Nothin’ On You Part 10

1
Nothin’ On You Part 10 kyuhyun yadong nc
FF “Nothin’ On You” Part 10 [Kyuhyun-Channie]
Story by : Deani [@yesungcharger]
Cast : Cho Kyuhyun, Park Channi.
Genre : Married life, Romance/?
Ratting : semua umur *tumben banget –”
PS : Banyak kata-kata KASAR. TYPO! Jadi sebelum membaca, baca ini baik-baik ya!!! Tidak suka, tidak usah membaca! Don’t Bash!!!
Happy Reading~~
Channie menjerit melihat Dokter Shin tidak sadarkan diri dan orang itu menarik jarum suntik yang ada di tubuh Dokter Shin yang sudah terkapar, tentunya dengan senyum penuh kemenangan.
“Ka—Kau! Apa yang kau lakukan! Pergi!” teriak Channie. Ia takut. Keringat dingin membasahi tubuhnya dengan cepat. Tubuhnya bergetar hebat. Cho Kyuhyun, pulanglah segera!

“Oh, tuan puteri yang malang. Mari, kita bersenang-senang dulu, sebelum kau menemui ajalmu. Sayang
PART 10
Tubuh Channie bergetar.
Seseorang itu mendekat ke arahnya dengan langkah pelan.
Mulutnya terkatup rapat sementara keringat dingin terus keluar dari tubuhnya. Jantungnya berdebar dengan keras seiring dengan seringai lebar dari wajah seseorang yang ada di hadapannya. Menelan ludahnya dengan susah payah, Channie mencoba mengatur nafasnya.
Dia tidak boleh takut. Tidak boleh…
“Si—siapa kau.” pekik Channie. Dia? Channie berusaha mengingat wajah di depannya yang tidak asing. Ayo, Channie ingat, ingat.
“Tsk. Kau melupakan aku secepat itu, ya? Padahal pertemuan pertama kita di lift itu—“
Sial! Channie mengingat seketika siapa pria ini. Pria ini berkenalan dengannya di lift waktu itu. Sewaktu ada Kyuhyun, juga? Apa jangan-jangan memang pria ini dulu sengaja membuat Kyuhyun marah dengan berkenalan dengannya, karena pria ini sudah tau kalau dia dan Kyuhyun sudah…menikah?
Jantung Channie berdebar dengan keras. Degupannya semakin kencang seiring dengan seringai itu muncul di wajah pria yang ada di depannya.
“K—kau—“ jangan gugup Channie. “Kau ada masalah apa denganku? Lalu kau kenapa bisa—“ mulut dan lidah Channie terasa kelu. Ia kesulitan berbicara. Tidak Channie. Jangan seperti ini. Jangan.
Kau harus melawannya.
Terus saja pria ini menyeringai ke arahnya. Channie memundurkan tubuhnya, ia melihat tangan pria ini masih memegang jarum suntik—bekas menyuntik Dokter Shin. Mulut Channie kering seketika. Ia sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Apa nasibnya akan sama dengan Dokter Shin? Atau malah lebih mengenaskan dari tubuh Dokter Shin yang masih tergeletak tidak sadarkan diri, di lantai?
Tapi, bagaimana pria ini bisa masuk ke dalam, sementara di penthouse Kyuhyun ini beberapa penjaga. Channie tahu kalau memang Kyuhyun sengaja memberi penjagaan ekstra di penthousenya dari Young Min yang memberitahunya sewaktu dia masih dalam ‘sekapan’ Kyuhyun.
“Oh, kau takut ini?” Doo Joon tahu tatapan mata Channie yang mengarah pada tangannya. Tersenyum puas, ia memasukkan jarum suntiknya ke dalam saku jasnya, ia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Channie.
“Kau. Siapa!” sentak Channie, masih memundurkan langkahnya. Dengan tenang Doo Joon berjalan mendekat, kemudian memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya. Tatapan Doo Joon lurus menatap ke arah Channie, tentu saja seringai puas itu masih melekat di wajahnya.
“Oh, ya. Waktu itu aku lupa tidak mengenalkan diriku.” Doo Joon dengan seringai lebarnya, mengulurkan tangannya, “Lebih tepatnya, ada penganggu di dalam lift yang mencoba menggagalkan perkenalan kita—“
“Tutup mulutmu!” potong Channie dengan berteriak. Nafasnya mulai memburu, “Aku tidak ada urusan denganmu. Sebelum aku panggil—“
“Si brengsek itu,” cibir Doo Joon dengan menatap Channie sinis. “Tsk! Kau mengandalkan pria brengsek itu, huh? Tunggu saja. Sampai aku berhasil menyiksanya lalu mmm… coba tebak apa yang akan aku lakukan padanya, Channie sayang.”
“Ka—kau. Pergi. Atau aku akan—“ Lari, Channie. Tapi—Ya ampun! Tidak. Bagaimana seluruh CCTV di kamar ini, di dalam penthouse Kyuhyun bahkan yang mungkin saja Kyuhyun tahu, kenapa sepertinya tidak berfungsi. Kalau saja berfungsi, pasti dengan cepat Young Min dan bahkan Kyuhyun pasti dengan cepat kesini.
Sial. Young Min tadi menjemput Bibi Han. Astaga. Channie, ini berbahaya.
Tubuhnya semakin bergetar. Memejamkan matanya kuat-kuat, Channie mencoba berpikir, cara apa untuk berhasil lolos dari pria ini. Matanya melirik sebelah pintu kaca geser—menuju kolam renang. Lalu apakah ia akan terjun? Kau. Hamil. Ya, Tuhan.
Terdengar kekehan dari mulut Doo Joon.
“Kau mencoba mencari jalan keluar?” Dia tahu arah tatapan mata Channie dan sesuatu yang mungkin sudah terbaca olehnya. Doo Joon tertawa, “Percuma. Kau ikut aku dengan baik-baik, atau—“
Channie menggeleng dengan cepat. Matanya mencari sesuatu untuk di lemparkan ke arah Doo Joon. Demi Tuhan, Kyuhyun apa tidak menyimpan senjata di dalam kamarnya. Sial. Channie, tidak bisa jika terus-terusan seperti ini, sementara pria itu dengan tatapan yang penuh dengan kebencian dan senyum seringai liciknya terus tertuju pada Channie.
“Ayo, ke sini lah, Channie.” pinta Doo Joon dengan penuh penekanan. “Kau mau aku melakukan sesuatu pada tubuh Cantikmu—yang digilai pria brengsek itu, atau ikut baik-baik denganku.”
Doo Joon mengeluarkan lagi, alat suntik dan mencoba menakuti Channie dengan memasukkan cairan di dalamnya. “Ini akan berakibat kau tidak sadarkan diri dan—“
“Bajingan! Pergi.”
Doo Joon terkekeh. Lalu menatap Channie kembali dengan tatapan yang penuh dengan meneliti, dari atas hingga ke bawah. Pria itu, bersiul nakal melihat keindahan tubuh Channie.
“Ternyata tubuh dan wajahmu memang sangat Cantik. Begitu menggoda.” katanya pelan. Channie menggeleng, kemudian dengan cepat tangannya diraih oleh Doo Joon. Meronta sebisa ia mau.
“Lepas!” pekik Channie. Ketakutan. Tangannya tetap terkunci oleh genggaman Doo Joon. Lalu pandangan pria ini tiba-tiba tertuju pada bibirnya. Sialan.
“Pantas saja, si CEO brengsek itu tergila-gila padamu. Ternyata, kau sangat—“
“Tutup mulut brengsekmu!” potong Channie dengan nafas yang memburu. Ia tidak bisa berkutik kalau tangannya masih dalam cengkaraman pria sinting ini.
“Kau. Sangat. Panas.” lanjut Doo Joon dengan senyum yang membuat Channie berkidik, ngeri.
“Bersenang-senang dulu atau—Akkkhhh!!!” pekik Doo Joon saat kaki Channie menendang tepat di selakangan kakinya. Memekik dengan kencang, hingga genggaman tangannya pada Channie terlepas.
Dengan cepat, Channie meloloskan dirinya dari cengkaraman Doo Joon, ia harus pergi dan berlari dari sini. Lari. Lari, Channie.
“Kalian! Cepat. Sialan!” teriak Doo Joon masih terpaku di tempatnya karena kesakitan akibat tendangan Channie mungkin mengenai aset miliknya. Channie belum sempat keluar dari kamar. Dari arah pintu muncul dua sosok pria tegap dengan pakaian setelan hitam-hitam menghadangnya.
Channie menelan ludahnya, kesusahan. Mereka berdua bukannya bodyguard yang ada di penthouse ini. Lalu, apakah mereka bagian dari pria sinting ini?
“Ka—kalian?” Channie tergagap. Seakan ia sudah tidak punya jalan keluar melarikan diri. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya berdebar dengan kencang. Tatapannya memohon pada kedua pria di depannya.
“Cepat bawa perempuan jalang itu!” teriak Doo Joon. “Jangan bius. Biarkan dia sadar. Aku ingin dia menikmati setiap jalan menuju kesakitannya.” desis Doo Joon.
Channie menggeleng berulang-ulang. “Tidak!” teriaknya meronta.
“Sialan. Diam! Atau kau akan meregang nyawa. Sekarang. Juga.” tambah Doo Joon.
Sekuat apa Channie meronta. Tetap tenaganya kalah kuat di banding dua orang yang memerangkap tubuh mungilnya ini. Tangannya tiba-tiba terulur ke perut datarnya. Channie meringis. Air matanya jatuh ke pipinya. ‘Kau harus kuat, Nak…’ bisiknya
“Pria brengsek itu harus merasakan penderitaan yang aku alami.”
***
Sementara itu, Kyuhyun baru saja selesai dengan pertemuan penting dengan cepat ia menuju ruangannya. Sejak tadi perasaannya selalu saja tidak enak. Apa Channie baik-baik saja. Sial. Baru beberapa Jam, ia keluar dari penthouse—atau lebih tepatnya meninggalkan Channie. Perasaannya sudah di liputi rasa rindu. Tapi sekarang, lebih dari perasaan itu. Kyuhyun ingin memastikan sendiri, pulang ke penthouse? Dia baru ingat Young Min juga tidak ada di sana, ia menyuruh untuk menjemput Bibi Han.
Memasuki ruangannya, ponselnya berbunyi. Nama Kangin memanggil. Menggeser layar datarnya dengan cepat Kyuhyun menjawab panggilan Kangin.
“Astaga, Cho Kyuhyun!” sentak Kangin. Jantung Kyuhyun mulai berdebar dengan keras.
“Kangin—“
“Satu orangku selamat. Barusan dia kembali padaku dan ya Tuhan, Kyuhyun. Aku sudah mengirimkan beberapa orangku ke penthousemu untuk—“
“Hyung!” potong Kyuhyun berteriak. Nafasnya mulai memburu. “Apa? Kenapa dengan orangmu!”
Terdengar Kangin menarik nafas dan membuangnya kasar. Kyuhyun segera menyalakan macbooknya. mengontrol CCTV di penthouse, belum sempat ia melihat. Suara Kangin membuatnya terpaku.
“Sialan! Penyusup itu mencelakai orang-orangku tadi pagi. Mereka mengganti orangku dengan orang mereka. Anak Yoon Jae Suk. Mereka sudah mensabotase semuanya!”
Tenggorokan Kyuhyun kering seketika, setelah penjelasan Kangin dan menatap layar datar di depannya. CCTVnya telah disabotase juga…. Hanya menampakkan kejadian dua menit yang di ulang-ulang di dalam layar datarnya.
Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya memerah. Dadanya sesak dan bergemuruh. Rahangnya mengeras. Darahnya seakan mendidih sampai ubun-ubun hingga Kyuhyun juga merasakan sangat pening.
“Aku dalam perjalanan ke tempatmu. Cho Kyuhyun. Kau masih di sana? Kyuhyun?”
Membiarkan Kangin kebingungan memanggilnya, Kyuhyun meletakkan ponselnya. Matanya memanas. Channie. Channie. Tangannya seakan tidak bisa bergerak, hanya bergetar akibat emosi yang ia tahan.
“BRENGSEK!!!” teriaknya marah. Sangat marah. Bagaimana bisa ia kecolongan? Memejamkan matanya kuat-kuat. Kyuhyun meremas rambutnya dan mengacaknya, frustasi.
“BRENGSEK!” teriaknya lagi.
Bersamaan dengan teriakannya yang menggema di ruangannya, Ryeowook masuk di susul dengan Donghae yang wajahnya juga memucat.
“Kyuhyun!” pekik keduanya.
“Aku akan menghabisinya!” tanpa menunggu lama, Kyuhyun berjalan dan menekan tombol di balik lukisan dindingnya. Terbuka. Di sana masih ada kotak yang menyimpan alat untuk melindungi dirinya sendiri—lebih tepatnya akan ia gunakan untuk menghabisi nyawa bajingan itu.
“Kyuhyun kau—“
“Penyusup itu mengirimkan email, Cho Kyuhyun!” cegah Donghae saat Kyuhyun akan beranjak keluar dari ruangan ini dengan senjata api di balik Jas hitamnya.
“Apa?” desis Kyuhyun, langkahnya terhenti dan menatap Donghae, Ryeowook bergantian.
“Ini…” Donghae dengan cekatan membuka tabnya hingga terlihat email dari penyusup itu, Kyuhyun memejamkan matanya lagi setelah ia membacanya.
“Uang. Bajingan itu hanya ingin uang!” pekiknya frustasi. Sebelum mereka bertiga bergerak, ponsel Kyuhyun berdering.
“YA!” teriaknya marah.
“Woaa. Kau terdengar sangat emosi, Bos…” suara dari sang penelpon membuat Kyuhyun mengernyit.
Dia penyusup sialan itu.
“Akan aku berikan uangnya. Bajingan. Di mana. Kau. Sembunyikan. Gadis itu!” sentak Kyuhyun penuh dengan penekanan di setiap katanya. Terdengar suara kekehan dari penelpon.
“Oh, kau sudah tahu apa mauku? Jadi, tubuh Channie…Emm.. Tunggu, kau menyebut istrimu dengan Gadis itu? Kau jahat sekali—“
“Tutup mulutmu. Sialan!” potong Kyuhyun berteriak. Dia sudah tahu, Channie istrinya. Channie dalam masalah besar. Dia dalam bahaya, Cho Kyuhyun. Tangan Kyuhyun seketika mengepal dengan kuat.
“Wah. Kau ternyata sangat mencintainya, ya?” siulan dari penelpon pria ini membuat emosi Kyuhyun semakin naik. Bagaimana kalau Channie-nya terluka. Bagaiamana kalau bajingan itu menyentuh Channie lebih dari melukai tubuh, tapi…
Diam!!! hentikan pikiran burukmu Cho Kyuhyun.
Tenang. Tenang. Okey? Tidak bisa. Ia tidak bisa tenang. Sialan.
“Kau sentuh tubuhnya sekecil apapun. Kau akan mati di tanganku, brengsek!” desis Kyuhyun. Membuang nafasnya kasar, Kyuhyun kembali melanjutkan “Urusanmu hanya denganku, bajingan! Lalu kau membawa dia—“
“Kata siapa aku memanfaatkan akan melukai Channie. Walau memang tujuanku membawa gadis itu, untuk kau datang. Tapi, kau Manwhore… Bekas wanita yang kau tiduri bisa saja sakit hati padamu lalu ingin melukai gadis itu, juga…” kekehan puas terdengar dari pria itu.
Kyuhyun terpaku. Wanita lain? Oh, sialan! Jangan bilang—Yoo Mi
“Brengsek!” umpatan Kyuhyun semakin menambah pria itu tertawa puas. “Kalau sampai Channie—“
“Segera transfer uang sialanmu itu! Kau tunggu saja kabar selanjutnya, di mana kau akan menyerahkan diri. Hahaha…!” Sambungan telepon tiba-tiba terputus.
“Sial. Menikmati uangku lalu mereka bisa saja membunuh Cha—“ Kyuhyun menggeleng cepat. “Tidak. Channie tidak akan…” sambung Kyuhyun lagi dengan menggeleng cepat. Ia tidak bisa jika Channie pergi terlebih dahulu meninggalkannya. Tidak.
Hatinya terasa ngilu dan dia gila hanya membayangkan hal-hal yang buruk akan terjadi pada Channie. Ini sungguh, diluar prediksinya.
“Kami sudah menemukan caranya.” kata Ryeowook percaya diri. “Pria itu tidak mungkin bisa menikmati uangnya. Jongwoon Hyung sudah mengatur semuanya. Jadi, setelah seolah-olah uang itu sudah masuk di rekening mereka. Kita akan bergerak cepat.” sambung Donghae.
Kyuhyun membuang nafasnya kasar dan mengusap wajahnya yang begitu kacau. Donghae dan Ryeowook yang juga sibuk dengan layar datar di tangan masing-masing sepertinya juga tengah berusaha mencari jalan keluar untuk bertindak bagaimana menyelamatkan tanpa harus melukai Channie.
“Sungmin dan Jongwoon Hyung mereka sedang melacak kemana orang-orang itu membawa Channie. Junho juga masih memeriksa CCTV yang telah disabotase di sana.” jelas Ryeowook.
Kyuhyun masih belum bisa mencerna dengan jelas. Di dalam pikirannya hanya, Channie. Channie. Channie. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang. Apakah masih baik-baik saja. Sial. Hentikan pikiran seperti ini, Cho Kyuhyun. Ya, Tuhan… Padahal baru saja ia akan memulai semua dari awal, hubungan tanpa ada kebohongan. Baru saja ia akan—
“Brengsek! Aku akan melihat jejak bajingan itu di penthouse.” geram Kyuhyun. Walau sebenarnya tubuhnya bergetar karena detak jantungnya bahkan terus berdegub dengan kencang, ia berusaha untuk tetap kuat berjalan.
“Aku temani.” sahut Donghae. “Kau di sini dengan Minhyuk. Kabari kami…” lanjut Donghae mengikuti langkah Kyuhyun yang semakin cepat.
***
Memasuki penthouse, Kyuhyun melihat Kangin yang sibuk berbicara dengan alat pendengar di telinganya lalu tatapannya bertemu dengan Kyuhyun. Kangin mendekat pada Kyuhyun dan juga Donghae yang ada di belakangnya.
“Hyung!”
“Kau lihatkan? Pintu serta liftmu juga tidak rusak atau lecet sedikitpun. Mereka sudah merancangnya sangat indah. Sialan…”
“Aku belum masuk ke dalam kamarmu di lantai atas. Kau bisa masuk dan memeriksanya dulu… Aku sudah menyisir semua tempat di sini, kecuali di kamarmu. Aku rasa, kau orang pertama yang menemukan tanda-tanda untuk Channie terlebih dulu.” kata Kangin padanya penuh makna. Kyuhyun mengerti apa kata Kangin. Dengan cepat Kyuhyun bergerak menuju kamarnya.
Membuka pintu dengan kasar, Kyuhyun berharap Channie ada di sini. Walau itu. Konyol. Ia berharap ini hanya bagian dari rencana Channie untuk membalas dendam padanya—karena ia telah berbohong padanya tentang siapa Channie— dengan Channie bersembunyi di sudut kamar ini, agar Kyuhyun kebingungan mencari dirinya.
Akan tetapi… Dada Kyuhyun sesak setelah mengetahui ini memang nyata—bukan karena Channie bersembunyi atau apa. Channie memang tidak ada di dalam kamar ini setelah ia mencari di setiap sudut kamar ini. Channie tidak ada. Channie-nya memang tidak ada.
Matanya memerah dan dadanya semakin bergemuruh dan emosinya yang membuncah.
Tidak ada bekas darah atau hal yang mengerikan di dalam kamar ini. Itu tandanya, memang mereka tidak melukai Channie saat akan membawa Channie. Tidak. Bukan. Hanya belum, Cho Kyuhyun. Oh, sialan!
Kyuhyun mengedarkan pandangannya di ranjangnya. Ranjangnya terlihat rapi, atau memang Channie tidak di perlakukan—Tidak. Tidak mungkin bajingan itu berani menyentuhnya. Tidak akan.
Melihat nanar ranjangnya—saksi percintaan panasnya dengan Channie semalaman dan tadi pagi.
Ya, Tuhan, bahkan tadi pagi mereka masih menikmati indahnya bercinta dengan Channie setelah beberapa hari mereka saling menahan perasaan rindu dan gairah masing-masing. Kemudian, sekarang Channie? Astaga… Kyuhyun seakan bisa mati kalau terus-terusan seperti ini. Ia harus cepat mencari keberadaan Channie. Persetan dengan rencana orang-orang untuk menyerang penyusup itu.
Shit…Shit…Shit…Batinnya terus mengumpat. Channie. Channie… Dia harusnya baik-baik saja jika dia tidak meninggalkannya bekerja demi pertemuan bisnisnya. Shit! Lagi-lagi Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk terus mengeluarkan amarahnya dengan umpatan.
Saat ia mengusap kasar wajahnya karena frustasi dan akan melangkahkan kaki, pandangan Kyuhyun tertuju di meja di samping king sizenya. Mendekat, Kyuhyun meraih amplop yang tergeletak di atas meja.
Membukanya dengan cepat, dan melihat ada sesuatu di dalam amplop tersebut. Secarik kertas kecil dan sebuah benda?.
                      ‘Aku tidak tahu harus memberitahumu dengan cara apa, karena aku merasa aku membohongimu. Tapi, aku hanya ingin kau tahu…’
“Kyuhyun!” pekik Donghae dan Changmin—yang baru saja tiba dari Airport langsung menuju ke sini saat mendengar apa yang terjadi pada Kyuhyun. Bersamaan masuk ke dalam kamar ini. Kyuhyun belum menoleh dan matanya masih terpaku pada secarik kertas yang ia pegang.
Tubuhnya bergetar. Mulut dan tenggorokannya kering hingga ia susah sekali menelan ludahnya. Kini, tangannya meraih benda kecil, melihatnya dengan seksama, benda itu dengan tanda dua garis merah di sana. Dadanya makin berdebar dengan kencang. Perasaan apa ini? Melihat Channie ternyata… Tapi, bukankah dulu ia dan Channie sepakat dengan kontrasepsi? Tuhan, apakah Channie…
                ‘Aku baru mengeceknya tadi pagi. Dan, Maaf kalau aku….
“Hamil…” sahut Changmin saat melihat benda yang ada di tangan Kyuhyun. “Channie hamil, Cho Kyuhyun?” tambah Donghae yang juga berada di samping Kyuhyun.
              ‘Aku hamil. Anakmu… Cho Kyuhyun… Maaf…’
Tubuh Kyuhyun seketika lemas tak berdaya. Berdiri kaku, kemudian perlahan pertahanannya mulai runtuh. Duduk di tepi bed-nya dan pandangan Kyuhyun mulai mengabur dengan dadanya yang sesak di penuhi oleh perasaan—bahkan tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
Bahagia. Sedih…
Aku hamil. Anakmu, Cho Kyuhyun…
Kata-kata yang ditulis Channie terus terulang-ulang di kepalanya. Hingga matanya yang memerah kini mulai memanas. Dia tidak sanggup untuk berteriak atau apa. Bibirnya kelu. Bahkan ia tidak bisa berpikir. Terlalu banyak ‘kejutan’ untuknya dalam satu hari.
Demi, Tuhan. Cho Kyuhyun, Channie mengandung anakmu. Anakmu.
Kau akan menjadi seorang, Ayah, Cho Kyuhyun. Batinnya meyakinkan dengan hangat.
Channie mengandung anakmu, dan mereka berdua sekarang dalam… Bahaya.
Pikirannya langsung tersadar seperti ada hantaman keras di kepalanya, Kyuhyun menggeleng pelan sambil menatap secarik kertas itu dan tespeck kehamilan Channie dengan mata yang berkaca-kaca. Tubuhnya kembali bergetar, merasa ia bahkan tidak bisa melindungi Channie dan seorang bayi yang bahkan baru saja membuatnya seperti lumpuh saat menghetahui kehadiran mahkluk kecil itu di dalam perut Channie. Dia akan hadir di tengah-tengah mereka berdua.
“Kyuhyun, jangan bilang ini tulisan penyusup itu untuk mengecohmu, mereka bisa saja untuk—“
“Donghae! Ya, ampun. Aku bahkan bisa merasakan ini tulisan Channie. Dan, dia benar-benar…” Kyuhyun mengusap wajahnya dengan gusar. Kepalanya terasa semakin berat. “Hamil…” Mengingat setiap kali bercinta Kyuhyun bahkan tidak pernah mengeluarkannya di luar.
Ini gila. Channie hamil. Hamil anakku. Aku akan menjadi Ayah. Ya, Tuhan… Batin Kyuhyun terus berbicara seperti ini.
“Emm, kalau menurutku, yang di katakan Donghae ada benarnya. Bukankah selama ini kau bilang Channie dan kau bersepakat untuk tidak mempunyai anak dengan kau menyuruh Channie memakai kontrasepsi?” tanya Changmin hati-hati. Lebih kepada menahan gejolak emosi Kyuhyun yang mungkin sudah berada di batas kenormalan saat ini.
“Demi, Tuhan. Shim Changmin! Semua itu. Aku yang menyuruhnya, jadi bukan kesepakatan bersama. Bagaimana kalau Channie memang tidak memakai kontrasepsi itu, HAH!” sentaknya frustasi.
Matanya semakin memerah dan tangannya mengepal dengan menggenggam bukti tes kehamilan Channie.
“Dia dan….” Kyuhyun menahan nafas sejenak, “Dia sedang hamil. Anakku. Tuhan, mereka ada bersama dengan bajingan itu. Kalau terjadi sesuatu pada mereka berdua. Apa aku pantas untuk hidup?” emosi Kyuhyun semakin meluap. Frsutasi dan kemarahan menjadi satu membuatnya ingin meledak.
“Tenang, Cho Kyuhyun.” Changmin menepuk pundak Kyuhyun, berusaha meredam emosi kyuhyun “Aku hanya berpendapat saja, siapa tahu. Iya kan? Untuk saat ini, pikiranmu sedang kacau dan kau pasti akan bertindak gegabah. Kita tunggu kabar di mana Channie berada saat ini.”
Kyuhyun menggeleng pelan. “Aku tidak bisa. Oh, sialan!” Kyuhyun kemudian berjalan ke arah lemari krystal tempat ia menyimpan wine di kamarnya, memutar perlahan, dan ada tombol di sana. Dengan jari-jarinya yang terampil, memasukkan kodenya. Rak kayu mahoni yang mengkilap yang terletak di seberang lemari krystal itu terbuka.
Donghae dan Changmin hanya memperhatikan Kyuhyun dari sini.
Kyuhyun membuka Jas dan memakai pelindung anti peluru, serta mengambil beberapa peluru dan sebuah pistol, lagi. Setidaknya, dia harus berjaga-jaga. Dua senjata api, cukup. Memakai kembali Jasnya, dan keluar dari tempat ia menyimpan senjatanya. Pandangan Kyuhyun menggelap. Kyuhyun ingin pergi dan menemukan Channie dimanapun gadis itu sekarang.
Ia tidak bisa berdiam diri terus, seperti ini.
“Kyuhyun. Kau akan kemana?”
“Jangan gegabah, Cho Kyuhyun. Kau juga harus selamat!” ujar Changmin dan Donghae memperingatkan. Mereka tahu, kalau Kyuhyun kalap seperti ini, juga tidak baik untuk dirinya sendiri, nanti. Kyuhyun bahkan tidak mengindahkan apa kata Donghae dan Changmin, Ia berjalan cepat dengan perasaan emosi yang membakar.
Saat Kyuhyun hendak melewati pintu, ia mendengar suara aneh. Ia berhenti seketika. Menoleh ke arah Donghae dan Changmin yang saat itu juga menatapnya.
“Kau dengar itu?” gumam Donghae yang juga mendengarnya. “Suara rintihan,” gumam Changmin.
Kyuhyun berbalik kemudian berjalan ke arah walkingcloset dan tempat itu memang ia belum membukanya. Sial. Kenapa bisa ia lupa?
BRAK!
Kyuhyun terkejut saat ada tubuh yang tergelatak tidak berdaya di dalam sini.
“Dokter Shin!” pekik Kyuhyun segera menghambur untuk menolong Dokter Shin yang masih lemah dengan kedua tangan dan kaki di ikat serta mulut yang tertutup isolatip. Membuat tubuhnya yang masih terkena cairan bius belum bisa bergerak.
Sial. Mereka melakukan ini pada Dokter yang tidak bersalah. Apa jangan-jangan, Channie juga? Seketika kepalanya terasa pening membayangkan Channie-nya juga seperti Dokter Shin sekarang ini.
“Panggil Kangin Hyung!”
***
“Ada yang membiayai Doo Joon? Ada orang di balik ini semua!?” tanya Kyuhyun saat menemukan fakta baru dari Sungmin dan juga Jongwoon.
“Ya. Kau pernah menolak kerja-sama dengan perusahaan yang ada di Cina. Bahkan tendernya kau tolak mentah-mentah tanpa mereka mengajukan proposal terlebih dahulu.” tanya Sungmin.
“Mereka juga menginginkan rancangan kapal selam yang baru kau buat untuk wilayah Eropa—“ tambah Jongwoon, “Dan juga rancangan terbaru untuk keamanan di pulau buatan, di Busan.” lanjutnya.
“Astaga! Sialan!” potong Kyuhyun, “Kalau yang kau maksud perusahaan milik Gong Shu… Mereka menginginkan itu bukan untuk perusahaan atau apa melainkan untuk kepentingan politik dan oknum di sana. Mereka mengincar, untuk menjatuhkan perusahaan dan Negara ini. Kalian tahu maksudku, kan! Ah, brengsek!” Kyuhyun mengusap wajahnya kasar.
“Akan aku buat bangkrut dan membusuk. Lihat saja…” geramnya marah.
“Laporan dari satelit kenapa belum bisa di askes… Brengsek!” sentak Kyuhyun membuat Kangin yang merasa bertanggung jawab menjadi sedikit… terkejut dengan umpatan Kyuhyun barusan.
“Helly yang di gunakan sudah di ketahui. Itu dikirim langsung dari Cina. Tsk! Tapi, kenapa pendaratannya belum terbaca. Padahal cuaca juga tidak buruk. Tuhan! Apakah Channie sekarang masih bisa bernafas. Ugh! Shitt!!” Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar.
Sungguh kacau. Ia tidak bisa bertahan jika dalam sehari ini, Channie belum ditemukan. Terpaksa, malam ini ia akan menyusuri sendiri, mencari Channie.
“Cho Kyuhyun…” Donghae mengusap pundak sahabatnya itu. Dia tahu bagaimana Gilanya, Cho Kyuhyun yang sampai detik ini, belum mengetahui posisi dimana Channie berada. “Channie pasti aman. Doa kita semua bersamanya percayalah…”
Mata Kyuhyun memanas. Memejamkan matanya, bayangan senyum Channie mengembang, menyapanya. Channie-nya sangat cantik, dia tersenyum, tapi kemudian sekelebat melintas bayangan gadis itu menatapnya nanar. Jantungnya semakin berdebar dengan keras.
Kyuhyun kemudian mengalihkan dengan menatap layar datarnya. Ia akan membalas semuanya dengan cara kotor dan licik yang paling kejam yang tidak pernah ia gunakan selama ini, dan kali ini ia akan menggunakan cara itu untuk menumbangkan perusahaan milik, pria botak—Gong Shu.
“Ryeowook, sambungkan dengan Mr. Wong.”
Ryeowook yang berada di samping Kyuhyun segera mengernyit. “Kyu, bukankah dia. Maksudku sekretaris Wong, adalah sekretaris Gong Shu, apakah kau—“
“Kau tinggal menghubunginya. Aku yang akan membereskannya. Dia mata duitan dan haus kekuasan. Dasar manusia picik!” kata-katanya yang tajam dan penuh dendam pembalasan di tujukan untuk orang yang telah ikut campur dalam masalah ini.
Donghae dan yang lainnya hanya mampu menghela nafas melihat Kyuhyun—Berbahaya dengan kekuasaan ditambah amarahnya, tidak ada yang sanggup untuk mencegahnya.
“Baik, aku dan Jongwoon akan kembali lagi nanti. Junho sudah mendapatkan rekaman dari CCTV beberapa hari yang lalu. Ada dua petugas di sini yang menurutnya memang ikut andil untuk membaca situasi penthousemu. Aku dan Jongwoon sudah menyelidikinya serta orangku akan segera menemukan dan menangkap mereka. Kau tenang saja.” ujar Sungmin.
“Kami pergi. Jika, ada informasi aku segera mengabarkan.” pamit Jongwoon bersama Sungmin keluar dari ruangan ini.
“Cho Kyuhyun, kau perlu memperhatikan kesehatanmu. Lihatlah, kau sungguh mengenaskan. Setidaknya, makan! Makan. Kau butuh energy untuk menemukan Channie…” ujar Changmin dengan tatapan memaksa dan…prihatin. Kyuhyun tidak suka tatapan seperti ini. Dia tidak lemah. Tidak.
“Benar. Kau harus menjaga kondisimu. Setidaknya kau—“
“Di luar sana, apa Dia sudah makan? Hah!” desisnya. Kyuhyun menggeleng cepat mengingat Channie. Kemudian melihat arloji di tangannya. Shit, Umpatnya. “Sudah 10 jam berlalu,” gumam Kyuhyun dengan memijit pelipisnya.
Changmin hanya bisa menggeleng pelan.
Tidak sabaran, Kyuhyun beranjak ingin segera pergi, tapi Kangin segera menahannya. “Kau tidak boleh bertindak gegabah.”
“Persetan!” Kyuhyun memberontak dan saat ia berhasil lolos. Terdengar umpatan dari mulut Kangin, dan saat Kyuhyun ada di ruang depan. Matanya melebar melihat sesosok yang membuatnya ingin—memberikan pukulan, lagi.
“Apa yang kau lakukan di sini—“ Belum sempat Kyuhyun mengucapkan pertanyaannya dengan emsoi. Kangin sudah datang di belakangnya, menyahut. “Aku yang menyuruhnya ke sini…”
Kyuhyun menoleh ke arah Kangin. “Kau tahu dia—“
“Dia, Jungsoo! Ya, aku tahu.” potong Kangin. Dan Kyuhyun mengumpat lagi. Sedangkan Jungsoo hanya terpaku menatap Kyuhyun yang sangat terlihat sangat mengerikan.
“Tenang.” ucap Kangin pada Kyuhyun yang terlihat sangat tidak suka, Jungsoo datang, “Jungsoo, kemarilah.” Kangin mempersilahkan Jungsoo.
“Hyung!”
“Kyuhyun, dia temanku sewaktu kami di camp Militer.” jelas Kangin, “Kami bertemu lagi belum lama ini. Dan, aku juga tahu masalah kalian berdua.” Kangin berdehem merasa tidak nyaman.
“Tidak penting dia—“
“Juyeon kemarin lusa dia menemuiku dan aku berhasil memasang gps di ponselnya, jadi setidaknya aku bisa melacak dia di mana sekarang.”
Kyuhyun tercengang. Apa, Juyeon? Wanita itu apa juga terlibat.
“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. “Jangan bilang, Wanitamu yang gila itu ikut dalam penculikan—“
“Aku sebenarnya juga tidak menyangka. Tapi, setelah aku tahu kenapa dia sangat membenci Channie. Aku berjaga-jaga. Untuk itu, aku datang memberitahumu. Dua jam yang lalu dia berada di tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Aku kenal dia sudah lama sekali. Dan ini, aneh…” jelas Jungsoo sepertinya sangat tersiksa karena perbuatan Juyeon yang mencelakai Channie—gadis yang ia cintai.
“Sialan! Di mana itu?” sungut Kyuhyun.
“Wilayah Daegu.”
Belum sempat menjawab, ada panggilan dari ponselnya, Kyuhyun segera mengangkatnya.
“Jongwoon Hyung!” sentaknya, “Apa. Dimana? Baik. Sial. Aku juga baru tahu. Kau kirim lebih jelasnya. Ya! Malam ini. Persetan dengan hari esok!” Kyuhyun memasukkan kembali ponselnya.
“Mereka sudah mengetahui. Bagus.” ujar Kangin.
“Ya. Data satelit sudah mereka dapatkan. Dan, Kangin Hyung, siapkan orangmu. Kita ke sana. Sekarang.” jelas Kyuhyun dengan penekanan dan sorot matanya semakin menggelap.
***
Sementara itu, di sebuah ruangan yang sudah lama tidak terpakai dan tua—terlihat dari dinding cat yang mengelupas dan berjamur, serta ada beberapa barang yang memang sudah sangat lama tidak digunakan tergeletak tidak beraturan di ruangan ini. Channie tidak tahu ini di mana, perkiraannya mungkin, di sebuah gedung tua. Bekas, pabrik atau gudang. Entahlah. Perasaan Channie mengatakan demikian, karena saat turun dari Helli—membawanya dari penthouse Kyuhyun, kemudian matanya ditutup dan sampailah ia di tempat ini.
Tanpa bius, sehingga ia bisa mendengar suara tawa dan seringai puas dari orang-orang Jahat itu. Sangat menyakitkan. Apalagi ancaman-ancaman dari pria yang bernama Doo Joon itu yang di tujukan untuk Kyuhyun. Menangis. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Semoga, semuanya cepat berakhir. Ia dan bayinya selamat. Channie tidak bisa mengusap perutnya untuk menenangkan dirinya, tangannya masih diikat kuat.
“Dia masih belum makan?” terdengar suara bentakan dari arah pintu. Suara seorang wanita. Channie tercengang, ada wanita di sini, dan dia sepertinya mengenal suara ini.
“Hei, pelacur.” suara ini… Channie hafal benar, membuatnya otomatis mendongak dan menatap lurus ke arah seorang wanita yang sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dadanya. Pandangan wanita ini, menusuk ke dalam dan penuh dengan seringai puas. Wanita itu berjalan mendekat ke arah Channie masih dengan seringai menghiasi wajahnya.
“Ka—Kau!” pekik Channie.
“Apa? Kau terkejut.” tatapannya sinis kepada Channie. “Bagaimana perasaanmu jauh dari Cho Kyuhyun dan kemungkinan tidak akan bertemu lagi, selamanya…” tawanya terdengar sangat puas.
Channie menatap jijik.
“Hentikan tawamu, Yoo Mi. Kau pikir kau bisa membuatku menjauh dari Kyuhyun? Hah… Mimpi saja kau—Akkhh!”
Tamparan keras mendarat di pipi Channie. PLAK! Lagi, Yoo Mi menampar pipi Channie. Hingga bekas merahnya lebih terlihat jelas. Tatapan Yoo Mi penuh dengan kebencian.
“Kau pikir dengan tubuhmu itu kau bisa menarik Kyuhyun. Kau dengarkan aku, pelacur sialan!” Yoo Mi menarik dagu Channie untuk menatapnya.
“Cho Kyuhyun mengenal seks pertamanya, dariku. Ingat. Dariku!” bentak Yoo Mi, “Dan, dia pasti akan selalu mengingat pengalamannya denganku. Yang, bahkan lebih hebat darimu, sialan!”
Channie berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpengaruh oleh ucapan Yoo Mi, walau memang sangat menusuk hatinya terasa sakit dan menyesakkan.
“Mau menangis, hah?” desis Yoo Mi. “Kau pasti akan di buang—“
“Cho Kyuhyun, sampai kapanpun tidak akan kembali padamu. Kau camkan itu.”
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Channie, membuat Channie meringis kesakitan. Hingga ia bisa merasakan rasa anyir di mulutnya. Darah. Bibirnya berdarah.
“Kau berbicara omong kosong lagi. Aku akan merusak wajahmu…” ancam Yoo Mi lalu di ikuti suara kekehan dari arah pintu. Seorang wanita lagi.
“Kau membuang waktumu, Yoo Mi.”
Channie hafal. Suara ini milik…
“Juyeon?” gumam Channie melihat gadis itu berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang. “Ka—“
“Adik iparku yang malang, ckckck.” dia menggelengkan kepalanya, mendekat ke arah Channie tatapan Juyeon menggelap dan penuh dengan kebencian. Melihat keadan Channie yang mengenaskan dengan ikatan di tangan dan kaki yang melilit di kursi tempat Channie di ikat.
“Kalau saja kau tidak membuat Jungsoo menyukaimu, kau pasti tidak akan seperti ini, pelacur kecil.” ujar Juyeon penuh penekanan pada Channie.
Channie menggeleng, Jungsoo tidak menyukainya. Hanya sebatas, adik-kakak. Dulu, ia memang pernah menyukai. Itu dulu, sebelum ia bertemu dengan Cho Kyuhyun—yang panas dan berbahaya untuknya.
“Kau selalu menjadi prioritasnya, apa kau lupa? Bahkan aku tidak pernah di perlakukan seperti itu. Kau sengaja atau apa?” ucapan Juyeon terdengar putus asa, sedih tapi dia menutupinya dengan tatapan sinisnya ditujukan kepada Channie.
“Tidak—“
“Jangan berlagak kau tidak tahu kalau Jungsoo oppa menyukaimu. Kau semakin membuatku muak dengan tingkahmu yang seperti ini, Park Channie!” sentak Juyeon dengan mengeluarkan pisau dari saku celananya. Pisau kecil namun terlihat… tajam.
“Tidak. Kau akan melakukan apa?” Channie memekik. Ia takut kalau Juyeon menusukkan pisau itu di perutnya—yang kini bahkan ada makhluk kecil di dalam sana. Tidak. Channie menggeleng berulang-kali saat Juyeoon mendekatkan pisau itu sambil tersenyum.
“Channie sayang. Aku tahu, kau sangat cantik, namun kalau cantiknya itu sedikit ternoda apa Pria brengsek itu masih MAU denganmu, huh?” tawa Juyeon terdengar bersamaan dengan Yoo Mi.
“Juyeon. Tidak. Kau tidak mungkin—“
“Oh, aku akan mengukirnya terlebih dulu di bagian…” Juyeon mengamati lekuk leher Channie yang kini berpeluh. Gadis ini memang tampak mengenaskan karena terlihat pucat dan lemah, namun Juyeon sudah di penuhi oleh kebencian. Jadi, dia akan tetap bermain-main—pisau di tangannya dengan tubuh Channie ini.
Menggerakkan sedikit pada permukaan kulit lehernya, Channie meringis merasakan rasa nyeri. Tuhan, ia tidak ingin mati sebelum melihat bayinya lahir ke dunia. Tidak. Dan, ia masih tidak menyangka Juyeon tega melakukan ini padanya.
Bau anyir terciuma oleh Channie seiring dengan rasa nyeri yang semakin menderanya. Beberapa luka akibat goresan pisau itu sudah melukai lehernya. Ia bisa melihat darah yang keluar dari permukaan kulitnya di bagian bawah leher. Tidak mengenai urat nadinya. Setidaknya, ia bisa menahannya sedikit lama. Ia yakin, Kyuhyun pasti akan datang, atau kau kabur? Bagaimana Channie. Kabur.
Rasa perih semakin terasa seiring dengan suara tawa Yoo Mi dan Juyeon.
“Kalian belum puas juga ya…” suara pria itu menghentikan tawa Yoo Mi dan Juyeon. Doo Joon datang dengan pandangannya tertuju pada luka di tubuh Channie.
“Bertahan sedikit jangan pingsan karena kehabisan darah. Si Brengsek sudah mentransfer uangnya, dan sayangnya aku belum memberitahu di mana kau sekarang.” kekehan Doo Joon mengisyaratkan dendam yang begitu membara.
“Aku masih ingin bersenang-senang memberi tanda cantik di tubuh pelacur ini…” sahut Yoo Mi.
Doo Joon hanya menggeleng senang, ini seperti yang ia harapkan. Wanita yang paling di cintai oleh si brengsek Kyuhyun itu menderita perlahan. Merasakan kesakitan, perlahan. Terutama jika, Kyuhyun di sini. Menyaksikan semuanya, atau sebaliknya. Channie menyaksikan Kyuhyun tersiksa.
“Bos—“ teriakan dari satu penjaga dari arah pintu membuyarkan pikiran Doo Joon. Terengah-engah penjaga itu masuk ke dalam ruangan ini.
“Apa!”
“Mereka datang!”
“Sial!” umpat Doo Joon. Mengedarkan pandangannya kepada Channie, Doo Joon menatap penuh amarah. Kenapa bisa mereka tahu secepat ini?
“Kalian tetap disini. Yoo Mi kau ikut, dan Juyeon tetap di sini dengan penjaga di luar ruangan ini. Gunakan senjata apimu, Juyeon. Kau sudah tahu caranya, kan. Todongkan terus ke arah wanita sialan itu!” jelas Doo Joon sambil menatap Channie, “Tunggu aku datang ke sini. Kau jaga jangan sampai dia kabur.” tambahnya sebelum Doo Joon keluar dari ruangan ini di susul oleh Yoo Mi.
Channie merinding seketika saat ia melihat Juyeon mengeluar pistol dari balik blazernya.
“Juyeon kau—“
“Kenapa? Kau terkejut aku bisa menggunakan senjata ini?” kata Juyeon meremehkan.
Channie mengamati raut wajah Juyeon, walaupun ia tidak suka sifat Juyeon tapi Channie mengenal Juyeon sangat lama, sejak Juyeon menjadi teman Jungsoo di sekolah menengah hingga sekarang. Wajah Juyeon terlihat sedikit pucat dan sepertinya dia takut menggunakan senjata ini.
“Juyeon. Aku tahu kau—“
“Diam wanita sialan!” potong Juyeon marah dengan semakin dekat ia menodongkan senjata itu tepat pada wajah Channie. “Sekali lagi kau bicara… Aku tidak segan meledakkan kepalamu itu!” desis Juyeon penuh ancaman.
Channie berusaha mengatur pernafasannya yang tidak teratur, walau ia tahu Juyeon juga gugup memegang senjata api itu. Tetapi tidak menutup kemungkinan Juyeon bisa menembakkan peluru itu ke dalam tubuh, atau… kepalanya.
Channie mengalihkan pandangan dari tatapan Juyeon. Mengedarkan pandangan ke arah pintu. Ada dua orang penjaga di sana dan kelihatannya ruangan tempat Channie di sekap ini, jauh dari tempat ‘Mereka’ yang datang di maksud oleh anak buah Doo Joon. Memikirkan cara untuk keluar Channie menjadi sedikit putus asa untuk tidak melihat ada yang terluka di sini. Karena mungkin Kyuhyun juga terluka, nanti. Membayangkannya saja perutnya bergejolak.
Tidak….
Melirik sedikit ke arah Juyeon, gadis ini masih menodongkan senjata api ini kepadanya namun kelihatannya tidak terlalu dekat, tangan Juyeon yang satupun sibuk dengan ponsel.
Kalau Channie bergerak sedikit pasti akan terdengar, ia ingin membebaskan kakinya terlebih dulu. Pelan-pelan Channie. Ia sebisa mungkin meminimalisir gerakannya. Tapi memang sangat sulit. Merasa sulit, Channie menggerakkan jarinya perlahan. Tanpa ia sengaja ia menyentuh tepian kursi ini, tempat ia duduk dan di lilit oleh tali sialan. Pinggiran kursi ini terbuat dari besi. Setidaknya, mungkin bisa melepaskan tali.
Channie menggunakan untuk menggesekkan sedikit tali di tangannya. Perlahan. Perlahan.
“Kalian tetap di sana. Jangan kemana-mana dan jangan biarkan dia lolos!” suara Doo Joon dari Handy Talky yang penjaga itu pegang terdengar oleh Channie.
“Nona, tetap di situ!” perintah penjaga itu pada Juyeon yang otomatis membuat kegiatan Juyeon pada ponselnya terhenti sejenak.
“Kau memerintahku seakan aku anak buahmu. Gendut sialan!” sentak Juyeon kesal. Kenapa Doo Joon tidak memberinya HT seperti semua orang-nya di sini. Yoo Mi juga tidak membawa, kan? Kenapa? Sepertinya ada yang aneh…
“Hey! Masih hidup, kan?” kata Juyeon dengan senyuman terkembang di bibirnya. “Jangan mencoba kabur atau apapun. Kyuhyun tidak akan bisa menemukanmu di sini. Tempat ini tidak akan mungkin terdekteksi oleh semua anak buah suami-kontrakmu itu!”
Channie tidak menggubrisnya. Ia harus bisa meloloskan diri. Sementara Juyeon tengah melihat ponselnya dan satu tangannya masih dengan senjata yang terus mengarah pada Channie. Perlahan Channie bisa merasakan usahanya berhasil dan…
Melirik Juyeon, Channie melihat Juyeon kurang konsentrasi. Entahlah apa yang ia baca dari pesan di ponselnya sehingga dia terlihat… terluka dan kacau. Menggerakkan tangannya yang sudah terlepas, tinggal tali yang melilit di dada ke perutnya, Channie sepelan mungkin untuk tidak menimbulkan suara. Dia harus bisa merebut senjata itu dari Juyeon. Paling tidak, Channie pernah ikut Ayahnya dulu yang suka berolah-raga tembak. Jadi, sedikit ia juga pernah memegang dan tahu cara menembak. Walau tidak mahir.
Juyeon lengah…
Dengan menggerakkan kakinya yang masih terlilit, Channie menggeser sedikit kursinya, hingga ia mendekati Juyeon. Tangannya dengan sigap meraih tangan Juyeon hingga Juyeon menjerit.
“Akh! Sialan kau!” pekiknya saat Channie berhasil merebut senjata itu walau hasilnya Channie terjatuh bersamaan dengan kursinya.
Tubuh mungilnya yang masih melilit di kursi tidak membuatnya lantas lengah karena merasa sakit. Channie mengarahkan senjata itu pada Juyeon yang berdiri di hadapannya dan juga dua penjaga yang sudah berada di belakang Juyeon.
Tenang, Channie… Nafasnya mulai memburu.
“Mundur!” perintah Channie, “Atau aku akan menembakkan ini pada kalian.” sentak Channie.
Juyeon tergagap namun kemudian dia tersenyum meremehkan. “Hah? Kau kira aku percaya kau bisa menembak.” penghinaan ini membuat Channie ingin menembak Juyeon tepat di kepala gadis ini. “Kau masih belum bisa melepaskan dari kursi ini, kau pikir kau bisa dengan mudah—“
DOR!
“Akkhhh!!!” tepat setelah suara dentuman itu, satu penjaga di belakang Juyeon tergeletak dengan luka di kakinya. Juyeon dengan satu penjaga itu tergagap mundur tapi masih menodongkan senjata itu ke arah Channie.
“Buang HT dan senjata!” teriak Channie saat satu penjaga yang tersisa ini masih memegang alat komonikasi itu. “Buang atau aku akan menembak wanita ini dan—“
Channie melihat gerakan tangan penjaga itu hendak menembakkan kepadanya. Tapi, dengan sigap Channie segera menarik pelatuknya. Dan satu tembakan lagi mengenai tumit penjaga tersebut, kemudian langsung tergeletak dengan jeritan kesakitan. Channie dengan cepat meloloskan dirinya dari lilitan tali yang melilit tubuhnya dengan kursi dan kakinya.
Juyeon yang masih terlihat shock berusaha kembali untuk merebut senjatanya semula, tapi Channie dengan sigap mengarahkan senjata itu pada Juyeon. Dengan sama-sama nafas mereka yang memburu, dan tatapan saling mengintimidasi, mereka masih saling menatap. Channie hanya tidak ingin melukai Juyeon.
“Kalau kau membiarkan aku pergi, aku tidak akan melukaimu…” kata Channie dengan nafasnya yang pendek-pendek. Melirik kembali ia pada dua penjaga yang masih tidak sadarkan diri. Bagus, setidaknya ia bisa meloloskan diri dari ruangan pengap ini.
“Kau pikir aku akan kalah darimu!” tantang Juyeon.
Persetan! Dengan tidak melukai Juyeon. Channie menarik pelatuknya dan Bingo! Juyeon terlihat pucat.
“Kau pikir, aku sebaik itu, Juyeon? Aku bahkan tega untuk menghabisimu. Di sini!” ancam Channie. Jungsoo oppa. Maaf. Maaf… batinnya berusaha mengingatkan bahwa wanita ini masih berstatus tunangan sepupunya itu.
“Ch—Channie. Kau tidak mungkin—Akkhhh!” pekik Juyeon merasakan pukulan di wajahnya. Channie melayangkan pukulan dan kemudian melarikan diri dengan cepat.
Juyeon yang meringis kesakitan, matanya melihat Channie yang berhasil keluar dari tempat ini membuat emosinya semakin meledak. Meraih HT yang tergeletak di lantai, Juyeoon menghubungi siapapun yang menerima panggilannya.
“Gadis pelacur itu melarikan diri!!! cepat temukan dia!”
***
Channie berlari menjauh dari tempat ia di sekap dan semoga ia bisa menemukan jalan keluar dari gedung tua ini. Tempat ini minim penerangan dan terlihat sangat mengerikan. Dimana Kyuhyun dan orang-orangnya yang katanya telah tiba, bahkan Channie tidak bisa mendengar apapun selain derap langkahnya.
Channie menuruni anak tangga dengan susah payah. Matanya tertuju pada alat yang sepertinya untuk naik dan juga turun dari lantai ini. Bukan lift, sepertinya bekas pengangkut barang. Channie turun perlahan dengan menggunakan alat tersebut dan saat ia tiba, keluar dari alat tersebut Channie mendengar suara derap langkah, bukan langkah. Tapi berlari? Semakin mendekat, Channie yakin, orang-orang itu menuju ke alat ini.
Nafasnya memburu, Channie mencari tempat persembunyian. Perih di lehernya perpaduan nyeri karena keringatnya juga semakin deras keluar dari tubuhnya. Menahannya dengan meringis pelan, akhirnya Channie bersembunyi di tumpukan karton. Dan Channie bisa mendengar tidak hanya satu orang bahkan beberapa, jumlahnya lebih dari lima orang.
“Kalian menyisir di dekat sini. Aku akan ke atas.”
Channie terkejut mendengarnya. Apa? Jadi mereka juga menyisir tempat ini. Sial. Pelurunya tinggal dua. Berapa orang yang akan menemukannya, pasti tidak akan bisa Channie menghabisinya.
Channie mendengar suara tembakan dari kejauhan. Itu mungkin orang Kyuhyun? Tidak lama kemudian banyak yang berhamburan datang dari arah berlawanan. Dan suara tembakan begitu menggema di lantai ini. Channie mencoba tenang. Ya, Tuhan. Sebenarnya dia sangat takut mendengar suara senjata api yang terus menerus seperti ini. Pukulan demi pukulan Channie bisa mendengar dengan jelas. Membuatnya semakin ketakutan.
DOR!
“Jangan bergerak!”
“Sialan!”
Channie seketika membeku merasakan ada sesuatu yang menyentuh pelipisnya. Tubuhnya bergetar dan keringat dingin seketika keluar dari pori-pori tubuhnya dengan cepat. Melirik dari ekor matanya, Channie tahu yang menodongnya adalah senjata api.
“Ikut aku nona!” suara pria itu terdengar sangat tegas. “Atau aku tembakkan sekarang juga.” otomatis Channie mengikuti apa kata pria tersebut. Kedua tangan Channie sudah dalam genggaman pria tersebut, dan dia sulit untuk bergerak.
Tidak boleh menyerah. Channie terus mengatakan pada dirinya.
Saat pria itu mulai melangkah, dan berhadapan dengan satu pria yang mungkin adalah orang Kyuhyun. Melihat bagaimana terkejutnya orang di depannya ini saat melihat Channie dengan pistol yang mengarah pada kepalanya, pria di depannya ini membuang senjatanya atas perintah anak buah Doo Joon.
Channie memberi isyarat pada pria di depannya ini. Dan kemungkinan pria itu tahu apa maksudnya, saat anak buah Doo Joon membawanya melewati, Channie menggerakkan kakinya pada tungkai anak buah Doo Joon itu, seketika pria itu mengambil alih pistol dari tangan anak buah Doo Joon, dan Channie bisa meloloskan diri.
Satu tembakan mengenai dada anak buah Doo Joon.
“Cho Kyuhyun—“
“Dia bersama yang lain masih di lantai bawah nona, kami menyusup dari atas.” kata pria itu pada Channie. “Ikuti kami.” kata pria itu dengan kedua temannya yang tiba-tiba ada di belakang Channie.
Berjalan dengan senjata selalu siaga di tangan dan tatapan terus konsentrasi untuk menimalisir akan terjadi serangan mendadak dari anak buah Doo Joon.
Tiba-tiba saat berada di lorong, segerombolan anak buah Doo Joon menghadang dengan Yoo Mi ada di antara mereka. Jumlah dari kelompok Doo Joon tujuh orang, belum termasuk Yoo Mi sedang Channie hanya berempat dengan dirinya sendiri.
“Kau pikir kau bisa dengan mudah keluar dari sini,” desis Yoo Mi.
Dengan cepat pergerakan dari dua kubu saling menyerang, dan pukulan demi pukulan terdengar jelas. Beberapa dari orang Doo Joon tergeletak. Yoo Mi tau ia dalam bahaya, dengan cepat ia bergerak mendekat ke arah Channie.
Mereka berdua sama-sama menodongkan pistol. Tatapan Yoo Mi penuh dengan amarah kepada Channie. Seringai muncul di wajahnya seiring ia menarik pelatuknya.
“Kupikir, akan lebih adil jika tidak menggunakan senjata, satu-sama lain.” ujar Channie penuh intrik. Wajah Yoo Mi yang terkejut kemudian tersenyum mendengar tantangan dari Channie.
“Katakan saja, kau tidak bisa menggunakan—“
DOR!
Yoo Mi terkejut mendengar tembakan yang menuju ke arahnya, berbalik ada Donghae di sana. Channie melihat Yoo Mi lengah kemudian menari tangan Yoo Mi hingga senjatanya terjatuh dan Yoo Mi memekik kesakitan saat tubuhnya terjatuh.
Donghae segera mendekat ke arah Channie, tapi Yoo Mi tidak mau kalah begitu saja, dengan sigap ia menendangkan kakinya pada tumit Channie, melilitkannya hingga Channie juga ikut terjatuh tidak sengaja pelipisnya membentur keras tepian sebuah alat yang terbuat dari besi yang tidak terpakai di sana. Hingga ia bisa mencium bau anyir keluar dari pelipisnya. Donghae berteriak, tapi ia tidak bisa maju karena seorang—anak buah Doo Joon menghadangnya, hingga Donghae dengan kekuatannya menghujamkan pukulan kepada pria itu.
Yoo Mi kembali menerjang tubuh Channie tapi Channie lebih sigap walau luka di kepalanya membuatnya merasa pusing, ia mengarahkan senjatanya pada Yoo Mi.
“Kau pikir aku takut.” desis Yoo Mi, “Tidak akan aku biarkan kau hidup dan bersenang-senang dengan Cho Kyuhyun.” kata Yoo Mi tegas kemudian menghambur ke arah Channie, dan Channie dengan cepat menggerakkan tubuhnya menyamping, sehingga ia bisa menghindari gerak tubuh Yoo Mi yang sangat emosi ingin menghabisinya.
“Aku peringatkan padamu. Aku bisa saja membunuhmu sekarang, Yoo Mi!” teriak Channie.
“Oh, lakukan!” tantang Yoo Mi.
“Aku sendiri yang akan menghabisimu!”
Suara seorang pria membuat Channie menoleh, sesosok yang sangat ia nantikan muncul di sana dengan tatapan yang tajam mengarah pada Yoo Mi. sedang Yoo Mi yang tahu Kyuhyun berdiri di sana, ia membeku melihat tatapan tajam Kyuhyun yang semakin menggelap dan ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Kyuhyun melirik pada Donghae—yang baru saja selesai membereskan anak buah Doo Joon, untuk mendekat ke arah Yoo Mi. Kyuhyun melempar satu senjatanya kepada Donghae, yang memang tadi senjata Donghae yang entah bagaimana ceritanya bisa beralih ke tangan kelompok Doo Joon.
Yoo Mi merasakan hidupnya akan berakhir sebentar lagi.
“Ky—Kyuhyun.”
Suara Channie membuat Kyuhyun menoleh kepadanya. Tatapan Kyuhyun terasa sangat mendalam padanya. Tetapi ada sorot terluka ketika melihat Channie dengan keadaan yang seperti ini. Ada perasaan lega, Channie masih ada. Hidup. Kemudian sorot mata Kyuhyun menajam ketika melihat pakaian Channie dengan bekas darah dan kepala Channie masih terlihat jelas di sana, terluka dan darah juga mengalir dari sana.
Channie menatap Kyuhyun yang sepertinya masih terpaku menatapnya. Dia juga merasa lega, bisa melihat Kyuhyun, lagi. Walau keadaan pria itu jauh dari kata baik—terlihat dari kacaunya wajah Kyuhyun kini. Memang tidak ada bekas darah, tetapi hati Channie meringis pedih melihat keadaan ini. Satu tetes air mata jatuh ke pipinya.
“Sialan, Channie. Siapa—“
“Tetap di situ Cho Kyuhyun!” terdengar suara seorang yang membuat langkah Kyuhyun terhenti seketika. Menoleh kesamping, Kyuhyun mendapati Doo Joon dengan senjatanya mengarah padanya.
“Turunkan senjatamu, Brengsek!” pekik Doo Joon mengarah pada tangan Kyuhyun yang masih memegang senjatanya.
Kyuhyun menyeringai, tetapi dengan cepat ia mengarahkan senjatanya pada Doo Joon.
“Tidak akan!” desis Kyuhyun saat akan menarik pelatuknya ia baru sadar, pelurunya…habis.
Double sialan!
Donghae yang menyadarinya kemudian berteriak, “Kau menembaknya. Aku akan menghabisi wanita simpananmu ini!” ancam Donghae sambil erat melekatkan senjatanya pada pelipis Yoo Mi.
“Oh, aku tidak ada urusan dengan wanita itu. Bunuh saja, aku tidak peduli!” Yoo Mi membulatkan matanya, tidak percaya apa yang dikatakan Doo Joon.
“Pria brengsek! Siapa yang membantumu selama ini. Hah!” teriak Yoo Mi penuh dengan amarah. Sementara Doo Joon tetap mengarahkan senjatanya pada Kyuhyun.
“Kau itu bodoh. Maka dari itu, CEO-Brengsek ini tidak memilihmu. Tsk!”
“Sialan kau, Doo Joon!”
Kyuhyun memanfaatkan keadaan ini dengan menerjang tubuh Doo Joon untuk merebut senjata itu dari tangan Doo Joon. Keduanya kemudian terjatuh bersamaan, bergulat sedang Kyuhyun mencoba meraih senjata itu, baku-hantam terjadi namun senjata itu masih belum berpindah tangan ke tangan Kyuhyun.
Channie terpaku dan tubuhnya bergetar melihat pergulatan dua orang saling memukul, walau Kyuhyun jauh lebih banyak menghujamkan pukulan ke tubuh Doo Joon—karena Doo Joon lebih melindungi senjatanya untuk menghabisi Kyuhyun, nanti. Channie hendak menembakkan senjatanya tapi ia tidak bisa fokus. Sial. Kalau begini, Kyuhyun bisa terkena tembak dari Doo Joon.
Menutup matanya, Channie merasa pusing. Kepalanya semakin berat, berdenyut nyeri.
Melihat Kyuhyun sedang di ambang maut, Channie terasa lemas. Tangannya tidak bisa ia gerakkan untuk menarik pelatuknya. Tiba-tiba ia bersimpuh di lantai—tidak bisa menahan berat tubuhnya.
“Channie!” Donghae berteriak melihat Channie seakan-akan mau pingsan. Kyuhyun yang mendengar itu lalu menoleh ke arah Channie dan seketika terkejut melihat Channie begitu lemah, menahan sakit di tubuhnya. Luka di lehernya mulai melebar dan di kepalanya juga terlihat parah.
Ugh! Brengsek!
Kyuhyun merasakan senjata itu ada di pelipisnya, sekarang. Ia lengah dan Doo Joon memanfaatkan situasi ini. Kyuhyun terdiam. Pandangan matanya masih lurus ke arah Channie, dan juga sebaliknya. Channie menatapnya dengan tatapan yang ia sendiri tidak bisa mengartikannya… Sedih… Terluka.
Ya, Tuhan, Channie… Hati Kyuhyun seperti teriris-iris melihat Channie seperti ini.
Channie merasakan tatapan intens dari Kyuhyun walau pandangannya mulai mengabur ia bisa melihat tatapan Kyuhyun kini turun ke perutnya. Apa Kyuhyun sudah tahu ia… hamil? Hamil… anaknya. Buah percintaannya dengan Kyuhyun. Apa Kyuhyun akan menerima anak ini, jika nantinya mereka berdua selamat? Kyuhyun terus menatap perutnya, membuat Channie tidak kuasa menahan tangisnya.
Melihat Kyuhyun dengan pistol di pelipisnya, membuat pikirannya kosong. Kyuhyun apakah akan mati, di depannya? Mati sebelum tahu dari bibir Channie sendiri bahwa ia mencintai. Bahwa ia mengandung anaknya.
Kepalanya semakin nyeri seperti tertusuk ribuan jarum memikirkan hal ini. Tidak ini akan menjadi kenyataan… Tapi, Kyuhyun tidak begitu mudah meninggalkannya. Tidak.
“Bagus! Dulu aku melihat Ayahku tertembak olehmu, sekarang istrimu melihatmu yang akan tertembak, mati. Olehku.” jelas Doo Joon dengan seringainya.
Kata-kata Doo Joon seperti menghantam dada Channie, terasa sesak. Ini, tidak mungkin. Tidak mungkin. Bahkan ancaman Donghae juga tidak mampu mengalihkan. Tidak kuat menahan rasa pening dan juga apa yang ia lihat di depannya—Kyuhyun akan meregang nyawa, membuat Channie semakin melemah.
“Siap-siap menemui ajalmu, Cho Kyuhyun!” seringai itu makin lebar dan gemuruh di dada Channie semakin menjadi membuatnya lumpuh hanya melihat Doo Joon menarik pelatuknya.
“Cha—Channie!” panggil Kyuhyun, sepertinya dia tahu Channie akan—
Channie tiba-tiba mendengar suara tembakan yang cukup keras. Dan seketika itu, ia tidak kuasa menahan tubuhnya, matanya tertutup, tubuhnya tergeletak tak berdaya di lantai. Ia jauh terseret kedalam alam bawah sadarnya, sebelum mendengar suara teriakan Kyuhyun memanggil namanya yang menyayat hati.
“Channie! Channie!”
Apa Kyuhyun memanggil namanya sebelum pria itu meninggal? Kyuhyun… Pergi. Seperti mimpinya? Mimpinya menjadi kenyataan… Apakah seperti ini jalan hidupnya? Dan Channie sudah tidak bisa merasakan dan mendegar teriakan yang memanggilnya. Semuanya gelap…
***
Channie merasakan dirinya seperti di awan-awan. Tapi untuk membukanya itu terasa sangat berat. Bahkan tangannya sulit untuk di gerakkan. Apa dia sudah mati? Tapi kenapa seolah ia bisa merasakan detak jantungnya. Ia juga masih bernafas.
Lalu? Ia sekarang di mana dan kenapa ia sulit membuka matanya. Tubuhnya masih terasa nyeri. Kemudian ia samar-samar mendegar suara. Ada suara yang sangat ia kenal.
“Sampai kapan?” terdengar sangat frustasi dan itu suara… Cho Kyuhyun. Jadi apa Kyuhyun masih hidup? Lalu siapa yang tertembak? Bukankah Kyuhyun yang jelas-jelas akan tertembak oleh Doo Joon.
Kyuhyun. Masih. Hidup. Tuhan. Perasaan hangat menerpanya…
“Tenang, Tuan. Masa kritisnya sudah lewat. Tinggal menunggu ia siuman dari pengaruh obat.”
“Bayi… Bayi kami apakah dia masih bertahan—“
Saat mendengar Kyuhyun menyebut ‘Bayi’ kepala Channie semakin berat, jawaban dari dokter bahkan ia sudah tidak bisa mendengarnya lagi. Apakah ia masih mengandung ataukah… keguguran. Tidak kuasa menahan sesak di hatinya, rasa nyeri begitu hebat menghantam kembali ke kepalanya.
Channie kemudian terserat ke alam bawah sadarnya sebelum ia ingin mengatakan kalimat yang selalu ia ingin katakan. Alasan kenapa dia menginginkan bayi dalam pernikahan kontraknya, karena…
                           ‘Aku mencintaimu… Cho Kyuhyun…’
***
Channie tergerak untuk membuka matanya yang sepertinya memang enggan membuka dengan mudah. Masih terasa berat. Entah ada apa dengan dirinya hingga ia sulit sekali membuka matanya.
“Belum sadar juga,” suara peremuan. Channie masih begitu hafal suara saudara perempuan Kyuhyun ini walau mereka jarang bertemu.
“Apa perlu aku bawakan pakaian ganti? Kau bahkan—“
“Aku hanya ingin saat dia sadar aku ada di sisinya. Hanya itu!” potong Kyuhyun. Tegas dan tidak terbantahkan. Kemudian terdengar helaaan nafas panjang dari Ahra.
“Makan… Kau belum makan sama sekali. Aku khawatir melihatmu. Setidaknya, saat Istrimu sadar, kau juga sehat bukannya malah jatuh sakit karena kau tidak mengurus dirimu sendiri. Aku mohon, Cho Kyuhyun.” suara Ahra seperti sangat memohon dan penuh kasih sayang pada adiknya.
Hati Channie teriris sakit mendengar nada Ahra yang sepertinya terluka melihat Kyuhyun seperti ini. Entah seperti apa, Channie sendiri juga belum bisa membuka matanya. Walau ia sudah berusaha membuka sekuat tenanganya.
Bahkan kata Ahra, sudah dua hari dia terbaring. Tuhan, dia ingin sadar dan melihat Kyuhyun. Batinnya menjerit.
“Eomma sepertinya—“
“Aku sudah cukup kau ada di sini, kak…” potong Kyuhyun cepat. Ada perasaan sedih dalam ucapannya. Kyuhyun pasti memerlukan perhatian Ibunya. Tapi, sepertinya Ibunya belum…
“Em, Ibu dan Ayah mertua sudah datang?” tanya Ahra, sepertinya mengalihkan suasana.
“Mm…Mereka datang, tapi Channie bahkan tidak mau membuka matanya…” jawaban Kyuhyun yang sangat pelan dan sedih membuat Channie ingin berlari ke arah Kyuhyun dan memeluk pria itu.
Tiba-tiba Channie mendengar suara pintu terbuka.
“Eomma…” Kyuhyun memanggilnya dengan pelan. Ibu Kyuhyun datang.
“Menantuku belum siuman?” tanya Cho Hana—Ibu Kyuhyun.
“Yang seperti Eomma lihat.” jawab Kyuhyun dingin.
“Ya, Tuhan. Maafkan Eomma… Sayang. Maaf…” wanita itu kemudian menghambur memeluk Kyuhyun dengan erat. “Maafkan Eomma. Kau boleh mencaci Eomma yang selama ini mengabaikanmu. Eomma…”
“Ma…”
“Cho Kyuhyun. Eomma tidak tahu apa mama pantas meminta maaf dan dimaafkan. Eomma menghindarimu karena kau sudah cukup berat—“
“Eomma bicara apa.” ujar Kyuhyun pelan.
“Eomma tahu, kau berat memikul semua tanggung-jawab ini, Eomma kira dengan menghindarimu karena tidak ingin menambah berat bebanmu karena Eomma merasa terpukul oleh kematian Ayahmu, Eomma akan bisa meringankan beban tapi… Eomma tahu itu salah.. Justru itu suatu kesalahan besar.” ucapnya terisak.
“Ma, cukup. Aku tahu. Aku tahu itu…”
“Andaikan Eomma bisa mengembalikan semua waktu. Eomma akan—“
“Eomma ada di sini untukku dan juga Channie. Itu sudah cukup.” ucap Kyuhyun tulus. Terdengar suara isakan tangis dari Ahra dan juga Cho Hana. “Aku juga ingin. Aku akan selalu ada untuk kalian…”
“Oh, Anakku…” tangis Cho Hana pecah seketika mendengar putranya berkata seperti ini. “Eomma akan menebus semua ini.  Eomma janji… Ya, Tuhan. Anakkku… Maafkan Eomma, Nak.”
Channie tiba-tiba merasakan air matanya mengalir di sudut matanya.
“Kyuhyun. Lihat, Channie…menangis?”
***
“Bangun, sayangku…. Bangun…” Channie merasakan kecupan bibir Kyuhyun berulang-kali di punggung tangannya yang dalam genggaman tangan Kyuhyun.
“Ku mohon, Channie…” bisikan suara Kyuhyun terdengar begitu…terluka. Membuat Channie merasa sesak di dadanya.
“Sayang, bangun…” sangat tulus dan penuh dengan kasih sayang walau terdengar begitu serak seperti Kyuhyun menahan gejolak emosinya.
Channie merasakan bibir hangat Kyuhyun mendarat di kedua pipinya lalu di kedua matanya, tepat saat bibir Kyuhyun mendarat di dahinya. Channie merasakan bibir Kyuhyun bergetar di sana. Apa Kyuhyun… akan menangis.
Sebelum Channie berhasil menerka. Ia merasakan basah di matanya. Bukan dari air matanya. Tetesan air mata… Kyuhyun.
Channie, kau membuatnya menangis. Bangun, Channie. Bangun… Kau harus menghadapi kenyataan. Entah, dengan bayimu yang masih ada atau tidak… Kau harus bangun. Pria ini begitu… membutuhkanmu. Dia terluka, dia kehilanganmu hingga tidak ada minat berbuat apa-apa lagi. Tidak peduli sekelilingnya, ia hanya peduli padamu. Selalu di sisimu. Dia… begitu memujamu, Channie.
Dan kau, mencintainya. Katakan, Channie. Katakan kau mencintai pria yang begitu tulus menyanyangimu. Apa? Kyuhyun… menyanyanginya? Channie bahkan merasakan Kyuhyun lebih dari menyanyanginya. Pria itu sudah…Mencintainya. Ia tahu, Kyuhyun tidak mungkin mengatakannya, karena pria itu masih tidak menyukai kata itu karena kejadian masa lalu kakaknya yang begitu menyakitkan membuat hidupnya berubah, yang menurutnya sangat menyakitinya.
Dada Channie bergemuruh dan terasa sesak sekaligus hatinya terasa hangat. Sel syaraf otaknya bekerja dengan cepat membangun kesadaran penuh. Ia harus bangun, demi… Kyuhyun…
“Ya, Tuhan. Channie… bangun… sayangku. Bangun…” bisik Kyuhyun lagi, lebih serak dan tidak salah lagi, ia menangis.
Tuhan, pria ini menangis. Demi dirinya yang masih terbaring di ranjang ini, pria seperti Kyuhyun—terlihat egois dan tidak peduli, sempurna, tegas, berbahaya dan sangat pemaksa untuk semua keinginan yang ingin di capainya. Sekarang terlihat begitu rapuh. Tidak berdaya.
Channie kemudian merasakan sentuhan hangat dan lembab di bibirnya. Kyuhyun mencium tepat di bibirnya. Selain perasaan bahagia, seperti saat Kyuhyun menciumnya. Ia merasakan, bibir Kyuhyun masih bergetar. Kyuhyun menahan sesak di dadanya, mendiamkan bibirnya di tekan lembut oleh Kyuhyun. Channie merasakan setetes, dua tetes dan tiga tetes air mata Kyuhyun menetes di pipinya.
Terdiam cukup lama, dan tangannya masih dalam genggaman Kyuhyun. Channie ingin merengkuh tubuh Kyuhyun. Tiba-tiba ia merasakan wajah Kyuhyun menyeruak di lekukan lehernya, memeluknya dengan deru tangis Kyuhyun yang terdengar begitu menyayat hatinya. Pria ini menangis. Hingga Channie bisa merasakan pundaknya basah oleh air mata pria ini. Begitu hebatkah, menangisnya Cho Kyuhyun? Channie bahkan tidak pernah mendengar tangisan semacam ini, sebelumnya. Bahkan untuk seorang Cho Kyuhyun, ini terdengar sangat mustahil.
Tapi, tangisan ini begitu nyata. Cho Kyuhyun menangis untukmu, Channie…
Tangisan menyiratkan perasaan kehilangan yang begitu mendalam. Perasaan kasih sayang yang Kyuhyun pendam selama ini. Perasaan frustasi dan merasa bersalah yang begitu besar… Kyuhyun seperti sudah benar-benar ditinggalkan oleh dirinya.
Belum reda tangisan Kyuhyun, Channie mendengar bisikan Kyuhyun di sela-sela isak tangis pria ini, tepat di telinganya.
“Bangun, dan dengarkan aku bicara. Ku mohon…”
Channie berusaha membuka matanya dan menggerakkan tangannya untuk menyentuh punggung Kyuhyun. Walau terasa berat, ia harus bisa… harus mendengar apa kata Kyuhyun. Setidaknya, walau itu akan membuatnya kecewa. Ia ingin Kyuhyun juga mendengar bahwa ia mencintai Kyuhyun. Tidak peduli pria itu menerima atau… tidak.
Saat Channie akan menggerakkan tangannya, Ia mendengar sesuatu—bisikan lembut dan begitu tulus yang membuatnya ingin hidup selamanya, bersama Kyuhyun.
                                      “Aku mencintaimu, Channie…”
Channie perlahan bisa melihat siluet putih di depan matanya tampak sinar lampu yang menyilaukan walau pandangannya mengabur karena ia juga menahan air mata di pelupuk matanya dan beberapa sudah menetes melalui sudut matanya—bahkan ini Kyuhyun tidak tahu. Ia tahu ia berada dalam kamar inapnya, di rumah sakit. Menggerakkan tangannya Channie menyentuh punggung Kyuhyun perlahan, karena Kyuhyun—masih menyembunyikan wajahnya di lekukan lehernya.
Channie mengusapnya perlahan, membuat Kyuhyun seketika terperanjat. Ia menatap Channie dan betapa terkejutnya ia melihat Channie sudah sadar. Gadis ini… tersenyum padanya.
“Cha—Channie. Kau…”
“Kau menangis?” bisik Channie lemah dan suaranya terdengar serak.
Kyuhyun sadar dengan matanya yang masih basah, seketika ia menggerakkan tangannya untuk mengusap mata dan pipinya yang basah akibat tangisnya yang pecah karena ia merasa putus asa Channie akan meninggalkannya.
Channie mengusapkan tangannya pada wajah Kyuhyun—yang terlihat kacau, dengan lembut dan tatapan Channie yang begitu sendu membuat Kyuhyun tidak tahan untuk ia menangis lagi. Tidak. Tidak. Ia akan menahan sebisanya.
“Mm.. Hanya flu ringan.” jawab Kyuhyun pelan dengan suara seraknya. Ia berbohong dan Channie tahu itu.
Kyuhyun masih menikmati sentuhan lembut Channie di wajahnya, kemudian membawa tangan Channie ke mulutnya. Mengecupnya berulang-kali dengan penuh perasaan.
“Ya, Tuhan, Channie aku—“
“Sshhh…” bisik Channie menghentikan apa kata-kata Kyuhyun. “Aku—aku ingin bicara padamu,”
Kyuhyun menggeleng, “Aku panggilkan Dokter,” Channie buru-buru mencegahnya.
“Channie—“ Kyuhyun terdiam melihat mata Channie yang memerah… Channie mengeluarkan air mata mengalir ke pipinya yang pucat. “Channie apa? Aku panggilkan Dokter, biar mereka tahu—“
“Aku berbohong…” bisik Channie lemah dengan suara seraknya. Channie menatap Kyuhyun dalam-dalam dengan pandangan matanya yang mengabut oleh air mata.
“Channie… Jangan bicara—“
“Aku membohongimu, Cho Kyuhyun…” bisiknya lagi, dengan suara yang frustasi dan air mata masih mengalir deras ke pipinya.
Kyuhyun menangkup wajah Channie dengan kedua tangannya. Memejamkan matanya, ia berbisik pada Channie. “Shhh… Channie. Kau sadar aku sudah sangat bahagia. Aku bahagia. Kau harus tahu itu—“
“Aku tidak memakai kontrasepsi sesuai perintahmu dan aku…”
“Sshhh….” bisik Kyuhyun lagi tepat di depan bibir Channie, pandangan mereka berdua bertemu dan masih saling menyelami perasaan masing-masing. “Istirahat. Channie—“
“Aku hamil…” potong Channie dengan suara isakannya, “Cho Kyuhyun, aku hamil.” lanjut Channie lagi.
Kyuhyun terdiam sambil memejamkan matanya. Channie sedih melihat reaksi Kyuhyun. Apa Kyuhyun benar-benar menerima anak ini?
“Kalau kau tidak menginginkan dia. Aku akan merawatnya sendiri. Aku tahu ini salahku—“
“Channie—“
“Aku tahu kau tidak menginginkan bayi ini, tapi ini terjadi dan kau merasa aku mengkhianatimu—“
“Channie, dengarkan aku.” potong Kyuhyun frustasi karena Channie terus berbicara tanpa mau mendengar Kyuhyun dan terlalu menduga perasaannya sendiri.
Channie menatap Kyuhyun, apa yang terjadi? Kenapa tatapan Kyuhyun begitu dalam… Apa yang terjadi?
“Kyuhyun apa bayinya? Bayinya—Bayinya kenapa Cho Kyuhyun.” Channie gugup dan Kyuhyun semakin tidak mengerti jalan pikiran Channie.
“Tidak. Channie—“
“Kyu-Kyuhyun bayinya—mmmpphh—“
Channie merasakan bibirnya yang terbuka saat ia terus bicara tiba-tiba ditekan oleh bibir basah Kyuhyun. Channie yang terkejut hanya diam, walau debaran jantungnya semakin menjadi seiring Kyuhyun menggerakkan bibirnya bertautan dengan bibir atas-bawahnya bergantian. Menutup matanya, Channie mengikuti lumatan lembut-bahkan sangat lembut- bibir Kyuhyun memagut bibirnya. Seolah Channie adalah sesuatu yang begitu sangat rapuh dan berharga.
Bunyi kecupan antara bibirnya dengan bibir Kyuhyun terdengar begitu indah di telinganya. Membuat Channie menghangat.
Menghentikan tautan bibirnya, Kyuhyun mengambil nafas sejenak. Melihat Channie yang sudah diam—tidak berbicara tanpa arah seperti tadi, membuatnya sedikit lega. Kyuhyun menatap Channie lekat-lekat. Begitupun Channie. Dengan jantungnya yang selalu berpacu dengan cepat saat seperti ini, ia berusaha menatap Kyuhyun dengan segala kekuatan yang ia miliki saat ini.
Tatapan yang teduh dan penuh dengan perasaan… kasih sayang.
Kemudian Kyuhyun mendekatkan lagi wajahnya untuk menyatukan bibirnya kembali dengan bibir Channie yang tadinya pucat kini sedikit memerah, Kyuhyun ingin menyalurkan perasaan rindu dan kasih sayangnya kepadanya. Bahwa Channie masih hidup. Channie masih bertahan hidup, di sampingnya. Seperti ciuman sebelumnya—yang sangat hati-hati dan sangat lembut, kali ini Kyuhyun sedikit menekan bibirnya ke bibir Channie dengan keras dan berhasil meloloskan lidahnya memasuki mulut Channie, mengaitkan lidahnya mencecapi semua rasa yang ada di mulut Channie yang membuatnya melayang dan selalu tidak pernah puas. Ugh! Bahkan Channie baru sadar dari koma, Kyuhyun seolah tidak mempermasalahkan ini. Ya, salahkan Channie juga menikmati dan membalas ciuman Kyuhyun walau tidak selihai biasanya, karena Kyuhyun maklum Channie masih belum pulih benar… Bahkan Kyuhyun bisa mendengar erangan Channie di sela-sela ciumannya.
“Ehm…”
Suara deheman memang terdengar, tapi Kyuhyun semakin dalam melumat bibir Channie, memiringkan kepalanya untuk memberi kesempatan Channie mengambil nafas. Cho Kyuhyun, tenang… Dia baru sadar. Kau melahap bibirnya tanpa ampun, seolah besok kau tidak menciumnya lagi? Ya, Tuhan. Kyuhyun begitu merindukan, Channie sampai sakit rasanya. Okey.. Calm…
Memperlembut lumatan bibirnya, perlahan… memagut bibir Channie. Kyuhyun sepertinya tidak mau melepas tautan bibirnya, terus melumat. Channie tidak kuasa untuk menghentikan ciuman lembut namun masih penuh gairah ini. Bahkan tadi ia sempat bertanya pada Kyuhyun tentang bayinya, kenapa seakan dia lupa… atau Kyuhyun sengaja mengalihkan ini?
“Ehm…”
Deheman kembali terdengar, Channie merasa ada kehadiran orang lain, di dalam ruangannya. Sebelum ia bisa menghentikan ciuman Kyuhyun, Channie mendengar…
“Tuan, maaf. Kami akan memeriksa keadaan istri anda.” Suara Dokter menginterupsi kegiatan Kyuhyun memagut bibirnya.
Kyuhyun membuka matanya dan otomatis menghentikan lumatan—lembutnya di bibir Channie. Nafas mereka berdua yang terengah membuat Kyuhyun berusaha mengatur pernafasannya. Tatapannya tertuju pada Channie, seolah menyalahkan Channie kenapa tidak—Okey, ini salahmu Cho Kyuhyun. Bagaimana Channie bicara kalau bibirnya saja terus kau lumat seperti tidak ada habisnya?
“Ehm…”
Okey, cukup untuk mengatur pernafasannya kembali normal, Kyuhyun bangkit dan menatap ke arah Dokter beserta seorang perawat—yang bahkan pipinya terlihat memerah karena malu atau karena melihat jelas bagaimana ia mencium Channie, walau tadi posisinya membelakangi Dokter dan perawat itu. Sial. Bagaimana bisa?
“Emm, maaf mengganggu. Tapi, saat ini aku akan memeriksa keadaan istri anda, lebih penting, sepertinya.”
***
Nothin’ On You Part 10 ff nc kyuhyun yadong

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: