ji Ae tidak peduli dengan jawabanku. Mereka tahu seperti apa jawabanku yang sebenarnya.
“Hadirin sekalian, mereka ini adalah calon wali kelas kalian di Sex High School 10th grade. Mereka masing-masing akan memberitahu kalian berada di kelas mana. Silahkan!”
“Annyeonghaseyo! Aku Park Miki. Panggil saja aku Miki. Muridku adalah siswi yang berada di kamar bernomor 1-15. Dan kelasnya akan kutunjukkan setelah ini! Ah, kelas kalian ada kelas 10 A! Gamsahamnida~” yeoja itu membungkuk hingga 90o lalu berjalan mundur dengan tertib. Lalu guru-guru yang lainnya pun memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah. Tidak ada guru yang kelihatan killer. Semuanya cukup baik. Tapi entahlah, ini hanya pendapat awal.
“Itu artinya…kita sekelas?” seru Ji Ae dengan senang.
“Ne! Asyik sekali ya! Kamar kita juga bersebelahan! Ini memang takdir!” Hyunhae berseru dengan riang. Belum sempat aku berkomentar, Miss Scrape pun segera mengambil alih microphone lagi.
“Guru-guru ini juga akan memberitahu kalian, dengan siapakah Guardian kalian nanti. Silahkan kalian mengikuti wali kelas kalian.” Siswi-siswi mulai berebutan menuju kea rah wali kelasnya yang ramah-ramah. Hyunhae tak kalah bersemangat. Ia ingin cepat-cepat sampai lalu menarik-narik tangan kami sepanjang jalan.
-oo-
“Nah! Dan ini adalah ruang terakhir! Inilah kelas kita! Mulai besok, aku akan mengajar kalian di kelas ini! Jangan terlambat, ya!” pesan Miki pada kami. Ia lebih suka dipanggil nama langsung. Lagipula umurnya hanya selisih beberapa tahun dengan kami. Ia berusia 19 tahun dan alumni sekolah ini.
“Bagaimana dengan Guardian?” tanya seorang anak yang kurasa ia bernama Yong Jisun.
“Ah iya! Ini adalah daftarnya. Mau lihat sendiri atau kubacakan?” tanya Miki sambil membuka daftar nama dari sakunya.
“Baca sendiri saja!” usul Ji Ae dan yang lainnya menyetujui. Akhirnya kami membuka mata lebar-lebar dan membaca nama Guardian kami.
Sebenarnya aku berharap kalau Guardian ku memang seorang namja bernama Cho Kyuhyun itu. Bukan berarti aku ingin malam pertama dengannya, tapi… yak!! Memikirkan malam pertama membuat wajahmu panas.
“Hyunra! Sepertinya kami salah! Kau tidak dengan Cho Kyuhyun! Tapi dengan…pria bernama Cho Jijae.” Hyunhae memberitahu dengan wajah menyesal.
“Mwo? Coba kulihat!” aku pun mendekati kertas itu dan membaca. “Nomor 13, Kim Hyunra, Guardian Cho Jijae!” aku membelalakkan mata . Cho Jijae? Pria aneh seperti apa yang memiliki nama seperti itu? Mengerikan sekali.
“Sudah selesai? Kalian boleh kembali ke kamar masing-masing. Kamarku ada di antara kamar nomor 7 dan 8, kalau ada apa-apa kalian bisa berkonsultasi padaku! Dan Guardian akan datang ke kamar kalian masing-masing setelah ini. Jadi tunggu dengan sabar, ya?” ujarnya sambil tersenyum genit.
“Aku mendapat Lee Donghae! Marganya sama denganku! Menurutmu itu jodoh atau bukan?” tanya Hyunhae pada Ji Ae.
“Lee Donghae? Belakang namanya juga ada ‘hae’ nya. Entahlah mungkin saja kalian jodoh! Guardianku seseorang bernama Lee Hyukjae. Apakah itu terdengar buruk? Kenapa banyak sekali marga Lee?” Ji Ae mengetuk-ngetuk pelipisnya, menandakan ia sedang berpikir.
“Entahlah! Mungkin para orangtua sedang kerajingan marga Lee. Atau memang itu marga terbesar? Setahuku di Jepang juga ada marga Lee.” Hyunhae juga ikut berpikir.
“Masuk sekolah ini, aku dipaksa eomma. Melepaskan masa depan indah yang sudah kurancang dari jauh hari. Membiarkan seorang yeoja menggerayangi tubuhku, memakai pakaian tipis yang tidak bisa disebut pakaian karna pakaian gunanya untuk menutupi tubuh sedangkan pakaian ini nyaris transparan dan…apakah aku juga harus merelakan first kiss dan keperawananku pada seorang namja bernama Cho Jijae yang entah bagaimana bentuknya nanti?” aku bergumam dengan frustasi. Aku masih shock dengan ‘nama’ seorang namja, Jijae.
“Eh, entahlah Hyunra, aku tidak benar-benar mengerti perasaanmu. Tapi ku pikir memang nama Jijae itu cukup aneh dan menjijikkan. Tapi bukankah di sini menjanjikan Guardian yang tampan dan memesona? Jadi tidak mungkin kau mendapatkan wajah yang jelek!” support Hyunhae.
“Ne! Mungkin saja kau mendapatkan jackpot! Mungkin orang yang bernama Cho Jijae itu tampan dan mempesona dan mungkin lebih dari Kyuhyun! Lagipula marganya juga Cho, mungkin saja orang yang bermarga Cho itu sama-sama mempesona dan mungkin bahkan paling mempesona!” Ji Ae juga ikut men support ku.
“Terlalu banyak kata mungkin di kata-katamu tadi! Membuatku sinting saja!” aku pun segera meninggalkan mereka berdua karna frustasi dengan kata ‘mungkin’ yang banyak digunakan Ji Ae. Begitu menemukan kamarku, aku langsung menutupnya lalu menguncinya. Tidak boleh ada seorang Jijae yang masuk ke dalam sini! Tidak akan pernah!
Aku pun mencopot baju sialan ini dan mengganti dengan baju santaiku. Tiba-tiba kenop pintu bergerak-gerak dan diputar pelan. Aku menatap kenop itu dengan perasaan puas. Kau tidak bisa masuk ke sini, Jijae! Tidak hari ini!
Terdengar suara umpatan pelan dari balik pintu. Lalu terdengar gemerincing kunci dan suara kunci dimasukkan ke dalam lubangnya. Aku bergidik ngeri. Bagaimana bisa Guardian memiliki…oh iya! dia kan akan bersamaku selama 3 tahun ini! tidak mungkin dia tidak memiliki kunci! Aku menyumpah-nyumpah setelah menyadari kebodohanku. Terdengar suara bahwa pintu kamarku tidak lagi terkunci dan kenop pintu pun berputar sekali lagi. dengan gerakan slow motion, pintu pun terbuka perlahan tapi pasti. Aku pun menanti sosok yang akan keluar dengan was-was.
“Ugh! Susah sekali!” pria itu pun masuk dan mataku terbelalak tidak percaya sekaligus ngeri.
-oo-
Aku sendirian di dalam kelas. Sebuah kelas yang kelihatannya tempat praktik biologi. Ini ruang kelas biologi di SMP ku. Lalu bagaimana bisa aku kemari?
Aku melangkah masuk dan menatap kursi satu persatu. Dulu, aku dan teman-teman ku membuat suatu impian sederhana yang sangat manis.
Aku ingat, dulu aku bercita-cita ingin menjadi presenter di sebuah berita atau ingin menjadi Host sebuat acara. Aku ingin kuliah di jurusan komunikasi dan ingin menjadi jurnalis. Membayangkan bagaimana teman-temanku kagum, terpesona dan juga iri melihatku berada di depan kamera dengan wajah dirias oleh penata rias dan suaraku yang meyakinkan membacakan berita dan mewawancarai beberapa narasumber.
Aku menyentuh meja yang biasa aku duduki. Aku suka duduk di sini karna meja ini dekat dengan jendela dan aku suka sinar matahari di pagi hari menerpa wajahku. Lumayan untuk mendapatkan vitamin D dengan cuma-cuma. Karna terbawa suasana, aku pun membuka jendela dan duduk di tempat dudukku yang biasa.
Saat melihat ke depan kelas, terlihat sosok yang sangat kukenali. Eomma. Beliau menatapku tajam dan ekspresinya menandakan kalau beliau akan memberikan ultimatum padaku dan seperti biasa, beliau tidak akan pernah mau menerima kata ‘tidak’.
“Hyunra, mengapa kau tidak masuk ke kamar ini?” tanya eomma dengan nada sengit. Aku mengangkat wajahku takut. Kamar apa? Eomma menunjuk ke pintu di sampingnya. Aku bisa membaca tulisan di pintu itu. JJ.
“JJ? Apa maksudnya?” tanyaku. Berusaha menyembunyikan gemetar di balik suaraku. Sial! Kenapa aku selalu takut menghadapi eomma? Wajah eomma yang sadis, matanya yang mengancam, sifatnya yang protektif dan perfeksionis serta rokok yang tak pernah lepas dari sela telunjuk dan jari tengah di tangan kanannya. Eomma seperti hantu yang terus membunuhku secara perlahan.
“Itu adalah pelangganmu hari ini!” jelas eomma singkat. Aku menjadi sangat bingung dengan penjelasan singkat itu.
“P..pelanggan apa, eomma?” aku memberanikan diri bertanya walaupun tidak bisa menyembunyikan getaran suaraku karna takut bertanya ulang. Benar! Seperti yang kubayangkan! Eomma menatapku seakan-akan aku adalah orang paling idiot di seluruh dunia dan seolah-olah eomma tidak sudi menganggapku anak lagi.
“Dia adalah Cho Jijae! Kau lupa kalau kau adalah geisha ha? Cepat masuk kesana! Service isi celana pria itu lalu kembali padaku dengan setumpuk uang!” Eomma membentakku dan memelototiku seakan-akan aku anak durhaka yang telah mempermalukannya di depan umum. Walaupun sebenarnya memang itu yang kuinginkan.
Cho Jijae? Pria sialan itu? Sudah berapa kali aku bilang jangan ganggu hidupku! Pintar sekali dia datang kepada eomma dan berjanji untuk memberikan banyak uang kalau aku bersedia melayaninya. Cih! Kurang ajar!
Entah bagaimana bisa aku sudah sampai di depan pintu bertulisan JJ ini. Aku juga heran kenapa kamar seseorang yang bernama JJ ini berada di ruang biologi di SMP ku dulu.
CKLEK! Aku membuka pintu itu perlahan dan memberanikan diri melongokkan kepala melihat isi di dalam kamar tersebut. Kamar itu remang-remang, tapi bukan berarti aku tidak bisa melihat isi di dalam kamar tersebut. Dan sosok mengerikan itu pun tergelatak begitu saja di atas lantai. Aku mendekati dengan perlahan dan kakiku yang telanjang pun menyentuh suatu cairan kental. Aku mencoba mencoleknya dan ternyata sosok itu bersimbah darah!
Aku yakin sosok ini sudah tidak bernyawa lagi karna bentuk wajahnya sudah tidak bulat sepenuhnya. Sangat mengenaskan. Aku pun menekuk lutut lalu mencoba menerka siapakah sesosok mayat menyedihkan ini. Tiba-tiba mataku silau terkena kerlipan sebuah benda yang dipantulkan cahaya. Ternyata benda itu berada di pergelangan tangan sosok itu. Aku mengamati benda itu dengan seksama karna gelang itu terasa familier bagiku. Gelang rantai emas ringan yang bentuknya sederhana dan salahsatu rantai itu berbentuk inisial HR. Hanya ada satu orang yang memiliki gelang seperti ini. Gelang buatan tangan dengan inisial namaku. Gelang yang diberikan dengan segenap hati dan diterima dengan senyum lebar dan janji akan terus menjaga gelang ini dengan segenap jiwanya. Tanganku bergetar menyadari itu semua. Aku tidak percaya dan terus bergumam bahwa ini semua bohong. Tapi sosok di depan ku ini membantah asumsiku dan tidak ada yang bisa kulakukan selain menitikkan air mata. Menangisi jasad tak bernyawa yang tergeletak menyedihkan tidak berdaya. Menangisi jasad Appa.
-oo-
“YAKK!!! KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBANGUNKANKU!!!!” aku berlari ke arah kamar mandi. Tidak ada waktu untuk mandi dan bersih-bersih! Aku langsung mengambil seragam Hari Senin ku lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Menggosok gigi dan menyemprotkan parfum banyak-banyak. Setidaknya aku tidak seburuk saat bangun tidur tadi. Sepertinya hari pertama sekolah tidaklah terlalu lama, jadi aku bisa mandi nanti sepulang dari sekolah.
Aku terkejut saat menyadari pakaian compang-camping itu melekat di tubuhku. Ini adalah seragam sekolah? Hanya berupa baju putih yang menutupi hanya bagian payudara dengan lilitan di depan dan rok motif kotak-kotak merah hitam yang sangat mini serta sepatu boot di bawah lutut yang terlihat menantang. Aish! Tidak ada waktu untuk mengumpat tentang baju sialan ini! Aku harus segera ke kelas!
“Ugh! Sepatu apa ini?? Kenapa haknya menyulitkan sekali??” begitu keluar dari kamar mandi, kakiku keseleo dan itu menghambat jalanku yang sekarang jadi tertatih-tatih.
“Diamlah! Kau ini berisik sekali!” seru suara pria yang benar-benar membuatku naik darah.
“Kau yang seharusnya diam, Tuan Cho! Sudahlah kau kembali tidur saja! Jangan ganggu hidupku!” aku meraih tas kecil dan segera menuju pintu dengan tertatih. Sepertinya pria itu ingin membalas kata-kataku tapi mungkin dia mengerti keadaanku. Dia HARUS mengerti. Awas saja kalau ia membuatku naik darah pagi ini! Bisa kukuliti dia hidup-hidup.
Tepat saat aku menutup pintu, terdengar suara pria itu lagi. “Babo!”
Untung saja aku sudah berada di luar sini! Aku pun segera berlari sebisa mungkin ke kelasku. Dan melupakan semua yang kuimpikan tadi. Aku harus menghadapi hari ini dengan baik, tidak ada waktu untuk memikirkan mimpi menakutkan itu.
Ternyata Miki sudah masuk! Sepertinya dia baru saja mengucapkan salam pembuka. Yah, setidaknya aku tidak begitu telat.
“I’m sorry I’m late.” Aku menundukkan kepala dengan sikap menyesal yang kupelajari di SMP ku dulu guna untuk menjinakkan guru yang tidak suka murid terlambat.
“Terlambat, huh? Hari pertama sekolah saja kau sudah terlambat. Mau jadi apa kau? Kau lihat jam tidak?” bentak Miki dengan galak. Ternyata wajah imut dan manisnya tetap menyeramkan jika sedang marah. “Tapi…kau menggunakan bahasa Inggris ya tadi? Bolehlah! Untuk kali ini kau ku maafkan!” Miki tersenyum riang dan mempersilahkan aku masuk.
Ternyata Hyunhae dan Ji Ae telah menyiapkan tempat duduk khusus untukku. Aku pun duduk di antara mereka dan menatap ke depan dengan sikap hormat.
“Sex High School mengajar sesuai dengan kurikulum sex. Orang yang lulus dari sekolah ini akan memiliki masa depan yang terjamin sebagai salah satu dari empat bidang studi yang diajarkan pada siswi-siswinya. Geisha, model, pemain video dan aktris. Tentu saja semua itu berhubungan dengan porno dan sex karna itu yang diajarkan di sekolah ini.
“Sistem pengajaran sekolah ini cukup menarik. Sekolah ini hanya membutuhkan 2 tahun untuk pembelajaran, dan pengajarannya adalah 1 tahun penuh dengan empat jenis bidang studi setiap tingkatan kelas. Murid yang memiliki bakat lahiriah bisa ditunjuk ke kelas akselerasi yaitu kelas yang hanya untuk satu tahun saja.
“Singkatnya, selama tahun pertama ini, kalian akan mempelajari pembelajaran empat bidang studi dan masing-masing studi kalian pelajari selama masing-masing tiga bulan. Tiga bulan pertama, kalian akan diajarkan bagaimana sikap dan tata cara menjadi geisha yang baik. Sudah paham semua?” tanya Miki dengan antusias. Teman-teman menjawab dengan senang. Sedangkan aku bergidik ngeri. Geisha…sama saja dengan pelacur, bukan?
Seperti mendengar pikiranku, Miki menjelaskan lagi.
“Geisha sangat berbeda dengan pelacur! Pelacur hanya semata-mata menjual harga diri dan tubuhnya. Bahkan tidak jarang pelacur yang mengobral tubuh! Menjijikkan! Sedangkan geisha sebaliknya. Geisha adalah wanita terhormat yang hanya akan melayani pria-pria terhormat. Geisha harus bisa minimal 3 bahasa. Korea, Jepang dan Inggris. Geisha harus wanita-wanita berpendidikan tinggi dan bukan sembarang wanita bisa menjadi geisha. Kenapa harus geisha menjadi 3 bulan pertama ini? Karna geisha, berarti juga harus mempelajari tata krama dan bahasa. Pelajaran dasar dan harga mati dari Sex High School ini!”
-oo-
“Mengerikan! Kimono itu susah sekali cara memakainya! Tidak kusangka obinya sepanjang itu! Aku sampai pusing cara melilitkannya!” Ji Ae menepuk-nepuk kepalanya yang pusing.
“Ya! Tapi kimono di sini keren, ya? ada belahan kakinya dan itu sexy sekali! Aku sampai terpesona melihat Miki memakai kimono tadi. Dia memang manis!” seru Hyunhae.
Aku tidak berminat untuk menyambung kata-kata mereka. Aku terlalu sibuk mengatur rencana mandi tanpa harus diganggu oleh pria bodoh di kamarku itu.
“Emm…Hyunra, mianhae! Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sinting kemarin! Aku hanya ingin menghiburmu!” Ji Ae mengatakan dengan bersungguh-sungguh.
“Ne, Hyunra~ya! Maafkan saja dia! Dia itu agak bodoh, kau tahu! Tapi sebenarnya dia baik! Dia hanya ingin menghiburmu walaupun caranya salah dan membingungkan!” Hyunhae berbisik cukup keras di telingaku. Mungin sengaja agar Ji Ae penasaran dan menguping.
“Yak! Apa yang kau katakan? Aku mendengar kau menyebut kata ‘bodoh’! kau mengataiku, ya?” Ji Ae merajuk.
“Yak! Kau merasa bodoh, ya?” Hyunhae menggoda Ji Ae dan terkekeh puas melihat tampang Ji Ae yang manyun.
“Sudahlah, lupakan saja! Lagipula aku sudah memaafkanmu, Ji Ae~ya!” seruku dengan tulus. Ji Ae menatapku dengan berbinar.
“Benarkah! Kau baik sekali Hyunra!!!” Ji Ae memelukku dengan erat dan membuatku sesak napas.
“J..Ji Ae! Ka..lau kau tidak melepa..skanku, aku tidak akan memaafkanmu seumur hi..dup!” aku mengancamnya walaupun napasku sesak karna dipeluk olehnya.
“Oh! Maaf!” Ji Ae menyadari kesalahannya dan melepaskan pelukannya.
“Lalu..? Bagaimana kabar Jijae itu?” tanya Hyunhae penasaran.
“Oh. Sebenarnya dia bukan seseorang bernama Cho Jijae. Dia sengaja mengganti namanya agar tidak ada keributan yeoja seperti tahun kemarin. Nama sebenarnya adalah…” aku sengaja menggantung agar memberi kesan mencurigakan.
“Adalah…?” Hyunhae bertanya dengan tidak sabar.
“Cho Kyuhyun.” Aku menjawab dengan enteng.
“MWORAGO? KYUHYUN???” Ji Ae berteriak degan bersemangat.
“Sssstt!! Jangan membuat keributan, babo~ya!!” aku memukul kepala Ji Ae dan ia pun mengaduh kesakitan.
“Wah! Chukahae, Hyunra~ya!” Hyunhae memberikan selamat padaku.
“Yak! Tadi kalian sedang bicara apa sambil menyebut-nyebut Kyuhyun? Kalian melihat Kyuhyun di sini?” tanya seorang yeoja yang kemarin kulihat menjijikkan dengan pembimbing namja saat pengukuran tubuh. “Aku Shin Yojin. Dan kalian…?” tanya yeoja itu dengan tatapan yang sangar.
Saat kami saling berkenalan, ia pun duduk di bangku depan kami tanpa permisi langsung menyambung obrolan. “Lalu…apa yang kalian obrolkan tadi?” tanya yeoja itu ingin tahu.
“Kami hanya membayangkan, pasti menyenangkan jika memiliki Guardian seperti Kyuhyun.” Aku menjelaskan disambung dengan anggukan Ji Ae dan Hyunhae agar terlihat meyakinkan.
“Yah, sebenarnya aku ingin mendapatkan Guardian Kyuhyun. Tapi bagaimana lagi? Sepertinya memang tidak ada Kyuhyun lagi di sini! Tapi tidak mengapa! Aku sudah menemukan pasanganku! Dia hebat! Aku memanggilnya Jo dan dia memanggilku Jin. Romantis bukan?” ia menerawang dengan tatapan sensualnya. Tidak ada yang berani berkomentar.
“Sebenarnya semalam kami hampir melakukan ‘itu’. Coba saja kalau hari tidak kunjung pagi, aku pasti sudah tidak virgin hari ini! Hanya kurang bagian intinya! Kami sudah berjam-jam melakukan pemanasan, lho!” ia mengerling pada kami.
“Memangnya kau sudah melakukan apa saja?” tanya Hyunhae penasaran.
“Begini…” Yojin mulai bercerita.
-oo-
Flashback
Shin Yojin’s POV
11.38 PM – Yojin’s Room
Malam ini begitu dingin. Biasanya rumahku, yang berbahan kayu, tidak mungkin sedingin ini. Bahkan terbilang panas, sampai telanjang pun tidak akan menghilangkan panas itu. Aku tidak terbiasa dengan hawa dingin.
“Jo, apa kau kedinginan?” tanyaku pada Jo yang sibuk dengan iPad nya. Ia menatapku lalu menggeleng pelan.
“Kau kedinginan?” tanya Jo.
“Ne. Lebih baik aku akan membuat teh panas.” Aku segera beranjak dan meletakkan buku yang sedari tadi kubaca. Aku menuju ke dapur dan menarik laci-laci. Dimana teh nya, ya?
Aku mendengar suara langkah kaki yang pelan dan hati-hati. Saat aku aku ingin berbalik, sebuah tubuh kekar menahanku untuk berbalik. Tangannya yang besar menyentuh lengan atasku. Aku bergidik kaget.
“Kau kedinginan, Jin? Mau ku hangatkan?” aku tidak mengerti kenapa jantungku berdebar dengan kencang. Suara Jo terdengar seperti menawarkan sebuah ‘permainan’ dan aku suka segala jenis permainan ‘apapun’. Aku berbalik dengan lincah dan menatap wajahnya yang menggoda.
“Hangatkan aku. Sebisa yang kau lakukan.”
Jo langsung menciumku dengan lembut. Seperti menilik reaksiku. Dan aku suka pria sopan. Setelah tidak mendapatkan penolakan dari sikapku, dia pun memberanikan diri menciumku lebih agresif dan aku pun membalas ciumannya dengan tak kalah liar.
Tiba-tiba aku merasa tidak menapak kaki lagi. Aku telah dibopong oleh Jo dan aku dibawa ke kamar, tanpa melepas ciuman kami. Setelah ia meletakkanku di atas kasur, ia pun menindihku dan menciumku lebih ganas lagi. Aku tidak tahan dan segera membalas ciumannya lalu menjambak rambut Jo puas. Jo menekan kepalaku, memperdalam ciuman kami. Dan lidahnya yang nakal mulai bergerak-gerak liar di sela-sela bibirku, meminta jalan masuk. Aku pun membiarkan lidahnya masuk dan kamipun bertukar saliva. Lidah kami saling bermain-main di sela-sela ciuman kami.
Aku tidak tahan lagi. Aku pun melepaskan ciuman kami agar bisa menghirup oksigen. Tidak percaya, aku sampai terengah-engah karna ciuman barusan! Jo, yang sepertinya tidak berniat untuk menghentikan permainannya sampai di situ, menciumi leherku dan meninggalkan kissmark. Lalu bibirnya mulai lebih ke bawah dan ia menciumi belahan dadaku. Lidahnya bergerak liar berusaha mendapatkan puting tanpa harus membuka bra ku. Dengan terpaksa, ia pun harus melepaskan bajuku dengan perlahan ia menanggalkan bajuku dan melemparnya entah kemana. Aku juga tidak memikirkannya. Aku lebih ingin merasakan sensasi menggelinjang yang sangat menyenangkan.
Jo menciumi payudaraku dan terkekeh puas melihat ukuran payudaraku yang tidak bisa dibilang biasa. Ia pun menciumi puting payudaraku dan menjilatinya dengan manja. Ia pun tiba-tiba melepaskan tubuhku dan ia pun memandangi pemandangan indah di depannya.
“Bagaimana bisa kau memiliki payudara sebesar ini, Jin~a?” Jo tersenyum bangga.
“Mereka juga boleh menjadi milikmu kalau kau mau!” aku tersenyum menggodanya dan ia pun terlihat seperti terlena lalu melepaskan seluruh pakaiannya, kecuali celana dalamnya. Dan aku melihat ‘sesuatu’ yang menonjol. Ia mengikuti arah pandangku dan tersenyum geli.
“Ini untuk makan malammu!” ia menjelaskan dengan sopan. Aku merasakan pipiku panas dan merasa sangat bahagia. Ia pun langsung melepaskan celana pendek yang kukenakan dan melihat celana dalam yang sangat sexy yang sedang kukenakan. Ia tersenyum jahil.
“Dan ini makan malamku!” ia pun kembali menindihku dan sibuk bermain dengan payudaraku. Ia meremasnya perlahan dan lama kelamaan menjadi ganas karna ia suka mendengarku mendesah dengan sensual.
Ia manawarkanku untuk melepaskan celana dalamnya. Aku pun menerima tawaran itu dengan senang hati. Aku melepaskan celananya perlahan dan melihat sosok di baliknya tadi. Aku tidak percaya. Belum pernah aku melihat penis besar, panjang dan sangat menantang ini. Aku sudah sering melihat video porno, tetapi rata-rata penis mereka standard. Tapi tidak dengan apa yang ku lihat di hadapanku ini. Bombastis.
Aku pun mencicipi makan malamku dengan lidah. Rasanya tidak terlalu buruk. Entah karna memang tidak ada rasanya atau sudah dipenuhi nafsu birahi. Aku pun mengulum penis itu dan memaju-mundurkan kepalaku. Aku juga menggosok-gosok penis itu. Dan ternyata kalau penis sedang ereksi, bisa membesar dan aku pun hanya bisa menjilatinya karna menganga lebar-lebar membuat otot-otot mulutku kaku.
Jo pun memasukkan penisnya di antara payudaraku dan aku pun menekan payudaraku agar mengampit sang junior yang ingin beraksi. Ia bergerak maju mundur dan tiba-tiba mengeluarkan sperma. Rasanya lengket tapi menyenangkan. Kalau bercinta tidak menelan sperma memang belum afdol.
“Jangan nikmati sendiri. Bagilah denganku!” Jo pun kembali menciumku dan ciuman kami 10x lebih ganas dari yang sebelumnya. Jo mengacak-acak rambutku dan juga bergerak sengaja agar menyentuh payudaraku dan tentu saja penisnya yang sedang tegang mengganggu proses berciuman kami karna ia selalu menyundul Miss V. Mengajaknya bermain.
“Ju..nior!” aku mendesah sambil memanggil penis Jo. Aku masih malu mengatakan penis di depan Jo. Lagipula aku mengucapkan Junior dengan JOnior, maksudnya untuk memanggil Jo ‘kecil’ yang sebenarnya tidaklah kecil.
“Aaaah! Kau menemukan Miss V, ya? Ingin masuk?” tanya Jo pada penisnya. Jo pun menatapku dan meminta izin. “Boleh tidak?”
“Tentu saja!” aku membiarkan Jo melepas celana dalam ku. Penisnya langsung menegang dengan hebat. Benar-benar lurus 180o! Kalau ini tidak dalam proses bercinta, aku pasti akan mengambil busur dan mengukurnya!
“Ready…Set…” Aku dan Jo pun berhitung mundur perlahan.
KRIIIIINGGG!!!!!! Aku sadar! Itu wekerku! Ternyata sudah pukul 6.15 AM dan aku belum bersiap-siap untuk sekolah!
“Tinggal satu hitungan lagi…” Jo manyun dan bersikap manja.
“Jangan manja, Jo!” aku terkikik dan menciumnya pelan. Ternyata Jo menginginkan lebih lalu menciumku dengan liar, bergerak ke segala arah. Mencari celah di bibirku.
“Aish! Aku harus sekolah, Jo! Aku mau mandi!” aku mangambil seragam dan berjalan menuju kamar mandi.
“Mandi bersama?” tawar Jo.
“Jangan coba-coba membuatku telat di hari pertama sekolah, Jo!” aku pun menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Flashback end
-oo-
Kim Hyunra’s POV
Aku, Hyunhae dan Ji Ae terbengong-bengong mendengarkan penjelasan terperinci dan panjang lebar Yojin.
“Jadi…belum?” tanya Ji Ae tergagap.
“Yah, kemarin belum! Tapi aku akan melakukannya nanti. Harus!” tekad Yojin sambil tersenyum-senyum.
“Jadi apa yang kau lakukan tadi yang menyebabkan kau terlambat, Hyunra ssi?” tanya Yojin ingin tahu.
“Ehm…bangun kesiangan. Mimpi buruk.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal karna salah tingkah. Hyunhae tertawa ngakak mendengar alasanku.
“Bagaimana bisa, Hyunra~ya? Kau seharusnya senang mendapatkan Guardian Cho…Jijae!” Ji Ae cepat-cepat membetulkan kata-katanya saat mendapat pelototan dariku.
“Jijae? Nama yang menggelikan! Bagaimana rupa namja itu?” tanya Yojin dengan geli.
“Yah, biasa saja. Tidak buruk. Tapi kelakuannya itu menyebalkan! Tidak ada ramah-ramahnya sama sekali, kau tahu!” aku pun jadi mengingat saat dia memanggilku babo tadi.
“Tidak akur, ya? Biasanya pasangan yang tidak akur dan gengsinya tinggi, akan mendapatkan kepuasan masing-masing saat berhubungan sex. Dan biasanya namja seperti itu jago memuaskan pasangannya, lho!” Yojin menggodaku dan ia pun segera beranjak dari bangkunya tadi.
“Oke! Aku akan kembali ke kamar! Salam untuk Guardian kalian semua, ya? Annyeong!” Yojin berjalan keluar kelas dan meninggalkan kami bertiga di sini.
“Benar-benar tidak akur?” tanya Hyunhae ingin tahu.
Aku mengangguk pasrah. “Yah, bagaimana mungkin aku bisa akur dengan namja menyebalkan seperti itu!!” aku menggerutu kesal membayangkan namja sialan itu.
“Tapi dia tampan, kan? Akui sajalaah!” Ji Ae menggodaku.
“Tampan tidak mencerminkan kepribadian.” Aku menjawab dengan dingin.
“Kyaaaa, kau menganggapnya tampan!!” Ji Ae puas telah menggodaku. Aku pun mengumpat jengkel.
“Tenang, dia tidak semenyebalkan seperti bayanganmu, Hyunra~ya! Cho Kyuhyun adalah pria baik-baik yang lahir di keluarga baik-baik!” jelas Hyunhae mencoba meyakinkan.
“Kalau dia pria baik kenapa menjadi Guardian?” aku mendengus kesal.
“Menjadi Guardian itu sebenarnya cukup berat. Ia dipaksa dengan perjanjian kontrak. Dan ada saja yang membuat mereka terlilit perjanjian kontrak tersebut, sadar maupun tidak. Jadi bukan kemauan Kyuhyun jika ia menjadi Guardian. Juga bukan salah keluarganya telah membesarkan calon Guardian.” Jelas Hyunhae.
Yah, Hyunhae memang benar. Kyuhyun agak menyedihkan, kurasa. Dia sepertinya pintar dan sayang kalau ia harus menjadi Guardian. Aku mengangkat bahu. Tapi…siapa yang tahu?
-oo-
“Kenapa kau bersikap kasar sekali denganku?” tanya Kyuhyun bersungut-sungut. Memang saat pulang sekolah diberikan waktu bebas. Seperti pulang sekolah biasa. Biasanya akan berkumpul saat jam makan siang dan lain sebagainya. Aku tidak peduli juga. Begitu menemukan kamarku, aku langsung masuk dan tidak mengucapkan sepatah kata pun pada namja di depanku. Aku memikirkan cara untuk mandi tanpa diganggu olehnya dan sekarang aku sedang berpura-pura mengobrak-abrik tas bawaanku mencari sesuatu, padahal sebenarnya aku benar-benar gugup.
“Kasar bagaimana?” aku menjawab sekenanya.
“Nah! Kau berbicara dengan ketus seperti itu! Harusnya kau bersyukur mendapatkan Guardian tampan seperti diriku!” ia mengatakan dengan gayanya yang sok sekali. Aku meringis ngilu mendengar ucapannya, bagaikan mendengar kapur berderit di papan tulis.
“Hah. Bermimpi saja kau.” Aku bergumam pelan. Tidak bermaksud untuk menjawab pertanyaannya.
“Kau sedang mencari apa?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku tersentak kaget lalu memandangnya sengit.
“Berhentilah memperhatikanku! Aku benci padamu! Pada sekolah ini! dan pada orang yang telah memasukkanku ke dalam sekolah ini!” aku membentaknya dengan tegas dan langsung menyesalinya setelah kata-kata itu meluncur dengan lancar. Aku menyesal karna tidak bisa menjaga emosi dan kenapa juga harus mencurahkan isi hatiku pada pria tolol di sampingku ini?
“Kau tidak suka berada di sini.” Itu adalah sebuah pernyataan yang menohok hatiku. Memang itu benar. Tetapi aku diam saja. Tidak mengiyakan maupun membantahnya. Aku tidak ingin dia mengorek lebih jauh.
“Aku ingin mandi dan jangan menggangguku lagi.” aku bergegas ke arah kamar mandi dan tidak mau menengok Kyuhyun lagi. Sepertinya Kyuhyun bukan jenis pria yadong seperti si Jo Guardian Yojin itu.
Begitu aku keluar selesai mandi, aku menemukan Kyuhyun sedang membaca sebuah kertas yang terlihat berkelas.
“Ada apa?” mau tak mau aku menanyakan pada Kyuhyun. Aku penasaran dengan isi kertas tersebut. Kyuhyun menyerahkan kertas itu supaya aku bisa membacanya sendiri. Aku bergidik ngeri membacanya. Kurang lebih isinya:aku harus sudah tidak virgin lagi dan waktunya hanya 3 hari ini.
“Apa pendapatmu?” tanya Kyuhyun dengan hati-hati. Sepertinya ia memahamiku. Baguslah kalau begitu.
“Memangnya akan dites apakah aku virgin atau tidak?” aku balik bertanya pada Kyuhyun dengan ekspresi datar. Kyuhyun menatapku dengan pandangan heran.
“Sepertinya tidak. Tapi siapa tahu ajaran baru akan membuat peraturan baru.” Kyuhyun mengangkat bahu. Ya, dia benar. Tapi bagaimana bisa aku melakukan hubungan sex dengan perencanaan? Dimana sisi keromantisannya? Aku bahkan tidak ada perasaan apapun pada Kyuhyun.
“Bagaimana menurutmu?” tanyaku sambil berjalan ke arah kasur dan kemudian mengambil sebuah novel.
“Setahuku Geisha tidak dituntut kalau kau virgin atau tidak. Karna saat pembelajaran tentang pemain video, kau baru diajarkan sex. Yah, sebenarnya akan sangat susah jika kau masih virgin. Karna setahuku ujian praktek Geisha adalah benar-benar menjadi Geisha dan melayani seseorang tak dikenal. Sekolah ini menginginkan murid menyukai Guardian nya, jadi mereka tidak ingin keperawanan diambil oleh orang yang tidak kalian kenal bahkan sukai. Yah, kurang lebih begitu.” Jelas Kyuhyun.
“Aish. Teori lagi.” aku membalikkan halaman di novel itu dan menekuri isi buku walaupun pikiranku melayang kemana-mana.
“Kau mau bagaimana? Langsung praktek? Kalau kau mau kita bisa melakukannya sekarang!” goda Kyuhyun. Ia mendekatiku dengan sikap misterius dan pandangan yadong ampun-ampunan. Aku pun menampar wajahnya dengan cukup keras.
“Aku tidak akan mau menyerahkan keperawananku untukmu!” aku pun berjalan keluar kamar karna aku sudah melihat jam menunjukkan waktu makan siang.
Ternyata ideku untuk kabur dari Kyuhyun tidaklah terlalu berhasil. Ternyata semua murid di SHS menggandeng tangan Guardian mereka masing-masing dan akulah satu-satunya murid yang tidak membawa Guardian ku.
Dengan cuek aku langsung berjalan menyusuri kerumunan orang dan menuju ke tempat diberikan makan siang. Aku mengambil piring dan pelayan-pelayan memberikan makanan dengan lengkap tanpa berbicara. Makanannya tidak terlalu buruk. Bahkan terkesan mewah. Aku berjalan mencari meja yang kosong dan duduk seorang diri di meja itu.
Aku geli mendengar omongan-omongan murid dan Guardian mereka. Mereka membahas soal surat dari SHS ini dan berencana untuk melakukannya nanti malam. Bahkan aku mendengar meja sebelahku sedang membahas pose apa saja yang aka mereka gunakan lalu ditulis di blocknote! Aku tidak percaya.
Hari ini berjalan dengan sangat lamban. Akupun mencoba tidur saat jam menunjukkan pukul 9 PM. Kyuhyun ku perbolehkan tidur di sampingku dengan pembatas sebuah guling. Dan aku akan menghajarnya kalau dia berani menyerangku.
-oo-
Aku bermimpi! Mimpi mengerikan yang sama dengan kemarin-kemarin! Aku menangis tersedu-sedu saat bangun dari mimpi dan itu membuat Kyuhyun terbangun. Ia mencoba untuk menenangkanku dan perasaanku begitu kalut malam ini.
Tiba-tiba aku menghadap ke arah Kyuhyun. Entah kenapa aku sangat menginginkannya saat itu juga! Aku pun mencium bibirnya dengan lembut dan respon Kyuhyun yang pertama adalah tersentak kaget.
Aku pun mencoba meyakinkannya kalau aku tidak main-main dengan duduk di kakinya menghadap ke arahnya dan menciumi bibir Kyuhyun. Kyuhyun pun mulai merespon dengan cepat. Ia pun membalas ciumanku dengan lebih liar dan ciumannya benar-benar memabukkan! Ia menggigiti bibir bawahku lalu menjilati katup bibirku. Aku dengan sigap langsung membuka bibirku dan membiarkan lidah kami menari-nari dan tidak terasa tanganku menekan kepala Kyuhyun berusaha memperdalam ciuman kami. Kyuhyun pun tak mau kalah. Ia menggerayangi gaun tidur ku dan mencoba melepas tali-tali di belakang punggungku. Kyuhyun seperti frustasi dengan tali temali tersebut dan langsung merobek bajuku menjadi serpihan-serpihan menyedihkan. Aku tidak peduli lagi dan kurasakan tubuh bagian atasku benar-benar telanjang!
Kini posisi kami berubah menjadi Kyuhyun yang berada di atasku. Ia menciumi daguku, leherku dan terus turun sampai ke payudaraku. Ia terkekeh mengetahui fakta bahwa aku tidak tidur dengan mengenakan bra dan sepertinya dia beranggapan kalau aku tidak benar-benar mencegahnya menyerangku.
Ia memijat-mijat payudaraku lembut lalu mengenyot putingku. Ia meninggalkan kissmark di sekitar payudaraku dan itu tida hanya sekali! Ia melakukannya berkali-kali dan itu membuat tubuhku menggelinjang! Dan tidak sadar kakiku sudah melingkar di pinggangnya, minta diserang.
Ia melepaskan kaos tipisnya dan kembali asyik dengan payudaraku. Aku dengan sengaja menarik-narik boxer nya agar terlepas dan itu pun berhasil. Ia pun tidak mau kalah lagi. Ia membabat habis gaun tidurku sampai ke bagian bawah dan hanya tertinggal celana dalam berwarna ungu yang melindungi bagian intiku.
Setelah cukup puas berkenalan dengan sepasang payudaraku, ia pun beralih turun ke perutku yang datar, terus turun hingga ke bagian kemaluanku. Ia menggigiti celana dalamku lalu melepaskannya dengan mudah dengan sekali sentakan. Ia menciumi kaki jenjangku dan sambil terkekeh senang, ia pun membuka kakiku agar mengangkang dan bersiap untuk meluncurkan juniornya.
Aku tidak ingin terburu-buru dan aku malah mencengkeram penisnya dengan menariknya mendekat. Aku meloloskan kakiku dari cengkeramannya dan lalu mulai bermanja-manja dengan penis milik Kyuhyun yang sudah sangat tegang.
Aku menjilatinya perlahan lalu mulai mengulumnya dan menggerakkan kepala maju mundur dengan gerakan yang perlahan tapi pasti. Kyuhyun mendesah puas dan aku pun semakin gila untuk terus mendengarnya mendesah se-sexy itu. Tiba-tiba kepala penisnya menyemprotkan cairan bening kental yang langsung ku telan tanpa memperdulikan rasanya. Aku sudah puas membuat Kyuhyun ereksi.
Lalu aku berpose mengangkangkan kakiku lagi dan melingkarkan kakiku di pinggangnya, menyuruhnya segera melakukan itu.
“Kyuhyun..ah! Ppaliwa!” aku mendesah hebat karna vaginaku sudah menegang. Kyuhyun pun akhirnya memosisikan penisnya dan langsung memasukkannya ke dalam lubang vaginaku. Rasa hangat dan tegang menyelimuti. Gerakan penisnya lincah dan mampu menggapai bagian-bagian yang membuatku sangat puas. Kyuhyun menyempatkan diri memegangi payudaraku dan memijatnya dengan gerakan perlahan dan itu membuatku keenakan.
“Aissh..Hyunra~ya! Ahh ah….enak sekali!” Kyuhyun menggerakkan penisnya kini lebih cepat dan penis itu membuatku merasakan sensasi yang tak pernah kulupakan. Sensasi bahagia tiada tara dan sensasi kemenangan yang tidak bisa kulukiskan.
Kyuhyun berusaha menciumku dan ia menindihku dengan penis masih tertancap di vaginaku tanpa ada tanda-tanda ingin dilepaskan. Kyuhyun menciumku dengan ganas dan liar. Ia terus saja mengelus payudaraku dan membuatku merasa sangat dipuaskan. Bibirku, payudaraku dan vaginaku terpuaskan. Dia melakukannya dengan perlahan dan percaya diri.
“A..aku…ingin mengeluarkannya, Ra~ya!” Kyuhyun berterus terang.
“Aku j..juga! Kyu, ayo kita…lepaskan!” dan saat itu juga cairan hangat memasuki vaginaku dan membuatku puas.
Dengan enggan ia melepaskan penisnya dan ia membalikkan tubuhku agar ia bisa memasukkan penisnya dari belakang ke vaginaku. Aku menurutinya dan ia pun memasukkan penisnya dengan segera lalu bergerak dengan lincah. Ia meremas bokongku dan mengelus punggungku pelan.
Payudaraku terasa berat dan aku memeganginya dengan sikap sensual. Aku juga ikut memaju mundurkan bokongku dan kamipun bergerak bersamaan dengan sensasi yang tidak bisa dibayangkan kalau tidak merasakannya sendiri.
“Akh…akhhhh!!! Kyuhyun~a!!! Ppali!” aku mendesah dengan suara yang serak yang sebelumnya aku tidak tahu kalau aku memiliki suara se-sexy ini.
“Kita keluarkan lagi, Hyunra~ya!” dan cairan kental itupun kembali masuk ke vaginaku. Setelah itu Kyuhyun melakukan gerakan cepat yang seperti orang kesetanan dan ia membalikkan tubuhku tanpa melepaskan penisnya. Ia menciumku mengacak-acak rambutku dengan gemas.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karna sibuk mendesah dan meladeni bibirnya yang terasa menyenangkan di bibirku.
“I..ini…terakhir!” Kyuhyun pun mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku dan aku pun terkesiap karna dia mengatakan ‘terakhir’. Aku tidak ingin mengakhirinya dan ingin memprotes. Tapi Kyuhyun buru-buru mengunciku dengan ciuman.
Ia pun akhirnya melepaskan penisnya dengan enggan lalu menjatuhkan diri di sebelahku. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh kami dan ia memelukku dari belakang.
“Wae?” tuntutku.
“Kita masih memiliki banyak waktu untuk melakukannya, Ra~ya!” Kyuhyun terkekeh geli mendengar pertanyaanku yang menuntut.
“Ne. Terserah sajalah.” Aku mencoba memejamkan mata kembali dan tidak mau lagi memusingkan pria di belakangku walaupun tangannya yang hangat memeluk pinggangku dari belakang.
“Kim Hyunra~ssi…” Kyuhyun memanggilku dengan lembut.
“Mwo?”
“Saranghae.” Bisik Kyuhyun di telingaku.
-THE END-
Huaaa ini apa aja yang aku tulis? Kenapa bisa gini? Aku gak ngerti seharusnya ini rating berapa. Dan aku juga bingung reader mau ini dibuat sekuel atau cukup yang satu ini aja (oneshoot)? Jadi aku minta reader buat kasih komentar, nih! Ini jelek, ya? Mianhae tulisan amburadul gini sok-sokan mau tulis ffnc. Yaudah deh ditunggu comment dari chigudeul! Gamsahamnida~

Fc Populer:

  • Ini ada sequelnya gak thor ?
    kreatif loh ffnya, keren 🙂

  • RAY

    Authooor coba bikin sekuelnya deh, aku setuju sama keytu, ide ff kamu bagus thor:D

  • Anonim

    Butuh sekuel thoor! Ceritanya baguuuussss

  • Anonim

    Di lanjutin dong ff nyaa. Asik dan ide ny bagus banget

  • Anonim

    keren bangeeeettttt..

  • Sequel donggg 🙁

  • Bagus.. buat sequel dong..

  • sequel dong daebakk loh thor

  • sequel thor !!! ini kreatif cerita nya seru pula ! perjalana kyuhyun sama hyenra kan harus nya msih panjang !! , baru nglakuin 'itu' satu kali XD
    #yadong XD

    yaahhh pokoknya sequel lahh thorr !! jangan sampe engg !!

  • Anonim

    Ada sequel?

  • Anonim

    Great story

  • Anonim

    Sequel ditunggu yah Thor 😉 😀 .

  • sequel sequel sequel!
    masih gantung ini thor

  • Anonim

    ga buat sequel ya

  • gan ane tax dong lagu niiie bagus, judul n yg bawan nii lagu cpa..???

  • aaaa kereen bangeeett XD keren bgt thor~

  • Sequel dong thor .. huaaaaa keren alur critanya

%d blogger menyukai ini: