I’m not Sweet Anymore 2 : The Princess Without Her Crown – END

0
Taemin dan Minho kini berada di lorong rumah sakit, keduanya terdiam tidak saling mengobrol. Minho mungkin juga menunggu waktu yang tepat agar bisa berbicara dengan Taemin yang nampaknya masih shock menerima perlakuan Sulli yang telah melemparnya dengan majalah dan meneriakinya “BAJINGAN”.

Beberapa saat kemudian, Krystal terlihat keluar dari ruangan Sulli, ia langsung berjalan cepat menuju ke arah Taemin. Dengan penuh emosi ia menghampiri Taemin, namun tubuhnya langsung ditahan oleh Minho.
“Lepas Ho! Ini orang pasti tahu sesuatu mengenai Sulli!” ujar Krystal kesal ia melototi Taemin.
“Soo Jung sabar… sabar…” ucap Minho terus menahan Krystal yang nampaknya ingin  memukul Taemin.
I’m not Sweet Anymore 2 : The Princess Without Her Crown
[ 17+ | AU | Romance]
 I’m not Sweet Anymore 2 : The Princess Without Her Crown
Cast :
Sulli , Taemin , Krystal, Minho, Jaejoong, Taeyeon, Park Gija(oc)
Park Gija adalah karakter dari serial drama Style. Disinipun saya memakai nama ‘Style’ sebagai sebuah Majalah Fashion.
Warn :
NC-17 rating can be based on violence, sex, aberrational behavior, drug abuse or any other element that not suitable for children.
Harap memperhatikan rating umur Fan Fiction ini karena banyak penggunaan bahasa dan tulisan yang tidak sesuai untuk di bawah umur tersebut.
Author Message :
Part kedua sekaligus terakhir dari mini fanfiction. Penasaran kan? apa yang terjadi dengan Sulli sesungguhnya? Lalu kenapa Taemin disebut Bajingan oleh Sulli? Simak saja kelanjutannya!
===
“Maaf, pertama-tama saya perkenalkan diri saya dulu, nama saya Lee Taemin… terakhir saya bertemu Sulli hanya untuk mengantarnya kemarin malam sekitar jam 11 malam ke sebuah pesta di apartement mewah… dia bilang kalau itu pesta yang diadakan kantornya untuk menyambut salah satu mantan editor mereka… selebihnya aku tidak melakukan kontak lagi dengan Sulli, mengetahui dia dirawat pun dari satpam apartement yang menceritakan kalau ia masuk rumah sakit karena keracunan gas… Dan… saya juga baru mengenal Sulli baru dua harian ini saja…” ujar Taemin sambil menunduk, dihadapannya ada Krystal yang masih dipeluk oleh Minho.
“Du..Dua hari?” Minho terkejut dan matanya banyak berkedip seakan benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru diucapkan Taemin.
“Aish… Sulli… lagi-lagi dia… ish… benar-benar deh itu anak…” ucap Krystal.
“Lagi-lagi?” tanya Taemin yang mempertanyakan ucapan Krystal.
“Gini deh ya, bukan maksud saya mau ngomongin Sulli dibelakang… tapi Sulli punya Bad Habbit yang menyebalkan… dia memang cantik… banyak orang mendekati dia… tapi sekalinya dia melihat pria tampan dan berduit pasti dia kerjain… mungkin kamu itu salah satu korban dia…” ucap Krystal sambil menggeleng.
“Tal… tal.. udah ah jangan ngomongin orang…” bisik Minho, Krystal hanya mengangguk.
Anjing beneran aja apa yang gw dan Lee Joon takutin. Si Sulli benar-benar cewek matre. Dan gobloknya gw masih percaya kalau dimanjain bisa gw jinakin dan bisa gw ajak main di atas ranjang.
Taemin mendengus iapun bangkit berdiri, “Kalau begitu maaf untuk hari ini, maaf jika saya sudah membuat kekacauan…” nada suara Taemin nampak sedikit berubah. Ia segera membungkuk dan meninggalkan Minho dan Krystal.
Dengan raut wajah yang penuh dengan kekesalan terhadap Sulli, Taemin membelah jalanan malam Kota Seoul dengan motornya. Meliuk-liuk di beberapa tikungan dan menyalip puluhan kendaraan. Ia nampak sedang menumpahkan segala kekesalannya dalam mengemudikan motor itu.
Hingga akhirnya Taemin kembali ke apartementnya.
===
Seseorang tiba di dalam apartement yang cukup gelap, tak ada satu lampupun menyala.. Sambil menggerutu karena ruangan yang gelap sosok itupun meraih stop kontak dan menyalakan lampu apartement itu.
“HUARGH!!!” Lee Joon terkejut begitu lampu apartement menyala.
“Anjir ngagetin aja lo! Kalau sudah pulang kenapa tidak menyalakan lampu?” tanya Lee Joon sambil mengelus-elus dadanya dan membuka sepatunya.
Taemin terdiam, ia duduk dikursi sofa dengan pandangan yang lurus menatap ke arah televisi yang berada di depannya. Tangannya memegang remote TV namun ia tidak menyalakan TV itu.
“Udah makan blom lo Min? nih gw tadi beli donat…” ucap Lee Joon menaruh bungkusan di atas meja makan. Namun Taemin tidak bergeming.
“Heh! kayak orang kesambet aja daritadi diem terus….?” Lee Joon menepuk bahu Taemin dan duduk disamping Taemin.
“Gimana si Sulli itu? Baik-baik saja? Parah?” sambung Lee Joon.
Namun Taemin tidak menjawabnya juga, pandangannya kosong, masih menatap televisi tidak menyala yang berada di hadapannya. Lee Joon kemudian memperhatikan Taemin. Ni anak beneran kesambet ya?
“Joon… kalau kita sudah basah karena bermain air di sungai bagaimana?” tanya Taemin ketika membuka mulutnya.
“Heh? Basah? Main air?”
“Iya… apa kau akan terus berenang ke sisi lainnya melewati arus atau kau akan naik ke daratan?”
Lee Joon terdiam sesaat ia nampak menerka-nerka maksud dari kata-kata konotasi yang dilontarkan Taemin kepadanya.
“Shit… jangan bilang lo baru nidurin si Sulli di rumah sakit dan ga pake kondom lagi? Sinting lo Min!” terka Lee Joon terkaannya konyol dan tidak masuk di akal.
Taemin memejamkan matanya selama satu detik,
“Bukan oon… si Sulli tadi pas gw kunjungin mendadak jadi aneh… dia ngelempar majalah yang gw kasih sampe kena kepala gw dan ngatain gw BAJINGAN…”
“Hem… emang lo Bajingan kan? Penjahat Kelamin!” ujar Lee Joon sambil tersenyum-senyum.
Taemin mendengus mendengar ucapan respons dari Lee Joon yang terus-terusan mencela dan menganggap seluruh perkataan dia hanya main-main.
“Gini… dia tau gw bajingan darimana coba? Secara, kenal saja baru dan gw sama dia pun baik-baik saja selama beberapa hari ini… sekarang waktu kutemui dia langsung ngamuk seperti itu kan aneh… memangnya malam itu dia ngapain sih? Sampai-sampai keesokannya otaknya tidak beres!” Taemin menaikan nada suaranya.
“Ups… tenang Min tenang… okey coba lo ceritakan pelan-pelan bagaimana kronologinya sampai si Sulli bisa kecelakaan dan marah-marah ke lo…” ucap Lee Joon mulai mengerti keadaan Taemin.
Taemin melirik ke arah Lee Joon yang sekarang sudah tidak lagi tertawa-tawa,
“Tadi gw bertemu dengan teman serumahnya dan menurut mereka… ternyata pipa itu bukan bocor karena karat… tetapi memang seperti ada seseorang yang mematahkannya… dia bahkan sudah tenggelam di dalam bath tub untungnya masih bisa diselamatkan… namun keadaan mentalnya seperti berubah banyak Joon, tadi ketika kujenguk, ia nampak tidak mengenaliku, hanya menatapku dan memandang lurus kedepan… Lalu ketika temannya memberikan majalah yang kubeli dia malah melempar majalah itu sesaat setelah melihat majalah itu !… argh!!” Taemin mengakhiri ucapannya dengan berteriak, ia nampak masih kesal dengan perlakuan Sulli.
“Hm… hm…” Lee Joon nampak memikirkan sesuatu.
“Dan yang membuat gw semakin emosi adalah… ternyata si Sulli benar-benar cewek matre… temannya sendiri yang bilang… kalau gw ini salah satu korban ke matre-an dia…! Ergh!!!”
“Hm…hmm….” Lee Joon nampak masih berpikir.
“Ya… bener kata lo sih… Cuma ada dua opsi… satu lu naek ke darat… alias lupain aja si Sulli itu… mumpung lo baru kenal sama dia… kedua… kalau memang lo prihatin sama dia ya… yaaa mau tak mau lo harus pecahin deh tuh kenapa dia ngatain lo brengsek, kalo memang lo tidak terbukti berbuat salah kepada dia…” Lee Joon melirik Taemin sambil mengangkat salah satu alisnya.
Taemin terdiam sesaat ketika mendengarkan kata-kata Lee Joon tersebut.
“… M…Mungkin gw akan terus berenang ke sisi lainnya, sebab entah kenapa saat gw melihat dirinya tadi… dia seperti menyimpan rasa sedih dan sangat terpukul…” ujar Taemin sambil menghelakan nafasnya.
“Good kalau begitu! Berarti masuk ke tahap selanjutnya… er…” Lee Joon menggaruk-garuk kepalanya, “Ini sebetulnya diluar bidangku sih nih… tapi aku pernah mengambil kelasnya sebentar… mengenai psikologi…”
“Pipa yang patah dan keadaan Sulli yang di bath tub itu janggal banget tuh…” ujar Lee Joon.
“Kau mau bilang kalau dia itu berniat menghabisi dirinya sendiri dengan menghirup gas itu, sampai lemas dan mati tenggelam dalam bath-tub?”
*ctek* Lee Joon mencetikan jarinya. “Ngeh! Betul sekali… tapi apa motif yang membuat dia jadi seperti itu coba?”
Keduanya terdiam, memikirkan apa kira-kira yang di alami oleh Sulli saat itu.
“Majalah… aku membelikannya majalah Fashion… ya aku membelikan majalah itu… apa mungkin ada tekanan di kantornya yang membuat dia jadi stress seperti itu?” ucap Taemin.
“Humh… mungkin saja seperti itu… tapi apa mungkin anak magang diberikan tekanan yang sama dengan pekerja lainnya? Aku sih kurang tahu ya rasanya menjadi seorang jurnalis… tapi kurasa seperti itu masih kurang untuk membuat mentalnya anjok hanya dalam sekali melihat majalah itu, kau lebih tahu… waktu pagi dan siangnya kan kau menemani dia berbelanja keperluan kantornya… bagaimana tuh ekspresi dan sikap dia waktu itu? Baik-baik?…”
Taemin memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dia baik-baik saja waktu itu…”
“Nah berarti hanya tinggal.. Malam itu… saat kau antar itu… apa dia mengatakan suatu hal? Dia mau ngapain sama lalu sama siapa aja?” selidik Lee Joon.
“Dia minta di antarkan ke sebuah Apartement mewah sih… dia bilang ada pesta kecil-kecilan oleh orang-orang kantornya… mau menyambut siapa itu… Ti… Tiffany siapa itu, lalu dia bilang ada seorang model-“
Taemin tidak melanjutkan perkataannya ia terdiam.
“Model? Model apaan?” Lee Joon heran dengan Taemin yang tiba-tiba terdiam.
Taemin nampak menyadari satu hal.
“Bangsat… mungkin si Sulli di macem-macemin sama orang itu…”
Chara Guide :  Maksud dan kedatangan Tiffany yang datang ke Seoul bisa kalian baca di Between You , Me and Her dan Happily Ever After – 2.
===
“Pagi bener lo bangun…. Mau kemana lo?”
“Mau menghapus tuduhan…”
“Heh?”
“Gw mau menghapus tuduhan kalau gw yang mencelakakan Sulli…”
“Terus lo mau kemana dan ngapain?”
“ke Style… orang-orang disana pasti tahu apa yang sudah terjadi sama si Sulli di malem itu…”
“Ckck… gila jangan bilang lo mau buktiin pemikiran lo yang semalem?”
“Iya…”
“Parah lu, jangan gila deh… belum tentu bener dengan apa yang lo pikirin… dan juga mana mungkin orang-orang di Style mau buka mulut…”
“Kita lihat saja hasilnya , Joon…”
BLAM… Pintu apartement ditutup oleh Taemin yang sudah berpakaian rapih di pagi itu.
Lee Joon hanya tersenyum kecil memandang kepergian Taemin sambil meminum air mineral.
“Heuf… rupanya kau sudah jatuh cinta kepada si Sulli itu ya…? Hehe..” Lee Joon bergumam
Jam 9 pagi.
Kantor majalah STYLE. Di dalam sebuah ruangan yang di dekorasi dengan banyak foto-foto dari model di catwalk ditemboknya,
Park Gija terlihat sedang membuka-buka banyak map yang berada di mejanya, wajahnya begitu serius memperhatikan setiap halaman dari map yang berisi foto-foto berbagai macam jenis baju.
KREK! Pintu ruang kerja dibuka.
“Sssh… berapa kali harus kuperingatkan kalau mau masuk harus mengetuk pin-“ ucapan Gija terhenti ketika mengetahui sosok yang tiba di dalam ruangannya itu. Seorang pria memakai kemeja putih dan celana khaki.
Jaejoong.
Gija seakan tidak memperdulikan Jaejoong, ia kembali menatap ke map yang sedang ia pegang.
“Pagi… beginikah caramu menyambutku, di pagi yang baik seperti ini?” tanya Jaejoong yang langsung menduduki sofa di ruangan itu.
Jaejoong memperhatikan seisi ruangan Gija. “Yah… banyak yang berubah ya dari ruangan ini…” ucap Jaejoong. Iapun memperhatikan sebuah meja yang berada di arah yang berbeda dengan Gija. Mejanya lebih kecil namun ada layar komputer disitu.
“Hm… bekas meja si wanita hina itu kan? Sekarang dipakai siapa? Maksudku siapa orang kepercayaanmu sekarang ini?” Jaejoong beranjak dan mendekati meja itu. Dibalik meja yang beralaskan kaca itu terselip beberapa foto Sulli saat bersama dengan teman-temannya.
“Oh meja si anak magang toh…” ucap Jaejoong lagi sambil menyentuh nyentuh sebuah pajangan yang berada di meja itu.
“Kemana anak ini? Sudah jam 9 loh jangan bilang kau melongarkan jam masuk dia… kalau kau pilih kasih begitu mana akan maju dia…”
Gija menarik nafas dalam-dalam, “Jaejoong ah… kau tahu… hem? Gara-gara kamu… aku akan segera mendapatkan masalah….”
“Masalah?” tanya Jaejoong santai iapun kembali menuju kursi sofa.
BRAK ! sebagai tanda kekesalannya Gija pun melemparkan map yang sedang ia pegang, iapun menopang dagunya sambil memperhatikan Jaejoong.
“Kau sadar apa yang kau perbuat kepada Sulli malam itu? Hem?” tanya Gija.
“Uh… Sadar… sadar sekali… kau sendiri yang menyuruh si Sulli menemaniku sesaat setelah Tiffany menceburkan aku ke kolam Jacuzi… toh.. kami hanya minum-minum saja…” ucap Jaejoong.
Gija tidak merespons ucapan Jaejoong ia masih memperhatikan Jaejoong dan tetap menopang dagunya.
Seakan menunggu Jaejoong untuk terus bercerita.
“Dia mabuk dan kalian semua mabuk…. Lalu kalian semua pada pulang kan? Ya… ya sudah apalagi memangnya?” tanya Jaejoong kebingungan.
“Terus Sulli, apa kau antar pulang? Kau kan bilang kepadaku kalau kau akan mengantarkan anak itu…?” ucap Gija.
“Emhmh…” Jaejoong membetulkan posisi duduknya dan membuang pandangannya terhadap Gija.
“Emh… bukan hal besarlah… kami berdua cuma tidur di ranjang yang sama… dan iapun mengotori spreiku dengan darahnya…”
“APA? Jadi anak itu masih perawan?” Gija menepuk dahinya.
Jaejoong terhentak karena suara Gija yang kencang, “K..kenapa memangnya? Bukankah kau menyuruh dia menemaniku? Wajar dong kalau anak itu menemaniku sampai ke ranjang?”
“A…duh Jaejoong… anak itu tidak masuk gara-gara dirawat di rumah sakit! Dia keracunan gas dan kau tahu ?… temannya bilang kalau dia juga sepertinya sedang depresi berat! Anak itu mungkin saja mau bunuh diri!…” ujar Gija.
“Hah? Apa? Bunuh diri? Hahaha… ga usah bercanda deh… masa kau mau bilang kalau hal sepele seperti itu membuat dia jadi depresi sih? Haha…”
Gija pun mengelus-elus dahinya. “Apapun lah… jika besok-besok ada keluarga Sulli yang mengadu kesini karena perbuatanmu itu kau yang harus bertanggung jawab…” ujar Gija.
“Kau yang urusin deh, secara kau yang menyuruh anak itu menemaniku kan? Berarti, Tidak salah dong jika anak itu menemani aku sampai keatas ranjang?” ucap Jaejoong.
Gija menggigit bibirnya dan nampak ingin berteriak marah-marah.
Tok. Tok…
Beberapa saat kemudian pintu rangan Gija kembali diketuk.
“Nona Gija… ada yang ingin bertemu…” ucap seorang perempuan bertubuh kurus, yang muncul dari balik pintu kaca yang dipasangi kaca film berwarna gelap.
“Siapa?”
“Emh.. kerabatnya Sulli katanya…”
Gija menatap dahulu ke arah Jaejoong, sementara Jaejoong malah mendengus dan memasang wajah kesal.
“Suruh orang itu masuk kesini…” ujar Gija.
“Baik Nona…”
“Tsk… sebaiknya kau yang bungkam mulut keluarga anak itu… kalau aku sendiri yang mengurusnya, bisa gawat jika publik mengetahuinya… kecuali jika kau ingin majalah Style edisi depan tidak laku? Ada pictorial diriku disitu kan?…” ucap Jaejoong sambil menatap Gija. Jaejoong mengancam Gija agar ia yang mengurusi masalah Sulli apabila, jika Jaejoong sendiri yang mengurusi dan sampai tercium masyarakat, popularitas Jaejoong menjadi terancaman dan edisi berikutnya Style yang menampilkan Jaejoong pun bisa turun pamor di mata pembaca nantinya.
“Kau itu, pria macam ap-“
GREK… Pintu terbuka lagi, tanpa diketuk, sosok Taemin pun langsung menyita perhatian Gija dan juga Jaejoong. Taemin pun langsung berjalan menghampiri Gija yang kini sudah memasang senyuman.
“Oh… halo selamat pagi… kau keluarganya Sulli? Silahkan duduk…” ujar Gija dengan nada suara yang sangat berbeda dengan saat ia berbicara dengan Jaejoong.
“Ada perlu apa ya? Maaf apa… anda kakaknya?” tanya Gija lagi sambil memperhatikan Taemin yang kini berdiri dihadapannya. Taemin dipagi itu memakai jaket kulit tebal dan juga celana jeans. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku jaketnya.
“Katakan… katakan apa yang terjadi pada Sulli di malam itu… saat kalian berpesta?” ucap Taemin sambil memperhatikan Gija dengan tatapan yang sangat tajam.
Glup. Saat yang bersaman Jaejoong dan Gija langsung menelan ludahnya.
“Ah… ma.. malam dua hari yang lalu maksudmu?… Kami semua …-“
“Hey bocah kesini…” tiba-tiba saja Jaejoong memotong ucapan Gija, ia memanggil Taemin.
Taemin menoleh ke arah Jaejoong.
Ia melihat Jaejoong sedang memainkan handphonenya.
“Berapa nomer rekeningmu?” tanya Jaejoong.
Taemin bergerak, iapun mendekati Jaejoong yang sedang menyiapkan aplikasi mobile banking dari handphone miliknya.
“Lima juta cukup ?” ucap Jaejoong lagi.
Taemin terdiam sesaat, “Apa maksudnya? Ini…?”
“Ah sudahlah jangan basa-basi lagi… kau hanya ingin memeras Gija kan? Disuruh bertanggung jawab karena pacarmu sudah digagahi orang lain di pesta kemarin itu?”
“Di… gagahi…?” Taemin mengangkat alisnya.
“Tidak usah berpura-pura tidak tahu, daripada kau memeras Gija lebih baik kuberikan saja uangnya langsung… nominal 5 juta kurasa cukup untuk membayar pacarmu yang sudah kutiduri dan juga untuk menutup mulutmu…” ujar Jaejoong.
“Psshh… ada ya orang terkenal macam dirimu yang berpikir kalau kau harga diri seorang wanita bisa kau beli dengan uang? Hanya dengan lima juta?” ucapan Taemin memperkeruh suasana.
“Hooh, mau bernego rupanya… sebaiknya kau segera menerima tawaran ini atau kubungkam mulut kalian dengan cara yang lain…!” ujar Jaejoong mulai kesal.
“Aku tidak butuh uang! Dengar… Aku hanya butuh waktu dua detik…” ujar Taemin sambil tersenyum.
“Dua? Dua de-”
BRUK!!!!!
Kaki kanan Taemin langsung menendang wajah Jaejoong, menandangnya dengan amat kencang. Hingga tubuh Jaejoong sedikit terpental akibat tendangan itu. “Dua detik untuk menghancurkan wajahmu itu…”
“Anjing!” Jaejoong kemudian berdiri dan menendang perut Taemin sampai ia terjatuh.
Taemin  terjatuh, ia berusaha berdiri namun dengan tangan yang masih berada di dalam saku jaketnya.
“JAE!!!” bentak Gija yang langsung menahan Jaejoong agar Jaejoong tidak memukuli Taemin lagi.
“Gija diam kau! Anak ini … anak ini…!!!!”
“JAE diam! ingat image mu!” bentak Gija dengan suara lantang , membuat Jaejoong pun menahan amarahnya.
Gija pun menatap ke arah Taemin yang masih tersungkur.
“Kau… hey kau… apa kau sadar? Kau itu baru saja menendang wajah Kim Jaejoong! Wajah dia adalah asetnya tahu! Kau bisa di adukan ke polisi karena tindakanmu ini!”
Klek! Sebuah tombol berwarna merah ditekan.
“Puhahaha..hahaha…” Taemin tertawa-tawa.
“Thanks… gw emang ga butuh uang kalian… karena gw bukan siapa-siapanya Sulli… yang gw butuhin adalah ini…” Taemin memperlihatkan recorder suara yang disembunyikan di balik Jaketnya.
“Ucapan kalian…” Taemin kemudian berlari meninggalkan ruangan Gija dengan cepat.
“ANJRIT! Tahan!!! Tahan anak itu!!!!” jerit Jaejoong.
Namun kantor majalah yang di dominasi oleh para perempuan itu, tidak bisa ada yang menahan Taemin. Ia berlari dan menghindari serbuan dari orang-orang yang berusaha menangkapnya.
“Bangsat! Bangsat!!!! Argh!!!! Habislah aku!!!” Jaejoong berteriak kencang.
“Berisik! Salahmu sendiri!!!!” bentak Gija tidak kalah kencang dengan Jaejoong.
===
Hanya butuh waktu yang amat singkat bagi Taemin untuk melancarkan balas dendamnya. Ia meng-upload rekaman suara Gija dan Jaejoong ke situs komunitas. Hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja hingga berita itu merebak di masyarakat hingga akhirnya muncul dalam berita dan media massa.
“Kim Jaejoong melakukan pelecehan seksual.”
Hari ketiga ketika rekaman suara itu beredar, Jaejoong mengadakan konfersi pers. Sebuah konfersi pers besar-besaran yang di adakan oleh management Jaejoong dan Majalah Style. Sebab pada rekaman suara itu terdengar suara Gija sebagai Pimpinan Umum Style.
“Konfersi Pers kali ini untuk mendengarkan statement yang dikeluarkan dari pihak Management dan juga Style mengenai rekaman suara yang sedang marak di masyarakat…” Terlihat sosok Jaejoong bersama Gija dan beberapa orang lainnya memasuki ruangan ballroom, kepala keduanya menunduk seakan menghindari sorotan dan lampu blitz dari kamera yang mengarah ke wajah mereka.
“SS..ssuulli-ah! Itu bukannya bos mu ya?” pekik Krystal berteriak sambil membuka pintu kamar Sulli, terlihat Sulli sedang berada diatas kasurnya, sedang tertidur.
“Sul, lihat televisi deh…” Krystal pun langsung menyalakan televisi berukuran 14 inch yang berada di dalam kamar Sulli.
“Saya Kim Jaejoong mengakui bahwa rekaman suara itu benar adanya…” ucap Jaejoong di siaran itu.
Sulli terbangun dan menyaksikan acara itu.
“Jadi benar kalau kau sudah melakukan pelecehan seksual kepada perempuan bernama Sulli yang disebut-sebut di rekaman itu…?” tanya wartawan.
“..Y…ya…” ujar Jaejoong.
Sulli terperanjat mendengar berita itu. Tangannya langsung meremas selimut yang menyelimuti dirinya.
“Dengan ini saya ingin meminta maaf di depan publik… Saya Kim Jaejoong meminta maaf telah melakukan tindakan tidak menyenangkan dan pelecehan seksual terhadap Choi Sulli… dan saya siap menerima sanksinya…”
“BAJINGAN!!!!” sekali lagu Sulli berteriak dan melempar bantalnya ke televisi.
Iapun menangis dan meronta-ronta di ranjangnya.
“TIDAK!!!!! TIDAK!!!!!!!!” jeritnya.
===
Taemin menghisap sebuah rokok, iapun menghembuskan asap rokok itu. Ia merokok di lorong apartement nya. Hanya mengenakan kaus kutang dan celana jeans pendek di siang hari itu. Sambil memejamkan matanya ia sesekali tersenyum.
“Min… min…” terdengar suara Lee Joon dari dalam apartement mereka.
“Apa? Gw diluar!” ucap Taemin. Lee Joon pun menampakan sosoknya.
“Gile! Tadi berita infotainment… si Jaejoong meminta maaf dan kasusnya siap di bawa ke kepolisian… Lo yang publikasiin rekaman itu kan?” tanya Lee Joon.
“Psst! Ga usah kenceng-kenceng, norak! Iya… itu semua kerjaan gw…” ujar Taemin sambil memukul kepala Lee Joon.
“Aish… terus gimana? apa Sulli mau diinterogasi sama kepolisian tuh?” tanya Lee Joon sambil mengelus-elus kepalanya yang baru saja dipukul Taemin.
“Tidak akan kulanjutkan… biarkan saja… toh si Jaejoong sudah merasa malu dan mengakuinya di depan umum… aku memang cuma ingin membuat ia jera saja…” ujar Taemin.
“Eish… tanggung bener sih lo! Urusin ke kepolisian biar dipenjara sekalian tuh orang…”
“Joon… lo pikir si Sulli mau apa menceritakan kembali hal yang sudah di alami dia?… Yang ada bisa menjadi tekanan mental kali… udah biarinin aja… gw udah puas dengan mempermalukan si Jaejoong…”
“Hemh… ya sudahlah… tapi coba kau samperin si Sulli, siapa tau dia ingin membawa kasus itu hingga kepersidangan… lumayan hitung-hitung bisa jadi study kasus untuk kuliahku…” ungkap Lee Joon si mahasiswa hukum.
Tidak usah di provokasi Lee Joon pun memang di malam itu Taemin bermaksud untuk mengunjungi Sulli. Namun lagi-lagi ia ragu, saat akan mengunjungi apartement Sulli, disamping ragu iapun tidak tahu nomer apartement yang ditempati Sulli bersama Krystal. Taemin hanya berdiri di depan pintu gerbang, sambil sesekali menatap ke arah atas.
‘Telepon? Tanya nomer rumahnya? Mending kalau di angkat… Pulang saja? Masa pulang sih? Kau belum mengunjunginya setelah ia keluar dari rumah sakit…’
Sebuah VW Golf memasuki lingkungan apartement.
VW GOlf Mk V
Pengemudinya langsung membuka kaca mobilnya untuk mengambil kartu tamu. “Loh… Lee Taemin kan?” tanya Minho si pengendara mobil VW itu.
“Oh… nde… hyung!” ujar Taemin menjawab sapaan Minho.
Minho nampaknya baru saja pulang dari kantornya, ia menggulung kemeja lengan panjangnya dan membawa kantung belanjaan ditangannya.
“Argh berita hari ini… sungguh membuatku terkejut… ternyata di malam itu Sulli diperkosa oleh Jaejoong… tadi akhirnya Sulli mau bercerita ke Krystal… dan nampaknya membuat anak itu shock dan depresi lagi…” ujar Minho berjalan berdampingan dengan Taemin.
“Depresi lagi? Me…memangnya kenapa?” Taemin kebingungan, seharusnya Sulli merasa senang sebab Jaejoong sudah mengakui perbuatannya di muka umum dan juga meminta maaf kepadanya.
“Ssshh… emh… memang sih… yang menrekam dan upload rekaman suara itu orang yang baik… dia mampu mengungkapkan kebusukan Jaejoong… tapi apa dia memikirkan Sulli juga? Jaejoong tadi menyebut nama Choi Sulli secara jelas dan terang-terangan… kedepannya apa tanggapan publik bagi mereka yang mengenal atau mengetahui Sulli? Mungkin saja dia bisa di cemooh. Lalu fans nya Jaejoong… aku malah takut nanti ada Fanatik yang menyerang Sulli karena tidak senang… bisa saja para fans itu menilai Sulli lah yang bersalah… runyam kan…” ujar Minho.
Nafas Taemin tak beraturan, ia baru menyadari sisi lainnya. Disaat ia menjatuhkan Jaejoong bersamaan pula ia seperti turut mendorong Sulli mendorognga ke jurang yang lebih dalam.
TING.TONG Bel apartement ditekan oleh Minho.
“Ini aku, SooJung ah…”
Pintu  pun terbuka, terlihat Krystal dengan baju piyama tipisnya langsung menyambut Minho dengan pelukan.
“O..oh… ada tamu rupanya…” ucap Krystal saat melihat sosok Taemin yang berada di belakang Minho.
Beberapa saat kemudian, tiga cangkir teh hangat tersaji dihadapan Krysta, Minho dan Taemin.
“Ya begitulah… nampaknya sekarang malah ada rasa malu di dalam dirinya… tadi dia bertanya-tanya siapa orang bodoh yang memberikan rekaman itu… serba salah, kalau dia memendam masalah ini aan berdampak ke mentalnya… kalau masalah ini terbuka… malah seperti membongkar aibnya…” ujar Krystal sambil menghelakan nafasnya.
Taemin hanya terdiam tertunduk.
“Kau nampaknya tidak jera juga ya? Untuk mendekati Sulli?” tanya Krystal sambil mengaduk tehnya.
“Soojung…” bisik Minho.
“Bukannya begitu… akupun kesal kepadanya… namun dilain sisi aku iba kepadanya…” ujar Taemin menunduk.
Krystal terdiam menatapi Taemin.
“Begitukah…?” Krystal menghelakan nafasnya dan tersenyum.
“Apa boleh kuajak dia keluar?” tanya Taemin.
Sulli masih berbaring di ranjangnya. Matanya terlihat sembab dan wajahnya memerah, ia nampaknya habis menangis. Entah sudah berapa liter air mata ia keluarkan selama beberapa hari ini.
Taemin membuka pintu kamarnya dengan perlahan, ia hanya bisa melihat sosok Sulli yang tertidur membelakanginya. Taemin berjalan ke arah lemari baju Sulli dan membukanya, ia melihat sebuah mantel berwarna cokelat tua digantung disana, Taemin pun mengeluarkan mantel itu.
Iapun melempar mantel itu ke arah Sulli.
“Bangunlah dan ikut denganku…” ujar Taemin, Sulli terhentak ketika mantel itu dilempar ke arahnya.
“Wae? Apa-apaan ini?” sahut Sulli.
“Buat apa kau kesini? Mau apa kau?”
“Sudah jangan banyak tanya pakai mantelmu cepat!!!” ujar Taemin sedikit kasar.
Akhirnya Sulli keluar dari kamarnya, ia diseret oleh Taemin. Sulli hanya mengenakan kaus tipis dan celana training saja. “Aku ajak dia keluar dulu, sebentar…” ujar Taemin kepada Krystal dan Minho.
Keduanya pun tidak melarang Taemin, membiarkan Taemin membawa pergi Sulli.
“Pakai…” ujar Taemin memberikan helm kepada Sulli.
Sulli terdiam, “Aku bisa berteriak sekarang… supaya satpam memukulimu dan membawamu ke kantor polisi…” ancam Sulli.
“Sudah menurut saja kalau kau ingin mengetahui siapa yang berada di balik ini semua…” ujar Taemin.
“Di balik ini semua? Maksudmu…? Yang merekam suara si Bajingan itu?” tanya Sulli.
Taemin tak menjawab, ia menyalakan mesin motornya dan menggerungkan gas motornya.
Tidak ada pilihan bagi Sulli. Iapun segera memakai helm dan ikut bersama Taemin, meninggalkan apartementnya.
Keduanya tiba di daerah Namsan tower. Keadaan sudah sedikit sepi di malam hari itu. Sulli berdiam seorang diri di depan barisan ribuan Gembok Cinta, menatap ke arah kota Seoul.
Taemin tiba disamping Sulli sambil membawa dua gelas minuman hangat bercangkir kertas.
Saat Taemin memberikannya Sulli tidak meresponsnya, hingga Sulli dipaksa untuk memegang gelas kertas itu.
“Kenapa kau membawaku hingga sejauh ini… sekarang dimana orang yang sudah mempermalukan aku?” ucap Sulli.
Taemin menyeruput minumannya terlebih dahulu.
“Mempermalukanmu?… Jadi berita itu benar adanya?… Choi Sulli yang dimaksud Jaejoong itu adalah kamu?” ucap Taemin.
“I..Iya… siapa lagi kalau bukan aku… Jaejoong dan Gija… hanya ada satu Choi Sulli yang mereka kenal yaitu aku…”
Keduanya kemudian terdiam, seakan mengatur nafas mereka masing-masing ditengah dinginnya malam itu.
“Orang yang merekam… merekam suara Jaejoong dan Gija itu adalah… aku…” ujar Taemin, mengakui perbuatannya di depan Sulli.
“Mwo?” Sulli terkejut, bola matanya membesar, iapun langsung menoleh ke arah Taemin yang berdiri disampingnya.
PLAK! Sulli menggampar pipi kiri Taemin.
“Jadi ini… ini… sengaja kau lakukan? Kenapa kau mempermalukan aku?… kau… kau memang sama bajingannya dengan Jaejoong!” ujar Sulli.
“ISH…” Sulli pun hendak meninggalkan Taemin. Namun Taemin menahan tangan Sulli.
“Aku pria keberapa? Pria keberapa yang kau kerjai? Hah?” tanya Taemin.
Sulli terperanjat mendengar ucapan Taemin. Sulli pun tidak berani menatap Taemin.
“Hem..hem..heuh… Bukankah ini impas? Kau mengerjai diriku dan sekarang aku membalas dendam kepadamu… kupermalukan kau…” ujar Taemin sambil tersenyum kecut.
“J..jadi kau … kau ingin membalas dendam…?”
“Ti…Tidak bukan itu maksud sebenarnya… aku melakukan ini semua karena ingin si Jaejoong mendapatkan pelajaran akan tindakannya kepadamu… karena ia merebut apa yang sudah kau jaga selama ini dan mungkin akan kau berikan kepada orang yang nantinya benar-benar kau sayangi, bukan pria seperti itu… yang menganggap harta yang kau jaga bisa ia gantikan dengan uang…”
Sulli terdiam mendengarkan perkataan Taemin. Taemin pun melepaskan tangan Sulli yang terdiam.
“Kau pria kedelapan…” ujar Sulli.
Taemin tersenyum kecut lagi. “De… delapan? Lumayan banyak juga…”
“Ini karma… ini karma…” ujar Sulli menunduk, nafasnya tidak beraturan, dalam hitungan detik air matanya kembali menetes.
Taemin hanya bisa memperhatikan Sulli yang menangis, ia bergumam terus-terusan “Ini karma… karma…”
“Kau tidak sendirian… karma pun sedang menghantuiku…” ujar Taemin.
“Kau… kau hanya menguras harta para pria itu kan? Aku lebih jahat darimu.. ya lebih jahat… aku mendekati seorang perempuan hanya karena ketertarikan fisik mereka saja, mengajak mereka untuk berhubungan seks… hanya untuk memenuhi nafsu seksualku saja… aku sungguh lebih jahat dari kamu… entah sudah berapa banyak wanita yang kuperlakukan seperti itu…” Taemin pun mengungkapkan dirinya yang sesungguhnya dihadapan Sulli.
“Beberapa diantara mereka bahkan melepaskan keperawanannya untukku… aku hanya berpikir itu hanya omong kosong belaka… pemanis untuk menyembunyikan nafsu seksual mereka yang sesungguhnya… aku tidak pernah memikirkan perasaan wanita yang sudah kukelabui dan kucampakan…”
“Ba…bajingan…” ucap Sulli sambil menyeka airmatanya.
“Ya… aku memang bajingan bahkan mereka menyebutku si penjahat kelamin… saat langit mempertemukan aku dengan dirimu… rasanya ini seperti hukuman… si penjahat kelamin dipertemukan dengan cewek matre… seakan kau memperingatkan agar aku jera dan jangan mempermainkan wanita lagi…”
Sulli terdiam, ia hanya bisa menunduk dan terus mendengarkan ucapan Taemin.
“Waktu menjengukmu di rumah sakit… aku terkejut… siapa orang itu… kau nampak enggan untuk hidup lagi… padahal sehari sebelumnya kau selalu tersenyum meskipun aku tahu senyuman itu adalah kegembiraanmu saat berhasil mengerjai diriku… karena aku peduli… peduli denganmu… akupun memutuskan untuk mencari tahu… apa yang sebetulnya terjadi…” ungkap Taemin, kali ini dia memaparkan semua perasaannya.
“Maaf…” ujar Sulli ia pun perlahan-lahan menatap ke arah Taemin.
“Seharusnya yang meminta maaf itu aku… aku tidak memperhitungkan tindakanku…” Taemin menghelakan nafasnya.
Keduanya kembali terdiam, sesekali membuang nafas, membiarkan emosi mereka mereda.
“Taemin -ssi…” ucap Sulli kali ini ia menatap ke arah Taemin.
“Y..ya?”
“Maukah kau memaafkan aku?” tanya Sulli ragu-ragu.
Taemin tersenyum sambil menyeka hidungnya. “Pssh… bagaimana ya…?” jawab Taemin.
“A.. aku tidak akan mengerjaimu lagi… aku tidak akan menganggapmu seperti seorang pesuruh lagi…” ucap Sulli.
“Pshh….” Taemin kini tertawa.
“Baiklah ku maafkan kau… dengan begini kau kuharap kau bukan seorang putri lagi dan aku bukan seorang pangeran berkuda putih juga…” Taemin memberikan jari manis lengan kanannya.
Sulli tersenyum, ia pun menyambut jari manis Taemin dengan jari manisnya.
“Yagsog…”
Kau memang bukan pangeran berkuda putih, bukan juga seorang pesuruh. Tetapi kau, ksatria berkuda putih Kau datang disaat yang tepat. Lee Taemin.
===
Beberapa bulan kemudian.
Sebuah percakapan di kakaotalk.
Ssull : Kau dimana?
Taem : Kampus.
Ssull : Jam segini masih di kampus? Kampus apa “kampus” ?
Taem : Ck.. betulan kampus deh, namanya juga sedang skripsi ya berlama-lama di perpustakaan lah. Memangnya kamu? Bwek!
Ssull : Cih… ya sudah beres jam berapa? Mau keluar cari makan tidak?
Taem : Sudah kuduga… sudah malam! Nanti timbangan naik, marah-marahnya ke gw lagi?
Sulli tersenyum kecut melihat jawaban dari Taemin. Sesungguhnya ia mengajak makan Taemin , bukan semata-mata dia belum makan dan lapar, tetapi dia ingin Taemin tidak lupa dengan makan malamnya. Keduanya kini sedang sama-sama di semester akhir.
Taem : … dih nggak bales, ngambek?
Taem : … iya deh iya… tunggu sebentar lagi, aku ke tempatmu…
Ssull : noh, laper kan! Huh! Ya sudah… jangan ngebut… hati-hati di jalan ya…
Taem : Iya, tuan putri… tunggu ya…
Sulli pun bangkit dari kursi, berjalan menuju lemari pakaiannya, iapun segera mengganti bajunya. Setelah mengganti bajunya iapun membawa serta sebuah kantung kertas yang berada diatas mejanya.
“Wih.. wih biar kutebak… pasti syal baru yang kemarin beli di Dongdaemun ya?” ucap Krystal begitu melihat Sulli yang keluar dari kamarnya.
“Ah… kau tahu saja hehe…”
“Beli sepasang kan? Satu lagi buat siapa tuh??” goda Krystal memperhatikan kantung kertas yang berada ditangan Sulli.
“Buat ksatriaku… hahaha” ujar Sulli menanggapi Krystal yang masih mengetik sesuatu di laptopnya.
“Hua… cie…cie…”
= Tamat =

Fc Populer:

  • er

    bahasanya benerin thorrrrr

%d blogger menyukai ini: