Triangel Part 6

0
Triangel Part 6 ff nc kyuhyun super junior
Author             : ZaZiepiet
Tittle                : TRIANGEL
Category         : Romance, Chapter, Yadong, NC 21, NC 17, Married Life, General, sad
Cast                 : Lee Hyobin
Cho Kyuhyun
Other Cast
Happy Reading
Deringan telfon menyadarkanku dari tangisan. Yesung oppa menelfon dan memintaku datang di cafenya. Namun aku menolak, aku masih tidak ingin bertemu dengan semua orang. Yesung oppa, Kim Haneul, dan karyawan lainnya. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka, dan mengetahui pernikahanku.

“Cepat datang kemari atau akan marah Lee Hyobin! Kumohon, aku ingin bertemu denganmu…”
Aku hanya sesenggukan, mataku menoleh dan tidak lagi mendapati Cho Kyuhyun dan kekasihnya. Mungkinkah mereka mengetahui keberadaanku? Dan pergi dengan berfikir aku tidak tahu?
“Oppa, seandainya kau lebih memahamiku.” Tangisku,
“Bagaimana bisa? Bahkan kau menyembunyikan semua hal dariku. Bukankah kita bersaudara? Kau adikku dan Eunhyuk. Kita tumbuh bersama! Sekarang temui aku di Cafe, dan ceritakan semua padaku.”
Dan sambungan mati begitu saja. Menghapus air mataku, aku berdiri dan menuruti Yesung oppa. Jarak rumah sakit dan Cafe memang sedikit jauh, namun aku memilih jalan kaki, dibandingkan naik kendaraan umum atau taksi. Aku dapat mempersiapkan diriku agar saat bertemu orang-orang di cafe.
Membuka ponselku, dan mengirimi pesan Kim Haneul.
To : Haneul
From : Me
Apa kau shift sore?
Sent…
Beberapa menit ponselku bergetar.
To : Me
From : Haneul
Ya. Apa kau akan kemari? Yesung sajangnim telah kembali dari Jepang. Bagaimana kabarmu? Aku begitu merindukanmu Hyo-ah.
Aku tersenyum, dan kemudian mengetik.
To : Haneul
From : Me
Aku tahu, dan aku dalam perjalanan ke sana. Aku juga merindukanmu.
Sent…
Dua puluh menit aku berjalan kaki, dan aku hampir sampai di Hand & Gretel. Aku melirik jam ku, masih pukul tujuh malam, dan suasana masih terlihat ramai. Aku membuka pintu Cafe dan di sambut oleh temanku Choi Yeeun.
“Aigo! Lee Hyobin. Kau kemari? Bagaimana keadaanmu?”
Aku tersenyum dan mengingat, terakhir aku bekerja di sini saat aku pingsan dan berakhir di rumah sakit. Dan aku tidak pernah muncul lagi.
“Aku baik-baik saja Yeeun-ah. Aku di panggil Yesung oppa kesini. Kau tau dia ada di mana?”
“Kim Sajangnim ada di ruangannya. Apa kau akan di marahi?” tanyanya ingin tau.
“Molla,” sahutku, “Baiklah, gomawo, aku akan menemuinya dulu.” Pamitku dan berjalan menuju lantai atas. Kantor Yesung oppa.
Cafe ini adalah awal pertemuanku dengan Kyuhyun, aku yang baru datang dari Cheonan  dan baru masuk kuliah di Kyunghee harus mencari pekerjaan. Beruntungnya aku, bahwa Yesung oppa, tetanggaku sekaligus teman baik Eunhyuk oppa telah membuka Cafe di Soul. Dan dengan bantuannya aku bisa magang di tempat ini lalu bertemu dengan Cho Kyuhyun.
Aku beranggapan bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Namun, saat mataku menatap dirinya, aku dapat langsung menyimpulkan bahwa aku mencintainya. Mencintai Cho Kyuhyun.
Kuketuk pintu kantor Yesung oppa, dan membukanya perlahan. Namja itu tengah duduk dengan kepala menunduk.
“Hyo-ah?” kepalanya mendongak dan mendapati diriku. Tubuhnya berdiri dan berjalan cepat memelukku. Aku menyambut pelukan hangatnya dan dengan sendirinya aku menangis.
“Cho Kyuhyun brengsek!” makinya saat aku menceritakan saat Kyuhyun menginap di apartemen ku. “Seharusnya kau menolaknya! Kau hanya dibutakan cinta Lee Hyobin! Tuhan!” geramnya frustasi.
“Aku begitu bingung saat Eunhyuk menelfonku yang masih ada di Jepang. Ia marah-marah mengatakan aku tidak bisa menjagamu! Aku tidak menyangka bahwa hubungan kalian bisa segila ini!” Yesung oppa menatapku frustasi. Dan aku hanya diam mendengar semua luapannya.
“Lalu, bagaimana Jung Jihyun?” tanyanya, membuatku mendongak.
“Molla…” lirihku, “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tentang hubungan ini, oppa.” Bayangan Kyuhyun dan Jihyun mengitari kepalaku. “Aku merasa bersalah. Sungguh, aku tidak bermaksud merebut Kyuhyun darinya.” Aku menangis. “Namun, bagaimana bayiku? Kyuhyun sendiri mengatakan aku tidak boleh menggugurkannya, dan dia benar-benar menikahiku.”
“Aku juga akan melarang keras dirimu yang ingin menggugurkan bayimu!” sahutnya marah.
“Aku takut oppa. Aku takut.” Tangisku, “Aku tidak memiliki siapapun lagi. Hanya Kyuhyun harapanku satu-satunya. Namun, keberadaanku telah membuat begitu banyak masalah oppa. Aku telah memisahkan Cho Kyuhyun dan Jung Jihyun!”
“Dan aku takut memandang semua orang. Aku takut pada oppa yang akan menjauh dariku, dan aku benar-benar berdiri sendiri.” Aku menumpahkan semua ketakutanku. Yesung oppa memelukku, aku tahu namja ini begitu menyayangiku. Ia adalah oppa kedua bagiku. Oppa yang sangat aku sayangi.
“Untuk apa Hyo-ah? Untuk apa aku membencimu? Kau adikku, puteri keluarga Lee…”
“Appa telah mengusirku,” isakku.
“Apa?”
Aku mendongak dalam pelukannya, “Appa, telah merestuiku dan Kyuhyun. Tapi, aku bukan lagi bagian dari keluarga Lee. Appa telah mengusirku, oppa.”
“Tuhan!” desah Yesung oppa. Kembali memelukku. “Ada aku. Aku akan selalu berada di sisimu! Kau akan tetap menjadi adikku!”
Aku mengangguk dan menangis dalam pelukannya. Entah berapa lama aku menangis, hingga aku benar-benar lelah. Dan suara ketukan di pintu membuatku berhenti menangis.
“Sajangnim?” itu suara Haneul.
Yesung oppa menatapku, bertanya bolehkah gadis itu masuk. Aku mengangguk, menghapus air mataku, “Masuklah,”
Pintu terbuka dan Kim Haneul muncul dan langsung berlari memelukku. “Hyo-ah!” pekiknya.
Kami melepas rindu, padahal baru kemarin dia menghadiri pernikahanku yang tertutup itu. Dan Haneul menceritakan bagaimana orang-orang yang bingung saat terakhir aku jatuh pingsan di Cafe, dan Kyuhyun yang membawaku ke rumah sakit dengan panik. Mereka bertanya-tanya tentang hubunganku dan Kyuhyun.
“Cho Kyuhyun juga tidak pernah lagi datang setelah kejadian itu.” Ucapnya lagi. Untuk itu aku tahu, Kyuhyun oppa mengambil alih perusahaan Aboenim sebagai hukumannya telah mempermalukan keluarga Cho.
Aku melirik jam tanganku dan mendapati telah pukul sembilan malam. “Aku harus pulang,” pamitku dengan berat hati, membuat Haneul mendesah kecewa.
“Akan aku antar.” Yesung oppa bangkit, dan mengambil jaket untuk dikenakannya.
“Haneul-ah, maukah kau berkunjung ke apartemenku? Aku selalu kesepian.” Pintaku. Haneul agak terkejut, namun kemudian mengangguk.
“Aku akan kesana saat setelah pulang kerja. Dan, oh! Apa kau tidak ingin melanjutkan kuliahmu?” tanyanya, membuatku tersadar. Bahwa aku masih berkuliah.
Mungkin aku akan meneruskannya, semoga aku belum di anggap keluar dari Universitas. “Besok aku akan kesana. Mau menemaniku?” lagi-lagi Haneul mengangguk. Aku berpamitan dan melangkah keluar bersama Yesung oppa. Para karyawan menatapku dengan diam. Ada yang tersenyum padaku dan ada karyawan perempuan yang langsung bisik-bisik pada temannya. Aku menghela nafas, setelah ini apa yang akan terjadi pada diriku?
“Turunkan aku di halte bus itu saja, oppa.” Tunjukku pada halte yang mulai sepi.
“Waeyo? Aku akan mengantarmu sampai depan apartemenmu.” Keukeuhnya. Aku menghela nafas, aku takut Kyuhyun akan marah lagi jika aku pulang bersama Yesung oppa. Dan Yesung oppa sendiri, aku takut ia akan menghajar Kyuhyun saat mereka bertemu nanti.
“Gwenchana, aku akan jalan kaki saja.” Pintaku. Mobil Yesung oppa berhenti. Namun saat aku hendak membuka pintu, tanganku dicegah olehnya. “Jalanan terlalu sepi Hyo. Aku akan mengantarmu hingga depan apartemen.” Dan mobil kembali melaju tanpa mengindahkan kalimatku selanjutnya.
Kami terdiam beberapa saat setelah mobil Yesung berhenti. “Aku ingin bertemu Kyuhyun.” suara Yesung oppa terdengar. Aku menoleh,
“Andwae!” jawabku cepat, “Aku akan masuk, dan oppa pulanglah.” Aku membuka pintu mobil. Sial, bayanganku saat wajah tampan Kyuhyun dihajar habis oleh Eunhyuk oppa kembali terbayang. Tidak, jangan membuat seolah Kyuhyunlah yang sangat bersalah disini.
Yesung oppa menghela nafasnya, “Berjanjilah padaku Hyo,” ditatapnya diriku, “Bahwa kau akan bahagia. Seberat apapun yang akan terjadi nanti, ingatlah, bahwa oppa akan selalu ada untukmu. Dan, ingat juga untuk berbahagia demi bayimu.”
Aku terhenyak. Berjanji untuk bahagia? Bisakah? “Aku akan berusaha, oppa.” Lirihku akhirnya. Yesung oppa memelukku lagi sebelum aku sukses turun dari mobilnya, dan ia menyalakan mobilnya untuk pulang.
Untuk beberapa saat aku menatap gedung apartemenku dan Kyuhyun dalam diam. Dua hari aku telah menjadi isterinya. Dan dua hari pula, aku sama sekali tidak berinteraksi dengannya. Berangkat pagi dan hanya bertemu beberapa menit sebelum rutinitas tidur di mulai. Apakah ini pernikahan yang akan kujalani seterusnya?
Dan bayangan Kyuhyun bersama Jihyun masih sangat jelas dalam kepalaku. Memberikan sengatan seolah tertusuk jarum yang begitu tajam. Sesaat aku berfikir, haruskah aku menjalani peranku? Menjadi gadis egois yang merebut tunangan orang? Ataukah aku harus menyerah? Meninggalkan Kyuhyun?
Kuusap lembut perutku. Teringat pada Dokter Lee yang menyatakan bahwa kehamilanku begitu rawan. Akankah aku bertahan jika aku meninggalkan Kyuhyun? Akankah bayiku akan bertahan hingga melihat dunia ini?
Tidak-tidak Lee Hyobin. Hentikan pemikiranmu yang buruk itu. Lebih baik sekarang kau segera masuk, dan tidur. Kemungkinan Kyuhyun telah menunggumu bukan?
“Pulang malam lagi, eoh?” suara cokelat meleleh itu membuatku membeku di depan pintu. Tubuhnya berdiri tegap dengan lampu ruangan yang dimatikan. Begitu dingin, dan menyeramkan. Cho Kyuhyun… bagaimana sifatmu yang sesungguhnya?
“Aku seharian bersama Ahra eonni, dan aku berkunjung ke Cafe.” Jawabku pelan.
Dengan datar Kyuhyun  berbalik dan berjalan masuk tanpa memperdulikanku. Lagi, kenapa Kyu-a?
Aku mandi, berganti pakaian dan menyusul Kyuhyun yang tengah asik bermain dengan gadgetnya di atas tempat tidur. Dengan gugup aku menatapnya, “Oppa,”
“Tidurlah.” Sahutnya.
Berjalan pelan dan berbaring disebelahnya, “Oppa marah?” tanyaku pelan.
“Ani.” Jawabannya membuatku terdiam. Aku mengamati wajahnya yang rupawan, begitu tampan dan aku tidak tau kalimat apa lagi yang bisa aku jabarkan padanya. Terlalu sempurna.
“Jangan memandangiku. Cepatlah tidur.” Ucapnya, membuat aku mengerjab. Dengan cepat aku membalikkan posisiku membelakanginya dan mulai memejamkan mata saat gerakan di belakangku membuatku menegang.
Tangan Kyuhyun melingkari perutku, dan nafasnya menderu di leherku, membuat bulu kudukku meremang. “Hyo-ah,” bisiknya ditelingaku.
“Kenapa baumu begitu wangi?” pertanyaan aneh. Ada apa dengan Kyuhyun?
“Oppa, a-apa yang kau lakukan?” tanyaku, hampir setengah berbisik. Seolah membuat suasana semakin sangat intim.
Pelukan Kyuhyun semakin mengerat, nafasnya menggeram. “Memeluk isteriku. Kau. Isteriku. Ny. Cho.” Ucapnya dengan suara yang menyerak. Tuhan, tubuhku mulai memanas.
Sensasi kecupan menyentakku. Kyuhyun mengecup leherku, menciumi dengan kecupan kecil-kecil yang merambat. Menuju telingaku dan pipiku.
“Hhh…” nafasku terdengar berat. Cho Kyuhyun…
Tangan kirinya menyusup dalam baju tidurku kemudian mengusap-usap perutku yang masih rata. Membuatku memekik, “Sshhh…” bisiknya begitu seksi ditelingaku.
“Disini, ada bayi kita.” Bisiknya, kental akan rasa takjub dan membuatku membalikkan badan kemudian menatapnya. Dan kudapati matanya berkabut, kabut gelap akan sebuah gairah.
Cho Kyuhyun menangkup kedua pipiku dan mendekatkan wajah kami, membuat nafasnya menerpa wajahku dengan hangat. Hingga benda lunak milik Kyuhyun melahap bibirku. Kyuhyun melumat bibirku dengan begitu lembut, mengetuk-ngetukkan lidahnya di atas bibirku menyuruhku membuka mulut. Aku menurutinya dan membuka sedikit bibirku, dan dengan segera lidah lunaknya menerobos dan menjelajah dalam mulutku.
Tanpa kusadari tubuh Kyuhyun telah berpindah ke atas tubuhku, masih dengan panggutan bibir kami yang menyatu. Aku mengerang saat ciuman Kyuhyun turun menciumi leherku, menjilat-jilat dengan lidah panasnya.
“Ahk…” pekikku saat tangan Kyuhyun meremas payudaraku. Matanya kembali menatapku. Kabut gairah begitu kental dalam matanya, namun aku tahu ia sedang memohon. Memohon padaku agar dapat melanjutkannya, yang dengan pasrah aku mengangguk membuatnya tersenyum.
Aku mengerang, mendesah, menjerit dibawah kungkungan tubuh Kyuhyun. Begitu lihainya Kyuhyun menjelajahi seluruh tubuhku, bahkan baju kami entah berada dimana. Tubuh kami polos tanpa sehelai benangpun.
“Oppahhh…” jeritku sembari meremas seprei di samping kanan kiri kepalaku saat Kyuhyun menjilati dengan nafsu vaginaku. “Eunghh…” kugigit bibir bawahku agar suaraku teredam.
Kyuhyun seakan semakin menggila. Dapat kurasakan lidahnya menerobos milikku, menjilati dari dalam hingga membuatku menjerit, “Oppaa…. cukh… kuppp…”
“Ahhhhh…” jeritku saat tubuhku menegang dan berakhir dengan melayang. Begitu lemas saat orgasme menyerangku, Kyuhyun masih sibuk menjilati dengan lembut. Membersihkan cairan yang mengalir dari dalam tubuhku. Mengecupi kecil-kecil dan merambat naik, melumat bibirku.
Nafasku tersenggal. Aku begitu lelah.
“Oppah…” bisikku, dan Kyuhyun menatapku. Jemarinya mengusap lembut keringat yang mengalir di pelipisku.
“Lelah?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Sungguh, aku begitu ingin ini berhenti. Tubuhku tidak bisa menerima kegiatan ini.
“Hanya sebentar,” bisik Kyuhyun mengecup seluruh wajahku.
“Ahkk…” jeritku lirih saat Kyuhyun perlahan memasukkan penis nya kedalam vaginaku. Rasanya ngilu dan perih. Aku mengerjab saat air mata menggenang di mataku.
“Appo…” lirihku, memberitahunya. Dijilatnya air mataku yang menetes, dan kembali melumat bibirku dengan lembut. Sedikit melupakanku dari lelah dan rasa sakit.
Dan dalam lumatannya, Kyuhyun mulai bergerak. Membawaku pada tepi jurang yang sangat tinggi. Aku hanya mengerang, mendesah dan tanganku memeluk bahunya. Mencari pegangan atas sensasi yang diciptakannya.
“Eungh.. euhh…hhh” lirihku.
Kyuhyun bermain dengan lembut. Mengerti bahwa kandunganku masih sangat muda. Suara nafasnya terdengar memburu. Tubuhnya penuh dengan peluh dan ramputnya basah oleh keringat.
Aku lelah, dan aku hampir sampai. “Keluarkan,” desis Kyuhyun sedikit mempercepat gerakannya.
“Ahhhhkkk….” jeritku mengeratkan cengkramanku pada bahunya. Aku selesai, namun Kyuhyun belum berhenti. Tubuhku melemas dan tanganku terjatuh begitu saja dari bahu Kyuhyun. Mataku mengerjab, “Opp..pahh…” bisikku.
Kurasakan Kyuhyun menghentikan gerakannya, “Hyo-ah?” panggilnya. Tangannya mengusap pipiku, namun pandanganku memburam. Dan aku meringis saat serasa cubitan menyerang perutku. “Lee Hyobin?” suara Kyuhyun terdengar panik.
Aku semakin meringis saat Kyuhyun melepas tubuhnya dan bangkit dari tubuhku. Pandanganku sama sekali tidak jernih, yang kurasakan hanya pergerakan Kyuhyun yang terasa panik berikut suaranya yang tercekat.
“Kita kerumah sakit!” pekiknya.
Kurasakan tubuhku terselimuti dan melayang, aku merintih dalam gendongan Kyuhyun. “Oppa, sakit.” Bisikku.
Semua begitu samar, Kyuhyun yang menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, cahaya-cahaya yang berseliweran, dan bau obat yang menyengat.
Dan semua terganti oleh kegelapan dan kesunyian.
***
Aku terbangun dengan banyak orang berbaju putih di sekelilingku.
“Kau sudah bangun?” suara Dokter Lee.
“Bisa mendengarku?” suaranya terdengar lagi, kali ini aku mengangguk. “Tahu kau ada di mana?”
Mataku menatap sekeliling, “Rumah sakit?” lirihku.
Dokter Lee mengangguk. “Kau mengalami pendarahan,” jelasnya, membuatku terhenyak. “Tapi syukurlah, tidak terjadi hal buruk yang seperti kau fikirkan.” Jelasnya lagi. Dan aku menghela nafas lega.
“Terima kasih,” ucapku pelan, tanganku menangkup perutku dan mengusapnya lembut.
“Apa kau telah mengatakan hal ini pada suami mu?” tanya Dokter Lee, membuatku menatapnya. “Suamimu sepertinya tidak mengetahui hal apapun yang kau alami.”
Benar. Aku belum memberitahu Kyuhyun, dan tidak akan memberitahunya. Aku tidak ingin ia terbebani lagi oleh diriku. “Jangan beritahu hal ini padanya. Kumohon.” Pintaku.
Dokter Lee mengernyit, “Aku mempunyai alasan tersendiri. Sebagai dokterku, kumohon jangan sampai hal ini diberitahukan padanya. Apa aku bisa mempercayaimu?”
“Sebagai doktermu, aku bisa dipercaya menjaga privasimu. Namun jika hal seperti ini justru membahayakan keselamatanmu, maka aku tidak akan berjanji untuk tidak mengatakan hal ini pada suami mu.” Ungkapnya.
“Aku mengerti,” jawabku. “Bolehkah aku pulang malam ini?”
Lee Donghae menatap laporan kesehatanku, dan menggeleng. “Kupikir kau harus istirahat total disini untuk semalam. Kau kekurangan nutrisi, dan juga kelelahan. Apa kau tidak memperhatikan pola makanmu?” matanya menyipit, memarahiku.
Aku baru tersadar, bahwa aku tidak makan apapun seharian, hanya meminum susu ibu hamil tadi pagi dan langsung pergi keluar rumah. Dan malam ini, aku melakukan hal ‘itu’ dengan Kyuhyun. Pantas saja aku begitu lemah.
“Maafkan aku, lain kali aku akan lebih giat untuk memperhatikan pola makanku.” Jawabku pelan. Tanganku mengusap lembut perutku, maafkan eomma eoh? Ternyata kau kelaparan.
“Baiklah, kau akan istirahat malam ini disini. Besok kau boleh pulang, dan suamimu yang ada di depan akan menjagamu disini. Bisa di pahami, Ny. Cho?”
Aku tertawa melihat ekspresi aneh Lee Donghae. “Siap, Dokter!” seruku, dan di hadiahi usapan lembut di kepalaku.
“Meskipun kau belum mengingatku, namun aku akan terus berada disisimu Hyo-ah. Selamat istirahat.” Gumamnya, membuatku mematung menatap kepergiannya. Lee Donghae, siapa dirimu?
“Maafkan aku,” ucap Kyuhyun saat telah duduk di samping ranjangku. “Seharusnya aku berhenti saat kau lelah.” Matanya menutup sedih.
“Gwenchana, oppa.” Ujarku pelan.
Matanya memandangiku dengan sendu, “Kau pendarahan. Dokter bilang tidak apa-apa tapi…” suaranya terhenti, “Tapi aku begitu takut.”
Aku menatapnya, “Oppa,”
“Kau baik-baik saja, bukan? Tidak terjadi hal yang buruk padamu maupun kandunganmu bukan?” tanyanya bertubi.
Aku menggeleng, perasaan hangat muncul dalam rongga dadaku. Cho Kyuhyun terlihat begitu khawatir. Dapatkah aku berharap lebih dari ini?
***
Pagi-pagi sekali aku terbangun dan menapati ruanganku kosong. Tidak ada Kyuhyun, dan membuat hatiku tersengat perasaan kecewa. Aku hanya duduk pada sandaran bantal dan menatap luar jendela. Kota Soul di pagi hari begitu sepi. Hanya beberapa mobil yang berseliweran di jalan raya.
“Kau sudah bangun?” suara itu membuatku menoleh kearah pintu, dan mendapati Cho Kyuhyun berdiri dengan menenteng kantong plastik putih. Ia berjalan masuk dan mengambil duduk di sampingku. “Apa kau lapar?” tanyanya.
Aku melirik kantong plastik yang di bawanya, dan seketika aku tahu apa isinya. Aku menatap Kyuhyun yang menyeringai kearahku, “Aku tahu kau akan menyukainya.” Ungkapnya tersenyum.
“Bagaimana bisa kau mendapatkannya? Apakah Eommonim?” tanyaku antusias.
“Aku menelfon Eomma tadi pagi-pagi sekali mengatakan kau menginginkan Jjajangmyun, dan aku pergi kerumah untuk mengambilnya.”
“Gomawo, oppa.” Seruku, megecup cepat pipinya. Cho Kyuhyun mengerjab, kemudian tertawa.
Dengan semangat aku membuka makanan yang dibuat oleh mertuaku, namun tiba-tiba tangan Kyuhyun dengan cepat menutup kembali dan menjauhkannya dari jangkauanku.
“Tidak-tidak. Kau tidak memakan apapun dari kemarin, dan kau tidak akan langsung memakan Jjajangmyun ini.” Serunya. “Ini. Aku membelikan bubur abalon, dan kau harus memakannya dulu sebelum memakan Jjajangmyun mu.” Disodorkannya kotak yang lain, yang berisi bubur abalon, makanan yang kubenci.
“Oppa, aku tidak menyukainya.” Rengekku. Memalukan, namun aku memang membenci bubur.
“Cobalah, ini sangat enak. Atau kau tidak akan mendapatkan Jjajangmyunmu sama sekali.” Ancamnya. Aku memberengut.
“Nooo…” rengekku lagi.
“Aku akan menyuapimu.” Ditaruhnya kotak berisi Jjajangmyun di posisi yang jauh dariku, kemudian Kyuhyun membuka kotak berisikan bubur dan mulai menyendokinya.
“Aaaaa,” aku menatap bubur yang disodorkan padaku sambil mengernyit. Dengan terpaksa aku membuka mulutku sedikit, dan bubur itu masuk dalam mulutku. Rasanya lumayan.
“Enak bukan? Kau harus menghabiskannya. Akan kusuapi.” Aku terdiam saat Kyuhyun menyendok bubur untuk suapan kedua, dan tanpa penolakan lagi aku memakannya.
Hampir bubur kedua tertelan, desakan mual menghantam diriku. Tanganku dengan cepat membekap mulutku dan aku segera turun dari ranjang lalu berlari kedalam toilet.
“Huekk… huekk… uhuk…”
Keluarlah semua bubur pagi ku. Kyuhyun datang dang memijat tengkuk ku pelan, mengusap-usap punggungku. Helaan nafasnya terdengar kecewa.
“Ayo, kembali istirahat.” Ajaknya, menuntunku yang seketika lemas dan menidurkanku di atas ranjang. Wajahnya berubah muram.
“Lalu kau akan makan apa? Setiap makanan selalu kau muntahkan.” Desahnya frustasi.
“Jjajangmyun…” gumamku. Kyuhyun menatapku lama, kemudian berdiri mengambil kotak berisikan Jjajangmyun buatan Eommonim.
“Bagaimana kau bisa sehat jika memakan ini, Hyo-ah?” gumamnya sedih. Aku juga tidak ingin, namun bayi ini. Bayi kecil kita yang memintanya.
“Aku lapar,” ucapku,
“Aku suapi.” Akhirnya Kyuhyun menyerah, dan mulai menyuapiku dengan pelan. Dalam hati aku tersenyum. Biarkan keadaan seperti ini berlangsung lebih lama Tuhan.
***
Pukul sepuluh aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kyuhyun telah berangkat kerja pukul sembilan yang lalu. Seharusnya dia ingin menemaniku, namun telfon mendadak dari sekretarisnya tidak dapat di acuhkan. Dan berakhirlah aku disini, pulang sendiri tanpa siapapun yang menemani.
Lee Donghae berpesan agar aku selalu meminum obatku sebelum aku melangkah keluar dari rumah sakit. Benar-benar dokter yang cerewet. Namun, entah kenapa aku perlahan menjadi begitu nyaman dengannya. Seakan aku memang selalu bersamanya.
Aku menyetop taksi dan menyuruh supir membawaku ke apartemen Kyuhyun. Dalam perjalanan aku hanya terdiam, dan menikmati ramainya jalan raya yang banyak mobil berseliweran. Ponselku bergetar tepat saat taksi berhenti di depan aprtemen.
“Yeobseo?”
“Apa kau jadi ke kampus hari ini?”
Ternyata Kim Haneul.
“Maaf Haneul-ah, kurasa jangan hari ini. Aku sedang tidak enak badan, dan aku akan hanya istirahat saja di rumah.” Sesalku.
“Arrasso. Apakah kau baik-baik saja? Sudah meminum obat? Apa perlu aku kesana menemanimu? Berikan aku alamat apartemenmu.”
Aku tersenyum mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari Haneul. “Aku tidak apa-apa. Ya, aku sudah meminum obatku. Terima kasih atas tawaranmu Haneul-ah. Tapi aku hanya akan tidur saja. Jadi, sampai jumpa.”
“Baiklah jika seperti itu. Lekaslah sembuh, sampai jumpa Hyo-ah.”
Bib!
Sambungan terputus saat aku hampir mencapai pintu, dan langkahku membeku.
Gadis itu, Jung Jihyun berdiri menunggu di depan pintu apartemenku dan Kyuhyun. Menahan jantungku yang berdegup kencang, aku berjalan menghampirinya.
“Oh! Annyeong,” sapanya. Jung Jihyun benar-benar malaikat yang turun dari langit. Wajahnya begitu cantik dan suaranya benar-benar lembut.
“A-annyeong,” balasku canggung. “A-apa eonni mencari Kyuhyun oppa? Tapi, oppa sedang berada di kantor.”
Gadis itu menggeleng, “Aku hanya ingin bicara padamu.” Jawabnya.
“Aku?”
Jihyun eonni mengangguk. Dengan sigap aku memencet kode apartemen dan klik, kuci pintu terbuka. “Silahkan masuk, Eonni.”
Apa yang akan gadis itu bicarakan padaku? Apa ini tentang Kyuhyun oppa?
Tentu saja bodoh.
Apa Jihyun eonni akan memintaku menjauhi Kyuhyun oppa? Menyuruhku bercerai? Memaksaku? Bagaimana ini?!
Tenangkan dirimu Lee Hyobin. Sekarang, masuklah dan dengarkan apa yang di katakan gadis cantik itu.
Dengan tekat, aku melangkah masuk mengikuti Jihyun eonni memasuki apartemen. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi, Tuhan.
To Be Continue
%d blogger menyukai ini: