Nothin’ On You Part 9

2
Nothin’ On You Part 9 ff yadong kyuhyun super junior
FF “Nothin’ On You” Part 9 [Kyuhyun-Channie]
Story by : Deani [@yesungcharger]
Cast : Cho Kyuhyun, Park Channie.
Genre : Romance, Adult. Married life.
Ratting : NC-21
Ps : TYPO! Don’t Bash! Tidak suka tidak usah membaca! Oh, ya Part ini Panjangggg bangett!! Ingat Rattingnya yaaaa…. Catet! NC-21
Langsung saja, Happy Reading~~~~
“Kau menyakitiku, Cho Kyuhyun. Untuk apa kau berbohong padaku. Kau tidak bisa menjelaskan alasannya, kan? Untuk apa kau membohongiku? Tidak bisa…” lanjut Channie, mengusap air matanya yang masih ada di pipinya.

Aku berbohong karena aku tidak ingin kau memilih Jungsoo. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin kau hanya terus memikirkanku dan hanya ada aku yang ada di hatimu! Bukan pria itu. Maka dari itu aku berbohong, kalau aku sudah tahu kau anak angkat. Ada perasaan lain di hatiku, Channie. Hanya padamu ini aku rasakan. Batin Kyuhyun berteriak. Tapi, bibirnya seakan kelu. Ia tidak bisa. Pengecut. Brengsek, kau Cho Kyuhyun.
Mengambil nafas dalam-dalam. Channie menatap Kyuhyun, begitu pula Kyuhyun. Rahangnya terlihat mengeras. Pria ini terus menggeleng. Rasa takut masih ada di sana. “Tidak!” bentak Kyuhyun marah.
“Biarkan aku pergi. Aku mohon…”
Part 9
Channie memohon dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Dan itu membuat hati Kyuhyun terasa nyeri bagai di tusuk ribuan jarum. Ia bahkan bisa merasakan sakitnya hati Channie saat ini. Merasa di bohongi oleh orang-orang terdekatnya bahkan mengetahui dia bukan anak kandung dari kedua orang tua yang selama ini dianggap sebagai orang tua kandung olehnya.
Sudah pasti sangat. Sangat menyakitkan. Kyuhyun tahu itu. Tapi, untuk pergi dari sisinya walau sejenak. Kyuhyun tidak bisa berpikir akan jadi apa hidupnya nanti. Tanpa Channie?
Tidak. Tidak. Kyuhyun menutup matanya kuat-kuat. Berusaha menenangkan emosinya sendiri. Membuang nafas kasarnya, ia menatap Channie lekat-lekat. Bahkan tatapan Channie padanya menyiratkan rasa putus asa yang mendalam.
“Channie, kau sedang emosi. Kau shock dan itu tidak baik untuk kau mengambil keputusan, maksudku kau tidak bisa—“
“Tidak.” Channie memotong, “Aku sudah berpikir—“
“Kau pikir kau bisa pergi dariku setelah apa yang kau lakukan padaku!” suara Kyuhyun meninggi.
Tatapannya tajam tertuju pada Channie.
“Apa?” Channie memandangnya dengan terkejut, kemudian ia mengambil nafas, berat.
“Aku melakukan apa? Hah! Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai Istri Kontrakmu!” bentak Channie.
Keduanya saling menatap dengan tajam dengan siratan emosi yang tidak bisa dipendam lagi. Ingin sekali mengungkapkan segala apa yang mereka rasakan masing-masing saat ini.
“Aku tidak bisa.” bisik Channie memejamkan matanya kemudian mulai beranjak dari hadapan Kyuhyun.
Kyuhyun mengerjap. Pikirannya kosong. Channie-nya tidak mungkin benar-benar meninggalkannya. Tidak bisa dan tidak boleh. Apapun alasannya.
Menuju walkingcloset, Channie membuka pintunya untuk mengambil pakaiannya sendiri tapi tiba-tiba tangannya sudah ada dalam genggaman erat Kyuhyun.
“Lepas!” teriak Channie dengan berusaha melepas genggaman tangan Kyuhyun.
Kyuhyun bahkan tidak mengindahkan apa kata Channie, Ia dengan kekuatannya menyeret Channie. Menghempaskan Channie ke ranjang. Nafas Kyuhyun terdengar memburu dengan rahangnya yang  mengeras. Tatapannya menggelap. Menakutkan.
Channie menelan ludahnya perlahan. Sangat sulit bahkan. Kyuhyun marah dan sepertinya berhasil menciptakan atmosfir yang sangat menakutkan di kamar ini, walau pria itu masih saja terlihat sangat tampan dan panas. Sial, Channie. Kau malah berpikiran seperti ini.
“Cho Kyuhyun, aku hanya ingin sendiri. Aku butuh berpikir. Tidak bisakah kau memberiku sedikit kebebasan.”
“Tidak!” bentak Kyuhyun lantang dengan tatapannya terus saja menatap Channie dengan tajam.
“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!” sungut Channie tidak mau kalah. Channie hendak bangkit dari ranjang sialan ini dan ingin menuju dimana pakaiannya tersimpan, tapi sebelum ia beranjak tubuhnya langsung dihempaskan lagi oleh Kyuhyun.
Channie menjerit saat tubuh Kyuhyun menindihnya.
“Kau gila!” teriaknya. “Kau pria gila yang pernah aku temui!” kata Channie dengan berusaha mendorong tubuh Kyuhyun dari atas tubuhnya.
Kyuhyun mencengkeram erat kedua pergelangan tangan Channie. Menariknya ke atas kepalanya.
“Diam Channie. Diam!” teriak Kyuhyun dengan nafasnya yang terengah, begitu juga Channie yang terus meronta sekuat tenaganya.
Tapi usahanya sia-sia. Tubuhnya terkunci rapat oleh tubuh Kyuhyun.
Channie terisak pelan. Putus asa…
“Tenang ku mohon…” bisik Kyuhyun pelan berusaha menenangkan emosinya sendiri dan juga Channie.
Isakan Channie terdengar begitu menyayat hatinya. Kyuhyun bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Brengsek! Bahkan disaat seperti ini, dengan posisinya yang menindih tubuh lemas Channie, Ia hanya ingin menyelesaikan masalahnya dengan bercinta dengan panas hingga Channie bisa melupakan kejadian barusan. Melupakan masalah yang menimpanya. Brengsek, kau Cho Kyuhyun!
Perlahan, nafas mereka berdua sedikit mereda.
Tatapan Kyuhyun terus saja tertuju pada gadis yang ada di bawahnya. Tidak berpaling sedikitpun. Tapi, lain halnya Channie. Dengan pergelangan tangan yang masih dalam genggaman Kyuhyun. Ia hanya bisa mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tidak bisa ia terus bertatapan dengan Kyuhyun yang pria itu dalam kondisi marah dan panas dalam satu waktu.
“Kau tidak berhak membuatku terus seperti ini, Cho Kyuhyun. Kau bahkan tidak mempunyai alasan untuk apa kau berbohong padaku dan untuk apa aku harus tetap tinggal—“
“Oh, Sialan!” potong Kyuhyun dengan marah. “Kau ingin tahu apa?” desis Kyuhyun.
Tidak. Kau tidak perlu marah dengan Channie hanya karena gadis itu akan tahu perasaanmu yang sebenarnya. Bisikan batinnya mengingatkan.
Channie masih belum menatap Kyuhyun. Kalau ia menatap sorot mata Kyuhyun, ia yakin ia akan berubah pikiran. Ia tahu, Kyuhyun sangat takut ia akan pergi. Pria itu takut ia pergi, tapi bahkan Channie tidak bisa membaca alasan apa hingga Kyuhyun berusaha mati-matian untuk menahannya. Yang ia tahu, Kyuhyun hanya merasakan trauma seperti apa yang terjadi pada kakak perempuannya, Cho Ahra yang di tinggalkan oleh orang yang di cintainya, dulu.
Tunggu!!! Di cintai???
Tidak mungkin? Kyuhyun mencintainya? Apa itu benar? Debaran jantung Channie makin berdegub dengan kencang ketika batinnya menyeruakkan kata Cinta.
Kyuhyun menarik dagunya, agar Channie menatapnya.
“Kau pikir setelah apa yang kau lakukan hingga menjeratku seperti pria gila dan ingin mati jika kau meninggalkanku, dan kau berpikir kau hanya sebatas Istri Kontrak!!” ucap Kyuhyun penuh dengan penekanan di setiap katanya.
“Kau pikir hanya sebatas itu, hah!” lanjut Kyuhyun.
Channie seketika menegang mendengar ucapan Kyuhyun yang terdengar frustasi dan sangat sungguh-sungguh. Sorot mata Kyuhyun menyiratkan kejujuran yang begitu mendalam, hingga Channie merasakan hatinya ikut larut dalam tatapan ini.
Menundukkan sedikit wajahnya. Kyuhyun mensejajarkan dengan wajah Channie. Kemudian Ia mengambil nafas dalam-dalam, untuk kesekian kalinya. “Ya, Tuhan. Kau tidak bisa meninggalkanku, Channie. Tidak bisa kau lakukan ini padaku.” desis Kyuhyun frustasi. Terdengar sangat terluka.
Channie bisa merasakan perasaan Kyuhyun. Apakah benar Kyuhyun mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya untuk Kyuhyun.
“Aku membutuhkanmu. Demi, Tuhan… Channie.” sambungnya sungguh-sungguh. Tatapannya semakin terlihat menyala-nyala. Channie masih belum bergeming. Ia hanya bisa membalas tatapan Kyuhyun.
“Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika kau pergi dari sisiku, pergi dari jangkauan pandanganku. Aku gila hanya memikirkannya saja apalagi itu terjadi padaku, Channie. Kau tidak merasakannya juga? Kau—kau… tidak bisakah kau lihat kebersamaan kita selama ini?” jelas Kyuhyun dengan tatapan menyelami dalam-dalam mata Channie. Begitu intens. Penuh ketulusan.
DEG. Kita?
Jantungnya berdegub dengan begitu kencang begitu mendengar apa kata-kata Kyuhyun barusan. Pria ini terlihat begitu jujur dalam mengucapkan setiap patah katanya pada Channie. Lalu, kata Kita, membuat Channie seperti pernyataan Kyuhyun menyatu dengannya. Selamanya.
Tubuh Channie panas dingin… Berdebar. Pikirannya tidak bisa fokus setelah mendengar apa kata Kyuhyun padanya. Membutuhkan? Gila… Ini sama dengan apa yang Channie rasakan. Bahkan ia mungkin tidak bisa hidup jika Kyuhyun tidak ada di sampingnya. Tapi—
“Kita?” Bibir Channie bergumam, mengulangnya pelan, “Kita. Kita hanya sebatas perjanjian—“
“Oh, persetan dengan perjanjian itu!” bentak Kyuhyun marah. “Aku akan membakarnya. Aku bersumpah akan memusnahkan kertas sialan itu agar kau hidup selamanya denganku. Hanya denganku. Hanya denganku.”
Tubuh Channie bergetar mendengar apa kata sumpah Kyuhyun pada perjanjian mereka. Apa yang Kyuhyun maksud, mereka hidup seumur hidup. Selamanya. Bersama. Oh, ayolah, Channie sangat senang hati menerimanya. Tapi, apakah ia akan hidup selamanya dengan Cho Kyuhyun kalau ia mengatakan, kata Cinta untuk Kyuhyun. Bahwa Channie mencintainya? Apa Kyuhyun mau menerimanya? Perasaan Channie menciut seiring ia tahu rasa trauma Kyuhyun akan perasaan cinta. Mengingat masa remaja Kyuhyun yang sangat sulit dan kejadian masa lalu yang membuat pria—yang paling diminati ini, sulit atau bahkan takut untuk mencintainya.
Channie menggigit bibirnya, menahan tangis dan sesak di dadanya mengingat perasaan yang mungkin sulit terbalas atau bahkan Kyuhyun tidak mau menerima ia mencintai pria ini.
Sesak. Air matanya mengalir lagi, begitu deras. Tanpa suara. Hanya isakan, dan Kyuhyun kini menatapnya dengan tatapan terluka.
“Channie, aku akan melakukan semua itu. Percayalah padaku.” Kyuhyun melepas genggaman pergelangan tangan Channie, kemudian mengusap air mata Channie yang kian membasahi pipinya.
“Ssshh… Dengar. Aku tetap tidak akan mengijinkanmu. Pergi dariku. Tidak akan.” bisik Kyuhyun tepat di depan wajah Channie. Channie masih menangis. Entahlah, perasaan Channie semakin campur-aduk. Semua begitu tumpah ruah di pikirannya saat ini.
Kyuhyun tidak habis pikir, Channie bersikeras ingin pergi dari sisinya. Ini adalah hal yang paling ia takutkan sepanjang waktu, sepanjang ia mengenal dan hidup bersama Channie.
Hal ini, yang paling ia takutkan akan terjadi. Sampai matipun, ia tidak akan membiarkannya terjadi.
“Apa kau berpikir pergi hanya untuk kembali pada Jungsoo?” tiba-tiba pertanyaan ini keluar dari mulut Kyuhyun. Terdengar ragu-ragu, tapi membuat Channie langsung terkejut. Tubuhnya menegang mendengar Kyuhyun bertanya seperti ini.
“Apa?” gumam Channie. Mereka saling menatap.
“Channie kau—“ Kyuhyun berdebar. Apa benar firasatnya? Tidak mungkin.
“Kyuhyun apa—“
“Kau meninggalkan aku setelah tahu kau bukan anak kandung dari kedua orang tuamu dan tahu bahwa Jungsoo—pria yang kau cintai juga bukan kakak sepupumu, jadi kau berniat kembali padanya.” ucap Kyuhyun memburu.
Channie tercengang mendengar ucapan Kyuhyun yang tidak masuk akal. Demi Tuhan, ini sangat konyol. Pikiran Kyuhyun terlalu jauh menerka-nerka.
Channie melihat sorot mata Kyuhyun seperti pria ini sangat menanti jawabannya dan terlihat sekali dia… Terluka. Bahkan Kyuhyun beranjak dari atas tubuhnya. Dan memilih duduk lalu mengusap kasar wajah—kusut yang bahkan masih saja terlihat sangat tampan.
Tergagap, Channie hendak bersuara tapi Kyuhyun memotongnya, “Yang aku takutkan benar-benar terjadi. Benar-benar terjadi.” gumam Kyuhyun pelan.
Channie bangun dan ia berusaha melihat wajah Kyuhyun yang bahkan kini pria itu berulangkali mengusap wajahnya gusar. Hembusan nafas Kyuhyun juga terdengar kasar.
“Kyuhyun kau—“
“Kau bahkan masih ingin bersamanya walau kau masih sebagai istriku.” potong Kyuhyun cepat dengan nada suara yang meninggi. Channie tersentak, kemudian Kyuhyun menoleh dan menatapnya. Matanya memerah, Channie bisa melihat kemarahan Kyuhyun dan juga kesedihan pria ini.
“Omong kosong apa ini!” sanggah Channie. “Kau—kau kenapa menyimpulkan aku akan kembali pada Jungsoo! Apa kau gila berpikir aku akan—“
“Ya!” sentak Kyuhyun, “Ya, Channie! Aku gila. Aku gila sejak bertemu denganmu pertama kali. Di Club sialan milikku itu! Aku gila sejak aku melihatmu. Sejak pertama kali aku melihatmu. Aku sudah gila.” Kyuhyun berteriak seolah Channie tuli tidak bisa mendengarnya.
Kyuhyun mengusap rambutnya kasar, dadanya terlihat naik-turun menahan emosinya yang membuncah. Pikirannya kosong. Channie melihat Kyuhyun frustasi karena mengutarakan perasaannya yang sangat tergila-gila padanya. Di Club malam itu. Jadi, Kyuhyun melihat dia pertama kali di Club malam itu, lalu perjodohan itu?
Channie menggeleng pelan. Ini terlalu rumit. Ia perlu bernafas. Sesak sekali mendengar kegilaan Kyuhyun pada dirinya. Lalu, melihat Kyuhyun menuduhnya dengan Jungsoo membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak menyangka Kyuhyun berpikir ia akan pergi demi Jungsoo. Gila.
Memijit pelipisnya kemudian Channie membuang nafasnya berat. “Ini konyol, Cho Kyuhyun. Aku tidak mungkin—“
“Ya ampun. Aku bahkan tidak memberitahumu kalau kau diadopsi oleh kedua orang tuamu karena apa? Hah?” potong Kyuhyun, “Sepupumu yang brengsek itu bahkan melarangku untuk memberitahumu waktu itu. Dan itu, kita sudah menikah Channie. Sudah menikah.” jelas Kyuhyun.
“Jungsoo memberitahumu,” ucap Channie ragu. Ia terkejut. Jadi, Kyuhyun tahu dari Jungsoo. “Kyuhyun, bagaimana kau bisa bertemu dengan Jungsoo dan kapan. Tuhan—“
“Bukan itu sebenarnya alasan aku tidak langsung memberitahumu.” lanjut Kyuhyun tenang dan mengabaikan pertanyaan Channie untuknya.
“Kyu—Kyuhyun apa—“
“Aku tahu kau mencintainya, dan pria itu—“ Kyuhyun menarik nafas dalam-dalam. Tidak. Tidak. Dia tidak akan menceritakan kalau Jungsoo juga mencintai Channie. Tidak akan. Demi Tuhan, ia tidak mau mengambil resiko. Seketika Kyuhyun merasakan sesak di dadanya, sakit.
Channie menggeleng pelan, mendengar Kyuhyun mengatakan separuh dari inti perkataannya. Ia mencintai Jungsoo? Tidak.
“Channie kau mencintainya, kan?” tanya Kyuhyun penuh penekanan. Menatap Channie dalam-dalam, membuat Channie berdebar-debar. Lemas.
“Kau bodoh, Cho Kyuhyun…” gumam Channie sambil menggeleng pelan.
Kyuhyun tersenyum kecut mendengar apa kata Channie. Gadis itu terlalu samar-samar. Ia bahkan tidak bisa membaca perasaan Channie padanya. Arggh….!!!
Meraih bahu Channie dengan kedua tangannya, “Aku memang bodoh. Dan itu semua karenamu, kalau kau ingin tahu. Pikiranku kosong, aku tidak bisa berpikir yang lainnya saat pikiranku terus saja memikirkanmu yang bahkan masih mencintainya, mencintai pria itu—“
“Cho Kyuhyun! Kau benar-benar—“ bentak Channie dan ia mulai menangis lagi. Kyuhyun benar-benar tidak bisa membaca perasaannya. Ya, Tuhan… Bagaimana pria yang begitu sangat berkuasa di negaranya, bahkan untuk menebak perasaannya, dia tidak bisa.
“Sialan! Kau mencintai pria itu Channie, dan kalian tidak sedarah. Kau bisa saja men—menikah dengannya. Lalu apa yang bisa aku lakukan selain aku tidak memberitahumu. Katakan! Katakan!” jelas Kyuhyun dengan suara yang meninggi membuat tangis Channie semakin pecah.
“Lebih sialannya lagi. Dia, Pria itu tidak sepertiku. Dia bukan bajingan brengsek yang suka tidur dengan banyak wanita, dia bukan seperti itu, Channie. Bukan…” Kyuhyun semakin frustasi, “Apa yang bisa aku lakukan agar kau di sisiku untuk saat itu dan selamanya. Kau pikir, apa yang seharusnya aku lakukan, Channie. Apa!” teriakan Kyuhyun disertai guncangan pada tubuhnya.
Channie mendorong dada Kyuhyun karena ia sudah tidak kuat dengan apa kata Kyuhyun. Bodoh, bodoh. Dasar pria bodoh. Channie segera bangkit, namun lagi-lagi tubuhnya terhempas ke ranjang. Kyuhyun berhasil meraih tubuhnya.
“Masih ingin pergi?” Kyuhyun berhasil mengunci tubuh Channie. Channie menggeleng, ia tidak sanggup berbicara. Ia hendak menyangkal semua tuduhan Kyuhyun—ia kembali dengan Jungsoo dan masih mencintai pria itu, bahwa semua itu tidak benar. Tidak benar.
“Persetan dengan perasaanmu.” desis Kyuhyun.
“Tidak, Cho Kyuhyun. Demi Tuhan, kenapa kau bodoh sekali…” jeritnya sambil menangis. Aku mencintaimu, bagaimana mungkin kau masih berpikir aku akan kembali pada Jungsoo? Batinnya berteriak.
“Ku mohon, dengarkan aku—“
“Tidak.” teriak Kyuhyun. Menggeleng cepat dengan membuang nafasnya kasar, Kyuhyun segera menutup bibir Channie—yang dari tadi memang menggodanya untuk ia lahap dengan rakus. Kyuhyun menekan keras bibirnya pada bibir Channie. Tubuhnya semakin merapat, lekat di atas tubuh Channie. Memimpin, dan mendominasi ciuman ini. Ia tidak mau Channie mengatakan kalau dia masih—Oh persetan. Dia tidak mau mendengar itu semua.
Channie bahkan ingin menjelaskan apa yang dia rasakan. Sepertinya Kyuhyun sudah tidak memberinya kesempatan dengan Kyuhyun menekan bibirnya. Meronta dan mendorong dada Kyuhyun, namun dengan cepat Kyuhyun menarik pergelangan tangannya, menggenggamnya erat. Ia tidak bisa bergerak.
Kyuhyun melumat bibirnya dengan keras, mengulum bibir atas dan bawah Channie, mencecapi setiap rasa pada bibir Channie yang menurutnya sangat nikmat dan tidak ada duanya di dunia ini. Lumatan Kyuhyun semakin cepat membuat Channie kesulitan bernafas. Membuka mulutnya, dengan mudah lidahnya bertemu dengan lidah Kyuhyun. Permainan ciuman Kyuhyun dengan begitu lihai, sarat akan emosinya seakan lidahnya mampu membuat Channie orgasme karena Kyuhyun menyerang begitu intens setiap saraf yang langsung menuju ke organ intimnya yang kini terasa panas. Lidah yang membakar dan basah itu melilit lidahnya, menyusuri rongga mulut Channie, membuat Channie juga ikut menikmati ciuman Kyuhyun yang semakin liar ini.
Terengah. Melenguh, mereka bersama-sama.
Jantung Channie berdegub begitu kencang setiap kali ia mendengar erangan Kyuhyun karena ia juga membalas setiap lumatan bibir Kyuhyun pada bibirnya. Deru nafas yang menggebu serta bunyi decapan dari perpaduan bibir mereka berdua menghiasi kesunyian kamar mereka. Begitu membakar gairah Kyuhyun. Lenguhan Channie terdengar setiap kali ia mengambil nafas sejenak. Ciuman Kyuhyun benar-benar panas, semakin bergairah. Kyuhyun seolah menumpahkan kemarahan serta perasaannya ke dalam ciuman ini. Ia tidak mampu mengatakan langsung pada Channie. Ya, Tuhan… Ia tidak mau kehilangan Channie. Tidak.
Begitu pula Channie, ia ingin Kyuhyun tahu dengan ciumannya ini, dia sudah tidak mencintai Jungsoo. Channie sudah sangat mendamba Kyuhyun. Mencintai Kyuhyun. Sangat.
Kyuhyun menghentikan lumatan bibirnya secara perlahan. Masih memejamkan matanya, ia mengambil nafas dalam-dalam. Dada mereka yang masih bergesekan satu sama lain terlihat naik-turun karena nafas mereka yang terkuras habis akibat ciuman yang menggebu yang mereka lakukan.
“K—kau tahu efekmu terhadap tubuhku. Tidak bisa berhenti…” gumam Kyuhyun di depan bibir Channie, terengah. “Kau juga masih berpikir aku kasian lalu mau di jodohkan dengamu begitu. Aku bukan pria sebaik itu, Channie. Kau tahu itukan.” lanjutnya lagi.
Channie menelan ludah getir, setelah ciuman penuh gairah dan ia yakini akan berakhir dengan percintaan panas di ranjang ini, Kyuhyun masih ingin menjelaskan apa yang membuatnya salah paham. Tuhan, pria ini…
“K—Kyuhyun aku…”
“Apa kau pikir, aku bisa hidup dengan melihatmu bersama  pria lain, huh.” Kyuhyun menghembuskan nafasnya panjang. “Tidak bisa.” melumat bibir Channie lagi, sesekali. Mencecapi rasa setiap inchi bibir yang penuh dengan candu ini. Begitu menggoda, membuatnya terbakar oleh gairahnya sendiri.
Channie tiba-tiba merasakan kehilangan saat Kyuhyun berhenti mengulum bibirnya. Membuka matanya dan mendapati Kyuhyun juga tengah menatapnya.
Belum sempat Channie berbicara—ia bahkan tidak sanggup. Bibirnya kelu. Ia masih terpaku karena ciuman dahsyat dan kata-kata Kyuhyun, ingin menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan. Dan ia ingin menanyakan sesuatu pada Kyuhyun. Tapi, pria itu secepat kilat beranjak dari ranjang kemudian menuju pintu kamar mereka. Kyuhyun menarik kartu yang ada di pintu itu, kemudian tanpa berbalik menghadap Channie, ia menutup pintu kamarnya dengan cepat dan menguncinya… dari luar.
Channie yang masih terpaku kemudian sadar dengan apa yang Kyuhyun lakukan.
“C—Cho Kyuhyun!” teriaknya keras saat mengerti Kyuhyun mengunci pintunya dari luar. Beranjak Channie dari ranjangnya, menuju pintu kamar. “Cho Kyuhyun! Cho Kyuhyun!” panggilnya lagi dengan menggedor pintu ini dengan keras. Panik.
“Hey! Apa yang kau lakukan! Cho Kyuhyun, kau sakit jiwa!” teriaknya lagi masih dengan berusaha membuka pintu yang nyata-nyatanya tidak mungkin berhasil.
Kyuhyun yang masih bersandar di pintu, memejamkan matanya kuat-kuat. Ia harus melakukan ini. Harus. Katakan ia Brengsek atau Bajingan Pengecut, terserah. Yang paling penting adalah Channie harus ada dalam jangkauan pandangannya. Ia tidak bisa jika Channie benar-benar meninggalkannya untuk pria itu. Menekan dadanya yang masih berdebar dengan kencang Kyuhyun berusaha menenangkan emosinya. Kepalanya pening.
Teriakan Channie dari dalam semakin membuat hatinya teriris-iris. Ia tidak bisa mendengar Channie-nya menangis seperti ini. Benar-benar memilukan.
“Kyuhyun! KAU. Brengsek! Kau mengurungku!” isaknya, “Buka pintu sialan ini! Buka!” jeritnya lagi.
Kyuhyun menggeleng. Tidak mungkin. Channie pasti akan pergi. Demi,Tuhan, gadis itu tahu Jungsoo bukan saudara sepupu lagi. Mereka bisa bersatu. Memikirkan itu kepalanya kembali berputar. Pening semakin menyerang.
Tidak akan membuka pintu, kalau Channie masih ingin pergi darinya.
Channie kehilangan banyak tenaga setelah kejadian yang dia alami, dalam seharian ini. Begitu menguras tenaga dan pikirannya. Hingga ia sudah tidak bisa berteriak lagi. Ia lemas dan merosot ke lantai. Masih terisak, walau sudah pelan. Ia meringkuk sendiri di sini. Di dalam kamar yang sudah Kyuhyun kunci, dan ia seorang diri, di lantai marmer yang dingin ini.
“Cho Kyuhyun, Sialan. Brengsek.” gumam Channie pelan. Ia sudah tidak sanggup bersuara lantang lagi. Ia seakan pasrah menerima ini, walau batinnya menjerit.
“Bodoh…” gumam Channie. “Apa dia pikir setelah apa yang ia lakukan padaku selama ini, masihkah ada cinta untuk Jungsoo. Dia bodoh atau apa, tidak tahu perasaan wanita yang mencintainya…” gumaman yang hanya bisa ia dengar sendiri, lebih tepatnya.
Kyuhyun yang masih di luar kamarnya, bersamaan dengan ini, ia mulai beranjak dari depan pintu kamar ini. Mengusap wajahnya kasar. Ia meyakinkan dirinya. Ini yang terbaik. Ia harus mengurung Channie-nya, sampai keadaan membaik. Tapi, apa Channie bisa memaafkannya setelah ini?
Kyuhyun tidak kuasa untuk berjalan. Dengan langkah yang gontai ia menuruni satu persatu anak tangga. Terduduk di salah satu anak tangga, ia meremes rambutnya.
“Arggh!!!” teriaknya frustasi. Memecah keheningan penthousenya yang sepi.
Meraih ponselnya, Kyuhyun berniat untuk menelpon seseorang, tetapi ponselnya diwaktu bersamaan juga berdering. Menekan touchscreen-nya dengan cepat.
“Ya!” bentakknya, “Syukurlah kau mengangkatnya. Ryeowook bilang ada sesuatu yang bisa membahayakan istrimu, benar.” tanya Kangin.
“Hyung. Berikan aku beberapa orang terbaikmu untuk menjaga penthouseku ini. Segera.” Kyuhyun menekankan setiap katanya. Ia mengabaikan apa kata Kangin padanya.
“Okey. Nanti aku kirim data mereka untukmu. Benar-benar, aku tidak habis pikir orang-orang Yoon Jae Suk masih ada. Sial. Padahal aku dulu, mengerahkan orang-orang terbaikku.” geram Kangin, “Ini akan lebih berbahaya. Mereka mengincar nyawamu. Kau tahu!”
“Ya. Aku tidak gentar, jika mereka ingin membunuhku. Tapi, Channie. Demi, Tuhan. Mereka menginginkan Channie. Entah, kenapa dia dan orang-orangnya tahu, aku menikah dengan Channie!”
“Aku yakin. Orang terdekatmu, atau bahkan kau mengenal sosok yang telah mengincar Channie.”
“Aku tahu!” Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Ia tampak gusar. Stress. “Sialan. Yang terdekat denganku? Aku hanya mengantongi nama karyawan brengsek itu! Yoon Doo Joon!”
“Keluargamu, Cho Kyuhyun. Mereka dalam incaran target jika Channie gagal mereka dapatkan. Tapi, sebelum kau memerintahkan. Aku sudah mengirim orangku untuk menjaga Ibu dan kakakmu. Tidak terkecuali, mengawasi rumah dan kedua mertuamu. Aku tidak peduli kau marah atau apa.”
Kyuhyun tersenyum samar. “Kau yang terbaik. Aku percaya padamu. Brengsek, aku ingin sekali menghabisi mereka. Sekarang.”
“Tenang. Jongwoon, Sungmin bertindak sangat rapi dalam mengawasi pergerakan orang-orang mereka. Baiklah. Aku ada urusan. Jaga istrimu, baik-baik.”
“Ya.” Kyuhyun mengakhiri pembicaraannya dengan Kangin. Di lihat arloji yang ada di tangannya. Sudah larut malam. Bahkan Kyuhyun tadi berencana mengajak Channie makan malam. Tapi, tadi saat ia pulang ia menemukan Channie yang kesakitan dengan segala kenyataan yang ia dapatkan, dalam waktu sehari.
Channie pasti belum makan. Sial. Bagaimana ia terus mengajak Channie bertengkar.
“Perlu sesuatu?” tanya Young Min. Kyuhyun mendongak dan mendapati pria paruh baya itu menatapnya, iba. Kyuhyun menggeleng pelan.
“Tidak, aku hanya perlu makan malam untuk, Channie.” jawab Kyuhyun terus berjalan ke pantry dapur.
“Bibi Han, menyiapkannya. Seperti biasa.” jawab Young Min. Pria ini walau tampak kaku, namun beginilah pembawaannya. Sejak Kyuhyun berusia lima tahun, pria ini sudah menemani Kyuhyun kemanapun Kyuhyun pergi.
“Cukup untuk makan malam, hari ini.” kata Kyuhyun setelah melihat makanan yang Bibi Han siapkan. Rupanya, hanya untuk hari ini.
“Tadi, Channie mampir ke sebuah Restourant. Apa kau tahu, dia menemui siapa?” tanya Kyuhyun sambil menyiapkan alat makan.
“Itulah mengapa saya merasa bersalah. Saya hanya berada di luar saat itu. Tapi, setelah keluar dari sana, Nona Channie kelihatan sangat terpukul dan kacau, lalu meminta saya mengantarkan ke rumah orang taunya. Saya rasa, seseorang telah membuatnya kacau.”
Kyuhyun terdiam mendengar penjelasan Young Min.
“Restourant apa. Aku akan segera melacak orang itu.” Tunggu! Kyuhyun ingat, Channie tadi bilang padanya bahwa Dia-lah yang memberitahu Yoo Mi mengenai siapa Channie sebenarnya. Bagaimana bisa Yoo Mi tahu? Jungsoo? Jungsoo memberitahu hal ini kepada siapa lagi…
Ia harus membereskan secepatnya.
***
Channie sudah meringkuk di atas ranjangnya seperti janin dalam kandungan. Sendirian. Ia kemudian mendengar ketukan pintu kamarnya dan kemudian pintu itu terbuka. Ia sedikit terperanjat. Apa Kyuhyun membukanya?
“Maaf, ini makan malam anda, Nona. Tuan muda sudah menyiapkannya. Anda belum makan. Jadi, tolong makanlah ini.” Young Min, dengan sopan meletakkan nampan berisi makanan di atas meja tak jauh dari ranjang Channie.
Young Min segera keluar dan mengunci kembali kamarnya.
Channie tertegun. Young Min yang mengantar makanannya. Ia mirip seorang tawanan Cho Kyuhyun. Matanya kembali memanas. Bahkan, Kyuhyun tidak mau bertemu dengannya. Kyuhyun tidak mau repot-repot bertemu dengannya lagi? Meringis sedih karena kenyataan bukan Kyuhyun yang datang, ia merasa kehilangan, Channie kemudian merapatkan selimutnya membungkus tubuh mungilnya.
Apa benar, Kyuhyun tidak ingin kehilangannya, seperti apa kata orang tuanya tadi sore pada Channie. Bahwa mereka juga tidak ingin kehilangan Channie. Bahwa gadis sebaik dia, memang tidak di takdirkan sendirian. Ada orang-orang yang selalu menyayangi di sekelilingnya. Pikirannya menerawang, masa kecilnya dengan kedua orang tuanya yang selalu menyayanginya. Yang menenangkannya saat menangis. Ada terselip rasa bahagia di dalam hatinya. Ia beruntung ditemukan oleh kedua orang tuanya—yang sangat menyayangi Channie lebih dari apapun.
Mengingat kembali percakapannya tadi sore, di rumah orang tuanya. Saat Channie menanyakan detail di mana dulu orang tuanya mengadospinya—menemukan Channie, lebih tepatnya. Itu yang membuat Channie semakin sedih. Perkataan Yoo Mi benar. Ketika, Jihyun—Ibunya sedang berada dirumah sakit karena mengalami keguguran dan terpaksa di operasi, terjadi masalah dalam rahim Ibunya itu mengakibatkan Ibunya sulit dan bahkan tidak mungkin bisa mengandung kembali. Kesedihan dan keputusasaan kini mendera Soo Hwan dan Jihyun yang memang sudah sangat lama mendambakan seorang anak dalam keluarga mereka.
Entah, keberuntungan apa yang sedang Soo Hwan alami saat itu, hingga saat ia membeli keperluan untuk istrinya, yang saat itu masih terbaring di rumah sakit walau kondisinya sudah membaik. Ia berjalan ke luar dari rumah sakit. Mencari toko terdekat, hingga ia mendengar suara rengekan pelan, seorang bayi. Beruntung Soo Hwan peka dan ia bisa menemukan bayi mungil itu di dalam tong di sekitar tumpukan kertas bekas dan…
Channie menenggelamkan kembali wajahnya ke dalam bantal. Ia tidak sanggup mengingat itu semua. Orang tuanya sudah begitu tulus menyanyangi dan merawatnya dari bayi hingga sekarang, dan ia bersumpah tidak akan mencari tahu siapa yang membuangnya. Ia akan mengubur dalam-dalam siapa dan dari mana asalnya. Dia hanya putri Soo Hwan dan Jihyun yang selamanya akan menjadi orang tua kandung bagi Channie. Selamanya.
Tangisnya yang memecah keheningan malam, membuatnya lelah dan seiring berjalannya waktu ia terlelap setelah menjelang pagi.
***
Channie merasakan ada kecupan hangat di dahinya yang berlangsung lama. Merasakan juga hembusan nafas yang menerpa permukaan wajahnya. Merasakan tatapan tulus dari sepasang mata yang menatanya intens. Ia bahkan bisa mencium aroma yang selau membuatnya betah berlama-lama dalam pelukan pria ini. Tidak mungkin Dia. Kyuhyun tidak mungkin ke kamarnya.
Channie hendak membuka matanya untuk memastikan, tapi rasanya begitu berat. Matanya terasa bengkak karena banyak menangis kemarin. Aroma memabukkan dari pria ini membuatnya nyaman untuk terus terlelap. Perlahan ia mulai lelah untuk membuka matanya dan kembali lelap dalam tidurnya. Samar-samar ia bisa mencium aroma pancake dan sesuatu yang harum menggantikan aroma pria ini.
Dengan sedikit kekuatan Channie berhasil membuka matanya dan sadar jika ia sendirian di dalam kamarnya. Entah mengapa hatinya merasa kecewa. Tidak ada Kyuhyun yang menyapa paginya. Semua tadi hanya ilusinya semata. Apa kau berharap padanya setelah kau ingin pergi darinya dan melewati malam kemarin dengan bertengkar hebat dengannya, Channie. Jangan harap. Salah satu sudut hatinya mengatakan seperti itu.
Mendesah panjang, ia masih enggan beranjak dari ranjangnya. Kepalanya juga masih terasa sangat berat. Ia melihat jam yang ada di nakas, sudah pukul sembilan sepuluh pagi. Kyuhyun pasti sudah tidak ada di rumah. Bergeser sedikit, Channie bangkit dari duduknya, dan melihat ada nampan berisi sarapan untuknya. Roti panggang, pancake dengan sirup mapple di atasnya serta segelas susu. Bahkan Channie tidak merasa lapar kemarin malam, tapi sekarang setelah melihat sarapan yang begitu menggiurkan dia ingin sekali melahapnya tapi…
Ada ketukan halus di pintu kamarnya. Kemudian, Young Min masuk, dan Channie bisa memastikan sekarang. Young Min-lah yang mengantar sarapan untuknya. Bukan Kyuhyun.
“Hanya memastikan, tolong Nona belum makan dari kemarin malam. Jangan sampai Nona sakit. Makanlah, Tuan muda sudah berusaha membuatkan sarapan ini untuk anda.”
DEG.
Jantung Channie berdebar dengan keras mendengar pernyataan Young Min, bahwa Kyuhyun yang membuat ini untuknya. Mustahil. Kenapa dengan pria itu? Channie berusaha untuk tidak menampakkan keterkejutannya pada Young Min.
“Kalau perlu bantuan, tinggal menekan tombol di interkom. Ada seseorang yang akan membantu Nona sementara saya mengantar Tuan muda ke kantornya.” jelas Young Min lagi.
Jadi, Kyuhyun belum berangkat? Masa bodoh. Channie masih enggan mengurusi itu. Tapi, setidaknya ia tahu Kyuhyun masih perhatian padanya. Dan entah mengapa hatinya menghangat melihat nampan sarapan untuknya.
“Saya permisi…” pamit pria paruh baya itu, kemudian berlalu dari kamar ini.
Channie bahkan tidak memberi jawaban setiap perkataan Young Min. Ia masih marah, kesal dan kecewa kenapa tidak Kyuhyun saja yang berhadapan dengannya. Masa sulitnya sekarang, dan ia membenci dirinya sendiri yang mempunyai perasaan rindu untuk Kyuhyun di saat ada masalah yang membuat mereka harus menyendiri, untuk sementara waktu.
***
Setelah Young Min keluar dari kamar Channie, Kyuhyun yang berdiri di ujung koridor ruangan menuju kamar mereka, menatap Young Min penuh dengan kekecewaan.
“Dia masih belum ingin makan.” gumam Kyuhyun. Ini bukan pertanyaan melainkan pernyataannya sendiri, melihat raut wajah Young Min yang sudah terbaca olehnya. Pria paruh baya itu mengangguk singkat. Ia merasa cemas melihat Tuan mudanya yang bahkan terlihat sangat kacau pagi ini. Terlihat sekali, Kyuhyun belum tidur semalaman.
“Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkannya. Tapi—Ya ampun, banyak sekali hal penting yang harus aku tangani hari ini menyangkut penyusup sialan itu!” ucap Kyuhyun frustasi.
“Tenang Tuan muda, Penthouse sudah aman dan orang-orang Kangin sudah saya tempatkan di setiap titik untuk menjaga keamanan di sini. Setidaknya Nona Channie aman.”
Menghembuskan nafasnya yang panjang, Kyuhyun menggeleng pelan, “Baik… Aku akan berangkat sendiri ke kantorku—“
“Tidak. Tidak. Tuan muda.” potong Young Min. “Anda dalam kondisi yang kurang baik. Saya akan mengantar anda lalu cepat kembali ke sini dan memastikan semuanya aman.”
Memang benar apa kata Young Min. Kyuhyun hanya patuh, menuruti apa mau Young Min.
***
Cho Enterprises, Holding Inc.
“Kau perlu menenangkan dirimu, Cho Kyuhyun. Kau terlihat mengerikan. Apa kau tidak tidur semalaman? Hanya semalam tapi lihat, kau tampak jauh lebih tua dari usiamu sebenarnya.” ucap Donghae yang berada di depan Kyuhyun, di dalam ruangan kerja Kyuhyun.
“Hyung. Tidak lucu.” sahut Minhyuk yang sedang membereskan berkas-berkas untuk Kyuhyun tanda tangani. Donghae hanya mencibir dengan bibirnya.
Sepertinya Kyuhyun tidak menanggapi dengan serius apa kata Donghae. Ia terus berpikir dan berpikir. Channie. Channie. Bagaimana gadis itu sekarang. Sialan. Baru saja ia memantau keadaan penthouse melalui layar datarnya dan menelpon Young Min, bahkan semuanya aman. Tapi, Channie tetap belum menyentuh makanannya. Gadis keras kepala.
“Percuma kau menyiapkan berkas itu, Kang Minhyuk. Dia tidak akan menyentuhnya. Percaya padaku.” ucap Donghae. Sepupunya itu hanya menghembuskan nafas panjangnya.
“Aku sudah menduga, kalau Yoo Mi itu tahu kau sudah menikah. Seharusnya kau lebih hati-hati padanya, Cho Kyuhyun. Dan sekarang jelas-jelas wanita itu menghilang.” jelas Donghae.
“Berarti benar yang menemui dan memberitahu Channie memang, Yoo Mi.” tanya Minhyuk, dan Donghae mengangguk mantap.
“Tsk! Dasar wanita iblis itu, benar-benar… Aku heran kenapa Kyuhyun Hyung bahkan dulu bisa berhubungan dengan wanita semacam it—” Minhyuk tidak melanjutkan kata-katanya setelah mendapat tatapan dari Donghae dan Kyuhyun secara bersamaan.
“Aku terlalu banyak bicara. Maaf.” ralatnya dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Donghae kembali menatap Kyuhyun, “Beruntung Restaurant kemarin tempat Channie bertemu adalah cabang dari milik Jongwoon Hyung, jadi dengan cepat bisa tahu siapa yang Channie temui.”
“Cho Kyuhyun. Apa kau tidak curiga, Jungsoo ada kaitannya dengan ini?” tanya Donghae tiba-tiba. Ia tahu dari cerita Kyuhyun kalau Jungsoo adalah orang yang tahu bagaimana kedua orang tua Channie menemukan Channie, dulu.
Kyuhyun memang akan menemui pria itu! Tangannya mengepal, hingga buku-buku jarinya memutih.
Donghae dan Minhyuk menatap Kyuhyun dengan tatapan serius, tapi Kyuhyun malah menutup matanya kuat-kuat. Terlihat sangat kacau sekali Bos besarnya ini. Mereka berdua menjadi merasa sangat simpati dengan masalah yang Kyuhyun hadapi saat ini.
“Hyung, sebaiknya kau beristirahat. Masalah penyusup ini, biarkan kami yang mengurus. Lagi pula, Jongwoon dan Sungmin Hyung serta semua orang kepercayaanmu sudah bekerja cepat dan sangat baik.” kata Minhyuk meyakinkan, disertai anggukan Donghae.
“Tidak.” sahut Kyuhyun tegas. “Aku ingin tahu secara detail siapa dibalik semua ini, dan apa yang mereka rencanakan untukku.” geram Kyuhyun.
Meraih ponselnya, Kyuhyun menghubungi Ryeowook. “Ya, Ryeowook! Batalkan makan siangku hari ini dengan Mr. Collins. Aku ada urusan nanti siang. Tidak. Aku sendiri. Baik. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lakukan apa yang aku perintahkan.” Kyuhyun memutus sambungan teleponnya tidak menghiraukan Ryeowook yang bahkan di sana masih melayangkan pertanyaan untuk Kyuhyun.
“Mau aku temani, kebetulan aku dan Minhyuk bertemu dengan beberapa klien nanti siang, dan mereka mengundur jamnya, bagaimana?” tawar Donghae. Ia menatap Minhyuk sekilas, dan sepupunya ini mengangguk. Mereka khawatir pada Kyuhyun. Lagi pula, keselamatan Bos besar mereka juga terancam. Walau mereka tahu, Kyuhyun juga bisa melindungi dirinya sendiri.
“Tidak usah. Kalian lanjutkan pekerjaan kalian.”
***
Kyuhyun mengendarai Maybach Exelero-nya dengan cepat. Tidak menunggu Young Min datang mengantarnya, di kantor bahkan ada berpuluh-puluh mobil sudah siapkan untuknya. Untuk ia kendarai. Menatap lurus ke depan, Kyuhyun terus berkonsentrasi agar ia juga cepat sampai di tempat tujuan untuk bertemu dengan pria itu.
Suara ban berdecit seiring dengan berhentinya mobil mewah dengan kecepatan super yang Kyuhyun parkir tepat di depan sebuah Cafe, tempat yang pria itu inginkan untuk bertemu dengannya. Bahkan dengan suara mobil saja, Kyuhyun menarik semua pengunjung yang masuk dan keluar Cafe tersebut.
Mengedarkan pandangannya, Kyuhyun menemukan sosok itu tengah duduk menatap jendela. Rahang Kyuhyun mengeras seketika dan mengepalkan tangannya. Rasa sesak di dada kini menyelimuti dirinya. Berjalan dengan cepat Kyuhyun ke arah pria itu duduk.
Jungsoo. Dia mengedarkan pandangannya dan tepat, ia menemukan Kyuhyun yang sedang berjalan ke arahnya. Aura pria itu tampak sangat menyeramkan. Ia bisa merasakan atmosfer itu dalam radius beberapa meter dari tempatnya ia duduk sekarang.
Jungsoo memberanikan diri untuk berdiri dan hendak menyapa Kyuhyun, setidaknya untuk berbasa-basi pada Kyuhyun. Tapi, sebelum dia mengeluarkan kata sapaannya, Kyuhyun sudah ada di depannya dan tanpa Jungsoo duga sebelumnya, Kyuhyun dengan mudah melayangkan kaki kirinya tepat di perutnya hingga ia tersungkur mengakibatkan kursi dan beberapa peralatan berjatuhan.
Terdengar riuh dari semua pengunjung.
Jungsoo meringis sakit dengan tendangan kaki Kyuhyun, pria itu masih berdiri menjulang di atasnya. Jungsoo bangun dan hendak melayangkan pukulan balasan untuk Kyuhyun, tapi..
“Brengsek!” geram Kyuhyun sambil Kyuhyun melayangkan pukulan cepat, tepat di rahang Jungsoo.
BUGH!
Jungsoo lagi-lagi tersungkur dan kini suara riuhan pengunjung mulai terdengar ramai. Tidak ada yang berani melerai mereka berdua terutama Kyuhyun. Dari wajahnya, dia tampak sangat mengerikan, amarahnya benar-benar meluap seiring dia menatap Jungsoo yang masih menyeka darah di sudut bibirnya.
“Oh, sialan!” Jungsoo merasakan kemejanya di tarik oleh Kyuhyun hingga dia berdiri dan saat Kyuhyun akan melayangkan pukulannya lagi, Ia kalah cepat. Dan, tepat Jungsoo berhasil melayangkan pukulan dan menciptakan bercak darah di sudut bibirnya, juga.
Kyuhyun meringis merasakan darah di mulutnya dan terasa perih.
Menarik krah kemeja Jungsoo, Kyuhyun menatap pria di depannya dengan tatapan penuh amarah dan menggelap. Deru nafas mereka berduapun terdengar sangat berat akibat perkelahian barusan. Namun, Kyuhyun belum puas. Ia ingin sekali menghajar pria ini sampai Jungsoo terkapar.
“Kau! Brengsek!” bentak Kyuhyun.
“Dan kau. Bajingan!” balas Jungsoo balas membentak. Amarah Kyuhyun makin tersulut. Rahangnya semakin mengeras. Darahnya seolah mendidih sampai ke ubun-ubun.
BUGH!
Kyuhyun kembali melayangkan pukulannya lagi pada wajah Jungsoo. Pria itu terdorong kebelakang sambil meringis kesakitan. Darah segar keluar dari mulutnya lagi. Sial. Pukulan Kyuhyun benar-benar membuatnya kesakitan.
“Kau pikir, membocorkan rahasia Channie pada orang lain, dan menyuruhnya untuk memberitahu Channie. Bisa membuat Channie berpaling dariku dan kembali padamu! Mimpi saja kau pecundang sialan!”
Kyuhyun belum sempat melayangkan pukulannya lagi, ia kembali merasakan hantaman di sudut di rahangnya. Darah mengalir dari mulutnya, lagi. Kemeja putihnya yang ia pakai tanpa menggunakan Jas-nya—yang sudah berantakan, terkena cairan kental berwarna merah itu. Rupanya pukulan Jungsoo juga sama kerasnya dengan pukulannya terhadap pria itu.
“Tutup mulut sialanmu itu. Aku tidak sepicik itu! Apa kau pikir, aku ini dirimu yang pengecut!” bentak Jungsoo.
“Persetan. Kau pikir kau lebih baik dari pada aku, hah! Sialan kau!”
Kyuhyun seperti tidak bisa mengendalikan dirinya, menerjang tubuh Jungsoo hingga pria itu ada di bawahnya dan ia melayangkan pukulan tepat di wajah Jungsoo.
Tepat di pukulan yang ke-dua tangannya di tahan oleh seorang pria…
“Cho Kyuhyun! Hentikan!” pekik Donghae sambil menarik Kyuhyun dari atas tubuh Jungsoo. Dan Minhyuk menarik tubuh Jungsoo agar tidak terkena serangan pukulan Kyuhyun yang sudah bertubi-tubi.
Kyuhyun meronta dan hendak memberi pukulan lagi, Donghae beruntung cukup kuat menahan tubuh kesetanan Kyuhyun. Dan Minhyuk menahan tubuh Jungsoo sedikit menjauh dari Kyuhyun, supaya pria ini tidak ikut membalas perlakuan Kyuhyun. Sungguh, sangat mengerikan di sini.
“Hentikan, Cho Kyuhyun! Kau bisa membunuhnya!” deru nafas Kyuhyun masih memburu, begitu juga Donghae. “Tenang, Cho Kyuhyun.” ucapnya berusaha membuat emosi Kyuhyun mereda. Tapi, tatapan Kyuhyun terus tertuju pada Jungsoo, juga sebaliknya.
“Tenang…” ucap Donghae lagi. “Kita bicarakan ini, baik-baik… Okey.”
Beruntung Donghae dan Minhyuk mengikuti Kyuhyun tadi. Kecepatan Kyuhyun mengendarai mobilnya, membuat Minhyuk dan Donghae sempat kehilangan sedikit jejak tadi.
***
Sudah dua hari tiga malam ini, Channie belum bertemu dengan Kyuhyun atau lebih tepatnya Kyuhyun dengan sengaja tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Channie. Bahkan makan malam hari ini, lagi-lagi ia tidak menyentuhnya. Hanya memakan buah yang masih tersisa di dalam lemari es yang ada di dalam kamar Kyuhyun ini.
Sudah ia mencoba untuk memakan sedikit makanan yang Young Min siapkan, tapi entah rasanya menjadi aneh setelah masuk ke dalam perutnya. Begitu juga dengan makan malam kali ini. Ia lapar. Memang sangat lapar, tapi entah ia malas untuk memakannya.
Channie meringis mengingat Kyuhyun mengurungnya di sini, dan pria itu beranggapan kalau dia masih mencintai Jungsoo? Hatinya juga seperti ditusuk-tusuk mengingat Kyuhyun tidak menengok dirinya sama sekali. Ya, Tuhan. Kenapa ia menjadi sangat amat merindukan Kyuhyun. Begitu mendalam, melebihi apapun.
Bosan, Channie meraih ponselnya. Membaca pesan dari Ibu dan Ayahnya yang menanyakan kabarnya. Mereka berdua benar-benar khawatir dengannya. Kemudian, Channie ingat tadi siang saat Dokter Shin menelponnya, karena jadwal penyuntikkan kontrasepsi Channie untuk bulan depan. Tidak terasa, Ia menikah dengan Kyuhyun sudah hampir sebulan.
***
Kyuhyun memasuki penthousenya dengan wajah yang tampak sangat letih. Begitu kacau. Mengusap tengkuknya dan memiringkan kepalanya untuk mengurangi ketegangan yang ada di kepalanya.
Melepas Jas dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa, ruangan tengahnya. Kyuhyun memejamkan matanya kemudian memijit pelipisnya sendiri. Menghindar dari Channie serta tidak menyentuh Channie secara terang-terangan, membuatnya gila.
Oh, ayolah. Kyuhyun tidak benar-benar menjauh dari pandangan Channie. Ia hanya memberi Channie waktu, sesuai permintaan gadis itu. Berpikir dan menenangkan dirinya sendiri. Ia juga mengontrol setiap waktu bagaimana keadaan Channie melalui Young Min dan juga seperangkat alat yang memang ada di dalam kamar ini, memudahkan Kyuhyun memantau apa yang Channie lakukan. Kecuali, area kamar mandi.
Lalu dia seperti bajingan yang mengendap-endap tiap malam untuk masuk ke dalam kamar dan memastikan Channie sudah terlelap. Menatap Channie untuk mengobati rasa rindunya. Itu yang ia lakukan, tapi itu tidak berarti sama sekali untuk menyembuhkan rasa rindu yang sangat amat dalam pada Channie. Bahkan, luka di wajahnya pun yang masih terlihat memar sampai saat ini, ia bisa mengabaikan rasa itu. Tapi, rasa rindu bertemu, bertatapan dengan Channie dan menyentuh gadis itu. Tidak akan ada obatnya, kalau ia terus menghindar. Seketika pening menderanya.
Kyuhyun merasakan kepalanya yang makin terasa berat ditambah ia mengingat apa kata Jungsoo kemarin yang menyebutkan Juyeon—tunangannya lah yang kemungkinan besar memberitahu Yoo Mi, dan sampai saat ini keduanya, baik Yoo Mi dan Juyeon menghilang, entah kemana.
Kyuhyun tersadar ketika mendengar bunyi pesan dari ponselnya. Meraih ponselnya dengan malas. Rupanya, dari kakaknya.
‘Aku menelpon berulang-kali kau bahkan tidak mengangkatnya! Aku dengar terjadi masalah cukup serius? Kenapa kau tidak mengatakan padaku? Kenapa selalu kau berusaha untuk menanggungnya sendiri? Kakak bisa membantumu, Cho Kyuhyun. Percayalah. Aku siap kapanpun kau butuhkan. Oh, ya… Sejauh ini Cho Group aman dari masalah penyusup-penyusup yang kini beredar di sana. Jangan lupa makan, Cho Kyuhyun. Jaga kesehatan. Dan ada salam dari Ibu. Main ke rumah, kami merindukan juga adik ipar. Dia baik-baik saja, kan. Aku akan menelponmu lagi, I love you….’
Kyuhyun membaca pesan dari kakaknya, terharu. Bahkan, Ibunya tidak pernah repot-repot mengurusinya. Menanyakan kabar saja, bisa di hitung dengan jari tiap bulannya. Apa segitunya beliau merasa kesepian kehilangan Ayah, dan lebih memilih menyibukkan dirinya dengan kegiatan sosial di mana-mana?
Kyuhyun beranjak dari sofa—nyamannya dan tertarik untuk segera menemui Channie. Kata Young Min, Channie masih saja sama. Tidak mau menyentuh makanan, hanya buah dan beberapa biskuit yang ada di sana. Gadis itu benar-benar. Dia tidak tahu, bagaimana Kyuhyun khawatir akan dirinya. Dia menyiksa dirinya sendiri dengan tidak memakan makanan sedikitpun. Apa dia mau sakit?
Kyuhyun membuka pintu kamarnya dengan menimbulkan suara yang keras.
“Persetan dengan marahmu, Channie. Kau mau sampai kapan tidak menyentuh makanan sedikitpun. Kalau kau sakit—” Ucapan Kyuhyun terhenti setelah melihat ranjangnya kosong. Channie tidak ada di sana.
“Channie!” teriaknya, matanya mulai mengedarkan pandangan ke penjuru kamar ini. Channie tidak ada. Kemudian Kyuhyun menggeser pintu kaca menuju kolam renang, ia mendengar samar-samar suara dari kamar mandi.
Secepat kilat Kyuhyun segera menuju ke sana.
“Hueekkk…” Channie memuntahkan apa yang ada di isi perutnya. Sekarang hanya air yang ia keluarkan. Perutnya sakit dan kepalanya semakin pening karena di dalam perutnya seakan ada kontraksi untuk mendorong ia memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.
“Hueekkk…”
“Channie! Ya ampun!” pekik Kyuhyun bersamaan dengan di bukanya pintu kamar mandi. Channie tidak menoleh, ia terus menunduk ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. “Ya, Tuhan. Channie…” ucap Kyuhyun khawatir sekaligus lega ia menemukan Channie di dalam kamar mandi. Setidaknya, pikiran buruknya tidak terjadi.
Kyuhyun merapikan rambut Channie dan membantu memijit tengkuk, untuk meringankan sakit Channie memuntahkan isi perutnya.
Channie sudah tidak mempunyai tenaga lagi, bahkan untuk berdiri. “Hhh…hhh” desah Channie panjang usai dia puas memuntahkan isi perutnya. Kyuhyun membantu membasuh wajah Channie. Gadis itu hanya bersandar di dadanya. Tidak kuasa untuk berdiri.
“Aku panggil dokter.”
Channie menggeleng sambil memejamkan matanya dan posisinya masih sama—bersandar pada dada Kyuhyun. Sungguh, dua hari ini ia seakan lelah karena muntah.
“Channie… Demi Tuhan, kau tampak pucat.” Kyuhyun mengusap wajah Channie dengan kedua telapan tangannya. “Makan Channie. Beginilah, kalau kau tidak makan—”
“Tidak. Aku tidak nafsu.” jawab lirih Channie. Bahkan sangat pelan. Kyuhyun yang melihat kondisi Channie menjadi tidak tega untuk memarahi gadis ini. Rasa marahnya tadi yang ada di ujung tanduk, seakan menguap setelah ia melihat Channie.
Yang ada kini hanya rasa bersalah di hati Kyuhyun. Kenapa dia membiarkan Channie selama dua hari dengan tidak memastikan gadisnya ini makan dengan teratur.
Channie merasakan tubuhnya terangkat. Ia dalam gendongan Kyuhyun menuju ranjangnya. Ya, Tuhan. Ia sangat merindukan pria ini. Merasa nyaman di pelukan Kyuhyun dan menghirup aroma pria ini membuat Channie menghangat.
Kyuhyun menyelimutinya sampai batas dada. “Tunggu sebentar. Aku buatkan tea mint untuk mencegah mual pada perutmu. Minum obat Channie, tapi kau harus makan terlebih dulu…”
Channie menggeleng pelan.
Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. “Channie. Kau harus makan. Aku buatkan bubur, minum obat.”
Channie tidak kuasa untuk membantah Kyuhyun. Ia seakan tidak mempunyai tenaga untuk berbicara begitu banyak. Yang ia rasakan kini, ada perasaan bahagia ketika ia melihat sorot mata Kyuhyun yang begitu teduh padanya dan ada rasa khawatir yang begitu mendalam untuknya.
Setelah mengecup punggung tangannya, Kyuhyun dengan cepat keluar dari kamar ini.
***
Beberapa jam berlalu, setelah Kyuhyun berhasil membuat bubur dan Channie dengan paksaan Kyuhyun, memakan bubur tersebut walau tidak sampai habis. Setidaknya, perutnya terisi karbohidrat.
“Jangan pergi!” teriak Channie tapi matanya tetap terpejam, “Ku mohon jangan pergi. Jangan!” teriakannya begitu membuat tenggorokkannya sakit.
“Channie. Bangun…” Kyuhyun berusaha membangunkan Channie. Gadis ini terengah. Nafasnya memburu karena mimpi yang di alaminya barusan. Dan keringat dingin membanjiri tubuhnya.
“Channie, buka matamu.” perintah Kyuhyun dan akhirnya dengan nafasnya yang berat, Channie berhasil membuka matanya.
Channie seperti merasakan kelegaan yang luar biasa setelah tahu semuanya hanya mimpi. Kyuhyun ada di depannya. Nyata! Kyuhyun menangkup wajahnya dengan tatapan yang sendu dan penuh kasih. Membuat Channie merasa nyaman. Dia ingin menangis mengingat mimpi itu seperti nyata. Mimpi, Kyuhyun benar-benar meninggalkannya, sudah dua kali dia memimpikan seperti ini dan ia tidak mau itu terjadi lagi.
“Tenang… kau hanya mimpi buruk.” bisik Kyuhyun mengusap keringat yang ada di dahi Channie.
“K—Kyuhyun kau…kau di sini?” tanya Channie pelan, suaranya terdengar serak. Kyuhyun menghendikkan bahunya ke arah sofa terletak di seberang ranjang Channie dengan macbooknya yang masih menyala.
Channie menatap Kyuhyun kembali. “Kau…kau tidak tidur?” gumam Channie. Kyuhyun menggeleng pelan.
“Aku mengerjakan sedikit pekerjaan. Kau tenang saja, setelah selesai dan kau tidur dengan lelap. Aku akan keluar dari—”
“Tidak.” potong Channie cepat. Kyuhyun mengedipkan matanya, terkejut. “Tidak…” Channie mulai terisak. Ia bahkan sangat merindukan Kyuhyun, di sini. Kyuhyun tidak boleh menjauh darinya. Ini konyol. Kenapa perasaannya begitu menggebu-gebu.
“Channie apa…” tanya Kyuhyun khawatir sambil terus menatap Channie dalam-dalam. Mengusap air mata Channie yang ada di pipinya. Demi, Tuhan. Kyuhyun merasakan getaran yang sangat amat dalam di dalam tubuhnya. Ia sangat merindukan gadis ini sampai mau mati rasanya.
“Di sini saja,” ujarnya parau.
Kyuhyun menatap Channie dalam-dalam, begitu juga sebaliknya. Kyuhyun merasakan gejolak yang begitu membara di dalam tubuhnya kini setelah menatap Channie, tatapan Channie seperti memohon padanya agar dia ada di sini dan…. Mendamba dirinya. Oh, sialan. Channie membuat celananya mengetat hanya karena tatapan sendu Channie padanya.
Keduanya masih saling menatap entah berapa lama. Menyelami pikiran masing-masing. Sama-sama merasakan rindu yang teramat sangat dalam. Hingga Kyuhyun berani mendekatkan wajahnya, menundukkan sedikit hingga dia memejamkan mata saat bibirnya menemukan bibir Channie. Memagutnya perlahan bibir atas-bawah Channie yang sangat menggodanya. Begitu juga Channie. Membalas dengan memagut bibir Kyuhyun, berlawanan dengan Kyuhyun memainkan bibirnya. Saling melumat dan tanpa sadar posisi Channie sudah berbaring kembali di bawah tubuh Kyuhyun.
Menyalurkan segala perasaan yang mereka tahan selama beberapa hari ini, yaitu perasaan rindu yang sangat menggebu satu sama lain. Melalui ciuman ini, Kyuhyun berusaha menyampaikan perasaan rindunya pada Channie, begitu juga Channie. Lumatan lembut yang Kyuhyun ciptakan membuat hatinya berdesir. Jantungnya berdegub dengan kencang ditambah lidah Kyuhyun yang sudah berhasil menemukan lidahnya. Beradu bersama, membelit dan menghisap. Lidah Kyuhyun yang panas bermain di rongga mulutnya. Mencecapi segala rasa di yang ada pada mulut Channie.
Ciuman yang tadinya intens, entah sejak kapan kini berubah menjadi menuntut dan tergesa-gesa penuh gairah di sertai erangan Channie dan juga Kyuhyun yang lolos di sela-sela pagutan bibir mereka. Membuat hasratnya semakin berkobar.
Kedua tangan Channie masih membelit leher Kyuhyun, menekan kepalanya agar lebih dalam lagi melumat bibirnya dan begitu Kyuhyun seakan tidak pernah puas melahap bibir Channie ini. Terdengar lenguhan Channie saat Kyuhyun meraba dadanya yang masih berbalut dengan blouse longgarnya.
Erangan seketika berubah menjadi desahan dan di sertai deru nafas yang memburu menambah sensasi gairah ciuman yang semakin liar ini. Hawa panas langsung terasa di dalam kamar ini menerpa ke dalam tubuh Channie dan Kyuhyun.
Atmosfir akan terjadinya percintaan panas begitu terasa di sini.
Mereka terengah. Channie menghirup udara sesekali karena sungguh Kyuhyun bahkan tidak memberikan Channie kesempatan untuk mengambil nafas. Tubuh Kyuhyun semakin menekan tubuh Channie yang ada di bawahnya.
Kedua kaki jenjang Channie melilit erat di pinggang Kyuhyun, menekan tubuh Kyuhyun dan semakin bergesekan dengan tubuhnya. Ini Gila. Sensasinya terasa sangat membakarnya. Gesekan tubuh mereka menyalurkan gelenyar kenikmatan ke pangkal paha mereka masing-masing. Panas dan berdenyut. Begitu pula, pangkal paha Kyuhyun yang menekan keras pinggang Channie membuat gairahnya semakin menggebu.
Sialannya, Ia memang sangat mendamba sentuhan Kyuhyun. Sangat.
Kyuhyun melepas tautan bibirnya dengan bibir Channie, walau ia masih belum puas melahap bibir menggodanya milik gadis ini. Kemudian ia menyandarkan dahinya pada dahi Channie. Dengan deru nafas yang menggebu, Kyuhyun masih menikmati sisa-sisa ciuman panasnya barusan yang terasa sampai ke pangkal pahanya yang semakin mengeras. Tubuhnya juga masih bergetar hebat. Channie yang ada di bawahnya seakan tidak mempunyai tenaga. Gadis itu masih memejamkan matanya. Hidung Channie yang menyentuh ujung hidungnya, membuat Kyuhyun tersenyum samar. Menggesekkan hidungnya dengan hidung Channie secara intim. Membuat Channie menatapnya.
Keduanya bertatapan, begitu intim dengan posisi tubuh yang masih sama seperti saat ciuman barusan.
“Sialan, Channie. Aku ingin kau, sekarang… Ya Tuhan,” bisik Kyuhyun terdengar frustasi. Channie juga merasakan hal yang sama. “Dan, ya ampun… karena Ciuman kita barusan…” tambah Kyuhyun lagi. Suaranya lebih mirip desahan yang tertahan.
Channie tidak menjawab karena ia terlalu lemas, dan suaranya juga parau. Apalagi rona di pipinya membuatnya malu, jika Kyuhyun mengetahui dia juga sangat bergairah dan menginginkannya.
Kyuhyun menyelami tatapan sendu Channie padanya. “Demi Tuhan, Park Channie, kau juga menginginkannya.” desis Kyuhyun dengan menatapnya dalam-dalam. Dia menghirup nafas panjang, Channie semakin merona setelah mendengar ucapan jujur Kyuhyun barusan. Membuat Kyuhyun semakin terangsang dengan melihat rona merah di pipinya.
Menundukkan wajahnya, Kyuhyun kembali mengulum bibir Channie yang masih merah dan terlihat membengkak karena ciuman liarnya beberapa saat yang lalu. Lumatan Kyuhyun yang menggebu segera di sambut baik oleh Channie dengan balas melumat bergantian bibir Kyuhyun. Dalam sekejap, ciuman menjadi cepat dan menuntut di sertai bunyi decapan dari pagutan bibir dan lidah mereka yang ikut serta. Membuat sensasi pada tubuh mereka yang semakin terbakar oleh gairah.
Ciuman-ciuman yang mereka ciptakan memang menghapus masalah yang mereka hadapi apalagi pertengkaran yang membuat keduanya menyiksa diri mereka sendiri dengan berjauhan satu sama lain.
Bibir Kyuhyun turun ke rahang Channie, menghisap dan memainkan lidahnya di sana. Menurun lagi, bibir basah dan panas Kyuhyun menciummi setiap inchi permukaan kulit leher Channie hingga membuat Channie menggeliat di bawahnya disertai erangan yang lolos dari bibir Channie, Kyuhyun semakin bersemangat mendengar lenguhan Channie karena perbuatannya.
Tangan Kyuhyun yang memang tidak tinggal diam, menurunkan blouse Channie hingga menampakkan bahu dan tulang selangkanya yang menggoda. Tidak tahan, Kyuhyun membenamkan ciuman dan hisapannya di sana. Tubuh Channie semakin panas, hingga pangkal pahanya terasa nyeri dan basah. Tuhan ia sangat mendamba sentuhan Kyuhyun.
Sementara bibir Kyuhyun menciummi bahu indah Channie kemudian naik sampai ke belakang telinga Channie, tangan Kyuhyun yang satu sudah menyusup ke dalam blouse Channie, menemukan dada kenyal Channie yang masih dalam balutan bra-nya. Memainkan jari-jari panjangnya di dada dan puncak dada Channie, Kyuhyun mendengar lenguhan Channie berkali-kali sambil tangan Channie meremas kuat rambutnya.
“Kyu—hhh” deru nafas Channie sudah memburu. Begitu juga deru nafasnya. Tidak menunggu lama, Kyuhyun dengan kekuatannya, menarik blouse Channie yang berbahan siffon. Di rasa sangat menyita waktunya, Kyuhyun dengan mudah menyobek blouse tersebut menjadi dua bagian.
Channie tercengang melihat ini. Ini memang tidak pertama, Kyuhyun merobek pakaiannya. Belum Channie melayangkan protes. Kyuhyun berhasil menindih tubuhnya lagi, menyerang area dadanya yang masih berbalut bra namun itu tidak bertahan lama. Kini, tubuh bagian atasnya sudah polos tanpa sehelai benang.
Mulut Kyuhyun yang panas segera menghisap dan mengulum puncak dada Channie yang sudah mengeras, serta tangan yang satunya meremas dada Channie dengan gerakan yang membuat Chanie semakin bergeliat. Tubuh mereka yang melilit satu sama lain, dengan deru nafas yang memburu, membuat pangkal paha masing-masing bereaksi. Kyuhyun sudah semakin ereksi. Demi, Tuhan. Tubuh Channie selalu membuatnya hilang akal.
Menenggelamkan wajahnya di dada Channie, Kyuhyun masih belum puas dengan mulutnya bermain di sana. Menghisap, menciummi, dan mengulum tiada henti. Erangan Channie sukses ia dengar berkali-kali. Membuat area paha Kyuhyun semakin membesar dan berdenyut, nyeri. Tangan Kyuhyun beralih ke bawah, mengusap perut datar Channie, turun hingga menemukan area sensitif Channie yang masih berbalut dengan celana pendek Channie yang ketat. Mengusapnya dengan jari panjangnya, Channie mendesah panjang.
“Ya, Tuhan, Channie. Kau selalu basah untukku…” bisik Kyuhyun dengan nada sensual. Membuat pandangan mata Channie semakin mengabut.
Tangan Channie meraba ujung t-shirt longgar Kyuhyun hingga terlepas dari tubuh Kyuhyun, membuat Kyuhyun menyeringai, kemudian Kyuhyun tanpa menunggu lama menarik resleting celana pendek Channie berserta celana dalam, hingga kini Channie sudah polos. Belum sempat Channie meloloskan celana pendek Kyuhyun, pria ini sudah menerjang kembali tubuhnya tidak sabaran, hingga Channie sedikit memekik saat tiba-tiba jari panjang Kyuhyun menekan di sela-sela pahanya yang sudah basah.
Kyuhyun mengulum puncak dadanya dengan jarinya tertanam di dalam tubuh Channie. Bergerak dengan cepat menggesek titik rangsang Channie. Membuatnya berulangkali melengkungkan tubuhnya karena tubuhnya merasakan gairah yang begitu besar.
“C—Cho Kyuhyun—hhhh” lenguh Channie saat ia merasakan sensasi lain di tubuhnya karena pergerakan jari Kyuhyun yang semakin cepat bergerak di dalam sana. Pandangannya mengabur. Deru nafasnya tidak beraturan. Gelombang itu akan datang, dan saat akan datang… Kyuhyun mengecup berulangkali dadanya, membissikkan kata yang membuat Channie merasa di puja.
“Channie… kau sangat cantik.” bisik Kyuhyun, “Sungguh, demi Tuhan. Aku sangat merindukanmu…” tambahnya lagi dengan nada suara yang cukup berat di sertai desahan.
Tubuh Channie menegang dan ia memeluk leher Kyuhyun dengan erat. Membenamkan wajahnya di lekukan leher Kyuhyun, Channie merasakan gelombang itu datang begitu intens. Cairannya membasahi jari Kyuhyun yang masih ada di dalam. Mereka berdua… Terengah.
Kyuhyun masih memberikan Channie menikmati sisa-sisa pelepasannya, kemudian ia menarik sendiri celana pendek dan celana dalamnya sendiri, hingga kini tubuh keduanya sudah polos. Channie menelan ludahnya dengan susah payah karena melihat pemandangan tubuh Kyuhyun—sudah telanjang dan siap untuknya. Tapi keinginannya untuk menyentuh dan membuat Kyuhyun merasakan kenikmatan yang ia ciptakan, muncul di benaknya.
Saat Kyuhyun akan menindihnya lagi, Channie bergerak dengan inisiatifnya sendiri. Tangannya ia gerakkan menuju pangkal paha Kyuhyun, membuat Kyuhyun melotot menatapnya. Tanpa banyak bicara Channie sedikit menunduk, dengan posisi Kyuhyun yang bertumpu pada lututnya ini sedikit memudahkan Channie. Merubah posisi mereka, Channie berada di atas Kyuhyun sekarang.
“Ch—Channie…” suara Kyuhyun terdengar parau saat bibir Channie mulai menciummi area leher Kyuhyun kemudian bibirnya turun ke dada hingga memainkan nipple Kyuhyun yang mengeras. Membuat Kyuhyun mengerjapkan matanya. Desahan Kyuhyun lolos dari bibirnya yang sulit mengatup. Rahang Kyuhyun mengeras. Sorot matanya menggelap merasakan sentuhan bibir Channie. Sungguh, sangat sialan bibir Channie bermain di atas tubuhnya. Membuat pangkal pahanya semakin menegang.
Ciuman Channie turun sampai happy trail Kyuhyun, menciumnya dengan sesekali menjilat dengan lidahnya. Sukses membuat erangan Kyuhyun terdengar begitu membuat Channie merasakan kebanggaan tersendiri. “Tuhan…. Channie lidahmu. Ya, ampun…” erang Kyuhyun saat bibir Channie turun ke pangkal pahanya.
Tangan lembut Channie memijat di ereksinya kemudian mulutnya mengambil alih.
Deru nafas Kyuhyun semakin memburu disertai suara lenguhan Kyuhyun saat Channie begitu intens memainkan mulut, lidah dan tangannya di pangkal pahanya. Mata Kyuhyun mengabut. Menggeram di mulutnya. Demi, Tuhan… Channie, dengan setiap jengkal tubuhnya mengandung candu. Sialan, begitu nikmat. Tidak pernah, ia merasakan pijatan tangan dan mulut yang begitu nikmat selain Channie. Dan, ini lagi-lagi tidak ada duanya di dunia ini. Lagi-lagi ia takut untuk… Ketagihan.
“Channie—hhh. Cukup sayang…” desis Kyuhyun saat merasakan miliknya semakin tidak mampu menahan gelombang pelepasannya. Tapi, Channie sepertinya tidak mengindahkan apa kata Kyuhyun.
“Channie. Ya, ampun!” pekik Kyuhyun menarik wajah Channie dari pangkal pahanya kemudian menyerang bibir Channie dengan lumatan bibirnya yang memburu.
Kyuhyun membalik tubuh Channie, hingga posisi Channie ada di bawahnya. Tubuh Kyuhyun di sela-sela paha Channie. Dengan perlahan, Kyuhyun mengarahkan miliknya ke dalam tubuh Channie. Keduanya terengah, dan Channie mengernyit merasakan nyeri. Saat milik Kyuhyun sudah masuk sempurna, keduanya melenguh panjang bersama-sama.
“Hhhhh….”
Kedua kaki jenjang Channie kembali mengait di tubuh Kyuhyun dengan menekannya hingga tidak ada jarak di antara keduanya. Sementara Kyuhyun menahan berat tubuhnya dengan kedua siku tangannya. Pandangannya tertuju pada Channie yang ada di bawahnya, begitu bergairah dan dia tampak begitu sangat Cantik dengan rambut berantakan, keringat di wajahnya yang merona. Tatapannya sendu mampu membuat hati Kyuhyun berdesir. Jantungnya berdebar dengan kencang.
Keduanya tersenyum simpul. Kyuhyun menunduk untuk mencium dahi Channie, kedua matanya, ujung hidung dan berakhir di bibir Channie.
“Aku merindukanmu. Sangat…” ucap Kyuhyun penuh penekanan.
“Aku juga…” aku juga mencintaimu, Cho Kyuhyun. Sangat. Sambung Channie dalam hatinya.
Tidak menunggu waktu lama, Kyuhyun mendorong tubuhnya ke dalam tubuh Channie. Terus mendorong dengan ritme pelan, membuat Channie bergeliat dan melenguh bersamaan dengan tusukan Kyuhyun di dalam miliknya. Channie semakin mengeratkan kakinya di pinggang Kyuhyun, begitu juga tangannya yang memeluk punggung Kyuhyun yang kini penuh dengan peluh.
Tubuh mereka yang menyatu di sertai gerakan-gerakan erotis membuat suara yang begitu membangkitkan hasrat mereka yang menggebu, semakin sulit terbendung. Semakin lama, gairah mereka berdua meningkat. Dorongan milik Kyuhyun berubah menjadi cepat dan cepat. Channie juga mengimbangi dengan gerakan yang ia ciptakan sendiri, membuat Kyuhyun menggeram nikmat begitu juga dirinya. Deru nafas yang memburu dan keringat mereka berdua seakan menjadi saksi betapa panas penyatuan tubuh mereka untuk menuju kenikmatan.
“Kyu—Kyuhyun.” lenguh Channie saat milik Kyuhyun menyentuh titik rangsangnya.
“Ya, ampun. Channie. Milikmu begitu nikmat…” erang Kyuhyun bersamaan di dorong miliknya ke dalam tubuh Channie. Semakin dalam. Membuat pikiran mereka kosong dan nafsu menuju jurang kenikmatan semakin besar.
Tusukan Kyuhyun di rasa semakin menghujam tubuhnya hingga ke dalam. Channie mendesah hebat merasakan kekuatan tubuh Kyuhyun mendorong miliknya keras. Lebih dalam. Dan, ini begitu nikmat. Deru nafas Kyuhyun semakin terengah seiring semakin cepatnya dia menusukkan miliknya pada tubuh Channie.
“Ahh, Cho Kyuhyun. Aku—” lenguh Channie. Terengah. Ia merasakan gejolak di perutnya dan ia akan merasakan gelombang itu datang. Hujaman demi hujaman milik Kyuhyun semakin keras dan dalam. Seperti bisa menembus dinding rahimnya. Membuat tubuh Channie bergetar.
“Ya Tuhan, Channie. Kau milikku.” bisik Kyuhyun dengan penekanan pada kata Milikku. “Milikku…” sambil terus menatap Channie begitu dalam. Channie yang mengigit bibirnya menahan erangan agar tidak terdengar begitu keras, karena hujaman milik Kyuhyun semakin dalam di dalam tubuhnya. Ia melayang. Dan seperti akan terlempar dalam jurang begitu dalam.
Kemudian Kyuhyun menengadahkan kepalanya kebelakang karena ia juga merasakan hal yang sama pada Channie. Matanya terpejam kuat. Merasakan sensasi miliknya yang di jepit kuat oleh dinding Channie yang mengetat. “Ini begitu nikmat…”
Tubuh mereka berdua menegang. Dan dengan cepat Kyuhyun menghujam sekali miliknya dengan keras ke dalam milik Channie, hingga membuat keduanya merasakan gelombang kenikmatan yang begitu intens. Cairan Kyuhyun terasa hangat mengalir di dalam tubuh Channie, begitu sebaliknya. Cairan Channie juga membasahi milik Kyuhyun masih tertanam di dalam tubuh Channie.
Tubuh Kyuhyun ambruk di atas tubuh Channie. Keringat mereka yang masih basah saling menyatu sama lain di kulit masing-masing. Deru nafas yang memburu menghiasi kamar ini yang sunyi senyap. Kyuhyun membenamkan wajahnya di lekukan leher Channie. Menghujani bahu telanjang Channie dengan ciuman-ciuman bibirnya dan Kyuhyun menghirup dalam-dalam aroma tubuh Channie yang memabukkan.
Channie sendiri juga masih menikmati pelepasan yang begitu hebat, setelah beberapa hari dia amat sangat merindukan Kyuhyun. Akhirnya, ia bisa merasakan sentuhan Kyuhyun kembali. Walau hubungan mereka masih samar-samar.
Puas membaui aroma tubuh Channie dan rambutnya sambil menikmati sisa pelepasannya, Kyuhyun menarik wajahnya untuk bertatapan dengan Channie. Channie juga menatapnya. Mereka sama-sama menyalurkan rasa melalui tatapan sendu yang masih berkabut oleh gairah.
“Tetap di sisiku. Apapun yang terjadi.” bisik Kyuhyun di depan bibirnya. “Aku membutuhkanmu. Seumur hidupku.” lanjut Kyuhyun dengan tatapan yang mendalam. Seakan bisa membuat batu es di dalam tubuh Channie mencair. Tenggorokannya kering dan dadanya sesak mendengar Kyuhyun berkata seperti ini. Ada perasaan membuncah di hatinya. Diapun juga membutuhkan Kyuhyun, walau pria itu belum mengungkapkan perasaannya secara nyata, Channie yakin. Kyuhyun mempunyai perasaan yang sama dengannya. Mencintai.
Belum sempat berkata, Kyuhyun menarik tubuhnya hingga terlepas dari tubuh Channie. Channie merasa kehilangan. Tapi, dengan cepat Kyuhyun menyampingkan tubuh Channie hingga punggungnya menempel erat di dada Kyuhyun. Bibir Kyuhyun tanpa aba-aba sudah menghujani punggung telanjang Channie yang masih berpeluh. Lidah Kyuhyun bergerak menjilat setiap inchi permukaan kulitnya. Hingga Channie menggeram dan bergeliat menikmati ciuman bibir Kyuhyun.
Tangan Kyuhyun bergerak mengusap lengan dan merambat ke dadanya, meremas dadanya dengan kuat. Channie melenguh di buatnya. Kyuhyun sepertinya menginginkannya lagi. Gairah pria ini tidak pernah surut, begitu juga dirinya. Entahlah setiap sentuhan mengirimkan sengatan listrik yang mampu membangkitkan gelenyar untuk membuat gairahnya kembali berkobar. Seperti tubuh mereka memang diciptakan untuk mengirimkan kenikmatan satu sama lain, tiada henti.
“Ini di luar logis, Channie. Ya, Tuhan. Bahkan, aku tidak akan pernah puas kalau hanya sekali-dua kali, bahkan berkali-kali, hanya denganmu saja…” bisik Kyuhyun di telinganya sambil bibir Kyuhyun menciummi kulit lehernya.
Channie melenguh dan terengah.
“Lagi, Channie…” bisik Kyuhyun yang deru nafasnya kini mulai memburu. “Atau katakan lelah jika aku masih meminta lagi. Nanti…” tambah Kyuhyun parau.
Dan mereka kembali mengulang pergulatan dan penyatuan tubuh mereka malam ini. Begitu panas. Bergairah dan seakan tidak akan pernah puas.
***
Channie menatap jam yang ada atas nakas, di dekat ranjangnya. Pukul sebelas siang. Sudah satu jam Channie duduk di tepi ranjang. Jantungnya masih berdebar keras. Tangannya bergetar memegang sebuah benda yang membuatnya gugup sekaligus senang. Tapi, apakah Kyuhyun akan senang. Bukankah pria itu tidak menginginkannya?
Hatinya terasa perih mengingat Kyuhyun tidak menginginkannya. Tapi, masa bodoh dengan semua itu. Channie hanya ingin Kyuhyun tahu. Itu saja. Terserah, nanti jika Kyuhyun tidak menerimanya. Channie akan siap menanggung resikonya. Ya, dia juga akan menanggung resiko jika Kyuhyun membencinya karena ia bahkan tidak menuruti perintah Kyuhyun dengan memakai alat kontrasepsi. Ia membohongi Kyuhyun.
Ia akan memantapkan hatinya. Mengajak Kyuhyun makan malam dengan menaruh alat ini dalam amplop beserta secarik kertas ungkapan perasaannya yang membuat Kyuhyun salah paham, selama ini. Mungkin dengan pernyataan perasaannya, bisa meluluhkan hati Kyuhyun. Semoga Kyuhyun bisa menerima perasaannya. Channie tidak berharap Kyuhyun akan membalasnya. Tapi, Channie yakin, suatu hari nanti Kyuhyun pasti bisa menerimanya.
Pipinya kembali merona mengingat percintaan mereka yang sangat bergairah semalaman. Dan, tadi pagi, Kyuhyun kembali menyerang tubuhnya dan mereka kembali melakukan percintaan dengan panas, lagi. Sebelum Kyuhyun berangkat ke kantor, Channie sempat merasakan mual dan berakhir dengan ia muntah. Kyuhyun yang tahu Channie masih belum sehat, bersikeras untuk menyuruhnya memeriksakan diri. Tapi, Channie bilang pada Kyuhyun kalau Dokter Shin akan datang untuk kontrasepsinya nanti siang. Kyuhyun menyetujui apa kata Channie padanya. Lalu dengan tenang, dia berangkat ke kantor. Setelah perginya Kyuhyun tadi, Channie langsung membuktikan apakah kecurigaannya benar. Dan hasilnya…
Sebentar lagi, Dokter Shin akan segera datang. Channie beranjak dari duduknya dan menaruh amplop itu di nakas. Mendengar ketukan pintu, Channie segera beranjak menuju pintu kamarnya.
Membukanya perlahan, Channie tidak sabar ingin berkonsultasi dengan Dokter Shin, dan memeriksa apakah benar-benar terjadi pada dirinya.
“Dokter Shin…” Channie melihat wanita di depannya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Tapi, Dokter Shin tampak aneh. Wajahnya yang dulu berseri-seri kenapa sekarang tampak sangat pucat. Ketakutan…
“Dokter, mari masuk—”
“Channie… Aku—”
“Hai, Channie. Senang bertemu dengamu… lagi.”
Seseorang muncul di belakang Dokter Shin, dengan senyuman yang mengembang penuh. Channie terkejut kenapa orang ini ada di dalam penthouse. Bahkan Kyuhyun dan beberapa penjaga tidak membiarkan orang asing masuk. Ada yang tidak beres di sini.
Perasaan Channie tidak enak. Sementara Dokter Shin mulai melemah. Matanya semakin menutup dan tiba-tiba Dokter itu ambruk di depannya.
Channie menjerit melihat Dokter Shin tidak sadarkan diri dan orang itu menarik jarum suntik yang ada di tubuh Dokter Shin yang sudah terkapar, tentunya dengan senyum penuh kemenangan.
“Ka—Kau! Apa yang kau lakukan! Pergi!” teriak Channie. Ia takut. Keringat dingin membasahi tubuhnya dengan cepat. Tubuhnya bergetar hebat. Cho Kyuhyun, pulanglah segera!
“Oh, tuan puteri yang malang. Mari, kita bersenang-senang dulu, sebelum kau menemui ajalmu. Sayang…”
***
Nothin’ On You Part 9 ff yadong kyuhyun

Fc Populer:

  • Itu siapa yg masuk
    Kok bisa masuk sih
    Penjaganya kemana semua

%d blogger menyukai ini: