Nothin’ On You Part 5

3
Nothin’ On You Part 5 ff nc kyuhyun super junior yadong
FF  “Nothin’ On You” Part 5 [Kyuhyun-Channie]
Author : Deani [@yesungcharger]
Cast       : Cho Kyu Hyun, Park Chan Nie
Ratting : NC-21
Warning! Ini mengandung adegan NO CHILDREN! Jadi, yang di bawah umur, kalau bisa bacanya hati-hati. Loh? WKWKWK
Okey, langsung saja.
Happy Reading~~^^
“Kita butuh tempat yang lebih luas,” bisik Kyuhyun di depan bibir Channie, tatapan sendu—mereka yang masih di penuhi hasrat— bertemu. Saling menatap, “Ya, Tuhan. Aku ingin memilikimu. Sekarang.” bisik Kyuhyun lagi. Namun langsung membakar area sensitif Channie, kembali.

Kyuhyun tahu arti tatapan sendu Channie. Gadis ini, juga menginginkannya. “Kaitkan, kakimu.” perintah Kyuhyun pelan, seperti desahan yang tertahan, “Kaitkan, kakimu. Di pinggangku. Sayang.” ucap Kyuhyun sekali lagi. Menatap dalam-dalam ke mata Channie, hingga ia merasakan kaki jenjang Channie sudah melilit di pinggangnya.
“Bagus. Tetap kaitkan, sampai kita di kamar.” belum sempat Channie menjawab, Kyuhyun sudah menekan keras bibirnya pada bibir Channie.
Part 5
Kyuhyun membawa tubuh Channie, tanpa melepaskan ciuman yang penuh hasrat di mulutnya.
Tubuh Channie—yang melilitkan kakinya di pinggang Kyuhyun, begitu pas terasa menempel di tubuhnya. Kyuhyun menggeram di dalam tenggorokan, ketika Channie entah sengaja atau tidak menggerakan tubuhnya. Hingga kedua pangkal paha mereka bersentuhan, mengirimkan panas yang begitu nikmat. Demi, Tuhan. Ini sangat membakarnya.
Dengan terus menempatkan bibirnya pada bibir Channie dan melahapnya lapar, Kyuhyun terus membawa tubuh Channie menuju kamarnya, yang ada di lantai atas. Tanpa mau bersusah payah dengan menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi, ia langsung menuju lift dan menyudutkan tubuh Channie di dinding lift  tanpa melepas ciumannya.
Setiap erangan bahkan sentuhan tangan Channie di lehernya bahkan di rambut Kyuhyun, semakin membuat semangatnya untuk terus, dan terus menyentuh lekuk tubuh Channie.
Channie merasakan tubuhnya tersudut pada dinding lift, tubuh Kyuhyun tetap menekannya. Keras. Ia bisa merasakan gairah Kyuhyun yang semakin membakar dengan merasakan pangkal paha Kyuhyun yang menyentuh titik sensitifnya. Tak lama kemudian, bibir dan lidah Kyuhyun berpindah ke lehernya. Ya, Tuhan. Ia ingin mendesah lebih kencang—meneriakkan nama Kyuhyun. Bibir dan lidahnya sangat sialan. Nikmat. Di lehernya. Di titik nadinya. Menghisap dan menjilatnya. Hingga terasa sampai ke perut dan langsung tertuju di area sensitifnya yang terasa panas, semakin panas dan basah. Hanya, Kyuhyun yang membuatnya seperti wanita mesum. Menginginkan, lebih dari ini.
Keluar dari lift. Langkah, demi langkah Kyuhyun membawa tubuh Channie, menuju kamarnya, yang terasa hanya gairah yang semakin menggebu. Semakin dekat dengan pintu, rasa panasnya berjuta kali lipat. Seolah bibir Channie, adalah sesuatu yang sangat ia jarang temui, Kyuhyun melahapnya tanpa bosan. Decapan dari perpaduan bibir dan lidah mereka, membuat suasana yang hening terdengar lebih indah, apalagi nafas mereka yang terengah. Memburu. Membuat gairah mereka berkobar.
Channie mendengar suara pintu tertutup dengan sangat keras. Kyuhyun menutup pintu—tanpa susah payah dengan kakinya. Kemudian, Ia merasakan tubuhnya terhimpit oleh tubuh Kyuhyun, pada dinding kamar ini. Lumatan bibir Kyuhyun lebih pelan. Lebih pelan. Seolah memberi jeda pada Channie untuk mengambil nafas. Bibirnya terasa panas dan membengkak. Ya, ampun. Berapa lama ia berciuman, dengan Kyuhyun.
Nafas mereka berdua terdengar sangat memburu. Seperti sehabis berlari maraton, ribuan kilometer.
Bernafas. Terengah. Bernafas. Terengah.
Kyuhyun mencecap tepian bibir Channie, yang basah akibat saliva mereka, sisa ciuman panas dan liar. Mengisapnya pelan. Seolah masih enggan melepaskan ciumannya. Bibir Channie, terlalu nikmat untuk ia tinggalkan, begitu saja.
Akhirnya. Kyuhyun menempatkan dahinya, pada dahi Channie. Nafas mereka berdua masih terengah. Jantung mereka berdua masih berdebar dengan sangat kencang. Dada yang masih naik-turun. Tatapan mereka berdua hanya tertuju pada bibir yang ada di depannya, merah dan terasa bengkak.
Channie menatap Kyuhyun. Kenapa Kyuhyun menghentikan ini. Apa memang, dia tidak—tubuhnya—senikmat tubuh wanita-wanita nya. Hatinya seperti ditusuk-tusuk. Tidak. Tidak, Channie. Bahkan ia bisa merasakan Kyuhyun menginginkan-nya. Kini, Kyuhyun juga menatapnya. Tatapannya sendu. Menggelap. Kemudian, menyala-nyala. Membuat Channie, sulit mengartikannya.
Kyuhyun menatap lekat-lekat Channie. Merekam semua apa yang ia lihat pada wajah cantik—bergairah—gadis di depannya ini. Nafas Channie yang panas menerpa permukaan kulit wajahnya. Kyuhyun seperti terkena sihir akibat hembusan nafas Channie, ini. Mencoba mengingat apa kata Jungsoo, tadi siang. Pria itu ternyata menyimpan perasaan pada Channie-nya. Walau, tidak Jungsoo ungkapkan padanya. Tapi, Kyuhyun seorang pria. Dia, yakin tahu apa yang pria itu rasakan. Bagaimana perasaan Jungsoo terhadap Channie ternyata lebih dari seorang adik. Parahnya, Jungsoo memang sengaja menyembunyikan perasaannya. Sialan! Ia juga mendengar pernikahan Jungsoo, diundur. Kyuhyun, tidak tahu harus berbuat apa. Sedang, Channie-nya ini, menyimpan perasaan juga pada pria itu. Ya, Tuhan. Seandainya, Jungsoo bukan saudara Channie, atau Park Soo Hwan dia akan menghilangkan pria itu dari muka bumi ini. Agar, Channie bisa terus untuknya? Bersamanya. Apa yang kau bilang barusan, Cho Kyuhyun?! Brengsek, kau!
Satu lagi, yang membuat Kyuhyun semakin tidak bisa kehilangan Channie. Jungsoo bisa saja merebut istrinya ini. Karena, kalau saja Channie tahu, jika dia dan Jungsoo bukanlah—
“Kyu—hhh.“ panggilan lemah Channie membuyarkan segala lamunan Kyuhyun. Channie hendak beringsut dan turun dari pinggangnya. Ya, ampun. Dia baru sadar, Channie menatapnya dengan sorot mata yang terluka.
“Tidak. Jangan.” desis Kyuhyun, semakin memperat, dekapannya. Semakin menekan tubuh Channie, ke dinding. Menyeruakkan kepalanya, pada lekukan leher Channie. Menghirup aroma Channie yang memabukkan. Dan membuat  tanda kepemilikannya di sana, lagi. Dia, Park Channie. Hanya miliknya. Milik, Cho Kyuhyun.
“Kau. Milikku.” desah Kyuhyun saat bibirnya membelai bawah telinga dan titik denyut nadi, di leher Channie. Mengirimkan percikan api yang membuat tubuh panas mereka, kembali terbakar.
“Milik—ku—hhh.” nafas Kyuhyun kembali terengah, membuat Channie merasakan kupu-kupu mulai menggelitik di perutnya. Kyuhyun berlama-lama di lekukan leher Channie—surga bagi Kyuhyun.
“Aromamu, memabukkan.” desah Kyuhyun masih sibuk menciumi area lekukan leher Channie, kemudian naik ke rahang dan kembali pada bibir Channie.
Channie bergeliat dengan tubuhnya masih melilit di pinggang Kyuhyun, sehingga menyentuh titik rangsang tubuh mereka. Kyuhyun menggeram frustasi. Demi, Tuhan. Tubuh Channie terasa pas atau memang sengaja tercipta dipasangkan dengan tubuhnya.
Kyuhyun tidak mampu menahan lebih lama lagi, karena miliknya sudah sangat terasa nyeri dan keras seperti batu. Begitu juga, Channie yang merasa semakin basah. Kyuhyun menyingkap ujung blouse tipis. Mengusap perut datar Channie, lalu naik mengusap ke tulang rusuk hingga menyentuh dada Channie yang masih terbalut dengan bra. Jari-jari lincah Kyuhyun, mengusap dan meremasnya. Terasa pas di tangannya. Membuat Channie, menggeram di dalam mulutnya merasakan pijatan tangan Kyuhyun di dadanya dan bibirnya dalam lumatan bibir Kyuhyun. Sensasinya membuat Channie semakin mengeratkan tangannya di leher Kyuhyun. Membuat, area sensitifnya tidak berhenti berkedut.
Tidak sabar, dengan sekali sentakan, Kyuhyun berhasil merobek blouse tipis yang berbahan siffon—melekat di tubuh Channie itu, melemparnya seperti kain usang yang tidak terpakai. Menatap tubuh atas Channie yang masih memakai bra hitam dengan sedikit renda yang menghiasi, warna hitam yang kontras dengan kulit pucat Channie, membuat Channie terlihat semakin cantik dan menggairahkan, tentunya. Kyuhyun tidak menyangka. Tubuh gadis ini, lebih dari imajinasinya selama ini. Sangat indah. Di tambah ekspresi wajah Channie yang merona dan sedikit berkeringat. Damn! Bertambah cantik saja gadisnya ini. Tentunya, sangat membahayakan dirinya. Pangkal pahanya makin mengeras.
“Lepaskan kemeja—ku,” pinta Kyuhyun pada Channie, membuat semburat merah itu semakin menjadi. Ditambah sorot mata Channie yang sendu—penuh gairah. Ini perpaduan yang tidak pernah Kyuhyun temui, pada wanita manapun. Sangat. Sangat indah.
Setelah Channie—dengan ragu-ragu menempatkan tangannya pada dada Kyuhyun untuk membuka kancing kemejanya, Kyuhyun kembali menempatkan mulutnya di mulut Channie. Menciumnya dengan tergesa-gesa, menyusupkan lidahnya. Membangkitkan gelora dan hasrat mereka berdua. Channie membalasnya dengan tangannya yang membuka kancing kemeja Kyuhyun—yang terasa sulit sekali untuk menyelesaikan semuanya.
Persetan! Channie, terasa lamban membuka kemejanya. Ia ingin segera merasakan tubuh Channie yang tidak terpalisi kain apapun bersentuhan dengan kulit tubuhnya. Suara kancing kemeja Kyuhyun yang terlepas—jatuh ke lantai, terdengar di telinga Channie. Ia kini merasakan dada telanjang Kyuhyun bersentuhan dengan dadanya. Membuat Kyuhyun mengerang di dalam ciumannya. Apalagi, kini ciuman Kyuhyun beralih ke dadanya, menyingkap bra yang ia pakai, hingga Kyuhyun bisa merasakan dada Channie tanpa sehelai benang, mencium puncak dada Channie—yang sudah mengeras di dalam mulutnya. Menghisap dan memainkannya dengan lidah dan bibirnya. Ini, sialan! Nikmat! Channie belum pernah mendapat kenikmatan seperti ini. Ya, ampun! Bibir dan lidah Kyuhyun serta tangan Kyuhyun tidak berhenti menyentuh ke dua dadanya. Kyuhyun sangat lihai, memainkannya. Channie meremas kuat rambut Kyuhyun. Menekan kepala Kyuhyun untuk tetap di sana. Mulutnya kadang terbuka dan matanya terpejam menikmati sentuhan Kyuhyun di dadanya.
“Kyu—hhh,” desah Channie, nafasnya terengah. Channie melayang atas perlakuan Kyuhyun. Seperti akan ada gelombang besar yang menerpa titik rangsangnya. Channie meremas kuat-kuat leher Kyuhyun, ia lemas. Tidak punya tenaga lagi. Tangan Kyuhyun masih memainkan puncak dada yang satunya, dan bibirnya juga masih mengulum dengan keras puncak dadanya. Channie mendesah, hingga ia menggeliat. Kemudian…
“Ya—hhh. Lepaskan, sayang,” bisik Kyuhyun sambil mulutnya terus bergantian menghisap puncak dadanya. Ini, gila! Gila! Bagaimana mungkin, setiap jengkal tubuh Channie, seakan ada candu di sana. Ini. Lebih. Dari. Nikmat.
Channie berteriak, dan merasakan pelepasan pertama. Nafasnya tersengal hebat. Kakinya yang masih mengait di pinggang Kyuhyun, seakan sudah tidak kuat lagi untuk mengait di sana. Bagaimana bisa, Kyuhyun membuatnya orgasme hanya dengan mulutnya di dadanya? Ini, gila.
Kyuhyun membawa Channie ke ranjangnya, kemudian merebahkan Channie dengan hati-hati di atas King Size nya. Menatap Channie dengan tatapan memuja—tubuh Channie dan kecantikan yang luar biasa, indahnya. Sempurna. Bahkan Channie belum melepaskan rok nya.
Tapi, entah kenapa, Channie merasa bahagia. Dia merasa, di cintai. Di puja dan di butuhkan oleh Kyuhyun. Hatinya, menghangat.
“Akan aku buat kau merasakan indahnya bercinta, percayalah.” ucapan Kyuhyun yang tulus membuat Channie makin meremang. Wajahnya yang masih merona, kini malah semakin merona. Kyuhyun tersenyum simpul, dan tatapannya kini berubah, menyala-nyala terbakar gairah. Menutup bibir Channie yang terbuka—karena terengah dengan mulutnya. Melahapnya dengan cepat dan menutut. Demi, semua Dewa yang ada di bumi. Bibir Channie ini, tidak akan pernah habis rasa manis dan candunya. Lidah mereka sudah saling bertautan, kembali. Membelit dan menghisap. Tangan Kyuhyun turun hingga ke area kewanitaan Channie. Menemukan titik sensitifnya, yang sudah sangat basah kuyup.
Channie semakin menggeliat, ketika jari-jari Kyuhyun membelai kewanitaannya itu. Menyingkap celana dalam Channie, lalu memainkan jarinya di sana. Geraman Channie berubah menjadi desahan. Kyuhyun, suka sekali mendengar suara indah Channie dalam desahan. Membakar gairahnya, yang tidak pernah padam. Apalagi, kalau Channie menyebut namanya.
“Oh, ya ampun. Channie, kau sudah sangat siap untukku,” bisik Kyuhyun di telinganya sambil terus memainkan lidahnya pada leher—titik nadi Channie.
“Tahan ya, sayang. Ini untuk pemanasan—” desah Kyuhyun, tahu gairah Channie sudah memuncak. Sama seperti dirinya. Dan ia, sebenarnya juga sangat ingin memasuki Channie. Pangkal pahanya, sudah sangat nyeri.
Perlahan, jari panjang Kyuhyun memasuki kewanitaan Channie. Channie nyaris memekik kalau saja bibir Kyuhyun tidak membungkamnya dengan ciuman yang menuntut dan memabukkan. Jari-jarinya. Bergerak lincah, di sana. Perlahan. Memutar dan menambah cepat gerakan dua jari panjangnya. Channie tidak kuasa membuka matanya. Ia menikmati sentuhan Kyuhyun di dalam sana.
Nafas Channie, memburu. Di tambah, Kyuhyun mengalihkan ciumannya di atas dadanya kemudian turun di perutnya. Tak henti-hentinya lidah—panas dan lihai Kyuhyun menciummi setiap jengkal tubuh Channie. Membuat Channie berungkali menahan desahannya, tapi selalu gagal. Merintih. Mendesah. Itulah yang di inginkan Kyuhyun. Setiap apa yang keluar dari mulut—berbahaya Channie, seolah menarik dirinya untuk terus menjamahi tubuh indah Channie. Memacu darahnya, hingga terbakar gairah yang tak akan pernah redup.
Kaki Channie bergerak tidak tentu saat ia merasakan dorongan kuat dari jari-jari panjang Kyuhyun di dalam tubuhnya. Dan, sesuatu akan datang sebentar lagi. Kepalanya pening. Gejolak di dalam perutnya semakin menjadi. Ia melayang. Kepalanya bergerak tidak teratur, karena kenikmatan yang di ciptakan Kyuhyun dalam tubuhnya.
“Channie, sayang, tatap aku—“ bisik Kyuhyun di telinga Channie. Kyuhyun tahu kenikmatan itu akan datang, Channie yang ada di bawahnya kini tidak kuasa menahannya oleh karena dia memejamkan matanya. Walau kadang juga menatap Kyuhyun. Dengan perlahan ia mulai menatap Kyuhyun, dan seperti apa yang diharapkan Kyuhyun. Ia menggerakkan cepat di dalam tubuh Channie, hingga gadis ini meneriakkan namanya. Gelombang kenikmatan itu datang, untuk kedua kalinya. Dan, Kyuhyun puas menatap wajah Channie yang orgasme karenanya. Wajah Channie, yang di landa kenikmatan sangat—sangat cantik, Ya Tuhan. Ia bagaikan Dewi keindahan yang penuh dengan godaan kenikmatan duniawi.
Kyuhyun membiarkan Channie yang masih menikmati sisa-sisa pelepasannya. Dada mereka berdua masih bergemuruh dengan nafas yang memburu. Kyuhyun dengan sigap melepas bawahan Channie, hingga Channie kini, polos di bawahnya. Kyuhyun menahan nafasnya sejenak. Ia tidak boleh tergesa-gesa pada Channie. Ia tahu, kalau Channie masih perawan. Dan, Kyuhyun sama sekali belum pernah tidur dengan perawan. Sama sekali. Dia, tidak tahu, berbuat dari mana agar tidak menyakiti gadis ini. Tapi, ia ingin segera menuntaskan hasratnya yang ia pendam selama ini, sejak ia bertemu pertama kali dengan Chnanie. Dan langsung membuat reaksi berlebihan di tubuhnya.
“Ya, Tuhan. Kau, sangat cantik… lebih dari cantik. Kau, harus tahu itu.” bisik Kyuhyun saat Channie merasa malu, karena tubuh telanjangnya di bawah Kyuhyun. Gadis ini, merona kembali. Sial. Ia tidak tahan, melihat Channie seperti ini. Merona. Berkeringat. Tatapannya sendu penuh gairah. Ia bangga. Ia pria satu-satunya dan pertama yang melihat Channie, seperti ini.
Kyuhyun sudah melepas celana panjangnya, beserta celana dalamnya dengan cepat. Membuat Channie berkeringat dingin. Gugup. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, saat tubuh Kyuhyun mulai menekan lagi tubuhnya.
Kyuhyun mulai mencium pipi merona Channie, turun ke rahang, kembali ke leher Channie. Mencecapi setiap inchi kulit Channie dengan bibirnya, menimbulkan sengatan gairah ke seluruh tubuh Channie terutama titik sensitifnya. Kyuhyun terdengar menggeram saat perlahan miliknya perlahan menyentuh kewanitaan Channie, begitu juga Channie. Ia menatap Kyuhyun, seolah akan mengatakan sesuatu. Menggigit bibirnya, jeritannya saat milik Kyuhyun itu sedikit memasuki tubuhnya.
Kyuhyun tahu, apa arti tatapan Channie padanya, “Tahan Channie, ini akan sakit, tapi—“
“K—Kyu, aku baru pertama—“ bisik Channie. Bibirnya tepat di depan bibir Kyuhyun, “Aku tahu, aku tahu. Aku juga belum pernah dengan perawan sebelumnya, Channie—hanya denganmu.“ balas Kyuhyun menahan desahannya, karena milik Channie, begitu sempit. Di luar dugaannya selama ini.
Channie memejamkan matanya kuat-kuat, karena perlahan milik Kyuhyun masuk ke dalam tubuhnya, walau tidak, belum sepenuhnya. Jantungnya berdebar hebat. Hatinya berdesir, jadi dia gadis perawan pertama yang Kyuhyun tiduri. Ya, ampun. Kyuhyun belum pernah tidur dengan perawan.
“Ah—hhh. Ya, ampun kau sempit sekali, Channie.” desah Kyuhyun, terdengar sedikit frustasi namun tetap mampu membakar seluruh tubuh Channie dengan suara serak seksi-nya itu. Terlebih lagi, wajah Kyuhyun yang berpeluh dengan rambut yang acak-acakan. Sialan. Pria ini, berkali-kali lipat tampannya dan juga makin terlihat panas.
Channie tiba-tiba memekik dan mencengkeram kuat pundak Kyuhyun, tanpa ada aba-aba Kyuhyun sedikit menyentakkan miliknya ke dalam tubuh Channie. Hingga nafas mereka berdua kini terdengar melenguh.
Kyuhyun menatap Channie, dengan smriknya. Brengsek, di saat seperti ini dia malah tersenyum dengan smriknya. Batin Channie kesal. Ya, dia tahu. Kalau Kyuhyun sangat berpengalaman dengan wanita yang sudah terbiasa dengan seks. Tapi, Channie? Ini baru pertama untuknya.
“Maaf, tapi itu—“
“Cho Kyuhyun—hhh,” bisik Channie dengan nafasnya yang tersengal, tidak dipungkiri ia masih gugup dan takut kalau saja Kyuhyun akan menyakitinya. Kyuhyun menatapnya dengan tatapan memuja. Dia tidak bisa kalau tidak segera memasuki Channie, sepenuhnya.
“Tahan sebentar, sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Percayalah.” ujar Kyuhyun pelan. Terdengar penuh dengan kasih sayang. Mencoba menenangkan kegugupan Channie dan juga rasa sakit yang bahkan Kyuhyun tidak tahu sakitnya seperti apa. Sebaliknya, ia merasakan nikmat yang luar biasa. Yang belum pernah ia rasakan, pada wanita manapun. Dan, inilah yang ia nanti-nanti kan. Mimpi yang menghantuinya setiap malam, hingga ia serasa akan mati, jika tidak akan melakukannya dengan Channie.
“Kita tidak melakukan seks, Park Channie. Tapi. Bercinta.” bisik Kyuhyun tenang namun belum Channie mengomentari, bibir Kyuhyun lebih dulu melahap bibirnya yang masih terasa bengkak. Dengan pergerakan bibir Kyuhyun yang melumat bibitnya dengan panas, lagi. Serta lidahnya yang mampu membuat Channie membuka mulutnya, untuk menyambut lidah lihai Kyuhyun. Hingga ia membalas ciuman ini.
Channie merasa tenang. Ya, dia akan bercinta. Setidaknya.
Channie tiba-tiba merasakan sentakan kuat di dalam tubuhnya. Jeritannya tertahan dalam mulutnya, karena Kyuhyun masih sibuk memainkan bibir dan lidahnya untuk mencium bibirnya. Milik Kyuhyun terasa sangat penuh di dalam tubuhnya, terasa sesak hingga ia menggeliat dan merintih. Rasanya memang sangat sakit. Hingga ia tidak sadar mengeluarkan air matanya.
“Ssshhh—jangan menangis,“ bisik Kyuhyun setelah melepas tautan bibirnya, kemudian menciummi setiap inchi wajah Channie. Ketika, ia melihat air mata Channie, Kyuhyun menghapusnya dengan ciuman lembut. Sudah ia duga, pasti akan sesakit ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia sudah mencoba sepelan mungkin, tapi tidak berhasil menerobos pertahanan dinding Channie hingga dia menusukkan kuat-kuat miliknya. Milik Channie benar-benar membuatnya gila.
Milik Kyuhyun, terasa sangat dalam mengisi tubuh Channie.
Sempit. Kyuhyun memejamkan matanya karena miliknya seakan di cengkeram kuat-kuat oleh dinding kewanitaan Channie. Kenapa senikmat ini? Ia tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini, sebelumnya. Ini. Bahaya. Cho Kyuhyun.
Ini. Lebih. Dari. Yang. Ia. Bayangkan.
Channie merasakan dorongan di dalam tubuhnya ketika rasa sakit itu sedikit mereda. Kyuhyun sepertinya, tidak sabar menggerakkan dirinya. Walau sakit masih terasa, tapi ada rasa lain di setiap gerakan Kyuhyun di dalam tubuhnya. Kyuhyun, menggerakkan miliknya dengan irama yang ia buat sendiri, hingga membuatnya nyaris bermain cepat. Tapi, ia ingat. Ini pertama kali bagi Channie. Dia harus memberi kesan percintaan yang indah untuk Channie. Agar Channie selalu mengingat malam pertama mereka. Dengannya, dengan Cho Kyuhyun.
Tapi, Kyuhyun tidak bisa selamanya pelan. Ingin segera menusukkan kuat-kuat miliknya. Menatap Channie, memastikan apakah masih terasa sakit. Tatapan Channie yang sendu—bergairah. Channie sudah tidak merasakan sakit tapi kenikmatan yang ia rasakan. Bagus. Dan, peluh yang ada di dahi Channie dan juga cengkeraman kuat Channie di bed cover serta selimut yang sudah tidak berbentuk rapi lagi. Membuat Kyuhyun, frustasi. Sialan. Channie membuatnya semakin terbakar. Gairahnya sudah memuncak. Tidak bisa di tahan lebih lama lagi. Ia sudah tidak kuasa menahannya.
Channie menggeram ketika Kyuhyun memainkan bibir dan lidahnya di puncak dadanya yang mengeras. Mengulum dan menghisapnya kuat-kuat. Serta tangannya, meremas dada Channie yang satunya. Channie di buat melayang oleh perlakuan Kyuhyun ini. Apalagi, Kyuhyun menggerakkan dengan cepat miliknya di dalam tubuh Channie. Sentuhan Kyuhyun membuat Channie semakin terbakar gairah hingga ia secara tidak sadar juga menggerakkan tubuhnya. Mengimbangi permainan Kyuhyun. Mengalihkan tangannya, pada punggung telanjang Kyuhyun. Mengusap serta memegang kuat untuk menahan tubuhnya saat ia bergeliat karena dorongan Kyuhyun.
Setiap sentuhan Channie, pada kulit telanjangnya. Membuat Kyuhyun gila. Akal sehatnya tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Begitu lembut dan penuh dengan gairah. Memacu semangatnya.
“Ya, ampun. Channie. Kau—“ desah Kyuhyun tiap kali ia mendorong miliknya lebih dalam bersama dengan Channie yang menggerakkan tubuhnya, berlawanan. Ini. Sangat. Sangat. Nikmat. Dan, Channie adalah miliknya. Ia tidak tahu, akan hidup seperti apa. Jika, Channie menjadi milik pria lain.
Terengah. Mendesah, Channie di buatnya. Menggertakkan giginya setiap merasakan kenikmatan yang melanda miliknya di dalam tubuh Channie.
“Kyuhyun—“ desahan Channie memacu Kyuhyun bergerak lebih cepat, Milik Kyuhyun menyentuh titik rangsangnya. Sialan. Channie. Belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini.
“Channie, Kau sangat nikmat. Ya, Tuhan.” desah Kyuhyun. Channie meremang mendengar apa kata Kyuhyun, barusan. Tangannya semakin erat memeluk—mengusap, punggung Kyuhyun.
Deru nafas mereka terdengar sangat memburu.
Desahan Channie yang memanggil nama Kyuhyun, dan juga aroma percintaan yang menguar di dalam kamar ini, membuat Kyuhyun menaikkan tempo permainan ini, lebih cepat. Apalagi, Kyuhyun. Ia, seakan tidak sabar ingin menuntaskan semuanya. Mimpinya selama ini.
Kaki Channie yang melilit di pinggang Kyuhyun semakin membuat Kyuhyun gila. Bahkan lebih dalam miliknya memasuki tubuh Channie.
Panas. Tubuh mereka bersatu saling bergesekan dengan peluh yang membanjiri tubuh masing-masing. Seakan membuat percintaan ini semakin liar dan tidak terkendali. Kyuhyun tahu, Channie akan datang. Tubuh Channie menegang. Wajahnya semakin memerah dengan peluh yang membanjiri tubuh Channie, membuat Kyuhyun menusukkan lebih dalam miliknya.
“Cho Kyuhyun, Ak—aku—“ desah Channie ketika merasakan dorongan kuat di dalam tubuhnya, begitu nikmat. Ia, akan datang.
Kyuhyun yang menyeruakkan kepalanya di sela-sela lehernya, menciummi setiap jengkal leher jenjang Channie, berbisik “Ya, Sayang—“ Milik Channie semakin erat mencengkeram miliknya di dalam sana.
“Milikku. Kau. Milikku. Channie.” Kyuhyun menekankan setiap katanya, untuk Channie. Ia kini terus menatap Channie, begitu juga sebaliknya. Channie melihat tatapan mata Kyuhyun yang tajam dan penuh dengan gairah. Hatinya berdesir. Membuat gejolak lain di perut dan sensitifnya. Kata-kata Kyuhyun itu adalah janji yang harus ia tepati. Ia milik Kyuhyun untuk saat ini dan seterusnya. Sialan, kau akan terjebak bersama pria ini.
“Milikku, Park Channie—“
Kyuhyun mendorong kuat miliknya. Channie, tidak kuasa menjawabnya. Ia tidak punya tenaga. Begitu penuh milik Kyuhyun mengisinya. Hingga ia merasakan, mungkin menembus dinding rahimnya, sangat dalam. Ini, gila. Rasanya seperti melayang. Dan, lagi Kyuhyun menusukkan miliknya semakin dalam dan kuat, tubuh Channie seketika dihantam gelombang kenikmatan yang begitu intens. Kenikmatan itu datang. Bersama dengan tubuhnya yang kaku.
Terengah. Ia, seakan lemas. Tubuhnya sulit ia gerakkan.
Tak lama setelah itu, Channie juga merasakan tubuh Kyuhyun menegang. Pria itu meneriakkan namanya dengan keras, kemudian ada kehangatan mengalir di dalam tubuhnya. Cairan Kyuhyun, memenuhi rahimnya. Kyuhyun ambruk di atas tubuhnya. Menyeruakkan wajahnya di leher jenjangnya, menghirup dalam-dalam aromanya. Mencium leher jenjangnya. Mencium rambutnya dengan deru nafas Kyuhyun terdengar memburu, seperti deru nafasnya juga. Channie bisa merasakan pelepasan Kyuhyun di dalam tubuhnya yang begitu hebat.
Kyuhyun menikmati orgasmenya yang sangat intens. Aroma tubuh Channie dan rambutnya, semuanya kombinasi yang begitu sangat indah. Dan, pelepasan di dalam tubuh Channie, yang sialan sangat nikmatnya. Ia tidak pernah menemukan kenikmatan ini, sebelumnya. Dan, tidak akan pernah bisa menandingi kenikmatan yang Channie berikan. Tidak ada.
Ya, Tuhan. Cho Kyuhyun, kau akan benar-benar gila, jika hanya sekali merasakannya. Brengsek!
Bahkan sekali, tidak akan pernah cukup. Ketagihan?! Lebih dari ketagihan!
Ia, sudah menduga akan seperti ini. Tapi, ini lebih dari yang ia duga. Apakah, akan membuat Channie dalam pernikahan untuk membuatnya di samping Kyuhyun. Selamanya. Ini, bukan hanya tubuh. Ada gelenyar lain di hatinya, saat orgasme pertama datang menghantamnya di dalam tubuh Channie. Tubuhnya terasa pas dengan Channie.
Channie, meringis saat Kyuhyun menarik miliknya keluar dari tubuhnya hingga Kyuhyun berbaring di sebelahnya. Ia belum berani menatap Kyuhyun, wajahnya terlalu merah merona untuk menatap Kyuhyun, malu. Tidak di pungkiri, ia sangat menikmati percintaan ini. Tangan Kyuhyun menarik pinggangnya, memeluk tubuh Channie, possesif. Merapat dengan tubuh Kyuhyun. Punggungnya menempel pada dada Kyuhyun. Ia bisa merasakan detak jantung Kyuhyun. Berdetak, untuknya.
“Terima kasih,” bisik Kyuhyun, “Aku pria pertama kalinya, dan ini juga pertama kali aku merasakan percintaan yang begitu hebat.” lanjutnya, kemudian Channie merasakan Kyuhyun mencium pelipis dan juga rambutnya, berulang-kali.
Apa? Ini juga termasuk percintaan hebat bagi Kyuhyun, untuk pertama kali? Sulit di percaya, karena Kyuhyun sering melakukan dengan wanita-wanita yang jauh berpengalaman dari pada Channie. Hatinya, menghangat. Serasa ada berjuta-juta kupu-kupu mengepakkan sayapnya di perut Channie.
Kyuhyun menempelkan bibir basahnya di pundak Channie. Menciumi kulit telanjang yang begitu cantik, milik Channie. Oh, Tuhan. Tubuhnya bereaksi kembali. Ereksi. Benar-benar, gila.
Channie sedikit tersentak, saat merasakan milik Kyuhyun—yang sudah kembali terangsang, menyentuh pinggangnya. Terasa menusuk. Terdengar, nafas Kyuhyun yang pendek-pendek sambil terus mencium area bahunya, hingga membuat Channie dibakar gairahnya, kembali. Sialan. Ia, menginginkan pria ini di dalam tubuhnya.
Tangan Kyuhyun turun, menyentuh sensitif Channie. Mengusapnya. Membuat Channie, menahan nafasnya. Tidak tahan, dengan sentuhan jari-jari panjang Kyuhyun yang mulai memasuki tubuhnya. Nyaris memekik, tapi mulut Kyuhyun lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman yang menuntut. Jari-jari Kyuhyun begitu lincah bergerak di dalam tubuhnya. Begitu nikmat.
“Sekali lagi, Channie—“ desah Kyuhyun di telinganya, kemudian mengecupi telinga, bagian bawah telinga dan lehernya. Channie melenguh karena gairahnya kembali bangkit. Matanya terpejam menikmati ciuman Kyuhyun, di sana. Apalagi, tangan Kyuhyun yang lain, memainkan dadanya. Meremasnya dengan cara Kyuhyun sendiri, berulang-kali hingga ia menggeliat.
Nafas mereka kembali memburu. Desahan kembali keluar dari bibir Channie saat bibir Kyuhyun mencium dan mencecapi punggung telanjangnya. Ia, tidak mungkin menolak kenikmatan ini. Tidak akan bisa, tepatnya!
***
Sinar matahari pagi, mengusik tidur lelapnya. Channie masih enggan membuka mata. Ia masih ingin menikmati rasa kantuknya dan sepertinya ini masih terlalu pagi untuk bangun. Kemudian, ia merasakan sesuatu yang lembut dan basah di bibirnya. Membuka matanya, ia mendapati Kyuhyun ada di sampingnya. Rupanya, Kyuhyun mencium bibirnya. Rasa mint segar dari pasta gigi yang Kyuhyun gunakan, masih tersisa di bibirnya. Pipinya merona, tanpa ia sadari.
Kyuhyun sudah duduk dengan pakaian yang sudah rapi, seperti akan berangkat bekerja.
Channie, segera tersadar dengan arah tatapan Kyuhyun pada dada—Ya, ampun! Selimut yang ia pakai melorot hingga memperlihatkan sebagian dadanya. Menarik dengan cepat selimutnya hingga batas lehernya.
Ya, Tuhan! Semalam!
Menormalkan wajahnya, karena mungkin saja, Kyuhyun sudah bisa membaca gelagat malu dan gugupnya dia. Mengalihkan tatapannya ke arah lain, ia tidak mau Kyuhyun menertawakannya. Dari ekor matanya, ia masih bisa merasakan, bahwa tatapan Kyuhyun masih intens menatapnya. Sulit sekali diartikan. Membuat Channie, salah tingkah saja.
Channie lagi-lagi tersadar, ini bukan kamarnya. Melainkan kamar pria yang masih duduk memperhatikannya, dengan tatapan dinginnya. Entahlah, ia tidak tahu kenapa Kyuhyun menatapnya seperti itu. Yang jelas, ia sekarang sangat mengagumi selera Kyuhyun! Dalam pemilihian desain ruangan tentunya. Kamar yang sangat amat besar. Dengan dominasi warna putih, abu-abu dan ada sedikit warna merah. Ini, bukan kamar. Sangat mewah. Rupanya, Kyuhyun memang sangat perfeksionis di lihat dari kerapian tempat ini, dan juga interior yang terlihat maskulin. Dia, sangat-sangat. Kaya. Raya, Park Channie.
Channie mendengar deheman Kyuhyun, pelan. Seketika ia menghentikan tatapan kagumnya pada kamar ini. Dia akan turun, tapi dengan memakai apa untuk ke kamarnya. Sialan Cho Kyuhyun, merobek pakaian yang ia pakai kemarin.
Beringsut, dan mengumpulkan selimut. Menutupi tubuhnya, Channie duduk dan hendak beranjak dari ranjang—alas pelepasan keperawannnya—mewah Cho Kyuhyun ini.
“Perlu bantuan?” suara tenang Kyuhyun memecah kebisuan di kamar ini.
“Tidak—Akhhh,“
Baru saja ia akan menggerakkan kakinya. Rasa sakit, ngilu di area sensitifnya terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Sial. Ini, lebih dari sakit. Badan Channie, juga terasa agak meriang karena rasa ngilu ini. Tanpa sadar Channie meringis, merintih.
Channie merasakan tangan Kyuhyun ada di lengannya, duduk di depannya, Kyuhyun terlihat cemas. Channie berusaha menahan sakitnya ini. Kemudian, ia menggerakkan lagi kakinya, untuk menyentuh lantai, tapi lagi-lagi…
“Apa rasanya, sakit sekali?” tanya Kyuhyun terdengar khawatir, Channie menatap Kyuhyun raut wajah Kyuhyun yang sedemikian rupa, membuat Channie menahan tawanya. “Tadi malam, apa aku—“
“Aku baik-baik saja,” ucap Channie pelan, “Aku bisa berdiri sendiri, tapi aku perlu pakaian untuk turun, bagaimana kalau nanti Bibi Han—“
“Turun? Untuk apa ke kamarmu?” potong Kyuhyun, Channie melotot kesal ke arah Kyuhyun.
“Untuk mandi. Lalu, ke kantor.” Channie menghela nafas sejenak, “Ini, bukan kamarku. Kau kira aku akan—“
“Mulai sekarang, kau tidur di sini. Bersamaku.” potong Kyuhyun. Nada suaranya sangat tenang, memerintah. Tapi, kenapa dia mengucapnya kalimat seperti ini dengan sangat tenang. Tidak terbantahkan!
Mengerjap. Apa kata Kyuhyun, barusan? Pria ini sinting?
“Mau mandi?” tanya Kyuhyun pelan, mendekatkan wajahnya hingga kini beberapa centi dari wajah Channie, “Kamar mandinya, ada di sana, apa mau aku antar?” lanjutnya lagi dengan suara yang nyaris berbisik. Tepat di depan mulut Channie.
Channie menahan nafas, sepertinya ia tidak bisa bernafas, lebih tepatnya. Aroma musk serta pinus segar—perpaduan dari parfum dan aroma tubuh Kyuhyun—Menyatu, membuatnya meremang. Ini, terlalu pagi untuk melayang karena aroma Kyuhyun yang memabukkan. Apalagi, Kyuhyun sudah sangat tampan dengan balutan kemeja dan dasi yang pas, seperti menikmati pemandangan sangat indah. Channie menatap Kyuhyun. Terpesona.
Channie segera menelan ludahnya, walau sangat sulit. Ia harus fokus. Bagaimana bisa, Kyuhyun merubah seenaknya. Walau dia suka, sangat suka malah jika Kyuhyun tetap tinggal di penthouse-nya ini, tapi tidur sekamar dengan Kyuhyun???
“Cho Kyuhyun, kau tidak bisa dengan mudahnya membuat aturan—“
“Jangan membantah, Channie. Mulutmu yang manis dan memabukkan itu terlalu indah untuk kau buat mendebatku, di pagi hari!” desis Kyuhyun sambil terus menatap mata Channie, membuat Channie sedikit, terintimidasi oleh sorot mata Kyuhyun ini.
“Pakaianku semua juga masih ada di—“
“Semua sudah di pindahkan di sini. Ada di dalam walking closet yang aku persiapkan khusus untukmu,” potong Kyuhyun, lagi-lagi. Channie ternganga. Pria ini, lebih gila dari apa yang ia pikirkan.
“Baiklah,” Kyuhyun menatap Rolex yang ada di pergelangan tangannya, kurang satu jam lagi ada rapat. Sial. Padahal dia masih ingin bermain-main dengan Channie. “Kau sakit, jangan masuk ke kantor. Lagi pula ini sudah jam sembilan, kau sudah telat satu jam.” terdengar seperti perintah yang tidak terbantahkan.
“Kau pasti sengaja, tidak membangunkan aku, kan!” Channie menggerutu, Kyuhyun berbalik menatapnya.
“Kau pikir, kau bisa berjalan setelah tadi malam—“ Kyuhyun menghela nafasnya ketika melihat Channie merona, mengingat kegiatan mereka tadi malam. Sialan, Channie. Dengan merona saja, membuat bagian bawah Kyuhyun yang sedari tadi sudah terbangun, kini semakin bereaksi di dalam celananya.
Ya, ampun. Cho Kyuhyun. Jangan. Menyerangnya. Kau. Ada. Rapat. Penting. Pagi ini.
Menghilangkan pikiran mesumnya. Kyuhyun berkacak pinggang, lalu menatap Channie dengan smirknya, “Coba saja, kau berjalan ke kamar mandi, aku akan lihat seberapa bisa kau bisa menggerakkan kaki indahmu, itu.”
Cho Kyuhyun brengsek! Batin Channie berteriak.
Channie yang harga dirinya merasa dipertaruhkan, jika ia tidak beranjak. Maka, dengan menahan nafasnya—menahan rasa nyeri. Channie mencoba berdiri, tentunya dengan menjaga wajahnya agar tidak meringis. Perlahan ia mulai melangkahkan, kakinya. Tapi…
Sangat. Nyeri. Nyaris ia memekikkan suaranya. Astaga. Sampai kapan, sakitnya akan hilang. Channie tanpa sadar, meringis. Menghentikan langkahnya.
Kyuhyun masih menatap Channie dengan arogan. Smriknya masih terpampang di wajahnya. Gadis ini, benar-benar keras kepala. Aneh, Kyuhyun semakin bergairah menatap Channie yang hanya berbalut selimut dengan wajah Channie yang kesal terhadapnya.
“Ahhh—Cho Kyuhyun!”
Channie memekik saat tubuhnya terangkat. Kyuhyun dengan tiba-tiba, menggendong tubuhnya. Channie memalingkan wajahnya, malu. Dengan otomatis, Channie mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun. Dan, jantungnya berdebar dengan kencang.
“Keras kepala.” gumam Kyuhyun. Channie bisa merasakan tatapan Kyuhyun dengan senyum evil pada wajah tampan—malaikatnya.
Kyuhyun menurunkan Channie di tepian bath-up, dengan menunduk sedikit Kyuhyun, menangkup wajah Channie dengan kedua tangannya, kemudian bibirnya menekan keras pada bibir Channie, yang dirasa, sedari tadi sudah memintanya untuk dilahap. Kyuhyun menggeram, nikmat. Melumat dengan cepat. Menyusupkan lidahnya ketika Channie hendak protes padanya. Lidahnya bergerak liar di rongga mulut Channie. Merasakan bibir Channie, lidah Channie. Bergantian. Dengan tergesa-gesa dan menuntut.
Channie yang belum siap dengan serangan ciuman Kyuhyun—yang tiba-tiba— kesulitan bernafas karena Kyuhyun benar-benar melahap bibirnya, seolah dia sangat kelaparan. Hawa panas, langsung terasa di dalam ruangan ini. Gelenyar gairah kembali bangkit. Selimut yang menutupi tubuhnya, melorot karena tangannya beralih berpengangan pada leher Kyuhyun. Membalas ciuman Kyuhyun, dengan nalurinya sendiri. Rasa mint segar dari bibir Kyuhyun, membuat Channie makin semangat membalas, ciuman yang semakin menggebu ini.
Channie seakan tidak kuasa untuk berdiri, ia terlalu lemas karena rasa nyeri di bawah tubuhnya dan juga ciuman Kyuhyun yang penuh gairah ini, membuat energinya terkuras, sehingga ia juga tidak tahu kapan ia sudah duduk di tepian bath-up. Channie hendak menarik kemeja Kyuhyun, kalau saja, Kyuhyun tidak menghentikan ciumannya.
Terengah. Nafas mereka, masih memburu. Dada mereka berdua masih naik-turun, memompa oksigen yang terlalu banyak keluar dari paru-paru mereka karena aktifitas panas barusan.
Kyuhyun masih menatap bibirnya yang memerah, kemudian di lumatnya lagi dengan lebih lembut bibir yang masih terlihat bengkak namun begitu membuatnya bergairah. Merasakan setiap jengkal bibir Channie yang menyatu dengan bibirnya. Sialan, ini begitu nikmat. Menggigit kecil-kecil bibir Channie, disertai hisapan dan Channie juga membalasnya, membuat Kyuhyun semakin gila.
Tangan Kyuhyun mengusap bahu Channie, turun ke dada Channie. Membuat gadis itu menggeliat ketika ia meremasnya pelan. Celananya sudah mengetat. Terasa nyeri. Ini, harus di hentikan kalau kau tidak mau kehilangan kontrol, Cho Kyuhyun.
Menarik wajahnya, Kyuhyun kemudian meletakkan tubuh—telanjang Channie ke dalam bath-up. Channie semakin merona. Wajahnya memanas. Dia, dalam keadaan telanjang. Ya, Tuhan. Channie! Kenapa Kyuhyun begitu membuatmu berdebar dengan perlakuannya, yang seperti ini.
Kau telanjang, Channie. Dan, Kyuhyun—yang panas dan masih berbahaya ini berpakaian lengkap. Ralat, sangat lengkap dan terlebih sangat rapi. Kau hampir saja merobek kemejanya kan? Sudah berapa lama, kau menjadi gadis mesum?
Dia tidak berani menatap Kyuhyun, apalagi ia tadi juga sangat menikmati ciumannya, barusan.
“Mandi, Channie—“ Kyuhyun menghela nafasnya, tatapannya masih menyala-nyala penuh gairah pada Channie. Tidak mungkin, dia membatalkan jadwalnya, kan? Tuhan… Tubuh indah Channie—yang masih penuh dengan tanda merah, akibat perlakuannya, seperti memanggilnya untuk segera menyerang.
Memejamkan matanya, kemudian mencium pelipis Channie, “Aku pergi,” bisik Kyuhyun. Channie hanya membeku mendapat perlakuan seperti ini. Jantungnya masih belum berhenti berdetak secara normal. Belum berani menatap Kyuhyun. Akhirnya, ia bisa bernafas lega, setelah mendengar suara pintu tertutup.
***
Channie meraih jubah mandi—mewah untuknya, yang memang sudah ada di sana, sadar jika sudah cukup lama ia berendam dengan nyaman dengan air hangat dan aroma theraphy. Cukup menyembuhkan rasa nyerinya. Lebih baik, dari pada tadi sebelum dia berendam. Melangkahkan kaki dengan pelan, ia menyebrang di ruangan ini.
Takjub! Bukan hanya kamar mandi. Ini, sangat indah. Mewah. Channie, ternganga menatap jacuzzi yang ada di dalam kamar mandi ini—hanya terpisahkan oleh sekat kaca buram, langsung menatap ke luar. Pintu kaca, menyambung langsung dengan taman kecil, di sana. Ini gila! Kyuhyun, memang mempunyai selera yang sangat tinggi.
Ya. dia, banyak uang, Channie. Hal, seperti ini. Sangat. Mudah. Ia, dapatkan.
Sebelum, ingin merendam kan diri lagi, Channie segera melangkah kakinya, ke luar dari kamar mandi super mewah ini. Mencari pakaian yang layak untuk ia pakai, dalam walking closet, tiba-tiba terdengar suara pintunya di ketuk.
“Bibi Han,” ucapnya ketika membuka pintu, Bibi Han tersenyum kemudian meletakkan makanan dan minuman di meja, “Bibi Han, aku bisa makan di bawah. Kau tidak perlu—“
“Kau sakit, mana mungkin aku membiarkan—“
“Aku baik-baik saja,” kilah Channie, tentunya menyembunyikan rona wajahnya yang memerah. Bibi Han tersenyum melihat Channie. “Tidak perlu repot-repot,” Channie menjadi salah tingkah.
“Tuan muda bilang, kau sakit, Channie. Jadi, jangan banyak bergerak. Istirahatlah. Aku membawakan obat, kau harus meminumnya.” ucap wanita paruh baya itu tersenyum sambil membeli tangannya, “Kalau ada perlu, tinggal memanggilku. Tidak perlu turun, kalau masih sakit. Telepon saja.” tambahnya.
“Oh, ya. Channie, Tuan muda juga bilang, kau harus menunggunya pulang. Tidak boleh kemana-mana. Nanti siang, dia akan pulang. Makan siang, katanya.”
Apa? Untuk apa Kyuhyun, makan siang di sini?
Channie hanya bisa mengangguk, ragu. Kyuhyun bilang dia sakit? Tapi, dari raut wajah Bibi Han, Channie merasa Bibi Han, tau sesuatu telah terjadi semalam. Apa, terlihat jelas kalau ia kesulitan berjalan karena percintaannya semalam dengan Kyuhyun. Sial. Wajahnya panas seketika mengingatnya. Memalukan? Apa memang semua wanita akan kesakitan setelahnya, seperti dirinya?
Setelah menyantap makanan yang Bibi Han bawakan, untuknya. Channie berjalan, mengelilingi kamar ini, beralih ke jendela super besar yang masih tertutup korden tipis, Channie membukanya. Mulutnya ternganga setelah melihat apa yang ada di depannya.
Sebuah kolam renang. Kolam renang. Channie! Dan, di depannya bukanlah jendela, melainkan pintu kaca, membukanya, Channie kemudian melangkahkan kaki keluar. Channie bertambah takjub akan pemandangan di atas sini. Kolam renang dengan tepinya berlapis kaca, seperti langsung berada di tepian gedung ini. Ini menakjubkan! Sangat indah. Channie jatuh cinta, dengan pemandangan yang ada di atas sini. Bayangan, dia berenang malam hari, di sini. Menikmati bintang. Pasti rasanya, luar biasa!
Ya. apalagi berenang bersama Kyuhyun, kemudian berakhir dengan bercinta di dalam kolam renang. Pasti akan sangat indah, Channie? Channie segera menepis pikiran mesumnya ini.
***
Kyuhyun masih serius menatap layar datarnya, ia harus menyelesaikan ini sebelum jam makan siang. Ia ingin segera pulang, melihat keadaan Channie. Bagaimana mungkin Channie, bisa kesakitan akibat bercinta semalam? Ya, Tuhan. Apa, aku semalam terlalu berlebihan? Tidak. Channie bahkan juga ikut dalam permainan yang bisa dikatakan luar biasa. Bisa mengimbangi permainanku. Tapi, kalau aku ingin lagi? Apa masih sakit juga? Ah, sebaiknya, aku segera pulang dan memastikan, Channie baik-baik saja setelah meminum obat. Kyuhyun masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu, Donghae yang ada di depannya, malah tersenyum menatap Kyuhyun. Temannya ini sudah membuat heboh semua karyawannya dengan perbuatannya, kemarin. Setelah menolong Channie yang di serang wanita yang tergila-gila ingin tidur dengan temannya ini, di depan kantornya.
Channie, gadis itu ternyata sangat luar biasa efeknya terhadap Kyuhyun. Gadis itu, sebaiknya juga hati-hati, banyak wanita yang mengincar Kyuhyun. Apalagi, mantan teman tidur Kyuhyun. Karena, Kyuhyun tidak pernah seperhatian ini terhadap seorang gadis. Apalagi, Channie adalah karyawan biasa. Bisa di bilang dari tingkatan rendah. Berbeda jauh dari Kyuhyun, atau wanita-wanita yang biasa melayani Kyuhyun. Ini, bisa memicu kecemburan.
Kyuhyun menghembuskan nafas kasar, kemudian menatap Donghae tajam.
“Kau kurang kerjaan.” kata Kyuhyun sinis, “Mana laporan yang aku—“
“Itu.” potong Donghae, sambil menghardikkan bahunya pada file yang sudah ada di meja Kyuhyun. Kyuhyun mendengus kesal. Donghae kenapa malah terkekeh melihatnya? Menyebalkan.
“Kau dalam bahaya, Cho Kyuhyun.” ucap Donghae, membuat Kyuhyun menatap Donghae, lagi.
“Apa?”
“Lehermu terkena cakaran wanita itu, kan? Dan, itu terjadi kemarin.”
“Lantas? Apa masalahnya? Ini sudah tidak apa-apa. Tidak akan infeksi, kalau kau khawatir padaku, Lee Donghae.” jawab Kyuhyun ketus. Donghae terkekeh.
“Kau tidak bodoh kan, Mr. Cho?” Donghae memperbaiki posisi duduknya, lebih tegak menatap Kyuhyun, “Kemarin kau menolong gadis itu, di depan loby gedung ini. Ada banyak orang melihat kejadian itu. Lalu, kau dengan mudahnya membawa Channie, ke dalam mobilmu. Channie, gadis itu karwayan di sini. Dia karyawan biasa, selain statusnya sebagai istrimu yang tidak di ketahui publik. Oh, bukan. Tepatnya, hanya pemuas nafsu—“
“Lee Donghae!!!” Kyuhyun berteriak. Dia tahu arah pembicaraan Donghae. Matanya menatap tajam ke arah Donghae. “Sekali lagi, kau bilang dia pemuas—“
“Hey! Bukankah, itu kenyataannya. Kau hanya mengincar tubuhnya, kan? Bukannya, dulu kau juga menolak dijodohkan dengan Channie? Setelah melihat Channie, kau tergila-gila. Ingin bercinta dengan Channie. Sekarang, kau malah menjadi begitu perhatian padanya. Apa, kau menyukainya? Benar, kan?”
“Lee Donghae.” Kyuhyun terlihat sangat marah. “Ini. Urusanku. Bukan. Urusanmu!” teriaknya marah.
Donghae terkekeh, dia benar! Firasatnya benar. Kyuhyun bahkan sudah mencintai gadis itu. Hanya saja, temannya ini telalu gengsi. Masih takut, berkomitmen dan tidak percaya dengan cinta, setelah apa yang dialami kakaknya, Cho Ahra, yang membuat kakaknya depresi—dan harus menjalani perawatan intensif seperti orang gila selama dua tahun, karena di tinggal calon tunanganya, ke Amerika, katanya hanya untuk menyusul cinta pertama pria itu, pria beruntung itu juga salah satu teman baik mereka, Choi Siwon.
Setelah itu. Kyuhyun menggagap cinta itu, omong kosong. Ya, Kyuhyun menyayangi kakaknya. Sehingga ia bisa merasakan sakitnya, Ahra saat itu.
Donghae kemudian menatap Kyuhyun lekat-lekat, “Aku mengenalmu bukan hanya satu tahun? Itu lama sekali, kau tahu. Kalau kau menyukai gadis itu. Jangan membuat kekacauan lagi. Ingat, apa yang dialami kakakmu dulu.”
“Lee Donghae—“ Kyuhyun menggeram. Marah. “Apa maumu? Kau mau aku mutasi ke luar negeri—“
“Kekanak-kanakan.” potong Donghae tersenyum. “Gentleman, Mr. Cho! Kau pasti tahu, apa yang akan terjadi, jika kau menyembunyikan status Channie.” jelas Donghae. “Ya sudah, aku ada janji makan siang dengan Sung Ah.”
Kyuhyun masih membeku di tempatnya. Tidak kuasa berdiri, walau hanya untuk menoyor wajah tampan seorang, Lee Donghae.
Channie pasti akan mendapat omongan yang tidak-tidak dari semua karyawan di sini. Pasti semua mencibir Channie sebagai—Oh, ya ampun! Kyuhyun memijit kepalanya, pusing menderanya. Kepalanya seperti di tusuk-tusuk. Hatinya terasa nyeri, mengingat kata-kata kotor yang terlontar untuk Channie. Belum lagi, kata-kata sepupu Channie, Jungsoo. Kemarin siang. Membuatnya, ingin berteriak. Sangat keras. Dia tidak mau berbagi Channie, dengan pria itu. Channie hanya miliknya. Sialan!
Kyuhyun, pada makan siang itu langsung pada inti pembicaraan. Kenapa, Jungsoo ingin menemuinya. Mengenai Channie, apalagi. Dia mencium, ada hal lain di balik senyum manis pria di depannya, kala itu.
“Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu,” ucap Kyuhyun dingin. Bayangan Jungsoo memeluk Channie dan mencium pipi Channie, waktu mereka akan menikah. Menusuk ulu hatinya. Sakit.
“Aku sulit menemuinya, akhir-akhir ini. Entahlah, pesanku juga, jarang ia balas. Apa dia baik-baik saja. Erm, maksudku, aku terbiasa tahu keadaannya. Jadi, aku hanya khawatir. Itu saja,” pria itu terlihat gugup tapi bisa di tutupi dengan wajahnya yang terlihat tenang.
“Dia baik. Sangat baik, bahkan. Mengenai itu, seharusnya kau tahu, dia sudah bersuami sekarang. Dan, kalau khawatir, itu wajar. Kau sepupunya. Oh, Channie bilang, kau kakak yang baik.” Kyuhyun sengaja mengatakan kata ‘kakak’ dengan penekanan, agar Jungsoo tahu siapa dirinya.
“Ya, aku hanya kakaknya. Tapi, aku berhak tahu, kan. Sepertinya, dia berubah setelah menikah denganmu.” Oh, rupanya Jungsoo sudah berani menantangnya. Kyuhyun menatap tajam kearah Jungsoo. Ia ingin mencekik pria ini. Terlihat jelas, kalau Jungsoo cemburu.
Astaga! Jungsoo, menyukai adik sepupunya sendiri. Ya, Tuhan. Mereka saling mencintai. Dada Kyuhyun bagai dihantam sesuatu yang sangat keras. Sesak. Hatinya teriris. Kalau, Channie tahu? Lalu, mereka berpisah dan Channie akan bersama Jungsoo! Tidak! Tidak! Tenang Cho Kyuhyun! Oh, ya! lagi pula, Jungsoo akan menikah, kan? Dengan wanita iblis itu?
“Berubah? Maksudmu?” tanya Kyuhyun. Mencoba mengintimidasi Jungsoo, tapi Jungsoo tidak terlihat terintimidasi. Brengsek!
“Ya, kau pasti tahu. Dia sedikit tertutup, aku tahu pernikahan kalian belum waktunya untuk dipublikasikan. Dan, aku juga tahu, kau orang sangat terpandang dan berpengaruh di negeri ini sedangkan Channie, orang biasa saja. Bukan dari kalanganmu. Tapi, perlu kau tahu, dia seperti tidak bahagia?”
“Kau tahu apa, dengan kata bahagia? Lagi pula. Aku tidak melihat status sosial dalam memilih ISTRI. Aku menikahi Channie, karena aku dan dia saling mencintai. Hanya dasar, saling mencintai. Simple, kan?” Bohong sekali, kau Cho Kyuhyun! Cinta? Apa, kau mencintainya. Sial. Jantungnya berdebar dengan keras sekarang.
“Aku mengenal Channie, semenjak dia bayi! Jadi, aku tahu apa yang terjadi pada perasaannya. Kalau, kau menyakitinya—“
“Kau mengancamku?” Kyuhyun tersenyum dengan smriknya, “Kau ini hanya kakak sepupunya, jadi jangan harap kau bisa ikut campur dengan urusan rumah tanggaku.” jelas Kyuhyun, terlihat marah. Tapi, ia mencoba tenang. Jangan membuat kacau, Cho Kyuhyun, tenang. Tenang.
“Ya. Kalau kau berani menyakitinya, aku tidak peduli, kau seorang CEO yang sangat kaya raya dan sangat berpengaruh. Tapi, sebagai pria sejati, kau tahu artinya, kan? Jadi—”
“Kau, sepertinya sangat takut kehilangan Channie, ya? Apa kau menyukai adik sepupumu sendiri?” Kyuhyun mengepalkan tangannya, sampai buku-buku jarinya memutih. Wajah Jungsoo terlihat memucat. Brengsek! Pria ini, benar-benar mencintai, Channie-nya.
“Kau, seharusnya tahu. Channie, layak bahagia. Dia, tidak mempunyai keluarga sebahagia ini, bersama Paman dan Bibi, kalau saja, Paman dan Bibi tidak mengadopsinya, sewaktu ia masih bayi.” Jungsoo segera sadar dengan apa yang ia ucapkan. Dia, baru saja membocorkan rahasia penting. Yang bahkan, ditutup rapat-rapat oleh, Park Soo Hwan, Pamannya. Ayah, Channie.
Kyuhyun kala itu, langsung membeku. Seakan tertimpa balok es di atas kepalanya. Kaku, seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Bagaimana mungkin, ia bisa tidak tahu kalau Channie?
“Ja—jadi Channie, bukan—“
“Aku mohon, jangan memberi tahu Channie tentang ini.”
“Kau gila!” Kyuhyun berdesis marah. “Channie berhak tahu!” lanjutnya lagi. Channie sebaiknya tahu. Dia, selama ini bukan anak kandung, Soo Hwan? Ya, Tuhan. Channie pasti akan sangat terpukul mendengar ini. Lalu, kau juga akan kehilangan dia, setelah dia tahu kalau dia dan Jungsoo tidak sedarah? Kepalanya semakin berat. Pusing.
“Jangan! Biarkan seperti ini dulu.” Jungsoo terlihat terpukul, “Ada waktunya nanti, dia akan tahu, dari Paman sendiri.” lanjutnya, “Erm, setidaknya sampai, aku menikah dengan Juyeon.”
“Apa?!” pekik Kyuhyun. Jadi, Jungsoo—Pria yang dianggapnya Brengsek, ini. Menunda pernikahannya. Double sialan! Cho Kyuhyun, kau dalam masalah. Soo Hwan—ayah Channie tahu, kalau Channie mencintai pria ini. Pasti, itu.
“Pernikahan, kami di undur.”
Masih memejamkan matanya, Kyuhyun berusaha menghilangkan rasa pusing yang menderanya. Ya. Benar. Kalau saja Soo Hwan, menikahkan Jungsoo dengan Channie, pasti akan menimbulkan curiga. Mereka ada ikatan darah, berarti tidak boleh menikah. Kalau, Jungsoo menikah dengan Channie, itu artinya, Soo Hwan siap membongkar kalau Channie, bukan anak kandungnya. Dan, Soo Hwan tidak melakukan itu, dia masih ingin Channie menganggapnya, sebagai ayah kandugnya.
Sialan!
Memijit lagi. Bernafas dengan berat, Kyuhyun terasa pusing. Ini, lebih sulit dari yang ia kira. Lalu, apa yang harus ia lakukan?
“Sakit kepala?” suara Ryeowook, membuat Kyuhyun perlahan membuka matanya, “Sudah jam makan siang, katanya kau mau—ya ampun, kau terlihat pucat, Kyu.“ ucap Ryeowook—yang memang terbiasa memanggil Kyuhyun, tanpa kata ‘Sahjangnim’ di depan namanya kalau hanya ada dia dan Kyuhyun.
“Setelah makan siang, tidak ada rapat penting, kan?” potong Kyuhyun mengalihkan apa kata Ryeowook barusan.
“Hanya ada rapat—Emm aku akan menundanya, kalau kau mau?” tawar Ryeowook. “Kau terlihat, banyak pikiran.” lanjutnya lagi, Kyuhyun hanya bisa tersenyum masam. Membayangkan Channie, akan menjadi milik orang lain saja, ia sudah gila. Apalagi—Ya, Tuhan! Tidak. Tidak!
“Channie, menjadi bahan gosip hari ini, kau tahu?” Ryeowook tersenyum menggoda. Kyuhyun melemparkan tatapan tidak suka kepada Ryeowook. “Bahkan, Changmin dan Jonghyun yang ada di luar Seoul, saja tahu, itu.” Ryeowook terkekeh mendengarnya.
Ini, di luar dugaannya. Dia hanya ingin, Channie tidak tersakiti oleh siapapun, termasuk wanita sialan itu, kemarin saat akan menyakiti Channie.
“Ini semua, karena wanita sialan yang dibawa Lee Hyukjae. Ngomong-ngomong, aku belum melihat Lee Hyukjae, apa dia—“
“Ya, dia seperti biasa. Bersembunyi, dengan wanita-wanita seksinya itu.”
“Dasar. Aku akan menghabisinya, kalau dia kembali.” gumam Kyuhyun, kemudian membereskan peralatannya. “Ryeowook—“ panggil Kyuhyun pelan, dia sedikit takut.
“Ya?”
“Mengambil hati seorang wanita, bagaimana caranya?”
Ryeowook ternganga. Kyuhyun menanyakan apa? Dia sinting atau apa? Bukankah selama ini, dia berhasil mengambil hati semua gadis-gadis di seluruh penjuru kota ini? Sulit di percaya, Kyuhyun menanyakan hal seperti ini padanya.
Tak lama kemudian. Terdengar suara Ryeowook yang tertawa dengan keras.
***
“Sudah tidak demam?” Bibi Han bertanya pada Channie saat Channie akan membantunya menyiapkan makan siang.
“Ya. Aku baik-baik saja,” ucap Channie ragu. Sebenarnya kadang ia masih suka merasakan nyeri. Beruntung obat yang ia minum, lumayan bisa membuat sakitnya mereda.
“Sudah tidak nyeri lagi, kan?”
Channie merasa pertanyaan Bibi Han mengarah pada hal yang ia lakukan dengan Kyuhyun semalam. Pipinya merona. Kenapa, hal seperti itu sangat mudah terbaca. Dia malu.
“Tidak,” jawab Channie pelan, membuat Bibi Han terkekeh, “Bibi Han, aku bisa—“
“Sudahlah, kau sedang sakit. Lebih baik, kau duduk saja. Sebentar lagi, Tuan muda akan pulang. Dia pasti tidak senang, melihat kau kelelahan membantu Bibi.”
“Astaga Bi, jangan berlebihan. Aku hanya ingin membantu, lagi pula tidak mungkin kelelahan kan, kalau hanya membantu memasak,” Channie memaksa, Bibi Han hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Seperti kata Tuan muda, kau keras kepala. Kau sering membantahnya, iya kan?”
Apa? Jadi, Kyuhyun bercerita pada Bibi Han, kalau dia keras kepala? Kapan? Bibi Han seperti Ibu bagi Kyuhyun, sepertinya. Beliau tahu apa saja tentang Kyuhyun.
“Memangnya, Kyuhyun pernah bercerita. Erm, tentang aku?” tanya Channie ragu-ragu.
Sambil terus menyiapkan makanannya, Bibi Han tersenyum, lagi-lagi, “Perlu kau tahu, dia tidak bercerita. Melainkan dia berbicara sendiri, saat Bibi di depannya atau sedang menyiapkan makanan untuknya, dia selalu mengoceh sendiri.” Bibi Han terkekeh.
“Tuan muda, tidak pernah membicarakan wanita lain, selain kau. Di luar ibu dan kakaknya, tentunya.” lanjut Bibi Han. Channie, menghangat mendengar ini. Jadi, dia wanita yang pertama keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun, di depan Bibi Han, orang yang di anggap keluarganya sendiri.
“Ma—maksud Bibi Han?”
“Kau sudah berhasil menyentuh hatinya.” jawab Bibi Han singkat.
Apa? Hatinya? Apa seorang Cho Kyuhyun—yang sangat suka berganti wanita setiap harinya, okey bisa di bilang begitu, bisa tersentuh hatinya? Tidak masuk akal. Apalagi tersentuh olehnya, yang hanya seorang gadis biasa?
“Dia peduli padamu. Tidak pernah selama berpuluh-puluh tahun, aku melihat dia seperti saat bersamamu, Channie.” ucap Bibi Han melembut. Membuat Channie merona.
“Bibi Han—“
“Percayalah. Jadi, kau siap-siap saja terjerat olehnya.”
“Tapi, dia banyak—“ Channie mengingat Kyuhyun saat ada di Club bersama wanita yang hampir mencelakainya, bercumbu. Hatinya memanas. Terasa nyeri. Ia tidak suka Kyuhyun seperti itu padanya.
“Channie, dia berbuat seperti itu ada dasarnya. Bahkan, kau belum tahu alasan sepenuhnya Tuan muda tidak mau berkomitmen sebelum bertemu denganmu.”
Wow. Sebuah rahasia lagi Channie?
“Memang apa alasannya? Apa dia pernah patah hati?”
“Tidak, hanya saja—“
“Makan siang sudah siap?”
Bibi Han dan Channie segera menoleh saat pembicaraan mereka terpotong oleh pertanyaan yang datang dari orang yang mereka bicarakan. Dia, Cho Kyuhyun. Kyuhyun, menatap ke arah Channie dengan tatapan tenang, walau sorot matanya teduh namun bisa membuat Channie terintimidasi oleh tatapan itu.
Cho Kyuhyun, berdiri dengan angkuhnya. Kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Jas sudah terlepas dan kemeja yang sudah ia gulung lengannya sampi ke siku. Rambutnya terlihat acak-acakan. Walau wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi dia tetap tampan. Terlebih, dia begitu seksi.
Tuhan, kapan dia terlihat tidak mempesona?
“Sebentar lagi,” Bibi Han terlihat gugup, namun bisa menutupinya dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Channie menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdebar dengan keras. Keringat dingin langsung keluar dari tubuhnya. Tatapan Kyuhyun yang terus tertuju padanya, kini terasa begitu membakar dirinya. Sampai dia merasa panas di area sensitifnya. Lalu, sudah berapa lama Kyuhyun ada di sini. Apa dia mendengar apa yang Channie tanyakan, dan Bibi Han katakan. Channie, kau mati saja kalau dia benar-benar mendengarnya.
Bumi tolong telan aku, sekarang juga! Batin Channie berteriak.
Tidak lama kemudian, makanan sudah tersaji di meja makan. Channie duduk perlahan, berhadapan dengan Kyuhyun—yang masih diam sejak ia datang. Membuat Channie, salah tingkah. Gugup. Pria ini selalu saja berubah-ubah. Tadi pagi begitu lembut, perhatian walau memang sikap menyebalkan seperti memaksa itu masih ada, tapi siang ini. Lihatlah, begitu berbeda. Apa ada masalah dalam pekerjaannya?
“Kau sudah terlihat baik,” ucap Kyuhyun memecah keheningan saat Bibi Han menuju tempat yang lain. Entahlah, Bibi Han selalu tidak ada di sekitarnya saat dia berdua dengan Kyuhyun.
“Kau minum obatnya, kan?” tanya Kyuhyun lagi, sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
“Ya. Aku meminumnya.” jawab Channie pelan. Ia menahan nafasnya. Gugup. Kenapa, Kyuhyun bisa terlihat tenang saat mengucapkan kata-kata itu?
“Masih nyeri kalau dibuat berjalan?” tanya Kyuhyun lagi, masih terlihat tenang namun terdengar khawatir. Channie sedikit memperbaiki duduknya, ia tidak nyaman dengan tatapan Kyuhyun seolah langsung menembus bagian bawah tubuhnya.
“Sudah—maksudku, sudah tidak, ya kadang-kadang masih. Tapi, tidak seperti tadi pagi.” ucapnya menatap makanan yang ada di depannya. Channie tidak bisa berbohong pada Kyuhyun.
“Bagus.” gumam Kyuhyun, Channie seketika menatap Kyuhyun dan tatapan mereka bertemu. Sorot mata Kyuhyun terlihat menyala-nyala. Ada sesuatu di balik, kata ‘Bagus’ membuat Channie meremang.
“Makanlah,” perintah Kyuhyun, Channie segera menyantap makanan yang ada di depannya. Kenapa Kyuhyun pulang untuk makan siang? Apa benar kata Bibi Han. Kyuhyun memang peduli padanya? Apakah itu, Kyuhyun ada perasaan sedikit saja padanya?
Ponsel Channie berbunyi. Meletakkan sumpitnya, Channie meraih ponselnya. Kyuhyun menatapnya, dengan tatapan bertanya. Tapi, ia kembali menyantap makan siangnya.
“Jungsoo, oppa? Oh, sayang sekali aku—“ Menatap Kyuhyun yang ada di depannya, Kyuhyun ternyata juga menatapnya. Tatapannya menggelap. “Ya, aku sedang makan—erm makan siang dengan Kyuhyun.” lanjut Channie pelan.
“Ya. Baik. Hum? Tidak. Kau juga, jaga dirimu. Baik. Iya.” Channie menutup teleponnya dan Kyuhyun masih menatapnya.
“Kau senang sekali, mendapat telepon dari kakak sepupumu?” tanya Kyuhyun dingin.
“Maksudmu? Ya, dia sedikit khawatir—“
“Sepertinya, kalian sering saling menelpon,” potong Kyuhyun, Channie menjadi tidak tahu arah pembicaraan Kyuhyun ini.
“Aku jarang melakukannya, sekarang—“
“Tapi dia yang sering menelponmu dan kau dengan senang hati kan, meladeninya,” potong Kyuhyun, lagi-lagi dengan nada yang ketus. Channie mendengus kesal. Kyuhyun tidak suka, interaksinya dengan Jungsoo, karena pria ini tahu, dulu dia mencintai kakak sepupunya itu. Tapi, itu dulu! Demi, Tuhan, bahkan hatinya sudah tidak ada nama, Jungsoo lagi. Selain, dia menghormati kakaknya itu.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu,” Channie juga menatap Kyuhyun kesal. “Aku lapar, sebaiknya kita lanjutkan makan—“
“Aku sudah tidak berselera!” Kyuhyun menatap Channie, marah. “Kau harus tahu, aku paling tidak suka, jika seorang gadis apalagi itu istriku pada saat bersamaku, menerima telepon dari pria lain!” Kyuhyun berteriak marah.
“Ka—kau kenapa sih? Dia, Jungsoo. Kakak sepupuku, saudaraku. Bukan, pria lain.” jelas Channie.
“Ya. Dia, kakak sepupu yang kau cintai, kan? Aku tahu, Channie. Setidaknya, kau menghargai aku yang ada di depanmu ini. Aku di depanmu saja, kau bisa menerima telepon darinya, apalagi kalau aku tidak ada di sampingmu?”
Channie berdiri, matanya memerah. Detak jantungnya berdebar dengan keras. Kyuhyun secara tidak sengaja menuduhnya, ia berselingkuh? Begitu? Dia murahan.
“Kau bisa mengatakan itu. Lalu, pada saat kau dengan wanita malam—“
“Itu tidak sama.” potong Kyuhyun, dia berdiri seketika, menggebrak meja dengan begitu keras. “Kau jangan menghubungkan masalah ini. Ini tidak sama. Aku tidak ada perasaan dengan wanita sialan itu, brengsek!”
“Jadi, kau bisa dengan wanita lain, sementara aku tidak, begitu?” mata Channie semakin memerah. Kyuhyun masih belum mengerti perasaannya. Apakah, dia akan terus seperti ini? Air mata sudah ada di pelupuk matanya. Jangan menangis, Channie. Jangan!
“Tidak!” Kyuhyun mengerang, “Tidak seperti itu, Channie. Demi, Tuhan!” Kyuhyun menatap tajam pada Channie. Rahangnya mengeras.
“Kau mencintai pria itu, dan pria itu juga—“ Kyuhyun menghentikan kata-katanya, hampir saja ia mengatakan kalau Jungsoo juga mencintai Channie. Nafasnya memburu. Sialan, dia begitu emosi. Selain, itu kau cemburu Cho Kyuhyun?
Apa? Cemburu? Tidak mungkin, kan?!!
“Kau, tidak akan pernah mengerti. Aku muak denganmu!” Teriak Channie sebelum ia menghentakkan kakinya. Channie segera beranjak dari hadapan Kyuhyun.
Dengan dada yang masih bergemuruh, Kyuhyun juga meninggalkan meja makan dan ia juga tahu, Channie menangis—melihat dari merahnya mata Channie, tadi menahan amarahnya, karena pertengkaran ini. Lebih tepatnya, sikapnya yang terlalu takut kehilangan Channie. Egois! Ya, dia pria brengsek dan paling egois!
Dan, kau takut kehilangannya, Cho Kyuhyun. Akui saja, kau memang takut kalau dia kembali pada Jungsoo! Hatinya bagai di tusuk-tusuk mengingat Channie dan Jungsoo bisa saja bersatu.
BRAKKK!
Menutup ruang kerjanya dengan keras! Tidak peduli, kalau pintu itu bisa saja rusak.
“Argghh!!!” Kyuhyun melemparkan apa saja yang ada di meja kerjanya. Dadanya terlihat naik-turun. Darahnya mendidih, sakit kepalanya makin terasa sampai ke ubun-ubun.
“Brengsek!” umpatnya marah.
Melonggarkan dasinya, ia memilih memejamkan matanya kuat-kuat. Menghempaskan tubuhnya pada kursi kerjanya. Menghela nafas panjang. Kenapa, membuat Channie berada di sisinya, menjadi semakin sulit. Apakah, benar yang ia rasakan selama ini? Apa, ia pantas untuk Channie. Membuat gadis itu bahagia? Dia, bukan pria baik seperti kakak sepupunya. Dia, pria brengsek yang dulu selalu bermain wanita. Sebelum dia bertemu dengan Channie. Dia sudah tidak mempunyai nafsu lagi, dengan wanita selain, wanita itu Channie. Sialan.
Kejadian Channie, tiba-tiba diserang oleh wanita itu, membuat Kyuhyun ingin terus melindungi Channie, dan membuat gadis itu aman. Bahagia. Bersamanya. Apa, dia bisa? Bagaimana, kalau Jungsoo tidak terima, dan merebutnya?
Dia tidak akan membiarkannya. Channie. Miliknya.
***
Kyuhyun mengerjapkan matanya, membuka perlahan, Kyuhyun menatap jam yang ada di meja kerjanya. Sudah jam tujuh malam. Dia, tertidur cukup lama, rupanya.
“Oh, sial!” ia memijit pelipisnya yang masih terasa pusing. Mengingat kembali pertengkarannya dengan Channie. Ia segera beranjak dari kursi kerjanya.
Kyuhyun mencari Channie, di penjuru penthousenya ini, Channie tidak ada. Kamar Channie yang memang di kunci karena ia tidak mau Channie tidur di sana, lagi. Tapi, gadis itu tidak ada di sana. Pintunya masih terkunci. Naik keatas. Kyuhyun membuka cepat pintu kamarnya.
Melihat ranjangnya kosong, Kyuhyun semakin panik. Di mana, Channie?
“Channie!” panggil Kyuhyun, jangan sampai Channie pergi! Tidak! Dia tidak mau, Channie pergi!
Gusar, dengan cepat Kyuhyun berlari ke dalam kamar mandinya. Kosong! Channie, tidak ada di penjuru kamar mandi termasuk di luar kamar mandi ini, ada taman di sana. Channie, juga tidak ada.
Mengusap rambutnya kasar, Kyuhyun semakin frustasi. “Channie. Ini, tidak lucu.”
Membuka pintu, yang mengarah langsung ke kolam renang, mata Kyuhyun bergerak mencari sosok gadis yang ia cari. Ia melihat sosok itu. Seketika ada kelegaan dalam hatinya.
“Ya, Tuhan.” gumam Kyuhyun sambil menghela nafas panjang, lalu ia bergerak mendekat ke arah di mana Channie sedang berbaring pada kursi malas. Menunduk, Kyuhyun menatap Channie yang tertidur. Gadis ini, begitu Cantik. Sangat cantik!
Melihat mata Channie yang masih meninggalkan bekas basah karena air mata dan terlihat sedikit bengkak. Kyuhyun merasa hatinya juga teriris. Sakit.
Tuhan, dia membuat gadis ini menangis. Kau mengacaukan segalanya, lagi. Cho Kyuhyun.
Mengusap pipi, Channie dengan lembut. Kyuhyun menggenggam erat tangan Channie, mencium punggung tangan Channie berulang kali. Ia takut sekali, kalau Channie benar-benar pergi dari sisinya.
Dia, tidak bisa membayangkan gadis ini akan pergi darinya. Tidak bisa. Tidak.
Menaikkan kepalanya, untuk mencium ujung kepala Channie. Mengecupnya lama di sana, kemudian turun pada hidung dan bibir Channie yang menggoda. Menyesapnya perlahan. Membuat Channie menggeliat. Kyuhyun melepaskan ciumannya, menatap Channie, yang kini terkejut menatapnya.
“Ka—kau sejak kapan?” Channie terlihat gugup.
“Tidur di dalam. Kau, bisa sakit nantinya.” Kyuhyun hendak mengangkat tubuh Channie, tapi Channie menolak.
“Tunggu.” tolaknya, “Aku bisa berjalan—“
“Kau masih marah padaku?” tatap Kyuhyun pada Channie, jarak wajah mereka berdua sangat dekat, membuat Channie sedikit memundurkan wajahnya. Ia masih marah dengan Kyuhyun. Tapi, melihat sikap Kyuhyun yang terlihat menyesal.
“Channie—Channie aku…maaf,” ucap Kyuhyun gusar. Mengusap wajahnya kasar. Pria ini terlihat takut. Entahlah, Channie hanya bisa mengartikan itu dari raut wajah Kyuhyun.
“Ayo, kita ke dalam. Kita bicarakan baik-baik. Aku janji, tidak akan marah-marah lagi.”
Channie diam sejenak. Mencerna apa kata Kyuhyun. Ada baiknya. Tapi, tadi ia ingin berenang. Apa boleh buat, ia ketiduran karena menangisi pria sinting yang ada di depannya ini.
“Persetan.” Kyuhyun hendak mengangkat tubuhnya.
“Cho—Cho Kyuhyun, tunggu!” Channie sedikit meronta dalam gendongan Kyuhyun, “Aku, masih ingin di sini.” lanjut Channie, “Emm, berenang. Aku ingin berenang.”
“Apa?” Kyuhyun mengernyit. Kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kau kurang enak badan, lagi pula ini sudah malam. Kau bisa sakit.”
“Aku tadi, berniat untuk berenang.” bantah Channie. “Turunkan aku, Cho Kyuhyun.”
“Channie kau—“
“Kalau kau ingin bicara denganku. Biarkan, aku berenang, malam ini.” potong Channie. Masih dalam gendongan Kyuhyun dan keduanya saling menatap. Menghembuskan nafas beratnya. Kyuhyun melumat cepat bibir Channie.
“Okey. Tapi—“
“Apa?”
“Kau boleh berenang malam ini. Tapi, bersamaku. Atau, tidak sama sekali.” Kyuhyun memberikan tatapan yang menggelap, ada gairah dari sorot matanya.
“Apa?” Channie terkejut mendengar perintah Kyuhyun, “Kau tidak bisa melakukan ini padaku.”
“Oh, ya? Ayo. Kita. Berenang.” bisik Kyuhyun tepat di telinga Channie. Terdengar sensual. Membuatnya, bergidik. Kyuhyun mencium pipinya sebelum Channie protes, lebih banyak.
“Kyu—Kyu aku—“ Channie semakin gugup, jantungnya berdebar dengan keras. Kyuhyun membawa tubuhnya perlahan mendekat ke tepian kolam, terus masuk ke dalam kolam. Hingga air membasahi sebagian tubuh Kyuhyun. Menurunkan dirinya, dan berhadapan dengan Kyuhyun. Membuat Channie, semakin gugup.
Sekarang, tubuhnya juga sudah basah dengan air sampai batas bawah dadanya. Tatapan Kyuhyun yang terus tertuju padanya, membuat wajah Channie memanas dan panasnya menjalar hingga titik sensitifnya. Begitu juga dengan Kyuhyun, Channie yang hanya memakai t-shirt putih kebesarannya, menampilkan bahu telanjangnya yang indah dan sekarang t-shirt itu sudah basah, hingga—Oh, ya ampun. Cho Kyuhyun menahan nafasnya.
“Berenang, tidak enak kalau berpakaian lengkap seperti ini,” bisik Kyuhyun di depan bibirnya.
***

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: