Nothin’ On You Part 3

1
Nothin' On You Part 3 kyuhyun channie
FF “Nothin’ On You” Part 3 [Kyuhyun-Channie]
Author : Deani (@yesungcharger)
Cast : Cho Kyuhyun, Park Channie
Support Cast : Lee Donghae, Kang Minhyuk, Lee Hyukjae, Kim Juyeon. Etc…
Genre : Romance (?)
Ratting : PG-18
Ps : Typo! Rattingnya, harap diperhatikan. Tidak suka, tidak usah membaca. Don’t Bash! Plagiat! Go Away!
YEPS! Part 3 muncul >,< sudah berapa lama tidak apdet? Ada yang nungguin? Tidak ada ya-_-” Maaf karena sedang sakit, jadi agak lama. Okay! Langsung saja. Happy reading~~~
Sebelumnya…
“Haruskah sekarang? Disini—“
“Kyu—“ bisik Channie lemah. Ia juga menginginkan Kyuhyun, sama dengan Kyuhyun menginginkannya. Dan apakah, dia menyukai pria yang membuatnya selalu panas? Ya. Dia sudah menyukai pria ini. Hal buruk memang. Dan ia pasti sakit hati jika berpisah dengan pria ini. Ia bahkan tidak tahu bagaimana hidup tanpa Kyuhyun ada disampingnya. Tapi— Ya Tuhan, kau sudah salah jika mencintai pria ini.

“Tapi, aku tidak membawa pengaman sialan itu. Ya, ampun…Apa yang kau lakukan padaku—“
Part 3
Channie benar-benar tidak mempunyai tenaga untuk berdiri—kalau saja Kyuhyun tidak memeluk pinggangnya, mungkin ia akan jatuh terkulai di lantai. Ia lemas, tidak berdaya. Ini akibat ciuman panas dan sentuhan-sentuhan Kyuhyun barusan.
Nafas Kyuhyun masih terasa hangat di depan wajahnya, dan ia bisa menatap Kyuhyun—pria ini masih menatap lekat-lekat tepat di mata Channie, tatapannya sendu dan masih bergairah. Ia bisa apa sekarang, bahkan tubuhnya-pun merespon dengan sangat baik sentuhan-sentuhan Kyuhyun.
Channie mengumpulkan tenaganya yang tersisa. Ia tidak boleh lemah hanya karena sebuah ciuman yang sangat bernafsu, ciuman yang syarat akan kerinduan—itu baginya. Akhirnya, Channie menggeleng lemah sambil memejamkan matanya. Tidak. Ini tidak mungkin, saat menggeleng bahkan hatinya terasa nyeri. Ia juga menginginkan ini.
“Tidak.” jawab Channie dengan bibirnya bergetar. Menahan nada desahan agar tidak terdengar jelas oleh Kyuhyun. “Tidak.” ulangnya lagi.
Aku mau, aku sangat mau Cho Kyuhyun! Batinnya menjerit protes. Ya ampun, kau sudah jauh terjerumus dalam pesonanya Park Channie. Bodoh!
Kyuhyun menghembuskan nafas kasarnya, memejamkan matanya, kuat-kuat. Ia tidak ingin terus seperti ini, jika berdekatan dengan gadis di depannya, gadis yang membuatnya nyeri dari pangkal paha hingga dalam hatinya.
Ingat, Cho. Dia. Tidak. Mau. Karena. Ini. Di. Kantor. Itu saja kan.
Cho Kyuhyun berusaha berpikir positif. Ia yakin, Channie juga sangat menginginkan dirinya. Sangat. Kyuhyun bisa merasakan melalui balasan ciuman dan sentuhan Channie pada dirinya beberapa menit yang lalu. Tapi, dia menolakmu barusan bukan? Sial, gadis ini melebihi apa yang kau pikirkan selama ini. Channie, serius sangat amat berbahaya. Bagaimana bisa kau akan melanggar aturanmu sendiri selama ini—Aturan di mana kau tidak akan meniduri atau mengencani karyawan sendiri, baik di dalam atau di luar kantor. Bukan begitu Tuan Muda Cho Kyuhyun?
Batinnya menjerit frustasi. Sialan, Park Channie. Masa bodoh dengan aturan yang ia buat sendiri. Semuanya tidak berlaku, jika gadis itu Park Channie.
Kyuhyun merapatkan tubuhnya lagi—mengeratkan tangannya di pinggang Channie, menempel lekat di tubuhnya. Ia ingin Channie tahu, betapa dahsyatnya pengaruh tubuhnya terhadap tubuh Kyuhyun, terutama di bagian pangkal pahanya yang mengeras. Tatapannya kini fokus pada bibir Channie yang sangat menggodanya. Ia tidak tahan ingin melumat sampai habis bibir Channie—yang seperti candu baginya.
Kyuhyun kemudian melihat arloji di tangannya, kurang sepuluh menit lagi jam makan siang berakhir. Ya Tuhan, bahkan dia masih ingin bersama Channie, lebih lama lagi. Ini perasaan apa sebenarnya??? Membuatnya marah dan bingung akan hatinya sendiri. Kyuhyun kemudian mendekatkan wajahnya kembali, merasakan hembusan nafas Channie di wajahnya—membuat hatinya berdesir kembali. Detak jantungnya berdebar lebih cepat. Tidak mungkin seorang Cho Kyuhyun gugup saat akan mencium seorang gadis, bukan? Apalagi kini ia melihat rona merah di pipi Channie. Membuatnya gemas, ingin segera mencium gadis ini lagi. Dia sangat menyukai rona merah ini dan ini muncul saat ia menggoda Channie. Kyuhyun ingin rona merah ini hanya untuknya. Hanya untuknya dan saat gadis ini berada di depannya.
Egois? Ya. Sangat egois. Bahkan orang lain tidak boleh tahu, kalau Channie-nya ini sangat cantik jika sedang merona seperti ini. Oh, ayolah. Setiap pria di luaran sana pasti banyak yang mengincar Channie, untuk menjadi wanita mereka. Dia cantik—bahkan luar biasa cantiknya, di mata Kyuhyun. Senyumnya sangat indah. Polos dan menggairahkan, bagi Kyuhyun.
Channie semakin gugup sekarang apalagi, tatapan Kyuhyun sangat intens padanya, terlebih lagi ia bisa merasakan apa yang ada di balik celana panjang Kyuhyun itu saat tubuh mereka saling menempel, erat. Membuatnya merona di saat yang tidak tepat. Malu. Pasti Kyuhyun akan menertawakannya karena pipinya memerah dan detak jantungnya yang melebihi genderang perang.
Hembusan nafas hangat Kyuhyun bahkan sudah menerpa wajahnya, tatapan Kyuhyun yang sekarang tepat di bibirnya ini membakar—hatinya dan tubuhnya saat ini juga. Tiba-tiba bibir lembut dan basah milik Kyuhyun menyentuh bibirnya yang masih terasa bengkak karena efek ciuman liar tadi. Bibir Kyuhyun bergerak lembut menyusuri lekuk bibirnya dan kenapa lagi-lagi ia seperti tersengat listrik hingga ia merasakan sesuatu yang lain jika Kyuhyun menciumnya. Channie memejamkan matanya pelan-pelan saat bibir Kyuhyun menekannya dan lidahnya membelai lembut bibir Channie, secara otomatis ia membalas lumatan bibir Kyuhyun. Ya ampun. Kau tidak akan pernah bosan oleh ciuman pria panas ini Park Channie. Lihatlah, kau bahkan mengeratkan tanganmu di pinggang Kyuhyun, jugakan?
Channie melayang karena ciuman ini dirasa sangat berbeda dengan ciuman yang tadi. Kyuhyun melakukannya dengan sangat hati-hati dan seolah Channie bisa merasakan perasaan Kyuhyun terhadapnya. Seperti ada rasa, Kyuhyun begitu menyukainya. Tapi. Itu tidak mungkin, kan?
Lumatan-lumatan yang tadinya sangat lembut dan menghasilkan suara decapan yang indah di ruangan ini, kini berubah dengan tergesa-gesa dan kepala Kyuhyun bahkan bergerak ke kanan-kiri hanya untuk mencari posisi yang nyaman untuk melahap bibir Channie yang bahkan ia tidak akan pernah bosan untuk menyentuhnya dengan bibirnya. Lidahnya juga tak henti-hentinya memainkan lidah dan rongga mulut Channie. Ia menjadi dominan dalam setiap permainan bibir dengan Channie. Kyuhyun mengerang dalam mulutnya saat-saat Channie membalas segala perlakuannya. Membuat semangatnya semakin terbakar hebat untuk segera masuk ke dalam diri Channie.
Tangan Kyuhyun bahkan juga tidak ingin ketinggalan untuk menyentuh setiap lekukan tubuh indah Channie. Mengusap punggung dan pinggang Channie, hingga ia mendesah di sela-sela ciuman panas ini. Kini beralih, pada paha dan mengusapnya posesif dan naik ke atas hingga perut dan berakhir pada dada Channie yang membuatnya semakin mengerang. Gila. Ini tidak akan cukup. Tidak akan. Harus mengakhirinya Park Channie. Sadar. Ini. Kantor. Dan. Pria ini. Cho. Kyuhyun. CEO perusahaan ini. Kau mana boleh ketahuan oleh karyawan lain???
“Kyu—hhh—“ Channie menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun, hingga tautan bibir Kyuhyun terlepas. Kyuhyun menangkup wajah Channie dengan kedua tangannya dan melumat bibirnya kembali. Menekannya keras dan masih sangat bergairah.
“Henti—kan. Ku mohon—“ bisik Channie dengan nafas yang terengah-engah. Begitu juga nafas Kyuhyun, “Hentikan.” Lanjut Channie berusaha terdengar tegas. Kyuhyun menghembuskan nafasnya pendek-pendek. Masih terasa sekali nafsu di dirinya ini. Channie tahu itu. Sialan. Pria ini selalu saja bisa membuatnya hilang kendali. Hampir saja ia menyerahkan dirinya. Di kantor pula. Kau akan terlihat sangat murahan, Channie.
“Ya ampun—ya ampun.” gumam Kyuhyun tepat di depan mulutnya. Kyuhyun menggelengkan kepalanya lemah.
Tatapan mereka kini bertemu. Channie tidak tahu arti tatapan Kyuhyun kepadanya, kali ini begitu berbeda dari biasanya, namun tetap terlihat tajam dan mengintimidasinya. Tapi, Dia masih tampan dan sexy—dengan rambut coklatnya yang berantakan—seperti habis bercinta dan wajahnya terlihat bergairah. Ini pemandangan terindah menurut Channie.
Hey. Apa yang kau pikirkan. Segera pergi dari sini. Sekarang! Batinnya mengingatkan.
Channie mengalihkan pandangannya saat ponselnya berbunyi. Dia beruntung. Nada panggilan, dan ia segera menjawabnya. Walaupun dari sudut ekor matanya, ia bisa menangkap tatapan mata Kyuhyun yang terus saja menatapnya.
“Ya. Ak—aku sedang—“ Channie gugup saat akan menjawab pertanyaan dari Yura. Bahwa ia menghilang dari tadi. “Aku sedang—di toilet. Ya, toilet. Apa? Ah, iya aku segera ke ruangan. Hem? Perutku bermasalah Yura-ya. Baik. Apa! Beliau mencariku? Iya. Iya.” tatapan Kyuhyun masih sama kepadanya. Sial. Dengan di perhatikan Kyuhyun saja, ia bisa gugup minta ampun.
“Aku pergi—“ Channie sedikit gugup. Kyuhyun menyunggingkan senyum miringnya melihat Channie yang masih seperti ketakutan. Baguslah. Dia berhasil mempengaruhi gadis ini. “Manager mencariku—jadi aku—“
“Tenang saja. Kau tidak akan di marahi hanya karena berciuman denganku,” potong Kyuhyun santai. Channie mengeratkan giginya. Dasar. CEO gila! “Dan, Manager tua mesum itu akan berakhir karirnya di perusahaanku. Jika—“
Kyuhyun menyentuh bibir Channie dengan jari panjangnya—lembut, dan sorot matanya berubah menggelap, tiba-tiba. Membuat Channie sedikit bergidik.
“Jika dia menyentuh sedikit saja ujung jarimu.” Tatapan mata Kyuhyun terus mengarah pada Channie. Kenapa Kyuhyun tidak bosan memandangnya??? itu pertanyaan bodoh yang sering muncul di dalam hatinya. Dia ingin tubuhmu. Ingatkan? Sialan! Ia menjadi sedih mengingat hal itu lagi.
“Kau. Milikku. Ingat itu. Kau. Milikku. Istriku.” Kyuhyun mengucapkan setiap kata dengan jeda dan terdengar tegas. Tak terbantahkan. Seolah mengingatkan Channie akan perjanjiannya. Kalau saja ini tidak didasari ke obsesi-an Kyuhyun akan tubuhnya. Mungkin, Channie akan terbang ke angkasa, karena melayang oleh kata-kata ini.
***
Kyuhyun menghempaskan tubuhnya ke sofa di dalam ruangannya. Aroma therapy di dalam ruangannya ini, sedikit membuatnya bernafas tenang—ya sedikit saja. Mengusap wajahnya kasar dan melonggarkan dasinya. Bagaimana bisa dia berbuat hal demikian? Hanya karena seorang gadis yang sangat ingin ia tiduri? Tidak. Bahkan ia tidak mau hanya meniduri. Dia menginginkan gadis itu, berada di sisinya. Setiap waktu. Dia menginginkan itu semua sampai sakit rasanya. Semuanya. Semua yang ada di dalam tubuh Channie. Termasuk, hatinya.
Brengsek, kau Cho Kyuhyun! Kau masih berharap hatinya juga milikmu? Apa kau pantas?
Bodoh!
Tersenyum masam, mengingat hal ini terjadi di dalam dirinya. Bahkan hal yang memalukan, menurutnya—karena baru pertama kali, ia berjalan di kantornya miliknya sendiri dengan menahan rasa sakit di pangkal pahanya yang di sebabkan oleh karyawannya sendiri—seumur hidup, ia pantang bercinta atau meniduri karyawannya sendiri. Tapi, kini ia melanggarnya sendiri.
Ini tidak boleh di biarkan berlarut-larut. Perasaan seperti ini harus di hentikan. Mencari pelampiasan untuk pelepasan ereksinya? Di senin malam? Tidak buruk. Siapa tahu, dengan wanita-wanita itu dia bisa menghilangkan bayang-bayang Channie yang terus menggodanya, setiap detik.
Meraih ponsel, dan dengan cepat menghubungi seseorang—sahabat, partner bisnis termasuk yang selalu menjadi orang kepercayaan dalam mencarikannya wanita untuk one night stand-nya.
“Hyukjae aku—“
“Oh, ini siapa ya?” Suara pria di seberang ini terdengar mengejeknya. Kyuhyun mengeram mendengar nada bicara Lee Hyukjae.
“Kau ingin aku mencabut semua sahamku di perusahaanmu dan menarik paksa aset-aset yang dengan mudahnya kau nikmati selama ini, atau—“
“Hey. Tenang Mr. Cho. Tenang. Hahaha…” Hyukjae tertawa karena Kyuhyun terdengar marah karena gurauannya. Lama sekali Kyuhyun tidak menelponnya karena Kyuhyun. Sangat. Amat. Menginginkan gadis yang bernama, Park Channie. Yang dia tahu sekarang adalah ‘istri’ sahabatnya ini. Tapi, angin apa yang membuat Kyuhyun ingin menikmati tubuh wanita lain? Apa keinginannya menikmati tubuh Channie, belum terlaksana? Kasian sekali kalau begitu…
“Sekali lagi, kau mengejek seperti tadi. Mati kau—“
“Mengejek? Yang benar aku itu berbicara fakta. Aku lupa, karena kau lama tidak menelponku, sobat. Jadi, katakan. Apa maumu?” Masih terdengar kekehan Hyukjae dari seberang.
Kyuhyun menggeratkan giginya. Sialan kau, Lee Hyukjae. Awas jika aku bertemu denganmu. Akan aku buat sakit dua bolamu itu. Batinnya berteriak marah.
“Siapkan satu untukku.” Perintah Kyuhyun cepat. “Kau tahukan, yang belum pernah aku tiduri.” Lanjutnya lagi, tegas. Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar. Semoga kali ini bisa menyembuhkan ‘penyakit’nya ini yang bersarang sudah berminggu-minggu dalam tubuhnya.
“Iya. Iya, aku tahu. Kau ini—“ Hyukjae berhenti sejenak. “Ada, dia stok baru dalam daftarku. Yang penting, dia sangat seleramu. Em, maksudku. Seleramu, sebelum kau bertemu dengan gadis berbahaya sialanmu itu, Cho Kyu—“
“Brengsek, kau! Cepat atur untuk nanti malam aku tidak bisa menahan ini, hingga akhir pekan!”
“Apa? Akhir pekan? Ada apa dengan—“ Hyukjae menghentikan kata-katanya. Berpikir sejenak. Dia tersenyum. Ternyata, gadis itu cukup jual mahal dan pastinya tahan dengan pesona Kyuhyun. Karena yang ia tahu. Semua gadis akan bertekuk lutut bahkan memohon untuk segera Kyuhyun lempar di ranjangnya, menyentuh di seluruh tubuhnya.
“Apa?” Kyuhyun mengerutkan dahinya. Hyukjae cukup pintar menangkap kata-katanya barusan. Baiklah, baru kali ini Cho Kyuhyun terlihat bodoh berhadapan dengan seorang Lee Hyukjae.
“Ternyata, gadis itu cukup pintar menahan gairahnya ya? Atau pesonamu sudah mulai luntur, atau memang pesonamu tidak mempan untuk seorang gadis biasa saja seperti, Channie-mu itu?” Terdengar mengejek dan Hyukjae puas bisa menggoda Kyuhyun habis-habisan.
“Sialan kau!” Kyuhyun segera mematikan sambungan teleponnya, karena tidak tahan oleh kata-kata Hyukjae—yang mungkin, itu benar. Miris sekali kau, Cho Kyuhyun.
***
Di tempat lain, Juyeon sedang memilih beberapa gaun di sebuah butik—yang berkelas, tentunya. Ia ingin tampil sempurna untuk malam, di mana orang tua dia dan Jungsoo bertemu untuk menetapkan tanggal pernikahan mereka—Sebenarnya, alasannya ingin cepat menikah karena ia ingin menjauhkan Channie dari Jungsoo. Ia memang mencintai Jungsoo. Tapi, ia tidak puas jika hanya sampai di situ. Sangat banyak keirian dan kebencian dalam dirinya, hanya karena Channie mendapatkan pria yang sangat berkuasa. Dan sangat amat kaya raya!!!
“Ya, semua di sini boleh untukku kan, Hyukjae?”
Juyeon mencibir mendengar perkataan wanita di belakangnya. Terlihat jelas, wanita itu sangat gila harta. Mengingatkan dia akan adik iparnya yang mungkin, kini bisa membeli semua gaun dengan brand mahal di seluruh dunia, hanya karena berstatus ‘Istri’ kontrak CEO—berbahaya—itu. Ia benci ini.
“Baiklah. Kau sudah bilang kan? Aku tidak mau nanti malam? Aku belum bercukur—“
Juyeoon mengernyit, jijik. Bisa-bisanya wanita ini berkata seperti ini. Tidak mengenal tempat. Dan apa? Hyukjae? Juyeon tidak asing dengan nama ini. Bukankah, Hyukjae adalah sahabat sekaligus—
“Jual mahal sedikit boleh kan ya. Hey. Aku ini sudah mengincar untuk di tiduri olehnya sejak lama, kau tahu kan! Sialan. Iya, iya selasa malam. Aku tahu club andalan Cho Kyuhyun, jika ingin bertemu dengan wanita-wanita yang akan semalaman melayaninya.”
Satu nama membuat senyum kemenangan terukir di wajah Juyeon. Sebuah ide muncul di benaknya. Dan ternyata, seorang Cho Kyuhyun yang ia kira akan setia—diranjang, hanya dengan adik iparnya—ternyata kebiasaan lama seorang CEO—panas dan sexy itu tidak akan pernah hilang. Jadi, kau jangan senang dulu. Adik iparku. Batinnya tertawa senang.
“Ruangan kalian bertemu memang khusus, aku tahu itu. Jadi, aku perlu askes masuk. Iya, besok makan siang di Sparkling Caffee. Baiklah aku tunggu, besok.”
“Tssk. Belum juga tidur dengan Cho Kyuhyun, aku sudah mendapat fasilitas semewah ini. Haha, ternyata benar apa kata-kata mereka.” Kata wanita itu terdengar jelas oleh Juyeon. Tunggu aku Park Channie, akan aku buat kau merasakan bagaimana rasanya sakit hati dan cemburu. Juyeon tersenyum dengan smirknya.
***
Menaruh ponselnya dengan kesal setelah membaca pesan dari Kyuhyun agar berbelok ke arah pertigaan itu. Dan menyuruhnya untuk pulang bersama dengan Young Min, kalau tidak itu berarti Kyuhyun akan melakukan hal yang tidak Channie inginkan—menurut Kyuhyun, tapi Channie ingin, sebenarnya.
Channie sudah berada di pertigaan, dan Maybach Laundaulet—Satu lagi dari beberapa mobil mewah punya Kyuhyun—Mobil Ini, sudah menantinya. Channie kesal mengingat betapa kayanya pria itu. Andai ia tidak sekaya ini, mungkin—Diam Park Channie. Jangan terlalu membayangkan terlalu tinggi.
Sesuai perintah, Young Min sudah ada di kursi kemudi, dan menanti Channie untuk masuk. Channie menatap samar-samar kaca mobil—berharap Kyuhyun ada di dalam. Tapi, tiba-tiba pintu terbuka otomatis. Membuat Channie tersentak.
“Saya tahu, Nona tidak ingin saya membukakan pintu untuk Nona.” Ucap Young Min tegas. Channie menatap ke dalam, tidak ada Kyuhyun. Jadi, kemana Kyuhyun? Kenapa ia kecewa tidak ada Kyuhyun.
“Masuklah, Nona. Jangan paksa saya untuk melakukan apa perintah lain dari Tuan Muda—“
“Iya, aku tahu.” Channie mengercutkan bibirnya. Kesal. Kenapa pengaruh Kyuhyun begitu hebat pada semua orang, termasuk. Sopir pribadinya saja, yang bahkan lebih-lebih tua darinya sangat menghormati dan takut pada Kyuhyun. Dasar tidak sopan.
Channie melemparkan pandangan kecewanya ke arah luar. Ia tidak mau Young Min tahu raut wajah kecewanya.
“Tuan Muda bilang, dia sedang ada pertemuan dengan relasinya, di luar. Jadi dia pergi dengan mobil yang lain, dan juga—“
Channie terhenyak, kenapa Young Min tahu apa isi hatinya. Apa ada tulisan di wajah Channie, bahwa ia ingin tahu di mana Kyuhyun? Young Min berdehem pelan.
“Dan juga apa?” tanya Channie pelan. Ia sangat penasaran apa yang Kyuhyun lakukan.
“Dan juga, Tuan Muda tidak pulang ke—ke rumah. Jadi, Nona tidak usah menunggu. Maaf, tapi saya hanya menyampaikan apa yang Tuan Muda Cho perintahkan.”
Seperti mendapat hantaman di hatinya ketika ia mendengar ini. Sialan, apa kau lupa. Kyuhyun-kan bilang dia pulang ke apartmentnya yang lain, pada malam itu. Jadi, kau tidak usah terkejut, Park Channie. Lagi pula, kau kan bukan siapa-siapanya? Untuk apa kau bersedih. Ah, pasti dia bermain-main dengan wanita-wanita itu. Tapi, ini tidak adil. Kyuhyun melarangnya bersentuhan dengan pria lain. Tapi, kenapa dia merelakan tubuhnya untuk disentuh wanita-wanita murahan lainnya?
Mata Channie memanas. Ia berusaha kuat agar tidak menangis, lagi. Ia ingin menjerit dan meneriaki Kyuhyun, di depan pria itu. Bahwa dia ingin Kyuhyun. Tinggal bersamanya dan jangan meniduri wanita, selain dirinya. Istrinya. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh terlalu dekat dengan dia. Tapi—aku sakit mengingat semua kenyataan. Batinnya menangis.
Channie tidak menjawab apa kata Young Min, hanya mengalihkan pandangannya lagi, ke luar. Menatap jalanan kota Seoul. Mengingat kembali perjanjiannya dengan Kyuhyun. Seketika hatinya terasa nyeri. Lamunannya terhenti ketika ia mendengar bunyi pesan dari ponselnya. Dari Juyeon? Makan siang? Kenapa tiba-tiba wanita ini mengajaknya makan siang? Batin Channie, tidak enak. Tapi, kata-kata akhir Juyeon yang ingin meminta maaf, membuatnya sedikit luluh. Baiklah.
***
Malam harinya.
Channie sedang menatap dokter yang ada di depannya. Memberikan beberapa note petunjuk kontrasepsi yang sedang Channie jalani saat ini—karena tadi pagi dokter Shin, tidak bisa datang, jadi diputuskan senin malam datang untuk memberikan kontrasepsi, dan Channie memilih untuk kontrasepsi setiap bulan, dengan suntikan. Ia tidak habis pikir, Kyuhyun tidak menginginkan seorang anak. Dia sedih mengingat ini. Hey, jangan mulai bodoh!
Sudah berapa banyak wanita yang ia tiduri, dan Dokter ini sudah berapa banyak menyuntikkan atau memberikan kontrasepsi pada wanita-wanita yang akan Kyuhyun tiduri, karena Kyuhyun pernah bilangkan, dia tidak suka memakai pengaman? Atau hanya dengannya saja, yang tidak memakai pengaman?
“Aku pergi dulu, Channie-ya.” Kata Dokter Shin itu berpamitan padanya. Channie tersadar dari lamunannya. Ia kemudian tersenyum lemah membalas senyuman manis dokter itu.
“Kau tidak makan malam dulu?” Tawar Channie. “Bibi Han, Sudah memasak banyak sekali.”
“Tidak perlu, aku buru-buru—“ Tolak Dokter Shin secara halus. Dokter ini menatap Channie lekat. Channie menjadi sedikit salah tingkah. “Baru kali ini aku melihat Cho Sahjangnim membawa seorang wanita di Penthouse pribadinya ini.” ucap Dokter itu. Tetap menatap Channie.
Channie mengernyit, bingung. Dia wanita pertama? Benarkah? Jadi, Dokter ini belum pernah bertemu untuk memberikan kontrasepsi pada wanita-wanita sialan itu. Lalu, Kyuhyun? Apakah Kyuhyun memakai pengaman selama ini? Berarti benar, hanya dengan dirinya yang tanpa pengaman?
“Em, maksudku. Selama ini, aku mengira Cho Sahjangnim hanya seorang bujangan tanpa kekasih. Tapi, ternyata ada seorang bidadari yang sangat cantik, yang dia sembunyikan di sini. Pantas saja, dia tidak pernah tampak bersama dengan gadis-gadis di luaran sana. Ternyata, ada kau yang sangat cantik.” Ujar Dokter Shin disertai gurauan. Seakan Dokter ini tau, raut wajah Channie yang terlihat bingung. Sehingga, ia menjelaskannya. Channie tersenyum mendengar penuturan Dokter Shin ini.
“Baiklah, Channie. Selamat malam.” Pamitnya. Channie mengantarkan sampai ke depan pintu. Kemudian Dokter Shin berbalik. “Aku menunggu undangan pernikahan kalian.”
Pernikahan? Bahkan aku sudah menikah dengannya. Aku sudah menjadi istrinya saat ini. Channie memaksakan untuk tersenyum, lagi.
“Ya.” Jawabnya singkat. Menutup pintu, dan ia menatap Bibi Han yang menatapnya. Entahlah, tatapan apa itu. Bibi Han mendekat kearah Channie.
“Makan malam dulu. Dari sepulang kerja tadi, kamu belum makan.” Pinta Bibi Han. Channie menggeleng lemah.
“Nanti saja, Bi. Aku ke kamar—“
“Tuan Muda, Channie. Dia berpesan padaku untuk memastikan kau makan malam.” Potong Bibi Han.
Channie melirik ke meja makan. Makan sendiran? Dengan makanan sebanyak itu? Kini pikirannya sangat kalut. Ia selalu sendirian. Walau ia mempunyai Ayah dan Ibu-nya, tapi sekarang ia benar-benar membutuhkan teman untuk diajak ngobrol, bercerita.
Ia merindukan Ayah dan Ibunya. Dan juga Jungsoo—Walau rasanya kini sudah berbeda, tidak seperti dulu. Karena, ada pria lain yang mengisi hatinya, tapi justru kenapa hal yang sama terulang lagi. Ia selalu merasakan sakit hati.
Kenapa nasibnya selalu begini? Kenapa cinta selalu ada air mata? Kenapa?
“Channie—“ Panggilan Bibi Han mengagetkannya dari lamunannya, lagi. “Ayo, makan. Demi dirimu, kesehatanmu bukan demi perintah Tuan Muda, Cho Kyuhyun.”
Channie mengerjap, “Temani aku makan ya, Bi.” pintanya, “Aku mau makan asal bersamamu. Aku merindukan Ibu—“ Channie segera menghentikan kata-katanya. Ia tidak ingin kesedihannya tampak jelas. Ia bukan type gadis selemah ini.
Wanita setengah baya itu tersenyum tulus pada Channie. Merasa kasian, sekaligus sangat sayang kepada majikan mudanya ini.
“Channie. Perlu kau tahu, sejauh ini. Gadis selain kakaknya, hanya kau yang paling dekat dengan Tuan Muda. Penthouse ini keramat, tidak pernah ada gadis yang di bawanya kemari, selain kau.”
Tidak di sini. Ya, tapi tempat lain. Aku tahu, Bi. Aku tahu. Batinnya menjawab tegas.
“Kalau ada gadis di sini selain kau, itu adalah kakaknya sendiri. Nona, Cho Ahra. Percayalah, kalau kau diperbolehkan masuk ke sini, berarti kau termasuk istimewa. Jadi, jangan menganggap dirimu, seperti apa yang kau pikirkan selama ini.”
Benarkah?!! Batinnya tersenyum. Ya. Kau memang istimewa dan berbeda dari yang lain, Park Channie. Tentunya, selain dia mengincar tubuhmu.
***
Kyuhyun melemparkan Jas-nya asal di sofa ruang tengah Apartmennt-nya, menyisakan tshirt putih v-neck dan celana khaki yang melekat di tubuhnya. Rambut sudah acak-acakan, wajahnya sedikit memerah. Bau alkohol masih menempel di setiap jengkal tubuhnya. Dia habis minum dan berusaha melupakan kekacaun hatinya akhir-akhir ini bersama sahabatnya, termasuk dengan ditemani beberapa wanita-wanita yang selalu siap untuk dia tiduri.
Tapi, apa ia sudah puas? Kekacauannya hilang? Lenyap? Ya, sedikit. Setelah minuman habis. Pikirannya kembali dipenuhi gadis itu lagi. Senyum Channie, begitu—Argghhhhh! Kyuhyun meremas kasar rambutnya.
Ya, ampun. Bahkan dia juga tidak bisa menjamah lebih wanita-wanita yang ada di sampingnya tadi. Benar-benar sialan, kan? Seorang gadis bernama Park Channie, benar-benar berbahaya!
Memejamkan matanya kuat-kuat, memijit pelipisnya. Pusing akibat alkohol masih menderanya, tapi sepenuhnya ia masih sadar. Tertawa masam—masih dengan mata yang terpejam, mengingat bekal yang Channie buatkan tadi pagi. Dia sangat tidak suka saat Donghae datang ke ruangannya dan menertawakannya karena memakan makanan bekal.
Seorang CEO, Cho Enterprises Holding Inc, membawa bekal ke kantornya? Channie telah menjungkir-balikkan dunianya selama ini. Benteng kokoh yang Kyuhyun buat untuk menampis segala perasaan terhadap wanita, sedikit mulai goyah. Tidak. Tidak sedikit. Ini sangat banyak.
Mengambil Whisky, lalu di tuangkan ke dalam gelas. Meneguknya, membiarkan cairan panas ini mengalir ke dalam tenggorokannya. Bahkan minuman ini tidak bisa mengalihkan bayang-bayang Channie…
Dan, sialan. Kyuhyun mengingat sesuatu. Dia belum menanyakan bagaimana keadaan Channie hari ini. Hanya tadi di kantor, dia melihat dari layar CCTV dan laporan Young Min saat mengantar Channie pulang. Dia sengaja memang tidak berbicara atau mengirim pesan pada Channie—untuk menahan dirinya dari nafsu yang bisa saja muncul tiap ia berinteraksi dengan Channie. Mengusap wajahnya gusar. Ia meraih ponselnya.
“Hallo, Bibi Han. Dia sudah makan? Ya, terima kasih. Tidak, ak—aku banyak pekerjaan, jadi mungkin mulai sekarang aku ke sana setiap akhir pekan saja. Ya. Pastikan dia selalu makan. Baiklah.”
Syukurlah, dia sudah makan. Ya, Tuhan. Kenapa aku selalu mengkhawatirnya. Batinnya gusar. Menekan touchscreen-nya, ia kembali menelpon. Lama menunggu, tapi tidak juga di angkat. Kyuhyun mengulanginya lagi, dan tidak diangkat. Mungkin, Channie sudah tidur.
Apakah akan begini terus? Menyiksa dirinya dengan berjauhan dari Channie, dan muncul ketika akhir pekan? Ya, dia harus. Tapi batinnya menolak keras. Dia tidak bisa berjauhan dari gadis itu. Sebenarnya apa yang Channie lakukan padanya hingga membuatnya kalang-kabut seperti ini??? Tidak. Tidak. Kau ingatkan, kau akan kehilangan kontrol saat bertemu dengan Channie dan hampir saja semuanya akan terjadi.
“Arghhh! Sialan!”
PYARRR!!! Kyuhyun membanting gelas yang ada di depannya. Menghempaskan tubuhnya dan memejamkan matanya, kembali. Menggeleng pelan. Sambil terus bergumam. “Tidak. Tidak.”
“Tapi, aku membutuhkannya. Sekarang—“ tiba-tiba ponselnya berdering. Ada pesan masuk.
‘Besok, jangan lupa. Aku membawa ‘Pesananmu’. Kelihatannya, kau sudah menantinya, ya. Semoga penyakit Blue Balls-mu bisa sembuh, Mr. Cho.’
Kyuhyun meringis membaca pesan dari Hyukjae. Sialan, Hyukjae. Lagi-lagi, ia kelihatan bodoh di depan seorang Lee Hyukae—Sahabat yang selalu menjadi sasaran kekesalannya selama ini.
***
Channie berangkat kerja dengan perasaan yang sangat amat kesal. Bagaimana bisa, saat ia bangun di dalam kamarnya sudah dipenuhi barang-barang. Kyuhyun membelikan semua pakaiannya—dari sepatu, high heels, tshirt, gaun pesta, pakaian kerja, celana, rok, semuanya hingga celana dalam, bra termasuk lingerie, dan itu berlabel MAHAL. Apa pria itu benar-benar sinting. Channie tidak habis pikir, Kyuhyun mengira dia akan senang begitu? Apa Kyuhyun mengira dia ketinggalan jaman dengan gaya pakaiannya sekarang?
Dia sebenarnya akan mengomeli Kyuhyun habis-habisan. Tapi, dia sedang marah pada Kyuhyun karena rasa kecewanya kemarin. Ia marah karena Kyuhyun tidak mengabarinya kalau ia tidak pulang bersama, dan juga untuk mengingatkan dia makan—melalui orang-orang kepercayaannya. Apa Kyuhyun marah karena Channie menolaknya kemarin? Sial. Wajahnya merona mengingat hal itu lagi.
Melirik sekelilingnya, dan menatap lift khusus untuk para petinggi perusahaan, termasuk lift khusus untuk sang CEO—panas, Cho Kyuhyun. Tapi, yang Channie lihat bahkan CEO itu tidak ada. Setidaknya, kalau ia melihat Kyuhyun, ia bisa sedikit lebih tenang. Di mana pria itu sekarang, ia benar-benar merindukan sosok itu. Walau hanya menatap wajahnya saja.
PING!
Pintu lift terbuka. Channie dan beberapa orang mulai memenuhi lift, dan lift-pun kini berjalan. Channie sedikit bergeser ke belakang karena ia terdesak, oleh beberapa orang pria. Sial, mereka tidak peduli terhadap wanita. Satu pria tersenyum penuh arti padanya, dan Channie hanya tersenyum samar menanggapinya.
Pintu lift terbuka, beberapa orang keluar dan ada yang masuk, tapi pria di dekat Channie ini masih berada di sampingnya. Padahal lift ini termasuk longgar, dasar. Channie tidak memperdulikan pria di sampingnya itu. Lift kembali terbuka, dan tatapan Channie langsung tertuju pada siapa yang berdiri di luar sana. Seperti de javu. Ia menatap Kyuhyun seperti saat ia pertama kali bertemu dengan pria itu, di perusahaan ini. Jantungnya berpacu dengan cepat, debarannya membuat pipi Channie merona, karena malu kalau sampai terdengar di seluruh penjuru lift ini.
Tapi, tunggu. Kali ini Kyuhyun tidak sendiri—seperti saat ingin berduaan dengan Channie. Ia bersama asistennya—Ryeowook, dua rekan kerjanya, satu pria—dan Channie tidak tahu siapa pria itu, satu wanita—cantik, elegant, tinggi bagai model, mungkin sangat type Kyuhyun. Pikir Channie. Ada yang berbeda, Kyuhyun bahkan tidak menatapnya. Meliriknya-pun tidak.
“Tidak perlu keluar. Kalian tetap di dalam.” ujar Kyuhyun saat beberapa orang mulai keluar dari lift, Channie cukup terkejut mendengarnya. Tumben sekali??? Apa karena dia tidak ingin berduaan dengan Channie? Singkirkan pikiran burukmu, batinnya melotot marah.
Kyuhyun mengambil posisinya yang di sudut kanan, sementara Channie ada di sudut paling kiri. Ia hanya bisa menatap Kyuhyun dari samping yang masih sedikit berbincang. Lebih terdengar seperti gumaman. Channie sendiri tidak mau ambil pusing mendengar percakapan orang-orang penting seperti mereka. Si wanita—tinggi itu juga sangat amat tertarik pada Kyuhyun, bisa dilihat dari cara pandangnya dan juga senyumnya untuk Kyuhyun. Menjijikkan.
Lift mulai berjalan, hening. Mungkin karena ada CEO perusahaan ini ada bersama di dalam lift karyawan biasa, jadi terasa ‘mencekam’. Hanya suara Ryeowook dan dua rekan Kyuhyun itu yang membicarakan janji makan siang. Channie benar-benar membenci situasi ini. Apalagi mendengar tawa wanita itu. Ia ingin menonjok wajah itu dengan tangannya sendiri. Sial, cemburu itu menyiksa sekali. Kemudian, ia sedikit bergeser lebih ke sudut dan berusaha menormalkan situasi hatinya. Kyuhyun benar-benar. Sialan. Brengsek. Batinnya.
Pria di samping Channie, tiba-tiba juga bergeser ke arahnya, membuat Channie menatap sekilas pria di sampingnya ini. Tampan, memang. Tapi, lebih tampan—pria yang kejam itu, kan?
“Turun di lantai berapa?” tanya pria tersebut dengan gumaman, tapi Channie bisa mendengarnya. Pria itu agak memiringkan kepalanya, “Lantai berapa kau, nona—?” tanyanya sekali lagi.
“Uhm? Lan—lantai 20.” Channie agak gugup. Entahlah, berdekatan dengan seorang pria, yang di dalam ruangan itu ada Cho Kyuhyun, perasaannya menjadi tidak enak. “Kenapa memang?” Channie berusaha mengalihkan rasa gugup dengan berbincang-bincang agar tidak merasa gugup. Ia melirik sepintas ke arah Kyuhyun. Pria itu masih mengangguk ringan pada perbincangannya dengan wanita sialan itu.
Pria itu tersenyum. “Aku lantai 24, namamu—Park Channie, bukan?”
Channie melotot karena pria itu tahu namanya? Dia siapa? Channie bukan aktris, kan? Kenapa dia di kenal oleh pria ini? Padahal dia tidak tahu pria ini siapa?
“Kenapa—Kau—?”
“Ehmmm!” Belum sempat Channie melanjutkan apa kata-katanya, suara deheman Kyuhyun terdengar keras di penjuru lift ini, seperti auman seekor singa yang akan memangsa mangsanya. Menakutkan.
“Tidak heran, gadis secantik dirimu, memang mudah dikenal.” suara pria ini terdengar pelan, hingga Channie merinding mendengar kata-katanya. Bukan karena, pujiannya, melainkan gerak-gerik pria di sudut kanan itu. Cho Kyuhyun.
“Terima kasih—“ ucap Channie pelan.
“Ehmmm!” deheman itu kembali terdengar, kali ini lebih keras dari yang sebelumnya—membuat Channie mengernyit. Bingung.
“Biasa makan siang di mana?” tanya kembali pria ini. Channie melirik lagi ke arah Kyuhyun, pria itu tidak menatapnya sama sekali. Tapi kenapa seolah dia merasa di awasi oleh Kyuhyun?
“Aku biasa makan di lantai 10, kadang juga di—“
“Ehmmm!” kembali, lagi-lagi perkataan Channie di potong oleh suara menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan si penganggu, CEO gila itu—Cho Kyuhyun. Channie melihat sekilas pada Kyuhyun. Dari samping tidak nampak, kalau Kyuhyun sedang mengawasinya. Apalagi raut wajah kejamnya juga tidak nampak. Tapi, Channie bisa melihat rahangnya sedikit mengeras, dengan bibir yang terkatup rapat.
“Baiklah, bisa kita bertemu nanti—“
“Uhuk-uhuk.” suara batuk Kyuhyun memotong perkataan pria di samping Channie ini. Menyebalkan. Dasar pria gila, sinting.
Pintu lift terbuka, tepat di lantai 20, tempat ia bekerja. Selamat dari maut, Channie merasa lega. Saat melangkahkan kaki untuk keluar dari lift, ia mendengar helaan nafas kasar, dari suara jelas sekali terdengar itu milik, Cho Kyuhyun.
“Sangat tidak sopan, membicarakan janji kencan di samping CEO-nya sendiri.”
Langkah Channie sedikit terhenti, ketika mendengar nada peringatan dari Kyuhyun seperti mengingatkannya akan percakapannya tadi dengan pria di sampingnya. Channie berbalik, dan mendapati Kyuhyun yang tidak menatapnya. Hanya senyuman khas dia untuk dua rekan bisnisnya. Meremehkan Channie. Ini lebih menyakitkan. Pintu lift mulai tertutup perlahan, Channie masih menatap ke dalam dan Kyuhyun tak jua menatapnya. Matanya memanas. Ia di acuhkan. Di ejek??? Apa dia segampang itu untuk kencan. Saat pintu lift tertutup rapat, sekilas ia melihat sorot mata tajam dan menggelap itu menatap ke arahnya dan lift tertutup rapat!
***
Channie menatap enggan berkas-berkas yang ada di mejanya. Semua masalahnya, membuat ia malas berurusan dengan pekerjaan ini. Apalagi jika menatap tulisan dengan lambang Cho Enterprises Holding Inc. ini seperti mengingatkannya pada sosok CEO—Egois itu.
Tidak. Ia, tidak boleh lemah. Bukankah selama ini, dia mendambakan bekerja di tempat ini? Kalau seperti ini terus, apakah bisa dia bekerja dengan tenang? Atau sebaiknya dia keluar dari pekerjaan dan mencari pekerjaan lain?
Bunyi ponselnya membuyarkan Channie lamunannya. Dari Juyeon. Mengingatkan akan makan siang nanti dan juga tempat untuk mereka bertemu. Baiklah, Channie juga bosan maka di dalam kantornya setiap hari. Tak lama setelah itu, ponselnya kembali berdering. Melihat nama di layar datarnya, jantung Channie mulai berdebar dengan keras. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Kenapa selalu seperti ini.
Tidak. Dia tidak akan mengangkat panggilan itu. Untuk apa Kyuhyun menelponnya. Menanyakan bagaimana tidurmu? Bagaimana pakaian yang aku berikan? Bagaimana dengan kontrasepsinya? Menyebalkan. Channie mengabaikan teleponnya. Ponselnya, lagi-lagi berdering. Teleponlah, hingga tanganmu pegal. Aku tidak akan mengangkatnya. Kau, tahu Mr. Cho, aku sangat marah! Batin Channie. Channie mengabaikannya kembali, hingga lima panggilan tidak terjawab dari Cho Kyuhyun, tertera pada layar ponselnya. Ia bernafas lega.
Channie mulai menyibukkan diri untuk mengerjakan pekerjaannya, agar tidak mendapat omelan dari Sujin—Supervisor gilanya.
“Park Channie.” suara yang sangat Channie hafal, ia segera mendongak dan mendapati Kim Sujin berdiri di ambang pintu ruangannya dengan setelan rapi dan terkesan sangat tidak suka menatap ke arah Channie.
“Ya.” jawab Channie.
“Ehm… Kau dipanggil ke ruangan Mr. Cho Kyuhyun, di lantai 40. sekarang juga!” perintahnya terdengar sinis, dan tidak terbantahkan. Kemudian wanita itu keluar dengan kesal di sertai gemuruh karyawan yang ada di ruangan ini.
Channie menganga! Apa!!! Kyuhyun memanggilnya ke ruangannya? Untuk apa? Ini tidak mungkin kan? Atau Kyuhyun akan membatalkan perjanjiannya! Tidak! Tidak! Jantung Channie berdebar-debar dengan keras, wajahnya pucat seketika.
“Channie—Channie, kau ada masalah apa?” tanya Yura panik. Channie menggelengkan kepalanya.
“Tidak, kau tenang saja. Mungkin—“ Channie harus menjelaskan bagaimana. Cho Kyuhyun, tidak pernah memanggil karyawan rendahan, atau memasukkan karyawan sembarangan di ruangannya. Tidak pernah.
“Nanti saja. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini dulu.” gumam Channie, ia berusaha mengabaikan perintah Kyuhyun. Sekalian, jika ia di pecat. Ia tidak akan melihat wajah Kyuhyun yang membuatnya selalu ingin menyentuh wajah itu. Wajah yang membuatnya semakin jatuh terpesona.
“Kau yakin?” Yura cemas, Channie tersenyum samar. Dan semua tatapan orang yang ada di dalam ruangan ini tertuju padanya. Seolah bertanya-tanya, kenapa Channie di panggil oleh CEO—yang sangat sulit ditemui?
Channie mulai berkutik dengan pekerjaannya, lagi. Walau pikirannya tertuju pada Kyuhyun dan ia kini sangat gugup akan apa yang akan menimpanya. Tapi, ia berusaha mengalihkan rasa itu semua dari benaknya. Tapi, tidak lama setelah itu. Tiba-tiba…
Terdengar suara ribut di luar ruangan Channie. Dan…
BRAKKKK!!!
Pintu ruangan ini terbuka, dan yang membuat semua—termasuk Channie sangat terkejut adalah, sosok yang sangat di segani itu berdiri dengan tatapan tajamnya mengarah pada satu titik, di mana Channie sedang berdiri. Ya. Dia, Cho Kyuhyun.
“Ke ruangan ku! Sekarang. Juga!” kata-kata terdengar serak. Tegas. Dan marah. Channie hafal dengan nada suara ini. Tatapan Kyuhyun menggelap ke arahnya. Dia gugup dan lemas seketika mendapat tatapan seperti itu.
“Sekarang. Juga! Mengerti!”
***
Di dalam lift suasanya begitu mencekam. Aura dingin Kyuhyun begitu terasa. Channie tidak bisa berkutik, walau jaraknya dengan Kyuhyun yang terbilang tidak dekat. Aroma parfum dan tubuh Kyuhyun menyatu dan tercium oleh Channie, aroma musk sangat ia suka. Ia sangat merindukan ini. Merindukan semuanya. Channie mendengar Kyuhyun mengembuskan nafas kasarnya, berulang kali. Mungkin karena dirinya? Tidak mungkin!
Pintu lift terbuka. Astaga! Begitu cepat dan Kyuhyun tidak menyentuhnya sama sekali? Ya. Dia sudah bosan denganmu, Park Channie. Dan kau akan segera di depak dari hidupnya. Mengerti? Tidak. Jangan!
Channie segera mengikuti langkah Kyuhyun keluar dari lift. Saat Kyuhyun dan Channie akan melewati meja sekretaris, ada tiga wanita di situ. Dengan segera langsung berdiri dan terkejut melihat Channie ada di belakang BOS besar mereka.
“Tahan semua telepon yang masuk untukku. Dan jangan ada mengetuk pintu atau menggangguku! Mengerti.” perintah Kyuhyun pada sekretarisnya. Segera wanita-wanita tersebut mengangguk mengerti. Dan menatap Channie dengan tatapan, tidak percaya. Meremehkan dan membenci. Itu yang Channie baca dari raut wajah mereka.
“Duduk!” perintah Kyuhyun saat selesai mengunci otomatis pintu ruangannya dan duduk dengan angkuhnya di kursi kebesarannya. Channie masih takjub dengan desain ruangan Kyuhyun ini, ini bukan kantor??? Ini—Ini lebih besar dari rumahnya. Mewah. Elegant dan berkelas. Di dominasi warna hitam dan merah. Ya, Tuhan. Begitu indah… dan mencerminkan Kyuhyun.
“Duduk sendiri. Atau, kau duduk di pangkuanku. Sekarang.”
Channie tersadar dan segera menundukkan dirinya di sofa yag terletak agak jauh dari tempat Kyuhyun—agak gugup. Channie berusaha menormalkan raut wajah dan juga detak jantungnya yang terus saja berdebar sangat kencang.
Hening. Channie, bahkan tidak mampu menatap Kyuhyun yang kini sedang sedang menatapnya. Entah, tatapan apa itu, yang jelas ia tidak berani menatap Kyuhyun. Sekarang. Sialan. Aura dingin Kyuhyun begitu terasa. Dia dan Kyuhyun di ruangan ini hanya berdua. Atau jangan-jangan, Kyuhyun ingin memperkosanya di sini. Sebelum membatalkan perjanjian tiga bulan itu.
“Kau, mau apa? Cepat katakan.” ucap Channie memecah keheningan. Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Ia masih tetap duduk di kursinya. Channie berpikir, mungkin Kyuhyun sengaja menghindarinya, karena sudah bosan. Ya. Hanya itu.
“Kau terang-terangan mau berkencan dengan pria lain di depanku, begitu.” kata-kata Kyuhyun barusan membuat Channie menatap ke arah Kyuhyun.
“Kalau kau membicarakan masalah kesopanan di dalam lift tadi, aku minta maaf. Dan, aku tidak keberatan kalau kau, memecatku!” ujar Channie geram.
Kyuhyun berdiri seketika. Raut wajahnya terlihat marah. “Kau pikir, kau siapa? Menyuruhku untuk memecatmu. Tidak akan. Sampai kapanpun.” tegas Kyuhyun.
“Itu saja yang kau katakan.”
“Tidak. Ada banyak hal yang akan aku katakan.” sangkal Kyuhyun. Channie menghela nafas panjangnya. Sial. Penderitaan ini namanya, jika terus bersama Kyuhyun di dalam ruangan ini.
“Kau tidak lupa kan, soal kau tidak boleh berkencan dengan pria lain, selama kau masih bersamaku.” jelas Kyuhyun, rahangnya mengeras. Apa dia cemburu? Batin Channie.
“Aku tidak lupa. Ya, Tuhan. Aku bukan dirimu, yang egois. Tuan, Cho!” teriak Channie marah.
“Lalu, kenapa kau tadi mengabaikan panggilanku.” tegas Kyuhyun, dengan rahagnya yang masih mengeras.
“Aku banyak pekerjaan!” Channie masih berteriak pada Kyuhyun. Marah.
“Hey, kau berteriak padaku?” protes Kyuhyun.
“Ya.”
“Dan, aku tidak egois, Park Channie. Aku berhak atas dirimu. Karena. Kau. Milikku. Kau tahu itu, kan.” ini bukan pertanyaan. Ini adalah pernyataan yang tidak terbantahkan.
Kyuhyun segera berjalan ke arah Channie duduk. Dan menyilangkan tangannya di dadanya. Tatapannya semakin menggelap kepada Channie. Ia tidak ingin di bantah oleh Channie—gadis sialan yang membuatnya gila. Dan sampai ingin mati.
“Aku tidak seperti mu, yang masih bisa bebas menjamah tubuh wanita lain. Sementara aku, malah tidak kau ijinkan bersama pria lain. Okey. Aku memang gila menerima ini semua. Tapi—tapi, kau sulit ku mengerti. Kau egois.” jelas Channie.
“Tidak begitu sepenuhnya. Kau—kau tidak mengerti, Park Channie—Ya Tuhan, kalau saja kau tahu—“
“Apa yang tidak aku mengerti! Apa yang tidak aku tahu! Huh?” teriak Channie jengkel.
“Jangan berteriak padaku.” geram Kyuhyun. Matanya menyala. Marah terhadap Channie, begitu juga Channie. Mereka berdua menyimpan rasa yang sulit untuk mereka ungkapkan satu sama lain. Yang ada hanya kemarahan untuk meluapkan rasa emosi dalam hati mereka masing-masing.
“Kau memberiku begitu banyak macam pakaian, bahkan kau tidak bilang terlebih dulu padaku. Apa maksudmu? Kau mau bilang, aku ketinggalan jaman? Kau ingin aku seperti wanita-wanitamu yang lain? Atau wanita yang berjalan dengan mu tadi pagi.” Channie terdengar sinis.
Kyuhyun memejamkan matanya. Sial. Kenapa malah Channie yang marah dengannya. Padahal dia ingin memarahi Channie karena bisa-bisanya berdekatan dengan pria lain, yang bahkan dia ada di dalam lift bersama Channie. Gadis sialan.
“Demi Tuhan, tidak begitu!” Kyuhyun mengeram. Channie segera berdiri. Ia tidak tahan, jika terus-terusan di sini. Ia marah, kecewa dengan Kyuhyun. Begitu rendahnya dirinya. Kenapa sulit sekali menjalani ini semua? Kyuhyun yang sangat mudah berubah-ubah. Ia tidak bisa memahami ini. Tidak bisa.
“Buka, pintunya. Aku akan pergi.” ujar Channie datar.
“Tidak.” Kyuhyun menggeleng cepat. Raut wajahnya terlihat panik dan masih marah. Tapi, dia tetap tampan. Bahkan terlihat sexy dengan rambutnya yang dengan style acak-acakan seperti itu.
Channie memutar bola matanya. Kesal. Jengkel. Dia tidak berharap pertemuan seperti ini dengan Kyuhyun, ini di luar imajinasinya. Ia berharap hubungannya dengan Kyuhyun membaik. Tapi—
Kyuhyun menghembuskan nafas kasarnya, “Aku tidak bermaksud mengejekmu. Ya, ampun. Bahkan apapun yang melekat di tubuhmu itu semua terlihat indah, kau harus tahu.”
DEG! Debaran jantungnya mulai kembali bertalu. Tidak. Jangan merona, Park Channie. Dia hanya memuji. Wajar, dia sering menggunakan kata-kata ini untuk menyeret wanita ke ranjangnya.
“Tapi, kalau boleh jujur. Aku bahkan lebih suka, kau telanjang. Kalau berada di depanku.” lanjut Kyuhyun dengan tenang. Tatapannya penuh arti. Ada gairah yang tersimpan di sorot matanya itu.
Channie, tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa mengalihkan pandangannya, tiba-tiba Kyuhyun berjalan mendekat ke arahnya. Sial. Ia harus bagaimana?
“Lihatlah, kau begitu—“ Kyuhyun menarik pinggang Channie, hingga mereka bersentuhan. Mengirimkan sengatan listrik pada tubuh mereka masing-masing. “Kau begitu cantik—“ desah Kyuhyun tepat di depan wajahnya. Channie mengalihkan pandangannya.
“Oh, ya ampun, Park Channie—aromamu.” bisik Kyuhyun.
“Jadi—harus berapa kali aku bilang padamu…” Kyuhyun masih berbisik di depannya. Tatapannya intens. “Kalau kau jangan berdekatan dengan pria lain. Aku bisa gila—“
“Aku tidak berdekatan dengan pria lain.” bantah tegas Channie. Keduanya saling menatap.
“Tapi, tadi kau membuat pria itu ingin memasukimu. Kau tahu itu!” geram Kyuhyun di mulutnya.
“Tidak.” jelas Channie.
“Iya. Pria itu ingin memasukimu. Park Channie.” Kyuhyun masih menggeram. Memejamkan matanya, dan menghirup aroma Park Channie, dalam-dalam. Membuat Channie sedikit bergeliat. Ia meremang mendengar nafas Kyuhyun yang terdengar seperti desahan.
“Aku, bahkan baru bertemu dengannya.” desis Channie, lebih tepatnya ia masih mengelak. Bagaimana bisa Cho Kyuhyun, bisa tahu kalau pria lain terangsang olehnya? “Justru wanita itu yang ingin segera di masuki olehmu. Dan, kau sepertinya juga ingin sekali memasuki wanita itu, benarkan?” Channie menatap lekat pada manik-manik mata Kyuhyun. Tatapan pria ini, langsung menggelap.
“Dia rekan bisnisku. Hanya. Rekan. Bisnis.” jelas Kyuhyun. Matanya menyala dan marah.
“Aku tahu. Tapi, dia santapan yang enak, tuan Cho.” timpal Channie. “Dia, cantik, seksi, tinggi…”
“Mulut manis dan seksimu itu lebih berbahaya, Nona Park. Aku, tidak tertarik dengannya. Tidak.” Kyuhyun mengusap bibir Channie dengan ibu jarinya. “Kau cemburu.”
Jantung Channie makin tidak berhenti berdetak, karena ucapan Kyuhyun benar, barusan. Channie membasahi bibirnya, tidak harus gugup Park Channie. “Aku marah dan kecewa denganmu…” Channie menunjuk dada bidang Kyuhyun dengan jari telunjuknya.
“Ap—apa? Kecewa, untuk—“
“Kau selalu tidak sadar berapa banyak kekesalan yang kau buat untukku.” Channie mulai membentak.
“A—Apa! Jangan membentakku.” geram Kyuhyun menahan amarahnya. Tidak ada satu wanita-pun yang membentak ataupun berteriak marah padanya, kecuali gadis ini. Gadis yang menjungkir-balikkan dunianya. Gadis yang membuatnya merasakan perasaan lain di hatinya. Gadis yang membuatnya gila menahan ereksi. Ini gila!
“Aku akan membentakmu, meneriakkimu. Sesukaku. Karena aku muak, berdiam diri terus. Kau tahu, kau itu menyebalkan!” Channie berusaha lepas dari dekapan tangan Kyuhyun. Tapi, tenaganya kalah kuat oleh Kyuhyun. Pria ini semakin menarik dirinya hingga sangat dekat dan tidak ada jarak dari Channie.
“Bicara, Park Channie. Katakan! Jelaskan. Apa yang—“
“Kau selalu meninggalkanku sendirian, datang jika kau perlu. Kau selalu berpura-pura tidak mengenal—ku, okey yang satu ini aku maklum. Kita berbeda kelas. Dan hubungan ini rahasia. Tapi—aku bingung. Kadang kau terlihat sangat membutuhkanku, kadang kau terlihat bosan dan tidak menginginkanku. Kau menguntitku, kau memperlakukanku seperti robot yang kau perintahkan. Aku—aku bingung—“ Channie menggeleng lemah. Air matanya mulai jatuh perlahan membasahi pipinya.
“Tidak.” Kyuhyun menggeleng cepat. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya menangkup wajah Channie. “Berhenti—Aku akan menjelaskan—“
“Aku—aku tahu aku ini siapa. Tapi—aku bingung dengan semua ini. Aku memang tidak berguna. Tapi— Kehidupan macam apa yang aku jalani ini—mmpphhhh”
Channie lagi-lagi terkejut oleh sesuatu yang mendesak di bibirnya dengan keras. Bibir Kyuhyun yang terasa lembab dan hangat melumat kasar setiap inchi bibirnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, lidah Kyuhyun sudah bisa menerobos masuk ke dalam mulut Channie, membelit lidah Channie. Menghisap. Hingga membuat Channie melenguh. Dadanya bergemuruh. Berdebar kencang. Kyuhyun benar-benar tidak memberinya ruang mengambil nafas. Hingga Kyuhyun sadar, memiringkan kepalanya ke kanan, ke kiri. Berulang kali.
Kenapa walaupun terkesan cepat dan tergesa-gesa. Justru ini yang membuat Channie akhirnya, menyukai Kyuhyun, bukan?
Tangan Kyuhyun bergerak cepat, menyusuri lekuk tubuh Channie. Dari punggung, turun ke pinggang hingga pantat indah Channie menjadi sasaran. Membuatnya mendesah dalam ciuman liar Kyuhyun. Pria ini, mengeram hebat di mulut Channie, ketika Channie melenguh dan membalas setiap lumatan bibirnya. Kyuhyun semakin terbakar. Menyudutkan Channie hingga ke tepian sofa. Memporak-porandakan pakaian atas Channie. Hingga tangan Kyuhyun mengusap perut datarnya, naik ke atas dadanya. Meremas dada Channie. Ya, ampun. Dada ini begitu pas di tangannya. Kyuhyun semakin bergerak cepat dan terus memainkan bibir Channie ke dalam ciumannya yang semakin panas dan cepat.
Decapan-decapan dari bibir mereka yang menyatu membuat suasana ruangan ini semakin panas dan terbakar oleh gairah. Seolah mereka berdua menyalurkan perasaan mereka yang terpendam. Menyalurkan hasrat mereka masing-masing. Terutama Kyuhyun—yang selalu dominan mempermainkan permainan ini. Ini harus di hentikan, park Channie. Tapi, ia terlalu lemas, tidak mempunyai tenaga. Kalau saja ia tidak berada di atas sofa—tepatnya di bawah Kyuhyun, sekarang. Mungkin ia akan terjatuh lunglai di lantai. Channie hanya bisa memejamkan matanya. Menikmati semua ini—semua sentuhan, ciuman Kyuhyun. Bibir sialan Kyuhyun turun di lehernya, menghisap, mengecupi setiap jengkal kulit lehernya bersamaan dengan tangan pria itu turun ke pahanya. Mengusap pelan kulit mulus paha Channie. Hingga menemukan pangkal paha Channie. Kyuhyun mengusapnya dengan jarinya. Membuat Channie semakin bergeliat. Panas, di bawah tubuh Kyuhyun.
Ini. Harus berhenti… Sial. Kau menginginkannya. Sekarang, kan?!!
“Kyu—hhh—tidak!” suara Channie yang ingin berhenti tidak sepadan dengan nadanya yang malah menginginkan lebih. Kyuhyun sudah tidak bisa menghentikan ini semua. Dia sudah terbakar gairah. Beginilah dia, kalau sudah menyentuh Channie. Sulit sekali mengendalikan dirinya, kembali. Antara nafsu dan rasa tertarik begitu kuat. Telah mendominasinya. Tubuh Channie, benar-benar sialan. Berbahaya. Panas dan sanggup membakarnya. Ia tidak pernah bereaksi seperti ini, jika dengan wanita lain.
“Meeting. Lima. Menit. Lagi. Cho. Kyuhyun! Bersiaplah! Aku sudah tahu, apa yang terjadi di dalam.”
Kyuhyun mengerjap seketika, saat mendengar suara asistennya—Ryeowook, yang terdengar marah di saluran telepon ruangannya yang memang ia sengaja speaker sebelum tadi berbincang dengan Channie. Takutnya dia lupa waktu kalau sudah bersama gadis ini.
“Sial.” gumam Kyuhyun di lekuk leher Channie. Dada mereka berdua masih naik-turun dengan nafas yang terengah. Bibir Channie masih merah dan membengkak akibat ciuman liar Kyuhyun barusan. Channie segera menarik tangannya—yang tadinya ada pada leher Kyuhyun, untuk merapikan tatanan rambutnya.
Kyuhyun bangun dari atas tubuh Channie lalu mengusap kasar wajahnya. Sialan. Brengsek, Kim Ryeowook! Batinnya berteriak marah. Apa iya, dia akan memimpin rapat dengan keadaan ereksi? Apa kata orang yang melihatnya nanti. Menatap Channie. Kyuhyun tersenyum dengan smriknya. Gadisnya ini benar-benar membuatnya bergairah kembali. Lihatlah, tatanan pakaiannya, rambut, pipi yang merona serta bibirnya. Membuat Kyuhyun ingin kembali—
“Aku pergi! Tolong buka pintunya.” Channie terdengar marah walau nafasnya masih terdengar berat. Sebenarnya ia lega sekaligus kecewa, karena terbebas dari jeratan kenikmatan yang di berikan oleh Kyuhyun. Kyuhyun hanya menaikkan satu alisnya.
“Baik! Ingat… kita masih perlu banyak bicara!” Kyuhyun memperingatkan sambil menekan tombol yang berada di dekat mejanya. Channie menatapnya kesal.
“Tidak. Ada.” jawabnya singkat.
“Jangan membantah, atau—“
BRAAKKK!!! Pintu tertutup dan Channie mengilang di balik pintu ruangannya.
“Sialan!!!” teriak Kyuhyun dengan tatapan yang menyala.
***
Channie masih diam dan mengatur raut wajahnya agar terlihat normal— tidak ada apa-apa setelah kejadian di ruangan Kyuhyun tadi, pertengkaran hebat di akhiri dengan ciuman yang hampir saja membuatnya tidak perawan, lagi—terlihat biasa saja di depan Juyeon. Gadis ini—tunangan sepupu, sekaligus pria yang ia cintai. Dulu.
Channie tidak tahu, senyuman Juyeon kali ini ada maksudnya. Walau tadi, gadis ini sudah meminta maaf tapi. Lihatlah. Siapa yang duduk di belakang mereka berdua. Ya. Gadis yang baru saja makan siang dengan Lee Hyukjae. Gadis ‘pesanan’ Cho Kyuhyun. Benar-benar rencana yang sempurna.
“Iya. Iya. Nanti malam kan? Kira-kira, jam berapa aku harus kesana? Apa? Jam sepuluh? Not bad. Okey. See you, Mr. Lee. Terima kasih atas tanda keramat masuk ke ruangan VVIP itu. Ya.”
Channie menggeleng mendengar nada bicara genit dari wanita yang duduk di depannya. Sementara itu si wanita genit itu akan beranjak pergi dari arah lain muncul Juyeon yang kembali dari toilet dengan senyum merekahnya. Dan tiba-tiba…
“Aww!” pekik si wanita genit berambut pirang itu. “Hey!” teriaknya marah pada Juyeon saat dia tidak sengaja menumpahkan jus di meja wanita itu—seperti tersenggol tangannya.
“Maaf, Nona. Aku—aku tidak sengaja,” Juyeon menunduk hendak membersihkan gaun mahal wanita genit itu. Tapi hal ini tidak berlangsung lama.
“Sudahlah. Aku masih bisa membeli gaun mahal ini.” sambil berlalu pergi dari caffe ini.
“Aku tidak apa-apa.” kata Juyeon seolah tahu raut wajah Channie yang terlihat cemas. “Emm… wanita gila seperti itu. Pantas menerimanya.”
“Juyeon-sshi.”
“Iya, aku tahu.” Juyeon kemudian mengeluarkan sebuah card yang berwarna gold. Seperti kartu kredit. Tapi bukan. “Ini. Datanglah, nanti malam. Aku memberikan mu surprise.” ucapnya dengan senyum penuh arti.
“Apa?” Channie tampak bingung, “Pesta? Pesta apa? Pertunanganmu?” tanya Channie lagi.
“Kurang lebih begitu. Aku senang sekali, akhirnya keinginanku dengan Jungsoo oppa terwujud.” kata Juyeon berbunga-bunga. Berharap Channie akan marah dan sedikit cemburu. Tapi, sorot mata Channie, malah sebaliknya. “Datanglah… ingat kau jangan membawa suamimu. Aku tahu, dia tidak suka denganku dan juga Jungsoo oppa.”
“Tapi aku—“
“Sebagai permintaan maafku. Pliss…”
Channie tampak sedikit berpikir. Apa ia harus datang? Bagaimana ijinnya dengan Kyuhyun? Tidak. Channie. Kau wajib bersenang-senang. Malam ini. Setelah tadi siang, kau bertengkar hebat dengannya, kan?!
“Baiklah… nanti kirimi aku pesan, di mana alamat caffenya.”
***
Tidak mudah bagi Channie untuk keluar dari Penthouse Kyuhyun tanpa Young Min di sampingnya. Tapi, Channie cukup pintar. Ia ijin pulang ke rumah orang tuanya, hanya satu malam. Dan ijin dari Kyuhyun-pun sudah didapat.
Di sinilah dia sekarang. Sebuah Club dengan taraf mewah. Dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalam Club ini karena mahalnya tarif di sini. Orang-orang seperti Kyuhyun mungkin hanya menjentikkan jarinya dengan mudah. Tapi, bagi kalangan Channie. Harus mati-matian mengeluarkan uang dari dompet mereka. Kali ini mudah bagi Channie, karena dengan mengeluarkan kartu dari Juyeon, maka ia langsung bisa masuk. Entahlah, ia juga bingung kenapa Juyeon menyewa Club mahal ini. Tapi, ia tidak ambil pusing.
Suara keras musik yang berirama, menggema di seluruh ruangan ini. Bau minuman keras, langsung menyeruak ke dalam indra penciuman Channie. Membuat gadis itu, mengernyit. Dia memang baru pertama kali masuk ke dalam Club ini. Jadi, dia bingung, di mana letak ruangan ini. Juyeon menyebutkan tadi, kalau acaranya jam sebelas malam. Tapi, Channie sudah mengirimi pesan agar Juyeon menjemputnya di depan. Batang hidung gadis itu juga belum nampak.
Banyak mata yang menatap Channie, dengan pandangan kagum, dan lapar. Walau Channie berpenampilan berbeda dari gadis-gadis yang ada di dalam Club ini. Dia hanya memakai mini dress pastel dengan motif bunga-bunga merah kecil, dan di lengkapi oleh cardigan mungil berwarna merah—untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka. Channie juga sengaja memakai highheels merahnya. Dengan rambut yang teruarai biasa. Dia terlihat sangat cantik. Siulan demi siulan datang padanya. Dan ia sudah tidak tahan. Menemui pegawai di sana, untuk menanyakan di mana letak ruangan yang Juyeon maksud.
Pria tinggi besar itu menatap Channie dengan mengernyitkan dahinya. Menatap Channie dari atas hingga bawah. Membuat Channie bingung.
“Apa ada yang salah?” tanya Channie, “Aku—aku datang memenuhi undangan temanku.” lanjutnya lagi. Pria itu mengangguk singkat. Kemudian, menelpon seseorang. Entahlah, Channie juga tidak tahu. Lalu setelah itu, Channie di antarkan menuju ruangan tersebut.
“Saya, hanya bisa sampai di sini saja, Nona.” ujar pria tinggi besar itu. “Anda, cukup berjalan lurus saja, hingga ada pintu berwarna merah marun. Di situ, ruangannya. Permisi.” pria tinggi besar itu akhirnya pergi dari hadapan Channie.
“Terima kasih.” ucap Channie, lalu menuruti apa kata pria tersebut. Channie menyusuri lorong panjang ini, dengan sedikit gugup. Entahlah, dia merasa sangat tidak enak. Walau memang lorong ini, jauh dari hiruk pikuk Club tadi—dengan musik berdentum keras, dan banyak orang yang begitu mudah bercumbu di mana-mana. Tapi, ini sepi. Tenang. Mungkin, menyewa tempat di sini, juga sangat mahal dan tentu menghabiskan banyak uang.
Channie melihat ada beberapa dua pria yang berjas hitam, dengan tubuh tinggi tegap, berjaga di pojok lorong ini. Channie melangkahkan kakinya ragu. Akhirnya, dengan menelan ludahnya. Ia beranikan diri untuk bertanya.
“Per—permisi. Aku ada undangan dari teman.” Channie mengeluarkan Gold cardnya, Petugas itu yang mirip Bodyguard melihat Channie dari atas hingga bawah. Mengernyit bingung. Kemudian, mengangguk.
“Silahkan masuk, Nona. Lurus saja… ada di sana akan ada satu ruangan. Di situ tempatnya.” kata pria tersebut, dengan tegas. Channie kembali menelan ludah. Kenapa, semuanya seperti menakutkan. Juyeon tidak salah tempat, kan? Bodohnya dia, akan memberikan surprise pada Jungsoo akan kedatangannya, dengan tidak memberitahu Jungsoo. Tapi, kenapa malah seperti ini.
Channie berjalan ragu, kemudian dia melihat pintu yang berwarna merah marun, mengkilap dan memang sangat sunyi—jika dilihat dari luar sini. Tidak terdengar hiruk pikuk, atau musik yang berdentum keras. Perlahan Channie, mendorong pintu tersebut. Terbuka. Kenapa sepi. Tidak terdengar suara orang yang sedang berpesta. Channie, sudah mengira, ini tidak beres. Ada yang salah.
Melangkahkan kakinya ke lorong kecil, untuk menuju ke ruangan utama ini. Suara musik mulai terdengar, walau tidak keras seperti di Club tadi. Kemudian, matanya membelahak lebar. Ruangan ini begitu luas, mewah dan di dominasi warna hitam dan merah marun. Matanya, langsung tertuju pada mini bar yang ada di sudut paling kiri ruangan ini. Ada pria tiga pria yang sedang bercengkrama—sambil meminum minuman mereka. Pria itu bukankah? Kang Minhyuk dan Lee Donghae, satunya Channie tidak tahu. Pandangannya beralih ke sofa yang tak jauh dari mini bar, ada seorang pria dengan wanita yang sangat seksi. Yang jelas, mereka sedang—bercumbu. Dia bukan Cho Kyuhyun. Channie, segera tahu, kalau pria itu Lee Hyukjae. Sahabat Cho Kyuhyun.
Jadi, Juyeoon berbohong padanya? Lalu, ini ruangan apa? Untuk apa dia kesini? Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya.
“Ka—kau? Park Channie—“ ujar Donghae ragu sekaligus gugup melihat Channie yang ada di sini. Minhyuk dan Jonghyun terperangah. Istri, Cho Kyuhyun? Kenapa tahu tempat ini. Bagaimana bisa. Bahkan kini Cho Kyuhyun sedang bersama—
“Ya Tuhan! Cho Kyuhyun, kau dalam masalah.” desis Minhyuk seketika.
“Wow! Really-really. Pretty girl! Pantas, Kyuhyun hyung, tergila-gila.” bisik Jonghyun pada Minhyuk, dan mendapat senyuman miring dari Minhyuk.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Donghae menghampiri Channie. Channie menggeleng lemah. Hyukjae dan wanita ‘panas’nya menghentikan aktifitas mereka, sejenak. Menatap Channie, terkejut.
“Ak—aku tidak tahu. Aku hanya—“
“Kau mencari, Kyuhyun hyung?” tanya Minhyuk.
Kyuhyun? Jadi ini tempat Kyuhyun bertemu, atau berkumpul dengan temannya untuk—Ya ampun, apa Juyeon menjebaknya. Keterlaluan!!! kemudian Channie menggeleng lemah.
“Aku tidak—“
“Ambilkan aku minuman lagi!” Channie berhenti ketika mendengar suara Kyuhyun yang membentak terdengar parau. Jadi, Kyuhyun ada di sini. Channie menatap di sudut sebelah kanan, yang memang terdapat bilik.
“Ayolah—sayang—kau milikku malam ini.”
DEG! Suara seorang wanita. Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya memucat. Kyuhyun bersama seorang wanita. Menelan ludahnya dengan sangat sulit. Ini tidak mungkin. Harus pergi. Kau harus pergi! Batinnya berteriak marah. Tapi, aku ingin melihat apa yang di lakukan Kyuhyun di dalam!
“Channie, ini tidak—“
Channie melangkahkan kakinya menuju tempat asal suara Kyuhyun dan wanita sialan itu berada dan mengabaikan apa kata Donghae barusan.
“Hentikan…” itu suara serak Kyuhyun.
“Kenapa? Kenapa? Kau membuatku horny tapi kau mau menghentikan ini. Tidak.” suara wanita itu kembali terdengar. Channie menelan ludah, hingga dia tahu apa yang ada di depannya sekarang.
Kyuhyun sedang memangku tubuh wanita itu, tubuh wanita yang sudah porak poranda—roknya bahkan sudah naik ke atas, hingga terlihat paha mulusnya, sedang bagian atasnya sudah turun melewati bahu. Channie membungkam mulutnya dengan tangannya dan menggelengkan kepalanya. Kyuhyun mendongak dan lehernya diciumi oleh wanita jalang itu. Kyuhyun menikmatinya. Buktinya, dia memejamkan matanya.
Okey. Ini sudah cukup. Sudah cukup. Tapi, kaki Channie seolah kaku. Tidak bisa digerakkan.
“Kyuhyun…” gumam Channie. Dan pada saat itu, Kyuhyun membuka matanya dan tepat. Dia tidak salah lihat. Walau ia terpengaruh minuman, tapi ia masih bisa merasakan aura gadis itu. Gadis itu berdiri di depannya dengan mata yang memerah.
“Channie—“ gumam Kyuhyun. Dan seketika Channie berbalik. Pergi dari hadapannya.
“Oh. Sial!!!” Kyuhyun mendorong tubuh wanita yang ada di pangkuannya. Kemudian berlari tanpa memperdulikan penampilannya yang acak-acakan.
“CHANNIE!!!” teriak Kyuhyun sambil berlari tanpa memperdulikan wanita tadi yang meraung dan berteriak memanggilnya. Bahkan Kyuhyun tidak memperdulikan teman-temannya tadi yang ada di ruangan bersamanya. “Berhenti. Park Channie!”
“TAHAN DIA!!! BRENGSEK!” teriak Kyuhyun saat Channie akan melewati dua petugas yang sedang berjaga. Channie menelan ludah saat dua petugas menghadangnya. Tidak. Dia harus pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak sanggup, hidup seperti ini terus. Ia berpikir mengakhiri semuanya saja.
Entah mendapat kekuatan dari mana Channie sanggup menendang dua petugas tersebut dengan heelsnya, tepat di selakangan dua pria tersebut. Hingga akhirnya dia bisa berlari. Dia mendengar umpatan-umpatan Kyuhyun di belakangnya. Tidak, Kyuhyun semakin dekat dengannya.
“Aww!” Channie memekik saat menabrak tubuh seseorang. Nafasnya terdengar berat.
“Berhenti. Park Channie!” teriak Kyuhyun. Nafasnya terengah
“Tidak.” Channie berlari kembali, menerobos kerumunan orang di Club ini. Hingga berapa kali menabrak orang yang ada di hadapannya. Channie merasa tubuhnya, ada yang menariknya. Tangan ini. Aroma ini. Tidak. Tidak.
“Ku mohon. Berhenti!” Nafas Kyuhyun terdengar terengah-engah. Begitu juga dirinya. Kedua tangan Kyuhyun berada di perutnya. Melingkar sempurna. Mendekapnya erat. Kepalanya sejajar dengan kepala Channie, hingga nafas hangat Kyuhyun menggelitiki leher Channie.
“Tidak.” ucap Channie terengah. Menggelengkan kepalanya sambil mencoba melepaskan diri dari Kyuhyun, tapi tetap tidak bisa. Kekuatannya seolah tersedot habis karena berlari dari Kyuhyun.
Kyuhyun terengah dengan mendekap erat tubuh Channie dari belakang, Channie-pun masih terengah. Nafas mereka berdua terdengar sangat berat. Mereka diam—menatap lurus ke depan, hanya mendengar nafas berat mereka berdua. Bahkan pandangan orang yang berlalu lalang yang akan masuk ke dalam Club ini, mereka abaikan. Seperti hanya ada mereka berdua di area ini.
“Lepas.” bisik Channie.
“Tidak.” jawab Kyuhyun terengah.
“Lepas. Ku—“
“Jangan lari dariku.”
“Lepas.” Channie mulai meronta. Tapi, Kyuhyun tetap pada pendiriannya. Mendekap erat tubuh mungil Channie. Seolah tidak boleh bergeser atau lepas dari dekapannya, sedikitpun.
“Tidak. Oh, ya ampun. Channie.” Channie merasakan tubuhnya terangkat. Demi, Tuhan. Cho Kyuhyun meminggulnya. Tubuh Channie, ada di pundak Kyuhyun. Ia meronta dengan sekuat tenaga.
“Lepas!!!” Tapi Kyuhyun tidak menghiraukan teriakan Channie. Dia tetap saja membawa Channie, menuju mobilnya. Mobil yang selalu di Club—Miliknya ini.
***
Keluar dari lift, Kyuhyun kembali meminggul tubuh Channie. Meletakkan tubuh Channie, di pundaknya. Membuat Channie lagi-lagi meronta dan berteriak. Keras. Kyuhyun membuka pintu Penthousenya, dengan satu tendangan pintu kembali tertutup. Channie tetap berteriak hingga, Young Min yang ada di dalam untuk berjaga—dan karena Kyuhyun tadi memarahinya, karena tidak mengantar Channie dengan alasan pulang ke rumah orang tuanya.
Young Min terperangah, melihat aksi Tuan-nya yang meminggul tubuh Channie, masuk ke dalam dengan cara yang baru pertama kali, ia tahu. Channie yang melihat Young Min ada di sana, wajahnya merona. Ia malu. Young Min bahkan terkejut menatapnya. Dasar Kyuhyun. Turun dari mobil, hingga naik ke lift, dia terus di angkat seperti itu oleh Kyuhyun. Memalukan!
BRAKK!
Kyuhyun membanting pintu kamar yang Channie tempati. Menurunkan Channie, lebih tepatnya menghempaskan tubuh Channie di atas king zise kamar ini. Channie sedikit meringis, sementara Kyuhyun—dada bidangnya yang masih terlapisi kemeja biru mudanya, terlihat naik turun. Pakaian serta tatanan rambutnya terlihat acak-acakan. Tapi, tetap tampan dan sexy. Wajahnya, menyiratkan emosi yang ia tahan. Matanya menatap lurus ke arah Channie.
Kyuhyun bergerak mendekat ke arah ranjang. Channie beringsut dan beranjak ke tepian ranjangnya. Berdiri. Berjaga-jaga, untuk lari kalau-kalau Kyuhyun berbuat nekat padanya.
“Jangan mendekat!” teriak Channie saat Kyuhyun kini beralih ke sisi ranjang di mana dia berdiri sekarang. Kyuhyun bergerak maju. Membasahi bibirnya dengan lidahnya dan kini tangannya memijit pelipisnya. Pusing. Entahlah, semuanya ini di luar dugaan Kyuhyun sama sekali. Dan baru kali ini. Dia meminggul tubuh seorang gadis, sepanjang umurnya.
“Ayolah! Kita, perlu bicara!” balas Kyuhyun berteriak.
“TIDAK! Keluar. Kau. Sekarang. Juga!” Channie menegaskan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Matanya masih memerah karena menangis tadi.
“TIDAK!”
Kyuhyun hendak meraih tubuh Channie ke dalam pelukannya. Tapi, tangan Channie mengisyaratkan STOP dengan kedua tangannya. “Jangan!” geram Channie. “Jangan sentuh aku. Dengan tangan itu—“
Wajah Kyuhyun seketika pucat mendengar apa kata Channie barusan. Seperti tidak percaya. Kyuhyun menghentikan langkahnya dan mengusapkan tangannya pada wajahnya dengan kasar. Dan terdengar nafasnya yang panjang. Dia terlihat begitu kacau. “Ya, Tuhan… maafkan aku, Channie.” gumam Kyuhyun lemah.
Channie masih kecewa dengan apa yang ia lihat tadi. Tapi, dia bisa apa? Apa hak dia. Dia hanya ingin sendiri sekarang. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Demi Tuhan, dia sudah sangat mencintai pria ini. Dia tidak mau, Kyuhyun bersama wanita lain, selain dirinya. Tidak mau!
“Channie—“ gumam Kyuhyun akan bergerak mendekat. Ia tahu, tubuhnya telah terjamah oleh wanita sialan tadi. Tapi semua ini demi menjaga—Arghh! Brengsek!!!
“Jangan sentuh aku!” Channie tanpa sadar mengeluarkan air mata. Ia terisak pelan. Kenapa sesakit ini, mencintai seseorang. Kenapa??? Dan kenapa pria itu harus, dia! Cho Kyuhyun.
“Jangan—jangan sentuh aku.” Channie mulai melemah. Ia tidak kuat berdiri. Hingga terduduk di lantai dan menangis tersedu. Pipinya yang merona, kini basah dengan air mata yang terus mengalir. Menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Menangis sepuasnya, di depan Kyuhyun.
“Jangan sentuh aku—“ ucapnya lagi dalam isakan tangisnya yang masih saja terdengar jelas oleh Kyuhyun.
Kyuhyun seperti di hantam bola besi mendengar Channie menangis tersedu sambil menutup wajahnya. Hatinya sakit. Terasa sangat nyeri. Dia tidak pernah sesakit ini sebelumnya. Tidak pernah. Perasaan macam apa ini. Dia tidak ingin melihat gadis ini bersedih. Ia ingin melihat tawa dan senyum gadis ini. Ia ingin melindungi gadis ini dari rasa sakit. Ia ingin terus berada di samping gadis ini. Selamanya.
Channie masih menangis. Entahlah. Semua masalah perasaannya, ia tumpahkan ke dalam tangisan ini. Biarlah, Kyuhyun meninggalkan dia setelah melihat ini. Dia tidak peduli. Dia sudah hancur. Dia sudah hancur sejak membuka hatinya untuk pria itu. Dia bodoh, bodoh berharap Kyuhyun akan berubah. Itu tidak mungkin. Kyuhyun masih tetap sama, seperti dulu. Ada berapa banyak wanita yang telah ia tiduri? Dan itu masih akan berlanjut walau telah membuat perjanjian bersama Channie.
Bodoh! Bodoh! Channie merutuki dirinya sendiri dalam tangisnya yang semakin deras dalam mengeluarkan air matanya.
Tiba-tiba, ia merasakan tubuhnya terangkat. Kyuhyun mengangkat tubuhnya. Menggendongnya ala brydal style. Apa? Kyuhyun menggendongnya? Ia akan berontak, tapi dia nyaman seperti ini. Menghirup aroma Kyuhyun. Mendengar detak jantung Kyuhyun. Ya, Tuhan. Bagaimana ini. Pria ini benar-benar membuatnya semakin jatuh cinta. Tangisannya sedikit reda. Tapi, isakannya masih keluar darinya. Kyuhyun membawanya ke dalam kamar mandi.
Menurunkan Channie di bawah shower, menyalakan shower dan mereka berdua di bawah pancuran. Channie berhadapan dengan Kyuhyun. Tapi, tangan Kyuhyun bahkan tidak menarik tubuhnya, untuk di peluknya. Dan ia masih belum berani menatap Kyuhyun. Setiap kali menatap bibir dan leher Kyuhyun, ia teringat tadi—saat wanita itu mencium dengan liar area itu. Hatinya sakit.
Mata Channie hanya tertuju pada dada bidang Kyuhyun. Kini mereka berdua telah basah. Kyuhyun perlahan melepas kancing kemeja biru mudanya, Channie kemudian menatap ke arah lain. Pipinya merona, membuat Kyuhyun menghembuskan nafas kasarnya dan memejamkan matanya. Pemandangan di depan Kyuhyun, begitu menggodanya.
Channie yang basah. Dengan mini dress yang masih melekat di tubuhnya, menampilkan lekuk tubuh Channie dengan sempurna. Sialan! Dia sangat sexy! Membuat gelenyar dalam diri Kyuhyun kembali bangkit. Tapi, tidak Cho. Kau harus membersihkan tubuhmu dulu dari jamahan wanita sialan tadi! Benar, kan?
Oh, Ya ampun. Sialan. Pangkal pahanya bereaksi, sekarang. Keras. Dan sakit.
“Mandikan aku, atau kau yang aku mandikan. Channie.” bisik Kyuhyun tepat di telinganya. Walau suara guyuran air shower memenuhi ruangan ini. Tapi, Channie bisa mendengar dengan jelas, apa kata Kyuhyun, barusan.
Seketika Channie mendongak. Tatapan mereka bertemu. Sorot mata Kyuhyun benar-benar membuatnya sulit berkutik. Menggelap dan penuh gairah. Kyuhyun kini menunduk lagi. Hingga wajahnya sejajar dengan wajah Channie. Jantungnya berdebar kencang. Sangat kencang.
“Aku tidak bisa menunggu. Lebih lama, lagi—” gumam Kyuhyun tepat di depan bibir Channie.

Fc Populer:

  • Ceritanya semakin bagus
    Semoga setelah keduanya mau saling terbuka

%d blogger menyukai ini: