Nothin’ On You Part 2

1
Nothin’ On You Part 2 ff nc kyuhyun super junior

FF “Nothin’ On You” Part 2 of ?? [Kyuhyun-Channie]
Author            : Dean Diinia / Youngie~  (@yesungcharger)
Cast                : Cho Kyuhyun, Park Channie.
Support Cast  : Park Jungsoo, Kim Juyeon, Lee Donghae, Kang Minhyuk, Etc
Ratting           : PG-18
Genre              : Romance/?
Lenght            : Unknown???
Ps                    : Perhatikan ratting. Tidak suka, tidak usah membaca! Don’t Bash!
***
Channie merasakan sakit di pergelangan tangannya saat ini, sambil menyeret kakinya mengikuti langkah kaki Kyuhyun yang panjang, ia kesulitan. Sialan, mau dibawa kemana dia. Bersyukur di dalam lift tadi pria itu tidak menciumnya, lagi.

Channie menunduk malu saat melewati meja sekretaris, para gadis itu terkejut dan segera berdiri dan membungkukkan badanya saat melihat Kyuhyun ;yang masih menyeret dirinya. Kyuhyun langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk, pikir Channie ini ruangannya? Apa memang begini kebiasaannya? Kasar?
“Oh, Hyung  tumben kau—“ pria yang ada di dalam ruangan ini terdiam ketika melihat Kyuhyun menggenggam tangan Channie. Ia sedikit meringis kesakitan.
“Donghae mana?” tanya Kyuhyun belum melepas genggaman tangannya walau Channie meronta. Pria asing di depannya ini menatapnya bingung, dan juga sesosok gadis disamping pria itu.
“Donghae hyung sedang di Cho Group, bukankah kau yang menyuruh membuat perjanjian dengan—“
“Ya ampun, aku lupa Minhyuk-ah. “ potong Kyuhyun. “Aku pinjam ruangan ini sebentar. Kau dan asisten barumu, bisa keluar kan? Nanti, aku perlu bantuanmu. Mengerti?”
Jadi ini bukan ruangan Kyuhyun? Tidak sopan sekali. Ah, kau lupa Park Channie, ingat… Kyuhyun pemilik gedung ini. Channie muak mengingat pria ini sangat berkuasa dan kaya.
Pria yang bernama Minhyuk ini mengerti, kemudian tersenyum pada Channie dan Kyuhyun karena tidak biasanya Kyuhyun membawa gadis dengan genggaman tangan seperti ini. Ini aneh dan langka. Gadis ini benar-benar WOW, mempesona. Pantas Kyuhyun hyung tergila-gila. Minhyuk mengangguk kan kepalanya singkat ke arah Channie. Membuat Channie salah tingkah.
“Minhyuk!!!” pekik Kyuhyun. Matanya menggelap menatap Minhyuk penuh ancaman. Minhyuk tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya.
“Sojung, ayo keluar. Kita ke ruanganmu.” Minhyukpun keluar bersama asisten barunya. Sojung membungkukkan badannya, menyapa Kyuhyun dan Channie kemudian berlalu dengan tangannya ditarik oleh Minhyuk.
Kyuhyun menatap dengan berdecak. Tskk! “Sudah berapa ganti asisten??? Tapi yang ini lumayan bertahan lama.” Gumam Kyuhyun. Channie tidak mengerti apa maksudnya ini.
“Duduk!” perintah Kyuhyun pada Channie. Channie masih marah, kesal karena kesewenang-wenangan Kyuhyun, Ia enggan duduk di sebelah Kyuhyun. “Channie, duduklah. Kau ingin kita membuat kesepakatan kan?”
Channie menelan ludahnya, ya dia ingin. Terpaksa. Tapi kenapa harus duduk denganmu, Cho Kyuhyun. Aku selalu tidak bisa menguasi diriku jika di dekatmu. Batinnya memprotes.
“Channie, kau duduk atau kau aku tiduri disini. Sekarang juga.” Ancam Kyuhyun yang kini duduk dengan santai. Tatapan matanya menyala, bagai predator siap memangsa mangsanya.
Dengan menggertakkan giginya, akhirnya Channie duduk  satu sofa dengan Kyuhyun, tentunya ia menjaga jarak. Kalau tidak terpaksa, dia mengatakan ‘Ya’ di depan Juyeon tadi, pasti dia tidak akan… Argh!
“Kalau kau tidak membangkang dan keras kepala, kesepakatan ini akan cepat selesai.” Ujar Kyuhyun sedikit marah padanya. “Lagi pula, kau juga tertarik padaku.”
“Ap…apa?” Channie seolah tidak percaya Kyuhyun begitu percaya diri. Ya ampun, tepat sasaran. “Terserah, cepat katakan.” Lanjutnya pasrah.
“Mendekatlah… sedikit.” Pinta Kyuhyun yang mengetahui Channie duduk agak menjauh. Channie sedikit bergeser sambil membenahi rok yang yang agak naik ;memperlihatkan sebagian pahanya. Dari jarak seperti ini, aroma Kyuhyun sudah tercium olehnya. Membuatnya berdesir, jantungnya berdebar, entah keberapa ribu kali. Channie mendengar Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar. Apa pria ini terpengaruh oleh gerakannya barusan. Dasar.
“Baiklah, langsung saja,” ucap Kyuhyun. Channie gugup, semoga keputusannya ini benar. Walau pasti ia terlihat murahan. Tapi, ini demi harga diri, kebahagian orang tua dan sepupunya, dan satu lagi… mungkin ia tidak waras, ia tertarik dengan pria ini.
“Aku bukan pria baik-baik. Maksudku, kau tahu kan. Wanita dan seks.” Kyuhyun menatapnya serius, dan Channie semakin gugup. “Apa yang dikatakan gadis jahat tadi, sedikit benar… tapi juga ada yang salah. Kau gadis di luar dugaanku, kau pengecualian.”
Ya Tuhan, aku bodoh atau apa. Mau-maunya aku berbuat seperti ini. Tidak Channie, Kyuhyun mau menikahimu. Dia bilang menikah. Batinnya menjerit. Tapi demi tubuhmu, ingat itu!
“Tapi, kau perlu tahu. Aku tidak pernah melakukan hubungan serius sejauh ini. Apalagi menikah. Itu tidak ada dalam pikiranku sama sekali.Aku lebih suka kebebasan tidak terikat, bersenang-senang… sabtu, minggu tiap akhir pekan dengan gadis berbeda. Aku juga tidak sembarang memilih mereka. Type pemilih, kau tahu kan. Kau sebenarnya bukan typeku… tapi….”
Apa tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada mendengar ini?? Tapi dia jujur Park Channie. Iya, tapi menyakitkan. Kau bukan typenya.  Batin Channie bergejolak, sedih.
“Tapi, entah…” Channie menatap Kyuhyun yang masih menatapnya tenang, dengan jari-jarinya mengusap bibirnya. Entah apa yang dipikirkan Kyuhyun tentangnya kini. Lihatlah, Kyuhyun bahkan terlihat sexy dan panas saat ini.
“Kau berbahaya… kau sangat berbahaya Park Channie. Kau. Sangat. Cantik.” Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. “Demi Tuhan, Menatapmu saja aku bergairah. Kau tahu, kau membuatku gila hanya karena kau menolakku. Kau sangat mempengaruhiku. Ini tidak pernah terjadi padaku sebelumnya…” Kyuhyun bernafas dengan kasar, Channie bisa merasakan nafas Kyuhyun ini.
Channie gusar mendengar apa kata Kyuhyun, ini mengejutkan baginya, bagi gadis awam sepertinya. Yang bahkan dia masih perawan. Keperawanannya ditukar dengan status dan hubungan intim di ranjang. Okey, tidak terlalu buruk. Channie sadar! Kau akan sakit jika kau jatuh cinta dengannya. Tapi, dia baru saja memujiku, kau berhasil mempengaruhi pria ini. Channie sedikit bangga. Pipinya merona lagi.
“Aku bersih, jika kau mengira aku mengidap penyakit menular, seperti HIV. Jika kau tidak percaya, besok aku akan serahkan surat kesehatanku, kau juga begitu. Jadi kita bermain aman. Kau paham?” Channie menelan ludahnya. Sialan, kenapa membahas sepertinya secara vulgar.
“Kapan, kita akan—“
“Tiga minggu dari hari ini, bagaimana? Biar aku yang mengurusnya. Tapi, tidak secara besar-besaran, hanya di gereja. Dan ini rahasia. Kau tahukan…”
Channie agak sedih mendengarnya. Ya, Kyuhyun pasti tidak ingin diketahui publik kalau dia menikah dengan gadis murahan dan miskin seperti dirinya. Ia ingin menangis. Dan sialnya ia tidak bisa menahan air matanya.Kyuhyun bergerak mendekat kearahnya.
“Channie, kau tahu. Aku menginginkanmu. Tidak memanfaatkan keadaanmu, ya walau itu sedikit menunjang…”
Ya. Semua demi pelepasan hasrat mu saja. Aku tahu. Batin Channie menggerutu.
“Berapa lama?” Channie memberanikan diri menatap Kyuhyun, dan tentunya ia mendapati Kyuhyun yang menatapnya. Tatapannya lain, sedikit sendu. Entahlah, Channie tidak mengerti.
“Aku tidak pernah membuat kontrak semacam ini. Bagaimana dengan dua bulan? Tiga bulan?” tawar Kyuhyun. Channie menghembuskan nafas panjang. Pernikahan pertamanya. Sesingkat itu. “Tiga bulan?” lanjut Kyuhyun.
“Baiklah…” jawab Channie, pasrah. Baginya memang pernikahan, tapi bagi Kyuhyun, perjanjian seks semata. Channie memejamkan mata. Hatinya sakit. Mungkin sebelum tiga bulan kau sudah bosan padaku Cho Kyuhyun.
“Kau jangan berpikiran kau seperti gadis-gadis—“
“Cepat buat perjanjiannya.” Potong Channie, suara sedikit bergetar. Tuhan, berkati aku. Maafkan aku. Batin Channie menangis. Demi demi harga diri. Sakit hatinya pada pernikahan sepupunya dengan ganti tubuhnya, harta, status. Tanpa ia duga, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya yang memerah. Ia terisak pelan. Jangan menangis lagi di depan pria ini. Jangan… dia merasa menyakiti hati kedua orang tuanya. Isakannya terdengar lebih keras. Sial. Ia menundukkan wajahnya.
“Oh sial, Channie. Kau menangis…” Kyuhyun menangkup wajah Channie dan menempatkan mulutnya di mulut Channie. Menekannya keras. Ia sedikit memberontak, karena lagi-lagi Kyuhyun menciumnya paksa. Bibir Kyuhyun menekan kuat dan  melumat bibirnya bergantian, dalam, intens dan  cepat. Seperti biasa, Kyuhyun berhasil menguasainya. Lumatan Kyuhyun berangsur tenang saat Channie juga sudah tidak memberontak lagi. Lidah Kyuhyun bahkan sudah berhasil masuk kedalam mulutnya, membelit satu sama lain dan Kyuhyun menghisapnya kuat-kuat. Channie hanya mampu memejamkan matanya, menikmati dan ikut membalasnya. Tangannya meremas lengan Kyuhyun. Ia tidak kuasa untuk menahan gejolak hasratnya. Kyuhyun mengerang saat tangan Channie kini berpindah ke lehernya, menekan kepalanya dan membangkitkan gairah Kyuhyun.
Channie merasakan tangan Kyuhyun kini di pahanya, mengusap dan menaikkan roknya sedikit hingga Channie mengerang dalam ciuman Kyuhyun apalagi saat ini tangan Kyuhyun berhasil menemukan daerah sensitifnya. Mengusap pelan, membuat Channie menggeliat.
“Ya ampun, kau basah…” bisik Kyuhyun dimulutnya dengan nafas yang terengah. Channie tidak bisa menahan gairahnnya kini. Wajahnya memerah, Kyuhyun menatapnya intens, kemudian menciumnya dengan tergesa-gesa dan lebih dalam. Memasukkan jarinya, tapi tangan Channie menahannya. Kyuhyun melepas tautan bibirnya. “Kau sangat sexy, kau tidak tahu dirimu sangat sexy di mataku Park Channie. Aku akan memberi sedikit kepuasan…” Ujar Kyuhyun tenang, “Percayalah, ini tidak sakit…” lanjutnya dengan suara yang menahan gejolak lobidonya, matanya sendu, penuh dengan gairah. Kyuhyun menutup kembali bibir Channie dan membawanya ke dalam ciuman yang panas dan tanpa ampun. Jari panjang Kyuhyun bergerak teratur, memutar dan menambah kecepatannya saat ciumannya berpindah pada leher jenjang Channie, membuat suara desahan Channie keluar dari bibirnya. Ini gila, kenapa rasanya senikmat ini. Baru pertama kali daerah sensitifnya disentuh oleh pria. Dan pria ini begitu sexy dan panas. Channie bisa merasakan tubuh pria ini menegang dibalik celananya, karena tubuh Kyuhyun menekan tubuhnya kesandaran sofa.
“Ya… begitu, mendesahlah…” suara Kyuhyun terdengar serak, nafasnya tersengal. Membuat wajah Channie tidak berhenti memerah. Ciuman Kyuhyun turun dari leher, kebelahan dadanya dengan menyingkap sedikit kemeja siffonnya, dengan jari-jari yang masih bergerak liar di bawah tubuh Channie. Tubuhnya lemas, terbakar, matanya sedari tadi  terpejam menikmati sentuhan Kyuhyun. Ia merasakan sesuatu ingin mendesak keluar dari dalam tubuhnya yang panas.
“Ya, tatap aku, sayang…” Channie membuka matanya, menatap Kyuhyun ;yang sekarang rambut coklatnya acak-acak karena tangan Channie dan tatapannya menggelap, erotis.
“Aku—“ Channie tidak tahu apa yang akan terjadi di dirinya, yang ia rasakan ia melayang ke tempat yang tidak pernah ia tahu sebelumnya. “Ya, lepaskan…” Ucap Kyuhyun sambil menyesap bibirnya kembali yang memerah dengan semakin cepat menggerakkan jari-jari panjangnya. Gelombang kepuasan itu datang. Channie memekik dan merangkul kuat leher Kyuhyun. Nafasnya tersengal hebat. Ya Tuhan, apa itu tadi… Kyuhyun juga demikian, pria ini bernafas di sela-sela lehernya dan mengecup singkat tengkuknya. Ia masih membiarkan Channie menikmati sisa-sisa orgasmenya. Nafas mereka berdua terdengar berat. Channie baru mengalami pelepasan yang sangat hebat, yang baru ia alami seumur hidupnya. Ia malu… sangat malu. Bisa-bisanya melakukan hal semacam ini. Di dalam kantor bersama pria ini pula??? Tapi kau suka?! Batinnya berkata lain.
Kyuhyun menarik jari-jarinya dan menghisapnya. Channie memalingkan wajahnya dan membenahi pakaiannya, kemudian Kyuhyun menarik Channie dan menekankan bibirnya, melumat kembali bibir Channie, agar merasakan nikmat cairannya bersama-sama.
“Kau sangat nikmat, Channie…” gumam Kyuhyun saat melepas tautan bibirnya. Ia kemudian membenamkan bibirnya pada dahi Channie, membuatnya berdesir. Kenapa Kyuhyun melakukan hal demikian. Ya ampun, ini masih awal ia bertemu Kyuhyun, sudah sehebat ini. Bagaimana dengan tiga minggu kedepan? Apa dia berhasil menahan diri, jauh dari pria ini?
“Aku akan kembali bekerja, segera buat perjanjiannya…” ucapnya lemah. Kyuhyun merenggangkan tubuhnya, sedikit bergeser dari Channie. Membenahi jas dan sedikit tatanan rambutnya, ia mengeluarkan ponselnya.
“Minhyuk, cepat kemari. Sendirian!” perintah Kyuhyun lalu memasukkan kembali ponselnya, menatap Channie kembali. “Ya ampun, wajahmu terlihat memintaku untuk menciummu kembali…” ujar Kyuhyun mendapat tatapan tajam dari Channie. Bisa tidak Kyuhyun tidak sevulgar itu mengatakan sesuatu tentang tubuhnya.
“Maaf, tapi kau memang begitu—menggodaku.”
***
Setelah perjanjian itu dibuat ;termasuk waktu hubungan intim mereka diranjang, Channie semakin gelisah. Bukannya ia menyesali, tapi ia merasa aneh dan benci pada dirinya sendiri. Ia merindukan pria itu. Ia mengakui dari lubuk hatinya yang paling dalam, walau ia selalu menolak mengakuinya. Setelah seminggu ini, ia tidak bertemu atau bahkan mendapat pesanpun tidak.
Channie, kau sendiri yang membuat agar menghindari pria itu kan? Kesepakatan memang telah dibuat. Channie sendiri yang menyuruh Kyuhyun agar tidak menemuinya atau menelpon, mengirim pesan selama tiga minggu, hanya keperluan pernikahan, itupun kalau sudah mendekati hari H mereka menikah. Channie melakukan itu karena ia tidak bisa apa-apa jika di dekat ataupun menatap Kyuhyun. Seakan ia tidak mempunyai kekuatan, pikirannya tidak fokus, dunianya goyah. Dan ia seperti orang bodoh,  itu yang ia rasakan. Betapa besar pengaruh Kyuhyun padanya. Dan alhasil, Kyuhyun setuju untuk syarat dari Channie ini.
Channie membuka website di ponselnya dan beberapa note yang Kyuhyun berikan padanya saat perjanjian dibuat, mengenai diri Kyuhyun, sebenarnya untuk mengenal Kyuhyun dan latar belakangnya, termasuk aset-aset Kyuhyun dan ia pusing saat tahu Kyuhyun lebih dari yang ia kira. Sialan. Menatap wajah Kyuhyun di layarnya membuatnya semakin tahu, ia dan Kyuhyun jauh berbeda. Keluarga Kyuhyun yang begitu terpandang, walau ayah Kyuhyun sudah meninggal ketika ia berusia 17 tahun.
Ya, Channie. Tiga bulan.. Ia cukup melakukannya tiga bulan, tiga bulan saja. Ia mendesah gelisah.
“Jam makan siang, ayo keluar.” Ajak Yura, membuatnya sadar sudah jam makan siang. Bahkan ia tidak minat makan. Pikirannya hanya pria itu. “Channie… ayo! Apa kau mau sakit lagi. Atau jangan-jangan kau memang ingin di tolong oleh CEO sexy dan tampan itu, huh?” goda Yura.
“Hey!” Channie melotot ke arahnya. “Ayo…”
“Ke cafetaria lantai sepuluh ya, aku bosan di lantai atas…” ajak Yura, Channie hanya mengangguk pasrah. Saat Channie beriringan dengan Yura, akan menuju lift tidak sengaja ia berpapasan dengan seseorang yang memenuhi pikirannya saat ini. Matanya terus tertuju pada Kyuhyun yang sedang berjalan ke arahnya bersama beberapa orang, terlihat sibuk berbicara dan paling menyakitkan adalah Kyuhyun tidak menatapnya, sama sekali.
Channie mencoba berpikir, pria ini sedang serius bekerja, sibuk,  jadi memang tidak melihatnya. Hey! Kamu siapa Park Channie? Ingat, kalian hanya membuat kesepakatan hubungan saling menguntungkan ;menurut Kyuhyun.
Jantungnya berdebar kencang saat Kyuhyun melintas di sampingnya. Aroma tubuh dan parfum Kyuhyun menyeruak ke dalam indra penciumannya. Bahkan, Channie begitu mengingat aroma ini. Tepat, Kyuhyun juga tidak menoleh, melirikpun tidak. Oh, okey, memang ini pilihanmu? Dia hanya menurutimu kan? Agar berpura-pura tidak saling mengenal. Tapi kenapa Channie tidak terima, apalagi di samping Kyuhyun tadi ada seorang wanita. Apakah wanita tadi itu pernah jadi partner di ranjangnya? Dadanya sesak seketika. Kapalanya sakit mengingat gadis-gadis yang pernah tidur dengan Kyuhyun.
“Channie! Ceo Berbahaya-kita… Astaga tampannya…” Channie hanya tersenyum masam mendengar celoteh Yura. “Kau beruntung ya, pernah digendong olehnya. Bayangkan kau merasakan tangannya, merasakan detak jantungnya. Oh My!” Yura memekik kegirangan, Channie hanya merasakan sakit hati sekaligus merindukan semuanya, sentuhan Kyuhyun.
“Kau tahu, semua heboh saat seorang Cho Kyuhyun menggendong karyawan biasa seperti kamu. Bayangkan! Itu tidak pernah terjadi selama dia memimpin perusahaan ini. Ya, sepertinya kau beruntung.” Tambah Yura lagi.
Ya. Aku memang beruntung… karena aku akan menikah dengannya, tapi hanya tiga bulan saja. Batin Channie sedih
“Tapi, sepertinya si tampan dan sexy itu tidak melihatmu tadi? Huh, aku kira dia akan menyapa. Pasti dia lupa, wajar dia selalu disibukkan oleh pekerjaan dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik.”
Channie menghembuskan nafas kasarnya mendengar Yura terus saja membicarakan Kyuhyun. Sebenarnya bukan salah temannya ini. Yura benar. Tapi, itu menyakitkannya. Memang hatinya lah yang membuat keadaan bertambah sulit sekarang. Pusing, mual mengingat dunia Kyuhyun yang jauh berbeda dengannya.
***
Tiga hari berlalu dari kejadian ia bertemu Kyuhyun dengan kesan yang menyakitkan. Channie masih mengingat itu dan entah kenapa rasa sakit itu masih terasa. Jam kerja sudah selesai, lagi-lagi rutinitas yang sama. Pulang kerja. Malam, tidur, begitu seterusnya. Berharap ia akan bertemu Kyuhyun tidak sengaja, walau hanya di loby atau di dalam lift.
Bodoh?!!
Saat Channie keluar dari loby, ia melihat sesosok yang tidak asing olehnya. Sepupunya. Kenapa dia tidak bahagia seperti dulu saat ia bertemu dengan Jungsoo?
“Ada apa kemari?” sapa Channie dan Jungsoo menoleh ke arahnya. Tersenyum sedikit pada Channie dan mengusap ujung kepalanya ;kebiasaan pria ini. “Tidak lembur pak wakil direktur?” goda Channie lagi.
“Astaga. Kau ini—“ Jungsoo menghentikan senyumnya ketika melihat sesuatu yang lain di mata Channie, ia hafal sekali perilaku adiknya ini. “Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Kau tidak  keberatan kan?”
“Bicara apa? Tentu saja—“ Channie berpikir sejenak, Kyuhyun. Kyuhyun tidak mungkin melarang Channie bertemu dengan Jungsoo. “Tentu saja tidak apa-apa. Ayo.”
“Kyuhyun, aku ingin membicarakan dia. Hubungan kalian. Demi Tuhan, aku khawatir denganmu. Kau terlihat lain akhir-akhir ini, hubungan kalian seperti apa—aku mencemaskan mu…”
Channie mengerjapkan matanya, Jungsoo benar. Ia berubah karena pria sinting itu mempengaruhi semua yang ada padanya, hati, pikiran, semuanya. Ia hampir gila dibuatnya. Perasaannya seperti apa ke Kyuhyun dan Jungsoo? Dia bingung.
“Ayo, kita ke cafe langganan kita.” Jungsoo sadar Channie terlalu banyak berpikir. Saat Jungsoo akan menarik Channie, ponsel Channie berbunyi. Ada pesan masuk. Dari Kyuhyun, belum membaca saja, dadanya sudah berdebar-debar.
‘Berhenti di situ. Jangan kemana-mana. Aku ingin membahas sesuatu denganmu. Sekarang.’
Channie melihat ke sekelilingnya, apa Kyuhyun tahu dia bersama Jungsoo sekarang. Tapi, tidak ada siapa-siapa. Channie kemudian membalas.
‘Bagaimana? Aku sudah terlanjur akan pergi dengan Jungsoo, kakak sepupuku’ Channie sepertinya menegaskan bahwa dia dan Jungsoo, bersaudara.
‘Jangan membantah atau aku akan melanggar aturan yang kau buat sebelum menikah?’
Channie tahu apa itu. Ya, apalagi kalau bukan dia menyerah di tempat tidur sebelum menikah. Dasar, dia tahu kelemahan Channie. Channie, menatap Jungsoo dengan tatapan meminta maaf dan menyesal.
‘Baiklah. Kita akan bicara.” Balasnya.
“Ada apa?” tanya Jungsoo bingung, “Kau ada janji dengan Kyuhyun?” tanyanya lagi.
“Ya. “ Channie mengangguk lemah. “Maafkan aku, mungkin lain kali atau Jungsoo oppa datang ke rumah.”
Jungsoo tersenyum, tapi ia sedikit kecewa. “Baiklah, hati-hati.” Ia mengusap pipi Channie, dan tersenyum sambil berlalu pergi. “Salam untuk Paman dan Bibi…”
“Ya…” Channie memberikan lambaian tangannya sambil menatap mobil Jungsoo yang berlalu dari hadapannya. Ia menghembuskan nafas panjang. Cho Kyuhyun. Pria itu lagi, baguslah, lagi pula aku merindukannya. Aku merindukan wajah sialan tampannya itu. Batin Channie menjerit frustasi.
Tak selang berapa lama, Bentley SUV  mewah tepat berhenti di depannya. Ia menelan ludahnya dengan sulit. Tahu siapa yang ada di dalam, hanya dengan melihat kilatan mobil ini. Seorang sopir keluar dan membukakan pintu penumpang bagi Channie. Sopir itu tersenyum lembut padanya.
“Nona Park, silahkan masuk, Tuan Kyuhyun menunggu anda di dalam.” Ujarnya lembut namun tegas. Sopir ini terlalu rapi dan berwibawa, batinnya. Channie mengangguk ragu, tapi kemudian ia menurut. Dadanya berdebar kencang saat ia masuk dan menadapati Kyuhyun sedang duduk di sana dengan matanya menatap ke depan. Jasnya sudah tidak melekat di tubuhnya, hanya tinggal kemeja putih yang melekat pas, menggambarkan dada bidangnya dan dasi yang sudah dilonggarkan. Auranya tetap  dingin, bahkan lebih dingin. Rahangnya terlihat mengeras. Dia marah. Tapi dia sangat tampan. Dan Channie merindukan wajah ini.
Channie memposisikan dirinya jauh di ujung dan dekat dengan jendela. Tiba-tiba Kyuhyun menutup sekat otomatis, lalu dengan cepat beralih di samping Channie, menyudutkannya dengan tubuh tegapnya. Tangannya membungkus tubuh Channie, disekelilingnya. Lalu, membungkam bibir Channie dengan bibirnya. Menekannya keras, melumat bibir Channie yang merah muda dan sangat menggoda itu dengan cepat dan tergesa-gesa. Channie yang mendapat ciuman ini tiba-tiba hatinya berdesir hebat, setelah itu ia hanya mampu menutup matanya, dan akhirnya sedikit demi sedikit larut dalam pagutan yang liar dan panas. Degub jantungnya terus berdebar keras. Dia seperti terbakar jika bersentuhan dengan Kyuhyun. Tangan Kyuhyun menarik wajahnya mendekat agar ciumannya semakin dalam. Lidahnya sudah berhasil menerobos dan bergerak liar di dalam mulutnya dan mencari dominan dalam ciuman ini. Erangannya terdengar oleh Channie, membangkitkan gairahnya. Kyuhyun tidak memberikan Channie kesempatan untuk bernafas. Channie hampir gila, disamping ia juga sangat merindukan ciuman ini. Sentuhan Kyuhyun di tubuhnya.
Channie terengah, bibirnya terbuka dan terasa bengkak. Ia mencari oksigen. Tapi, Kyuhyun terus melumatnya tanpa ampun. “Kyu…hhh…hyun…” desah Channie dalam ciumannya. “Jeb…jebal…mmphhh…” Kyuhyun seolah tidak peduli dengan permohonan Channie barusan. Nafasnya tersengal hebat. Mencium Channie kuat dan kasar seolah tidak akan pernah berciuman lagi dengannya. Channie berpikir, apakah Kyuhyun menumpahkan ciuman hebat dan gila namun sangat bergairah ini karena kerinduannya pada dirinya? Tidak mungkin. Kyuhyun hanya bernafsu melihatmu. Batinnya memprotes. Tapi, ciuman ini lain dari ciuman-ciuman Kyuhyun padanya, sebelumnya. Ini sangat posesif, hangat dan liar.
Kyuhyun menyesap-nyesap kecil bibir Channie bergantian, sambil menormalkan deru nafasnya yang memburu. Begitu juga Channie. Ia lemas, tak berdaya. Dada mereka masih naik-turun dengan cepat. Channie memejamkan matanya, dan bisa merasakan nafas Kyuhyun di mulutnya. Kyuhyun terengah, sama sepertinya. Channie akhirnya membuka matanya, saat Kyuhyun melepas tautan bibirnya. Kyuhyun menatap bibirnya intens, dengan dahi mereka saling bersentuhan.
“Ah, ya ampun… Channie…” Kyuhyun menghembuskan nafasnya pendek-pendek. Ciuman barusan begitu hebat hingga mereka sepertinya kehabisan okseigen di seluruh tubuhnya. “Kau apakan aku, huh…” Kyuhyun mengecup singkat tepian bibir Channie. Channie merona dan seketika ia menegang. Channie tak kuasa berbicara. Tenaganya habis terkuras oleh ciuman Kyuhyun.
Kyuhyun menarik tubuh Channie di pangkuannya, Channie duduk dengan menghadap Kyuhyun. Kyuhyun mengerang pelan merasakan Channie di atasnya. Menangkup wajah Channie kemudian menatapnya dalam-dalam. Sorot matanya penuh dengan gairah. Menggelap. Dan sialan, wajah tampannya terlihat sexy. “Sepuluh hari berlalu… Sialan, kau membuatku gila—“ bisik Kyuhyun di depan bibirnya. Kemudian tanpa diduga Channie merasakan bibir lembut dan panas Kyuhyun melumatnya kembali, tapi kali ini lebih pelan tidak seperti tadi. Membuat tubuh Channie memanas kembali, gelenyar dari tubuhnya bangkit. Tanpa ragu ia membalas lumatan Kyuhyun yang semakin dalam, hingga ia mendengar erangan Kyuhyun dalam ciumannya. Terengah kembali saat ciuman Kyuhyun turun ke lehernya, Channie merangkul erat leher Kyuhyun dan memporak-porandakan rambut coklat pria ini. Seolah menyatakan kepemilikannya, Channie bisa merasakan lehernya perih dengan bekas hisapan bibir Kyuhyun yang begitu kuat. Desahan hebat Channie membuat hasrat Kyuhyun semakin bergejolak, tangannya tak tinggal diam. Meremas dada Channie, membuatnya menegang.
“Kyu, aku mohon…” bisik Channie dengan nafas tersengal. Kyuhyun tersadar, Ia menghentikan gerakan tangannya dan menjauhkan wajahnya dari lekukan leher Channie. Menatap Channie dengan tatapan sendu, dan masih ada nafsu disana. Nafas mereka saling beradu. Kyuhyun kemudian menarik tubuh Channie dalam pelukannya. Mendekapnya erat. Channie bisa mendengar detak jantung Kyuhyun yang berdebar sama hebatnya dengan detak jantungnya. Ini gila.
Kyuhyun mengecup puncak kepalanya dan menghirup aroma rambut Channie, dalam-dalam. Hati Channie berbunga-bunga. Posisi mereka masih sama, dan terasa sangat intim.
“Jangan membuatku marah dengan kau memperbolehkan pria lain menyentuhmu seperti tadi, Park Channie.” Gumam Kyuhyun, tegas dan serak. Channie tidak bisa menjawab, dia kehabisan nafas dan energi. “Kau dengar. Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi. Mengerti? Aku bisa gila jika pria lain menyentuhmu.”
Dan aku juga gila memikirkan kau tidur dengan banyak gadis selama ini. Batin Channie menyahut, sedih.
Channie mengangguk singkat. Inilah posesifnya Kyuhyun. Ia akan membantah percuma saja, lagi pula ia masih nyaman bersandar di dada Kyuhyun. “Hmm…” hanya itu jawaban Channie lantas Kyuhyun mencium puncak kepalanya kembali.
“Eomma dan Nunaku ingin bertemu dengan mu.” Channie mendongak, “Tidak perlu takut. Mereka bukan type orang yang kau pikir seperti di dalam drama-drama. Mereka menyukaimu. Percayalah.” Seolah Kyuhyun tahu apa yang ada di dalam pikiran Channie. Apa? Menyukai Channie? Apa Kyuhyun sudah bercerita tentangnya.
“Tapi aku—“ Kyuhyun menutup bibir Channie dengan mengecupnya singkat.
“Ssshh… Kau berbeda. Kau lebih dari gadis manapun. Sadarlah, kau itu… Terlalu menarik.” Ucap Kyuhyun tenang.
Diam sejenak. Channie merona atas apa ucapan Kyuhyun barusan.
“Ahra nuna sangat penasaran. Sekalian, mengukur tubuhmu untuk gaun pengantin nantinya. Keluarga kami juga—“ Lanjut Kyuhyun, seketika wajahnya merona.
“Aku tahu,  kalian mempunyai jaringan bisnis pakaian, butik  dan semacamnya…” potong Channie.
“Ya. Kau benar.” Jawab Kyuhyun tenang. “Ah, ya ampun. Jangan merona di saat seperti ini. Aku tidak bisa menahan untuk menciummu lagi… kau tahu?” bisik Kyuhyun di telinganya. Ia bergidik karena nafas Kyuhyun menerpa daerah sensitifnya.
Kyuhyun menggeser posisinya, dan menekan tombol lalu sekat otomatis terbuka. Channie seketika sadar dan turun dari pangkuan Kyuhyun. Sialan Kyuhyun. Channie merapikan gaunnya yang berantakan akibat ulah mereka barusan. Mengingat itu membuat wajahnya memanas.
“Young Min, antar kami ke rumah.” Perintah Kyuhyun. Channie berdebar-debar, kemudian tangan Kyuhyun meraih tangannya. Diselipkan jari-jari panjangnya ke dalam jari-jari lentik Channie. Meremas pelan, dan Channie akui ini mengurangi rasa gugupnya akan bertemu dengan keluarga Kyuhyun.
“Dan, Channie…” Kyuhyun menoleh ke arahnya. Channie juga menoleh ke arah Kyuhyun. Tatapan mereka sulit di artikan. “Maaf…”
“Apa?” tanya Channie bingung. “Untuk apa?” tanyanya lagi.
“Tempo hari, aku mengabaikan mu.” Jawab Kyuhyun, lalu ia bergeser mendekat ke tubuh Channie. Tangan Kyuhyun masih menggenggam erat tangannya, seolah tidak mau dilepas. “Kau yang meminta syarat sialan itu. Aku sangat tersiksa. Kau di depanku tapi tidak menatap dan menyentuhmu itu membuatku gila.”
Channie tercengang mendengar kata-kata Kyuhyun barusan. Benarkah? Aku juga begitu. Aku menangis semalaman karena kau mengabaikan aku, kau tahu. Batin Channie menjerit. Ia ingin mengatakan tapi ia takut dan malu.
“Aku ingin, kau menarik syarat sialan itu.” Jelas Kyuhyun tenang, “Aku bisa bertemu denganmu, di kantor, di rumahmu. Menelpon, mengirim pesan untukmu. Aku janji tidak akan melakukan lebih dari ciuman.” Channie meremang mendengar apa yang Kyuhyun ucapkan barusan.
“Lagi pula, aku memastikan kau aman Channie-ya.”
***
Sejak pertemuannya dengan keluarga Kyuhyun, perasaan Channie sedikit tenang. Ternyata di luar dugaannya sama sekali. Ibu dan kakak Kyuhyun sangat baik padanya. Tapi entah, sikap Kyuhyun di sana juga masih tampak dingin. Entahlah, memang itu khas dari Kyuhyun.
Sesuai dengan permintaan Kyuhyun, ia menerima telepon dan pesan. Walau hanya aturan-aturan agar Channie selalu dalam kata aman dari pria-pria. Sungguh, sangat posesif. Walau banyak aturan dan perintah, Channie berusaha menerima dengan sabar. Ia sudah terbiasa dengan sikap Kyuhyun yang seperti ini.
Tak ayal, kadang Kyuhyun muncul tiba-tiba di dalam lift yang ia naikki. Menyebabkan semua orang menyingkir dari lift, dan hanya tinggal mereka berdua. Bisa di pastikan apa yang terjadi. Ciuman panas yang bergelora dan membakar tubuh mereka dalam gairah, menyalurkan hasrat masing-masing. Channie juga semakin ketagihan dengan ciuman dahsyat Kyuhyun. Kejadian ini terjadi berulang kali hingga tiba hari dimana mereka akan menikah.
Mengikat janji di rumah Tuhan, di hadapan pendeta. Hanya keluarga dekat saja—seperti apa kata Kyuhyun. Pernikahan ini belum bisa gopublik alasannya karena bisnis Kyuhyun yang membuat keadaan seperti ini—sebenarnya adalah kontrak perjanjian mereka, agar jika berpisah juga tidak ada orang yang tahu— Menyedihkan memang. Tapi Channie berani mengambil jalan hidup seperti ini karena ia yakin bisa membatasi perasaannya pada sang penebar pesona yang mematikan, Cho Kyuhyun.
Dan menikahlah mereka berdua, dengan disambut haru tangis dari keluarga Channie yang melepas anak semata wayang mereka yang cantik. Apalagi ayahnya, entahlah ada yang dia sembunyikan dibalik senyum bercampur tangisnya itu.
Setelah acara pemberkatan dan jamuan makan malam di rumah—Kyuhyun dan keluarganya menyebutnya ‘rumah’ padahal ini melebihi rumah mewah, sebuah Mansion yang membuat Channie ternganga pada saat pertama ia datang ke Mansion ini.
Kehidupan yang mereka pilih baru saja dimulai…
*Flashback end*
Mereka masih saling diam dan masih menatap indahnya malam kota Seoul dari dalam penthouse ini, serta masih dengan pikiran mereka masing-masing. Channie mendengar Kyuhyun menghembuskan nafas panjangnya, ia pun memberanikan diri menoleh ke arah Kyuhyun di saat bersamaan Kyuhyun juga menoleh ke arahnya.
“Masih ingat perjanjiannya kan?” tanya Kyuhyun. Pertanyaan bodoh, batik Kyuhyun.
“Ya.” Jawab Channie pelan. Sebenarnya Channie sangat gugup kalau ingat perjanjiannya dengan Kyuhyun. Apalagi mengenai hubungan seks yang Kyuhyun jadwalkan setiap menjelang akhir pekan. Membayangkannya saja wajah Channie sudah memanas. Dan sialnya ini hari minggu… bersiaplah Park Channie.
“Bagus.” Ujar Kyuhyun singkat, Channie mendengar Kyuhyun menghembuskan nafas kasarnya. “Besok pagi, akan dokter ke sini. Kau tahu kan, mengenai kontrasepsi? Sejauh berhubungan denganmu, aku tidak ingin memakai pengaman sialan. Jadi saat kita berpisah, tidak akan ada anak…” jelas Kyuhyun, walaupun pelan namun terdengar tegas.
Mata Channie memerah. Kemudian ia mengalihkan tatapan ke arah luar. Sedih, hatinya seperti ditusuk-tusuk. Sakit. Hey, kenapa kau bersedih? Memang awal ikatan ini tidak di dasari cinta, jadi tidak akan ada anak. Kau mengerti Park Channie?
“Ya. Aku tahu…” jawabnya lirih, suaranya terdengar serak.
“Istirahatlah. Aku pergi dulu.” Kyuhyun berbalik meninggalkan dia yang kini sedang menahan laju air matanya. “Dan, anggaplah ini rumahmu sendiri. Kau tidak usah menungguku pulang, aku akan tidur di apartmentku yang lain.”
Ya. Kau pasti bersenang-senang dengan wanita-wanitamu. Melakukan hubungan sampai kau tidak bisa berjalan kan? Dasar! Aku benci kau. Batinnya berteriak frustasi.
Setelah Kyuhyun pergi menjauh, barulah Channie terisak dengan air mata yang terus mengalir. Kenapa dia sakit mendengar Kyuhyun tidak akan pulang—dalam perjanjian memang urusan tempat tinggal terserah Kyuhyun, pulang atau tidak, kecuali jum’at malam sampai hari minggu, Kyuhyun berhak meminta kewajiban Channie sebagai istri.
Channie, jangan memakai perasaanmu, kau tahu? Tapi Kyuhyun yang tadi berbeda dengan Kyuhyun saat mereka belum menikah. Apa Channie berbuat salah. Ia mengusap air matanya. Dan berbalik, menuju kamarnya.
“Nona, ini saya buatkan coklat hangat dan kue untuk anda…” ujar bibi Han—pengurus penthouse Kyuhyun. Tersenyum simpul pada Channie, dan Channie hanya mengangguk singkat.
“Sini bi, aku bawa sendiri ke kamar. Terima kasih…” ucap Channie, malu karena ia ketahuan menangis. “Jangan panggil aku Nona, panggil saja Channie.”
“Tapi, saya lebih enak memanggil Nona, anda kan istri tuan muda.” Elak bibi Han—wanita setengah baya, sangat lembut dan penyayang. Channie tahu karena Kyuhyun sudah memberitahunya, sebelum membawa Channie kemari. Wanita ini, sudah mengabdi pada keluarga Cho sejak Kyuhyun berusia 5 tahun.
“Aku mohon…”
“Baiklah, Channie…” ujarnya tersenyum.
“Selamat malam…” ucap Channie sambil berlalu ke kamarnya. “Dan, Channie-ya. Jangan bersedih. Tuan muda, orang yang sangat baik. Percayalah. Dia sangat menyanyangimu.” Ucap bibi Han, membuat Channie berhenti dan menoleh sekilas dengan senyum masamnya. Ia berpikir, bibi Han menghiburnya saja.
***
Sementara itu, di tempat lain. Kyuhyun sedang termenung sambil memegang gelas yang sudah terisi kembali dengan minuman kesukaannya, wine. Menggoyangkan sambil menatap cairan yang berwarna merah itu, sementara pikirannya menerawang. Tersenyum masam. Seharusnya dia menikmati tubuh gadis yang membuatnya gila akhir-akhirnya. Yang membuatnya ejakulasi walau hanya menatap dan membayangkan wajah gadis itu. Sampai dia tidak berhubungan atau menyalurkan pelepasan seksualnya pada wanita-wanita yang dengan setia melemparkan tubuhnya untuk ia tiduri. Kyuhyun tidak bernafsu dengan mereka, tidak bisa. Akhirnya setiap ia ingin pelepasan, ia mempermalukan dirinya sendiri dengan memuaskan dirinya dengan tangannya sambil membayangkan Park Channie yang melakukan itu padanya. Benar-benar bukan seorang Cho Kyuhyun.
Demi tubuh itu, dia bahkan rela melakukan perjanjian bodoh dan menikah—salah satu hal yang tidak terlintas dalam pikirannya selama ini. Seharusnya kan, malam ini dia menuai hasilnya? Kenapa hal sekecil itu membuatnya malah mengeluarkan kata-kata yang membuat gadis itu menangis lagi?
Hal kecil itu yang dimaksud adalah, saat menjelang pernikahan. Kyuhyun melihat gadisnya menangis dalam pelukan pria yang dicintai Channie—Mereka berpelukan erat. Menangis bersama di ruangan pengantin wanita. Yang bahkan Kyuhyun tidak pernah mendapat balasan pelukan seperti itu sebelumnya dari Channie. Entah kenapa hatinya seperti ditusuk-tusuk. Sakit. Channie membiarkan pria itu mencium kedua pipinya, dan menghapus air matanya. Sialan. Kyuhyun benar-benar marah melihat pemandangan ini. Kyuhyun tidak pernah mengira akan seperti ini rasanya sakit hati. Perasaan apa yang tumbuh di hatinya kini? Dia sendiri tidak tahu…
“Pengantin baru, kenapa malah di sini… bukannya bermesraan di atas ranjang. Hum?” nada suara pria yang menjadi kuasa hukum Kyuhyun, lebih tepatnya perusahaan dibawah kuasanya—Lee Donghae—terdengar menggodanya. Menepuk pundak Kyuhyun, heran melihat Kyuhyun setengah mabuk. Tidak biasanya.
“Hey! Bukankah perjanjian itu untuk memuaskan hasratmu terhadap tubuh gadis yang membuatnya gila, Cho Kyuhyun. Lalu kau seperti ini?” Donghae tidak menyangka sama sekali dengan jalan pikiran sahabatnya ini.
“Mau yang lebih keras?” Suara Minhyuk yang baru datang, membuat Donghae melotot ke arah sepupunya ini. “Apa hyung?” timpal Minhyuk. “Vodka, bagaimana?” tanya Minhyuk pada Kyuhyun.
“Boleh…” jawab Kyuhyun tanpa ekspresi. Minhyuk dengan tenang menuangkan minuman yang dimaksud ke dalam gelas.
“Kau antarkan dia pulang, kalau dia mabuk.” Donghae menuangkan wine, kemudian melihat Minhyuk mencibir ke arahnya. “Hey! Cho Kyuhyun, kau kenapa sih sebenarnya? Bukannya kau menikah karena memang ingin segera merasakan tubuh gadis yang kau gilai itu? Kau pernah bilang, hanya menatapnya saja kau bisa ejakulasi.” Donghae kesal melihat Kyuhyun berulang kali minum cairan panas itu.
“Hyung… “ ucap Minhyuk lemah. “Dia terlihat patah hati, kau tidak tahu ya?” mata mereka berdua tertuju pada Kyuhyun yang terus menerus minum. Donghae mengerjap tidak percaya. Apa? Kyuhyun patah hati? Mustahil? Bahkan Kyuhyun belum meniduri gadis itu? Eh?
“Hey, Kang Minhyuk. Kau kenapa bisa—“ Donghae menghentikan sejenak, berpikir. “Jangan bilang, dia jatuh cinta pada istri kontraknya? Ini—ini tidak mungkin. Seorang Cho Kyuhyun. Bayangkan…”
Minhyuk tersenyum seolah mengejek, “Kau belum merasakan. Makanya, jangan mengumbar rayuan. Jatuh cinta baru tahu rasa kau.” Timpal Minhyuk membuat Donghae mencibir.
“Lalu, apakah kau juga sudah jatuh cinta. Tumben sekali, kau lebih manusiawi?”
“Apa? Ti…tidak juga.” Minhyuk gugup, lalu menenggak minuman yang baru ia tuang ke dalam gelas. Donghae tersenyum mengejek.
“Jangan bilang kau menyukai asisten barumu. Jung So Jung, hey Kang Minhyuk?” selidik Donghae. Minhyuk mulai kelabakan.
“Tidak hyung! Bagaimana bisa aku menyukai gadis cerewet dan kejam seperti dia?”
“Baiklah, biar aku maju kalau begitu.” Goda Donghae, “YA!!!” pekik Minhyuk. “Dia, hanya milikku—“
“Kalian—“ Erangan Kyuhyun terdengar menakutkan. “Bisa diam tidak. Berisik! Cinta, cinta, wanita terus yang kalian bicarakan. Memuakkan!” Kyuhyun membanting gelas kosongnya.
“Lagi—“ ucapnya, “Minhyuk—tolong yang lebih keras dari vodka atau—“ pinta Kyuhyun meracau. Donghae tersenyum mengejek. “Biasanya dia akan bermain dengan wanita-wanita pilihannya. Kenapa hanya alkohol?”
“Diam kau ikan bodoh—“ Donghae mencibirkan bibirnya. Apa? Kyuhyun mengatainya Ikan bodoh? Sialan! “Kalau kalian tidak mau di sini. Pergi sana. Main dengan wanita yang ada di club ini sepuas kalian. Aku tidak peduli dengan wanita-wanita sialan itu! Pergi kalian—“ Kyuhyun memejamkan mata kemudian membukanya kembali. Sudah berapa botol minuman keras ia habiskan?
“Aku antar pulang!” Minhyuk membopong tubuh Kyuhyun, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Kau menghubungiku, untuk pamer kau sukses berkencan dengan pria idaman mu kan?” lantang Minhyuk. “Apa—“ wajah Minhyuk pucat seketika, “Jangan kemana-mana. Diam di situ. Ya. Tunggu aku—“
“Sialan kau So Jung-ie, jangan menangis!” Minhyuk kemudian mematikan teleponnya. “Hyung, kau yang antar ya. Aku ada—“
“Sudah, pergi sana. Biar pengecut ini aku yang urus.”
“Terima kasih…” Donghae menggelengkan kepalanya setelah sepupunya itu pergi dari ruangan ini. Kemudian menatap iba ke arah Kyuhyun yang kepalanya masih menempel pada meja bar yang ada di ruangan ini.
“Apa yang terjadi. Hey, kau sudah ku anggap saudaraku, aku menyanyangimu. Tolong ceritakan padaku, aku sedih melihatmu Kyuhyun-ah.” Kata Donghae pelan. Donghae sangat terpukul melihat keadaan Kyuhyun, yang seumur hidup tidak pernah seperti ini. Ini sangat aneh.
“Dia mencin—tai pria itu sejak dulu. Aku? Siapa—aku? Aku baru saja bertemu dengannya. Pria sialan itu—“
“Husshh… aku antar kau pulang.” Donghae memanggil bodyguard untuk membawa Kyuhyun, melewati pintu lain dari club ini. Bahaya jika orang-orang tau Ceo yang sangat di segani, terlihat mengenaskan seperti ini.
“Aku masih ingin minum! Persetan—“ pekik Kyuhyun, hendak bangkit menuju tempat minuma-minuman alkohol berlebel ‘mahal’ itu, tapi Donghae menahannya. “Kata Ryeowook—Asisten Kyuhyun—Besok ada pertemuan penting dengan Perusahaan Amerika. Kau mau gagal. Huh! Jangan bodoh! Ayo pulang!”
“Jangan di penthouse—ada dia.” Donghae mengernyit. Apa maksud Kyuhyun ke tempat salah satu wanita-nya—partner di ranjangnya— “Ke tempatmu saja.” racau Kyuhyun. Donghae lega Kyuhyun tidak ke tempat wanita-wanitanya. Kyuhyun hanya tidak mau Channie mengetahui keadaannya yang kacau seperti ini.
“Baik—baiklah Mr.Cho yang nakal.” Ucapnya pasrah. “Dasar, mabuk juga sifat memerintahnya masih melekat.”
***
Kyuhyun mengerjapkan matanya, silau matahari dari korden tipis mengenai panca inderanya. Aroma masakan sudah tercium. Apa Channie memasak? Channie?!! Kyuhyun segera terbangun dan mendapati dirinya ada di kamar yang tidak asing baginya. Ia mendesah berat. Memijit kepalanya yang masih pening.
“Minum ini, dan segera bangun. Kau ada pertemuan jam sepuluh.” Ucap Donghae meninggalkan Kyuhyun, “Dan beritahu Channie, dia bekerja naik apa, karena dia tadi menelpon mu. Tidak mau Young Min mengantarnya. Dia pikir mungkin itu berlebihan baginya—“
“Apa?” Kyuhyun melongo, Channie menelponnya. Dan kenapa Donghae mengangkat teleponnya. “Kau mengangkat teleponnya!” geram Kyuhyun.
“Ya.” Donghae menatap Kyuhyun. “Dia menelponmu berulang kali, aku pikir—“
“Bicara apa saja kau!” potong Kyuhyun, Donghae mengernyit. Kyuhyun berlebihan sekali. “Hey, Kau bicara apa saja dengan—“
“Tenang, Mr. Cho. Aku. Hanya. Menjawab. Kau di sini. Kau masih tidur. Itu saja.” Jelas Donghae dengan mengeja setiap kalimatnya. “Kau pikir aku bodoh mengatakan kau mabuk berat dan sangat mengenaskan tadi malam hanya karena melihat istrimu berpelukan—“
“Apa kau bilang!“ Kyuhyun kesulitan menelan ludahnya. Jakunnya bergerak naik turun. Apa yang ia bicarakan saat ia mabuk. Sial. Jangan bilang Donghae mendengarnya. Lantas, ia mengatakan apa? Ya Tuhan, dia lupa. Atau jangan-jangan. Channie… gumam Kyuhyun sekilas saat mengingat kejadian tadi malam.
“Mati kau IKAN—“ pekik Kyuhyun saat menyadari Donghae sudah keluar dari kamar ini dengan berlari. Sialan!  Kyuhyun lantas mengambil ponselnya dan segera menghubungi Channie.
“Hallo—“ jawab Channie. Demi Tuhan, jantungnya berdebar di saat seperti ini. Rileks Cho Kyuhyun. Rileks. Kenapa kau gugup hanya akan mendengar suaranya.
“Kau di mana?” tanya Kyuhyun saat Channie menjawab teleponnya. “Aku masih di penthouse-mu. Bagaimana bisa kau menyuruh Young Min ahjushi mengantarku. Orang-orang pasti curiga—“
“Lalu kau mau naik apa? Bus? Jangan gila—“ Kyuhyun tidak habis pikir dengan Channie. Bukankah di perjanjian sudah tertulis, dia bisa menikmati semua vasilitas Cho Kyuhyun.
“Iya, aku naik bus.” Jawabnya tegas. “Kau—“ Kyuhyun memijat keningnya lagi. Pusingnya masih terasa, dan ia tidak mau bertengkar di pagi hari. “Jangan naik bus, Park Channie. Tubuhmu bisa bersentuhan dengan pria lain dengan mudah. Kau ini sudah menjadi milikku ingat itu, aku—“
“Cho Kyuhyun yang terhormat. Aku tahu. Jangan berlebihan…” Channie menghembuskan nafas kasarnya. “Mobil mu banyak kan? Aku bisa menyetir. Berikan yang paling jelek.”
“Menyetir? Kau mau melukai dirimu sendiri—“ Kyuhyun bangun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. “Jangan bawa mobil sendiri! Aku belum pernah melihat kau menyetir.” pekik Kyuhyun. Geram.
“Aku punya SIM!” sahut Channie memutar bola matanya.
“Tidak! Aku bilang tidak Park Channie!” ia kehabisan cara. Kenapa Channie selalu tidak menurut padanya. Persetan! Ia hanya ingin Channie aman. Ia tidak tahu kalau Channie terluka di jalan, lalu? Okey ini berlebihan Cho.
“Lantas??? Kau mau aku bagaimana? Baiklah, aku akan berangkat bersama Jungsoo oppa kalau kau tetap—“
“Sialan kau Park Channie. Diam di situ. Aku akan ke sana.” Kyuhyun menahan amarahnya kemudian dengan cepat masuk ke kamar mandi—hanya mencuci muka—Setelah itu menyambar Jasnya. “Sial” umpatnya saat melihat obat mabuk yang disediakan oleh Donghae. Dengan cepat ia meminumnya dan keluar dari kamar, terburu-buru.
“Hey, sarapan dulu kau—“
Kyuhyun tidak menjawabnya, hanya mengibaskan tangannya saja dan pergi. Donghae tersenyum melihat Kyuhyun seperti itu. Ya, sahabatnya lebih terlihat manusiawi kalau seperti itu. Setidaknya.
***
Tidak membutuhkan waktu lama Kyuhyun sudah sampai di penthousenya. Berjalan masuk tergesa-gesa. Mencari gadis yang membuatnya marah di senin pagi. Benar-benar menyulut emosinya. Tidak bisakah Channie menurut padanya.
Kyuhyun terdiam saat melihat Channie sedang tersenyum dengan bibi Han, di ruang makan dekat dengan pantry dapur.Demi Tuhan, senyuman itu membuat hati keras dan marahnya Kyuhyun sedikit, luluh. Kyuhyun menelan ludahnya dan berjalan mendekati Channie, bibi Han yang sadar segera menuju ke luar dari area ini.
“Kau sudah datang…” Channie turun dari kursi, terlihat agak gugup. Kyuhyun dengan kepandaian otaknya, dengan cepat bisa mengusai dirinya—memasang wajah tenang, santai, dan terlihat dingin.
“Ya.” Jawab Kyuhyun tenang. Oh ya ampun, dia ingin sekali memeluk dan mencium Channie hingga lemas. lihatlah, dengan gaya pakaiannya yang biasa saja—pakaian bukan dari perancang terkenal atau brand ternama dari kalangan elite, seperti wanita-wanita di sekeliling Kyuhyun— Channie bisa terlihat begitu menarik dan sangat ingin ditiduri. Apalagi wajah Channie yang… Damn! Sangat cantik dimata Kyuhyun.
Channie terlihat salah tingkah karena Kyuhyun terus menatapnya, intens. Apa ada yang salah dengan pakaiannya? Kenapa dengan dirinya? Kau lupa, kau membuatnya marah karena tidak ingin di antar oleh Young Min. Sial. Kyuhyun memang marah.
“Berangkat denganku.” Kemudian Kyuhyun masuk kedalam ruang kerjanya. Mengambil beberapa perlengkapan. “Ayo—“ ajak Kyuhyun saat melihat Channie masih diam di tempat. Bingung.
“Ta—tapi nanti bagaimana?”
Kyuhyun berdecak pinggang. Menatap kesal pada Channie. “Kau menurut saja. Jangan membantah. Okey!” Kyuhyun menarik tangan Channie agar berjalan mengikutinya. Seketika sengatan listrik itu muncul saat jari-jari panjangnya bertautan dengan jari lentik Channie. Gelenyar dalam diri Kyuhyun bangkit. Begitu juga Channie, keringat dingin keluar dari tubuhnya.
Ini diluar pikiranmu Cho Kyuhyun. Ini sangat berbahaya. Berbahaya.
***
Di Mobil mereka berdua hanya saling diam. Tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka masing-masing. Kyuhyun masih sibuk dengan layar datar yang ada di tangannya dan ia tampak serius sekali. Channie bisa melihat itu. Ia pun harus menahan diri agar tidak bersuara. Kadang menghembuskan nafas panjang saja ia harus menahannya. Apa kata orang kalau ada yang melihat dia turun dari mobil—ralat, dari limo yang super mewah ini—bersama Kyuhyun. Bayangkan. Ah, tapi tidak mungkin Kyuhyun pasti akan—
“Kau akan turun di pertigaan, sebelum perusahaan. Jika kau khawatir akan ada yang melihat.” Ucap Kyuhyun di tengah keheningan seperti tahu apa yang Channie pikirkan . Channie terhenyak saat lamunannya terpotong oleh kata-kata Kyuhyun.
“Ba—baik.” Jawabnya pelan dan gugup. Sial Channie, begitu saja sudah gugup.
“Youngmin, hentikan di pertigaan depan.” Perintah Kyuhyun. “Siap, tuan muda.” Sahut Youngmin, tampak bersemangat dalam bekerja. Cadilac One yang mereka tumpangi sudah berhenti. Sebenarnya ada rasa sedih di dalam hatinya saat ini. Ya. Seperti orang yang tidak berguna tapi ini jalan yang sudah kau ambil kan, Channie???
Youngmin hendak turun—untuk membukakan pintu Channie— “Tidak usah, aku bisa membukanya sendiri.” Ujar Channie. Youngmin melihat kebelakang—menunggu reaksi dari Kyuhyun—Sementara Kyuhyun hanya diam, kemudian dengan berat hati pria ini mengangguk.
Channie mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya sebelum ia membuka pintu. Kyuhyun melirik sejenak, dan tanpa ia duga Channie memberikan sebuah kotak padanya. Kyuhyun menatap bingung pada kotak yang Channie berikan padanya.
“Ap—apa?” tanyanya.
“Terimalah,” kata Channie sambil menyerahkannya pada Kyuhyun. Kyuhyun masih enggan menerimanya. Ia berpikir itu sesuatu yang mengerikan. “Aku membuatnya sendiri, sedikit bantuan dari bibi Han. Bahan-bahannya aku ambil dari lemari es mu yang super besar itu.” Jelasnya pada Kyuhyun yang masih tampak terkejut.
Jadi Channie membuat sarapan? Untuknya? Gila, bahkan aku bisa membeli makanan yang lebih dari ini untuk makan siangku, bukan? Hey! Dia yang membuat hanya untukmu, brengsek!
“Kau belum sarapan kan? Lagi pula, itu hanya sandwich. Baiklah aku pergi.” Sambil meletakkan kotak bekal itu, Channie segera berlalu dari mobil ini dengan cepat, sepertinya ia tidak ingin Kyuhyun melihat wajahnya yang merona hebat. Meninggalkan Kyuhyun yang masih belum percaya, Kotak bekal. Selama bekerja, tidak ada yang memberikannya kotak bekal, Mamanya sendiripun tidak—sejak kematian Ayahnya, Mamanya selalu menyibukkan dirinya dengan kegiatan sosial. Dan Kyuhyun hampir terlupakan. Ia sedih jika mengingat itu semua.
Cadilac One sudah berjalan dengan mulus kembali, melewati Channie yang sedang berjalan sendirian—walau di sampingnya banyak juga pekerja yang berjalan kaki—tapi Kyuhyun melihat dia seolah sendirian dan itu membuat hatinya seperti ditusuk-tusuk. Dari spion ia bisa melihat betapa anggun dan menarik sekaligus cantik sekali Channie-nya ini. Kyuhyun mengusap wajahnya kasar dan mengambil kotak bekal tersebut. Tercenung. Kenapa Channie begitu bisa menyentuh hatinya? Kenapa? Mobil berbelok, sial ia tidak bisa melihat Channie-nya lagi. Menyalakan layar datar di depannya, jari-jarinya bergerak lincah dan menyalah kontrol CCTV yang terpampang di dalam Cadilac One-nya. Memperlihatkan jalan sepanjang Channie lewati menuju kantornya. Dengan begini, ia lebih leluasa melihat Channie-nya.
Youngmin hanya tersenyum melihat kelakuan Bos Mudanya ini—yang sudah ia anggap sebagai anak, walau sikapnya dingin dan terlihat kaku, tapi Kyuhyun baik dan orang yang hangat. Sebenarnya.
***
Kyuhyun mengatupkan jari-jarinya dan meletakkannya di bibirnya dengan siku masih melekat di meja kerjanya. Matanya menatap sandwich dengan telur gulung yang tertata rapi di dalam kotak bekal yang Channie berikan. Enggan memakannya, karena ini hasil karya Channie. Untuknya. Hanya untuknya, kan! Batinnya tersenyum senang. Seperti anak TK yang baru yang mendapat bekal dari Mamanya.
Senyumnya pudar saat mengingat itu. Dia ingat saat Ayahnya meninggal akibat serangan jantung. Mamanya, meminta dia untuk segera menikah dengan gadis yang Ayahnya pilihkan. Walau memang tidak mempengaruhi Kyuhyun dalam hal harta warisan. Tapi percayalah, saat usianya 15 tahun, ia sudah bisa membuat perusahaannya maju pesat—yang pada saat itu memang CEO dipegang oleh Ayahnya—dengan penemuan canggih dari otaknya yang brilian itu. Mamanya bilang, ini mengenai balas balas budi.
Ya. Dia ingat ketika kecelakaan masa kecilnya—dengan Ayahnya, saat itu—Saat Kyuhyun berusia 7 tahun, dia ikut dengan Ayahnya yang ada perjanjian bisnis di Incheon. Sepulang dari pertemuan itu. Mobil yang mereka tumpangi, tiba-tiba oleng dan remnya juga blong. Naas, dari depan ada sebuah Truck melintas. Terjadilah kecelakaan hebat itu. Sial tidak sampai di situ. Truck itu kabur, dan sepi pengguna jalan. Waktu itu memang malam hari. Dari cerita Ayahnya—dulu, Kyuhyun hampir mati kalau tidak ada orang yang membawa mereka ke rumah sakit dengan segera. Ayah Kyuhyun yang terluka parah dan dengan Kyuhyun yang hampir mati. Orang itu menjaminkan dirinya sebagai kerabat Ayah dan Kyuhyun sendiri, karena sopir mereka meninggal seketika. Ayah Kyuhyun sesampainya di rumah sakit pingsan dan otomatis orang yang menolong itu tidak tahu menghubungi siapa untuk jaminan keluarga.
Begitu mereka sembuh total. Ayah Kyuhyun berniat memberikan apapun kepada orang tersebut. Tapi, selalu saja di tolak. Begitu baik. Hinggga akhirnya mereka bersahabat. Walau begitu, Kyuhyun yang di sibukkan oleh pekerjaannya selalu menolak untuk bertemu dengan sahabat Ayahnya ini. Walau hanya untuk mengucapkan terima kasih. Baginya itu tidak penting. Kemudian, Ayahnya berpesan pada Mamanya dan juga Kyuhyun, agar sebisa mungkin tetap menjalin hubungan dengan Park So Hwan—orang yang menolongnya—Kalau Kyuhyun tidak mau menikah dengan Putrinya, setidaknya Putrinya itu bekerja di perusahaannya. Agar hubungan ini tetap terjalin, dan ia bisa tenang jika suatu saat meninggalkan dunia ini.
Akhirnya, Ayahnya meninggal. Tahun berganti tahun. Hingga ia dewasa dan mencoba menghubungi Park So Hwan, Kyuhyun yakin Mamanya masih berhubungan dengan sahabat ayahnya ini, karena di landasi cinta yang begitu besar untuk Ayah Kyuhyun. Hari itu Kyuhyun menemui Park So Hwan, di kantor tempat pria itu bekerja. Sebagai pegawai biasa, ini hal yang mengejutkan di temui oleh CEO yang sangat berkuasa di Seoul.
Tidak basa-basi, Kyuhyun hanya mengucapkan terima kasih walau dengan nada khas dinginnya. Kemudian mengatakan hal yang Ayahnya inginkan.
            “Ayah memintaku menikah dengan putrimu. Kau pasti tahu bukan? Tapi, aku tidak ingin menikah. Maksudku, aku tidak suka hubungan seperti menikah, dan terikat. Itu konyol menurutku!” Kyuhyun sadar mimik wajah pria itu sedikit terkejut dan sedih.
         “Baiklah, ini memang bukan idemu, tapi ide Ayahku. Aku tahu. Ayah sangat menghargai nyawaku dengan menjodohkan aku dengan putrimu. Tapi—melihat kau, lalu aku berpikir, putrimu bukan typeku. Aku pria yang—pasti kau sudah tau reputasiku, bukan? Apa kau ingin putrimu nanti sakit hati karena aku campakkan? Maka dari itu, menolak perjodohan konyol ini.” Jelas Kyuhyun. Pria itu hanya mengangguk paham. Oh Paman, kenapa kau tidak marah denganku? Batin Kyuhyun.
        “Sebagai bentuk rasa hormatku, terimalah jaminan masa tua anda. Ada vasilitas dan sejumlah—“
        “Tidak perlu, nak. Tidak usah. Aku nanti juga mendapat tunjangan dari perusahaan.” Jelas Park So Hwan dengan tersenyum. Ia ingat saat membopong tubuh kecil Kyuhyun yang penuh dengan luka dan darah kini sudah menjadi pria matang, dewasa, dan dengan wajah yang luar biasa mengagumkan. Ia bangga bisa menyelamatkan pewaris kerajaan perusahaan adi daya ini. “Aku sudah cukup bangga dengan apa yang aku lakukan dulu saat menolongmu, yang masih kecil.”
           Kyuhyun tersentuh mendengar ini. “Ba—baiklah. Lalu apa yang aku lakukan untuk mu, Paman?”
      “Putriku sebenarnya ingin sekali bekerja di perusahaanmu, tapi dia enggan masuk entahlah, menurutnya terlalu berlebihan jika bekerja di perusahaan yang luar biasa.”
           “Aku bisa menjamin dia di tempatku. Di perusahaanku. Jabatan apa—“
        “Tidak perlu jabatan. Karyawan biasa saja, jika kau memasukkannya, tolong karyawan biasa saja. Aku takut dia curiga nantinya. Lagipula, pendidikannya tidak memenuhi syarat bekerja di perusahaan yang bertaraf internasional.”
Dan, Kyuhyun pun memasukkan putri Park So Hwan ke dalam perusahaannya. Tentunya ia tidak perlu repot turun tangan sendiri, anak buahnya yang menangani semua hingga putri So Hwan akhirnya bekerja di Cho Enterprises Holding Inc. Sesuai dengan permintaan So Hwan. Pegawai biasa. Kyuhyun sendiri tidak tahu wajah, dan bagaimana bentuk putri sahabat Ayahnya itu. Hingga ia akhirnya tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis, di club, malam itu. Saat dia hendak bersenang-senang dan melepas penat, akhir pekan. Termasuk seks dengan wanita yang sudah di pilihnya—sesuai kriterianya, bersih, menarik—Tiba-tiba tatapan elangnya terus tertuju pada gadis itu.
Gadis dengan dress pastel. Sederhana memang. Akan tetapi, seperti ada magnet tersendiri dari dalam tubuh gadis itu, cantik, bergerak anggun dan wajahnya terlihat polos. Membuat Kyuhyun gemas ingin menciumi setiap inchi di wajah canti itu. Bibir gadis itu merah muda sangat menggoda dan alangkah nikmat jika bibirnya bertautan dengan bibir itu bukan? Tubuhnya yang ramping, dengan menonjolkan lekuk yang menggairahkan, dada yang pas jika tangannya menyentuh dan meremasnya. Tubuhnya walau bisa dikatakan tidak terlalu tinggi seperti wanita-wanita incaran Kyuhyun, tapi tubuh itu menggodanya. Sangat! Ini membuat Kyuhyun nyaris gila karena menginginkan gadis itu. Ia ingin memasuki gadis itu. Tapi, gadis itu MENOLAKNYA! Dalam sejarah hidupnya, ia tidak pernah di tolak!!!
Marah! Dan ia terus memikirkan cara agar gadis itu bisa terlentang di bawahnya. Bagaimanapun caranya, supaya gadis itu dengan suka rela menyerahkan dirinya, di ranjangnya dan bercinta dengan panas. Gila…
Badannya lemas, dunia seakan runtuh saat mengetahui bahwa gadis itu—yang membuatnya selalu ingin bercinta dan bercinta. Memimpikan gadis itu setiap malam, hingga akhirnya ia membutuhkan pelepasan dengan tangannya sendiri, ia sudah akan mencoba dengan wanita lain tapi tidak bisa. Tidak bisa jika tidak gadis itu— Gadis itu, adalah Park Channie. Putri Park So Hwan, sahabat Ayahnya. Gadis yang akan di jodohkan dengannya adalah Park Channie. Oh ayolah, Kyuhyun dengan mudah mencari informasi ini. Dengan menjentikan jari saja, sekejap informasi tentang Channie sudah ia dapatkan dan Club itu juga miliknya. Apa yang Kyuhyun tidak bisa?
Ini konyol memang. Membayangkan gadis itu telanjang di bawahnya, berkeringat dan bergairah saja membuatnya memekik karena tersiksa, seperti akan mati. Akhirnya, ia melakukan hal yang tidak terpikirkan olehnya sepanjang masa adalah Menikah. Demi menikmati tubuh yang selalu hadir di mimpi dalam tidurnya selama ini—setelah pertemuan di club itu.
Terserah, So Hwan berpikiran dia menjilat ludah sendiri. Yang penting ia bersama Channie,di ranjangnya. Walau hanya setiap akhir pekan. Setidaknya, ia tidak gila dan seperti hampir mati hanya menginginkan Channie di ranjangnya. Tapi, ada hal yang tidak diduganya, hatinya seakan dapat merasakan perasaan yang selama ini belum pernah ia rasakan terhadap wanita manapun. Belum pernah. Ia begitu peduli terhadap Channie. Sangat. Sakit melihat Channie menangis. Marah melihat Channie berpelukan, atau bahkan berdekatan dengan pria lain. Channie-nya ini terlalu mudah untuk di cintai oleh pria lain. Kyuhyun tahu pikiran kotor pria-pria yang ada di sekeliling Channie ini. Dan dengan bodoh dan polosnya, Channie tidak tahu, ia begitu menarik.
Bagian bawah tubuhnya sakit dan mengeras saat ia tersadar dari lamunannya. Nah, gila bukan? Hanya memikirkan Channie saja sudah begitu hebat. Kyuhyun bergeser dan jarinya menekan keyboardnya. Kemudian, terpampang jelas, ruangan di mana Channie bekerja pada layar datarnya. Masih kosong. Oh, sial. Ini jam makan siang? Selama itukah dia melamun.
“Jun, dia di mana?” tanya Kyuhyun saat menelpon seseorang. “Oh, cafetaria lantai 10?” Kyuhyun mencari gambar CCTV cafetaria itu dan dia bisa melihat Channie di sana. “Terima kasih, Jun.” Ya. Kyuhyun memang berkuasa. Dia berhak tahu Channie di mana? Dengan mengandalkan anak buahnya, hal ini sangat mudah dilakukan olehnya.
Kyuhyun mengamati Channie dan orang-orang di sekitarnya, tapi ada sesuatu yang membuatnya marah. Kenapa ada pria yang bersamanya? Tunggu? Bukannya itu manager Kim Bum So? Untuk apa? Lihatlah pria setengah baya itu tersenyum genit. Sial. Manager itu tertarik pada istrinya?!!
Kyuhyun segera mengambil ponsel dengan cepat dan menekan touchscreen-nya. Rahangnya sedikit mengeras. Apa yang dilakukan Channie dengan manager sialan itu?!
“Hallo—“ Channie terdengar ragu-ragu saat menjawab telepon darinya.
“Pergi dari situ. Aku ingin bertemu denganmu. Sekarang.” Jelas Kyuhyun tegas. Marah.
“Ta—tapi aku masi—“
“Sekarang! Keluar dari situ. Pergilah, ke unit Kesehatan. Kau mengerti.” Kyuhyun menyambar Jasnya dengan cepat dan mematikan ponselnya. Tidak mengharap Channie menolaknya. Ia hanya memikirkan, Channie adalah miliknya. Miliknya.
***
Channie menghembuskan nafas lega karena terbebas dari pertanyaan managernya—Kenapa bisa Cho Kyuhyun menggendongnya? Apa mereka kenal? Pertanyaan yang membuatnya pusing—Dan kini ia mulai gugup, karena akan bertemu dengan Kyuhyun. Apa pria itu marah karena membuatkannya sarapan? Oh ya ampun. Channie tidak meracuninya kan?
Menghilangkan firasat buruk dan ia terus berjalan menuju tempat yang Pria—Panas, Tampan dan Berbahaya—itu maksud. Unit Kesehatan. Menurut informasi dari ponselnya, ia harus melewati ruang pertemuan ini. Channie mengikuti petunjuknya. Lorong ini sepi dan sepertinya semua sedang sibuk makan siang. Ia berdebar hebat. Seperti ada yang mengincarnya diam-diam. Tidak. Tidak.
SREETTTT
Tubuh Channie ditarik oleh tangan seseorang dengan cepat hingga ia tidak bisa memberontak. Pintu ruangan tertutup dan Channie di sudutkan pada dinding oleh tubuh yang begitu tegap, keras dan tubuh itu yang membuatnya panas. Cho Kyuhyun. Channie menatap mata pria yang menatapnya tajam, dengan sorot mata yang menggelap penuh dengan gairah. Apa yang ingin Kyuhyun lakukan padanya. Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya.
“Kau—mmpphhh—“ Kyuhyun dengan cepat membungkamnya dengan menekan keras mulutnya pada Channie. Seperti orang kelaparan, melahap dengan tergesa-gesa. Melumat bibir Channie tanpa ampun, hingga Channie lemas, tak berdaya oleh ciuman dan himpitan tubuh Kyuhyun padanya. Ia terbakar, dengan sekuat tenaga ia berusaha tetap berdiri walau tangan Kyuhyun yang satunya ada di pinggangnya, untuk menahannya. Tapi tetap saja ia lunglai, seperti jelly. Reaksi tubuhnya selalu seperti ini. Channie membalas lumatan-lumatan Kyuhyun dan lidah mereka saling membelit. Kyuhyun sangat berdominan dalam menciumnya. Tidak memberi kesempatan Channie bernafas. Hingga ia merasakan nafasnya tersengal. Kyuhyun mengeram keras ketika tangan Channie—yang ada dilehernya— mengoyak rambutnya dan menarik kepalanya agar terus bertautan. Bunyi decapan dan erangan menambah gairah Kyuhyun dan juga Channie dalam menyalurkan hasrat mereka yang terpendam.
Terengah-engah. Begitu intim. Hidung mereka bahkan masih bersentuhan.Nafas Kyuhyun masih terasa panas di wajah Channie. Begitu juga sebaliknya. Posisi mereka juga tetap sama saat berciuman. Dan masih saling menatap bibir yang memerah akibat ciuman panas barusan. Channie bahkan merasakan bagian bawah tubuh Kyuhyun yang keras, menekannya. Membuatnya sedikit bergeliat.
Kyuhyun mengecup tepian bibir Channie, berulang kali sambil menormalkan detak jantungnya yang berpacu dengan hebat. Tangannya meraih wajah Channie dan  menatapnya intens. Ia tahu satu hal. Dia tidak bisa jauh dari gadis ini. Tidak bisa jika tidak dengan Channie. Bagaimana ini? Satu perasaan timbul tiba-tiba tanpa ia duga. Dan ia takut untuk sakit hati. Ia harus segera memiliki Channie.
“Ya ampun, aku ti—tidak bisa menahannya terlalu lama. Sialan…” gumam Kyuhyun di depan bibir Channie. “Jum’at malam masih lama, Ya Tuhan. Aku bisa gila—“ bisik Kyuhyun pelan.
“Haruskah sekarang? Di sini—“
“Kyu—“ bisik Channie lemah. Ia juga menginginkan Kyuhyun, sama dengan Kyuhyun menginginkannya. Dan apakah, dia menyukai pria yang membuatnya selalu panas? Ya. Dia sudah menyukai pria ini. Hal buruk memang. Dan ia pasti sakit hati jika berpisah dengan pria ini. Ia bahkan tidak tahu bagaimana hidup tanpa Kyuhyun ada di sampingnya. Tapi— Ya Tuhan, kau sudah salah jika mencintai pria ini.
“Tapi, aku tidak membawa pengaman sialan itu. Ya, ampun… Apa yang kau lakukan padaku—“
 ***

Fc Populer:

  • Kuyuhyu saking sukanya sama channie, sampe perhaatiinnya lewat cctv

%d blogger menyukai ini: