Nothin’ On You Part 7

0
Nothin’ On You Part 7 ff yadong kyuhyun
FF “ Nothin’ On You” Part 7 [Kyuhyun-Channie]
Author : Deanie [@yesungcharger]
Cast : Cho Kyu Hyun, Park Chan Nie.
Ratting : NC-18
Genre : Romance, adult.
Ps : TYPO! Harap baca Ratting, dan jangan protes jika karena tidak sesuai Usia kalian. Don’t Bash!
Poster : By @HuiHwi_Original Thankyuuuu <333
Happy Reading~~
Part 7
Dadanya berdebar kencang setelah ia mengucapkan kalimat tersebut.
Menghela nafas panjang, Channie sadar dengan apa yang ia ucapkan. Pergi? Pergi dari Kyuhyun? Ini tidak berlebihan, kan? Ia memejamkan matanya sejenak kemudian menahan nafasnya. Benar. Ini benar. Ia mencoba menguatkan hatinya sendiri. Walau sebenarnya ia juga tidak ingin mengatakan ia pergi dari Kyuhyun. Tidak ingin. Demi Tuhan, dia bahkan berharap seumur hidup bersama dengan Kyuhyun. Tapi, kalau keadaan Kyuhyun ingin kembali dengan wanita itu, bagaimana? Ia bisa apa?

Dadanya bahkan masih berdebar dengan keras dan enggan untuk berdetak dengan normal. Menatap Kyuhyun yang ada di depannya—wajah pria itu memucat, kemudian terdengar Kyuhyun yang menghela nafas kasarnya. Kyuhyun terlihat menghkawatirkan.
Kyuhyun frustasi, ketakutan dan tatapannya terluka. Matanya memerah, menahan amarahnya.
Channie bisa merasakan tatapan terluka dari Kyuhyun menusuk hatinya, perih. Sakit dengan tatapan Kyuhyun yang terluka menyiratkan— ketidak-inginan dia pergi. Apa Kyuhyun benar-benar sangat tidak ingin ia pergi? Tapi, dia harus tahu siapa Yoo Mi. Ya, Tuhan. Cemburu sangat menyakitkan! Mendengar wanita itu berbicara di depannya tadi siang, mengunggulkan dia saat bersama Kyuhyun, sedikit mengungkit kebersamaannya dengan Kyuhyun di ranjang. Terlebih, ia mengatakan partner Kyuhyun yang paling Kyuhyun inginkan berada di ranjangnya!
Sialan!!!
Di lain sisi, Kyuhyun ternganga mendengar apa kata Channie barusan. Kalimat yang ia takutkan keluar dari mulut—manis dan berbahaya milik Channie, dan benar-benar ia dengar sekarang, di depannya. Dia masih belum bisa menggerakkan bibirnya untuk berbicara. Terlalu syock mendengar gadisnya berkata ‘Akan Pergi’ Memejamkan mata kuat-kuat kemudian memijit kedua alisnya. Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Membuatnya pening.
Hatinya terasa nyeri. Jantungnya terus berdebar dengan kencang setelah mendengar Channie mengucapkan kata itu. Kyuhyun tidak pernah mengira ia akan seperti ini. Pertama kali baginya, takut di tinggal dan di campakkan oleh seorang wanita.
Mencoba mengulang memori pendengarannya. Tapi. Ia tidak salah dengar. Ia mendengar suara Channie yang seperti orang tersakiti. Oh, sial! Apa yang Yoo Mi katakan pada Channie.
Kyuhyun mengerang pelan. Mencoba mengontrol emosinya. Tidak bisa membayangkan apa jadinya ia jika Channie benar-benar pergi. Gila. Pasti ia sudah Gila. Mengingat kata Gila, ia teringat pada kakaknya yang hampir gila karena di tinggal orang yang di cintainya. Jangan sampai itu terjadi padanya. Tidak akan. Channie tidak akan meninggalkannya. Tidak boleh, walau Channie ingin sekalipun!
“K—kau tidak bisa kan—“
“Aku bisa!” sentak Kyuhyun sambil membuka matanya dan menatap Channie dengan tajam. Channie menelan ludah gugup sekaligus takut dengan reaksi Kyuhyun. Melihat Channie seperti ini, Kyuhyun menghirup nafas lagi, perlahan.
“Oh, ya ampun Channie, kemarilah. Bagaimana bisa aku berbicara denganmu dengan jarak—seperti ini?” Kyuhyun mengusap wajahnya kasar melihat Channie masih menjaga jarak padanya.
Ia benar-benar frustasi, Channie.
Channie menggeleng pelan. Tetap pada pendiriannya. Padahal ia ingin sekali memeluk tubuh pria di depannya ini. Menghirup aroma yang membuatnya nyaman dalam pelukan posesif Kyuhyun.
Kyuhyun memejamkan matanya lagi, hanya sesaat, seperti mencoba meredam apa yang ia rasakan. Kemudian menatap Channie dengan sendu.
Hati Channie berdesir melihat Kyuhyun dengan raut wajah dan tatapan seperti ini. Seorang Kyuhyun yang sangat tegas, terlihat angkuh, seorang pemimpin perusahaan internasional dengan kegeniusannya dalam menciptakan berbagai peluang bisnis. Kini di depannya bahkan ia bukan seperti Kyuhyun yang orang-orang lihat dalam Perusahaan mereka. Ini, seperti bukan Cho Kyuhyun sebagai pemimpin perusahaan adidaya itu. Dia terlihat rapuh.
Ya Tuhan, Channie apa yang kau lakukan padanya?
“Baiklah. Aku mohon. Dengarkan baik-baik.” menghela nafas sejenak, “Aku sebenarnya enggan membahas wanita itu, sungguh aku tidak ingin membahas ini, apalagi di depanmu!” ucapnya pelan namun terdengar tegas, Channie masih terpaku di tempatnya, begitu juga Kyuhyun.
Kyuhyun bergerak sedikit dan menempatakan dirinya di atas sofa single yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Menatap Channie yang masih berdiri, Kyuhyun mendesah pelan. Gadisnya selalu terlihat menarik walau hanya memakai hot pants—memperlihatkan paha dan kakinya yang indah. Okey. Ini sedikit mengurangi emosinya. Ada sedikit percikan api di tubuhnya setelah melihat Channie dengan penampilan santai-nya dan terlihat ‘Marah’ merupakan perpaduan yang luar biasa dan membuat sesuatu dalam dirinya, perlahan bangkit.
“Aku sudah bilang kemarin malam kalau dari dia aku tahu berhubungan intim itu seperti apa. Just seks, Channie. Tidak lebih.” Kyuhyun berdesis pelan, “Saat aku sedang stress atau lebih tepatnya tertekan dan Ayah saat itu sedang buruk kondisi kesehatannya, perusahaan membutuhkanku, kakakku saat itu juga baru saja di tinggal oleh pria brengsek yang bahkan sudah menjalin hubungannya bertahun-tahun. Aku tahu, kakakku sangat muda, baru 16 tahun saat akan bertunangan. Ia begitu mencintai pria brengsek itu hingga tidak tahu apa yang di lakukan pria itu lalu saat acara pertunangan, pria itu bilang sudah berada di Amerika. Demi Tuhan, Channie, kau tahu betapa malu keluargaku.” Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan, mengingat masa lalu keluarganya, termasuk dirinya dalam masa-masa paling sulit untuknya saat itu.
Channie meringis pelan. Dadanya sesak melihat dan mendegar Kyuhyun begitu tulus bercerita. Kenapa seolah sangat menyakitkan? Ia ingin bergerak mendekat, menangkup tangan Kyuhyun dan memberi pria itu kekuatan. Tapi tidak. Ia masih mengingat tujuannya, yaitu Yoo Mi.
“Tapi itu tidak penting. Kakakku depresi, dan tinggalah aku yang berjuang untuk mewakili Ayah di perusahaan. Ibu merawat kondisi Ayah dan kakak. Aku memang sejak kecil sudah di kenalkan dalam dunia bisnis, menciptakan ide-ide dan karyaku…” Kyuhyun mendesah berat, “Kalau kau tahu usiaku masih 15 tahun waktu semua kejadian itu…” terdengar pelan, Channie melihat Kyuhyun menundukkan kepalanya. Suara Kyuhyun terdengar bergetar. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Kenapa dia? Channie sedikit mendekat khawatir dengan keadaan Kyuhyun. Perlahan ia mendekati sofa yang Kyuhyun duduki. Tapi ia masih memberi jarak.
Kyuhyun mendongak sedikit. Matanya terlihat memerah, “Tuhan memang adil memberi kecerdasan yang luar biasa untukku. Perusahaan Ayah dan untuk bisnis yang lainnya di luar Cho Enterprises Holding, aku bahkan menguasai itu semua.” Kyuhyun terdengar marah. “Aku bersyukur aku bisa. Aku bisa mengatasi semua itu. Tapi—tapi di lain sisi aku tidak tahan,” ucapannya semakin lemah dan pelan.
“Kyuhyun—“
“Okey! Jangan membuatku menghentikan ini, kau tahu!” mata Kyuhyun menatap Channie dalam-dalam. Membiarkan Channie masih berdiri dan ia tidak berusaha menarik gadis itu, memeluknya erat. Ia ingin bersandar pada gadis itu. Ya, Tuhan. Kuatkan! Kuatkan untuk meneruskan cerita ini.
Tuhan, Kyuhyun yang muda bahkan masih remaja sudah di bebankan pekerjaan yang begitu besar. Pria yang malang. Pasti dia sangat membutuhkan seseorang di sisinya, selain sahabat-sahabatnya. Batin Channie meringis, perih membayangkan hal itu.
“Aku hanya ingin tau tentang Yoo Mi saja.” ujar Channie mencoba mengalihkan topik.
“Maka dari itu, kau harus mendengar apa yang membuatku mengenal wanita sialan itu.” ujar Kyuhyun pelan, “Ini semua karena kehidupanku sendiri Channie, kau mengertikan maksudku?” Channie mengangguk pelan, “Dan, kau masih enggan bersanding denganku, di dekatku.” Kyuhyun meringis menatap posisi Channie saat ini. Ini bukan pertanyaan, ini pernyataan Kyuhyun bahwa ia ingin dia di sisinya.
Channie mengerjap, kemudian tanpa berpikir panjang, perlahan ia duduk di samping Kyuhyun. Terdengar Kyuhyun menghela nafas panjang. Tatapan mereka berdua bertemu dalam jarak pandang yang bisa di katakan dekat, seperti saat ini. Membuat jantung Channie semakin berdetak dengan cepat.
“Teman-temanku, merekalah yang mengenal Yoo Mi, hingga suatu hari kami melepas penat, seperti biasa. Alkohol, dan saat itu aku… bertemu dan ya…kau tahu selanjutnya seperti apa.”
Channie memalingkan wajahnya ketika ia melihat Kyuhyun menatapnya, mencoba memastikan ia tidak terpengaruh dengan apa kata Kyuhyun barusan. Kyuhyun mengusap rambutnya, kasar. Nafasnya juga panjang setelah melihat Channie memalingkan wajahnya.
“Aku tidak tahu kalau setelah melakukan hubungan tersebut aku seperti relaks sedikit ringan, walaupun memang kondisi dalam keluargaku belum terselesaikan, tapi setidaknya itu mengurangi beban pikiranku yang terjebak dalam kesendirian dan entahlah, aku seperti ingin mati. Tapi, aku menemukan hal baru saat itu.” lanjutnya tetap menatap ke arah Channie, walau gadis itu bahkan belum menatapnya, lagi.
“Channie aku—“ Kyuhyun menggelengkan kepalanya, “Hey, jangan seperti ini.” Kyuhyun bergeser mendekat pada Channie. Channie tidak bergeming. Mengatupkan rapat-rapat mulutnya. Ia tahu, Kyuhyun butuh seseorang saat itu. Dia butuh. Batin Channie mencoba meyakinkan.
“Ka—kau baik-baik saja?” ujar Kyuhyun hati-hati. Channie mendengar nada khawatir di sana.
“Ya.” berusaha tegas, suara Channie sedikit bergetar. Oh, ayolah. Kenapa pita suaranya mendadak seperti ini. Ia benci ketika akan menangis. Dan pasti Kyuhyun menyadari perubahan nada suaranya. Terbukti dengan gusar Kyuhyun, lagi-lagi menghela nafasnya dengan kasar.
“Demi Tuhan, kejadian ini sudah begitu lama dan ini tidak penting bagiku. Tapi, di sisi lain aku sangat tidak ingin kau salah paham, ya ampun…” Kyuhyun menunduk singkat.
“Lebih baik kau teruskan saja, apa setelah itu kau terus berhubungan dengannya dalam waktu yang lama dan kau yakin tidak menggunakan perasaanmu, sedikitpun?!!”
“Aku kurang ingat berapa lama, yang pasti setelah beberapa bulan dia ke luar negeri. Sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak tertarik berhubungan dengannya, kecuali seks. Hanya kenikmatan untuk saat itu. Tidak lebih. Terlebih dia juga bukan gadis baik-baik.”
“Oh, lalu kau juga bukan pria baik-baik. Kau cocok dengannya Cho Kyuhyun.”
“Omong kosong apa kau ini!” bentak Kyuhyun tidak terima, Channie tercekat sekaligus dadanya bergemuruh. Kata-kata Yoo Mi yang panas di telinganya kembali teringat, bahwa ia bisa membuat Kyuhyun ejakulasi hanya dengan bibirnya. Bahwa Kyuhyun, pasti akan kembali lagi pada dengan kenikmatan yang ia tawarkan.
“Dengar! Setelah kakakku menjadi seperti mayat hidup, aku menjauhi apa yang namanya berhubungan layaknya sepasang kekasih yang mengumbar kata Cinta. Itu semua bullshit! Jadi, kau paham maksudku.”
Channie masih sukar menerima apa yang ia dengar. Membayangkan Kyuhyun bercinta dengan panas dan liar dengan wanita yang bermulut dan berhati iblis seperti Yoo Mi, seakan ia mendapat pukulan hebat di dadanya, sesak. Sulit bernafas dan sakit.
Terlebih lagi, Kyuhyun bilang barusan ia tidak mempercayai sebuah hubungan yang berlandaskan kata cinta. Bahkan, ia hampir menjerit karena frustasi, meneriakkan bahwa ia mencinta Kyuhyun. Ya, Tuhan. Channie, pria di sampingmu ini kenapa sangat rumit. Ia ingin menangis.
“Channie ku mohon. Tatap aku.” Kyuhyun menarik tangan Channie untuk di genggamnya. “Channie,” Kyuhyun menggeram pelan. Menahan segala gejolak emosinya. Kenapa sesulit ini, di saat ia ingin satu wanita dalam hidupnya. Mendampinginya.
“Kyuhyun aku—“ Channie mencoba menghirup nafasnya dalam-dalam, menatap Kyuhyun dan melihat tatapan Kyuhyun yang khawatir dengannya, membuatnya semakin ingin menangis.
“Kyuhyun, dia bahkan bilang kau…, Dia ingin kembali dan mengulang—“
“Channie—hey, lihat aku…” potong Kyuhyun di saat Channie dengan suara yang hampir membentak. Kyuhyun menekan ke dua pipi Channie dengan ke dua tangannya, untuk menatap wajahnya agar mereka saling berhadapan.
“Ku mohon, dengarkan aku. Percaya padaku,” bisik Kyuhyun lembut di depan bibirnya, berusaha membuat Channie mempercayainya. “Percaya padaku. Aku belum selesai, dengarkan dulu.” bisiknya lagi. Nafas hangat Kyuhyun terasa di permukaan wajahnya, Channie semakin tidak tahan ingin menangis dan memeluk Kyuhyun.
Sebegitu rapuhkah ia. Dia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri, jika sudah menyangkut dan bersama dengan Kyuhyun. Dia dulu saat merasakan sakit hati pada Jungsoo, tidak pernah seperti ini.
“Setelah dia pergi, aku mulai senang melakukan hubungan dengan banyak gadis, hanya sekedar berhubungan badan, Channie. Tidak lebih. Dan, kau harus tahu, itu semua kulakukan karena aku butuh. Aku memang brengsek, kan?”
Sangat! Batin Channie menjerit.
“Kebiasaan yang bahkan sulit aku ubah. Percayalah, aku sudah bilang padamu kan, jika tidak mengenal seks mungkin aku sudah meninggal karena over dosis obat-obatan terlarang. Aku membutuhkan untuk mengalihkan aku dari semua rasa itu.” ucapnya rapuh, pelan. Meyakinkan Channie dengan lembut dan terdengar tegas.
Kyuhyun masih menangkup wajahnya seakan Channie tidak boleh menatap hal lain, selain dirinya. Membuat jantungnya tidak berhenti berdebar dengan cepat.
“Setelah dua tahun lebih, kemudian kakakku sudah mulai membaik dan dia sudah bisa berkomunikasi denganku, Ayah dan Ibu. Aku…aku tidak tahu jika setelah itu—“ Kyuhyun menghentikannya sejenak, Channie mencoba mencari tahu dengan raut wajah Kyuhyun yang seperti berat akan mengatakan kelanjutannya.
Channie dengan reflek meletakkan tangannya di atas tangan Kyuhyun yang masih di pipinya. Mengusapnya pelan. Rasa hangat mengalir di sekujur tubuh Kyuhyun dengan perlakuan Channie barusan. Channie, gadis yang luar biasa. Hanya dengan sentuhannya sedikit saja, seakan bisa mencairkan es di dalam hatinya.
Tahukan posisi mereka terbilang sangat intim, walau hanya seperti itu.
“Tidak berapa lama, Ayah meninggal dan otomatis semua tanggung jawab perusahaan jatuh padaku. Kakak, Ibu, semua karyawan, adalah tanggung jawabku. Aku harus memimpin perusahaan yang sudah maju pesat dan bertaraf internasional, dengan cabang di berbagai negara. Kau tahu bagaimana saat itu aku. Sedang ibu tidak tahu mengenai bisnis?” Kyuhyun mengeras. Memejamkan matanya kuat-kuat, menghembuskan nafasnya, kemudian membuka matanya kembali.
Channie ingin memeluk Kyuhyun. Ingin sekali memberi ketenangan untuk pria ini. Apa dia sejahat ini, memaksa Kyuhyun membuka lembaran luka lamanya? Channie merasa dia egois. Egois.
Pria ini menyimpan masalahnya sendiri bertahun-tahun. Ya, Tuhan…
“Cho Enterprises Holding, Cho Group… semua itu tanggung jawabku.” Kyuhyun menatapnya dalam, “Ibu semakin sibuk dengan kegiatan sosialnya. Dia sama sekali tidak pernah bertanya keadaanku. Aku tahu itu pengalihan dari rasa kehilangan Ayah. Dia sedih sekali, Ahra kakakku masih dalam therapy untuk kesembuhan total. Aku sendirian… Tapi aku—“ Kyuhyun terdengar terluka. Channie tahu, Kyuhyun kesepian. Pria ini sebenarnya membutuhkan kasih sayang, terutama seorang Ibu. Bagaimana bisa, dia terabaikan oleh kasih sayang. Pria ini begitu baik sebenarnya.
Kau sepertinya beruntung mempunyai kedua orang tua yang masih lengkap dan mereka menyayangimu Channie. Ya, setidaknya aku lebih beruntung di bandingkan Kyuhyun. Batinnya.
“Channie aku—“
“Ssshhh…” Channie mencoba memberi kekuatan Kyuhyun. Mencegah pria ini lebih larut lagi. Oh, ya tadi kau ingin dia menjelaskan tentang Yoo Mi, sekarang saat Kyuhyun ingin bercerita banyak. Kau malah tidak tega? Demi apapun, Kyuhyun terluka saat ini. Katakan Channie bodoh atau apa, dia tidak ingin melihat Kyuhyun tersiksa seperti ini.
“Tidak. Kau harus tahu, Channie. Maaf, aku terlalu terbawa emosi. Aku…aku tidak pernah bercerita tentang hal ini pada siapapun.” Kyuhyun mengusap pipi Channie lembut—dengan tangannya yang sedari tadi masih menangkup wajahnya.
“Kau. Channie. Hanya kau seorang.” bisik Kyuhyun lembut.
Dan, apa yang Kyuhyun bilang barusan? Dia yang pertama? Sulit di percaya. Tapi, Kyuhyun mengatakannya dengan tulus. Channie merasa senang, walau ia masih bisa menutupi rasa keterkejutannya dengan wajahnya yang merona.
Tatapan mereka bertemu. Mengirimkan rasa hangat di seluruh tubuh mereka berdua.
“Aku senang, menjadi yang pertama untuk kesekian kali.” di luar hubungan ranjang, tentunya. Channie mencoba menaikkan satu sudut bibirnya. Mengurangi keteganggan emosi Kyuhyun saat ini.
Kyuhyun menyeringai mendengar kata Channie barusan, “Ya. Kau seharusnya bangga.”
“Apa?”
“Denganku, dengan semua pengalaman pertamaku, pertamamu. Kau tidak bangga melakukan dengan pria tampan, milliader dan paling diminati wanita di seluruh Asia bahkan DUNIA.” ujarnya percaya diri dengan seringai licik di wajahnya. Sialan, dia semakin tampan. Ugh!
Channie memutar bola matanya kemudian mencibir dengan bibirnya. Membuat Kyuhyun dengan gemas lalu menarik tubuhnya dalam pelukan. Mendekapnya erat. Inilah yang ia harapkan tadi, berada dalam pelukan Kyuhyun. Menikmati sentuhan tangan Kyuhyun di punggungnya. Dan aroma pria ini, aroma tubuh dan sisa parfum yang masih tertinggal membuat Channie merasakan kenyaman, memabukkan seperti biasa. Walau jelas, kata-kata wanita tadi, masih terlintas di pikirannya.
Beberapa detik berlalu, mereka masih nyaman dengan posisi seperti ini—berpelukan, kemudian terdengar Kyuhyun menarik nafasnya, bibirnya yang lembut mengecup pelipisnya, singkat.
“Jangan katakan itu lagi, Channie.” bisik Kyuhyun, memohon padanya. Channie mencoba merenggangkan pelukan Kyuhyun, hingga mereka bertatapan kembali.
“Apa yang membuatku tidak mengatakan itu, padamu?” Channie kau tahu kan, Kyuhyun mempunyai rasa takut karena Ahra—kakaknya hingga dia menjadi pria seperti sekarang ini. Pengalaman hidup masa lalunya, Ibunya, perhatian, kasih sayang. Dia jauh dari semua itu. Kenapa kau malah memojokkannya.
Sial… Sorot mata terluka dan terlihat kacau—milik Kyuhyun kembali menatapnya.
Channie segera membuat dirinya tersenyum simpul, walau agak dipaksakan. Channie membuka mulutnya, berbicara dengan lembut, “Hey, kenapa? Aku hanya bercan—“
“Aku membutuhkanmu di sisiku.” potong Kyuhyun, tenang dan jelas terdengar oleh Channie. Ia terhanyut oleh katanya barusan.
“Ini bukan hanya hubungan seks semata. Ya ampun, Channie. Kau satu-satunya yang membuatku gila seperti ini, membuatku mampu untuk berkomitmen sejauh ini. Kau membuatku sangat tertarik.” nafas Kyuhyun sedikit memburu, menerpa kulit wajahnya. Mulut Kyuhyun sangat dekat dengan mulutnya. Ingin sekali Channie membungkam bibir penuh dan seksi itu.
“Tertarik. Ya, sangat! Dan, itu saat pertama kali aku melihatmu. Aku membutuhkanmu, di sisiku. Mendampingiku.” ujarnya tegas. Matanya menyala-nyala penuh tekad dan Channie tidak melihat ada kebohongan di sana.
Pria ini tidak berbohong padamu… Walaupun masih belum ada kata Cinta, setidaknya hatinya menghangat mendengar ini. Dia, manis sekali.
“Maafkan aku,” ucap Channie pelan, “Aku tidak bermaksud membuka luka dan keadaanmu di masa lalu, tapi—“
“Tidak. Tidak, kau berhak tahu.” Kyuhyun mengusapkan jarinya pada pipinya yang mulai memerah kembali. Tatapan Kyuhyun terus tertuju padanya, membuatnya sedikit salah tingkah. Hanya sedikit?
“Jadi,” Kyuhyun menatapnya lebih dalam, “Jadi kau masih ingin bertanya lagi? Aku tidak ingin kau pergi. Tidak ingin. Apapun alasannya, terlebih karena wanita itu. Tidak, Channie.” ucapnya tidak terbantahkan. Sifat menyebalkannya telah kembali.
“Wanita—seksimu itu bilang kau selalu menerimanya jika dia kembali ing—“
“Jangan dengarkan apa yang ia ucapkan!” sentak Kyuhyun, matanya menatap Channie penuh dengan sorot ketegasan. Channie menggeleng lemah.
“Please, dengarkan aku dulu, Cho Kyuhyun.” desis Channie kesal dan melotot ke arah Kyuhyun, “Dia bilang, saat dia kembali lagi denganmu beberapa tahun yang lalu, maksudku sebagai partnermu. Pasti kau akan menerimanya. Kau tidak pernah menolaknya. Apa memang dia pernah kembali setelah ia pergi waktu itu. Kau masih menerimanya untuk saat ini, bukan?”
Kyuhyun meringis sejenak, “Channie, setelah Ayah meninggal dia memang kembali di saat melanjutkan kuliah di sini. Entahlah, itu hanya alasan saja atau dia memang kuliah di sini. Kemudian, ya… Aku menerimanya. Tapi, itu—kau tahu hanya sebatas partner saja. Tidak lebih.” Kyuhyun menekankan setiap katanya. Ia harus menjelaskan bagaimana lagi, agar tidak membahas wanita itu. Kyuhyun muak dengan wanita itu, jujur.
Channie masih menyimpan rasa penasaran, dan raut wajahnya terbaca oleh Kyuhyun.
“Channie. Apa?” tanya Kyuhyun terdengar khawatir.
“Ka—kau tidak pernah berpikir dia mempunyai perasaan lebih padamu. Selain kenikmatan di ranjang,” ucapnya lemah di akhir kata. Nyeri di ulu hatinya saat mengeja kata ranjang untuk Kyuhyun dan Yoo Mi. Sialan sekali.
Kyuhyun sedikit mengalihkan tatapannya, “Aku tahu dia menginginkan ku lebih dari itu. Dia pernah mengatakannya sekali.” jawab Kyuhyun pelan. Membuat Channie menutup matanya sekejap. “Tapi, aku tidak berminat dengannya. Sungguh, rasa yang kurasakan seperti aku padamu tidak ada sama sekali saat aku bersama wanita itu atau dengan wanita manapun. Tidak ada sama sekali.”
“Jadi, dia mencintaimu. Kau tahu tapi kau tetap menerimanya untuk menyalurkan nafsumu, Cho Kyuhyun.” ucapan Channie sedikit meninggi. Bagaimana bisa pria ini memberikan harapan pada Yoo Mi, yang jelas-jelas mencintai, menginginkannya lebih dari berhubungan badan. Pria ini tidak sadar, atau memang bodoh. Jelas-jelas semua wanita menginginkan DIA!
Ya. ia cemburu. Sangat!
Kyuhyun menegang mendengar nada Channie yang sedikit meninggi. Matanya menatap tajam pada Channie dengan semakin memperkuat tangkupan tangannya pada wajah Channie untuk semakin mendekat ke arahnya. Menggeser sedikit tubuhnya, hingga tidak ada celah bagi tubuhnya dan Channie.
“Dengar, Nona Park—yang marah akan tetapi kau malah terlihat sangat seksi dan bergairah. Sangat Sialan.” desis Kyuhyun di mulutnya, matanya menggelap antara marah dan ada gairah di sana. Channie kau dalam bahaya sepertinya.
“Kau memang sangat pintar, apalagi bibirmu yang penuh dengan candu memabukkan itu hendak berkata aku Brengsek. Oh, ayolah. Aku tidak keberatan kau menyebutku bajingan atau apa. Kau harus tahu, mereka melemparkan tubuhnya kepadaku, untuk aku tiduri dengan suka rela. Aku single, tidak ada kekasih. Jadi, aku menerimanya. Lagi pula, Yoo Mi dan yang lainnya, mereka melepas pakaiannya sendiri, tanpa aku harus bersusah payah melucutinya.” Ucap Kyuhyun pelan dan terdengar marah.
Sialan. Jantungnya berdebar dengan semakin kencang. Dia marah. Dan terlihat menakutkan. Channie gugup, takut dan tubuhnya bergetar. Tatapan tajam Kyuhyun padanya, seakan membuatnya lemas tidak bisa berkutik dan nafasnya berhenti begitu saja. Sialan, Cho Kyuhyun begitu kuat mengintimidasinya.
Nafas Kyuhyun yang kini terengah di depannya, menerpa kulitnya, mengirimkan sengatan listrik di tubuhnya. Tatapan matanya yang tajam membuat gelenyar mulai berkobar dan menyalurkan rasa berdenyut di antara paha Channie. Panas.
“Ya, aku berminat. Tapi itu dulu. Kau dengar kata dulu Nona Park?” Kyuhyun terus menatapnya tajam dan mengharapkan ia menjawabnya. Dengan menelan ludahnya susah payah, Channie mengangguk pelan. “Dulu sebelum aku melihatmu di Club malam yang menyakitkan itu. Menyakitkan di sekujur tubuhku hingga pangkal pahaku. Sampai aku tidak bisa menerima sentuhan wanita manapun. Wajah polosmu selalu menggangguku setiap malam. Kau sangat sialan, sialan! Kau tahu.” desisnya.
Channie merasakan panas di wajah dan di sekujur tubuhnya. Kenapa gairah itu datang di saat ia marah dengan Kyuhyun—karena pernyataannya yang menerima Yoo Mi kembali sebagai partner ranjangnya beberapa tahun lalu.
Kyuhyun sepertinya juga merasakan apa yang ia rasakan, terdengar nafasnya yang terus saja memburu dan tatapannya yang menggelap tersirat begitu besar gairah pria ini. Kyuhyun bahkan seperti predator yang ingin menerkamnya saat ini juga.
“Ta—tapi dia bahkan ingin sekali—“
“Persetan dengan apa maunya dia. Aku hanya ingin kau!” bentaknya. Channie meremang tangan Kyuhyun yang satu beralih ke tengkuknya. Menekannya lebih mendekat. Tidak. Jangan sekarang.
Wajah Kyuhyun semakin mendekat. Tinggal beberapa senti bibir Kyuhyun sudah menyentuh bibirnya.
Channie membalas dengan suara paraunya. “Dia bilang. Hanya dia yang bisa memuaskanmu lebih dari wanita-wanita lainnya ataupun—“
“Tidak. Tidak pernah senikmat dan sepuas aku denganmu… Tidak akan pernah dan tidak akan bisa.” potong Kyuhyun dengan bisikan nafasnya yang terengah dan bibirnya yang lembab menyentuh sudut bibir dan hidung mancung Kyuhyun membaui sekitar pipinya. Channie merasakan panas dan akan terbakar jika Kyuhyun bergerak maju sedikit saja sudah menyentuh bibirnya.
“Ya Tuhan. Channie… harus berapa kali aku bilang. Kau berbeda. Kau lebih dari sekedar kenikmatan. Kau tidak pernah sebanding dengannya atau dengan yang wanita lainnya. Tidak.” lanjut Kyuhyun dengan tatapan penuh kejujuran.
Ya. Memang Kyuhyun sudah sangat seringa mengatakan itu. Channie tidak menjawab. Hanya dengan tatapan matanya pada Kyuhyun yang sendu. Dan, dadanya yang berdebar dengan keras hingga Kyuhyun mungkin bisa merasakannya. Dengan itu, Ia menjawabnya. Kyuhyun pasti bisa membaca dan merasakannya. Dan pria itu kini sedikit tersenyum. Tampan sekali.
Lebih sialnya, tatapan Kyuhyun kini beralih mengunci di bibirnya. Kyuhyun menatap bibirnya yang sulit terkatup—sedikit terengah.
Bernafas Channie. Sungguh, ia kini bahkan sangat sulit bernafas.
Channie mencoba mengalihkannya dengan bertanya lagi pada Kyuhyun, “Kenapa kau masih jalan dengannya beberapa hari ini? Kau mau mencoba mengelak atau—“
Kekehan pelan Kyuhyun membuat kata-kata Channie berhenti. Menyeringai, “Cemburu, Park Channie?” gumam Kyuhyun sambil mendaratkan bibirnya pada pipi Channie, “Hem? Kau membuatku tertantang kalau sedang marah seperti ini.” sambil terus mengecupi rahang Channie dan sudut bibirnya.
Channie mengerang tertahan dan sulit untuk bergerak. Melawan kata-kata Kyuhyun-pun tidak bisa. Bibirnya seolah terkunci rapat padahal bibirnya tidak terkatup, sedikit terbuka untuk menahan segala gejolak yang sedang muncul.
“Ja—jangan mengalihkan,” ucap Channie serak. Hendak menarik kepalanya menjauh tapi cengkraman kedua tangan Kyuhyun di pipi dan tengkuknya, ia tidak bisa menjauh. Malah semakin dekat. Kyuhyun menggesekkan pelan ujung hidung mancungnya pada pipinya.
Sialan. Di saat seperti ini dia terlihat sudah sangat terjerat gairahnya akan sentuhan dan pengaruh Kyuhyun.
“Kau ingin aku menjawabnya?” suara Kyuhyun bertambah serak dan terdengar lebih berat, desahannya tertahan sambil terus mendaratkan kecupan-kecupan di seluruh permukaan wajahnya.
“Y—ya.” jawab Channie berusaha mengendalikan gairahnya, “Atau aku tidak mau kau—“
“Oh, kau mengancamku…” Kyuhyun tidak gentar dengan geraman Channie barusan yang bahkan ia sadar Channie sudah bergairah sama seperti dirinya, saat ini, “Kau mengancamku untuk tidak menyentuhmu…” ujar Kyuhyun sambil mendaratkan bibirnya pada bawah telinganya dan leher jenjangnya. Lidah panas dan ahlinya juga turut serta bermain di sana. Membuat Channie terbakar.
Nafas mereka semakin memburu. Desiran hati Channie menimbulkan panas di antara pahanya.
“Kau yakin, heh?” Kyuhyun menaikkan bibirnya ke dagu Channie dengan nafas terengah dan tatapannya sendu, Channie tidak kuasa berpaling hingga ia merasakan dorongan di tubuhnya hingga ia bersandar pada sofa, Kyuhyun menarik tengkuknya, memejamkan matanya kemudian bibir lembab Kyuhyun menekan bibirnya dengan keras. Mencecapi setiap inchi bibirnya, melumat atas dan bawah bergantian. Mencari celah untuk memasukkan lidahnya.
Channie mengerang ketika lumatan-lumatan Kyuhyun bertambah dalam. Denyutan di kewanitaannya tidak berhenti. Ia membalas setiap lumatan Kyuhyun dengan caranya sendiri. Merasakan bibir Kyuhyun dalam gigitannya. Mengulum rasa manis di bibir pria itu. Hingga lidah mereka bertemu dan saling mengait satu sama lain. Kyuhyun selalu mendominasi ciuman panas mereka. Hingga ia sulit bernafas. Sesak. Kyuhyun semakin lincah memainkan bibir dan lidahnya di dalam rongga mulutnya. Tuhan, pria ini memang tercipta untuk membuat orgasme setiap wanita hanya karena ciuman bibirnya yang begitu liar namun terasa sangat dalam dan nikmat.
“Kyu—mmpphh,” Channie mencoba menghentikan, tangannya yang ada di dada Kyuhyun tidak kuasa menjauhkan tubuh Kyuhyun dari tubuhnya. Kyuhyun mengalihkan bibirnya pada lehernya, hingga Channie tidak sadar mendesah karena gigitan kecil Kyuhyun di sana dan lidah Kyuhyun yang panas menjilati setiap tanda kepemilikannya di leher Channie.
Nafas mereka berdua memburu, bersahutan.
Dada mereka terlihat naik-turun. Terengah penuh hasrat dan tatapan mereka yang semakin berkunang, penuh dengan kabut gairah yang sudah tidak bisa di tahan.
Milik Kyuhyun yang semakin mengeras di bawah sana terasa menekan tubuh Channie, membuat gadis ini menggeram. Sialan… Ia tidak bisa, tapi Kyuhyun belum memberikan jawabannya. Lalu, teringat kata-kata wanita tadi, membuat hatinya lagi-lagi tertusuk, nyeri.
“Kyuhyun selalu suka dengan pelayananku. Miliknya di mulutku. Kau bahkan tidak pernah membayangkan. Tidak ada wanita manapun, yang bisa membuatnya puas, selain aku.”
“Kyu—hhh. Ku mohon, ja—jawab, ada apa?” suara Channie yang sudah sangat parau membuat Kyuhyun tidak bergeming saat menciummi sela-sela tulang selangka dan bahu telanjangnya. Bahkan ia seperti sangat lama tidak pernah mencumbui Channie seperti ini. Begitu liar.
“Ti—tidak,” Channie menjauhkan kepala Kyuhyun, dengan susah payah ia berhasil dan kini Kyuhyun menatapnya dengan tatapan sendu karena gairahnya tertahan. Tapi, pria ini sangat-sangat tampan dengan bibirnya yang penuh itu sedikit terbuka karena terengah dan memerah, serta rambutnya sudah sangat acak-acakan seperti habis bercinta.
Dia, sangat tampan, panas dan berbahaya. Ugh!
“Apa,” suara parau Kyuhyun mencoba menggodanya.
“Kenapa wanita itu kembali. Ka—kau bersamanyakan akhir-akhir ini…”
“Ya.” posisi mereka masih sama, Kyuhyun merapatkan lagi tubuhnya. Menahan nyeri di pangkal pahanya, ini sangat menyiksa. “Channie sayang, yang pasti aku sudah tahu apa motifnya dan aku juga tahu apa yang akan aku lakukan untuknya. Kau tenang saja, dalam waktu dekat semuanya akan beres dan baik-baik saja. Aku milikmu. Milikmu. Ingat itu.”
Puas dengan jawaban Kyuhyun. Dia milikmu. Pria itu milikmu. Channie. Dengan sejuta kemampuan membuatnya tergelepar tak berdaya di atas ranjang, di sofa, di kolam renang, di bathub, dalam kamar mandi. Dan pria itu milikmu! Kau beruntung, setidaknya dari pada wanita yang mengharapkan Kyuhyun untuk sekedar tidur dengannya. Walau kau memang belum bisa memberikan apa yang Yoo Mi berikan pada Kyuhyun.
Kyuhyun mengamati wajah Channie yang merona karena kata-katanya, membuat hatinya berdesir. Debarannya semakin kencang. Kyuhyun mendekatkan wajahnya kembali dan menempatkan bibir panasnya, lagi di atas bibir Channie, lumatannya sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang. Menyalurkan segala perasaannya yang ia tahan dan tidak bisa ia ungkapkan untuk Channie. Pelan, lembut. Ia merasakan setiap kuluman bibir Channie di bibirnya.
Decapan dari lumatan mereka terdengar sangat indah di telinga Channie. Ia membalas dengan mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun. Menekannya mendekat. Mengusap tengkuk Kyuhyun dan sesekali mengacak rambut Kyuhyun. Kemudian Channie mendengar Kyuhyun mengerang di sela-sela ciumannya yang kini bertambah cepat dan menggebu.
Tangan Kyuhyun menarik ujung blousenya, dan tangannya berada di atas perut datarnya. Mengusapnya dengan penuh gairah hingga Channie erangan Channie tertahan karena ciuman Kyuhyun di mulutnya. Jari-jari panjang indah Kyuhyun dengan lihai mengusap kulitnya perlahan, membuatnya mengerang. Kemudian usapannya naik ke atas dadanya yang masih berlapis bra. Tangannya menemukan dada kenyal Channie. Meremasnya dengan cara Kyuhyun sendiri, hingga Channie bergeliat.
Area sensitifnya semakin panas dan terasa lembab saat ini. Sangat. Ia tidak nyaman sehingga bergerak menimbulkan gesekan dengan tubuh Kyuhyun. Membuat tubuh panas mereka berdua yang sudah tidak bisa menahan hasrat.
Di saat ciuman Kyuhyun turun ke leher jenjangnya dan tangan Kyuhyun masih memainkan dadanya hingga bra yang ia pakai sudah melorot dari tempatnya. Ini, sulit di hentikan. Begitu nikmat. Pejaman mata Channie semakin kuat saat Kyuhyun memainkan puncak dadanya, membuatnya terengah hebat. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya,
“Gosip itu pasti salah. Gadis seperti dirimu, terlihat polos dan Kyuhyun tidak akan suka. Percayalah, aku hafal sekali selera dan kebiasannya. Semua wanita yang sudah bersamanya pasti tidak akan bisa mengalihakan rasa nikmat yang aku berikan karena, aku yang pertama dan bibirku sangat lihai memainkan miliknya. Kau, tidak akan pernah bisa. Oh, aku lupa. Kau memang bukan apa-apanya. Maaf, Channie.”
Kenapa setiap kalimat yang terlontar, membuat Channie tidak terima. Wanita sialan itu sungguh sangat mengagganggu pikirannya.
“Kyu—Kyu hentikan,” Channie berusaha menghentikan ini dengan tenaga yang ia miliki, walau ia sudah sangat lemas karena gairah dan ia tidak bisa menghentikan sepenuhnya. Tapi, hatinya belum bisa. Entahlah…
Decapan bibir Kyuhyun yang mencium atas dadanya masih terdengar begitu indah, dan membakar gairahnya semakin berkobar. Channie menggeram dan berusaha menarik kepala Kyuhyun, jari panjang pria itu bahkan masih memainkan dadanya. Tidak lama, sudah turun dan ada di sela-sela pahanya. Mencari sensitifnya yang basah. Channie memekik saat Kyuhyun mengusap area sensitifnya. Walau nikmat, dan pandangannya juga sudah semakin berkabut. Channie berusaha menghentikan, untuk sementara ia perlu berpikir.
Tapi gairah ini sudah sulit di hentikan. Nafas mereka yang memburu, terengah masih mendominasi kesunyian ruangan ini. Menambah semangat tersendiri, bagi Kyuhyun.
“Kyu—aku mohon,” pinta Channie lembut.
Kyuhyun sepertinya peka dengan penolakan Channie, perlahan ia mendongak dan tatapan mereka bertemu. Pandangan Kyuhyun juga sama sepertinya, masih berkabut dan penuh dengan gairah.
“Kau—kau, kenapa?” tatapan Kyuhyun berubah menjadi khawatir.
“Tidak.” Channie berusaha memberikan alasan yang tepat. Ia tidak mau Kyuhyun berpikiran yang tidak-tidak padanya. “Ak—aku hanya kurang enak badan,” jawab Channie berbohong.
Kyuhyun meneliti wajah Channie dengan seksama. Kemudian tatapannya berubah menjadi sedikit tenang. Terdiam sesaat. Channie melihat Kyuhyun sedikit kecewa. Ia meminta maaf dalam hati.
“Kau—kau tidak ada yang kau sembunyikan, dariku?” Kyuhyun seperti mencium aroma kebohongannya. Channie menggeleng dengan cepat.
“Tidak.” jawab Channie dengan sedikit ragu.
Kyuhyun terlihat sulit menelan ludahnya, adam apple-nya bergerak-gerak. Menahan gejolaknya. Ia perlu berendam dengan air dingin malam ini. Ini terasa sangat ngeri. Bahkan ia merasa celana bagian bawahnya bisa sobek akibat miliknya yang meronta di sana. Ugh! Sialan. Channie sepertinya akan tidak mood untuk melakukannya malam ini. Pikiran gadis itu masih di penuhi kata-kata dari wanita itu. Dia harus membuang jauh wanita itu dari kehidupannya dan juga Channie.
Kyuhyun menarik tubuhnya, kemudian menyandarkan kepalanya di sofa, menengadah. Menarik nafas dalam-dalam dan menahan nyeri di pangkal pahanya. Meringis. Hanya dengan Channie yang bisa membuatnya mampu menunggu, menahan sakit. Ya, Tuhan. Dia ingin menertawai dirinya sendiri.
Channie membenahi blouse dan juga bra-nya yang sudah tidak pada tempatnya. Melihat Kyuhyun yang memejamkan matanya, mulut pria itu terbuka dengan nafasnya yang sudah teratur. Pria itu pasti kecewa dengannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Kemudian tatapan matanya tertuju pada bagian bawah tubuh Kyuhyun. Sesuatu membesar di sana. Bisa di bayangkan rasanya seperti apa. Pasti Kyuhyun menahan rasa itu dengan susah payah.
“Keluar, Channie. Siapkan makan malam.” sepertinya Kyuhyun tahu ia mengamatinya. Tergagap Channie salah tingkah.
“Sekarang. Atau aku akan menyerangmu sekarang juga.” desisnya dengan nafasnya yang berat.
“Ya…” jawab Channie cepat dengan buru-buru ia melangkah kakinya. Menjauh dari perpustakaan dan ruang kerja Kyuhyun ini.
Belum sampai Channie menutup pintu, ia mendengar Kyuhyun mengumpat tidak jelas dan suara erangannya membuat Channie berdebar. Disamping ia ketakutan. Ia juga merasa bersalah. Ia benar-benar seperti apa kata Yoo Mi. Tidak bisa memuaskannya? Ia harus bagaimana? Apa ia akan berubah menjadi liar? Memberi Kyuhyun servis seperti yang Yoo Mi lakukan.
Channie bergidik ngeri membayangkannya.
***
Pagi ini Channie sengaja memakai pakaian yang Kyuhyun belikan untuknya. Tidak hanya ini sih. Bahkan walking closetnya penuh dengan pakaian brand Internasional dan pasti sangat mahal. Tidak tahu mengapa, hari ini Ia ingin Yoo Mi tahu bahwa ia pantas untuk Kyuhyun. Ia juga menarik dalam balutan pakaian mahal. Walaupun di sisi lain, ia belum bisa sepenuhnya melayani Kyuhyun seperti wanita-wanita yang sudah ahli dalam seks. Tapi, ia memberikan Kyuhyun kenikmatan bercinta yang luar biasa bukan. Kyuhyun sendiri bilang padanya.
Channie memupuk rasa percaya dirinya. Dress yang hanya menutupi sebagian pahanya dengan warna pink pucat tanpa lengan. Pas sempurna melekat di tubuhnya. Punggungnya sebagian terekspos. Lekuk tubuhnya terlihat sempurna. Dada, pinggang. Menarik. Ia sengaja membawa blazer merahnya di dalam tasnya, untuk ia pakai saat berjalan menuju kantor. Sedikit menantang, kau Channie? Ya. Agar semua tahu. Ia juga wanita yang pantas untuk Kyuhyun. Christian Louboutin dengan warna senada, menyempurakan kaki indahnya.
Di dalam Mercedes Benz S Class Limousin, kini Channie duduk bersebelahan dengan Kyuhyun, ada jarak sedikit di antara mereka. Aura dingin menyelimuti suasana pagi ini. Mengingat tadi malam mereka juga dalam keadaan canggung setelah Channie menggagalkan percintaan mereka yang sudah di ujung tanduk kenikmatan. Terlihat Kyuhyun juga menahan diri untuk tidak menyentuhnya, semalaman.
Akan tetapi kejadian tadi, saat sarapan. Kyuhyun mengetahui dia memakai pakaian ‘kerjanya’ ini. Membuat Channie bingung dengan reaksi Kyuhyun saat menatapnya. Ternganga. Pria itu lebih terkejut lagi saat tahu sebagian punggungnya terekspos.
Channie sengaja membuat penampilannya lain. Dan, Kyuhyun terdengar berulangkali menghembuskan nafas kasarnya. Sorot matanya saat di dalam lift juga membuat Channie berusaha untuk tidak terintimidasi. Kyuhyun terlihat begitu tersiksa. Disamping ketersiksaannya tidak bisa menyentuh Channie. Kyuhyun tadi juga mengingatkan untuk menutup atas tubuhnya dengan blazer. Channie dengan senyum—tanpa rasa bersalahnya menjawab, Ia juga membawa blazernya di dalam tas.
Kyuhyun ternganga lagi saat itu. Dan, Channie senang melihat reaksi Kyuhyun. Sepertinya kau menggali lubangmu sendiri, Channie. Kau akan menerima serangan mendadak darinya. Bersiaplah.
Kyuhyun memainkan jari-jarinya di atas pahanya, terlihat gelisah. Channie tetap percaya diri. Padahal ia menahan mati-matian agar tidak berlonjak ke pangkuan Kyuhyun dan menuntaskan hasrat mereka yang tertunda semalam.
Young Min masih tenang seperti biasa. Beruntung, tidak ada sekat otomatis di dalam limo ini. Jadi ia sedikit aman dari serangan Kyuhyun, pagi ini. Sepertinya Kyuhyun menyesal memilih mobil ini untuk berangkat tadi pagi.
Berhenti di pertigaan seperti biasa. Channie hendak turun tapi tangannya segera dicengkeram kuat oleh Kyuhyun. Channie menoleh dan tatapan Kyuhyun menggelap. Nafasnya terdengar memburu. Pria ini diliputi rasa marah dan gairah, bersamaan. Channie berdebar. Sialan.
“Pakai blazermu.” Perintahnya. Marah. “Atau kau tidak akan bekerja hari ini dan tergelepar lemas di atas ranjang kamar kita. Seharian!” lanjutnya menahan geraman.
Double sialan, dia lupa memakainya. Dengan cepat Channie memakainya tanpa perlawanan. Setelah selesai dan hendak turun. Kyuhyun menarik wajahnya dan dengan cepat mulutnya sudah ada dalam lumatan liar bibir basah Kyuhyun. Menekan bibirnya keras dan membuat ia sulit bernafas, lemas. Kewanitaannya langsung berdenyut nyeri dan basah ketika merasakan ciuman panas Kyuhyun semakin dalam. Cepat dan penuh dengan gairahnya yang tidak pernah padam.
Terengah. Ciuman panas. Di dalam limo, bersama Young Min. Kyuhyun sudah kehilangan akal. Pria ini sinting. Gila.
Terengah, lagi. Kyuhyun melepas ciumannya yang tidak lama namun terkesan penuh gairah dan membuat Channie kehilangan banyak oksigen. Membenahi jasnya Kyuhyun duduk kembali seperti semula.
“Jam lima sore. Tunggu aku.” ucapnya tenang. Channie hanya bisa mengatur nafasnya kemudian ia tanpa sengaja menatap spion dan Young Min tengah mentapnya, pria setengah baya itu terlihat malu kemudian menunduk. Sialan kau, Cho Kyuhyun.
***
“Kau jauh lebih kurus dari pada yang aku lihat di foto ini,” ucap Yoo Mi pada seorang di depannya. Gadis itu meringis sambil sesekali menyantap sarapannya.
“Ya. Aku tidak berselara sama sekali.” ucapnya pelan, “Ayolah… Kau tahu kenapa, kan? Pernikahanku di tunda dan aku kehilangan pekerjaan yang selama ini aku banggakan di depan Jungsoo.” jeritnya frustasi.
Yoo Mi terkekeh, menyeruput Cappucino-nya, “Kau bisa membuat pernikahanmu di majukan?”
“Tidak,” desisnya. “Gadis itu, gadis itu yang membuat Jungsoo menunda. Aku tahu, walau alasannya adalah pekerjaannya yang bertambah banyak akhir-akhir. Omong kosong…”
“Bukankah mereka sedarah. Tidak mungkin, sepupu bisa menikah, kan?” tanya Yoo Mi penasaran.
“Ya. Memang tidak bisa menikah. Tapi, sayangnya mereka tidak ada hubungan darah!” teriak Juyeon. Yoo Mi tercengang. Ini baru rahasia. Rencananya tinggal sedikit lagi akan berhasil menyingkirkan gadis pengahalang itu dari hidup Kyuhyun dan dia akan bahagia dengan Kyuhyun, tentunya.
Ya, setidaknya dia akan menikmati hubungannya dengan Kyuhyun seperti tahun-tahun yang lalu.
“Oh, maaf. Tapi bagaimana bisa?”
“Jungsoo pernah bercerita dan ia membuatku bersumpah untuk tidak memberitahu siapapun. Tapi, itu tidak berlaku sekarang. Aku sudah muak menjadi nomor dua setelah sekian lama. Sejak kami sekolah menengah hingga sekarang, Jungsoo tidak bisa lepas dari gadis sialan itu.”
“Tenanglah, Juyeon. Kita akan sama-sama,” Yoo Mi menenangkan dan mencoba menyelidikinya. Sorot matanya sangat licik. “Ceritakan dari mana Channie berasal, keluarganya? Lalu kita bisa menyusun rencana selanjutnya.”
Dan cerita itu mengalir dari bibir Juyeon. Channie tidak tahu, ia sedang terancam. Begitu juga Kyuhyun. Kyuhyun masih belum mengetahui bahwa Yoo Mi sudah tahu ia telah menikah dengan Channie.
***
“Bagaimana bisa ada penggelapan dana pajak lagi!” bentak Kyuhyun marah, “Pajak ekspor untuk ke Eropa selalu tepat, Kim Ryeowook!” teriak Kyuhyun murka.
Ryeowook yang terbiasa menghadapi Kyuhyun apalagi sifatnya yang seperti ini, kali ini sedikit takut. Pria ini benar-benar marah. Ya, memang sebagian masalah datang pada dirinya dengan Channie. Tapi, masalah di perusahaannya kali ini menambah emosinya meningkat dua kali lipat.
“Jongwoon Hyung sudah meneliti data Yoon Jaesuk. Pria itu tidak memiliki anak kandung, tapi dia mengadopsi dan datanya masih di selidiki.”
Yoo Jaesuk, pernah terlibat penggelapan dana pajak dan membuat perusahaan menderita kerugian sangat besar. Pihak pemerintah sempat mencekal untuk ekspor ke Luar Negeri karena masalah ini. Bisa di bayangkan untuk apa uang sebanyak itu, ternyata Yoo Jaesuk mempunyai jaringan dan itu perusahaan gelap memecah konsumen Cho Enterprises Holding. Tapi, tidak sulit menemukan jaringan mereka. Mereka semua mendekam di penjara dan Yoo Jaesuk serta kaki tangannya meninggal karena tembakan orang-orang Kyuhyun karena hendak melarikan diri.
“Aku yakin. Anak itu menyusup di sini.” geram Kyuhyun. “Sungmin, suruh dia segera kembali. Kita butuh orang-orang lebih untuk menyelidikinya. Aku rasa motif di sini lebih berbahaya dari sekedar balas dendam. Sial!”
Kyuhyun memijit kepalanya. Pening. Channie masih belum aman. Dia tahu, ada bahaya selain dari Yoo Mi. Tuhan, kenapa sulit sekali membuat Channie resmi menjadi miliknya untuk di ketahui publik, gadis itu, miliknya. Miliknya. Agar semua pria menjauh dan Channie hanya melihatnya!
“Jongwoon bilang, anak Jaesuk menghilang sejak kematian Jaesuk lima tahun yang lalu.”
“Aku tahu itu.” gumam Kyuhyun.
“Kau tahu?”
“Aku baru saja menyelidikinya. Dia memakai nama palsu untuk masuk ke sini. Percayalah.”
“Nama aslinya? Lalu kau melihat fotonya?” tanya Ryeowook, “Yoon Doo Joon. Fotonya ada. Dan karyawan di sini ribuan.” desah Kyuhyun singkat. Kyuhyun menggelengkan kepalanya berat.
“Divisi pajak ekspor-impor sudah di periksa, tapi tidak ada yang mencurigakan.” jawab Ryeowook.
“Dia tidak dalam divisi itu, Kim Ryeowook.” Kyuhyun kembali fokus pada layar datarnya. “Sialan. Ada pertemuan dengan pihak Jepang untuk hari ini kan? Bagaimana aku bisa menyelidikinya.”
“Jongwoon Hyung akan bergerak cepat. Tidak dalam satu hari, pria itu akan tertangkap.”
“Pasti dia sudah mencium gerak kita. Dia akan kabur tapi aku tidak akan memberikan uangku jatuh padanya. Ia tidak akan menikmati sepeserpun sebelum aku menemukannya dan membuat dia membusuk di penjara. Aku tahu rencananya, pasti incarannya adalah membunuhku.”
“Dia merencanakan ini secara matang, Shitt!”
Menyalakan CCTV nya untuk ruangan Channie, ia melihat gadisnya masih aman di sana. Punggungnya terlihat dari sini, begitu menggoda. Channie sepertinya sengaja membuatnya menahan gejolaknya. Kau tunggu aku sayang. Kau menantangku. Batin Kyuhyun.
“Ini data dari seluruh karyawan dari staff keuangan dan pajak yang absen hari ini dan dua hari yang lalu.” Ryeowook menyerahkan tab pada Kyuhyun, “Setidaknya pasti dia ada dalam divisi tersebut.”
“Kau benar.” jawab Kyuhyun. “Sialan ini lebih sulit dari yang kukira.”
“Jaringan komputer semua staff keuangan dan pajak masih dalam proses penyelidikan. Junho akan melaporkannya kalau sudah selesai.”
“Bagus!” Kyuhyun sambil mengamati satu persatu, kemudian matanya tertuju pada nana, Kim Seung Hyun. “Kim Seung Hyun.” gumamnya lagi. Alisnya mengernyit. Sepertinya dia pernah melihat orang ini. Foto ini kan? Berpikir. Kyuhyun mencoba mengingat kembali. Pikirannya membawa pada saat ia masuk ke dalam lift. Matanya menatap nametag yang menggantung di leher pria itu. Walau sekilas, Kyuhyun jelas hafal wajah pria ini. Dan, ada Channie di sana. Pria itu ada di sebelah Channie. Sialan! Pria itu yang menggoda Channie. Pria itu apa mungkin tahu Channie??? Tidak mungkin.
***
Di lain tempat, seorang pria sibuk dengan layar datar dan headset terpasang di ponselnya, jari-jarinya dengan lincah menari di atas keyboard.
“Sial, mereka menumbus data milikku.” bentaknya marah.
“Hallo, Yoo Mi.” teriaknya, “Bergerak cepat. Kau sudah menemui Channie? Nanti sepulang kerja. Kau yakin dia mau? Kyuhyun pasti akan mengawasinya. Baik. Okey. Aku tunggu kabarmu.”
Mematikan sambungan teleponnya, Doo Joon menghubungi seseorang lagi.
“Kalian sudah siapkan semuanya? Ya. Pastikan CCTV di sana sudah bisa kamu sabotase. Baik. Iya. Aku akan mengirimkan uangnya segera.”
Setelah menutup sambungan teleponnya. Pria itu sedikit lega. Walau Kyuhyun tahu namanya di perusahaan terkutuk itu. Dia setidaknya aman, Kyuhyun pasti sulit menemukannya.
Ia lupa satu hal, Kyuhyun tahu dia dalam lift, kan? Tapi, dia tidak mengira kalau Kyuhyun mengingatnya.
***
Channie menatap selembar kartu yang Yura berikan padanya. Yang benar saja, Yoo Mi ingin bertemu dengannya. Ada apa dengan wanita itu. Ia sudah janji dengan Kyuhyun akan pulang bersamanya, nanti. Ada hal penting apa? Ada nomor ponsel Yoo Mi di sana.
Ia enggan, tapi ia juga penasaran.
Kemudian ponselnya berbunyi. Nama Kyuhyun terpampang di sana. Channie dengan berdebar menekan touch scrennya.
“Ya..” jawabnya mencoba tidak terdengar takut oleh Kyuhyun.
“Berapa banyak pria yang sudah melirikmu, setengah hari ini.” seperti biasa, terdengar marah. Tapi ada nada menggoda di sana.
“Aku tidak memperhatikannya, Mr. Cho yang terhormat. Aku rasa, tidak ada yang tertarik dengan gadis polos sepertiku.”
Terdengar seringai tawa Kyuhyun, “Polos? Polos Nona Park? Hey, bahkan Park Channie yang aku kenal sangat liar dan berteriak mendesah setiap aku menyentuh—“
“Apa yang kau bicarakan.” potong Channie kesal. Wajahnya memerah. “Kalau kau menelpon hanya untuk membahas masalah percintaan, aku akan—“
“Okey. Baiklah.” Kyuhyun terkekeh. “Aku sudah cukup sabar selama tadi pagi. Bahkan di dalam limo sampai sekarang. Kau sepertinya menantang sekali memakai pakaian kerja kurang bahan dan begitu transparan. Aku rasa, aku membelikanmu bukan untuk tampil di depan publik apalagi untuk bekerja di kantorku. Kau ada pakaian untuk kerja, bukan!”
Channie merasa dirinya menang kali ini. Kyuhyun terdengar marah dan frustasi.
“Ya. Aku tahu.”
“Kenapa memakai pakaian yang mempertontonkan sebagian punggung indah dan dadamu sedikit berisi itu terekspos, Channie.” Kyuhyun terdengar menggeram. Menahan emosi serta gejolak hasratnya yang terpendam.
“Banyak karyawan lain yang juga sering memakai—“
“Jangan membantah.” pekik Kyuhyun. Sialan. Dalam percakapan telepon saja, pria ini sangat mempengaruhinya.
“Dengar! Cukup hari ini saja.” teriaknya. “Berapa banyak pria yang meneteskan air liur hanya melihat kaki indahmu. Hah!” teriakan Kyuhyun terdengar marah. Mengerikan.
“Apa perlu. Aku beri tanda di sekujur punggungmu. Leher. Atas dadamu. Hingga tidak akan hilang selamanya, agar kau menutupinya. Agar semua tahu. Kau sudah ada yang memiliki. Sialan!”
Mati kau Channie. Hanya dia ingin tampil beda di hadapan, Yoo Mi—walau memang ada niatan sedikit menggoda Kyuhyun. Tidak menyangka akan seperti ini. Kyuhyun bahkan sangat tidak suka, ia memakai pakaian ini. Pria ini jelas. Marah. Bahaya.
Channie tersentak. Belum sempat menjawab Kyuhyun kembali mengoceh dengan nada bicaranya yang meninggi “Satu lagi. Kau seperti menantangku setelah apa yang terjadi di ruang kerjaku semalam, kau bahkan menolakku.” terdengar nafas Kyuhyun yang sedikit memburu.
Jantung Channie ikut berpacu dengan cepat mendengar nada suara Kyuhyun barusan. Sinting. Hanya mendengarnya saja, Channie sudah bisa menebak. Ia dalam bahaya. Bahaya gairah Cho Kyuhyun.
“Ka—kau! Apa yang kau bicarakan. Lalu apa maumu.” ucapnya kesal. Kyuhyun mengomelinya seolah dia anak kecil yang tidak boleh memakai sembarang pakaian. Dan harus patuh pada peraturan orang tuanya. Pria sinting.
“Kau gugup?” terdengar Kyuhyun sangat tenang. Padahal baru saja ia terdengar sangat marah dan tidak terkendali. Channie seperti diawasi.
“Ehm. Kau harus dihukum.” ujar Kyuhyun tenang. Channie melotot.
“Tidak.” bantah Channie masih kesal.
“Baik. Kau ke sini saat akan makan siang, atau—“ Kyuhyun menggantungkan kalimatnya sambil menatap monitor di depannya. Melihat sikap dan raut wajah Channie dari sini, membuatnya ingin tertawa kemudian menerkam tubuh itu.
“Apa?”
“Aku ke tempatmu. Lalu mengunci ruanganmu. Bagaimana?”
“Kau gila.” teriak Channie, membuat Yura menoleh dari biliknya, Channie meminta maaf kemudian fokus kembali pada Kyuhyun.
“Baiklah.” teriaknya tertahan. Makin. Kesal. “Aku ke sana. Memang ada perlu apa sampai—“
“Oh, banyak Channie sayang. Kau dari kemarin menyiksaku, kau tahu.” desis Kyuhyun penuh makna, tapi nafas Kyuhyun terdengar pendek-pendek. Pria ini sudah bergairah padamu, Channie. Channie bisa merasakan tatapan tajam Kyuhyun seperti mengawasinya. Ini gila. Hanya suara. Kenapa bisa ia membuat daerah kewanitaannya bereaksi. Dia tahu apa yang Kyuhyun inginkan.
“Sampai jumpa, Channie sayang…”
Yura memang mendengar semua apa yang Channie bicarakan. Sejak dari kecurigaannya beberapa waktu yang lalu. Dia memastikan perubahan dari Channie. Dan temannya ini memang mempunyai hubungan dengan CEO—Tampan mereka. Apalagi, dia dekat dengan pria yang juga bekerja di sini dan dekat dengan Cho Kyuhyun. Sedikit informasi ia sudah mendapatkannya.
***
“Yoo Mi, sudah aku bilang. Kau seharusnya mengikuti tender. Banyak perusahaan yang ingin bekerja sama. Bukan seperti ini. Aku tidak suka. Walau aku pemegang saham terbesar dalam Cho Group. Tapi itu tidak baik untuk perusahaan. Bukannya Changmin sudah bicara padamu, kan?”
“Iya. Tetapi tetap saja, kau Pemiliknya. Changmin hanya bawahanmu.” bantahnya.
“Dia di tunjuk langsung menjadi pimpinan di sana. Dan secara sah, dia bisa memutuskan yang baik dan tidak untuk kelangsungan Cho Group. Resort yang kau tawarkan, kurang menarik pasaran. Kau tahu.”
“Jadi kau menolak proposalku. Ada yang kurang? Kau bisa percaya padaku. Aku bekerja di sana sudah sangat lama, kau tahu. Bahkan keuntungannya juga untuk bantuan yayasan yang sudah temanku dirikan di Seoul.”
“Iya. Tapi sebenarnya, aku tidak tertarik. Maaf.” jawab Kyuhyun. “Lagi pula, Aku sudah mempunyai banyak yayasan sosial dan aku bisa menyumbangkan setiap bulan untuk yayasan sosial milik temanmu itu, tanpa menunggu hasil keuntungan kerja sama kita.”
Kyuhyun puas sekali melihat wajah kesal dan kecewa Yoo Mi. Ia terlalu mudah untuk d kelabuhi wanita licik sepertinya.
“Tssk” Yoo Mi berdecak kesal, Kemudian dia tersenyum penuh arti. Membuka blazernya. Memperlihatkan atasan pakaian ‘kerjanya’ yang lumayan terbuka hingga Kyuhyun bisa melihat belahan buah dada Yoo Mi.
Ryeowook yang berdiri di samping meja Kyuhyun. Menggelangkan kepalanya melihat wanita ini begitu nekat. Kelakuannya, bahkan lebih parah dari sebelumnya.
“Kau ingin makan malam sebelum tanda tangan atau di apartementku. Di sana cukup luas dan kau tidak lupakan nomor pin—“
“Yoo Mi cukup!” pekik Kyuhyun, “Kau tidak sopan. Ada Ryeowook di sini.” teriak Kyuhyun.
Yoo Mi tersenyum sinis. “Ryeowook sudah biasa melihat kita. Dulu dia juga tahu kalau kita keluar bersama dengannya—“
“Tutup mulutmu. Aku sudah tidak minat denganmu. Aku sudah bilang kemarin, dan kemarinnya tentang aku sudah tidak mau lagi denganmu. Kau bahkan mengerti!” ujar Kyuhyun dingin. “Kau dulu temanku. Aku masih menghargai itu. Tapi kau sepertinya sudah salah mengartikannya. Kau keluar dari sini, sebelum aku memanggil keamanan.” seru Kyuhyun membuat Yoo Mi makin marah.
Mendengus kesal, ia kembali memakai blazernya.
“Baik!” ucapnya marah. “Semoga kau tidak menyesal dengan apa yang kau ucapkan. Tapi, aku masih bisa menggantikan wanita yang saat ini dekat denganmu.” lanjutnya penuh dengan penekanan.
“Keluar, pintu sudah terbuka.” Kyuhyun tidak menatapnya, ia malah menatap kertas-kertas dan sibuk mencoret sana-sini. Yoo Mi semakin kesal akhirnya meninggalkan ruangan ini.
Pintu tertutup dan Kyuhyun menghela nafas lega. Ryeowook juga menghela nafas lega.
“Kau sebaiknya hati-hati dengannya.” kata Ryeowook khawatir.
“Ya. Dia sepertinya tidak akan tinggal diam mencari informasi tentang Channie. Tapi, kalau sampai dia menyentuh ujung rambut Channie. Aku pastikan, dia tidak akan selamat.”
“Kau mengerikan,” timpal Ryeowook. Kyuhyun mengabaikan apa kata Ryeowook. Sudah jam makan siang. Channie seperti yang di lihat di layar monitornya, dia tidak ada di ruangannya. Mungkin dia sudah berjalan menuju ke sini.
“Ryeowook, kau makan siang sendiri. Aku ada janji dengan—“
“Oh, aku tahu.” jawab Ryeowook penuh arti.
Tak lama kemudian, Jihye—salah satu sekretaris Kyuhyun muncul di depan pintu dengan Channie di belakangnya. Ryeowook sadar, dia harus pergi.
Setelah Channie ada di dalam ruangannya, berdua dengannya. Kyuhyun menekan tombol, mengunci pintunya. Channie mengalihkan tatapan kesalnya ke penjuru ruangan Kyuhyun ini. Ia enggan bertemu Kyuhyun walau sebenarnya ia sangat ingin. Kesal, karena pria ini selalu bisa membuatnya tidak bisa menolak segala pesonanya. Pesona Kyuhyun terlalu sulit ia tolak. Bahkan tidak mungkin bisa ia menolaknya. Sialan.
“Mau sampai kapan kau berdiri di situ.” Kyuhyun masih duduk di kursi kebesarannya dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya, sambil menatap Channie tajam. Mata elangnya seperti mengintai mangsanya untuk ia terkam.
Channie yang merasakan tatapan tajam dan menggelap Kyuhyun, tidak bisa berkutik. Tatapan tajam Kyuhyun bisa langsung terasa sampai di sela pahanya. Panas. Ini gila. Padahal tadi ia marah dan sangat bertambah marah saat berpapasan dengan Yoo Mi yang baru saja dari sini. Apa yang Kyuhyun lakukan dengan Yoo Mi? Tapi mereka bersama Ryeowook, kan? Tapi dia tetap saja cemburu.
Dan, Yoo Mi memaksanya bertemu nanti, sepulang kerja. Sebenarnya Yoo Mi akan membicarakan apa sih? Katanya ini menyangkut dirinya.
“Channie.” panggil Kyuhyun parau, membuyarkan lamunannya. “Kemari, kalau kau tidak mau di hukum lebih berat lagi. Lagi pula, tubuh—menantangmu terlalu indah untuk menjadi pajangan di situ.”
“Apa?” desis Channie.
“Aku tidak punya banyak waktu. Kalau kau kemari, maka hukumanmu akan cepat selesai.” ujar Kyuhyun tenang namun dari dalam hatinya ia sangat ingin berlari ke arah Channie dan menerkam tubuh itu. Melahap tubuh Channie yang ada di depannya—Seksi, panas dan bergairah. Ya, Tuhan. Hanya dengan melihatnya saja celananya sudah mengetat. Brengsek.
“Oh, kau tidak punya banyak waktu. Lalu dengan wanita barusan, kau punya banyak waktu?” sindir Channie ketus.
Kyuhyun terkekeh. Gadis ini semakin membuatnya bergairah kalau sedang marah, atau cemburu.
“Kemari, nanti aku jelaskan. Ayo Channie. Aku sudah sangat lapar. Kau tahu,” lapar bukan untuk makanan. Channie tahu itu. Ucapan Kyuhyun yang tenang malah membuat Channie bergidik. Ia tidak nyaman di tatap Kyuhyun seperti ini, seperti menelanjanginya.
Perlahan Channie bergerak mendekat dan Kyuhyun masih tetap pada kursi kebesarannya. Jarinya mengusap dagu dan mulutnya setiap menatap Channie yang perlahan mendekat. Membuat gelenyar aneh dalam tubuh Channie semakin menjalar di sekujur tubuhnya.
Sampai di depan meja Kyuhyun, Channie berhenti. Kyuhyun menatap Channie. Gadisnya ini sangat cantik dengan rona merah di pipinya karena menahan gairahnya sendiri dan bibirnya yang seperti memanggilnya untuk melahap habis. Sial.
“Aku sudah di sini. Lalu?” suara serak Channie tidak bisa menipu betapa ia sangat terpengaruh atmosfer panas yang ada di ruangan ini.
“Kemarilah.” suara Kyuhyun tak kalah seraknya dari suara Channie. Mereka berdua sudah sangat terpengaruh oleh gairah yang mereka ciptakan sendiri. “Di sampingku.” lanjut Kyuhyun.
Channie perlahan memutari meja dan kini sudah berada di samping Kyuhyun. Gugup dan jantungnya terus berdebar kencang. Keringat dingin bahkan sudah keluar dari pori-pori kulitnya.
Kyuhyun memutar kepalanya menyamping dan menatap Channie. Tatapan mereka berdua bertemu dan menyiratkan bahasa tubuh mereka masing-masing. Ketegangan seksual sangat besar menguasai atmosfer ruangan kerja Kyuhyun. Dengan Channie yang kini terlihat begitu mendamba dan Kyuhyun begitu ingin memangsa tubuh Channie.
Kyuhyun menarik pinggang Channie, hingga Channie berada dalam pangkuannya. Channie sedikit tersentak namun tidak bisa melanjutkan protesnya karena bibir basah Kyuhyun sudah ada di bibirnya. Melahap seperti kelaparan. Kyuhyun semakin menarik tengkuknya dan merapatkan tubuh Channie, melekat di tubuhnya. Sialan. Pantat Channie menekan ereksinya, hingga Kyuhyun mengerang dalam ciuman panasnya. Lumatan-lumatan Kyuhyun di bibir atas dan bawahnya membuat Channie dengan otomatis juga membalas lumatan Kyuhyun dengan begitu bergairah, sama seperti Kyuhyun.
Kyuhyun berhasil memasukkan lidahnya, memainkan dengan lincah di rongga mulut Channie. Menghisap, mengulum dan merasakan nikmat bibir dan lidah Channie yang penuh dengan candu, dan tidak akan pernah habis rasa manisnya.
Channie menggeram ketika Kyuhyun menelusupkan tangannya di dalam dressnya, menyingkan dress Pink pucatnya, hingga terkumpul di pinggangnya. Channie di buat gila oleh sentuhan tangan Kyuhyun yang mengusap perut dan punggung telanjangnya. Sementara bibirnya masih di lahap oleh Kyuhyun tanpa ampun.
Ia tidak bisa bernafas.
Terengah. Nafas mereka berdua yang memburu menghiasi kesunyian ruangan Kyuhyun ini.
Kepala Kyuhyun sudah sekian kali bergerak ke kanan-kiri hanya untuk sesekali menghirup oksigen dan mencari posisi untuk lebih nikmat dalam mencium bibir sialan milik Channie ini. Ia sudah begitu menahan dari tadi malam, kemudian tadi pagi. Di tambah Channie dengan sengaja memakai pakaian seperti ini. Gadis ini benar-benar membuat kesabarannya habis. Membuatnya gila.
Channie tidak sadar, entah sejak kapan posisinya kini sudah beralih dengan mengangkangki Kyuhyun. Ia masih dalam pangkuan pria ini. Begitu intim. Dan terlihat panas, dengan gaunnya yang sudah tidak semestinya, karena ulah tangan Kyuhyun dan juga tatanan rambutnya sudah porak-poranda.
Begitu juga Kyuhyun. Rambut cepaknya, bahkan sudah tidak rapi lagi, karena ulang tangan Channie yang kini tangannya masih betah di kepalanya dan bibir mereka masi saling berpagut. Seperti tidak berciuman begitu lama. Hingga merasakan rindu yang teramat dalam.
Channie merasakan pangkal paha Kyuhyun yang semakin mengeras di bawahnya. Dan ketika ia tidak sengaja bergerak. Kyuhyun terdengar mengerang karena kenikmatan yang ia ciptakan.
“Kyu—Kyuhyun.” desah Channie disela-sela ciuman Kyuhyun, Kyuhyun sepertinya tidak mau melepas ciumannya begitu saja. “Cho—Cho Kyuhyun. Ini kantormu. Apa… Kita…” Kyuhyun beralih menciummi leher jenjangnya. Membuat erangannya menjadi desahan.
Kyuhyun mendongak. Ia mengerti apa yang Channie pikirkan. Tatapan mereka bertemu. Dan sama-sama di penuhi oleh gairah yang begitu besar.
“Ya. Di sini.” jawab Kyuhyun serak, Channie ternganga. “Kita akan bercinta di sini. Di atas mejaku.” lanjutnya lagi dengan melumat keras bibir Channie.
“Kau gila.” bisik Channie di depan mulut Kyuhyun yang terasa panas.
“Ya. Aku memang gila.” jawab Kyuhyun dengan nada seksual, menggodanya. “Bahkan aku sudah lama menantikan ini. Bercinta denganmu di atas meja kerjaku. Di dalam kantorku.” lanjut Kyuhyun dengan tatapan yang menyala-nyala. Terbakar hasrat dan kemudian pria itu menyeringai.
“Pengalaman pertamaku Channie, begitu juga dengamu.”
***

Fc Populer:

  • Julie Dzachrie

    Terlalu banyak “feel” yg berulang-ulang dideskripsikan penulis, bukan dari chemisty yg terbangun dari dialog dan setting yg tepat. HOT, belum pernah baca cerita yg sukses menggambarkan “boneka seks hidup” berupa Park Channie tapi karakternya terlalu biasa untuk cerita seperti ini. Cho Kyuhyun, real “control freak” … Penulis saya kira blm berhasil menggambarkan “aura berkuasa” selain dari deskripsi penulis sendiri.

    Dan ketika membaca ini, mirip Novel Sylvia Day – Crossfire.

%d blogger menyukai ini: