Story About The Second Wife Part 6

0
Story About The Second Wife Part 6 ff nc cho kyuhyun super junior
Author: everydreamscometrue
Tittle: Story About The Second Wife 6
Category: romance, married life, yadong, NC21, chapter
Cast:
Cho Kyuhyun
Jun Hannie (oc)
Kim Raena
Keesokan harinya
“Baiklah aku berangkat dulu. Kalian baik-baik di rumah.” Kata Kyuhyun berpamitan pada kedua istrinya. 2 wanita cantik itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan setelah mendapat sebuah kecupan di kening masing-masing.
“Hati-hati di jalan.” Kata keduanya bersamaan.

Raena maju selangkah di depan Hannie dan berkata “Oh iya jangan telat makan siang. Atau kau mau dibawakan makan siang? Mungkin kau sudah bosan makan di restoran langgananmu. Kami bisa buatkan makan siang untukmu.” Tawarnya.
“Tidak usah. Hari ini aku ada janji makan siang dengan Siwon hyung sekalian ada yang ingin kami bahas.” Sahut Kyuhyun sambil tersenyum.
“Oh ya sudah. Selamat bekerja.” Kata Raena lagi.
Sementara Hannie yang berdiri di belakang Raena hanya diam saja. Dia tidak berkomentar apa-apa. Setelah kejadian kemarin dia memilih menahan diri untuk tidak ikut memberi perhatian pada Kyuhyun. Kecuali diminta Kyuhyun atau Raena. Seperti tadi saat pria itu kembali memintanya mengantar sampai pintu depan. Walau sempat ragu tapi ketika madunya itu terlihat lebih bersahabat jika dibandingkan kemarin bahkan ikut mengajaknya, akhirnya Hannie ikut saja. Setidaknya gadis itu sedikit lega kalau masalah kemarin tidak mengakibatkan perang dingin antara keduanya.
“Eh Kyu-aa tunggu sebentar.” Tiba-tiba suara Raena memecah keheningan, menghentikan langkah Kyuhyun yang sedang menuju mobilnya dimana Lee ahjussi sudah berdiri menunggu di samping pintu belakang mobil. Hannie pun refleks mendongak, penasaran ada apa tiba-tiba wanita itu memanggil suami mereka.
“Ada apa?” Tanya Kyuhyun setelah membalikan badannya dan menatap istri pertamanya dengan wajah bingung.
“Kemari sebentar.” Bukannya menjawab Raena malah meminta Kyuhyun mendatangi tempatnya sambil menggerakan jari menegaskan permintaannya tadi. Pria itu mengalah dan mendatangi istrinya.
“Hannie-aa.” Raena tiba-tiba menoleh pada Hannie. “Menurutmu apa bagian sini ada perlu dirapikan?” Tanyanya lagi sambil tersenyum manis dengan tangan bergerak dari atas ke bawah menunjuk bagian depan tubuh Kyuhyun tanpa menyentuhnya, sementara pria itu hanya tersenyum menanti pendapat istri ke-2 nya.
“Eh?” Hannie hanya melongo. Bingung dengan sikap Raena yang tiba-tiba saja minta pendapatnya soal penampilan Kyuhyun. Tidak biasanya.
Namun meski bingung, Hannie tetap mengarahkan telunjuknya pada dasi Kyuhyun. Bukan karena dasi itu kurang rapi seperti kemarin atau ada yang salah. Hanya saja saat seminggu kemarin gadis itu biasa merapikan kembali dasi itu setiap sebelum suami mereka berangkat, terlepas apakah dasinya memang belum atau sudah rapi. Dia tetap melakukan hal itu hanya ingin memastikan kesempurnaan pekerjaannya saja.
“Ini?” Tunjuk Raena pada dasi Kyuhyun dan langsung diangguki Hannie.
“Uhm kalau begitu bisa tolong bantu rapikan?” Pinta Raena lagi.
Hannie memandang Raena dengan tatapan bingung. Apa dia tidak salah dengar? Wanita itu minta bantuannya? Dengan suara yang ramah ditambah bibirnya yang tersenyum tulus? Lagi-lagi ini di luar kebiasaan. Biasanya untuk urusan mengurus keperluan Kyuhyun Raena lah yang mendominasi. Tapi sekarang tiba-tiba saja wanita itu mau berbagi, bekerja sama dengan madunya untuk bersama-sama mengurus suami mereka walau hanya sebatas merapikan dasi. Ada apa dengannya? Apa bermain game seharian kemarin membuat otaknya konslet hingga melakukan sesuatu di luar kebiasaan? Ah Hannie jadi bingung sendiri dengan perubahan mendadak ini.
“Hannie-aa.” Panggil Raena lagi karena Hannie tidak juga bergerak.
“Oh eh i-iya maaf.” Hannie langsung tersadar dari pikiran tidak tentunya dan langsung berjalan mendekati Kyuhyun untuk melakukan tugasnya. Pria itu segera membungkukan badannya agar istri ke-2 nya ini bisa mencapai dasinya.
“Sudah.” Kata Hannie sambil tersenyum. Tidak butuh waktu lama karena memang dasi itu sudah rapi. Gadis itu hanya bermaksud memastikan. Kyuhyun kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum manis pada Hannie.
“Terima kasih.” Suara Kyuhyun yang bak coklat meleleh langsung mengena ke hati Hannie, membuat gadis itu salah tingkah dan hanya membalas ucapan itu dengan anggukan.
Sementara Raena merapikan bagian belakang jas dan kerah kemeja Kyuhyun, lalu dia menyuruh pria itu berputar hingga memunggungi Hannie.
“Kalau yang ini sudah rapi kan?” Tunjuk wanita itu lagi pada punggung Kyuhyun. Hannie hanya mengacungkan 2 jempol sambil tersenyum.
“Baiklah. Kau bisa pergi. Kau sudah tampan seutuhnya sekarang. Eit awas jangan coba-coba genit di luaran sana.” Kata Raena menepuk pelan pundak Kyuhyun.
“Siap boss.” Sahut Kyuhyun lalu mereka bertiga tertawa bersama.
Kyuhyun kembali memutar tubuhnya dan memandang ke arah Hannie sambil melempar sebuah senyuman yang menurut gadis itu, entah karena dia yang sedang tergila-gila atau senyum suami mereka memang mempesona dari sananya, adalah senyuman dari makhluk bernama pria yang paling indah yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya di dunia. Yah katakanlah Hannie berlebihan. Bagi orang yang tidak pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Bukankah dimata orang yang sedang jatuh cinta yang biasa jadi luar biasa? Apalagi yang sudah luar biasa dari sananya seperti Kyuhyun.
“Baiklah aku pergi dulu.” Pamit Kyuhyun sekali lagi pada kedua istrinya lalu berjalan menuju mobilnya. Setelah pria itu masuk mobil, Lee ahjussi menutup pintu mobil dan membungkuk hormat kepada Raena dan Hannie sebelum masuk mobil dan menyetirnya membawa tuan mudanya pergi ke tempatnya bekerja.
Setelah mobil Kyuhyun menghilang dari pandangan, Raena kembali ke sisi Hannie, yang masih mematung di tempatnya berdiri dengan mata yang masih memandangi arah mobil suami merela pergi, sambil memeluk bahu gadis itu dengan sebelah lengannya.
“Ayo kita masuk.” Ajak Raena sumringah.
“Uhm.” Hannie memandang kepada Raena dan menganggukan kepalanya tanda setuju. Lalu mereka berdua pun berjalan ke dalam rumah besar itu.
********
Di teras samping rumah yang cukup luas. Tampak kedua wanita cantik, yang sama-sama menyandang status sebagai istri Cho Kyuhyun, berada di sana. Masing-masing duduk di atas matras berwarna dengan posisi mereka saling bersebelahan, melakukan gerakan-gerakan seperti yang terlihat pada layar laptop yang menayangkan sejumlah instruksi-instruksi gerakan yoga. Diiringi dengan musik lembut yang menenangkan. Teras samping ini benar-benar tempat yang strategis untuk melakukan yoga. Tempat yang luas dengan hamparan taman bunga dan pohon-pohon.
Hannie sering merasa heran. Rumah ini sangat besar. Dengan banyak kamar dan ruangan yang luas. Dilengkapi kolam renang di halaman belakang. Sementara halamannya luas dan di tumbuhi berbagai macam bunga, tanaman hias dan pohon. Taman ini juga dilengkapi dengan alat yang akan menyemprotkan air yang menyebar ke seluruh tanaman setiap beberapa jam sekali. Kyuhyun bahkan khusus membayar orang untuk merawat taman ini. Orang itu datang setiap hari, kecuali hari minggu, pagi-pagi sekali dan pulang paling lambat pukul 9 pagi setelah selesai dengan tugasnya. Lalu untuk apa rumah yang semegah istana kerajaan ini kalau penghuninya hanya ada beberapa orang? Hannie bertiga dengan orang tuanya saja bisa muat tinggal di rumah mungil sederhana yang tentu saja perbandingannya sangat jauh dari kemegahan rumah ini.
‘Orang kaya memang aneh. Suka sekali tinggal di rumah yang megah semegah-megahnya padahal penghuninya paling-paling berdua, 3 atau paling banyak 4 dengan anak-anaknya. Itu juga kalau anak-anaknya sudah besar akan sibuk dengan urusan masing-masing.  Rumah sebesar ini pasti sepi. Paling-paling yang sering tinggal di rumah ini malah para pelayan sementara para penghuninya lebih sering tidur di luar. Ah benar-benar sayang sekali.’ Itu yang sering Hannie pikirkan tentang rumah ini.
Setelah kurang lebih 90 menit melakukan yoga dari pemanasan, gerakan inti hingga pendinginan, kini mereka sedang berada dalam tahap akhir sesi pendinginan. Mereka sekarang dalam posisi seperti orang bermeditasi.
Setelah malam tadi Raena sempat mendapat serangan sakit kepala akibat bermain game seharian, tadi pagi wanita itu keluar kamar bersama Kyuhyun dalam keadaan segar bugar. Rupanya efek aspirin yang diminumnya tadi malam cukup manjur. Buktinya sekarang dia terlihat sehat seperti biasanya. Bahkan sekarang malah mengajak Hannie latihan yoga bersama. Seolah tidak pernah ada masalah diantara mereka. Atau mungkin memang tidak ada masalah diantara mereka? Mungkin hanya Hannie yang terlalu paranoid mengira sikap Raena kemarin yang mengurung diri seharian di kamar dan memilih bermain game sebagai bentuk kecemburuannya pada madunya.
Sikap Raena yang suka berubah-ubah sesukanya membuat Hannie sering kewalahan mengikutinya. Sejak awal datang ke rumah ini dia sudah dihadapkan pada ketidak stabilan sikap wanita itu. Dimulai dari kerelaan Raena untuk berbagi suami tapi nyatanya Kyuhyun baru bisa berduaan dengan istri ke-2 nya jika wanita itu sudah tertidur walau di malam giliran Hannie. Lalu sikap Raena yang bersahabat dengan madunya hanya ketika tidak ada Kyuhyun, tapi begitu suami mereka hadir di tengah-tengah mereka, kedua wanita itu malah terlihat seperti saling menjaga jarak dan wanita itulah yang paling memonopoli suami mereka sementara Hannie hanya bisa jadi penonton. Atau Raena yang sebentar terlihat marah pada madunya itu tapi kemudian malah berdamai dengan sendirinya seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada penjelasan. Gadis itu jadi lelah sendiri mengikuti ritme perubahan sikap Raena. Entah apa maunya wanita itu?
Seperti kemarin. Raena terlihat tidak senang saat Hannie memperbaiki dasi Kyuhyun. Wanita itu mengurung diri seharian di kamar katanya bermain game, entah benar-benar suka atau hanya sekedar melampiaskan kemarahan. Lalu tiba-tiba menguasai dapur, mengganti menu makan malam. Tadinya Hannie sempat khawatir jangan-jangan ini awal perang dingin antara mereka berdua. Meski malam harinya saat Raena yang terserang sakit kepala tidak menolak bantuan madunya tapi dia tahu kalau wanita itu memanfaatkan sakitnya untuk menahan Kyuhyun agar tetap di kamarnya. Seolah ingin menunjukan bahwa pria itu masih menempatkan istri pertamanya sebagai prioritas. Membuat Hannie mengingatkan dirinya untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang memicu kecemburuan istri pertama suaminya. Mencoba menahan diri dan menjaga sikap jika di hadapan wanita itu. Tapi itu kemarin hingga malam tadi. Hari ini malah terjadi sebaliknya. Tiba-tiba saja Raena mengajaknya ikut mengantar Kyuhyun ke depan. Meminta bantuannya merapikan penampilan pria itu dan sekarang malah mengajaknya latihan yoga bersama seperti yang biasa mereka lakukan, seolah yang kemarin itu terlupakan begitu saja. Menjadi yang ke-2 memang membuat Hannie harus memiliki tabungan ekstra kesabaran dan pengertian.
Hannie harus mengerti kondisi Raena yang juga berpengaruh pada psikologisnya. Pernah kehilangan janin yang dikandungnya yang entah siapa ayahnya dan bagaimana hingga wanita bisa mengandung anak itu, sampai sekarang masih misteri. Kondisi dimana kecelakaan fatal itu tidak hanya merenggut janinnya tapi juga kesempatan untuk menjadi ibu selamanya. Belum lagi dengan fakta pasca kecelakaan itu Raena juga mengalami rasa sakit setiap melakukan aktifitas seksual. Tapi untuk masalah terakhir sepertinya bukan masalah permanen. Yang Hannie tahu madunya itu masih rutin melakukan terapi dan olahraga untuk menyembuhkan masalahnya itu. Entah gadis itu harus senang atau sedih jika ternyata suatu saat wanita itu berhasil sembuh. Karena jika itu terjadi membayangkan bagaimana Raena berada di bawah tubuh Kyuhyun sudah membuatnya perih. Pasti akan sangat berbeda perlakuan yang mereka terima. Jika Hannie pria itu hanya melakukannya untuk menyalurkan hasratnya sebagai laki-laki normal dan demi memperoleh keturunan tentunya, maka pada Raena itu pasti karena cinta.
Bahkan dia sudah membayangkan betapa manisnya kata-kata cinta Kyuhyun pada istri pertamanya itu saat mereka sedang dalam lingkaran gairah. Mungkin setelah wanita itu bisa melayani suami mereka dengan normal maka posisi Hannie akan semakin jelas hanya sebagai ibu dari keturunan Cho. Bahkan mungkin pria itu hanya datang ke kamarnya untuk mendapatkan anak bukan karena menyukainya. Tapi apa yang dia bisa harapkan? Bukankah dari awal Kyuhyun sudah menolak mentah-mentah ide poligami dari istri pertamanya itu. Tapi Hannie malah nekad. Salah siapa? Tentu saja ini salah dirinya yang tanpa pikir panjang menawarkan diri untuk menjadi istri ke-2. Lihat. Bahkan dia yang menawarkan diri. Hannie merasa murahan. 2 kali dia membanting harga dirinya ke level terendah. Menawarkan dirinya untuk mengobati hati Kyuhyun yang terluka saat ditinggal Raena di hari pernikahan. Berharap Kyuhyun akhirnya melihat dirinya walau akhirnya tetap saja pria itu memilih wanita yang dicintainya sejak kecil. Wanita yang meninggalkannya di hari pernikahan. Lalu dia kembali menawarkan diri untuk mengandung anak Kyuhyun. Dengan harapan lagi-lagi agar pria itu melihat dirinya bahkan mencintainya seperti mencintai Raena. Tidak apa walau harus berbagi. Tapi sepertinya harapan itu masih jauh. Setidaknya itu yang Hannie lihat sejauh ini selama menjadi istri ke-2 pria itu.
“Hannie-aa. Sudah selesai.” Suara Raena menyentak Hannie dari lamunannya. Wanita itu tahu-tahu sudah menoleh kepada Hannie.
“Ah eh benarkah?” Hannie gelagapan. Tidak menyadari kalau saat meditasi tadi sambil melamun. Raena tertawa geli. Dia lalu mematikan laptop yang sejak tadi menemani latihan yoga mereka, menutupnya, lalu memutar tubuhnya menghadap Hannie yang masih menghadap ke depan. Gadis itu ikut memutar tubuhnya hingga mereka pun saling berhadapan.
“Sepertinya kau terlalu relaks sampai nyaris ketiduran ya? Atau jangan-jangan sedang melamun? Hum melamun apa ya Hannie ku ini? Tidak sedang melamun yang mesum kan?” Goda Raena sambil menaik turunkan alisnya dan senyum jahilnya.
“Eonnie….bu-bukaaan….” Rengek Hannie sambil mengerucutkan bibirnya. Raena pun tertawa lepas. Bahunya sampai berguncang.
‘Aish. Yang benar saja. Tidak oppa tidak eonnie. Dua-duanya suka sekali mengusiliku. Benar-benar pasangan serasi.’ Sungut Hannie dalam hati. Pasangan serasi? 2 kata itu cukup menohok hatinya.
Sebenarnya tadi selain melamun dia juga nyaris ketiduran. Bukan karena tadi malam susah tidur akibat memikirkan suaminya yang sedang bersama istri pertamanya. Kalau tadi malam beruntung Hannie akhirnya bisa memejamkan mata setelah jam menunjukan pukul 12 malam dan tertidur hingga pagi. Dia tidak ikut memasak bersama Han Ahjumma. Dia turun ketika sarapan sudah siap di atas meja makan. Tapi tetap saja dia yang tiba lebih dulu di ruang makan sebelum Kyuhyun dan Raena muncul.
Tadi dia memang nyaris ketiduran karena terpengaruh suasana tenang dari teras samping ini. Membaui harumnya bunga yang sedang bermekaran, aroma daun-daun dan kayu pohon, suara gemericik air terjun kecil yang menghiasi taman di halaman ini ditambah suara instrumen musik berupa paduan instrumen seperti air mengalir dan desauan angin pada hutan bambu, yang terdengar lembut menenangkan dari laptop yang mengiringi meditasi mereka. Ketenangan ini yang mempengaruhinya hingga Hannie nyaris terbang ke alam mimpi sebelum diinterupsi Raena.
“Benar tidak sedang melamun mesum? Baguslah. Karena kalau sampai begitu maka aku tahu siapa yang harus bertanggung jawab. Siapa lagi kalau bukan si setan mesum itu? Karena di rumah ini cuma dia satu-satunya mahluk paling mesum. Ah sayang sekali kepolosanmu harus dinodai olehnya. Kau berhati-hatilah.” Kata Raena dengan wajah serius.
“Eonnie, Kyu oppa kan suami kita? Masa kita menjelek-jelekkannya?” Sahut Hannie tidak mengerti.
“Hahahahaha Hannie kau sangat polos. Aku suka itu. Hei itu tadi hanya bercanda.” Tawa Raena lagi. Hannie ikut tertawa kecil. Dalam hati dia bersyukur pikiran buruk bahwa madunya ini marah padanya akibat kelancangannya memperbaiki dasi hasil pasangan madunya itu ternyata tidak terbukti. Buktinya sekarang mereka kembali melakukan kegiatan bersama seperti sebelumnya. Bahkan sampai bercanda segala, seperti biasanya.
Sejujurnya Hannie lebih suka keadaan berjalan seperti biasanya. Seperti saat pertama kali dia datang ke rumah ini. Walau saat ada pria itu ditengah mereka berdua mereka saling diam, tapi saat tidak ada mereka berdua bisa berteman seperti tidak ada masalah diantara mereka. Menghabiskan waktu seharian tanpa Kyuhyun dengan melakukan kegiatan berdua tanpa memperdulikan status sebagai istri pertama dan istri ke-2. Daripada seperti kemarin. Sibuk masing-masing seolah saling menghindar dan ketika bersama malah terlihat bersaing. Tapi mungkin mereka adalah teman tapi bersaing. Atau saingan tapi berteman? Entahlah. Yang Hannie tekankan pada dirinya adalah dia harus tahu diri dan mampu menahan diri. Agar tidak bertindak yang bisa membuat istri pertama suaminya itu beranggapan kalau dia sedang mencari perhatian suami mereka. Apalagi Raena yang dia lihat saat dia bercinta dengan Kyuhyun juga masih meragukan, ilusi atau nyata? Kalau ilusi tak masalah, bagaimana kalau nyata? Artinya bisa jadi itu alarm perang.
“Hannie-aa. Bagaimana kalau kita sekarang pergi jalan-jalan, sekalian kita makan siang di luar.” Ajak Raena tiba-tiba.
“Memangnya eonnie ingin mengajakku kemana?” Tanya Hannie heran.
“Uhm bagaimana kalau Apgujeong dong atau Cheongdam dong? Hanya jalan-jalan saja sih. Melihat-lihat. Tapi siapa tahu ada sesuatu yang menarik yang bisa dibawa pulang. Kau bersedia menemaniku kan?” Sahut Raena. Tangannya menggenggam tangan Hannie sambil menatap seolah memohon agar madunya itu tidak menolak ajakannya.
“Baiklah. Aku juga ingin pergi keluar bersama eonnie.” Sambut Hannie antusias.
“Kalau begitu ayo kita bersiap-siaplah.” Kata Raena senang.
Hannie pun mengangguk. Mereka pun bergegas berdiri dan membereskan peralatan yang tadi mereka pakai untuk latihan yoga. Lalu masing-masing pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Di kamarnya, Hannie bersiap-siap berdandan dan memakai dress yang ada di lemari besar kamarnya ini yang menurut Raena dibelikan oleh wanita itu dan juga eommonim. Hei mana mungkin ke tempat elit sekelas Apgujeong dan Cheongdam dong dia hanya memakai baju miliknya yang sederhana sementara orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu terlihat fashionable dan stylish?
Walau sebelumnya dia juga pernah bekerja di butik Kim Hanna, eomma Kyuhyun, yang terletak di Cheongdam dong, tapi saat itu dia hanya bertugas sebagai pembuat minuman, membersihkan dan merapikan isi butik dan membantu keperluan eommonimnya saat beliau sedang sibuk membuat sketsa design pakaian di ruang pribadinya.  Itulah sebabnya ia merasa penampilannya tidak perlu semodis para pegawai yang bekerja di butik itu. Lagipula memang itu bukan gayanya. Tapi sekarang sebagai bagian dari keluarga Cho yang kaya raya, meski hanya istri ke-2, Hannie tentu juga harus memperhatikan penampilan agar tidak mempermalukan keluarga Cho khususnya Cho Kyuhyun suaminya. Sejak menikah dan menjadi bagian keluarga ini, setiap Raena mengajaknya keluar apalagi ke tempat-tempat elit, Hannie berusaha untuk lebih memperhatikan penampilannya. Namun dia juga tidak suka terlalu glamour seperti Raena. Hanya berusaha tidak terlihat terlalu biasa agar tidak bertolak belakang dengan statusnya sekarang. Biar bagaimanapun dia merasa kelas mereka berbeda jauh. Lagipula ini juga untuk menghargai usaha eomonim, Raena bahkan Kyuhyun yang bersusah payah memberikannya sejumlah besar pakaian-pakaian mahal dengan brand terkenal hingga memenuhi lemari besar itu sampai-sampai menyamai koleksi butik. Juga berbagai barang lain seperti sepatu, tas hingga perhiasan. Sayang barang-barang mahal pemberian mereka itu kalau sampai tidak dipakai.
Setelah selesai dengan persiapannya, Hannie pun turun menuju ruang tengah dimana Raena sudah menunggunya. Siap untuk menjelajah Apgujeong hingga Cheongdam dong.
*******
Cheongdam dong
Rasanya kaki Hannie seperti tidak berpijak lagi pada bumi. Kebas dan pegal. Bagaimana tidak? Sejak dari Apgujeong dong mereka menjelajahi Hyundai departement store lalu berpindah ke Galleria departemen store. Keluar masuk butik, toko dan outlet. Dari busana, tas, sepatu, asesoris, perhiasan, kosmetik, hingga farfum mereka jelajahi. Bahkan sampai toko pakaian dalam segala. Sebenarnya biasanya setiap mereka bepergian ke tempat seperti ini, mereka juga suka menjelajah dan melihat-lihat. Tapi kali ini Hannie merasa Raena berkali lipat terlalu bersemangat dibanding biasanya. Masa keluar masuk toko, butik, atau outlet yang sama lebih dari 1 kali? Yang tadi didatangi lalu ditinggalkan dan didatangi lagi. Tapi tetap saja tidak ada yang dibeli. Ada apa dengannya? Seperti orang yang sedang melampiaskan kekesalannya saja. Hannie jadi agak kewalahan mengikuti Raena kali ini.
Raena benar-benar seperti tanpa tujuan dan rencana. Hanya masuk keluar masuk dan keluar lagi, berpindah-pindah entah apa yang dicarinya. Namun meski sejak mereka datang tadi mereka menjelajah banyak butik, toko, outlet dan lainnya, mereka tidak membawa 1 belanjaan pun alias sejak tadi hanya window shopping saja. Melihat-lihat barang, bertanya-tanya pada pramuniaganya soal barang tersebut, saling berdiskusi soal barang itu kemudian berlalu tanpa membeli, pergi ke tempat yang lain dan melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya.
“Tidak ada yang menarik. Kita cari lagi yang lain.” Begitu komentar Raena setiap habis melihat-lihat.
Itu masih tidak seberapa kalau hanya sekedar melihat-lihat atau memegang-megang barang. Bahkan di beberapa butik dan toko pakaian Raena membawa beberapa dress dan pakaian ke kamar pas, mencobanya satu persatu namun ternyata dia tidak berniat membelinya. Yang lebih parah wanita itu juga mengajak Hannie ikut masuk ke kamar pas untuk minta pendapat tapi tetap saja tidak dibeli. Malah beberapa dress dan pakaian dicoba Raena justru untuk selfie bersama madunya itu. Astaga ternyata wanita kaya bisa norak juga. Tapi alasannya adalah untuk di post di akun media sosialnya untuk meminta pendapat teman-temannya. Tapi Hannie tidak tahu persis apa komentar mereka nyatanya Raena tidak membeli dress atau pakaian yang tadi dicobanya dengan berbagai alasan.
Hannie sejujurnya malu saat keluar dari kamar pas karena ditatap tajam oleh gadis-gadis pramuniaga itu. Dia jadi bertanya-tanya apakah gadis-gadis itu mengetahui apa yang diperbuat Raena di kamar pas yang selfie dengan baju-baju yang dicoba? Atau jangan- jangan mereka curiga kalau kedua wanita yang sedang mereka tatap ini habis melakukan sesuatu yang mesum di dalam kamar pas. Bukankah hal seperti itu lumrah terjadi di jaman serba terbuka ini? Ish Hannie bergidig ngeri masa iya dirinya dan Raeba sampai dikira pasangan tidak normal yang sedang berbuat mesum di kamar pas? Mereka berdua ini kan normal dan istri-istrinya Kyuhyun? Wajar saja dekat.
Hannie menghela nafas panjang. Kalau lelah tidak masalah baginya. Dia sudah terbiasa berjalan jauh. Tapi perasaan sungkan dan risih karena sejak tadi hanya keluar masuk toko tanpa membeli itu yang masalah buatnya. Tidak enak dengan para pramuniaga yang sudah direpotkan itu. Susah payah menjelaskan barang yang dijual bahkan mengambilkannya untuk dilihat eh malah tidak jadi beli. Gadis itu jadi bingung sebenarnya apa yang wanita itu cari? Atau jangan-jangan Raena mengajak Hannie kesini sebenarnya memang tanpa tujuan pasti atau rencana? Hanya untuk meredam emosi dan mengobati suasana hatinya yang buruk mungkin? Dan Hannie tahu karena apa, mengingat apa yang terjadi kemarin-kemarin, membuat gadis itu semakin merasa bersalah. Mungkin saja sikap Raena yang kembali baik bukan jaminan masalah sudah selesai. Karena itu dia memutuskan untuk terus mengikuti keinginan istri pertama Kyuhyun itu tanpa banyak komentar.
Hannie hanya menatap Raena yang sedang sibuk melihat-lihat dan berdiskusi soal produk dan item terbaru dengan salah satu pramuniaga. Mereka sudah menyeberang ke Cheongdamdong dan saat ini berada di Louis Vuitton store, salah satu brand ternama dari Paris, Perancis yang terkenal dengan produk tas wanita berbahan kulit asli yang mewah dan berkelas serta harga yang cukup menguras dompet. Walau LV sendiri produknya tidak melulu tas. Ada juga dompet, sepatu, ikat pinggang dan juga produk lain.
Tapi ngomong-ngomong tempat ini tadi sudah mereka datangi sebelumnya lalu keluar tanpa membeli apa-apa tapi sekarang malah kembali didatangi. Benar-benar. Sementara Raena sibuk dengan pramuniaga itu, Hannie memilih duduk-duduk di bangku di sudut ruangan butik. Gadis itu merasa perlu mengistirahatkan kakinya yang lelah karena sejak dari Apgujeong hingga Cheongdam dong ini entah sudah berapa jam berjalan kesana kemari. Karena setelah ini mungkin mereka akan kembali berjalan. Untung dia memakai flat shoes. Dia sengaja memakainya karena dia yakin menemani Raena berbelanja berarti harus banyak berjalan. Dan itu terbukti.
Tidak seperti di Apgujeong dimana Raena memanfaatkan fasilitas tempat parkir yang disediakan mall yang mereka datangi, di Cheongdam dong ini dia menitipkan mobilnya di parkiran milik kantor SMent. Katanya biar tidak repot keluar masuk parkiran selain juga untuk menghemat biaya parkir karena pimpinan SMent kenal baik dengan keluarga Kim dan keluarga Cho jadi mobilnya bisa parkir gratis fasilitas parkiran milik kantor salah 1 manajemen artis terbesar di Korea itu. Yah orang kaya saling nepotisme itu biasa. Sedangkan menjelajah toko dan butik mereka lakukan dengan jalan kaki.
Hannie menghembuskan nafasnya kuat-kuat dan berharap saat keluar dari sini ada yang Raena bawa. Tas, sepatu, dompet atau apa sajalah. Jadi setidaknya perhentian mereka yang cukup lama di sini membawa hasil. Yang benar saja kalau lagi-lagi hanya keluar dengan tangan kosong. Tempat ini kan tadi sudah mereka datangi sebelumnya? Dan lebih bersukur lagi kalau Raena merasakan lapar seperti Hannie karena sepertinya waktu makan siang sudah terlewat. Mungkin wanita itu akan mempertimbangkan mengajaknya makan dan minum di restoran atau caffe.
“Annyeong Hannie-ssi.” Suara berat dan seksi milik seorang pria menyapa telinga Hannie dari samping kirinya. Refleks gadis itu menoleh ke sumber suara dan menemukan sesosok pria dengan tinggi menjulang, berwajah campuran barat-oriental, rambut hitam yang di gel sehingga terlihat kaku seolah hukum gravitasi menjadi tidak berlaku terhadap rambutnya, dengan senyum paling manis sekaligus seksi secara bersamaan.
“TUAN WU! Apa kabar? Anda sedang apa di sini?” Hannie langsung berdiri dan menyapanya dengan antusias. Pria yang disapa itu hanya terkekeh lembut.
“Tidak usah pakai bahasa yang terlalu formal. Rasanya jadi aneh. Dan panggil aku Yifan saja atau nama baratku, Kris. Orang-orang memang lebih umum memanggilku Kris. Dipanggil tuan Wu aku jadi merasa tua. Jadi seperti bapak-bapak usia 40an ke atas. Padahal usia kita kan jaraknya tidak jauh beda? Dan bahasa formal yang kau tujukan padaku sejujurnya membuatku risih. Aku jadi seperti di kantorku dimana pegawaiku juga berbahasa formal karena aku atasan mereka. Tapi aku kan bukan boss mu dan kau juga bukan pegawaiku. Dan aku juga berharap kau tidak menganggapku sebagai orang asing sehingga kau perlu berbahasa formal walau kita baru bertemu 1 kali di kantor suamimu. Karena aku berharap saat bertemu lagi denganmu kita bisa lebih akrab dan berteman.” Kata Kris bukannya menjawab pertanyaan Hannie barusan malah menyuarakan keberatannya saat gadis itu memanggilnya ‘tuan Wu’ dan berbahasa formal.
“Ah maaf tuan eh maksudku Yifan-ssi. Eh Kris.” Hannie jadi salah tingkah, merasa tidak enak dengan kesalahan yang baru dia lakukan tadi.
“Never mind. Tidak apa-apa. Untuk selanjutnya kau bisa memanggilku dengan nama saja dan cukup bicara dengan bahasa yang santai. Setuju?” Kata Kris lembut dengan bibirnya yang tetap dihiasi senyum manis yang menggoda. Hannie mengangguk sambil tersenyum malu-malu karena tadi sempat membuat pria di hadapannya ini merasa tidak nyaman.
“Baiklah tadi kau bertanya kabarku. Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat. Dan aku kemari karena mencari sesuatu. Lebih tepatnya mencari kado ulang tahun untuk seorang wanita pecinta fashion terutama yang dari brand ternama dunia. Eit jangan berprangka macam-macam dulu. She’s my mom yang mengancamku akan memecatku jadi anak jika aku tidak memberikannya kado spesial untuk ulang tahunnya. Sebenarnya ulang tahunnya sudah lewat. Mommy juga hanya merayakannya berdua makan malam romantis dengan daddy. Tapi bukan berarti aku bisa selamat dari kewajiban memberi kado. Sejak 2 hari yang lalu dia selalu menanyakan via telpon, kapan aku akan memberikan kado untuknya? Aku tidak ada di sampingnya saat dia ulang tahun dan hanya mengucapkan selamat ulang tahun via video chat dia tidak masalah. Mommy mengerti kalau aku sangat sibuk. Tapi mommy yakin aku masih punya waktu luang untuk membelikannya kado ulang tahun. Ini memang pertama kalinya aku harus menentukan sendiri kado apa yang akan kuberikan untuk mom. Biasanya dad akan ikut membantuku. Tapi kali ini aku harus berusaha sendiri. Dan mom berharap aku benar-benar mengerahkan kemampuanku untuk memikirkan kira-kira apa yang bisa dan sesuai yang bisa kuberikan sebagai kado untuk hari spesial mom yang sudah lewat itu. Haahh…wanita memang menyeramkan kalau ada maunya. Bahkan meski itu mommy mu sendiri.” Kris menjelaskan sambil memasang wajah seolah sedang teraniaya hingga Hannie tidak bisa menahan tawanya. Gadis itu tergelak geli sambil memukul pelan lengan Kris yang terasa keras.
“Hush tidak boleh begitu dengan eommamu. Lagipula memangnya dia serius akan memecatmu jadi anaknya hanya gara-gara tidak diberikan kado ulang tahunnya? Kau ini ada-ada saja.” Protes Hannie sambil memanyunkan bibirnya.
“Hahaha maaf tadi itu hanya bercanda. Untuk membuatmu tertawa. Entah kenapa sejak pertama kali melihatmu aku suka melihat senyummu. Dan aku jadi berpikir untuk membuatmu tertawa sekalian meski dengan joke konyolku. Dan aku berhasil. Tapi soal mommy yang menelponku minta kado ulang tahun itu benar-benar nyata.” Seloroh Kris sambil mengedipkan sebelah matanya jahil. Hannie lagi-lagi hanya tersenyum malu.
“Ish Kris.” Kata Hannie salah tingkah. Pria ini benar-benar tahu bagaimana cara membuat perempuan salah tingkah dan melayang. Pantas saja Kyuhyun mengatakan kalau Kris seorang playboy yang sering terlibat affair dengan sejumlah wanita. Bahkan suaminya memperingatkannya untuk tidak bicara, berdekatan apalagi sampai memiliki hubungan dengan pria tampan ini.
“Ekhem.” Suara deheman Kris menyentak Hannie yang pikirannya sempat dipenuhi oleh hal tentang pria itu dan larangan suaminya.
“Kalau boleh tahu kau juga sedang apa disini? Mencari sesuatu juga? Mungkin kita bisa sama-sama. Jadi aku punya teman yang bisa diajak diskusi selain pramuniaga itu.” Tanya Kris lembut.
“Ah itu aku…..” Belum sempat Hannie menyelesaikan kalimatnya sebagai jawaban pertanyaan Kris tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil nya.
“Hannie-aa.”
Refleks Hannie menoleh ke arah suara tersebut dan tampak Raena yang sedang berjalan tergesa-gesa ke arah dimana dia dan Kris berdiri. Di tangannya tampak sedang menenteng sesuatu. Sebuah bungkusan. Tepatnya sebuah paper bag mewah bertuliskan inisial 2 huruf “LV” yang saling bertindihan dan di bawah inisial tersebut ada tulisan “Louis Vuitton” yang tampak jelas. Membawa paper bag dari branded terkenal yang sudah mendunia sejenis LV ini pasti akan mengundang kekaguman orang yang melihatnya. Dipastikan yang membawa paper bag seperti itu adalah orang yang baru membelanjakan uangnya dengan jumlah besar. Karena brand seperti LV kan memang hanya memiliki barang berkelas dengan harga yang bisa membuat orang-orang seperti Hannie pusing 7 keliling dan mulai menghitung harga 1 item dari LV mungkin bisa membeli beberapa barang sejenis yang tentu saja bukan barang brand dunia. Tapi yang penting kan fungsinya bukan merknya? Atau membeli barang brand dunia tapi bekas dengan harga lebih miring yang dijual beberapa toko di Rodeo Street. Seperti di toko O’ore misalnya yang rutin memasok barang secondhand dari Italy yang harganya bahkan bisa lebih hemat hingga 70% daripada barang keluaran terbarunya. Bahkan di toko-toko di sudut Rodeo Street juga menjual barang-barang brand terkenal versi imitasinya. Cocok bagi yang ingin tetap bergaya dengan barang branded terkenal namun ingin harga yang lebih miring walau bukan barang aslinya. Perbandingan yang sangat jauh tentu saja. Tapi wanita kaya macam Raena mana mau barang secondhand apalagi barang imitasi. Kecuali barang secondhand yang memang langka dan nilai jualnya tinggi. Misalnya seperti Tas Hermes Himalayan Chrocodillus Sac Birkin yang fenomenal itu. Tentu saja kalau barang secondhand langka berharga mahal seperti tas jenis itu biasanya hanya bisa didapat secara lelang atau dijual secara pribadi bukan di toko.
Melihat Raena menenteng 2 paper bag membuat Hannie menarik nafas lega. Akhirnya ada juga sesuatu yang wanita itu bawa keluar setelah bolak balik keluar masuk toko, outlet bahkan butik. Walau dilihat dari jumlahnya sebenarnya kurang sebanding dengan penjelajahan mereka. Berjam-jam keluar masuk sejumlah toko, butik, outlet dari Apgujeong hingga Cheongdamdong hanya untuk 2 barang itu. Hannie hanya bisa meringis dalam hati.
Dari besarnya bungkusan yang Raena tenteng, Hannie menduga sepertinya paper bag yang berisi kotak adalah sepatu. High heels tentu saja. Wanita itu pecinta high heels. Stiletto, wedges, pump shoes dan entah apa lagi yang penting high heels. Minimal tinggi heelsnya harus 7 senti. Padahal dia kan sudah tinggi begitu? Saat ini saja dia memakai wedges 10 senti dan baik-baik saja meski sudah banyak berjalan. Hannie yang pakai flat shoes malah nyaris terkapar karena kakinya pegal semua. Sementara paper bag yang satunya lagi mungkin tas.
“Hannie-aa. Aku sudah selesai. Lihat apa yang kudapat. Sepatu LV dan heelsnya setinggi 12cm. Benar-benar terlihat cantik di kakiku ini. Cocok untuk ke acara pesta. Dan tas ini juga keren, terlihat simple tapi elegan dan bergaya. Bagus untuk dipakai ke kantor. Ini semua keluaran terbaru dan edisi terbatas. Ah beruntungnya aku. Eh untung saja kita kembali kemari tadi.” Raena terus mengoceh memamerkan paper bag yang ditentengnya.
Ocehan wanita itu hanya ditanggapi dengan senyum oleh Hannie. Dia tidak terlalu perduli dengan apa yang dibeli Raena dan spesifikasi barang yang dibeli, yang penting sekarang mudah-mudahan wanita itu puas dengan hasil ‘perburuannya’ itu dan berhenti mengajaknya berkeliling.
Selesai memamerkan paper bag di tangannya, lalu kemudian Raena melirik ke samping Hannie dimana Kris berdiri tetap dengan senyum kharismatiknya. Mata indahnya menatap tajam mahluk jangkung rupawan itu.
“Kalau aku tidak salah ingat kau ini Wu Yifan aka Kris Wu wakil dari perusahaan Cina-Canada Harvest Corp. kan?” Raena bertanya menyelidik pada pria itu.
“Annyeong. Wu Yifan aka Kris Wu imnida. Benar yang anda katakan. Saya memang wakil dari Harvest Corp. Tepatnya CEO nya yang sekarang adalah Mr. Daniel Wu, my stepfather dan saya adalah wakil CEO Harvest Corp dan sebentar lagi dicanangkan akan menggantikan beliau sebagai CEO Harvest Corp. Dan anda pasti Kim Raena istri pertama Mr. Cho Kyuhyun.Salam kenal.” Kris membungkukan badannya dengan hormat. Tampak Raena agak sedikit tersentak saat pria itu menyinggung statusnya yang sebagai istri pertama Kyuhyun.
“Ah kau tahu tentang masalah itu ya. Tapi itu memang bukan sebuah rahasia walau hal itu juga tidak kami sebar luaskan pada publik. Wajar saja kalau kau tahu. Kau tampak akrab dengan Hannie-aa. Apa kalian berteman? Teman kuliah atau teman sekolah atau teman masa kecil atau justru baru kenal? Kau pasti juga tahu kan siapa dia?” Kejar Raena.
Kris terkekeh pelan sementara Hannie hanya terdiam menyaksikan percakapan kedua orang ini. Dalam hati dia bertanya-tanya, jika Raena tahu tentang Kris maka dia mungkin juga tahu reputasi pria tampan ini yang seorang playboy. Jadi apa Raena akan melarangnya untuk berdekatan dengan Kris seperti Kyuhyun melarangnya?
“Saya dan Hannie-ssi baru saling mengenal beberapa hari yang lalu. Yaitu saat kami tidak sengaja bertemu di kantor CHO Grup. Dan tentu saja saya tahu siapa dia. Kalian para wanita cantik ini adalah istri Mr. Cho Kyuhyun. Dan jujur saya iri melihat Mr. Cho mampu menyatukan kalian berdua. Padahal poligami itu kan tidak gampang? Beliau benar-benar pria hebat.” Puji Kris berbasa basi.
“Yah baguslah kalau kau tahu. Oh iya, kau mengatakan kau bertemu Hannie-aa di kantor CHO Grup. Kalau boleh tahu ada keperluan apa kau disana?” Tanya Raena lagi.
“Uhm mencoba menawarkan kerja sama bisnis pada suami kalian.” Sahut Kris tenang.
“Ah aku tahu. Proyek pembangunan kompleks apartemen di Palms Jumeirah, pulau buatan di Uni Emirat Arab itu kan? Konon mereka mengundang negara luar non Arab untuk berinvestasi mengembangkan pembangunan di pulau buatan itu kan? Kyu-aa pernah bercerita kalau Mr. Daniel Wu pernah menelponnya untuk menawarkan kerja sama itu. Tapi dia belum menanggapinya. Jadi sekarang kau ya yang Mr. Wu kirim untuk negosiasi?” Kata Raena mengangguk-angguk seperti memahami sesuatu.
Kris tertawa kecil. “Yah bisa dibilang begitu. Tapi ini proyek yang bagus. Aku harap Mr. Cho mau mengambil kesempatan ini.”
“Hemm…itu terserah Kyu-aa saja sebagai pengambil keputusan. Karena dia lah yang tahu dan bisa menilai apakah kesempatan itu memang bagus atau tidak. Oh iya kami permisi dulu. Urusan kami disini sudah selesai. Dan sudah waktunya bagi kami untuk makan siang. Bahkan sepertinya sudah terlewat. Selamat siang tuan Wu. Hannie ayo kita pergi.” Raena memegang lengan Hannie dan menariknya lembut tapi agak tergesa-gesa agar mengikuti langkahnya. Gadis itu hanya menurut tanpa protes.
“Annyeong Kris.” Hannie menyempatkan diri untuk berpamitan pada Kris sebelum akhirnya mengikuti langkah Raena yang bermaksud meninggalkan pria itu yang masih berdiri di tempatnya.
“Tunggu dulu.” Suara Kris menghentikan langkah kedua wanita cantik yang tadinya sudah bermaksud pergi dari tempat itu. Mereka pun terpaksa menghentikan langkahnya yang baru 2 langkah. Lalu mereka pun membalikan badan hingga kembali berhadapan dengan pria setengah western setengah oriental itu.
“Ah maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu acara kalian. Tapi aku benar-benar butuh bantuan kalian. Aku sedang mencari kado ulang tahun my mom. Aku ingin kado dariku berkesan untuknya dan akan selalu dia ingat. Tapi ada banyak barang untuk wanita dan aku tidak terlalu faham untuk menilai mana yang kira-kira cocok untuk wanita seperti mom. Bisakah kalian membantuku? Aku rasa wanita lebih mengerti urusan seperti ini? Please i really need woman’s opinions to solve my problem.” Pinta Kris dengan suara memelas dan tetap seksi di telinga siapapun yang mendengar. Wanita manapun pasti tidak akan tega jika mendengar ada pria setampan vampire nya Stephannie Meyer yang sedang kesulitan mencari kado untuk eommanya dan butuh bantuan pendapat wanita. Apalagi jika memintanya dengan suara memelas tapi tetap terjaga keseksiannya plus ketampanan yang tidak luntur dari wajah kebingungannya. Hannie yakin andai pengunjung wanita lain ada yang mendengar pasti mereka akan berbondong-bondong menawarkan diri menjadi konsultan dadakan Kris. Gratis. Cukup bisa ngobrol dengan sijangkung seksi ini walau hanya soal barang. Tapi siapa tahu bisa berlanjut.
“Kau kan bisa minta tolong mereka kenapa harus kami?” Sahut Raena sambil menunjuk para gadis pramuniaga dan juga beberapa pengunjung wanita yang ada di tempat ini.
“Uhm bagaimana ya? Aku rasa kalau minta pendapat para gadis pramuniaga itu yang ada aku malah berakhir dengan memborong seluruh barang yang ada disini. Bukankah tugas mereka memang menjual barang? Pasti apapun yang kutunjuk akan dikatakan bagus oleh mereka. Mana mungkin mereka mengatakan barang disini jelek? Sedangkan para wanita itu selain aku tidak kenal juga kupikir mengajak mereka diskusi malah membuatku berakhir dengan memberikan nomor kontakku tanpa mendapatkan apa yang kuinginkan. Jadi aku rasa agar pilihanku untuk mommy benar-benar tepat, lebih baik aku minta pendapat kalian saja sebagai orang yang kukenal walau kita juga baru kenal. Tapi aku merasa yakin penilaian kalian lebih objektif daripada para pramuniaga atau yang lainnya itu.” Kata Kris panjang lebar berusaha meyakinkan.
“Aduh bagaimana ya? Kami sudah lelah berkeliling dan sepertinya kami juga sudah melewatkan jam makan siang.” Gumam Raena terlihat sedang berpikir.
“Please ladies. I really really need your help. Dari Apgujeong hingga Cheongdamdong aku jelajahi sejumlah toko, butik dan outlet. Melihat-lihat sambil memikirkan apakah ini kado yang cocok untuk mom? Apa mom akan suka diberikan barang ini?  Tapi aku malah kebingungan sendiri dan akhirnya tetap saja keluar dengan tangan hampa. Tadi waktu melihat Hannie-ssi disini dan kupikir mungkin ada sedikit harapan dan harapan itu semakin besar ketika ternyata dia bersamamu.” Kata Kris terdengar putus asa. Hannie yang mendengarnya jadi merasa kasihan. Dia membayangkan pasti si jangkung tampan ini sudah kelelahan. Sama seperti dirinya yang sejak tadi mengikuti Raena.
“Bagaimana kau bisa yakin kalau pendapat kami akan membantumu menemukan barang yang tepat untuk mommy mu?” Tanya Raena lagi.
“Uhm anggap saja karena insting mungkin. Kelihatannya pendapat kalian cukup bisa dipercaya.” Kata Kris kalem.
Hannie hanya diam mendengar obrolan kedua orang ini. Jujur dalam hati dia ingin sekali membantu. Tidak apa-apa kan membantu Kris? Walau dia masih ingat dengan jelas larangan Kyuhyun untuk berdekatan apalagi terlibat dengan pria China-Canada ini. Tapi sepertinya pria itu juga tidak akan berani macam-macam mengingat sekarang ada Raena.
“Baiklah kami bantu. Ada banyak barang keluaran terbaru dan beberapa dikeluarkan dengan jumlah terbatas. Kita bisa pilih-pilih mana yang kira-kira cocok untuk kado mommy mu. Kalaupun disini tidak ketemu kita bisa cari di tempat lain. Tapi tidak gratis ya.” Putus Raena akhirnya. Kris tampak bahagia mendengar jawaban wanita itu. Hannie pun juga ikut lega. Ternyata Raena bersedia membantu Kris.
“Ah tentu. Setelah mendapatkan kado untuk mom, apapun yang kalian inginkan aku pasti akan membelikannya. Terima kasih sebelumnya atas kesediaan kalian membantuku.” Janji pria itu antusias.
“Tch tidak perlu berterima kasih. Anggap saja kami membantu seorang anak yang ingin menyenangkan eommanya. Dan mengenai bayarannya tidak susah. Cukup traktir makan saja. Baiklah ayo kita jalan. Hannie-aa masih kuat jalan kan?” Raena memandang Hannie dan langsung diangguki gadis itu.
Walau sebenarnya lelah tapi karena Hannie tersentuh dengan usaha Kris yang ingin menyenangkan eommanya maka rasa lelahnya terabaikan. Entah kenapa mendengar sesuatu hal yang berkaitan dengan usaha menyenangkan orang tua membuatnya bersemangat. Karena baginya Kris sangat beruntung karena masih bisa membelikan barang favorit eommanya. Sedangkan Hannie paling-paling hanya bisa membelikan bunga untuk diletakan di makam kedua orang tuanya.
Lalu Raena menggandeng Hannie untuk berjalan bersamanya sementara Kris mengikuti dari belakang siap berburu kado untuk wanita istimewanya.
*******
Pukul 3 sore
Di sebuah restoran yang menyediakan masakan Eropa di kawasan Cheongdam dong, tampak ketiga orang yang sudah selesai dengan urusan belanjanya kini sedang duduk mengelilingi meja dan menghadapi makan siangnya yang sudah agak sore. Raena yang mengusulkan makan di restoran ini. Karena dia ingin makan makanan Eropa. Selain itu karena restoran ini juga memiliki bagian outdoornya hingga mereka bisa memilih meja disana sambil menikmati pemandangan di luar. Steak, fettucini carbonara, salad, dan jus jeruk segar memenuhi meja mereka. Fettucini carbonara dan salad adalah pesanan Raena. Sementaea steak dan salad pesanan Kris. Sedangkan Hannie pesan dari steak, fettucini carbonara, salad dengan porsi besar. Bahkan dia juga meminta lasagna.
“Maaf aku sangat lapar.” Jelas Hannie yang merasa tidak enak dengan mereka berdua terutama pada Kris sebagai pihak yang mentraktir. Tapi mau bagaimana lagi? Dia benar-benar lapar kali ini. Padahal biasanya selera makannya tidak sebesar ini. Mungkin karena kelelahan dan bosan akibat banyak berjalan mengikuti Raena, keluar masuk sejumlah toko, butik dan outlet, akhirnya dia bisa bertemu makanan dan minuman setelah tadi hanya bertemu sejumlah pakaian, tas, sepatu dan entah apa lagi. Dia pun makan dengan semangat.
“Tidak apa-apa. Pesan saja yang kau suka.” Sahut Kris ramah.
Pria itu sendiri sedang senang. Dia yang duduk di seberang Hannie, menampakan raut wajah bahagia. Kris akhirnya berhasil mendapatkan barang yang cocok untuk kado eommanya. Sebuah hand bag dari Hermes. Yah tadi di LV mereka tidak menemukan sesuatu yang menurut Raena cocok untuk Mrs.Wu. Setelah wanita itu menanyakan info tentang eomma Kris baik dari fisik maupun kepribadiannya, dia berpendapat kalau kali ini koleksi di LV tidak ada yang sesuai untuk wanita itu. Maka mereka pun berpindah ke store Gucci, Channel, Prada, Cartier dan di Hermes lah mereka berhasil menemukan sesuatu yang dianggap Raena sesuai untuk wanita seperti Mrs. Wu. Sebuah handbag dengan model yang elegan, modis tapi tanpa hiasan macam-macam, detail yang rumit hingga terkesan tetap mewah, tidak sesederhana penampilannya. Menunjukan kepribadian pemakainya yang anggun dan status sosialnya yang berkelas. Raena memang cerdas dalam memilih barang lalu menyesuaikan dengan pemakainya.
Lalu tadi Raena juga sempat kembali singgah ke Prada store untuk beli sepatu berhak lebih rendah daripada yang dibelinya di LV tadi. Aish wanita ini benar-benar. Padahal tadi mereka juga 2 kali masuk kemari tapi tidak beli apa-apa. Ternyata setelah meninggalkan Prada yang kedua kali dia malah teringat sepasang sepatu hitam berhak 7 senti yang sempat dilihatnya dan ingin membelinya. Lucunya Kris juga ikut-ikutan terpengaruh dan menambah sebuah dompet wanita koleksi terbaru Prada sebagai tambahan kado eommanya. Dengan saran dan pendapat dari Raena tentu saja. Hannie hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat betapa mudahnya mereka berdua menghabiskan jutaan bahkan puluhan juta won hanya untuk 1 barang saja.
“Jadi apa kau puas dengan yang aku pilihkan untuk eomma mu? Atau mungkin kau ingin menjelajah sekali lagi? Kau tenang saja. Aku cukup ahli untuk menilai hal-hal yang berbau fashion.” Kata Raena membuka pembicaraan.
“Ah tidak. Kurasa ini sudah cukup. Hand bag yang kau pilihkan entah mengapa aku merasakan ada kecocokan dengan mom. Juga dompet wanita ini. Aku yakin dia suka. Biasanya perasaanku tidak pernah meleset.” Sahut Kris tetap dengan senyum indahnya. Lalu dia beralih menatap Hannie.
“Ah iya Hannie-aa maaf ya. Tadi pasti kau sebenarnya kelelahan tapi aku malah merepotkan kalian karena urusan kado untuk mommy. Bahkan kelihatannya kau tidak sempat beli apa-apa. Maaf ya.” Dengan raut wajah penuh penyesalan pria itu menatap Hannie yang tengah makan.
“Uhm….” Hannie menggeleng sambil mengangkat sebelah tangannya. Dia menelan makanan yang ada di mulutnya hingga habis. “Tidak masalah. Jangan dipikirkan. Aku senang bisa ikut membantu walau tidak banyak. Dan aku juga tidak sedang berniat membeli sesuatu. Hanya menemani eonnie saja sekalian pergi keluar. Bosan juga kalau di rumah terus menerus.” Lanjutnya kemudian sambil tersenyum. 
Hannie tidak sedang berbasa basi. Memang benar kalau dia tidak berniat belanja. Pakaian-pakaian di lemari besar di kamarnya sudah lebih dari banyak sampai-sampai dia kebingungan memakainya. Belum lagi koleksi sepatu, tas, perhiasan yang diberikan untuknya. Semuanya bukan barang murahan. Bahkan selama 2 bulan lebih menyandang status istri Kyuhyun, setiap Raena minta ditemani belanja, pasti Hannie juga dibelikan sesuatu walau gadis itu sering menolaknya tapi akhirnya tetap dibelikan. Hanya tadi saja yang sepertinya wanita itu sibuk dengan urusannya sendiri hingga melupakan kebiasaannya. Mengingat semua barang-barang itu Hannie merasa tidak perlu menambahnya lagi.
“Lagipula kegiatan mencarikan kado untuk orang tua itu benar-benar menyenangkan. Tidak perduli mahal atau murah. Perasaan bahagia bahwa kado itu dari kita dengan uang sendiri entah dari uang tabungan atau gaji kita, untuk orang tua kita tercinta dan diterima dengan baik oleh mereka itu sungguh luar biasa. Apalagi jika mereka terus memakainya dan memamerkannya pada kenalan mereka walau mungkin tidak sesuai dengan keinginan mereka. Tapi melihat mereka menghargai usaha kita rasanya lebih bahagia daripada menang lotere. Sayang hal seperti itu tidak akan pernah bisa kulakukan lagi sejak kedua orang tuaku pergi untuk selamanya saat aku berumur 15 tahun. Sejak saat itu kado untuk mereka ya hanya rangkaian bunga dan doa.” Lanjut Hannie lagi. Ada nada sedih dalam suaranya sementara mata menerawang mengenang kedua orang tuanya. Suasana pun sempat hening sebentar seolah turut merasakan kerinduan yang gadis itu rasakan pada kedua orang tuanya yang sudah tiada.
“Uhm tadi aku juga sempat menjelajah Apgujeong. Saat disana yang terpikirkan olehku seperti menjelajah SoHo di New York saja. Jadi sedikit bernostalgia.” Celoteh Kris tiba-tiba setelah keheningan sempat melingkupi ketiganya.
“SoHo?” Hannie menatap Kris. Dia sejujurnya lebih sering mendengar soal Madison Square, Time Square, Fifth Avenue atau patung Liberty daripada tempat lain di NY seperti SoHo.
“SoHo itu singkatan dari ‘South of Houston’ Street, area pemukiman di Lower Manhattan , New York City, terkenal karena memiliki banyak apartemen seniman dan galeri
seni serta berbagai toko mulai dari butik hingga pertokoan kelas atas nasional dan internasional. Arsitektur bangunan di SoHo kebanyakan menggunakan besi cor.
Yah kalau dipikir-pikir memang kurang lebih seperti Apgujeong ini. Tapi Apgujeong bersama Cheongdam dong juga sering disebut sebagai Beversly Hills nya Korea karena selain wisata belanja, budaya pop, juga tempat berdirinya pemukiman-pemukiman elit kelas atas.” Jelas Raena mendahului. Kris mengangguk tanda setuju sementara Hannie mengangguk-angguk tanda mengerti. Setelah memberi penjelasan tentang SoHo pada madunya, wanita itu mengalihkan pandangannya pada Kris.
“Kau pernah ke New York?” Tanya Raena antusias pada pria tampan itu.
“Uhm.” Angguk Kris mengiyakan. “Tepatnya tinggal disana untuk kuliah manajemen bisnis di Universitas New York selama 3 tahun. Tapi di New York sendiri aku tinggal selama 4 tahun. 3 tahun kuliah dan 1 tahun magang kerja penuh pada pamanku sebagai bekal pengalaman sebelum jadi wakil daddy. Walau sebenarnya saat kuliah pun aku sudah magang kerja. Tapi tidak full seperti saat sudah lulus. Yah walaupun menekuni dunia bisnis tadinya bukan tujuan awalku.” Lanjutnya lagi sambil tersenyum.
“Maksudnya?” Tanya Hannie dan Raena bersamaan. Kedua wanita cantik ini menatap Kris dengan pandangan tidak mengerti.
“Sebenarnya sejak kecil cita-citaku berubah-rubah. Mulai jadi pemain basket NBA seperti Michael Jordan, aktor Hollywood seperti Tom Cruise atau Keanu Reeves. Atau bisa juga keduanya, atlet NBA sekaligus aktor seperti Dennis Rodman, sampai rapper seperti MC Hammer. Tapi saat SMU aku mulai tertarik dengan pesawat terbang. Aku tertarik dengan design dan konstruksi pesawat terbang. Dan aku memilih Rheinisch-Westfaelische Technische
Hochschule Aachen atau RTWH Aachen di Jerman sebagai pendidikan lanjutanku setelah SMU di Canada. Lagipula pelajaran eksak ku selalu mendapat nilai tinggi. Jadi aku cukup percaya diri untuk kuliah di RTWH. Tapi mom berharap aku kuliah bisnis di New York saja. Dia meyakini bahwa jiwaku ada di bidang itu. Dia bahkan membayangkan aku yang akan menjadi pebisnis handal, duduk dalam 1 meja bersama pebisnis-pebisnis dari seluruh negeri di salah satu lantai di gedung pencakar langit di Manhattan seperti Empire State Building, atau Burj Halifa Dubai Uni Emirat Arab, hingga Menara kembar Petronas Malaysia, dan membahas masalah bisnis. Dengan namaku yang muncul di jurnal-jurnal bisnis di Canada, Cina bahkan dunia. Entah menjadi pengganti dad di Harvest Corp atau justru aku punya bisnis sendiri.
Tapi kalau dad sangat berharap aku yang menggantikannya menjadi pemimpin Harvest walau aku ini bukan anak kandungnya. Dia percaya aku ini hebat bahkan melebihi dirinya. Walau masih ada seorang adik laki-lakiku yang usianya berbeda 10 tahun denganku dan tertarik dengan dunia bisnis, tapi dad lebih mempercayaiku dan menggantungkan harapannya padaku karena saat pertama bertemu denganku, dad melihat kalau sejak kecil aku sudah memiliki bakat alami seorang pebisnis. Hanya tinggal diarahkan dan dididik dengan benar saja. Dia juga mengatakan meskipun saat itu aku masih anak-anak tapi aku sudah mempunyai jiwa dan wibawa seorang pemimpin. Dan itu terus menguat seiring dengan pertambahan usiaku. Makanya dia yakin kalau harapan mom tidak salah. Disamping memang aku sebagai anak tertua yang akan memimpin dan membimbing adikku menangani perusahaannya bersama-sama.
Tapi karena aku tetap pada pendirianku, akhirnya mereka mengijinkan aku pergi ke Jerman. Tapi ternyata hanya bertahan 1 semester. Aku merasa kuliah disana datar saja. Tidak ada hal yang membuatku exciting. Sepertinya aku hanya tertarik dengan pesawat tapi tidak menjiwai. Mungkin istilahnya aku merasakan passionku terhadap pesawat tapi tidak merasakan nyawaku saat berhadapan dengan gambar design dan konstruksi pesawat. Yah seperti kau mengidolakan selebriti tapi hanya sekedar kagum, bukan berarti kau ingin menghabiskan hidupmu bersamanya. Seperti itulah kira-kira.” Cerita Kris panjang lebar sambil tersenyum.
Hannie dan Raena mengangguk-angguk tanda mengerti. Ketika Hannie akan bertanya pada Kris ternyata Raena malah lebih dulu buka suara.
“Jadi apa yang menyebabkanmu akhirnya memilih mengikuti keinginan eommamu?”
“Saat itu dad jatuh sakit dan memintaku untuk pulang ke Canada dan mewakilinya memimpin sementara Harvest. Aku yang sedang jenuh akhirnya setuju dan meninggalkan kuliahku. Ternyata selama menggantikan dad aku justru menemukan banyak hal yang menarik, membuatku exciting, dan jatuh cinta pada dunia bisnis. Aku justru menikmati dunia yang tadinya sempat kutolak. Akhirnya aku sadar inilah duniaku. Mom dan dad benar. Jiwaku memang berada di bisnis bukan airplane engineer. Dan tahun berikutnya aku resmi resign dari RTWH dan mendaftar ke Universitas New York jurusan manajemen bisnis seperti keinginan mom. Yah sepertinya mom memang sudah menduga jiwaku kemana. Dan aku berhasil menyelesaikan pendidikanku. Dan berhasil menjadi kepercayaan dad untuk mengurus Harvest di Cina.” Kris mengakhiri kisah singkat dirinya semasa di New York.
“Padahal jadi airplane engineer juga keren. Pria tampan yang ahli dalam hal seluk beluk pesawat sepertinya menarik juga ya.” Celutuk Hannie polos. Hal itu membuat Kris tergelak sampai bahunya bergerak cepat karena tertawa.
“Oh ya? Wah aku tersanjung. 2 kali kau mengatakan aku tampan. Rasanya kepercayaan diriku makin meningkat berkali lipat dari biasanya.” Kata Kris lembut setelah mengatasi tawanya.
Hannie hanya menunduk malu dengan wajah memerah. Dia pura-pura sibuk berkonsetrasi dengan makanannya.
‘Aduh kenapa aku harus mengatakan tampan segala? Tanpa dikatakan pun dia memang tampan kan? Nanti orang-orang pikir aku jatuh cinta dengannya. Padahal aku kan hanya kagum? Cintaku sudah dimiliki sepenuhnya oleh Kyuhyun oppa.’ Batin Hannie.
“Ah Kris, di New York kau tinggal dimana?” Raena kembali bertanya.
“Manhattan. Aku tinggal di Gramercy Park apartement.” Jawab Kris.
“Manhattan? Gramercy Park? Serius? Aku juga tinggal di Manhattan tapi di Kips Bay. Transportasi umumnya aksesnya sangat mudah karena daerah itu memang dilalui jalur berbagai transportasi umum. Aku juga suka lingkungannya. Aku beli 1 unit disana karena kupikir aku akan tinggal cukup lama di New York.” Kata Raena penuh semangat.
“Apartemen di Gramercy Park itu hadiah dari dad untukku karena aku akhirnya memenuhi keinginan mereka. Kalau di Jerman aku sempat tinggal di asrama mahasiswa. Aku suka Gramercy Park karena tamannya bagus dan lingkungannya juga enak. Ah jadi kau di Kips Bay ya? Tempat itu juga bagus. Tempat itu berada di timur utara Gramercy. Ah iya berarti bisa dibilang komplek apartemen kita tidak terlalu berjauhan ya.” Sahut Kris sambil tersenyum
“Ah iya tentu saja. Tapi sepertinya kita tidak pernah bertemu walau pernah tinggal 1 kota dan kompleks apartemen kita tidak terlalu berjauhan. Apalagi 2 tahun lalu sebelun pulang ke Korea aku dan Kyuhyun kan pindah ke Jerman setelah kami menikah.” Raena mengerutkan keningnya seperti memikirkan sesuatu.
“Atau kalaupun mungkin bertemu karena tidak saling kenal ya kita pun tidak menyadarinya.” Kata Kris kalem. Dan hal itu diangguki Raena tanda setuju.
“Tapi Battery Park City juga bagus. Akses mudah kereta bawah tanah, dekat dengan sejumlah sekolah, lingkungan juga bagus, ada taman didekat situ dan harganya lebih murah.” Kata Raena kemudian.
“Memang. Tapi sayangnya pemilik apartemen harus bayar sewa tanahnya kepada BPCA karena tanah apartemen itu dimiliki oleh pemilik Battery Park, yang merupakan perusahaan keuntungan
bersama yang dibangun di New York. Sebenarnya tidak masalah selama apartemennya memang layak. Masalahnya……” Kris berhenti sebentar sambil menggaruk dagunya. “Orang-orang yang tinggal disana mengatakan kalau itu kota hantu di malam. Kau tahu kan tentang peristiwa World Trade Centre yang runtuh akibat ditabrak 2 pesawat komersil yang dibajak teroris? Saat peristiwa itu penduduk di lower midtown khususnya penduduk yang tinggal di Battery Park City diungsikan dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Mungkin lama ditinggalkan penghuninya begitu mereka kembali suasananya sudah terlanjur yah seperti yang mereka katakan. Kota hantu di malam hari. Terdengar seram kan? Memang untuk menarik kembali orang-orang, sekarang WTC sudah dibangun kembali, sudah dibuka sejak tahun 2013 dan namanya pun sudah menjadi One World Trade Centre. Tapi bagiku tetap saja sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan hantu itu mengganggu. Lebih tepatnya terdengar menakutkan.” Lanjut pria itu lagi.
“Astaga kau ini. Tampan dan takut pada hantu. Kombinasi yang lucu. Sama dengan Kyu. Padahal badan kalian besar begini. Aku rasa hantu juga akan terpesona saat melihat kalian sehingga lupa untuk menakut-nakuti.” Seloroh Raena sambil tertawa geli. Hannie dan Kris ikut tertawa.
“Oh iya. Bahasa Koreamu lumayan bagus. Apa kau juga pernah tinggal di Korea?” Tanya Raena lagi.
“Uhm tidak pernah. Aku baru kali ini ke Korea. Tapi aku belajar bahasa Korea dan tahu tentang Korea dari asisten rumah tangga keluarga kami di Canada. Mrs. Park Hansoo asli Korea. Dia bekerja pada dad sejak my mom mengandung adikku. Dan dia sering bercerita tentang kampung halamannya dan mengajariku bahasa Korea. Katanya seorang pebisnis menguasai bahasa asing lebih banyak itu lebih baik. Sampai sekarang Mrs. Park masih bekerja pada keluarga kami.” Jawab Kris tersenyum manis.
Lalu obrolan keduanya terus berlanjut sambil makan siang,  tentang pengalaman mereka selama tinggal di New York, tentang Manhattan sebagai pusat bisnis, dengan gedung-gedung pencakar langit seperti Empire State Building yang terkenal dan sering muncul di film Hollywood misalnya King Kong. Atau jalan-jalan dan belanja di Fifth Avenue dengan deretan toko brand ternama dunia di sepanjang jala sehingga tempat ini disebut sebagai jalan termahal.
Menyusuri Time Square, persimpangan jalan utama di Manhattan , New York City, Amerika Serikat. Persimpangan ini adalah tempat bertemunya jalan Broadway dan Seventh Avenue, dan mencakup kawasan antara West 42nd hingga West 47th Street . Terkenal dengan billboard-billboard besar yang tertata rapi sepanjang jalan. Di tengah Time Square berdiri gedung One Time Square yang memajang billboard besar dan layar televisi besar di depannya. Juga tempat dimana orang-orang berkumpul untuk mendengarkan berita penting seperti kemenangan tim olahraga kesayangan mereka atau hasil pemilihan umum dan kemudian merayakannya di tempat itu juga. Raena dan Kris saling tertawa geli saat mereka saling menceritakan kalau mereka pernah merasakan ikut menonton pertandingan olahraga atau acara penganugerahan dari layar televisi  besar itu bersama warga yang lain dan ikut bersorak ketika yang didukung menang. Saling berpelukan dan bersalaman kepada sesama penonton padahal ternyata sebelumnya tidak saling kenal.
Mereka pernah merasakan atmosfer keseruan di Madison Square saat menonton langsung konser penyanyi dunia atau menonton langsung liga olahraga dunia seperti basket, hockey, sepak bola hingga rugby atau football di stadion termegah di Manhattan, New York bahkan USA.
Wisata ke patung Liberty yang berdiri anggun di muara sungai Hudson, New York Port, di pulau Liberty. Keseruan saat memanjat tangga melingkar yang terdiri dari 354 anak tangga, masuk hingga ke dalam mahkota yang memiliki 25 jendela dan melihat-lihat pemandangan panorama pelabuhan dari jendela-jendela itu. Atau saat bersantai di Central Park melepas kejenuhan dari kesibukan kota besar.
Mereka juga membahas tentang bisnis di new York dari bisnis fashion, hotel, cafe hingga property. Membahas harga property di New York yang cukup tinggi hingga ada istilah di kalangan masyarakatnya “seseorang bisa menghabiskan nyaris seluruh gajinya hanya untuk bayar sewa 1 unit apartemen di New York”. Dan hal-hal lain tentang New York yang terus mereka bicarakan, seolah tidak menyadari ada 1 orang yang jangankan pernah menginjakkan kakinya di negeri yang jauh seperti negeri paman Sam, bahkan ke luar negeri yang paling dekat dengan Korea seperti ke Jepang atau Cina saja belum pernah. Ke Jeju saja baru sekali saat masih bekerja di CHO Grup dan dia pergi bersama teman-teman sekantornya memanfaatkan libur nasional.
Hannie hanya diam saja menyimak pembicaraan kedua orang ini. Kadang hanya menimpali sedikit itu juga kalau ditanya. Memangnya tanggapan apa yang diharapkan darinya yang seumur hidup belum pernah menginjakan kaki ke negeri paman Sam terutama ke kota segala bangsa sekaligus salah satu kota pusat mode dunia, New York. Kalaupun tahu ya hanya sebatas dari media entah buku atau internet. Mana bisa dibandingkan dengan pengetahuan orang yang datang bahkan tinggal langsung di kota yang juga disebut Gotham City itu.
Lagipula lebih banyak Raena yang menguasai pembicaraan dengan Kris. Mungkin wanita itu terlalu senang karena bertemu dengan orang yang sama-sama pernah bermukim di Manhattan New York.
Tapi walaupun Raena lebih mendominasi pembicaraan, gadis itu tidak keberatan. Justru dia bersyukur karena sejujurnya dia khawatir jika Kyuhyun tahu saat ini mereka sedang makan siang bersama, sedangkan suaminya itu jelas-jelas melarangnya bahkan untuk sekedar berdekatan, maka pria kecintaannya itu akan menganggap istri ke-2 nya membantah perintahnya.
Hannie takut pria itu marah dan kemudian mengusirnya pergi karena dianggap sebagai istri yang tidak menghargai suaminya. Yah pemikiran yang berlebihan sebenarnya. Tapi jika di posisi Hannie rasanya pemikiran seperti itu wajar. Raena saat itu juga terlihat berusaha meminimalisir obrolan antara Hannie dan Kris. Mungkin wanita itu tahu tentang reputasi pria China-Canada itu. Namun dibanding Hannie yang polos dan selalu berprasangka baik pada siapapun, istri pertama Kyuhyun itu lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh pada sikap manis seseorang sehingga selama ada Kris diantara mereka, terlihat Raena yang lebih mendominasi dan melindungi madunya untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengan pria itu. Seperti kakak perempuan yang melindungi adik perempuannya yang masih polos. Dan Hannie bersyukur akan hal itu. Jadi dia tidak perlu merasa tidak enak pada Kris karna harus menjaga jarak demi memenuhi perintah suaminya.
“Maaf aku permisi ke toilet dulu.” Pamit Raena. Saat ini mereka sudah menyelesaikan makan siang sangat terlambatnya.
Setelah itu Raena bangkit dari duduknya dan berjalan menuju toilet. Sekarang hanya ada Hannie dan Kris. Jujur saja hanya ditinggal berduaan dengan pria ini membuatnya tidak nyaman. Entahlah apa ini ada hubungannya dengan larangan Kyuhyun bahwa dia tidak boleh terlibat dengan pria di hadapannya ini atau karena sebab lain.
“Uhm Hannie-ssi, boleh aku pinjam ponsel mu sebentar?” Tiba-tiba Kris bicara setelah mereka terdiam pasca ditinggalkan Raena ke toilet. Mata indahnya menatap Hannie lekat.
“Eh, untuk apa?” Tanya Hannie heran. Kenapa harus pinjam ponselnya? Bukannya pria itu juga membawa ponselnya sendiri? Gadis itu kebingungan sendiri.
“Nanti akan kuberitahu. Yang jelas aku butuh ponselmu sekarang. Jangan khawatir aku tidak akan macam-macam dengan ponselmu apalagi berniat mencurinya kalau itu yang kau khawatirkan.” Kata Kris sambil tersenyum ramah.
“Ah oh ti-tidak. Aku tidak mencurigaimu seperti itu. Sungguh.” Sesal Hannie.
“Hahahaha jangan serius begitu. Aku tidak menuduhmu mencurigaiku.” Kris tertawa geli melihat reaksi Hannie yang gugup dan serba salah. “Baiklah, jadi boleh aku pinjam ponselmu?” Tanyanya lagi.
Walau ragu tapi Hannie memberikan juga ponselnya. Begitu benda itu berpindah tangan, Kris langsung mengetikan sesuatu pada layar ponsel dan tidak berapa lama terdengar bunyi telpon masuk dari ponselnya. Pria itu lalu melihat ponselnya sendiri dan mengutak atik benda itu lalu setelah selesai dia menaruh ponselnya di hadapannya. Sedangkan ponsel Hannie dia kembalikan pada pemiliknya.
“Maaf aku lancang memasukan nomor ponselku ke daftar kontakmu. Dan menambah nomor ponselmu dalam daftar kontak ku. Aku hanya ingin agar kita bisa tetap saling berkomunikasi walaupun mungkin nanti kita jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Kuharap kita bisa berteman dengan baik.” Kata Kris dengan lembut.
Hannie menerima ponselnya tanpa bicara. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu kebingungan dengan situasi ini. Dia kembali teringat larangan Kyuhyun tentang dia yang tidak boleh terlibat dengan Kris. Itu berarti termasuk memberi nomor ponselnya juga. Eh tapi kan Kris sendiri yang memasukan nomor ponselnya ke daftar kontak ponsel Hannie? Lalu pria itu juga yang memasukan nomor ponsel gadis itu ke daftar kontaknya.
‘Aish kalau saja aku tahu maksud Kris meminjam ponselku agar kami saling bertukar nomor ponsel, pasti tadi tidak akan aku berikan ponselku padanya. Haaaahh…aku ceroboh sekali.’ Sesal Hannie dalam hati.
“Ah iya tidak apa-apa.” Sahut Hannie sambil tersenyum.
Walau dalam hatinya Hannie menyesali kecerobohannya yang dengan gampangnya memberikan ponselnya pada Kris, tapi dia tidak menunjukannya. Dalam hati dia membenarkan larangan Kyuhyun mendekati pria di hadapannya ini. Pria model begini memang berbahaya bagi gadis yang tidak terlalu mengenal pria seperti dirinya.
“Maaf menunggu lama ya? Tadi antrian di toilet agak banyak. Oh iya kita bisa pergi sekarang?” Tiba-tiba terdengar suara Raena di sampingnya. Rupanya wanita itu sudah menyelesaikan urusan toiletnya. Dia kemudian duduk di kursinya semula samping Hannie.
“Tentu. Kalian tunggu disini sementara aku akan ke kasir dulu.” Sahut Kris sambil mengeluarkan dompet mahal miliknya dan menarik selembar kartu dari sana lalu menyimpan kembali dompetnya di saku belakang celananya. Pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan dengan gagahnya bak model internasional menuju kasir di bawah tatapan kagum sekaligus lapar para pengunjung wanita di restoran ini.
Sementara itu Hannie bertanya-tanya apakah Raena tadi melihat saat dia dan Kris bertukar nomor telpon. Gadis itu berharap semoga saja tidak. Tapi sejak tadi Raena menatapnya terus dengan pandangan menyelidik. Dia jadi merasa kalau madunya itu mengetahuinya. Hei tapi Hannie kan hanya bertukar nomor ponsel bukan selingkuh. Dan itu juga bukan maunya. Seharusnya tidak masalah.
‘Semoga saja eonnie tidak melihatnya tadi. Kalaupun lihat semoga dia tahu kalau itu tadi bukan mauku dan semoga dia tidak mengatakannya pada Kyuhyun oppa. Aku juga berencana tidak akan meladeni telpon Kris.’ Batin Hannie sedikit khawatir. Dia terus berdoa dalam hati semoga kejadian tadi tidak menimbulkan masalah dan membuat Kyuhyun marah padanya.
Tbc

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: