NC 21+ In My Room

kim-kibum-key
  • Judul: In My Room
  • Pemain Utama : Kim Kibum Key(SHINee), Park Eun Jae
  • Pemain Pendukung : Onew, Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun(SHINee)
  • Rate : NC 21+
  • Genre : Romance, Friendship
  • Author : iinelfishy

-Key POV

“Chagiya…nae

saranghae…” Ku peluk ia dari arah belakang dan ku bisikkan kata-kata

itu ditelinganya, membuatnya menggeliat kegelian.

“O..Oppa…hentikan itu…”

“Wae, Eun Jae-ah ? Aku mencintaimu..apa kau tidak mencintaiku ?” Lalu kuciumi telinganya dan kubelai lembut rambutnya.

“An..anni..bukan begitu…nado saranghae, oppa..tapi..” Kulihat pipinya bersemu merah, semakin menggodaku.

“Tapi apa ? Hemm ?”

“Kita diapartemen, dan disini ada dongsaeng dan hyungmu yang lain…”

“Lalu kenapa ? Eun Jae-ah..saranghae…saranghae..” Aku mulai mengelus leher putihnya. Dia kembali bergidik.

“A..aku..malu jika mereka tahu kita bermesraan disini.”

“Hemm…tenang

saja. Ini apartemen kami, tapi sekarang kita ada dikamarku, hanya ada

kita disini.” Aku sudah tidak tahan jika keadaannya begini, kami hanya

berduaan dikamarku, sedangkan Minho, Taemin, Onew&Jonghyun hyung

sibuk dengan dunianya masing-masing. Mereka berempat adalah sahabat

karibku, kami sudah menganggap satu sama lain seperti keluarga.

Sedangkan aku sudah menikah dengan yeoja yang ada didepanku ini.

Aku

Key, berumur 23 tahun dan istriku masih 21 tahun, kami sudah menikah.

Sebenarnya aku ingin punya apartemen sendiri, tetapi aku tidak punya

waktu untuk mencari apartemen karena sibuk dengan pekerjaanku, jadilah

untuk sementara kami tinggal disini.

Aku dan Eun Jae sudah lama

berpacaran, saat masih kelas satu SMA, dan hubungan itu dapat kami

pertahankan hingga sekarang. Menurutku, dia adalah yeoja yang sangat

sempurna, dimataku, ia yang paling indah, tidak ada yang lain. Eun Jae

baru saja lulus dari KyungHee university, universitas yang sama

denganku, setelah aku lulus,aku meneruskan bisnis milik appaku.

Sedangkan Eun Jae meneruskan cita-citanya menjadi seorang model. Aku

melamarnya saat ia mendapatkan penghargaan pertamanya sebagi model,

sebulan kemudian kami menikah dan usia pernikahan kami sudah setahun.

Tapi

aku belum pernah menyentuhnya, meski kami sudah suami istri, aku

terlalu sibuk dengan bisnisku, begitu juga dengannya, banyak pemotretan

yang harus ia jalani.

Dan untungnya sekarang kami sudah mempunyai

cukup waktu, ia mengurangi sedikit aktivitasnya dan aku berusaha selalu

pulang cepat agar dapat bertemu dengannya.

Aku ingin segera

merasakan tiap detail bagian tubuhnya, menjadikannya hanya milikku

seorang, hanya aku yang dapat menyentuhmya, dia milikku.

“Eun

Jae-ah…tatap aku. Jangan hanya tertunduk malu begitu.” Aku berhenti

mencium lehernya. Lalu perlahan ia membalikkan badannya, kini ia tepat

berada didepanku. Mukanya masih bersemu merah, ia terlihat malu,

wajahnya manis sekali ! Ditambah dengan ia mengenakan baju tidur

terusan selutut, aih, aku mana tahan !

“Op…oppaa…” Akhirnya ia

menatapku walaupun masih ragu-ragu. Apa yang harus ia takutkan ? Kenapa

harus malu ? Toh kami sudah suami istri.

“Tenanglah chagi…aku tak akan menyakitimu.” Lalu kuraih wajahnya dan mendekatkannya ke wajahku.

“Apa..yang..ingin kau lakukan ?” Katanya gugup, aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang tidak beraturan.

“Aku…ingin kau Eun Jae-ah..semuanya..matamu, bibirmu, tubuhmu, biarkan aku merasakannya, biarkan aku memilikinya.”

“Key…jangan sekarang…K..Key..”

Aku

tidak peduli dengan apa yang ia katakan, aku sudah tidak tahan lagi.

Wajah kami benar-benar dekat sekarang, sudah tidak ada jarak. Tunggu

apa lagi ?

“Kalau tidak sekarang, lalu kapan ? Setelah kau jadi model internasional ? Terlalu lama..Eun Jae-ah…please ?”

Eun

Jae hanya diam, tangannya yang tadi kugenggam terasa basah, berkeringat

dan bergetar, rupanya ia benar-benar gugup. Ia juga tidak menatapku,

malah memejamkan matanya. Perlahan, kudekatkan bibirku ke bibirnya,

kumiringkan wajahku agar mudah menjangkaunya.

“Saranghae…chagiya…” Ku lumat langsung bibir mungilnya, dan kupegangi wajahnya agar tidak bergerak.

“Mmphh…”

Hanya suara kecil itu yang ia keluarkan. Aku terus menciuminya dengan

nafsu,kutekan bibirku lebih dalam agar ia mau membukakan mulutnya. Lama

aku memainkan bibirku, ia tetap menutup rapat mulutnya, aihh. Aku tidak

tahan lagi ! Kulepas ciumanku, dan dia bernafas lega.

“Kau pikir kita sudah selesai ? Belum, Eun Jae-ah…”

“Eh

? Oppa…….aawhh !”Saat itu juga aku mencubit hidungnya dan membuatnya

sedikit berteriak, langung kukulum bibirnya dan kumasukkan lidahku. Dia

terkejut dengan perlakuanku, nikmati saja, Eun Jae-ah…

“Ahhm…mmph…”

Dia kembali mendesah pelan. Ku lanjutkan kegiatanku, kumainkan lidahku

menelusuri rongga mulutnya, kujilati terus dan kutahan lidahnya untuk

tetap ada dibawahku. Tanganku yang tadi memegangi wajahnya kini

mengelus lembut lehernya.

“Ahhh…Hhmmph…hhh…”Dia bergidik lagi,

memang ini yang ku mau, mendengar desahannya yang membuatku semakin

tergoda. Tangannya meremas kuat baju kaus dalam yang kukenakan, dan

sedikit demi sedikit ia melingkarkan tangannya keleherku, reaksi yang

dari tadi sudah kutunggu. Sepertinya ia sudah menikmati ciuman ini.

“Ahh…hhh..hmph…”

“Bagus chagi…terus saja begitu..kau menikmatinya kan ?” Godaku disela-sela ciuman kami.

“Ahh..oppa..hen..ti..kan..ahmp..”

“Sstt….”Kembali

ku jilati tiap sisi bibirnya yang berwarna merah mudah itu. Ku mainkan

lidahku dengan lihai,ia tidak membalas, tapi menerimanya. Ia membiarkan

lidahku bermain dengan leluasa dimulutnya, menghasilkan bunyi

decakan-decakan akibat ciumanku. Bibir kami sudah basah, air liur kami

bercampur dan menetes membasahi leher kami.

“Hen…tikan..Key…Key

oppa…aahhhm..” Rangkulannya semakin kuat mengikat leherku. Tanganku

mulai bergerak nakal, dari elusan dirambutnya, lehernya dan menuju

sesuatu yang sama sekali belum pernah kurasakan. Saat tanganku akan

menyentuh “benda” itu, tiba-tiba saja…

Brak !

“Key hyung…..makanannya sudah dat…..OH MY GOD ! OMONA !”

Aku

dan Eun Jae langsung tersentak kaget mendengar suara teriakan Taemin

dan buru-buru melepaskan ciuman kami, astaga bocah ini ! Mengganggu

saja, kenapa tidak permisi dulu ?! Dasar sialan !

“Hyu…ng..nuna…ap..apa yang kalian lakukan ?” Taemin berkata kaget sampai-sampai bungkusan makanan yang ia bawa jatuh kelantai.

“Aiish.

Taemin-ah..kenapa tidak permisi dulu, heh ?” Kataku sambil mengelap

bekas air liur tadi, begitu juga dengan Eun Jae, ia tersipu malu,

mukanya merah padam persis kepiting rebus.

“Ah..itu…mianhae hyung..aku pikir kau sedang tidur, tahu nya sedang….”

“Dasar bocah ! Sudah tahu aku dan Eun Jae ada disini, masih saja sembarangan masuk !”

“Aku sudah minta maaf ! Lagian kenapa pintunya tidak dikunci kalau ingin bermesraan, heh ? Hyung babo !”

“Ahh…Kau berani melawanku ?!”

“Oppa..sudahlah..Taemin tidak sengaja.. tidak usah ribut begitu.” Kata Eun Jae yang masih tersipu malu.

Taemin yang mendengar pembelaan itu, langsung mengangguk senang.

“Tapi bocah ini sembarangan masuk ! Mengganggu acara saja !”

“Hey..hey apa itu ribut-ribut ? Berisik !” Kali ini Onew hyung yang ikut menyahut dari ruang tengah.

“Ini…Key

hyung sedang bermes…..” Dengan cepat tanganku langsung membungkam mulut

bawel Taemin. Cukup dia saja yang melihatnya, tidak perlu semuanya tahu!

“Ssstt…dasar magnae babo ! Untuk apa teriak-teriak, hah ?”

“Lepaskan !”

“Apa yang kalian ributkan, hah ?” Onew hyung tiba-tiba datang kekamarku sambil menikmati ayam goreng yang ada ditangannya.

“Ah, tidak ada. Taemin hanya mengajakku untuk makan malam. Hehe.” Aku mencoba bersikap biasa.

“Lalu, apa yang Taemin katakan tadi ? Kau sedang apa ?”

“Ah, tidak ada ! Mungkin kau salah dengar, hyung !”

“Benarkah ? Kalau begitu, kita makan sekarang saja, Eun Jae, ayo makan !” Untung saja Onew hyung tidak curiga.

“Dasar

pembohong ! Genit ! Mesum ! Bweek !” Sahut Taemin sambil menjulurkan

lidahnya dan mengambil bungkusan makanan yang terjatuh tadi. Ingin

rasanya aku langsung menikam bocah itu. Dasar !

“Awas kau, ya !”

“Ah, oppa…sudahlah..kita makan saja, kasihan kalau mereka nanti harus menunggu kita.”

“Eun

Jae-ah…tapi yang tadi belum selesai..” Ku tutup pintu kamar tanpa

menguncinya, karena kini mereka berempat mungkin sudah makan. Ku dekati

istriku itu.”Kita teruskan…ya ?” Aku menggodanya. Eun Jae sepertinya

mau-mau saja, langsung ku rangkul pinggangnya yang langsing itu, kucium

lehernya dan…

Brak !

“Key…! cepat ma….UWOOH ! A..apa yang kalian… ?!”

Tadi

Taemin, dan sekarang ? Si Jonghyun brengsek ! Kulihat matanya

terbelalak kaget karena melihat posisiku sedang menciumi leher Eun Jae,

mulut Jonghyun ternganga, untung saja tidak ada lalat yang memasukinya.

“Memang kau pikir kami sedang apa ?” Aku tidak peduli lagi, sekalian saja biar mereka tahu.

“Oppa ! Apa yang kau katakan ?!” Eun Jae menyenggol perutku dengan sikunya.

“Aih.

Kenapa selalu ada saja yang mengganggu ? Baik, baik, sebentar lagi aku

makan, sudah sana, keluar !” Aku mendorong paksa Jonghyun.

“Ada

waktunya untuk bermesraan, sekarang ayo makan atau bagianmu akan

kuhabiskan !” Minho tiba-tiba menyahut sambil melirikku licik. Ku pikir

mereka semua sudah berkumpul diruang makan, eh ternyata..

“Minho ! Kenapa kau ikut-ikutan ?! Brengsek kalian semua !”

Ku lihat kearah istriku, dia hanya terkekeh kecil. Sampai-sampai istriku juga ikut-ikutan ? Menyebalkan !

“Heh, kenapa tertawa ? Ada yang lucu ?”

“Ahaha…tentu saja ! Melihatmu emosi begitu, lucu sekali. Kau terlalu bersemangat ! Ayo keruang makan !”

Dia keluar kamar, tidak peduli dengan keadaanku, aku ingin besamanya, hanya berdua.

“Mau makan tidak ? Kenapa berdiri disitu ?”

“Baik..baik..Aku

akan menuruti katamu, tapi awas saja, setelah ini kau yang harus

menuruti mauku.” Aku tersenyum menggodanya, ia hanya bisa menelan

ludahnya. “Lihat saja nanti, Eun Jae-ah…”

“Apa yang barusan kau katakan, oppa ?”

“Anieyo !”

***

Ruang Makan..

“Akhirnya..yang

tadi bermesraan datang juga. Hahaha !” Kata Minho blak-blakan. Aku

menarik satu kursi kosong dan Eun Jae duduk disampingku.

“Heh ? Memang tadi ada apa ?” Onew hyung tampak bingung, tentu saja ia tidak tahu.

“Ah, hyung..kau tidak tahu ? Tadi saat aku memanggilnya untuk makan malam, kulihat Key sedang…..”

“Apa ?”

“Jonghyun ! Hentikan ! Diam !” Aih, kini aku dan Eun Jae benar-benar dipermalukan.

“Key sedang menciumi leher istrinya itu. Hahaha !”

“Mwo ? Kau pikir Key seorang vampir yang menciumi leher wanita lalu menggigitnya ?” Tanggapan Onew hyung begitu polos.

“Hyung

ah ! Eh, tapi benar juga, Key akan menciumnya dulu lalu menggigitnya.

Kekekeke !” Sambung Minho lagi. Orang-orang ini ! Brengsek !

“Aku juga melihatnya, hyung !” Taemin berkata penuh semangat.

“Kau ? Melihat apa ?” Onew kembali penasaran.

“Eng, Key hyung sedang berciuman !”

“Heh,

bocah ! Kurang ajar !” Aku tidak tahan lagi dengan pembicaraan ini,

tapi bagaimana ? Aku lapar, sudahlah, biarkan mereka berceloteh. Eun

Jae juga tidak peduli, ia hanya fokus pada makanannya, sepertinya ia

sudah sangat malu jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Key ?

Berciuman ? Aiigooo…! Tapi wajar saja kan, toh mereka sudah menikah.”

Perkataan Onew hyung benar sekali ! Dasar Taemin, Jonghyun, Minho,

kalian masih bocah, tahu !

“Bagaimana kalau mereka nanti

melakukan hubungan intim ?” Jonghyun melontarkan kata-kata konyol itu

dihadapan kami yang sedang makan, Dasar gila !

“Uhuk..huukh…uhukk !” Eun Jae langsung tersedak saat mendengar ucapan Jonghyun.

“Chagiya, gwenchana ?” Aku memberinya segelas air putih.

“Ne…gwenchana..uhuk…”

“Jonghyun ! Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu ? Tidak sopan !” Onew hyung menjitak kepala Jonghyun.

“Awh ! Mianhae hyung ! Aku hanya mengeluarkan pendapatku saja !”

“Hubungan

intim ? Apa semacam Making Love ?” Kini si magnae Taemin yang bicara.

Making Love ? Darimana bocah bodoh sepertinya tahu kata-kata itu ?

“Taemin-ah ! Kau masih kecil, tidak usah ikut ! Ini urusan orang dewasa !” Kata Minho memperingatkan Taemin.

“Aku sudah besar hyung ! Berhenti mengatakan aku masih kecil ! Lagipula aku sudah pernah membaca cerita seperti itu !”

“MWO

?” Kata kami bersamaan. Si magnae ini sudah pernah membaca cerita

begitu ? Aigoo…Aku yang sudah menikah saja tidak tahu ! Teknologi

ternyata punya pengaruh buruk juga ! Ckck. Aku hanya menggelengkan

kepalaku.

“Kenapa heran ? Nah, sekarang siapa yang anak kecil dan

siapa yang dewasa ? Makanya, jangan seenaknya !” Taemin merasa menang

malam ini karena berhasil membuat kami kaget setengah mati.

“Sudah

! Sudah ! Tidak penting ! Ayo cepat habiskan makan kalian, sudah dingin

!” Kata Onew hyung menengahi dan kami pun menghabiskan makanan malam

itu.

“Hem ! Aku sudah selesai ! Aku mau tidur saja, sudah lelah !” Onew hyung bangkit dari kursinya dan menuju kamarnya.

“Aku juga…hoaahm…enaknya setelah makan langsung tidur !” Jonghyun menyahut dan menyusul Onew, mereka satu kamar.

“Taemin-ah.

Ayo tidur sekarang, besok kau harus sekolah !” Minho menarik tangan

Taemin, dan Taemin mengikuti Minho dari belakang.

“Minho hyung ! Bantu aku mengerjakan PR dulu, baru aku akan tidur !”

Taemin berkata manja pada Minho, aih kupikir mereka homo. Ckck.

“Baik..baik akan kubantu .” Dan Minho mengacak-acak rambut tebal Taemin. Semakin meyakinkanku kalau mereka itu homo. Haha.

“Hey, double Min ! Apa kalian homo, heh ?!”

“Key oppa ! Jangan mengatai mereka begitu !” Eun Jae memperingatkanku.

“Jangan kalian pedulikan omongan Key !” Sambung Eun Jae lagi.

“Siapa juga yang peduli dengan omongan Key hyung !”

“Dasar

sembarangan ! Aku sebagai hyungnya wajar saja membantunya !” Hampir

saja Minho akan melemparkan sendal rumahnya ke kepalaku.Aku hanya

tertawa kecil.

“Key hyung yang mesum ! Dasar genit ! Minho hyung, kita kekamar saja !”

Keduanya terlihat kesal, dan aku senang mengolok-olok mereka berdua, menyenangkan !

***

Aku masih diruang makan, menikmati beberapa potong buah apel dan Eun Jae berada dikamar duluan.

Ku

lirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul 10.05 malam. Memang sudah

larut, tapi aku ingin sekali melanjutkan yang tadi. Masa hanya

berciuman ? Payah sekali. Kali ini akan benar-benar aku lakukan, aku

tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ku harap Eun Jae masih

bangun. Eits, tunggu  ! Kalau ia tidur bagaimana ?

Aku berhenti memakan potongan apel yang ada ditanganku, langsung saja kucuci tanganku dan menuju kamar.

Sampainya didepan pintu kamar, aku mengetuk pelan.

Tok..Tok..

“Eun

Jae-ah…kau tidur ?” Tidak ada jawaban, aku masuk saja dan kukunci

pintunya, tidak ingin membuang-buang waktu.Saat masuk, aku tidak

melihat ada sosok istriku disana. Kemana dia ?

***

 

-Eun Jae’s POV-

“Eun Jae-ah…kau dimana ? Ah, kau mau bermain denganku ? Baiklah..kalau aku menemukanmu, awas saja.”

Kudengar

Key terus meneriakkan namaku, ia mencariku. Aku sendiri baru saja

selesai mandi, karena hawanya sangat panas. Baru aku akan memakai baju,

aku lupa ! Aku tidak membawa baju gantiku ! Aih, bagaimana ini ?

Bagaimana aku bisa keluar dari kamar mandi ini? Disini hanya ada baju

mandi, memang dapat menutupi tubuhku, tapi tetap saja aku merasa tidak

nyaman jika tidak mengenakan pakaian.

Ditambah lagi…aku sedang dikamar Key ! Dan dia ada disini..Aigooo !

Aku

mengerti betul apa yang ia inginkan malam ini, kalau aku keluar dalam

keadaan hanya memakai baju mandi, dia pasti akan mengira aku

memancingnya untuk melakukan “itu” ! Andwae ! Aku tidak mau !

“Chagiya…kau dimana ? Ayolah..chagi..aku sudah tidak sabar. Hahhha.”

Ahh,

dia semakin gila ! Kenapa suamiku itu begitu mesum ?! Sebagai istri,

aku tau aku harus melayaninya, tapi aku tidak siap, aku takut ! Ciuman

tadi saja sudah hampir membuatku mati, apalagi yang lebih !

“Aiigoo…Eun

Jae-ah..kau lihai sekali bersembunyi…keluarlah. Kubilang keluar atau

aku akan mendatangimu dikamar mandi itu. Haha !”

EH ? Bagaimana ia bisa tahu ? Celaka..mampuslah kalau begini. Mau bersembunyi terus disini juga percuma, ia sudah tahu. Aiihh…

“Akan ku hitung…hana…dul….Eun Jae-ah…kau mau melakukannya dikamar mandi ? Itu yang kau mau ?”

Tidak ada pilihan lagi ! Kupakai saja baju mandinya dan melangkah keluar.

“Baik ! Aku keluar ! Dan berhenti berkata mesum begitu !”

Aku keluar dengan langkah ragu-ragu. Tanganku menutupi bagian atas tubuhku.


-End Of Eun Jae’s POV-


***


-Key’s POV-

Kau

terlalu bodoh untuk bersembunyi dikamar mandi, Eun Jae ! Malam ini juga

aku akan melakukannya. Tunggu saja, dan aku jamin kau tak akan bisa

menghindar !

“Akan ku hitung…hana…dul….Eun Jae-ah…kau mau

melakukannya dikamar mandi ? Itu yang kau mau ?” Kataku nakal, apa ia

mau melakukannya dikamar mandi ? Terlalu berani untuk ukuran istri

pemalu seperti Eun Jae. Lama sekali, apa yang ia lakukan disana ? Mandi

? Untuk apa mandi lama-lama ? Dasar perempuan !

“Baik ! Aku

keluar ! Dan berhenti berkata mesum begitu !” Kudengar suaranya dan ia

keluar dari kamar mandi itu sambil menutupi bagian atasnya yang sedikit

terbuka. Uh, seksi sekali !

Rambutnya basah oleh butiran air dan aroma wangi tubuhnya menambah nafsuku malam ini. Aku tidak sabar lagi ingin menyentuhnya.

“Eun Jae-ah..kemarilah..” Kataku sambil menepuk-nepukkan tanganku kekasur yang sedang ku duduki.

Dia

hanya berdiri mematung, kakinya sedikit bergetar. Apa yang ia takutkan

? Aku tak akan menyakitinya. Aku hanya akan menjadikannya milikku

seorang malam ini.

“Key oppa…biarkan aku ganti baju dulu..” Katanya gugup.

“Ganti baju ? Untuk apa ? Chagiya..kemarilah…”

Mukanya merah padam, ia hanya tertunduk sambil mengigit bibir bawahnya.

“Hemm…kalau kau tak mau kesini, aku yang akan kesana..”

“Eh ? Ma..mau apa kau..?”

Aku bangkit dari tempat tidur dan langsung menghampirinya.

“Sudah kubilang dari awal, aku menginginkanmu..semuanya..”

“Ak…aku..takut oppa..”

“Takut

apa ? Kau ini aneh sekali ! Emm…tapi..kau..wangi sekali..” Aku

merangkul pinggangnya dan menciumi lehernya lagi. Ah..wangi sekali, aku

dapat merasakan aroma tubuhnya menusuk hidungku.

“Op..oppa..jangan..aahh..”

Dia mendesah pelan saat ilatku menjilat tengkuknya, disini titik

positifnya. Ku jilat, kugigit dan kuhisap hingga meninggalkan sebuah

kissmark disana. Tidak hanya satu, aku menhisap bagian lehernya yang

lain, terus kuciumi dan kujilati, Eun Jae tidak berbuat apa-apa,

seakan-akan menikmati apa yang aku berikan.

Aku yang sadar dia hanya memakai baju mandi, tanpa dalaman yang ia kenakan, langsung membuka ikatannya perlahan.

“Eun Jae-ah…kau nakal sekali..tidak memakai dalaman, hemm..?”

“A..aku tadi lupa membawa bajuku…tidak sengaja…”

“Aku

tidak peduli kau lupa atau tidak…hhmm..” Tanganku melanjutkan untuk

melepas ikatan baju mandinya, bibirku masih menciumi lehernya, Eun Jae

merasakan kegelian saat aku melakukannya.

“Op..oppa..apa..yang kau lakukan…jangan…”

“Tidak

mau…kau harus menurutiku malam ini..” Ikatannya sudah terlepas. Aku

sudah tidak tahan ! Eun Jae terus saja menahan baju mandinya agar tetap

terpasang ditubuhnya.Wajahnya merah padam, ia menutup matanya.

“Chagiya…jangan menahanku..biarakan aku melihat tubuhmu, okay ?”

“Ak..aku malu…jangan lakukan…”

“Kau

banyak bicara…” Ku buka perlahan baju mandinya, sebagian tubuh indahnya

sudah dapat terlihat, aku semakin tidak sabar untuk dapat melihat

seluruh tubuhnya. Kurasakan darahku mengalir cepat, jantungku berdetak

kencang, mungkin Eun Jae merasakan hal yang sama denganku. Dan juga

dapat kurasakan juniorku mulai menegang.

“Kk…Key…jangan…kumohon..aku..malu..”

Aku tidak mempedulikan kata-katanya, tanganku melanjutkan membuka baju

mandinya, sudah setengah bagian. Sedikit lagi…

“Ku bilang jangan…Key…” Dia terus meronta meminta aku menghentikan ini.

“Diam…jangan melarangku…”Saat bajunya sudah terbuka hingga pinggang…

“JANGAAN !!”

Buuk !

“AWW

! Apa yang kau lakukan ?!”Tak kusangka, Eun Jae menendang juniorku

menggunakan lututnya. Aih, nyeri sekali ! Aku memegangi juniorku yang

sangat malang ini, sementara itu Eun Jae membenarkan baju mandinya.

“Sudah kubilang jangan lakukan ! Aku belum siap untuk itu…!”

“Awhh..sakit

sekali ! Kau ini ! Kau istriku, jadi harus melayaniku dengan baik ,

bukannya menendang juniorku tiba-tiba !!” Dari wajahnya, sedikitpun

tidak menunjukkan rasa penyesalan atas apa yang ia lakukan tadi.

“Biarkan

saja !” Ia berkata jutek, apa ia tidak peduli dengan keadaanku ini ?

Aih, menyebalkan ! Gagal lagi rencanaku kali ini ! Awas saja kau nanti !

 

***


-Eun Jae’s POV-

Aku

dan Key selama sehari ini tidak bicara. Mungkin ia masih marah soal

kemarin itu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan saat

ia mulai membuka bajuku, jadi kutendang saja juniornya. Aku tahu, pasti

sangat sakit ! Tapi apa boleh buat ? Aku tidak siap, aku takut sekali

melihat wajahnya yang nafsu itu. Saat ia menciumi leherku, aku masih

bisa menerimanya, tapi saat ia melucuti baju mandiku secara perlahan,

aku malu sekali, jantungku serasa mau keluar! Mianhae oppa, maksudku

bukan menyakitimu, tapi aku benar-benar takut ! Aku juga sebenarnya

tidak mau kau marah dan mendiamkanku begini, ahh..aku bingung !

Otteokhe ? Aku harus bagaimana ? Apa aku harus minta maaf padanya ?

Kalau ia tidak memaafkanku, bagaimana ? Aish…

 

-End Of Eun Jae’s POV-


“Eun Jae-ah..kau tidak kerja hari ini ?” Tanya Onew saat ia melihat Eun Jae santai diruang TV.

“Anieyo, Onew-ssi…minggu depan baru ada pemotretan untuk majalah lagi.”

“Ah, arra…Oh, kemarin malam aku ada mendengar teriakan dari kamar kalian, itu suaramu ?”

“Eh ? Aah..itu..ne, memang aku, waeyo ?”

“Kenapa kau berteriak ? Apa ada sesuatu ?” Onew duduk disamping Eun Jae dan ikut menonton TV.

“Anni…Key

oppa hanya menakutiku dengan kecoak mainan, jadi aku berteriak saja.

Haha.” Eun Jae tidak mungkin mengatakan kejadian waktu itu, memalukan

sekali kalau sampai Onew tahu.

“Benarkah ? Kekanakan sekali.ckck. “

“Ya, benar. Haha. Eh, daritadi aku tidak melihat Jonghyun, dan Minho, kemana mereka ?”

“Jonghyun ! Astaga !” Onew menepuk jidatnya.

“Wae ?”

“Aku lupa ! Aku ada acara dengannya, aih pasti anak itu sudah menungguku !” Onew buru-buru bangkit dari duduknya.

“Dan Minho ?” Eun Jae masih saja bertanya.

“Em..mungkin

menjemput Taemin, sebentar lagi jam pulang sekolah, aku pergi dulu, kau

baik-baik disini,kalau ada apa-apa, telepon aku, ya !” Onew lalu

bergegas mengambil kunci mobilnya dan langsung melangkah keluar

apartemen.

“Ne, hati-hati dijalan !”

“Aahh…apartemen sudah

sunyi. Onew dan Jonghyun ada acara, Minho menjemput Taemin. Dan suamiku

Key ? Belum pulang kerja. Ukh..masih jam 4.00 sore.” Eun Jae bicara

dengan dirinya sendiri. Dia sendirian di apartemen yang cukup luas ini.

Eun Jae daritadi menggonta-ganti chanel TV, tidak ada siaran yang

menarik menurutnya, begitu terus hingga Minho dan Taemin pulang.

“Annyeong, kami pulang.” Sapa Minho dari luar.

“Akhirnya pulang juga, aku sendirian disini.” Ucap Eun Jae kesal.

“Oh ya ? Mianhae, tadi aku dipaksa Taemin untuk menemaninya ke game center.”

“Gwenchana.”

“Kemana yang lain ?” Tanya Taemin sambil celingukan.

“Sudah kubilang aku sendirian, Onew-ssi pergi dengan Jonghyun dan Key belum pulang kerja.”

“Ohh..arra…nuna, kau sudah makan ?”

“Ne, ah, Taemin, ganti pakaianmu dulu, setelah itu, mau bermain playstation bersamaku ? Aku bosan !”

“Apa aku tidak diajak ?” Sahut Minho.

“Haha, hampir lupa . Ya sudah, kita main bersama, mandilah dan ganti dulu pakaian kalian .”

Tidak

lama, Ketiganya lalu memulai permainan mereka. Daritadi Taemin terus

dipojokkan karena scorenya selalu yang paling rendah. Jadi yang masih

semangat bermain hanya Eun Jae dan Minho.

“Ya ! Kalian curang !”

“Taemin-ah, curang bagaimana ? Kau sendiri yang payah !”

“Terima saja nasib burukmu itu, haha” Ledek Eun Jae yang terus memainkan joystick playstationnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.38 pm.

“Aku capek…istirahat dulu..” Kata Minho lalu menyenderkan kepalanya disofa, sedangkan Taemin sudah tertidur lebih dulu.

“Aih..kalian

ini ! Kenapa begitu saja sudah capek ? Huh..” Apa boleh buat, Eun Jae

menghentikan permainan yang sedang seru itu. Ia baru saja akan

melangkah kedapur, dan dilihatnya dari arah pintu, Key sudah datang.

“Oppa..kau

sudah pulang ? Sudah makan ?” Key hanya diam, tidak mengacuhkan

pertanyaan Eun Jae. Dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.

“Apa

dia benar-benar marah ? Huh.” Eun Jae pergi kedapur dan meminum sebotol

air mineral. Dia tidak tahan lagi kalau terus begini, jadi ia menyusul

pergi kekamar.

***

“Oppa…boleh aku masuk ?” Eun Jae berkata

pelan. Merasa tidak dijawab, ia langung membuka pintu kamar yang tidak

dikunci itu. Dilihatnya Key sedang asik membaca sebuah novel diatas

kasurnya.

“Oppa…kau masih marah ? Mianhae, maksudku bukan mau

menyakitimu, aku bingung apa yang harus aku lakukan..” Tetap saja, Key

lebih memilih memperhatikan novelnya daripada istrinya yang sedang

bicara. Eun Jae lalu berjalan ketepi tempat tidur, ia berdiri disamping

Key.

“Mianhae. Key…jangan marah lagi. Kau ini seperti anak-anak saja !”

“…..”

“Key…kau benar-benar marah soal kemarin ? Jeongmal mianhae, ayolah..katakan sesuatu..”

Key tetap bungkam, menatap istrinya saja tidak, apa lagi mendengarkan perkataannya.

“Key..!”Eun

Jae tidak tahan lagi, dirampasnya novel yang sedang Key baca dan

dilemparkannya kewajah suaminya itu.”Dengarkan aku ! Aku sudah minta

maaf, kenapa kau masih cuek padaku hanya gara-gara hal kecil kemarin ?!”

“Apa-apaan kau ! Kau bilang hal kecil ? Pukulanmu itu hampir membuatku mati,tahu ?!”

“Tapi

aku tidak sengaja..hhiks..aku minta maaf…hhhiks..mianhae, jangan marah

lagi..hhh..” Air mata Eun Jae kini keluar membasahi pipinya. Tentu saja

Key kaget.

“Kenapa menangis ? Aishh…”

“Pabo…kau bodoh !”

Eun Jae menghapus air matanya dan baru saja ia akan meninggalkan Key,

dengan sigap tangan Key menahan tangan Eun Jae.

“Uljima…baik, aku tidak marah. Sudahlah, jangan menangis lagi, dasar cengeng !”

Key lalu berdiri kehadapan Eun Jae dan menghapuskan sisa air matanya.

“Benar kau tidak marah lagi?”

“Aku tidak akan marah kalau kau mau menuruti mauku malam ini. Haha” Goda Key yang langsung membuat wajah Eun Jae memerah.

“Eh..?

Ap..apa…maksud…mmmphh…” Key langsung mengunci rapat bibir Eun Jae

dengan bibirnya. Tangannya terus memegangi wajah istrinya, lalu

membelai lembut rambutnya.

Eun Jae lagi-lagi hanya bisa meremas kuat baju kaus yang dikenakan Key.

“Ahh…mmphh..K..Keey…”

Kali ini memang benar-benar waktu yang ditunggu Key. Kesempatan emas ini tak akan ia biarkan lepas begitu saja.

“Eun Jae-ah….kali ini jangan menolak lagi..okay ? Saranghae…”

Ciuman

Key semakin ganas, lama sekali ia melumat bibir mungil itu, tapi Eun

Jae tidak juga membuka mulutnya. Key merasa belum puas, tapi keduanya

sudah kehabisan nafas.

“Ahh..hhh…Key…”

“Chagiya..ayolah..buat aku bahagia malam ini, selama kita menikah, aku tak pernah menyentuhmu, masa kali ini juga tidak boleh ?”

“Ta…tapi aku..takut..”

“Lagi-lagi takut…apa yang kau takutkan ? Disini tidak ada setan !”

“Kau setannya, aku takut sekali melihat wajahmu yang nafsu itu..”

“Mwo

? Wajah tampan begini kau bilang menakutkan ?” Eun Jae hanya tertawa

kecil. Key yang tidak sabaran lagi, kembali mengulum bibir Eun Jae.

Dihisapnya, digigitnya kecil hingga Eun Jae merasa nyeri dan akhirnya

memberikan ruang pada lidah Key untuk memasuki mulutnya.

“Ahmm…Mmpphh…aahh..”

“Mmmphh….”

Suara

decakan dari ciuman keduanya pun tak terhindarkan. Key dengan nafsunya

menjilati mulut Eun Jae, dihisapnya bibir bawah Eun Jae, kembali

membuat Eun Jae merasa nyeri.

“Awwh..ahh…”

“Eun

Jae-ah…jangan diam saja, lakukan sesuatu padaku juga..hmmmp..” Kata Key

disela-sela ciumannya. Eun Jae yang menikmati ciuman Key, tidak mau

kalah, lidah bermain dengan lidah Key, sesekali ia gigit bibir Key dan

tangannya merangkul erat leher suaminya itu.

“Sepertinya kau menikmatinya..heemmph..” Lidah Key mulai menjalar kearah leher Eun Jae, diciuminya pelan…

“Ahh..Ke..Key…Key….aahhh..”

Desahan kecil mulai keluar dari mulut Eun Jae. Key yang mendengar suara

merdu itu, semakin bernafsu, setelah diciuminya leher putih itu,

dijilatinya…dan dihisapnya, meninggalkan beberapa bekas merah disana.

“Key…sudah..ahhh..nanti kalau ada yang melihat…ahh..”

“Tidak akan…kita aman disini, dikamarku..hanya aku dan kau, chagi..”

“Tapi diluar ada Minho dan Taemin…”

“Apa yang mereka lakukan ?” Key terus menikmati leher istrinya.

“Ahh..me..mereka..ahh..Key…mereka tidur..”

“Benarkah ? Baguslah…aku bisa melakukannya dengan leluasa kali ini..”

“Lalu..bagaimana kalau Onew & Jonghyun datang…?”

“Mereka pasti pulang larut…tenanglah…heemmp…aahh..”

“….” Eun Jae tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kini ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan Key selanjutnya.

“Chagiya..ahh..aku

tidak sabar lagi !” Key melepaskan ciumannya yang bersarang dileher Eun

Jae, dan ia pun mengangkat Eun Jae lalu merebahkannya keatas kasur.

Keadaannya kini sangat menguntungkan bagi Key karena posisi Eun Jae ada

dibawahnya.

“Key…aku..takuut…”

“Jangan khawatir….tenanglah…hhmm..”

Bibir

Key kembali menciumi bibir Eun Jae, lidahnya dengan mudah memasuki

rongga mulut Eun Jae dan bermain didalamnya, Eun Jae membalasnya, namun

lidah Key lebih dulu menahan lidahnya. Selama tujuh menit ciuman panas

itu berlangung, air liur mereka menetes diekitar bibir dan leher mereka.

Puas

bermain dengan bibir Eun Jae, kini lidahnya menjilati leher Eun Jae,

kembali ia hisap bekas merah yang tadi sudah ia buat sebelumnya.

“Aahh…Kk..Key…hen..tikan…ahhhh…” Eun Jae mendesah kegelian.

“Hmm..nikmati saja..kau menyukainya kan ? Ahh..Eun Jae-ah…tubuhmu..wangi…membuatku tidak tahan !”

Tangan

Key mulai menyusup kedalam punggung istrinya, dia elus pelan hingga

tangannya kini mulai menyentuh dada istrinya yang sangat sensitif itu.

“Eun Jae-ah…aahh…kau terlalu menggodaku…” Tangan Key meremas pelan buah dada itu dari luar bra nya.

“Ahh…Keey..aah..” Tangan Eun Jae berusaha menahan tangan Key yang semakin keras meremas-remas dadanya.”Keey…sakit…ahh..”

“Kau

akan menikmatinya…ahh…” Key masih dengan kegiatannya, kini tangannya

mencari-cari ikatan bra itu. Setelah ia temukan, langsung saja ia lepas

bra itu dan dilemparmya asal. Payudara Eun Jae kini dapat terlihat

jelas oleh Key, meski masih tertutup oleh terusan pendek yang dikenakan

Eun Jae.

“Kk…Kkeey…” Ucap Eun Jae gugup dan menutupi payudaranya itu dengan tangannya.

“Jauhkan

tanganmu itu…ayolah chagi…” Key lalu menjauhkan tangan Eun Jae dan

menggantikannya dengan tangannya. Dipegangnya, diusapnya lembut benda

kembar itu lalu ia mulai meremasnya lagi.

“Ahh ! Sakit Key ! Ahhh….” Eun Jae mendesah lagi, entah karena sakit atau ia memang menikmatinya.

“Terus..keluarkan suara merdumu itu…”

“Ahhh….haahh….ah..”

Key mulai memainkan nipple milik Eun Jae, membuat payudara Eun Jae

mulai mengeras. Setelah dirasanya cukup, kini mulut Key yang mulai

menghisap nipple itu, lidahnya terus menjilati dan menggigit pelan

payudara milik Eun Jae.

“Hhm…aahh…” Key mendesah nikmat atas perlakuannya sendiri.

“Ahhh..Key…sakit..aahh..”

Sementara

lidahnya masih bermain dengan payudara istrinya, tangan Key kini

melucuti pakaian tipis yang dikenakan Eun Jae, hingga kini terlihatlah

sudah tubuh mulus Eun Jae dihadapan mata Key, tanpa benang, tanpa kain,

pemandangan yang sangat langka bagi Key.

Key kini sudah

benar-benar seperti setan yang penuh dengan nafsu. Ia membuka sendiri

baju kaos yang ia kenakan, dan dengan perlahan, ia buka celananya,

hingga kini keadaan keduanya polos tanpa ikatan benang.


-Key POV

Entah

setan apa merasukiku, aku sudah tidak dapat menahan nafsuku malam ini.

Ku lucuti pakaiannya, hingga kini mataku dengan leluasa dapat melihat

tubuh indahnya. Aku sendiri melepaskan baju dan celana yang aku

kenakan, karna aku tahu, Eun Jae tidak akan mau jika aku suruh melepas

pakaianku, dia terlalu pemalu.

“Eun Jae-ah…saranghae..aku

mencintaimu..jeongmal saranghae, chagiya..hhmm..” Lidahku mulai

menjalar turun, dari payudaranya, kini menjilati bagian perutnya.

Tubuhnya menggeliat tiap kali lidahku menjilatinya, desahan-desahan

dari mulutnya pun keluar tak keruan.

“Akkh….Key…Ahhh…” Dengan erat kini tangan Eun Jae memeluk leherku, sesekali ia remas punggungku untuk menahan desahannya.

“Chagiya…suaramu

menggoda sekali..aku suka..ahhh..” Lidahku masih menjilati perutnya,

dan tanganku kembali meremas-remas payudaranya yang sudah mengeras.

Benar-benar sensasi yang membuatku semakin terangsang. Dia sepertinya

menikmati permainanku, tangannya begitu erat merangkulku hingga tubuhku

berhimpitan dengan tubuhnya. Kurasakan tubuh kami yang basah dan

berkeringat, dan sesuatu dibawahku sepertinya menegang. Tapi aku tidak

mau mencapai puncaknya sekarang, aku masih ingin menikmati tubuhnya,

ini baru permulaan.

“Ke…Key…mmhh…aahhh…” Mendengar ia terus

mendesah, kuhentikan jilatanku diperutnya. Tanganku kini bergerak

nakal, dari payudaranya kini menuju turun, ku belai lembut tubuhnya…

“Aaahhh….”

Terus

ku belai tubuhnya hingga tanganku sampai pada sesuatu yang sangat

dijaga oleh kaum wanita, termasuk Eun Jae. Tapi ia sudah menjadi

istriku, jadi aku berhak menikmatinya.

Ku elus pelan rambut halus

yang tumbuh disekitar Ms.V nya. Itu membuat Eun Jae kembali kegelian

dan tubuhnya lagi-lagi menggeliat, sungguh menggoda.

“Key…a..apa..yang..kau pe..pegang? Ahhh…Key…aakhh..” Aku tahu, ia menikmati ini.

“Punyamu..aah…ini

menyenangkan..kau suka kan ?” Ku raba-raba lagi Ms.V milik Eun Jae, apa

ini yang dinamakan kenikmatan ? Aku sungguh menikmatinya, memegang saja

sudah membuatku begitu bergairah, apa lagi jika aku melakukan itu.

“Aakhh…Key…sudah..aahh.” Semakin kau mendesah, semakin menaikkan nafsuku.

Juniorku semakin menegang. Perlahan, kucoba memasukkan satu jari telunjukku kedalam lubang Ms. V Eun Jae.

“Mungkin akan sakit….tahan sedikit…”

“A..apa yang kau laku…..AH !” Saat jariku memasukinya, saat itu juga Eun Jae mengerang kesakitan dan mengeratkan pelukannya.

“Mianhae…apa sakit ?”

“Tentu saja, bodoh !”

“Ahaha, mukamu lucu sekali !”

“Ja…jangan tertawa !”

‘Ini baru jariku..aku belum memasukkan juniorku. Kekekek ~”

“Mw…Mwo ?! Ahhh…tapi ini sakit…aahh..”

“Kau

menyukai ini kan ? Buktinya kau terus mendesah nikmat, jangan bohong

Eun Jae-ah…aaakkkhh..” Ku keluar-masukkan jariku, rasanya seperti

tersedot, tapi ini benar-benar nikmat !

“Molla…! Ak..aku tidak tahu..aakhh..Key…sakit..”

Ku coba lagi memasukkan dua jariku bersamaan kedalam liang Ms. V nya.

“Tahan sedikit..okay ?” Belum sempat dia meng-iyakan, aku langsung memasukkan dua jariku lagi.

“AAHH

! Akkh…aakh…sakit…” Kini tiga jariku sudah sukses masuk kedalam

lubangnya, Ms.V nya terus menyedot jari-jariku, dan keluarlah cairan

putih kental dari lubangnya. Reaksi Eun Jae lumayan cepat.

“Sstt..jangan

berteriak…mmpphh..” Aku melumat bibirnya lagi agar ia tidak berteriak,

tiga jari kananku masih bersarang di Ms.V nya, sedangkan tangan kiriku

meremas-remas payudaranya. Tiga sensai luar biasa yang kudapat langsung.

“Mmmph….”

Tangan Eun Jae meremas punggungku kuat, tubuhnya menegang dan desahan-desahan tak hentinya ia keluarkan.

Kurasa, Eun Jae sudah lumayan rileks, kulepas ciumanku dan beralir ke Ms. V nya.

“Kau akan menikmati ini, chagi….”

Kulepas

tanganku dari lubangnya, penuh dengan cairannya. Ku paksa Eun Jae untuk

melumat jariku tadi, sementara lidahku mulai menjilati permukaan Ms. V

nya.

“Haah…aahh..Key…”

“Nikmati saja, baby…”

Aku pun

dengan bergairah menjilati benda berharga itu, lidahku menyapu habis

cairan yang ia keluarkan tadi. Sesekali kuhisap untuk mendengar Eun Jae

kembali mendesah. Dan itu berhasil.

“Ahh..Keyy…aaahh…ak..aku tidak tahan..aahhh..”

Aku

senang sekali saat ia mengatakan itu. “Bagus chagi…kita akan menikmati

malam ini, percaya padaku, ini tak akan menyakitimu..” Eun Jae hanya

mengangguk, sebuah jawaban yang membuatku ingin berbuat lebih dari ini.

Terus kujilat…ku ciumi…kuhisap…kujilat lagi..aaahh…

Lidahku terus menjilati Ms.V nya, hingga menemukan klitorisnya, kutekan pelan bagian itu.

“AH ! Key..!”

“Baiklah..heemm…aaahhh…”

Ku tekan-tekan bagian itu, hingga cairannya kembali keluar,

kuhisap..kusedot…kujilat tanpa ada rasa jijik sekalipun. Kepalaku kini

benar-benar hilang dibalik pangkal pahanya.

“Emmh..Key..sampai

kapan kau akan terus menjilatinya ? Ahhh..” Eun Jae menekan kepalaku

lebih dalam, seakan-akan menyuruhku untuk terus melumat Ms. V nya. Dia

mulai berani ternyata, kukira awalnya ia pemalu. Rupanya Eun Jae wanita

yang sulit ditebak.

Daritadi aku menahan juniorku yang sudah

menegang dengan sempurna, kurasa ini saatnya. Ms. V Eun Jae juga sudah

basah. Aku akan melakukannya, membuatnya menjadi istri yang utuh

bagiku, hanya milikku.

“Chagiya…aku..tidak tahan lagi. Kumasukkan, ya? Akkh…Juniorku sudah tidak sabar..”

“Aku takut….pasti akan berdarah..sakit..”

“Akan kulakukan dengan pelan, percaya padaku..”

“Pelan..pelan…aku takut…”

Tidak

mau membuang-buang waktu, ku himpitkan lebih dekat tubuhku dengan tubuh

Eun Jae, juniorku dapat bergesekan dengan Ms.V nya, itu saja membuat

jantungku berdetak hebat dan nafsuku sudah tak terkendali. Eun Jae

melakukan hal yang sama, tangannya semakin kuat merangkulku, wajahnya

terlihat ketakutan. Sebentar saja chagi, ketakutanmu akan menjadi

kenikmatan.

“Akan kulakukan..saranghae chagi…”

“Nado

saranghae, oppa..” Sambil membuka lebar pahanya, kuarahkan juniorku

menuju liang Ms.V nya, berkali-kali kugesekkan agar tepat masuk

kedalamnya.

“Akkhh…akkhh….”

Awalnya kukira mudah saja,

ternyata sulit juga. Tubuh kami benar-benar basah dan saling menegang

menahan kenikmatan ini, meski juniorku belum sepenuhnya masuk.

“Key..cepat sedikit..aahh…aku tidak kuat Key…”

“Sabarlah chagi…sedikit lagi..”

Setelah lumayan lama mencari-cari liang kenikmatan itu, akhirnya kutemukan.

Dengan satu hentakan, langsung kumasukkan juniorku dan langsung menembus dinding penghalang Ms. V nya.

“GYAAA…haahh….haaahh….aahhh…”  Seketika itu juga, Eun Jae mengerang nikmat.

“Haah…aaahh…juniorku…sudah masuk…aahhh..” Aku sendiri sampai terengah-engah.

“Aku..tahu..aku dapat merasakannya…hangat..tapi..aakhh..sakit..”

Juniorku

sudah masuk penuh kedalam lubang Ms.V Eun Jae, rasanya benar-benar

nikmat, baru kali ini aku merasakan sensai yang sangat luar biasa.

Juniorku rasanya seperti disedot oleh Ms.V Eun Jae, aku dapar merasakan

denyutannya.

“Apa ini nyaman ?” Aku bertanya pada Eun Jae yang menutup matanya.

“Ku rasa iya…haahh….Key…apa aku berdarah ? Ini terasa nyeri.. akkh..”

Aku melihat ada sedikit bercak merah membasahi seprei kami bersamaan dengan keluarnya cairan ku dan cairan Eun Jae.

“Ya

sedikit, itu wajar saja ketika pertama kali melakukannya..”  Dia

mengangguk kecil, kulihat wajahnya memerah dan berkeringat,bahkan

matanya mengeluarkan air mata. Ku sapu keringat dan air matanya dengan

tanganku. Bibirku kembali mengulum bibirnya untuk membuatnya tenang.

“Kau lelah?”

“Lumayan..”

“Tapi ini hanya awal..aku belum puas chagi…biarkan aku melakukannya lagi ya ?”

Benar, ini hanya permulaan, belum apa-apa. Aku belum puas.

“…Lakukan dengan pelan…yang tadi sangat sakit..”

Langsung

saja kulumat habis bibir mungilnya, dengan maunya sendiri, Eun Jae

membuka rongga mulutnya, lidahku langsung saja menelusuri isi mulutnya,

kujilati tiap sisi bibirnya dengan penuh nafsu, air liur kami bercampur

dan mengeluarkan suara decakan.

“Ahh..Key…Cepatlah..aku lelah, Key…mmpphh…”

“Baik kalau itu maumu…aahmm…”

Dengan

juniorku yang masih bersarang diliang Ms.V nya, ku gerakkan in-out

secara berulang-ulang, ku angkat pinggulku agar mudah melakukannya,

begitu juga dengan yang dilakukan Eun Jae, ia mengikuti gerakanku,

badannya menggeliat penuh gairah. Tangannya yang merangkulku kini mulai

meremas-remas sendiri payudaranya yang sedari tadi bergoyang karena

gerakan kami. Aku tidak tahu kenapa ia melakukan itu, mungkin agar

menahan sakitnya, yang pasti, sikapnya itu membuat ku terangsang,

nafsuku kembali naik.

“Akkhhh…akkhh….Key…lebih cepat…ahhhh..” Eun Jae mengeluarkan kembali desahan indahnya.

“Kau mulai nakal, Eun Jae-ah….”

Ku

percepat gerakanku, lidahku menjilati lagi lehernya, semakin menambah

kenikmatan malam ini. Semakin cepat kugerakkan Juniorku….semakin

kencang pula Ms.V Eun Jae menyedotnya. Ranjang kami ikut berdenyit

karna hebatnya getaran dari tubuh kami. Keringat pun membanjiri tubuh

dan seprei yang kami tiduri, juniorku dan Ms.V nya saling bergesekkan,

mulut kami saling mendesah, saling memberikan kenikmatan, itu yang kami

rasakan malam ini. Aku dengan gesit menggerakkan juniorku didalam

liangnya, tanganku ikut meremas payudaranya yang daritadi terus

menggodaku. Bibirku tak tinggal diam, kujilati dengan nafsu seluruh

bagian tubuhnya, dari mata, hidung, bibir, leher dan perutnya. Air

liurku membasahi tubuhnya, bercampur dengan keringat yang ia keluarkan.

“Akkhh….aakkhh…Key..aku mau keluar…aakkhh..” Eun Jae berkata terbata-bata, ia sungguh menikmati apa yang kuberikan.

“Keluarkan

saja cairanmu itu, chagi…aahh..” Aku terus menggerakkan juniorku In-Out

secara berulang-ulang, juniorku menegang dengan sempurna didalam liang

Ms. V Eun Jae, dan akhirnya…

“AKKHH….Key…” Eun Jae mengalami

klimaksnya untuk yang kedua kali, kali ini cairannya lebih banyak

daripada yang ia keluarkan saat jariku yang masuk.

“Ahh..Eun

Jae-ah..peluk aku…aku juga ingin keluar..peluk aku, chagi..aahhh..” Aku

menunggu waktu klimaks ku, Eun Jae menuruti perintahku, ia memelukku

erat, menghimpitkan tubuhnya, hingga aku dapat merasakan payudaranya

menekan dadaku. Eun Jae bahkan menekan bokongku agar juniorku semakin

dalam memasuki liangnya. Eun Jae sudah terbawa nafsunya sendiri. Ia

menarik wajahku dan mencium bibirku untuk yang pertama kalinya. Dia

terlihat begitu bergairah kali ini. Tubuhnya terus menggeliat dan ia

gerak-gerakkan pinggulnya, menambah sensasi nikmat untuk juniorku.

“Enghh..hhmp…aaahh..Eun Jae..terus begitu..peluk aku lebih erat..akkhh..”

Sudah

tidak dapat kutahan, akhirnya kucapai klimaks ku, cairan juniorku

berhamburan keluar dan sebagian masuk kedalam tubuh Eun Jae. Dia sudah

jadi milikku, dan sebaliknya,malam ini malam yang penuh kenikmatan,

kamar ini seakan jadi saksi bisu atas apa yang kami lakukan.

“Hah..hah…hah..aahh..” Kami sama-sama kelelahan, cukup banyak tenaga yang kami keluarkan untuk melakukan ini.

“Key..aku lelah..haah…”

“Sedikit lagi…ini belum selesai..” Kataku sambil perlahan menyapu keringatnya, kucium pelan bibir mungilnya.

“Emph…tapi Key..aku benar-benar lelah..”

‘Sebentar saja, sekalian saja kita tuntaskan malam ini, ya ? Ayolah…”

Dia

hanya diam, pasrah dengan apa yang akan kulakukan selanjutnya. 

Perlahan kulepas juniorku dari liangnya, dan kembali kujilati bibir Ms.

V nya. Ku hisap habis cairan yang Eun Jae keluarkan tadi.

“Aahh..Ahh..Key…terus..aahhh..”

“Mmpphh…aahh..selesai, sekarang giliranku !”

“M…Mwo ?”

“Lakukan apa yang kulakukan pada punyamu tadi…”

“Ahh..a..aku malu..aku…tidak mau..”

“Malu kenapa ? Kita sudah melakukannya, ayolah chagi..kau mencintaiku kan ?”

Aku memposisikan badanku duduk dengan Eun Jae yang ada diatasku, kuarahkan kepalanya menuju juniorku.

“A…apa yang harus kulakukan ?”

“Kau tidak tahu ? Seperti tadi…saat aku menjilati punyamu..Jangan membuang waktu, Eun Jae-ah..”

Dengan segera ia mengangguk, dielusnya pelan juniorku lebih dulu. Membuatku mengerang nikmat.

“Bagus Eun Jae…aahh…lebih cepat…aahh..”

Tangan

Eun Jae mulai terbiasa memegang juniorku, langsung saja ia naik

turunkan juniorku, gerakannya sangat cepat,  sungguh nikmat..

“Aakkh….aaakhh…terus baby..aahhh…lakukan sekarang..aahh..”

Eun Jae lalu mengulum hampir semua juniorku kedalam mulutnya. Sambil mengelusnya, gerakkan Eun Jae semakin bernafsu.

“Aku..keluar

lagi Eun Jae-ah…”Kataku tidak tahan. Akhirnya aku klimaks lagi,

cairanku sepenuhnya kini masuk kedalam tenggorokan Eun Jae.

Lantas, Eun Jae menciumku dan memaksaku untuk merasakan cairanku sendiri yang masih tersisa dibibirnya.

“Mmphh….”

“Ahhhh…mmmpph…”

Eun Jae lalu melepaskan ciumannya. Nafasnya tak beraturan, tubuhnya juga masih berkeringat.

“Lelah…?”

Tanyaku padanya, ia hanya mengangguk. Kutarik tubuhnya,hingga berada

kembali dibawahku, kututupi tubuh kami berdua dengan selimut. Ku elus

lembut rambutnya, bibirku kembali menciumnya,tangannya dengan erat

memelukku.

“Gomawo, chagi….saranghae..” Aku membalikkan tubuhku kesampingnya.

“Nado saranghae…” Dia tersenyum menatapku. Malam ini benar-benar membuatku bahagia.

“Tidurlah,

sudah malam..” Ini sudah larut, dari jam 8 malam kami melakukannya

hingga pukul 10 malam. Sangat lelah, tapi menyenangkan.

Kupeluk ia hingga kami berdua tertidur. Eun Jae-ah, jeongmal gomawo..yeongwonhi saranghae…

-END-

 

Muahahaha. Akhirnya ini FF mesum selese juga xD

Merinding sendiri pas bikin ne FF, sumpah . Tau dah ne otak mikirnya sampe kesini,

makanya langsung disalurkan aja daripada dibiarkan. HAHA

Maap kalo salah kata atau semacamnya, karna saya hanya manusia biasa yang pasti punya dosa. Kekekeke ~

Fc Populer:

Dream part 3 End | FF Korea

Cover-Fanfict-Dream

Cover-Fanfict-Dream

Author : Evaa_Iva

Tittle : Dream part 3 End.

Category : NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

Kyuhyun Super junior as Cho Kyuhyun

Irene Red Velvet as Lee Ren

Other Cast :

Seulgi Red Velvet as Cho Minkyung

Cameo:

Seo Meekyung

Lee Eomeonim

 

Author Note : Fan fiction ini di tulis 40% berdasarkan pengalaman saya. Dan 60% khayalan otak saya. Jika suka tolong di like, di comment, di share bukan di plagiat!

 

Happy Reading^,^

 

Musim dingin berlalu.Musim semi berselang. Bunga sakura bermekaran dengan indah. Udara hangat perlahan menyelimuti. Namun tak mampu menyelimuti hatiku.

Aku masih belum mampu melupakannya. Tidak. Aku tak ingin melupakannya. Aku tak mengerti mengapa dia pergi. Hanya meninggalkan sepucuk surat.Kenapa ia tak minta penjelasan padaku?

Setiap akhir pekan biasanya aku pergi ke rumah Minkyung. Berharap ia akan ada disini. Minkyung mengizinkankutidur di kamar Ren. Aku biasa menghabiskan hariku di kamarnya.

“Oppa berhentilah menunggunya! Dia sudah bahagia disana.” Minkyung selalu meyakinkanku untuk menyerah. “Kau tahu sulit bagiku untuk melupakannya.Dia begitu berarti bagiku.” Jawabku. “Tapi oppa kau juga harus bahagia.” Aku hanya bisa mendesah saat Minkyung berkata begitu.

Aku tahu Minkyung tahu keberadaannya. Tapi dia tak mau memberi tahuku. Aku juga tak bisa memaksanya. Hanya menunggu yang bisa kulakukan sekarang.

“Oppa aku pergi belanja sebentar.”

“Ya. Hati-hati.”

Minkyung pergi cukup lama. Aku memutuskan berjalan-jalan di taman dekat apartemen Minkyung.Banyak orang berjalan-jalan disini. Bunga sakura yang bermekaran membuat orang-orang betah disini. Andai kita masih bersama kita juga akan menikmati melihat sakura bersama.

Banyak anak-anak yang berlarian disini. Bahkan ibu hamilpun berjalan-jalan disini. Tunggu. Aku melihatnya. Aku benar-benar melihatnya disini. Dia wanita hamil itu. Hamil? Aku berjalan hendak mendekatinya. Tapi seorang laki-laki mendahuluiku. Mereka berbicara dengan akrab. Sepertinya aku salah lihat. Tapi dia begitu mirip.

Aku memutuskan untuk pulang. Ternyata jalan-jalan membuatku berhalusinasi. Saat sampai di rumah Minkyung sudah datang.

“Oppa kau dari mana?”

“Hanya jalan-jalan di depan.”

“Oppa kau mau makan apa nanti malam?” Tanyanya sambil sibuk membereskan belanjaannya.

“Apa sajalah. Eh Minkyung-ah tadi aku melihat seseorang yang mirip dengan Ren.” Aku ikut membantu membereskan belanjaannya. “Be… Benarkah?” Tanyanya gugup. “Ya dia mirip Ren hanya saja dia sedang hamil.” Jawabku santai. “Dimana oppa melihatnya?” Nada gugup masih terdengar dari suaranya.

“Di taman. Kenapa kau gugup sekali ?” Tanyaku menyadari kegugupannya. “Tidak. Tidak apa-apa.” Dia mencoba menenangkan dirinya.

“Minkyung-ah… Aku tahu ada yang salah. Kau tak biasanya gugup begini.” Aku mencoba mengorek informasi. “Tidak oppa. Tidak apa-apa.” Dia masih tetap mengelak.

“Minkyung-ah apa ini ada hubungannya dengan Ren?” Aku semakin penasaran. “Tidak oppa. Kumohon berhentilah bertanya. Aku baik-baik saja.”

“Minkyung kumohon kau tahu betapa menderitanya akutanpa dia.” Aku memohon padanya.

“Aku tahu oppa. Tapi aku tak bisa mengatakannya.” Dia menatapku memohon.

“Kenapa? Tidak. Aku tahu alasannya. Kumohon hanya satu hal. Tolong beritahu aku satu hal tentangnya!”

“Tapi oppa?”

“Kumohon hanya satu hal!” Aku menatapnya penuh harap. Hanya satu hal yang aku ingin tahu. Keadaan dia sekarang. Sejujurnya.

Minkyung menghela napas. “Baiklah. Dia hamil oppa.”

Apa? Apa yang dia katakan? “Ha-hamil?” tanyaku bingung.

“Ya Ren hamil oppa. Saat diakembali kesini dia sedang hamil.”

“Kenapa aku tidak tahu? Kenapa aku tak pernah di beritahu? Kenapa dia pergi dengan keadaan seperti itu?” Hatiku terasa hancur mendengarnya. Aku benar-benar tak bertanggung jawab. Dia hamil.

“Kenapa kau tak memberitahuku? Itu anakku. Oh kenapa kalian begitu bodoh?” Aku benar-benar tak bisa lagi menahan emosiku. “Maaf oppa” Minkyung menatapku dengan menyesal.

“Tunggu. Itu Ren. Wanita yang di taman itu Ren kan? Iya kan Minkyung-ah?”

“Ya oppa.”

 

“Jadi dia di sini. Selama ini dia tak pergi jauh. Dia masih di sekitar sini?” Aku terkejut menyadari kenyataan ini. “Jawab aku!” Aku membentak Minkyung.

“Y-ya oppadi sini.” Minkyung menjawab dengan gugup dan berkaca-kaca.

“Aku tadi melihatnya bersama pria. Jadi itu yang kau maksud dia sudah bahagia? Dia mengandung anakku tapi menikah dengan pria lain?” Amarahku semakin meluap saat mengingat kejadian tadi siang.

“Pria? Ren tidak menikah oppa.”

“Ya pria. Dia bersamanya saat di taman.”

“Aku tak tahu siapa dia. Mungkin temannya. Ren benar-benar tidak menikah dan tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun.”

Aku lega mendengarnya. Tapi kenapa dia begitu bodoh? Menyembunyikan ini dariku.“Aku ingin menemuinya sekarang.” Aku harus tahu apa alasannya melakukan ini.

“Tidak. Tidak sekarang. Kumohon oppa kau masih emosi. Itu tak baik untuk keadaannya.”

“Ya baiklah. Aku juga harus berpikir dulu.” Aku pergi ke kamar meninggalkan Minkyung.

Aku tak mengerti dia. Aku tahu dia menghilang karena rencana perjodohanku. Tapi dia begitu bodoh sampai berpikir aku akan menyetujuinya. Tidak ini salahku. Aku yang tak menjelaskan padanya. Tapi dia juga bersalah karena tak memberiku kesempatan. Minkyung juga bersalah. Dia tahu aku menolak perjodohan itu tapi tak mengatakan padanya. Tidak keadaanlah yang salah.

Bagaimana reaksinya saat melihatku ya?

***

Fc Populer:

Dream Part 2 | FF Korea

Cover-Fanfict-Dream
Cover-Fanfict-Dream

FF Korea Dream Part 2

Author             : Evaa_Iva

Tittle                : DreamPart 2

Category         : NC21,Yadong, Romance, Chapter

Cast                 :

Kyuhyun Super junior as Cho Kyuhyun

Irene Red Velvet as Lee Ren

OtherCast :

Seulgi Red Velvet as Cho Minkyung

Cameo:

Park Haeri

Seo Meekyung

Ahjussi Cho

Ahjumma Cho

Continue Reading

Fc Populer:

Dream Part 1

Cover-Fanfict-Dream

FF Korea Dream

Author             : Evaa

Tittle                : DreamPart 1

Category         : NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast                 :

Kyuhyun Super junior as Cho Kyuhyun

Irene Red Velvet as Lee Ren

Other Cast       :

Seulgi Red Velvet as Cho Minkyung

Yun Lunafly as Han Seungyun

Cameo             :

Seo Meekyung

Ahjussi Cho

Ahjumma Cho

Park Haeri

Kang Dongwoon

  Continue Reading

Fc Populer:

ELEGY | FF Korean

elegy
ff exo kai ELEGY
Elegy
With EXO’s Kim Jongin and OC’s Jacquelline Wang
A dystopia, sci-fi, tragedy, slight!family, slight!friendship story rated by T in vignette length
“…jangan pernah membuat janji yang tak bisa kau tepati…”
██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██
In Jacquelline’s Eyes…
Ledakan itu membangunkanku, menyadarkanku bahwa aku tak seharusnya tidur dan berdiam diri. Aku menarik dan menghembuskan nafas panjang sesekali. Mengingat sesuatu yang tadi sempat tak kusadari. Bahwa kini aku sendiri.

Kupaksa tubuh ini untuk bangkit dan berdiri. Walau sekujur tubuh ini meronta merasakan nyeri. Netraku berusaha beradaptasi dengan kabut yang mendominasi. Otakku kembali memberiku ingatan tajam bahwa adikku, Jesslyn, sudah dibawa pergi oleh orang-orang bersenjata api. Dan Kai, satu-satunya harapan kami, telah hilang di telan kekacauan ini.
Lalu kemana gerangan aku harus membawa diri ini pergi?
Peperangan di luar sana sungguh kutakuti. Namun kesunyian dan kesendirian ini lebih menyiksa dan mengingatkanku bahwa tak ada seorangpun yang kini kumiliki. Aku harus menemukan Jesslyn, memastikan bahwa ia berhasil melewati ketakutannya sendiri. Tapi aku bahkan terlalu takut untuk menghadapi ketakutan yang kumiliki.
Kai… kemana gerangan kau pergi? Kenapa aku kini rindu pada Kai yang penuh proteksi?
Perang dunia telah tiga tahun kulalui. Namun tak ada tanda perdamaian sama sekali. Aku tahu aku tidak seharusnya ada di sini. Ini bukan rumah, aku kembali mengingatkan diri. Karena rumah yang sebenarnya, sudah hancur berkeping akibat ledakan bom milik para petinggi. Merenggut nyawa orang-orang yang berarti bagi kami. Tak hanya bagiku dan Jesslyn, tapi seluruh penduduk negeri yang tak lagi bisa kusebut jika kubayangankan keadaannya kini.
Aku bahkan tak bisa mengenali tempatku sekarang berlindung diri. Gangnam, mungkin, karena gedung yang dulu menjadi kebanggaan kota ini bahkan hampir sepenuhnya tenggelam ditelan sungai lava yang kemunculnya tidak pernah kuketahui dengan pasti.
Korea tak lagi bisa kusebut sebagai sebuah negeri. Kemerdekaannya telah terenggut di tahun 2021, bersamaan dengan hancurnya Seoul dalam ledakan yang tiga tahun lalu telah menghampiri. Sementara petugas berseragam yang kukenali sebagai tentara negara asing sekarang memburu kami dengan senjata api.
Sungguh terlalu banyak kehancuran yang harus kuhadapi. Peperangan ini bahkan telah menakuti sang mentari. Kini, ia bahkan enggan bersinggah karena tak ingin melawan asap hitam dan kabut yang selalu melingkupi. Tangisan dan rintihan seringkali kudengar sebagai pengantar tidur di malam hari. Untuk kemudian berganti dengan ledakan di waktu yang tak lagi bisa kuberi deskripsi sebagai pagi.
Tembakan kerap terdengar sebagai tanda perlawanan pemuda-pemudi yang berusaha mempertahankan negeri. Suaranya berbaur dengan teriakan dari jenderal-jenderal dengan bahasa asing yang tak sepenuhnya kumengerti. Meski kuyakini mereka pasti memberi sebuah perintah yang membuatku bergidik ngeri. Ketika sekon selanjutnya hanya ledakan keras dan debuman tiada henti, beradu dengan desingan ratusan peluru dari senjata api yang ikut menyertai.
Kenapa gerangan manusia tak jua ingin berhenti? Tidakkah mereka sadar bahwa mereka telah menghancurkan lebih dari separuh bumi ini?
Derap langkah berat dan terlatih kini masuk dalam runguku dan menghantui. Mencipta ketakutan lebih dari hari kemarin saat kumasih merasakan Jesslyn menautkan jemari pada jemariku yang basah karena ketakutan yang tak bisa kupungkiri.
Tanpa menunggu waktu, segera kusembunyikan diriku di balik runtuhan tembok yang tadi kusandari. Kudengar gerutuan pelan di balik tembok rapuh yang kini jadi satu-satunya pelindung diri. Pembatas antara aku dan pasukan kaukasian pemilik paras dengan garis wajah tegas yang sama dengan Kai yang telah pergi.
Perlu keberanian bagiku untuk menyembulkan kepala dan mencari jawaban atas kuriositas yang sedari tadi membayangi. Seorang yang kuyakini pemimpin pasukan itu lantas mengucap satu kalimat yang tak kumengerti. Sekon selanjutnya sudut bibir lelaki berusia kisaran empat puluh itu menjungkit membentuk kurva yang membangkitkan kuriositas lainnya dalam diri ini.
Netraku mendapati sebuah tank gelap melintas di belakang sang pemimpin yang masih tegap berdiri. Pintu belakangnya terbuka dan beberapa orang di dorong dengan kasar untuk berlutut seolah memohon keselamatan diri. Orang-orang yang kukenali sebagai penduduk negeri yang untuk membayangkan kebebasannya saja aku bahkan tak berani.
“Tuhan tidak akan diam melihat kekejaman ini!”
Ucapan yang merupakan kalimat keputus asaan dan juga do’a itu jadi kalimat pertama yang menyambangi runguku dengan jelas setelah tangisan dan rintihan selama hampir dua minggu ini juga ucapan lain dengan bahasa yang tak pernah kumengerti.
Derap langkah lainnya terdengar, kali ini nyaringnya logam beradu dengan runtuhan bangunan yang telah menyatu dengan tanah, apa gerangan yang akan terjadi?
Aku tak lantas menenggelamkan diri dan bersembunyi. Sebuah keputusan yang kemudian kusesali. Karena nyatanya aku menjadi saksi bisu atas pembunuhan massal yang terjadi di depanku dengan keji. Sementara bergerak pun aku tak berani.
Puluhan, tidak, ratusan tembakan kini jadi satu-satunya suara yang kudengar saat netraku tak sanggup beralih dari tubuh-tubuh yang tertembus mesiu dan jatuh tak sadarkan diri. Di sana, beberapa meter dari tempatku bersembunyi, kutemukan pemikiran bahwa negeri ini tak akan lagi bisa ditinggali. Negeri ini telah mencapai batas akhir kelayakannya untuk berpenghuni.
Bagaimana tidak, bahkan seorang sepertiku hanya sanggup berdiam saat bangsanya meregang nyawa karena senjata api. Lantas, haruskah kukatakan dengan gamblang bahwa aku tak tahu berapa lama lagi aku akan bertahan hidup dan terus bersembunyi?
Segera kusadarkan diri, aku akan memohon pengampunan pada Tuhan karena telah membiarkan pembunuhan keji terjadi. Namun aku pun ingin bertahan hidup, aku ingin menemukan Jesslyn, harapan untuk menemukannya adalah sebuah asa bagiku untuk bertahan hidup hari ini.
Entah karma apa yang akan ku terima nanti. Tapi kutahu Tuhan mengerti kebimbangan yang kualami. Aku ingin hidup, aku ingin hidup bahkan jika pada akhirnya harus menghadapi kehancuran negeri ini.
Kini kuketahui langkah-langkah berat berbeda itu berasal dari beberapa orang dengan pakaian titanium dan beberapa cahaya berkilat di bagian sang pakaian besi. Tidak salah lagi, mereka pasti dilengkapi dengan perlengkapan perang canggih lainnya milik musuh luar negeri.
Sesuatu dengan kecanggihan teknologi atau hanya sekedar pakaian pelindung diri. Aku tak bisa mengetahuinya dengan pasti. Karena mereka kini memunggungiku dan aku hanya seorang saksi bisu dari pembantaian yang tak kunjung berhenti.
Kembali kusembunyikan diri ini. Seolah tubuh ringkihku bisa terlipat dua, aku memeluk lutut dan berusaha bernafas teratur yang beradu dengan degup jantung membentuk sebuah irama yang sarat akan ironi. Timbul kekhawatiran jika saja mereka bisa mendengar lompatan jantungku yang ingin keluar dari persinggahannya karena keberadaan mereka di sini.
Kupandangi buku jariku, kusadari aku tak lagi ingat kapan terakhir kali aku merasakan air, kulit ini bahkan berkerut seolah aku mengalami penuaan dini. Usiaku belum menginjak delapan belas tahun saat perang ini terjadi. Apa daya, dibanding air, atau makanan, bertahan hidup adalah satu-satunya yang bisa kuharapkan untuk sekarang ini.
Jesslyn, aku tak boleh menyerah sekarang dan berhenti mencari. Mengingatnya, senyum Jesslyn yang dipaksakan untuk muncul di tengah ketakutan adalah penghibur bagiku ditengah elegi. Ucapannya bahwa kami akan bertahan hingga akhir adalah do’a yang terpanjat dari gadis kecil berusia sepuluh tahun yang tak lagi kuketahui keberadaannya kini.
Likuid bening sekarang mengalir dan mencipta genangan di pipi. Tak lagi aku sanggup membendung sesak yang menusuk dada dan ingin meledak di tengah kekacauan yang terjadi. Aku sangat ketakutan, di waktu yang sama, aku ingin menghilangkan ketakutanku karena aku tahu jika aku takut dan terus bersembunyi, aku tak akan bisa menemukan Jesslyn lagi.
Kututupi bibirku dengan jemari kotor yang membuatku merasakan debu masuk ke dalam mulut, bercampur dengan asinnya air mata dan isakan menyedihkan yang menyusup lewat celah kecil yang tercipta di antara jemari.
Deru mesin tank, suara langkah terlatih menjauh, dan sisa rintihan yang terdengar nampaknya menjadi pertanda bahwa mereka sudah pergi. Sekarang yang kulakukan hanyalah merenungi. Haruskah aku bangkit dan berlari? Haruskah aku berdiam dan kembali bersembunyi?
Bayangan Jesslyn kembali menghantui. Aku harus menemukannya, aku harus menemukan adikku apapun yang terjadi. Bahkan jika aku mati, aku harus pastikan bahwa Jesslyn akan hidup dan bisa melalui semua ini. Peperangan ini memang bagaikan sebuah ironi. Tapi apa hal lain selain kehidupan yang kami bisa harapkan dari perang yang sudah tak terelakkan lagi?
Netraku memanas, tubuhku bergetar tanpa kusadari. Tangisan ku kembali terdengar berbaur dengan rintihan orang-orang yang meregang nyawa dan tak dapat tertolong lagi. Tak bisa, aku tak bisa berdiam diri, karena nasib dan kesempatan bertahan hidupku tak akan berubah jika hanya kurenungi.
Walau tubuh ini mungkin menyerah jika terus begini. Walau aku harus menerima luka karena ingin mempertahankan diri. Semuanya akan terbayar suatu hari nanti. Aku tahu Tuhan memiliki takdir untukku yang telah menanti.
Kupaksa tungkaiku untuk berdiri. Sementara tubuhku sempoyongan berusaha menyeimbangkan diri. Tanganku berpegang pada runtuhan tembok yang tadi melindungi. Tatapanku berkunang-kunang karena energi yang telah terkuras tanpa henti.
Sekali lagi aku memaksa irisku menatap orang-orang yang kehidupannya telah terenggut dan mati. Namun netraku menangkap sesuatu yang tak seharusnya masih kudapati. Di sana, di balik balutan titanium perkasa yang tadi turut menyumbangkan puluhan mesiu, dua orang masih tegap berdiri. Dan salah satunya adalah seorang yang sangat kukenali.
Rambut coklat keemasan miliknya tertiup angin pagi yang sekaligus membekukanku karena di waktu yang bersamaan tatapanku bertumbuk dengan sepasang iris hazelnya yang masih sama seperti yang kuingat dalam memori. Dan kini Ia ada di sana, baik-baik saja, padahal aku telah putus asa mencarinya dan menganggap Ia telah mati.
“Kai, kau di sini.” lirih itu dengan lancang berhasil keluar dari bibir ini.
Di sana, Kai, pemuda yang telah kukenal selama hampir separuh usiaku kini berdiri. Dengan balutan titanium milik tentara kaukasian yang tadi merenggut nyawa anak negeri. Menatap dengan sepasang hazelnya yang tak lagi terlihat seperti dalam memori. Tercekat, kusadari ia tak lagi Kai yang kukenali.
Tubuhku terhuyung, lututku seolah tak sanggup berdiri lebih lama lagi, tungkaiku memberi isyarat pada pemiliknya untuk berlari. Bertahan hidup kini telah tumbuh dan berkembang menjadi sebuah naluri alami. Ya, dia Kai, dia memang Kai, tapi satu hal yang pasti, dia kini tak sama lagi.
Aku berbalik, mengikuti keinginan tungkaiku yang ingin berlari. Kubuang jauh kerinduan dan keinginan untuk merengkuh tubuh Kai yang selama ini selalu tegap melindungi.
Tangisku pecah seiring dengan kenangan yang muncul bergilir dalam otak ini. Berat langkah Kai memburuku dan terdengar makin dekat pada diri yang tungkainya bahkan tak lagi sanggup berlari. Kini, entah mengapa bukannya takut yang menguasai. Namun kekecewaan yang sepenuhnya berhasil menyergapi.
Langkahku terhenti, sungai lava kini kuhadapi. Kubalikkan badan, tegapnya tubuh pemilik nama asli Kim Jongin telah menanti. Canggung, ingatanku tentang beberapa tahun lalu saat ia muncul sebagai seorang pemuda pindahan dari luar negeri yang tak tahu apa-apa tentang negeri ini muncul silih berganti.
Sementara kini aku bergeming karena hidupku akan berakhir di tangannya yang dulu penuh proteksi. Di tangan seorang yang kuanggap sebagai sahabat sekaligus pelindung bagiku dan Jesslyn yang telah bertahun-tahun hidup sendiri.
Sekilas, hanya beberapa sekon, aku seolah terjebak dalam delusi yang memaksa neuron dalam otakku untuk percaya bahwa aku melihat Kai tersenyum samar pada diri ini. Tapi kuyakinkan diriku bahwa itu hanya sebuah harapan yang mencipta halusinasi.
Karena sosok tegap di hadapanku kini tengah memainkan jari telunjuknya pada pelatuk senapan yang terarah ke kepalaku, sementara aku tak lagi ingin berlari menyelamatkan diri karena pasrah telah menyelimuti.
“Kai, kenapa kau melakukan semua ini?”
Kecewa, ya aku kecewa karena aku tahu aku telah dikhianati. Oleh seorang yang sangat kupercaya dan bahkan menjadi satu-satunya tameng dalam hidupku yang menyedihkan ini. Tak lantas menyahut apapun, kurasakan dingin moncong senapan itu di dahi. Mencipta kesedihan lain yang menyusup masuk dalam kalbu, memaksa likuid bening untuk kembali keluar dan membuat genangan lain di pipi.
“Kai, apa yang terjadi? Tolong katakan padaku bahwa semua ini hanya halusinasi.” Kai bergeming, irisnya lekat menatapku, mengunci tubuhku dari usaha berlari yang seharusnya kulakukan untuk menyelamatkan diri.
“Aku bukan Kai yang kau kenal, aku hanya seorang robot yang di tugaskan menunggu waktu untuk melenyapkan tempat menyedihkan ini.” kurasakan jantungku sejenak kehilangan fungsi normalnya saat mendengar ucapan Kai bahwa ia hanya seorang robot dari tentara kaukasian itu, memangnya ini dunia fantasi?
“Kai, kau tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda seperti ini.”
Sekon selanjutnya, Kai mengalihkan pandangnya dariku, namun kembali, sepasang hazel itu menatapku dengan keyakinan dan ketegasan di masing-masing maniknya, manik dengan tatapan hangat milik Kai yang dulu selalu terpatri.
“Aku sudah berjanji aku akan menyelamatkan Jesslyn, aku… aku sudah berjanji.” lirihku bercampur dengan tangisan menyedihkan yang menemani sekon-sekon terakhir hidupku yang sebentar lagi akan berakhir di tangan seorang yang selama ini membuatku merasa terlindungi.
“Sudah pernah kukatakan, jangan pernah membuat janji yang tidak bisa kau tepati.”
Nafasku tercekat, tungkaiku tak lagi sanggup menahan bobot diri ini. Konversasi ini pernah ia utarakan bertahun lalu dan kini kembali kuingat, sebuah perdebatan saat kuminta oa berjanji tak akan meninggalkan kami namun ditolaknya karena ia enggan membuat janji yang tak bisa ia tepati. Tapi setelah semua waktu yang kami lalui, mengapa ucapannya membuatku sekecewa ini?
Kalimatnya sekaligus menjadi jawaban bagi pertanyaan yang sedari tadi bergelayut di pikiran ini. Ia ingat ucapan yang dulu pernah di katakannya, kini semua asumsiku tentang Kai di hadapanku masih Kai yang dulu kukenal telah terealisasi.
“Cepat atau lambat, kau juga akan mati. Jika bukan di tanganku, maka di tangan rekanku, kau tahu kau tak lagi bisa bertahan dalam perang ini.”
Aku limbung, ucapan Kai adalah alarm yang menyadarkan tubuh ini dari delusi dan asa tentang sebuah kehidupan, tubuh ini tahu bahwa pemiliknya akan meregang nyawa, dan kini ingatan-ingatan juga kenangan dalam benakku menari-nari. Menjadi sebuah bayangan hangat yang mengantarku pada tidur abadi.
Senyuman Jesslyn, tawa kami bersama Kai yang kukenal, bahkan ingatan terburuk tentang bagaimana aku menjadi sumber kesedihan bagi keluarga kecilku, semuanya menjadi rangkaian film dalam otakku yang mulai membeku karena ketakutan ini.
Bayangan Ayah yang tertabrak karena kecerobohanku melepas genggaman dari Jesslyn saat kami berbelanja di supermarket, bagaimana Ibu berusaha melukaiku karena kepergian Ayah dan membuatnya mendekam di rumah sakit jiwa hingga akhirnya meregang nyawa dengan menggantung diri. Semua ini karenaku, kesedihan ini, hidupku hanya akan dipenuhi ratapan dan lantunan kesedihan tanpa henti.
Dan kemarin, untuk kedua kalinya aku menyesal telah melepas genggamanku pada Jesslyn karena aku tak bisa berbuat apapun ketika netraku menangkap Jesslyn yang di seret masuk dalam truk tentara asing sementara ia meneriakkan namaku dalam tangisan menyedihkan yang ia miliki.
“Aku harus menyelamatkan Jesslyn, aku tak bisa mati sebelum melihatnya dengan mataku sendiri.” garis wajah tegas itu mengeras, sementara iris hazelnya menatapku tanpa simpati.
Seolah memberi isyarat bahwa ucapan apapun yang kukatakan tak akan membuat senapan itu beralih dari kepala ini. Dan sebentar lagi, mesiu akan menembusnya untuk membawaku dalam kesakitan yang sama seperti yang tadi hanya dapat kupandangi.
“Maafkan aku Jac, tapi ini semua harus di akhiri.”
DOR!
Tubuhku terhempas, dengan menyedihkan jatuh ke tanah sementara aku tak lagi merasakan sakit di tubuh ini. Aku berusaha menarik nafas, tapi tak ada lagi oksigen memenuhi alveoli. Kugerakkan jemariku menyentuh luka memanas yang telah dicipta Kai. Dadaku terasa basah dan likuid mengalir keluar, darah, kuyakini, mesiu sudah berhasil menghancurkan paru-paruku dan tak lagi mengizinkanku bernafas lagi.
“K-Kai…”
Kupandangi punggung Kai yang kini menjauhi. Tanpa bisa kucegah, pandanganku mulai tertutupi kabut bening yang merupakan luapan kesedihan dan kekecewaanku karenanya, karena ia tak hanya pergi dengan meninggalkan luka di tubuh ini, tapi juga telah meninggalkan luka di relung terdalam hati ini.
Aku memejamkan mataku, berharap kematian tak akan sesakit yang selalu kutonton selama ini. Berharap Tuhan akan memberi sedikit keringanan pada insan lemah yang bahkan tak bisa menyelamatkan saudarinya karena ancaman sebuah senjata api.
Perlahan, walau dengan menyakitkan, aku memaksa tubuhku untuk terus memasok oksigen untuk bertahan hidup walau hanya untuk beberapa detik lagi. Suara langkah familiar di dekatku kini menginterupsi. Aku menggerakkan tubuhku, menangkap tegap tubuh Kai berdiri di sebelahku yang sebentar lagi mati. Aku memejamkan sejenak mataku, berusaha membedakan ilusi dan kenyataan yang mungkin telah berbaur menjadi satu bayangan yang nampak nyata dan sekarang kualami.
“Hey, gadis pemberani.” kelopak mataku berusaha terangkat, suara bariton itu terdengar bagai delusi. Menyebut satu panggilanku yang selalu ia sukai.
Tubuh tegap itu kini menatapku, sementara tatap bersahabatnya dulu tak kutemukan lagi. Samar, aku melihat bayangan wajah sempurna Kai yang selalu kugilai, menatapku dalam kekhawatiran yang sarat di sepasang iris hazel lembut yang Ia miliki.
Oh Tuhan, apa aku kembali terjebak dalam delusi? “Walaupun ini hanya tidak nyata, aku senang Kai, karena kau ada di sini dan menemani.”
Lagi-lagi pemuda itu berbalik dariku, sungguh, aku tak keberatan bahkan jika ia kembali pergi. Toh, aku sebentar lagi aku akan mati. Bayangan Jesslyn kembali ingin membuatku berharap untuk hidup dan bisa berlari.
Tapi aku bahkan sudah terlalu menyedihkan untuk sekedar bernafas dan bertahan hidup di bumi yang tak lagi berbentuk ini. Aku ingin hidup, tapi aku takut untuk menghadapi semuanya lagi. Selain kematian, memangnya apa yang jadi akhir indah bagi peperangan tiada akhir ini?
“S-Selamatkan Jesslyn, Kai…”
“Kenapa?” kudengar Kai bertanya pada diri ini. “Aku… menyerah, Kai.”
Aku kembali melempar pandang, dan ilusi itu datang lagi. Kai yang namanya selalu kugumamkan dalam ketakutanku kini menjadi ilusi nyata dalam pandangan ini. Kedua telapak tangannya kurasakan di tubuh rapuhku, paras sempurnanya menjadi sebuah fatamorgana bagi netra yang tak lagi sanggup menatap ini. Tegas wajahnya tak lantas hilang meski lengkung sempurna telah terpatri.
Untuk apa semua delusi indah ini? Jika semuanya tidaklah nyata dan pasti menghilang lagi?
“Jesslyn bersamaku, Jac, dia sudah jadi salah satu dari kami.”
Benarkah, Kai? Aku ingin bertanya pada Kai tentang kebenaran ucapannya, aku ingin sekali percaya bahwa Jesslyn benar-benar bersamanya walau menjadi mesin pembunuh penduduk negeri.
Tapi tubuhku tak sanggup memberi energi. Paru-paruku telah berhenti bekerja, membuat neuron di otakku tak lagi mendapat asupan oksigen dan akhirnya… aku tak lagi bisa mendapatkan kesadaran untuk sekedar bertahan hidup dan bertanya pada Kai.
“Terima kasih… Kai.”
Kurasakan jemari Kai mengusap pipiku, lembut, sebelum aku menutup mataku, membiarkan kematian menjemput dan membawaku ke persinggahan abadi.
“Pergilah dengan tenang, Jac, kematian adalah akhir yang baik untuk kau yang kucintai tapi tak bisa kulindungi.”
FIN.

Fc Populer: