Triangel Part 5

0
Triangel Part 5 ff nc kyuhyun hyobin
Author             : ZaZiepiet
Tittle                : TRIANGEL
Category         : Romance, Chapter, Yadong, NC 21, NC 17, Married Life, General, sad
Cast                 : Lee Hyobin
Cho Kyuhyun
Other Cast
Aroma cookies cokelat yang aku panggang menguar dengan lembut memenuhi dapur. Senyumku terkembang saat bunyi Ting dari oven berbunyi, menandakan bahwa cookies ku telah matang.
“Kau tau aegi,” aku bergumam pada perutku sambil mengamati cookies cokelat yang terlihat begitu sangat nikmat, “Eomma, begitu suka cokelat.” Dan aku tertawa. Menertawakan kesenanganku. Seakan dunia adalah milikku saat aku bermonolog sendiri, namun tidak, aku sedang berbicara pada bayiku. Bayiku dan Kyuhyun.

Mengambil sekeping biskuit, menghirup aromanya dan kemudian menggigit kecil diujungnya. Bolehkah aku berbangga diri? Bahwa aku bisa menjadi Patissiere yang hebat. Oh tidak – tidak Lee Hyobin, hentikan pemikiran konyolmu.
Aku melahap semua semua cookies di tanganku saat dering ponsel berbunyi cukup nyaring. Siapa yang menelfonku? Nomor tidak dikenal? Siapa?
“Yeobseoyo?”
“Hyo-ah? Ini kau bukan? Lee Hyobin?”
“Yesung oppa?”
“Sialan! Aku mencarimu Hyo! Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal gila seperti itu?”
Jantungku berdegup kencang. Yesung oppa telah tahu!
“Cho Kyuhyun sialan!”
“Yesung oppa…” lirihku, tanpa peduli ia terus memaki-maki dengan kasar. “Jeongmal mianhae…” akhirnya, tangisku datang. Air mataku menetes, “Maaf menyembunyikan hal ini padamu. Aku hanya malu, aku malu oppa akan memandangku dengan tatapan jijik. Aku menghianati kepercayaan semua orang.” Isakku bergetar. Tangan kiriku berpegang erat pada kursi meja makan di dekatku, membantuku agar tetap berdiri.
Perasaan yang baru saja tertutupi oleh hangatnya cookies cokelat, kini kembali terbuka pada kenyataan pahit berikutnya.
“Tidak seperti itu! Tuhan! Aku akan pulang ke Soul hari ini. Seharusnya aku tahu bahwa hubunganmu dengan Cho Kyuhyun bukan hubungan biasa. Aku sangat tidak menyangka.”
Nada kecewa begitu kental terdengar dalam suaranya. Dan lagi, begitu sesak dalam hatiku. Berapa banyak lagi orang yang akan kecewa padaku? Berapa banyak lagi orang yang akan perlahan-lahan membenciku?
“Aku akan menemuimu nanti malam. Siang ini aku akan mengambil penerbangan menuju Soul.”
Dan bib! Telfon dimatikan begitu saja.
Dengan gemetar aku duduk, dan menangis perlahan. Aku membenci diriku sendiri. Kenapa aku begitu bodoh, Tuhan?
Sekarang, Yesung oppa. Orang yang telah kuanggap sebagai oppa ku sendiri, bahkan yang juga ikut andil menjagaku bersama Eunhyuk oppa sedari aku kecil, akan memandang diriku rendah. Akan membenciku.
Kepingan biskuit yang masih teronggok di atas loyang seakan ikut meratapi diriku. Seleraku pada mereka menyusut seratus persen, dan kupikir membuat cookies – cookies itu menangis sedih. Dengan masih sesenggukan, aku memberesi semua kegiatanku di dapur. Sembari enggan menaruh cookies-cookies itu dalam toples, keputusan yang kembali aku buat dibandingkan dengan membuangnya sia-sia.
Aku memutuskan keluar untuk berjalan-jalan. Dibandingkan di dalam apartemen sendirian, dengan beban yang membuat kepalaku pusing, dan yang akan berakibat fatal pada kandunganku. Sangat menguntungkan, apartemen Kyuhyun yang terletak di tengah pusat kota membuatku lebih dekat dengan segala tempat. Hanya beberapa menit perjalanan aku telah sampai di halte bus.
TINN TINN!
“Nona awasss!!”
Kepalaku menoleh cepat saat sebuah teriakan menyadarkanku, dan menemukan diriku berada di tengah jalan raya menuju halte di seberang jalan.
CKITTT BRAKK
Hanya kedipan mata, dan aku merasakan tubuhku melayang dan jatuh dengan seseorang memelukku dengan erat. Aku kembali mengerjab, mobil hitam itu menabrak trotoar dan ringsek di kap depannya. Dan aku mendengar tarikan nafas dari orang yang menyelamatkanku.
“Gwenchana?” suara lembut seorang lelaki.
Tubuhku masih kaku. Aku baru saja akan mati, dan orang yang sekarang berdiri di hadapanku dengan wajah yang begitu manis telah menyelamatkanku.
“Gwenchana…” sahutku pelan. Namja itu membantuku berdiri. Dan sengatan nyeri seakan menohok perutku, aku meringis pelan.
“Kita harus kerumah sakit!” ucapnya tegas setelah menatap apa yang mengalir dari kakiku. Darah.Orang-orang berseliweran dengan wajah panik menatap diriku dan mobil hitam yang masih ringsek.
“Gadis itu hamil!”
Suara-suara itu terdengar dari telingaku, namun yang kudengar selanjutnya adalah sirine ambulance. Tubuhku direbahkan dengan pelan dan pasti di atas ranjang lipat, kemudian di bawa masuk kedalam mobil ambulance.
“Anda keluarganya?”
“Tidak, aku yang menolongnya. Biarkan aku menemaninya.”
“Baiklah, silahkan.”
Namja itu duduk di sebelahku dengan raut tegang. “Nona, siapa namamu?”
Aku menatap diam, suara mereka terdengar samar. Apa yang mereka katakan? Nyeri di perutku masih bertahan.
“Nona?”
Aegi-ya, bertahan arra. Eomma akan melindungimu.
“Nona, siapa namamu?”
Dan semua mulai berangsur menggelap. Hanya bayangan Kyuhyun oppa yang datang saat pandanganku gelap gulita.
Oppa, tolong aku…
***
Aku berdiri di tengah rimbunnya ilalang-ilalang. Suara desiran angin begitu membuatku nyaman. Sangat tenang, dan begitu nyaman.
“Eomma?”
Kepalaku menoleh, dan mendapati gadis kecil tengah menatapku dengan tersenyum.
“Eomma, bantu aku melihat dunia.” Pintanya dengan senyuman yang mengingatkanku pada Kyuhyun.
Apa?
“Kau siapa?”
Dan angin menghembus membuat sosok itu hilang. Aku tercengang dan kenyamananku berubah menjadi gelap gulita. Seolah aku tersedot kedalam labirin gelap.
“Kondisinya baik-baik saja. Hanya shock dan pendarahannya tidak membahayakan kandungannya. Meskipun begitu, aku akan memberinya penguat kandungan, dan kupikir kandungannya memang lemah.”
“Baiklah, terima kasih dokter.”
Suara itu membuatku membuka mata, dan hal yang pertama kulihat. Adalah putih. Langit-langit putih dan aroma obat yang begitu menyengat. Aku di rumah sakit.
“Kau sudah sadar, nona?”
Namja ini lagi, yang telah menolongku.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya lagi.
Aku mencoba bangun dari tidurku, dan rasa nyeri datang bersamaan dari kepala dan perutku.
“Sakit,” ringisku.
“Beristirahatlah dulu.” Suruhnya. Aku mengangguk dan kembali berbaring.
“Terima kasih.” Ucapku padanya.
Namja itu tersenyum, “Kau belum tahu namaku, dan sudah berterima kasih?”
Aku tersadar, “Euhm… ya?”
Ia tertawa, dan suara tawanya begitu lembut. Tangannya terulur, “Namaku Lee Donghae, siapa namamamu?”
Dengan tersenyum kusambut uluran tangannya, “Lee Hyobin. Namaku Lee Hyobin.”
“Marga kita sama,”
“Kurasa bukan aku saja yang memiliki marga yang sama denganmu dari sekian dari penduduk orang korea.” Jawabku tersenyum. “Sekali lagi, terima kasih telah menolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada bayiku bila…”
“Sama-sama. Lain kali jangan melamun di tengah jalan.” Tuturnya. Aku mengangguk. “Kau mau menghubungi suamimu?” tanya-nya membuatku terdiam.
“Eum…” jika aku menghubungi Kyuhyun, mungkinkah dia akan datang dengan mengkhawatirkanku? Seperti semalam mengkhawatirkan Jung Jihyun?
“Kurasa tidak. Suamiku sedang ada urusan di luar kota. Aku tidak ingin mengganggunya.” Jawabku. Aku telah berbohong, untuk kesekian kalinya.
Namja Lee Donghae itu menatapku diam. Membuatku sedikit tidak nyaman. “Bolehkah aku pulang?” tanyaku.
“Aku akan mengantarmu, tunjukkan di mana rumahmu.” Tawarnya.
“Terima kasih, tapi…”
“Kau harus pulang dengan selamat, nona.” Tekannya. Membuatku mengernyit heran.
“Baiklah,”
“Kurasa aku pernah melihatmu. Bukankah kau gadis yang bekerja di cafe Hand & Gretel jika tidak salah?” namja itu membuka pertanyaan sambil menatapku yang diam di dalam taksi. Bukan aku tidak ingin terima kasih, sungguh aku sangat tertolong dan berterima kasih padanya.
Tapi haruskah dia sampai mengantarku seperti ini? Kenapa aku begitu negatif thinking?
“Iya, aku magang di sana.” Jawabku sekenanya.
“Kenapa kau tidak kembali kesana? Apa kau di pecat?”
Kembali kesana? Hand and Gretel? Bertemu dengan Yesung oppa?
Andwae!
“Tidak. aku tidak dipecat. Aku hanya mengundurkan diri.”
“Karena kehamilanmu bukan? Dokter itu bilang kandunganmu lemah.”
Namja ini, entah kenapa begitu banyak bicara. “Donghae-ssi, kurasa apartemenku sudah dekat. Terima kasih atas bantuanmu. Aku sangat berterima kasih.” Ungkapku. Taksi berhenti dan aku melangkah keluar, dan lagi, namja itu mengikutiku keluar dari taksi.
Aku merasa tidak nyaman denganya.
Usapan kurasakan pada rambutku. Aku terkejut namja itu berani mengusap-usap kepalaku. Aku hendak protes namun ekspresinya begitu membuatku terpana.
“Kurasa kau memang lupa padaku.” Gumamnya. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi setelah sekian lama. Dan kau telah lupa padaku.”
“Apa maksudmu?”
Donghae lagi-lagi hanya tersenyum, “Masuklah, suamimu sedang menunggumu.” Ucapnya, menunjuk arah apartemen dengan dagunya. Membuatku menoleh dan membeku.
Cho Kyuhyun berdiri di sana, dengan ekspresi yang sama sekali tidak terbaca. Menatap kearahku dan Donghae.
“Affair, huh?”
Langkahku yang hendak memasuki kamar terhenti saat ucapan Kyuhyun terdengar. Aku terdiam, dan kemudian menoleh mendapati Kyuhyun dengan tangan mengepal.
“Kurasa kau harus tahu posisimu Lee Hyobin.” Ucapnya menggeram, langkahnya mendekat membuatku waspada. Jemarinya dengan cepat mencengkram pundakku, “Kau. Isteriku. Ingat itu!”
“O-oppa… sakit…” elakku mencoba lepas dari cengkramannya. Kemana Kyuhyun yang lembut? Kenapa begitu menakutkan?
“Jawab aku Lee Hyobin! Apa kau melakukan Affair?!”
“Oppa… tidak!”
Tangannya melepas dari diriku. “Lalu siapa dia?! Laki-laki itu?!”
“Dia yang menolongku!” jawabku cepat.
Keningnya berkerut, “Menolong?”
Aku menunduk, “Aku hampir tertabrak mobil,” lirihku.
“Apa?” suaranya terkejut. “Apa yang kau lakukan di luar hingga hampir tertabrak, huh?! Membahayakan kandunganmu!”
Air mata menetes dari mataku. Bukan ini yang kuharapkan. Sedetik lalu aku berharap Kyuhyun akan mengucapkan kata maaf dan akan menjadi khwatir padaku. Namun kenapa?
“Aku ingin pergi ke taman,” isakku. “Aku menyebrang, dan yang aku ingat namja itu menolongku.”
Kyuhyun menangkup wajahku, tatapannya melembut. “Kenapa kau tidak menghubungiku? Kau bisa saja menelfonku dan… kenapa bukan aku yang menolongmu?!”
Ada tatapan terluka di matanya, Kyuhyun memelukku. “Jangan menangis,” pintanya, “Jangan menangis lagi.”
Hanya menangis di pelukannya. Menangisi diriku, menangisi cintaku. Kenapa aku terjebak dalam cinta yang begitu rumit ini? Andai aku bisa berhenti.
***
“Bagaimana keadaanmu?” Ahra eonni bertanya sambil melihat kertas hasil pemeriksaanku hari ini. Ahra eonni adalah dokter umum di rumah sakit Soul, dan ia menyuruhku periksa setiap seminggu sekali. Begitu protektif, namun membuatku senang. Masih ada yang peduli denganku. Kukira dulu Kyuhyun anak tunggal. Namun ternyata dia memiliki kakak yang begitu cantik, dan juga begitu baik.
“Aku memiliki teman dokter kandungan. Dia yang akan menjadi doktermu mulai sekarang, keadaanmu benar-benar mengkhawatirkan Hyo-ya.” ucapan Ahra eonni begitu sarat akan kesedihan. Aku tidak ingin ada yang mengasihaniku.
“Sebenarnya, kemarin aku hampir tertabrak mobil.” Lirihku, membuat Ahra eonni tersentak.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Ada yang menolongku, tapi aku sempat pendarahan.”
Ahra eonni menghela nafas, “Aku masih sangsi kenapa janin itu masih bertahan. Seharusnya…”
“Eonni!!” pekikku. “Jangan katakan hal yang buruk! Kumohon…”
Menatapku dengan seksama, “Kau akan menjadi pasien temanku. Ia akan datang sebentar lagi. Dan kau harus rutin menjalani ini. Jika kau ingin dirimu dan bayimu tetap sehat.”
Aku mengangguk mengerti dan ketokan di pintu membuatku dan Ahra eonni terdiam.
“Masuk,”
“Kudengar adik iparmu akan jadi pasienku, Ahra-ya.” suara itu…
Aku menoleh dan mendapati laki-laki itu. “Kau…”
“Hai, kita bertemu lagi.”
Eonni menatap kami, “Kalian saling mengenal?”
“Dia yang menolongku Eonni, saat aku hampir tertabrak mobil.”
“Donghae-ya. Kau malaikat penolong adikku!” pekik eonni dan memeluk Donghae, membuatku mengernyit.
“Ehm… kurasa aku…” dehemku,
“Tidak, kau tidak akan kemana-mana. Kau harus diperiksa oleh Donghae dulu.” Eonni mencegahku yang akan melangkah keluar.
“Tapi..” aku merasa tidak enak dengan mereka berdua. Lee Donghae menatapku hangat.
“Kurasa kau memang lupa padaku.”
Aku mengerjab. Aku ingat ia mengatakan hal itu, namun aku tidak mengerti apa maksudnya.
“Donghae-ya, ayo.” Ahra eonni memanggil Donghe dan menarik tanganku keluar dari ruangan Ahra eonni.
Ini membuatku  malu. Donghae dengan santainya mengolesi perutku dengan gel bening, yang membuat bulu kudukku berdiri merasakan sensasi dinginnya. “Aku akan melakukan Ultrasonik untuk melihat perkembangan bayimu. Jadi, tenanglah.”
Aku menurut dan terdiam saat layar yang disediakan mulai menyala. Memunculkan sebuah gambar buram, yang aku sama sekali tidak mengerti.
“Kau lihat? Ini bayimu.” Tutur Donghe sambil menunjuk gumpalan yang terlihat buram. “Masih sangat kecil, dan belum terbentuk sempurna.”
Perasaan haru tiba-tiba muncul dalam rongga dadaku. Bayiku? Mataku memburam oleh genangan yang ingin meluncur. Begitu kecil, dan tumbuh dalam diriku. Bagian dari Kyuhyun, tumbuh dalam diriku.
Aku menoleh menatap Ahra eonni yang juga terharu menatap gambar bayiku. Tuhan, aku begitu bahagia. Setidaknya aku bahagia untuk anakku. Aku percaya, di atas penderitaan yang Engkau berikan, pasti akan ada titik dimana kebahagiaan akan muncul. Dengan memberiku bayi kecil ini.
“Kau bahagia?” tanya Ahra eonni. Aku mengangguk dengan cepat, “Sangat! Begitu indah eonni. Ada diri Kyuhyun tumbuh dalam tubuhku.”
“Kau begitu mencintai adikku,” gumam Ahra eonni, menatapku sedih.
“Mencintainya mungkin kebodohanku. Namun apa yang bisa kulakukan sekarang? Mensyukurinya eonni. Aku tidak bisa mendapatkan hati Kyuhyun untukku, namun aku mendapatkan dirinya dalam tubuhku. Itu cukup untukku.”
Ahra eonni tersenyum, kemudian mengangguk.
“Ada kelainan kromosom dalam janinmu. Disisi lain, umurmu yang masih tujuh belas tahun, membuat kandunganmu semakin melemah. Hanya prediksi awal, kemungkinan bertahan hanya 20%. Kau akan keguguran dan kehilangan janinmu, tapi andaikan janin itu bertahan., Hanya salah satu dari kalian yang akan tetap membuka mata. Kau atau bayimu.”
Jantungku bertalu-talu mendengar penuturan Donghae atas keadaanku. Sesaat lalu aku seolah terbang hingga tanpa menyadari bahwa aku terbang menggunakan sayap yang rusak. Dan sekarang aku terjatuh. Menghadapi kenyataan yang terjadi pada bayiku. Anakku.
“Bukankah semua ibu akan lebih memilih bayinya? Maka aku akan melakukan  hal yang sama. Meskipun akan mengorbankan diriku.”
“Lee Hyobin!!” pekik Ahra eonni. Aku menggeleng, air mataku menetes pelan.
“Jika kenyataannya memang seperti ini, apa yang harus aku lakukan eonni? Bayi ini adalah hidupku. Aku mencintainya. Tolong… jangan memberikan argumen yang hanya berujung membunuh bayiku, eonni.”
“Jika pun kau berkorban demi bayi itu. Apakah kau siap menerima kenyataan yang akan dihadapi anakmu kelak?” Donghae kembali membuka suara.
“Apa maksudnya?”
“Kelainan kromosom, akan berakibat di masa mendatang. Manusia normal memiliki 46 kromosom. Namun jika kurang dari itu, bahkan hanya kurang satu angka pun, mereka tidak lagi dikatakan normal. Akan ada gangguan yang terjadi pada tubuhnya.”
Nafasku tertahan, “Untuk saat ini, kelainan belum bisa di identifikasi karena kandunganmu masih sangat baru.”
“Eomma, bantu aku melihat dunia.”
Aku tersentak saat teringat mimpi itu. Tidak, aku tidak peduli dengan kelainan apapun itu. Anakku akan tumbuh, meskipun tidak dengan diriku.
“Aku akan tetap mempertahankannya. Tidak peduli apapun yang terjadi. Bayiku, anakku akan melihat dunia ini.” Yakinku, “Meskipun aku tidak akan bisa memeluknya, aku akan memperjuangkannya.” Air mataku menetes membayangkan aku tidak bisa memeluk tubuh mungil bayiku. Tapi demi cintaku…
“Kyuhyun oppa juga akan mencintai bayi ku, aku yakin dia akan menjaga bayiku dengan baik. Jadi, kumohon…” aku menatap Donghae dan Ahra eonni, “Kumohon bantu agar bayiku bisa melihat dunia ini.”
Tubuhku ditarik dalam pelukan Ahra eonni. Dan aku menangis, demi cinta aku akan berjuang hingga nafas meninggalkan tubuhku. Demi Cho Kyuhyun dan bayiku…
Kaki ku berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit. Seharian setelah pemeriksaan selesai, aku hanya menemani Ahra eonni di runganannya. Meskipun aku harus selalu ditinggalnya, namun aku cukup terhibur. Dibandingkan berdiam diri di apartemen, penuh dengan kebosanan,
Taman rumah sakit begitu sepi saat aku duduk di salah satu bangku panjangnya. Tentu saja, hari sudah mulai menggelap, tapi aku ingin disini. Menikmati hijaunya daun dan suasana yang begitu tenang.
“Aku ingin pulang. Bukankah dokter mengatakan aku sudah boleh pulang dari kemarin?”
“Tapi lukanya belum kering Jihyun-ah,”
DEG!
Suara itu… Cho Kyuhyun. Aku berbalik dan mendapati dua orang yang tengah duduk berpelukan di seberang bangku ku, tertutupi oleh semak-semak yang dibentuk dengan indah.
“Nanti akan kering sendiri oppa, ayolah… aku bosan disini.”
Sengatan nyeri menusuk dadaku saat Kyuhyun dengan mesra mengecup bibir gadis itu, Jung Jihyun. Seakan-akan mereka terbiasa melakukan hal itu. Tentu saja, Hyobin bodoh! Mereka sepasang kekasih!
Cho Kyuhyun… apa yang harus aku lakukan kali ini? Haruskah aku mendatangi mereka dengan marah-marah, menampar Jung Jihyun dan meneriakinya bahwa Cho Kyuhyun adalah suamiku?
Tidak-tidak.
Disini bukan Jung Jihyun yang salah. Aku. Akulah sumber masalah dalam hubungan mereka. Akulah pihak ketiga dari hubungan mereka, aku yang telah merebut Kyuhyun secara paksa. Aku hanya menangis, mendengarkan percakapan mereka yang begitu manis. Lee Hyobin, tega sekali kau memisahkan mereka. Dua cinta yang terpisah karena kehadiran diriku.
Apa yang harus aku lakukan dengan keadaan seperti ini?
To Be Continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: