Need A Baby chapter 6

0
Need A Baby chapter 6 ff nc kyuhyun eunso
Tittle: Need a Baby? (Chapter 6)
Cast:
Cho Kyuhyun
Song Eunso
And other cast
Category: Chapter, Romance, nc-17
Author: Mylittlechick
Nyonya Cho akhirnya menginjakkan kakinya kerumah itu, matanya menatap tajam kerarah Minhye dan Minyoung yang sedang duduk berdua dan bermain dilantai ruang tamu. Wanita itu memang terlihat cantik, kecantikannya memang terlihat alami. Nyonya Cho tidak memungkiri hal itu, semua orang tua pasti akan sangat setuju jika anaknya menikah dengan wanita itu, tetapi masalahnya adalah nyonya Cho tidak pernah mengampuni wanita itu karena telah membuat putranya berubah menjadi namja yang tidak berperasaan.

Meskipun wanita itu kembali untuk membuat Kyuhyun kembali seperti dulu, nyonya Cho tetap tidak akan menerimanya begitu saja, karena baginya Eunsolah yang layak berdampingan dengan Kyuhyun. Karena ia bisa melihat dengan sangat jelas Enso bisa membuat Kyuhyun merasakan kebahagiaan yang baru.
“eomunim.. anda datang?” Minhye yang melihat kedatangan Younghwa langsung berdiri dan membungkukkan badanya menyambut wanita itu.
“oo.. tolong jangan panggil aku eomunim” jawab younghwa ketus.
Minhye mengerutkan alisnya lalu menganggukkan kepalanya. “ne.. maafkan aku” dulu nyonya Cho tidak pernah bersikap seperti ini padanya.
Younghwa mendecakkan lidahnya, ia melirik Minyoung yang saat ini memeluk kaki ibunya sambil menatap waspada padanya. Ia ingin memaki Minhye tetapi sepertinya saatnya tidak tepat, melihat ada gadis kecil itu disana. “apa kabarmu Minhye-ssi?”
“setelah bersama dengan Minyoung lagi, aku merasa lebih baik” jawab minhye, mengusap kepala putrinya yang bersembunyi dibelakang kakinya.
Younghwa duduk disofa lalu menyuruh Minhye ikut duduk bersamanya. “ada yang ingin kubicarakan denganmu” ujarnya , sambil menatap Minyoung.
“oo.. Minyoung sayang, kau kekamar dulu ne..” bujuk Minhye kepada putrinya. Minyoung yang merasa takut dengan melihat nyonya Cho pun langsung menyetujuinya dengan berlari ke kamar yang ditempati olehnya dan ibunya.
Setelah memastikan gadis itu pergi nyonya Cho pun mulai pembicaraan. “setelah kau bersama dengan putrimu lagi apa yang ingin kau lakukan minhye-ssi?”
“karena pekerjaan menjadi artis akan menyita waktuku dan aku tidak ingin meninggalkan Minyoung lagi, aku mungkin akan beralih dengan membuka bisnis saja” jawab Minhye
“bukan itu maksudku” cegat Younghwa. “maksudku adalah, setelah kau mendapatkan putrimu mungkin sebaiknya kau pergi dari rumah ini dan menjauh dari kehidupan putraku”
Minhye terkejut dengan keterusterangan nyonya Cho. Ia tahu nyonya Cho pasti akan sangat marah padanya karena ia telah melukai perasaan Kyuhyun, tetapi ia tidak pernah tahu bahwa nyonya Cho akan terlihat sangat tidak menyukainya seperti ini.
“maafkan aku nyonya Cho,mengenai meninggalkan rumah ini, Kyuhyunlah yang membaaku kesini, karena itu aku akan pergi setelah Kyuhyun yang menyuruhku pergi”
“dia tidak akan menyuruhmu pergi, jika kau tidak berinisiatif sendiri”
“kalau begitu aku tidak akan memintanya”
Nyonya Cho menatap Minhye dengan ekspresi penuh amarah, begitu juga dengan minhye yang membalas tatapannya dengan begitu sama kuatnya. Gadis itu terlihat tidak takut sedikit pun, karena ia yakin Kyuhyun akan membelanya mati-matian. Setelah ia menderita selama usia pernikahannya yang pertama Minhye memutuskan untuk tidak akan pernah melepaskan Kyuhyun lagi. Dan ia akan memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Tuhan saat ini untuk kembali kedalam pelukan Kyuhyun.
“apa kau tidak melihat ada seorang wanita yang sedang hamil dirumah ini?”
“yaa. Aku melihatnya”
“kau tahu siapa ayahnya?”
“aku tahu, Kyuhyun menceritakan semuanya padaku” bohong Minhye, Kyuhyun belum menceritakan apapun, tetapi Minhye memutuskan untuk membuat dirinya begitu penting sehingga Kyuhyun menceritakan apapun itu kepada Minhye. “dan aku tidak keberatan dengan adanya gadis itu, karena Kyuhyun tidak pernah berniat menikahinya, Kyuhyun sendiri yang mengatakannya padaku”
“dasar kau wanita jalang, aku tidak pernah tahu bahwa kau benar-benar wanita tidak tahu diri”
“jangan salahkan aku nyonya, keputusan ada ditangan Kyuhyun”
Nyonya Cho hendak menyatakan protesnya tapi ia tahu Minhye memang benar, keputusan memang ada ditangan Kyuhyun. Satu-satunya cara adalah menyadarkan Kyuhyun tentang tidak baiknya Minhye untuk kehidupannya. “kau tahu, aku akan menentang hubungan kalian sampai aku mati”
“selama aku memiliki Kyuhyun, aku tidak akan pernah takut nyonya”
Nyonya Cho mengeraskan rahangnya marah. Gadis ini benar-benar lancang, pikirnya.
“saya harus menidurkan putri saya, permisi” Minhye pun pamit dengan meninggalkan Younghwa sendirian saja.
Seandainya saja wanita itu tidak pernah membuat Kyuhyun terluka nyonya Cho tidak akan pernah merasa sangat marah seperti ini, bukan hanya itu. Karena wanita itulah saat ini Eunso ada dirumah ini dan sedang mengandung seorang cucu untuknya, Nyonya Cho mendesahkan nafasnya. Seharusnya ia tidak pernah mengizinkan Kyuhyun bertindak bodoh.
.
.
“eomma disini?” Kyuhyun menatap bingung ibunya yang saat ini berada disatu meja makan bersama-sama dengannya. Ia pulang dan berganti pakaian seperti biasanya, dan terkejut melihat ibunyalah yang sedang memasak.
“aku tidak suka melihat ada wanita lain yang menyiapkan makanan untukmu selain Eunso. Eunso selalu tahu makanan yang enak untukmu” sindir nyonya Cho tajam, sambil melirik Minhye dan Minyoung yang duduk tidak jauh dari Kyuhyun. lalu melirik kearah Eunso yang duduk sedikit lebih jauh dari merek. “Eunso-ya.. aku buatkan makanan yang bergizi untukmu. Caa.. makanlah” nada suara nyonya Cho pun berubah lebih lembut.
“gomawo nyonya” Eunso tersenyum kepada nyonya Cho, rasanya begitu melegakan melihat wanita itu ada disana, Eunso mungkin tidak akan pernah bisa bertahan jika saja nyonya Cho tidak memberikannya perhatian seperti ini.
“manhi mokko..” seru nyonya Cho kepada Eunso.
Kyuhyun yang sering melihat kejadian seperti itu tidak merasa jengah, iapun menyantap makanannya dengan santai. Berbeda dengan minhye yang merasa geram, ia merasa nyonya Cho memang sengaja ingin membuatnya marah karena sengaja berpihak kepada Eunso.
“eomma.. Minyoung tidak suka wortel” gadis kecil yang menjadi satu-satnya orang yang bersikap netral itu memecahkan keheningan. Kyuhyun menoleh kepada Minyoung lalu tersenyum.
“dia mirip sekali denganmu, tidak suka wortel” seru Kyuhyun
“oo.. like mother like dauther” jawab Minhye. “sayang sisihkan saja dipiringmu”.
“tapi Minyoung tetap tidak suka melihatnya” gadis kecil itu menegerutkan alisnya, ia tidak akan berselera makan jika melihat wortel itu dipiringnya.
“sini, berikan saja padaku” Kyuhyun menawarkan diri untuk menerima wortel-wortel itu. membuat Minhye tersenyum senang kepada Kyuhyun.
“gomawo, kau perhatian sekali” ujar wanita itu lembut sambil meletakkan wortel-wortel dari piring Minyoung ke mangkuk Kyuhyun.
“anniya hanya seperti ini” jawab Kyuhyun santai. “berikan yang punyamu juga kesini, kau juga tidak suka kan?”. Minhye tertawa riang, lalu mulai menyisihkan wortel miliknya kepiring Kyuhyun.
melihat adegan itu membuat Younghwa geram. Berbeda dengan Eunso yang menundukkan kepalanya, berusaha untuk tidak melihat adegan itu. Younghwa menoleh kearah Eunso dan hatinya semakin terbakar oleh amarah. “lain kali kalian harus memakan apa yang ada dihadapan kalian, wortel baik untuk mata, apa lagi untuk anak kecil” ujar Younghwa tajam. Matanya menatap kesal Minyoung yang masih kecil dan tidak mengerti apa-apa.
“eomma..” tegur Kyuhyun.
Younghwa menatap putranya geram, apa Kyuhyun dan Minhye selalu bersikap seperti itu dihadapan Eunso?. nyonya Cho menoleh kearah Eunso lalu bertanya. “apa ada makanan yang tidak kau suka Eunso-ya…?”
“yee..? anniya nyonya, aku pemakan segalanya”
“aah.. syukurlah, aku kira aku merasa sangat keterlaluan jika tidak tahu ada makanan tertentu yang tidak kau sukai”
Eunso tersenyum, sadar bahwa nyonya Cho berusaha membuat hatinya lebih baik. “sebenarnya aku tidak begitu suka Kimchi Lobak, aku lebih suka Kimchi sayuran”
“aah.. kau sama seperti Kyuhyun. dia juga tidak begitu suka kimchi lobak, kalian mirip sekali” nyonya Cho terdengar jelas berlebihan ketika mengucapkan kalimat itu. Eunso tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, ia tahu itu. Karena setelah makan Kyuhyun juga selalu menyisahkan kimchi lobak sama sepertinya.
Kyuhyun memperhatikan ibunya yang menatap Minhye dengan sorot membunuh, kemudian kearah Eunso yang sudah bisa tersenyum ketika ibunya datang. Karena itu ia tidak begitu mendebat ibunya lagi, ketika nyonya Cho terus memberikan sindiran-sindiran pedas kepada Minhye. Meskipun Kyuhyun melihat jelas kekesalan diwajah Minhye, Kyuhyun tetap diam. Hatinya merasa lebih damai ketika memperhatikan Eunso makan lebih banyak hari ini, karena kehadiran ibunya.
Perselisihan Younghwa dan Minhye semakin sengit, dan akhirnya Kyuhyun menengahi setelah kegiatan makan itupun menjadi sedikit lebih sengit. “eomma sudahlah”
Younghwa mematuhi putranya dan ia menghentikan ocehannya, hari ini hatinya sudah merasa puas, dan ia akan mengulanginya lagi besok, jika perlu dia akan tiap hari mendatangi rumah ini dan memberikan dukungan kepada Eunso.
Younghwa menatap tajam Minhye untuk terakhir kalinya lalu beralih ke Eunso. Matanya melebar ketika dilihatnya Eunso mengerutkan alisnya. “kau kenapa?”
“tidak apa-apa, hanya keram seperti biasanya” jawab Eunso cepat.
“aah.. kau harus banyak-banyak beristirahat, dan kau tidak boleh strees, aku akan membawakan banyak sekali buku untukmu besok” ujar nyonya Cho keras, memberitahukan kesemua orang bahwa ia akan datang lagi besok.
“eomma tidak capek jika kesini terus?” sindir Kyuhyun.
“aah.. benar, bagaimana jika besok aku juga pindah kesini” Younghwa pun memberikan saran kepada Kyuhyun. “rumah inikan sekarang menjadi tempat pengasingan” dan berucap tajam lagi kepada Minhye. Membuat Kyuhyun mengerang dan berdiri dari kursinya cepat, lama-lama ia akan gila jika berada diruang makan itu terus.
.
Menjelang malam, Minhye menemukan Eunso tengah membuat segelas susu untuk dirinya sendiri. ia hanya bermaksud untuk meminum segelas air tetapi melihat Eunso membuatnya kesal karena teringat akan pertarungan sengitnya dengan ibu Kyuhyun. “kau sedang apa Eunso-ssi?”
“oo.. ini susu untuk ibu hamil” jawab Eunso, terkejut melihat wanita itu ada didaput.
“ooh.. aku kedapur ingin membuatkan susu untuk Kyuhyun, kau pasti tahu dia selalu suka minum susu sebelum tidur”
“nee.. aku tahu”
“kau mau membantuku membuatnya? Aku harus menemani Minyoung tidur”
“yee.. baiklah”
“Kyuhyun ada diruang kerjanya”
Dengan senang hati Eunso pun menyalakan kompor dan bersiap menghangatkan susu murni untuk Kyuhyun, sudah lama ia tidak melakukan ini, semenjak Minhye datang kerumah itu.
Minhye yang melihat senyum bahagia itu sedikit terenyuh, sepertinya Eunso terlihat sangat gembira melakukan itu untuk Kyuhyun. namun Minhye menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh menyerahkan Kyuhyun kepada siapapun, ia tidak ingin kehilangan Kyuhyun lagi karena kebodohanya sendiri.
Minhye melangkahkan kakinya kearah ruang kerja Kyuhyun, ia mengetuk sekali lalu masuk setelah mendengar suara Kyuhyun. Dengan tanpa menutup pintu itu lagi Minhye masuk dan mendekati Kyuhyun yang sedang duduk dikursi kerjanya. Namja itu terlihat sangat elegan meski dengan memakai kemeja kebesaran dan celana kain biasa.
“waeyo..?” tanya Kyuhyun, bingung melihat Minhye mendatanginya malam-malam begini.
“anniya, aku hanya ingin mengobrol, sudah lama kita tidak mengobrol santai” Minhye berjalan memutari meja kerja Kyuhyun lalu menyandarkan pantatnya dimeja kerja Kyuhyun hingga berhadapan dengan namja itu. “ibumu sepertinya benar-benar tidak menyukaiku”
“tidak perlu dipedulikan eomma memang seperti itu”
“nee.. tapi, itu menyakiti perasaanku”
“mianhae..” ujar Kyuhyun, meminta maaf karena sikap ibunya yang memang melampaui batas.
“anniya, aku tidak bisa mengeluh karena memang itu semua salahku, semua ibu pasti marah jika anaknya dibuat terluka oleh wanita sepertiku”
“sudahlah Hye-aa.. jangan diungkit-ungkit”
“tapi, ibumu kelihatanya begitu menyukai Eunso” Kyuhyun mengalihkan matanya ketumpukan buku-buku didalam lemari, tidak ingin melihat Minhye saat ini. “kau masih tidak ingin menceritakannya kepadaku? Kenapa Eunso bisa hamil?”
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, “belum sekarang”
“Kyu-aa..” Minhye tiba-tiba berdiri dan melangkah mendekati Kyuhyun, mendudukkan dirinya dipangkuan Kyhyun.
Kyuhyun cukup terkejut dengan ke agresifan Minhye, sejak kemarin wanita ini terlihat sangat agresif, memintanya menciumnya dan sekarang menudukkan dirinya dipangkuan Kyuhyun. Kyuhyun membiarkan saja Minhye melakukannya, karena ini pun menjadi menarik, entah kenapa Kyuhyun sudah merasa frustasi karena ia tidak lagi merasakan perasaan-perasaan gembira ketika berdekatan dengan Minhye seperti ini.
“Kyu-aa.. aku menyesali semua yang telah aku lakukan padamu, setelah aku menikah aku menyadarinya bahwa dia tidak bisa dibandingkan denganmu. Kaulah yang pertama untukku, dan aku merasakan kebahagiaan yang terdalam saat itu. dan ketika bersamanya kukira rasanya akan sama, tapi aku menangis karena aku tidak mendapatkan apa yang kau berikan padaku”
“Minhye..” Kyuhyun mengusap wajah Minhye dengan lembut. “tidak perlu menyesal, semua sudah terjadi”
Minhye menganggukan kepalanya, lalu menunduk menyurukkan lehernya keleher Kyuhyun, memberikan kecupan-kecupan ringan dileher itu. “kau tahu, setiap aku bercinta dengannya yang terbayangkan olehku adalah dirimu, aku membayangkan kaulah yang menyentuhku, menciumku, membelaiku dan memasukiku. Kyu-aa, aku benar-benar merindukanmu”
Minhye mengusap tengkuk Kyuhyun dengan tangannya membelai telinga Kyuhyun, “kau tahu kan, malam itu aku masih perawan?”
“heum..” jawab Kyuhyun.
“aku menyerahkanya padamu karena aku ingin kaulah jadi yang pertama sebelum aku menikahinya, dan aku tidak pernah menyesalinya karena itu adalah malam yang selalu kuingat selama ini” Minhye menemukan bibir Kyuhyun dan wanita itu langsung melumat bibir itu dalam.
Kyuhyun teringat akan malam itu, malam dimana ia mencari Minhye setelah ia tahu gadis itu akan menikah dengan namja lain. Kyuhyun marah dan berusaha menaklukan gadis itu dengan menciumnya, ciuman itupun berlanjut kearah yang sudah jelas. Kyuhyun dan Minhye bercinta malam itu juga, merasa bahwa Minhye sudah menjadi miliknya pun Kyuhyun tertidur sampai siang, dan terlambat menyadari bahwa Minhye telah pergi dan menikah dengan namja lain. Sama seperti Minhye, Kyuhyun pun menjadikan malam itu sebagai malam yang paling indah dan mengenangkan selama ini.
Kyuhyun menekan pinggul Minhye agar menempel dengan pangkal kakinya, tanganya meraup payudara Minhye dengan keras, membuat gadis itu mengerang nikmat dibibirnya. Kyuhyun melepaskan tautan bibirnya memandangi wajah Minhye yang sudah memerah karena gairah. Kyuhyun memang selalu mengingat jelas rasa ketika mencium Minhye, tapi entah kenapa sekarang rasanya berbeda dengan kali terakhir yang diingatnya dan sekarang yang terus masuk kedalam pikirannya adalah rasa bibir Eunso. Apa mungkin rasa Eunso begitu kuat hingga memudarkan rasa Minhye?.
“wae..?” tanya Minhye sambil mengerutkan alisnya, ia sadar, Kyuhyun tidak bereaksi seperti yang ia ingat. Namja itu terlihat dingin dan sulit untuk dibangkitkan. Minhye memberanikan dirinya menyentuhkan tanganya keselangkangan Kyuhyun, dan menemukan benda tumpul itu disana.
“Hye-aa..” Kyuhyun menangkap pergelangan tangan Minhye. Mencegah wanita itu.
“wae…?” tanya Minhye lagi, gadis itu mengigit bibirnya yang bergetar, ia takut karena menyadari Kyuhyun mungkin sudah tidak benar-benar mencintainya lagi. “aku ingin membuatmu menginginkan aku. Biarkan aku, jika kau tetap tidak menginginkanku maka aku akan berhenti, eoh..?” Minhye berusaha mepelaskan tanganya dan mencoba menyentuh Kyuhyun lagi.
“anniya.. jangan. Sudahlah” tolak Kyuhyun. mencegah lagi tangan-tangan Minhye.
“apa kau mencintai gadis itu?” tanya Minhye panik
“tidak” jawab Kyuhyun tegas
“kau akan menikahinya?”
“ya Tuhan, tidak” jawabnya lagi. meskipun begitu ada sedikit perasaan aneh ketika ia mengatakan kata tidak itu.
“aku akan menerima anak itu, meskipun ia bukan anakku, aku akan merawatnya dengan baik Kyu-aa..”
“aku tahu kau pasti bisa merawatnya” Minhye tersenyum. “tapi..” Minhye menghentikan kalimat Kyuhyun dengan sekali lagi mencium namja itu. Kyuhyun diam saja ketika Minhye menciumnya, dan tangan itu bergerak menyentuh juniornya, ia juga penasaran sejauh mana tubuhnya bertahan dari sentuhan Minhye.
“kau tahu, aku benar-benar pernah berharap Minyoung adalah anakmu, seandainya saja aku hamil anakmu malam itu. tapi sayangnya itu tidak terjadi”
“jika itu terjadi aku tidak akan mengizinkanmu menikah dan membawa anakku bersamamu”
“dan aku berharap dia memang anakmu” Minhye menarik kancing celana Kyuhyn dan berusaha menurunkan risleting celana Kyuhyun. dengan mulut yang masih saling menjelajah Minhye terus melanjutkan aksinya membuka celana itu.
Kyuhhyun memegang tangan Minhye dan menariknya. “Kyu-aaa” bisik Minhye, berusaha untuk mencium Kyuhyun lagi, tetapi namja itu memalingkan wajahnya. Namja itu merasakan kehadiran seseorang, berada belakang tembok pintu yang terbuka lebar itu. Kyuhyun menelan salivanya, entah kenapa ia sadar kehadiran siapa itu. bukan Jaewoo bukan juga ibunya.
“Kyuu..?”
“turunlah hye-aa, kumohon”
“tapi..”
Kyuhyun menurunkan paksa Minhye dari pangkuannya, ia berdiri mengancingkan lagi celananya dan berjalan secara perlahan kearah pintu. Setelah melewati pintu Kyuhyun tidak melihat siapapun dilorong itu. Matanya mencari-cari sosok seseorang dan berhenti ke sebuah meja yang berada dilorong, ada segelas susu yang masih mengepulkan uang panas. Seseorang baru saja pergi dan meninggalkan susu itu disana.
“Kyuu” panggil Hyemi.
“sudah malam Minhye-aa.. aku akan tidur, selamat malam”
“kyuuu….???”
Kyuhyun melangkahkan kakinya kearah kamar yang akhir-akhir ini jarang ia kunjungi, mengetuk pelan pintu itu lalu membukanya cepat.
.
Eunso berjalan dengan hati-hati sambil memegang susu hangat itu, agar tidak tumpah, mencapai ruang kerja Eunso tersenyum, Kyuhyun mungkin terkejut tetapi Eunso tetap akan masuk dan menyerahkan susu ini padanya. Eunso berhenti diambang pintu, pintu itu terbuka lebar dan Eunso melebarkan matanya terkejut, lagi-lagi ia melihatnya, melihat Kyuhyun mencium Minhye dengan penuh nafsu, Eunso hendak menjauh dari tempat itu ketika ia mendengar kalimat yang membuat dadanya sesak.
“anniya.. jangan. Sudahlah”.
“apa kau mencintai gadis itu?”
“tidak”
“kau akan menikahinya?”
“ya Tuhan, tidak”
“aku akan menerima anak itu, meskipun ia bukan anakku, aku akan merawatnya dengan baik Kyu-aa..”
“aku tahu kau pasti bisa merawatnya”
Eunso membekap mulutnya dari suaranya yang tercekat, jadi Kyuhyun akan membiarkan bayi ini dirawat oleh Minhye, jadi mereka akan menikah?. Tiba-tiba bayangan Minhye menggendong dan membesarkan anaknya terlihat jelas dikepalanya. Airmata menyeruak jatuh kepipinya. Bayangan itu terlihat mengerikan untuk Eunso, karena ia sadar anaknya tidak akan pernah mengenalnya, atau memanggilnya ibu. Melainkan Minhye.
Eunso berjalan perlahan-lahan kearah kamarnya, ia meletakkan gelas yang berisi susu hangat itu diatas meja yang berada dilorong itu. Airmata terus jatuh dipipinya, tidak.. ia tidak akan mengizinkan wanita itu menjadi anaknya, tidak akan pernah.
“ini bayiku.. bayiku..” Eunso masuk kedalam kamarnya langsung membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan koper miliknya, Eunso juga mengeluarkan baju-baju miliknya. dengan tangan gemetar menyimpan baju-bajunya kedalam koper.
CEKLLEEEKKK… pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok tinggi Kyuhyun. Eunso mengusap airmatanya, membalas tatapan kebingungan Kyuhyun yang melihatnya sedang berkemas.
“apa yang kau lakukan?” Kyuhyun mendekatinya dengan mata tidak lepas dari koper dan baju-baju Eunso.
“sudah cukup tuan, aku akan pergi”
“pergi?, apa maksudmu pergi?”
“aku akan pergi, aku tidak sanggup melakukan ini semua. Aku akan mengembalikan semua uang yang telah kugunakan, semua fasilitas yang kau berikan ketika aku disini, tetapi aku tidak akan pernah menyerahkan bayi ini padamu. tidak akan pernah” dengan suara yang bergetar namun terdengar yakin Eunso menuarakan isi hatinya.
“mouyaa..? kau melanggar janjimu?” teriak Kyuhyun marah.
“nee… kau bisa memenjarakan aku karena aku melanggar janji, aku tidak takut, aku tidak akan pernah mengizinkan Minhye-ssi merawat bayiku. Dia anakku” nafas Eunso memburu cepat, ini pertama kalinya ia merasa begitu marah, merasa begitu tidak diperlakukan adil. Ia berhak untuk menuntut haknya, bayi ini bayinya, sebagian darahnya mengalir didalam tubuh bayi ini.
“kau lupa? Perjanjiannya adalah kau melahirkan bayi itu untukku, aku sudah mengatakannya padamu dari awal bukan? Dia milikku bukan milkimu?”
“tapi dia ada dirahimku.. aku yang merasakan mual selama hamil, aku yang merasakan keram, aku yang merasakan tendangan pertamanya, aku yang tahu keadaanya hari ini lebih besar atau tidak. karena itu aku juga berhak untuknya”
“sial.. kau sudah kuperingatkan untuk tidak pernah jatuh cinta pada bayi itu”
“dan kau tidak pernah mengingatkan aku untuk tidak jatuh cinta padamu kan?”
Kyuhyun terdiam, apa baru saja gadis itu secara tidak langsung mengatakan ia mencintai Kyuhyun, setelah semua yang kyuhyun lakukan padanya? Gadis itu mencintainya?. “aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi”
“aku tidak meminta izinmu, aku akan pergi”
“tidak akan pernah kuizinkan kau membawa anakku”
“tapi dia juga anakku” suara Eunso terdengar serak dan memilukan, terlebih lagi airmatanya kembali mengalir membasahi pipinya. Kyuhyun, mengeraskan rahangnya. Eunso terlihat rapuh, seolah-olah ia bisa jatuh kapan saja.
“dengar, kau sedang kalut. Tenangkan pikiranmu”
“tidak.. aku baik-baik saja”
“perjanjiannya sudah jelas bukan?, kau tidak bisa membawa bayi itu. dia milikku. Kau sudah menyetujui itu sejak awal”
“aku tahu, tetapi aku tidak bisa mengingkari perasaanku sendiri, tuan.. aku juga menyayangi bayi ini. aku akan rela meninggalkan bayi ini padamu jika kau akan merawatnya seorang diri. Kau bilang kau tidak akan menikah seumur hidupmu”
“Song Eunso”
“apa tuan kan menikahi Minhye-sii?”
“itu bukan urusanmu”
“urusanku jika dia yang akan menjadi ibu dari anakku”
“aku menikahi Minhye atau tidak, tidak akan ada yang berubah, aku tetap menginginkan bayi itu”
“lalu bagaimana denganku?”
Kyuhyun terdiam lagi, bagaimana dengan Eunso? ia belum mengambil keputusan untuk masalah ini. Kyuhyun pun belum mengerti perasaan seperti apa yang ia miliki terhadap Eunso. “hal itu sudah jelas dipersyaratan yang kubuat bukan?”
“ya.. aku pergi setelah aku melahirkan” jawab Eunso. “tetapi kau tidak bilang bahwa kau akan mengubah pikiranmu ditengah-tengah kesepakatan ini dengan menikahi Minhye-ssi, karena itu aku juga berhak mengubah pikiranku. Aku tidak akan menyerahkan abyi ini padamu”
“ya Tuhan, memangnya kau bisa apa setelah pergi bersama bayi itu?. kau bahkan tidak memiliki pekerjaan, apa yang akan kau berikan padanya?”
“cinta.., aku akan mencintainya dengan sepenuh hatiku”
“kau pikir aku tidak bisa mencintainya juga..?”
“tetapi dia lebih membutuhkan aku”
“tidak, dia lebih membutuhkanku. Aku bisa memberikannya semuanya, cinta, rumah yang nyaman, mainan yang banyak dan kebahagiaan yang sudah pasti. Dan kau? Apa yang bisa kau berikan padanya?, rumah tua, dengan keuangan yang sedikit, belum lagi hutangmu padaku. Dan satu hal lagi, apa kau ingin bayi ini sepertimu? Tidak berpendidikan lalu melakukan hal bodoh seperti ini juga?”
Kyuhyun menghentikan kalimatnya ketika melihat ekspresi terluka diwajah Eunso saat itu juga, ya Tuhan. Kata-katanya begitu kejam.
Terluka karena dihina seperti itu membuat Eunso semakin yakin akan meninggalkan rumah ini. “ya.. meskipun begitu, setidaknya anak ini tidak akan menjadi kejam sepertimu karena harta yang kau miliki” Eunso menghapus airmata. “kau kejam tuan Cho, aku salah menilaimu.. kau benar-benar tidak memilki hati”
Eunso membersitkan hidungnya lalu menatap angkuh Kyuhyun. “aku tidak mau uangmu, aku akan pergi” Eunso mengambil tasnya dan bergegas pergi. Kyuhyun menahan lengan Eunso dengan tangannya.
“tidak. Kau tetap disini”
“aku tidak akan mematuhimu lagi, uangmu akan kukembalikan”
“bagaimana caranya kau mengembalikan uangku?”
“apa saja.. bekerja serabutan, mengandung bayi orang lain lagi atau melacurkan diri”
“SONG EUNSO…!!!”
Bentakan Kyuhyun membuat Eunso terdiam, Eunso lalu terisak oleh tangisannya sendiri, apa yang baru saja ia katakan? Begitu rendah dirinya jika ia melakukan itu. Eunso merosot jatuh kelantai dengan hati-hati memegang perutnya yang besar. Gadis itu menangis dengan membekap mulutnya.
Kyuhyun duduk berjongkok dihadapan Eunso, menyentuh lengan Eunso dan memanggilnya dengan nada yang lebih lembut. “Eunso-yaa..”
“lepaskan aku” Eunso menepis tangan Kyuhyun, tidak ingin disentuh oleh namja itu sama sekali.
Kyuhyun menatap Eunso nanar, gadis itu terluka karena dirinya tetapi Kyuhyun juga tidak tahu harus berbuat apa. “kita bicarakan lagi ini besok eoh..? kau sedang dalam emosi yang labil”
“aku ingin pulang”
Kyuhyun mengeraskan rahangnya. “kau tidak boleh pulang”
“aku ingin pulang, tuan.. jebal..”
“lalu apa yang akan kau katakan pada nenekmu? Eoh? mengenai kondisimu?”
“halmoni pasti mengerti”
“kau tidak akan pulang, tidak akan kuizinkan”
“tuaan..”
“tidak..” Kyuhyun berdiri dan berjalan kearah pintu lalu berteriak. “AJHUSI AWASI EUNSO” tidak peduli jika dia dibilang egois, ia tidak akan pernah mengizinkan Eunso pergi. Tidak akan.
.
Jaewoo datang tidak lama kemudian melihat kondisi Eunso yang sedang duduk menangis dilantai. Jaewoo berjongkok disebelah gadis itu, tanganya menepuk-nepuk punggung Eunso , bermaksud untuk menenangkan gadis itu. “Eunso-ya.. waeyo..?”
“ajhusi, aku ingin pulang.. kumohon, antarkan aku pulang” Eunso mengusap airmatanya lalu menatap Jaewoo dengan pandangan memelas.
Jaewoo meringis melihat ekspresi itu. “tapi tuan muda” Jaewoo menoleh kearah pintu, Kyuhyun sudah pergi, mungkin sudah kembali ke kamarnya. Majikannya itu bukannya menenangkan Eunso malah pergi dan meninggalkan gadis ini sendirian. Jaewoo menoleh lagi kearah Eunso, apa ia harus mengabulkan permintaan Eunso. Jaewoo tidak tega melihat kesedihan diwajah Eunso, bagaimana pun juga Eunso terlihat seperti cucunya sendiri.
Tapi bagaimana pun juga Eunso tidak bisa pergi dalam kondisi sedang dalam keadaan seperti ini. “kau lelah, sebaiknya tidur saja” ujar Jaewoo lembut. “aku bantu ke tempat tidur” Jaewoo membantu Eunso berdiri dan duduk ditempat tidur. Gadis itu masih menangis ketika Jaewoo keluar dari kamar itu.
.
Eunso tidak bisa memejamkan matanya malam itu, ia juga tidak henti-hentinya menangis. Hati dan pikirannya masih tidak bisa menerima kejadian yang dilihatnya diruang kerja Kyuhyun tadi, jadi Kyuhyun bermaksud menikahi Minhye dan membiarkan anaknya dirawat oleh Minhye? Itu tidak akan pernah terjadi. Eunso tidak akan pernah rela.
Eunso duduk dipinggiran tempat tidur dan berjalan kearah pintu kamarnya, ia tahu ia telah salah dengan melanggar perjanjian awal mereka. Tapi apa yang harus Eunso lalukan? Ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak mencintai bayi yang ada didalam kandungannya ini.
Eunso keluar dari kamar lalu mencari-cari keberadaan Jaewoo, gadis itu akan melakukannya, ia akan pergi dari rumah itu. Eunso berjalan keruang tamu, matanya melirik kunci mobil yang selalu dibawa oleh Jaewoo dengan cepat ia mengambil kunci mobil itu dan berjalan keluar dari rumah. Eunso pernah belajar mengendarai mobil, itu karena Minri yang mengajaknya untuk belajar membawa mobil. Sekarang ia bersyukur karena mengikuti keinginan Minri, setidaknya ia punya dasar-dasar untuk mengemudi.
Eunso keluar dari rumah tanpa mengenakan jaket atau sepatu, takut ia akan terlihat jika ia melakukan itu. Dengan berjalan perlahan-lahan ia memasuki mobil dan mulai menyalakan mobil itu lalu mulai menjalankannya. Eunso bermaksud untuk membuat mobil itu mundur tetapi yang terjadi adalah mobil itu maju kedepan dan menabrak pagar rumah yang terletak dihadapannya.
Eunso menjerit tertahan karena benturan itu, ternyata ilmu mengendarai mobilnya tidak begitu bagus, Eunso pun keluar dari mobil itu lalu berjalan kearah jalanan yang gelap dan dinging, menjauh dari rumah itu.
.
Kyuhyun sedang mengurung diri didalam kamarnya ketika mendengar suara mobil menyala dan tiba-tiba menabrak sesuatu, Kyuhyun bangkit dari tempat tidur lalu keluar dari kamarnya, bertanya-tanya siapa gerangan yang bermaksud pergi malam-malam seperti ini?
Kyuhyun berpapasan dengan Jaewoo diruang tamu, Jaewoo pun terlihat bingung seperti Kyuhyun. “siapa itu?” tanya Kyuhyun.
“aku tidak tahu tuan, tapi kunci mobilku tidak ada ditempatnya” jawab Jaewoo, terus berjalan kearah suara benturan itu.
Kyuhyun dan Jaewoo melihat mobil Jaewoo yang menabrak pagar yang terbuat dari tembok itu, siapa yang telah bodoh menghidupkan mobil itu dan menabrakkannya disana?. Kyuhyun terdiam, mungkinkah. “dimana Eunso?”
“terakhir dia ada dikamarnya” jawab jaewoo
“periksa Eunso” Kyuhyun berjalan kearah mobil itu tanpa mengganti sendal rumahnya, dinginnya udara diluar membuat Kyuhyun berdigik. Butiran putih salju mengenai pipi dan kulitnya yang tidak tertutupi baju hangat, tetapi itu tidak menghentikannya untuk melihat kearah mobil, terlalu takut untuk masuk dulu. Kyuhyun melihat pintu mobil yang terbuka lalu jejak kaki yang mengarah kejalan utama.
“anniya..”
“Eunso tidak ada dikamarnya tuan” Jaewoo datang dengan memberikan kebenaran atas ketakutan Kyuhyun. Kyuhyun pun langsung berlari mengikuti jejak kaki itu, tanpa peduli ia akan kedinginan sekalipun, ia akan mengikuti jejak kaki disalju tipis yang menutupi jalanan itu.
“tuan.. anda mau kemana..?”
.
Eunso menopangkan tanganya disebuah pohon besar dipinggiran jalan, sudah cukup lama ia berdiri disana menunggu mobil yang mungkin saja melewatinya dan meminta bantuan dengan menumpang. Tetapi sudah sejak lima belas menit yang lalu Eunso tidak melihat satu mobilpun yang lewat.
Eunso mengeram tertahan, merasakan sakit yang luar biasa diperutnya. Sejak ia menabrakkan mobil itu tadi Eunso sudah merasakan sakit diperutnya, Eunso yakin ia tadi sedikit menekan perutnya ketika benturan itu terjadi. Eunso mengeram lagi ketika rasa sakit yang luar biasa kembali datang, malam begitu gelap dan udara begitu dingin, keringat dingin yang keluar dari tubuhnya membuatnya semakin menggigil kedinginan.
Eunso memegang perutnya ketika merasakan sesuatu mengalir dikakinya, dengan takut-takut gadis itu pun menoleh kebawah, nafasnya memburu cepat melihat aliran darah dikakinya. “andwe..” bisiknya… “andweee…”
.
Kyuhyun mendengar suara Eunso, ia beranjak menuju arah suara itu sampai akhirnya ia melihat Eunso sedang berdiri dengan tangan berpegangan pada pohon. “gadis bodoh, apa yang kau lakukan diluar sini? Cepat masuk kedalam…” Kyuhyun menghentikan teriakannya menyadari adanya keganjalan dari posisi berdiri Eunso.
“Eunsyo-ya..” panggilnya khawatir. Kyuhyun memegang lengan Eunso “waeyo..?”
“lepaskan aku” Eunso menepis tangan Kyuhyun, lalu merintih sakit. Perutnya benar-benar terasa sakit. “aargghh..” kakinya lemas, Eunso pun merosot jatuh.
Kyuhyun menangkap cepat tubuh Eunso kedalam pelukannya. “lepaskan aku”
“sialan kau ingin mati disini? Haah..? membunuh anakku?”
“dia anakku…” desisi Eunso marah.
Kyuhyun menautkan alisnya marah. “kalungkan lenganmu dileherku”
“shireo”
“kau ingin anak ini mati..?”
Eunso menahan tangisnya lalu patuh mengalungkan lenganya dileher Kyuhyun. dengan cepat Kyuhyun mengankat kaki Eunso dan membopongnya menuju rumah. Jaewoo terkejut melihat Kyuhyun membawa Eunso didalam gendongan dalam keadaan lemas dan pendarahan. “ajhusi ambil kunci mobilku” perintah Kyuhyun.
Jaewoo langsung berlari mengambil kunci mobil lalu, Kyuhyun langsung berjalan kearah mobilnya dan membuka pintu penumpang, masuk bersama Eunso berada dipelukannya, tidak perlu menunggu waktu lama Jaewoo kembali dengan membawa kunci mobil, lalu membawa Kyuhyun dan Eunso kearah rumah sakit.
Kyuhyun menunduk mengusap keringat dingin yang mengalir dari kepala Eunso. Gadis itu memejamkan matanya dan terus-menerus mengerang sakit. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Kyuhyun menyentuhkan tangannya diwajah Eunso. Dingin, itulah yang Kyuhyun rasakan. Kyuhyun mengecup pelan pipi, kening hidung dan bibir Eunso. bermaksud untuk membuat wajah Eunso kembali hangat. “ajhusi nyalakan pemanas mobilnya” perintah Kyuhyun.
Jaewoo mematuhi perintah itu lalu udara dimobil mulai menghangat, tetapi tidak tubuh Eunso. “ya Tuhan, aku butuh selimut” Kyuhyun meraih tangan Eunso lalu mulai menghembuskan nafas hangatnya ditangan Eunso. Eunso tidak lagi mengerang kesakitan melainkan menggigil karena rasa sakit yang tidak bisa ia tahan lagi itu.
Eunso membuka matanya lalu menatap Kyuhyun yang sedang sibuk membuat tangannya menghangat. Eunso meringis sakit merasakan perutnya yang kembali terasa sakit. Apa bayinya akan baik-baik saja? setelah apa yang ia lakukan secara egois tadi? Hanya memikirkan perasaannya yang terluka tanpa memikirkan nasib bayinya? .
“mianhae..” bisik Eunso pelan.
Kyuhyun menatap wajah Eunso bingung. “mianhae tuan..” kemudian gadis itu memejamkan matanya karena tidak sanggup lagi untuk tetap sadar.
Kyuhyun berubah panik. “eunso-yaa..?” tangannya menangkup wajah Eunso, masih dingin.. kenapa tubuh Eunso masih terasa dingin. “buka matamu” Kyuhyun memberikan perintahnya, nafasnya memburu cepat, Kyuhyunpun memeriksa denyut nadi Eunso dilehernya, kemudian menunduk mendengarkan debaran jantung Eunso didadanya. Masih bernafas dan jantungnya masih berdetak.
“ajhusi ppalli” teriak Kyuhyun panik. Jaewoo melajukan mobilnya dengan kecepetan yang bisa ia pakai untuk menerobos jalanan bersalju itu. matanya melirik kearah kaca spion dimana Kyuhyun masih sibuk menghangatkan tubuh Eunso. hati Jaewoo mencelos sedih, kenapa ini harus terjadi pada Eunso? gadis rapuh dengan senyum yang membuat semua orang merasa damai.
.
Mereka tiba dirumah sakit terdekat, Eunso langsung dilarikan keruang unit gawat darurat untuk diperiksa. Kyuhyun menunggu diruang tunggu sementara Jaewoo mengurus segala yang dibutuhkan. Kyuhyun tidak berhenti menggerakkan kakinya dengan cemas, kebiasaan itu selalu terjadi jika Kyuhyun merasa resah. Namja itu tidak pernah sekalipun merasa setakut ini, bahkan ketika ayahnya harus menjalani operasi jantung Kyuhyun masih bisa bersikap tenang, namja itu bahkan bisa membuat ibunya merasa tenang dengan ketenangannya itu. Tetapi kali ini, ingin rasanya Kyuhyun ikut masuk kedalam ruangan itu hanya untuk memastikan kondisi Eunso.
“tuan muda” panggilan Jaewoo membuat Kyuhyun tersadar dari lamunannya, ia menoleh kearah Jaewoo yang berdiri dengan menyodorkan segelas kopi hangat. “anda sebaiknya minum ini”
“tidak.. kau saja”
Jaewoo duduk disebelah Kyuhyun. “tuan muda, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini paddamu tapi..”
“kalau begitu jangan” potong Kyuhyun. “sebaiknya kau simpan saja apa yang ingin kau katakan”
“ne.. geunde.. aku akan tetap mengatakannya sekarang” Jaewoo berkeras.
Kyuhyun sudah bisa menebak apa yang ingin Jaewoo katakan, tetapi namja itu tetap diam untuk mendengarkan, ia butuh pengalihan dari rasa khawatirnya terhadap Eunso. “mouya..?”
“Awalnya aku tidak pernah menyukai ide anda yang ingin menyewa seorang wanita untuk mengandung anakmu, tapi karena aku mengenalmu sejak kau masih bayi aku memiliki perasaan yang khusus padamu, seperti rasa sayang terhadap cucu sendiri, aku pun ingin kau bahagia, karena itu aku mematuhi semua yang kau perintahkan padaku, termasuk membawa Eunso kedalam keegoisanmu”
“tetapi tuan mudaku, ketidak sukaan terhadap ide itu berubah menjadi sebuah harapan, yaitu aku berharap Eunso bisa mengembalikanmu menjadi Cho Kyuhyun yang dulu, yang belum terluka karena ditinggalkan oleh Minhye. Dan anda tahu tuan? Harapan itu hampir saja terkabul ketika Minhye sekali lagi merusakmu. Bukan maksudku menjelekkan nona Minhye, tetapi…” Jaewoo terdiam sejenak. “aku.. setelah Eunso melahirkan bayinya ingin berhenti bekerja”
Kyuhyun menaikkan kealanya menoleh kearah Jaewoo. Berhenti bekerja..?. “kenapa..?”
“Aku pasti akan merasa sangat bersalah ketika melhat bayi itu nantinya, karena aku tahu ibunya harus pergi dan terpisah dari bayinya”
“ajhusi..”
“itu saja tuan muda”
Kyuhyun hendak membantah Jaewoo ketika pintu ruang periksa Eunso terbuka dan seorang suster keluar dari dalam ruangan itu lalu mendekati mereka. Kyuhyun langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri suster itu dengan jantung yang berdetak cepat. “suaminya?”
“aku ayah bayinya” jawab namja itu cepat.
“masuklah, dokter ingin mendengar keputusanmu” Kyuhyun berjalan dengan jantung yang berdebar kencang, apa yang ingin dengar darinya.
Kyuhyun bisa melihat Eunso sedang diperiksa oleh seorang dokter dan dua orang suster, Eunso terbaring lemah diatas tempat tidur periksa dalam keadaan tak berdaya, matanya sudah kembali terbuka dan terlihat menerawang jauh, Eunso menoleh padanya dengan pandangan sayu, Kyuhyun berjalan mendekati Eunso, mengusap kepala gadis itu. Mata Eunso terlihat membuka dan menutup antara sadar dan tidak merasakan kehadiran Kyuhyun.
Satu dokter lagi yang mendekati Kyuhyun, “ Tuan.. istri anda berada dalam keadaan genting, dia tidak bisa melahirkan bayinya secara normal karena kondisi istri anda yang lemah, tetapi kami juga tidak bisa mengoperasinya karena istri anda memiliki tekanan darah yang rendah”
Kyuhyun mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter, ia tidak mengerti satu patah kata pun yang diucapkan oleh dokter itu. “lalu..? apa yang bisa kau lakukan?”
Dokter itu menggelengkan kepalanya. “masalahnya adalah keadaanya sangat genting, kemungkinan salah satu dari mereka tidak bisa diselamatkan”
“mwo..?”
“karena itu aku memanggilmu kemari, jika memungkinkan aku untuk memilih, kau ingin kami menyelamatkan ibunya atau anaknya?”
DEG… Kyuhyun terdiam, terlalu terkejut mendengar pertanyaan dokter itu. “pilihan macam apa itu?” desisnya.
“maafkan aku tuan, tapi anda harus mengambil keputusan dengan cepat, atau kita akan kehilangan mereka berdua. Ibu atau anaknya?”
Kyuhyun menelan salivanya pelan, pilihan apa yang harus ia ambil?, jika ia memilih bayinya itu sama saja artinya dengan Kyuhyun sama sekali tidak peduli dengan Eunso, tetapi jika ia memilih Eunso, maka Kyuhyun akan kehilangan bayi yang sangat ia inginkan selama ini.
Terdengar suara desahan nafas Eunso yang terengah-engah ketika Kyuhyun larut dalam pikirannya, gadis itu terlihat sama sekali tidakberdaya, berusaha untuk tetap tidak kehilangan kesadarannya. Kyuhyun tahu, tidak mudah bagi gadis itu untuk menahan sakit yang saat ini ia rasakan.
“ibunya..” bisik Kyuhyun serak. “kumohon, selamatkan ibunya”
.
.
Eunso POV
Dingin.. aku kedinginan, perutku sakit.. Tuhan, tolong aku.. rasanya begitu sakit. Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat suara berisik disekitarku menyadarkan aku, para wanita berseragam putih sedang berjalan mondar-mandir kesana kemari, aku ditusuk dengan jarum dan ditempeli beberapa selang yang berisi cairan. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku disini..
“aarrgghh..” aku mengerang sakit, perutku sakit.. apa yang tejadi dengan perutku. Tungu, bayiku.. bayiku ada didalam perutku. Aku ingin berteriak bagaimana keadaan bayiku namu suaraku tidak bisa keluar. Aku juga tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan meskipun mereka berbicara dengan keras.
Aku menolehkan kepalaku kekanan melihat sosok namja yang bertubuh tinggi, Cho Kyuhyun, aku mengenalnya.. namja itu adalah ayah bayiku. Mata kami bertemu, sekuat tenaga aku mencoba untuk bertahan dari beratnya mataku. Kyuhyun menoleh kearah dokter dan entah apa yang mereka bicaran, aku ingin mendengarnya.
“anda ingin menyelamatkan bayinya atau ibunya..”
“mwo..? pilihan macam apa itu?”
Apa, apa bayinya terluka?, selamatkan bayinya. Tuan, selamatkan bayinya. Aku mencoba untuk menyuarakan pendapatku namun lagi-lagi yang terdengar adalah erangan dan rintihan sakit dari mulutku. Kyuhyun menoleh padaku sejenak lalu menoleh kearah dokter.
“ibunya.. kumohon selamatkan ibunya”
Anniya.. selamatkan bayinya saja.. tuan.. selamatkan bayinya,, kumohoooonnn…
.
.
.
.
TBC…
Emang bagusnya itu TBC pas disini.. mueehehehehe. #authornya dikeroyok masal. Sorry kalo kependekan.. ><

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: