Need A Baby chapter 7

0
Need A Baby chapter 7 ff nc kyuhyun eunso
Tittle: Need a Baby?  (Chapter 7)
Cast:
Cho Kyuhyun
Song Eunso
And other cast
Category: Chapter, Romance
Author: Mylittlechick
“Kumohon selamatkan ibunya”
Rumah sakit itu masih terlihat ramai meskipun langit dipenuhi oleh awan bersalju, banyak aktifitas yang terjadi didalam rumah sakit itu tetapi tidak didalam kamar rawat inap Eunso. Kamar itu terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin pemanas dan detik jam. Infus yang terpasang ditangnnya telah dilepas pagi itu, hanya tinggal menunggu gadis itu membuka matanya.

Eunso membuka matanya ketika kesadaran menghampirinya, entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri yang Eunso tahu rasa sakit yang menyerangnya sudah tidak ada lagi. Eunso menolehkan kepalanya kearah kiri dimana selang infus menancap ditangannya, saat itu juga Eunso langsung menyentuhkan tangannya keperutnya yang sudah tidak besar lagi.
bayinya…?
Sebuah tangan memegang tanganya, seketika itu juga Eunso menoleh kearah kanan, matanya bertemu dengan mata Kyuhyun, lalu namja itu tersenyum kepadanya. Senyum yang belakangan ini tidak pernah dilihatnya. Kyuhyun yang tadinya sedang duduk dikursi yang terletak disamping tempat duduk berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya diatas Eunso. “kau sudah bangung?”.
“bayinya..?”
Kyuhyun tersenyum lagi mendengar kalimat pertama yang diucapkan oleh Eunso setelah tidak sadarkan diri selama tiga hari. “tidak perlu menghawatirkan bayinya”
“apa dia selamat..?” Eunso terus mempertanyakan bayi itu.
Kyuhyun duduk ditempat tidur, tanganya mengusap rambut Eunso lembut. “bayinya perempuan” Kyuhyun tersenyum lagi melihat ekspresi terkejut Eunso. “dokter berhasil mengeluarkannya tepat waktu, kau dan bayinya selamat. Dan meskipun ia prematur, bayi itu sangat sehat”
Eunso memejamkan matanya lega. “syukurlah” tidak ada yang bisa merasakan betapa leganya Eunso saat ini, karena tindakan bodohnya yang ingin segera pergi dari rumah itu Eunso hampir saja membunuh bayinya. “syukurlah” sekali lagi Eunso mengucapkan rasa syukurnya, airmata kelegaan pun tidak bisa ia tahan lagi.
Kyuhyun mengusap airmata yang jatuh kesisi wajah Eunso dengan kedua tangannya. “sstt.. jangan menangis, semuanya baik-baik saja”
Eunso memberanikan dirinya menatap ke manik mata Kyuhyun. “mianhae.. aku hampir membunuhnya”
“anniya.. tidak ada yang perlu dimaafkan. Jangan menangis Eunso-ya.. atau kau akan membangunkan bayinya”
Eunso berhenti menangis. “bayinya..?”
Kyuhyun tersenyum lagi lalu menolehkan kepalanya kesamping dan menunjuk kearah box kecil tidak jauh dari mereka dengan dagunya. “dia baru keluar dari ruang inkubator pagi tadi. Kau mau melihatnya?”
Eunso menganggukkan kepalanya dengan cepat, tubuhnya belum bisa bangun karena itu Eunso menunggu dengan penasaran ditempat tidurnya. Melihat Kyuhyun dengan keahliannya sendiri mengangkat bayi itu dengan kedua tangannya. Perlahan-lahan Kyuhyun meletakkan bayi itu diatas lengan Eunso.
Eunso menatap wajah bayi kecilnya dengan ekspresi kagum. Jadi seperti ini wajah anaknya, matanya belum terlihat karena bayi itu sekarang sedang tertidur, tetapi Eunso tahu bayi itu memiliki bentuk bibir ayahnya. Bibir yang sangat seksi dan menggoda jika ia tumbuh dewasa nanti.
“yeoppo” bisik Eunso, masih sangat kagum melihat bayi itu.
Kyuhyun mengamati ekspresi Eunso, rasanya begitu tenang bisa melihat gadis itu kembali membuka matanya lagi. Setelah Eunso tidak sadarkan selama dua hari Kyuhyun merasa sangat gelisah, ia ingin segera melihat Eunso membuka matanya dan kembali tersenyum kepadanya. Dan sekarang disinilah dia memandangi wajah Eunso yang sedang tersenyum kepada putri mereka.
PUTRI MEREKA. Kenapa rasanya kata itu begitu pas..
“bagaimana keadaanmu? Kau ingin makan sesuatu?” Kyuhyun memecahkan kesenangan Eunso mengagumi wajah putrinya. Gadis itu menoleh kearah Kyuhyun lalu menggelengkan kepalanya. “mungkin seharusnya suster memeriksamu, akan kupanggilkan dulu”
Kyuhyun bergegas kearah pintu lalu keluar detik berikutnya, Eunso menoleh lagi kearah bayinya setelah Kyuhyun menghilang dari balik pintu. Tanganya mengusap lembut pipi mungil bayinya. “kau bayi yang paling menganggumkan yang pernah kulihat. Naeun..” dengan bisikan pelan, gadis itu memanggil nama yang ia berikan secara diam-diam kepada bayi itu seperti nama ibunya.
.
.
.
“Eunso-ya.. kau sudah bisa berdiri” nyonya Cho mengunjungi Eunso keesokan harinya. Setelah tidak sadarkan diri selama dua hari Eunso pun pulih, meskipun masih sedikit lemah Eunso tetap bisa bergerak dari tempat tidurnya.
Eunso sedang menggendong bayinya ketika nyonya Cho masuk kedala kamar dengan membawa termos panas berisikan bubur untuk Eunso.
“nyonya Cho..”
Nyonya Cho menghampiri Eunso lalau tersenyum kepada gadis itu. “bagaiman jika kau berhenti memanggilku nyonya Cho”
“ne..?”
“aku tidak suka dipanggil seperti itu olehmu, bagaimana jika panggil eomunim saja..?”
“yee..? tapi itu..”
“sstt… tidak perlu membantah, panggil saja aku seperti itu. okee..?”
“oo.. baiklah.. nyo.. aah eomunim..”
Nyonya Cho tersenyum lalu mulai mengeluarkan makanan yang dibawanya. “kau harus makan agar kondisimu cepat pulih, aku sudah masak untukmu”
“anda tidak perlu repot”
“eeyy.. ini tidak merepotkan, aku suka melakukannya. Caa.. kemarinkan bayinya” nyonya Cho mengambil bayi yang saat ini sedang Eunso gendong dan meletakkannya kedalam boxnya, setelahnya membimbing Eunso agar duduk diatas tempat tidur lagi. “makan dulu, lalu kau bisa menggendongnya lagi”
“terima kasih nyonya Cho.. anda selalu baik sekali padaku”
“ini bukan apa-apa. jangan ucapkan terima kasih”
“tidak.. aku memang harus mengucapkannya, terima kasih untuk semuanya”
“tidak perlu sungkan.. caa.. makanlah”
Eunso memakan habis apa yang Younghwa buat untuknya. Eunso selalu menghabiskan apapun yang dimasak untuknya, semua karena menghargai kebaikan Younghwa kepadanya. Younghwa menemani Eunso sampai Kyuhyun akhirnya datang ketika siang telah tiba. Namja itu masuk kedalam kamar dan langsung menghampiri box bayi. Tersenyum ketika melihat bayi itu masih tidur, tanganya mengusap pelan pipi mungil bayi itu sebelum menoleh kearah Eunso dan ibunya.
“eomma..”
“nee.. sayang..?”
“bisa tinggalkan kami berdua?”
“oo.. baiklah” Younghwa keluar dari kamar itu dengan patuh, tahu bahwa Kyuhyun dan Eunso memang harus berbicara berdua saja.
Kyuhyun duduk tepat dikursi yang tadi ditempati oleh ibunya yang berada disisi tempat tidur. Eunso terlihat waspada dengan ekspresi Kyuhyun. Apa yang ingin namja ini katakan padanya sampai ia harus mengusir ibunya keluar?. “ada apa tuan..?”
“aku tahu, ini bukan saat yang tepat, tetapi aku ingin cepat-cepat mengatakannya padamum tentang bayi itu”
Eunso menoleh kearah box bayi lalu menganggukkan kepalanya, ia mengerti kemana arah pembicaraan ini.
“setelah melihatmu diruang operasi berjuang melawan kematian membuatku sadar, bahwa yang berhak mengambil keputusan adalah kau. Aku memang tidak memiliki perasaan karena memintamu untuk tidak mencintai bayi itu, untuk mengabaikan bayi itu dan pergi setelah melahirkan bayi itu. Kau benar ketika mengatakan kau juga berhak untuk bayi ini, kau yang mengandungnya selama sembilan bulan. Dan aku tidak lupa, bagaimana kau ketika hamil”
Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. “Eunso-ya.. aku menyerahkan semua keputusannya padamu, jika kau memang menginginkan bayi itu, aku tidak akan keberatan, tapi aku akan tetap membiayai semua keperluannya dan tetap membayar sisa bayaranmu. Dan izinkan aku mengunjunginya jika aku ingin menemuinya”
Eungso menggigit bibir bawahnya yang bergetar, airmata jatuh dipipinya, harusnya ia lega mendengar apa yang baru saja Kyuhyun sampaikan padanya, tetapi kenapa perasaanya tetap terluka. Apa sebenarnya yang Eunso harapkan? Namja itu menawarkan pernikahan?  Jangan bermimpi Song Eunso.
Melihat Eunso menangis namja itu berdiri dan duduk ditempat tidur, “kenapa menangis..? apa aku salah?”
Eunso menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang salah, Eunso menangis karena ia merasa begitu tidak dibutuhkan dan tidak diinginkan. Bukan salah Kyuhyun jika Eunso ingin dicintai oleh namja itu, itu semua karena kebodohan Eunso sendiri, kenapa ia harus jatuh cinta pada namja ini.
“anniya.. gomawo tuan, untuk pengertianmu. Aku hanya terharu” Eunso membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan hal itu.
“kalau begitu jangan menangis” Kyuhyun mengusap airmata Eunso dengan  lembut.
Eunso menatap kedalam mata Kyuhyun, kenapa namja itu memperlakukannya selembut ini?. Apa namja itu tidak tahu bahwa perlakuannya ini membuat Eunso semakin ingin tetap berada disampingnya. Eunso menempelkan tangannya ditangan Kyuhyun yang memegang pipinya, menahan airmatanya agar tidak tumpah lagi. ia ingin merekam wajah namja yang berada dihadapannya ini.
“tuan tahu, bahwa kau sebenarnya memiliki hati yang sangat lembut. Mungkin semua orang takut padamu, tapi aku tidak. Aku tahu disini kau memiliki perasaan yang sangat lembut” Eunso menyentuhkan tangannya didada Kyuhyun. “jika tidak, kau tidak mungkin menginginkan seorang anak”
Kyuhyun terdiam, ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal seperti ini padanya. Sejak dulu Kyuhyun memang sedikit kejam kepada orang-orang yang derajatnya lebih rendah, Kyuhyun selalu meremehkan mereka dan mengecap mereka orang rendahan. Hanya pada orang-orang yang ia sayangi saja Kyuhyun bisa bersikap lembut dan penyayang, kepada ayahnya, ibunya, Minhye bahkan kepada Jaewoo. Tetapi setelah mengenal Eunso pandangan itu sedikit demi sedikit berubah.
Mereka saling menatap dalam diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing, yang satu tidak bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya dan yang satu belum mengerti tentang apa yang ia rasakan kepada orang yang berada dihadapannya ini.
“terima kasih tuan, akan kupikirkan”
“tidak perlu terburu-buru”
.
.
Kamar itu tidak seperti kamar inap dirumah sakit, semua bunga menghiasi kamar itu atas kiriman Kyuhyun, serta berbagai macam jenis boneka yang disiapkan Kyuhyun untuk putrinya. Eunso sedang duduk di sofa single yang berada dikamar itu sambil menggendong bayinya. Sambil besenandung pelan Eunso membuai bayinya agar tertidur.
Jaewoo yang saat ini sedang mengupaskan buah apel tersenyum melihat Eunso yang selalu menghabiskan waktunya dengan memandangi wajah bayi mungil itu. Eunso sering terlihat berbisik-bisik sambil menyebutkan sebuah nama.”Naeun..” nama itulah yang ia tangkap, anehnya Eunso tidak pernah mengucapkan nama itu dengan keras, kan Kyuhyun pun belum memberikan nama untuk bayi itu saat ini mereka hanya bisa meanggil sang bayi dengan sebuatan “baby..”
Eunso masih harus menerima perawatan sampai besok siang. Berdasarkan yang Jaewoo tahu artinya besok siang Eunso akan memberikan keputusannya tentang bayi itu, apakah membawa bayi itu atau meninggalkan bayi itu kepada Kyuhyun. Tetapi, melihat dari kegembiraan Eunso, sepertinya gadis itu akan pergi dengan membawa serta bayinya.
Jaewoo mengertukan alisnya, kenapa tidak Kyuhyun nikahi saja Eunso dan mereka bertiga akan hidup bahagia selamanya. Melihat dari reaksi Kyuhyun dimalam ketika Eunso harus berjuang dengan kematian Jaewoo tahu sebenarnya jauh dilubuk hati majikannya itu telah ditempati oleh Eunso. Jika tidak, Kyuhyun tidak akan pernah memilih Eunso untuk diselamatkan. Tetapi kenapa?, kenapa Kyuhyun belum juga menyadarinya bahkan ketika kenyataanya gadis itu akan mati.
Jaewoo menghembuskan nafasnya, Kyuhyun harus cepat menyadarinya atau seseorang harus menyadarkannya.
“ajhusi..” panggil Eunso. “apa aku bisa minta tolong padamu?”
Jaewoo menghentikan kegiatannya mengupasi apel . “ne.. apa itu?”
“apa kau mau mengambil fotoku?”
“foto? Tentu saja, dimana ponselmu?”
“diatas tempat tidur”
“geure..” Jaewoo mengambil ponselnya lalu mulai mengambil foto Eunso, gadis itu tersenyum begitu manis, terlihat begitu bahagia sambil menggendong bayinya. “oo joah.. kalian berdua cantik sekali” puji Jaewoo. “sekali lagi”. Jaewoo pun mengambil sekali lagi foto Eunso bersama bayinya.
“aaah.. aku haus” ujar Eunso.
“kau ingin minum sesuatu?”
“lidahku terasa pait jika minum air putih”
“akan kubelikan jus untukmu, kau mau?”
“oo.. terima kasih ajhusi”
Jaewoo tertawa pelan lalu beranjak kearah pintu. “akan kubelikan satu untukmu, tunggu disini”
Senyum diwajah Eunso menghilang setelah Jaewoo pergi. Ditinggalkan sendirian ruangan itu, terasa sunyi. mata Eunso tidak berpaling sedikitpun dari putri mungilnya, ia seolah-olah sedang merekam wajah bayinya didalam memori kepalanya, Eunso mengerjabkan matanya berkali-kali, mengenyahkan airmata yang mendesak untuk keluar, ia ingin melihat dengan jelas bayinya, jika ia menangis pandangannya akan kabur. Namun airmata tetap jatuh membasahi pipinya, mengenai wajah mungil bayinya. Eunso menghapus airmatanya yang jatuh dipipi bayinya.
Eunso menarik nafas panjang sejenak. “Naeun-aa, maafkan aku karena aku kita berdua hampir saja mati, keputusan memang sudah kubuat sesaat setelah aku bangung, dan aku memilih lebih baik pergi dan meninggalkanmu bersama ayahmu” setelah sadar Eunso terus berfikir keputusannya ini benar, memang seperti inilah perjanjiannya, Kyuhyun tidak pernah menginginkan dirinya, yang ia inginkan hanya bayi ini. Tetapi namja itu lebih memilih dirinya dari bayi ini untuk diselamatkan oleh dokter, dan itu membuat Eunso cukup berpuas diri, setidaknya namja itu memikirkan dirinya meskipun itu hanya sedikit.
“sejak awal kau miliknya dan akan tetap menjadi miliknya” Eunso tersedak oleh airmatanya sendiri. “aku tidak akan bisa melihatmu tumbuh tapi aku akan selalu merindukanmu, aku tidak akan pernah mendengar suaramu tapi aku akan selalu mengenang suara tangisanmu, aku tidak akan pernah merasakan pelukanmu tapi aku akan selalu mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri” Eunso mendaratkan bibirnya yang bergetar kekepala mungil bayinya.  Berlama-lama ketika memberikan kecupan itu.
Setelah puas Eunso mengapus airmatanya sendiri dari pipinya lalu beranjak menuju box bayi dan meletakkan bayinya pelan-pelan, mata bayinya mulai menutup lagi, Eunso mengecup untuk terakhir kalinya bayinya kemudian bergegas mengambil ponselnya dan menekan nomor handphone yang sudah sangat dihapalnya.
“Minri-ya..”
.
.
.
Disisi lain, Kyuhyun yang sedang duduk dibalik meja kerjanya tidak bisa fokus membaca berkas-berkas yang baru saja diberikan padanya. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain masalah Eunso, hatinya bimbang dengan keputusan apa yang akan diambil oleh Eunso. Ia tidak mau Eunso mengambil keputusan membawa putrinya, tetapi ia juga tidak ingin Eunso meninggalkan putrinya. Masalahnya adalah, Kyuhyun merasakan sesak didadanya ketika berfikir Eunso pergi meninggalkan putrinya, atau meninggalkan dirinya?
Tok..tok..tok.. seseorang masuk setelah mengetuk pintu kantornya. Kim Minhye memasuki kantor itu tanpa meminta izin sedikitpun kepada Kyuhyun. Kyuhyun terkejut melihat Minhye, ia hampir melupakan wanita itu.
“kau benar-benar Cho Kyuhyun, meninggalkan aku dirumah itu sendirian”
“Mianhae. Minhye-aa.. aku lupa mengabarimu”
“ck.. kau lupa..?, tidak biasanya kau melupakan aku” Minhye mendecakkan lidahnya lalu beranjak duduk disofa yang ada dikantor itu.
“maaf..” Kyuhyun benar-benar menyesali tindakannya, pikirannya terlalu penuh oleh Eunso sehingga melupaka Minhye.
“sudahlah.. aku juga sudah pulang kerumahku sendiri bersama Minyoung, aku hanya butuh seseorang untuk menjaga Minyoung”
“tidak perlu, jika Minyoung menghilang mantan suamimu sudah dipastikan akan menjadi tersangka, lagi pula dia tidak akan berani merebut Minyoung lagi darimu”
“oo.. wae..?”
“yaah.. karena sedikit diancam, dia jadi menurut”
“ck.. Cho Kyuhyun, selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya”
Kyuhyun duduk dikursi yang terletak diseberang Minhye lalu menggelengkan kepalanya. “tidak semuanya, aku tidak bisa memilikimu” jawab Kyuhyun.
Minhye menyunggingkan smirknya kepada Kyuhyun. “dan sepertinya sekarang kau tidak lagi memiliki keinginan untuk mendapatkanku”
Kyuhyun diam, kenapa rasanya itu hal yang paling masuk akal yang masuk ke otaknya, entah sejak kapan Kyuhyun sadar ia tidak lagi menginginkan Minhye untuk menjadi miliknya. Secara tidak ia ketahui seseorang mengambil alih tempat Minhye dihatinya.
“maaf..” jawab Kyuhyun tiba-tiba.
“Cho Kyuhyun, untuk apa kau meminta maaf padaku?, aku yang seharusnya meminta maaf padamu, aku memang bodoh, karena mataku buta oleh ketenaran aku mengabaikan dirimu yang jelas-jelasn mencintaiku apa adanya. Dan sudah terlambat bagiku sekarang untuk berpaling padamu kan?”
Kyuhyun tidak menyahuti Minhye sama sekali, wanita yang berada didepannya itu menatap Kyuhyun dengan perasaan campur aduk, ia ingin membuat Kyuhyun kembali mencintainya dan melupakan wanita yang telah melahirkan anaknya. Tetapi Minhye tidak akan berbuat bodoh lagi, jika ia memaksakan diri tidak menutup kemungkinan Minhye akan kembali berada pada kondisi yang tidak bahagia, melihat suaminya mencintai wanita lain itu sudah menyakitkan. Apalagi jika ia harus menyaksikan Kyuhyun terus bersedih karena merindukan Eunso.
“kau memang namja bodoh, jika kau masih belum menyadarinya aku yang akan menyadarkanmu. Cho Kyuhyun, kau sudah tidak lagi mencintaiku.. apa kau masih mau mengingkarinya? Kau sudah jatuh cinta pada gadis itu”
“aku tahu..”
“nee..?”
“aku tahu itu, aku hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya” Kyuhyun menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Minhye tersenyum, “lalu kau tunggu apa  lagi?, bukankah seharusnya kau mengatakannya kepada Eunso?”
Seketika itu juga Kyuhyun berdiri, “kau benar. Aku harus kerumah sakit sekarang” tanpa basa-basi lagi namja itu pun pergi dari ruangan kantornya, meninggalkan Minhye dengan senyum miris. Sudah saatnya bagi Kyuhyun mendapakan kebahagiaannya juga. Minhye melirik kearah jendela lalu memutuskan untuk pulang.
.
.
.
Kyuhyun keluar dari mobilnya yang terparkir di basement rumah sakit. Langkah kakinya terdengar mengetuk-ngetuk lantai, sedikit terburu-buru karena berjalan dengan langkah yang lebar-lebar. Kyuhyun memang sudah lama menyadari ia telah mulai mencintai Eunso, sejak ia lebih memilih Eunso dari pada bayinya. Tidak ada yang lebih penting dari apapun selain Eunso saat itu, mungkin akan terdengar jahat, tetapi ia  rela kehilangan bayi itu dari pada Eunso. Kyuhyun memberikan kekuasaan kepada Eunso untuk memilih apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Eunso pun berharap gadis itu memilih membawa putri mereka bersamanya.
Dan jika itu terjadi, Kyuhyun akan mencoba mendekati Eunso dengan cara yang benar, mengajaknya berkencan dan sebagainya, lalu mengajaknya menikah. Tetapi jika Eunso memilih meninggalkan bayinya, Kyuhyun tidak akan pernah memberikan sisa uang yang telah dijanjikan kepada Eunso dan sebagai gantinya, Kyuhyun akan meminta gadis itu menjadi istrinya. Tetapi setelah berbicara dengan Minhye dikantornya tadi membuat pikiran Kyuhyun lebih terbuka, ia tidak akan membuat Eunso memilih apapun. Karena Kyuhyun sendirilah yang akan membuat keputusan. Eunso harus menikah dengannya apapun yang terjadi.
Kyuhyun melihat Jaewoo baru saja masuk ke lobi rumah sakit dengan memegang satu kantung minuman ditangannya. “ajhusi” panggil Kyuhyun.
“tuan muda?” Jaewoo memutar tubuhnya dan terkejut melihat Kyuhyun berada dirumah sakit sesiang ini, bukankah majikannya itu sekarang seharusnya berada dikantornya?.
“kenapa kau tidak menemani Eunso?”
“oo.., Eunso memintaku membelikannya minuman jus. Anda mau tuan? Akan kubelikan lagi”
Kyuhyun mengerutkan alisnya. “tidak, kemarikan biar aku yang memberikannya, ajhusi pergi saja”
“nee”
Meninggalkan Jaewoo dilobi rumah sakit Kyuhyun pun melangkahkan kakinya menuju kamar Eunso.
CEKLEK.. Kyuhyun membuka pintu kamar, matanya langsung tertuju ada box bayi yang didalamnya sedang ditiduri oleh bayinya, Kyuhyun lalu menolehkan kepalanya melihat seisi kamar, Eunso tidak ada dimana-mana. Kyuhyun pun melangkah kan kakinya kekamar mandi, pintu kamar mandi terbuka dan tidak ada orang didalamnya,.
“Eunso..” panggil Kyuhyun panik, entah kenapa ia menyadari situasi apa yang saat ini sedang ia hadapi. Kyuhyun cepat-cepat melangkah kearah pintu, melirik sekilas kedalam box bayi lalu berhenti, matanya menangkap sesuatu didalam box bayi itu. Pelan-pelan Kyuhyun menarik keluar secari kertas terlipat yang terletak disamping bayinya. Dengan perasaat takut-takut Kyuhyun pun membaca tulisan yang ada disurat itu.
_
Tuan Cho
Sebenarnya sebelum kau memintaku untuk mengambil keputusan aku sudah membuat keputusanku sendiri, aku pergi meninggalkan bayi ini bersamamu. Dia milikimu dan selamanya akan menjadi milikmu. Mianhae.. jika aku pergi dengan cara seperti ini, karena aku tidak akan sanggup melihatmu atau Jaewoo ajhusi menyerahkan sisa uang itu padaku jika aku mengatakannya secara langsung padamu. Aku tidak menginginkan uangmu tuan, cukup buat bayi ini mendapatkan cinta yang melimpah dan aku akan merasa bahagia..
Lalu.. terima kasih karena kau lebih memilih untuk menyelamatkanku malam itu.. Selamat tinggal
Song Eunso
_
Kyuhyun mencengkeram kertas surat itu dengan tangan bergetar hebat. tidak.. Eunso tidak boleh meninggalkannya seperti ini. tidak.
“ajhusi..” Kyuhyun berlari keluar memanggil Jaewoo yang ternyata masih berada dirumah sakit. Jaewoo langsung menghampiri Kyuhyun ketika melihat majikannya terlihat aneh.
“tuan..?”
“cari Eunso”
“nee..?”
“dia pergi, lihat disekitar rumah sakit, aku akan bertanya dengan suster” perintah Kyuhyun. Jaewoo langsung mematuhi Kyuhyun dan berlari kearah kantin rumah sakit.
Kyuhyun pun bertanya kesuster manapun yang ia temui, mencari diantara beberapa pasien yang memakai baju yang sama. Tetapi Eunso tidak ada dimanapun dirumah sakit itu, para susterpun merasa kebingungan karena Eunso menghilang.
“apa yang kalian lakukan? Kenapa bisa pasien pergi tanpa kalian ketahui?” bentak Kyuhyun pada salah satu suster, sebenarnya mereka tidak bersalah, hanya saja Kyuhyun butuh seseorang untuk melampiaskan rasa frustasinya.
“aku ingin kalian mencarinya diseluruh rumah sakit ini” ujar Kyuhyun lagi. Merasa bersalah karena seorang pasien menghilang para suster yang tidak bertugaspun mulai mencari, satpam yang menjaga rumah sakit pun ikut membantu mencari Eunso.
Satu jam berlalu dan hasilnya masih tetap nihil, Jaewoo juga telah kembali sambil menggelengkan kepalanya. “aku tidak menemukannya dimanapun tuan”
Kyuhyun mengerutkan alisnya, berfikir keras. “dia masih belum pulih kan? dia pasti masih disekitar rumah sakit ini”
“jika dia menyuruhku pergi membelikan jus untuk kabur itu artinya sudah lama sekali tuan, Eunso mungkin sudah tidak ada dirumah sakit ini”
“aku tidak mau tahu, cari dia”
“kemana?”
“kemana saja. kerumahnya,, tempat kerjanya, kemana saja”
“kita tidak punya alamat rumah atau tempat kerjanya tuan, anda melarangku untuk mencari tahu tentang gadis itu. jadi kita tidak punya biodata apapun tentangnya. Yang kita tahu hanya namanya saja”
Kyuhyun menatap ngeri Jaewoo, benar.. apa yang ia ketahui tentang Eunso? hanya nama yang ia miliki saat ini, Kyuhyun tahu Eunso memiliki seorang nenek yang dirawat oleh temannya tapi Kyuhyun tidak tahu nama temannya itu ataupun tempat tinggalnya. “ya Tuhan” Kyuhyun mengerang frustasi. Kenapa ia bodoh sekali? Lalu dimana ia bisa menemukan Eunso?.
“kemana saja, cari dia.. tanya polisi atau apapun.. cari dia”
Jaewoo ingin membantah Kyuhyun, mereka tidak punya data apa-apa tentang Eunso ke kantor polisipun percuma jika hanya memberikan sebuah nama tanpa foto atau apapun. “jika saja kita punya nomor KTP-nya akan mudah tuan, tapi hanya nama..?”
“aku tidak mau tahu.. aku ingin dia ditemukan” bentak Kyuhyun marah. “cepatlah” ia tidak perduli jika namja itu lebih tua darinya, bahkan bisa dibilang namja itu sudah seperti ayahnya sendiri. tetapi Kyuhyun terlalu tegang dan takut saat ini. Beberapa hari yang lalu dia hampir kehilangan Eunso, tetapi Tuhan berkata lain, ia masih memberikan kehidupan untuk Eunso, sekarang ia benar-benar kehilangan gadis itu, tanpa jejak sedikitpun.
Jaewoo menganggukkan kepalanya cepat dan bergegas pergi dari rumah sakit itu. Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat, seharusnya ia tidak mengulur waktu, harusnya ia langsung mengutarakan perasaannya. Sekarang apa sudah terlambat?.
“kau memang bodoh Cho Kyuhyun”
.
.
.
Disebuah taman bermain seorang gadis sedang berlari dengan membawa beberapa selimut tipis, ia terlihat sangat terburu-buru karena pakaian yang ia pakai seadanya. Nafasnya memburu cepat ketika melihat sahabatnya sedang duduk disebuah bangku taman. “Eunso-ya..” gadis itu menghampiri Eunso.
“Minri-ya..” Eunso mendongakkan kepalanya dan tersenyum lega, akhirnya ia bisa bertemu dengan temannya setelah menunggu hampir setengah jam.
“kau pasti kedinginan” Minri menyampirkan selimutnya dipunggung Eunso dan menggenggam tangan Eunso. “kau kedinginan?”
“anniya.. gwencana”
“apa yang terjadi? Kenapa secepat ini kau kembali?”
“bayinya sudah lahir”
“sudah lahir..?”
“oo..” Eunso menunduk sedih, “karena kebodohanku aku hampir membuatnya mati. tapi pada akhirnya kami berdua bisa diselamatkan” Minri mengalungkan lengannya dipundak Eunso, mengusap lengan gadis itu. “aku pergi setelah aku pulih, seperti perjanjiannya”
“pergi begitu saja?”
“oo..”
“kau mendapatkan uangmu?”
Eunso menggelengkan kepalanya, airmata kembali jatuh dipipinya. “aku tidak bisa, aku tidak bisa mengambil uang itu. yang ingin aku lakukan tadi adalah membawa bayi itu bersamaku tapi aku juga tidak bisa melakukannya, itu bayinya”
“tapi dia juga bayimu”
“sejak awal bayi itu memang miliknya, dan dia memang hanya menginginkan bayi itu”
“Eunso..” Minri menyandarkan dagunya dibahu Eunso, memeluk erat sahabatnya. “aku sudah bilang ini ide gila, pada akhirnya kau pasti akan merasa seperti ini, tapi kita masih punya waktu untuk mengambil bayi itu secara diam-diam. aku bisa membantumu”
Eunso menggelengkan kepalanya lagi. “anniya, bayi itu akan bahagia hidup bersamanya, hidup bersamaku ia akan menjadi sepertiku, hidup dalam kemiskinan. Jika ayahnya bisa memberikan tempat yang layak untuk apa dia hidup dirumah kecil bersamaku?”
“kau memang gadis bodoh” rutuk Minri, ia pun tidak bisa menahan desakan airmatanya. “gwencana.. kau pasti bisa melewatinya”
“saat itu. ketika dia dihadapkan oleh pilihan untuk memilih aku atau bayinya, dia lebih memilih aku. Kau tahu, dia menghalalkan segala cara agar bisa memiliki anak, tapi ia rela kehilangan anak itu hanya untuk menyelamatkan aku. Karena itu aku memutuskan dia lebih pantas mendapatkan anak itu daripada aku” Eunso menghapus airmatanya. “aku mencintainya..” bisiknya lirih..
“siapa..?”
“bayi dan ayahnya..”
Minri memeluk Eunso lebih erat, memberikan sedikit kekuatannya kepada Eunso. “sekarang bagaimana?”
“aku tidak bisa menemui halmoni dalam keadaan seperti ini, aku akan mencari tempat untuk tinggal sementara waktu dan mencari pekerjaan baru. Aku ingin mengembalikan uang yang pernah kupakai untuk operasi halmoni”
“oo.. wae..?”
“aku tidak bisa memakai uang itu, rasanya sama seperti aku menjual bayiku” Eunso tertawa miris. “aku bodoh ya..? seharusnya sejak awal aku tidak boleh nekat”
Minri mendengus pelan. “kau memang bodoh.. tapi tidak akan ada yang menyalahkanmu, kau sudah melakukan semampumu untuk membantu halmoni. Semangatlah Eunso-ya..”
Eunso tersenyum. “gomawo Minri-yaa.. aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan tanpamu”. Eunso menatap langit gelap yang sedikit diterangi oleh bintang, matanya menerawang jauh… tidak bisa dipungkiri lagi, Eunso pasti akan merindukan Kyuhyun dan juga bayinya. Meskipun begitu, Eunso tidak akan pernah bermimpi untuk bisa kembali melihat mereka lagi. airmata kembali jatuh dipipinya, eunso menarik nafas panjang, membuat dadanya terasa nyilu karena sesak dan perasaan terluka.
.
.
.
.
@Satu tahun kemudian…
“huueeee… paaaa….” suara tangisan bayi perempuan yang baru menginjak usia satu tahun itu terdengar memilukan, bukan karena semua orang tidak memperhatikannya tapi karena malam sudah larut semua orang dirumah itu sudah tertidur. Bayi itu menangis karena terbangun sendirian, biasanya ia terbangun dan menangis ditengah malam karena lapar tapi malam ini ia terbangun karena mimpi buruk.
“ppaaaaa….”
Sosok seorang pria membuka pintu kamar bayi dan melenggang masuk, meskipun hanya memakai celana training dan kaos oblong namja itu tetap terlihat gagah dan mempesona siapa saja, termasuk putrinya kecilnya sendiri.
“Naeun sayang.. kenapa menangis..?”
Bayi itu menengadahkan tangannya keatas melihat appanya datang menghampirinya, namja itu langsung mengangkat bayi itu dan memeluknya. Bayi pepempuan itu mengandarkan kepalanya dibahu appanya dan berhenti menangis.
“cup..cup..mimpi buruk ya..? appa disini sayang..”
Terdengar suara cegukan bayi itu, namun lambat laun sang bayi pun kembali tertidur.
“Kyu-aa.. waeyo..?” namja itu menoleh kebelakang kearah ibunya yang terbangun mendengar suara tangisan bayi itu.
“oo.. eomma, sepertinya Naeun mimpi buruk”
“aah.. sepertinya dia terlalu semangat main siang kemarin hingga bermimpi buruk, caaa.. berikan pada eomma kau sedang bekerja kan?” nyonya Cho mengulurkan tangannya memegang pinggang kecil Naeun.
“anniya, Naeun akan langsung terbangun begitu eomma mengambilnya”
Nyonya Cho tersenyum lalu mengusap kepala kecil Naeun. “Naeun sayang, seandainya eommamu disini, appamu tidak akan kewalahan”
Kyuhyun mengeraskan rahangnya, selalu seperti itu jika ia diingatkan oleh Eunso, sampai sekarang pun ia masih belum mengetahui keberadaan gadis itu. ia benar-benar menghilang tanpa jejak, apa lagi yang harus ia lakukan jika yang ia punya dari gadis itu hanyalah sebuah nama? Ada ratusan orang yang bernama Song Eunso diKorea Selatan ini, belum lagi Kyuhyun tidak tahu apakah gadis itu tinggal di Seoul atau daerah lainnya di Korea selatan ini.
Kyuhyun memaksakan senyumnya kepada ibunya lalu keluar dari kamar bayi. “kau mau kemana?” tanya ibunya.
“sudah malam aku juga ingin tidur”
“oo.. jalja..”
“ne.. eomma nado”
Nyonya Cho tersenyum lalu kembali kekamarnya, Kyuhyun memang sering membawa putrinya tidur bersamanya. Kyuhyun masuk kedalam kamarnya lalu menyusun bantal-bantalnya ditempat tidur membentuk sebuah pembatas agar putrinya tidak terjatuh ketika ia tidur. Kyuhyun pun meletakkan pelan-pelan Naeun diatas tempat tidurnya dan ikut berbaring disebelah Naeun.
Kyuhyun menatap kosong langit-langit kamarnya, sudah satu tahun berlalu, sudah banyak yang bisa Naeun lakukan, selain menangis dengan kencang putrinya tumbuh dnegan sangat sehat, cerdas dan pintar merayu. Setiap hari Kyuhyun selalu bisa dikejutkan oleh tingkah pola putrinya. Kyuhyun menyaksikan Naeun yang pertama kali menegakkan kepalanya, merangkak bahkan berjalan tertatih-tatih meskipun masih harus berpegangan untuk berjalan.
Dan Eunso melewatkan semua itu, “Eunso-yaaa,..” bisikan lirih itu terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya, tidak ada yang bisa menggambarkan betapa besar rasa rindunya terhadap gadis itu, setiap malam ia selalu terbangun bukan karena tangisan Naeun tapi karena tubuhnya merindukan Eunso. ia ingin terbangun dengan Eunso disebelahnya dan memeluk gadis itu selagi ia bisa tidur. Tapi nyatanya setiap malam dia hanya terbangun sendiri, karena itu Kyuhyun akan pergi kekamar bayi dan membawa Naeun tidur bersamanya. Kyuhyun bahkan memberikan nama putrinya Naeun karena Jaewoo mengatakan padanya Eunso sering membisikkan nama itu ketika sedang menggendongnya dulu.
Kemana lagi ia harus mencari gadis itu, ia sudah merasa sangat putus asa ketika enam bulan telah berlalu ia tetap tidak menemukan Eunso. Gadis itu menghilang begitu saja, bahkan Kyuhyun merasa ragu apakah gadis itu benar-benar nyata atau hanya khayalannya saja. Tapi Kyuhyun tidak bermimpi, ia memiliki bukti bahwa gadis itu nyata, yang saat ini sedang tidur nyenyak dengan wajah yang masih basah karena airmata dan memerah karena pipinya terlalu tembam. Putri mereka.
“huueee..” Naeun bangun lalu duduk ia sudah hendak menangis namun berhenti ketika melihat appanya berada disebelahnya, Naeun langsung merangkak kearah Kyuhyun dan menyandarkan badannya didada Kyuhyun dan kembali tidur, seperti hapal bahwa dada appanya memang tempat paling nyaman untuk tidur.
Kyuhyun tersenyum gemas, tanganya menepuk-nepuk pelan pantat Naeun. “tidurlah Naeun sayang”
.
.
.
“Song Eunso, apa yang kau lakukan? Kenapa kerjamu begitu lamban?”
“ne.. maafkan aku”
“aku ingin piring-piring bersih itu segera dihadapanku”
“ne..”
Dapur dari restoran itu terdengar riuh seperti biasanya, jam siang adalah jam sibuk karena dijam ini adalah jam orang-orang untuk makan siang, Eunso baru memulai kerjanya direstoran ini sekitar sebulan yang lalu, ia sudah banyak mencoba jenis pekerjaan yang bisa ia lakukan, bukan hanya mencucui piring disebuah restoran saja yang ia kerjakan. Eunso bekerja sepanjang hari, lowongan pekerjaan apapun akan ia kerjakan, pagi hari ia mengantar koran kerumah-rumah, menjelang siang ia bekerja menjaga toko yang sekarang sudah beralih menjadi tukang cuci piring disebuah restoran, sore hari ia mengantarkan susu, hingga malam hari menjelang ia akan bekerja mengantarkan pesanan delivery di restoran ramen.
Eunso bekerja keras dengan satu tujuan, segera mengembalikan uang yang ia gunakan untuk mengoperasi neneknya, ia tidak main-main ketika mengatakannya kepada Minri, apapun yang terjadi uang itu akan ia kembalikan. Ia tidak ingin menjual bayinya hanya untuk uang. Selain itu, Eunso bekerja sepanjang hari hanya untuk membuat dirinya sibuk dan melupakan semua rasa rindunya kepada bayinya ataupun juga Kyuhyun.
Setiap malam pulang dalam keadaan lelah Eunso akan langsung tertidur dan tidak akan punya waktu untuk memikirkan Kyuhyun dan bayinya, tetapi disaat ia punya waktu senggang dijam-jam istirahatnya bekerja Eunso akan kembali memikirkan Kyuhyun. Eunso hanya akan tersenyum lalu memejamkan matanya, mengingat-ingat wajah tersenyum namja itu, dan ia akan merasa lega sekaligus tersiksa karena perasaan ingin bertemu dengan namja itu.
“Song Eunso, aku tahu kau memang butuh pekerjaan, tapi kerjamu begitu lamban” pemilik restoran itu memanggilnya setelah jam makan siang selesai. Mengevaluasikan kinerjanya.
“aku tahu bos, aku akan memperbaikinya”
“bagaimana jika kau beristirahat saja” pemilik restoran itu menyerahkan amplop panjang kepada Eunso, ragu-ragu Eunso mengambil amplop itu lalu membukanya. Sejumlah uang ribuan dolar berada didalam amplop itu.
“itu gajimu selama sebulan dan sedikit bonus untukmu”
Eunso mendesah pasrah, lagi-lagi ia dipecat, karena ia begitu lamban. Eunso sering merutuki dirinya sendiri karena terlalu lambat, tidak, Eunso bukannya lambat hanya saja ia bekerja dengan teliti, tidak mungkin ia bekerja dengan sembarangan. Eunso selalu menginginkan hasil yang sempurna, karena itu ia memastikan piring-piring itu tercuci bersih, tidak ingin ada satu noda pun tertinggal di piring itu, tetapi hasilnya ia terlihat bergerak dengan sangat lambat.
“sial” Eunso menendang kaleng kosong yang tergeletak dihadapannya, ia keluar melalui pintu dapur restoran itu lalu berjalan dengan lesu. Eunso mengampiri sebuah stand yang menjual ddoboki lalu duduk dikursi panjang itu. “ajhuma, aku mau satu” ujarnya. Ia sudah merasa sangat lapar sejak bekerja mencuci piring-piring itu. ia sudah bekerja dengan sangat keras namun lagi-lagi ia harus dipecat, kenapa nasib sial selalu menghampirinya?.
“yaakk.. Song Eunso, wajahmu kenapa seperti itu?” seseorang duduk disebelahnya mengambil ddoboki Eunso tanpa pamit lalu mengunyahnya. Lee Minri.
“aku dipecat lagi” jawab Eunso santai
“lagii..?. kau benar-benar dihantui oleh kesialan” ujar Minri tidak percaya.
“aku butuh pekerjaan tetap” Eunso mendesah kesal, “kenapa tidak ada yang mau mempekerjakan aku dalam jangka waktu panjang?”
“aah.. untuk itu, aku punya kabar baik untukmu” Minri mengeluarkan koran yang ia bawa didalam tasnya. Hari ini jadwalnya untuk menjaga malam di Hotel, karena itu ia masih berada dijalanan sore hari seperti ini. “Sebuah rumah sakit sedang mencari seeorang yang pandai membersihkan”
“oo.. cleaning servise?” ujar Eunso bersemangat, mengambil koran itu lalu membaca berita tentang lowongan pekerjaannya.
“oo.. gajinya lumayan, kau tahu kan tidak ada yang mau bekerja membersihkan tempat-tempat kotor, karena itu mereka membayar mahal orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti itu”
“oo..” Eunso membaca berulang-ulang lowongan pekerjaan itu. Gajinya memang lebih besar dari yang bisa Eunso dapatkan selama ini, Eunso bisa mengumpulkan uang dengan sangat cepat karena ini, selain bekerja dirumah sakit ia juga masih bisa bekerja ditempat lain, ia akan mengambil waktu siang dan dimalam hari ia masih bisa mengantar ramen. “aah.. kau memang malaikat penyelamatku”
“aku tahu..” Minri memamerkan deretan giginya kepada Eunso, bangga dengan dirinya sendiri.
Eunso melipat kembali koran itu kehalaman depan lalu terdiam membaca berita utama dikoran itu, selalu memberitakan gosip.
KIM MINHYE TERLIHAT LAGI BERSAMA DENGAN PENGUSAHA KAYA CHO KYUHYUN
Melihat Eunso yang terdiam membaca koran itu, Minri pun membaca halaman depan kemudian mendenguskan hidungnya. “kau lihat kan mereka terlihat bersama-sama lagi, meskipun mereka mengatakan hanya berteman aku tetap curiga bahwa mereka sebenarnya adalah sepasang kekasih”
“oohh..” Eunso meletakkan koran itu, tidak ingin membacanya, ia juga tidak ingin mendengarkan cerita apapun tentang Kyuhyun dari Minri, tetapi ia tidak bisa menghentikan begitu saja sahabatnya itu, ia tidak ingin Minri curiga kenapa dia tidak mau mendengar berita apapun tentang Kyuhyun.
“ada gosip yang mengatakan mereka berdua punya anak”
“anak..?” baiklah, Minri mendapatkan perhatiannya sekarang.
“ya.. anak perempuan”
“Kim Minhye memang memiliki anak perempuan dari suami pertamanya kan?” tanya Eunso hati-hati.
“bukan.. yang aku bicarakan adalah seorang bayi perempuan, seseorang pernah melihat Kyuhyun menggendong seorang bayi perempuan di departemen store, aku yakin itu anaknya dan Kim Minhye karena tidak begitu lama dari sana ia juga melihat Kim Minhye disekitar sana”
“oohh…”
“aku yakin, wanita ini adalah wanita yang dicintainya itu, akhirnya ia mendapatkan kembali wanita itu, kau ingat aku pernah bilang dia berubah bukan? Saat itu adalah masa-masa perceraian Kim Minhye. Aku yakin Kim Minhye lah alasannya berubah menjadi lebih manusiawi”
Eunso menelan air putih hanganya lalu mengeluarkan uangnya dan membayar ddobokinya. “ajhuma ini”
“kau sudah mau pergi?”
“aku harus cepat-cepat mengantar ramen, annyeong Minri-yaa..”
“oo.. jangan terlalu lelah”
“aku tahu”
Eunso berlari menjauhi Minri, ia tidak ingin menangis didepan Minri, Minri akan curiga jika ia menangis begitu saja. Jadi akhirnya Kyuhyun benar-benar menikahi Minhye..? atau lebih tepatnya mereka sudah bersama sekarang?. Eunso menghembuskan nafasnya, menimbulkan kepulan asap putih karena udara yang dingin, sudah satu tahun berlalu tetapi Eunso tetap tidak bisa melupakan namja itu. dan rasanya tetap menyakitkan membayangkan wanita secantik Kim Minhye yang menjadi ibu dari putrinya.
Eunso mengembuskan nafasnya lagi lalu mengeratkan jaketnya, ia berjalan dipinggiran pertokoan yang menjual berbagai macam-macam jenis makanan, ada kue dan sebagainya. Eunso berdiri di deretan kue yang terlihat lucu kemudian tersenyum. Kue-kue itu selain lucu pasti sangat enak. Setelah melihat toko kue Eunso melewai toko yang menjual peralatan bayi, baju-baju bayi perempuan tergantung dijendela besar toko itu, Eunso berjongkok didepan kaca itu ketika melihat sepasang sepatu rajutan berwarna pink dan kepala boneka beruang didepannya terletak dibawah etalase itu. Eunso menatap sepatu bayi itu dalam diam.. sudah satu tahun berlalu, seperti apa wajah bayi itu? apa dia sehat? Apa dia terlihat cantik?.
Eunso menyentuhkan tangannya dikaca etalase kemudian tersenyum. “Happy birthday Naeun”
.
.
TAARRR…. TAARRR…
“HAPPY BIRTHDAY NAEUN” seruan kegembiraan disertai converty yang diledakkan itu terdengar diruang tamu mewah milik keluarga Cho. Semua bertepuk tangan kembira begitu juga bayi perempuan itu. Merasa gembira karena semua orang tertawa dan mengajaknya bermain.
Sebuah kue besar berhiaskan boneka barbie berwarna pink menjadi perhatian Naeun sejak tadi, Kyuhyun tertawa gemas melihat putrinya begitu bersemangat dengan kue besar itu, perlahan dia menurunkan putrinya Naeun berdiri dengan berpegangan pada tepian meja memandang takjub lilin yang berada diatas kue tersebut. Tangannya terulur hendak menyentuh lilin itu, merasakan panasnya api mengenai tangannya Naeun menarik cepat tanganya dan menangis kencang, berputar menghadap appanya lalu mengulurkan tangannya minta digendong.
Kyuhyun tertawa keras. “anak ini, benar-benar nakal”
Nyonya Cho ikut tertawa. “rasa penasarannya begitu besar, caa.. Kyu-aa tiup lilinya untuk Naeun”
“make a wish” ujar Jaewoo sebelum Kyuhyun berjongkok dengan Naeun berada digendongnnya. Kyuhyun diam memperhatikan lilin itu lalu menoleh kearah putrinya, mengecup pelan kepala putrinya lalu berbisik. “semoga tahun ini Tuhan mau mempertemukan kita dengan eomma ya nak?”
“maaa…” Naeun membeo
Kyuhyun tersenyu lalu meniup lilin itu dengan satu tiupan, semua bertepuk tangan dan berseru riang, sekali lagi mengucapkan selamat ulang tahun kepada bayi perempuan itu. Pesta ulang tahun kecil itu hanya dihadiri oleh orang-orang dirumah itu, ada nyonya Cho, Jaewoo dan hanya beberapa pelayan. Seisi rumah itu menjaga rahasia besar tentang keberadaan sang bayi, mereka juga merasa gembira setiap hari karena keberadaan malaikat kecil itu. tidak ada yang tidak jatuh cinta kepada kelucuan dan kecantikan putri dari Cho Kyuhyun.
“apa dia mirip ibunya?, wajahnya terlihat mirip seperti artis Kim Minhye. Apa Kim Minhye ibunya?” bisikan itu sering terdengar diantara beberapa pelayan, Jaewoo akan dengan sangat keras menegur dan memarahi mereka karena begosip tentang Kyuhyun. Jaewoo pun dengan keras mengancam para pelayan yang berani bergosip baik didalam rumah maupun diluar rumah.
Suasana diruang tamu terlihat hangat dan penuh dengan tawa ketika seseorang datang menginterupsi kegembiraan itu. Kim Minhye datang dengan tangan menggandeng Minyoung. Nyonya Cho yang tadinya sedang tertawa langsung memberengutkan wajahnya begitu melihat wanita itu.
“oo.. Minhye-aa.. masuklah” ujar Kyuhyun begitu melihat Minhye.
“selamat ulang tahun Naeun, ayo sayang ucapkan selamat ulang tahun kepada Naeun”
“selamat ulang tahun Naeun” Minyeong menyerahkan bungkusan kado kepada Naeun, bayi perempuan itu mengulurkan tanganya dan mengambil kado itu,lalu menepuk-nepuk bungkusan kado itu.
Kyuhyun tersenyum senang. “gomawo Minyoung eonni” ujarnya.
“apa kau tidak punya kesibukan lain Minhye-sii?” nyonya Cho tidak menutup-nutupi rasa  tidak sukanya akan kehadiran Minhye.
“aah.. hari ini tidak begitu” jawab Minhye sedikit menundukkan kepalanya, ia tahu Younhwa akan bersikap seperti itu, tapi ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk datang kesini.
“eomma.. aku yang mengundang Minhye kesini. Dia tamuku, jadi bersikaplah sedikit manusiawi” tegur Kyuhyun
Younghwa memberengut kesal kemudian pergi dari acara pesta kecil untuk Naeun kembali ke kamarnya sendiri.
“ibumu wanita yang menakutkan, tapi sayangnya aku tidak takut padanya”
Kyuhyun tersenyum kecil, sudah menjadi rahasia umum bahwa Minhye dan ibunya selalu berperang dingin jika mereka berada disatu ruangan, meskipun Kyuhyun sudah meyakinkan ibunya bahwa ia tidak akan pernah menikahi Minhye, ibunya tetap memilih untuk tidak pernah bersikap baik kepada Minhye.
“aku tidak akan menghawatirkan kalian berdua”
“Kyu-aa, jika kau dihadapkan untuk memilih aku atu ibumu kau akan memilih siapa?” tanya Minhye, tiba-tiba ingin menggoda Kyuhyun.
Kyuhyun tertawa pelan. “aku akan pilih eomma.. karena dia wanita yang berpengaruh didalam hidupku”
“ciih.. “ Minhye mendecakkan lidahnya. Dirinya sudah benar-benar tidak ada lagi dihati namja itu. Dan Minhye tidak pernah sekalipun berharap bisa dicintai oleh Kyuhyun lagi, persahabatan yang seperti ini sudah memuat wanita itu berpuas diri, karena ia masih bisa bertemu dan melihat Kyuhyun, hanya itu yang penting.
“tuan muda” suara Jaewoo terdengar janggal memanggil Kyuhyun. Kyuhyunpun menoleh kearah Jaewoo dengan alis berkerut.
“ada apa..? ajhusi terlihat aneh” namja yang sudah semakin tua itu menyerahkan sebuah amplop dengan alis berkerut. Sebelum Naeun lahir namja itu sempat mengajukan pengunduran dirinya, namun setelah melihat Kyuhyun bersedih karena kehilangan Eunso, namja itupun memutuskan untuk tetap berada disisi Kyuhyun. Sampai Kyuhyun menemukan Eunso, benar.. harapan untuk menemukan Eunso tetap ada dihati mereka masing-masing.
Kyuhyun memandang waspada surat itu, tetapi dengan cepat ia mengambil surat itu dan membukanya. Dugaannya benar, itu amplop yang berisikan uang. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu amplop tanpa nama datang kerumah itu, tidak ada yang mengancam dari isinya hanya saja uang yang berada diamplop itu membuat Kyuhyun dan Jaewoo berfikir Eunsolah yang mengiriminya uang itu. Bermaksud untuk mengembalikan uang yang sudah ia gunakan?.
“apa ada tanda-tanda dari kedatangan surat ini?” tanya Kyuhyun
“tidak tuan, seperti biasa.. diantar melalui pos. Tidak ada pengirim”
“bantu aku, dengan melacaknya” pinta Kyuhyun
“dengan senang hati tuan”
Kyuhyun meletakkan amplop itu keatas meja dengan kesal, Naeun yang melihat itu terkejut lalu menoleh kearah ayahnya. Kyuhyun langsung mengubah ekspresinya ketika membalas tatapan putrinya, mengusap kepala Naeun dengan perasaan campur aduk. “eommamu.. benar-benar tahu cara membuat appa geram..”
.
.
.
TBC…
Tenang.. bakal ketemu lagi kok.. tapi bagaimana caranya ketemu..? see you on the next part…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: