Sweet of Purple Part 2

0
ff nc lee donghae
Author :
Tittle : Sweet of Purple (Chapter 2) 
Category : Romance, Comedy, Project 2th FNC 
Cast : – Lee Donghae. – Shin Hyunni
.Other Cast : – Jung Seori – Hyunni’s mother – Hyunni’s Grandmother – Find by yourself 
Hyunni melamun sambil memetik buah anggur. Tangan sibuk memetik angur-anggur itu sedangkan isi kepala sedang melayang bebas entah kemana. Tatapan kosong dengan mulut setengah terbuka membuatnya tampak seperti orang idiot mengingat kejadian beberapa malam lalu yang menghantuinya setiap hari.

Flashback…
“Kau…” Donghae menelan ludah, gugup tidak bisa melanjutkan kata-katanya. “Harus menjadi tunanganku dan ikut denganku ke Seoul besok!”
“M…mwo?” tanya Hyunni tak percaya karena ia baru saja terasa tersabar petir. Apa Donghae telah mengingat dirinya? “Apa kau sedang melamarku?”
“Aniyeo!” ralat Donghae cepat. “Begini biar kujelaskan padaku… Aku mendapatkan email, Sebuah undangan untuk reuni sekolah menengahku sabtu malam jam 9.”
“Lalu apa hubungannya itu denganku?” tanya Hyunni dengan kesal karena ia pikir Donghae telah mengingatnya namun ternyata tidak.
“Aku ingin kau menjadi tunanganku selama disana.”
“Shireo!”
“Ini bukan permintaan.” sahut Donghae tidak kalah ketus. “Ini perintah.”
“Shi…reo!” gigih Hyunni.
“Akan kutelepon polisi.” Ancam Donghae yang mengeluarkan ponsel genggamnya di depan mata Hyunni membuat Hyunni seketika itu membulatkan matanya. Jujur, jauh di dalam hati Hyunni. Dia menyukai Donghae seperti dulu dan tidak berubah. Donghae yang merupakan pria satu-satunya yang selalu membuatnya merasakan puluhan emosi membuat cinta kecil tumbuh di hatinya. Dan jauh didalam hatinya juga, ia sangat ingin menjadi tunangan Donghae, namun tidak begini! Menjadi tunangan palsunya untuk sehari.
“ARASSEO!” teriak keras Hyunni tepat di telinga Donghae karena kesal. Bukan kesal karena diancam melainkan kesal karena merasa dipermainkan. “Aku akan melakukannya! Diktator ungu!”
Flashback end…
PLETAKKK!
Jitakan di pucuk kepalanya berhasil membuatnya berteriak dan meringis. Dia berbalik berniat balas orang itu tapi mengurungkan niatnya. Padahal kepalan tangannya sudah siap menancap di kepala pria itu namun ia urungkan karena mendapatkan death glare dari pria itu, membuatnya hanya bisa tertunduk.
“Jangan lupa besok.” Donghae mengingatkannya. “Kita harus ke Seoul pagi-pagi karena acaranya besok malam.”
“Ne.” sahutnya menurut seperti kerbau.
Donghae pun berbalik meninggalkan Hyunni yang menjalankan tugasnya.
“Dasar diktator jelek! Aku harap semoga kau jatuh karena tersandung batu.” umpat Hyunni sambil melayangkan tinju seakan-akan ia ingin memukul wajah sahabat kecilnya itu. Namun saat kepalannya tengah seolah ingin memukul Donghae. Donghae langsung berbalik menatap tajam Hyunni. dan seketika Hyunni kaget dan membuka kepalan tangannya lalu melambai-lambaikannya dari jauh. Wajah penuh dendamnya berubah menjadi wajah penuh senyuman. “Hati-hatilah berjalan, Bos! ada banyak batu besar disini, kau akan tersandung!”
Donghae kemudian mengacungkan telunjuknya tepat mengarah ke hidung Hyunni dari jauh. Memberikan peringatan dan kode keras pada Hyunni. “Awas jika kau menyumpahiku dan mengumpatku dari belakang!” ancam Donghae seakan tahu apa yang sedang Hyunni lakukan. “Kau akan kena sendiri batunya jika kau terus menyumpahiku.” Donghae kembali berjalan menjauh membelakangi Hyunni.
“Kau pikir aku percaya!” Hyunni kembali mulai berumpat.
Hyunni pun akhirnya segera pergi karena selesai memetik semuanya dan dia tidak  mau kedapatan oleh Donghae lagi bahwa ia menyumpahi dan mengumpat bosnya sendiri. Namun  saat berjalan, kaki Hyunni menyandung batu besar dan membuatnya jatuh tersungkur. Hingga semua anggur jatuh ketubuhnya dan dipenuhi warna ungu karena sari anggur. Tidak  sadar bahwa dia baru kena batunya sendiri.
“Apa aku bilang! Berhenti menyumpah, kau akan kena batunya.” Teriak Donghae dari jauh yang masih berjalan tanpa membalikkan badannya sedikit pun. Bisa terdengar kekehan penuh kemenangan dan ejekan dalam kalimatnya itu. “Jangan menyia-nyiakan anggur itu! Anggur itu lebih berharga jadi kalau mau jatuh jangan ajak anggurku, cukup kau saja yang jatuh.”
Hyunni hanya bisa meringis karena jatuh tadi. Tulangnya serasa remuk semua. Dan dia kesal karena Donghae malah pergi dengan tertawa bukannya membantunya.
“Dasar bocah tengik! Aku harap semoga kau…” dengan refleks kedua tangan Hyunni seakan punya pikiran sendiri dan menutup mulut Hyunni. Takut jika sumpah yang keluar dari mulutnya kembali mengenai dirinya sendiri lagi. Sehingga hanya suara kesal campur meringis yang keluar dari bibir Hyunni.
Donghae hanya bisa tertawa, dia selalu saja merasa bahagia did ekat Hyunni yang selalu membawa tawa dan kebahagian kepadanya sejak mereka bertemu. Entah kenapa Donghae merasa sangat cepat akrab dengan Hyunni padahal mereka baru saja bertemu beberapa minggu yang lalu.
Sungguh Donghae sangat malas bertemu teman-teman SMA. Dan dia sangat tahu Jung Seori akan datang bersama tunangannya dan agar tidak malu karena kalah dari Seori dan juga agar Seori tidak  terus mengejarnya. Dia harus membuat Hyunni menjadi tunangannya. Donghae muak dengan Seori yang terus mengejarnya padahal Seori sendiri sudah punya kekasih. tapi dengan Hyunni, mungkin bisa menjauhkan Seori darinya.
“Baik-baiklah disana.” Sahut nenek Hyunni. “Dengarkan apa kata Donghae.”
“Jangan repotkan Donghae.” Tambah ibu Hyunni. Hyunni bingung. Disini, Dia atau Donghae anak dan cucu mereka. Kenapa kata-kata mereka lebih mementingkan dan mengcemaskan Donghae.
“Ne. ahjumma, halmeoni.” Bungkuk Donghae sopan tidak mengenal kasta. Hanya mengenal umur dan Donghae tahu dia harus menghormati orang yang jauh lebih tua walaupun derajat Donghae jauh lebih tinggi dari mereka. “Kaja. Shin Hyunni.”
Hanya selang lima menit mobil berjalan. Kepala Hyunni sudah sempoyongan karena sudah jatuh tidur. Kesana kemari jatuhnya kepala Hyunni mengikuti laju dan belok mobil. Donghae yang melihat itu merasa benar-benar kesal. Dia yang menjadi tidak  nyaman melihat Hyunni yang tampak seperti mayat. Serasa kepalanyalah yang mau patah. Donghae akhirnya memberhentikan sejenak mobil lalu salah satu tangan Donghae pun mencari bantal leher untuk Hyunni karena jika Hyunni begitu terus, dia tidak akan tenang mengemudi. Donghae memasangkan bantal itu ke leher Hyunni agar lehernya tidak  sakit jika bangun nanti. Namun setelah memakaikannya, Donghae malah tertegun.
Dia menatap wajah Hyunni yang berjarak sangat dekat. Entah, setiap kali melihat wajah itu, Donghae selalu terpesona bahwa ternyata Hyunni gadis yang sangat manis dan cantik, rasa bahagia menyelimuti hatinya menatap wajah itu dan merasa seakan ada sebuah rasa rindu yang terobati setelah melihat wajahku. Seakan Donghae sudah lama terikat dengan gadis itu.
Chup…
Donghae yang sudah melepaskan kendali otak dan logikanya berganti menggunakan hatinya yang telah menggerakkan wajah Donghae untuk mencium bibir gadis yang tengah tidak  sadar. Rasa manis bibir Hyunni yang seperti rasa anggur membuat Donghae benar-benar terlena untuk terus menciumnya dan menutup matanya menikmati rasa manis itu. Namun pergerakan dari Hyunni yang tampak terganggu membuat Donghae sadar dan segera melepas tautan bibir sepihaknya.
“Apa yang kulakukan?!” Tanya Donghae pada dirinya sendiri, kaget dengan perbuatannya sendiri. Lalu ia berganti menatap lembut Hyunni dengan tatapan pasrah dan penuh penasaran. “Siapa kau sebenarnya?”
Hyunni perlahan membuka matanya. Dan yang pertama muncul dipenglihatannya adalah Donghae yang menatapnya dengan senyuman konyol yang aneh.
“Kau sudah bangun, tuan putri? Kupikir kau sudah mati.”
“Kita sudah sampai?” tanya Hyunni yang kemudian meraba lehernya. “Apa ini?”
“Bantal leher untuk tidur. Awalnya aku ingin mengelem seluruh kepalamu dengan selotip di kursi mobil tapi sayangnya aku lupa bawa selotip dan hanya itu kupunya.” Candanya seperti pembunuh bayaran yang mengancam korbannya secara perlahan lalu keluar dari mobil dengan wajah sinis yang mematikan. “Ayo! kita harus mencari baju.”
“Dasar pria gila! Apa dia bersaudara dengan boneka Chucky?” Gerutu Hyunni saat bersiap keluar dari mobil.
“Aku mendengar itu!” teriak Donghae kesal dari luar yang sudah mulai memasuki butik.
“Aku tidak  bilang apa-apa!” balas Hyunni yang melepaskan bantal dari lehernya dan kembali bergumam dengan gerutunya. “Huh, telinganya bahkan seperti corong!”
“YAK! Aku juga dengar itu!”
“Berhentilah mengumpatku dan keluar! Kita hampir telat!”
Hyunni hanya bisa menghelas nafas. Dia benar-benar kalah lagi jika berdebat dengan Donghae.
“No!” itu adalah kata tidak dalam bahasa inggris yang ketujuh kali yang keluar dari mulut Donghae selain jelek, ganti, dan yang lain sejak berada di butik terkenal dan mewah itu.
Mungkin bagi Donghae melelahkan di duduk di sofa depan ruang ganti dengan mengatakan kata yang hal sama berulang-ulang. Namun orang yang lebih lelah adalah Hyunni. Ini sudah ke 18 kalinya ia menganti gaun! Hampir semua gaun yang ada disana sudah ia coba dan tidak  ada satupun yang Donghae suka untk lihat. Sedangkan Donghae, sudah siap dengan tuxedo dan celana hitam mengkilat dengan kemeja putih yang ditambah dasi kupu-kupu hitam. Membuatnya sangat tampan malam ini.
Donghae merasa ngantuk dan menutup matanya sebentar hingga Hyunni keluar.
“Apa kau sedang mengikuti adegan di film Pretty Woman? Kumohon kau harus menyukainya.” Mendengar suara Hyunni yang sudah berganti. Untuk pertama kalinya Donghae mengacungkan jempol melihat gaun putih bersih tanpa lengan yang panjang di atas lutut Yeojung membuat si pemakai tampak elegan.
Sambil menunggu Hyunni keluar dari ruang make up. Donghae terus melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan bahwa ia sudah telat hampir sejam. Disana pasti sudah banyak orang.
“Kaja, Lee Donghae.” Terdengar suara dari belakang Donghae. Suara Hyunni yang telah selesai didandani.
Donghae berbalik dan tertegun melihat Hyunni. Melihat berpenampilan seperi membuatnya seperti melihat sebuah bayangan. Seorang gadis kecil yang juga dulunya suka memakai gaun. Hanya saja gaun yang sering ia pakai adalah gaun rumahan dan Donghae masih tidak ingin siapa gadis kecil itu. Lalu apa hubungan dengan Hyunni. Hyunni sudah mengikat rambut atasnya dan menggerai sisa rambut hitam bawahnya yang sedikit bergelombang.
“K…Ka…kaja.” sahut Donghae gugup terbata-bata.
“Ada apa wajahmu? Kau seperti setan yang melihat setan.” ucap pedas Hyunni.
“Pesona yang menakutkan! Tidak  peduli secantik dan seanggun apa gadis anggur itu berpenampilan, mulutnya tetap saja tajam.” gumam Donghae.
“Kenapa Donghae lama sekali?!” gerutu Eunhyuk yang sudah ada di hotel tempat reuni itu bersama siwon. “Apa dia kabur?”
“Tidak mungkin.” Balas Siwon. “Donghae orang yang tidak  mau kalah! Dari dulukan dia memang selalu terlambat.”
“Siwon-ah, Itu Jung Seori.” Eunhyuk menunjuk seorang gadis yang sangat elegan dan mewah tengah berbincang bersama gadis yang lain. “Mana tunangannya? Kenapa ia datang sendiri.”
Seori gadis yang berwajah cantik itu dapat merasakan seseorang membicarakannya langsung berbalik ke arah Eunhyuk yang tengah menunjuknya dan Siwon tengah menatapnya, tatapan mereka menyilaukan sehingga Seori menyadarinya. Tatapan menyelidik mereka membuat Seori berjalan kearah mereka. Siwon hanya bisa menjitak kepala Eunhyuk yang terlalu bodoh.
Melihat Seori yang terus berjalan kearah mereka membuat mereka salah tingkah dan mengalihkan perhatian mereka. Berpura-pura saling berbincang. Tatapan intimidasi tajam dari Seori pun membuat mereka berdua gemetaran. Siwon kemudian berpura-pura menelpon pacarnya dan Eunhyuk segera menarik Songin, tunangannya yang tengah asik berbincang dengan temannya
“Annyeong oppadeul.” Sapa Seori dengan nadanya yang khas. Nada seperti seorang gadis sombong.
“Eoh? Seori-ah! Kau juga datang!” sapa Eunhyuk salah tingkah.
“Aku tahu kalau oppa tahu aku datang.” Seori kemudian menatap tajam Siwon yang masih berpura-pura menelepon. “Hentikan siwon oppa! Aku tahu kau bersandiwara.”
Dengan cengiran kuda ia memasukkan kembali ponsel ke sakunya dan menyapa Seori.
“Donghae oppa, Odisseo?”
Donghae dan Hyunni sudah sedari tadi tiba di depan hotel itu sedang membuat rencana di dalam mobil. Agar mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sesungguhnya atau lebih tepatnya rencana Donghae, dan Hyunni hanya mendengar dengan terpaksa.
“Ok! Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri tapi hilangkan sifat jahilmu… sisanya serahkan padaku… kita baru saja ketemu dan langsung tunangan karena kita jatuh cinta pada pandangan pertama… dan kau harus terus menempel denganku. Arasseo?” Hyunni mengangguk malas mengingat perkerjaan menjengkelkannya itu.
“Arasseo?!” Tanya Donghae lagi.
“Ne!”
“Hey! Itu Donghae!” kata Eunhyuk yang membuat Siwon dan Seori langsung membalikkan kepala mereka kearah pintu utama yang ditunjuk Eunhyuk. “Whooahh… siapa itu? Dia cantik sekali! Dia juga sangat manis.” Sahut Eunhyuk yang mengeluarkan tampang menjijikkannya. Songin yang melihat itu pun langsung menutup pandangan Eunhyuk dengan nampan minuman yang kosong lalu menatap Eunhyuk dengan ganas.
“Siapa pun itu. Pasti dia punya hubungan istimewa dengan Donghae.” Sahut Siwon.
Jung Seori hanya menatap Donghae menyelidik dan tidak  dipungkiri, sebuah api dapat terlihat di bola matanya karena cemburu dan juga marah.
“Hey Lee Donghae!” panggil Siwon yang langsung mendapat respon dari Donghae dan Hyunni. Donghae sadar, ada Seori disana. Good timing!
“Annyeong!” sapa Donghae berusaha tampak tenang dan tidak  terlalu memperdulikan Seori yang menatapnya tajam. Dia tahu, jika memberikan sedikit perhatian pada yeoja itu, Seori akan langsung memeluknya tiba-tiba. Sedangkan Hyunni hanya bisa kikuk memahami situasinya sekarang. Hanya bisa membungkuk untuk memberi salam.
“Nugu?” tanya Eunhyuk.
“Ah dia? Ini Shin Hyunni! Sebentar lagi dia akan menjadi adik ipar kalian.”
“Jinja?!” kaget semuanya.
“Yeoppeo… kau pintar mencari gadis.” asahut Siwon.
“Dia sangat manis Donghae-ah.” ucap Songin, Tunangan Eunhyuk. Lalu Songin berbalik ke Hyunni dan menatapnya ramah. “Senang berkenalan denganmu! Panggil saja aku Songin eonnie.”
Hyunni sekali lagi dengan bodohnya malah membungkuk kecil dengan cepat. Yang membuatnya risih adalah tatapan gadis yang bernama Jung Seori itu. Seori terus menatap Hyunni dari kaki hingga kepala seperti mencari sebuah keganjilan dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun tatapan Seori selalu berubah 360 derajat jika menatap Donghae. Hyunni tahu tatapan itu, karena Hyunni dari dulu selalu menatap Donghae dengan tatapan yang sama. Hanya saja Donghae tidak  menyadari tatapan apa itu.
Seori akhirnya menyodorkan tangannya yang lentik dan lembut yang dibalas dengan tangan Hyunni.
“Senang berkenalan denganmu Shin Hyunni ssi! Namaku Jung Seori, mantan kekasih sekaligus kekasih pertama Donghae… Kami putus karena aku selingkuh.” Mendengar itu, Donghae hanya bisa kesal di dalam hati karena pasrah. Siwon, Eunhyuk dan Songin ternganga tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Tidak  menyangka Seori akan senekat itu mengibarkan bendara perang pada Donghae melalui Hyunni.
Hyunni tertegun. Kini dia sadar, apa tugasnya disini. Donghae, pria yang telah ia sukai sejak kecil hingga sekarang, ternyata hanya menggunakannya untuk balas dendam. Dia pasti ingin menunjukkan pada Seori bahwa Donghae sudah melupakannya. Bodohnya dia tidak  menyadari hal itu. Hal itu membuat wajah cerianya tiba-tiba saja murung selama acara itu. Dia hanya tampak mengekor pada Donghae untuk menyapa teman-teman sekolahnya. Ini kan yang Donghae mau? Hanya senyum pada semua teman Donghae dan mengiyakannya segala perkataan Donghae.
“Lee Donghae…”  panggil Hyunni yang sedang bersama teman-temannya. “Maksudku oppa! Aku mau ke toilet dulu.”
“Kau mau kutemani.” Hyunni serasa ingin muntah mendengar kata-kata lembut Donghae. Biasanya Donghae akan menjitaknya sana-sini tapi sekarang, Donghae bertingkah sangat manis seperti anak anjing yang tidak  mau jauh dari tuannya. Dia benar-benar ahli dalam bersandiwara.
“Dwaesseoyeo. Aku bisa sendiri.”
“Ne. pergilah jagi ah.”
Hyunni sebenarnya tidak  pergi ke toilet. Melainkan ke atap Hotel, satu-satu tempat yang sepi yang nyaman buat berpikir. Hyunni kagum melihat gedung-gedung yang menjulang serta cahaya kerlap kerlip yang menyilaukan mata. Sangat indah.
Hyunni kembali menghela nafasnya. Sudah cukup sakit hati Hyunni sebagai tunangan palsu Donghae, sekarang lukanya bertambah sakit mengetahui bahwa Donghae hanya menggunakannya sebagai alat pembalasan dendam. Cukup menyakitkan tapi jika mengingat masa kecil bahagia mereka. Hyunni kembali tersenyum layaknya orang labil yang masih tidak menentu emosinya.
Wajah Donghae kembali muncul di pikirannya. Wajah Dongie dan Donghae. Jika disuruh memilih, Hyunni hanya ingin kembali di masa kanak-kanaknya yang dimana Donghae sangat perhatian padanya. Dia bahkan masih ingat, bagaimana Donghae jatuh dari atas pohon hanya untuk mengambil Hyunni apel karena hari itu Hyunni bilang ingin makan yang manis-manis. Dan tanpa kata-kata, Donghae langsung berlari dan memanjat pohon apel yang cukup tinggi untuk badan seukuran mereka saat itu.
Donghae selalu melakukan apa saja untuk Hyunni saat itu.
Tangan Hyunni hanya bisa mencengkram pagar besi atap itu jika mengingat apa yang terjadi hari ini.
“LEE DONGHAE BABO!!!” teriaknya di hadapan kota Seoul mengingat tidak akan ada yang mendengarnya, membuatnya semakin semangat untuk berteriak terus hingga tenggorokannya sakit. “DIKTATOR UNGU!!! PRIA GILA!!! WAJAH IKAN!!! LEE DONGHAE  KAU BABO!!!”
“Kau sudah puas?” sahut suara yang mulai mendekat. Hyunni kaget mengetahui si pemilik nama muncul tiba-tiba dan mendengar semuanya. “Kenapa kau suka sekali mengumpat dan menyumpahiku? Apa kau punya dendam keluarga yang kesumat padaku?”
Wajah Hyunni kembali menampilkan aura gelap. Murung.
“Mian.”
“Ada apa denganmu?” tawa Donghae melihat tingkah tidak  biasa dari Hyunni. “Ini pertama kalinya dalam sejarah kau berbicara lembut dan mengatakankan kata mian.”
Jujur, Hyunni hanya ingin berlari untuk menghindari Donghae. Entah kenapa air matanya sangat berat dan bisa meledak kapan saja. Akhirnya Hyunni berjalan menjauh meninggalkan Donghae yang bingung.
“Aku akan mengambil minuman untukmu… Tunggu sebentar disini.” alasan Hyunni yang untuk menghindari Donghae sebentar.
“Ada apa dengannya?” gumam Donghae.
Beberapa menit kemudian, Hyunni berada di tangga lebih tepatnya di depan pintu ke atap. Dia memegang dua gelas yang telah ia ambil di tempat reuni untuk dia dan Donghae di atap. Dia sebenarnya masih butuh waktu yang cukup untuk menghindari Donghae. Tapi ia takut, jika pergi lebih lama, Donghae akan curiga padanya.
Dengan mengambil napas panjang, Hyunni membuka pintu itu dengan berusaha menampilkan wajah cerianya seperti biasa. Benar! Hyunni hanya perlu berpura-pura ceria seperti biasa.
“Hey! Ikan Lee! Aku bawa Wine kesuka…”
Kata-kata Hyunni terhenti. Tenggorakannya sudah tercekat tidak  bisa mengeluarkan kata-kata lagi karena terhalang sesuatu di tenggorokannya setelah melihat sebuah adegan dari jauh di atas atap itu. Lee Donghae dan Jung Seori tengah berciuman mesra di depan sana.Saat itu juga air mata Hyunni menetes makin lama makin banyak dan cepat jatuhnya. Jatuh tepat masuk ke dalam Wine kesukaan Donghae.
Hyunni pergi dari atap meninggalkan kedua manusia yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka. Pergi dengan air mata yang berlinang. Air mata dari hatinya. Donghae sudah terlalu banyak menyakiti Hyunni dan Hyunni sudah muak sekarang.
To be continue…
***
%d blogger menyukai ini: