Need A Baby chapter 9

0
Need A Baby part 9 ff nc kyuhyun eunso
Tittle: Need a Baby?  (Chapter 9)
Cast:
Cho Kyuhyun
Song Eunso
And other cast
Category: Chapter, Romance, NC 17
Author: Mylittlechick
Pagi datang dirumah kecil yang dihuni oleh Eunso, neneknya, Minri dan kedua adiknya. Tidak seperti biasanya pagi ini Eunso masih berdiam diri diatas futon miliknya. Neneknya yang selalu tidur disebelahnya sudah bangun lebih dulu dan meninggalkan bantal serta selimutnya yang telah dilipat berada ditempat seharusnya. Eunso memandangi jendela yang sudah dimasuki oleh sinar mentari pagi. Eunso sadar ia sudah terlambat untuk mengantar koran paginya tetapi Eunso tetap bergeming dan dibalik selimut.

“Eunso-ya.. kau tidak bekerja hari ini?” terdengar suara neneknya yang lembut menggoyangkan tubuhnya, Eunso keluar dari balik selimut lalu menatap neneknya. “Eunso-ya.. sebenarnya apa yang terjadi?” Neneknya membelai kepala gadis itu, Eunso yang merasa butuh tempat untuk menenangkan pikirannya pun menyandarkan kepalanya dipangkuan neneknya.
“apa yang kau dan Minri ributkan malam tadi?, siapa namja yang kalian bicarakan? Kau tidak pernah menceritakan apapun padaku”
Eunso memejam matanya memeluk pinggang neneknya. “halmoni pasti akan sangat marah padaku jika aku menceritakannya”
“wae..? apa yang sudah kau lakukan?”
“sesuatu yang akan membatmu sangat terkejut dan marah padaku”
“halmoni tidak akan marah, kau hanya menceritakannya saja” Eunso diam, ia tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa ia hamil anak seorang namja hanya untuk membiayai operasi neneknya, neneknya pasti akan sangat marah, mungkin saja neneknya bisa terkena serangan jantung saat itu juga.
“anniya.. gwencana” jawab Eunso pelan.
Neneknya menghembuskan nafasnya pasrah. “geure, jika kau tidak ingin mengatakannya halmoni tidak akan memaksamu. Hanya saja, kau tidak pernah lupa apa yang sering halmoni katakan padamu bukan?, kau tidak akan pernah mengenal seseorang jika kau tidak mencoba untuk mencari tahu, dari yang halmoni dengar malam tadi sepertinya namja itu berusaha untuk membuatmu yakin bahwa dia mencintaimu”
“itu tidak benar, aku yakin dia hanya sedang kehabisan akal sehatnya”
“semua orang yang sedang jatuh cinta selalu kehabisan akal sehatnya Eunso-ya..” Eunso menengadahkan wajahnya lalu menatap neneknya dengan ekspresi bertanya, benarkah?. “orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan apapun untuk mendapatkan cinta mereka, seperti romeo yang rela meminum racun hanya untuk menyusul Juliet, seperti putri duyung yang rela menjadi buih didalam air hanya untuk menolong sang kekasih”
‘dan seperti Cho Kyuhyun yang rela mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan seorang anak’ batin Eunso. dan itu karena Kim Minhye, bukan karena dirinya. Eunso kembali diingatkan oleh hal itu, karena itu sulit baginya untuk percaya bahwa namja itu memang mencintainya.
“aku yakin dia akan menyadari bahwa dirinya telah salah” Eunso pun mengatakan itu dengan lantang. Membuat neneknya tidak bisa lagi memberikan bantahan, Eunso jarang terlihat keras kepala seperti ini, karena itu neneknya tidak bisa memaksa cucunya ini.
“sudahlah, apa kau hari ini tidak bekerja?” neneknya mengingatkan.
“aah aku lupa, seragamku masih dihotel itu” Eunso tiba-tiba duduk dan menepuk kepalanya pelan. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu, tapi Eunso tidak mungkin kembali ke hotel itu. mau tidak mau Eunso harus meminta maaf karena seragamnya telah hilang. “aku akan siap-siap”
.
.
Akhirnya hari itu Eunso bekerja tidak menggunakan seragamnya, hanya memakai celemek putih dan penutup rambut agar ia tetap steril ketika membersihkan kamar-kamar rawat inap dirumah sakit. Pekerjaanya membuat Eunso harus membersihkan berbagai macam jenis kotoran, ia harus memakai masker kemanapun ia pergi.
“Song Eunso” Eunso menoleh kebelakang, kearah rekan kerjanya yang memanggilnya diambang pintu.
“oo..?”
“suster kepala memanggilmu”
“waeyo..?” Eunso mendekati rekan kerjanya, bertanya-tanya kenapa ia dipanggil oleh suster kepala.
“molla, kau hanya dipanggil untuk menemuinya”
Eunso menurunkan maskernya sambil berjalan kearah ruangan para suster, firasatnya mengatakan bahwa kemungkinan dia akan dipecat, selalu seperti itu. Eunso menghembuskan nafasnya pasrah, cepat atau lambat hal seperti ini selalu terjadi setahun belakangan ini, padahal Eunso sudah merasa betah dengan pekerajaan ini, tapi lagi-lagi ia harus dipecat. Apa karena ia menghilangkan seragamnya hari ini?. aah entahlah.
Eunso mengetuk pintu ruangan kepala suster lalu masuk setelah mendengar suara suster kepala yang menyuruhnya masuk. “suster kepala memanggilku?”
“oo.. Eunso-ssi, masuklah” Eunso  melangkah masuk berdiri tidak jauh dari wanita yang menjadi kepala suster disana, yang bertugas mengurus pekerjaan para suster termasuk pekerjaan para pembersih ruangan seperti dirinya.
“ada apa memanggilku?”
“begini, mulai hari ini kau dibebas tugaskan”
“maksudmu?”
“kau tidak perlu bekerja lagi dirumah sakit ini”
“tapi kenapa..?”
“karena, pagi ini tuan Cho Kyuhyun mendatangiku secara langsung dan memintaku untuk memberhentikanmu”
“yee..?”
“karena itu, sekarang kau pulanglah”
Eunso tidak mengerti kenapa Kyuhyun meminta kepala suster untuk memecatnya, sebenarnya apa masalah  namja itu?, kenapa sekali lagi ia harus dipecat karena dirinya?.
Eunso keluar dari rumah sakit dengan keadaan sedikit kesal, kenapa namja itu harus memecatnya, sebenarnya apa masalah Kyuhyun? toh Eunso tidak bekerja di hotel miliknya lagi. Eunso berjalan menyusuri trotoar dijalanan, pikirannya melayang kemana ia harus mencari pekerjaan yang lain?, karena bekerja dirumah sakit ia memutuskan untuk berhenti di restoran ramen, sekarang dia sama sekali tidak memiliki pekerjaan.
Eunso berdiri di zebra cross, menunggu lampu hijau tanda untuk menyebrang menyala, matanya menerawang jauh hingga tidak menyadari seseorang yang berdiri disebelahnya. “kenapa wajahmu terlihat kesal?”
Eunso menolehkan kepalanya terkejut kesumber suara itu, ia tidak salah dengar dan juga tidak salah melihat, Cho Kyuhyun sedang berdiri disebelahnya. “apa yang anda lakukan disini?”
“aku..? pagi tadi aku berangkat dari rumah menuju rumah sakit dan meminta kepala suster disana memecatmu, lalu setelahnya membuntutimu sampai kesini”
“apa masalahmu hingga kau harus meminta kepala suster memecatku?”
Kyuhyun menaikkan alis kanannya. “tentu saja karen aku tidak mau kau bekerja dirumah sakit itu”
Eunso mendesahkan nafasnya dengan berlebihan. “lupakanlah, aku akan mencari pekerjaan baru”. Lampu hijau menyala Eunso pun melangkahkan kakinya kedepan.
“kau tidak akan bekerja dimanapun lagi” Kyuhyun berjalan menyusul Eunso.
“kau tidak berhak melarangku”
Setibanya diseberang jalan Kyuhyun menahan tangan Eunso dan membalik gadis itu cepat. “kau bekerja untuk mengembalikan uang yang kau gunakan untuk biaya operasi nenekmu kan? aku tidak menginginkan uang itu, jadi berhentilah bekerja”
“aku tidak butuh uang santunan darimu” Eunso mencoba untuk melepaskan tangannya.
“itu bukan santunan, anggap saja itu uang kuberikan karena rasa cintaku padamu, nenekmu adalah nenekku juga. Sekarang ikut aku” Kyhyun menarik tangan Eunso berjalan menuju mall yang berada tidak jauh dari sana. Salah satu mall milik Kyuhyun.
“yaaak.. tuan Cho, kau menyakitiku, lepaskan aku”
“oho.. Song Eunso, aku tidak akan termakan tipuanmu lagi, tanganmu tidak akan pernah kulepaskan”
Eunso menggeliatkan lagi tangannya mencoba melepaskan diri dari Kyuhyun tapi gagal, gerakannya itu membuat Eunso menjadi tontonan diantara orang-orang karena itu Eunso pun diam dan mengikuti langkah Kyuhyun.
“kau mau membawaku kemana?”
Kyuhyun menoleh kepadanya lalu tersenyum. “kencan”
“nee..?”
“kau tidak mendengarku? Aku bilang kita akan kencan”
“tuan Cho, aku rasa itu bukan ide yang bagus. Orang-orang akan melihatmu berjalan bersamaku, kau akan malu”
Kyuhyun menghentikan langkahnya. “kenapa aku harus malu ketika aku sedang menggangdeng wanita yang kucintai?”
Eunso tertawa mengejek mendengar kata ‘wanita yang kucintai’ itu. “tuan Cho, sepertinya kau masih butuh waktu untuk menenangkan pikiranmu, kalimat bahwa kau mencintaiku itu sungguh menggelikan”
“benarkah?” Kyuhyun menarik tangan Eunso kuat hingga gadis itu harus membentur dada Kyuhyun, dengan cepat Kyuhyun mengalungkan lengannya dipinggang Eunso. “bagiku tidak, tapi aku tahu apa yang bisa membuatmu geli, aku tahu dimana titik dibagian tubuhmu yang tidak tahan geli, yaitu disini” Kyuhyun menunduk dan meniup pelan dibelakang telinga Eunso, gadis itu langsung menjauh karena geli membuat Kyuhyun tertawa pelan.
“lalu disini” tidak berhenti, kyuhyun pun melanjutkan aksinya dengan meraba perut Eunso, hampir menyentuh payudara gadis itu. Eunso menahan nafasnya karena sesuatu yang menggelitiknya ketika Kyuhyun menyentuhnya disana. Kyuhyun tertawa lagi, “ada banyak tempat tapi tidak akan kutunjukkan disini, banyak orang yang melihat”.
Kyuhyun tertawa sambil menarik tangan Eunso lagi, niatnya tetap mengajak gadis itu masuk kedalam mall. Namja itu tidak berhenti tersenyum bahkan ketika masuk kedalam mall itu, perasaanya terlalu gembira karena saat ini Eunso berada disebelahnya, hingga tidak menyadari kecanggungan Eunso.
Eunso menundukkan wajahnya malu karena orang-orang menatapnya. Tentu saja, siapapun pasti menatapnya dengan tatapan heran. Seorang pria tampan bergaya sangat elegan menggandeng seorang wanita miskin dengan pakaiannya yang seadanya. Mall itu memiliki air mancur kecil  ditengah-tengah ruangannya, bentuk kolam air mancur itu bundar ada beberapa orang yang sedang duduk dipinggirannya, beristirahat sejenak setelah lelah berbelanja atau sedang menunggu seseorang.
“tunggu disini, jangan pergi kemana-mana, arraso..?” Eunso menganggukkan kepalanya begitu saja mendengar perintah itu. “jika kau pergi aku akan menciummu didepan semua orang” ancam namja itu.
“aku tahu, tidak perlu mengancamku” sentak gadis itu kesal.
“ya Tuhan, tidak kukira kau bisa membentakku seperti itu. Apa kau memang seperti ini?”
Eunso menundukkan wajahnya malu, ia memang jarang membentak seseorang, bahkan ia jarang memarahi Minri, tapi entah kenapa kepada Kyuhyun yang bersikap aneh seperti sekarang ia jadi ingin sekali membentaknya dan memukul kepalanya, meskipun namja itu seseorang yang derajatnya lebih tinggi dari dirinya.
Kyuhyun tersenyum, “kau menggemaskan. Tunggu disini ne..”
Setelah Kyuhyun meninggalkannya Eunso pun menunggu dengan patuh, entah itu karena memang sifat alaminya atau memang ia tidak ingin pergi. Eunso duduk dipinggiran kolam yang terbuat dari batu marmer berwarna biru laut. Eunso melihat orang-orang yang berlalu lalang juga toko-toko yang berada dimall itu. sudah berapa lama ia tidak menginjakkan kakinya ke mall seperti ini? rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak memanjakan dirinya dengan menikmati kegiatan berbelanja seperti ini.
Eunso menghentikan pandangan matanya kesosok seorang wanita cantik yang berjalan anggun dan penuh pesona, wanita itu terlihat sama cantiknya seperti yang terakhir ia lihat, bahkan lebih cantik lagi. ia sering melihat wanita itu dikoran ataupun televisi, karirnya kembali menanjak bersamaan dengan gosip yang beredar.
Benar, gosip yang beredar adalah Kim Minhye sedang menjalin hubungan bersama Cho Kyuhyun. apa yang dilakukan wanita itu disini, apa Kyuhyun bermaksud menemui wanita itu sekaligus mengajaknya. Eunso berdiri lalu memutari kolam itu, bermaksud agar dirinya tidak dilihat oleh Minhye.
Setelah memastikan minhye tidak melihatnya, Eunso pun melangkah kan kakinya kepintu keluar. Tidak, dia tidak akan pernah mau dipertemukan lagi dengan wanita itu. Eunso sudah hampir mencapai pintu keluar ketika tiba-tiba pinggangnya ditarik kebelakang dan tubuhnya diputar hingga berhadapan dengan namja yang membawanya ke mall itu.
“sialan Song Eunso, aku bilang tadi tunggu aku” desis Kyuhyun marah. “apa susahnya mematuhiku?”
Eunso mengedipkan matanya, Kyuhyun disini? Lalu Minhye..? Eunso menoleh kearah Minhye yang sudah menghilang dari pandangan matanya. Apa Kyuhyun tidak melihat Minhye?.
“ada Minhye-ssi disana” tunjuk Eunso kebelakang punggung Kyuhyun.
Kyuhyun tidak menoleh sedikit pun kebelakang, matanya tetap melihat wajah Eunso. “biarkan saja dia”
“kau tidak mau menemuinya?”
“tidak” jawab Kyuhyun tegas. Kyuhyun mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kalung berbentuk bintang yang baru saja diambilnya dari toko perhiasan. Kyuhyun secara kusus memesan kalung itu kemarin untuk Eunso.
Eunso menatap takjub kalung itu, ini pertama kalinya ia melihat kalung mahal secara dekat. Kyuhyun mengulurkan tanganya kebelakang leher Eunso. “tuan mau apa?” Eunso menahan tangan Kyuhyun.
“memakaikan kalungnya”
“jangan..”
“wae..?”
“aku tidak pantas memakainya”
“apanya yang tidak pantas?”
“tuan.. orang seperti aku pantasnya memegang sapu dan kemoceng, bukan memakai kalung semahal itu”
“aku yang menentukan kau pantas atau tidak” desis Kyuhyun geram. “aku punya banyak uang untuk menghiasimu dengan semua permata didunia ini, dan jika aku bilang kau pantas untuk memakainya maka kau pantas untuk itu”
Eunso menggeliat lepas dari pelukan Kyuhyun, berjalan mundur menjauhi Kyuhyun. “tuan lihatlah aku, lihat penampilanku. Apa aku pantas berdampingan denganmu?. Tidak tuan. Sebuah sepatu tidak akan pantas jika dipasangkan dengan sebuah sendal jepit”
Eunso memutar badanya kemudian berlari keluar meninggalkan Kyuhyun. Kyuhyun yang ditinggalakan berdiri dalam perasaan marah. Siapa yang peduli dengan penampilan Eunso, siapa yang peduli dengan pendapat orang, siapa yang peduli dengan sendal jepit..
.
.
Hari-hari berikutnya Eunso masih harus melihat Kyuhyun, namja itu tidak menyerah sedikitpun untuk mendekati Eunso. yang dilakukan Kyuhyun setiap kali bertemu dengan Eunso adalah merusak hari-hari Eunso, gadis itu sama sekali tidak bisa bekerja atau melakukan apapun juga karena Kyuhyun selalu mengganggunya.
Eunso tidak bisa mendapatkan pekerjaan baru karena namja itu lagi-lagi membuatnya tidak diterima bekerja dimanapun. Eunso tidak habis pikir, bukankah namja sesibuk Kyuhyun seharusnya menghabiskan waktunya dengan bekerja dikantor, tapi apa yang dia lakukan sekarang?, membuntuti Eunso kemanapun gadis itu pergi.
“berhentilah mengikutiku tuan”
“tidak.. sampai kau mau menerima kenyataan bahwa aku memang mencintaimu”
“jika aku menerimanya lalu apa?”
“lalu apa? ya menikah, tinggal bersama dan hidup bahagia selamanya”
“ini bukan dunia dongeng”
“ini juga bukan drama, kenapa sulit sekali menerimanya?”
“karena ini adalah kehidupan yang nyata, aku berfikir secara logis, karena itu tidak mungkin kau dan aku hidup bersama, hanya seorang Cinderella yang bisa hidup berdampingan bersama seorang pangeran”
Kyuhyun menyunggingkan senyumannya. “jadi kau pikir aku ini pangeran?”
Eunso tergagap lalu memalingkan wajahnya, dengan tanpa mengatakan apapun gadis itu pun pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih tersenyum dibelakangnnya.
Eunso duduk disebuah kursi yang terletak di depan minimarket, membuka-buka koran untuk mencari lowongan pekerjaan. Kegiatannya yang sedang membolak-balikkan kertas itu terhenti karena Kyuhyun menarik koran itu dan membuangnya ke kotak sampah.
“yaak..” Eunso melebarkan matanya terkejut, namja ini ternyata belum juga pergi.
“berhentilah bekerja, aku tidak membutuhkan uangmu”
“itu bukan untukmu, itu untuk kehidupanku dan nenekku”
“berhentilah, aku akan membiayai kebutuhan kalian”
“aku tidak menginginkan uangmu”
Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar, sudah seminggu berlalu tapi Eunso masih tetap menolak apapun yang Kyuhyun katakan atau tawarkan, ia tidak pernah tahu Eunso sangat keras kepala seperti ini. “bagaimana denganku? Kau juga tidak menginginkanku?”
Eunso memicingkan matanya menatap Kyuhyun, meskipun begitu debaran jantungnya berdetak cepat, tentu saja ia menginginkan Kyuhyun, tapi Eunso terlalu takut menerima resiko yang besar jika ia mempercayai apa yang namja itu katakan.
Kyuhyun tersenyum melihat Eunso terdiam, tanganya meraih anak rambut yang jatuh dipipi Eunso lalu menyelipkannya kebelakang telinga gadis itu. “kapan terakhir kali kau tidur nyenyak?”
“aku selalu tidur dengan nyenyak”
“kau bohong..” Kyuhyun pun mengusap garis hitam yang berada tepat dibawah mata Eunso. “apa kau masih rajin minum susu sebelum tidur?”.
Eunso menggelengkan kepalanya. “biasanya aku langsung tertidur ketika pulang”
“dan kau tidak makan?”
Eunso ragu sejenak namun ia tetap menggelengkan kepalanya.
“itu alasan kenapa kau terlihat kurus, kau harus banyak makan agar tubuhmu kembali berisi. Aku suka kau ketika hamil, lebih berisi”
Eunso mengernyitkan hidungnya, Eunso malah membenci dirinya yang sedang hamil, perutnya besar yang tubuhnya membengkak dimana-mana. Hal itulah yang membuatnya tidak percaya diri jika berada disatu ruangan bersama Minhye.
“terlihat seksi” sambung Kyuhyun.
Eunso menatap Kyuhyun dengan pandangan aneh, ia semakin yakin Kyuhyun memang sudah gila, “mana ada orang yang sedang hamil terlihat seksi”
“tapi kau seksi”
“tuan Cho…”
“Kyuhyun”
“nee..?”
“panggil namaku, jangan pakai embel-embel tuan lagi didepannya. Panggil Kyuhyun”
“itu tidak sopan”
“kalau begitu panggil oppa”
“itu lebih tidak sopan”
“wae..? kita sudah sering tidur disatu tempat tidur, kita sudah sering bercinta, kita juga punya seorang putri sudah sewajarnya kau memanggilku begitu kan?, yaah.. meskipun aku ingin kau memanggilku Cagiya atau yeobo tapi untuk sekarang oppa saja cukup”
“apa kau sudah ke psikiater?” Eunso jelas-jelas mempertanyakan kewarasan Kyuhyun.
“sudah..” jawab Kyuhyun, mengagetkan Eunso.
Eunso menutup mulutnya mendengar jawaban itu. “apa yang mereka katakan tentang isi otakmu?”
“mereka menyerah menangani masalahku”
Eunso tertawa, yakin bahwa jawaban Kyuhyun memang benar, siapapun pasti akan menyerah menangani Kyuhyun. Kyhyun tersenyum melihat Eunso tertawa,tangannya menggenggam tangan Eunso. “kau ingin makan sesuatu? ada restoran Prancis yang enak didekat sini”
“restoran Prancis?” Eunso membeo, makan disana itu artinya hanya ada orang-orang yang berkelas disana. Eunso pun menggelengkan kepalanya.
“tidak..? lalu kau mau makan apa? apa makanan kesukaanmu?”
Eunso menaikkan alisnya, apa jika ia meminta Kyuhyun membawanya ke rumah makan biasa namja ini akan menurutinya?. “ddoeboki, dipinggiran jalan sana” tunjuk Eunso.
“disana..? geure.. kajja” Kyuhyun berdiri sambil menarik Eunso agar ikut berdiri bersamanya
“kau mau..?” Eunso tidak yakin namja itu benar-benar bersedia melakukannya.
“oo.., kajja” Kyuhyun pun berjalan kearah yang tadi ditunjuk oleh Eunso, dan tanpa sedikitpun merasa risih atau jijik karena makan dipinggiran jalan, membuat Eunso benar-benar terkejut. bahkan ia masih tidak bisa percaya Kyuhyun mau melakukannya.
.
.
Setelah hari itu, Kyuhyun tidak lagi membuntutinya atau mengganggunya, diam-diam Eunso merasa bersyukur tetapi ia tetap merasakan kekecewaan. Ia sudah tahu bahwa Kyhyun tidak serius dengan apa yang dikatakannya karena itu Eunso tidak terkejut ketika keesokan harinya, lalu esoknya lagi dan lagi Kyuhyun tidak mencarinya lagi.
“aku bilang juga apa, dia sudah menemukan akal sehatnya lagi” Eunso menghembuskan nafasnya, rasa sesak didadanya tetap ada disana, Eunso sadar ternyata jauh dilubuk hatinya ia memang merasa bahagia karena tahu namja itu mencintainya dan tanpa disadarinya, alam bawah sadarnya mengharapkan semua itu menjadi kenyataan, maka ketika semua itu memang tidak benar, Eunso merasakan rasa sakit didadanya.
Eunso membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk dengan gontai. “halmoni aku pulang”
Hening.. kesunyian menyambut Eunso dirumah, Eunso membuka sepatunya lalu masuk dengan menyeret kakinya. “halmoni? Kau dirumah?”
Eunso menghentikan langkahnya kemudian terdiam melihat seseorang berada dilantai ruangan tv sekaligus ruangan tamu itu. Tidak bukan seseorang lebih tepatnya adalah seorang bayi perempuan sedang bermain dengan balok-balok kayu yang berserakan dilantai, ada boneka beruang menemaninya bermain. Bayi perempuan itu menoleh kearahnya kemudian berpaling lagi kearah mainanya.
“naah..” bayi perempuan itu menunjuk kearah balok mainannya, entah apa yang diinginkan olehnya.
Eunso mendudukkan dirinya memandangi bayi perempuan itu, wajahnya memang berubah ketika ia masih sangat bayi tapi Eunso tidak mungkin melupakan ikatan yang ada diantara ia dan bayi itu. “Naeun..?” bisiknya..
“Naa..” ulang bayi perempuan itu menunjuk dirinya lalu balok kayu lagi. Eunso menyeret duduknya agar mendekat kepada bayi itu, namun sepertinya bayi itu tidak suka didekati oleh Eunso dan merangkak menjauh.
Eunso berhenti mendekatinya, airmata menggenang di matanya, setelah merindukan dan terus memimpikan Naeun akhirnya ia bisa melihat putrinya lagi?, yah meskipun Naeun tidak mengenalnya Eunso tetap merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika bertemu lagi dengan putrinya.
Eunso menghapus airmata yang jatuh dipipinya lalu mengambil balok kayu berwarna hijau. “kenapa kau disini?” Eunso akhirnya sadar kenapa Naeun berada disana, apa Kyuhyun tidak menginginkan Naeun lagi dan menyerahkannya kepada Eunso?.
Bayi perempuan itu mendekati Eunso karena mainannya dipegang, Naeun pun mengulurkan tangannya meminta kembali balok mainannya. “aah.. mian..” Eunso menyerahkan balok itu kepada Naeun.
Naeun dengan cepat meletakkan kembali balok mainannya disusunan yang sudah ia bangun. “apa yang sedang kau bangun? Apa aku boleh membantumu?”
“anniii.. nii..” bayi perempuan itu menggerakkan tangannya kekiri dan kanan, menolak tawaran Eunso. Eunso tertawa sambil menghapus airmata yang kembali jatuh dipipinya. Sungguh, apa sekarang ia benar-benar sedang bermimpi?.
Eunso hanya bisa duduk diam memperhatikan Naeun bermain, ia sama sekali tidak diizinkan untuk menyentuh apapun milik bayi perempuan itu, jelas terlihat Naeun tidak suka ada orang asing yang menyentuh mainannya. Waktu terus berjalan, bayi perempuan itu pun mulai bosan, ia mengucek matanya dan merengek.
Eunso terdiam, apa yang harus ia lakukan? Eunso memang melahirkan Naeun tapi masalah mengurusi bayi atau membujuknya Eunso belum berpengalaman. “kau kenapa?” tanya Eunso cemas.. Naeun mulai menangis dan memanggil seseorang. Eunso mencoba mengulurkan tangannya hendak menggendong Naeun tapi bayi itu menghindar dan memukul tangan Naeun.
“ottoke..?”
“dia hanya mengantuk” suara lembut Kyuhyun menyahut dari balik punggung Eunso, Eunso memutar tubuhnya melihat Kyuhyun tersenyum kepada Eunso. Kyuhyun duduk disebelah Eunso lalu mengulurkan tangannya menggendong Naeun. Bayi perempuan itu langsung diam sambil menyandarkan kepalanya dibahu Kyuhyun. mengecap jarinya sendiri lalu memejamkan matanya.
Melihat pemandangan itu membuat Eunso tersentuh, Kyuhyun benar-benar tahu bagaimana caranya mengurus seorang bayi. Dan Eunso lega, bahwa keputusannya tidak salah, Naeun terlihat bahagia, gemuk dan semua kebutuhannya terpenuhi.
“dia masih merasa asing padamu, tapi nanti akan terbiasa”
Eunso menatap Kyuhyun bingung. “kenapa kau membawanya kemari?”
“wae..? kau tidak ingin bertemu dengannya?”
Eunso menggelengkan kepalanya, “maksudku, kenapa kau mempertemukan kami?”
“Eunso-ku tersayang.. karena kau ibunya, dan Naeun adalah putrimu”
“Naeun..? kau menamainya Naeun..? kenapa..?”
“karena kau memanggilnya Naeun..”
“tapi.. kupikir kau tidak mendengarnya, aku memanggilnya diam-diam”
“aku memang tidak mendengarnya, Jaewoo ajhusi yang mendengarnya”
Eunso kembali diliputi oleh perasaan haru. Jadi Kyuhyun memang peduli padanya? Menamai putrinya dengan nama yang sering Eunso bisikkan padanya.. “itu nama ibuku”
“oo Jinjja..?, nama yang cantik..”
Eunso tersenyum. “gomawo..”
Kyuhyun membalas senyum itu lalu menelengkan kepalanya kearah Naeun, “dia sudah tidur, kau ingin menggendongnya?”
“anni.. biarkan dia tidur”
“pelan-pelan dia akan mengenali ibunya sendiri” Kyuhyun mengulurkan tangannya dan mengusap lembut rambut Eunso. “kau ikut bersamaku ya”
“kemana..?”
“kerumahku.. halmoni juga sudah disana”
“halmoni? Ya Tuhan, apa yang kau katakan padanya?”
“tenang.. aku tidak mengatakan kau hamil karena uang untuk biaya operasinya”
“lalu..?”
“aku bilang, kau menghilang saat itu karena kau hamil, seharusnya kita menikah tapi karena ada kesalahpahaman aku marah dan membawa kabur bayinya”
“mengambil peran antagonis dari cerita karanganmu sendiri?” sindir Eunso.
Kyuhyun menaikkan bahunya, tidak peduli dengan sindiran itu. “jadi, kau mau ikut aku kan?”
Eunso melirik kearah Naeun yang tertidur lelap dipundak Kyuhyun, lalu menatap wajah Kyuhyun yang berubah serius. Eunso menganggukkan kepalanya, ia salah karena berfikir Kyuhyun mungkin tidak serius dengan apa yang ia katakan, karena itu Eunso mencoba untuk mempercayai apa yang Kyuhyun katakan padanya.
.
Kyuhyun membuka pintu penumpang untuk Eunso dengan tangan sebelah dan tangan sebelahnya lagi masih memeluk Naeun. Setelah Eunso setuju untuk ikut bersamanya Kyuhyun langsung mengajak gadis itu pergi kerumahnya, ia tidak ingin Eunso mengubah pikirannya jika ia berlama-lama.
“Eunso-ya..” panggil Kyhyun, ketika gadis itu hendak masuk kemobil. “aku tidak bisa mengemudi dengan menggendong Naeun, kau bisa menggendongnya?”
“tapi.. bagaimana jika nanti dia bangung dan melihatku?”
“tidak apa-apa, selama aku ada didekatnya dia tidak akan nangis”
Eunso ragu untuk mengambil Naeun dari gendongan Kyuhyun, tapi ia tidak bisa mengingkari keinginannya yang sudah sangat mendesak untuk memeluk Naeun. Tapi apa ia bisa menggendong Naeun?. Melihat keragu-raguan diwajah Eunso Kyuhyun pun memberikan dukungannya. “kau pasti bisa, kau kan ibunya”
Eunso menganggukkan kepalanya lalu menerima Naeun kedalam gendongannya, Kyuhyun meletakkan kepala Naeun agar bersandar dibahu Eunso dan Eunso pun meletakkan tanganya dibawah pantat Naeun agar bayi perempuan itu tetap berada diposisinya, ia menoleh kearah Kyuhyun bertanya apakah cara menggendongnya benar?. Kyuhyun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan tidak terbaca itu. Setelah Eunso masuk kedalam mobil, Kyuhyun pun menyusulnya lalu mengemudikan mobil itu sambil sesekali melirik Eunso yang sangat menikmati kegiatannya yang sedang menggendong Naeun.
Eunso mengusapkan tangannya kekepala Naeun lalu membelai punggung kecilnya. “satu tahun empat bulan” bisik Eunso.
“oo.., dia sudah sebesar itu”
“kapan dia mulai berjalan?”
“kira-kira bulan januari kemarin”
“apa dia sudah bisa berbicara..?”
Kyuhyun tertawa. “hanya bisa menyebut. Ppa.. Naa.. dan anni..” Kyuhyun menoleh kearah Eunso yang berkerut bingung lalu melanjutkan kalimatnya. “ppa itu artinya dia memanggilku, Naa itu artinya dia menyebut namanya, atau sedang menunjuk barang yang menjadi miliknya. Anni.. ketika dia tidak suka seseorang mengganggunya bermain atau apa yang dia inginkan itu salah. Eomma selalu merasa tidak berdaya ketika ia salah mengambil apa yang Naeun inginkan.
Eunso tersenyum, menyandarkan kepalanya dikepala Naeun yang bersandar dibahunya. “dia menggemaskan”. Eunso memejamkan matanya merasakan hangatnya tubuh Naeun dipelukannya, memeluk Naeun seperti rasanaya sangat nyaman dan ia dipenuhi oleh rasa bahagia. akhirnya ia bisa memeluk putrinya lagi.
“sangat” Kyuhyun pun tersenyum menyahuti Eunso. Eunso memuka matanya lalu menoleh kearah Kyuhyun ia tersenyum sambil mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Kyuhyun.
.
Setibanya dirumah, Eunso disambut oleh nyonya Cho dan juga Jaewoo. Eunso juga melihat nenek dan Minri serta kedua adik kembar Minri dibelakang mereka berdua. Diam-diam Eunso bertanya, kenapa mereka sudah berkumpul seperti ini? apa mereka sudah begitu yakin bahwa Eunso akan pergi dengan Kyuhyun kerumah itu?.
“akhirnya.. kau mau datang kerumah ini” nyonya Cho yang pertama kali menghampiri Eunso, wanita itu memeluk Eunso yang masih menggendong Naeun. Matanya berkaca-kaca karena rasa haru. “kau tahu, bukan hanya Kyuhyun yang merindukanmu, aku juga”
“nyonya Cho”
“yaa.. jangan memanggilku nyonya..”
Eunso tersipu malu lalu mengganti panggilannya. “eomuni..aku juga merinduknmu dan Jaewoo ajhusi. Sangat merindukan kalian berdua”
“bagaimana denganku?” potong Kyuhyun yang berdiri disebelahnya. Eunso memalingkan matanya kelain arah, tidak menjawab Kyuhyun.
“apanya yang bagaimana denganmu? Cepat sana tidurkan Naeun ditempat tidurnya lalu mandi” Nyonya Cho memukul lengan Kyhyun. Kyuhyun pun dengan pelan mengangkat Naeun kedalam gendongannya lagi lantas bergegas kekamar bayi. Eunso merasa kehilangan ketika Naeun diambil darinya tapi pikirannya langsung teralihkan kepada neneknya yang mendekatinya.
“jadi ini yang kau rahasiakan padaku?”
“ne.. halmoni mianhae..”
“Eunso-yaa.. sudahlah tidak apa-apa, yang penting sekarang kau bisa bahagia eoh? halmoni mohon, jangan memaksakan diri lagi”
Eunso menganggukan kepalanya mematuhi neneknya, kemudian melirikkan matanya kearah minri. “aku bilang apa..? tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, kau harus percaya kajaiban bahwa dongeng itu memang ada”
Eunso tertawa pelan. “tapi tetap saja dongeng hanyalah sebuah dongeng”
“eeeyyy.. kau ini”
“sudah-sudah sebaiknya Eunso istirahat dulu, caa.. kau juga mandi dulu lalu kita makan malam” nyonya Cho mendorong Eunso kearah tangga, dan membimbing gadis itu kekamar yang telah ia siapkan. Eunso menolehkan kepalanya kekiri dan kanan mengamati rumah itu. Ia mendatangi rumah ini hanya dua kali sebelumnya dan hanya sebatas ruang tamu. Rumah itu sangat besar, lebih besar dari rumah yang menjadi persembunyiannya ketika sedang mengandung.
“kau kenapa?” tanya nyonya cho
“anniya, rumahnya besar sekali aku takut tersesat”
“tidak perlu takut, rumahnya gampang diingat. Caa.. masuk dan mandilah”
“aah. Pakaianku?”
“kau pikir aku tidak menyiapkan apa-apa? cari dan temukan sendiri pakaianmu dilemari nee..”
“oo.. kamsahamnida nyo.. ah eommuni”
Nyonya Cho mengusap kepala Eunso dengan penuh sayang. “tidak perlu sungkan”
Eunso masuk kekamar itu, matanya melebar terkejut karena isinya juga tidak kalah besar dari kamar-kamar hotel yang selalu ia bersihkan dulu. Kakinya melangkah kearah lemari, Eunso membuka lemari itu lalu berucap kagum, semua yang berada dilemari gantung itu adalah pakaian mahal yang selalu ia lihat didepan etalasi sebuah butik. Eunso mengulurkan tanganya dan mengusap satu baju. Apa benar ini semua nyata?.
.
.
Makan malam berlangsung dengan penuh tawa, Younghwa yang menjadi nyonya rumah sangat ramah dengan menceritakan segala hal, dan dengan cepat bisa sangat akrab dengan nenek Eunso dan juga Minri. Kedua adik Minri  ikut bersama mereka dan terlihat lebih sopan karena harus berhadapan dengan orang kaya. Eunso sesekali menoleh kearah Kyuyun yang terang-terangan menatapnya. Matanya selalu berpaling dari Kyuhyun saat mata mereka bertemu.
Setelah ia tidak mencoba untuk menolak Kyuhyun lagi Eunso merasa canggung dan sangat malu jika matanya bertemu dengan mata Kyuhyun, karena itu sebisa mungkin ia berkonsentrasi dengan apa yang Younghwa bicarakan.
Setelah makan Eunso sempat mendatangi Naeun yang sedang bermain bersama pengasuhnya, bayi perempuan itu memandanginya terus karena rasa penasaran, membuatnya tidak bisa bermain dengan tenang. Karena tidak ingin mengacaukan malam Naeun, Eunso meninggalkan kamar bayi dan pergi ke kamarnya sendiri.
“Naeun lucu ya..” ujar neneknya ketika Eunso membaringkan dirinya disebelah neneknya.
“heuum…” sahut Naeun, memejamkan matanya lelah.
“dia mirip denganmu ketika kau masih kecil, sekarang aku bebar-benar yakin dia memang anakmu” neneknya memandangi wajah Naeun yang terpejam. “kenapa kau menamainya Naeun?”
“aku hanya memanggilnya seperti nama eomma, tapi tuan Cho yang memberikannya nama seperti itu”
“Cho Naeun.. tidak buruk”
Eunso tersenyum. “aku juga tidak menyangka akan terdengar cocok” gadis itu menguap pelan, lalu meringkuk lebih dalam kebantalnya.
“kapan kalian menikah?”
Tiba-tiba Eunso membuka matanya, menarik selimut keatas, menutup wajahnya yang memerah. “aku tidak tahu”
“kalian harus menikah. Kau tahu itu? apa dia memintamu menikahinya lagi?” neneknya jelas-jelas percaya dengan bualan Kyuhyun, menduga mereka benar-benar akan menikah sebelum ini.
“aku tidak tahu halmoni”
“apa dia mencintaimu?”
“dia bilang begitu”
“kau terdengar masih tidak yakin, apa kau mencintainya?”
Eunso kembali memejamkan matanya. “heum..” lalu menganggukan kepalanya sebelum larut dalam alam mimpi. Neneknya mengusap kepala Eunso lalu merapikan selimut Eunso, wanita tua itupun mematikan lampu dan ikut tidur bersama Eunso.
.
Eunso bermimpi sangat indah malam itu, ia dan Kyuhyun dan juga Naeun sedang berada disebuah hamparan luas taman bunga, mereka sedang piknik bersama dan bermain bersama. Eunso membuat bekal untuk piknik itu, terdengar gelak tawa riang dari suara Naeun begitu juga ia dan Kyuhyun. Sesekali Kyuhyun mendaratkan ciuman-ciuman kepada Eunso ketika Naeun tidak melihat mereka. Meskipun itu hanyalah sebuah mimpi namun ciuman itu terasa nyata.
Eunso membuka matanya perlahan merasakan sekali lagi ciuman itu, itu bukan mimpi tapi benar-benar terjadi. Eunso membelalakkan matanya terkejut karena ia benar-benar dicium, nafasnya tercekat kaget namun bibirnya tertahan oleh satu jari. “sssstt… ini aku”
Eunso mengerjabkan matanya, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena lampu dikamar itu gelap tapi ia tahu siapa yang berada diatasnya itu. Eunso menolehkan kepalanya kesamping ke arah neneknya, dengkuran pelan neneknya menandakan wanita itu sedang tidur dengan lelapnya. Eunso kembali menolehkan kepalanya kearah Kyuhyun.
“tuan kenapa disini?” bisiknya..
“aku ingin membawamu pergi”
“kemana?”
“ayo bangun”
“tapi halmoni?”
“sstt.. jangan dibangunkan, ayo..” Eunso mau tidak mau bangun dari tempat tidur agar neneknya tidak terbangun karena suara bisikan mereka berdua, ia mengikuti Kyuhyun dengan langkah-langkah yang pelan. Kyuhyun memegang tangan Eunso dan membimbing gadis itu keluar dari kamar.
Kyuhyun membawa Eunso keluar rumah dan menuju mobilnya. “masuklah”
“yee..? seperti ini?” Eunso masih mengenakan baju tidurnya yang berwarna pink dan bergambar beruang-beruang kecil.
“oo.. cepatlah masuk”
Eunso masuk kedalam mobil dengan penasaran, sebenarnya kemana Kyuhyun akan membawanya. Eunso melihat Kyuhyun juga hanya memakai celana training panjang dan kaos putih berkerah V, terlalu santai untuk berjalan-jalan malam ditengah kota, karena itu Eunso menebak Kyuhyun hendak membawanya jauh dari kota. Benar saja, Kyuhyun membawa Eunso keluar dari perbatasan kota.
Setelah hampir setengah jam berjalanan Eunso mulai menyadari kemana Kyuhyun hendak membawanya. Namja itu membawa Eunso kerumah yang menjadi rumah persembunyian Eunso dulu. Namja itu memarkirkan mobilnya dihalaman rumah.
Eunso turun dari mobil sambil memandangi rumah itu, sudah setahun lebih berlalu rumah itu masih terlihat sama. Kenapa Kyuhyun membawanya kerumah itu? pikirnya. Eunso hendak melangkahkan kakinya kearah rumah itu namun tertahan oleh lengan Kyuhyun yang menariknya menjauh dari rumah.
“kita mau kemana?”
“ketempat yang indah”
Kyuhyun membawa Eunso naik keatas bukit, disana Eunso melihat ada sebuah pohon besar dengan batang pohonya terbelah dua. Kyuhyun menumpukan kakinya disalah satu dahan dan mengulurkan tanganya kepada Eunso. “kajja..”
“naik ini?”
“iya.. kemarilah” Eunso menyambut tangan Kyuhyun dan mulai menaikki pohon itu sesuai arahan Kyuhyun, setelah ia duduk diatas dahan yang besar Kyuhyun pun menyusulnya dan duduk disebelah Eunso. Setelah duduk diatas pohon itu Eunso tahu kenapa namja itu membawanya kesini dan mengatakan tempat yang indah. Eunso bisa melihat pemandangan kota dari atas sana. Meskipun terlihat jauh tapi kota itu terlihat indah dengan lampu-lampu yang menyala dari tiap rumah dan bangunan yang berwarna-warni. Serta lampu-lampu yang menyorot dari mobil yang berlalu lalang.
“yeopeuda..” desah Eunso.
Kyuhyun tersenyum, melingkarkan lengannya dipinggang Eunso dan menarik gadis itu agar lebih dekat dengannya. “ini adalah tempatku menenangkan diri, melihat pemandangan itu membuatku berfikir bahwa disana ada banyak orang yang mungkin bernasib lebih buruk dariku, karena itu aku selalu kuat dalam segala macam cobaan. Kematian ayahku, kehilangan Minhye, banyaknya pekerjaan yang menumpuk dan berbagai hal lainnya. Tapi hanya satu yang tidak bisa dilakukan tempat ini untukku”
Eunso menoleh kearah Kyuhyun, wajah mereka begitu dekat, Eunso bisa merasakan hembusan hafas Kyuhyun diwajahnya “apa..?”.
“tempat ini tidak bisa membuatku tenang karenamu, melihat kota itu membuatku berfikir, kau ada disana, disalah satu rumah dikota itu atau tidak?. Apa yang kau lakukan, apa kau tidur dengan baik. Memikirkan kau mungkin saja berada disana diantara banyaknya orang-orang membuatku semakin tidak tenang. Itu pertama kalinya aku tidak bisa merasakan kenyaman dengan duduk disini”
“apa kau benar-benar berfikir seperti itu?”
“Eunso-yaa.. percayalah padaku” Kyuhyun meraih tangan Eunso dan menempelkannya dipipinya sendiri. “seumur hidupku aku tidak pernah merasa tidak berdaya seperti ketika aku kehilanganmu”
Eunso menitikan airmata penuh haru dipipinya, ia tidak menyangka bahwa perasaan Kyhyun sedalam ini padanya. Kyuhyun menempelkan bibirnya diairmata itu, merasakan asinnya air itu dibibirnya. “tidak ada yang tahu tempat ini, tidak Eomma, tidak Jaewoo bahkan Minhye sekalipun tidak pernah kuajak kesini, hanya aku dan Lessie yang sering mengunjungi tempat ini, anjing itu juga satu-satunya temanku untuk berbagi cerita, meskipun dia tidak pernah membalas ceritaku”
“ini pertama kalinya aku membawa orang lain kesini, jika kau paham apa yang kukatakan, yang kumaksud adalah Karena arti hadirmu begitu berharga dihidupku maka aku membawamu kesini. Ini bukti bahwa kau adalah wanita yang paling istimewa dihidupku, karena itu aku ingin membawamu ketempat yang paling rahasia dihidupku”
Eunso semakin banyak menitikan airmata, ini bukan sekedar pengakuan cinta, tapi namja ini mengungkapkan segalanya. Tempat yang paling berharga untuknya ia bagi dengan orang yang paling berharga dihatinya.
“tuan Cho..”
“ayolah jangan panggil aku seperti itu”
“oppa..” Kyuhyun tersenyum mendengar panggilan itu.
“ya sayangku?”
Eunso menyentuhkan tangan satunya lagi keawajah Kyuhyun, dan membelai rahang namja itu. “jika aku menerimamu apa kau mau berjanji tidak akan meninggalkanku?. Aku takut, ini semua hanya sekedar mimpi dan akan berakhir secepat mimpi itu datang. Terbangun dengan tidak ada dirimu disampingku, aku benar-benar takut melihat itu”
“aku berjanji.. perlu kau ketahui, aku tidak pernah melanggar janjiku, meskipun begitu aku akan memenuhi janji itu bukan karena kewajiban, tapi karena aku mencintaimu”
Eunso menganggukkan kepalanya cepat, membuat airmatanya jatuh semakin banyak. “aku juga mencintaimu”
Kyuhyun menarik Eunso kedalam pelukannya. “lega mendengarnya” bisik namja itu, tepat ditelinga Eunso. Kyhyun memeluk Eunso begitu erat, membuat dada mereka menempel dan saling merasakan detakan jantung mereka masing-masing.
Kyuhyun menjauhkan wajahnya hanya untuk menatap dalam mata Eunso. “kita harus menikah, secepatnya”. Gadis itu tersenyum lalu menganggukkan kepalnya, perasaanya bercampur aduk. Ia tidak pernah sekalipun bermimpi Kyuhyun akan memintanya menikah ataupun mengatakan bahwa dia mencintainya.
“apapun yang oppa katakan”
Kyuhyun tersenyum, mengecup pelan kepala Eunso lalu melepaskan pelukan mereka. “kau suka makan ddeopoki?”
“oo..”
“apa warna favoritemu?”
“biru..”
“boyband kesukaanmu?”
“super junior, maknae mereka tampan”
“eeyy.. maknae mereka tidak lebih tampan dariku”
Eunso tertawa melihat kekesalan Kyuhyun. “kenapa kau menanyakan itu?”
“karena aku ingint tahu segalanya tentang dirimu” Kyuhyun menarik Eunso agar duduk membelakanginya dan gadis itu bisa bersadar didadanya. “kau lebih suka paha ayam atau dada ayam?”. Sekali lagi Kyuhyun menanyai Eunso, dari hal-hal yang tidak penting bahkan yang tidak terpikirkan oleh Eunso sekalipun. Seperti ukuran bra atau apa Eunso memiliki tanda lahir.
“aah jangan dijawab, akan kutemukan sendiri” wajah Eunso bersemu merah, ia menundukkan wajahnya sambil tersenyum simpul. Sejenak waktu berlalu dalam keheningan, sampai akhirnya kyuhyun memegang dagu Eunso dan menariknya agar menghadap kewajahnya. Eunso mengerjabkan matanya karena sekali lagi wajah mereka sangat dekat, matanya terpejam otomatis ketika Kyuhyun menundukkan wajahnya. Dengan lembut Kyuhyun menyapukan bibirnya diatas permukaan bibir Eunso.
Mereka saling mencium dan menyerap kehangatan bibir masing-masing. Sudah lama sekali mereka bermimpi bisa melakukan ini lagi, saling mencari dan menjelajah. Kyuhyun menjulurkan lidahnya masuk kedalam mulut Eunso ketika gadis itu mendesah.
Kyuhyun melepaskan pagutan bibir mereka dan menatap wajah Eunso yang bersemu merah karena hasrat, namja itu menarik tubuh Eunso agar duduk dipangkuannya, Eunso menjerit tertahan namun jeritannya teredam oleh serangan bibir Kyuhyun sekali lagi. Eunso menyentuhkan tangannya dipipi dan rahang Kyuhyun, membelai wajah halus dan putih itu.  Membuat kyuhyun tidak tahan untuk tidak menyentuhkan tangannya ditubuh telanjang Eunso. Kyuhyun pun menelusupkan tangannya dibalik baju Eunso dan naik kedada gadis itu.
“aahh..” Eunso mendesah ketika Kyuhyun meremas payudara kanannya. Terlepas dari ciuman panas itu, Kyuhyun mendaratkan bibirnya dileher Eunso, membuat gadis itu semakin mendesah nikmat.
“aku menginginkanmu” bisik Kyuhyun diatas lekukan dada Eunso yang tertutup baju tidur.
“nee.. oppa..” sahut Eunso mengizinkan
“sekarang?”
“nee..”
Kyuhyun menggeramkan suaranya karena rasa gembira, sudah setahun lebih ia merindukan kehangatan tubuh Eunso. Tanganya semakin kuat meramas payudara Eunso, bibirnya naik dan mencium Eunso lagi.
Eunso melepaskan bibirnya dari Kyuhyun.“oppa.. sepertinya aku.. kyaaa..”
SRAAAAKKK.. kejadiannya begitu cepat dan mendadak Eunso merosot dari pangkuannya dan hampir saja terjatuh, Kyuhyun menarik tanganya cepat dari balik baju Eunso lalu berpegangan didahan pohon yang berada diatasnya.
“ya Tuhan, aku memegangmu.. aku memegangmu” nafas Kyuhyun memburu cepat, ia tidak tahu apa jadinya jika ia tidak memeluk dan menahan Eunso. Eunso mengalungkan lengannya dileher Kyuhyun ketika namja itu menariknya lagi keatas pangkuannya. Kyuhyun tertawa begitu juga dengan Eunso. Jika saja tidak ada kejadian Eunso hampir terjatuh mereka psti sudah bercinta diatas dahan pohon itu.
“kita harus turun..” bisik Kyuhyun.
“tapi, aku masih ingin melihat pemandangannya”
Kyuhyun menatap kearah kota lalu menggelengkan kepalanya. “besok kita kesini lagi eoh..? sekarang kita turun”
Eunso tersenyum malu lalu menganggukkan kepalanya, sepenuhnya paham alasan kenapa mereka harus turun saat itu juga…
.
.
.
.
.
TBC…
Sekali lagi authornya mo bilang, emang cocoknya TBC disini biar pada penasaran, heheheheh #plaaaakk
Satu part lagi END yaaa.. ini udah melebihi kapasitas otakku.. hahahah..

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: