Leaving You Alone

Eun Seo Min Story , Leaving You

Kategori: NC 17, Yadong, Kekerasan, Oneshoot

Cast:

  • Park Hyo Seo
  • Lee Hyuk Jae (Super Junior)
  • Park Jung Soo (Super Junior)
  • Park Yoonhae
  • Lee Sungmin (Super Junior)
  • Lee Yoora
  • Choi Sulli (f(x))
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Lee Jinki (SHINEE)

 

 

–Flashback before–

Park Jung Soo appa yang dianggap kejam oleh Park Hyoseo, dengan setia

dan cemas menunggui Hyoseo yang belum pulang juga sejak jam 7 malam. Ia

sangat khawatir dengan anak semata wayangnya itu. Tanpa memperdulikan

nyamuk-nyamuk yang memburunya dan hawa dingin yang begitu merembes

kulit, ia masih stay di teras rumahnya. Bahkan hingga tertidur di kursi

teras.

Sedangkan Hyoseo sedang terlelap karena lelah menggerogoti tubuhnya.

Ia tertidur di kamar Eunhyuk dengan pulasnya tak tahu bahwa Appa sedang

menungguinya dengan rasa cemas.

–Flashback end–

***

–Park Hyo Seo-POV–

@ Seoul, 1 Juni 2016

Time :: 7 A.M.

Kubuka mataku perlahan. Sinar mentari pun sudah menembus jendela

kamar Hyuk. Aku bangkit perlahan sambil mengucek-ngucek mataku.

Menggeliat sesaat merenggangkan otot-ototku.

“ Annyeong haseyo,” tiba-tiba Hyuk datang dan membawakan semangkuk

mie.

“ Annyeong,” aku pun tersenyum melihat Hyuk datang.

“ Jagiy, kita makan dulu, okay?” Hyuk meniup-niup permukaan mangkuk

dengan kepulan asap diatasnya. Menandakan masih panas.

“ Ne.”

Hyuk pun menyendok kuah mie yang ada di mangkuknya dan

meniup-niupkannya. Menempelkan bibirnya untuk mengecek masih panas atau

tidaknya dan menyuapkannya padaku. Ia juga menyendokkan mie di

mangkuknya dan menyuapkannya padaku. Intinya pagi ini aku disuapi oleh

Eunhyuk, aeinku yang paling aku sayangi.

“ Jagiy, karena kau sudah milikku seutuhnya. Aku akan memberitahumu

tentang data rahasia itu. Tapi, ini privacy.”

“ Ne. Apa isinya?” tanyaku sambil mengunyah mie di mulutku.

“ Vidio yadong. Tapi, jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasiaku,”

pintanya.

“ Mwo!” aku tersentak dan terbelalak. Pantas saja tadi malam… apa?

Tadi malam? Berarti, ini sudah pagi. Omo! Pabo! Aigoo, kenapa aku baru

ingat. “ Jagiy! Sekarang jam berapa!” tanyaku panik.

“ 11. Waeyo?” tanyanya bingung.

“ Aigoo! Aniyo! Aku harus pulang. Appa! Dia pasti mencariku. Aish!

Ottokhae?” Aku bergegas bangkit dan mondar-mandir cemas. Aku benar-benar

bingung. Sedangkan Hyuk hanya menatapiku bingung.

“ Mwo? Appa???” ia berpikir sejenak. “ Omona! Kau belum pulang!”

pekiknya teringat.

Aish! Aku benar-benar lupa. Dan ini, sudah jam 11. Appa, Jerman,

pulang, pindah? Omona! Semuanya hal itu berputar dikepalaku kencang.

Bagaikan angin topan, dan hal-hal itu sukses besar membuatku pusing

seketika. Aku masih mondar-mandir dikamar Hyuk bingung. Tunggu! Aku

harus berpikir. Kkaja, kkaja Hyoseo! Kau harus punya rencana! Alasan

paling tidak, untuk menghadapi Appa nanti. Omo, apakah aku akan

dibunuhnya? Eomma, apakah aku akan menyusulmu sebentar lagi? Apakah Appa

akan membunuh anaknya sendiri hanya karena aku tidak pulang semalam?

“ Hyoseo, perlukah aku bilang pada Appamu? Biarkan aku yang antar kau

pulang, dan akan aku jelaskan semuanya. Arra?” kata Hyuk mencoba

menenangkanku.

“ Andwae! Kau ingin memperparah keadaan? Heh?!” tanya ku dengan nada

tinggi. Oh tidak! Aku mulai terforsir suasana. Tapi, bagaimana ini? Aku

harus apa? Aku benar-benar gamang.

“ Aniy,” kata Eunhyuk dengan suara lemahnya. Ia menunduk sedih.

“ Aigo… mianhae. Bukan maksudku begitu. Aku hanya…” kataku terpotong.

“ Aku tahu, Appamu begitu menentang kita. Aku khawatir terjadi

apa-apa denganmu. Aku… aku tak ingin hal itu terjadi padamu,” ucapnya

sambil menatapku dalam-dalam. Dari matanya terbias ketulusan yang

mendalam. Membuat darahku berdesir seketika.

“ Jagiy…” gumamku tak berdaya.

“ Aku rasa ini salahku. Salahku karena terus saja berusaha

mendekatimu. Harusnya kau tak mengenalku. Harusnya aku menjauh saat ada

larangan itu. Harusnya aku berhenti mencintaimu. Tapi aku tidak bisa.

Aku sungguh-sungguh tidak bisa. Harusnya aku menjauh darimu. Mianhae,

Jagiy! Jeongmal mianhae,” kata Hyuk dengan sesal tergambar jelas di

wajahnya.

“ Aniyo. Ini salahku, Jagiy! Mianhae,” kataku menyalahkan diri

sendiri. Dan secara tidak langsung, aku telah membelanya. “ Baiklah, aku

akan pulang sekarang. Gomawo.”

Aku mulai santai. Tapi santai kali ini bukan dalam arti aku tenang.

Santai kali ini dalam arti aku sedih. Amat sedih. Mengingat Appa yang

amat menentang hubungan ini. Lagi-lagi aku teringat dengan Eomma.

Aku pun berjalan perlahan ke pintu kamar Hyuk. Dengan langkah berat

ku giring kakiku menuju pintu. Dengan kepala tertunduk dan menahan

hasrat untuk menatap ke belakang. Aku tidak tahu apa yang Hyuk lakukan

sekarang. Apakah ia tertunduk dan bersedih? Ataukah dia malah senang

bahagia? Aku rasa itu tidak mungkin, karena aku merasakan ketulusannya

saat berbicara padaku.

“ Saranghae,” gumam ku pelan saat hendak membuka pintu.

Hening… kenapa tidak ada jawaban? Kenapa seakan tidak ada reaksi?

Kenapa Hyukjae? Kenapa? Aku berharap kau memanggilku. Aku berharap kau

mencegahku. Aku berharap kau memintaku untuk tetap tinggal. Kini aku

rasakan sesak membebani dadaku. Jutaan tanda tanya bergelimang

dikepalaku. Mataku panas seketika. Hatiku perih tiba-tiba. Hyukie!

Benarkah kau akan membiarkanku pergi? Cegah aku! Jebal!

Kreeeek… kutarik engsel pintu. Aku masih menunggu. Menunggu reaksi.

Tapi, tapi kenapa tidak ada.

Cklek! Suara pintu tertutup. Omo! Benarkah? Benarkah ini? Dia

membiarkanku? Dia tak peduli? Dia benar-benar tak berbuat apa-apa?

Hyukjae, kenapa kau biarkan aku pergi? Baiklah, jika kau ingin aku

pergi. Aku akan pergi. Sejauh mungkin.

–Park Hyo Seo – POV end—

***

–Hyuk Jae – POV –

Hyoseo, mianhae. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa

membantumu. Tapi mungkin ini memang salahku. Aku harusnya berhenti

mendekatimu. Berhenti mencintaimu. Berhenti menyayangimu. Saat itu,

harusnya aku sudah berhenti sejak saat itu. Saat hatiku tercabik

menerima kenyataan yang ada. Saat raga dan jiwaku begitu sakit tertusuk

realita.

——Flashback——

Aku dan Hyoseo sedang berjalan-jalan di mall untuk membeli sebuah

hadiah untuk sahabatnya yang bernama Choi Sulli. Saat itu, Sulli

berulang tahun. Jadi, ia hendak membuat sebuah kejutan untuk sahabatnya

itu.

Di sebuah stan hadiah, aku masih menemani Hyoseo yang sibuk

memilih-milih barang. Aku membuntut dibelakangnya sambil memandang

kesekeliling. Membantunya mencari barang yang pas.

Bruukkk!

Tiba-tiba aku tersungkur. Ada sesuatu yang mengenai punggungku. Aku

rasa itu benda keras, dan memang sengaja di arahkan padaku. Aku bisa

merasakan niat dari orang yang memukulkannya padaku.

“ Kyaaaa!!!” terdengar pekikan Hyoseo nyaring di telinga.

Aku bangkit dan terhuyung. Ku pegangi punggungku yang terasa sakit.

Aku menoleh dan kudapati Cho Kyuhyun menatapku dengan tatapan membunuh.

Tongkat pemukul kasti kini ada di tangannya. Ternyata… magnae evil ini

yang memukulku. Mau apa dia?

“ Yak!! Apa maumu, heh?” bentak ku kesal.

“ Hahaha…” tiba-tiba terdengar suara gelak tawa. Tapi suara itu bukan

milik Kyuhyun. Aku yakin itu. Dan saat itu juga muncul seseorang dari

belakang tubuh Kyuhyun.

Omo! Betapa kagetnya diriku mendapati seorang Park Jung Soo, ayah

dari Hyoseo telah disini dan tertawa puas melihatku kesakitan. Firasatku

mulai tidak enak.

“ Appa…” gumam Hyoseo tak berdaya. Matanya mengerjap-ngerjap seakan

tak percaya pada penglihatannya.

“ Hyoseo, kenapa kau melanggar laranganku? Hah!” gertak Mr Park

marah.

“ A… aniyo, Appa. Mianhae… I’m sorry,” kata Hyoseo sambil tertunduk

dalam.

“ Kau berani mengabaikan larangan Appa, ya? Bagus lah! Kau ingin dia

terluka?” ancam Mr Park. Ia menunjuk aku yang terhenyak diam seribu

bahasa.

Kyuhyun pun memukul lenganku dengan kencang. Sakit. Aku mengusap

lenganku yang memar itu.

“ Andwae!” pinta Hyoseo sambil terisak.

“ Sudah Appa bilang! Jauhi dia!” bentak Mr Park.

Kyuhyun belum berhenti menyiksaku. Apakah kalian pikir dia hanya

memukulku sekali dua kali? Tidak. Dia memukulku berkali-kali. Walaupun

aku merintih kesakitan. Walaupun aku berusaha keras menghindar. Walaupun

Hyoseo menjerit memohon untuk tidak melakukannya. Walaupun aku memohon

pada Kyu agar berhenti. Tapi, ia terus melakukannya. Lenganku,

punggungku, perutku, kepalaku, kakiku, badanku. Semua jadi sasaran.

Bahkan sempat aku berharap agar satpam mall kunjung datang dan menangkap

Kyuhyun yang aku rasa kini menjadi anak buah Mr Park. Mr Park terus

tertawa puas melihatku yang sengsara. Tampak semburat bahagia dan

kebencian saat ia menatapku.

Hingga aku babak belur. Darah mengalir dari hidung dan mulutku, wajah

dan badanku memar-memar. Aku benar-benar tak berdaya sekarang. Aku

hanya bisa terhuyung dan terhempas kesana kemari. Pemukul kasti dari

besi itu sukses membuatku kesakitan. Disekeliling kami orang-orang

berkerumun melihat penganiayaan yang dilakukan Kyuhyun terhadapku.

“ Kyu! Ppali!” perintah Mr Park memberi isyarat.

Aku tersontak kaget saat tubuhku ditarik Kyuhyun untuk bangkit.

Tubuhku yang sedang tidak berdaya ini hanya mampu menurut. Dengan kasar

ia menyeretku keluar stan hadiah dan mendorongku ke pembatas lantai. Ia

menundukkan kepalaku sehingga aku bisa melihat lantai dasar mall dari

lantai 4 ini. Darahku berdesir, jantungku berdetak hebat. Tanganku hanya

bisa menahan sambil berpegangan pembatas lantai.

“ Andwae!! Appa! Jebal! Andwae!” kudengar rengekan Hyoseo dengan

suara gemetarnya karena tangis. Hatiku nyilu mendengarnya. Ingin rasanya

kupeluk dan meredam tangisnya di dada bidangku.

“ Aku tidak segan-segan menyakitinya, Hyoseo-ah. Bukan kah, aku sudah

pernah bilang? Hahaha.” Mr Park kembali tertawa bahagia.

“ Andwae, Appa! Jebal! Aku tidak akan melanggarnya lagi. Aku janji.

Ku mohon, Appa! Lepaskan dia.”

“ Kyu! Enough!”

Kyuhyun pun perlahan melepaskan kerahku dan dorongannya untuk

memojokkanku ke pembatas lantai. Ia melangkah meninggalkanku yang kini

tengkulai lemas terduduk bersender pembatas lantai.

“ Kkaja! Ayo kita pulang,” ucap Mr Park sambil menarik kasar lengan

HyoSeo.

“ Hyuk-ah!!!” panggilnya berusaha memberontak.

Aku hanya bisa menatapnya sayup. Ia tampak memberontak namun tak

kuasa. Sedangkan aku hanya terduduk lemah memandangi yeojachinguku

diseret Appanya. Air mataku sudah menggenang dipelupuk mata. Ternyata,

selama ini hubunganku dengan Hyoseo ditentang? Ternyata, Hyoseo yang

pergi diam-diam dan selalu mematikan handphonenya saat bertemu denganku

melakukannya karena Mr Park menentang? Dadaku sesak seketika. Hatiku

tercabik dan remuk. Rasanya sungguh jauh lebih sakit daripada tadi, saat

aku dipukul Kyu bertubi-tubi. Lebih baik mati dipukul daripada mati

rasa seperti ini. Omo! Apa yang harus kulakukan?

Sepulang dari mall tempat aku dipukuli, aku benar-benar stress. Aku

putuskan untuk minum Soju untuk menghilangkan rasa stresku ini. Mungkin

aku terlalu banyak minum, hingga akhirnya aku mabuk sampai larut malam.

Setelah aku rasa cukup, aku pun pulang dengan jalan terhuyung sambil

menyanyi-nyanyi gaje seperti orang sinting. Dan saat dijalan, beberapa

orang bertubuh kekar menghadangku.

Mereka memukuliku, menyerang, dan mengeroyokku yang tak berdaya ini.

Tubuhku serasa semakin hancur. Memar semakin menghiasi tubuhku. Luka pun

bertambah dimana-mana. Tapi hatiku terasa lebih pedih. Perasaanku

seakan terhempas dari langit yang ke-9. Aku tahu! Aku tahu siapa

dalangnya. Aku tahu! Mr Park lah, orangnya. Dia pasti yang menyuruh

orang-orang itu untuk menghajarku lagi. Atau mungkin malah menghabisiku.

Bukan maksudku menuduh. Tapi, siapa lagi kalau bukan dia? Siapa?

Kyuhyun? Bahkan ia kini anak buah Mr Park. Omona! Kyu, ingatkah kau

tentang persahabatan kita dulu?

Paginya, aku masih terbaring di ranjangku. Dengan pakaian yang masih

kukenakan semalam. Aku tak sempat ganti pakaian atau bahkan mandi.

Badanku masih dipenuhi luka dan memar. Kejadian kemarin sungguh sulit

terlupa. Bahkan, kau boleh percaya ataupun tidak. Semalam aku memimpikan

hal itu. Mr Park, Hyoseo, Kyuhyun. Aish! Mungkin, ini memang suatu

pertanda bahwa aku harus berhenti.

Tapi, saat aku meneguhkan hati dan memantapkan tekadku… ia datang.

Aku bangkit dari ranjang dan merapikan ranjangku. Tiba-tiba bel pintu

berbunyi. Aish! Jangan sampai suruhannya Mr Park lagi. Aku muak.

Aigoo! Betapa terkejutnya diriku mendapati Hyoseo berdiri tegak

dihadapanku. Dengan wajahnya yang pucat pasi, matanya yang sembab, dan

dandanan yang berantakan. Ia masih mengenakan pakaian tidurnya. Aku rasa

ia kabur dari rumah.

Hyoseo meminta maaf padaku. Ia menjelaskan semuanya. Dari sorot

matanya ia seakan berharap aku bisa mengerti. Ia memohon padaku untuk

tidak meninggalkannya. Ia bilang, ia masih mencintaiku. Dan aku rasakan

ada ketulusan saat ia mengatakannya. Aku, aku benar-benar tidak tega.

Aku tidak tega melihatnya memelas. Aku tidak sampai hati melihatnya yang

begitu menyedihkan. Hingga akhirnya aku turuti kemauannya. Kami

backstreet.

—Flashback end—

***

Kejadian itu, terekam jelas diotakku. Kejadian itu,

selalu kuingat walaupun aku sudah berusaha sekeras mungkin melupakannya.

Tapi, kejadian itu selalu melumpuhkan niatku untuk menahanmu. Kejadian

itu, selalu mengurungkan niatku untuk menjagamu dengan tanganku.

Kenyataan yang menamparku adalah aku tak bisa melindungi orang yang aku

sayangi dengan tanganku sendiri.

–Hyuk Jae – POV end–

***

–Hyoseo – POV–

Aku berlari pulang sembari menangis pilu. Hyuk, kenapa kau tak

menahanku? Aku benar-benar akan pergi. Pergi jauh. Tapi, kenapa kau

biarkan aku pergi? Waeyo!

Langkahku terhenti begitu saja saat kudapati pintu gerbang rumah

terbuka lebar. Mataku terbelalak kaget mendapati Appa yang sedang duduk

di kursi teras sambil memandangi handphonenya cemas. Hingga akhirnya ia

mendongak dan menatapku yang berdiri kaku di dekat gerbang. Spontan aku

berbalik hendak kabur.

“ Hyoseo-ah! Come here!!” bentak Appa dengan suara lantangnya.

Aigoo! Aku harus bagaimana? Ottokhae? Aku galau.

” Hyoseo-ah! Appa bilang kemari!” bentak Appa mulai kesal.

” Ne,” aku pun menurut sebelum terlambat. Sebelum Appa

meledak-ledak. Aku mendekat dengan langkah ragu-ragu.

” Dari mana saja kau ini, Heh?! Tidur dimana kau semalam?

Bisa-bisanya mini market tutup tapi kau tak pulang?” Appa marah-marah.

Aku hanya bisa terdiam membisu.

” Kau ini mau jadi apa? Heh! Bukankah sudah Appa konfirmasi kalau

hari ini kau akan berangkat ke Jerman?! Jangan-jangan kau mau kabur,

ya?”

Mwo? Apakah tuduhan itu tidak salah? Kabur? Aku rasa akan jadi benar

kalau tadi Eunhyuk menahanku. Kalau tadi Eunhyuk memintaku untuk tetap

tinggal. Tapi… Omona! Aku lupa! Aku lupa memberi tahunya kalau aku akan

ke Jerman. Aish! Ottokhae? Hyuk-ie… Mianhae…

” A-aniyo,” jawabku getir.

” Lalu? Tadi malam kau kemana! Jangan bilang kau menginap dirumah

cunguk sialan itu (*baca=Eunhyuk). Kau berani menentang Appa?!” nada

suara Appa mulai meninggi.

Aigoo… Apakah sebentar lagi aku akan digampar? Dipukul? Ditendang?

Atau diusir?

” Aniyo. Aku kerumah Sulli!” elakku.

” Mworago? Sulli? Kau mau bohong pada Appa! Appa tadi malam sudah

telpon dia. Katanya kau tidak ada. Kau pikir Appa pabo?”

” Mwo? Jinja? Aku semalam kerumah Sulli. Tapi karena aku mengetuk

pintu tak dibuka-bukakan aku ke rumah Yoora,” dustaku panjang lebar.

” Yoora?? Siapa lagi itu? Bukankah Appa punya semua nomor telpon

teman-temanmu? Siapa itu Yoora? Kenapa Appa tidak tahu?” Appa

mengintrogasiku dengan penuh tanya.

” Aish! Memangnya temanku hanya Sulli? Yoora itu adik kelasku. Aku

lumayan dekat dengannya. Sudah lah, Appa! Aku lelah,” karangku semakin

menjadi-jadi.

Mianhae, Hyuk. Aku harus meminjam nama dongsaengmu untuk beralasan.

Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi. Apalagi tadi aku sedang

terpojok. Tapi, nama dongsaengmu telah menyelamatkanku. Gomawo.

Aku pun melangkah masuk sambil memegangi kepalaku. Berakting seolah

pusing, itu cara ampuh agar Appa tidak membahasnya lagi. Aku kerap

melakukan itu, dan selalu berhasil.

***

Aku kemasi semua barang-barangku ke dalam kopor. Baju-bajuku,

beberapa buku penting, dan barang-barang yang aku rasa harus aku bawa.

Sebelum menutup kopor, kupandangi sebuah foto yang aku rasa akan

menjadi sebuah kenangan. Tak akan kulupa, sosok di foto itu. Sosok yang

selalu jadi permata dihatiku. Sosok yang selalu ada di benakku.

Selamanya…

Tau kah, aku Hyuk? Belum sampai sehari, aku sudah merindukanmu.

Apakah kau juga sedang memikirkanku sekarang? Atau kau sudah

melupakanku? Secepat itu kah?

” Hyoseo-ah!! Ppali! Nanti ketinggalan pesawat!” suara Appa

memanggilku.

” Ne,” pekikku menjawab Appa.

Tak terasa air mataku telah menetes sedari tadi. Cepat-cepat kuusap

dan kumasukkan foto Hyuk ke saku jaketku. Aku pun menutup resleting

kopor dan mengangkatnya dari ranjang. Kutarik pegangannya dan menariknya

keluar kamar.

– Hyo Seo – POV end –

***

– Hyuk Jae – POV –

Aku masih terdiam dari posisiku. Mie yang tadinya kubuat untuk Hyoseo

kini sudah dingin ditanganku. Masih terbayang saat-saat itu. Tapi, aku

benar-benar ingin bersamanya. Ya! Ini bukan salahku, atau salah Hyoseo.

Ini bukan salah siapapun. Ini hanya nasib. Tapi, nasib bisa diubah

bukan? Bukankah nasib bisa berubah jika manusia mau berusaha? Yak! Aku

akan merubahnya. Sekarang. Walaupun aku harus dipukuli hingga aku

sekarat. Walaupun aku akan dicaci maki hingga habis kesabaranku.

Walaupun cinta terlarang ini ditentang. Bagaimana pun juga ini cinta.

Cinta butuh pengorbanan untuk mencapainya.

Hyoseo, aku akan menjemputmu. Kita akan pergi berdua. Hanya berdua.

Aku tak peduli Appamu akan mebunuhku. Aku tak peduli Eomma dan Appaku

akan berkomentar apa. Bahkan aku tak peduli jika Appamu akan benar-benar

membunuhku. Aku tak peduli sama sekali. Aku hanya peduli kau. Cinta

kita. Hati kita. Dan aku harap kau memilih jalan yang sama denganku.

Aku bangkit. Menaruh mangkuk mie di meja belajarku dan berburu-buru

membuka lemari. Kuambil sebuah kemeja putih dan mengenakannya. Berkaca

sesaat dan ngacir dari kamarku.

Ku kunci pintu rumah, dan buru-buru berlari. Mungkinkah ia masih

dijalan? Mungkinkah dia belum masuk pekarangan rumah? Sehingga aku bisa

membawanya kabur? Aku berlari sekuat tenagaku dan secepat aku bisa.

Sempat aku menabrak beberapa orang dan menyebrang jalan tanpa aturan.

Bahkan nyaris nyawaku hilang tertabrak mobil. Tapi, ini tak seberapa

dengan harapan aku bisa membawamu pergi Hyoseo. Kita akan hidup bersama.

Berdua. Tanpa kekangan, tanpa larangan.

” Hey! Namja gila! Mau mati, kau?!” umpat pengemudi mobil yang kini

menghentikan mobilnya.

Suara anjing menggonggong itu tak kuhiraukan. Aku terus berlari.

Saat aku sudah hampir sampai rumahmu, kira-kira 1 km lagi, ada sebuah

mobil sedan hitam berjalan berlawanan arah denganku. Sepintas aku

melihat Mr Park dari kaca depan. Dan aku melihatmu, Hyoseo! Kau dijok

belakang sedang memandang keluar jendela. Tapi, sayangnya kau duduk

disisi yang berjauhan dari tempatku. Jadi kau tak melihatku. Aigoo!

Apakah aku terlambat, Hyoseo?

Aku pun mengerem lariku mendadak.  Hampir saja aku terjungkal

karenanya. Nafasku terengah. Aku benar-benar tak menduga kau akan pergi.

Kau akan pergi kemana Hyoseo, sayang?  Kenapa tiba-tiba?

” Hyoseo-ah!!!” teriakku memanggilnya.

Mobil semakin menjauh dari pandanganku. Mataku panas. Dadaku sesak.

Hatiku seakan tertusuk pisau tajam. Diantara nafasku yang

terengah-engah, aku menangis. Sakit. Waeyo Hyoseo-ah? Waeyo? Kau

benar-benar meninggalkanku? Kenapa kau lakukan itu? Waeyo!!

” Hyoseo-ah!!!” teriakku sambil berlari mengejar mobil itu.

Aku berlari. Berlari sekuat tenaga dan secepat aku bisa. Langkahku

semakin kupaksa daripada sebelumnya. Walaupun nafasku berat sudah, dan

perut samping kananku terasa perih. Aku tetap harus mengejarmu, Hyo.

Harus! Maafkan, Hyo. Aku terlambat. Dan disisa waktu yang terus menjepit

ini aku tak boleh terlambat lagi. Aku tak mau kehilanganmu.

Aku berlari mengejar mobil sedan hitam itu dengan linangan air mata

di pipiku. Mobil yang membawa Hyoseo pergi. Dan aku punya firasat tak

enak tentang itu. Hyoseo, apkah kau akan pergi meninggalkanku selamanya?

Atau kau hanya pergi sebentar?

Mobil sedan itu pun menghilang di sebuah tikungan. Aku semakin

memaksakan langkahku. Tak kupedulikan aku berlari di tengah jalan.

” Hyoseo-ah!!!!” teriakku masih berusaha memanggilmu, Hyo.

Apakah kau dengar, Hyo? Apakah kau tak mendengar suaraku? Bahkan

tidak hanya dilisan aku berteriak. Hatiku ikut menjerit takut

kehilanganmu.

BRAAAAAAAAKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tepat di tikungan, kurasakan tubuhku terhempas. Aku terlempar dan

tersungkur ke aspal. Sempat kulihat samar-samar mobil sedan hitam yang

membawamu pergi dari bawah mobil yang telah menabrakku.

” Hy-Hyoseo…” gumamku sebelum semuanya gelap.

***

Perlahan kubuka kelopak mataku yang terasa berat ini.

Cahaya lampu neon menusuk mataku yang sayup ini.

“ Hyuk Oppa? Kau sudah sadar?” terdengar suara Yoora samar-samar.

“ Hy-hyoseo?” gumamku setengah sadar.

Pikiranku masih terpusat padamu, ayahmu, mobil sedan hitam yang

membawamu, rencana busukku untuk mengajakmu kabur. Tapi aku terlambat!

“ Oppa! Berhenti memanggilnya! Dia tidak ada disini!” suara Yoora

tampak sengit.

“ Hy-hyoseo… Hyo…” aku masih memanggil-manggil namamu. Kejadian tadi,

masih berputar-putar dikepalaku yang terasa pening ini. Aku kalah

telak. Aku kalah dari waktu, ayahmu, dan mungkin itu takdir. Haish! Aku

benci takdir.

“ Oppa! Dia tidak akan datang! Diam lah, Oppa! Dia tidak disini, dan

tidak akan pernah disini.”

“ Hyo… Hyoseo…” aku masih menggumam-gumam tak jelas.

Benarkah kau tidak disini? Aku memutar mataku memandangi seluruh

penjuru kamar inap ini dengan sayu. Berharap kau ada disini. Mungkinkah

kau disudut? Ataukah kau sedang bersembunyi? Aniyo, itu tidak mungkin.

Aku rasa sebelum kau masuk, Yoora pasti akan mengusirmu dulu. Yah, aku

tahu kalau dia sangat membencimu. Entah kenapa. Tapi, benarkah perkataan

Yoora itu? Kau tidak akan menemuiku? Tidak akan menjengukku yang

terbaring lemah ini? Tak akan menanyakan kabarku yang sangat tidak baik

ini? Aku harap kau datang. Aku sangat mengharap itu.

Tapi, bagaimana jika kau benar-benar pergi? Apakah Appamu itu akan

membawamu pergi dariku? Kenapa rencanaku harus gagal karena waktu?

Kenapa impianku gagal hanya karena mobil sialan itu menabrakku? Waeyo?

“ Oppa! Kau harus terima kenyataan kalau Hyoseo bukanlah untukmu!”

Aigoo… dongsaengku, Yoora… kenapa kata-katamu bisa sepedas itu?

Belajar dari mana kau? Apakah Appa yang mengajarimu? Atau Eomma?

Impossible. Mereka tidak punya waktu untuk mengajarimu berbicara pedas

seperti itu. Pernahkah aku mengajarimu berucap seperti itu? Tidak

pernah! Tapi, kenapa kau melontarkan perkataan yang begitu menusuk ulu

hatiku itu? Kenapa harus kau ucapkan untukku?

“ Hyo…” aku masih bersikukuh memanggilmu. Dengan air mata yang

mengalir pelan turun dari ekor mata hingga menetes dibantal. Hatiku pilu

mengingat semua tentangmu. Benarkah itu takdir?

–Hyuk Jae POV _ end–

***

–Hyo Seo POV–

Selama di perjalanan aku hanya bisa tertegun memandangi jendela

dengan perasaan galau. Tapi, aku rasa perasaan galau itu percuma. Ini

sudah terlambat untuk memikirkan jalan keluar. Jalan keluar sudah

tertutup, bahkan terkunci rapat. Hyuk, kenapa kau tak mencegahku? Waeyo?

“ Ayo turun!”

Aku tersentak kaget. Sudah sampai bandara rupanya. Aku pun menghela

nafasku dan turun dari mobil. Appa sudah membuka bagasi dan menurunkan

koperku. Perlahan dengan langkah ragu-ragu aku memasuki bandara.

“ Sekolahlah yang sungguh-sungguh. Appa akan mempertimbangkan kau

tinggal di Korea jika prestasimu bagus.”

Mataku terbelalak, senyum mulai terkembang disudut bibirku. “

Jinja?!” pekikku girang. Appa hanya mengangguk pelan sambil tersenyum

penuh arti.

“ Gomapta, Appa!!! Saranghae,” pekikku sumringah sembari memeluk

Appa.

“ Ne, cepat berangkat!” ucap Appa sambil menepuk bahuku pelan.

“ Ne. Arra!” kataku bersemangat. Aku pun berlari ke salah satu pintu

yang dijaga petugas bandara dengan semangat 45. Aigoo! Eomma, ternyata

suamimu baik juga.

***

“ Permisi?” kudengar suara seorang namja. Dan tampaknya ia berbicara

denganku. Aku pun menoleh berpaling dari jendela pesawat.

“ Hyoseo-ssi?” tanya namja itu ramah.

“ Ne? Maaf, siapa ya?” tanyaku bingung. Aku benar-benar tidak kenal

namja yang ada disebelahku ini. Bahkan aku melihatnya saja baru kali

ini.

“ Lee Sungmin imnida.” ucapnya sambil menyodorkan tangannya mengajak

berjabat tangan. Dengan sedikit ragu, aku ladeni dia. “ Hyoseo mau

kemana?”

“ Mwo? Ah… aku mau ke Jerman,” ucapku berusaha seramah-ramahnya. Ia

tersenyum dengan senyum mesumnya */plak!*.

“ Ne? Waw, kita sama dong. Hyoseo mau ngapain ke Jerman?” tanyanya

sok akrab.

Omo! Lama-lama aku bergidik juga. Apa maksud namja ini sok kenal sok

dekat begitu??

“ Err.. aku akan melanjutkan studyku disana. Aku akan sekolah di

salah satu SMA di Jerman,” jelasku.

“ Jinja? Aku juga. Wah! Aku rasa ini takdir. Semoga kita bisa satu

sekolah,” kata namja yang bernama Sungmin itu dengan senyum terkembang

dibibirnya.

Mwo? Takdir? Huih, kenal aja nggak. Tapi, aku jadi penasaran. Kenapa

dia bisa tahu aku?

“ Permisi,” panggilku saat Sungmin hendak membuka sebuah majalah.

“ Apakah… aku pernah…pernah mengenalmu?” tanyaku dengan hati-hati.

“ Mwo? Ah… aku rasa tidak.”

“ Jadi?” tanyaku masih penasaran.

“ Jadi apa?” pandangannya kini tertuju pada lembaran majalah

dihadapannya.

“ Kenapa kau bisa mengenalku?” tanyaku heran.

“ Mianhae… itu privacy,” jawab Sungmin singkat. Kini aku merasa

kacang. Aku pun menatapnya sambil komat-kamit tak jelas. Dalam hati aku

mengutuki namja di sampingku ini. Tadinya sok akrab, sekarang cuek

bebek. -.-

***

Aku turun dari pesawat dengan perasaan lega. Setelah mengambil

barangku, aku pun keluar bandara dan mencari taksi.

“ Hyoseo-ssi!” suara seorang namja yang sepertinya pernah aku dengar.

Aku menoleh dan kudapati Sungmin, orang aneh yang duduk disebelahku

dipesawat tadi. Mau apa dia? Aish!

“ Hyoseo-ssi sedang apa?” tanyanya dengan wajah innocentnya yang

mesum */plak*.

“ Menunggu taksi,” jawabku ketus. Terus terang aku mulai risih.

“ Oh… Aku juga.”

Siapa yang tanya?! Batinku geram.

Saat ada taksi lewat, aku pun melambai-lambaikan tanganku. Dan tepat

didepanku taksi itu berhenti. Kaca jendela perlahan bergerak turun dan

kulihat supir taksi dengan kumis lebat menghiasi wajahnya dan mengenakan

seragam dinasnya tersenyum. Tapi senyumnya tampak samar-samar, karena

bibirnya tertutup kumisnya yang subur itu.

“ Can you deliver me?” aku membungkuk untuk melihat ke dalam taksi.

“ Where you’ll going?” tanyanya masih beramah-tamah.

Aku pun menyodorkan secarik kertas pada supir berkumis lebat itu.

“ Okey. I’ll deliver you.” jawabnya mantap. Aku pun tersenyum

sekilas. Supir itu turun dari mobil dan membawakan koperku ke bagasi.

Sedangkan aku langsung masuk ke jok belakang taksi.

Setelah supir taksi itu masuk kembali ke jok pengemudi, aku

tersentak. Aku merasakan ada yang duduk disampingku. Awalnya aku tak

tahu karena aku sedang sibuk menghidupkan handphoneku.

“ Yak!!! Omo! Mau apa kau?!” bentakku dengan perasaan kaget

berkecambuk dibenakku.

“ Mwo? Mau naik taksi,” ucapnya dengan tampang sok polos.

“ Tapi kan, ini taksiku!” kataku geram.

“ Ah… jangan ngaku-ngaku kau! Ini taksi milik Ahjussi itu,” bantah

Sungmin sambil tersenyum. “ Come on, Sir!” Sungmin menepuk bahu supir

itu dan alhasil taksi ini jalan.

Aku kembali mengutuki namja ini dibenakku. Aigoo! Dosa apa aku?

Bisa-bisanya bertemu namja aneh ini.

***

@Jerman, 7 Juni 2016

Naasnya diriku. Ternyata kos-kosanku dengan namja aneh itu

berdekatan. Bahkan kami satu SMA. Haish! Aku benar-benar sial. Setiap

hari Sungmin selalu menggangguku. Setiap pagi ia selalu menungguku di

ambang pintu. Setiap pulang ia selalu mencariku. Setiap makan siang, ia

selalu menjejeriku makan. Setiap istirahat dia selalu ke kelasku. Setiap

hari libur ia pasti berkunjung ke kosku. Entah itu ngasih makanan lah,

ngasih minuman lah, ngasih hadiah lah. -.- memangnya siapa dia? Namja

chinguku? Oh, tidak bisa! Eunhyuk, lah namja chinguku.

Ngomong-ngomong tentangnya, aku benar-benar merindukannya. Walaupun

baru seminggu aku meninggalkan Korea. Tapi serasa sudah setahun.

“ Hyoseo-ah! Kenapa kau melamun?”

Aku tersentak kaget dan langsung menoleh. Aish! Sungmin sudah berdiri

diambang pintu kamarku. Apa-apaan dia?

“ Yak! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?” tegurku kesal.

“ Kenapa harus mengetuk? Pintunya tidak ditutup?” tanya Sungmin

sambil menghampiriku yang terduduk di tepi ranjang.

“ Ah… terserah, lah…” jawabku tak acuh. Aku palingkan wajahku dan

berbaring di ranjangku.

Breepp… Tiba-tiba kurasakan ada seseorang yang naik ke ranjangku ini.

“ Ah… paling namja aneh itu hanya duduk,” batinku.

Breeeeppp… Breeep… Breeep…

Omona! Kenapa perasaanku tidak enak? Sesaat kemudian kurasakan ada

yang mengelus kakiku. Spontan aku langsung berbalik dan menatap Sungmin

yang melakukan hal aneh itu.

“ Yak! Mau apa kau?!” bentakku sembari menarik kakiku dan terduduk.

“ Errr… Hyoseo… ada yang ingin aku katakan padamu,” ucapnya sambil

mendekatiku.

Terus terang aku bergidik. Aku pun menggeser posisi dudukku untuk

menghindarinya. Aku mundur… mundur… hingga mentok ke sudut tembok. Yak!

Aku menyesal. Kenapa ranjangku terletak disudut ruangan?

“ Mwo! Jangan dekat-dekat! Yak!!” pekikku ngeri sambil berusaha

menghindar. Walaupun sebetulnya tak mungkin. Karena posisiku yang

benar-benar sudah terpojok. Kututupi kedua mataku dengan telapak

tanganku.

“ Hyoseo… saranghae…” ucap Sungmin lirih. Dia mengecup keningku

perlahan.

“ Mwo?” tanyaku sambil mengintip dari celah-celah jariku.

Sungmin pun menarik tanganku hingga terlepas dari wajahku.

Digenggamnya tangan mungilku dengan erat. Matanya menatapku. Sorotan

matanya sejuk. Seakan ada hasrat untuk menjadi pelindung disana. Tapi…

aku tetap takut dan aku tetap hanya akan mencintai Eunhyuk seorang.

“ Aku bersungguh-sungguh. Kau tahu? Kenapa aku bisa mengenalmu

sebelum kau mengenalku?” aku hanya menggeleng pelan. “ Karna aku telah

memendam perasaan ini. Jauh sebelum kita bertemu.”

“ Ta-tapi aku sudah punya namja!” elakku sambil menarik tanganku dari

genggamannya perlahan. Tapi dengan sigap ia menarik tanganku dan

menggenggamnya lebih erat.

“ Arraso! Arra! Kau kira aku tidak tahu? Lee Hyuk Jae! Benar, kan?”

kata Sungmin berapi-api. Aku hanya terdiam membisu. “ Aku tahu! Aku tahu

semua. Aku tahu, kau selalu diam-diam jalan dengannya. Dan sepertinya

Appamu tidak suka dengan hubungan kalian.”

“ Yak! Tahu dari mana kau, Heh?” tanyaku dengan nada nyolot.

“ Aku pernah melihat Hyukjae dipukuli oleh geromolan orang. Dan aku

sempat menguping mereka. Hyukjae berteriak-teriak menyebut-nyebut namamu

dan mengumpat-ngumpat. Ia juga menyebut-nyebut Park Ahjussi. Aku rasa

saat itu ia sedang mabuk. Dan aku pernah melihat Mr Park tertidur di

teras rumahmu saat kau sedang pergi dengan Hyukjae malam itu,” jelas

Sungmin panjang lebar.

“ Tapi, bagaimana bisa kau tahu semuanya?!” tanyaku heran.

“ Rumahku kan, tepat berhadapan dengan rumahmu. Apakah kau tidak tahu

itu?” tanya Sungmin masih menggenggam tanganku.

“ Aniyo,” jawabku sambil menggeleng-geleng kepalaku.

“ Yak! Pantas saja kau tak mengenalku. Aku selalu mengamatimu. Kau

tahu itu, kan?” aku kembali menggeleng. “ Aish! Terserah lah!”

“ Okey,” jawabku sambil melepaskan genggamannya.

“ Yak. Changkaman!” pekik Sungmin histeris.

“ Mwoya?” tanyaku bingung.

“ Kenapa bibirmu begitu pucat?” tanyanya sambil mengelus bibir

bawahku pelan.

“ Jinjayo?” tanyaku sambil memegangi bibirku.

“ Changkaman, ada sesuatu disana.” Sungmin memegangi tengkukku. Ia

mencondongkan wajahnya lebih dekat ke wajahku. Jempolnya mengusap bibir

bawahku perlahan. Sedangkan aku hanya bisa diam kaku.

Deeg, deg, deg! Jantungku berdegup kencang. Apa-apaan ini?

“ Ternyata bukan apa-apa. Kau kekurangan vitamin C,” ucap Sungmin

masih stay pada rutinitas meraba-raba bibirku yang kering dan agak

pecah-pecah dengan jempolnya. “ Biar aku sembuhkan.”

Tiba-tiba Sungmin semakin mendekatkan wajahnya. Dan… yak! Bibirnya

menyentuh bibirku. Apa-apaan ini? Beraninya dia popo aku.

“ Yak!!” pekikku sambil mendorongnya.

Bibir Sungmin berhasil terlepas. Tapi, Sungmin kembali menciumku

tanpa menggubris tatapan sinisku. Tak lupa ia mendekapku erat agar aku

tidak memberontak. Lidahnya menjilati bibirku yang masih mengatup rapat.

Aku meronta. Berusaha mendorongnya lagi. Tapi Sungmin memelukku terlalu

erat.

Tiba-tiba…. Omona! Perutku! Kenapa ini? Tiba-tiba aku merasa mual.

“ Sungmin!” panggilku sambil meronta. Aish! Usahaku untuk

memanggilnya malah dimanfaatkan Sungmin untuk memasukkan lidahnya

kemulutku. Kini tangan kanannya tak hanya diam. Tangan kanannya sibuk

meremas-remas payudaraku yang terbungkus kaos.

“ Oh… ugh… Sungmin…” desahku saat menerima servicenya. Aku masih

berusaha memanggilnya. Aigoo… aku semakin tak tahan. Aku benar-benar

mual dan ingin muntah. Sedangkan Sungmin semakin memperkasar remasannya.

Ia melumat bibirku dengan nafsunya yang memburu. Tampak dari nafas yang

keluar dari hidungnya yang bisa kurasakan diwajahku.

“ Sung… oh… Umin! Ugh.. Chang… oh…ka… agh.. man! Agh…” aku masih

berusaha memanggilnya walaupun terbata karena desahan. Ternyata

ciumannya telah beralih keleherku dan membuatku kegelian. Tangannya

masih aktif.

“ Umin!” teriakku sambil mendorongnya. Sukses! Ia terjengkang dan

jatuh dari ranjang karena doronganku yang begitu keras.

“ Huuuuuueek!!!! Hooooeeek!” aku pun muntah di samping ranjang. Weks!

Aku sendiri jijik melihat muntahanku. Sebenarnya aku muntah tidak hanya

sekali. Hari-hari sebelumnya pun aku sering muntah. Aigoo.. aku rasa

aku masuk angin.

“ Hoooooooekkk!” aku masih muntah-muntah.

“ Aigoo! Gwencana, Hyo-ah?” tanya Sungmin khawatir. Tangannya

mengelus-elus punggungku.

“ Hooooeeekkk!” aku tak menjawab pertanyaannya yang sudah jelas

jawabannya “I’m not okay!” dan masih sibuk pada aktifitas muntahku *?*.

Setelah puas mintah *?*, Sungmin pun menatapiku dengan khawatir. “

Kau sakit?” tanyanya. Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya. Aku pun

mengusap-usap bibirku.

“ Ayo kita periksa,” ucap Sungmin lalu tanpa basa-basi menarikku.

***

Dirumah sakit…….

“ Bagaimana keadaannya, dok?” tanya Sungmin khawatir. Hyoseo sudah

duduk disebelahnya.

“ Kalian berpacaran?” tanya dokter itu penuh selidik.

“ A.. a-an…” perkataan Hyoseo terpotong.

“ Ne. Memangnya kenapa, dok?” Sungmin memotong perkataan Hyoseo.

Hyoseo melirik sinis padanya.

“ Kalian belum menikah?” dokter itu masih mengintrogasi.

“ Belum. Memangnya kenapa sih, dok?” tanya Sungmin penasaran.

Sedangkan Hyoseo hanya menatapi dokter itu dengan penuh tanya.

“ Yeojamu hamil!”

“ Mwo?! Hyoseo hamil?!” pekik Sungmin kaget setengah mati.

-THE END-

Fc Populer:

Andi Jaya Saputra