Triangel Part 9

0
ff nc kyuhyun super junior Triangel Part 9
Author : ZaZiepiet
Tittle : TRIANGEL [9th-Please]
Category : Romance, Chapter, Yadong, NC 21, NC 17, Married Life, General, sad
Cast :     ●    Lee Hyobin
Cho Kyuhyun
Other Cast
Happy Reading~ ☺
NO PLAGIAT PLEASE!!
LEE HYOBIN
Aku termenung menatap hujan yang mengguyur jendela balkon apartemen ku dan Kyuhyun. Ini masih pagi dan aku mendapati telah turun hujan saat terbangun dengan perut yang bergejolak. Kyuhyun sudah tidak terlihat dalam apartemen, mungkin ia telah berangkat menuju kantor.

Hujan mengguyur dengan indah, meneteskan setiap butirnya menghantam kaca balkon dan menimbulkan bunyi-bunyi bagaikan musik yang mengalun dalam kesunyian. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menatap hujan dengan ditemani secangkir teh camomile. Tapi aku sedang tidak ingin membuatnya, perutku menolak segala hal pagi ini dan hanya berakhir meminum segelas air putih dingin yang kuambil dalam lemari es.
Perlahan tanganku terulur mendekap perutku, mengusapnya perlahan. Ukurannya mulai terlihat di balik bajuku, dan usianya menginjak lima bulan. Perasaan hangat mengalir dalam dadaku, kurang empat bulan lagi ia akan lahir kedalam dunia ini dan akan menjadi sosok mungil yang indah.
“Eomma akan membuatmu lahir dengan selamat, jadi sehatlah arra?” gumamku, dan sebuah sentuhan lembut menggelitik perutku dari dalam. Mataku membulat takjub. Pandanganku turun dan menatap perutku saat air mata menetes haru dari mataku.
“Eomma mencintaimu,” bisikku, dan sentuhan itu kembali terasa. “Sangat mencintaimu.”
Setidaknya, bayi ini akan menjadi penyemangat di atas semua hal yang terjadi padaku.
“Eonni!” panggilku saat mendapati Ahra eonni berjalan mendekat kearahku yang tengah duduk di ruang tunggu rumah sakit. Ahra eonni dengan jubah rumah sakitnya terlihat begitu menawan dan sangat anggun.
“Hyo-ah, bagaimana keadaanmu?” tanyanya khawatir, seperti biasa. “Aku turut berduka cita atas kematian orang tuamu, Hyo-ah. Maaf aku tidak bisa datang minggu lalu.” Ucapnya menggenggam jemariku.
“Gwenchana, eonni. Aku baik-baik saja dan jangan ungkit masalah itu lagi eonni. Aku hanya─tidak ingin terlalu memikirkan hal yang membahayakannya.” Ucapku mengusap perutku dengan tangan kiri yang bebas. Pandangan eonni ikut menuju perutku dan kudengar helaan nafasnya.
“Kandunganmu berumur lima bulan bukan? Donghae menceritakan padaku bahwa─”
“Eonni, kumohon. Jangan membenci bayiku.” Lirihku menatapnya memohon.
Mengapa semua orang seakan-akan menolak bayi yang aku kandung. Ia hanya bayi kecil, kenapa banyak sekali yang ingin aku menggugurkannya?
“Aku tidak membencinya!” ucap Ahra eonni segera, “Aku tidak membencinya, Hyo-ah.” Helaan nafasnya terdengar lagi, “Aku hanya─tidak ingin kehilangan dirimu. Kau adalah adik perempuan yang aku sayangi, dan kau terlalu berharga bagi keluarga Cho.”
Aku menggeleng, “Anniyo, anak inilah. Bayi inilah yang berharga eonni. Bayi ini milikku dan Kyuhyun oppa, penerus keluarga Cho. Bayi inilah yang lebih berharga.”
“Ny. Cho Hyobin?” panggilan suster membuatku menoleh. “Silahkan masuk, Dr. Lee sudah menunggu.”
Aku mengangguk dan berdiri, “Aku masuk dulu eonni, sampai jumpa.” Pamitku dan berjalan menuju ruangan Dr. Lee. Tidak memperdulikan bagaimana tatapan Ahra eonni di belakangku. Ada rasa tidak suka saat setiap orang yang mengetahui keadaanku selalu menatap dengan pandangan iba. Aku tidak apa-apa, aku akan sehat dan aku akan melahirkan bayiku dengan sehat.
Benarkan?
Ruangan Lee Donghae terlihat seperti biasanya. Dan perasaanku sedikit terganggu saat teringat kedatangannya di pemakaman kedua orang tuaku, pelukannya dengan Eunhyuk oppa dan perkataanya yang menyebutku ‘Princess Hyo’.
Siapa sebenarnya Lee Donghae?
“Selamat pagi,” sapanya tersenyum. “Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanyanya menuntunku agar berbaring di ranjang dan mulai memeriksa keadaanku.
“Eum─baik,” jawabku sekenanya.
“Apakah ada keluhan akhir-akhir ini? Atau sesuatu yang aneh? Umurnya menginjak lima bulan seharusnya─”
“Bayiku bergerak.” potongku dan Donghae menatap diriku.
“Itu bagus,” senyumnya, namun aku tahu sesaat ada kilatan terkejut dalam matanya.
“Bayimu akan sehat secara perlahan.” Ucapnya, namun kenapa aku sedikit tidak yakin.
“Apa kau datang bersama suamimu?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.
“Kyuhyun oppa sedang sibuk, jadi─”
“Apa kau merasakan sesuatu selain pergerakan bayimu?” tanyanya menyela, membuatku diam seketika. Donghae mengambil berkas yang berisi data-dataku dan mulai menuliskan beberapa kalimat.
“Beberapa kali serangan sakit itu muncul, tapi langsung menghilang begitu saja.” Jawabku setelah berfikir sejenak.
“Seberapa sering? Dan, berapa skala sakit yang kau rasakan?” tanyanya mulai terlihat serius. Aku memandangnya lekat.
“Apa itu buruk?” bisikku mulai merasa takut.
“Seberapa sering, Hyo-ah?” tanyanya lagi. Aku meneguk ludahku.
“Terlalu sering hingga aku lupa menghitung.” Suaraku tertelan. Dan raut wajah Donghae seketika begitu keras.
“Dan seberapa sakit?” tanyanya lagi. “Dari satu sampai sepuluh, berapa yang kau rasakan?”
Aku menggigit bibirku, “Tu-tujuh?”
“Apa bayiku baik-baik saja, dokter? Apa─apa bayiku…”
“Aku sudah memberitahumu sejak pertama kali aku memeriksamu, Hyo-ah. Aku mengatakan bahwa bayimu tidak sempurna, dan aku menyarankanmu untuk menggugurkannya.” Lee Donghae berbalik dan berjalan pelan menuju mejanya.
“Tapi─”
“Dan yang bermasalah bukan hanya bayimu!” serunya. Raut wajahnya begitu marah, “Rahimmu tidak bisa menompang bayi itu lebih lama lagi!” bisiknya.
Jantungku berdentam panik. Apa maksudnya?
“A-apa yang akan terjadi pada bayiku?” tanyaku takut, jemariku menangkup seolah memeluk perutku sendiri.
“Bukan yang terjadi pada bayinya! Tapi pada dirimu!” bentaknya dengan tatapan yang keras dan penuh amarah. Yang seketika membuatku semakin merasa bahwa ada sesuatu di masa lalu yang tidak kuingat.
“Bayi itu membunuhmu!” bisiknya. “Kenapa kau harus mengorbankan dirimu demi bayi namja sialan itu?!”
Aku tersentak. Cho Kyuhyun bukan namja sial! Dan bayi ini tidak akan menyakitiku!
“Apa hubungannya denganmu, dokter Lee?” tanyaku pelan, “Kenapa kau begitu peduli padaku? Kau hanya dokter─”
“Karena aku mencintaimu!” serunya. “Aku mencintaimu sejak kau membuka matamu di dunia ini! Aku mencintaimu hingga aku begitu sakit saat mendapati dirimu sama sekali tidak mengingatku dan berakhir seperti ini!”
Perkataan yang terlontar dari bibirnya sontak membuatku terpaku.
“Aku mencintaimu Princess Hyo, dan aku kembali untukmu.” lirihnya menatapku lamat.
“Kau─siapa? Aku tidak mengingatmu,” ucapku dan seketika genangan air mata merebak dalam mataku saat kalimat itu terdengar ‘Princess Hyo’.
“Aku pangeran yang menunggumu.” Jawabnya dan seketika serangan dikepalaku terjadi. Berdenyut-denyut dengan sangat dahsyat, membuatku memekik dan menjerit.
“Jadi oppa pangeran princess Hyo?”
Bayangan bocah laki-laki tersenyum dalam ingatanku, dan aku mendengar suara tawa anak kecil yang bagaikan lonceng yang bergemerincing, kemudian bocah itu mendekat kearahku dan mencium bibirku.
Ingatan ini─
“Kapan oppa kembali? Beberapa minggu lagi ulang tahunku yang ke sepuluh.”
“Princess Hyo, oppa tidak bisa kesana dulu. Oppa akan mengirimkan kado istimewa untukmu, arrachi?”
Bocah itu berubah menjadi sosok yang begitu tampan, sosok yang aku kenal sekarang namun terlihat masih sangat muda. Lee Donghae.
“Aku ingin menemui Donghae oppa! Aku akan ke Jepang menyusulnya!”
“Lee Hyobin, Jepang sangat jauh sayang.” Suara eomma.
“Oppa akan menelfon Lee Donghae sekarang, kau tidak perlu sampai kesana.” Eunhyuk oppa.
“Aigoo, puteri appa begitu rindu dengan pangerannya!” suara tawa appa.
Semuanya berputar-putar dan terakhir yang kulihat sebelum semuanya gelap, adalah tatapan Donghae yang amat begitu sedih. Pangeran yang aku impikan, dan aku tunggu selama ini ada di depan mataku.
***
Mataku perlahan terbuka dan mendapati diriku terbaring di ruangan serba putih. Suara aneh terdengar dalam telingaku dan membuatku menoleh saat mendapati sebuah alat pendeteksi detak jantung bertengger di sebelah tempat tidurku.
Mengapa aku disini?
Terakhir yang kuingat adalah aku berada di ruangan Donghae, sedang memeriksakan kandunganku dan─aku mengingatnya, siapa Lee Donghae.
Seketika tubuhku mencoba bangkit namun begitu amat susah. “Jangan memaksakan diri, tubuhmu masih begitu lemah.” Suara bass milik Kyuhyun terdengar. Dan namja itu tengah duduk di sebuah sofa yang menghadap ke arah tempat tidurku.
“Kau mengalami sakit kepala yang membuatmu sedikit pendarahan.” Ucapnya, berdiri dan berjalan mendekat ke arahku. Di raihnya tubuhku dan membaringkannya kembali dengan pelan. Helaan suara Kyuhyun terdengar dalam telingaku.
“Apa yang sebenarnya yang terjadi pada dirimu? Kenapa kau begitu menyukai rumah sakit?” tanyanya dengan nada tidak suka. Membuatku terdiam dan membisu.
“Dulu kram perut, sekarang sakit kepala. Lalu apa lagi yang akan terjadi padamu nanti? Kenapa seolah kau tidak menjaga dirimu dengan baik Lee Hyobin?!”
Perkataan yang Kyuhyun lontarkan amat begitu tajam, namun aku yang sudah terbiasa hanya bisa diam tanpa membalasnya. Dan aku bersyukur Kyuhyun tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya.
“Maafkan aku,” bisikku.
“Berhenti minta maaf.” Ucapnya datar, begitu dingin. Tanganku menangkup merutku dengan perlahan dan hanya memejamkan mataku lelah. Kyuhyun yang seperti monster telah kembali, dan hal itu membuat hatiku sakit.
“Aku akan memanggilkan dokter.” Putusnya dan terdengar langkahnya yang perlahan menjauh.
Air mataku perlahan menetes. Aegi-ah, jangan khawatir eoh. Appa hanya marah dengan eomma, jadi jangan dengarkan perkataannya yang aneh, arra?
Bayi ini adalah segalanya bagiku. Benih yang Kyuhyun berikan padaku, benih yang setidaknya memiliki sedikit cinta dari Kyuhyun. Dan aku akan menjaga cinta itu sekecil apapun.
Aku sudah diperbolehkan pulang beberapa jam yang lalu. Dan, disinilah aku. Berjalan perlahan menuju apartemen dengan Kyuhyun di belakangku. Wajahnya masih terlihat datar dan terkesan begitu marah.
“Oppa?” panggilku saat kami telah berada dalam apartemen, Kyuhyun yang sedang berjalan menuju kamar berhenti dan berbalik.
“Wae?” sahutnya.
“Oppa marah padaku?” tanyaku pelan. Sebenarnya, apa yang membuat Kyuhyun seolah begitu marah dan terkesan semakin membenciku. Apa yang telah aku perbuat?
Kyuhyun terdiam dan berjalan menghampiri tempatku berdiri. “Siapa dokter Lee?” tanyanya terkesan tidak suka.
Mata ku mengerjap, “Dokterku?”
“Namja itu lebih dari seorang dokter.” Ucapnya dengan menggertakkan giginya. “Apa hubunganmu dengan namja itu?”
“Oppa, apa sebenarnya yang kau maksud?” tanyaku balik, merasa bingung dengan apa yang Kyuhyun tanyakan.
“Kenapa kau berbohong padaku?! Kau memiliki hubungan dengan namja itu, Lee Hyobin!!” bentaknya. Aku terkesiap dan perlahan memundurkan tubuhku.
“Namja itu mengenal Lee Hyukjae! Namja itu mengenal keluargamu! Dan tatapannya padamu, bukanlah tatapan seorang dokter pada pasiennya! Siapa sebenarnya dokter itu?!”
“Oppa ini tidak seperti yang kau fikirkan, aku bahkan baru saja─” ucapanku terpotong dengan bentakan Kyuhyun berikutnya.
“Apa yang aku fikirkan?! Bahwa kau melakukan affair di belakangku?!! Seperti itu!!”
Mataku menatap Kyuhyun tidak percaya, “Aku tidak melakukan hubungan apapun dengannya oppa!” seruku. Kyuhyun maju dan mencengkram pipiku.
“Lalu kenapa dia seolah memujamu?! Menatapmu dengan  tatapan bahwa kau adalah segala-galanya bagi hidupnya?! Kenapa Lee Hyobin?!”
“Oppa sakit,” rintihku mencoba melepas cengkramannya. Air mataku menetes dengan perlahan.
“Kau isteriku Lee Hyobin! Ani, CHO Hyobin!! Haruskah aku memperjelasnya?! Kau hanya milikku!” di hempaskannya tubuhku dengan kasar, hingga membuatku limbung dan hampir menghantam sofa yang ada di belakangku.
Kyuhyun yang lembut, Kyuhyun yang hangat telah hilang sepenuhnya di gantika oleh Kyuhyun yang berubah menjadi monster.
“Oppa apa yang terjadi padamu?” tangisku, perasaan sakit menusuk hatiku.
“Tidak ada yang terjadi padaku, Hyo-ah! Tapi apa yang terjadi pada dirimu?! Dimana Lee Hyobin polos yang aku kenal? Kemana gadis yang selalu tertawa padaku? Kau bukanlah Lee Hyobin yang pertama kali aku kenal!” ucapnya membuatku semakin tersudutkan.
“Kenapa aku harus mengenalmu Hyo-ah?! Kenapa aku harus menidurimu?! Kenapa aku harus menghianati Jung Jihyun hanya demi dirimu?! Kenapa?!”
Aku tidak menjawab, hanya menangis dengan memeluk perutku, seolah menutup telinga bayiku agar tidak mendengarnya.
“Kenapa bayi itu harus ada?!” bentakan itu membuatku menatapnya tak percaya.
“Oppa,” tangisku.
“Aku kehilangan Jung Jihyun! Mempermalukan keluarganya atas pembatalan pertunangan kami! Membuat appa dan eomma, bahkan Ahra noona membenci diriku! Semua karena dirimu Hyo-ah, dan semua karena bayi itu!”
Kepalaku menggeleng menampik segala kenyataan yang Kyuhyun lontarkan padaku. “Aku meninggalkan Jung Jihyun demi dirimu! Dan sekarang ini yang kau lakukan padaku, melakukan affair di belakangku!”
“Aku tidak melakukannya, oppa.” Tangisanku semakin keras. Nafasku mulai tersenggal-senggal.
Segala yang ada dalam pemikiranku, rasa bersalah yang menggerogotiku perlahan-lahan terucap semuanya dari mulut Kyuhyun oppa. Membuat rasa sakit semakin memangkas hatiku dengan begitu cepat. Semua memang atas kesalahanku.
“Seandainya Hyo-ah,” gumam Kyuhyun mengusap wajahnya kasar.
Tidak oppa, jangan katakan.
“Seandainya aku tidak bertemu denganmu, semua ini tidak akan pernah terjadi!! Bayi itu! Segala hal yang menimpa kehidupanku tidak akan menjadi serumit ini jika aku tidak bertemu denganmu!!”
“Oppa, kumo-hon…”
Mimpi burukku perlahan mulai terlihat, Kyuhyun oppa yang berjalan menjauhi diriku, meninggalkanku dan membuat diriku bertahan sendiri.
“Jangan teruskan…” pintaku lirih. Semakin memeluk erat perutku.
“Kau dan bayi itu, tidak seharusnya ada dalam hidupku Lee Hyobin.” Ucapnya datar dan seketika bagai hantaman ombak tubuhku luruh dan jatuh. Menangis sejadi-jadinya, saat Kyuhyun perlahan menuju pintu keluar dan menghilang.
Cho Kyuhyun meninggalkanku. Cho Kyuhyun yang kucintai tidak lagi mengharapkanku, Cho Kyuhyun yang menjadi ayah dari bayiku tidak lagi mengharapkan kehadiran bayi ini. Lalu bagaimana? Bagaimana bayiku di masa depan saat sang ayah tidak menginginkannya? Apa yang harus aku lakukan?
Setidaknya, biarkan anakku mendapatkan cintanya. Aku ingin anakku tumbuh dengan cinta yang dimiliki Kyuhyun, meskipun hanya sebutir tetesan embun. Tapi, semua seolah percuma. Kyuhyu tidak lagi menginginkan bayi ini. Anak kami─anakku.
“Appa… eomma…?” lirihku terisak saat bayangan mereka muncul dalam pandanganku yang memburam. Posisiku masih terduduk di ruang tamu tempat pertengkaran kami, dan aku merasakan mati rasa.
“Uri Hyobin… jangan menangis sayang…” lantunan suara eomma begitu membuatku terhipnotis, jemari eomma terulur menyentuh pipiku lembut dan segalanya seakan menjadi begitu tenang. Suara tangisanku berhenti dan aku hanya dapat melihat sosok eomma di hadapanku.
“Eomma…”
“LEE HYOBIN?!!” suara samar lain terdengar dan aku merasakan bayangan eomma mulai bergoyang dan memudar, tergantikan wajah yang baru saja meninggalkanku. Cho Kyuhyun.
“SADARLAH! LEE HYOBIN TETAP SADAR!!” suaranya menggema, dan aku memandangnya lelah. Cho Kyuhyun telah pergi meninggalkanku beberapa saat yang lalu.
“ANDWAE!! LEE HYOBIN!!” tubuhku mulai melayang dan langit-langit rumah seakan bergerak di atasku. Tubuhku mati rasa dan aku tidak dapat mendengar apapun lagi. Tubuh dan jiwaku seakan tidak menyatu.
“Tidak! Tidak! Tidak!!” hanya sebuah gema yang kudengar. Dan wajah panik Kyuhyun terlihat olehku, kenapa?
“Op-ppah…” suaraku seakan begitu sulit untuk keluar. Cho Kyuhyun tetap menatap lurus kedepan dan aku tidak mendapatkan jawaban apapun.
Dan semuanya mulai memburam saat mata Kyuhyun menatapku, wajah paniknya yang tidak kuketahui kenapa. Tepukan tangannya yang mengguncang pipiku, seolah hanya sebuah bayangan. Aku tidak merasakan apapun.
“Tuhan!! Lee Hyobin bertahanlah!!”
Semua menjadi samar saat Kyuhyun mendekatkan wajahnya padaku, sebuah kecupan mendarat di bibirku, dan semuanya gelap.
***
CHO KYUHYUN
Perasaan apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apakah aku mencintainya? Apakah aku hanya sekedar menyayanginya? Gadis yang menjadi isteri dan ibu dari calon anakku.
Pertama kali aku menatap matanya, hatiku begitu jatuh dan aku terikat olehnya. Melupakan fakta bahwa aku memiliki calon tunangan, melupakan fakta bahwa ia hanya gadis kecil yang baru pertama kali aku temui. Semuanya seolah berjalan dengan begitu lancar, aku memberinya kasih sayangku, dan ia─dengan kepolosannya semakin mengikatku hingga jatuh kedalam dirinya.
Hingga aku menemukan diriku melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Membuatnya bercinta denganku. Ya, kami bercinta. Aku melakukannya dengan apa yang ada dalam hatiku, melupakan segala-galanya, melupakan akibat yang akan terjadi di masa depan.
Dan, karma mengikutiku dengan langkah perlahan.
Perasaan bersalah menghantamku saat bayangan Jihyun terlintas dalam pikiranku. Aku telah menghianati Jihyun dengan meniduri gadis mungil bernama Lee Hyobin. Menjerumuskan diriku kedalam lubang dosa yang begitu besar, dan mengakibatkan segala kekacauan.
Dengan segera aku berfikir, bahwa melupakan adalah jalan terbaik. Aku menginggalkan Hyobin dengan perlakuan yang bisa dibilang pengecut. Namun aku harus melakukannya, sebelum Jihyun mengetahuinya dan semua akan semakin kacau.
Sama sekali tidak menyapanya, menganggap bahwa aku tak mengenal dirinya kulakukan. Beberapa minggu setelah kejadian itu, Lee Hyobin tidak pernah tampak lagi. Dan segalanya berjalan biasa, aku memutuskan untuk segera bertunangan dengan Jihyun saat Lee Hyobin kembali muncul dengan apa yang menjadi buah akibat kesalahanku.
Gadis itu dinyatakan hamil.
Bahkan dokter sendiri yang menyalamiku dan memberikan selamat atas kehamilan yang terjadi pada Hyobin. Tidak ada senyuman, tidak ada kebahagiaan yang terpampang dalam wajah gadis mungil yang kusayangi.
Namun sebuah jeritan frustasi dan tangisan memilukan yang terdengar dalam telingaku,
“Apa yang kau lakukan padaku, oppa?”
Kalimat pertanyaan yang ia lontarkan begitu menusuk dan menghantam dadaku. Aku telah menanamkan benihku pada gadis itu, kenyataan bahwa gadis itu telah mengandung sebagian dari tubuhku.
Semua seolah berjalan dengan begitu cepat, tanpa berfikir dengan berkali-kali aku mengatakan bahwa akan bertanggung jawab. Tidak ada yang ada dalam fikiranku selain bagaimana aku mempertanggung jawabkan segala perbuatanku, hanya dengan menikahinya. Hari itu aku tahu bahwa segala hidupku akan berubah, dan hari itu juga aku menyadari bahwa sebuah karma akan selalu berjalan di belakangmu.
Segalanya menjadi sulit saat proses pembatalan pertunanganku dengan Jung Jihyun. Gadis itu, yang telah mengisi hatiku selama dua tahun harus aku relakan untuk mempertanggung jawabkan segala kesalahanku. Dan malam kami memutuskan hubungan adalah malam dimana segalanya menjadi kacau.
“Oppa! Aku merindukanmu!” Jihyun berlari pelan menghampiriku yang baru saja masuk kedalam cafe milik Yesung Hyung. Aku baru saja mengantarkan Hyobin pulang kerumah orang tuaku, menjelaskan segalanya dan membuatnya istirahat sebelum aku meninggalkannya untuk menemui Jihyun.
Orang tuaku begitu tidak menyangka, dan appa begitu murka hingga hampir memukulku jika saja eomma tidak mencegahnya. Eomma menyatakan kekecewaannya padaku, namun dengann segera mengambil alih Hyobin yang bersembunyi di belakangku dan segera memeluk dan membisikkan sesuatu pada gadis itu. Menatap tubuh Hyobin yang dipeluk eomma dengan bergetar membuatku menyadari bahwa hal ini juga bukanlah hal yang diinginkan gadis itu.
“Ada yang ingin aku bicarakan Jihyun-ah,” suaraku begitu lemah. Dan Jihyun segera menyadari hal itu menatapku dengan lekat.
“Wae?” tanyanya takut-takut. Dan aku memeluknya, begitu sangat erat dan kubisikkan kalimat yang menjadi akhir dari hubungan kami.
“Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini Jihyun-ah. Aku menghamili seorang gadis─dan aku harus menikahinya.”
Tubuh Jihyun seketika terdiam. Mataku tertutup sedih, aku tahu ini begitu berat dan sangat tidak dipercaya. Jemari mungil Jihyun perlahan naik dan balas memeluk diriku dengan erat. Suaranya terdengar bergetar,
“A-aku tahu oppa hanya bercanda. Tapi-tapi ini tidak lucu.”
“Maafkan aku Jihyun-ah.” Lirihku lagi.
Dan kemeja depan depanku perlahan terasa basah. Jihyun menangis membenamkan wajahnya di dadaku, tidak ada tangisan yang terisak-isak. Jung Jihyun hanya diam dan meneteskan air matanya. Membuatku ingin sekali membunuh diriku sendiri, menyakiti gadis yang begitu aku cintai.
“Maaf,” lirihku lagi, terus menerus memeluknya dengan erat.
Semuanya tidak menjadi mudah sejak pengakuanku. Kehidupanku seolah terbagi menjadi dua. Di satu sisi aku begitu khawatir dengan keadaan Lee Hyobin yang mengalami morning sicknessnya, dan juga keadaan Jihyun yang begitu depresi. Dan aku melupakan bahwa aku juga harus mengatakan pengakuan ini kepada kedua orang tua Hyobin juga.
Dan aku harus rela membuat wajahku babak belur atas apa yang dilakukan laki-laki bernama Lee Hyukjae, yang menjadi oppa Lee Hyobin. Namja itu memukulku dengan tidak tanggung-tanggung, namun hal yang membuatku merasa bahwa pukulan itu tidaklah lebih parah atas keputusan yang keluar dari mulut ayah Hyobin.
Gadis itu telah diusir oleh sang ayah.
Kenyataan yang sama sekali tidak aku sangka-sangka. Bagaimana bisa seorang ayah tega membuang anaknya? Aku bertanggung jawab! Dan aku akan menikahinya, namun, membuang gadis seperti Lee Hyobin?
Apa sebenarnya yang telah kulakukan? Bagaimana aku melakukan hal ini pada gadis seperti Lee Hyobin? Umurnya bahkan masih tujuh belas tahun!
Dan Lee Hyobin, gadis itu seketika menjadi begitu diam. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari matanya saat perjalanan pulang kami. Dan di hari-hari menjelang pernikahan kami, tidak ada lagi sosok Lee Hyobin yang dulu menjadi penghipnotis diriku.
Segalanya telah hilang dari dirinya, tidak ada lagi suara tawa merdunya yang bagaikan lonceng bergemerincing, tidak ada lagi senyumannya yang begitu indah. Yang tersisa hanya kekosongan, Lee Hyobin seolah kehilangan segala apa yang ada dalam dirinya. Dan semua memanglah terjadi.
Karena diriku.
Kupikir segalanya akan mulai berjalan dengan lurus saat pernikahan kami telah terjadi, namun kabar yang kuterima tepat setelah pemberkatan ku dan Hyobin selesai seketika membuatku gelap mata dan berlari meninggalkan Lee Hyobin begitu saja.
Jung Jihyun masuk rumah sakit karena ingin mengakhiri hidupnya.
“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau melakukan hal ini?” bisikku mennggenggam jemarinya yang lemah. Matanya menatapku kosong, dan air mata mengalir melewati pipinya yang pucat.
“Oppa datang?” isaknya. Aku mengangguk, mengecup keningnya dengan sayang.
“Jangan lakukan ini Jihyun-ah. Jangan menyakiti dirimu hanya demi diriku.” Ucapku dan gadis itu menggeleng.
“Aku mencintaimu oppa,” isaknya.
“Aku tahu, aku tahu Jihyun-ah. Oppa juga mencintaimu.” Kuhapus air matanya dan mengecup bibirnya yang pucat. Orang tuanya mengatakan Jihyun bahkan tidak memakan apapun beberapa hari menjelang pernikahanku, dan hanya mengurung dirinya di kamar.
Dan hari itu, untuk beberapa saat aku kembali menjalani hubunganku dengan Jung Jihyun lagi. Tanpa memperdulikan bahwa statusku bukan Cho Kyuhyun yang masih lajang. Namun dengan status menjadi suami, dan juga calon ayah.
Ada perasaan aneh, sebuah ketidak sukaan saat aku mendapati Lee Hyobin pulang dengan seorang namja yang tidak aku ketahui. Dengan bebasnya namja itu mengusap kepala Lee Hyobin, dan sesuatu membakarku saat Lee Hyobin hanya terdiam memandang namja itu.
Apakah aku cemburu? Sebuah perasaan yang tidak seharusnya aku miliki bukan? Aku tidak mencintai Hyobin, aku hanya mencintai Jung Jihyun. Dan tidak seharusnya aku memarahi Lee Hyobin atas apa yang tidak aku pahami.
“Dia yang menolongku!” jawabnya begitu cepat dan hampir bergetar. Membuatku tersadar bahwa aku menyakiti Hyobin, menyakiti isteriku tanpa mendengar segala penjelasannya.
“Aku hampir tertabrak mobil,” lirihnya dan jantungku berdetak takut. Seketika mataku menatap perutnya yang masih rata. Tempat di mana bayi kami tumbuh.
Perasaan marah menyerbuku, namun bukan untuk Lee Hyobin. Untuk diriku yang begitu bodoh, yang sama sekali tidak bisa menjaga isteriku sendiri. Dan yang bisa kulakukan hanya selalu memeluknya, memintanya agar tidak menangis namun berkali-kali ia hanya dapat menangis, menangis dan menangis. Semua karena diriku.
***
To Be Continue♥

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: