Triangel Part 10

0
Triangel Part 10 kyuhyun yadong
Author : ZaZiepiet
Tittle : TRIANGEL [10th-Stay]
Category : Romance, Chapter, Yadong, NC 21, Married Life, General, sad
Cast :     ●    Lee Hyobin
Cho Kyuhyun
Other Cast
Happy Reading~ ☺
NO PLAGIAT PLEASE!!
LEE HYOBIN
Mataku mengerjab dan mulai mendapati cahaya perlahan masuk dalam retina mataku. Sayup-sayup suara mulai terdengar dalam telingaku. Semuanya serba putih, dan aku merasakan sesuatu mengganjal di wajahku, aroma oksigen menguap dalam hidungku dan aku menyadari ada masker oksigen menempel di wajahku.

Dan seketika aku tahu, dimana aku berada. Rumah sakit.
“Lee Hyobin?”
“Hyobin-ah?”
Sayup-sayup seseorang memanggilku membuatku menoleh. Dan aku menyadari bahwa tubuhku seolah kaku dan aku tidak dapat bergerak dengan biasanya. Mataku mengerjab saat rasa lelah begitu mendominasi seluruh tubuhku. Aku ingin tidur. Aku ingin istirahat.
“O-oppahh…” suaraku bahkan hampir tidak keluar. Dan aku menatap mata Kyuhyun yang mendekat padaku. Wajahnya begitu tampan dalam jarak pandanganku.
“Sshhh,” sebuah kecupan kurasakan pada keningku.
“Akhirnya kau bangun,” bisiknya. “Terima kasih Tuhan.”
Wajah Kyuhyun begitu lusuh, dan begitu pucat. Tidak ada lagi wajah keras dan dingin milik Kyuhyun. Hanya wajah yang begitu lelah dan mata yang mulai menghitam oleh kantung mata.
Mataku menutup dan membuka perlahan. Semua ini membuatku lelah, namun aku ingin bertanya pada Kyuhyun.
Kenapa aku bisa ada di sini?
Berapa lama?
Dan bagaimana bayiku? Anakku?
Kyuhyun mengusap pelan rambutku, menciumi berkali-kali keningku dan aku hanya terdiam dan perlahan menutup mata. Tubuhku begitu kaku, dan aku sama sekali mati rasa.
“Aku akan memanggil Dr. Lee, Hyo-ah.” Ucapnya dan perlahan menjauh dari pandanganku.
Kosong, ada kekosongan yang begitu dalam menghantam hatiku. Sesuatu yang seakan hilang dan tidak akan bisa tergantikan begitu saja. Kemudian mataku terpejam, hanya terpejam dan aku tidak dapat membukanya lagi, begitu amat sulit dan aku menyerah dalam kegelapan.
***
LEE DONGHAE
Mataku menatap berkas catatan kesehatan Hyobin dan dengan kasar membantingnya. Kondisi Hyobin tidaklah lebih baik dari hari sebelum-sebelumnya. Kupikir dengan bertahannya kandungannya hingga umur lima bulan akan membuatnya perlahan menjadi sehat.
Namun perkiraanku sangat salah. Lee Hyobin telah di ambang batas kekuatannya menahan janin itu. Jika seandainya Lee Hyobin menggugurkan kandungannya sejak awal, kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Janin itu membunuhnya perlahan-lahan dengan kelemahannya yang tidak bisa tumbuh sempurna. Dan Lee Hyobin harus menopang bayi itu dengan kuat, sedangkan tubuhnya sendiri belum siap untuk menerima sebuah janin yang tumbuh dalam dirinya.
Tubuhnya bahkan hanya bisa terbaring lemah dan bagaikan orang lumpuh. Terlalu berat untuknya menanggung segala beban yang ia hadapi. Aku tidak buta, aku tidak tuli. Dan aku tahu apapun yang terjadi pada dirinya, tentang pernikahannya dengan Cho Kyuhyun sialan itu. Namja yang begitu ingin aku bunuh dengan tanganku sendiri.
Lee Hyobin menanggung segala kesakitan yang disebabkan namja itu. Tidak bisa kubayangkan betapa tersiksanya Hyobin dengan segala hal yang membebani fikirannya. Rasa bersalahnya pada kedua orang tuanya, yang bahkan dengan tega mengusirnya. Rasa bersalahnya pada gadis yang menjadi mantan tunangan Kyuhyun atas kehamilannya yang membuat mereka berpisah. Hyobin menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi, namun namja itu bahkan dengan tegaya kembali menjalin hubungan dengan Jung Jihyun.
Dan yang terburuk, Cho Kyuhyun bahkan tidak tahu menahu apa yang terjadi pada kandungan Hyobin.
“Dokter! Ny. Cho kembali mengalami kesakitan!” suster Yoo, membuka pintu ruanganku dengan panik. Dan seketika aku berdiri dan berlari menuju ruang rawat ICU tempat Hyobin terbaring. Ini sudah kesekian kalinya setelah seminggu Hyobin kembali di rawat di rumah sakit ini.
Kubuka pintu ruangan Hyobin dan mendapati Cho Kyuhyun tengah memeluk erat tubuh Hyobin yang menegang. Erangan kesakitan jelas terdengar dari bibir mungil Hyobin.
“Biarkan aku memeriksanya.” Instrupsiku dan meminta Kyuhyun melepas pelukannya. Matanya memerah menatap diriku.
“Selamatkan dia, kumohon.” Ucapnya serak.
Aku menatapnya sesaat kemudian berbalik mendapati bahwa Hyobin kembali mengalami pendarahan. Wajahnya begitu sepucat kertas dan air mata menetes dari matanya. Princess Hyo, apa lagi yang akan terjadi padamu?
“Hentikan pendarahannya!” perintahku dan mengambil alih tubuh Hyobin, menyuntikkan penghilang rasa sakit dan segera mengambil tindakan untuk menghentikan darahnya.
Perut buncitnya yang terlihat semakin membuatku merasa miris. Hanya demi janin itu Hyo-ah, kau mempertaruhkan nyawamu.
Ada kemungkinan yang bisa membuat Hyobin terbebas dari siksaannya. Dengan mengambil janin itu dari tubuhnya secara paksa, atau bisa dibilang abortus. Namun, Hyobin tidak akan pernah mau dan hal itu hanya akan membuatnya semakin memburuk. Tidak bisa dipastikan apa yang akan terjadi pasca abortus Hyobin akan kembali seperti semula, dan resiko terparah Lee Hyobin tidak akan pernah bisa hamil lagi seandainya abortus dijalankan.
Tapi,
Jika hal itu tidak dilakukan, berapa lama lagi Lee Hyobin akan bertahan dengan janin itu? Berapa lama lagi Lee Hyobin harus kembali merasakan kesakitan yang berulang-ulang seperti ini. Pendarahan yang terus berlanjut secara berkala, hingga membuatnya harus terus menerus menerima donor darah.
“Kita harus membujuknya agar mau melakukan abortus, Kyuhyun-ssi.” Ucapku menatap manik mata Kyuhyun yang begitu lelah. Dapat kulihat namja itu seketika terdiam kaku.
“Aku sudah mengatakan padamu, bahwa sejak awal bayi itu memang tidak seharusnya tumbuh.”
Cho Kyuhyun terdiam dengan mata menerawang. Helaan nafasnya terdengar begitu sulit dan seolah beban seketika jatuh menimpa tubuhnya.
“Janin itu mengalami kelainan kromosom, yang membuatnya tidak bisa tumbuh dengan sempurna. Lee Hyobin sejak awal tidak peduli dengan hal itu dan menolak menggugurkannya, namun bayi itu membutuhkan kekuatan ekstra agar dapat tumbuh dengan perlahan. Dan Lee Hyobin tidak bisa lebih lama lagi mempertahankannya, rahimnya masih terlalu kecil untuk menerima janin yang tumbuh dalam tubuhnya.”
“Dan segala apa yang terjadi padanya sejak janin itu tumbuh membuatnya semakin lemah. Ketakutannya, penyesalannya, dan segala rasa bersalahnya.”
Mata Cho Kyuhyun menatapku seolah aku menjatuhkan bom yang tepat ke dalam jantungnya.
“Hanya satu harapan Hyobin yang membuatnya dapat bertahan selama ini.” Pandanganku menatapnya tajam.
“Hanya demi sedikit cinta yang akan kau berikan pada bayinya kelak. Lee Hyobin percaya bahwa kau akan mencintai bayi kecil itu sekalipun harus mengorbankan nyawanya, hanya sekecil cinta Lee Hyobin melewati kesakitan seperti ini.”
Bulir air mata Cho Kyuhyun menetes perlahan, “Lalu─lalu apa yang harus di lakukan untuk menyelamatkannya? Menyelamatkan isteriku?” suaranya menyerak.
Dan perasaan muak timbul seketika dalam hatiku. Cho Kyuhyun yang arogan dan tidak peduli sama sekali pada Hyobin tiba-tiba menjadi begitu cengeng. Kemana dia selama ini? Kemana dia saat Lee Hyobin begitu kesakitan? Dan sekarang ia muncul dengan mudahnya menangis, dan menanyakan ‘Bagaimana menyelamatkannya’. Bahkan ia menyebut Lee Hyobin isteriku!
“Bujuk Lee Hyobin untuk menggugurkan bayinya.” Ucapku sedatar mungkin. Dan aku bagaikan menembakkan bom ku yang kedua.
“A-apa?”
***
LEE HYOBIN
Rasa letih, tak bertenaga begitu aku rasakan saat mataku membuka. Ingatan saat aku tersenyum mendengar lelucon yang dilontarkan Kyuhyun sebelum serangan rasa sakit itu menghantamku masih begitu terasa begitu jelas. Mataku mengedar dan mendapati Kyuhyun tengah membaringkan kepalanya telungkup disamping tempat tidurku. Jemari tanganku yang tidak di pasangi infus berada dalam genggamannya.
Sangat ingin, begitu ingin aku mengusapkan jemariku di helaian rambutnya yang begitu lembut. Mengusapnya berharap dapat meredakan keresahannya karena kondisiku. Cho Kyuhyun begitu khawatir dan terlihat begitu tertekan atas keadaan yang kualami. Aku tidak ingin ia jatuh sakit, dan aku tidak ingin menjadi beban lagi baginya.
Kepala Kyuhyun bergerak pelan sebelum akhirnya terangkat dan matanya menatap diriku lelah, kantung matanya begitu terlihat dan Kyuhyun seakan sepuluh tahun lebih tua dari usianya yang sebenarnya.
“Kau bangun?” suara seraknya terdengar. Tangannya terlepas dan bergerak naik mengusap pelipisku. “Bagaimana perasaanmu?”
Aku berkedip seakan ingin menjawab. Namun aku tidak bisa bicara dengan lancar, seakan tubuhku hanya menjadi tulang belulang yang tidak berguna, dan yang bisa kulakukan hanya tersenyum.
Aku tidak apa-apa.
“Ini masih jam dua pagi, kembalilah beristirahat.” Lirihnya. Tangannya masih mengusap pelan pelipisku, melarikan jemarinya yang hangat agar membuatku nyaman. Inilah yang kusuka dari Kyuhyun, ia tahu bahwa aku begitu menyukai sentuhan-sentuhan lembut darinya.
Aku menggeleng pelan, “Ahhn-nnhii…” begitu sulit hanya untuk mengeluarkan suara.
“Baiklah, aku akan menemanimu.” Kyuhyun tersenyum dan menatapku dengan begitu lembut.
Beberapa menit kami hanya saling menatap. Aku yang mengamati bagaimana wajah Kyuhyun, mengingatnya dengan seksama, merekamnya dalam memoriku agar aku tidak akan pernah melupakannya. Cintaku.
Hanya Kyuhyun yang sekarang memenuhi hatiku. Tidak akan ada yang lain, sekalipun Lee Donghae telah kembali, pangeranku telah kembali. Namun, hanya Kyuhyunlah yang diinginkan hatiku. Dan aku tidak bisa mengingkari semua itu. Bayi ini. Bayiku dan Kyuhyun lah menjadi bukti nyata cintaku padanya, aku akan membuatnya lahir untuk Kyuhyun. Aku akan mempertemukan mereka.
“Hyo-ah,” panggil Kyuhyun dengan pelan. Raut wajahnya menatapku dalam, dan sesuatu telah menghilangkan pandangan hangatnya.
“Kenapa?” tanyanya lagi, tanpa ada penjelasan hingga hanya membuatku menatapnya bingun.
Pandangan Kyuhyun turun begitu pula dengan jemarinya, turun dan menyentuh perutku yang terlihat menonjol di balik selimut rumah sakit.
“Kenapa kau begitu bodoh menyembunyikannya, Hyo-ah?” suara Kyuhyun terdengar putus asa. Tangan Kyuhyun bergerak mengusap-usap lembut perutku yang menimbulkan getaran menyenangkan dalam diriku. Untuk pertama kalinya Kyuhyun menyentuh perutku!
“Aku tidak tahu apa yang harus aku putuskan setelah ini, Hyo-ah. Dokter Lee membuat pilihan yang begitu sulit untuk ku ambil.”
Kyuhyun sudah tahu. Kyuhyun sudah tahu dengan apa yang terjadi pada kandunganku.
Kepala Kyuhyun menoleh dan matanya menatapku, “Apakah memang seharusnya bayi ini tidak pernah ada, Hyo-ah?”
Deg!
Sentakan berasal dari jantungku datang begitu mendadak. Mataku menatap tak percaya Kyuhyun. Dalam sekejap Kyuhyun bertransformasi menjadi malaikat yang seolah di turunkan untuk melindungiku, namun dalam sekejap pula Kyuhyun bagaikan monster yang menyamar menjadi malaikat.
Atau memang sejak awal Kyuhyun memang bukan malaikat untukku.
“Bayi ini tidak bisa tumbuh sempurna karena kelainan kromosom Hyo-ah, dan kau menyembunyikannya dariku selama ini. Bayi ini─memang tidak seharusnya tumbuh.”
Air mata menggenang di pelupuk mataku, nafasku terengah dan menguap dalam masker oksigen. Kyuhyun kembali menjatuhkanku yang sesaat terbang begitu tinggi.
“Kenapa kau mempertahankannya, Hyo-ah?” lirihnya. Dan kalimat itu bagaikan mengiris perlahan jantungku.
Karena aku mencintaimu!
Aku menangis diam, butiran air mata menetes dari kedua sisi mataku. Aku ingin berteriak agar Kyuhyun tidak melanjutkan kalimat-kalimat yang mungkin akan didengar oleh bayiku. Kalimat bahwa Kyuhyun tidak menginginkannya.
“Dokter Lee mengatakan bahwa kau seharusnya melakukan abortus sejak awal. Kenapa kau tidak melakukannya, Hyo-ah?” Kyuhyun menatap air mataku yang menetese, mengusapnya perlahan namun percuma, air mataku bagaikan sungai yang mengalir. “Kau hanya memperjuangkan hal yang sia-sia.”
Nafasku terengah dan aku seolah kehilangan oksigenku. Tubuhku bergetar dan aku hanya menangis menatapnya tak percaya. Apa yang sebenarnya yang Kyuhyun inginkan? Kenapa ia mengatakan hal semacam itu? Apakah Kyuhyun ingin mengatakan hal sama yang dikatakan semua orang?
Aku harus merelakan bayiku?
Perjuangan yang sia-sia? Apakah semuanya percuma, Kyuhyun-ah? Apakah bayi ini─ataukah aku memang tidak ada artinya untukmu, meski hanya setitik embun?
“Maaf─” suara Kyuhyun terdengar lirih hampir berbisik. “Maaf membuatmu seperti ini. Seharusnya─kita memang tidak pernah bertemu.”
Jantungku seolah terlempar keluar dari tubuhku. Dan nyeri itu datang lagi─meremas dengan begitu kuat seolah-olah aku mendapatkan sebuah karma atas apa yang kuperbuat selama ini. Ingatan segala rasa bersalah menyergap otakku, segala yang aku perbuat memang suatu kesalahan fatal yang kulakukan dalam hidupku.
Jemariku meremas kuat seprei dan aku hanya bisa menangis. Menahan segala kesakitan yang menyerang perutku─dan hatiku. Harapanku seolah musnah dan hilang dalam sekejap mata. Mataku menatap langit-langit yang putih seolah aku ingin mencapainya, terbang dengan begitu tinggi dan menghilang dari segala rasa sakit.
“Aku akan memanggil dokter,” suara Kyuhyun bergetar dan bibirnya mencium pelipisku, bibirnya yang terasa basah. Mungkinkah karena air mataku?
Rasa sakit yang kualami seakan semakin kuat dan aku tidak berteriak. Aku hanya menangis dalam diam meremas seprei dengan sangat kuat. Apakah berguna jika aku berteriak? Apakah dengan berteriak aku akan melepas segalanya? Rasa sakit yang kualami menghilang.
“Aaeg-gihh….” bisikku terengah.
Haruskah kita pergi dari Appa? Setelah apa yang appa katakan, haruskah kita menyusul halmeoni dan haraboejimu? Kita berdua? Pergi dari rasa sakit? Tidakkah kau ingin bertemu dengan appa?
Segalanya memburam saat aku tidak bisa lagi mentolerir rasa sakitku. Tidak ada yang datang. Tidak ada suara saat pandanganku pada langit-langit putih perlahan memburam dan perlahan menggelap. Hanya kesunyian─dan aku berharap bahwa inilah akhir yang aku jalani. Aku dan bayiku.
Tidak akan lagi ada rasa sakit saat aku terbangun─dan aku tidak ingin terbangun lagi. Segala harapan yang menjadi penerangku menghilang, dan aku tidak tau akan menuju kemana. Aku dan bayiku─akan meninggalkan semuanya.
Meninggalkan Kyuhyun.
Meninggalkan Lee Donghae.
Meninggalkan apa yang telah membuatku merasakan segala kegembiraan, kesenangan dan rasa sakit di dunia ini.
Aku─akan pergi.
Bersama bayiku. Bersama setitik cinta yang diberikan Kyuhyun padaku. Anakku.
Selamat tinggal Kyuhyun-ah…
Selamat tinggal Cho appa…
Karena kebahagiaan yang diinginkan Kyuhyun bukanlah diriku. Dan aku─tidak memiliki siapapun lagi.
***
To Be Continue♥

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: