Our Wedding [Promise] Part 4 END

0
ff nc exo Our Wedding [Promise] Part 4 END
Tittle : Our Wedding [Promise] Part 4 (END)
Author : harajukyu
Cast : Park Chanyeol, Park Yeo Jin, Do Kyungsoo and others
Genre : NC, Sad, Romance, Married Life
Rate : NC21
●Promise You●
Tangan panjang Chanyeol berhasil menggapai pergelangan tangan Yeojin tak kalah cepat. Chanyeol menariknya kuat, menyebabkannya begitu rapat menempel pada tubuhnya. Chanyeol membaui rambut Yeojin, menarik nafas dalam dengan hati yang bergelora.
Tangan kecilnya memukul dadanya kuat, Park Yeojin tampak melawan dengan sengit berusaha lepas dari rengkuhan pria yang menurutnya sedang gila.

“lepaskan!”
Nafasnya menerpa wajah Chanyeol yang hanya berjarak beberapa inchi. Pria itu menjawab dengan diam. Matanya menelusuri tiap titik garis wajah Yeojin yang tanpa cela, bak patung yang dipahat begitu sempurna. Membuat darah liar dalam diri Chanyeol mendidih oleh api gairah yang begitu membara. Membuat gerah pusat tubuhnya yang begitu panas.
“Ahh~…” ringis Yeojin. Punggungnya terhentak ketembok dengan keras. Pria itu masih mengenggam pundaknya erat. Yeojin menatap mata Chanyeol, irisnya menggambarkan akan perasaan yang bergejolak. Sorot matanya yang sayu sesaat membuat Yeojin sadar jika ia telah terjebak dalam api gairah seorang pria yang akan sulit terpadamkan.
“Chanyeol-ssiㅡ…”
“ssssstt~…”
Jari telunjuknya berada ditengah bibir ranum Yeojin. Pria itu tersenyum lalu menatapnya lembut “kau istriku Yeoㅡ milik Park Chanyeol”
Yeojin diam membisu. Tak terelakkan jika tubuhnya terasa kaku. Ia membeku. Perkataan Chanyeol seperti seorang diktator tak terbantahkan. Ia tenggelam dalam sorot mata itu, membuatnya tersesat akan dimensi baru yang pria itu ciptakan bersama dirinya. Semakin berusaha ia terlepas semakin dalam pula lubang hitam yang menjeratnya kuat.
Ia tercekat ketika wajah Chanyeol berganti menjadi begitu lemah, matanya seakan tertutup kabut ketika secara perlahan pandangan Chanyeol ia turunkan menuju bibirnya.
Pria itu menggapainya lembut.
Rasa bibir yang seperti angannya dapat ia rasakan begitu nyata. Begitu lembut dan manis. Hatinya meledak-ledak, dorongan kuat untuk merasakan lebih begitu menguasainya. Chanyeol melumatnya lembut, namun perlahan menjadi kasar seakan menuntut pertanggungjawaban. Chanyeol menggeram, tak menghiraukan pukulan bahkan cacian yang dilontarkan Yeojin ditengah fantasinya yang begitu menggila. Gadis itu masih dengan pendiriannya, sesekali kedua kakinya berusaha menendangnya kuat. Bibirnya ia pertahankan untuk tetap bungkam, menolak segala sentuhan Chanyeol yang memabukkkan.
“lepaskan, brengsek!” Yeojin terengah, seluruh energinya seperti terkuras habis hanya karena satu ciuman yang tak berarti dimata pria didepannya yang sedang menatapnya lapar.
“dalam mimpimuㅡ” lagi, Chanyeol menyerang bibirnya kasar. Kedua tangan kekarnya beradu dengan tembok menangkup jemari Yeojin yang tak hentinya berusaha berontak. Hatinya begitu keras bagai batu karang, mengacuhkan segala lenguhan kepayahan dari gadis itu. Katakanlah egois, karena ia tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Kedua tangannya terkepal kuat, Park Yeojin merasa harga dirinya direndahkan. Ditengah deru nafasnya yang memburu, dengan tenaga yang tersisa ia mendorong kepalanya membentur dahi Chanyeol ketika pria itu mengambil jeda untuk bernafas. Ia memukulnya kuat, menyebabkannya terjungkal sekali lagi. Secepat kilat Yeojin berlari kearah pintu, langkahnya terseok dengan kelabakan mencari benda apapun untuk melindungi diri dari pria itu. Park Chanyeol mengeraskan rahangnya kuat. Begitu kaget mendapat perlakuan berani dari istrinya.
“PARK YEOJIN!”
Reflek kedua kakinya ia ayunkan mengikuti Yeojin dengan cepat. Gadis itu berlari mengitari kamar, berusaha mencari sebuah benda yang dapat menyelamatkannya. Ia menemukan tongkat pemukul baseball disamping nakas. Ia meraihnya dan segera mengacungkannya menghadap Chanyeol.
“apa yang akan kau lakukan dengan itu, hm?” Tanya Chanyeol, ia sungguh geram akan tingkah istrinya itu.
Yeojin tak menggubris. Ia begitu fokus melihat gerak-gerik Chanyeol yang kapan saja bisa menyerangnya. Kakinya melangkah mundur dengan pasti, matanya tak lepas memandang pria itu awas. Mengantisipasi tindakan apa yang harus ia lakukan jika pria itu bertingkah lebih gila.
“Menjauh dariku brengsek! Tidak akan aku biarkan kau menyentuhku seenaknya, sialan!” Teriaknya.
Yeojin berbalik. Secepat yang ia bisa kakinya yang terasa lemas berusaha lari menghindari pria itu. Namun Chanyeol yang langsung mendapat orientasi bertindak tak kalah cepat menggapai pergelangan kaki kanan Yeojin. Gadis itu terperanjat kaget. Menyebabkan tongkat yang semula ia pegang sebagai senjata untuk melindungi diri kini menggelinding menjauh.
“Lepppass~!!” Erangnya. Kaki kanannya menghentak-hentak kebawah dengan kasar.
Chanyeol menyeringai. Tangannya yang mencengkeram pergelangan kaki Yeojin tetap bertahan, pria itu tak goyah sedikitpun. Satu tangannya yang lain ikut mengambil sebelah kaki kiri Yeojin. Kedua tangannya memegangnya begitu erat, lalu dengan sengaja ia menariknya kuat. Menyebabkan Yeojin jatuh terlungkup. Gadis itu meringis setelah tubuhnya jatuh terperosot kelantai.
Yeojin menahan ngilu pada pergelangan kakinya. Secepat kilat tubuhnya berbalik, ia membelalakkan matanya lebar melihat Chanyeol bergerak merangkak naik keatas tubuhnya lalu menindihnya.
“YA! NAPPEUNOM~ MENYINGKIR DARI TUBUHKU SEKARANG!!” Teriaknya. Nafasnya tampak tersenggal, tubuhnya terasa begitu berat dan lemas. Chanyeol melebarkan senyum kemenangan, ia berdiri dengan kaki tertekuk diatas perut Yeojin.
“hh~ kau pikir bisa lari kemana hm?” Pria itu menatap Yeojin tajam. Menurunkan wajahnya tepat dihadapan wajah gadis itu, Chanyeol semakin bergetar ketika nafas mereka beradu menerpa wajah masing-masing. Yeojin memukul-mukul dada Chanyeol keras, berharap dapat terlepas dari jeratan pria itu. Tangannya yang lemas tak mampu lagi melawan ketika Chanyeol memegang pergelangannya kuat. Meletakkannya kesamping atas kepalanya.
Chanyeol mensejajarkan posisinya menindih tubuh itu lebih lekat. Wajahnya yang bersinar penuh lembut berbanding terbalik dengan wanita dibawahnya yang menatapnya penuh kebencian, Yeojin mengeraskan rahangnya kuat. Ia menatap Chanyeol begitu dingin. Kedua tangannya terkepal ingin meninju wajah pria diatasnya.
Chanyeol begitu mendidih. Ia melihat bagaimana sorot mata tajam itu diarahkan kepadanya justru tak membuat ia berpikir untuk menyerah “aku tidak akan melepaskanmu Park Yeojin, tidak akan pernah” bisiknya.
“Kau pemaksa, kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Kau egois. Aku membencimu!”
Mata Park Yeojin yang basah tampak berkaca-kaca. Pertahanannya runtuh, ia ingin sekali menangis namun hatinya tak mengijinkan jika ia akan terlihat lemah dimata pria itu.
Bibir Chanyeol bergetar. Hatinya begitu sesak mendapat tatapan dingin dari istrinya “jangan seperti itu, aku tidak akan mengulangnya lagi. Aku janji” pintanya. Suaranya serak penuh getar, Park Chanyeol menelan ludahnya berat.
“omong kosong! Dulu kau juga pernah seperti itu padaku. Membuatku menunggu ditengah taman yang tertutup salju natal. Saat itu aku seperti akan mati beku, menunggumu seperti idiot selama empat jam lebih. Kau tidak akan mengerti betapa kecewanya aku setelah mendapat kabar dari Hara jika kau tengah mengantar Hyera membeli hadiah saat itu. Aku bahkan tidak bisa menangis karena dinginnya salju yang seketika membuat air mataku beku. Akuㅡ” Ia tercekat. Tenggorokannya tercekik oleh kata-kata yang bahkan tak sanggup ia bayangkan sebelumnya. Park Yeojin mendesis, tak menyangka jika ia masih mampu mengingat kejadian pahit tahun lalu.
“Aku bahkan tidak bisa berfikir terbuat dari apa otakmu itu sehingga begitu mudahnya melupakan janji yang telah kita sepakati satu bulan sebelumnya”. Sambungnya. Ia terisak namun air matanya tak mengalir setetespun. Ia masih begitu ingat hari itu. Kesialan yang mustahil untuk ia lupakan begitu saja. Saat itu bukanlah satu-satunya. Sebelumnya pria itu pernah membatalkan janji makan malam tepat dihari ulang tahunnya. Ia sudah berdandan begitu rapi, menunggu dengan hati membuncah menanti hadiah apa yang akan pria itu berikan untuknya. Namun semuanya seperti pupus hilang ditelan luapan rasa kecewa ketika Chanyeol yang tiba-tiba menghubunginya dan tak bisa datang karena lebih memilih dinas keluar kota. Saat itu ia masih bisa bersabar, kekesalan hatinya tak mampu bertahan ketika ia melihat pria itu tersenyum seperti bocah polos setiap saat mereka bertemu. Mengucapkan berbagai kata cinta yang seperti mantra. Menyihirnya menjadi gadis idiot dengan segenap kebodohannya.
Park Chanyeol sedikit mengangkat tengkuk Yeojin, merengkuhnya dalam pelukan posesif penuh penyesalan. Ia membisu, otaknya mendadak kosong tak mampu berpikir. Ia begitu tenggelam dengan dunianya sendiri terlampau dalam, melupakan objek lain yang berharga dari apapun. Tak menyadari jika sikapnya selama ini telah melukai gadisnya begitu banyak.
“Maaf. Maafkan akuㅡ” Pria itu memejamkan mata. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Yeojin. Chanyeol memeluknya begitu kuat. Jantungnya berhenti berdetak ketika mendengar isakan kecil dari bibir istrinya. Betapa brengsek dirinya karena membuat Yeojin-nya menangis seperti ini.
“Aku bersumpah itu adalah hal yang terakhir, Yeojin-ah. Kau boleh memukulku atau bahkan menghajarku sekarang. Hajimanㅡ berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku berjanji akan lebih memperhatikanmu, karena kaulah prioritas utamaku. Aku begitu khilaf, aku tidak menyadari itu. Maafkan aku” getar suaranya teredam dalam lekukan leher gadis itu. Park Chanyeol berhenti bernafas. Jantungnya berdetak cepat membuat paru-parunya sesak. Rasa sesal yang menggerogoti hati begitu menusuknya, menggoresnya begitu dalam. Mecabiknya menjadi serpihan daging dalam lautan luka penuh darah.
“Aku akan berusaha menebus semua janji-janjiku padamu. Hanya tetap bersamaku dan jangan bersama pria lain”
Yeojin mendorongnya menjauh. Melepas paksa rengkuhan pria itu pada lehernya. Ia menatap tajam Chanyeol “aku tidak bersama pria lain. Kau yang bersama gadis lain” kilahnya. Park Yeojin mengerutkan kening kuat, Ia begitu bingung dengan sifat pria ini yang dengan begitu mudahnya memporak-porandakkan suasana.
Chanyeol mengernyit “Lalu apa yang baru saja aku lihat. Jelas kau sedang bersama seorang pria, cih bahkan kalian terlihat saling berpegangan tangan dengan mesra. Apa kau mencㅡ”
“Do Kyungsoo bukan pria lain” Potongnya. Park Yeojin mengatupkan bibirnya, begitu tidak terima jika temannya direndahkan begitu saja oleh Chanyeol “dia seseorang lain yang berharga dalam hidupku, jangan meremehkannya bahkan kau tidak tahu apa-apa”
Chanyeol mendesis, garis ekspresi tegang menghiasi wajahnya yang kaku “melihat bagaimana kau begitu membelanya sedemikian rupa. Aku curiga kalian ada sesuatu.” selidiknya.
“Setidaknya ia tidak pernah membuat janji untuk diingkari” Perkataan Yeojin menghantamnya. Kesalah besar karena tindak kebodohannya membuat dirinya terhempas kalah. Keadaan ini membuat hatinya terbakar begitu panas. Matanya menggelap, terselubung oleh asap hitam dari api kecemburuan.
Chanyeol mengeraskan rahangnya untuk kesekian kali. Ia menekan keras pusat tubuhnya yang menegang pada tubuh gadis itu. Park Chanyeol menyeringai “kita lihat apa kau masih berani menyebut pria itu berharga setelah aku melakukan hal ini padamu, Yeo”
Pria itu tak memberi kesempatan berpikir pada Yeojin untuk sekedar memahami ucapan yang dilontarkannya. Gadis itu membelalakkan mata mendapat ciuman menuntut dibibirnya. Park Chanyeol begitu agresif melumatnya kasar. Dominasi antara nafsu dan emosi menyelimutinya, melilit otaknya untuk tidak berpikir jernih. Ia ingin meluapkan sisi egonya untuk saat ini. Biarkanlah ia egois hanya untuk kali ini. Gadis ini miliknya, istri sahnya yang dapat ia sentuh kapanpun ia mau.
Chanyeol menanggalkan kain terakhir yang menempel ditubuhnya. Seperti kerasukan ia menyerang bibir Yeojin tanpa ampun. Memaksa dan begitu menuntut bibir kecil itu untuk terbuka. Park Yeojin terasa begitu lemas, tenaganya habis hanya untuk sekedar berontak memukul pria itu. Teriakannya teredam oleh lumatan yang begitu membabi buta. Park Chanyeol benar-benar gila tidak memberikannya akses untuk sekedar bernafas.
“geuㅡmanhae..” cicitnya. Park Chanyeol menggeleng kuat. Ia kembali menyerang Yeojin diarea lehernya. Tangannya yang besar menarik kancing atas dress yang membalut tubuh bagian atas Yeojin. Pria itu menarik wajahnya sejenak, memandang anugerah Tuhan yang begitu indah didepan mata “kau cantik Yeo, aku menginginkanmuㅡ”
Seketika tatapan Chanyeol yang begitu gelap membuatnya lemas. Park Yeojin sadar seberapa keraspun ia berontak tidak akan membuatnya selamat. Gadis itu begitu pasrah ketika perlahan ciuman Chanyeol turun kearah perutnya yang rata. Membuat benteng pertahanan untuk tidak mendesah roboh oleh cumbuan memabukkan dari bibir tebal itu.
“ber-henti. aku mohon akhㅡ” Yeojin mengerang. Pria itu meremas dadanya pelan. Membuatnya seakan buta oleh bayang nikmat yang pria itu ciptakan bersama gelombang gairah yang seperti tidak akan surut. Sejenak Yeojin ingin ikut terhanyut arus kenikmatan yang pria itu bawa bersama dirinya. Membuatnya melayang dengan fantasi dewasa yang begitu gila. Namun hatinya yang sekeras baja menolaknya, tidak akan membiarkan Chanyeol menang dengan begitu mudah. Ia menggigit lidahnya kuat, tak mengijinkan lagi desahan sekecilpun lolos dari bibirnya yang ia pertahankan rapat.
Chanyeol merangkak naik, menggapai bibir itu untuk kesekian kali. Ia menyingkap rok pendek selutut yang menutup paha Yeojin, menariknya keatas dengan tidak sabar. Ia mengusapnya pelan, dengan seluruh gairah yang sudah tak mampu ia pertahankan Chanyeol perlahan mengarahkan miliknya pada milik Yeojin. Park Chanyeol menatap wajah Yeojin dalam diam dengan nafas menderu berat. Begitu lekat memperhatikan setiap mimik yang gadis itu ciptakan ketika ia memasukinya.
Park Yeojin mengalihkan tatapannya kearah samping. Tangisnya begitu saja pecah. Ia terisak dengan hati tersayat, merasa dirinya begitu lemah. Derai air mata begitu deras mengalir dikedua dipipinya yang memanas. Park Chanyeol menarik lembut dagu itu untuk menatapnya, berusaha menyampaikan pesan lewat sorot matanya yang bersinar teduh.
“aku tidak akan menyakitimu, percayalah padaku, Yeo” Chanyeol berkata begitu alun, mengoyak hati Yeojin yang sekeras batu karang. Gadis itu memilih mengalungkan kedua tangannya pada pundak Chanyeol yang terbuka ketika hentakan keras terasa luar biasa sakit menyerang tubuh bagian bawahnya. Ia menjerit histeris, tangisnya yang begitu pilu nyaris memekakan telinga. Chanyeol mendongak menyelami bagaimana milik Yeojin mencengkeram miliknya kuat. Pria itu mengerang nikmat ketika secara utuh dirinya berhasil masuk memenuhi rahim Yeojin yang masih begitu sempit. Pria itu menyadari darah segar mengalir dari tubuh mereka yang menyatu. Bibirnya mengulas senyum bangga karena tentu ia adalah yang pertama bagi Yeojin.
“akhㅡchan” Yeojin meringis. Ia merasa ngilu hebat yang menyergap seluruh tubuhnya ketika milik Chanyeol yang berkedut hebat memenuhi miliknya yang begitu basah. Masa berdiam diri untuk menyesuaikan posisi mereka seperti terenggut waktu, memerintahkan untuk segera menuntaskan ini tidak lama lagi. Chanyeol menggerakkan tubuhnya perlahan. Menghentak dengan kasar berusaha mencapai titik kepuasan dari aktifitas yang melelahkan jiwa.
“ah ah Yeoㅡ” Chanyeol membungkam bibir Yeojin dengan ciuman panasnya. Tubuhnya yang bergerak begitu alun perlahan bergerak cepat dan kasar. Tangannya begitu aktif menggerayangi tubuh wanita dibawahnya dengan segenap nafsu yang menggerogoti disetiap sel otaknya. Tak mempedulikan lantai marmer yang dingin menusuk tulang, Chanyeol menghimpit tubuh itu kuat. Ia menarik tengkuk Yeojin, menapaki kembali bekas kemerahan diarea leher jenjang gadis itu yang mendongak lemah.
“Yeojin-ah.. ohh~” Gelombang itu semakin mendesak datang, membuatnya siap melayang. Namun gairah pria itu yang begitu besar tak mengijinkan ia datang begitu cepat. Chanyeol melepas kontak itu tiba-tiba, membuat Yeojin mendesah menahan sakit oleh perbuatan tak terduga Chanyeol.
Dengan tenaga tersisa ia mengangkat tubuh Yeojin berdiri. Punggung ringkih yang terbuka itu dengan keras membentur tembok yang tak kalah dingin ketika Chanyeol mendorongnya mundur. Menghimpitnya begitu rapat kedinding. Ia mengambil alih satu kaki Yeojin untuk dikalungkan melilit pinggangnya. Ia memasukkanya lagi, posisi ini membuatnya lebih begitu terbakar. Chanyeol menggeram frustasi, ia menghentak-hentakan miliknya kasar dengan gerakan kesetanan. Tubuh wanita dalam kuasanya begitu lemah. Pias wajahnya begitu sayu. Chanyeol membelainya lembut, membawanya sekali lagi pada ciuman panas penuh gairah yang tidak akan pernah padam.
“Yeo.. akh~ aku” Tubuhnya menggeliat bermandikan peluh. Chanyeol terus bergerak mendaki kepuasan yang begitu dinantikannya. Tubuh Yeojin yang begitu sempit sungguh membuatnya menggeram gila, pria itu mengangkat wajahnya yang tertutup kabut ketika ia merasa nafas gadis itu berhembus tak teratur. Park Chanyeol hampir saja membunuhnya dengn ciuman panas yang nyaris tanpa jeda. Hatinya mulai tak tenang, Ia mencium pipi gadis itu yang basah dengan air mata entah untuk keberapa kalinya. Hatinya bergetar hebat melihat tubuh Yeojin begitu tak berdaya dibawah kuasanya.
Ia menghentikan pergerakannya. Mengangkat tubuh lemah itu berjalan menuju ranjang. Mereka masih menyatu, merasa harus menuntaskannya karena demi apapun Park Chanyeol tak akan bisa menghentikannya. Ia cukup merasa nyeri yang begitu membakarnya karena orgasme yang tertunda.
Pria itu meletakkan tubuh Yeojin yang lemah dengan hati-hati keatas ranjang mereka yang nyaman. Ia bergerak lagi. Posisinya yang menindih tubuh itu lekat membuatnya lebih leluasa bergerak beralaskan ranjang mewah yang begitu empuk.
“Oh shit!” Chanyeol hampir sampai, ia menghentakkan miliknya keras ketika kenikmatan yang menderanya terasa dahsyat menjalar keseluruh tubuhnya, mengalir disetiap sel darah hingga membelai jantung. Tenggorokannya tercekat ketika gelombang itu semakin dekat menghampirinya. Ia merasakan milik wanita itu yang berkedut kuat, begitupun dengannya. Mereka hampir menang, pergerakan Chanyeol yang cepat secara perlahan berubah teratur. Ia mendongakkan kepala keatas saat miliknya mengeluarkan jutaan benih kedalam rahim Yeojin bersamaan dengan erangan dari wanita itu.
“aku sampai Yeo…” 
Tubuh Chanyeol tumbang bersama nafasnya yang hampir habis, matanya terpejam diiringi desah penuh kelegaan. Ia merasa lemas menjalar keseluruh tubuhnya karena energi yang terkuras habis. Ia mengerang ketika ia mengangkat miliknya keluar dari tubuh Yeojin yang begitu panas. Menggulingkan badan kesamping dengan segenap ketakberdayaannya.
Pria itu menoleh kesamping. Matanya yang redup mendapati Yeojin yang terlentang dengan pandangan mata kosong. Kedua bibir yang bergetar sedikit terbuka, meraup oksigen untuk menstabilkan nafasnya yang tersenggal. Chanyeol memperhatikan dengan diam, ia melihat seberapa banyak titik peluh menghiasi dahi Yeojin yang tak terhitung jumlahnya. Jantungnya terasa nyeri ketika mendapati setetes air bening mengalir disudut mata wanita itu ketika terpejam. Chanyeol bergerak mendekat. Merengkuh tubuh polos itu kedalam pelukan yang menenangkan jiwa.
Ia mengusap punggung dingin itu dengan usapan penuh sayang. Chanyeol mencium dahinya dengan segenap perasaan, mencoba mengucapkan ribuan kata maaf melalui sentuhannya yang lembut.
Matanya terpejam merasa pisau yang mengoyak jantungnya terasa begitu mencabik ketika wanita itu menangis tersedu. Meraung dengan isakan yang begitu pilu. Chanyeol sadar jika kali ini ia memang terlalu berlebihan dengan sikapnya yang kelewat batas. Namun, setitik rasa penyesalan tak sedikitpun hinggap dihatinya yang sekeras batu. Ia memang egois. Ia tak memperdulikan panggilan apapun yang pantas untuknya sebagai balasan atas sikap brengseknya. Karena sejak awal ia hanya ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya.
“kau memperkosaku” ucap gadis itu parau. Wajahnya yang basah tenggelam dalam dada bidang pria itu yang masih merengkuhnya lekat. Nafasnya telah menderu stabil, begitu panas menerpa dada telanjang Chanyeol.
Chanyeol terkekeh. Merasa sangat lucu mendengar ucapan Yeojin yang begitu konyol.
“benar, aku telah memperkosa istriku sendiri” kelakarnya. Ia merengkuh kepala Yeojin lebih dalam, membelai rambutnya dengan usapan lembut.
“kupastikan kau akan membusuk dibalik jeruji besi” geramnya. Suara seraknya penuh emosi. Tubuhnya menggelinjang gelisah, merasa risih ketika tubuh lengket mereka yang telanjang bersentuhan begitu intim. Mengantarkan ingatannya pada peristiwa beberapa menit yang lalu. Yang membuatnya mual seketika. Akan tetapi, hatinya tak dapat berbohong jika pelukan pria itu serta sentuhannya yang begitu lembut sesaat membuat hatinya kembali meleleh. Ia merasa perasaan nyaman dan amat terlindungi ketika tubuh itu merengkuhnya posesif.
“dan seluruh negeri akan menertawakanmu dengan bodoh karena tindakan konyolmu. Percayalah, semua yang kulakukan padamu sangat sah dimata negara dan hukum. Bahkan dimata Tuhan sekalipun”
“Cih!” desis Yeojin “aku tidak percaya orang tuaku telah menyerahkanku dengan orang pemaksa sepertimu”
“dan aku amat bersyukur untuk itu”
“kita baru dua hari menikah Chanyeol-ssi, apa yang kau harapkan dari itu”
Chanyeol tersenyum lembut. Ia melongok melihat wajah gadis itu yang bersembunyi didadanya yang berdebar hebat “sudah tiga tahun kita saling mengenal Yeo. Pertemuan yang tidak begitu singkat tak pantas tergadaikan hanya karena kesalahpahaman dan bayang-bayang dari pria lain”
“Apa maksudmu”
“Perlu kau ketahui, untuk semua hal buruk yang pernah aku lakukan padamu, tak semua seperti yang kau duga. Ada alasan lain yang akan sulit dijelaskan hingga kau akan memahami. Namun itu semua kulakukan bukan berarti aku mudah untuk ingkar janji..” Chanyeol berkata penuh kelembutan, nadanya yang begitu alun seolah ingin memberi kepercayaan kuat pada gadis dalam dekapannya
“Dan tentang pria itu. Laki-laki yang kau sebut temanmu. Aku tidak suka saat ia menyentuhmu, hatiku tak tenang melihat caranya membuatmu tersenyum dan tertawa begitu lepas, hatiku gelisah ketika bayangan semunya berada dikedua iris matamu ketika ia menatapmu.”
Ditengah rasa gelap yang perlahan mulai merasukinya, Park Yeojin sempat berdecak “selain pemaksa dan egois ternyata kau seorang monster yang sangat pecemburu” ucapnya serak, membuat bibir Chanyeol menciptakan guratan senyum tipis diwajah lelahnya “hanya menurutiku sekali saja Yeojin-ah, jangan terlalu dekat dengan pria itu atau kau akan menerima lebih dari apa yang baru saja aku lakukan padamu”
“aku membencimu, kenapa aku harus menikah denganmu, Chanyeol-ssi.. wae?”
Yeojin berkata seolah mengigau, perkataan yang lebih mirip gumaman itu membuat sang pria sadar jika sebuah rasa ingin tenggelam dalam dunia khayal yang disebut mimpi mendera mereka berdua untuk segera mengunjunginya.Park Chanyeol semakin menguatkan rengkuhannya seolah tak ingin kehilangan. Ia mengusap pipi gadis itu ketika perlahan kedua matanya mulai terpejam. Pria itu mencium keningnya cukup lama, turun kehidung lalu mengecup bibir itu sekilas
“karena itulah takdir, sayang. Karena aku mencintaimu”
-Kkeut-
Yup, Our Wedding kkeut yaa.. cukup smpe part 4 ajaa.. sayanya capek klo hrus dtuntut chan buat jinakin yeojin xD ^^ makasih buat yg udah sempetin baca, ini ff pertamaku yg finish soalnya.. kritik saran dr kalian sangat berharga buatku.. makasih ya
Cerita ini juga ak share di Wattpad, dg judul, alur & maincast yg sama.
Ok see you..ppai ppai ^^)/

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: