Sweet of Purple Part 3

ff nc lee donghae
Author : Shan Shine
Tittle : Sweet of Purple (Chapter 3)
Category : Romance, Project 2th FNC 
Cast : – Lee Donghae. – Shin Hyunni.
Other Cast : – Jung Seori – Hyunni’s mother – Hyunni’s Grandmother – Find by yourself 
“Aku akan mengambil minuman untukmu. Tunggu sebentar disini.” alasan Hyunni yang untuk menghindari Donghae sebentar.

“Ada apa dengannya?” gumam Donghae. “Tapi tingkahnya semakin manis saja.” tambahnya dengan senyum yang sulit dimengerti namun senyum itu terlihat sangat tulus.
“Apa menyenangkan menipu dan mempermainkan orang disekitarmu, oppa?”
Ekspresi wajah Donghae seketika berubah saat melihat Jung Seori datang dan mendekat ke arahnya  tepat setelah Hyunni pergi. “Apa maksudmu?”
“Kau tidak bisa membohongiku.”
“Lalu setelah mengetahui itu, apa maumu? Itu tidak akan merubah apapun.” Ketus Donghae.
“Aku… putus dengan Jungsoo.” sahutnya tiba-tiba dengan wajah datar dan sedikit menundukku. “Aku putus setahun setelah kami tunangan.” Berarti sudah lama sekali.
Jung Seori menunduk, biasanya dia akan selalu mengangkat dagunya dengan arogan. Seakan kata yang keluar dari mulutnya benar-benar membuatnya sedih. Donghae menatap iba Seori. Bagaimana pun Donghae pria yang berhati lembut jika berhadapan dengan gadis yang tampak rapuh.
“Dia selingkuh.” tambah Seori. Itulah hukum karma.
Donghae melangkah maju mendekati Seori. Dengan kikuk karena takut melakukan hal yang salah. Tangannya mulai bergerak ke arah pucuk kepala Seori. Menyapu-nyapunya kecil untuk menenangkan gadis yang tengah menahan tangisannya. Salah jika dibilang hati Donghae kembali tergerak oleh Seori. Donghae melakukan itu pada semua wanita yang rapuh. Menjaganya seperti orang kakak yang baik. Donghae tersenyum tulus seperti awalnya dan terus mengelus pucuk kepala Seori. Dia tersenyum bukan karena Seori. Melainkan ia membayangkan bahwa gadis yang ia pegang kepalanya dengan kasih sayang sekarang adalah Shin Hyunni. Gadis manis itu.
Donghae sadar itu bukan Hyunni dan langsung melepaskan tangannya dari kepala Seori. “Ah?! Mian! Aku mau mencari Hyunni dulu.”
Tapi saat Donghae berbalik pergi, Seori langsung menarik tangan Donghae dan menangkup wajah Donghae. Mengecup bibir Donghae. Sedangkan Donghae yang kaget hanya bisa membatu dan membulatkan matanya. Tapi tidak berselang lama, Donghae kembali waras dan mengdorong tubuh Seori ke belakang.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Donghae sangat kesal hingga keubun-ubun. Inilah yang ia maksud agar tidak memberikan perhatian seperti apapun pada Seori karena dia akan melakukan semaunya jika diperlakukan dengan perhatian sedikit saja. Dia marah bukan hanya karena Seori menciumnya tiba-tiba, melainkan karena merasa Seori telah menutupi ciumannya dengan Hyunni tadi pagi. Entah kenapa Donghae sangat peduli akan ciuman sepihaknya pada Hyunni. Seakan ciuman itu sangat berharga.
“Oppa, kembalilah padaku.”
Donghae tidak memperdulikan Seori lagi dan terus berjalan menjauh.
“Oppa! Apa kau masih memikirkannya?! Cinta pertamamu! Gadis yang menyuruh membuat kebun anggur! Kau masih memikirkannya?! Kau masih mencarinya, kan?!” Tanya Seori yang membuat langkah Donghae berhenti selama beberapa detik.
“Ani! Aku sudah tidak memikirkannya.” Jawab Donghae tanpa berbalik.
“Bohong! Kau masih memikirkannya… karna itulah kau menolakku.” gigih Seori.
Donghae akhirnya berbalik, menatap langsung ke mata Seori, berusaha memperlihatkan kejujurannya lewat sorot matanya. “Aku benar-benar sudah tidak memikirkan gadis kecil itu dan aku tidak mencarinya lagi karena…” putus Donghae seakan tidak berani mengeluarkan kata selanjutnya.
“Aku sudah memiliki gadis yang patut kupikirkan sekarang.” Sambung Donghae.
“Gadis itu Shin Hyunni ssi?” Tanya Hyunni yang lebih terdengar seperti pernyataan pasti.
Donghae tidak menjawab. Dia juga tidak tahu akan perasaanya sendiri. Kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Jadi, Donghae hanya bisa menghindar. Tidak tahu caranya menjawab pertanyaan yang satu itu. Donghae masih perlu mengali lebih dalam akan apa yang ia rasakan sebenarnya.
Donghae mengelilingi lantai yang dipakai untuk reuni. Mencari gadis bergaun putih dan berambut hitam. Tapi tidak ada. Kenapa perginya gadis itu? Hyunni selalu kabur dan mengindarinya hari ini. Apa gadis sederhana itu tidak bisa beradaptasi dengan pesta mewah ini? Donghae benar-benar pusing mau mencari gadis itu. Hingga dia masuk ke toilet wanita juga tidak ada.
Hanya satu tempat yang bisa membuat Hyunni tenang sendiri.
Tanpa aba-aba Donghae langsung berlari ke parkiran mencari Hyunni dan betul saja. Hyunni tengah tertidur di kursi penumpang dengan menutupi tubuhnya dengan jaketnya dari dinginnya malam kota Seoul.
Donghae masuk di dalam mobil dan memandangi wajah Hyunni yang tertidur. Sangat cantik di mata Donghae. Seperti malaikat yang tertidur nyenyak. Semakin ia menatap wajah Hyunni, semakin Donghae kehilangan kesadarannya. Donghae menggeleng cepat, menghilangkan semua fantasinya tentang Hyunni. Dia  takut jika terus mengikuti hatinya, Hyunni tidak akan pernah selamat di tangannya. Donghae hanya bisa menghela nafasnya dan segera mengalihkan pandangannya dari Hyunni. Berkendara kembali ke Mokpo.
***
Donghae yang tidak biasanya bangun cukup pagi langsung berlari ke kamar mandi. Mencuci wajahnya dan menyikat giginya. Mencoba mencium aroma mulutnya dengan mengeluarkan nafas mulutnya didepan telapat tangannya lalu mengambil sisir dan menyisir rambut serapi mungkin. Donghae yang seperti biasa tidak memakai baju langsung mengambil kemeja rumahannya dan memakainya. Mengacungkan jempol di depan cermin yang menampilkan dirinya yang tampak keren. Tidak biasanya Donghae begitu di pagi hari. Biasanya dia tidak peduli bagaimana tampangnya jika baru bangun tidur.
Donghae berjalan ke depan jendelanya yang menghadap ke kebunnya. Berusaha membuat wajahnya seperti orang yang baru saja bangun namun tetap terlihat menawan. Seperti sleeping beauty versi pria.
“Annyeo…” teriakan ceria Donghae berhenti saat membuka jendelanya itu.
Donghae menatap bingung tanamannya yang sudah basah. Padahal ini baru jam 7, biasanya Hyunni baru mau menyiram tanaman Donghae jam begini. Tidak ada Hyunni yang biasa menyapanya dengan suara sekeras penyanyi metal.
Donghae heran, sejak pulang dari Seoul Hyunni tampak berubah. Hyunni jarang lagi berteriak sana sini memanggilnya bahkan ia juga sudah jarang mendengar Hyunni mengumpat dan menyumpahinya dan beberapa hari ini, kata-kata seperti gamsahamnida, mianhae dan kata-kata formal lembut lainnya sering keluar dari mulut Hyunni dengan mudahnya.
Jujur Donghae rindu mendengar kata makian dari Hyunni yang sering memanggilnya ungu, diktator dan ikan. Padahal Donghae benar-benar merindukan saat mereka bertengkar kecil selama di kebun anggur.
Hyunni juga terus menghindarinya, jika Donghae mendekati Hyunni, Hyunni akan melangkah menjauh. Jika Donghae memanggil Hyunni, Hyunni akan pura-pura tidak mendengarnya dan setiap Donghae mengerjainya dengan tugas-tugas yang berat, Hyunni hanya menurut tanpa ada protes, biasanya Hyunni akan protes hingga menulikan telinga Donghae seperti biasanya. Tapi tidak ada lagi suara berisik Hyunni. Kebun anggur itu tampak mati tanpa adanya suara Hyunni. Begitu juga Donghae.
Donghae yang kesal hanya bisa mengacak-acak rambutnya yang sudah ia sisir sangat rapi dengan ganas. Mengingat waktu hukuman sebulan Hyunni yang semakin menipis membuat Donghae semakin frustasi dibuatnya. Entah kenapa bisa begitu. Tinggal beberapa hari lagi Hyunni akan bebas dari hukum Donghae dan Donghae takut Hyunni akan pergi begitu saja. Entah kenapa hal itu yang sangat ditakuti Donghae sekarang.
Donghae sekarang sudah memakai jas kerjanya. Layaknya bos besar bersama pegawai dan beberapa tamu kerja, berjalan–jalan mengelilingi kebun anggur. Mendata bagaimana pertumbuhan anggur-anggurnya setiap harinya. Donghae tampak sangat penuh karisma jika sudah fokus dalam perkerjaan. Dia benar-benar menjadi pria tampan kaya raya yang mapan jika terlihat konsentrasi seperti sekarang.
Donghae cukup bangga melihat anggur-anggurnya yang semakin meningkat kualitasnya. Sambil mendengarkan penjelasan data lengkapa tentang kebunnya dari pegawainya yang terus bicara.
Donghae terus tersenyum melihat anggur-anggur itu hingga ia mulai hilang konsentrasinya. Memorinya memutar kembali memori yang pernah ia lalui dan berjalan lalu berhenti disebuah pohon anggur. Disinilah Donghae pertama kali bertemu dengan Hyunni. Saat ia sedang berjaga sendirian saat pegawai lain beristirahat, ia berniat berjaga sendiri setelah mendengar pencurian anggur itu. Dan mujur, di hari pertama ia menjaga sendiri, dia langsung mendapatkan tersangkanya.
Donghae kembali tersenyum bahkan tertawa kecil mengingat kejadian itu. Wajah Hyunni yang ketakutan hari itu benar-benar membuat Donghae terhibur.
“Ada apa, tuan?” tanya pegawainya yang melihat Donghae tertawa kecil sendirian.
“Tidak ada, ayo kita lanjut.”
Tapi langkahnya untuk lanjut melihat pohon anggur yang lain terhenti. Saat sudut matanya mendapatkan sosok gadis yang tengah memetik anggur. Shin Hyunni, dari kejauhan tertawa dan bercanda bersama pegawai ahjumma yang lain. Tawa yang selalu membuat hati Donghae nyaman. Dia terus menatap Hyunni dalam diam dan ekspresi datar yang susah dijelaskan.
Hyunni yang dapat merasakan silaunya tatapan Donghae akhirnya berbalik kearah Donghae yang terus menatap Hyunni. Mereka pun saling menatap bola mata masing-masing dari kejauhan dengan ekspresi yang sulit diartikan dari keduanya. Seperti mereka berdua ingin meluapkan sesuatu pada perasaan mereka namun terhalang sesuatu. Seperti sebuah tembok besar tidak telihat yang berada diantara Hyunni dan Donghae.
Hyunni pun membungkukkan badannya dari kejauhan. Memberikan rasa hormatnya pada Donghae. Membuat Donghae lagi-lagi merasa frustrasi karena dibuat bingung dengan tingkah Hyunni yang bertingkah seperti orang asing padanya.
***
Jam di ruang kerja Donghae telah menunjukkan jam 01.39. Dan Donghae masih berada diruang kerjanya. Mematikan lampunya dan membuka gorden jendela selebar mungkin agar cahaya bulan masuk. Donghae duduk dikursi kerja menghadap jendelanya. Melamun karena tidak bisa tidur. Semua pikirannya menganggunya.
Dia lagi-lagi memikirkan gadis kecil itu.
Donghae ingat betul kenangannya bersama seorang gadis yang suka memakai gaun kecil sederhana. Dengan bodohnya, Donghae melupakan nama dan wajah gadis itu. Di tahun pertama Donghae pindah ke Seoul sangat berat baginya. Dia tidak punya teman, Donghae kecil selalu murung dan hanya menatap keluar jendela kamarnya. Dia merindukan gadis yang sering ia ajak bermain bersama di Mokpo.
Dan seolah tertarik ke masa lalu kembali. Donghae mulai menutup matanya dan mengingatnya dari awal. Gadis kecil yang wajahnya tampak selalu kabur di pikirannya. Selama matanya tertutup, Donghae merasa jika tubuhnya kembali kecil seperti puluhan tahun dulu. Mengingat awal pertama ia melihat gadis itu dan awal pertama kenal dengan gadis itu.
Awal Donghae melihat gadis itu saat ia kelas 3 sekolah dasar. Donghae yang tengah meminta izin keluar kelas untuk pergi ke toilet tidak sengaja melewati kelas 2.  Dia terhenti saat mendengar suara nyanyian dari kelas 2 itu. Donghae pun mengintip dan mendapati seorang gadis kecil tengah menyanyi merdu di depan kelas. Saat itu Donghae kecil langsung tertarik pada gadis kecil itu itu. Bagi Donghae kecil, gadis kecil itu adalah gadis yang paling cantik dan manis yang pernah dilihat Donghae. Semenjak itu disekolah, Donghae selalu diam-diam mengikuti gadis kecil itu. Dan Donghae cukup tertegun melihat bahwa tidak ada yang mau bermain bersama gadis itu karena ia gadis miskin. Gadis itu selalu makan di taman sekolah, sendirian. Dengan bekal yang seadanya.
Aku akan membuatnya menjadi temanku selamanya. Ucap Donghae kecil hari itu. Berjanji dengan pasti. Janji yang ia buat dengan dirinya sendiri.
Donghae yang tahu ternyata rumah mereka berdekatan, mulai datang setiap hari ke rumah gadis itu. Mengajaknya main tapi gadis itu selalu menghindari Donghae kecil. Seakan takut berteman dengan Donghae tapi Donghae tidak pantang menyerah, dengan bantuan nenek dan ibu gadis kecil itu. Donghae berhasil membuka hatinya untuk berteman dengannya. Donghae pikir gadis itu adalah gadis pendiam tapi ternyata Donghae salah, gadis itu jauh lebih menyenangkannya. Dia ceria, baik dan selalu membawa tawa pada Donghae kecil.
Dan hari itu pun datang. Donghae kecil berjanji membuatkan kebun anggur pada gadis kecil itu. Mungkin gadis kecil itu yang telah beranjak dewasa sudah melupakan Donghae. Buktinya! Dia tidak mencari Donghae.
Tanpa Donghae sadari, memikirkan masa kecil bahagianya, membuatnya perlahan tidur di sofa kerjanya dan masuk ke alam mimpi indah lainnya. Tidur seperti bayi yang sangat nyenyak. Dan sebulir air mata jatuh disudut salah satu mata Donghae.
“Aku ingin kembali ke masa itu.” Gumamnya dan akhirnya benar-benar tertidur.
***
Donghae sudah muak! Dia bulatkan tekadnya untuk membuat Hyunni bicara hari ini. Mengingat ini hari terakhir Hyunni untuk hukumannya. Ia tidak mau mengakhiri hari ini begitu saja.
Donghae berjalan cepat masuk ke kebun anggur mencari sosok gadis sederhana yang mungkin sedang merawat anggur-anggurnya.
“Shin Hyunni!” panggil Donghae yang jelas sangat terdengar. “Shin Hyunni!”
Lagi-lagi Hyunni melakukannya, berpura-pura tidak mendengar Donghae. Bahkan saat Donghae berjalan cepat kearah Hyunni, Hyunni juga langsung berbalik menjauh dengan kecepatan langkah yang hampir sama. Gadis itu terus berusaha menghindari Donghae. Donghae yang sudah kesal melewati batasnya akhirnya berlari dan Hyunni yang mendengar langkah lari Donghae langsung juga berlari menjauh. Terlihat jelas bahwa Hyunni sengaja menghidarinya. Tapi sayang, kaki Donghae lebih panjang dan cepat dari pada Kaki Hyunni.
“ADA APA DENGANMU?!” teriak Hyunni yang ternyata sudah mengeluarkan air matanya saat Donghae langsung meraih lengan Hyunni.
“HARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU, SHIN HYUNNI!” mereka pun mulai perang urat syaraf kemudian terdiam masing.
“Aku masih banyak pekerjaan… lepaskan aku mmmpptthh….”
Hyunni hendak pergi lagi tapi Donghae kembali menarik lengan Hyunni lebih keras untuk mendekat dengannya.
Dan beginilah sekarang akhirnya, Donghae meluapkan kekesalan dan kebingungannya dengan mencium dan melumat bibir Hyunni dengan paksa. Hyunni terus memberontak membuat air matanya semakin berlinang. Memukul bahu dan dada Donghae. Tapi Donghae tidak perduli, dia terus mencium bibir Hyunni secara sepihak lagi hingga Hyunni mulai capek dan berhenti memberontak. Membiarkan bibrnya dikuasai sepenuhnya oleh Donghae. Bahkan dengan perlahan-lahan, Hyunni mulai membalas ciuman Donghae. Sekarang mereka malah terbuai dengan ciuman masing-masing. Menolak untuk berhenti, ciuman yang disaksikan ribuan anggur.
“Shin Hyunni! Ada apa denganmu sebenarnya?” tTanya Donghae yang penuh kepasrahan dan putus asa dalam nadanya. “Kau menyiksaku dengan sikap dinginmu.”
“Aku tidak tahu.” jawab Hyunni dengan nada yang sama. “Bagimana denganmu! Kenapa kau menciumku?!”
“Itu karena kau tidak bisa diam!”
Hyunni semakin kecewa mendengar. “Bisa tidak kau berhenti mempermainkanku!”
Akhirnya Hyunni yang kesal karena merasa kembali dipermainkan, melangkah menjauh dari Donghae yang tampak terdiam. Tidak bisa melakukan apa-apa. Kata-kata Hyunni terus mengiang ditelinganya.
Bagimana denganmu! Kenapa kau menciumku?!
 Pertanyaan itu terus terulang-ulang seperti kaset di kepala Donghae. Donghae hanya bisa menatap tanah di depannya dengan tatapan kosong. Dia merasa bersalah telah menjawab pertanyaan Hyunni itu dengan bohong, bukan jawaban sejujurnya.
Bagimana denganmu! Kenapa kau menciumku?!
“Aku juga tidak tahu.” Gumam Donghae menjawab pertanyaan di kepalanya setelah Hyunni menghilang dari pandangannya.
***
Hari ini Hyunni bebas dari Hukuman Donghae. Dia tidak harus lagi bekerja di kebun Donghae dan bertemu dengan Donghae. Dia sudah tidak sanggup melihat wajah Donghae lagi. Kenapa? Dia juga tidak tahu. Dia merasa dia tidak pantas ada didekat Donghae.
Di pagi yang segar Hyunni pun berjalan-jalan di lingkungannya, menikmati angin pagi. Hyunni berniat pergi ke tempat favoritnya. Rumah pohon untuk umum yang masih berdiri kokoh di tempatnya seperti biasa. Tempat dimana ia dan Donghae kecil sering bermain bersama.
“Ahjussi. Hati-hati!” teriak dua anak kecil yang tengah mendongak ketas sebuah pohonya yang cukup besar tapi Hyunni mengabaikannya. Pasti anak-anak itu sedang menyuruh seseorang mengambil buah di pohon itu.
“Yak! Berhenti memanggilku ahjussi, tengik! Aku ini Hyung!” teriak suara yang akrab di telinga Hyunni. Suara yang berasal dari atas pohonnya yang dilihat dua anak kecil itu. “Panggil aku Hyung! atau aku tidak akan mengambilkan layangan ini.” Ancam Donghae lucu pada anak-anak itu.
“Ne, hyung.”
Hyunni yang tahu bahwa seorang pria yang tengah berusaha mengambil layangan yang tersangkut di atas pohon itu adalah Lee Donghae, membuatnya segera berlari untuk memastikannya. Dan benar saja, Donghae tengah berusaha meraih layangan yang cukup tinggi itu.
Hyunni pun seketika itu langsung terbayang kejadian 20 tahun yang lalu. Donghae jatuh dari atas pohon apel dan terus menangis dan bahkan lutut Donghae berdarah hari itu. Hyunni benci dengan Donghae yang merasa kesakitan. Hanya saja yang membuatnya sangat cemas karena pohon itu sangatlah tinggi dan juga besar. Sangat besar. Donghae bisa saja patah tulang jika terjatuh.
“Apa yang dilakukan bocah itu? Dia pemanjat yang buruk! Dia akan jatuh lagi.” gumam Hyunni frustrasi.
“HEY! Lee Donghae! Turun kau sekarang!” perintah Hyunni yang langsung membuat Donghae berbalik turun. “Lee Donghae, Kumohon turun sekarang! Kau akan jatuh lagi.”
Donghae cukup bermekaran hatinya saat melihat ekspresi Hyunni yang seperti mencemaskan. Donghae tahu perasaanya tidak bertepuk sebelah tangan. Perasaan yang ia sadari setelah mencium Hyunni kemarin dan karena kehilangan fokus menginjak dahan pohon itu. Akhirnya yang ditakutkan Hyunni benar-benar terjadi. Donghae jatuh dari atas pohon tinggi itu. Cukup mengerikan melihatnya hingga dua bocah itu berteriak dan menutup mata mereka.
“DONGIE AH!!!” Donghae tertegun mendengar teriakan tiba-tiba Hyunni itu.
Waktu serasa berjalan sangat lambat seakan sedetik adalah semenit. Donghae menatap Hyunni yang baru saja berteriak memanggilnya dengan tidak percaya. Donghae merasa bahwa dia hanya melayang di udara. Jatuh sangat lambat seperti bulu dan dia menatap wajah Hyunni dan tiba-tiba penglihatannya berubah, Hyunni berubah menjadi kecil seperti anak yang berumur 8 tahun di mata Donghae, namun kembali lagi kepenglihatan nyatanya.
Donghae perlahan menutup matanya. Mengetahui sebentar lagi ia akan membentur tanah dan rasa sakit akan menyelimutinya.
“Hyunnie-ah. Aku menemukanmu.” gumam Donghae yang mengingat masa lalu kemudian semua berubah menjadi hitam.
To be continue…
***

Fc Populer:

Andi Jaya Saputra