EX-Boyfriend Part 3

0
EX-Boyfriend Part kyuhyun ff nc
Author                        : Kyu_bbie
Tittle                : EX-Boyfriend
Category         : Yadong, Romance, Chaptered
Cast                 : Cho Kyu Hyun — Shin Ji Hyun
Author’s note  :
Hai, Salam kenal. Terima kasih banyak untuk respon kalian di part-part sebelumnya. Maaf karena ada penambahan karakter tokoh. Semoga kalian enggak bingung sangking banyaknya nama. Sebuah cerita tidak akan berjalan kalau hanya ada si tokoh utama tanpa pemeran pembantu, iya kan?
Fanfic ini juga diposting di blog pribadi saya.
“Aku mungkin bisa menipu seluruh dunia,
tapi aku tidak bisa menipu hatiku.
Aku mencintaimu.”
INNAMORARE, salah satu restoran terkenal di kawasan Seoul, Korea Selatan. Sulit sekali mendapatkan meja di sana kalau kau tidak memesan jauh-jauh hari sebelumnya. Restoran yang terkenal dengan kelezatan makanannya itu menjadi tempat pertemuan dua orang laki-laki dewasa. Ribuaan orang mengantri dan memesan meja jauh-jauh hari sebelumnya untuk menikmati hidangan di restoran itu, tapi kedua laki-laki itu hanya memesan minuman dan membincarakan hal yang penting.
“Anda mendaftarkanya dalam acara yang konyol,” tuduh laki-laki yang usianya jauh lebih muda itu, tanpa menunggu laki-laki yang satunya lagi—yang usianya sudah mencapai lima puluh tahun itu, menyelesaikan kegiatannya—meminum tehnya.
Laki-laki tua itu terkekeh mendengarnya. Dia meletakkan cangkir tehnya dan berkata, “Kencan buta bukanlah hal yang konyol, anak muda.” Laki-laki tua itu berhenti sesaat dan tersenyum—menampakkan guratan-guratan di wajahnya. “Mungkin putri saya akan menemukan jodohnya.”
“Kurasa anda tidak lupa dengan janji anda untuk memberikan saya waktu,” ujar laki-laki tampan dengan stelan jas abu-abu di hadapannya. Rahangnya mengeras karena menahan amarah. Laki-laki itu bahakan tidak segan-segan menampakkan ketidak sukaannya terhadap kata-kata yang dilontarkan oleh laki-laki berumur lima puluh tahun di hadapannya itu.
“Ya, tentu saja saya mengingatnya. Apa menurutmu aku sudah setua itu untuk mengidap penyakit yang disebabkan oleh faktor usia tersebut?” kelakarnya. Namun, pemuda di hadapannya itu hanya diam memandanginya. “Astaga, nak. Apa kau tidak mempunyai rasa humor?”
Laki-laki tua itu berdehem karena leluconnya tidak cukup untuk membuat laki-laki di hadapannya—yang duduk dengan penuh wibawa dan aura yang mengintimidasi—itu tertawa.
Ketika laki-laki di hadapannya itu tidak memberikan tanggapan, dia melanjutkan ucapannya. “Aku rasa aku sudah memberikanmu banyak waktu, nak. Ingat? Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar,” ujarnya tanpa menggunakan bahasa formal lagi—bermaksud untuk mengurangi ketegangan diantara mereka berdua.
Laki-laki tua itu mengangkat sebelah tangannya ketika melihat pemuda di hadapannya itu membuka mulut untuk menyela ucapannya. “Aku belum selesai berbicara, nak,” katanya.
“Aku mengakui bahwa kau telah banyak berubah. Aku senang melihatnya. Sekarang, kau bukan lagi seorang bocah pembangkang yang suka berkelahi. Atau laki-laki keras kepala yang suka memaksakan kehendaknya. Sekarang kau seorang pebisnis muda yang sukses.” Laki-laki tua itu berbicara dengan senyum terkembang di wajahnya—merasa terharu sekaligus bangga melihat pemuda di hadapannya itu berkembang dengan pesat.
“Aku setuju dengan ucapan anda. Kecuali satu hal—,”
“Apa?”
“Aku masih laki-laki keras kepala delapan tahun lalu—yang sangat menginginkan putri anda.”
Laki-laki tua itu terkekek mendengarnya. “Ya, aku rasa juga begitu.”
“Maksud dari ucapanku tadi adalah kau memang sudah berubah seperti yang aku harapkan. Tapi, kau bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah utamanya, anak muda. Satu-satunya penghalang di antara kalian.”
“Aku sedang berusaha—,”
“Sampai kapan?” laki-laki tua itu menyela ucapannya. “Dengar nak,” laki-laki itu memejamkan kedua matanya. “Aku hanyalah orang tua yang menginginkan kebahagiaan anaknya.”
“Aku akan membahagiakannya.”
Pria tua itu mengangguk, “Aku tahu, nak. Kau pasti bisa melakukannya. Tentunya setelah masalah pribadimu dapat kau selesaikan.” Pria itu menatap mata pemuda yang juga tengah menatapnya dengan pandangan yang bekilat-kilat. “Jadi, sebagai orang tua, aku hanya bisa memberimu satu saran. Jauhi putriku. Lepaskan dia, biarkan dia menemukan kebahagiaannya dengan pria lain. Dan kau…berbahagialah dengan tunanganmu. Terima dia. Cobalah untuk mencintainya, nak.”
“Menurutmu, delapan tahun waktu yang cukup untuk putri anda melupakanku?” Pemuda itu sama sekali tidak mengindahkan ucapan pria paruh baya di hadapanya. Dia justru melontarkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
Laki-laki tua itu menghela napasnya dengan kasar. Tangan kanannya memijat pelipisnya—merasa pusing menghadapi pemuda di hadapannya itu yang sangat menginginkan putrinya. “Satu hal lagi yang tidak berubah dari dirimu, nak—“ ujarnya seraya tertawa kecil, “Rasa percaya dirimu.”
Pemuda itu tersenyum—menyeringai penuh kemenangan medengarnya. Satu hal yang dia tahu—sekalipun pria paruh baya di hadapannya itu belum mengatakan kata-kata final—dia memenangkannya. Rasanya sungguh menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan daripada ketika ia memenangkan sebuah proyek.
“Aku akan memberimu satu kesempatan lagi,” ucap pria tua itu, “Tapi hanya sampai hari ulang tahunnya yang ke-27,” lanjutnya sambil menatap pemuda di hadapannya lekat-lekat.
Itu artinya hanya tersisa beberapa bulan lagi.
“Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,” ucapnya mantap dan penuh tekad. “Lalu, kencan butanya?” tanya pemuda itu memperingatkan.
“Aku janji. Hari ini yang terakhir kali untuknya.”
“Di mana tepatnya?”
“Apa?” Pria paruh baya berusia 50 tahun itu mengerutkan dahinya, salah satu alisnya terangkat. Kemudian dia tersenyum jahil, “Kau tidak bermaksud mengacau acara kencan anakku, bukan?”
“Kalau anda tidak keberatan. Ya, tentu saja,” ucapnya sambil tersenyum menyeringai. Senyum yang membuat setiap wanita jatuh pada pesonanya.
“Hahaha. Lakukan apa yang kaumau, anak muda.”
***
Biasanya, jika seseorang pergi ke perpustakaan, tentunya hal tersebut dipergunakan untuk kegiatan membaca atau tempat belajar. Tepi hal tersebut tidak berlaku untuk gadis bernama Shin Ji Hyun. Akhir-akhir ini, perpustakaan menjadi salah satu tempat yang tidak pernah absen ia kunjungi. Bukan untuk membaca buku, mencari bahan referensi ataupun belajar, tetapi untuk dapat melihat sang pujaan hatinya.
Disudut ruangan, Shin Ji Hyun berdiri bersandar pada rak buku yang menjulang tinggi melebihi tinggi tubuhnya sambil memegang sebuah buku yang ia ambil acak dari rak. Sesekali pandangan matanya terangkat dari buku yang tentunya tidak dibacanya karena ia memegangnya dengan terbalik.
Selama beberapa menit gadis itu akan memfokuskan pandangannya pada sesosok pria yang sedang duduk di deretan bangku sebrangnya. Ketika ia merasa pria itu akan menoleh kepadanya, dengan cepat Ji Hyun akan kembali berpura-pura membaca buku terbaliknya itu. Orang-orang disekitarnya memandangnya dengan aneh. Salah satu gadis yang lewat di depanya berkata kepadanya, “Hebatnya kau bisa membaca buku secara terbalik, apa otakmu juga terbalik?” sindirnya.
Seketika itu juga Ji Hyun tersentak. Gadis itu tersenyum kaku dan segera membalik bukunya ke posisi yang benar untuk membaca. Kemudian ia mengangkat buku itu sehingga menutupi mukanya yang memerah karena malu dan pergi menjauh karena semua orang di sekitarnya kini sedang menatapnya, termasuk pria itu. Ji Hyun merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dia memegang buku secara terbalik. Pasti pria itu berpikir bahwa Ji Hyun adalah gadis yang aneh.
Setelah suasana perpustakaan menjadi stabil, Ji Hyun kembali menatap pria pujaan hatinya itu secara diam-diam. Kali ini pria itu sedang mecari buku di sayap kanan perpustakaan. Shin Ji Hyun berjalan mengikutinya dari sisi yang berlawanan dari rak tersebut. Gadis itu berpura-pura mencari buku yang dibutuhkannya, menarik beberapa buku dan memasukkannya kembali.
Ji Hyun berjalan dengan terus memandangi pria itu. Gadis berusia enam belas tahun itu bahkan tidak menyadari seorang petugas perpustakaan yang sedang membawa setumpuk buku yang tingginya sampai menutupi mata—berjalan kearahnya. Dan kejadian yang tidak bisa terhidarkanpun terjadi. Ji Hyun menabrak petugas perpustkaan itu sehingga membuat semua buku yang dibawanya berhamburan. Lagi-lagi dia menjadi pusat perhatian.Sial.
“Apa sih yang kau lakukan?” kata petugas itu ketus.
“Ma-maafkan aku,” katanya pada petugas perpustakaan itu sambil membungkuk meminta maaf berkali-kali.
“Bereskan semua buku ini, dan bantu aku menyusunnya!”
Shin Ji Hyun hanya bisa menghela napasnya pasrah dan mulai mengambil buku-buku itu satu per satu. Sungguh malang nasibnya karena harus berakhir dengan dihukum meletakkan dan menyusun buku-buku baru sesuai dengan katalognya. Dan itu membutuhkan waktu sekitar dua jam lebih untuk menyelesaikannya.
Suasana sekolah mulai sepi. Lorong-lorong panjang itu hanya diisi oleh beberapa pelajar yang belum pulang. Ji Hyun berjalan gontai menuju kelasnya, kakinya setengah diseret saat berjalan. Hari ini ia melewatkan mata pelajaran Matematika yang diajar oleh Kim Seonsaengnim—guru paling aneh sedunia. Besok pasti ia akan terkena hukuman lagi.
Ketika sampai di kelas, suasananya benar-benar sepi. Tidak ada siapapun di dalam sana. Hanya ada tas Ji Hyun yang tergantung dipinggiran mejanya. Setelah memasukkan buku-bukunya yang tergeletak di atas meja kedalam tasnya, Ji Hyun berjalan keluar ruangan untuk meuju loker sepatunya.
Setelah selesai mengganti sepatunya dan mengunci loker miliknya. Gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk. Tapi, baru beberpa langkah, ia berhenti. Kepalanya terangkat, tatapan matanya tertuju pada loker yang berada pada deretan ketiga—loker khusus untuk anak-anak kelas tiga.
Tanpa sadar langkah kakinya membawanya menuju salah satu loker di deretan itu. Tanganya terulur untuk membuka loker itu yang ternyata tidak terkunci. Ya, loker itu memang tidak pernah terkunci selama ini. Entah alasan apa yang membuat sang pemilik loker tersebut tidak pernah menguncinya.
Di dalam loker itu hanya ada sepasang sepatu ganti. Surat cinta yang ia taruh di sana kemarin sudah tidak ada. Ji Hyun tersenyum membayangkan suratnya saat ini sedang di baca oleh sang pujaan hatinya. Kemudian gadis itu mengeluarkan sebuah amplop putih dengan cap bunga Anemone di ujungnya. Sudah menjadi kebiasaanya selama tiga bulan terakhir ini menulis surat cinta dan menyelipkannya secara diam-diam di loker itu.
“Apa yang kau lakukan?” ketika Ji Hyun akan meletakkan suratnya, suara rendah dan bernada datar itu mengagetkannya. Seketika itu juga surat  yang berada di dalam genggamannya terlepas. Kemudian gadis itu berbalik  dengan perasaan gugup sekaligus takut, ia baru saja ketahuan meletakkan surat cinta di salah satu loker anak kelas tiga.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya lagi sambil berjalan mendekat.
Ji Hyun tidak menjawab pertanyaan itu, gadis itu hanya menundukkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang, sampai-sampai ia takut pria yang berada di hadapanya saat ini bisa mendengarnya.
“Apa itu?” tanyanya lagi.
Lagi dan lagi Ji Hyun tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu. Kemudaian, ia tersadar, yang pria itu tanyakan adalah amplop putih berisikan surat cintanya yang tergeletak di atas lantai dua jengkal dari kakinya. Secepat kilat, Ji Hyun berusaha untuk mengambil surat itu. Tapi sayang sekali, pria dengan postur tubuh tinggi itu lebih cepat daripada dirinya.
“Kembalikan!” katanya ketika pria itu mengangkat tinggi-tinggi suratnya dan membacanya. Ji Hyun berusaha untuk menggapai suratnya, tapi sayang sekali, tinggi tubuhnya sama sekali tidak menguntungkan.
Wajah Ji Hyun semerah tomat ketika mendengar pria itu terkekeh setelah membaca suratnya—surat cintanya.
Kemudian tanpa disangka-sangka, pria itu mengambil secarik kertas dari dalam sakunya. Dengan mensejajarkan kedua kertas tersebut, pria itu berkata, “Jadi kau yang selama ini menulis surat itu.” Kata-kata pria itu lebih kepada sebuah pernyataan daripada pertanyaan.
***
Ji Hyun Apartement, 09.30 KST
Ji Hyun tersentak dari alam bawah sadarnya—dari mimpi masa lalunya. Napasnya terengah-engah dan jatungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Dari semua masa lalunya, kenapa harus saat ia ketahuan menaruh surat cinta di loker itu. Itu hal paling memalukan di masa lalunya—saat Kyu Hyun memergokinya. Saat itu adalah untuk yang pertama kalinya ia dan Kyu Hyun bertemu, saling bertatap muka. Sebelumnya ia hanya melihat pria itu dari kejauhan.
Tenggorokanya sakit dan ia bermaksud untuk mengambil segelas air yang diletakkan di atas nakas. Tapi, ketika ia mencoba untuk bangun, kepalanya mengalami serangan. Kepalanya pusing dan berdenyut-denyut. Gadis itu melesakkan kepalanya di atas bantal dan menggeram kesakitan.
Suara dering ponselnya menambah rasa sakit di kepalanya. Ji Hyun membiarkannya begitu saja sampai suara ponselnya berhenti. Tetapi beberapa detik setelahnya, ponselnya kembali berdering.
Dengan perasaan dongkol, ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas di sebelah kanan tempat tidurnya. Siapa sih yang menelponnya sepagi ini. Mungkin Ji Hyun perlu melihat jam, sekarang bukan lagi jam pagi untuk seorang pegawai perusahaan seperti dirinya.
“Hana, apa?” katanya sambil bergelung kembali di bawah selimut hangatnya. Siapa lagi kalau bukan Lee Hana yang menelponnya di jam-jam pagi seperti ini. “Ini masih terlalu pagi untuk merecokiku.”
“Kepalamu!” teriak Hana dari ujung sana. Ji Hyun harus menjauhkan ponselnya untuk menghindari serangkaian serangan pusing di kepalanya yang cantik.“Ini sudah siang, bodoh,” kata Hana. “Jangan bilang kau mengira pukul 09.30 itu adalah pukul 05.45 pagi.”
Ji Hyun menegakkan tubuhnya, bersandar pada dasbord ranjang. Kemudian melirik jam dinding di sebelah kirinya. “Oh, Sial.” Katanya membenarkan perkataan Hana. Sekarang sudah pukul 09.30.
“Oh, Yeah. Benar-benar sialan,” Hana menimpali. “Aku yakin kau juga lupa ada rapat hari ini.”
“Aku akan segera ke sana—“ Ji Hyun bangkit dari kasurnya, selimut yang membungkus tubuhnya melorot. Dahinya mengerinyit mendapati bahwa dirinya hanya memakai pakaian dalam saja.
“Tidak usah—”
Ji Hyun tidak benar-benar mendengarkan perkataan Hana, pandangannya mengelilingi ruangan mencari-cari bajunya. Ia menemukannya tergeletak di dekata kaki ranjang sebelah kiri.
“Presdir kita yang tampan itu membatalkan rapatnya,” kata Hana yang kemudian disusul protes Eun Hyuk tentang sebutan Hana terhadap CEO baru mereka—Presdir tampan. “Jadi, beristirahatlah di rumah. Ji Hoon bilang kau parah sekali semalam.”
Ji Hyun berjalan menuju nakas—masih dengan tangan yang menggengam ponsel. Di atas nakas itu terdapat satu tablet obat pereda rasa pusing dan mual untuk orang mabuk.
“Yah, Shin Ji Hyun, kau baik-baik saja kan? Bagaimana rasanya di antar pulang oleh Presdir kita yang tampan itu?” tanya Hana.
“Ah, iya….Tolong sampaikan terimakasihku kepadanya—, apa?” tiba-tiba Ji Hyun berhenti berbicara. Rasanya ada yang aneh dengan pertanyaan Hana barusan. Bagaimana rasanya di antar pulang oleh Presdir kita yang tampan itu?
“Kau ingin aku agar menyampaikan rasa terima kasihmu kepada Presdir kita itu?” tanya Hana dengan jengah.
“Apa yang kau katakan tadi?” Ji Hyun masih dilanda perasaan shock akan perkataan Hana sebelumnya.
“Apa?! Yang mana?” kata Hana.
“Kyu Hyun yang mengantarku pulang semalam—“ lirih Ji Hyun masih tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Hana.
“Ya, ya, aku tahu. Tidak usah pamer.” Hana menimpali. “Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan dia?”
Setelahnya Hana berteriak karena Shin Ji Hyun mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
“Argghhhh…” Ji Hyun berteriak. Gadis itu menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tolong garis bawahi ini, Cho Kyu Hyun yang mengantarnya pulang. Cho Kyu Hyun yang mengantarku pulang, ulangnya dalam hati. Cho Kyu Hyun.
Ji Hyun mendesis sebal karena tidak bisa mengingat kejadian semalam. Memori tentang kejadian semalam tumpang tidih, urutanya bahkan tidak beraturan. Gadis itu  bahkan tidak mengingat keseluruhannya. Terakhir yang diingatnya adalah saat ia pergi ke PUB milik Eun Hyuk, bertemu dengan Kyu Hyun yang kebetulan juga ada di sana, kemudian Kyu Hyun menghampirinya—meminum wine miliknya, lalu Ji Hoon datang, Juno, Eun Hyuk, mereka mengobrol, ia meminum banyak wine dan…dan apa? Ia sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi selanjutnya.
Apa ia mabuk?
Kemudian tidak sadarkan diri?
Dan Kyu Hyun berbaik hati mengantarkannya pulang?
Tapi, kenapa harus Kyu Hyun?
Kenapa bukan Ji Hoon atau Eun Hyuk?
Pertanya-pertanyaan itu memenuhi isi kepalanya yang cantik. Dipukulnya kepalanya itu berkali-kali, berharap dengan begitu ia dapat mengingat kejadian semalam. Sebal karena tetap tidak bisa mengingatnya, Ji Hyun berguling kesana-kemari—selimut tebal miliknya membelit tubuhnya. Kemudian suara debaman tubuhnya yang jatuh membentur lantai kamar terdengar.
“Ouchh!” ringisnya menahan rasa sakit di sekitar pantatnya. Kenapa tidak kepalanya saja yang menyentuh lantai duluan, kemudian ia gegar otak dan hilang ingatan. Melupakan pernah bertemu Kyu Hyun saat mengenyam bangku SMU. Melupakan kalau ia masih mencintai pria itu. Melupakan semuanya, semua tentang Kyu Hyun dan kejadian tadi malam yang masih belum bisa diingatnya.
Dengan penuh tekad, ia memutuskan untuk melupakan kata-kata Hana. Berpura-pura tidak tahu tentang Kyu Hyun yang mengantarnya pulang. Toh dia juga memang tidak mengingatnya.
Tetapi, melihat keadaanya yang sekarang—yang hanya mengenakan pakaian dalam saja, ia tidak bisa. Ini menyangkut tentang harga dirinya. Mengenai siapa yang melucuti pakaiannya. Dirinya sendirikah atau kemungkinan terburuk—Kyu Hyun yang membukanya. Tiba-tiba imajinasi liarnya tentang ia yang melepaskan pakaiannya sendiri dan menggoda Kyu Hyun berputar-putar di otaknya. Itu yang paling buruk dari yang terburuk.
Mati saja aku kalu itu yang terjadi.
***
Ji Hyun Apartement, 18.00 KST
Seharian penuh ini, Ji Hyun mempergunakan waktunya untuk beristirahat. Kepalanya sudah tidak pusing dan ia juga tidak muntah-muntah lagi. Keadaanya semakin membaik setelah kunjungan ibunya tadi siang yang membawakannya sup nasi kerak.
Shin Ji Hyun berdiri di depan cermin, kemudian meraih tas tangan dan mantelnya, tidak lupa—ia juga membawa sebuah undangan yang diberikan ibunya tadi siang. Hari ini ia dan pasangan kencannya akan menghadiri sebuah pesta pembukaan galery seni baru.
Setiap langkah kakinya membuat suara ketukan yang mengalun indah di sepanjang lorong apartemen menuju lantai dasar tempat ia dan pasangannya berjanji bertemu.
Lift yang membawanya ke lantai dasar berhenti dan terbuka. Ia keluar dari lift dan berjalan menuju pintu depan yang terbuat dari kaca. Dari sana ia bisa melihat seorang laki-laki yang sedang membelakanginya. Itu pasti pasangan kencan yang dikatakan ibunya tadi. Siapa tadi namanya? Kalu tidak salah ibunya tadi menyebutkan nama Choi Dong Wook?
“Choi Dong Wook—ssi?”
Laki-laki itu menoleh dan membalikkan badannya menghadap Ji Hyun. Laki-laki itu—yang Ji Hyun ketahui bernama Choi Dong Wook, berprofesi sebagai seorang fotografer—tersenyum dan mengamati Ji Hyun dengan saksama, matanya mengamati gaun panjang Ji Hyun yang berwarna merah muda dan kembali lagi ke wajahnya. “Sangat cantik,” pujinya.
Ji Hyun hanya tersenyum menanggapi pujian tersebut. “Berangkat sekarang?” tanyanya.
“Tentu saja.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Mau tidak mau, Ji Hyun menerimanya. Demi kedua orangtuanya, tekannya dalam hati. Kemudian Dong Wook membukakan pintu depan untuknya dan keduanya pergi menuju tempat tujan mereka.
Setengah jam kemudian mereka sampai di gedung galery itu. Mereka memasuki gedung itu setelah sebelumnya memperlihatkan undangan kepada penerima tamu. Ji Hyun menitipkan mantelnya di tempat penitipan.
Galery itu dibuka untuk umum tadi pagi sampai menjelang petang. Sekarang merupakan pesta khusus yang diperuntukkan para tamu undangan—yang sebagian besar dari mereka adalah para fotografer terkenal dan para pecinta benda-benda seni.
Ji Hyun sedang mengagumi ruangan megah itu ketika Dong Wook membawanya pada teman-teman sesama fotografer dan kritikus seni untuk diperkenalkan. Mereka membicarakan hal-hal yang rumit, seperti keindahan dan jiwa seni. Memberi pujian dan kritikan pada setiap benda-benda yang mereka lewati. Ji Hyun menimpali obrolan mereka sebisa mungkin, gadis itu hanya berbicara ketika ia merasa perlu melakukannya.
Kencan macam apa ini, gumam Shin Ji Hyun ketika ia mulai merasa bosan. Ia sedikit menyingkir dari rombongan itu. Tidak benar-benar pergi, ia masih mengekor di belakang mereka dengan sekali-kali memperhatikan sekelilingnya.
Sebenarnya Choi Dong Wook orang yang baik. Pria itu memperlakukannya dengan sopan. Hanya saja dia tipe laki-laki yang sangat terobsesi dengan keindahaan dan kesempurnaan dan juga tipe yang akan melupakanmu karena hal yang digemarinya. Kau tahu, kau tidak jauh berarti daripada benda-benda seni itu—yang menurutnya adalah keindahaan sesungguhnya. Kau akan di campakannya. Jadi, menjauhlah dari laki-laki seperti itu.
Choi Dong Wook tentunya sudah dicoret dari daftar laki-laki milik Ji Hyun. Memangnya seperti apa tipe laki-laki milik Shin Ji Hyun? Tinggi? Tampan? Laki-laki yang akan menatapmu dengan mata gelapnya yang hangat—yang membuatmu tidak bisa mengalihkan perhatian darinya—terhanyut di dalamnya sekaligus merasa terlindungi. Laki-laki yang selalu bisa menenangkanmu dengan suara dan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Laki-laki dengan segala sikap keras kepalanya. Kasar. Dingin. Suka memerintah. Seperti…seperti Cho Kyu Hyun misalnya?
Cho Kyu Hyun adalah tipe laki-laki miliknya.
Shin Ji Hyun meringis. Oh, yang benar saja. Ia pasti sudah tidak waras karena berpikir seperti itu.
Memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu, ia mencoba mengamati beberpa foto. Ada satu foto yang menarik perhatiannya. Sebuah foto dengan beberapa kaki orang yang tergantung.
Dahinya mengerinyit mengamati foto aneh itu. Kemudian, ketika pandangannya beralih ke sebuah foto di sebelahnya, ia baru menyadarinya. Itu bukanlah foto sekumpulan orang yang sedang bunuh diri bersama-sama. Tetapi itu adalah sekumpulan penari balet yang berdiri dengan ujung ibu jari kaki mereka.
Ji Hyun berdecak kagum. Bukan hanya karena sang fotografer yang hebat bisa mengambil foto dari sudut tersebut sehingga menghasilkan maha karya yang luar biasa hebat dan juga luar biasa membingungkannya—jika kau kemari dan melihatnya, pasti kau juga akan berpikiran sama seperti Ji Hyun dan mengira itu adalah foto sekelompok orang yang sedang tergantung—juga karena para balerina itu! Betapa hebatnya mereka yang bisa berdiri seperti itu—dengan ujung jempol yang menopang berat tubuhnya. Apa kau bisa melakukan yang seperti itu?
“Shin Ji Hyun?”
Suara berat itu membuat Ji Hyun menoleh dan matanya melebar kaget melihat orang yang berdiri di sebelahnya.
Cho Kyu Hyun.
Jantungnya berdebar dua kali lipat. Apa yang dia lakukan di sini?
Ketika Ji Hyun tidak berbicara juga, Kyu Hyun melanjutkan, “Kencan, eh?” tanyanya dengan nada datar, wajahnya berpaling—menunjuk sosok Dong Wook yang tidak berada jauh darinya. Sepertinya Kyu Hyun sudah memperhatikannya sejak ia dan Dong Wook memasuki gedung itu.
Ji Hyun membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Gadis itu masih sangat shock dengan kehadiran Kyu Hyun yang tiba-tiba. Ia tidak menyangka akan meliaht sosok Kyu Hyun di pesta pembukaan galery ini. Setelah kejadian semalam, Ji Hyun berharap tidak bertemu dengan Kyu Hyun dalam waktu dekat ini. Tapi sungguh sial nasibnya.
Ketika Ji Hyun berhasil menemukan suaranya kembali, ia berkata pada Kyu Hyun, ”Bukan urusanmu.”
Ji Hyun bisa mendengar ketika Kyu Hyun mendengus setelahnya. Gadis itu menjadi gugup karena Kyu Hyun terus menatapnya. Ia takut kalau-kalau Kyu Hyun akan membahas tentang kejadian semalam. Apa yang akan dikatakannya nanti. Terima kasih karena sudah mengantarku atau…aku tidak mengingatknya, jadi lupakan saja.
“Aku hanya berharap kau tidak minum terlalu banyak dan menyusahkan orang lain.”
Entah mengapa, Cho Kyu Hyun selalu bisa membuat suasana hatinya menjadi buruk hanya dengan sebuah kalimat.
Shin Ji Hyun mendongak dan menatap Kyu Hyun dengan pandangan yang berkilat marah. “Kenapa juga kau mau mengantarku pulang?!” Hampir saja ia berteriak seperti itu kepada Kyu Hyun.
Ketika Ji Hyun membuka mulutnya untuk mendebat Kyu Hyun. Dong Wook memanggil namanya. Laki-laki itu menghampiri dirinya dengan wajah yang sedikit terkejut bercampur rasa kagum atau semacamnya. “Kemari dan lihat ini,” katanya sambil menarik siku Ji Hyun agar mengikutinya tanpa mengindahkan keberadaan Kyu Hyun yang sedari tadi berada di sisi Ji Hyun.
Gadis itu bisa melihat rahang Kyu Hyun yang mengeras karena merasa diabaikan. Tapi toh dia tetap mengikuti Dong Wook dan Ji Hyun di belakang. Dong Wook membawanya ke ujung lorong yang penuh sesak oleh orang-orang. Pastinya itu sesuatu yang sangat luar biasa, karena di sana yang paling banyak orang berkumpul.
Ketika mereka hampir mendekati kerumunan itu, Ji Hyun memperlambat langkahnya sampai-sampai Dong Wook harus sedikit menyeretnya. Dari jarak ini, Ji Hyun bisa melihat potret seseorang dengan bingkai yang paling besar. Ia seperti pernah melihatnya, potret itu seperti…dirinya?
Begitu mereka sampai tepat dibelakang krumulan orang-orang itu, Dong Wook berkata kepadanya, “Lihat ini. Bukankah itu kau?”. Perkataan Dong Wook tersebut mengalihkan perhatian semua orang kepadanya. Mereka mulai menyingkir sedikit demi sedikit dari dinding, sehingga Ji Hyun dapat melihat keseluruhan apa yang ada di sana.
Beta terkejutnya Ji Hyun ketika mendapati puluhan potret dirinya. Dan satu yang paling besar di tengah adalah lukisan dirinya yang sedang mengenakan gaun berwarna biru langit. Itu gaun yang digunakanya di porm ketika ia masih sekolah menengah atas.
“Aku tidak tahu kau bisa tersenyum selepas itu,” kata Dong Wook. Orang-orang mulai memperhatikan dirinya. Ji Hyun menoleh ke kanan—di mana Kyu Hyun berada. Laki-laki itu juga sama terkejutnya dengan dirinya.
Siapa? Siapa yang melakukan ini? Hampir semua foto itu ketika Ji Hyun masih sekolah. Beberapa foto di ambil dari sudut yang tidak diketahui oleh Ji Hyun, bisa dibilang itu mencuri foto orang. Tapi di beberapa foto yang lain, Ji Hyun menatap kameranya. Dia ingat foto-foto itu dan juga siapa yang memotretnya.
Tubuh Ji Hyun menegang mengetahui satu nama di masa lalunya. Punggungnya terasa panas karena merasa ditatap oleh seseorang. Kemudian ketika seseorang bertanya, “Apakah yang besar ini di jual?” tunjuknya pada lukisan Ji Hyun. Seseorang di belakangnya menjawab, “Sayang sekali. Tidak. Itu koleksi pribadi.” Suara itu sudah cukup meyakinkan Ji Hyun siapa dibalik semua ini.
Perlahan, Shin Ji Hyun berbalik ke belakang. Di sana, seorang laki-laki dengan tinggi 186 cm berdiri di hadapannya. Sama seperti kebanyakan laki-laki lain di acara ini, laki-laki itu mengenakan tuxedo hitam yang dipadankan dengan kemeja putih tanpa dasi dan celana dasar hitam. Rambutnya berwarna coklat gelap dan dibiarkan berantakan. Tampan? Tentu saja. Sangat tampan malahan.
Laki-laki itu menatap Ji Hyun lekat-lekat—dari ujung kaki sampai ke ujung kepala—sampai-sampai membuatnya gugup. Kyu Hyun mengertakan gigi melihat laki-laki itu melihat Ji Hyun seolah-olah menelanjanginya.
“Joon Woo oppa—,” lirih Ji Hyun. Suaranya serak dan tidak jelas. Kemana perginya suaranya?
“Katakan sekali lagi.”
“Joon Woo oppa.” Kali ini suaranya lebih keras dan terdengar lebih percaya diri ketika mengatakannya.
Laki-laki itu tidak bisa menutupi rasa bahagianya—ia tersenyum lebar. Laki-laki itu berjalan dengan langkah cepat dan besarnya hanya untuk membawa Shin Ji Hyun ke dalam pelukannya. “Aku merindukanmu,” katanya sambil mengayun-ayunkan tubuhnya bersama Ji Hyun ke kanan dan kiri. “ Sangat merindukanmu,” koreksinya.
Betapa Shin Ji Hyun sangat merindukan suara itu, pelukan itu. Betapa ia juga sangat ingin memeluk laki-laki itu dan mengatakan, aku juga merindukanmu. Tapi, tubuhnya seakan kaku. Ia hanya bisa terdiam dan membiarkan laki-laki bernama Joon Woo itu memeluknya.
“Kau tahu? Betapa senangnya aku mendengar kau menyebut namaku,” kata Joon Woo masih dengan memeluk Ji Hyun. Laki-laki itu sama sekali tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya—tidak memperdulikan Cho Kyu Hyun yang siap menerjangnya kapanpun.
“Eh…oppa?” Ji Hyun berusaha melepaskan diri ketika orang-orang memperhatikan mereka dengan bingung. Dia juga tidak mau ditatap terus oleh Cho Kyu Hyun.
“Ah,” seakan tersadar, Joon Woo tersenyum pada mereka, “Aku sarankan kalian untuk pergi ke aula karena aku akan memberikan sambutan,” katanya.
Orang-orang mulai beranjak menuju aula utama. Mereka mencoba bersikap sopan dengan tidak bertanya-tanya tentang hubungan Joon Woo dan Ji Hyun.
Joon Woo menoleh ke arah Dong Wook yang masih berada di sana. “Mengingat kami tidak pernah bertemu selama delapan tahun ini. Kuharap kau tidak keberatan aku meminjamnya, Mr. Choi Dong Wook,” kata Joon Woo sambil merangkul bahu Ji Hyun.
“Oh?” Dong Wook namapak bingung tapi tetap tersenyum, “Ya…ya tentu saja,” katanya. “Nikmati waktumu,” kata Dong Wook pada Ji Hyun, yang dibalas dengan senyum meminta maaf.
“Ngomong-ngomong, tadi aku bertemu ayahmu,” kata Joon Woo setelah kepergian Dong Wook—sama sekali tidak memperdulikan Kyu Hyun yang masih berdiri di sana.
“Oh, ya?” Ji Hyun bingung harus merespon bagaimana. Suasana ini benar-benar canggung. Kyu Hyun yang bersikap aneh. Laki-laki itu terus menatap Joon Woo dengan pandangan tidak suka. Sedangkan Joon Woo yang terus berbicara pada Ji Hyun seolah-olah Cho Kyu Hyun tidak ada di sana. Ia bingung harus bersikap bagaimana.
“Bertemu atau menemuinya?” sela Kyu Hyun.
Mengabaikan pertanyaan Kyu Hyun, Joon Woo berkata, “Kurasa kau harus mencari Sora, tadi kulihat dia mencarimu.” Sebuah pengusiran yang tersirat dari kata-katanya.
“Yah.” Kyu Hyun mendengus. “Ya. Sebaiknya aku mencarinya,” untuk meminta penjelasan, lanjut Kyu Hyun dalam hati. Dengan berat hati laki-laki itu pergi meninggalkan Ji Hyun bersama Joon Woo.
Gadis itu pasti tahu. Park Sora pasti tahu, geram Kyu Hyun—gigi-giginya bergemeletuk menahan amarah. Jika ia tahu Joon Woo pemilik gedung ini, ia tidak akan mau menemani Park Sora datang ke acara konyol ini. Dan membiarkan Shin Ji Hyun bersama pria brengsek itu. Oh tidah. Tidak. Itu gagasan yang jauh lebih buruk.
Mendengar nama Sora, memperburuk suasana hati Ji Hyun. Rasanya gadis itu selalu berada di dekat Kyu Hyun. Apa Cho Kyu Hyun memiliki penyakit parah sehingga seorang dokter harus selalu berada di dekatnya?
Joon Woo menarik lengan Ji Hyun ketika gadis itu tidak bergerak saat ia mengajaknya ke aula. Shin Ji Hyun hanya bisa tersenyum meminta maaf karenanya.
“Para hadirin sekalian,” kata pembawa acara ketika ia dan Joon Woo sampai di aula utama. Shin Ji Hyun sudah berada di samping Choi Dong Wook ketika Joon Woo pergi meninggalkanya untuk menuju panggung setelah pembawa acara itu berkata, “Kita akan mendengarkan sambutan dari pemilik galery ini. Tuan Lee Joon Woo.”
Perhatian semua orang terarah ke panggung, tempat Joon Woo memberikan kata sambutan kepada para tamu.
“Lee Joon Woo—,” lirih Ji Hyun—tidak bisa menutupi rasa kagetnya. Apa laki-laki itu mengganti nama keluarganya? Tapi kenapa, pikir Ji Hyun.
Gadis itu mencari-cari keberadaan Kyu Hyun. Ia ingin meliaht seperti apa reaksi Kyu Hyun. Ketemu. Laki-laki itu berada jauh darinya. Tapi Ji Hyun masih bisa melihat wajahnya. Cho Kyu Hyun nampak biasa-biasa saja. Ekspresi wajahnya datar seperti biasanya, sama sekali tidak ada emosi. Sampai kapanpun, Cho Kyu Hyun akan selalu menjadi buku yang sulit untuk di baca oleh Shin Ji Hyun.
Apa dia Tahu?
Selama Joon Woo memberikan sambutan, Ji Hyun terus memperhatikan Kyu Hyun. Sampai ia menyadari ada tangan yang bergelanyut manja di tangan kanan Kyu Hyun. Shin Ji Hyun menyusuri tangan itu, kemudian pandangannya berhenti pada wajah asia dan sedikit campuran barat itu—Park Sora.
Merasa seperti ada yang menatapnya, Park Sora menoleh. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Ji Hyun. Shin Ji Hyun mengangkat gelas sampanye miliknya—yang tadi diberikan Dong Wook kepadanya—untuk membalas sapaan Sora. Kemudian Shin Ji Hyun merasa Park Sora mengatakan sesuatu kepadanya. Ia tidak bisa mendengarnya, tapi entah mengapa itu terdengar seperti, “Aku yang pergi ke pesta bersama Kyu Hyun. Menemaninya. Bukan kau.”
Ji Hyun tersenyum sekilas dan mengalihkan perhatiannya pada Joon woo ketika laki-laki itu mengakhiri kata sambutannya, “Sekali lagi, terima kasih atas kehadiran anda semua. Silakan menikmati pestanya dan silakan mengajak pasangan anda untuk berdansa.”
Dong Wook mengajak Ji Hyun untuk berdansa, tapi gadis itu menolak dengan alasana aku tidak bisa berdansa. Saat itulah Lee Joon Woo berkata keras-keras di depan mike, “Untuk gadis yang paling istimewa untukku. Maukah kau berdansa denganku?” Para tamu bertepuk tangan sementara joon woo turun dari panggung.
Laki-laki itu berjalan kearahnya. Semua orang menyingkir dari jalannya—ruangan itu seperti lautan manusia yang terbelah menjuadi dua.
Semua orang menatapnya. Shin Ji Hyun benci menjadi pusat perhatian. Cepat-cepat gadis itu menyambut uluran tangan Joon Woo. Tidak mungkinkan dia membiarkan laki-laki itu terus membungkuk. Semakin cepat, makan semakin cepat juga ini berakhir, tekannya dalam hati.
Ketika Joon Woo membawanya ke tengah aula, band mulai memainkan lagu untuk mengiringi pasangan-pasangan yang ingin berdansa.
“Terima kasih karena sudah menyelamatkan punggungku dari rasa sakit.”
Shin Ji Hyun tertawa lirih mendengarkan kata-kata Joon Woo. “Terima kasih juga untukmu,” katanya sambil meletakkan tangan kirinya di atas bahu laki-laki itu.
Joon Woo meletakkan tangan kanannya di punggung Ji Hyun dan mereka mulai berdansa mengikuti irama musik. “Untuk?”
Untuk menyelamatkanku dari berdansa dengan Choi Dong Wook. “Untuk apa-pun,” kata Shin Ji Hyun. “Sebenarnya,” Ji Hyun menambahkan, “Aku tidak pernah berdansa lagi sejak hari itu.”
“Well, jangan sampai kau menginjak kakiku kalau begitu.”
Ji Hyun merasa Cho Kyu Hyun menatapnya, tetapi ketika ia menoleh ke arah laki-laki itu, Kyu Hyun sudah memalingkan wajahnya—menatap ke arah lain. Laki-laki itu sedang meminum sampanye—tidak berdansa. Di mana Park Sora?
Ji Hyun memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu, ia ingin menikmati waktunya berdansa bersama Joon Woo.
***
Suasana hati Cho Kyu Hyun sedang buruk. Buruk itu berarti sangat, sangat buruk. Laki-laki itu meminum sampanyenya dengan kasar. Matanya terus mengawasi sosok Shin Ji Hyun yang sedang berdansa bersama Lee Joon Woo.
Cho Kyu Hyun berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak berderap ke arah pasangan itu dan menarik paksa Shin Ji Hyun dari Lee Joon Woo. Lee Joon Woo….tolong ingatkan Cho Kyu Hyun untuk menghajarnya nanti. Mata itu…tangan itu…. Ya, tangan itu, ia akan mematahkannya.
Rengekan Sora yang mengajaknya untuk berdansa membuat kepalanya pusing. Tapi Cho Kyu Hyun tidak bisa marah pada gadis itu, jadi ia hanya mendiamkannya. Gadis itu menyerah dan memilih untuk berbicara pada Dong Wook yang terus memberengut karena pasangannya di ambil Joon Woo.
Choi Dong Wook. Laki-laki itu tidak tahu betapa beruntungnya dia karena tidak berhasil mengajak Shin Ji Hyun berdansa. Seharusnya ia berterima kasih kepada Lee Joon Woo. Karena, berkat laki-laki itu, Cho Kyu Hyun tidak lagi memiliki keinginan untuk menghajarnya.
To be continued…
***
Gemana? Apa kalian sudah bisa menebak-nebak?
Terima kasih sudah mampir utnuk membaca. Sampai bertemu di part selanjutnya.
Bye bye… :*
%d blogger menyukai ini: