We Need Love Part 6

0
We Need Love Part 6 ff nc kyuhyun CL 2ne1
Author: Putria Kim
Title: We Need Love
Category: NC21, Yadong, Romance, Married Life, Chapter
Cast: Cho Kyuhyun
Lee Chae Lin (CL 2ne1)
Lee Donghae and other cast
Ini adalah kali pertama Kyuhyun dan Chae Lin terlihat seperti sepasang suami istri sungguhan. Bukan sepasang suami istri bisnis. Ya, karena keduanya menikah dalam rangka untuk memperkuat posisi perusahaan mereka masing-masing.

Chae Lin yang berniat mengambil saham milik Kyuhyun dan Kyuhyun yang ingin menguatkan posisi perusahaan di tengah krisis ekonomi global dengan menikahi Chae Lin, putri dari pemilik Lee Corporation, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti dan perhotelan. Pernikahannya dan Lee Chae Lin membuat perusahaan Kyuhyun memenangkan banyak tender. Kyuhyun dan Chae Lin sama-sama memiliki motif tersendiri dalam pernikahan ini. Namun untuk saat ini, keduanya seolah lupa akan tujuan awal pernikahan mereka.
Sepasang sejoli itu tengah di mabuk cinta, hanya saja keduanya tidak saling mengungkapkannya. Chae Lin tahu bahwa hatinya sudah mulai tertambat pada suaminya sendiri, begitu pula dengan Kyuhyun, ia sudah jatuh dalam pelukan wanitanya sejak Chae Lin mencurahkan beban hatinya tempo hari. Kyuhyun merasa perlu menjaga Chae Lin, mengamankan hatinya dari rasa sakit dan kian hari keinginan membuat Chae Lin bahagia masuk dalam daftar prioritas hidupnya saat ini.
“Bagaimana dengan Lee Hyun Soo jika kau mencintai istrimu?” batin Kyuhyun bermonolog.
Isi kepala Kyuhyun mulai berputar ke belakang, teringat sosok sang sekretaris pribadi yang merangkap sebagai kekasihnya sejak setahun lalu. Wanita pertama dan terakhir yang berhasil menjadi kekasihnya sebelum akhirnya menikah dengan Chae Lin. Selama ini Kyuhyun terlalu fokus dengan kariernya hingga lupa untuk mulai berkencan dengan wanita di luar sana, waktunya banyak tersita di kantor dan bersama Lee Hyun Soo, sekretaris pribadinya yang memiliki tubuh proporsional layaknya model serta rambut panjang hitam legam kontras dengan kulit putih susunya, tak pelak jika Kyuhyun jatuh hati dengan gadis itu, orang yang selalu bersamanya hampir dua belas jam dalam sehari.
***
Dering ponsel Chae Lin menyudahi pagutan bibir mereka.
“Yeoboseyo”
“Kau dimana Chae Lin-ah? Sekarang eomma berada di depan penthousemu” tanya sang ibu.
“Aku sedang di pulau Nami bersama Kyuhyun. Eomma ada perlu apa sampai datang ke penthouse?”
“Pulau Nami?” ibunya mengerutkan kening mendengar mereka berada di pulau Nami.
“Eomma dan ibu Kyuhyun ingin membahas tentang pesta pernikahan kalian yang akan digelar lusa” papar sang ibu.
“Apa? Lusa?” pekik Chae Lin terkejut.
Kyuhyun ikut kaget mendengar pekikan suara istrinya.
“Kenapa dia?” batin Kyuhyun ingin tahu.
“Ada apa?”tanya Kyuhyun tanpa suara kepada Chae Lin.
Chae Lin hanya menjawab dengan memberi isyarat tangan agar Kyuhyun menunggu sebentar.
“Baiklah. Besok pagi aku akan datang ke rumah” Chae Lin memutus sambungan teleponnya.
“Ada apa?”
“Pesta resepsi pernikahan kita akan digelar lusa”
“Apa? Lusa?” kali ini giliran Kyuhyun yang terkejut mendengar berita itu.
Chae Lin mengangguk lemas.
“Kenapa mereka menggelar pesta tanpa bertanya dulu kepadaku? Aisssh jinjja! Seenaknya saja menentukan waktu tanpa berkoordinasi denganku” Kyuhyun mengerang frustasi, diambilnya ponsel dari dalam saku celana cargonya.
“Yeoboseyo”
“Oppa?” pekik Lee Hyun Soo girang karena mendapat panggilan dari Kyuhyun.
“Lee Hyun Soo-ssi tolong atur ulang semua jadwalku besok lusa”
Lee Hyun Soo! Tiap kali Chae Lin mendengar nama Lee Hyun Soo dadanya terasa seperti ditusuk garpu panas hingga membuat sensasi panas dan nyeri melanda hatinya.
“Sekarang tanggal berapa?” tanya Kyuhyun pada Chae Lin.
“Dua puluh dua”
Samar-samar Hyun Soo menangkap suara Chae Lin, dan itu berarti mereka berdua masih berada di pulau Nami. Tiba-tiba saja dada Hyun Soo terasa sesak membayangkan pria yang dicintainya sedang bersama wanita lain yang merupakan istrinya sendiri.
“Tolong atur ulang jadwalku pada tanggal dua puluh empat, tolong kosongkan semuanya.”
Hyun Soo menghirup nafas panjang berharap asupan oksigen segar dapat segara memulihkan rasa sesak di dadanya. “Baiklah op…pa” sahut Hyun Soo terpotong karena Kyuhyun ternyata sudah memutus sambungan telepon mereka.
Hyun Soo tertegun dengan ponsel masih menempel di telinganya. Ia seakan tak percaya bahwa Kyuhyun mengacuhkannya.
***
Kyuhyun berusaha menjaga perasaan Chae Lin saat ia menghubungi Hyun Soo dengan tidak berlama-lama menelponnya meski ia tahu bahwa Hyun Soo pasti merindukannya karena sudah dua hari ini ia belum menghubungi gadis itu, terhitung sejak ia dan Chae Lin bertolak menuju pulau Nami.
“Maafkan aku” batin Kyuhyun menyesal. Entah menyesal karena terpaksa mengabaikan Hyun Soo atau karena ia takut melukai hati Chae Lin dengan menghubungi Hyun Soo di hadapan istrinya. Semuanya masih terlalu buram, seperti denyar asap tipis.
Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya pada bangku taman. Pria itu kembali menekan tombol di smartphonenya, membuat panggilan.
“Yeoboseyo, tolong hubungi semua investor asing. Rapat Umum Pemegang Saham ditunda, aku akan menghubungimu lagi jika sudah mereset ulang jadwalku minggu depan.”
Klik. Kyuhyun baru saja menghubungi salah seorang tangan kanannya di perusahaan.
“I’m so sorry Mr.Bill, sekretarisku akan menghubungimu lagi nanti.”
“Apa? Minggu depan? Baiklah, akan aku usahakan.”
Chae Lin hanya menatap iba pada Kyuhyun, pria itu terlihat sibuk membatalkan beberapa pertemuannya dengan para kolega bisnisnya. Chae Lin menggeser duduknya hingga memupus jarak di antara mereka, mengusap lembut bahu Kyuhyun saat pria itu sedang memijat pelan pelipisnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Chae Lin sedikit resah.
Seulas senyum manis terkembang dari wajah tampan Cho Kyuhyun, “Ya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir” diusapnya pelan pipi kanan Chae Lin.
“Eomma memang keterlaluan, kenapa tidak meminta pendapat kita terlebih dulu? Dasar menyebalkan!” umpat Chae Lin kesal.
“Sssst… Tak baik mengumpat seperti itu kepada orangtua.” jari telunjuk Kyuhyun menempel pada bibir mungil Chae Lin.
“Maaf.” kata Chae Lin dengan tersenyum tipis.
“Gadis baik.” Kyuhyun mengusak kepala Chae Lin, seketika membuat rambut Chae Lin berantakan.
“Yaa! Rambutku! Ughhhhh…menyebalkan!” Chae Lin manyun-manyun kesal.
“Kajja…”
Kyuhyun menarik pergelangan tangan kanan Chae Lin, membawanya mendekat pada penjual balon.
Kyuhyun meminta sebuah balon serta gunting pada penjualnya lantas diguntingnya pangkal balon tersebut, menyesap gas helium yang ada di dalam balon.
“Cho Chae Lin…” kata pertama yang Kyuhyun ucapkan setelah menyesap helium, dan…
“Hahahahahaha suaramu” Chae Lin tertawa begitu mendengar suara besar Kyuhyun berubah layaknya suara tokoh-tokoh kartun.
“Kau mau coba?” tawar Kyuhyun pada sang istri. Masih dengan suara kartunnya, Chae Lin hanya geleng-geleng kepala menjawab tawaran Kyuhyun karena gadis itu masih sibuk menertawakan suara Kyuhyun.
Meski Chae Lin sudah menolak tawarannya Kyuhyun tetap menjejalkan balon ke dalam mulut Chae Lin.
“Oppa sua…hahahaha” Chae Lin menggantungkan ucapannya karena ia terlanjur geli mendengar suaranya sendiri.
“Hahahahahaha…” gadis itu terus saja tertawa terbahak-bahak dengan suara kartunnya.
“Chae Lin pabbo!” seru Kyuhyun masih dengan suara kartun.
“Kyuhyun pabbo!” balas Chae Lin. Keduanya tersenyum lebar.
Sementara itu penjual balon dan beberapa pembelinya yang sebagian besar ibu-ibu bersama anak-anaknya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Chae Lin dan Kyuhyun. Dua orang dewasa bermain dengan balon helium layaknya anak sepuluh tahun. Menggelikan sekali bukan?
***
Jang Shil Yoon mengetukkan jarinya pada meja kaca di hadapannya sembari menunggu seseorang yang istimewa menjawab panggilan teleponnya. Namun tak sesuai harapan, sudah hampir lima belas kali ia mencoba menghubungi Lee Dong Wook hari ini.
“Ada apa dengannya?” desah Shil Yoon resah seraya meletakkan ponselnya di meja.
“Apa kemarin malam aku membuatnya kesal?”
“Rasanya tidak” Shil Yoon menggumam sendiri.
Seulas senyum terkembang disertai pipinya yang mulai merona merah begitu mengingat kejadian tempo hari, saat ia dan Dong Wook bermain-main di ranjangnya. Samar-samar Shil Yoon masih tergambar jelas wajah tampan pria yang telah merampas hatinya, wanita itu kembali tersenyum lebar.
***
Tawa Chae Lin dan Kyuhyun masih belum berhenti setelah bermain balon helium, sekarang keduanya sudah berada di tempat penyewaan sepeda air dan sampan mini.
“Geumanhae…Hahaha” pekik Chae Lin mencoba menghentikan aksi gelitik Kyuhyun di perutnya.
“Andwae!” sahut Kyuhyun dengan kedua tangan masih menggelitik kecil perut Chae Lin, si empunya mencoba kabur namun Kyuhyun terlalu erat mendekap tubuhnya dari belakang.
“Panggil aku oppa baru aku akan melepaskanmu.” bisik Kyuhyun tepat di telinga kanan Chae Lin.
Petugas jasa penyewaan sepeda air dan sampan hanya menatap iri kemesraan Chae Lin dan Kyuhyun. Benar kata pepatah, jika sedang jatuh cinta memang dunia serasa milik berdua.
Sepasang sejoli yang sedang di mabuk asmara itu tak mempedulikan tatapan iri yang dilemparkan orang-orang di sekelilingnya.
“Hahahahaha …” Kyuhyun masih belum menghentikan serangan gelitiknya.
“Oppa tolong hahahaha hentikan!” pinta Chae Lin di sela-sela tawanya.
Serasa ada jutaan kupu-kupu yang keluar dari dalam perutnya hingga membuat Kyuhyun tersenyum lebar hanya karena Chae Lin memanggilnya oppa.
“Kami akan menyewa sampan” ucap Kyuhyun pada petugas penyewaan.
“Ne” jawab si petugas dengan menundukkan kepalanya. Mungkin ia tak sanggup lagi melihat kemesraan pelanggannya itu karena kini Kyuhyun menyandarkan dagunya di bahu Chae Lin dengan kedua tangan masih memeluk erat tubuh Chae Lin.
“Lepaskan aku. Orang-orang melihat kita” bisik Chae Lin lirih pada Kyuhyun.
Dan akhirnya Chae Lin lebih dulu sadar. Ia mulai merasa malu dan risih atas perlakuan Kyuhyun padanya. Chae Lin melepaskan kedua tangan Kyuhyun yang melingkari perutnya, kemudia berjalan meninggalkan Kyuhyun.
Kening Chae Lin berkerut melihat sampan kecil di hadapannya, sorot keraguan tercetak jelas di wajahnya.
“Gwaencana. Tidak akan tenggelam” ucap Kyuhyun mantap seolah dapat membaca isi kepala Chae Lin. Kyuhyun mengulurkan tangannya.
Hoop! Sampan tersebut sedikit oleng ke kanan saat Chae Lin mencoba duduk.
“Tak ku sangka kau seberat itu, guncangannya benar-benar dahsyat! Hahaha” olok Kyuhyun pada istrinya.
“Yaa! Kau pikir aku raksasa?” Chae Lin manyun-manyun kesal.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan dengan seulas senyum manis mengembang di bibirnya. Menggemaskan sekali. Di mata Chae Lin suaminya itu terlihat seperti anak anjing yang manis.
Kyuhyun mulai mengayuh dayung pelan-pelan. Keduanya menikmati deru gemerisik air yang beradu dengan dayung serta sejuknya angin yang berhembus lembut.
“Kayuh…Kayuh…” kata Chae Lin.
“Ayo lebih cepat! Kayuh! Kayuh!” Chae Lin meminta Kyuhyun mempercepat laju sampan mereka.
“Oppa fighting!”
Suara Chae Lin bagai doping untuk Kyuhyun hingga ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengayuh sampan.
“Wow! Oppa jjang!” ibu jari Chae Lin terangkat begitu kecepatan sampan mereka bertambah. Sementara itu Kyuhyun mulai terengah-engah, tak terasa mereka berdua sudah berada di tengah danau.
“Huh…ternyata mengayuh sampan melelahkan juga” Kyuhyun melenguh pelan.
Tanpa mereka sadari, warna orange kemerahan memenuhi kaki langit pertanda sang mentari akan segera kembali ke peraduannya. Chae Lin menyentuhkan jemarinya ke permukaan air seraya tersenyum manis, rambut panjangnya melambai-lambai tertiup angin dengan latar belakang langit senja. Waktu seolah berhenti berputar dan Kyuhyun terserap dalam pusara pesona Chae Lin, Kyuhyun tertegun melihat potret sempurna wanitanya.
“Kau adalah wanita tercantikku, Cho Chae Lin” batin Kyuhyun syahdu.
***
Lee Dong Wook meletakkan sebuah map coklat berisi berkas-berkas yang telah dibubuhi tanda tangan Jang Shil Yoon, “Tugasku sudah selesai.” ucapnya pada sang ibu.
Lee Byul mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke arah putra sulungnya.
“Kau berhasil mendapatkan saham kita kembali?”
“Dangyunhaji!” jawab Dong Wook mantap seraya menjatuhkan diri di sofa empuk di tengah ruang kerja ibunya.
“Good job! Kau memang selalu bisa diandalkan Dong Wook-ah” sang ibu bangkit dari kursi kerjanya, berjalan menghampiri Dong Wook.
“Charantaaaaa…” sang ibu mencubit kedua pipi putra sulungnya.
“Eomma hentikan…” ujar Dong Wook sedikit kesal.
Dong Wook mengusap-usap pipinya sementara ibunya hanya tersenyum lebar.
“Aku ini pria berusia tiga puluh tahun, bukan anak sekolah dasar, jadi tolong jangan perlakukan aku seperti itu lagi eomma.”
“Tak peduli berapapun usiamu sekarang Dong Wook-ah, bagi eomma kau tetaplah putra kecilku. Putraku yang selalu membuat onar di sekolah, selalu menjadi rebutan para gadis di luar sana.”
“Kau ingat sewaktu sekolah dulu eomma selalu membuka tasmu dan eomma selalu membaca puluhan lembar surat cinta yang diberikan para gadis itu padamu.”
“Ya, aku masih ingat semuanya eomma. Eomma bahkan selalu menyuruhku untuk membalas salah satu surat mereka”
“Meski eomma menyuruhmu tapi kau tetap mengabaikannya bukan? Malang sekali para gadis itu, sia-sia saja mereka menulis surat dengan rapi dengan sampul yang cantik tapi selalu berakhir di tempat sampah atau berakhir sebagai abu.”
“Aku membalas salah satu surat mereka eomma” bisik Dong Wook dalam hati.
“Siapa suruh mengirimiku surat cinta. Aku kan tidak memintanya”
“Setidaknya hargailah usaha mereka itu, nak. Bayangkan saja jika kedua adikmu berada di posisi para gadis yang menyukaimu, apa kau tidak kasihan pada Chae Lin dan Ha Young?”
“Maldo andwae! Kedua adikku tidak akan menjadi salah satu dari mereka. Tidak akan aku biarkan pria manapun mengabaikan mereka berdua.”
“Tapi karma itu ada Dong Wook-ah, mungkin saja itu terjadi pada Chae Lin atau Ha Young suatu hari nanti.”
“Eomma menginginkan hal buruk itu terjadi kepada Chae Lin dan Ha Young?” tanya Dong Wook dengan menatap tajam ibunya.
“Bukan itu maksudku Dong Wook-ah, seorang ibu tidak mungkin mengharapkan anaknya mendapatkan hal-hal buruk dalam hidupnya.”
“Lalu apa maksud eomma?”
“Eomma hanya ingin kau tidak terlalu mempermainkan para gadis yang menyukaimu, hargailah sedikit usaha mereka yang selalu berusaha mengambil hatimu dan ingin lebih dekat denganmu, jika kau memang tidak menyukainya setidaknya bersikaplah sopan dengan tidak terlalu mengabaikannya.”
“Araseo eomma. Aku tidak janji bisa memenuhi semua nasehat eomma, tapi aku akan berusaha semampuku” jawab Dong Wook setengah hati.
Kendati begitu sang ibu tetap tersenyum simpul, “Akan lebih baik lagi jika kau bisa memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pendamping hidupmu, eomma ingin segera menimang cucu Dong Wook-ah”
“Aku sudah menjatuhkan pilihanku eomma.” batin Dong Wook berbisik.
“Usiaku baru tiga puluh tahun dan masih banyak hal yang ingin ku lakukan eomma, menikah belum masuk dalam daftar prioritas hidupku untuk saat ini. Jadi eomma minta saja pada Chae Lin, aku yakin dia akan segera memberi eomma cucu. Hahahaha” Dong Wook bingkas dari duduknya.
“Aku pergi dulu eomma. Jangan mencariku karena tugasku sudah selesai, aku akan kembali jika masa liburanku sudah usai. Annyeong!” Dong Wook pamit pergi pada sang ibu.
“Kau mau kemana?” tanya sang ibu penasaran.
“Aku akan pergi menemuinya. Ya, dia yang sudah menjadi pilihanku.”
“Rahasia!” jawab Dong Wook dengan seulas senyum manis.
“Bagaimana dengan pesta resepsi pernikahan adikmu? Kau tidak akan datang?”
“Tidak. Eomma sampaikan saja salamku pada Chae Lin dan suaminya itu. Annyeong!”
Lee Byul hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra sulungnya itu.
***
Puas bermain sampan dan menikmati indahnya sunset di tengah danau, Kyuhyun dan Chae Lin memutuskan untuk kembali ke penginapan dan membereskan barang bawaan mereka karena kapal terakhir yang akan membawa mereka akan berangkat satu jam lagi.
“Kau tidak mandi?” tanya Chae Lin pada Kyuhyun yang sedang asyik bermain game di ponsel pintarnya.
“Sebentar lagi” jawab Kyuhyun singkat, kedua matanya melirik singkat pada Chae Lin.
Chae Lin mengusap rambut basahnya dengan handuk saat tiba-tiba kedua lengan Kyuhyun melingkari tubuhnya, Kyuhyun menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
“Cepat mandi! Kapal kita berangkat satu jam lagi” ucap Chae Lin sedikit gugup karena Kyuhyun tiba-tiba memeluknya.
“Shireo! Kenapa kau mandi sendiri huh? Kenapa tidak mengajakku?”
“Aku mengajakmu mandi? Shireo!”
“Wae?”
“Kau pikir aku wanita macam apa yang mengajak prianya mandi bersama lebih dulu?”
Kyuhyun terkikik kecil, “Eeeeeyyy tak perlu malu, aku ini suamimu Chae Lin-ah”
Kyuhyun menempelkan bibir tebalnya pada leher jenjang Chae Lin, Kyuhyun mencium aroma apel bercampur kayu manis menguar dari rambut basah Chae Lin. Sensasi menggelitik dirasakan Chae Lin saat kulit dingin leher Chae Lin beradu dengan hangatnya bibir Kyuhyun.
Kedua tangan Kyuhyun mulai menelusup masuk ke dalam kaos putih Chae Lin, mengusap perutnya dan terus bergerak naik ke atas, menggapai bagian tubuh Chae Lin yang menjadi favoritnya.
Kini Kyuhyun sudah memutar tubuh sang istri, hingga keduanya sudah saling berhadapan. Tak ada lagi penolakan yang diberikan Chae Lin saat jemari Kyuhyun mulai bermain-main pada puting payudaranya. Membuat desahan nikmat lolos begitu saja dari mulutnya, “Aaaaaah…”
Tak tahan lagi, Chae Lin menyambar bibir tebal Kyuhyun dan melahapnya habis. Melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami untuk memperdalam pagutan bibir mereka, Chae Lin mulai memejamkan kedua matanya. Menikmati tiap pagutan lembut sarat cinta, Kyuhyun membimbing Chae Lin ke ranjang besar mereka, memposisikan dirinya tepat di atas tubuh Chae Lin.
“Jangan disobek! Ini pakaian bersihku yang terakhir” gumam Chae Lin disela-sela ciumannya saat Kyuhyun hendak merobek kaos putih yang dipakainya.
Kyuhyun akhirnya meloloskan kaos putih Chae Lin meski harus mengganggu aksi ciuman mereka. Kyuhyun mulai menurunkan kain pembungkus payudara sang istri tanpa melepas pengaitnya, Kyuhyun melepaskan pagutan bibir mereka dan lidahnya mulai menjelajah turun dari leher menuju dada Chae Lin, membuat tanda kepemilikkan sebanyak mungkin di kulit mulus Chae Lin. Wanitanya itu hanya dapat mendesah nikmat karena aksinya. Kyuhyun tersenyum puas mendengar desahan-desahan pembangkit juniornya.
Kyuhyun mulai menurunkan celana jeans pendek yang dikenakan Chae Lin, serta menurunkan kain pembalut lubang pusat kenikmatannya.
“Aaaaaaaahhhh…” pekik Chae Lin nikmat.
“Kyuuu…aaaaaa…hhhhhh” Chae Lin kembali mengerang nikmat saat Kyuhyun menghujamkan juniornya dengan kuat.
“Aaaaahhh…jam..kyuhhhh…” ucap Chae Lin terputus karena diselingi desahan nikmat yang tak bisa ditahan.
“Ada apa sayang?” tanya Kyuhyun sembari tetap menggenjot pusat tubuh mereka.
“Jamnya sud….aaaaaaahhh….Oooooouuuuhh shit!”
“Ooooooouuuuchhhh…”
“Aaaaaaaaggggggghhh…”
“Apa yang kau….yeaaaahh kau nikmat sekali sayang” ucap Kyuhyun.
“Apa yang mau kau kat…oooouuuh…katakan sayang” desah Kyuhyun terbata.
“Jam Kyu. Jamnya sud…aaaahhhhhhh” Chae Lin kembali menggantungkan kalimatnya saat junior Kyuhyun tak henti-hentinya menghunjam titik sensitifnya.
“Faster  kyu…Fuck me deeper….aaaaaaaagggggghhhh”
Sesuai keinginan istrinya Kyuhyun bergerak lebih cepat, mengerahkan semua tenaganya hingga membuat keringat keluar dari seluruh penjuru tubuhnya, Chae Lin dapat merasakan punggung Kyuhyun mulai basah karena peluh.
“Hhhhhhh….yeaaaaaaahhhh…” Kyuhyun mendesah lega setelah berhasil menumpahkan jutaan sel spermanya di rahim Chae Lin. Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Chae Lin, keduanya berusaha mengatur ulang nafas yang tersengal.
“Apa yang mau kau katakan tadi eoh?” tanya Kyuhyun sembari menatap Chae Lin.
Kedua mata elang itu membulat sempurna, “Jam! Lihat jam!”
Chae Lin bingkas berdiri dan memakai lagi pakaiannya yang berserakan di lantai. Sementara itu Kyuhyun berlari ke kamar mandi begitu melihat waktu mereka yang tersisa hanyalah lima belas menit sebelum kapal berangkat.
“Jangan lama-lama eoh?” pekik Chae Lin mengingatkan Kyuhyun. Dan tiga detik berselang Kyuhyun sudah keluar dari kamar mandi. Ia hanya mencuci muka dan mengganti kaos saja.
“Kau tidak mandi?” tanya Chae Lin.
“Tidak ada waktu. Kajja!” Kyuhyun menyambar backpack miliknya dan milik Chae Lin, menggenggam tangan sang istri.
Nasib baik masih menaungi mereka, Kyuhyun dan Chae Lin tiba di dermaga tepat pada waktunya. Sepanjang perjalanan dan sampai di dalam kapal Chae Lin terus menghujani Kyuhyun dengan ocehannya. “Kau bodoh! Sangat bodoh!” gerutu Chae Lin.
“Aku kan sudah minta maaf. Lagipula kenapa tadi kau tidak menolak saat sesi pemanasan baru dimulai?”
“Kau pikir aku bisa menolakmu? Kau tidak ingat apa yang terjadi di ruang makan saat aku menolak kemauanmu itu? Kau mengakhiriku di meja makan!” decak Chae Lin kesal mengingat kejadian waktu itu.
“Yaa! Itu kan…aku…aku…aaargh sudahlah, aku kan sudah minta maaf soal itu, kenapa kau mengungkitnya lagi?” Kyuhyun mengusak rambutnya kasar.
Chae Lin memutar tubuhnya, mengabaikan Kyuhyun.
“Yaa! Kau marah padaku?”
“Chae Lin-ah…”
“Yaaa! Cho Chae Lin!”
Chae Lin tak menghiraukan panggilan Kyuhyun, tangannya terlipat di depan dada serta kedua mata elangnya masih terfokus pada pemandangan di hadapannya, pendar-pendar lampu di pulau Nami kini hanya terlihat seperti titik-titik putih di kegelapan.
“Cho Chae Lin gendut! Kau mendengarku?”
“MWO?” seru Chae Lin terkejut campur tak terima karena Kyuhyun mengatainya gendut.
Kyuhyun memamerkan cengiran bodohnya saat Chae Lin menatapnya tajam seolah hendak menelannya bulat-bulat.
“Kau bilang aku gendut?” ujar Chae Lin kesal.
“Mianhae Chae Lin-ah. Kekekekek” Kyuhyun terkekeh pelan.
“Dasar Cho Kyuhyun pabbo! Cho Kyuhyun penakut! Lihat saja besok aku pasti akan membawakanmu anjing dobberman yang besar!” gertak Chae Lin.
“Lakukan saja jika kau berani. Aku akan membuatmu terkapar di ranjang semalam suntuk!” Kyuhyun balik mengancam.
“Kau benar-benar! Ugh…Menyebalkan!” Chae Lin melenggang pergi meninggalkan Kyuhyun.
“Aku hanya bercanda hmmm.. Jangan marah-marah terus!” bisik Kyuhyun lembut di telinga Chae Lin, tangannya melingkari tubuh Chae Lin sepenuhnya.
***
Lee Byul dan asisten pribadinya sedang berbincang tentang Jang Shil Yoon di ruang kerjanya.
“Aku ingin segera menendangnya keluar dari perusahaan. Melihatnya tiap hari lalu-lalang di kantor membuat kepalaku sakit!” geram Lee Byul penuh kekesalan.
“Bagaimana jika kita membiarkannya selama seminggu, biarkan dia menikmati hari-hari terakhirnya di perusahaan. Setelah itu baru anda bisa menendangnya keluar nyonya” sahut Kim Namjoo, asisten pribadi Lee Byul.
“Benar juga. Lagipula lusa akan diadakan pesta resepsi Chae Lin, aku akan mengundangnya”
“Ne?” Kim Namjoo terkejut mendengarnya.
“Ya, besok kirimkan undangan resepsinya pada wanita jalang itu. Aku ingin melihat wajahnya untuk terakhir kali.” Lee Byul menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
“Baik nyonya” Namjoo hanya menjawab patuh.
“Bagaimana dengan Chae Lin? Apa sudah ada kabar darinya?”
“Nona muda belum menghubungi lagi. Mungkin sekarang mereka dalam perjalanan pulang”
***
Hampir dua jam Kyuhyun berusaha menahan kantuknya, sesekali ia melirik ke samping, melihat Chae Lin yang sudah terlelap damai. Diusapnya lembut pipi Chae Lin sebagai tameng penahan kantuk dan sejauh ini hal tersebut memang berhasil, saat ini mereka sudah berada di area parkir apartement. Kyuhyun melepas sabuk pengaman Chae Lin, sejenak ia berpikir untuk membangunkan istrinya. Namun wajah damai Chae Lin membuatnya tak tega mengganggu tidurnya. Kyuhyun memutuskan untuk menggendong Chae Lin menuju penthouse mereka di lantai teratas gedung apartement tersebut, tepatnya di lantai seratus empat puluh tujuh, disanalah penthouse mereka berada.
Kyuhyun terlebih dulu menggendong tas ranselnya dan membawa ransel Chae Lin di lipatan sikunya setalah itu baru ia mengangkat tubuh berisi Chae Lin. Sepanjang jalan menuju lift Kyuhyun terus dilempari tatapan yang tak ia mengerti dari orang-orang yang tak sengaja berpapasan dengannya. Ada yang saling berbisik bahkan terkikik kecil melihat Kyuhyun menggendong Chae Lin ala bride style. Kyuhyun tak begitu mempedulikan hal itu, yang ia pedulikan sekarang adalah ia harus cepat sampai di kamar. Baru beberapa menit menggendong Chae Lin tapi rasanya kedua tangannya sudah hampir patah karena menanggung beban seberat bobot tubuh montok Chae Lin. Kyuhyun bahkan harus meminta bantuan petugas keamanan yang ada di loby untuk menekan tombol di lift.
“Ada yang perlu saya bantu lagi sajangnim?” tanya petugas keamanan dengan sopan pada Kyuhyun.
“Tidak, kembali bekerja saja” jawab Kyuhyun.
Kyuhyun adalah pemilik apartement tersebut maka tak mengherankan jika petugas keamanan disana berlaku ramah dan sopan padanya.
Satu…
Dua…
Tiga…
Empat…
Lima…
(Skip)
Seratus tiga puluh sembilan…
Kyuhyun akhirnya menyerah kalah. Perlahan ia menurunkan tubuh Chae Lin di lantai lift, sementara ia tetap duduk di lantai dengan tangan kiri yang masih menjadi sandaran kepala Chae Lin.
“Ya tuhan kenapa lama sekali” gumam Kyuhyun tak sabar.
Pertama kalinya ia menyesal tinggal di penthouse mewahnya. Dibalik keindahan dan kemewahan yang didapatnya itu ternyata harus ada resiko yang ia tanggung, dan selama ini Kyuhyun tak pernah menduga bahwa hal seperti ini akan sangat merepotkannya. Setelah ini Kyuhyun mulai berpikir untuk menempati rumahnya di daerah Gangnam.
Kyuhyun menyampirkan helaian rambut Chae Lin ke belakang telinga, mengamati wajah cantik Chae Lin sedekat ini membuat tenaga Kyuhyun kembali terisi. Mengusap lembut bibir mungil itu, Kyuhyun tersenyum senang melihat Chae Lin yang tidur seperti bayi meskipun dalam kondisi seperti ini ia masih tetap tidur. Sepertinya ia benar-benar kelelahan. Kyuhyun mendekatkan wajahnya dan hampir mengecup bibir Chae Lin, dan tiba-tiba…
Tring! Pintu lift tiba-tiba terbuka.
Tiga orang pria dan dua orang wanita berdiri di hadapannya, mata mereka membeliak.
“Dia istriku” Kyuhyun berusaha menjelaskan terlebih dulu sebelum terjadi kesalah pahaman.
Salah-salah dia bisa dikira memperkosa istrinya sendiri.
“Tolong anda pakai lift di sebelah saja. Aku harus segera sampai di penthouseku” ucap Kyuhyun pada orang-orang itu.
Huh! Kyuhyun mendesah lega begitu pintu lift tertutup. Kyuhyun merutuki kebodohannya sendiri.
***
Lee Dong Wook memasukkan passportnya ke dalam saku jaketnya seraya mengalihkan pandangannya pada jendela kaca di sampingnya, hamparan awan putih dan langit cerah sungguh indah dipandang. Pria itu memasangkan earphone ditelinganya dan sedetik kemudian alunan denting piano memanjakan indera pendengarannya, Lee Dong Wook tersenyum tipis, rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajah tampannya.
“Tunggu aku” gumam Dong Wook lirih.
Siapa sangka bahwa ternyata Lee Dong Wook sudah memiliki orang spesial di hatinya. Tak ada seorangpun yang tahu terkecuali dirinya dan tentu saja gadis itu. Gadis yang sudah menempati ruang hati Dong Wook sejak mereka masih sama-sama berada di bangku sekolah.
Tak lama kemudian, Lee Dong Wook sudah mengatupkan matanya. Penerbangan dari Korea menuju Austria membutuhkan waktu yang cukup lama dan sepertinya tidur adalah salah satu hal yang tepat untuk dilakukan.
***
“Ireona palli… Pagi ini kita harus bertemu dengan ibuku dan melakukan fitting gaun pengantin” celoteh Chae Lin pada suaminya yang masih terkulai di ranjang dan belum ada tanda-tanda bahwa ia akan segera bangun.
“Ireona! Palli…” Chae Lin menepuk-nepuk lengan Kyuhyun, namun masih tidak ada respon hingga akhirnya Chae Lin mengguncang-guncang tubuh Kyuhyun.
“Cepat bangun! Bangun! Bangun!” seru Chae Lin kencang tepat di telinga Kyuhyun.
“Yaaa! Kau!” Sontak Kyuhyun membuka lebar kedua matanya. Refleks kedua tangannya sudah melingkari tubuh Chae Lin yang masih dalam balutan kimono mandi. Kyuhyun mendekapnya erat dan menjatuhkan tubuh Chae Lin di ranjang besar mereka.
“Cepat mandi! Kita harus segera menemui eomma” ucap Chae Lin sedikit gugup karena Kyuhyun tak berkedip menatapnya dalam jarak sangat dekat, Chae Lin bahkan dapat merasakan deru hangat nafas Kyuhyun yang menyapu kulit wajahnya.
Chae Lin mulai salah tingkah karena Kyuhyun terus menatapnya intens. Chae Lin memutar kedua bola matanya ke arah lain, ia tak berani menatap manik mata suaminya itu. Kyuhyun tersenyum tipis melihat tingkah Chae Lin yang menurutnya sangat menggemaskan.
“Kenapa kau selalu mandi sendirian huh? Aku juga ingin mandi bersamamu” ucap Kyuhyun lembut seraya mengusap lembut pipi Chae Lin.
“Kau tidak pernah memintanya” jawab Chae Lin ringan.
“Baiklah dengarkan aku. Mulai saat ini aku memintamu untuk mengajakku mandi bersama. Kau mengerti?” Seulas senyum tersungging di paras tampan Kyuhyun.
“Ne, araseo.” Chae Lin melepaskan tangan Kyuhyun yang melingkari tubuhnya dan bingkas dari ranjang.
“Ah tanganku pegal sekali!” pekik Kyuhyun pura-pura kesakitan.
Kening Chae Lin berkerut meliha suaminya itu, tak dapat menangkap maksud tersembunyi dari kata-kata Kyuhyun. Gadis itu kini sudah duduk di depan meja riasnya.
“Aaaaaawww aaaaah…aaaaauw” erang Kyuhyun dengan nada yang terlalu dibuat-buat.
Chae Lin masih tetap tidak merespon erangan Kyuhyun.
“Tanganku ohhhh…aaaaauwwww” erang Kyuhyun lagi dengan kedua tangan terangkat ke udara sementara Kyuhyun terlihat meringis kesakitan.
“Dia kenapa?” batin Chae Lin ingin tahu.
“Kau ke…” Chae Lin menggantungkan kalimatnya karena Kyuhyun sudah memekik kencang, “Yaa! Kau! Cho Chae Lin! Kenapa kau tidak bertanya ada apa dengan tanganku?”
“Kau itu benar-benar! Tidak peka!” Kyuhyun mendengus sebal.
“Aku baru saja mau bertanya padamu” sahut Chae Lin singkat sembari memutar tutup eyelinernya.
“Kau tahu semalam aku menggendongmu dari area parkir sampai kesini. Dan kau pikir kedua tanganku ini baik-baik saja setelah menggendongmu yang benar-benar…Oh! Aku tak sanggup mengatakannya”
“Maksudmu aku benar-benar berat? Begitu?” Chae Lin meletakkan eyelinernya dengan keras hingga terdengar suara lumayan keras dari eyeliner yang beradu dengan meja riasnya. Wajah Chae Lin sudah dipenuhi gurat-gurat emosi, membuat nyali Kyuhyun menciut perlahan-lahan.
“Aku tidak bilang begitu” jawab Kyuhyun cuek.
“Memang kau tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku tahu maksudmu karena aku tidak sebodoh yang kau kira.” Chae Lin menatap Kyuhyun tajam.
“Kenapa semalam tidak membangunkanku atau membiarkanku tidur di dalam mobil saja jika pada akhirnya kau mengeluh seperti ini. Menyebalkan sekali!”
“Yaa! Bukan itu maksudku Chae Lin-ah. Kenapa pembicaraan kita selalu berakhir dengan perdebatan eoh?” seru Kyuhyun heran.
“Kau yang selalu menyulutnya Cho Kyuhyun!” decak Chae Lin kesal.
“Aku tidak pernah seperti itu!” balas Kyuhyun tak mau kalah.
“Lalu kenapa kau harus mengeluh dan mengerang kesakitan seperti itu? “
“Aku ingin kau bertanya padaku dan memijat tanganku tapi kenapa semuanya berakhir seperti ini?”
“Jadi dia minta diperhatikan?”
Tiba-tiba Chae Lin tersenyum tipis mendengar alasan konyol Kyuhyun.
“Kalau hanya minta diperhatikan, bukan begitu caranya” Chae Lin mendekati Kyuhyun lantas meraih tangan Kyuhyun lantas memijatnya pelan. Kyuhyun membeliakkan mata, seakan tak percaya dengan perlakuan Chae Lin.
Kini Chae Lin sedang mengoleskan minyak zaitun di kedua tangannya lantas memijatnya dengan telaten. Kyuhyun tersenyum bahagia.
“Ah ya benar disitu!” seru Kyuhyun saat Chae Lin meraba-raba lengannya.
“Disini?”
Kyuhyun hanya mengangguk pelan.
“Sepertinya kau berbakat menjadi tukang urut. Kekekek” goda Kyuhyun pada sang istri.
“Haruskah aku membuka panti pijat?” sahut Chae Lin asal.
“Andwae! Aku tidak akan membiarkanmu tanganmu itu menyentuh tubuh pria manapun selain diriku! Dilarang keras! Mengerti?”
“Yaa! Kau sendiri yang bilang jika aku berbakat, lalu apa salahnya aku mengembangkan bakat tersembunyiku itu?”
“Hahahaha hentikan omong kosong ini! Hanya membayangkanmu menyentuh pria lain sudah membuatku kesal. Oh aku tidak sanggup!”
“Baiklah sudah selesai.” Chae Lin menghentikan aksi pijatnya.
“Mana bayaranku?” tangan Chae Lin menengadah di depan wajah Kyuhyun.
Kyuhyun meraih tangan Chae Lin dan mengecup punggung tangannya.
“Itu bayarannya.” Kyuhyun tersenyum simpul sementara Chae Lin tersengih.
“Hanya itu?”
“Kau mau lebih?”
“Tidak ada tips untukku?”
“Baiklah karena kau memaksa.”
Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di wajah Chae Lin lantas dikulumnya lembut bibir mungil Chae Lin. Keduanya tersenyum di tengah ciuman tersebut.
***
Jang Shil Yoon mengetuk-ngetuk dagunya gelisah setelah mendengar suara operator menyahut panggilan yang ditujukan ke nomor Lee Dong Wook. Sudah hampir dua hari ini ia belum mendapat kabar darinya. Jang Shil Yoon meraih sebuah undangan pernikahan berwarna hitam dengan kelopak mawar merah merah yang dibuat transparan menjadi motifnya serta pita emas kecil di sudut kanan atas menambah kesan klasik dan elegan undangan tersebut. Tertulis nama Chae Lin dan Kyuhyun di dalam undangan tersebut.
“Tak kusangka dia mengundangku” gumam Shil Yoon dengan tersenyum miring.
***
“Dimana eomma?” tanya Chae Lin pada salah seorang maid setibanya di mansion mewah keluarga Lee.
“Nyonya besar ada di ruang kerjanya” jawab sang maid dengan sopan.
“Tolong panggilkan eomma dan beritahu bahwa aku dan Kyuhyun sudah datang” perintah Chae Lin padanya.
Chae Lin berjalan menuju ruang keluarga, Kyuhyun mengekorinya sembari menatap sekelilingnya. Ini adalah kali kedua Kyuhyun menginjakkan kaki di rumah Chae Lin, ah rasanya rumah bukanlah sebutan yang pantas untuk mansion mewah berlantai empat ini. Istana mungkin terasa lebih pas untuk diucapkan.
Kyuhyun menyapukan pandangannya, mengamati tiap detail di ruang keluarga tersebut. Guci besar setinggi dirinya teronggok di sudut ruangan dan beragam piring hias yang terjajar rapi di dalam lemari kaca di sampingnya. Seperangkat home theater dengan layar datar super besar berada di hadapannya. Chae Lin menjatuhkan tubuhnya di sofa beledu berwarna coklat di tengah ruangan, Kyuhyun ikut mendudukkan tubuhnya disana.
“Min ajumma….” Seru Chae Lin memanggil nama salah seorang maid pribadinya.
“Ne, nona muda.” Seorang wanita berusia kira-kira empat puluh tahun datang menghampiri Chae Lin.
“Tolong buatkan”
“Mango milkshake?” tebak maid bernama Min tersebut.
“Hoksi! Kau sungguh mengerti diriku Min” Chae Lin berhigh five dengan maidnya itu. Kyuhyun terkejut melihat keakraban antara majikan dan bawahannya tersebut.
“Tuan mau minum apa?” tanya Min pada Kyuhyun yang masih dalam mode terkejut hingga tidak menjawab pertanyaan Min si maid.
“Kau mau minum apa?” Chae Lin menyenggol bahu Kyuhyun dan membuat kesadarannya kembali.
“Ah aku minum kopi saja” jawab Kyuhyun.
Min pamit ke dapur bersamaan dengan datangnya ibu Chae Lin beserta asisten pribadinya.
Kyuhyun bingkas bangun dan membungkukkan badannya sopan, “Annyenghaseyo eommoni”
“Ne, bagaimana kabarmu Cho seobang?”
Chae Lin dan Kyuhyun saling adu pandang begitu sang ibu memanggil Kyuhyun dengan sebutan Cho seobang (seobang=suami). Chae Lin mencoba menahan tawanya.
“Kabar saya baik emmonie. Ibu juga baik-baik saja kan?” ucap Kyuhyun sopan.
“Ah silahkan duduk, anggap saja seperti rumah sendiri. Tidak perlu sungkan begitu”
“Chae Lin-ah, cepat buatkan minum untuk suamimu.”
“Min ajumma sedang membuatnya”
“Kau ini istri macam apa yang membiarkan orang lain membuat minuman untuk suaminya sendiri” omel eomma Chae Lin.
“Gwaencana eommoni” Kyuhyun membela istrinya.
“Oh ya hari ini kita akan melihat tempat resepsi pernikahan kalian. Kedua orangtuamu juga nanti akan datang Kyuhyun-ah”
“Ne eommoni tadi pagi ayahku juga sudah memberitahu”
“Setelah itu kalian pergi kesini”
Ibu Chae Lin memberikan selembar kartu bertuliskan nama dan alamat salah seorang desainer paling kondang di Korea Selatan.
“Semuanya sudah eomma persiapkan jadi kalian tidak perlu khawatir.”
“Ne eommoni gamsahamnida” ucap Kyuhyun.
“Kalau begitu bagaimana jika kita berangkat sekarang?” ajak sang ibu pada putri dan menantunya.
Kyuhyun hanya mengangguk patuh dna bingkas dari duduknya.
“Bagaimana dengan mango milkshake ku?”
“Ck! Lee Chae Lin kau itu benar-benar..” Sang ibu mendesah kesal karena ulahnya.
Akhirnya sang ibu mengaku kalah pada putrinya yang memang susah diatur itu, Lee Byul duduk di hadapan Kyuhyun dan Chae Lin.
“Kemarin kalian pergi ke Nami? Bulan madu?” goda sang ibu pada sepasang pengantin baru itu.
Kyuhyun hanya tersenyum tipis mendengarnya, sedangkan Chae Lin langsung menyela, “Tidak. Aku menemani Kyuhyun meninjau pembangunan resortnya disana” Chae Lin melirik tajam pada Kyuhyun.
“Oh jadi begitu.” Lee Byul hanya manggut-manggut mengerti.
Min ajumma datang dengan membawa secangkir kopi dan segelas besar mango milkshake. Chae Lin segera menyesap minuman kesuakaannya.
“Lalu kapan kalian akan pergi bulan madu?”
“Eomma sudah ingin mendengar suara tangis bayi di rumah ini.”
Chae Lin dan Kyuhyun saling berpandangan selama beberapa detik.
“Ehem. Kami belum berencana memiliki momongan dalam waktu dekat, bu. Jadi tolong jangan bahas itu sekarang.” Chae Lin berdehem lantas menjawab celotehan sang ibu.
“Kenapa? Aku yakin kedua orangtua Kyuhyun pasti juga berpikiran sama sepertiku.”
Chae Lin meletakkan gelasnya, “Kenapa eomma tidak meminta Dong Wook oppa untuk segera memberimu cucu? Dia kan yang seharusnya memberikan cucu pertama untukmu”
“Aigoo… Oppamu itu belum menikah Chae Lin-ah, mana mungkin memberikan eomma cucu.”
“Suruh saja oppa menikah secepatnya dan masalah selesai!”
“Kau pikir semudah itu menikahkannya?”
“Eomma bisa melakukannya padaku, kenapa tidak bisa pada Dong Wook oppa?”
Kyuhyun yang sejak tadi hanya diam mendengar adu argumen antara Chae Lin dan ibunya akhirnya menyela obrolan mereka saat dirasanya pembicaraan mereka mengandung sedikit perdebatan.
“Bagaimana jika kita pergi sekarang?” sela Kyuhyun tiba-tiba.
“Baiklah kita pergi sekarang. Sebelum moodku berubah karenamu Chae Lin-ah, aaaah kau selalu membuat kepalaku pening!” Lee Byul berlalu dengan diekori asisten pribadinya.
***
Mobil sedan yang Kyuhyun kemudikan berhenti di depan area perkebunan apel. Dilihatnya banyak orang lalu-lalang menghias pagar besi di area depan perkebunan dengan tanaman sulur-suluran serta beberapa buah anggur yang sengaja dibuat tergantung di depan pintu masuk. Chae Lin dan Kyuhyun takjub melihatnya.
“Jangan terkejut seperti itu. Masih banyak yang lebih menakjubkan dari itu” seloroh sang ibu saat melihat ekspresi kagum di wajah Chae Lin dan Kyuhyun.
Sepasang pengantin baru tersebut menginjakkan kakinya lebih dalam ke area perkebunan apel, hamparan rumput hijau begitu menyejukkan mata, Chae Lin memandang sekelilingnya dengan mata berbinar kagum. Ratusan kursi dan meja sudah tertata rapi di sepenjuru area depan perkebunan. Tiap satu meja bundar dikelilingi lima buah kursi kayu maple dengan tanaman sulur yang melekat di kaki kursi. Ah! dan jangan lupakan tentang besi yang menjulang di tengah meja, bayangkan saja sebuah donat yang tengahnya memang berlubang diselipi tusuk kayu. Kiranya seperti itulah bentuk meja bundarnya, di atasnya tiang penyangga tersebut sudah tergantung rapi beberapa buah gelas kristal dan tak lupa buah anggur merah dan hijau yang tergantung untuk mempercantik tampilannya.
Chae Lin melangkahkan kakinya lebih jauh lagi dan mendapati karpet beledu merah terbentang di hadapannya, Chae Lin melihat dua buah kursi berwarna putih dengan sepuhan warna emas membuatnya berkilauan karena pantulan sinar matahari dan dengan latar belakang tanaman apel yang sedang berbuah ranum. Sungguh itu lebih indah daripada dekorasi manapun yang pernah Chae Lin lihat. Chae Lin melihat ke belakang dan sejauh mata memandang hanya terlihat bulatan-bulatan merah tergantung di dahan pohon. Ingin rasanya Chae Lin berlari kesana dan memetik semua apel-apel itu.
Chae Lin terlalu sibuk mengangumi tempat resepsi pernikahannya yan bertemakan pesta kebun di musim panas. Kyuhyun dan kedua orangtua serta ibunya kini sudah berdiri di sampingnya.
“Bagaimana? Kau suka?” celetuk sang ibu.
Chae Lin mengangguk mantap sambil menampilkan senyum manisnya.
“Sangat suka! Ini tepat seperti apa yang aku inginkan selama ini” ucap Chae Lin senang.
Tiba-tiba sang ibu dan ibu mertuanya berhigh five pertanda bahwa pilihan mereka memang tepat. Chae Lin, Kyuhyun dan ayahnya tersenyum lebar melihat kekompakan kedua wanita itu.
“Bagaimana bisa eomma dan eommoni mempersiapkan semua ini dalam waktu kurang dari dua minggu?” tanya Kyuhyun penasaran.
“Apapun akan eomma lakukan untukmu nak.” Ibu Kyuhyun mengusap lembut bahu putra semata wayangnya.
“Bagaimana eomma bisa menyewa lahan perkebunan ini untuk resepsi? Apakah pemiliknya tidak takut jika kita akan merusak lahannya?” tanya Kyuhyun lagi.
Ayah Kyuhyun berdehem sebelum membuka suara, “Ini adalah kebun milik teman lama ayah. Sebentar lagi ia akan membuka lahan perkebunan ini sebagai kawasan agrowisata jadi ia perlu media untuk mempromosikannya dan tentu saja dengan digelarnya pesta resepsi kalian disini akan membuat kebunnya terekspos bahkan sebelum kawasan ini nantinya menjadi tempat agrowisata”
“Tentu saja bisnis ikut peran serta disini” gumam Chae Lin dalam hati.
“Ok. Karena kalian sudah melihatnya, sekarang lekas kita pergi ke butik untuk fitting pakaian.” sergah ibu Chae Lin seraya melihat jarum jam di arloji mewahnya.
***
Chae Lin mencoba gaun pengantin pertama yang ada di sampingnya, gaun pengantin berwarna putih penuh renda yang mengekspos kaki jenjang serta bahunya.
“Sepertinya aku harus mengasuransikan kulitku jika aku memakai gaun ini” ucap Chae Lin seraya mengalihkan perhatiannya pada gaun kedua.
“Kau terlalu berlebihan!” ibu Chae Lin mencubit kecil lengan Chae Lin. Gadis itu hanya meringis kesal sementara ibu Kyuhyun hanya tersenyum tipis melihatnya.
“Ini seperti gaun pengantin yang aku kenakan saat pemberkatan. Aku tidak memakai dengan model yang sama untuk kedua kalinya. Jadi jawabannya adalah TIDAK!” tolak Chae Lin mentah-mentah pada gaun pengantinnya yang kedua, yaitu sebuah gaun pengantin warna putih model bare shoulder dengan ekor panjang dipenuhi renda.
“Sudah dua buah gaun yang kau tolak. Kau mau yang seperti apa huh?” tanya sang ibu sedikit kesal.
Kedua mata elang Chae Lin berbinar menatap gaun pengantinnya yang ketiga, sebuah gaun pengantin berbahan dasar sutra dikombinasi dengan brukat da renda yang semuanya berwarna putih, gaun pengantin lengan panjang dengan juntaian ekor gaun tak terlalu panjang, terlihat simple namun tetap elegan.
“Aku pilih gaun yang ini” kata Chae Lin mantap.
Di sisi lain, Kyuhyun hanya ditemani ayahnya memilih setelan tuxedo untuk acara resepsi. Pilihannya jatuh pada setelan tuxedo berwarna putih. Sebenarnya Kyuhyun ingin sekali melihat gaun pengantin yang akan dikenakan Chae Lin tapi kedua ibu mereka melarangnya. Bahkan Kyuhyun dan Chae Lin dilarang untuk kembali ke penthouse mereka malam ini dengan alasan khawatir mereka akan datang terlambat ke acara resepsi. Chae Lin dan ibunya berpisah dengan rombongan Kyuhyun dan kedua orangtuanya.
“Eomma, apa semuanya tidak terlalu berlebihan?” celetuk Chae Lin memecah keheningan di dalam mobil.
“Eomma rasa tidak” sahut sang ibu tanpa menatap si penanya, perhatiannya terfokus pada layar ponsel di genggaman tangan.
“Apa kita tidak keterlaluan menggelar pesta tanpa adanya ayah?”
Sang ibu kini menatap putrinya, “Lalu harus bagaimana? Kedua orangtua Kyuhyun terus mendesak ibu agar segera menggelar pesta resepsi.”
“Iya aku tahu, tapi rasanya aku seperti anak yang tidak tahu diri karena menggelar pesta mewah di saat kondisi ayah masih koma”
“Kau tahu jika suamimu itu anak tunggal keluarga Cho bukan? Dan itu berarti hanya ada satu pesta resepsi di keluarga itu, ibu mertuamu takkan membiarkan pesta satu-satunya dibuat sederhana.” sang ibu mencoba memberikan pengertian pada Chae Lin.
“Ya, aku tahu” sahut Chae Lin dengan kepala tertunduk.
Setibanya di mansion, Chae Lin bergegas masuk ke dalam ruangan tempat dimana ayahnya terbaring tak sadarkan diri. Chae Lin duduk di samping tempat tidur sang ayah, kedua tangannya meraih tangan ayahnya lantas menggenggamnya erat seolah menyalurkan kehangat kasih sayangnya yang tak pernah ia sampaikan.
“Maafkan aku appa” ucapnya lirih dengan suara sedikit bergetar.
“Kapan appa akan bangun? Appa telah melewatkan upacara pernikahanku dan sekarang appa juga akan melewatkan pesta pernikahanku? Appa tidak sayang padaku huh?” Chae Lin mencoba mengajak ayahnya bicara.
“Appa masih marah padaku karena aku memutuskan pergi ke Milan daripada mengurus hotel? Aku sudah kembali appa, aku ada disini jadi tolong bangun. Aku bersedia jika appa memintaku untuk mengurus hotel kita, appa mendengarku kan?”
“Kumohon bangunlah appa. Aku merindukanmu.”
“Aku menyayangimu appa” bisik Chae Lin lirih tepat di telinga ayahnya. Gadis itu mengecup pipi ayahnya sesaat sebelum meninggalkan ruangan dengan mata sembab.
***
Kyuhyun menunggu dengan gelisah kedatangan keluarga Chae Lin. Hampir tiap setengah menit Kyuhyun melihat jarum jam di arlojinya. Dilihatnya beberapa tamu undangan sudah hadir dan memenuhi meja dan kursi yang tersebar disana. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat hingga menimbulkan sensasi gugup dan grogi pada dirinya.
Dan akhirnya sebuah sedan mewah berwarna putih berhenti di depan pintu masuk. Seorang wanita dalam balutan gaun pengantin berwarna putih berlengan panjang disertai ekor gaun membuat semua pasang mata manusia yang ada disana tak berkedip selama beberapa detik. Terlebih lagi bagi Kyuhyun, waktu terasa berjalan lambat dan bumi seolah berhenti berputar pada porosnya saat kedua matanya dan mata elang Chae Lin saling beradu.
Seulas senyum manis terkembang di paras ayu Chae Lin. Demi langit bumi dan seisinya! Sesaat Kyuhyun lupa bagaimana caranya berkedip dan bernafas karena terlalu sibuk mengagumi kecantikan istrinya. Kyuhyun berjalan mendekat dan balas tersenyum pada Chae Lin. Tanpa babibu Kyuhyun meraih tubuh Chae Lin hingga memupus jarak di antara mereka, Kyuhyun langsung menyambar bibir mungil Chae Lin, mengulumnya lembut. Membuat tetamu undangan cemburu melihatnya, terlebih lagi bagi wanita yang ada di antara kerumunan para tamu tersebut, hati Lee Hyun Soo bagai disayat-sayat dengan bilah beracun.
***
Sang raja dan ratu dalam pesta tersebut berjalan berkeliling menyapa tamu mereka, banjiran ucapan selamat mereka terima dari sekitar tiga ratus tamu undangan yang semuanya berasal dari kalangan borjuis, sebagian besar tamu undangan adalah relasi bisnis Kyuhyun dan orangtuanya serta relasi bisnis ibu Chae Lin, sisanya adalah teman dekat Kyuhyun dan Chae Lin serta beberapa karyawan Kyuhyun di kantor.
Chae Lin dan Kyuhyun berpisah, Chae Lin menghampiri teman-temannya semasa sekolah dulu. Sedangkan Kyuhyun tenggelam dalam kerumunan para relasi bisnisnya.
“Yaa! Park Ye Eun kau tidak mengucapkan selamat padaku?” Chae Lin berseru sembari menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
“Uhuk!” Ye Eun hampir tersedak orange punch yang ada sedang diteguknya.
“Ohoo kalian datang juga?” sapa Chae Lin pada dua orang gadis kembar temannya semasa senior high school, Choi Hana.
“Lama tidak bertemu denganmu Hana-yaa. Bagaimana kabarmu?” mereka berdua saling berjabat tangan.
“Yah seperti yang kau lihat Chae Lin-ah, kabarku baik. By the way, selamat Chae Lin-ah” Gadis bermarga Choi itu tersenyum simpul.
“Gomawo Choi Hana”
“Yaa! Kau tidak menanyakan kabarku?” pekik Ye Eun cemburu.
“Aku tahu kau baik-baik saja nona Park.” Chae Lin memutar bola matanya malas.
“Sejak tadi aku tidak melihat teman-teman kita yang lain” seloroh Hana mengedarkan pandangannya.
“Aku memang tidak mengundang yang lain.”
“Jadi, kau hanya mengundangku dan Hana?” ujar Ye Eun terkejut.
“Dangyunhaji! Karena bagiku hanya kalian saja yang aku anggap sebagai teman”
“Bocah gila!” Ye Eun menoyor pelan kepala Chae Lin.
“Kalian berdua tahu kan selama ini aku memang tidak terlalu suka berteman dengan siapapun, yah kecuali denganmu dan si gadis menyebalkan ini” telunjuk Chae Lin mengarah tepat ke wajah Ye Eun.
“Jangan menunjukku seperti itu, gadis tidak sopan!” sergah Ye Eun.
“Ku dengar kau menetap di Jepang?” tanya Chae Lin pada Hana.
“Ya, tiga bulan lalu keluargaku memutuskan untuk kembali menetap di Tokyo karena kakekku mulai sakit-sakitan”
Chae Lin hanya manggut-manggut.
“Maaf nona-nona, bolehkah aku membawa pengantinku?” ucap Kyuhyun menyela obrolan ketiga wanita itu.
“Tentu saja tuan Cho” jawab Hana singkat.
Kyuhyun membawa Chae Lin ke tengah bisnisnya, dan dengan bangga pria itu memperkenalkan Chae Lin sebagai wanitanya. Lontaran selamat dan pujian diterima mereka berdua. Selesai beramah-tamah dengan para koleganya, Chae Lin menangkap sesosok wanita dalam balutan mini dress monochrome bermotif houndstouth yang memamerkan lekuk tubuhnya yang indah, dialah Lee Hyun Soo. Tiba-tiba Chae Lin menarik tangan Kyuhyun agar mengekorinya menuju kerumunan karyawan Kyuhyun di perusahaan. Sontak membuat mereka menghentikan aksi kunyah dan teguknya, satu per satu mereka mengucapkan selamat kepada boss besarnya.
Krik-Krik-Krik…
Suasana hangat dan ceria mendadak berubah mencekam saat ketiga insane tersebut saling beradu pandang. Kyuhyun menatap Hyun Soo dengan tatapan yang sulit diartikan, Hyun Soo menatap Kyuhyun dengan ragu-ragu karena sejak tadi kedua mata elang Chae Lin tak berhenti mengawasi gerak-gerik keduanya. Rasa canggung mendadak menyergap Kyuhyun, pria itu tak berkutik dan tak tahu harus berbuat apa untuk mencairkan suasana.
“Lama tak berjumpa, Lee Hyun Soo-ssi” Chae Lin membuka suara.
Lee Hyun Soo tak berani menatap manik mata Chae Lin, bola mata gadis itu tertuju sepenuhnya pada gelas kristal yang ada di genggamannya.
“Kabarmu baik-baik saja kan?” tanya Chae Lin menambah suasana di antara mereka bertiga kian mencekam. Lee Hyun Soo masih diam membisu, lidahnya membeku seketika.
“Ah! Tapi wajahmu sedikit pucat Hyun Soo-ssi dan keningmu sepertinya sedikit berkeringat. Kau sakit huh?” tanya Chae Lin lagi dengan nada khawatir yang terlalu dibuat-buat.
Beberapa karyawan Kyuhyun yang lain menoleh dan menatap Hyun Soo.
“Kau harusnya menjaga kesehatanmu dengan baik. Bagaimana kau bisa menjaga suamiku di kantor jika kau saja tidak dapat menjaga dirimu?”
Tatapan menyelidik mulai dilemparkan kepada Hyun Soo.
“Ah! Terimakasih sudah menjadi sekretaris suamiku Hyun Soo-ssi, aku tahu jika suamiku ini pasti selalu merepotkanmu di dalam maupun di luar kantor. Sekali lagi terimakasih banyak karena selama ini telah menjaga suamiku dengan baik. Kau memang sekretaris paling hebat di dunia!”
“Kau sangat hebat dalam merayu atasanmu” gumam Chae Lin dalam hati.
Tubuh Hyun Soo berubah kaku seperti papan, kedua tangannya mencengkram gelas di genggamannya dengan kuat. Keringat dingin yang keluar dari keningnya mulai bertambah banyak. Ingin rasanya Hyun Soo lenyap dari tempat itu sekarang juga, hatinya tersayat-sayat mendengar sindiran kalimat Chae Lin. Kedua sudut matanya mulai digenangi bulir-bulir jernih.
“Aku tidak boleh menangis disini. Tidak boleh!”Hyun Soo mencoba menguatkan dirinya sendiri.
“Terimakasih untuk semua pujianmu nyonya Cho. Aku permisi ke belakang sebentar” Hyun Soo akhirnya buka suara. Gadis itu meletakkan gelasnya lantas berjalan meninggalkan Chae Lin dan Kyuhyun serta karyawan lain yang ia pastikan sebentar lagi akan membicarakannya.
Kyuhyun tak ubahnya seperti patung, sejak tadi pria itu hanya diam membisu, ia tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Hyun Soo dari serangan kata-kata Chae Lin. Kyuhyun diam karena ia menyadari semua kesalahannya. Kyuhyun bergidik ngeri melihat ekspresi wajah istrinya saat meontarkan kalimat-kalimatnya untuk Hyun Soo.
“Kau baik-baik saja suamiku?” bisik Chae Lin lirih tepat di telinga suaminya.
Chae Lin meninggalkan Kyuhyun dan para pegawainya.
***
Jang Shil Yoon menatap takjub setelah dirinya menginjakkan kaki lebih dalam ke area perkebunan.
“Keluarga Lee memang luar biasa!” Shil Yoon membatin.
Jang Shil Yoon mengedarkan pandangannya, ia tersenyum lebar melihat ratusan pria pebisnis sukses terkumpul disini.
“Tidak! Tidak! Apa yang kau pikirkan Jang Shil Yoon? Kau sudah memiliki Lee Dong Wook! Dan priaku seribu kali lebih baik dari semua pria yang ada disini.” batin Shil Yoon bermonolog.
“Aku kira kau tidak akan datang” celetuk seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Shil Yoon.
Shil Yoon tersenyum kecut melihat wanita itu, dialah orang yang sudah mengundangnya kesini, tak lain dan tak bukan adalah Lee Byul, ibu Chae Lin.
“Tentu saja aku akan datang dengan senang hati” sahut Shil Yoon.
“Aku memberimu jalan untuk mencari mangsa, kau tidak mau berterimakasih padaku?” Lee Byul menyesap champagne yang ada di genggamannya.
“Dangyunhaji! Kau sungguh baik hati nyonya Lee. Tapi sayang sekali aku sudah tidak berminat mencari mangsa, karena aku sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan.” ucap Shil Yoon sembari menyambar segelas red wine dari pelayan yang berlalu-lalang.
Lee Byul tersengih mendengarnya, “Benarkah? Pria manalagi yang menjadi korbanmu huh?”
“Aku rasa itu bukan urusan anda, nyonya Lee.”
“Tentu saja itu menjadi urusanku, aku tidak ingin ada keluarga lain bernasib sama seperti keluargaku.”
“Tidak akan. Aku sudah tidak menaruh minat pada pria berumur, priaku saat ini seribu kali lebih mempesona daripada pria lemahmu itu nyonya Lee yang terhormat”
Lee Byul mengusap dadanya yang sudah naik turun menahan amarah, ingin rasanya ia merobek mulut tak beradab Jang Shil Yoon.
“Moodku sedang baik hari ini jadi jangan coba-coba memancing amarahku. Selamat bersenang-senang, bekas simpanan suamiku!” ucap Lee Byul tajam.
***
Dada Chae Lin terasa sesak seolah masih ada hal mengganjal yang belum diungkapkannya. Ya! Gadis itu masih belum puas dan ia masih ingin bicara dengan Lee Hyun Soo. Hanya empat mata dengan kekasih gelap suaminya itu. Kedua mata elang Chae Lin mengedarkan pandangannya, mencari sosok sekretaris tak tahu diri.
Gotcha!
Dilihatnya Hyun Soo berdiri di tepian pagar areal perkebunan, dan tanpa berlama-lama Chae Lin melangkahkan kakinya ke tempat wanita itu berada.
Chae Lin berdehem ringan, membuat Hyun Soo menoleh ke arahnya.
“Kau masih belum puas mempermalukanku di depan Kyuhyun dan teman-temanku?” Hyun Soo membuka suara lebih dulu. Chae Lin tersenyum tipis mendengar suara gadis itu.
“Tentu saja belum, yang tadi itu hanyalah pemanasan. Dan sekarang aku baru akan memasuki intinya.” ujar Chae Lin tajam.
“Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan Kyuhyun?” tanya Chae Lin to the point.
“Setahun yang lalu, jauh sebelum kau datang dan merebutnya dariku!” sahut Hyun Soo tajam.
Chae Lin tersenyum kecut, “Kau yakin aku merebutnya darimu?”
“Aku yakin kau sudah mendengar cerita ini sebelumnya, haruskah aku menceritakan kronologis kejadian perjodohanku dengan kekasihmu itu?”
“Apakah itu penting?”
“Yah baiklah jika kau tidak bersedia mendengarnya, aku  harap kau tidak mati penasaran karena menolak ceritaku itu.” ujar Chae Lin ringan sembari mengedikkan bahu.
“Karena kau tidak mau mendengar kronologis kejadiannya maka aku akan membahas intinya saja. Aku dan Kyuhyun menikah karena perjodohan dan itu berarti aku tidak merebut Kyuhyun darimu. AKU-TIDAK-MEREBUTNYA-DARIMU!”
“Aku tahu kalian dijodohkan tapi tetap saja kau itu orang ketiga dalam hubunganku dengan Kyuhyun, karena aku sudah lebih dulu memilikinya jauh jauh dan jauh sebelum kau datang.”
Cih! Lagi-lagi Chae Lin dibuat tersengih mendengar lontaran kalimat Hyun Soo.
“Oh ya? Bagaimana jika semua orang tahu tentang hubungan kalian? Aku yakin orang-orang tidak sependapat denganmu Hyun Soo-ssi. Aku istri sah Cho Kyuhyun dan sementara dirimu hanya kekasihnya ah tidak! kekasih gelap atau wanita simpanannya mungkin lebih terasa cocok untukmu. Jangan coba mengaburkan realita Hyun Soo-ssi, sadarlah jika hubunganmu dan Kyuhyun takkan memiliki masa depan.”
Hyun Soo tertegun. Lidahnya terasa kelu, bibirnya begitu kaku.
“Aku harap otakmu tak terlalu bebal untuk mencerna kata-kataku. Sampai jumpa lagi, kekasih gelap suamiku.”
Bulir-bulir bening di sudut mata Hyun Soo membuncah keluar sepeninggal Chae Lin. Hati Hyun Soo seperti ditohok bilah bermata dua, rasanya sakit sekali. Hyun Soo benci mengakui bahwa semua kata yang keluar dari mulut Chae Lin memang sebuah kebenaran yang takkan bisa disangkal.
***
Lee Dong Wook tersenyum simpul melihat sesosok gadis menunggunya di pintu kedatangan. Pria itu berhambur mendekap tubuh semampai gadis itu.
“Aku merindukanmu” bisik Dong Wook lirih.
“Aku juga” balas sang gadis dengan mengeratkan pelukannya.
Keduanya berjalan beriringan, lengan panjang Dong Wook masih melingkari pinggul gadis itu. Rona bahagia tercetak jelas dari wajah mereka berdua.
***
Kata-kata Chae Lin terus berngiang di benak Hyun Soo. Gadis itu mengusak rambutnya frustasi sembari menatap tajam pantulannya dirinya di cermin. Lantas disambarnya sebuah gunting di atas meja rias, dipotongnya rambut hitam panjangnya hingga hanya menyisakan rambut sepanjang bahu.
“Aku datang lebih dulu dan sudah sepantasnya aku yang ada di posisimu itu.” Gumam Hyun Soo seolah Chae Lin kini berada di hadapannya.
***
Keesokan harinya Chae Lin dan Kyuhyun sudah kembali ke rutinitasnya, gelar ratu dan raja dalam sehari usai sudah. Sejauh ini berita tentang pesta pernikahan pasangan konglomerat tersebut berhasil menjadi headline di beberapa surat kabar nasional.
Kyuhyun tersenyum tipis melihat potret dirinya dan Chae Lin ada di sampul depan surat kabar langganannya. Chae Lin meletakkan segelas susu di samping suaminya itu.
“Hari ini aku pergi ke kantor” celetuk Kyuhyun tiba-tiba.
“Haruskah?” sahut Chae Lin seraya menarik kursi di samping Kyuhyun.
“Kenapa? Kau ingin aku tetap disini bersamamu?” goda Kyuhyun dengan tersenyum tipis.
“Anni. Aku tidak bilang seperti itu” Chae Lin menyahut. Pipinya mulai merona merah, pertanda malu.
“Tidak perlu malu nyonya Cho. Aku tahu maksudmu”
“Tapi maaf sekali, hari ini aku ada pertemuan yang sangat penting dengan relasi bisnisku” ucap Kyuhyun penuh penyesalan.
“Gwaencana. Aku bisa mengerti keadaanmu”
“Aku akan menyiapkan pakaian kerjamu” Chae Lin bingkas dari kursi.
“Nanti saja, sekarang kita sarapan dulu” Kyuhyun menahan tangan kanan sang istri.
Keduanya melahap habis pancake dengan saus madu serta segelas susu.
“Siang nanti aku ingin kita makan siang bersama”
“Mworagu?”
“Makan siang, kita berdua. Apa kata-kataku tadi kurang jelas?” tanya Kyuhyun dengan nada sedikit meninggi.
“Araseo, tidak perlu berkata dengan nada seperti itu. Aku tidak tuli!” Chae Lin berdecak kesal.
“Apa-apaan dia? Tadi bersikap manis dan sekarang kasar. Dasar pria labil!” omel Chae Lin dalam hati.
“Mianhe. Aku mandi dulu” Kyuhyun berlalu dari hadapan Chae Lin begitu saja.
“Hanya begitu? Dia tidak mau mengecupku?”
“Aish! Apa yang kau pikirkan Lee Chae Lin?”
Gadis itu menggetok kepalanya sendiri berkali-kali seraya menggumam lirih, “Sadarlah! Sadar!”
***
Kyuhyun sudah duduk tegak di kursi kebesarannya, berada di ujung meja panjang yang sudah dipenuhi para karyawannya. Sedari tadi boss besar Skyline Group menyimak dengan seksama penjelasan para karyawannya mengenai hasil kerja perusahaannya selama bulan ini. Sesekali Kyuhyun melirik ke samping, ke arah sekretaris pribadinya.
Kyuhyun menyambar sebuah map berisi beberapa lembar berkas laporan keuangan.
“Sekretaris Lee, hubungi kantor akuntan publik Ernest and Young. Aku ingin mereka mengaudit perusahaan secara menyeluruh” perintah Kyuhyun pada sekretaris pribadinya.
“Rapat kali ini cukup sekian” ucap Kyuhyun mengakhiri rapat rutin bulanan. Pria itu berjalan meninggalkan ruangan sementara para karyawan sibuk membungkukkan badan padanya.
“Bacakan jadwalku hari ini” perintah Kyuhyun pada Hyun Soo sesampainya di ruang kerjanya.
“Jam sembilan ada pertemuan dengan calon investor dari Jepang, setelah itu menghadiri seminar sebagai pembicara, dan setelah makan siang ada pertemuan dengan Lee Donghae-ssi”
“Kau sudah mengatur ulang pertemuanku dengan Mr.Bill?” tanya Kyuhyun.
“Hari Sabtu, sebelum terbang ke Guangzhou untuk penandatanganan proyek pembangunan apartement.” jawab Hyun Soo menatap layar tablet pc di tangannya.
“Ada apa dengan rambutmu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.
Sudut bibir Hyun Soo terangkat tipis, “Dia memperhatikanku”gumamnya dala hati.
“Memangnya kenapa? Aku hanya ingin melakukan sedikit perubahan” jawab Hyun Soo singkat.
“Tidak cocok!” sahut Kyuhyun sembari menatap layar laptop di hadapannya.
“Oh ya? Tapi aku merasa penampilanku lebih baik daripada sebelumnya”
“Tidak! Aku lebih suka yang sebelumnya”
“Jadi sekarang kau tidak menyukaiku lagi?” tanya Hyun Soo tajam.
Kyuhyun menatap Hyun Soo, “Mungkin”
Hyun Soo tersenyum getir mendengarnya, “Kau mencintainya?”
Kening Kyuhyun berkerut samar, “Maksudmu?”
“Kau sudah tidak mencintaiku karena kau mencintai istrimu?”
“Jangan memulai perdebatan denganku Hyun Soo-yaa, aku sedang tidak ingin berdebat.”
“Aku hanya bertanya dan kau hanya perlu menjawab. Aku tidak memulai perdebatan!” Lee Hyun Soo berujar kesal.
“Aku mencintaimu…” jawab Kyuhyun pelan.
“dan dia…” ungkap Kyuhyun dalam hati.
Hyun Soo tersenyum samar mendengarnya. Biasanya tiap kali mendengar kalimat tersebut meluncur dari mulut Kyuhyun selalu membuat hati Hyun Soo berbunga-bunga, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda, Hyun Soo dapat merasakannya, ia tahu bahwa hati Kyuhyun tak lagi sama.
***
Sepeninggal Kyuhyun ke kantor, gadis itu sibuk membersihkan penthouse mereka. Chae Lin meraih ponsel di saku celana jeansnya dan mulai menjelajah di dunia maya, gadis itu mencari beragam resep masakan. Semenit kemudian Chae Lin menuju dapur dan membuka lemari pendingin mencari bahan-bahan untuk membuat bento. Chae Lin berniat membuatkan bento untuk Kyuhyun sebagai bekal makan. Mungkin terdengar kekanakkan tapi Chae Lin tak peduli.
“Sepertinya aku harus pergi belanja” gumam Chae Lin begitu melihat isi kulkasnya yang kosong melompong.
***
Dua botol mouthwash berada dalam genggaman tangan, pria itu terlihat bimbang menentukkan pilihannya.
“Yang biru saja.” celetuk sebuah suara memecah kebimbangan pria itu.
Lee Donghae memutar kepalanya ke belakang.
“Chae Lin” sapanya dengan senyum terkembang lebar.
“Kau sedang apa disini?” tanya Donghae sembari meletakkan mouthwash warna biru ke dalam keranjang belanjanya.
“Tentu saja belanja. Memangnya kau pikir aku menguntitmu?” sahut Chae Lin ringan.
“Kenapa kemarin tidak datang ke pesta resepsiku?” Chae Lin memasang wajah memberengut.
“Saat itu aku berada di Hongkong. Maaf karena telah melewatkan pestamu”
“Beruntung aku tak perlu melihatmu bersanding dengannya” rintih batin Donghae.
“Yaya…Aku tahu kau adalah pria yang sangat sibuk”
“Ngomong-ngomong kau sedang belanja bulanan?”
“Tidak. Aku hanya membeli beberapa bahan makanan untuk membuat bento”
“Bento? Memangnya kau bisa memasak?”
“Tentu saja bisa! Kau terlalu meremehkanku sunbae!” pekik Chae Lin tak terima.
“Sejak kapan kau bisa memasak? Setauku kau hanya bisa makan dan mengomentari masakan orang lain seperti yang dulu sering kau lakukan di kantin sekolah”
“Eyyyy itu kan sudah lama sekali. Jadi jangan samakan aku yang dulu dengan diriku saat ini”
“Tapi aku lebih menyukai dirimu yang dulu” Donghae menggumam lirih.
Samar-samar Chae Lin dapat mendengar gumaman sunbaenya itu. Chae Lin meraba dadanya dan rasanya biasa saja. Jantungnya berdetak normal, ini aneh dan Chae Lin tahu ada sesuatu yang tak beres dengan hatinya.
***
“Kenapa diam saja? Kau masih marah?” tanya Kyuhyun pada gadis yang duduk di sampingnya.
“Sudah tahu kenapa masih bertanya?” jawab Hyun Soo kesal.
“Maafkan aku Hyun Soo-yaa.” ucap Kyuhyun lembut dengan mengusap punggung tangan gadis itu.
“Aku ingin oppa tidak mengulanginya lagi. Kau tahu aku hampir gila memikirkanmu selama dua hari kau berada di puau Nami bersama istrimu dan kau tidak menghubungiku sama sekali! Aku benci itu!” seloroh Hyun Soo meluapkan isi hatinya.
“Aku tidak mungkin menghubungimu saat aku sedang bersamanya.”
Lee Hyun Soo tersengih mendengar ucapan Kyuhyun.
“Oppa takut dia akan marah atau oppa takut melukai hatinya karena menghubungiku?”
Kyuhyun bungkam. “Bukan seperti itu Hyun Soo-yaa. Kau tahu jika aku menyayangimu bukan?” Kyuhyun mengusap lembut pipi Hyun Soo.
Lee Hyun Soo menepis tangan Kyuhyun dari pipinya, dibukanya pintu mobil lamtas membantingnya dengan kencang. Dada Hyun Soo naik turun pertanda bahwa ia sedang menahan gejolak amarahnya. Gadis itu bersandar pada badan mobil. Kyuhyun keluar dari mobil dan tanpa dikomando langsung menyambar bibir Hyun Soo.
***
Lee Donghae meletakkan kantung belanjaannya di bawah meja sembari melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Ia datang lima belas menit lebih awal dari janji pertemuannya dengan Cho Kyuhyun untuk membahas proyek pembangunan resort di pulau Nami. Lee Donghae menyesap segelas espresso di hadapannya sembari melemparkan pandangannya keluar café, kedua bola matanya membulat sempurna dan ia hampir menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, dilihatnya Cho Kyuhyun sedang mencium seorang wanita yang tidak ia ketahui namanya namun ia tahu bahwa wanita tersebut adalah sekretaris pribadi Cho Kyuhyun. Refleks, Donghae meletakkan cangkir kopinya dan kedua tangannya mengepal erat. Rasa panas dan kesal tiba-tiba menyergap hatinya, suami dari wanita yang ia cintai ternyata bermain belakang dengan wanita lain. Lee Donghae tak bisa menerima fakta tersebut.
***
Segelas hot cappuccino dan cheesecake menemani pertemuan antara Lee Donghae dan Cho Kyuhyun yang ditemani sekretaris pribadinya.
“Kau datang lebih awal. Tidak biasanya Lee Donghae-ssi” sapa Kyuhyun seraya menarik kursi di hadapan relasi bisnisnya itu.
“Kebetulan aku baru selesai belanja di sekitar sini jadi ku putuskan untuk langsung kemari”
“Dan tak ku sangka aku datang tepat saat kau sedang mencumbu sekretarismu itu”Donghae membatin.
Dan perbincangan tentang proyek resort di pulau Nami pun dimulai, Kyuhyun dan Donghae terlihat serius mengamati beberapa berkas yang diberikan Hyun Soo.
***
“Auw ah panas!” Chae Lin memekik kencang saat tangannya tak sengaja menyentuh teflon panas untuk menggoreng telur.
“Omo! Nona muda tidak apa-apa?” salah seorang maid Chae Lin terkejut dan langsung menghampiri nona mudanya.
“Saya ambilkan obat sebentar”
“Gwaencana.” Chae Lin memutar keran air dan membasuh tangannya.
Setelah berbelanja keperluan sehari-hari gadis itu langsung menuju mansion keluarganya, dia ingin juru masak di rumahnya mengajarinya membuat bento yang enak.
“Eonni kau sedang apa?” sapa adik bungsu Chae Lin, Lee Ha Young.
“Memasak. Tentu saja!” jawab Chae Lin singkat sembari memotong-motong brokoli dan wortel.
Ha Young menghampiri kakak perempuannya, “Memangnya eonni bisa memasak?”
“Anni, maka dari itu aku sedang belajar” jawab Chae Lin singkat.
“Kakak ipar benar-benar hebat karena bisa merubahmu sedemikian rupa”
“Aku tidak berubah” sahut Chae Lin.
“Oh ya?” Lee Ha Young mengaduk-aduk sup jamur.
“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Chae Lin pada adik bungsunya itu.
“Baik-baik saja.”
“Kau sudah memutuskan akan melanjutkan studi dimana?”
“Oppa ke Amerika dan eonnie pergi ke Milan, aku sebenarnya ingin melanjutkan studiku di Inggris. Tapi sepertinya eomma tidak akan mengizinkanku” celoteh Ha Young dengan tidak bersemangat.
“Kau sudah bicara pada eomma?”
“Belum.”
“Yaa! Kenapa sudah membuat kesimpulan jika kau saja belum bertanya?”
“Karena eomma selalu saja menganggapku anak kecil dan aku rasa eomma tidak akan membiarkanku melanjutkan studiku di Inggris seorang diri”
“Oxford?” Chae Lin menebak.
“Darimana eonni tahu aku ingin kesana?”
“Tentu saja aku tahu. Aku ini kan eonniemu.” Chae Lin tersenyum tipis. Dibalik sosok dingin dan cueknya ternyata Chae Lin diam-diam memperhatikan adik bungsunya.
“Kau ingin mengambil program studi apa?”
“Manajemen bisnis”
“Jinjja?”
“Dangyunhaji!”
“Apa eomma yang mempengaruhimu?”
“Tidak. Hanya saja aku ingin mendalaminya agar kelak aku bisa mengembangkan bisnis keluarga kita dan menjaganya dari tangan-tangan jahil di luar sana.”
“Gadis pintar!” Chae Lin menggumam lirih.
“Aku benci ayah dan wanita jalang itu. Aku tidak akan membiarkan salah seorang dari kita berkorban seperti yang eonni lakukan.”
“Memang ini garis takdirku Ha Young-ah. Jangan sarkatis seperti itu. Aku benar-benar baik-baik saja” Chae Lin tersenyum samar pada Ha Young.
***
Satu bulan kemudian…
Kini Chae Lin dan Kyuhyun makin terlihat seperti sepasang suami istri yang sebenarnya, Kyuhyun memperlakukan Chae Lin layaknya istri yang ia cintai begitu pula dengan Chae Lin, gadis itu mulai menikmati tugasnya sebagai seorang istri yang baik. Hari demi hari mereka lewati bersama, membuat keduanya mulai memahami karakter dan kebiasaan masing-masing tanpa mereka sadari.
Seperti pagi ini, Kyuhyun masih terkulai di ranjangnya dengan memeluk erat tubuh Chae Lin, pria itu mengusap lembut punggung mulus Chae Lin yang tak terbalut pakaian. Kyuhyun mendekatkan wajahnya, mengusap lembut pipi sang istri. Kyuhyun begitu menikmati tiap detik yang berjalan saat ia mengamati wajah cantik Chae Lin dalam jarak tak kurang dari satu inch. Kyuhyun tersenyum tipis sebelum akhirnya mengulum lembut bibir mungil Chae Lin hingga membuat si empunya menggeliatkan tubuhnya, kedua mata elang Chae Lin mengerjap-ngerjap.
“Selamat pagi sayangku” sapa Kyuhyun sesaat setelah menyudahi ciuman singkatnya.
Chae Lin meregangkan kedua tangannya lantas melingkarkannya di leher Kyuhyun, gadis itu membalas perbuatan Kyuhyun. Kali ini giliran Chae Lin yang menyambar bibir tebal Kyuhyun serta mengulumnya lembut. Keduanya tersenyum tipis di tengah pagutan bibir mereka. Begitulah cara keduanya memberikan sapaan selamat pagi.
“Malam ini tidak usah menungguku, hari ini aku ada pertemuan dengan klien di Macau.” Ucap Kyuhyun membuka pembicaraan.
“Berapa lama?”
“Besok pagi aku pasti sudah kembali. Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu” jawab Kyuhyun lembut seraya mengusap kedua pipi Chae Lin.
“Arra.. Akan ku siapkan pakaianmu” Chae Lin bingkas dari ranjang sembari menyeret selimut tebal yang membalut tubuh telanjangnya.
“Selimutnya” gumam Kyuhyun tak jelas saat Chae Lin membawa selimut yang juga membalut tubuh nakednya.
Lekuk tubuh Chae Lin benar-benar memabukkan indera penglihatan Kyuhyun. Pria itu selalu mengagumi tubuh indah Chae Lin dengan kulit putih langsat semulus porselen. Kyuhyun sudah berdiri di belakang istrinya lantas melingkarkan tangannya di tubuh Chae Lin, Kyuhyun mengusap-usap perut Chae Lin, sementara hidung bangirnya menggesek manja pada leher jenjang Chae Lin berusaha menghirup aroma khas tubuh wanitanya. Aroma tubuh Chae Lin yang selalu berhasil membangkitkan gairahnya. Chae Lin sudah bisa menebak jalan pikiran Kyuhyun sehingga Chae Lin melepas pelukan suaminya sebelum Kyuhyun mulai menjamah tubuhnya lagi.
Chae Lin mengambil kimono mandinya di dalam lemari seraya berucap, “Kita sudah bermain semalaman”
“Lalu?”
“Apa kau masih belum puas?” tanya Chae Lin.
“Kau tahu aku tidak pernah puas”
Kyuhyun memutar tubuh Chae Lin dan sudah bersiap menyambar bibir mungil yang menjadi candu baginya. Tiba-tiba Chae Lin mengatupkan mulutnya rapat-rapat, seperti menahan sesuatu agar tidak keluar dari mulutnya. Chae Lin berlari kecil menuju kamar mandi dan Chae Lin muntah-muntah. Kyuhyun mengekori Chae Lin, pria itu terlihat cemas.
“Gwaencana?” tanya Kyuhyun cemas saat melihat pantulan wajah pucat Chae Lin di cermin.
“Entahlah” sahut Chae Lin lemah. Keringat dingin mulai keluar dari keningnya.
To be continued…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: