The OutLine (KyuChan Moment)

The OutLine (KyuChan Moment) ff nc kyuhyun
Author : N/M
Title : The Outline (KyuChan Moment)
Category : NC-21, Yadong, Romance, Oneshoot
Casts : Cho Kyuhyun (Super Junior), Kim Chan Gi (OC)
Kyuhyun’s PoV
Seperti sihir, pintu untukku terbuka, bersamaan dengan tanganku yang membuka pintu kamar itu. Changi jatuh ke pelukanku. Aku menangkapnya. Tanpa berpikir lagi, kulakukan hal yang harus kulakukan, memberikan ciuman padanya, sesuai rencana. Kukecup bibirnya. Kehangatan mulai menjalar dan saat itu juga kutarik diriku. Aku hanya harus memberikan ciuman singkat supaya segalanya tetap selaras dengan rencana awal. Bukan hal-hal yang menakutkan baginya.

Panggil aku si putus asa atau si menyedihkan, aku tidak peduli. Aku hanya tak tahan dia membuat kesalahan lebih jauh lagi. Yunho adalah kesalahan pertamanya dan aku akan memastikan sendiri kakak sepupuku yang brengsek itu juga jadi yang terakhir. Maka dari itu, aku melancarkan rencana ini.
Kubelai kepala berambut keritingnya, hal yang takkan pernah bisa kulakukan kalau keadaannya tidak seperti ini. Ia kemudian menjatuhkan kepalanya di dadaku, hal yang sama, yang takkan pernah dia lakukan pada laki-laki manapun.
Ya, Changi tak pernah bersentuhan secara akrab dengan lelaki mana saja. Pengamatanku selama berbulan-bulan, bahkan jauh sebelum Yunho mengenalnya, telah menjelaskan itu padaku. Betapa mata bulat sayunya dan bibir tipisnya mengernyit setiap ada lelaki yang mendekatinya secara personal. Betapa ia diam-diam suka tersenyum meremehkan setiap ada lelaki yang berusaha main mata dengannya. Dan ia cantik sekali saat seperti itu. Lantas aku hanya mengamatinya dari jauh demi melihat senyum ‘pembunuh’-nya yang bagi sebagian orang adalah tanda kejahatan terselubung.
Ia kemungkinan besar juga akan tersenyum begitu padaku jika aku mendekatinya. Akan tetapi, aku mungkin takkan dapat melihat senyum itu. Karena dia pintar menyembunyikannya. Pun aku bisa melihat senyumnya itu karena aku mengamatinya dari jauh setiap ia ditandangi pria-pria dangkal itu. Dan walaupun aku berbeda dengan pria-pria itu, yang mana aku jauh lebih profesional dalam mencermati, aku tetap takkan bisa mendapati senyum lihainya jika aku dekat–karena aku akan… Aku akan malu. Hal itu akan membuatku tak sempat menelaahnya. Keadaan dekat dengannya sangat mempengaruhi. Jika aku jauh darinya, aku bisa mengamatinya dengan baik. Aku tak mau mengakui itu sebenarnya, tapi, ya, itu yang, menjengkelkannya, terjadi padaku. Aku akan mengucapkan hal-hal yang membanggakan diriku sendiri, atau bahkan yang mencercanya. Sebab aku terlalu malu untuk menyanjung. Itu terdengar menggelikan. Lagipula dia nampaknya tidak suka dengan yang seperti itu.
Aku selalu menanti agar waktu tepatku untuk membuat impresi memukau terhadap Changi tiba. Hingga ketika, kurasa, waktunya pas, Yunho datang untuk mengacaukan segalanya. Dia bercerita kalau ia menemukan seorang gadis, yang tak pernah ia lihat sebelumnya di kampus, datang kepadanya di sebuah kafe. Kupikir, tentu saja dia tak pernah melihat Changi. Yunho adalah pria populer yang pandangannya tertutupi lautan gadis-gadis yang mengaku sama populernya dengan dirinya di kampus. Jelas saja dia tak pernah melihat Changi, yang lebih suka menjebloskan dirinya ke aktivitas  ekstrem kampus yang takkan pernah dilirik gadis-gadis yang terlalu banyak menepungi wajah mereka itu. Dan, yang makin membuatku kesal adalah saat Yunho bilang hari itu juga kepadaku, kalau ia akan mendapatkan Changi.
Dan aku tahu standar Yunho dalam mendapatkan seorang gadis adalah dengan menidurinya.
Jadi aku melakukan apapun agar rencananya gagal, agar aku bisa menjaga Changi dari rencana si maniak yang sebenarnya malu aku akui sebagai kakak sepupu itu. Dan di sinilah sekarang aku, telah berhasil menggagalkan Yunho, membuangnya jauh-jauh. Dan bersama Changi.
  Kupandangi Changi yang masih terpekur di dadaku. Kukernyitkan kening, hal yang secara alami kulakukan kalau aku tak tahu harus berbuat apa. Kudengar suara Changi yang melenguh, mungkin masih merasa pusing karena obat itu, obat yang kuberikan pada Yunho untuk diberikan kepadanya.
Obat? Ya, tentu saja. Obat anestesi yang dosisnya kuukur agar hanya membuat pingsan saja. Yunho mengira itu adalah afrodisiak, sama dengan yang telah ia minum. Tapi aku takkan meracuni Changi dengan afrodisiak, minuman kesukaan Yunho itu.
Changi mengeluarkan suara lagi, kedengaran kelelahan. Barangkali reaksi obat itu. Dan ia juga tak bergerak. Aku harus membaringkannya di tempat tidur, membiarkannya istirahat.
Kubopong tubuh kurusnya ke ranjang dan membantunya berbaring. Mata berbulu panjangnya, yang sejak tadi kutemukan dirinya limbung dan jatuh untuk kudekap, tetap terpejam. Kuhamparkan selimut ranjang yang masih terlipat rapi itu untuk menutupi tubuhnya.
Sementara Changi berbaring dengan nyaman, aku mengamati kamar apartemen Yunho ini. Ini adalah kamar dimana orang itu mengajak berbagai jenis teman kencan untuk melakukan aktivitasitu. Kugerakkan kakiku untuk mendekati lemari. Lalu kubuka gagang besi pintu kayu lemari tersebut. Banyak pakaian dalam wanita dan baju-baju kostum. Terdapat pula mainan seks mengerikan yang tersusun rapi di sana. Bahkan ada borgol dan tali tambang segala. Benar-benar maniak Yunho itu. Mengingat ia mungkin akan mengenakan benda-benda menjijikkan ini pada Changi, buru-buru aku membanting pintu lemari itu. Berkat bayangan sekilas tentang itu saja, aku benar-benar ingin menghajar kakak sepupu idiotku itu sampai mampus.
Tertangkap oleh telingaku, suara mengaduh pelan. Aku menoleh dan menemukan Changi tengah menggerakkan bibir kecilnya, seperti mengigau. Bibirku menyunggingkan senyum dengan sendirinya. Mendapati dirinya aman di sini bersamaku, aku merasa tenang.
Tapi apa dia selamanya akan aman?
Yunho masih berkeliaran di luar sana. Dan nanti saat Yunho sudah sadar, dia akan kembali mengejar Changi. Changi barangkali akan menghindari Yunho gila-gilaan, tapi kegagalan kaliini hanya akan membuat Yunho makin giat. Dia bisa saja menyusun rencana untuk menyergap Changi, menyerangnya saat ada kesempatan dan… Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku nyeri.
    Changi belum pernah terjamah siapapun.  Aku tahu. Aku telah mempelajarinya. Dan jika aku harus membiarkan Yunho sebagai penjamah pertama, itu akan menyakitkan Changi selamanya. Yunho maniak, sakit jiwa dan akan menjaditeror bagi Changi. Bukan tipe pengalaman seks pertama yang baik, kurasa. Itu akan menciptakan trauma. Dan aku tak ingin itu terjadi.
Kulihat lagi Changi. Lagi-lagi aku merasakan kelegaan. Malam ini aku telah bertindak benar; membebaskan Changi dari kehororan yang merupakan cikal bakal sesuatu yang traumatis.
Akan tetapi, apa dengan malam ini saja semua akan berakhir? Tidak. Aku mungkin tak bisa menjamin malam-malam berikutnya, waktu-waktu ke depannya.
Dan tak hanya Yunho, pria-pria berotak udang di luar sana masih banyak yang mengincar Changi. Bahkan mungkin lebih menyeramkan daripada Yunho. Changi tak aman. Gadis ini memang bisa berkata kalau ia bisa menjaga diri. Tapi kemungkinan-kemungkinan mengerikan dapat saja terjadi. Lihat saja perbuatan Yunho ini.
Lantas apa yang harus kulakukan? Kulangkahkan kaki ke dekat jendela dengan resah, dan beberapa detik kemudian kembali ke dekat ranjang. Begitu terus. Bolak-balik. Dan aku pun tersadar aku hanya mondar-mandir tanpa menemukan ide satupun di kepalaku.
Kuputuskan untuk duduk kembali di ranjang, di sebelah Changi. Menemukan mata terpejamnya yang tenteram, mendengarkan napasnya yang beraturan dan lembut, aku tak bisa menahan seringaiku. Changi sungguh melegakan. Dan aku tak bisa menjelaskan mengapa ia bisa berefek begitu padaku. Boleh jadi itu sebabnya aku selalu mengikutinya. Dia tak terdefinisi, sulit; kesukaanku yang kedua setelah buku kumpulan soal matematika. Ah, atau mungkin kesukaanku yang pertama.
“Cho…”
Aku membelalak. Mulut Changi yang mungil itu mengeluarkan sepatah kata. D-dia… Apa dia baru saja—
“Cho…”
Kali ini lebih jelas. Dan organ-organ tubuhku rasanya mengerut hanya karena mendengar itu.
Masih tak percaya dengan pendengaranku yang memaksaku untuk percaya, aku mencondongkan tubuh dengan agak serong—mendekatkan telingaku ke dekat wajahnya.
“Cho…” Ia berkata lagi. Aku memandangnya, wajah kami bersemuka. Tidak mungkin. Tidak mungkin ia memanggilku. Ia belum mengenalku. Bukankah begitu?
Ia membuka mulutnya sekali lagi dan sesuatu di dalam perutku memelintir. “Cho…” Mataku membeliak. “co… late… Fac… tory.”
Aku menjauhkan wajahku dan mengerutkan kening. Cho-co-late-Fac-tory? Pabrik cokelat?
Aku melontarkan tawa. Gadis keriting asli ini sungguh… Astaga. Dia diberi obat penenang dan memimpikan pabrik cokelat? Dia benar-benar seseorang. Aku tahu aku tidak mungkin suka pada seseorang yang sembarangan. Tapi Changi tetap saja mengejutkanku—dalam arti yang positif. Aku mempertemukan punggungku dengan ranjang, bersebelahan dengan Changi, benar-benar dilanda keriangan. Tak tahu mengapa. Rasanya seperti tiduran di sebelah game terbaru yang akan kuteliti.
Kutilik dia. Alisnya, matanya, hidungnya… Bibirnya…
Spontan, sesuatu melintas di kepalaku. Aku belum pernah berciuman sebelumnya. Maksudku, ciuman yang sesungguhnya. Bukan ciuman terencana seperti yang kulakukan padanya tadi. Dan Changi juga belum. Kenapa bukan kami?
Hanya sebuah ciuman, lagipula. Itu tidak akan menyakitinya, bukan?
Ya, benar.
Hanya sebuah ciuman.
Aku terpaku sebentar, hingga otakku meneriakkan kalau aku harus segera bergerak.
Maka, kudekatkan bibirku ke bibirnya. Indera perasaku menangkap kelembutan permukaan bibirnya. Aku melebarkan mata. Aku ingin mengalami semuanya.
Tapi semuanya lemas. Rahangku kaku. Mulutku statis.
Terus begitu.
Stagnan.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menarik diri. Perbuatanku ini akan membuatnya sesak. Kutarik langkah. Bibir kami terpisah, lalu sesuatu terjadi. Baru beberapa mili udara menyekat bibir kami, tubuh Changi berguling—yang mau tak mau harus kupercaya—ke arahku, sehingga dalam 0,1 mili bibir kami kembali bertemu.
Aku bahkan melihatnya tersenyum. Mungkin karena mimpi. Mimpi pabrik cokelat itu lagi, barangkali. Tapi penempelan bibir kami yang dalam kondisi terkatung-katung—antara menempel dan tidak—membuat suhu tubuhku meningkat.
Tidak boleh berpikir macam-macam. Tidak boleh berpikir macam-macam. Tidak boleh berpikir macam-macam. Berulang aku mengultimatum seperti itu ke otakku. Aku ingin memastikan dia tetap aman, bukan menyakitinya.
Aku mulai memikirkan hal-hal remeh yang penting, hal yang biasa kulakukan, yang  berguna untuk meringankan pikiranku. Game aksi yang belum kuselesaikan, yang kusimpan di rak di bawah televisi, aku ingin mengingat dimana aku menyimpannya. Karena aku takut Ayahmenemukannya aku memindahkan penyimpanan tadi pagi menjadi di dalam sandaran kloset yang bisa kubuka. Aku juga ingin mengingat piama lamaku yang bermotif bulan, yang hilang dua puluh tahun lalu. Ke mana piama itu sekarang?
Pada detik aku mulai lancar mengingat-ingat hal sepele sejenis, pada detik itu pula aku dilumpuhkan, sebab Changi secara tiba-tiba menyurukkan tubuhnya lagi ke arahku. Dahinya menumbuk dahiku, menjadikan kami lebih intim lagi.
Membeku sejenak, hingga dorongan dalam diriku mengetuk. Dan senyuman Changi makin lebar di depan wajahku. Kiprahku untuk mengalihkan pikiranku ke hal-hal remeh itu lenyap. Dan akuhanya berpikir untuk menciumnya sekarang.
Ah, sial.
Kucium dia lagi. Lebih dalam. Lebih berbeda. Dan Changi diam saja, tak merespons. Dia seperti korban tak berdaya. Ini mengerikan, tapi di sisi lain, mendebarkan.
Ciuman kami mengantarkanku ke tempat lain. Dan mungkin aku hanya mengkhayal, tapi aku merasa Changi mulai membalas ciumanku. Aku dapat merasakan bibirnya membuka, mengundang. Di saat aku menyesap bibir bawahnya, telingaku bahkan mendengar ia mengeluh agak manja, seperti sedang dikelitiki. Hal itu makin menyemangatiku. Maka dari itu, kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya, menerima undangannya.
Menurut yang kubaca, obat penenang yang kuberikan untuk ia minum bukanlah obat penghilang kesadaran biasa. Peminumnya masih dapat menerima dan menghampiri rangsangan. Obat itu memang memberikan peminumnya efek  kesulitan menggerakkan alat geraknya—tangan dan kaki. Tubuhnya mungkin menjadi tak berfungsi, tak mengikuti perintah otak. Jadi dia hanya seperti orang yang dikuasai kantuk, yangtak bergerak sesuai perintah otaknya, namun dapat menyerap rangsangan sesuai kebutuhannya. Dia bisa saja mengalami mimpi, tapi dia juga bisa merasakan dan bertindak seperti orang sadar karena rangsangan. Dalam keadaan demikian, kalau ia merespons rangsangan, bukankah itu tandanya ia  membutuhkannya?
Dan kini bahkan aku tahu pasti lidahnya bergerak di dalam mulutku, menimpali aksiku, dalam gerak pelan dan malas, seumpama orang yang tetap mau tidur namun tetap ingin mendapatkanpijatan pengantar tidurnya. Namun yang terjadi di sini bukan pijatan, melainkan ciuman.
Aku penasaran apa dia akan terus merespons atau malah terbangun, sehingga aku terpancing untuk melakukan hal lain. Kucium dagunya, lalu lehernya, dan dia mengerang. Percaya atau tidak, erangannya terdengar manja. Aku membendung senyumanku dan terpikir aksi baru; jika aku mencium bagian tubuhnya yang lain, apakah erangan manjanya akan makin keras?
Maka dari itu, kukungkungi tubuhnya yang kutelentangkan kembali. Kukerahkan kedua tanganku untuk membuka kancing kemeja kotak-kotak ungu-hitamnya, hingga menampakkan bra biru mudabercorak hatinya. Dengan pelan, dan masih skeptis, aku menyentuh dadanya lantas menurunkan tali branya. Changi menggeliat kaku, seumpama ingin lepas dari sesuatu. Dan dorongan di dalam diriku memanas. Kusentuh tengkuknya kala aku merunduk untuk mengecup belahan payudaranya. Geliatan Changi terasa lagi. Hingga sesuatu mengejutkanku.
Kepalaku terantuk dadanya. Aku mendongak dan menemukan Changi masih memejamkan mata. Tapi tubuhnya terangkat Terangkat. Bukan sebaliknya. Itu menandakan bahwa ia menyambutnya. Bisa jadi itu permintaan tak sadarnya agar aku kembali menunduk, agar aku kembali menciumi payudaranya. Oleh karena itu, kecerahan menguasaiku dan aku ingin melakukannya secepat mungkin. Meski begitu, kecepatan dalam melakukan aksi biasanya membuatku agak sembrono. Walaupun aku merasa semenjak awal aku sudah sembrono, ini kali pertamaku, bagaimanapun. Dan kesembronoanku kali ini terlihat dari buru-burunya aku menurunkan kedua tali branya, melepas kaitnya, hingga melepas keseluruhannya. Keburuan-buruan sembronoku dapat membangunkan Changiseharusnya, tapi rupanya tidak.
Dan tubuh Changi tak memakai atasan lagi sekarang.
Tanganku gemetaran dan aku juga menyayangkan kenapa demikian. Aku menatap Changi lagi lalu mengusap lengannya. Ia kedinginan. Kemejanya baru saja kulepas bersamaan dengan branya. Dan keadaan rapuhnya membuatku melengos. Kusentuh lengannya agar menimbulkan panas. Kulit kami bersentuhan dan panas itu mengalir. Demi supaya ia lebih hangat, aku ingin menciumnyalagi.
Kudekatkan wajahku lagi dengannya, dengan lebih mulus—karena kami sudah melakukannya tadi. Di saat itulah, aku merasakan Changi menggerakkan bibirnya,  menyongsongnya. Tak hanya itu, dia bahkan mengisap. Oleh sebab itu, aku meneruskan ciuman kami dengan lebih percaya diri. Tanganku mulai bergerak menjeramahi tubuh atas Changi. Aku tak bohong, namun Changi mendesah ketika aku melakukan hal itu.
Seakan diminta untuk berbuat lebih jauh, aku pun meneruskannya. Kedua sikuku kuletakkan di samping-samping kepala Changi, dan kuhadapkan wajahku setara dengan wajahnya. Kali ini bisa kupastikan bukan hanya aku menciumnya, tapi kami berciuman. Aku dapat merasakan Changi membalasi katupan bibirku, jamahan lidahku dan menggerakkan kepalanya agak lebih menengadah. Kujelang kisi-kisi gigi-geliginya dengan lidahku, sementara kudapati ia seperti terkikik. Kikikan tertahan yang membangunkan tanganku, yang sedang menekan bantal, untuk kembalimenjelajahi tubuhnya.
Kupindahkan ciumanku ke leher saat tanganku menangkup payudara kanannya. Changi mendesah pelan. Dan itu membakar kupingku. Oleh karena itu, aku melanjutkan untuk membuka kancing celananya, dan kemudian menurunkan ritsletingnya. Ciumanku berpindah ke dadanya pada saat tanganku menanggalkan celana panjang bahannya itu. Setelah Changi secara sempurna terlucuticelananya, begitu pun celana dalam, aku memanjat ke atas berhadap-hadapan dengan Changi, yang herannya, lagi-lagi menampilkan senyum dalam pejaman matanya. Aku mengelus pipinya, menyibak halus rambut keritingnya, dan aku tak dapat memikirkan apa-apa lagi.
Aku menginginkan ini.
Changi mungkin tak dapat membantuku melepaskan kemejaku, ikat pinggang dan celana jeans-ku–serupa di film-film dimana kedua sejoli yang ingin bercinta biasanya bersicepat saling melepaskan pakaian pasangan masing-masing. Dan aku hanya dapat melucuti pakaianku sendirian. Tapi satu yang aku tahu pasti, Changi, di alam bawah sadarnya, juga menginginkan ini. Itulah yang menjelaskan mengapa ia membalasku sedemikian menikmatinya sejak tadi.
Dan sewaktu semua pakaianku tergeletak di lantai, aku bergegas melingkupinya. Kecupan bibir kami mulai terasa biasa, lembut namun meyakinkan. Sentuhan dan jamahan tanganku ke seluruh tubuhnya, erangan dan geliatan tubuhnya akibat itu, semua makin terbiasa. Milikku yang menegang, yang baru kusadari saat aku membuka celanaku tadi, pun secara tak sengaja menggesek dan menggelesak ke arah kewanitaan Changi. Changi mengeluh, semakin mendekatkan tubuhnya kepadaku, meyakinkanku kalau ia memang berada di ambang batas bersamaku. Hingga saat aku menekan masuk milikku, Changi menjerit, dan kucium bibirnya supaya seluruh bagian tubuh kami bersua.
Selama sesaat, Changi tersengal, sementara aku berhenti mencium, memandangi wajahnya–yang tetap cantik walau penuh keringat dan mata yang selalu terpejam. Beberapa detik, setelahnapas kami kembali teratur, aku merasa harus menuntaskannya. Menyadari Changi diam kembali, mungkin sudah beradaptasi atas kemasukan sesuatu ke dalam dirinya, aku pun menekan kedua telapak tanganku di sisi-sisi kepalanya, bagaikan dua pilar dengan kepala Changi di antaranya. Kala Changi mendesau lemah, dan cukup menggoda bagiku, kutemukan itu waktu yang tepat. Aku pun menggerakkan tubuhku naik dan turun, memasuki dan mengeluarkan milikku dari Changi, perlahan dan pasti. Changi tersenyum, dan senyumannya, senyum yang sejak ia terkena obat ini tadi, adalah senyuman tulus menggembirakan. Bukan senyuman menghina yang juga kucintai. Tentu saja, aku ikut tersenyum, merasa ini adalah hari dimana untuk pertama kalinyaaku tersenyum terlalu banyak.
Aku terus menggerakkan diriku, masuk dan keluar, dan dengan tempo pantas yang menuju ke arah cepat yang bertahap. Changi memekik tiap aku masuk dan tersenyum acapkali aku mencium pipinya.
Beberapa saat, pun aku merasa puncaknya akan tiba. Changi menjerit lirih, memberi petunjuk ia juga berada dalam kondisi yang sama. Maka kugerakkan lebih cepat sedikit dari sebelumnya, menyebabkan kami mendesah bersamaan tiap kali hujaman itu mendarat.
Lalu klimaks itu tiba. Changi mendekatkan tubuhnya jauh lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, untuk orang yang tertidur. Dan aku berserah di atas tubuhnya. Aku mencium wangi rambutkeriting ringannya di hidungku, merasakan kebahagiaan yang membuncah, hingga kemudian aku baru sadar. Klimaks kami sudah berlalu, dan aku masih berada di dalamnya.
Satu hal yang kemudian paling mengguncangkanku, membuatku membelalak: aku telah menidurinya!
Bersegera, aku bangkit dan menyisakan kekagetan di dalam diriku sendiri. Aku menginjak lantai kembali dan merasakan aku menjejak beberapa kain. Kupandang ke bawah, ternyata pakaian Changi dan pakaianku sendiri. Sebuah peringatan lain merangsek masuk ke kepalaku: aku telah menidurinya dan bahkan diriku sendiri yang menyetujui pelaksanaan tindakan itu.
Changi takkan memaafkanku. Aku menggeleng-geleng sembari menemukan fakta yang sudah pasti akan terjadi: Changi takkan memaafkanku. Bahkan sebelum dia mengenalku, dia takkan memaafkanku.
Histeria menggelapi pikiranku. Dan kengerian Changi akan membenciku membuatku sampai ke keputusan bahwa yang hanya bisa kulakukan adalah kembali ke rencana awal, walaupun kini rencananya sudah sedikit invalid. Tidak, tidak sedikit invalid; tapi sangat invalid. Tapi hanya itu yang dapat kulakukan.
Aku memakai kembali pakaianku lantas memakaikan kembali pakaian Changi.
Mengembalikan semua kembali ke rencana awal.
Segera setelah semua pakaian pada tempat yang semestinya, aku menyelimutinya. Aku mengelus kepalanya untuk yang terakhir kali, karena besok aku akan berupaya tampak seperti si orang baru di hadapannya. Lalu aku bergegas.
Kupastikan semua hal di kamar itu tetap berada di tempatnya sebelum aku keluar dari kamar itu. Sedetik aku berpikir untuk masuk kembali dan membangunkan Changi, mengatakan padanyaatas semua rahasia yang akan aku simpan selamanya ini, betapa aku sangat menyesal telah melakukan hal yang tak terduga—yang bahkan tak kurencanakan—ini padanya, betapa aku sangat ingin menjaganya, hingga aku mendengar bunyi pintu yang kututup dan gesekan sepatuku di keset ketika tubuhku berputar dan melangkah untuk meninggalkan tempat itu.

Fc Populer:

Korean Fc