Triangel Part 4

0
Triangel Part 4 ff nc kyuhyun hyobin
Author             : ZaZiepiet
Tittle                : TRIANGEL
Category         : Romance, Chapter, Yadong, NC 21, NC 17, Married Life, General, sad
Cast                 : Lee Hyobin
Cho Kyuhyun
Other Cast
Aku menatap takjub gadis dengan balutan gaun putih dengan bunga mawar di tangannya. Begitu sempurna dan sangat tidak dipercaya bahwa gadis itu adalah refleksi diriku dalam cermin. Sosok bagaikan bidadari. Namun satu hal yang kurang dari dirinya.
Begitu murung tanpa jejak senyum dalam wajah cantiknya.
Seharusnya ini hari yang membahagiakan, karena ini adalah hari pernikahanku dengan Kyuhyun. Seharusnya aku tersenyum dengan lebar, karena aku berhasim menikah dengan orang yang kucintai.

Tapi tidak.
Membayangkan siapa yang akan datang dalam pernikahan kami membuatku serasa ingin mati. Jung Jihyun Sunbae. Gadis itu akan datang ke sini, ke pernikahanku. Ini lebih buruk dari saat orang tuaku tau bahwa aku akan menikah karena telah ada janin kecil dalam perutku.
Appa membuktikan ucapannya tempo hari. Tidak akan menganggapku sebagai puterinya lagi. Begitu menyakitkan, dihari yang seharusnya menjadi hari bahagiamu seumur hidup harus mengalami hal seperti ini. Dibuang dari keluargamu sendiri.
“Kau siap?” Suara Kyuhyun terdengar dari balik pintu. Dia begitu tampan dengan setelan kemeja dan jas yang sangat mempesona. Aku bahkan seakan masuk dalam negeri dongen karena menikah dengan pangeran setampan dirinya.
Mengambil nafas dalam. Pikiranku kembali pada Jihyun Sunbae. Aku menatap Kyuhyun dan kemudian menggeleng. Aku tidak yakin ini adalah ide yang bagus.”Aku takut,” bisikku. Kyuhyun mendekat dan menangkup badanku.
“Kita akan menikah, apa yang kau takutkan heum?”
“Jihyun sunbae…”
“Jangan pikirkan gadis itu!” Desis Kyuhyun, “Aku akan tetap. Menikahimu. Lee Hyobin. Sekarang bersiaplah, pastor telah menunggu kita.”
Dengan pelan aku mengangguk meng-iyakan.
Tubuh Kyuhyun memelukku hangat sebelum tubuhnya berbalik dan keluar ruanganku. Beberapa saat setelah Kyuhyun pergi, Ny. Cho datang dengan senyuman bahagianya, membuatku mau tak mau juga membalas senyumnya.
“Kau akan menjadi menantuku.” Suaranya terdengar sangat gembira,
“Ayo! Acara akan segera di mulai!” suara Ahra Eonni terdengar dari balik pintu. Ny. Cho semakin tersenyum lebar.
“Kajja!” serunya menggandengku keluar.
Alunan musik instrument milik Shania Twain – From This Moment mengalun lembut mengiringiku berjalan dengan Tn. Cho yang menggandeng tanganku. Dapat aku lihat Cho Kyuhyun telah berdiri di sana, dengan gagahnya bak pangeran negeri dongeng. Kim Haneul berdiri dengan senyumannya yang tertuju padaku, memberiku sedikit kekuatan. Namun saat tatapanku berakhir pada gadis itu, semua seolah mimpi buruk. Jung Jihyun berdiri dan menatapku dengan tatapan yang begitu membuatku takut, malu dan segala apa yang yang diotakku mendadak hilang. Sujin Eonni berdiri di sebelahnya, membuatku semakin ingin mengakhiri acara ini.
Ini salah.
Air mataku menggenang, namun aku mengontrolnya agar tidak menetes. Tidak, aku tidak boleh menangis. Sujin Eonni, mianhae. Aku telah mengecewakanmu.
“Jagalah dia. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, anakku.” Suara bass Tn. Cho membuatku sadar bahwa aku telah sampai di hadapan Cho Kyuhyun. Tangannya terulur menyambut tanganku yang diserahkan Tn. Cho.
“Aku berjanji, Appa.” Cho Kyuhyun menjawab dengan tegas.
Hangat tangannya yang menggenggamku begitu membuatku nyaman. Dan kami berdua telah berdiri tepat di hadapan sang pastor.
“Saudara Cho Kyuhyun,” suara pator mulai terdengar, “Bersediakah saudara menerima Lee Hyobin sebagai isteri yang dijodohkan Tuhan di dalam pernikahan, menjadi temanmu, kekasihmu, sahabatmu, belahan jiwamu dalam suka maupun duka. Dalam sehat maupun sakit, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja. Selamanya, hingga Tuhan mengambil salah satu dari anak-anakNya.”
Menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Kyuhyun berucap dengan lantang, “Aku bersedia.”
Kemudian pastor menatapku. Membuatku hampir gemetar saat sumpah setia di ajukan padaku.
“Saudari Lee Hyobin. Bersediakah saudari menerima Cho Kyuhyun sebagai suami yang dijodohkan Tuhan di dalam pernikahan, menjadi temanmu, kekasihmu, sahabatmu, belahan jiwamu dalam suka maupun duka. Dalam sehat maupun sakit, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja. Selamanya, hingga Tuhan mengambil salah satu dari anak-anakNya.” Suaraku nyaris hilang saat dengan keraguan namun penuh keyakinan, “Aku bersedia,”
“Dipersatukanlah kalian sebagai suami dan isteri di hadapan Tuhan dan para jemaat.”
Tepukan riuh menyambut pengucapan sumpah kami. Dengan perlahan Kyuhyun mendekat kearahku. Dan dengan lembut bibirnya mengecup lembut keningku. Dan saat itu juga air mataku menetes.
Aku resmi menjadi isterinya.
***
“Selamat atas pernikahan kalian. Kuharap kalian hidup bahagia.” Sujin Eonni memelukku dengan tawanya. “Hais! Seharusnya aku dan Siwon oppa dulu yang menikah! Kalian adik kurang ajar, mendahului yang tua!” Canda Sujin eonni.
Air mataku meerebak,”Mianhae eonni,” lirihku. “Aku membuatmu kecewa.”
Sujin eonni terdiam dan memelukku semakin erat. “Jangan menangis. Mungkin memang inilah yang dinamakan takdir Tuhan. Aku yakin pasti nanti kebahagiaan menghampiri kalian berdua.” Tuturnya lembut. Aku mengangguk dan Sujin eonni melepas pelukannya. Berganti dengan yang lainnya.
“Hidup lah bahagia eoh? Jaga juga calon keponakanku.” Haneul memelukku dan mengusap pelan perutku. Aku mengangguk dan berterima kasih karena masih mendukungku.
Kami masih asik bercengkrama, saat gadis itu muncul. Dan seluruh tawa ku menghilang seketika.
“Selamat.” Ucapnya datar. Menyalami Kyuhyun dan dengan kaku, menyalamiku juga.
Sujin Eonni yang begitu cepat menyadari kecanggungan di antara kami langsung menghampiri Jung Jihyun. “Bukankah setelah ini kau ada acara? Ayo kita pulang, Siwon Oppa dan aku akan mengantarmu.”  Ucapnya. Dan dengan tatapan menyesal Sujin Eonni berpamitan padaku dan Kyuhyun.
Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir Kyuhyun setelah Jung Jihyun pergi. Kami hanya menyunggingkan senyum saat para tamu menyalami kami, memberikan selamatnya.
Aku tidak pernah tau jika pernikahan bisa sangat melelahkan. Aku menggenggam lengan Kyuhyun saat tubuhku akan ambruk. Membuat Kyuhyun seketika menatapku terkejut. “Gwenchana? Lelah?” Tanyanya membantuku berdiri.
Aku mengangguk sebagai jawaban. “Wajahmu pucat.” Gumamnya mengusap pipiku. “Kita pulang sekarang.” Putusnya dan aku hanya pasrah.
Kyuhyun mendatangi keluarganya yang tengah berbincang-bincang dan mereka menataoku lalu mengangguk.
Meninggalkan pesta begitu saja mungkin memang tidak pantas. Namun orang tua kamimengerti bahwa aku sudah mencapai limit untuk menjalani pesta yang memakan tenagaku. Di tambah aku tengah mengandung, dan mereka menyuruh kami untuk pulang.
Dalam perjalanan, Kyuhyun berulang kali mengusap lembut pelipisku. “Tidurlah,” suruhnya, aku menggeleng. Kami akan segera sampai, dan aku akan tidur di tempat tidur.
Sesampainya kami di apartemen Kyuhyun. Aku berakhir dalam kamar Kyuhyun setelah namja itu menggendongku. Tubuhku begitu lelah, dan rasa nyeri perlahan menyerang perutku.
“Sakit lagi?” tanya Kyuhyun saat sadar sedari tadi aku memegang perutku. Aku menatapnya dan ingin menjawab saat telfon dari saku Kyuhyun berbunyi.
“Yeobsoyo?” sahutmya. Dirinya terdiam sesaat, kemudian menatapku. Wajahnya mendadak pucat.
“Waeyo?” tanyaku.
Kyuhyun menutup telfonnya dan menatap kosong padaku.
“Jung Jihyun.” Ucapnya. “Dia masuk rumah sakit.” Erangnya.
Mataku membulat tak percaya. Dan keterkejutanku berefek langsung pada perutku. Aku mendesis nyeri namun Kyuhyun tidak tahu.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku hati-hati.
“Aku harus kesana!” Putusnya dan langsung pergi tanpa menjawab pertanyaanku. Suara deru mobil yang perlahan menghilang menandakan Kyuhyun benar-benar telah pergi.
Hatiku mencelos. Sekhawatir itukah? Aku meringis lagi saat perutku kembali melilit. Sakit sekali. Skalanya hampir meningkat setiap kali aku kembali merasakannya. Tanganku bergetar menjangkau ponselku. Siapa yang bisa kumintai pertolongan. Aku sama sekali tidak berani bangkit dari posisiku karena akan menjadi semakin sakit.
“Eomma…” jeritku saat sakit itu semakin menjadi. Ahra eonni, dia seorang dokter. Aku bisa meminta bantuannya. Dengan gemetar kutekan nomor ponselnya.
“Yeobsoyo?” suara riuh masih terdengar, menandakan bahwa Ahra eonni masih ada di pestaku.
“Eonni…Appaseo!” Rintihku.
“Mwo?!”
“Perutku sakit…” suaraku serak karena menangis.”Eonni jebal kesini. Sakit.”
Pandanganku memburam dan nafasku seolah habis. Suara Ahra Eonni masih terdengar namun aku tidak tahu dia bicara apa. Kesadaranku menipis, dan semuanya menggelap.
Aku terbangun dengan rasa nyeri yang masih tersisa, membuatku meringis pelan menangkup perutku.
“Kau sudah sadar?” Ahra eonni menatapku dengan pandangan khawatir. Dengan kesadaran yang belum lengkap aku mengangguk.
“Kau tahu ini di mana?” Tanyanya lagi. Aku mengedarkan pandanganku dan aku menatapnya,
“Rumah sakit?”
Ahra Eonni mengangguk. “Ada yang ingin kubicarakan padamu.” Ungkapnya setelah mengetahui aku sadar sepenuhnya. Raut wajahnya menjadi serius.
“Maukah kau menggugurkan kandunganmu?”
Apa?
Ada apa? Kenapa dengan telingaku?
Aku salah dengar bukan?
Seakan tersiram air dingin. Aku menatap Ahra eonni tak percaya, “Apa maksud eonni?” Lirihku hampir tercekat.
Ahra eonni menatapku sedih. Aku tahu dia menahan tangisnya. Suara pintu terbuka, dan Ny. Cho datang bersama Tn. Cho menghampiriku. Dengan tatapan yang sama.
“Kandunganmu mengalami kelainan. Ada kelainan kromosom pada tubuhmu. Bayimu, janinmu tidak bisa tumbuh dengan sempurna. Seharusnya aku tahu saat kau seringkali mengalami kram perut hingga seperti ini. Kau harus menggugurkannya Lee Hyobin. Kalian tidak akan bisa bertahan.”
Kalimat itu bagaikan bom waktu. Aku bahkan masih sulit mencerna apa yang Ahra eonni bicarakan. Namun yang aku dapat, kenyataan bahwa bayiku tidaklah sehat. Air mataku perlahan menetes. Apa lagi yang akan terjadi dengan ku?
Eommonim menangis menatapku.
Dan sesaat bayangan Kyuhyun melarangku menggugurkaannya tergambar. Kyuhyun begitu ingin mempertahankan bayi ini. Tapi kenapa? Apa doa jahatku dulu di kabulkan Tuhan. Tapi tidak. Aku tidak menginginkan hal itu. Aku ingin memilikinya. Bayiku, anakku, darah dagingku.
“Sh-shiero…!” Bisikku terisak. “Aku tidak akan melakukan hal sejahat itu. Tidak akan pernah!”
Ahra eonni menghembuskan nafasnya keras.
“Tapi persentasenya sangat kecil. Aku pernah menangani hal serupa dengan ini. Dan kenyataannya harus ada salah satu yang dikorbankan.”
“Eonni… bayi ini anakku. Darah dagingku. Sebagian dari diriku. Bagaimana Eonni menyuruhku menggugurkannya? Itu hal sama saat Eonni membunuh sebagaian hatiku. Maka aku akan mati juga.”
Air mataku mengalir, “Eommonim, Aboeji.” Isakku memohon pada mereka.
Ahra Eonni menutup matanya. “Aku akan beritahu Kyuhyun tentang hal ini.”
“Andwae!” Seruku. Kyuhyun sedang dirundung banyak masalah, dia tidak boleh tahu hal ini. “Aku akan memberitahunya sendiri eonni, jebal.” Pintaku.
“Kenapa Hyobin-ah? Kenapa kau tidak ingin menggugurkannya?” Ahra eonni kembali menatapku sedih.
Aku termenung. Bagaimana raut wajah Kyuhyun yang marah saat aku ingin menggugurkannya dulu membuatku berfikir, Kyuhyun begitu mencintai bayi yang ada dalam diriku.
“Demi keselamatanmu, Hyo-ah.” Eommonim memelukku, suaranya memohon. Dan aku tetap menggeleng.
“Aku mengerti,” desahnya. “Kita akan pulang saat kau sudah lebih baik.” Putusnya mengusap rambutku lembut.
Aku kembali ke apartemen dengan di antar Ahra Eonni. Karena Eommonim dan Aboeji masih ada urusan di pesta yang kutinggalkan. Mereka menanyakan keberadaan Kyuhyun, namun aku mengatakan Kyuhyun mendapat telfon penting, dan meyakinkan mereka agar tidak salah paham pada Kyuhyun.
“Kau harus sehat, mengerti.” Ahra eonni menatapku tajam. “Kau harus berjanji akan bertahan hingga kau melahirkan.” Suaranya menyerak.
Aku tahu ia sangat khawatir, dan aku tersentuh dengan semuanya. “Aku bisa eonni, percayalah.” Yakinku.
“Dan kau harus beritahu Kyuhyun tentang hal ini.”
“Arasso,” sahutku.
Ahra eonni memelukku sebentar dan berpamitan, “Aku harus kembali. Pastikan kau akan istirahat total.”
“Arra. Hati-hati eonni.”
Dan aku kembali sendirian.
***
Suara derap langkah kaki Kyuhyun tetrdengar saat aku masih tengah aik memandangi rembula dari balkon kamar.
“Kau belum tidur?” suaranya terdengar dan aku berbalik, menemukan wajahnya yang begitu lelah.
Suamiku lelah dengan apa yang di jalaninya.
Suamiku?
“Aku tidak bisa tidur.” Alih-alih aku ingin mengatakan bahwa aku menunggunya, tergantikan dengan aku yang tidak bisa tidur.
“Kau harus tidur. Wajahmu begitu pucat, kau harus memikirkan bayimu juga.”
Bayimu?
Ah, tentu saja. Aku menatapnya dan mengangguk. Bangkit perlahan dan berjalan menuju ranjang. Menuruti perintah Kyuhyun.
“Aku akan tidur, tapi bagaimana aku bisa tidur?”
Hormon sialan! Begitu inginnya aku tidur, namun dengan Kyuhyun yang memelukku. Sangat ingin…
“Aku akan mandi. Setelah itu aku menyusul.” Sahutnya. Berbalik dan tanpa peduli berjalan ke arah kamar mandi.
Aku termenung. Perasaan kecewa begitu kental menyelimutiku. Kyuhyun berubah menjadi dingin. Ada apa? Apa karena Jung Jihyun? Seakan gumpalan menggelap dadaku, menyesakku hingga air mataku ingin sekali mengalir. Aku tidak ingin Kyuhyun meninggalkanku. Namun, ada Jung Jihyun. Akulah yang yang merusak hubungan mereka.
Tidak! Kyuhyun sekarang suamiku! Dalam logika justru Jihyun lah yang merusak hubunganku dan Kyuhyun!
“Aegi…” lirihku menyentuh perutku. Hanya bayi kecil yang ada dalam tubuhku yang mengerti segala perasaanku. “Apa yang harus Eomma lakukan?” bisikku.
Kepalaku terasa pening memikirkan hal yang terjadi. Mempertahankan Kyuhyun, dan juga mempertahankan janinku. Haruskah aku memberitahukan Kyuhyun? Agar Kyuhyun tidak meninggalkanku?
Bukankah mirip sekali dengan drama menjijikkan yang ada di televisi. Aku menjadi pemeran antagonis di sini. Bagus sekali bukan?
“Belum juga tidur?” suara Kyuhyun kembali menyentakku.
Aku mendongak, menemukan Kyuhyun yang terbalut kaos polo putih dengan rambut basah. Tuhan, ia begitu tampan.
“Apa yang kau pikirkan. Heum?” Kyuhyun duduk di sisi ranjang. Mengusap kepalaku, membuatku memejamkan mata.
“Aku tidak bisa tidur.” Gumamku.
Kyuhyun menatapku dalam. Semoga dia tau apa yang kuinginkan.
Dan bingo! Kyuhyun merebahkan tubuhnya di sebelahku, meraihku mendekat padanya.
“Tidurlah, aku akan memelukmu.” Ucapnya. Hatiku menjerit bahagia. Menyambut gembira pelukan yang Kyuhyun tawarkan.
“Eum!”
Aku mencoba memejamkan mata dalam pelukan Kyuhyun. Tangannya tanpa berhenti mengusap-usap punggungku. Sangat nyaman. Namun sial, aku benar-benar ingin mengatakan hal ini.
“Kyu-ah…” lirihku.
“Heum?”
“Apa yang kau lakukan jika janin yang ada di perutku menghilang?” bisikku.
Tangan Kyuhyun seketika berhenti, “Apa maksudmu?” tanyanya dingin. “Apa yang telah kau lakukan?” tanyanya tajam.
“Anniyo… aku hanya ingin tahu,” lirihku, mencoba tidak terpengaruh dengan suara Kyuhyun yang tajam.
“Jika bayi itu menghilang karena kesengajaanmu. Maka aku yang akan membuatmu menyesal telah menghilangkannya. Kau mengerti!” desisnya. Membuatku merinding.
Aku mengangguk, meskipun terintimidasi oleh auranya yang marah. Namun aku bahagia, Kyuhyun menginginkan bayi ini juga.
Cukup dengan keyakinan seperti ini kan, Aegi.
“Aku tidak akan melakukan hal sekejam itu.” Ucapku. “Aku akan menjaganya, karena aku mencintainya.”
Seperti aku mencintaimu, bahkan aku rela mengorbankan diriku untuk membahagiakanmu. Aku berjanji Cho Kyuhyun.
Kyuhyun terdiam sesaat, kemudian melanjutkan tangannya yang mengusap-usap punggungku. “Kau isteriku, dan aku suamimu. Kita memiliki ikatan yang kuat, jangan terlalu berfikiran yang aneh-aneh.” Gumamnya, menghembuskan nafas di dahiku.
Aku mengangguk mengerti. Meskipun aku tahu, Kyuhyun menyembunyikan perasaannya yang hanya tertutupi oleh pertanggung jawabannya.
Perasaan mengantuk perlahan-lahan menghampiriku. Aku memejamkan mataku dan semuanya terasa nyenyak.
***
“Aku membuatkanmu sarapan.” Sapaku saat Kyuhyun berjalan keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Dia akan berangkat kerja.
“Arra,” sahutnya menghampiri meja makan. Ia menatap masakanku sesaat kemudian duduk di salah satu kursi.
“Ini hanya omelet keju dan beberapa potong roti. Maafkan  aku,” sesalku. Aku tidak terbiasa memasak makanan berat di pagi hari, dan hanya menyediakan seperti ini.
“Gwenchana, aku akan memakannya dan berangkat kerja.” Ucapnya, tersenyum sekilas padaku dan mengambil sepotong roti panggang dan memakannya bersama omelet.
“Kau tidak sarapan?” tanyanya saat menyadari aku hanya berdiri dan menontonnya.
Menggeleng pelan, “Aku tidak…huk!” secepat kilat aku membekap mulutku dan berlari menuju toilet. Kembali dengan rutinitas morning sickness ku yang begitu menyiksa.
“Huekk… uhukk!” air mataku merebak. Sangat sakit saat memuntahkan hal yang kosong kecuali air liur. Aku berpegangan kuat pada wastafel agar menopangku yang hampir terjatuh.
“Huekk… huekk… ahh!” ringisku.
“Gwenchana?” Kyuhyun mengusap tengkukku dan memegangi tubuhku dari belakang. Wajahnya terlihat khawatir. “Haruskah kita kedokter? Wajahmu begitu sangat pucat hanya dengan memuntahkan air liur.” Paniknya.
Aku menggeleng, membasuh mulutku. “Aku tidak apa-apa. Maaf mengganggu sarapanmu.” Gumamku.
“Jangan meminta maaf untuk hal yang tidak penting Lee Hyobin.”
Senyumku terkembang. “Berangkatlah kerja, Aboenim akan mengomelimu jika kau datang terlambat.” Suruhku. Dia menatapku intens. Mencoba membujukku agar kedokter, dan aku hanya menggeleng.
“Baiklah.” Putusnya. Mengusap pipiku dan mencium keningku, “Aku berangkat, hati-hatilah di rumah.” Pesannya.
Sekali lagi aku mengangguk, dan kemudian dia pergi.
***
To Be Continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: