I Don’t Like Love

0
park youuchun ff nc
by Su-ie Kim

Apa kau pernah mendengar peribahasa tentang ‘karma itu pasti berlaku’ ?
Apa kau percaya tentang itu?
Apa kau pernah mengalaminya?
Bagai memecahkan cermin dan kau bercermin didalamnya.
><
Koper hitam miliknya terus berjalan mengikuti kemana si pemilik menariknya keluar dari pusat keramaian bandara. Sebuah backpack pun masih bertengger manis di punggung pria tampan yang memakai kacamata hitam menutupi kedua matanya.
Menghirup napas sedalam-dalamnya. Bibirnya menyunggingkan senyum cerah. Setelah 6 tahun Ia baru sekali menginjakan kakinya dikampung halaman. Seoul, Korea Selatan.
Semoga saja tidak ada yang berubah dari tempat tinggalnya. ..dan dia.
><
“Makanlah yang banyak Yoochun~ie.”
Pria yang masih memakai airport style nya- kecuali kaca mata hitam- yang di panggil Yoochun tadi hanya mengangguk mantap mendengar ucapan Ibunya.
Menu Korea. Masakan Ibu nya. Ini salah satu dari semua hal yang paling Ia rindukan selama Yoochun berada di Negara tetangga.
“Di Tokyo, aku hanya makan mie instan dan menunggu temanku mentraktir makanan di luar. Ahh, Eomma, aku sangat laparr~”
Mrs. Park hanya tertawa geli membalas ocehan anak pertamanya.
“Eomma,” Yoochun mengunyah sebentar makanan di mulutnya kemudian menelannya paksa. “Appa dan Yoohwan, dimana mereka?”
“Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Mereka juga tidak sabar untuk bertemu denganmu.” Mrs. Park mengubah raut wajahnya tiba-tiba. Dan tanpa aba-aba salah satu tangannya memukul kepala Yoochun yang masih asyik dengan makanannya. “Kenapa kau baru pulang selama ini hah?! Apa kau tidak merindukan keluargamu? Bodoh. Anak bodoh.”
Yoochun mengusap kepalanya sendiri. Dia meminum segelas air putih sebelum menjawab omelan Ibunya.
“Eomma, mianhae. Bukankah Appa dan Eomma memindahkan ku ke Tokyo bersama Boa Ahjumma untuk membuatku berubah? Aku ingin berubah sepenuhnya tanpa perlu malu untuk pulang ke sini.”
“Tapi kau bisa pulang saat liburan kan?” tanya Mrs. Park dengan suaranya yang sudah mereda kembali.
Yoochun tertawa kecil. Tubuhnya maju kedepan sehingga membuat dadanya menempel pada meja kecil didepannya. Tak lupa dengan senyuman manis untuk Ibunya.
“Eomma, bagaimana kabar Hong Dana?”
“Yakk!!” tangan Mrs. Park kembali memukul kepala anaknya. “Yaa anak nakal !! apa kau tidak puas menyakiti anak manis itu hah?!”
Yoochun memundurkan tubuhnya kemudian mencibir. “Yoohwan menceritakan apa saja padamu Eomma?”
“Semua. Semuanya!” Mrs. Park kembali lagi dengan wajah menyeramkannya. “Dasar anak brengsek. Kau tahu tidak, kau sudah menyakiti perempuan sebaik itu, dan itu sama saja kau sudah menyakiti Eomma mu sendiri. Dana perempuan baik dan polos. Tega sekali kau Park Yoochun. Jangan pernah kau mencoba untuk bertemu dengannya. Ingat itu!”
Yoochun terdiam. Bahkan Ibunya- yang hanya mendengar cerita dari adiknya bisa semarah itu. Lalu bagaimana dengan perempuan itu? Apa Dana masih mengingatnya?
><
8 tahun lalu..
Gadis manis berumur 13tahun itu hanya berdiri didepan rumahnya sambil menatap sebuah rumah lagi yang berada di samping kanan dan hanya terpisahkan oleh dua rumah yang berdempetan. Gadis itu tersenyum. Senyum yang sangat cerah.
Dia mundur selangkah saat pintu sebuah mobil didepan rumah itu terbuka dan menampakan seorang pria yang Ia tahu lebih tua setahun darinya keluar dari sana.
Jantungnya berdetak cepat.
Akhirnya dia pulang. Ini sudah tiga tahun setelah kepergiannya. Yang saat itu juga dia sudah mencuri hatiku. Dan hari ini, dia benar-benar pulang..
><
“Setahuku, sama sekali tidak pernah.”
Yoochun menatap adiknya dengan pandangan serius. Yang ditatap hanya memainkan matanya melihat langit-langit berbintang dari atap rumah.
“Jadi Dana belum punya pacar?”
“Aku tidak tahu kalau itu.” Jawab Yoohwan. Dia lebih muda – tahun dari Yoochun. “Yang aku tahu, aku tidak pernah melihatnya pergi dengan pria mana pun.”
Tanpa sadar Yoochun tersenyum. Itu artinya..
“Tapi pernah beberapa kali ada pria yang datang ke rumah nya.” Sela Yoohwan cepat. Menghancurkan khayalan kakaknya. “Tapi aku tidak tahu itu siapa.”
“Yoohwan~ah, Eomma tidak memperbolehkanku untuk mendekati Dana lagi. Bagaimana ini? Aku sangat tersiksa dengan perasaanku sendiri.” Curhat Yoochun kemudian.
Yoohwan mendecak kesal. “Itu salahmu sendiri. Saat kau baru pulang dari Virginia bukankah kau mengatakan padaku kalau kau tertarik padanya? Iya kan? Lalu kenapa kau menyia-nyiakan dia saat kau tahu kalau dia juga menyukaimu?”
Yoochun menggaruk belakang kepalanya. “Waktu itu, keadaannya membuatku sulit. Aku baru tahu kalau dia sebaik itu. Kau tahu sifatku bukan? Aku merasa tidak pantas untuknya.”
Adiknya tertawa pelan. Sedikit mengejek malah. “Dan sekarang, setelah kau mencampakannya, menyia-nyiakannya, menyakitinya, dan memfitnahnya. Setelah kau berubah hanya untuk dirimu sendiri, membuatnya menunggumu berkali-kali dan bertahun-tahun. Kau mau mendekatinya? Begitu?”
Yoochun memandangi wajah adiknya yang sepertinya sedang memanas karena menahan emosi.
Apa dulu aku sejahat itu?
Apa dia sangat ‘kesakitan’ selama ini?
“Menurutmu, bagaimana perasaannya sekarang?” tanya Yoochun akhirnya.
Yoohwan menaikan bahunya santai. “Entahlah. Dia tetap ceria seperti dulu. Tapi,” tubuhnya berubah menghadap kakaknya.
“Dana Noona sering sekali merubah raut wajahnya saat melewati rumah ini dan saat mendengar tentang atau yang berhubungan denganmu. Lalu setiap aku dan Dana Noona mengobrol bersama, Dia selalu melamun sambil melihat wajahku- karena aku adikmu, mungkin saja wajah ku sedikit mengingatkannya padamu. Menurutku, sepertinya Dia masih menyukaimu.” Lanjut Yoohwan.
Yoochun menghela napas panjang. Dia sudah menahan napas dari awal kalimat adiknya tadi. Perasaan lega dan senang mengelilinginya. Seperti banyak kupu-kupu terbang di hatinya. Apalagi setelah mendengar perkataan terakhir adiknya itu.
“Tapi jujur Hyung. Aku tidak suka kau mendekatinya lagi. Kau sudah terlalu banyak menyakitinya.” Kata Yoohwan dengan nada serius.
Yoochun langsung memandang adiknya dengan tatapan yang tak kalah serius. Bahkan lebih ke mengintimidasi.
Apa maksudnya dengan ‘Aku tidak suka kau mendekatinya lagi.’?
“Apa maksudmu?” akhirnya Yoochun mengeluarkan isi hatinya.
Yoohwan kembali meluruskan posisi tubuhnya- tidak menghadap Yoochun.
“Tidak. Maksudku ini sudah 6 tahun kau meninggalkannya. Apa kau tidak merasa-“
“Kau menyukai Dana?” sela Yoochun kemudian. Tubuhnya sedikit maju untuk melihat sedikit wajah adiknya. Ini mencurigakan. Setelah mengingat.. “Saat aku di Virginia, Dana menyukai mu kan? Lalu kau-“
“Yoohwan~ie, Yoocchun~ie. Kalian dimana? Tolong buka pintu sebentar. Eomma sedang repot di dapur.”
Kakak beradik Park itu saling bertatapan. Yoohwan yang tanpa ekspresi dan Yoochun yang sedang menahan emosi.
“Biar aku yang buka.” Kata Yoohwan kemudian. “Kau harus pikirkan perasaannya dan perasaanmu sendiri sebelum kau kembali mendekatinya. Kali ini aku tidak akan tinggal diam kalau kau menyakitinya lagi.”
Yoochun hanya menatap punggung adiknya dengan pikiran yang penuh tanda tanya. Tanpa sadar telapak tangan kanannya mengepal erat.
><
“Oh, Dana Noona.” Ucap Yoohwan setelah membuka pintu. Dia tersenyum melihat tetangganya itu juga tersenyum untuknya.
Gadis yang dipanggil Dana itu membungkuk sedikit. “Park Ahjumma ada? Eomma ku sudah memesan ikan pada Eomma mu.”
Yoohwan membuka pintu lebih lebar. “Ah silakan masuk. Eomma ada didapur. Tadi Abeoji juga baru membawa banyak ikan dari pabrik. Dan kau pelanggan pertama.”
Dana tertawa sebentar. Kemudian melangkah masuk diikuti Yoohwan.
Gadis itu melihat ke sekeliling rumah yang lumayan sering Ia datangi. Matanya sedikit menyipit saat pandangannya melihat satu meja duduk- tidak, lebih tepatnya pada satu koper besar disebelah meja itu. Apa salah satu dari keluarga Park akan pergi? ..lagi.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”
“Eh?.” Dana cepat-cepat menatap pria disampingnya yang lebih tinggi beberapa sentimeter darinya itu. “Pekerjaanku? Ah, baik. Aku dapat banyak kontrak dari beberapa kantor penerbit.”
Lagi, Yoohwan tersenyum saat dilihatnya gadis itu tersenyum kearahnya. Gadis semanis dan sebaik ini, kenapa kakaknya harus menyakitinya?
“Aigoo Heeyeol~ah. Kemari sayang, ini ikanmu.”
Dana tersenyum cerah mendengar panggilan Mrs.Park. Wajar saja. Keluarga Park hanya mempunyai dua anak laki-laki. Dan Mrs.Park sangat menginginkan seorang anak perempuan. Jadilah, Dana yang sejak kecil sering bermain dengan kedua kakak beradik Park itu selalu menjadi pusat perhatian di keluarga ini.
“Ahjumma, apa kau sibuk sekali? Sini biar aku saja yang ambil ikannya di kulkas.” Dana langsung berlari mendekati kulkas. Ceria sekali. Seakan melupakan atau mungkin pura-pura melupakan masa lalu. Ya, karena Dia senang berada dirumah ini. Dia merasa menjadi anak terakhir yang selalu dimanja mengingat Dia adalah anak tunggal dikeluarganya.
Dana meletakkan bungkusan ikannya di meja dapur lalu mendekati Mrs.Park.
“Butuh bantuan Ahjumma?”
Mrs.Park tersenyum kemudian mengusap rambut sepunggung milik Dana. “Tidak usah. Aish, kenapa kau makin manis saja? Andai saja kau bisa jadi menantuku.”
Senyum Dana memudar seketika. Gadis itu terdiam. Banyak yang Dia pikirkan sekarang.
“Oh, Heeyeol~ah.” Sela Mrs.Park cepat. Wanita paruh baya itu mengerti ada yang salah dengan ucapan terakhirnya tadi. “Ini sudah hampir jam 10 malam. Kau pulanglah. Eomma mu pasti sedang menunggu ikannya.” Tersenyum sebentar kemudian pandangan Mrs.Park beralih pada anak bungsunya yang tengah duduk manis di meja makan. “Yoohwan~ie. Tolong antar Heeyeol-ku pulang.”
><
Yoochun menuruni tangga atap dengan pandangan kosong.
Semuanya. Semua perkataan adiknya tadi sudah menjelaskan semuanya. Jadi, apa benar Yoohwan menyukai Dana?
“Butuh bantuan Ahjumma?”
DEG
Yoochun berhenti melangkah di tiga anak tangga terakhir. Selama 6 tahun, Dia masih mengingat suara ini. Sungguh.
Dengan keberanian. Yoochun mencoba untuk menatap kearah suara, tepatnya kearah dapur. Ada tiga orang disana. Ibunya, adiknya, dan..
Tangan kananya mencengkram erat pegangan tangga. Dari belakang. Hanya dari punggungnya Yoochun sudah yakin kalau itu Dana-nya. Gadis yang selalu mencintainya waktu itu. Tanpa sadar satu tetes airmata jatuh melewati pipi kirinya. Yoochun tersenyum. Ingin memeluknya. Sangat. Tapi Dia merasa ada banyak lem perekat di alas kakinya.
“Tidak usah. Aish, kenapa kau makin manis saja? Andai saja kau bisa jadi menantuku.”
Yoochun kembali memfokuskan pangdangannya pada gadis itu. Gadis yang sangat, sangat, dan sangat Ia rindukan. Namun keningnya berkerut samar melihat tidak ada reaksi apapun dari gadis itu setelah perkataan Ibunya tadi terucap.
Bukankah Dana gadis yang ceria. Selalu tersenyum dalam keadaan apapun? Tapi kenapa..
‘..Dana Noona sering sekali merubah raut wajahnya saat melewati rumah ini dan saat mendengar tentang atau yang berhubungan denganmu..’
Apa karena perlakuannya dulu bisa langsung merubah sifat seorang Dana? Sekali lagi, apa Yoochun sejahat itu?
“..Yoohwan~ie. Tolong antar Heeyeol-ku pulang.”
Yoocun kembali menatap kearah dapur, satu waktu dengan Yoohwan yang bangkit dari duduknya. Saat berbalik, adiknya melihatnya. Beberapa detik mereka hanya saling bertukar pandang dengan tatapan tanpa ekspresi sampai akhirnya Yoohwan duluanlah yang mengalihkan pandangannya sendiri.
“Kajja Noona. Aku akan mengantarmu.”
Yoochun mendengarnya. Dan Dia juga melihat Dana tersenyum untuk adiknya. Sakit. Yoochun merasakan sakit saat melihat orang yang Ia sukai tersenyum untuk orang lain.
Sampai akhirnya mereka berjalan melewati tangga. Gadis itu berhenti tepat didepannya. Diam dan melihatnya. Hanya menatapnya diam tanpa melakukan apapun. Yoochun merasakan kalau tubuh gadis itu menegang dan menggeleng pelan, sangat pelan. Lalu Yoochun merasakan sakit yang teramat sangat saat melihat gadis-nya mundur satu langkah. Seakan takut dan harus menjauhinya.
><
T.B.C
%d blogger menyukai ini: