Destiny

0
A STORY BY EUNRI PARK
-Lee Sungmin, Shin Yoonji, Cho Kyuhyun-
Super Junior – Andante, KyuMin – Because Of Love, Evanescence – Tourniquet
*****
Annyeong! Ini FF lomba yang nggak menang hehehe jadi aku post disini^^ Okay happy reading dan.. ff ini nggak yadong, ya! *PLAK!* dan aku berencana untuk bikin KYURI SIDE STORY-NYA TAPI NTAR DEH YA AKU PIKIR-PIKIR DULU *capslockmeledak*
About This FF, All the Plot and ideas are officially mine. And Cho Kyuhyun.. he’s mine too. *kicked*

*****
Yoonji’s Appartement, Gyeonggi-do, Gangnam, Seoul
08.00 PM KST
AUTHOR’S POV
“Kau harus cepat menemukan Elff-mu, oppa.” Yoonji memainkan helai rambut Sungmin yang tengah membenamkan wajahnya dileher gadis itu. Menghirup oksigen yang entah mengapa terasa sangat manis bagi Sungmin. Selama ini dia memuaskan diri hanya dengan cara seperti itu, menghirup aroma darah gadis itu yang bagai heroin bagi dirinya. Cara yang sebenarnya hanya semakin menyiksanya saja karena hasrat itu terus memaksanya untuk menancapkan taringnya yang mencuat di permukaan leher gadis itu.
“Aku tidak tahan melihatmu terus menderita seperti ini.” Bisik Yoonji nyaris memohon. Sungmin mencium leher Yoonji dan mengecupi sudut bibir gadis itu lembut.
“Dan mengambil resiko untuk melupakanmu?” ujar Sungmin retoris. “Tidak, terimakasih.”
“Dengar, oppa. Aku akan mengingatkanmu nanti. Kita akan memulai semuanya nanti, setelah kau bereinkarnasi. Kau percaya takdir?”
Sungmin mendengar dengan jelas bagaimana pikiran gadis itu memikirkannya bahkan disetiap hembus nafas yang ia hirup.
“Kau sudah sering mencium bibirku. Itu berarti kita terikat, kan?” dan kuharap ikatan itu akan berlaku selamanya, lanjut Yoonji dalam hati.
Pria itu menghela nafas berat, mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Yoonji.
Sungmin sebenarnya sudah menemukan Elff-nya sejak lama. Dan entah mengapa sepertinya reinkarnasi sudah tak penting lagi jika mengingat hal itu bisa menghapus secara permanen ingatannya tentang gadis ini. Gadisnya.
“Kau tau hal apa yang paling kutakutkan di dunia ini?” bisik Sungmin ditelinga gadis itu. Membuat Yoonji menggigit bibir bawahnya dan memutar otaknya untuk semua hal yang mungkin. “Melupakanmu. Jadi tolong jangan paksa aku lagi.”
*****
SUNGMIN’S POV
Aku merebahkan tubuhnya yang terlelap dipangkuanku dan menyelimutinya hingga sebatas dagu. Malam ini dingin sekali, angin berhembus kencang dan suhu menusuk kulit padahal penghangat ruangan sudah ku-setting maksimal. Sebenarnya tidak untukku, aku hanya tahu dari dinginnya kulit Yoonji dan tubuhnya yang sedikit menggigil. Keadaan kami yang saling berpelukan tadi tak merubah apapun karena pada dasarnya aku berdarah dingin. Aku tidak sama sepertinya. Kami berbeda. Aku— Moirrè, beradaptasi dengan baik dalam cuaca apapun. Bahkan aku bisa bernafas dalam air, ck. Semuanya jadi benar-benar terasa tak masuk akal.
Moirrè. Aku yakin 98 % kalian belum pernah mendengar kata  ini sebelumnya. Nama dari wujud makhluk yang lebih mengerikan dari monster sekalipun. Mengerikan menurutku, karena pada kenyataannya aku adalah bagian dari mereka.
Fisik luar kami sama seperti manusia, dan hidup seperti manusia pada umumnya. Tapi didalam.. darah kami beku dan tak mengalami ekskressi dan sekressi.. ataupun metabolisme. Organ tubuh kami hanya keformalan tak berarti yang sama sekali tidak dibutuhkan sepanjang eksistensi kami. Hanya jantung saja, pertanda hidup atau matinya seorang Moirrè bisa ditentukan oleh jantung yang masih berdetak atau tidak. Itupun sangat jarang, karena hampir 90 % bangsa kami berakhir dengan menjadi abu. Kematian yang menyakitkan. Pada dasarnya kami memang percis seperti manusia. Mungkin.. kulit kami lebih pucat dan wujud kami lebih mencolok dari manusia. Sayangnya para manusia itu lebih mengagumi wujud kami dengan fanatik, tanpa menaruh curiga sama sekali bahwa kami adalah monster mengerikan.
Kami hanya memerlukan darah untuk hidup. Dan aku sangat membenci kenyataan yang satu ini. Seperti sebuah syarat kehidupan, setidaknya kami harus merasakan nikmatnya darah satu tetes dalam satu minggu. Jika tidak, kau hanya tinggal menunggu transformasimu menjadi abu dengan sangat menyakitkan.
Tak kupungkiri memang, tidak ada rasa manis dan memabukkan yang melebihi darah saat cairan kental itu mengalir ditenggorokkanmu. Tetap saja, kami berawal dari manusia dan.. meminum darah manusia sama sekali bukan hal yang lucu. Karena itu sebagian dari kami lebih memilih darah hewan sebagai penggantinya. Disamping.. menemukan separuh jiwa kami yang sialnya terdapat pada manusia.
Aku juga tidak tau untuk apa kami diciptakan. Yang jelas, waktu itu seorang Moirrè bernama Park JungSoo sangat menyesal telah mengambil separuh jiwanya—yang berada padaku dan beribu kali meminta maaf karena menjadikanku makhluk seperti ini sebelum ia bereinkarnasi menjadi manusia dan melupakan segalanya. Aku hanya bisa tersenyum kecut menanggapinya. Untuk apa dia minta maaf? Pada kenyataannya ini adalah takdir yang sama sekali tak bisa dipungkiri. Ng, apa aku juga harus meminta maaf pada orang yang kuambil jiwanya?
Untung saja, aku bertemu dengan Marcus sesaat setelah transformasi menjadi Moirrè, dan proses pembekuan darah yang sangat menyiksa itu. Ia menceritakan segalanya. Memberitahuku bagaimana caranya hidup dan bertahan sebagai Moirrè yang baru.
Kami makhluk abadi, tentu saja. Kau tau bagaimana membosankannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya? Dari satu negara ke negara lainnya? Dan.. dari satu nama ke nama lainnya.
Bagiku ini adalah sebuah kutukan. Kami berinteraksi dengan manusia, layaknya mereka. Namun populasi kami sama sekali tak terendus oleh manusia. Keberadaan kami sangat tersembunyi, bilapun ada Moirrè yang menceritakan seluk beluk kami, mereka tidak akan percaya. Manusia mana yang akan mempercayai ada makhluk yang bisa hidup hanya dengan setetes darah saja?
Ng, semua orang yang mengetahuimu akan kehilangan ingatannya tentang dirimu saat kau menjadi Moirrè, seakan memang kau tak pernah dilahirkan sebagai manusia. Dan kau.. akan kehilangan memori ‘manis’ mu saat menjadi Moirrè ketika bereinkarnasi menjadi manusia. Seakan tak terjadi apa-apa, seakan kehidupanmu sebagai monster bernama Moirrè itu hanya terlewat dalam satu malam. Jadi.. eksistensi kami benar-benar tertutup dan tak akan terdeteksi oleh manusia. Dan kau benar-benar seperti hanya bermimpi buruk saja.
Kami memiliki kelebihan dalam hal bergerak. Cepat, dan reflec kami sangat bagus. Selain itu, kami juga bisa membaca fikiran. Dan.. kami juga bisa memblokir pikiran kami jika tak ingin Moirrè yang lain membaca isi kepala kami. Hal yang tak akan pernah bisa dilakukan makhluk bernama manusia.
Siang adalah musuh abadi kami. Kau tak akan bisa membayangkan bagaimana tersiksanya seorang Moirrè jika cahaya matahari sialan itu menyentuh permukaan kulit kami sedikit saja. Kulit kami akan melepuh sebelum kemudian berubah menjadi abu secara perlahan. Sinar matahari benar-benar pembunuh bagi kami. Mimpi buruk yang tak pernah hilang.
Dan.. setidaknya aku mempunyai satu harapan. Aku bisa bereinkarnasi menjadi manusia seperti semula jika menemukan separuh jiwaku yang terdapat pada elff-ku. Elff, sebutan untuk penyelamat seorang Moirrè, yang entah bagaimana memiliki jiwa, dan nantinya jiwa itu akan diserap oleh kami melalui sebuah ciuman, -dengan kata lain merebut- sebagai harga mati untuk sebuah reinkarnasi. Elff.. adalah awal dari terbentuknya sosok Moirrè, kan? Aku juga seorang Elff pada awalnya. Dan berakhir tragis dengan menjadi makhluk mengerikan.
Kami punya waktu seumur hidup sang Elff untuk bereinkarnasi. Ng, Moirrè akan benar-benar abadi jika Elff-nya meninggal, kecuali jika makhluk malang itu terbunuh oleh cahaya matahari—hal yang pernah kucoba lakukan namun sialnya aku dicegah oleh Marcus. Dia bilang itu sangat.. bahkan kata mengerikan saja tak cukup untuk mendeskripsikannya.
Moirrè harus mencari Elff-nya—yang tak siapapun mengetahui keberadaannya kecuali dirinya sendiri. Elff hanya ada satu di seluruh dunia, satu Elff untuk satu Moirrè. Seluruh indra Moirrè akan menajam saat sang Elff berada di dekatnya. Dan ketika aku menemukan Elff-ku, aku akan langsung menciumnya dan kembali menjadi manusia!
Dalam hukum kaum kami, ciuman adalah sebuah pengikat, awal dari ikatan yang sakral. Semacam pernikahan di kehidupan manusia. Dan.. ikatan itu berlaku pula untuk kehidupan setelah Moirrè tersebut bereinkarnasi. Kecuali ciuman sorang Moirrè terhadap Elff-nya, tentu saja.
Aku tidak mengerti bagaimana jalan fikiran kaum ini, sebagian besar dari mereka terkesan tidak mau bereinkarnasi dan bertahan dengan mengkonsumsi darah, dan dengan alasan konyol semacam “bercinta seumur hidup,” atau mungkin mereka itu memang menyukai keabadian? Memanfaatkan status Moirrè yang immortal? Benar-benar biadab. Tapi ada bagusnya juga. Dengan begitu Elff akan bertahan –tidak diambil jiwanya- sampai mati, dan pada akhirnya mungkin populasi makhluk-penyedot-jiwa ini akan hilang juga.
Pada awalnya aku mengira Yoonji adalah Elff-ku secara ketika pertama kali aku bertemu dengannya seluruh indra-ku menajam dan seperti ada ribuan jarum yang menusuk tenggorokanku, memberiku rasa haus yang berlebihan sehingga terasa akan membunuhku jika saja aku tidak cepat-cepat menancapkan taringku dilehernya dan merasakan bagaimana nikmatnya darah segar itu mengaliri tenggorokanku. Bau darahnya… membakar kerongkonganku dan aku nyaris membunuhnya saat itu juga jika Marcus tidak menarikku menjauh darinya.
Kami bertemu di tepian sungai Han ketika gadis itu sedang berjalan cepat, secara tidak sengaja menabrakku dan menyebabkan cup coffee yang digenggamnya jatuh lalu tumpah membasahi sepatuku. Kau tau apa yang terjadi selanjutnya? Aku hanya menatapnya tanpa bisa berpaling sedikitpun, terkunci dengan satu harum tubuhnya yang bisa membuatku menghisap darahnya sampai habis.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana pertama kali aku menelusup masuk ke ruangan ini dan merebut sebuah kecupan manis dari bibirnya ketika Yoonji tertidur lelap, menghempaskanku kembali keduniaku yang mengerikan ketika kenyataan mengatakan bahwa Yoonji bukan Elff-ku. Aku tidak mengalami apa-apa setelah dengan kurangajarnya mencium bibir merah itu. Yang terjadi hanya aku menyadari, betapa aku menginginkan gadis itu dan segala yang ada padanya. Karena bukan hanya darahnya saja yang menggoda. Raganya, jiwanya, semuanya…
Sejak saat itu aku mulai mengikutinya setiap malam, menyiksa diriku sendiri dengan keberadaannya disekitarku yang membuat rasa haus membakar tubuhku. Aku bahkan bisa puas dengan hanya menatapnya saja ketika dia sedang terlelap diruangan ini, atau melihat ekspressinya yang seperti anak kecil ketika memberengut bahkan memanyunkan bibirnya didepan laptop yang menjadi temannya nyaris setiap malam. Yoonji memang sedang disibukkan dengan tugas-akhir-semester-nya waktu itu. Dunianya seakan hanya terpusat pada laptopnya dan yeah, aku mengerti hal-hal seperti itu.
Dan malam itu, beberapa minggu lalu aku tertangkap basah dan gadis itu dengan tenangnya mengatakan bahwa dia tahu aku selalu mengikutinya setiap malam dan dia senang dengan fakta itu, dia senang bahwa dirinya diikuti olehku karena alasan konyol seperti ketampananku. Cukup logis sebenarnya, karena telah kusebutkan tadi bahwa rupa kami memang memukau untuk pecinta makhluk tampan seperti perempuan. Dan dia mengatakan satu hal, satu hal yang sangat kusuka bahwa dia merasa terlindungi dengan adanya aku yang menguntutinya setiap malam.
Aku mengikutinya secara terang-terangan mulai saat itu. Dia selalu mengatakan bahwa dia mempercayaiku dan yeah, aku menceritakan semuanya. Bahwa aku bukan manusia, bahwa darahnya terlalu kuinginkan sehingga aku lebih memilih untuk menatapnya dari jauh saja.
Dan dia percaya.. dia bahkan terus memaksaku untuk bereinkarnasi dan aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang membuatku terus bertahan diatas perbedaanku dengannya. Diatas hidupku yang mengerikan bahwa aku bisa membunuhnya kapan saja hanya karena nafsuku untuk menyicipi darah manisnya. Bahwa aku tak ingin melupakannya, bahwa sesuatu bernama reinkarnasi itu sepertinya tak lagi penting jika harus mengorbankan ingatanku tentang gadis ini.
Yoonji mengerang gelisah dalam tidurnya. Dengan cepat aku menoleh dan mendapati raut wajahnya yang panik dan dalam hitungan detik kedua mata indah itu terbuka lalu menatap lurus kearahku. Peluhnya berjatuhan dan nafasnya tak beraturan. Dia bangun lalu memelukku erat.
“Mimpi buruk, Yoon?” tanyaku cemas. Aku menenangkannya dengan mengusap-ngusap rambutnya lembut.
“Tidak…” ujarnya dalam pikirannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan aku mendorong tubuhnya menjauh hingga pelukan kami terlepas.
“Lalu?”
“Mimpiku terlalu indah, oppa,” pikirnya lagi sambil terisak. Aku menariknya lagi dan semakin mengeratkan pelukanku berharap bisa membuatnya tenang walau sedikit saja. “Lalu kenapa kau menangis?”
“Aku.. menginginkannya… menjadi nyata,” dia menghapus air matanya lalu mendongak membuatku sontak menahan nafas. Yoonji menggigit bibir bawahnya lalu menunduk dan melingkarkan tangannya dipinggangku. “Kumohon, Lee Sungmin~ssi, jadilah makhluk sepertiku. Menjadi manusia, apa itu terlalu sulit?”
Aku menggeleng. Tidak. Sebenarnya sangat mudah, jawabku dalam hati.
“Kita akan bertemu lagi nanti. Aku akan menemukanmu. Aku janji.”
*****
South Korea’s Forest
08.30 PM
“Kau menjijikkan,” ujarku tanpa intonasi, melayangkan tatapanku pada langit malam yang jernih tanpa bintang. Kyuhyun mendecap menikmati sensasi darah srigala ke-5 yang mengaliri tenggorokkannya dan hanya menatapku sedetik. Dan.. dia masih terlihat sangat lapar.
Kyuhyun memaksaku untuk menemaninya ke hutan ini, dengan muka bunuh dirinya Kyuhyun membuatku setuju untuk menemaninya berburu srigala atau hewan apapun yang bisa dia hisap darahnya.
Dia mengatakan bahwa dia menemui Elff-nya sekaligus jatuh cinta padanya dalam pandangan pertama, lalu frustasi karena darah gadis itu juga nyaris membunuhnya karena rasa haus yang menusuk seluruh pori-porinya seperti jutaan volt listrik yang menyetrum tubuhnya dan ia tak menginginkannya sama sekali, bertolak belakang dengan kerongkongannya yang berteriak lapar menginginkan darah gadis itu.
“Kau tau..” desis Kyuhyun tak peduli, menjilat sisa darah srigala yang melumuri jemarinya. “Pikiranmu itu terlalu liar hyung.” Ujarnya membuatku otomatis mendecak sebal karena lupa memblokir fikiranku yang mengulangi curhatannya tadi.
“Minumlah kalau kau masih ingin hidup,” ujarnya enteng sambil melenggang pergi, meninggalkan aku yang masih menatap jijik dan iba pada bangkai srigala yang ia tinggalkan begitu saja, dan aku menyusulnya, menyamai langkahnya.
Aku dan Kyuhyun sudah keluar dari area hutan dan kini memasuki daerah perkotaan. Masih ramai dan dipenuhi cahaya lampu, padahal sudah hampir tengah malam kurasa. Salahkan saja kecepatan kami yang tidak normal.
“Kau yakin sudah selesai? Kau masih terlihat sangat lapar,” ujarku sangsi. Lihatlah matanya yang berkilat-kilat dan taringnya yang masih mencuat.
“Kurasa itu cukup.” Jawabnya ringan.
Oh, baiklah. Aku belum mengatakan suatu hal. Intelegensi kami tinggi dan kami bisa menguasai sesuatu yang asing hanya dalam sedetik saja. Aku bahkan sudah bisa mendengar pikiran-pikiran kagum dan.. sedikit mesum dari gadis-gadis yang melewati kami. Mereka ingin.. tidur bersamaku? Yang benar saja.
“Kau itu menyedihkan sekali,” komentar Kyuhyun dengan nada yang menyebalkan, pikirannya sunyi sekali, sial dia memblokirnya.
“Mwoyaa…” tanyaku tanpa minat. Dia akhirnya tertawa gila menyebabkan orang-orang disekitar sini menatap aneh kearah kami berdua.
“Mengira seorang gadis Elff-mu? Nyaris menidurinya dan kini menjadikannya sebagai pacarmu? Hahahaha!!!”
Aku menghentikan langkahku sejenak, menyadari bahwa yang dia katakan dalam kepalanya itu benar dan yeah, aku menyukai kenyataan itu. Bahwa sepertinya gadis itu memang ditakdirkan untukku. Aku menoleh kemudian menatapnya dengan alis naik sebelah. “Lalu bagaimana dengan kau?” ujarku, sama sekali tak bisa menyembunyikan seringaiku yang melebar. “Kau bahkan jatuh cinta pada Elff-mu sendiri. Lalu mengorbankan reinkarnasimu dan memilih menghabiskan darah lima ekor srigala dalam beberapa jam? Dasar abnormal!”
“Bukannya sama saja dengan kau? Sialan kau Lee Sungmin! Kau juga melakukan hal yang sama saat menemui gadis itu untuk pertama kalinya! Bagaimana kau bisa mengataiku seperti itu?!!” protesnya kekanakan. Aku mendengus, lalu tertawa bersamanya. Yah, mungkin kami memang abnormal. Hening seketika. Kami berjalan dalam diam.
Obrolan dengan topik seperti itu rupanya terlalu sensitif untuk seorang Cho Kyuhyun, dan sepertinya berlaku untukku juga.
“Seberapa kuat pesona gadis itu?” ujar Kyuhyun penuh misteri. Dia sengaja memblokir pikirannya lagi membuatku semakin geram. “Mwo?”
“Aku nyaris tidak bisa mengalihkan tatapan mataku darinya tadi—” ujarnya lalu menghembuskan nafas berat. “Dan harum darahnya nyaris membunuhku, hyung.. rasanya seperti aku ingin mati.” Dengusnya kekanakkan. “Ini akan menjadi sulit,” desahnya.
Kyuhyun lalu tiba-tiba saja tertawa nyaring dan berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Dia itu gampang sekali berubah mood ya.
“Dan kau, kau bahkan lebih parah hyung.” Ujarnya dengan nada geli. “Kau terus menunda-nunda reinkarnasimu padahal kau sudah bisa melakukannya sejak lama, yang kutau kau bahkan nyaris mati menahan rasa hausmu ketika berada didekatnya. Ya kan, Lee Sungmin?” Teriak Kyuhyun disela tawanya, “Ayo kita pulang, sebentar lagi matahari terbit,” ujarnya cepat menyadari ekspressi tidak suka dariku.
Aku malas mendebatnya, bocah yang umur manusianya lebih muda sekitar 3 tahun dariku itu memang kekanakan sekali asal kau tau saja. “Kita? Maksudmu?”
“Hehe, malam ini aku menginap diappartementmu, ya, hyung?”
*****
AUTHOR’S POV
Seorang gadis dengan tampak berkutat dengan laptop-nya dikursi sudut sebuah coffee-shop. Gadis itu terlihat amat sibuk, tanpa mau repot-repot memperdulikan hingar-bingar disekitarnya.
Seorang waiter datang dan menyimpan secangkir teh yang masih mengepulkan uap panas.
“Silahkan menikmati,” ujarnya ramah, kemudian sedikit menunduk dan pergi meninggalkan gadis itu.
Gadis itu menutup laptopnya, meraih teh hangat dihadapannya dan mulai menghirup dalam uap yang dikeluarkannya. Menyesapnya sedikit, gadis itu kembali berkutat dengan laptopnya.
Shin Yoonji. ID Card-Shinwa University itu masih menggantung dilehernya, menunjukkan identitasnya sebagai mahasiswa.
Gadis itu melirik jam tangan putih yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Menunjuk angka delapan. Ia menyelesaikan beberapa hal yang harus diketiknya dalam beberapa menit lalu mematikan laptopnya dan memasukannya kedalam tas. Menyimpan beberapa lembar won diatas meja dan tersenyum pada waiter yang kebetulan sedang melihat kearahnya. Ia berdiri dan berjalan ringan menuju basement.
*****
Yoonji melangkahkan kakinya saat pintu lift terbuka dan lagi-lagi berjalan ringan menuju ruangan appartementnya.
Samar indra pendengaran gadis itu menangkap suara pintu kamar Sungmin terbuka. Dan.. sosoknya yang bergeming diambang pintu. Yoonji tersenyum, memasukkan beberapa nomor untuk membuka pintu appartementnya. “Kau terlihat sangat lapar.” Ujar gadis itu pelan. “Kau juga.” Jawab Sungmin dengan senyum aegyo-nya.
“Aku bisa menghisap darahmu sampai habis jika aku mau.” Gumam Sungmin ringan. Dia melangkah sambil menyeringai, membuat Yoonji mundur dan tersudut di dinding tepat disamping pintu appartementnya. Dia mengunci tubuh gadis itu dengan menyimpan kedua tangannya dikedua sisi tubuhnya dan menundukkan kepalanya seakan hendak mencium gadis itu, dan sontak Yoonji memejamkan mata.
“Aku percaya padamu.” Bisik Yoonji dengan nafas tercekat. Sungmin mengarahkan wajahnya keleher gadis itu, kemudian menciumnya dan.. menghirup nafas disana. Astaga Lee Sungmin, kenapa kau senang sekali menyiksa diri seperti itu?
“Aku hanya bercanda.” Sungmin menyentil hidung gadis itu, mengacak rambutnya lembut dan menggenggam tangannya. Menautkan jemari mereka dan.. memberikan efek hangat pada seluruh tubuh keduanya. “Ayo keluar, kau pasti lapar.”
Mereka berjalan beriringan. Hanya berjalan saja dengan tangan keduanya yang bertautan, dan sepasang insan itu merasa tak ada yang lebih sempurna dari ini.
“Terimakasih.” Ujar Sungmin polos dan dengan mata beningnya menatap teduh pada gadis itu. Yoonji hanya mengangguk mengiyakan lalu tersenyum. Manis sekali. Dan.. sekali lagi tanpa kendali pria itu bahkan tak berkedip. Tak ingin melewatkan lengkungan indah itu sedetikpun.
“Saranghae,” bisik Sungmin lembut. Pria itu mengecup pipi gadisnya dan Yoonji hanya tersenyum senang. Sekali lagi menganggukkan kepalanya.
“Nado. Kajja,”
*****
“Yoon,” panggil Sungmin. “Bisa tolong tutupi lehermu?”
Yoonji mengangguk faham dan dengan gerakan cepat menarik lepas ikat rambutnya, menyebabkan helaian rambut sepunggungnya berterbangan dibelai angin malam. Dan baiklah, itu malah memperparah keadaan. Bau darah gadis itu terasa makin menusuk rasa haus Sungmin. Sial!
“Ya! Oppa! Ayo makan di kedai jjangmyeon itu~!!” seru Yoonji kekanakkan. Sungmin menggeleng tanda tak setuju dan itu membuat Yoonji memanyunkan bibirnya. “Ayolah oppa~” rengeknya. Sungmin tersenyum dan mengangguk, terhipnotis oleh rengekan gadis itu. Yoonji yang tak sabaran menyebrangi jalanan itu tepat saat sebuah mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi mengeluarkan bunyi klakson keras, nyaris menabrak tubuhnya jika saja…
Semuanya terjadi begitu cepat. Yoonji bahkan tak menyadari bagaimana pria itu bisa menarik tubuhnya ke bahu jalan dan beberapa kali berguling hingga akhirnya pria itu berada diatas tubuhnya. Dengan nafas tersengal menatap matanya tajam. “Kau ceroboh sekali,”
Sempat-sempatnya Sungmin membenamkan kepalanya dileher gadis itu menyiksa diri dengan aroma memabukkan gadis itu yang tampaknya bisa membunuh Sungmin kapanpun.
Pria itu menahan nafasnya dan tenpa terasa kedua tangannya terkepal, bau manis gadis itu amat menyesakkan sekaligus memabukkan bagi tenggorokannya, dan sepertinya berjuta-juta kali lipat saat ini.
Yoonji memutar bola mata dan menatap pria itu sangsi. “Oppa, berat!” protesnya.
Sungmin mendudukkan tubuhnya dan menarik tangan gadis itu. Sungmin memejamkan matanya sejenak dan kembali menarik gadis itu hingga kini mereka dalam keadaan berdiri. “Yak! Jangan melihatku seperti aku ini sudah tertabrak truk seperti itu! Aku baik baik saja!!” pekik Yoonji membuat Sungmin otomatis mendengus.
“Tidak, kau tidak baik-baik saja,” bantah Sungmin sembari menelisik keadaan tubuh gadis itu dengan matanya. “Lihat sikumu berdarah.” Pantas saja bau darahnya pekat sekali, pikir Sungmin. “Ayo kerumah sakit!”
*****
Yoonji baru saja keluar dari ruangan intensif dengan perban ditangannya.
“Yoonji~ya, jika aku bereinkarnasi malam ini dan meninggalkanmu untuk beberapa waktu, berjanjilah kau akan baik-baik saja.” Ujar Sungmin dengan nada rendah.
“Maksudmu oppa?” ujar Yoonji lalu menautkan tangan mereka dan berjalan beriringan dengan Sungmin.
“Elff-ku ada disini dan..” Sungmin menghela nafas berat. “Aku rasa aku akan mengabulkan keinginanmu itu malam ini,” ujar Sungmin yang sontak membuat gadis disampingnya tersenyum samar. “Hwaiting~!” ucapnya.
Tepat saat mereka berbelok diujung koridor rumah sakit, Yoonji merasakan genggaman tangan pria itu ditangannya menguat dan saat gadis itu mendongak untuk melihat ekspressi Sungmin, ada dua buah taring yang nampak diantara sela giginya.
Yoonji ikut mengeratkan gengaman tangan mereka, lalu mengikuti arah pandang Sungmin yang tengah menatap seorang pria yang tengah duduk sendirian dikursi pengunjung.
“Yoonji~ya,” desis Sungmin parau. “Ini saatnya.”
Dengan cepat Sungmin mengecup lalu melumat bibir kekasihnya itu kuat lalu menariknya kedalam pelukannya yang hangat namun singkat. “Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada,”
Gadis itu melihat dengan jelas bagaimana Sungmin bergerak seperti angin dan mencium bibir pria itu mantap lalu seketika nafasnya terasa sesak, menyadari ini mungkin adalah kali terakhirnya melihat pria itu.
*****
Yoonji menaruh tasnya diatas meja, kemudian menjatuhkan tubuh rampingnya keatas ranjang nyaman yang sudah setahun ia tiduri. Gadis itu memang memilih tinggal sendiri di appartement dibandingkan dengan dirumah. Alasannya? Klise, gadis itu ingin mandiri karena.. keluarga-nya sangat memanjakan Yoonji. Mereka terlalu.. over protektif?
Yoonji memejamkan matanya, berniat untuk tidur tapi.. sosok pria itu lagi-lagi masuk kedalam pikiran-nya. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menormalkan kepalanya yang seakan hanya dipenuhi oleh pria itu saja. Senyumnya, lesung pipitnya, cara pria itu menatapnya..
Sekali lagi Yoonji menggelengkan kepalanya, tersenyum simpul dan mulai memejamkan matanya. Ini yang terbaik, pikirnya dan setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya disertai tetesan lainnya yang mulai membuat dada gadis itu merasa sesak seakan oksigen sangat mahal saat ini.
Dia faham betul bahwa mulai detik ini tak akan ada lagi pria itu, tak akan lagi belaian lembutnya yang bisa membuat Yoonji melayang dan.. tak akan ada lagi pria itu disetiap malamnya yang sunyi.
Satu hal yang dia percaya, bahwa jika memang takdir berpihak padanya, dia pasti akan bertemu lagi dengan pria itu. Pasti.
*****
A Few Weeks Later
Shinwa University, Seoul
08.00 AM
“Annyeonghaseyo, Lee Sungmin imnida. Mohon bantuannya.” Ruangan yang tadinya riuh kini menjadi tenang dan seluruh pasang mata yang berada dalam ruang itu seakan terfokus hanya pada satu arah saja. Arah dimana pria itu dengan senyum manisnya datang dan memperkenalkan diri sebagai Assisten dosen Kim, dan menggantikannya untuk sementara waktu selama dosen Kim melanjutkan studi-nya di Australia.
“Baiklah, bisa kita mulai?”
Gadis yang duduk di bangku paling belakang itu mengangguk hampir bersamaan dengan mahasiswa lainnya dan ia tersenyum samar, nyaris menangis menyadari satu lagi fakta penting dalam hidupnya. Pria itu kembali… dia tersenyum tenang lalu menghapus air mata yang entah sejak kapan mengaliri pipinya, terlalu bahagia dengan roda takdir yang menemukannya lagi dengan pria itu.
Yoonji sangat menyadari bagaimana pria itu terus memperhatikannya secara gamblang selama mengajarkan materi, bahkan secara terang-terangan tersenyum kearahnya dan berjalan –seperti tanpa sadar- kearah kursi gadis itu lalu kembali kedepan dan bersikap professional sebagai assisten dosen.
“Baiklah, kita berakhir disini. Ada yang ditanyakan terlebih dulu?” ujar Lee Sungmin sambil membereskan berkas-berkasnya diatas meja.
“Tidak ada?” tanyanya lagi. Semua mahasiswa yang berada disitu mulai berhamburan keluar beraturan setelah dipersilahkan dan menyisakan Sungmin dengan seorang gadis yang duduk dikursi paling belakang.
Gadis itu berdiri dan mulai berjalan pelan, lalu langkahnya berhenti tepat dihadapan pria itu yang masih membereskan rentetan buku dan sebagainya diatas meja.
Pria itu tersenyum aegyo kearah Yoonji, membuat gadis itu sontak melangkah untuk lebih mendekat kearahnya. “Shin Yoonji,” ujar gadis itu lalu menjulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh pria didepannya. “Lee Sungmin.”
*****
Gadis itu. Sungmin tak tau bagaimana cara dia menyukainya karena Sungmin merasa seperti.. dia sudah menantikan ini sejak lama, seperti dia sudah sangat menginginkan gadis itu dan mengincarnya sejak lama, padahal frekuensi pertemuan mereka bisa dihitung jari. Sungmin seperti sudah menyimpannya dalam memori otaknya secara permanen ketika bahkan Sungmin belum mengetahui siapa nama dari pemilik wajah rupawan itu.
Cantik? Kata cantik bahkan tak mampu mendefinisikan bagaimana wajah itu mampu mampu membuat mata Sungmin tak berkedip—kehilangan kendali diri—saat pertama kali pria itu melihatnya. Orang bilang cantik itu relatif. Sungmin bertaruh masih banyak perempuan dengan persepsi cantik di dunia ini tapi dia tak akan tertarik sama sekali karena dia memang bukan tipe pria seperti itu. Fisik luar bukan satu-satunya hal yang diperhitungkan.
Sungmin berusaha, selalu berusaha mengingat apa yang terlewati tanpa ia tau, dan sialnya selalu gagal. Bahkan Sungmin  merasa seperti ada sebagian dari ingatannya yang hilang—tapi apa?? Semakin ia mencoba mengingatnya semakin ingatan itu menjauh. Menyebalkan.
Well, sebenarnya ingatan yang—mungkin—ia lupakan itu tak terlalu menjadi masalah. Sungmin hanya tinggal benar-benar melupakannya dan menganggap semuanya berawal dari hari itu. Hari dimana aku menginjakkan kakiku di fakultasnya dan bertemu dengannya didalam kelas sebagai juniornya.
Sungmin merapatkan jaket yang membungkus tubuhnya dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket. Musim dingin hampir berakhir sebenarnya, namun suhu masih saja dibawah rata-rata. Sungmin masuk kedalam sebuah restoran cukup berkelas di daerah Gangnam.
Dia mengajak Yoonji makan siang bersama siang ini, dan dia sangat merasa antusias untuk itu.
Pria itu tersenyum dan mendudukkan tubuhnya dikursi ujung restoran itu lalu memijat tengkuknya lembut. Ada perasaan gugup yang tiba-tiba saja menghampirinya saat melihat gadis itu.
“Maaf membuatmu menunggu. Kau sudah lama?”
Yoonji tersenyum. “Tidak, aku baru saja datang.”
“Jadi Shin Yoonji,” Sungmin menggantungkan kalimatnya. Tangannya menarik buku menu dan tampak memilah apa yang akan ia pesan. “Kau mau memesan apa?”
“Apple pie dan.. Jus strawberry?”
“Baiklah, aku juga.”
Keduanya makan siang dengan tenang diselingi obrolan ringan dan sesekali tertawa. Oh, betapa gadis itu merindukan saat-saat seperti ini.
Sungmin menyimpan garpu diatas meja kemudian menatap Yoonji serius.
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Yoonji masih menatapi pria dihadapannya dengan tenang. Dia menyisir rambutnya asal kebelakang dengan jemarinya, memberantakannya. Meneguk jus-nya sedikit, gadis itu tersenyum simpul menyadari ekspressi Sungmin yang terlihat tak sabar mendengar jawaban darinya. “Aku.. tidak bisa berhenti memikirkanmu akhir-akhir ini.” Gumamnya lagi.
“Jawab aku Shin Yoonji~ssi, apa kita pernah terikat dikehidupan sebelum ini?” desak Sungmin lagi. Kedua tangan pria itu terkepal kuat dibawah meja, menekan telapak tangannya hingga memerah. Entahlah, rasanya gadis dihadapannya ini tidak asing. Sangat familiar malah.
“Kau tau pertanyaanmu itu konyol tapi bagaimana jika aku menjawab iya?”
END
Terlalu cinta dengan ending yang menggantung :p maaf kalau mengecewakan. FF ini terlalu ancur dengan alur kecepetan, intrinsik nggak jelas, plot berantakan dan ceritanya yang ngalor ngidul~~ huahahaha gimana gimana? Penasaran ama cerita Cho Kyuhyun-Park Eunri? *PLAK!*
%d blogger menyukai ini: