[Twoshoot/NC17/KyuMi] Lullaby of Yours

0
ff kyuhyun seungmi
Tittle : LULLABY
Author : Kenzeira
Cast : Cho KyuHyun – Lee SeungMi
Category : Implisit NC-17; Yadong; Romance; Psychological; Tragedy; Noir; Chapter; Twoshot; Alternate Reality
Warning : Beware of two mens kissed scene!
.
Terinspirasi dari Like as the Time Will Come When it Will Rain karya Kunieda Saika
Chapter II : Lullaby of Yours
Dunia adalah surga, bagi mereka para pecinta dan mencinta yang hanya tahu bagaimana bergembira. Luka dikesampingkan, menggusur sejenak neraka yang ada untuk melahirkan neraka selanjutnya.

SeungMi tengah melepas burung gereja. KyuHyun merokok di sampingnya.
“Kau tak sepatutnya mengurung mereka dalam ketidakbebasan.”
“Hanya satu ekor,” kata KyuHyun, mengelak. “Dia terluka, kau sudah melihat kaki kecilnya yang diperban itu. Aku menolongnya.”
SeungMi tak merespon apa-apa. Keduanya membiarkan semilir angin menyapu permukaan kulit. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. SeungMi memainkan ujung rambut.
“Kadang aku penasaran, siapa aku ini,” ujarnya memecah hening.
“Biar kuberitahu; kau SeungMi.”
Perempuan itu tertawa pendek. Helaan napas terdengar. “Aku ingin tahu bagaimana aku di masa lalu, siapakah orangtuaku, dan apa yang membawaku ke tempat ini. Aku ingin tahu serupa apa aku dulu.”
“Kau serupa … kupu-kupu.”
KyuHyun menghisap sigaret penuh penghayatan. Memori lama beterbangan dalam kepala, memutar-mutar, membawa kembali wajah-wajah tersiksa dalam ingatan. SeungMi menopang dagu. Ditatapnya KyuHyun lekat, menuntut penjelasan.
“Kau tahu,” kata KyuHyun, jeda. “Kupu-kupu itu seperti kau. Cantik namun rapuh. Sekali tebas bisa tewas. Kau bermetamorfosa dari sesuatu yang berlendir dan menjijikkan, kau terlahir dari kubangan lumpur penuh dosa dan dengan bangga kau tunjukkan pada dunia bahwa kau yang buruk rupa itu bisa berubah menjadi jelita. Tapi tentu, ada harga yang harus dibayar.”
“Harga?” SeungMi tampaknya tertarik dengan perbincangan ini.
“Ya: kekuatanmu. Kekuatan itu lenyap bersamaan dengan datangnya sepasang sayap cantik yang mampu membawa tubuh mungilmu terbang dan tersesat di sekitar rumahku. Bagiku, kau serupa kupu-kupu. Cantik namun rapuh. Dulu.”
“Sepertinya kau mengetahui banyak hal tentangku. Kau yakin tidak mengenalku?”
KyuHyun mematikan rokok. “Aku hanya mengira-ngira.”
SeungMi melingkarkan tangan di pinggang KyuHyun, membawanya dalam dekapan hangat. “Aku beruntung ditemukan oleh pria sepertimu. Kau baik sekali.”
“Aku … tidak sebaik itu.”
“Saat pertama kali melihatmu,” ucap SeungMi, menggantung di udara. Barangkali tengah memutar ulang kejadian itu. SeungMi lalu meneruskan. “Aku merasa … aku merasa sesuatu dalam kepalaku memberitahu: ah! Akhirnya aku menemukanmu. Aku tidak tahu menemukan dalam konteks apa. Tapi rasanya membuatku sangat bahagia. Mungkinkah di suatu masa kita adalah sepasang kekasih? Di zaman ini, kita bereinkarnasi dan Tuhan kembali mempertemukan kita.”
“Jangan menebak-nebak. Kelak kau akan kecewa.”
“Entah. Aku merasa benar saat bersamamu.”
“Bagaimana jika salah?”
SeungMi diam. “Aku akan tetap bersamamu.”
“Ayo kita pergi ke pesta kembang api,” ajak KyuHyun di luar jalur pembicaraan. “Selepas panen, masyarakat di sini senang mengadakan pesta kembang api. Mereka juga mengenakan hanbok saat menikmati pesta.”
“Aku tak punya hanbok.”
“Kau yakin itu alasan yang kuat untuk tidak melihat pesta kembang api?”
SeungMi tersenyum. Mereka lalu hanyut dalam ciuman panjang.
.
Kenzeira’s Storyline
.
Dalam hidup, ada banyak sosok yang tak ingin KyuHyun lihat. Sosok-sosok yang berikatan dengan masa lalunya yang suram.
SeungMi menyibukkan diri dengan kolam ikan kecil, mencoba menangkap ikan koi. Katanya, apabila menangkap ikan paling besar maka dalam hidupnya di tahun ini akan selalu diberkati keberuntungan. SeungMi polos dan percaya. KyuHyun membiarkan.
Kehampaan dan malam adalah saudara seibu. Terlalu lekat, tak mampu dipisahkan. Dalam keadaan ini, KyuHyun kadang lepas kendali dan memilih mengasingkan diri di tempat yang hanya ada dia dan tembok-tembok menjulang. Kehampaan semakin gencar merayap, mengikis sisa kemanusiawian dalam diri.
Tapi kali ini lain sama sekali. KyuHyun merasa ruang di hatinya yang gelap mulai merasakan datangnya cahaya, begitu terang dan hangat. SeungMi menangkup cahaya itu.
“Lama tak jumpa.”
KyuHyun menoleh cepat. Sosok yang ingin dikuburnya lima tahun lalu kini muncul di hadapan. Pria berambut pirang yang menyapanya itu tersenyum misterius, seolah menyembunyikan hal mengerikan. KyuHyun melirik sekilas ke arah SeungMi. Perempuan cantik itu masih membelakanginya, sibuk dengan koi-koi.
“Aku rindu sekali padamu. Kau kawanku, benar? Kau seharusnya memberitahu kalau kau sudah hidup dengan normal sekarang ini.”
“Katakan apa maumu.”
Pria pirang itu tergelak. “Kau tak ramah seperti biasa.”
SeungMi kembali dengan plastik transparan berisi ikan koi besar. Wajahnya tampak senang. KyuHyun menggenggam tangan perempuan itu erat. Pria tersebut menilik-nilik wajah SeungMi, lalu tersenyum aneh.
“Oh, kupikir kau tidak menyukai perempuan,” katanya.
KyuHyun menyeret SeungMi dari tempat itu. Mengajak pulang. Pria berambut pirang tersebut memandang dan berteriak lantang.
“Ayo kita bertemu lagi besok malam!”
Kemudian, ratusan kembang api meluncur ke langit.
.
Kenzeira’s Storyline
.
Mereka berada di dalam mobil. Berdua. Keesokan harinya, di sebuah ladang luas berhiaskan ilalang-ilalang tinggi menjulang. KyuHyun menerima ajakan lantang pria itu tanpa sepengetahuan SeungMi.
Tuas pintu ditekan, kaca terbuka perlahan. Dua pria dalam mobil itu sama-sama menghisap rokok.
“Aku tidak bodoh,” kata pria pirang, lalu menyesap sigaret.
KyuHyun tak memberi respon.
“Aku yakin sekali perempuan yang semalam bersamamu adalah gadis kecil tragedi Gangwon. Jangan remehkan ingatanku. Aku senang sekali melihat wajahnya yang cantik itu, terlebih ketika dia sedang menangis.”
Asap rokok mengepul. KyuHyun membiarkan pria pirang terus bicara.
“Kasihan sekali, orangtuanya tewas dengan cara mengenaskan seperti itu.”
“Apa maumu?”
Pria pirang terkekeh. “Santailah sedikit. Ngomong-ngomong, sepertinya kalian berdua bahagia sekali. Sudah tentu gadis kecil yang kini tumbuh menjadi perempuan cantik itu adalah kekasihmu. Kau bukan tipe pria yang sudi menampung kaum hawa, seingatku.”
KyuHyun merogoh kantung celana.
“Code name: Marcus Jo, tidakkah kau ingin kembali padaku? Kita bisa bersenang-senang seperti dulu. Kau menghisapku, aku menghisapmu. Dengan banyak koneksi, kita bisa menduduki deretan kursi paling atas pembunuh bayaran termahal di Korea. Aku pencari klien dengan kau sebagai pengeksekusi. Tidakkah kau rindu masa kejayaan kita dulu?”
KyuHyun menelan terlalu banyak rasa bersalah. Ia sama sekali tak rindu. Ia justru ingin melenyapkan ingatan tentang hal itu. Ingatan yang membawa kehampaan dalam diri, sesak oleh bau darah dan pelototan korban-korban yang mati mengerikan. Hidupnya terasa gelap tatkala kembali mengenang masa lalu.
KyuHyun berdeham. “Katakan, berapa juta won uang yang kauinginkan?”
Pria pirang menyeringai lalu menarik leher KyuHyun agar wajah mereka saling menghadap. Rokok terjatuh. Kedua bibir kemudian menyatu dalam ciuman liar. Napas keduanya memburu.
“Sebegitu inginkah kau melindungi kisah cintamu yang manis itu?” Tangan pria pirang menelusuri leher KyuHyun. “Kau tidak tahu kapan waktu akan mengembalikan ingatannya.”
“Aku tak peduli.”
Pria pirang menyeringai lagi. “Bagaimana jika aku yang mengembalikan ingatannya? Aku bisa memberitahu perempuan itu tentang tragedi Gangwon.”
Kali ini KyuHyun mendekatkan kembali wajah mereka. KyuHyun menarik pria pirang dalam dekapan erat, tangan kiri sudah keluar dari kantung celana. Pisau lipat menghunus jantung pria pirang cepat.
Kehampaan dan malam adalah saudara seibu. Kemanusiawian nyaris lenyap dalam diri, terkikis dalam sekali tebas. Sepasang mata menatap nyalang. Hatinya berubah semakin gelap dan lebih gelap lagi.
.
.
.
Sore itu, tatkala rokoknya tersisa lima batang, KyuHyun hendak menuruni bukit untuk membeli sebungkus lagi buat persediaan nanti malam.
Di ujung tangga, seorang perempuan berdiri tegak dengan pisau di tangan. Matanya menatap nyalang, liar dan dipenuhi kebencian. Dia adalah perempuan korban tragedi Gangwon, tragedi pembunuhan besar-besaran keluarga besar Lee pendiri SamYi Group Inc yang tengah berlibur di Gangwon. Pria pirang pemberi komando, sedangkan ia sebagai pengeksekusi dengan pisau lipat dan pistol di tangan.
Segalanya terjadi dalam waktu singkat. Orang-orang di dalam foto target pembunuhan telah berhasil dihabisi. KyuHyun berdiri, menengadah memandang langit-langit ruangan, hingga suara isak tangis terdengar samar. Ia melihat gadis itu—perempuan itu, memeluk kedua lutut dengan tubuh bergetar, menyaksikan mayat-mayat keluarganya bergelimpangan. Namun sepasang matanya menatap nyalang. KyuHyun tertegun.
Pria pirang datang. Memeluknya, menciumnya di depan gadis kecil itu.
Dan, gadis kecil itu ada di hadapannya, sebagai perempuan muda awal dua puluh yang memendam dendam dan kebencian bertahun-tahun. Perempuan itu berdiri, sebilah pisau dipegang kedua tangan yang bergetar.
“Akhirnya aku menemukanmu,” katanya. “Kau pembunuh bajingan!”
Perempuan korban tragedi Gangwon berlari menaiki sepuluh anak tangga, menyerang KyuHyun membabi buta. Pisau di arahkan ke perut, KyuHyun berhasil menghindar dan menangkis. Pisau terlempar ke belakang, jatuh di antara rerumputan. Perempuan itu lengah. KyuHyun menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh si perempuan hingga jatuh ke bawah. Barangkali kepalanya terbentur batu hingga tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian hujan turun. KyuHyun berbalik pulang, menyesap lima rokok yang tersisa hingga ia kembali menuruni sepuluh anak tangga dan menemukan perempuan korban Gangwon kehilangan ingatannya.
KyuHyun menyembunyikan kenyataan itu hingga kini. Hingga ia sampai di rumah sesaat setelah menghabisi pria pirang. Ia menemukan SeungMi terduduk di depan pintu dengan wajah gelisah.
“KyuHyun-ah, ke mana saja kau hari ini?”
Suaranya lembut dan lirih. Nada khawatir terdengar jelas. KyuHyun tersenyum. Hujan tiba-tiba turun membasahi tubuhnya, menyamarkan sebentuk senyum tulus di sana. SeungMi melangkah, sedikit berlari lalu memeluknya di bawah hujan. Dan menusuknya.
KyuHyun tak mampu merasakan apapun. Barangkali ia terlalu paranoid mengenai ketakutannya hingga membayangkan serangkai peristiwa mendatang itu. Ia balik memeluk SeungMi, erat. KyuHyun mengenyahkan segala imajinasi mengerikan mengenai kembalinya ingatan perempuan itu.
“Kau boleh pergi saat kau sudah mengingat kembali semuanya.”
“Tidak!” SeungMi memeluk semakin erat. “Aku ingin bersamamu selama mungkin.”
Mereka berpindah, menuju ruang rahasia tempat mereka terbiasa bercinta: di atas lantai kayu mahoni dekat jendela. Keduanya saling merengkuh, saling meraih. Peluh menetes-netes. Suara sengau desah terdengar samar.
Tusukan hujan menimbulkan bunyi tik tak, serupa lagu pengantar tidur. Langit yang tiba-tiba menangis itu menghantui kepala KyuHyun. Barangkali, SeungMi akan meninggalkannya suatu hari nanti ketika perempuan itu mengingat segalanya. SeungMi lenyap tiba-tiba, seperti hujan yang datang dan pergi tanpa tahu permisi.
KyuHyun memejamkan mata kuat-kuat. Ia berjanji dalam hati untuk membiarkan SeungMi bebas tatkala ingatan perempuan itu kembali. Ia takkan mengurungnya meski ia ingin. Kepergian SeungMi adalah harga yang harus dibayar atas segala dosanya di masa lampau.
Tik tak semakin gencar. Nyaring terdengar.
KyuHyun menciumi tubuh SeungMi, menciumi dagu, leher, dan apapun yang bisa dijangkau bibirnya. Dalam keadaan itu, KyuHyun tak mampu melihat senyum ganjil yang terpasang sempurna di wajah perempuan korban tragedi Gangwon.

 

END
%d blogger menyukai ini: