Need A Baby chapter 8

1
Need A Baby chapter 8 ff nc kyuhyun eunso

Tittle: Need a Baby?  (Chapter 8)
Cast:
Cho Kyuhyun
Song Eunso
And other cast
Category: Chapter, Romance
Author: Mylittlechick
“huaaa… huaaaa… paaa…”
“kau pergi saja”
“tapi Naeun..”
“Naeun akan berhenti menangis jika kau sudah pergi”
Kyuhyun mengerutkan alisnya menatap putrinya yang menangis digendongan ibunya, tanganya terulur kearahnya minta digendong tetapi neneknya tidak pernah mengizinkan dirinya untuk pergi dari gendongannya. Ini adalah kejadian yang setiap pagi selalu harus dilalui oleh Kyuhyun, tetapi tetap membuatnya kewalahan. Naeun memang selalu menangis jika Kyuhyun hendak berangkat kerja, anehnya tangisan itu akan langsung berhenti jika mobil Kyuhyun sudah menghilang dari jalanan.

Meskipun begitu, kyuhyun tetap tidak tega meninggalkan putrinya. “apa kubawa saja kekantor?” usul Kyuhyun.
“dan membiarkan pegawaimu menggosipkan Naeun. Tidak.. dia akan baik-baik saja, pergilah”
Kyuhyun menatap Naeun dengan alis mengernyit, Kyuhyun selalu bertanya-tanya kenapa putrinya itu memiliki tangisan yang begitu kencang. “baiklah aku pergi” Kyuhyun mendekati ibunya dan mengusap kepala Naeun. “sayang jangan nangis, appa akan pulang secepatnya.. arraso”. Tetap tidak mau ditinggalkan Naeunpun masih tetap meraung-raung.
“aigo.. palli kaa..” teriak ibunya geram..
“arraso.. arraso..” Kyuhyun pun bergegas menuju mobil dan duduk dikursi belakang, supir pribadinya langsung melajukan mobilnya, Kyuhyun menoleh kebelakang, melihat Naeun yang masih menangis. Ia menarik nafasnya panjang, jadi seperti inilah rasanya menjadi single parent.. Kyuhyun mengusap wajahnya. Seandainya Eunso tidak pergi meninggalkannya, Naeun pasti tidak akan merasa sendirian. Meskipun ibunya selalu menemani Naeun, putrinya tetap membutuhkan sosok seorang ibu.
“dimana sebenarnya dia..?”
.
Hari ini terasa lebih hangat dari biasanya, bulan maret telah berlalu da sisa-sisa udara dingin perlahan-lahan menghilang, matahari pun bersinar lebih terik dari sebelumnya. Kyuhyun keluar dari mobilnya yang berhenti didepan pintu masuk sebuah mall. Seperti jadwal-jadwalnya yang biasa Kyuhyun selalu menyempatkan diri mengunjungi hotel-hotel lain yang dimilikinya termasuk mall yang berdiri tegak dipertengahan kota Seoul itu.
Kyuhyun menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sosok seorang yeoja yang tidak asing dimatanya. Kyuhyun mengernyitkan hidungnya ketika melihat gadis itu lagi-lagi tidak berada ditempat yang seharusnya.
“Lee Minri.. seharusnya kau ada dibelakang meja resepsionis” desis Kyuhyun geram. Setelah berhasil membuat hotel itu menjadi salah satu hotel yang kembali terkenal Kyuhyun jarang mengunjungi hotel itu lagi, biasanya Kyuhyun tidak akan pernah hapal dengan pegawai yang bekerja denganya, tapi tidak jika itu Lee Minri, gadis yang selalu membuat masalah.
“akan kubuat dia malu, ya Tuhan, tidak peduli dia kepala keluarga sekalipun aku akan memecatmu langsung Lee Minri”
“tuan Cho..?” Kyuhyun meninggalkan manager mall yang hendak menyambutnya begitu saja, ia sudah sangat gatal ingin memarahi pegawainya yang satu itu, setelah tahu Eunso dipecat dengan sangat tidak manusiawi Kyuhyun memutuskan untuk tidak lagi melakukan hal seperti itu. Namun Minri selalu membuat kesabarannya habis. Ia tidak pernah menyukai gadis itu.
Kyuhyun menyunggingkan senyum mematikan ketika ia mengikuti Minri, gadis itu tengah berlari terburu-buru dengan seragam kerjanya, rambutnya masih acak-acakan dan terkesan sangat tidak rapi, salah satu alasan yang membuat Kyuhyun semakin bersemangat ingin memecat gadis itu.
Kyuhyun mengikuti Minri menyisiri terotoar, gadis itu memperlambat langkahnya membuat Kyuhyun semakin dekat denganya, tiba-tiba Kyuhyun menghentikan langkahnya ketika matanya melihat seorang gadis yang duduk tidak jauh dari bangku taman itu.
Sudah setahun lamanya hari-harinya diisi oleh bayangan wajah wanita itu, memang gadis itu terlihat berbeda dari kali terakhir yang ia ingat, wajahnya tirus dan tubuhnya yang sempat berisi karena sedang hamil sekarang menjadi sangat ramping, bahkan terlalu ramping. Gadis itu sedang duduk dengan serius menghitung lembar demi lembaran uang dipangkuannya. “Eunso..” bisik Kyuhyun takut-takut, ia takut jika salah melihat tetapi ketakutannya berubah menjadi rasa terkejut ketika Lee Minri meneriakkan lantang nama itu.
“Song Eunso… apa yang sedang kau lakukan..?” Minri mengambil uang-uang itu dari tangan Eunso lalu memasukkannya kedalam tas. “kau selalu saja menghitung uang dijalanan, bagaimana jika ada yang mengambilnya, pabo-yaa..”
“mian, aku selalu tidak tahan untuk tidak cepat-cepat menghitungnya, tapi kau sudah disini, bantu aku menghitungnya ooh. Sisihkan beberapa Won untuk kebutuhan kita”
“akan kulakukan nanti, apa koran-korannya banyak yang terjual?”
Eunso menggelengkan kepalanya, “sepertinya jaman semakin canggih, orang-orang lebih suka membaca berita online dari pada koran”
“haah.. sebaiknya kau berhenti mengantarkan koran lagi, itu membuang-buang waktumu”
“anniya, uangnya lumayan”
“Eunso-yaa.. aku bisa membantumu”
“Minri-ya.. aku tidak mau merepotkanmu lagi, uangmu adalah uangmu, kau juga harus menghidupi adik-adikmu bukan?”
Minri menghembuskan nafasnya pasrah. “sudahah setidaknya kita tinggal bersama, jadi aku bisa mengawasimu agar tidak terlalu kelelahan. Halmoni sudah sering mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang kau ambil”
Eunso tertawa pelan menjawab ucapan Minri. “halmoni memang begitu, aku pergi dulu. Koran-koran ini harus kukembalikan” Eunso merapikan koran-korannya lalu pergi meninggalkan Minri. Minri menghembuskan nafasnya lalu ikut berdiri dan berjalan kearah yang tadi dilewatinya. Langkahnya berhenti ketika melihat bosnya berdiri tidak jauh darinya.
Kyuhyun menatap punggung Eunso yang menjauh, gadis itu benar-benar terlihat kurus. Apa saja yang dikerjakannya hingga tubuhnya terlihat sangat kelelahan meskipun hari masih sangat pagi seperti ini?. Kyuhyun menoleh kearah Minri yang menundukkan kepalanya begitu mata mereka bertemu. Jelas terlihat Minri takut dimarahi di jalanan. Kyuhyun bahkan bisa mendengar Minri merutuki dirinya sendiri karena terlalu bodoh hingga tertangkap oleh Kyuhyun sedang membolos.
Tetapi ketakuan Minri harus menghilang ketika Kyuhyun tidak memarahinya melainkan memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Minri. Minri sempat bingung tetapi ia mengedikkan bahunya tidak peduli, dan bergegas ke hotel sebelum terlambat.
.
Kyuhyun masuk kedalam mobil yang masih berada ditempat ia turun tadi, melupakan kekhawatiran para manager padanya. Orang-orang mungkin melihat keanehan pada Kyuhyun, namja itu berubah menjadi sangat pendiam dan matanya juga tidak fokus.
“tuan kita kemana?” tanya supir pribadi miliknya
Kyuhyun menolehkan kepalanya kepada supirnya, lama pikirannya melayang sebelum menjawab supir itu. “kau keluarlah, aku akan membawa mobil ini sendiri” Kyuhyun keluar dari mobilnya dan berjalan kepintu pengemudi, supir itu langsung keluar dengan patuh. Setelah masuk kedalam mobil, kyuhyun pun menjalankan mobilnya. Ia mengambil ponsel dan menekan satu nomor.
“selamat pagi tuan Cho” sambut suara dari balik teleponnya.
“aku ingin biodata pegawai yang bernama Lee Minri dikirim ke alamat emailku sekarang”
“nee..? apa lee Minri melakukan kesalahan tuan?”
“tidak perlu banyak tanya, aku ingin sekarang”
“baik tuan..”
Kyuhyun menutup sambungan teleponya lalu melempar ponselnya ke kursi penumpang. Ia harus menemui  Eunso segera, tidak perduli gadis itu akan terkejut atau tidak, ia harus menemui Eunso.
.
.
.
Eunso selesai bekerja dirumah sakit sore harinya, bekerja menjadi cleaning servise dirumah sakit adalah pekerjaan yang permanen sekarang, Eunso tidak perlu khawatir akan dipecat sewaktu-waktu karena sepertinya pekerjaanya cukup membuat orang-orang yang berada dirumah sakit puas. Eunso juga mengurangi pekerjaannya dengan berhenti bekerja di restoran ramen, alasannya karena Eunso pulang dari rumah sakit malam hari dan terlalu lelah untuk mengambil pekerjaan lain. lagi pula gajinya dirumah sakit cukup besar.
“aaah.. aku lelah..” Eunso meregangkan tangannya agar otot-ototnya tidak tegang lagi. Ia menepuk-nepuk pundaknya yang lelah sambil berjalan menuju kerumahnya yang jaraknya masih cukup jauh. Melirik kearah jam tangannya Eunso pun langsung menguap. Sudah pukul 11 malam pantas saja jika ia kelelahan.
“halmoni masak apa ya..? aku lapar” Eunso berbelok di undakan jalan sempit yang mengarah kerumahnya. Setelah sampai didepan pintu pagar rumahnya, Eunso mengetuk pintu itu beberapa kali. Ia menempelkan kepalanya dipintu sambil memejamkan matanya menunggu siapapun yang membuka pintunya. Eunso hampir saja tertidur jika saja neneknya tidak membuka pintu rumah.
“lihatlah dirimu, kelelahan seperti biasanya” neneknya langsung memberikan protesnya kepada Eunso. “kau bekerja keras tapi kulihat uangmu tidak pernah cukup. Sebenarnya kau bekerja untuk apa?”
Eunso masuk setelah neneknya menyingkir dari pintu, ia berjalan tanpa mempedulikan omelan neneknya itu. ia bekerja untuk apa? tentu saja untuk mengembalikan uang yang sudah ia pakai untuk mengoperasi neneknya dulu. Tekatnya sudah kuat, ia tidak akan memakai uang Kyuhyun sepersen pun, karena ia tidak mau menjual bayinya. Meskipun itulah yang ia lakukan pertama kalinya.
“halmoni masak apa?”
“ada bibimbab jika kau mau”
“aku mau” Eunso membaringkan dirinya dilantai, ingin rasanya segera merilekskan sekujur tubuhnya.
“Eunso-ya.. tidurlah dikamarmu”
“anniya.. aku mau makan dulu, aku lapar sekali”
“ya sudah.. tunggu disini”
“apa Minri sudah pulang?”
“oo.. dia ada shif pagi sekali besok, jadi dia sudah tidur”
“aa..” Eunso tidak kuasa membuka matanya lagi, karena itu ia menutupnya sejenak. Namun ketika neneknya kembali dengan membawa semangkuk besar bibimbam. Eunso sudah tertidur. Neneknya menghembuskan nafas sedih, sebenarnya apa yang dilakukan Eunso hingga harus membuatnya memaksakan diri seperti ini?.
“Eunso-ya.. apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?”
.
Diluar rumah  Kyuhyun sedang duduk bersandar pada tembok tempatnya bersembunyi mengamati Eunso, sudah sejak ia berhasil mendapatkan alamat rumah Minri ia berada ditempat itu, kurang lebih 7 jam yang lalu. ia menunggu dan menunggu hingga melihat Minri pulang dari bekerja, lalu 4 kam kemudian ia melihat Eunso berjalan dengan sangat kelelahan dan mengantuk. Tadinya Kyuhyun ingin mengagetkan gadis itu dengan tiba-tiba muncul dihadapannya, tapi ia tidak bisa. Eunso terlalu lelah untuk dikejutkan. Ia butuh istirahat, karena itu Kyuhyun memutuskan untuk berdiam diri dan hanya mengamati Eunso.
Kyuhyun menyisir rambutnya dengan kasar, jadi begitu caranya Eunso mencari uang untuk ia kembalikan kepada Kyuhyun?.  kelelahan hingga ia bisa pingsan kapan saja. “gadis bodoh..”
.
Setelah merasa bisa menenangkan diri Kyuhyun memutuskan untuk pulang, ia sudah mengabaikan panggilan diponselnya yang ternyata dari ibunya yang bertanya-tanya dimana keberadaan Kyuhyun. Naeun memang tidak pernah rewel jika Kyuhyun pulang larut malam, tapi Younghwa tetap tidak bisa tenang jika Kyuhyun tidak mengabarinya jika pulang terlambat.
Kyuhyun melihat ibunya sedang duduk diruang tamu, merajut sesuatu ditangannya. Wanita itu sengaja menunggu kepulangan Kyuhyun hari ini, karena Kyuhyun tidak juga memberi kabar kenapa dia pulang larut, yonghwa menjadi sedikit cemas.
“Kyu-a..” Younghwa hendak berdiri dari sofa tetapi tertahan karena tiba-tiba Kyuhyun membaringkan dirinya disofa dan menyandarkan kepalanya dipangkuan ibunya.
“eomaa..” ujarnya lirih..
Younghwa, tertegun. Kyuhyun tidak pernah bersikap seperti ini sejak usianya menginjak 17 tahun. Memang dulu Kyuhyun sangat dekat dengannya, tetapi ketika ayahnya meninggal Kyuhyun berubah menjadi namja yang lebih mandiri dan tidak ingin bermanja-manjaan lagi dengan ibunya.
“ada apa sayang..?” Younghwa mengusap rambut Kyuhyun pelan, entah kenapa ia merasa Kyuhyun sedang sangat ingin mencurahkan perasaannya. Ketika Eunso pergi dan meninggalkan Naeun pada Kyuhyun, namja ini tidak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan sedihnya, ia hanya terlihat marah dan sedih jika tidak ada yang melihatnya. Kyuhyun Selalu bisa menyembunyikan perasaannya sendiri.
“aku menemukan Eunso” namja itu menjawab ibunya, dengan tatapan menerawang jauh.
“jinjja..? lalu.. apa yang kalian bicarakan?”
“aku belum menemuinya”
“oo.. wae..?”
Kyuhyun terdiam dalam pemikirannya sejenak. “eomma tahu, aku mencintai Minhye karena aku mengenalnya dengan baik, apa yang tidak kuketahui tentangnya, bahkan ukuran dadanya pun aku tahu” Kyuhyun mentertawakan dirinya sendiri mengingat, ia pernah menghadiahi Minhye sepasang pakaian dalam. “tetapi Eunso, yang kutahu tentang Eunso adalah hanya namanya, aku tidak tahu makanan favorite –nya, warna kesukaannya, hobinya, tempat tinggalnya bahkan satu tanda lahir ditubuhnya. Aku tidak pernah memberikan waktu untuk memperhatikan hal-hal seperti itu”
“kami tinggal bersama untuk waktu yang cukup lama, tapi aku tetap tidak tahu apapun tentangnya, dan yang terburuk adalah aku merindukan dia yang tidak kukenal dengan baik itu. sangat merindukannya” airmata jatuh dipipi Kyuhyun.
Younghwa sekali lagi terkejut. Kyuhyun menangis, Younghwa hanya melihat Kyuhyun menangis ketika ayahnya meninggal, tidak bahkan ketika Minhye meninggalkannya. “Kyu-aa. Sebenarnya ada apa? apa yang terjadi pada Eunso?”
“dia bekerja dari pagi hingga larut malam hanya untuk mengembalikan uang yang tidak pernah ingin kuminta darinya. Tinggal dirumah kecil yang dihuni oleh beberapa orang, aku tidak tahu dimana dia tidur, apa mereka punya kamar lebih?”
Younghwa menahan desakan airmatanya sendiri, sekarang ia mengerti akan kesedihan putranya sendiri. Kyuhyun sedang menangisi kehidupan yang sedang dijalani oleh Eunso.
“orang macam apa yang tega membiarkan ibu dari anakku hidup seperti itu eomma… namja seperti apa aku ini yang membiarkan wanita yang kucintai hidup seperti itu”
“Kyu-aa.. ini bukan salahmu”
“ini salahku.. jika saja aku tidak terlalu bodoh untuk menyadari perasaanku lebih cepat, Eunso tidak akan hidup seperti itu. Dia wanita yang kucintai, ibu dari anakku. Seharusnya dia hidup bahagia, dengan kemewahan yang berlimpah. Apa gunanya aku memiliki semua ini jika dia tidak bisa menikmatinya?”
Younghwa mengusap rambut Kyuhyun lebih lembut. Airmata jatuh dipipinya, ia mengerti, sepenuhnya mengerti akan perasaan Kyuhyun. Siapapun pasti akan merasa marah pada dirinya sendiri, jika tahu wanita yang kau cintai hidup dengan kesusahan sedangkan dia hidup dengan kemewahan dan kemudahan.
“belum terlambat untuk memperbaikinya bukan?” tanya Younghwa sambil terus mengusap kepala putranya.
Kyuhyun memejamkan matanya dan meringkuk lebih dalam dipangkuan ibunya. “aku akan segera membawanya kesini”
“ne.., itu keputusan yang benar sayang”
.
.
.
“lee Minri.. tuan Cho memanggilmu” manager Kang memanggil Minri yang sedang bersiap-siap dan merapikan meja resepsionis. Namja itupun sempat terkejut karena secara pribadi Kyuhyun memintanya memanggil Minri.
“nee..? aaa.. akuu..? kenapa..?” Minri langsung tergagap menatap manager Kang.
“kau tidak berbuat salahkan?” tanya manager Kang.
“ya Tuhan” Minri teringat, kemarin ia tertangkap basah ketika ia bolos sebenta untuk menemui Eunso. “habislah sudah, aku pasti dipecat”
“Minri-ya, sudah kubilang, jangan pernah membuat tuan Cho marah. Sudahlah cepat kesana”
Minri menarik nafas panjang sebelum ia berjalan kearah lift dan naik menuju kantor Kyuhyun. ia keluar dari lift dengan jantung yang berdegup kencang, ia tidak bisa ingin dipecat sekarang, adiknya sedang dalam masa-masa penting ujian sekolah dan harus kuliah. Minri memutuskan untuk berhenti kuliah dan terus bekerja, ia pikir adiknya lebih pantas mendapatkannya dari pada dirinya. Jika ia dipecat apa yang bisa ia lakukan lagi?
Minri memantapkan hatinya sebelum mengetuk pintu ruangan Kyuhyun. lalu membuka pintu itu setelah mendengar suara Kyuhyun yang mempersilahkannya masuk. Minri melihat Kyuhyun sedang berdiri menghadap jendela. Melihat punggungnya saja sudah membuat hati Minri menciut. Sudahlah.. Minri akan pasrah.
Kyuhyun memutar tubuhnya lalu tersenyum kepada Minri, senyum yang tidak pernah siapapun lihat. Minri terdiam karena terpesona, ia lupa bahwa bosnya itu memiliki wajah yang mempesona. Semua itu tertutup karena keangkuhan Kyuhyun.
“Lee Minri, duduklah” tunjuk Kyuhyun pada kursi diseberang meja kerjanya. Minri patuh dan duduk dikursi itu dalam keadaan bingung, sepertinya suasana hati Kyuhyun sedang baik. Pikirnya.
.
Kyuhyun berjalan kearah meja kerjanya lalu duduk disudut meja, menatap Minri dengan tatapan berwibawanya. “aku memanggilmu kemari adalah karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu”
“tuan Cho, tentang yang kemarin aku tidak bermaksud untuk bolos kerja, aku harus menemui temanku karena..”
“aku belum selesai bicara” potong Kyuhyun.
“aah.. maafkan aku”
Kyuhyun berdeham lalu melipat tanganya didepan dada. “sepertinya aku akan langsung saja, aku ingin menawarkan pekerjaan lain selain menjadi resepsionis”
“ne..?”
“tapi kau tidak bisa bekerja sendirian, kau butuh seorang teman. Apa kau memiliki satu teman perempuan untuk membantumu?”
Minri terdiam sejenak, merasa sedikit bingung tetapi tetap menjawab Kyuhyun. “ada beberapa, aku bisa menghubungi mereka”
Kyuhyun menaikan alisnya, lalu berdeham kembali. “maksudku teman yang benar-benar dekat, yang bisa dipercaya, karena ini bersifat rahasia”
Minri mengerutkan alisnya kemudian menggelengkan kepalanya. “aku yakin dia tidak akan bersedia tuan”
“kenapa..?”
“karena ia tidak mau bekerja lagi dengan anda, anda tahu.. setahun yang lalu anda memecatnya. Dan ketika kubilang anda memanggil lagi yang sudah anda pecat, dia tidak mau kembali lagi. terlalu sakit hati kepada anda mungkin”
Kyuhyun terdiam, jadi Eunso pernah bekerja di hotel miliknya dan yang memecat Eunso saat itu adalah dirinya sendiri?. “SIAL..” Kyuhyun memaki pelan, kenapa ia baru menyadarinya, jadi selain Eunso adalah sahabat dekat Minri ternyata gadis itu pernah bekerja disini, dihotel ini. dan Kyuhyunlah penyebab gadis itu dipecat.
Minri sedikit terganggu dengan makian Kyuhyun. bosnya itu terlihat sangat terkejut.
Kyuhyun melirik Minri lagi sambil menghembuskan nafasnya. “begini saja, kau tidak perlu bilang kalian bekerja untukku”
“aku tidak bisa membohonginya tuan, dia terlalu sensitive”
“bayarannya mahal”
Minri terdiam. “aku mau saja, tapi..”
Kyuhyun memejamkan matanya, baiklah mungkin Kyuhyun harus mulai dari mengatakan yang sebenarnya. “baiklah aku akan menceritakan satu rahasia padamu, dan entah kenapa aku mempercayaimu untuk mengatakannya” Minri menatap serius bosnya sambil menganggukan kepalanya. “setahun yang lalu, aku menyewa seorang wanita untuk mengandung anakku, semua itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi.. namun..”
“ya Tuhan, jadi namja itu kau..?” Minri berseru kaget dengan menutup mulutnya.
Kyuhyun terdiam karena keterkejutan Minri. “kau tahu?”
“tentu saja aku tahu, aku yang menemaninya ketika ia mengambil keputusan untuk menyewakan rahimnya padamu. Tapi dia tidak pernah bilang namja itu anda. Ya Tuhan, Song Eunso. dia menyembunyikan semua ini dengan baik. Aku tidak pernah menduganya. Tunggu, itu artinya anak yang digosipkan itu adalah anakmu dan Eunso bukan..?. ya Tuhan, gadis bodoh itu pasti terluka dengan gosip yang beredar”
“gosip..?” Kyuhyun memotong ocehan Minri yang melantur itu. “dengar Lee Minri, aku ingin meminta bantuanmu. Apa kau bersedia?”
Minri menatap tajam kearah Kyuhyun tidak lagi peduli dia bosnya atau bukan. “tergantung apa yang kau minta tuan Cho jika kau bermaksud untuk memintanya mengandung anakmu lagi maka aku akan menolakmu dengan keras. Aku tidak akan pernah mengizinkan Eunso melakukannya lagi”
“ya Tuhan, jika aku ingin dia mengandung anakku lagi maka aku akan menikahinya terlebih dahulu sebelum memintanya. Lee minri, tolong aku. Aku ingin dia kembali padaku. Aku mencintainya”
Seketika itu juga Minri tersenyum. “aku akan membantumu dengan senang hati tuan…”
Kyuhyun tersenyum, “sepakat..” namja itu mengulurkan tangannya kepada Minri yang langsung disambut oleh Minri, mereka bersamalan dan tersenyum kepada satu sama lain. memutuskan untuk menjadi sekutu dan berteman.
.
.
.
Disebuah hotel yang cukup mewah terdengar suara langkah kaki yang berlari terburu-buru, Lee Minri tengah berlari sambil menarik tangan Eunso bersamanya. Semua yang berada dihotel itu menatap mereka dengan pandangan meremehkan, orang seperti apa yang berlari-lari dihotel mewah?.
“Minri-ya.. sebenarnya kau mau membawaku kemana?” Eunso menundukkan kepalanya ketika seseorang memberikan tatapan tidak sukanya.
“ikuti saja aku, aku punya pekerjaan besar untukmu. Aah.. liftnya mau tertutup” Minri masuk dengan cepat sebelum pintu lift tertutup, membuat Eunso sedikit membentur pintu lift itu. “aah.. mian, gwencana..?”
Eunso mengusap lengannya yang sakit dengan alis berkerut selagi Minri menekan tombol lantai yang mereka tuju. “sebenarnya ada pekerjaan apa sih?, aku bisa dipecat jika aku membolos dari rumah sakit”
“tenang saja, ini pekerjaan yang sangat besar, dan kau pasti akan menyukainya”
“pekerjaan seperti apa?”
“gaji yang cukup besar”
“kenapa dihotel seperti ini?. Tunggu, kau tidak bermaksud menjualku kepada om-om mesum kan?”
“eeyy.. jika itu niatku sudah kulakukan sejak dulu”
Eunso tertawa lalu meminta maaf, ia terlalu merasa bingung karena itu mengucapkan lelucon untuk menenangkan kebingungannya. Eunso menatap nomor digital yang menunjukkan nomor-nomor lantai yang mereka lewati, sebenarnya kemana Minri akan membawanya. Lalu kenapa harus di Hotel? Siapa yang memberikan Minri pekerjaan lain?.
“hotel apa ini?” tanya Eunso tiba-tiba.
Minri diam tidak menyahuti Eunso.
“Minri-ya..”
TING.. pintu lift terbuka membuat pertanyaan Eunso menggantung diudara.
“kajja” sekali lagi Minri menarik tangan Eunso agar mengikutinya, Minri berhenti di pintu bernomor 200 lalu menekan bel kamar itu. tidak menunggu lama pintu itupun terbuka, menampilkan sosok beberapa wanita didalam sana. “aku sudah tiba”
Eunso masuk kedalam kamar itu karena tangannya terus ditarik oleh Minri, matanya menatap takjup isi kamar itu. ia tahu dibeberapa hotel pasti akan ada kamar kelas satu, tapi yang ia lihat sekarang bukan sekedar kamar kelas satu biasa, bahkan di hotel tempatnya bekerja dulu kamar sebesar ini tidak ada.
“Eunso-ya.. kenapa kau tidak mandi dulu? Baumu seperti bau pembersih ruangan”
Eunso mengendus pakaiannya lalu memberengut menatap Minri, “aku kan memang bekerja membersihkan ruangan”
Minri terkikik sebentar lalu mendorong Eunso agar masuk kedalam kamar mandi. “mandilah.. cepat..”
Eunso menahan dirinya dengan berpegangan ditiang pintu. “Minri-ya.. jelaskan dulu padaku, sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini?. Kau tidak bermaksud menjualku kan?”
“eey.. paboya..? mana mungkin”
“tapi tetap saja, apa sebenarnya yang ingin kau lakukan”
“baiklah.. hari ini kita akan menjadi waiters, dan harus berdandan cantik agar kita tidak mempermalukan tuan rumah dari pesta itu”
“Pesta?”
“sudahlah, cepat mandi” Minri berhasil mendorong Eunso masuk dan langsung menutup pintu kamar mandi itu.
Eunso menatap pintu yang tertutup itu bingung, kenapa sepertinya Minri tidak berkata jujur padanya.. dan Eunso pun tidak berani untuk menebak apa yang sebenarnya yang sedang Minri rencanakan. Tidak ingin memikirkan itu Eunso pun memutuskan untuk mandi, seperti yang diperintahkan oleh Minri.
Selesai mandi Eunso tidak menemukan Minri dikamar yang besar itu, kamar itu terdiri dari ruang tamu yang besar dan dua kamar yang ukurannya lebih besar dari rumahnya dan Minri. Eunso bertanya dimana keberadaan Minri kepada beberapa yeoja yang terlihat rapih dengan seragam mereka.
“Minri-ssi sedang dipersiapkan dikamar sebelah, sekarang anda juga harus dipersiapkan” begitulah yang dijawab oleh salah satu yeoja berseragam itu. Eunso bertanya-tanya sebenarnya apa pekerjaan yeoja-yeoja ini, mereka merapikan rambut Eunso dan mendadaninya. Dan lagi-lagi Eunso merasa sesuatu yang janggal, untuk apa waiters berdandan seperti ini?.
Selesai berdandan Eunso diharuskan memakai sebuah dress berwarna pink pastel dengan rok yang mengembang diatas lutut. Meskipun ragu-ragu Eunso tetap memakai baju itu dengan patuh. Baju itu terasa pas ditubuhnya, Eunso pun berjalan kearah cermin dan terdiam memandangi pantulan dirinya. Rambutnya terurai indah dibelakang punggungnya, bergelombang membentuk ikal-ikal kecil dibagian ujungnya, sebuah sirkam bermutiara tersemat diatas rambutnya.
“ini aku..?” bisik Eunso terkejut, tidak mungkin dirinya terlihat begitu cantik seperti ini.
“anda sangat cantik nona, kami permisi”
“tunggu, dimana Minri?”
“teman anda akan menyusul” setelah menjawab Eunso, para yeoja itupun akhirnya pergi, meninggalakan Eunso sendirian.
Sekali lagi Eunso menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya memang terlihat cantik, tetapi jika diamati Eunso masih bisa melihat guratan kelelahan dan mata yang lelah. Eunso pun tertawa pelan. “setidaknya aku masih mengenali mata itu” bisik Eunso, “terlihat seperti diriku yang biasanya”
Eunso memutuskan untuk menunggu Minri sambil mengelilingi ruangan itu, tidak ada salahnya memanjakan penglihatannya dengan melihat benda-benda yang indah dikamar itu, Eunso melihat ada tv yang berlayar sangat lebar, kulkas yang berisi penuh oleh makanan dan peralatan dapur yang lengkap. Eunso yakin harga kamar ini lebih mahal dari satu apartemen sekalipun.
CEKLEEK..
Eunso menoleh ke arah suara pintu terbuka, ia melangkahkan kakinya mendekati pintu kemudian menaikkan alisnya melihat roomservise sedang mendorong kereta dorong yang berisikan makanan. Sebenarnya Eunso ingin bertanya untuk apa makanan itu, tetapi ia tidak punya hak untuk bertanya. Mungkin untuk seseorang, batin Eunso. Tanpa mempedulikan Eunso, para roomservise itu pun menghidangkan makanan itu diatas meja bundar yang terletak didekat jendela kaca.
Selesai menata meja itu, roomservise itu pun pamit kepada Eunso lalu pergi. Eunso masih tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi, dimana Minri? Dan kenapa ia ditinggal sendirian dikamar itu. Eunso menoleh kearah meja yang sudah tertata rapi itu, makanan mewah tertata indah diatas meja itu, pelayan itu tadi bahkan menghidangkan sebotol wine diatas meja itu.
Eunso menelan salivanya pelan, rasa lapar tiba-tiba menghampirinya. Eunso menggelengkan kepalanya lalu berjalan kearah jendela, melihat ramainya kota dimalam hari dari balik jendela itu. Eunso bisa melihat cahaya lampu dari bangunan-bangunan tinggi disekitarnya, serta lampu-lampu yang menyorot dari mobil-mobil. Sungguh, itu pemandangan yang tidak pernah Eunso lihat sebelumnya.
.
.
Diluar kamar, Kyuhyun sedang berdiri tepat didepan pintu yang bisa mengantarnya untuk menemui Eunso. Namja itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan, sudah sejal beberapa jam yang lalu, ia sudah tidak sabar ingin masuk kekamar ini sekaligus gugup. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Eunso namun menunda niatnya karena ia belum siap.
Kyuhyun memutar tubuhnya lalu bertemu pandang dengan Jaewoo. “how do i look?”
“anda sangat tampan tuan muda, tapi anda terlihat sangat gugup” jawab Jaewoo.
Kyuhyun mengusap pelipisnya sambil tertawa pelan. “aku memang gugup, bagaimana jika Eunso tidak suka melihatku”
“dia pasti suka tuan, yaah.. meskipun awalnya mungkin akan terkejut tapi aku yakin Eunso akan senang bertemu dengan anda, seperti anda yang bahagia bertemu dengannya”
“kau yakin?” Kyuhyun meminta kepastian dengan menatap Jaewoo serius.
Jaewoo tertawa pelan lalu mengulurkan tangannya merapikan dasi Kyuhyun. “aku yakin.. karena aku tahu dia juga mencintaimu”
Kyuhyun menganggukkan kepalanya lalu menarik nafasnya lagi, memutar tubuhnya dan memegang kenop pintu kamar itu. Pelan-pelan Kyuhyun membuka pintu kamar itu dan melangkah masuk. Suara detakan jantungnya terdengar jelas ditelinganya, ia belum melihat dimana Eunso berada namun rasanya ia akan lumpuh saat itu juga.
Kyuhyun terus berjalan masuk hingga keruang makan, sebuah meja bundar sudah tertata rapi oleh makanan yang sudah ia pesan. Kyuhyun menahan nafasnya melihat Eunso berdiri memunggunginya, gadis itu sedang berdiri memandangi pemandangan dari luar jendela. Kyuhyun berjalan semakin mendekat, suara langkah kakinyapun mengetuk-ngetuk pelan lantai bermarmer dibawahnya.
Pelan-pelan Eunso memutar tubuhnya karena mendengar suara langkah kaki seseorang, saat itulah Kyuhyun bisa melihat wajah Eunso. Wajah wanita yang sudah ia rindukan, gadis itu terlihat terkejut melihat Kyuhyun. Kyuhyun pun tidak lagi mendengarkan suara debaran jantungnya yang berpacu cepat, ia diam karena terlalu terpesona dengan pemandangan didepannya. Tidak pernah dalam bayangannya sekalipun akan melihat Eunso dalam balutan gaun mewah dan terlihat begitu mempesona. Apa Eunso memang secantik ini?.
“tuan Cho..?” suara Eunso membangunkan Kyuhyun dari lamunannya. Kyuhyun memejamkan matanya, ia merindukan suara gadis itu. Kyuhyun membuka matanya lalu tersenyum kepada Eunso.
“Eunso..”
.
Eunso menyentuhkan tangannya didepan dadanya, rasanya jantungnya berdetak melebihi kapasitas, tadinya ia pikir seseorang masuk untuk mengantarkan sesuatu lagi, betapa terkejutnya ia begitu ia membalikkan badannya Kyuhyunlah yang berada dibelakangnya.
“Eunso..” suara Kyuhyun membuat Eunso yakin ia tidak sedang berhalusinasi.
“tuan Cho, kenapa anda disini?”
“kenapa..? ini hotelku”
“aah..” Eunso menggerakkan matanya ke kiri dan kanan, apa maksud dari semua ini?, kenapa Minri membawanya kesini? Lalu kenapa ada Kyuhyun? apa Minri mengenal Kyuhyun? apa temannya itu sudah tahu siapa Kyuhyun?.
Eunso menaikkan pandangannya ketika ia melihat ujung sepatu Kyuhyun berjalan semakin mendekatinya, matanya bertemu dengan mata Kyuhyun, namja itu menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan. “Eunso-ya.. aku merindukanmu”
Eunso mundur, menjauhi Kyuhyun. Melihat itu Kyuhyun pun berhenti mendekati Eunso. “kau tidak tahu betapa sulitnya aku menemukanmu”
“kenapa..?” suara yang keluar dari mulut Eunso terdengar serak. “kenapa mencariku? Apa ada yang salah?”
“tidak.. bukan karena ada yang salah, aku hanya mencarimu karena..” Kyuhyun diam lalu mengusap tengkuknya darimana dia harus mulai. “bagaimana kalau kita duduk dan makan dulu? Kau belum makan kan?” Kyuhyun beranjak kesatu kursi lalu menariknya untuk Eunso.
Eunso menggelengkan kepalanya. “aku harus menemukan temanku” Eunso pun menjauhi Kyuhyun dan berjalan kearah pintu.
“anniya.. kajima..” Kyuhyun menahan Eunso dengan memegang lengan gadis itu. Eunso yang terkejut menepis tangan Kyuhyun lalu mengusap tanganya karena tiba-tiba saja panas menjalar dari tempat yang disentuh oleh Kyuhyun.
Kyuhyun mengeraskan rahangnya melihat penolakan Eunso. “kajima.. aku sudah menyiapkan hidangan untuk kita berdua, setelah kau makan kita akan berbicara. Yaa..?”
“aku harus menemukan Minri”
“Eunso-ya..”
“dia yang membawaku kesini, aku ingin mendengarkan penjelasannya tentang semua ini, kenapa aku memakai baju ini, kenapa kau ada disini?”
“kau terlihat cantik dengan baju itu”
Eunso mengerutkan alisnya bingung, ada apa dengan Kyuhyun? namja itu tidak pernah mengatakan hal-hal seperti ini sebelumnya. “aku harus pergi” Eunso lagi-lagi memutar badannya dan beranjak kearah pintu, dan Kyuhyun tidak tinggal diam, namja itupun menyusul Eunso dan menghadang langkah gadis itu.
“Eunso-ya.. ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu, dengarkan aku dulu”
“tidak tuan Cho, kesepakatan kita sudah selesai setahun yang lalu” Eunso mengambil jalan lain dari tempat yang dihadang oleh Kyuhyun, namun sekali lagi Kyuhyun menghadangnya.
“tuan, izinkan aku pergi”
“tidak, sebelum kau mendengarkan aku”
Aksi hadang menghadang itu terjadi untuk beberapa saat, Kyuhyun bertahan dengan tidak menyentuh Eunso lagi karena gadis itu terlihat jelas tidak suka ketika ia menyentuhnya. Eunso tetap bersikeras menemukan jalan lain hingga kepintu keluar. Lelah dengan permainan hadang menghadang itu Eunso pun menghentikan langkahnya.
“apa maumu? Aku sudah meninggalkan bayi itu padamu, aku lihat tidak ada yang salah lagi” protes Eunso, gadis itu menahan keras rasa sesak didadanya ketika mengatakan hal itu.
“salahnya adalah, kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun padaku”
“aku meninggalkan surat”
“aku tidak butuh surat, aku ingin kau yang mengtakannya langsung padaku”
“geure.. akan kukatan sekarang, aku pergi tuan Cho, meninggalkan bayi itu padamu. Sekarang menyingkirlah dari hadapanku”
Eunso menerobos jalan sempit antara Kyuhyun dan tembok sebagai usaha terakhirnya, namun hal itu justru membuatnya menyesal karena sudah nekat. Kyuhyun memeluknya, menahan gadis itu dengan melingkarkan kedua tanganya dipinggang Eunso.
Eunso menahan nafasnya sendiri karena tiba-tiba dipeluk seperti itu, nafas Kyuhyun menderu dikepalanya, punggungnya menempel dengan dada Kyuhyun menandakan kuatnya pelukan Kyuhyun. “aku salah, aku salah karena tidak mengatakan ini dengan cepat, Eunso-ya.. aku tidak pernah menginginkanmu pergi dari hidupku, memintamu untuk membuat keputusan adalah suatu kesalahan besar. Aku menyesali hal itu selama setahun ini”
“apa yang kau bicarakan?” Eunso mengerutkan alisnya, ia semakin bingung. Ada apa dengan Kyuhyun.
“aku sedang mencoba menjelaskan padamu bahwa aku ingin kau tetap berada disisiku, bersama putri kita”
“tuan aku yakin kau sedang tidak berfikir logis”
“ya Tuhan, satu tahun lamanya Eunso-ya.. kau pikir apa yang kupikirkan selama satu tahun ini?” geram Kyuhyun pun mengguncang Eunso yang berada dipelukannya.
“aku tidak tahu, mungkin saja karena Minhy-ssi masih menolakmu kau jadi kehilangan akalmu” Eunso meronta dari pelukan Kyuhyun, ia tidak suka dipeluk oleh namja itu, karena rasanya Eunso tidak akan bisa berfikir jernih jika dipeluk seperti ini.
“yang membuatku kehilangan akal itu kau.. Sial, berhenti meronta”
“kau menyakitiku, kau memelukku terlalu erat, aku bisa remuk”
Kyuhyun terdiam, ia memang memeluk gadis itu terlalu erat. “aku akan melepaskanmu asal kau janji tidak akan pergi, dengarkan dulu apa yang ingin kukatakan”
Eunso menganggukkan kepalanya, pelan-pelan Kyuhyun pun melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang Eunso, detik berikutnya gadis itu pun berlari menuju pintu dan keluar dari kamar hotel itu.
“sial “ Kyuhyun berlari mengejar Eunso. gadis itu sudah berlari kearah lift, dan sialnya pintu lift terbuka. Eunso masuk kedalam lift dan menekan tombol menutup lift beberapa kali, Eunso bisa melihat kyuhyun sudah semakin mendekat, dan terlambat untuknya keluar dari lift itu dan berlari ke tangga darurat. Kyuhyun menahan pintu lift dengan kedua tangannya, matanya menatap geram Eunso.
“gadis licik, kau menipuku.” sebuah senyuman menakutkan tersemat diwajah Kyuhyun. yang membuat beberapa orang didalam lift itupun berdigik ngeri.
Eunso menelan salivanya melihat senyum itu. “aku harus pergi, anda bersikap aneh”
“aku hanya mencoba menjelaskan padamu tentang perasaanku”
“tuan, aku yakin kau sudah gila”
“ya.. aku sudah gila.. gila karenamu. Kemarilah” Kyuhyun menarik tangan Eunso agar keluar dari pintu lift. Eunso menahan dirinya dan mencoba melepaskan pegangan tangan Kyuhyun, tangannya memegang pegangan pada lift yang menempel didinding dalam lift itu.
“aku tidak mau, anda bersikap aneh. Tolong aku” Eunso menatap seorang namja yang memakai seragam hotel yang berada didalam lift itu. Namja itu terkejut sejenak lalu mencoba untuk menengahi pertengkaran Eunso dan Kyuhyun.
“tuan.. wanita ini tidak ingin ikut bersamamu” ujar namja itu.
Kyuhyun menatap marah kearah namja itu. Menyadari siapa yang ada dihadapannya pun namja itu diam dan menundukkan wajahnya. Kyuhyun kembali menoleh kearah Eunso, baiklah jika gadis ini berkeras ingin tetap didalam lift.
“kalian keluar” perintah Kyuhyun yang langsung dipatuhi oleh namja dan beberapa orang yang didalam lift itu.
Eunso melebarkan matanya terkejut melihat Kyuhyun masuk kedalam lift dan orang yang menjadi harapannya untuk menolongnya pergi dari lif itu. Pintu lift tertutup dibelakang Kyuhyun, sekarang Eunso tidak bisa berkutik lagi karena Kyuhyun mendorong tubuhnya hingga punggung gadis itu berbenturan dengan tembok dan mengurungnya dengan kedua lengannya, tidak ada jalan keluar untuknya kabur.
“kumohon, lepaskan aku”
“kau yang memilih cara seperti ini untuk berbicara, aku sudah menawarkan makan malam mewah tapi kau malah kabur” Kyuhyun menengadahkan wajah Eunso yang menunduk dengan mengangkat dagu Eunso. “Apa masalahmu Eunso-ya.. kenapa kau jadi takut seperti ini padaku?
“aku tidak takut, aku hanya tidak suka berdekatan dengan anda”
“wae..?”
‘karena itu merusak cara kerja jantungku’ pekik Eunso dalam hati. “aku hanya tidak suka, tolong menjauhlah” Eunso mendorong dada Kyuhyun dengan kedua tanganya, dari situlah Eunso bisa mendengar debaran jantung Kyuhyun yang juga berdetak cepat. Eunso menatap Kyuhyun bingung. Apa itu karena ia habis berlari atau..
Mereka terdiam lama dan hanya saling bertatapan, pintu lift terbuka menampilkan beberapa orang yang hendak masuk, namun melihat mereka berdua orang-orang tidak berani untuk masuk, bagi mereka yang melihat, Kyuhyun dan Eunso sedang terlihat seperti sedang bermesraan.
Pintu lift kembali tertutup dan bergerak turun lagi. Eunso yang pertama kali  memutuskan kontak mata mereka, gadis itu menolehkan matanya kesamping dengan canggung. “tuan Cho, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku yakin kau sedang tidak dalam kondisi yang bagus.. anda mungkin..”
“aku mencintaimu..”
Eunso terdiam, kalimatnya menggantung begitu saja ketika Kyuhyun mengucapkan kata yang selalu ia bisikkan setiap malam ketika ia merindukan Kyuhyun dan bayi mereka. “nee..?”
Kyuhyun mengusap pipi Eunso lembut. “aku bilang aku mencintaimu, apa masih tidak terdengar jelas? Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.. harus berapa kali aku mengatakannya? Aku mencintaimu..”
“kau tidak mungkin mencintaiku” Eunso memotong ocehan Kyuhyun
“kenapa aku tidak mungkin mencintaimu?”
“karena kau mencintai Minhye-sii”
Kyuhyun kembali menjadi geram. “sudah lama aku berhenti mencintainya, Eunso-yaa.. sekarang hanya ada dirimu dihatiku”
“tidak mungkin, aku tidak percaya..”
“kalau begitu percayalah..” Kyuhyun menundukkan wajahnya, menempelkan kepalanya dikepala Eunso. “Ya Tuhan, aku benar-benar merindukanmu” Kyuhyun melingkarkan tanganya dipinggang Eunso lalu sekali lagi memeluk gadis itu.
Eunso masih menekan dada Kyuhyun dengan tangannya mencoba menjaga jarak diantara mereka berdua. Mengabaikan hal itu Kyuhyun semakin menundukkan wajahnya, menyentuhkan hidungnya dipermukaan lembut pipi Eunso kemudian turun keleher dan bahu Eunso yang terbuka. Sudah lama ia merindukan saat-saat seperti ini menghirup aroma Eunso dan mencium setiap jengkal tubuh Eunso.
“Eunso-yaa..” bisikan itu terdengar lembut dan membuai siapa saja yang disebut namanya dengan suara itu. “betapa aku rindu memelukmu seperti ini, merasakan hangat tubuhmu ditubuhku, merasakan manisnya bibirmu”
Kyuhyun berhenti diatas bibir Eunso yang terbuka, mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum benar-benar mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman. Kyuhyun mengecup pelan bibir Eunso, tapi bibirnya mendarat dipipi gadis itu karena Eunso memalingkan wajahnya dengan cepat. Kyuhyun mengeram pelan namun ia tetap menghormati Eunso dengan tidak memaksa gadis itu. Gadis ini mungkin masih terkejut dan belum siap dengan pengakuan cintanya. Jika saja tadi Eunso mau menemaninya makan, Kyuhyun tidak akan langsung mengatakan ia mencintai gadis itu.
“makanan yang kusiapkan mungkin sudah dingin, kau ingin makan di tempat lain?”
“tidak..”
“tidak mau makan?, lalu kau mau apa?”
“Aku ingin pulang”
Kyuhyun mengeratkan pelukannya. “kita baru bertemu, kenapa kau sudah ingin pulang?”. melihat ekspresi Eunso yang masih terkejut dan bingung, Kyuhyun pun menyerah. Kyuhyun bermaksud untuk mendekati Eunso seperti seorang pria terhormat mendekati seorang wanita, tetapi setelah melihat gadis ini menolaknya, Kyuhyun harus mengubah rencananya. Tapi ia tidak akan memulainya sekarang.
“arraso.. kau ingin pulang..? kuantar” Kyuhyun melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Eunso.
“tidak perlu, aku akan pulang dengan Minri”
“Minri sudah pulang”
“jadi benar, kalian sudah saling mengenal?”
“dia pegawai yang merepotkan, aku hampir saja memecatnya ketika aku melihatnya sedang bersama denganmu” Kyuhyun menarik Eunso keluar dari lift ketika pintu lift terbuka di lobi bawah. “kenapa kau tidak pernah bilang bahwa kau dulu pernah bekerja di hotelku?”
“anda tidak pernah ingin tahu” jawab Eunso mengingatkan.
“kau benar, dan lagi-lagi itu semua karena salahku”
Di lobi hotel orang-orang melihat Kyuhyun dengan tatapan penasaran, siapa gerangan wanita yang sedang degandengnya itu. Melihat tatapan penasaran itupun Eunso mencoba menarik lepas tangannya. Kyuhyun mendesis pelan melihat Eunso yang mencoba melepaskan tangannya. “berhenti meronta”
“orang-orang melihat kita tuan”
“biarkan saja mereka melihat” seperti apa yang Kyuhyun katakan, ia tidak peduli ada berapa banyak orang yang melihatnya, Kyuhyun berhenti di pintu depan hotel dan menunggu mobil pribadinya dibawa kehadapannya, Kyuhyun membuka pintu mobil itu dan menyuruh Eunso duduk didalamnya, dengan cepat Kyuhyun pun berlari memutari mobil dan masuk kedalam bangku kemudi.
Kyuhyun menjalankan mobil itu keluar dari halaman hotel, matanya melirik kearah Eunso yang duduk disebelahnya dalam diam. Entah kenapa reaksi Eunso begitu mengejutkannya, ia tidak tahu bahwa Eunso akan menghindarinya dan benar-benar menolak untuk berbicara dengannya.
“kau benar-benar tidak ingin makan sesuatu?, bukankah hari ini kau belum makan” Eunso menggelengkan kepalanya menjawab Kyuhyun. “bagaimana kabar nenekmu?” Kyuhyun kembali bertanya ia tidak suka jika Eunso hanya berdiam diri saja. “Eunso..” panggil Kyuhyun, namja itu kemudian menghembuskan nafasnya pasrah, karena itu sepanjang perjalanan pun mereka hanya bisa membisu.
Setibanya dirumah Eunso pun, gadis itu langsung masuk tanpa menoleh ataupun berbicara kepada Kyuhyun sedikitpun. Kyuhyun mengusap tengkuknya menenangkan sarafnya yang tegang kemudian berjalan menuju mobilnya. “ini tidak akan mudah”
.
.
Didalam rumah Eunso menatap marah sahabatnya, ia pulang dalam keadaan perasaan yang bercampur aduk, terkejut, bingung, sekaligus takut. Tidak ada perasaan bahagia sedikitpun setelah bertemu dengan Kyuhyun, bukan bearti ia membenci Kyuhyun, hanya saja Eunso lebih merasakan perasaan takut karena usahanya untuk mengenyahkan namja itu dari pikirannya menjadi sia-sia setelah mereka bertemu kembali.
“apa maksud dari ini semua Minri? Sejak kapan kau mengenalnya?” geram Eunso marah
“wae..? kau marah? Yang seharusnya marah itu aku, kenapa kau tidak pernah bilang bahwa namja itu dia” balas Minri, tidak kalah marahnya seperti Eunso.
“sudah peraturannya seperti itu kau tahu itu kan?”
“well.. karena itu, aku hanya sedang mematuhi perintah dari bos ku, dia ingin menemui wanita yang dicarinya selama setahun ini. kau tahu itu? dia mencarimu”
Eunso tidak bisa lagi mengungkapkan kemarahannya kepada Minri, karena neneknya saat ini sedang menontonnya dan Minri yang sedang bertengkar, begitu juga dengan kedua adik Minri yang merasa tertarik dengan perbincangan Eunso dan Minri.
Eunso merosot jatuh dilantai, ia duduk dengan tatapan kosong. “kenapa dia harus mencariku?”
“tidakkah dia mengatakan alasanya padamu?” Minri ikut duduk dihadapan Eunso
Eunso menggelengkan kepalanya. “dia mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal?”
“tidak masuk akal?”
“dia mengatakan dia mencintaiku”
“dan kau bilang itu tidak masuk akal?”
Eunso menatap Minri dengan tatapan aneh, “itu aneh.. bagaimana mungkin dia mencintaiku?”
“tentu saja itu tidak aneh, kau itu wanita yang sudah…” Minri menghentikan mulutnya sebelum ia keceplosan, diliriknya nenek Eunso dan adik-adiknya lalu mengubah kalimatnya. “apanya yang aneh dari mencintaimu?”
“namja seperti dia tidak seharusnya mencintaiku bukan?”
“kenapa tidak?”
“karena aku miskin, tidak cantik dan juga bodoh”
“astaga.. apa kau tidak melihat cermin Song Eunso?, kau lihat dirimu yang sekarang? Kau tidak kalah cantiknya seperti seorang aktris, bahkan mengalahkan kecantikan Kim Minhye..”
Eunso tersentak mendengar nama itu, benar… Kyuhyun dulu mencintai Minhye, wanita itu sempurna, dia cantik, terkenal dan juga dia kaya. Karena itu tidak mungkin Kyuhyun mencintainya, itu pikiran yang bodoh. Sangat bodoh.
“ini semua karena make up” bantah Eunso.
“ya Tuhan, Song Eunso buka pikiranmu. Siapapun berhak mencintaimu, bahkan jika itu seorang pangeran yang sebenarnya sekalipun jadi tidak aneh jika Cho Kyuhyun juga mencintaimu”
“itu aneh.. itu aneeeh.. berhenti mendesakku, aku tidak bisa menerima ini” Eunso meneriaki Minri, yang jarang sekali terjadi. Minri hendak membentak sahabatnya itu namun menghentikannya. Mungkin Eunso terlalu terkejut sehingga membuat gadis itu bersikap seperti ini.
Minri menoleh kearah nenek Eunso yang menatapnya penasaran, minri hanya menaikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya. Rasanya akan butuh waktu untuk membuat Eunso bisa menerima Kyuhyun.
TBC
Jiaaahahahaha.. ribet ya.. tapi kalo ga gitu ga akan seru.. ayo Kyuuu kejar terus Eunso nya.. ><

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: