Our Wedding [Promise] Part 3

0
ff nc chanyeol exo Our Wedding [Promise] Part 3
Tittle : Our Wedding [Promise] Part 3
Author : harajukyu
Cast : Park Chanyeol, Park Yeo Jin, Do Kyungsoo and others
Genre : NC, Sad, Romance, Married Life
Rate : NC21
●His Anger●
Sekali lagi Chanyeol merampas tangan Yeojin cepat. Park Yeojin meringis pelan. Dapat ia rasakan jemari Chanyeol yang mencengkeram pergelangannya kuat.
Chanyeol hendak melangkahkan kakinya keluar restoran, namun berhenti sesaat setelah ia mendapat cengkraman tangan dari orang lain.

“Kau tidak dengar, dia bilang tidak mau” Kyungsoo berkata dengan nada rendah nan tegas. Ia memicingkan matanya saat tangannya dihempaskan dengan kasar oleh Chanyeol.
“Ini bukan urusanmuㅡ “. Suaranya datar penuh ancaman. Park Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Yeojin. Mata gadis itu tampak basah, dengan kasar Chanyeol menarik tubuh Yeojin kesisi belakang tubuhnya.
“Siapa kau! Ini tidak ada urusannya denganmu”
“Aku temannya dan aku tidak akan diam saja melihat temanku diperlakukan kasar oleh orang sepertimu” Kyungsoo menetralkan nafasnya yang memburu. Dengan berani ia mengambil pergelangan tangan kiri Yeojin, menariknya agar lebih dekat kesisinya “dia akan pulang bersamaku”
“Kauㅡ” Chanyeol menggertakan giginya rapat. Matanya menyalang siap menghajar pria itu sekarang “lepaskan dia atau aku tidak akan segan memukulmu sekarang juga” ancam Chanyeol.
“Tidak akan!” tegas Kyungsoo. Ia menyunggingkan bibirnya melihat ekspresi tegang Chanyeol. Yeojin menatap kedua pria itu bergantian, kedua tangannya ia hempaskan kebawah dengan kasar. Namun persepsinya salah jika kedua tangannya akan terlepas semudah yang ia pikirkan.
“hentikan!” Park Yeojin menatap tajam kedua pria itu.
Berusaha mempertahankan genggaman tangan pada sisi masing-masing, Chanyeol dan Kyungsoo tetap bergeming menatap satu sama lain dengan tatapan membunuh.
“jika kau bisa membawanya pergi semudah yang kau pikirkan, maka itu adalah salah besar”
“jika kau pikir bisa mempertahankannya lebih lama disini maka itu adalah kesalahan yang jauh lebih besar”
“kau tidak ada hak untuk memperlakukannya seperti ini”
“Tentu aku mempunyai hak karena aku adalah SUAMINYA!”
Chanyeol berteriak tepat diwajah Kyungsoo. Yeojin yang melihatnya tak kuasa menatap wajah Kyungsoo yang memerah menahan marah.
Jantung Kyungsoo terasa tertusuk mata tombak yang sangat runcing, sesaat pria itu tersadar. Dengan perlahan Kyungsoo mengendurkan genggamannya pada pergelangan kiri Yeojin. Bahunya yang ringkih merosot lunglai. Ia telah kalah telak. Sebuah fakta yang tidak dapat ia pungkiri jika Park Yeojin sekarang sudah berubah status menjadi seorang istri, seberapa keraspun ia mengelak, jika sebuah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan tidak akan pernah merubah fakta itu. Seberapa jauh ia berpikir dusta tidak akan merubah apapunㅡ Park Yeojin yang sudah menikah dan mempunyai suami. ia adalah milik pria lain.
Chanyeol tersenyum melihat air muka Kyungsoo yang mamucat. Hatinya bersorak menang melihat pria itu terdiam dengan wajah pucat pasi. Menarik kembali tangan Yeojin yang tidak pernah ia lepaskan, Chanyeol menyeret Yeojin berjalan dengan langkah lebar menuju pintu restoran.
Kyungsoo melemaskan bahunya yang bergetar hebat. Otot dan syarafnya terasa kaku, tubuhnya mematung dan terasa sulit bergerak. Matanya yang basah hanya bisa menatap nanar punggung pria itu yang perlahan menghilang dari pandangannya, diikuti Yeojin dibelakangnya dengan langkah tergopoh-gopoh.
***
Park Yeojin menutup pintu mobil keras. Kedua kakinya ia ayunkan dengan cepat menuju pintu rumah. Sedikit berlari, Chanyeol mengikuti hentakan kaki Yeojin yang menggema dirumahnya yang besar. Ia hendak menutup pintu kamar dengan keras namun kalah cepat dengan Chanyeol yang berusaha menghalanginnya.
“kita perlu bicara” Chanyeol berkata dengan nada dingin. Sesegera mungkin ia menutup pintu itu keras dan menguncinya.
Tak kuasa menatap Chanyeol yang tengah berdiri dengan muka garang, Park Yeojin mengalihkan pandangannya kearah lain. Nyalinya merosot melihat Chanyeol berjalan kearahnya dengan pelan. Ia meringkuk, tak ubah seperti seekor tikus yang terjebak dalam perangkap kucing.
“siapa pria itu? kenapa kau bisa bersamanya dan apa yang kalian bicarakan” bombardir pertanyaan Chanyeol menyentak Yeojin. Gadis itu memutar bola matanya malas. Pria itu tidak berpikir apa yang sebelumnya ia perbuat padanya.
Darah Chanyeol mendidih tak segera mendapat jawaban dari gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya tepat dihadapan Yeojin “jawab aku, Yeo”
“itu bukan urusanmu” Yeojin berkata dingin. Suasana hatinya saat ini benar-benar tidak begitu baik. Pria itu yang membuatnya menunggu, ia yang membuatnya menelan ludah kecewa karena tak kunjung datang. Park Chanyeol yang lebih memilih bersama gadis lain dan melupakan janji dengannya. Dan tentang Kyungsoo, ia sangat kecewa dengan tingkahnya pada sahabat lamanya itu yang sangat buruk.
Park Yeojin berjalan menuju pintu ruangan. Ia hendak membuka pintu namun tak kunjung berhasil. Sial, ia lupa jika pria itu menguncinya.
“berikan kuncinya”
“jawab aku dan aku akan memberikan yang kau mau”
Park Yeojin mendengus “dia temanku” jawabnya singkat.
Wajahnya menegang, ototnya berkontraksi lagi menyebabkan rahangnya kembali mengeras. Park Chanyeol menghampiri Yeojin yang berdiri didepan pintu. Ia memegang bahu gadis itu kuat, menyebabkannya meringis.
“Ya! Lepaskan!”
“itu bukan jawaban yang aku butuhkan”
“apa maumu”
Park Chanyeol menatap Yeojin lekat. Nafasnya memburu dipermukaan wajah gadis itu. Sesaat Yeojin tersesat pada sorot mata Chanyeol yang begitu teduh. Wajah rupawannya yang begitu dekat membuatnya sulit bernafas. Tubuhnya begitu kaku, sulit digerakkan ketika pria itu semakin intens menatapnya dan hembusan nafas hangat yang menyapu permukaan wajahnya semakin membuatnya tidak bisa berfikir, ia begitu ingin cepat menyingkir dari pria ini dan terbebas dari keterkungkungannya.
Sekuat tenaga ia mendorong dada bidang itu. Park Chanyeol hanya bergeser sedikit. Bibirnya yang tebal menyeringai, ia menepiskan jaraknya lagi. Kali ini dengan menghimpit tubuh Yeojin begitu rapat kedaun pintu. Tak dapat ia dustai jika ia senang merasakan sensasinya. Wajah Yeojin yang dingin kian membuatnya cantik dalam cahaya lampu yang temaram. Tubuhnya yang begitu mungil terasa sangat pas terangkup dengan tubuh tegapnya. Gelenyar api panas mulai dirasakannya saat tubuh mereka bersentuhan begitu intim. Membuatnya menggeram frustasi. Kilas kejadian malam pertama beberapa waktu lalu berlalu lalang diotaknya. Membuat tubuhnya terasa panas dan bergairah.
“kau yang memulainya, Chanyeol-ssi. Aku membencimu” Yeojin berkata dengan sangat datar Ia mendongak menatap mata Chanyeol dingin.
Pria itu mengerutkan keningnya kuat “apa yang sudah kulakukan hinggga kau membenciku”
Pertanyaan bodoh itu seketika membuat Yeojin jengah. Sungguh ia begitu lelah. Perutnya masih terasa kosong belum sempat terisi karena pria ini yang merusak segalanya.
“kau yang membuat janji dan kau yang mengingkarinya. Aku menunggumu selama beberapa jam seperti orang bodoh. Aku mempercayai kata-katamu jika kau akan datang, jika kau akan menjemputku. Aku berfikir tidak apa-apa karena mungkin kau yang sedang sibuk. Namun semua prasangka itu sirna saat kau malah makan bersama gadis lain. Aku membencimu karena kau yang tidak menepati janji” Nafas Yeojin terengah-engah, sorot matanya menggambarkan kekecewaan yang begitu mendalam “Aku membenci orang yang ingkar” sambungnya.
Chanyeol menggerakkan badannya sedikit mundur, ia membulatkan matanya “Astagaㅡ Yeo, itu tidak seperti yang kau duga. Akuㅡ ” Chanyeol beku. Entah darimana ia harus mendapatkan kata-kata itu, ia benar-benar lupa akan janji itu. Saat jam makan siang tiba, sekretarisnya yang mendadak menghubunginnya karena ada pertemuan penting dengan relasinya dari Jepang. Tanpa berpikir ia mengiyakan ajakan itu, tak disadarinya jika ia mempunyai janji dengan orang lainㅡ istrinya.
“aku tidak bermaksud melupakannya. Maafkan aku.” Chanyeol berucap pada Yeojin yang masih tetap bergeming menatapnya.
“Aku mohon maafkan aku”
Park Yeojin tertegun dalam kebisuan. Bagaimana pria itu berucap terlihat sangat tulus. Mata teduh yang tak pernah lepas memandangnya lekat membuatnya meleleh, menghangatkan hatinya yang sesaat membeku, menenggelamkan tubuhnya dalam lautan rindu yang begitu memabukkan. Namun kekesalan yang menyelimuti hatinya lebih mendominasi, bagaimana ia begitu percaya akan perkataan pria itu yang harus diakhiri dengan menelan kecewa, menyulutkan emosinya yang melihatnya satu meja bersama orang lain.
“tidak ada apa-apa antara aku dan Kyo, kami hanya bertemu untuk membicarakan masalah saham perusahaan yang dibuka Ayah di Tokyo, aku hanya bertemu sekali dengannya. Hanya membicarakan bisnis dan tidak lebih” Chanyeol membawa dahi mereka beradu. Kedua tangannya yang semula berada dibahu Yeojin perlahan naik menangkup tengkuk gadis itu, membawanya dalam suasana hangat yang penuh candu.
Nafas pria itu memberat. Ia memejamkan mata membaui aroma gadis itu. Baginya, setiap ia berdekatan dengan Yeojin adalah hal baru. Park Chanyeol tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Bagaimana ia bisa bersikap memuakkan seperti ini pada seorang gadis, ia tidak pernah setergila ini. Baginya Park Yeojin adalah yang paling berbeda, jika kebanyakan gadis-gadis akan menyerahkan apa saja pada pria sepertinya. Namun ia tidak, sikapnya yang tenang membuat Chanyeol tertarik. Dan ia sangatlah beruntung karena ia merasakan ini pada gadis yang tepatㅡ istrinya. Park Yeojin adalah miliknya yang tidak boleh disentuh oleh orang lain.
“tapi aku tidak menyukai bagaimana kau memperlakukan Kyungsoo, bagaimanapun dia adalah temanku” kilah Yeojin, membuat Chanyeol menegang. Ia melepaskan rengkuhannya. Suasana hangat yang dibangunnya beberapa menit yang lalu hilang menjadi asap. Kejanggalan yang melingkupi relung hatinya menyerangnya. Membawanya pada perasaan gundah yang tak kunjung surut. Ia teringat akan mata pria itu yang menatap Park Yeojin lekat. Pancaran sinar matanya menggambarkan akan perasaan kagum yang melebihi rasa tertarik. Bagaimana tangannya menyentuh wajah yang hanya miliknya, Caranya berbicara padanya yang seolah membela, Ia tidak menyukai itu.
“jauhi dia” ucap Chanyeol lantang.
Kedua alis gadis itu beradu, Park Yeojin mengerutkan keningnya kuat. Merasa bingung akan ucapan ambigu yang dilontarkannya “apa maksudmu? Apa kau bercanda, dia adalah temanku sewaktu masih duduk dibangku sekolah dasar. Kami sudah seperti saudara dan saling berbagi kepercayaan, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu hanya karena orang sepertimu”
“apa yang kau maksud dengan orang sepertimu?”
Chanyeol menggeram. Ia merasa dirinya tersisihkan. Bagaimana cara gadis itu berucap seolah kehadiran dirinya tak berarti apa-apa dalam kehidupan gadis itu.
Ia seperti tak diinginkan.
“Aku suamimu” ucapan Chanyeol seperti deklarasi tak terbantahkan. Lukisan ekspresi kepercayaan dirinya tergores begitu tajam. Pria itu menatap Yeojin berang.
“Ya, kau hanyalah suamiku” Yeojin menyunggingkan senyum. Ucapan Yeojin kian membuatnya terbakar. Menciptakan percikan api dendam keseluruh aliran darahnya. Sifat acuh gadis itu seolah minyak tanah yang tersiram keseluruh tubuhnya. Membuatnya siap mati terbakar bara api amarah yang begitu membara. Ia hendak melangkahkan kakinya melewati pria itu namun suara benturan punggungnya terdengar tak selang dari dua detik setelahnya. Ia meringis. Pria itu mencengkeram bahunya begitu kuat.
“kau mencoba bermain-main denganku, Yeo!”
“Menjauh dariku!” Geram Yeojin. Wajahnya yang memerah marah justru membuat jantung Chanyeol bergemuruh, dada gadis itu yang membusung seperti memerintah otak tak warasnya untuk segera menyentuhnya. Merasakannya dimana-mana. Membuatnya begitu panas.
Chanyeol mendengus mendengar pernyataan tak berguna Yeojin. Mengabaikan kata yang dianggapnya angin lalu. Ucapan Yeojin bagaikan bisikan iblis yang menyuruhnya untuk semakin berontak. Gadis itu tidak tahu dengan siapa ia berhadapan saat ini.
Sekuat tenaga Yeojin mendorong dada itu. Menyebabkannya terpental menjauh kebelakang. Chanyeol tersenyum licik “akan aku tunjukkan padamu apa yang sebenarnya disebut dengan suami itu, Yeo. Bersiaplah!”
Yeojin berdiri kaku dengan kedua tangan terkepal. Sayup angin malam yang berhembus mengiringi suara langkah sepatu yang terdengar begitu alun. Pria itu berjalan mundur dengan sangat pelan. Jantungnya berdetak ribuan kali lipat. Suara hentakan kaki yang seperti bel kematian untuknya menambah perasaan waspada ketika melihat Chanyeol yang tersenyum jahat kearahnya. Lalu sedetik setelahnya senyumnya luntur, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana. Pria itu berdiri dengan guratan wajah tanpa ekspresi. Chanyeol memandang tubuh Yeojin dari atas hingga bawah, sorot mata elangnya seperti menguliti tubuh itu tak bersisa.
Gadis itu berdiri dengan angkuh. Kedua bibirnya yang terkatup membuat tubuhnya meremang. Chanyeol menggeram sekali lagi.
Dengan gerakan seperti angin Chanyeol melonggarkan simpul dasinya, menariknya cepat lalu membuangnya. Ia melepaskan jas hitam yang menutupi badan tegapnya, meloloskan dari tubuhnya lalu melemparnya asal. Bibirnya yang tebal menyeringai bak iblis pencabut nyawa. Membuat Yeojin bergidik ngeri.
“Apa yang kau lakukan” Yeojin terbata. Satu pertanyaan konyol yang membuat Chanyeol semakin melebarkan seringainya, membuat jantung Yeojin seperti meluncur kedalam jurang tak berdasar. Pria itu membalas dengan kekehan kecil yang begitu memuakkan dimata Yeojin.
Udara disekitar Yeojin seperti hilang ditelan kabut hitam yang tak terlihat, sulit bernafas ketika ayunan kaki Park Chanyeol secara perlahan mengarah padanya. Secara pasti, Park Chanyeol menepiskan jarak diantara mereka. Berdiri tidak jauh dari tubuh gadis itu. Park Yeojin membulatkan matanya saat pria itu hampir menggapainya, dengan gerakan gesit ia berlari kearah samping.
“kau pikir bisa lari dariku dengan begitu mudah, nona manis?”
-TBC-
%d blogger menyukai ini: