Triangel Part 7

0
Triangel Part 7 ff nc kyuhyun
Author             : ZaZiepiet
Tittle                : TRIANGEL
Category         : Romance, Chapter, Yadong, NC 21, NC 17, Married Life, General, sad
Cast                 : Lee Hyobin
Cho Kyuhyun
Other Cast
“Apartemen ini tidak berubah. Tetap sama terakhir aku kemari.” Gumam Jihyun saat menatap sekeliling, membuatku terdiam. “Hanya, suasa disini terasa semakin berbeda.” Ucapnya, kali ini menatapku dan tersenyum, membuatku mau tak mau juga membalas senyumannya.
“Eonni…”
“Apa kau bahagia, Lee Hyobin?” tanya Jihyun menyelaku. Matanya menatapku dalam, seolah memastikan. “Apa kau bahagia menikah dengannya? Dengan Kyuhyun oppa?”

Aku ikut menatapnya bingung, “Apa maksudmu, eonni?”
Jihyun tersenyum hangat, kemudian berubah sedih. “Aku begitu ingin. Sangat ingin memakimu, meneriakimu, mencakarmu karena merebut Kyuhyun oppa.” Ucapnya, “Tapi, apa yang bisa aku lakukan sekarang? Saat aku sadar bahwa bukan kau lah yang bersalah disini.” Air matanya menetes.
“Aku mencintainya, eonni.” Gumamku, agak terkejut dengan apa yang diucapkannya barusan. “Aku mencintainya, dan aku bahagia karena itu.”
“Apa kau akan tetap bahagia saat Kyuhyun tidak mencintaimu?”
Air mataku merebak. Tidak mencintaiku, ya? Kutatap Jihyun, “Ya, aku bahagia.”
“Apa yang terjadi padaku sekarang, apapun yang menimpaku sekarang. Adalah dampak dari cintaku yang bodoh, namun aku tetap bersyukur eonni. Aku mencoba bahagia,” lanjutku, dan sukses. Air mataku menetes. Jemariku memeluk perutku. Aegi-ah…
Jihyun menatap perutku, dengan menghapus air matanya dirinya bergumam “Selamat atas kehamilanmu,”
“Eonni…” lirihku, “Maafkan aku. Jeongmal mianhae.” Sesalku.
“Tidak. Aku yang salah.” Ucapnya serak, seberapa kali dirinya menghapus air mata, namun genangan itu terus muncul dan mengalir di wajahnya, “Aku yang membuat Kyuhyun oppa seperti itu. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Kupikir, hanya masalah meluangkan waktu yang harus kuatur. Tapi, Kyuhyun oppa melakukan sesuatu yang diluar dari pemikiranku.” Tangisnya.
Kenapa Kyuhyun oppa menyakiti gadis sebaik Jihyun eonni, Tuhan?
“Aku hanya terlalu sibuk dengan kuliahku, hingga tanpa sadar aku sama sekali jarang peduli pada Kyuhyun oppa.” Tangisnya, “Dan malam itu, Kyuhyun oppa memintaku. Mengajakku untuk bercinta. Kupikir hanya gurauan semata, karena menjelang pertunangan kami.”
Jantungku berdegup kencang. Bercinta dengan Jung Jihyun? Membayangkannya membuat rasa ngilu kembali menghampiri rongga dadaku.
“Namun keesokan harinya, Kyuhyun menemuiku dan tanpa kuduga ia membatalkan pertunangan kami. Aku bertanya, apa yang terjadi? Namun ia hanya mengatakan maaf.”
Aku dapat membayangkan, betapa sakitnya gadis ini. Sial, kenapa aku begitu jahat, Tuhan? Membuat gadis sebaik Jung Jihyun menderita seperti ini.
“Eonni,” panggilku. “Apa… apa eonni menginginkan Kyuhyun oppa kembali?” suaraku tercekat dengan pertanyaanku. Jihyun menunduk, air matanya menetes perlahan.
“Y-ya,” bisiknya terisak. “Aku menginginkan Kyuhyun oppa, kembali.”
Tepat sasaran. Jantungku berdenyut nyeri. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Merelakan Kyuhyun?
***
“Apa yang kau pikirkan?” suara itu mengejutkanku yang tengah menatap layar datar televisi.
“Oppa?” kejutku, menatap jam kecil yang berada di samping sofa. “Kenapa sudah pulang?”
Dahi Kyuhyun berkerut, “Apa kau tidak ingin aku pulang?” tanyanya tajam.
“A-anniyo!” sahutku cepat. Ada apa dengannya?
Tanpa menghiraukanku, Kyuhyun berjalan menuju kamar kami. Membuatku bangun dari dudukku dan mengejarnya.
“Apa kau kedatangan tamu, pagi ini?” tanyanya dingin. Aku membeku. Apa Jung Jihyun memberitahunya?
“N-neh…” lirihku. Kyuhyun berbalik dan berjalan cepat kearahku, tiba-tiba mencengkram bahuku.
“Kenapa kau membiarkannya masuk?! Kenapa kau berbicara padanya?! Katakan!” bentaknya. Aku terkesiap dan meringis saat tubuhku terguncang-guncang.
“Oppa, lepas…” lirihku. Kyuhyun berhenti, namun kali ini tangannya menangkup wajahku, membuatku mendongak dan menatap langsung matanya. Mata yang tiba-tiba penuh amarah.
“Apa menjadi isteriku telah membuatmu merasa hebat? Membuatmu berkuasa?”
“Oppa, apa maksudmu?” tanyaku takut. “Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau katakan,”
“Kau memang bodoh!” umpatnya, matanya seakan membunuhku. “Dengan membiarkan Jung Jihyun kemari dan memohon padamu?! Apa kau merasa hebat melakukan hal itu Lee Hyobin?!” bentaknya. Dan sukses, air mataku menetes.
“A-aku… aku tidak…” isakku.
“Tidak apa?!” suaranya menggelegar, tangannya dilepas dari wajahku. “Sial!” umpatnya mengusap kepalanya kasar.
“Sial! Jung Jihyun!”
Dan langkahnya berbalik meninggalkan aku yang tergugu dengan tangisanku.
“Oppa…” panggilku, namun Kyuhyun tanpa memperdulikan panggilanku tetap berjalan, dan membanting pintu depan dengan keras.
Aku menangis, mengusap pipiku yang sakit oleh cengkramannya. Apa lagi, Tuhan? Apa yang membuat Kyuhyun seperti ini?
Jung Jihyun? Apa yang di katakan Jung Jihyun pada Kyuhyun oppa?
Tatapan mengerikan yang pertama kali kulihat dari sosok Kyuhyun. Tangisanku semakin keras saat memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini? Apa Cho Kyuhyun akan membuangku? Menceraikanku? Membuatku mempertahankan bayi ini sendiri?
Aku terbangun dengan mata berat. Setelah menangis begitu lama, akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk tidur. Dan disini, aku terbangun saat matahari telah tenggelam. Mataku menatap sekeliling. Sangat sepi.
Cho Kyuhyun belum pulang.
Keningku mengernyit saat mendadak rasa mual kembali melandaku. Bangkit dengan tergesa-gesa, aku berlari menuju kamar mandi. Dan memuntahkan air liurku.
“Sshh…” desisku saat rasa sakit menyerang rongga dadaku saat muntah, aku benci hal ini. Muntah sialanku.
Kepalaku terasa sangat berat saat aku kembali ke atas ranjang. Perutku terasa lapar, dan aku telah tertidur hampir setengah hari tanpa memakan apapun, kecuali susu hamil yang kuminum tadi pagi-lagi aku mengulanginya. Dan sekarang perutku meronta-ronta ingin diisi, namun mempunyai tenaga untuk bangkit-pun aku tak bisa.
Tanganku meraba meja samping ranjang untuk mengambil ponselku. Haruskah aku menelfon Kyuhyun? Menyuruhnya pulang, dan memintanya membelikanku Jjajangmyun?
Dengan keraguan, aku memencet nomor Kyuhyun. Pada nada sambung ketiga, suara Kyuhyun terdengar.
“Yeobseoyo?”
“Oppa?”
Ada suara helaan nafas, “Wae?” suaranya terdengar dingin, membuat hatiku mencelos. Kugigit bibir bawahku.
“Apa…apa oppa akan pulang?”
“Kau ingin aku tidak pulang?”
Sial, pertanyaan bodoh!
“Bu-bukan itu maksudku.” Selaku cepat. Lee Hyobin bodoh.
“Apa yang kau inginkan?”
Aku terdiam sesaat, memikirkan apakah aku harus benar-benar meminta Kyuhyun?
“Siapa, oppa?”
DEG!
Ada suara wanita, bersama dengan Kyuhyun oppa. Siapa? Apakah Jung Jihyun? Apa Kyuhyun bersama gadis itu seharian?
Perasaan kalut menyerbuku, apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka-bercinta?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul bagaikan pedang yang menyayat. Air mataku menetes, “A-aku…” suaraku tersendat. “Aku ingin oppa pulang.”
Hening sesaat, “Baiklah.” Putus suara Kyuhyun. Dan sambungan mati begitu saja.
Aku kembali menangis. Lee Hyobin bodoh! Ada apa denganmu dan air mata?! Marahku sendiri. Aku begitu cengeng. Dan aku membenci itu!
Selama aku hidup, aku bukan seorang yang gampang sekali untuk menangis. Bahkan saat cinta pertamaku tak berbalas aku tidaklah menangis.
Tunggu.
Cinta pertama?
Siapa?
“Ahh…” ringisku saat ngilu begitu datang di kepalaku. Aku begitu memaksakan diri hari ini. Tidak, aku harus tenang. Kusentuh lembut perutku. “Aegi-ah… apapun yang terjadi, kau harus melihat dunia ini, mengerti?” bisikku.
***
Kyuhyun datang dengan tampang lusuh, dan menemukanku yang tengah tidur menahan sakit diperutku. Tatapannya menyiratkan keterkejutan, namun kemudian berubah marah.
“Berapa kali kuingatkan padamu Lee Hyobin?!” bentaknya. Aku memejamkan mataku. “Apa makananmu hari ini?! Apa kau ingin bunuh diri?!”
“Maaf,” lirihku.
“Jika kau ingin bunuh diri, bunuh saja dirimu! Jangan membawa serta anakku!!” bentaknya kasar. Aku menatapnya tak percaya.
“Oppa…” suaraku tersendat.
“Apa?!” marahnya. “Jangan tunjukkan air matamu dihadapanku!!” serunya saat aku kembali menangis. Sial! Jangan turun air mata bodoh!
Tapi air mataku tetap mengalir. Hatiku terlalu sakit. Kalimat Kyuhyun, apa benar ia menginginkan aku pergi? Pergi selamanya dari hidupnya?
“Maafkan aku,” kali ini suara Kyuhyun melembut, tubuhnya mendekat dan memelukku. Tatapannya mencoba melembut, dan saat itu aku tahu. Kyuhyun sedang kebingunan. Ada apa Kyuhyun-ah?
“Maafkan kalimatku, Hyo-ah.” Bisiknya. Mengusap kepalaku, aku masih terisak-isak dalam pelukannya. Banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan. Namun, bagaimana jika Kyuhyun kembali marah?
“Jangan menangis, Hyo-ah.” Pintanya, memohon. Perlahan, aku menghentikan tangisku, meskipun masih sesenggukkan. “Jangan hiraukan kalimatku tadi. Maafkan aku, sungguh.”
Aku mengangguk pelan, masih dalam pelukan Kyuhyun. Cho Kyuhyun… ada apa dengan dirimu sebenarnya? Kau seolah manusia berhati malaikat yang sangat menyayangiku, namun ada kalanya kau berubah menjadi manusia iblis yang menyiksaku secara keseluruhan. Haruskah aku takut padamu?
“Kau lapar bukan? Akan kupesankan makanan.” Putusnya, melepas pelukannya. Menghapus air mataku yang tersisa, dan kemudian mengecup keningku.
“Jjajangmyun,” gumamku. Kyuhyun menghela nafasnya kasar.
“Tidak untuk kali ini.” Ucapnya. Tanpa bisa di bantah. Kyuhyun bangkit dan berjalan keluar kamar. Untuk sesaat aku mendesah kecewa, aku tidak akan mendapatkan Jjajangmyunku hari ini.
Kyuhyun kembali dengan segelas susu di tangannya, yang kuyakini susu untuk ibu hamilku. “Minumlah ini dulu, pesananku akan segera datang beberapa menit lagi.” Dibantunya aku meminum susu itu dengan pelan. Dengan mengernyit aku tetap menelan tegukan susu rasa vanilla itu.
“Hukm..” aku mengehentikan minumku saat mual menuju permukaan. Aroma dan rasanya benar-benar menjijikan. Kyuhyun dengan telaten meminumkannya lagi saat mualku menenang, dan satu gelas telah habis dalam tiga puluh menit. Sebuah rekor, bukan.
Suara bel menginstrupsi kami, “Pesanannya datang, akan kuambil. Kau tunggu disini sebentar.”  Lagi-lagi aku hanya mengangguk menuruti apa yang dilakukan Kyuhyun.
Kyuhyun datang dengan nampan yang ada di tangannya. Dengan teratur Kyuhyun menata sebuah meja kecil di atas kasurku dan menata makanan yang di bawanya. Aku tersenyum, seakan-akan aku adalah puteri.
“Jangan tersenyum aneh. Sekarang makan.” Titahnya. Aroma Samgyetang menyeruak dalam hidungku dan membuatku merasa begitu lapar. Kulirik Kyuhyun yang menyodorkan sesendok kuah Samgyetang, “Makan!” perintahnya.
Aku menurut dan membuka mulutku. Aroma gingseng begitu nikmat masuk dalam tenggorokanku, astaga sangat enak. Kyuhyun tersenyum mendapatiku yang makan dengan nikmat. “Tidak mual?” tanyanya. Aku menggeleng perlahan, membuka mulutku lagi untuk disuapi Kyuhyun. “Baguslah,” desahnya lega.
Aku tahu Kyuhyun frustasi harus memberiku makanan apa kecuali Jjajangmyun yang kurang baik untuk ibu hamil sepertiku. Dan aku juga bersyukur telah menemukan makanan yang tepat.
Satu porsi Samgyetang sukses aku lahap dengan dibantu Kyuhyun yang menyuapinya. Kyuhyun memberesi makananku dan kembali lagi untuk tidur disebelahku.
“Oppa?”
“Heum?” sahutnya sambil menata selimut untukku. Benar-benar merasa seperti princess.
“Gomawo,” lirihku. Kyuhyun menatapku sebentar.
“Ya,” jawabnya seadanya. Kyuhyun naik ke atas ranjang dan memelukku. Mengusap-usap rambutku.
“Tidurlah Hyo,” pintanya. Namun aku menggeleng.
“Aku tidak ingin tidur.” Tanganku merambat naik menyentuh pipi Kyuhyun. “Oppa? Apa kau… masih mencintai Jung Jihyun?” tanyaku membuat Kyuhyun seketika terdiam.
“Jangan bahas hal itu, Lee Hyobin.” Ucapnya dingin.
“Jihyun eonni bertanya padaku, ‘apakah aku bahagia dengan pernikahan ini?’” aku menarik nafas, “Apakah… oppa bahagia dengan pernikahan ini?” tanyaku perlahan.
“Aku…” jawabnya menggantung. “Aku mengantuk. Dan cepatlah tidur karena aku sudah terlalu lelah hari ini.” Putusnya dan membalik memunggungiku yang masih terpaku menatapnya. Mendesah kecil, aku berbalik ikut memunggunginya.
“Aku menyayangimu,” bisikan itu terdengar ditelingaku, sebelum pelukan Kyuhyun kembali membungkusku. Aku tersenyum, menikmati hangat tubuhnya, dan kemudian aku terlelap.
Mencoba melupakan masalah yang terjadi hari ini, dan berharap esok akan menjadi hari yang indah bagi hubungan kami.
***
Hari ini aku berangkat ke Universitas ditemani oleh Haneul. Sedikit ragu apakah berani kembali ke sana, putus asa dengan segala hal negatif difikiranku, Kim Haneul akhirnya menarikku dan menggandengku untuk memasuki kampus.
“Kita ke ruang Tata Usaha dulu.” Haneul mengusulkan tempat yang harus didatangi dulu. Benar juga, aku hampir sebulan tidak pernah masuk.
Aku kuliah mengampil fakultas  Hotel and Tourism Management. Agak aneh bukan? Namun kecintaanku dengan dunia yang berhubungan dengan Hotel dan para Tourism membuatku nekat mengambil jurusan itu. Namun sekarang, apakah aku masih bisa meneruskan kuliahku di fakultas itu? Apakah aku akan terjamin dapat bekerja di hotel-hotel internasional dengan kondisiku yang seperti ini?
“Haneul-ah?” pangilku saat Haneul masih mengurusi administrasiku. Gadis itu menoleh padaku,
“Apakah aku berhenti saja dari kuliah?” tanyaku.
“Mwoya?” kejut Haneul. “Tapi, kenapa?” tanyanya, menghampiriku.
Aku tidak tahu alasan yang ingin kuutarakan pada Haneul. Akhirnya aku hanya menggeleng, “Kupikir, aku ingin fokus pada kehamilanku Haneul-ah.” Bingo! Alasan yang pintar Lee Hyobin.
Haneul mengangguk mengerti. “Jika keputusanmu seperti itu, aku hanya bisa menurutimu.” Senyumnya. Membuatku mengangguk dan ikut tersenyum.
Kami berjalan menyusuri lorong Universitas. Setelah pengurusan administrasi yang sedikit membuat Ny. Go sang kepala TU itu mendecak kesal, akhirnya aku sukses keluar dari universitas ini.
Sedikit kecewa. Aku bahkan rela merantau hanya demi kuliah di tempat ini dengan mengambil fakultas itu. Hidup sendirian di kota Soul yang begitu besar, jauh dari keluarga, jauh dari Eunhyuk oppa. Bekerja ekstra untuk hidup sehari-hari, dan hanya berakhir seperti  ini. Mungkin seharusnya dulu, aku mengikuti keinginan orang tuaku. Ikut meneruskan bisnis Anggur yang di bangun Appa ku.
Appa…
Eomma…
Eunhyuk oppa…
Aku begitu merindukan mereka. Tatapan kecewa Appa begitu menyayat. Aku tahu, di balik kerasnya sikap Appa, beliau begitu mencintaiku, bahkan sangat-sangat mencintaiku. Namun, apa yang telah aku lakukan? Membuatnya malu dengan hamil di luar nikah seperti ini.
“Hyo-ah, kita ke Cafetaria saja.” Ajak Haneul membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk menurutinya.
Sepanjang perjalanan, banyak yang menatap kami heran. Dan sesekali ada yang berbisik dilanjutkan dengan anggukan persetujuan, yang tidak kumengerti.
“Lee Hyobin!” seruan panggilan itu membuatku menoleh. Ada Sujin eonni yang tengah berlari menghampiriku. Ah, aku begitu merindukan dirinya.
“Eonni.” Seruku, segera memeluknya. Gadis ini, bagaikan kakak perempuan yang benar-benar aku inginkan. Kami berkenalan saat Orientasi siswa baru, dan semakin akrab saat dirinya tau bahwa aku sendirian di kota ini. Dulu, aku beranggapan bisa menjodohkannya dengan Eunhyuk oppa, tapi kenyataan Sujin eonni telah memiliki kekasih bernama Choi Siwon. Dan mereka telah menjalin hubungan hampir dua tahun belakangan, sangat disayangkan.
“Akhirnya kau kembali kuliah.” Ucapnya, lalu melepas pelukan kami. Aku tersenyum, bagaimana menjelaskannya?
“Eum, sebenarnya…” pandanganku teralihkan pada seseorang yang ada di belakang Sujin Eonni. Jung Jihyun.
Inilah yang membuatku merasa seperti gadis jahat. Sujin eonni adalah sepupu dari Jung Jihyun. Dan mereka begitu dekat hingga aku sedikit tahu bagaimana watak Jung Jihyun, yang seringkali di ceritakan Sujin Eonni.
Bahwa gadis itu, adalah gadis pendiam yang penuh pesona. Begitu anggun dan benar-benar cocok dengan Cho Kyuhyun. Tidak sepertiku, gadis kuper yang hanya hobi membaca buku di pojok perpustakaan. Sangat berbeda jauh dari sosok Jung Jihyun.
Sujin eonni seakan sadar aku tiba-tiba terdiam, dan menoleh mendapati Jung Jihyun dibelakangnya. Sangat awkward dan aku tiba-tiba ingin sekali menghilang, menghindari tatapannya.
“Kau pergilah dulu, Jihyun-ah. Aku akan menyusulmu segera.” Pinta Sujin eonni pelan. Gadis itu menatapku diam, kemudian mengangguk dan melangkah pergi.
“Sok polos!” desis Haneul yang berada di belakangku.
“Ssst, Haneul-ah!” tegurku.
“Jadi, kapan kau akan kembali menjalani rutinitas kuliahmu?” Sujin eonni kembali membuka pertanyaan.
Aku mendesah, “Sebenarnya, eonni.. aku keluar dari universitas.” Ungkapku pelan.
“Apa?! Wae?” suaranya terkejut.
“Aku ingin fokus menjaga kandunganku eonni. Dan aku tidak cukup berani untuk kuliah disini lagi.” Jujurku memejamkan mata. Kupikir semua telah mengetahui masalah yang terjadi padaku. Aku dapat menyimpulkan bahwa gadis yang berbisik tadi telah mengetahui bahwa aku telah menikah dengan Cho Kyuhyun. Dengan anggapan aku telah merebutnya dari Jung Jihyun. Well, bukankah memang seperti itu?
“Tapi, untuk apa sampai keluar? Kau bisa cuti, dan untuk apa kau takut pada mereka. Mereka hanya bergosip, tanpa tau kejadian yang sesungguhnya.”
“Eonni, sudahlah. Jangan seolah membuat Kyuhyun oppa yang bersalah,”
“Memang namja brengsek itulah yang bersalah, Lee Hyobin.” Potong Sujin eonni. Aku menggeleng.
“Tapi…”
“Kau seolah menyalahkan dirimu atas segala kejadian yang terjadi. Kau menyalahkan dirimu yang hamil anak Kyuhyun, kau menyalahkan dirimu yang dinikahi Kyuhyun, menyalahkan dirimu sendiri mendapati Cho Kyuhyun dn Jung Jihyun berpisah. Kau selalu menyalahkan dirimu, tidak tahukah kau?” Sujin eonni mendesah frustasi.
“Maaf, eonni.” Lirihku.
“Dan kau begitu bodoh telah jatuh cinta pada namja seberengsek Cho Kyuhyun!”
Aku menunduk. Meresapi tiap kata yang diucapkan Sujin eonni. Apakah aku begitu? Namun, bukankah itu memang kenyataan yang ada? Akulah penyebab kekacauan ini. Seandainya, malam itu aku tidak membiarkan Cho Kyuhyun menginap di apartemenku, dan melakukan hubungan terlarang. Segala kekacauan ini tidak akan terjadi.
Pelukan kembali kurasakan saat Sujin eonni kembali merangkul tubuhku, “Maafkan aku karena berseru padamu.” Gumamnya. “Aku menghargai keputusanmu. Tapi, cobalah menjadi kuat. Ingat, ini semua bukan salahmu. Kau harus bahagia dengan semua ini.” Ucapnya melembut. Aku hanya bisa mengangguk, dan setetes air mata turun dari mataku. Sial! Air mata lagi!
“Jangan menangis. Sudah cukup kau menangis karena namja itu.” Dihapusnya air mataku oleh Sujin eonni. “Aku harus menyusul Jihyun. Hubungi aku jika ada sesuatu.” Pamitnya.
“Ne,” sahutku. Sujin eonni berbalik, dan melambai padaku dan Haneul sebelum tubuhnya menghilang di tikungan lorong.
Aku menghembuskan nafas. “Kita pulang saja, Haneul-ah.” Lirihku.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Haneul.
Aku menggeleng, “Aku ingin pulang.” Ucapku lagi, kali ini lebih jelas.
“Baiklah, kita pulang.” Putus Haneul menurutiku.
Entah kenapa, aku ingin segera pulang dan mengurung diriku dalam kamar. Kalimat Sujin eonni benar-benar menggangguku. Benarkah semua yang dikatakannya? Tapi bagaimana jika hal itu hanya ungkapan semangat Sujin eonni padaku, agar aku tidak terlalu pusing dengan keadaan ini.
Tapi…
Kenapa seolah kenyataan yang terjadi bertolak belakang dengan yang dikatakan Sujin eonni. Dalam kenyataan, akulah yang menjadi sumber kekacuan yang terjadi. Aku dan bayi yang ada di kandunganku.
“Aegi-ah, apa yang harus eomma lakukan dengan keadaan seperti ini?” bisikku mengusap perutku.
***
To Be Continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: