Need A Baby chapter 5

0
Need A Baby chapter 5 ff nc kyuhyun eunso pregnant
Tittle: Need a Baby?  (Chapter 5)
Cast:
Cho Kyuhyun
Song Eunso
And other cast
Category: Chapter, Romance
Author: Mylittlechick
@bulan kedelapan
Pagi datang lebih dingin dari biasanya, meskipun penghangat didalam kamar terpasang Kyuhyun masih bisa merasakan dinginnya udara. Kyuhyun membuka matanya lalu menoleh kearah jendela, melihat gumpalan-gumpalan kecil berwarna putih jatuh diluar. Salju pertama dibulan desember  datang mengunjungi rumah mereka. Kyuhyun mengusap kedua matanya lalu menoleh kearah Eunso yang masih tidur dengan nyenyak dibawah selimut tebal disisinya.

Semenjak ia memutuskan untuk tidak menahan dirinya terhadap hasratnya kepada Eunso Kyuhyun lebih sering tidur dikamar gadis itu dari pada dikamarnya sendiri. Selain itu juga ia bisa memastikan keadaan Eunso dan bisa merasa tenang karena tidur dengan kepala Eunso berada diatas tangannya. Kyuhyun menarik selimut lebih keatas agar Eunso bisa terlindungi dari udara dingin, lalu berdiri dari tempat tidur dan keluar dari kamar Eunso.
“oo. Tuan muda, anda sudah bangun?” Kyuhyun bertemu dengan Jaewoo diruang tamu. Dengan tangan menggaruk kepalanya Kyuhyun tersenyum kepada Jaewoo. Jaewoo membalas senyum Kyuhyun dengan hati riang, sudah lama ia tahu majikannya itu menghabiskan malamnya dikamar Eunso, bukan hanya untuk berbagi kegiatan panas tetapi sekedar memastikan gadis itu tidur nyenyak setiap malamnya.
Setelah menginjak usia kandungan ke tujuh Eunso sering terbangun ditengah malam dan menjadi gelisah karena posisi tidur yang tidak nyaman atau karena bayi didalam perutnya terus menendang. Kyuhyun dengan piawai menenangkan bayi itu dengan mengusap perut Eunso hingga akhirnya gadis itu bisa tidur dengan tenang.
Kyuhyun menguap pelan, ia masih mengantuk tetapi pekerjaan menantinya pagi ini. “oo..pagi ini udara terasa lebih dingin, ajhusi pastikan kamar Eunso selalu hangat”
“ne tuan”
Kyuhyun berjalan menuju dapur, menuangkan kopi yang sudah disiakan oleh Jaewoo kedalam gelas, matanya menoleh kekiri dan kanan. “apa tukang koran berhenti mengantarkan koran selamanya? Aku lupa kapan terakhir kali aku membaca koran” ujar Kyuhyun bingung.
“sepertinya mereka tidak lagi mengantar hingga kerumah ini” jawab Jaewoo asal. Ia dan Eunso sudah memastikan Kyuhyun tidak menerima koran-korannya setiap pagi.
“ini aneh, bahkan aku juga tidak menemukan koran dikantor”
Jaewoo diam tidak menjawab Kyuhyun sama sekali, tentu saja Jaewoo sudah memastikan Kyuhyun tidak menerima koran ataupun majalah dikantor. Semua hanya untuk mencegah Kyuhyun memngetahui berita tentang Kim Minhye.
“apa Eunso belum bangun?” tanya Jaewoo, mengalihkan pembicaraan.
Kyuhyun menyesap kopinya pelan. “biarkan dia bangun sampai siang, malam tadi dia terbangun lebih sering dari biasanya”
“baik tuan” Jaewoo memutar tubuhnya lalu berjalan menuju kamar Kyuhyun, bergegas menyiapkan pakaian kerja namja itu. Pekerjaan menyiapkan pakaian Kyuhyun kembali padanya ketika Eunso tidak bisa melakukannya, Jaewoo bahkan sudah ditugaskan untuk tinggal dirumah itu, meninggalkan rumah besar karena perintah Kyuhyun dan Younghwa, mereka berdua ingin Jaewoo menemani Eunso disiang hari. Dan Jaewoo menerima keputusan itu dengan senang hati, ia mencari pengganti dirinya untuk mengurusi rumah besar dengan cepat lalu bergegas kerumah ini saat itu juga.
Tidak ada yang tidak merasa gembira karena perubahan hati Kyuhyun. Dua bulan yang lalu namja itu jelas-jelas menunjukkan perubahan sikapnya kepada Eunso, yang awalnya masih sedikit kaku dan dingin kepada Eunso berubah menjadi lebih santai dan lembut. Kehamilan Eunso membawa dampak yang baik bagi Kyuhyun, entah itu karena akan ada kehadiran bayi yang ditunggu-tunggu atau karena Eunsolah alasan perubahan itu, Jaewoo dan younghwa berharap ini akan permanen. Dan mungkin Kyuhyun akan mengubah pikirannya dari membayar uang 100 juta won kepada Eunso menjadi sebuah tawaran pernikahan kepada Eunso. Jaewoo dan Younghwa benar-benar berharap hal itu akan terjadi.
.
Eunso terbangun dalam keadaan membuka matanya dan menemukan sisi tempat tidur disebelahnya telah kosong, ia ingat malam tadi Kyuhyun masuk kekamarnya untuk menenangkan bayinya yang terus mengganggu Eunso dengan tendangan-tendangan kecilnya. Keram diperut juga semakin sering Eunso rasakan akhir-akhir ini. sudah terhitung bulan ketujuh usia kehamilan Eunso dan itu tandanya Eunso akan semakin sulit untuk tidur dimalam hari.
Eunso perlahan bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, langsung menuju kekamar Kyuhyun, didepan pintu kamar Eunso menjulurkan kepalanya untuk melihat apakah Kyuhyun ada dikamarnya, yang dilihatnya adalah Jaewoo sedang merapikan lemari dan Kyuhyun sedang mengancingkan kemejanya. Kyuhyun mengambil dasi dan mengalungkan dilehernya, melihat itu Eunso pun langsung masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Kyuhyun terkejut ketika tangan gadis itu sudah memegang dasi kyuhyun. Gadis itu langsung menyimpul dasi kyuhyun dengan serius. Sudah menjadi kebiasaan Eunso mengikat dasi Kyuhyun, dan dia tidak akan membuang kebiasaan itu karena alasan apapun, setiap pagi mengikatkan dasi Kyuhyun membuat Eunso merasakan adanya sebuah ikatan diantara dirinya dan Kyuhyun, meskipun mereka tidak banyak bicara dan kegiatan itu terjadi dalam diam, Eunso tetap tidak ingin melewati kegiatan pagi itu.
“bagaimana keadaanmu pagi ini?”
“aku merasa sehat” jawab Eunso, tersenyum sebagai hasil akhir dari mengikat dasi itu. Kyuhyun membalas senyum itu dengan ikut tersenyum, tangannya menengadahkan wajah Eunso lalu mencium gadis itu lembut.
“sarapan..” ujar Kyuhyun, memegangi lengan Eunso dan membawa gadis itu keluar dari kamar. Meninggalkan Jaewoo yang harus memutar tubuhnya membelakangi mereka, ketika ciuman singakt itu terjadi, yang selalu merona malu karena tidak sengaja melihat kejadian seperti itu.
.
.
“aku serius.. Cho Kyuhyun tidak pernah lagi menatapku dengan pandangan tidak suka, yang lebih mengejutkan lagi semua pegawai yang pernah ia pecat sekarang kembali bekerja menempati posisi mereka yang dulu. Manager Kang pun menanyai keberadaanmu, sayangnya itu sudah terlambat untuk Cho Kyuhyun mengubah pola pikirnya”
“dia melakukannya?” Eunso tidak bisa menutupi rasa terkejutnya ketika sahabatnya Minri menjelaskan semua itu padanya, seperti biasa menelpon Minri adalah kegiatan yang membuatnya merasa lebih baik, dari Minrilah ia bisa tahu perkembangan diluar sana, jauh dari tempatnya yang terisolasi. Meskipun Kyuhyun sekarang sering mengajaknya berjalan-jalan keluar, Eunso tetap merasa kesepian karena tidak bisa berinteraksi dengan orang-orang diluar.
“dia benar-benar melakukannya, manager Kangpun tidak pernah tahu alasan kenapa dia melakukannya”
Eunso diam, ia tahu kenapa. Mengingat tentang perbincangan mereka ditepi pantai tempo hari, dimana Eunso menceritakan alasan kenapa ia dipecat saat itu. Eunso tidak pernah tahu Kyuhyun akan melakukan hal seperti itu, memanggil kembali orang-orang yang sudah ia pecat? Sungguh ajaib, Cho Kyuhyun selalu bisa membuatnya terkejut.
“kau lihat kan? tidak semua orang berhati besi” ujar Eunso, tersenyum penuh rasa bangga. Ia benar tentang Kyuhyun, namja itu memang memiliki hati.
“oo.. aku masih berfikir seseorang sudah bisa menjinakkannya”
‘seorang bayi’ jawab Eunso dalam hati. “apapun itu Minri-ya.. tidakkah itu berdampak baik?”
“oo.. sangat baik.. aah, Halmobi bilang dia merindukanmu dan menginginkan fotomu” Minri tertawa keras. “tapi kukatakan padanya kau tidak bisa mengambil satu selca  karena peraturan yang ketat. Bayangkan apa yang akan terjadi padanya jika kau mengirimkan fotomu yang sedang hamil tujuh bulan”
Eunso tertawa bersama Minri. “katakan padanya aku baik-baik saja, dan akan kembali sekitar dua atau tiga bulan lagi”
“jadi akhirnya akan seperti itu?” tanya Minri tiba-tiba. “setelah kau melahirkan kau akan pergi meninggalkan bayimu bersamanya?”
Eunso terdiam. “memang seperti itu perjanjiannya bukan”
“ya.. aku tahu, tapi.. kau terdengar bahagia setiap kali kita berbicara ditelepon, aku malah sempat berfikir kau sudah menikah dan hamil bukannya hamil karena dibayar”
Eunso mengusap perutnya . “aku harus bahagia, ini demi kesehatan bayinya” jawab Eunso sendu.
“ya sudah.. semangatlah Eunso –ya..”
“ne.. gomawo Minri-ya”
Eunso menurunkan ponselnya lalu menerawang jauh kedepan. Ia tidak pernah berfikir bagaimana kondisinya nanti setelah melahirkan? apa ia masih harus pergi setelah bayi ini lahir atau bagaimana?. Melihat dari semua perhatian Kyuhyun akhir-akhir ini menimbulkan sebuah harapan di hati Eunso. ia sadar ia tidak boleh mengharapkan hal ini, tapi Eunso sudah mencintai bayi yang ada didalam kandungannya, ia tidak sanggup membayangkan harus meninggalkan bayi ini setelah ia melahirkannya. Ditambah lagi, Eunso juga tidak sanggup membayangkan ia harus pergi jauh dari sisi Kyuhyun. Karena Eunso sudah jatuh cinta tidak hanya pada bayinya tetapi pada ayah bayinya juga.
“Eunso-ya.. kenapa melamun?”
Eunso tersentak dari lamunannya lalu menoleh kearah Jaewoo, ia lupa bahwa namja tua itu sekarang tinggal bersama dirinya dan Kyuhyun. “aaniya” jawab Eunso cepat.
“kau ingin makan sesuatu?”
“tidak ajhusi, gomawo”
“ya sudah.. jika perlu sesuatu kau bisa memanggilku”
“ajhusi..” panggil Eunso.
“ne..?”
Eunso ragu sejenak ketika sebuah pertanyaan muncul dibenakknya. “aa.. anniya..” Eunso pun menggelengkan kepalanya.
Jaewoo mengertukan alisnya bingung, tetapi tidak lantas bertanya apa yang membuat gadis itu ragu. Jaewoo pun akhirnya pergi meninggalkan Eunso.
.
.
“ooh.. hari ini kau aktif sekali” Eunso mengusap perutnya, menyentuhkan tangannya pada bagian yang tadi ditendang oleh bayinya. Eunso menyukai hal ini, setiap hari merasakan pergerakan bayi itu membuatnya bahagia.
“dia bergerak lagi?” Eunso menolehkan kepalanya kearah Kyuhyun yang baru saja datang kearahnya dengan membawa segelas susu untuk Eunso. Namja itu meletakkan gelas susu diatas meja lalu duduk disebelah Eunso di sofa empuk ruang tamu. Tanganya mengusap perut Eunso sambil tersenyum geli. “oo.. dia menendang tanganku”
“dia sehat sekali bukan?” tanya Eunso bangga.
“oo.. sangat sehat” Kyuhyun menundukkan kepalanya lalu mencium Eunso, setiap kali mereka berdekatan Kyuhyun selalu menyempatkan dirinya untuk mencium gadis itu. Semenjak Eunso sering mengalami keram diperut Kyuhyun berhenti bercinta dengan gadis itu, tetapi ia tidak berhenti menciumi gadis itu.
Kyuhyun mengusapkan tangannya dipipi gadis itu, lidahnya menjelajah dibibir Eunso, menikmati setiap senti dari bibir itu. Kyuhyun berhenti mencium Eunso sebelum ia tidak lagi bisa menahan diri, mengambil gelas susu dan memberikannya kepada Eunso. “susumu” ujarnya.
Eunso mengambil susu itu dengan senang hati lalu meminumnya sampai habis. Kyuhyun selalu menyempatkan diri untuk membuat susu untuk Eunso, satu hal yang akan Eunso rindukan jika semua ini harus berakhir. Pikir gadis itu. Selesai meminum susunya Eunso menjilati bibirnya dari sisa gelembung susu yang menempel pada bibirnya. Melihat itu Kyuhyun pun mengambil alih dengan mencium Eunso sekali lagi.
Terjadi keheningan setelah itu, mereka memang selalu melakukan sesuatu dalam keheningan, tetapi tidak ada seorang pun yang berniat memecahkan keheningan itu, cukup dengan gerakan dan tindakan yang terjadi diantara mereka, itu sudah membuat semua yang mereka rasakan tergambar jelas. Sentuhan ringan atau belaian lembut diantara mereka terasa lebih penting daripada sekedar bercakap-cakap. Eunso sudah sangat sering ingin menanyai tentang kegiatan Kyuhyun, tetapi seperti janji diawal Eunso dilarang mencampuri urusan Kyuhyun. Dari Minrilah Eunso bisa tahu apa saja yang Kyuhyun kerjakan dikantor.
“dimana ajhusi?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.
“ajhusi sedang pergi membeli kebutuhan makanan”
“oo..”
“waeyo..?”
“aku ingin memintanya mencari dokumen dilemari berkas-berkas”
“biar aku saja” tawar Eunso, berusaha untuk berdiri dari sofa
Kyuhyun memegang pergelangan tangan Eunso, menahannya tetap duduk disana. “kau pikir apa yang ingin kau lakukan?, duduk saja disini”
“tapi aku ingin membantumu”
“tidak perlu, aku saja” Kyuhyun berdiri dari sofa lalu bergegas menuju ruang penyimpanan dokumen. Rumah itu sudah lama menjadi tempat kedua bagi Kyuhyun ataupun ayahnya untuk bekerja, jika ia merasa penat karena seharian berada dikantor ia akan pulang kerumah itu dan membawa serta pekerjaannya sambil menikmati sejuknya udara dirumah itu. Seperti hari ini, ia memutuskan untuk bekerja dirumah dari pada harus ke kantornya. Akhir-akhir ini ia lebih suka berada dirumah, bekerja dengan Eunso berada didekatnya dari pada bekerja dikantor sedangkan pikirannya tertuju pada seorang wanita yang berada dirumah ini.
Kyuhyun tidak mengerti apa yang ia rasakan kepada gadis itu, tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Seperti alam bawah sadar yang bertindak sesuai isi hatinya. Kyuhyun sudah sering berperang dengan dirinya sendiri mengenai Eunso. Jika otaknya berfikir untuk menghindari Eunso tapi tubuhnya malah berbalik melawannya dan mendekati Eunso. Karena itu Kyuhyun pun menyerah dan membiarkan tubuhnya bergerak sesuai keinginannya sendiri.
Kyuhyun tidak menemukan apa yang ia cari dilemari itu, iapun bergegas ke gudang yang berada dilantai paling bawah. Biasanya Jaewoo selalu membawa berkas-berkas yang sudah tidak digunakan lagi ke gudang. Kyuhyun menyalakan lampu digudang lalu berjalan menuju lemari usang yang menjejerkan tumpukan dokumen. Mata Kyuhyun berhenti disebuah box yang letaknya tidak jauh dari sana, ia melihat sesuatu yang selama ini menghilang dimejanya setiap pagi.
Kyuhyun menaikkan alisnya bingung melihat tumpukan koran didalam box itu. Kenapa ada banyak koran disini? Pikirnya. Ia mengambil koran itu melihat tanggal dari koran-koran itu, Kyuhyun menyadari dari tanggal-tanggal yang tertera disana Koran-koran itu adalah koran-koran yang tidak pernah dilihatnya belakangan ini. Kyuhyun mengambil lagi satu koran dengan bingung, siapa yang menyimpan koran-koran ini digudang?. Ia ingat sering bertanya kepada Eunso dan gadis itu mengatakan korannya tidak pernah datang, sebenarnya kenapa gadis itu menyembunyikan koran-koran ini.
Tangan Kyuhyun berhenti disatu koran dengan judul yang sangat besar dihalaman serta foto seorang wanita yang sudah sangat ia hapal wajahnya itu.
SIDANG PERCERAIAN KIM MINHYE BERLANGSUNG SENGIT
Kyuhyun mengambil satu koran lagi
KIM MINHYE AKHIRNYA BERCERAI, PUTUSAN HAK ASUH ANAK JATUH PADA PADANYA
Satu koran lagi
KIM MINHYE BERJUANG MATI-MATIAN UNTUK MENDAPATKAN KEMBALI PUTRINYA
Kyuhyun mencengkeram kuat koran itu ditangannya, dadahnya mendidih karena marah. Jadi ini alasan Kyuhyun tidak pernah melihat koran-koran ini. Dengan marah kyuhyun bergegas keluar dari gudang itu, berjalan dalam emosi yang memanas menuju gadis yang saat ini sedang mencuci piring kotor.
BRAAAKKK… Kyuhyun melempar koran-koran itu diatas meja makan. Eunso terlonjak kaget kemudian memutar tubuhnya cepat, mendapati tatapan kemarahan Kyuhyun, Eunso pun salah tingkah.
“katakan padaku apa maksud dari semua ini” bentak Kyuhyun
Eunso menoleh kearah koran-koran itu lalu mengerti, Kyuhyun marah karena namja itu tidak mendapatkan koran-korannya. “maafkan aku tuan, tapi..”
“BUKANKAH SUDAH PERNAH KUBILANG UNTUK TIDAK MENCAMPURI URUSANKU?” teriak Kyuhyun.
Eunso tersentak kaget mendengar nada suara yang keras, dan penuh kemarahan itu. Ia tidak bermaksud untuk ikut campur tapi Jaewoo memintanya untuk menyembunyikan koran-koran itu. “maafkan aku tuan, aku tidak akan menghalangimu membaca koran lagi”
“sudah terlambat untukmu emminta maaf, gadis muda. Kau membuatku kecewa dengan kelancanganmu mencampuri urusanku”
“tapi..”
“apa yang kau ketahui tentang Minhye?”
“Minhye..?” tanya Eunso bingung
Kyuhyun mendecakkan lidahnya. “aku tidak akan pernah memaafkanmu karena telah lancang menyembunyikan berita perceraian Minhye dariku” Kyuhyunpun berbalik cepat meninggalkan Eunso yang kebingungan. Kyuhyun bergegas mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Namja itupun melesat dengan cepat bersama mobilnya.
Eunso masih berdiri diam dalam kebingungan, yang ia lakukan hanyalah menyembunyikan koran itu seperti yang diperintahkan oleh Jaewoo, ia tidak pernah tahu bahwa menyembunyikan koran itu bisa membuat Kyuhyun semarah tadi. Eunso mengambil koran yang tergeletak diatas meja lalu membaca judulnya cepat, menemukan nama Kim Minhye dijudulnya. “siapa Minhye..?” bisik Eunso.
.
Jaewoo pulang dengan membawa kantung belanjaan ditangannya, masuk kedalam rumah dengan perasaan riang seperti biasanya. Jaewoo terkejut melihat Eunso sedang duduk termenung dengan memegang erat sebuah koran ditangannya. “ajhusi, aku sudah menunggumu dari tadi” ujar gadis itu.
Jaewoo meletakkan belanjaanya diatas meja. “ada apa?” tanya namja itu khawatir.
“kenapa kau menyuruhku menyembunyikan koran-koran itu?, siapa Kim Minhye?”
Jaewoo menaikkan alisnya kemudian ia mengerti, melihat dari judul yang tertera dikoran itu adalah koran lama. “diamana tuan muda?”
“tuan pergi setelah menemukan koran-koran ini” jelas Eunso.
“ya Tuhan” Jaewoo mendesahkan nafasnya, menyadari bahwa Kyuhyun sudah tahu tentang Minhye, bukan itu saja Jaewoo tahu, Kyuhyun akan sangat murka kepada siapa saja yang menyembunyikan berita ini darinya.
“ajhusi, siapa itu Kim Minhye?” tanya Eunso lagi.
.
.
.
Pintu apartemen itu dibuka menampilkan sosok wanita bertubuh langsing, rambut cokelatnya terurai panjang sampai batas pinggang, wajahnya yang cantik masih terlihat cantik meskipun lingkaran hitam menghiasi matanya. “Kyu-aaa..”
“Hyee-aa..” Kyuhyun langsung merentangkan tangannya memeluk wanita itu, wanita itu menangis tersedu-sedu dipelukan Kyuhyun.
“kenapa kau baru menghubungiku sekarang? Kenapa..? aku menunggumu.. aku kesepian.. aku membutuhkanmu” wanita itu meraung menangis, memukul dada Kyuhyun pelan, mengeluarkan semua rasa frustasi yang ditanggungnya berbulan-bulan terakhir ini.
“maafkan aku.. aku baru tahu mengenai berita yang menimpamu” Kyuhyun menundukkan kepalanya mengusap airmata wanita itu. “uljima Hye-aa, kau menyakiti hatiku dengan melihatmu menangis”.
“Syukurlah.. akhirnya kau mau menghubungiku” Minhye mengeratkan pelukannya didada Kyuhyun, gadis itu merasa tenang dan aman karena Kyuhyun sudah berada dihadapannya, memeluknya dan memberikannya ketenangan. Minhye tidak pernah sadar bahwa ia benar-benar membutuhkan Kyuhyun hingga hari ini.
“kenapa kau tidak pernah menghubungiku?” tanya Kyuhyun.
“aku menghubungimu, aku menelpon kerumahmu tapi ibumu bilang kau sudah tidak tinggal bersama dengannya lagi, dikantor juga kau sulit sekali untuk ditemui”
Kyuhyun mengeraskan rahangnya, jadi ini semua karena campur tangan ibunya, Kyuhyun yakin Jaewoo juga ikut ambil bagian dari persekongkongkolan menyembunyikan berita Minhye darinya. Mereka bermaksud untuk menjauhkan Minhye darinya.
“maafkan aku, sekarang aku ada disini” Kyuhyun mengusap rambut Minye. Lalu membawa gadis itu masuk kedalam rumah.
“aku tidak pernah tahu aku akan menderita setelah menikah dengannya, semua bayangan akan kebahagiaan setelah menikah denganya menghilang begitu saja setelah setahun pernikahan kami, bahkan setelah Minyoung lahir perasaan bahagia itu tidak pernah ada. Aku bahagia Minyoung ada diantara kami tapi perasaanku selalu merasa kosong, aku kesepian”
Kyuhyun mgnggenggam jemari Minhye ditangannya mendengarkan dengan seksama cerita minhye. Tangannya sesekali mengusap airmata yang jatuh dipipi gadis itu. “aku masih sanggup bertahan sampai akhir jika saja aku tidak menemukannya sedang bersama wanita lain”
“apa maksudmu bersama wanita lain?”
Airmata kembali jatuh dipipi wanita itu. “dia menghianatiku, dia tidur bersama wanita lain” Minhye mengigit bibir bawahnya mengingat kejadian yang begitu membuatnya terpukul, bukan saja karena menemukan suaminya tidur bersama wanita lain, tapi wanita itu adalah wanita yang ia kenal. Pengasuh anaknya sendiri dan mereka bercinta dibawah atap yang mereka tinggali bersama. “aku membenci wanita itu, dia merebut anak juga suamiku. Tapi ini salahku, seharusnya aku mengurus anakku sendiri dan melupakan ambisiku untuk kembali berkarir didunia artis. Ini salahku”
“ssstt… uljima, tidak ada yang salah, semua memang sudah terjadi”
“seharusnya aku tidak pernah menikah dengannya hanya karena iming-iming karirku akan menanjak. Aku memang bodoh”
“sudahlah Minhye.. tidak ada gunanya menyesali” Kyuhyun menarik Minhye kedalam pelukannya lagi, menenangkan gadis itu. “kau tidak boleh menangisi namja seperti itu”
“aku tidak menangisinya, aku hanya menyesali apa yang sudah kulakukan”
“tidak perlu disesali, sekarang kau harus melihat kedepan”
“dia mengambil putriku Kyuhyun-aa.. aku ingin putriku”
“aku akan membawa Minyoung padamu, aku janji”
.
.
Eunso dan Jaewoo beridiri terpaku diruang tamu, mereka mendengar mobil Kyuhyun berhenti dihalaman rumah, bersia-siap untuk menjelaskan alasan koran-koran yang disiman digudang itu. Jaewoo sudah menjelaskan kepada Eunso siapa Minhye selagi Kyuhyun pergi. Sekarang Eunso mengerti kenapa Kyuhyun semarah itu, siapapun pasti akan sangat marah jika ada yang menyembunyikan berita tentang wanita yang dicintainya. Wanita yang dicintai oleh Kyuhyun?.
Eunso merasakan sesak didadanya ketika Jaewoo mengatakan kalimat itu, rasanya sulit membayangkan Kyuhyun mencintai wanita lain. Eunso menggelengkan kepalanya, sadar bahwa ia tidak berhak untuk merasa cemburu, bagi Kyuhyun. Eunso bukanlah siapa-siapa, hanya wanita yang bertugas untuk mengandung anaknya. Eunso ingat Minri pernah menyebutkan tentang ini padanya, wanita yang dicintai Kyuhyun menikah dengan namja lain. Kenapa Eunso bisa melupakan cerita penting seperti itu? karena wanita itulah Kyuhyun berubah menjadi namja yang dingin dan tidak berperasaan bukan?.
Kyuhyun masuk kedalam rumah, membuat Eunso dan Jaewoo semakin tegang. Kyuhyun masuk dengan ekspresi keras dan masih tersirat kemarahan diwajahnya, Eunso dan Jaewoo bisa melihat seseorang yang masuk dibelakang mereka, seorang wanita langsing berwajah cantik dengan rambutnya yang bergelombang tergerai dipunggung wanita itu. Eunso menciut, wanita itu terlihat menderita tetapi masih terlihat sangat cantik. Tentu saja, pikir Eunso. Siapapun pasti akan jatuh cinta pada wanita itu hanya dengan sekali bertemu.
Minhye terkejut melihat Jaewoo dan Eunso berdiri seperti sedang menyambut mereka. Matanya berhenti ketubuh Eunso yang sedang hamil. “siapa dia? Istrimu?” tanya Minhye.
Kyuhyun melirik kearah Eunso lalu menggelengkan kepalanya. “kau tahu aku tidak akan pernah menikah”
“oo.. lalu dia siapa? Jangan bilang kau mempekerjakan pembantu yang sedang hamil” tegur Minhye.
“dia bukan siapa-siapa.. ayo kuantar kekamarmu”
Minhye melirik kearah Jaewoo sekali lalu tersenyum. “annyeong Jaewoo ajhusi”
“annyeong nona Minhye” jawab Jaewoo sopan.
Kyuhyun berjalan dengan tangan sebelah menggandengan tangan Minhye dan tangan sebelah membawa koper wanita itu. Eunso merasakan tikaman tajam didadanya ketika melihat pemandangan itu, Kyuhyun tidak pernah menggandeng tanganya seperti itu, aah tidak.. untuk apa ia merasa cemburu. Eunso menatap kosong kelantai yang dipijaknya, dadanya terasa sesak dan sakit sejak Kyuhyun mengatakan dirinya bukanlah siapa-siapa. Untuk beberapa bulan Eunso lupa, bahwa dirinya memang bukanlah siapa-siapa dikehidupan Kyuhyun. tidak.. Eunso sadar itu hanya saja, rasanya baru begitu menyakitkan ketika Kyuhyun yang mengatakannya dan mengingatkan Eunso akan posisinya, ini seperti tamparan keras bagi Eunso untuk memahami arti dirinya bagi Kyuhyun.
‘”Eunso-ya.. gwencana?” suara Jaewoo terdengar samar-samar, seolah-olah namja itu berbicara dikejauhan yang nyatanya sedang berdiri disebelahnya.
“euhmm..” Uenso menganggukkan kepalanya dan menatap kosong kedepan.
“kenapa tuan membawa wanita itu kesini?” desis Jaewoo kesal. Melihat Eunso yang terdiam seperti ini membuat Jaewoo semakin merasa bersalah, karena dirinya yang menyuruh Eunso menyembunyinkan koranlah Kyuhyun marah besar kepada gadis itu. “ayo.. kau harus istirahat bukan?” Jaewoo menarik lengan Eunso untuk pergi dari ruang tamu itu, dan mencari cara agar Eunso tidak merasa sedih.
.
.
“kau benar-benar tidak perlu membawaku kesini Kyu-aa.. aku bisa tinggal dirumah ku sendiri” Minhye menyuarakan protesnya kepada Kyuhyun ketika memasuki kamar, melihat ekspresi terkejut Eunso dan Jaewoo membuat Minhye semakin keberatan dibawa kerumah itu. Entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa gadis yang sedang mengandung itu memiliki sebuah ikatan dengan Kyuhyun, karena jelas terlihat ekspresi terluka diwajahnya ketika Kyuhyun mengatakan gadis itu bukan siapa-siapa.
“aku hanya ingin tetap melihatmu berada didekatku selama aku mengambil putrimu” Kyuhyun meletakkan koper Minhye disudut kamar lalu menyentuhkan lembut tangannya dipipi Minhye. “aku akan membawanya kepadamu, aku janji. Istirahatlah” Kyuhyun meninggalkan Minhye sendirian untuk beristirahat dikamar itu.
Kyuhyun bertemu dengan Jaewoo tepat didepan kamar Minhye. “tuan muda, aku bisa menjelaskan semuanya. Eunso tidak tahu apa-apa mengenai Minhye, aku yang memerintahkan Eunso untuk menyembunyikan koran itu, dia tidak salah”
“benar, kau memang salah. Dan aku marah padamu”
“ne.. marahlah padaku, asal anda tidak memarahi Eunso”
“dia juga bersalah karena mematuhimu. Apa Eomma yang memintamu melakukan ini semua?”
“aku juga berinisiatif sendiri tuan”
“wae..?”
“karena kami tidak ingin anda terus-terusan dihantui oleh bayangan nona Minhye. Kami ingin anda bahagia”
“kalian berdua berfikir aku akan bahagia dengan tidak tahu berita tentang Minhye yang menderita”
Jaewoo mengerutkan alisnya, rasanya terdengar sangat kejam jika Kyuhyun mengatakannya seperti itu. “maafkan aku tuan” sesal Jaewoo.
Kyuhyun menatap tajam kearah Jaewoo lalu matanya melirik kearah Eunso yang berdiri tidak jauh dibelakang Jaewoo. Gadis itu terlihat sangat bersalah dan siap untuk menerima kemarahan Kyuhyun lagi. Kyuhyun memejamkan matanya menahan amarahnya sendiri. Perasaannya terhadap Eunso campur aduk saat ini, ia marah karena gadis itu ikut campur dalam urusan kehidupannya sekaligus merasa bersalah karena dengan tega mengatakan bahwa Eunso bukanlah siapa-siapa. Tunggu, Eunso memang bukan siapa-siapa baginya, gadis itu hanya wanita yang ia bayar untuk mengandung anaknya.
Kyuhyun menatap tajam kearah Jaewoo.  “kali ini kau kumaafkan karena aku masih membutuhkanmu. Tapi lain kali, aku akan memastikan kau menyesal telah membuatku marah”
“ne.. tuan. Terima kasih”
Kyuhyun berjalan melewati Jaewoo, kemudian melewati Eunso tanpa melihat gadis itu sedikit pun. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap gadis itu.
Eunso menggigit bibir bawahnya menatap kepergian Kyuhyun, baru kali ini ia melihat Kyuhyun begitu marah dan dingin padanya. Ingin rasanya Eunso berteriak, menangis dan meminta maaf tapi Eunso tetap diam, sadar akan posisinya dirumah itu.
.
.
.
Keesokan paginya Eunso tidak berani mendekati Kyuhyun, bahkan ketika Kyuhyun berpakaian lengkap dan mengikat dasinya sendiri Eunso tetap bergeming didepan pintu kamar Kyuhyun. Biasanya Eunso akan masuk tanpa meminta izin dan mengikatkan dasi itu, tidak ada yang bisa ia lakukan pagi ini.
Setelah bangun pagi ini Eunso bergegas kedapur, bersiap memasak sesuatu tetapi tugas itu sudah diambil alih oleh seorang wanita cantik. Wanita itu terlihat cantik, memakai baju yang modis dan rambutnya yang bergelombang dikuncir dibelakang, tulang pipinya yang tinggi membuat bentuk wajah wanita itu terlihat lebih kecil. Cantik, wanita itu terlihat cantik dari segi manapun juga. Eunso melirik tubuhnya yang membulat, kakinya sudah mulai membengkak dan rambutnya tidaklah seindah rambut Minhye. Eunsopun memutar tubuhnya dan bergegas meninggalkan dapur.
Eunso pun berjalan kekamar Kyuhyun hendak menyiapkan pakaian kerjanya seperti biasa, tapi tugas itu juga sudah diambil alih oleh Jaewoo. Jadi disinilah Eunso hanya bisa berdiri didekat pintu mengintip kegiatan Kyuhyun yang sedang mengikat dasinya. Eunso termenung, apa tugasnya mengurus kebutuhan Kyuhyun telah selesai?, tapi Eunso menikmati setiap detik yang ia lewati dalam mengurus kebutuhan Kyuhyun.
Eunso berjalan meninggalakan kamar dan kembali menuju kedapur. “apa ada yang bisa kubantu?” tanya Eunso ragu-ragu.
Minhye menoleh kebelakang dan tersenyum kepada Eunso, senyum yang sangat memikat. “tidak perlu, kau duduk saja, aku bisa melakukannya sendiri”
“oh.. ne” Eunso sudah menarik kursi makan ketika Kyuhyun masuk kedapur bersama dengan Jaewoo. Jantungnya berdebar kencang melihat Kyuhyun lebih dekat pagi ini. Matanya terus memandangi Kyuhyun, menunggu namja itu melihatnya sambil tersenyum lalu mengusap kepalanya seperti biasa, tapi Eunso harus kecewa ketika Kyuhyun berjalan mendekati Minhye dan tersenyum kepada gadis itu.
“apa yang kau lakukan? Kau bisa memasak?” nada suara Kyuhyun terdengar penuh dengan candaan.
“tentu saja aku bisa, aku ini wanita yang sudah pernah menikah dan memiliki putri berusia 5 tahun”
“geure..? aku yakin rasanya enak”
“tentu saja, duduklah akan kusiapkan”
Kyuhyun tertawa pelan lalu menarik kursi dan duduk, gerakannya yang hendak duduk berhenti ketika matanya bertemu dengan mata Eunso, ekspresinya jelas terlihat terkejut melihat Eunso disana, seolah-olah ia lupa jika Eunso berada dirumah itu dan sendang mengandung anaknya. Kyuhyun mengalihkan matanya cepat lalu berseru. “cepatlah aku lapar” ujarnya serak, dan sedikit terdengar manja.
Eunso menolehkan kepalanya kearah Jaewoo yang diam-diam memperhatikan ekspresi Eunso, gadis itu memaksakan senyumnya lalu menyapa Jaewoo. “ajhusi selamat pagi”
“selamat pagi Eunso-ya.. bagaimana pagi mu?”
“selalu baik ajhusi”
“ini makanlah Kyu-aa..” Minhye meletakkan semangkuk nasi diatas meja untuk Kyuhyun. “kalian juga, duduklah” ujar Minhye kepada Eunso dan Jaewoo. Jaewoo mengundurkan dirinya dari meja makan itu, agar bisa menyiapkan keperluan yang lain, meninggalkan Eunso sendirian dalam suasana yang canggung dengan Kyuhyun. Meskipun Kyuhyun sama sekali tidak menganggap gadis itu ada karena terlalu senang melihat minhye ada didekatnya.
“wooah.. ini enak” Eunso menolehkan kepalanya kepada Kyuhyun ketika kata pujian itu keluar dari mulutnya, namja itu tidak pernah sekalipun memuji masakannya. Ia hanya makan dan menghabiskan makanannya lalu pergi begitu saja. Eunso tersenyum miris, apa yang kau inginkan Song Eunso? mendengarnya memuji masakanmu? Mengatakan bahwa kau cantik? Mengucapkan kata-kata rayuan seperti yang tadi Kyuhyun lakukan kepada Minhye? Kau harus sadar posisimu gadis bodoh. Eunso menguatkan dirinya sendiri lalu mulai menyuapi makanannya, rasa makanan itu tidak lebih enak dari apa yang sering ia masak. Dan lagi-lagi Eunso tersenyum miris.
.
.
Kyuhyun pergi dengan perasaan aneh, rasa bersalah kedapa seorang wanita yang ia hiraukan pagi ini. ia tidak benar-benar mengacuhkan Eunso, karena jauh didalam dirinya sadar akan kehadiran gadis itu. Ketika gadis itu mengintip dari balik pintu kamarnya pagi tadi Kyuhyun sudah menyadari kehadiran Eunso, diruang makan pun Eunsolah yang pertama kali dilihatnya sebelum ia menghampiri Minhye.  Namun Kyuhyun tetap berpura-pura mengacuhkan Eunso, karena dia masih marah kepada gadis itu. sangat marah.
Kyuhyun pergi ke kantor dengan melirik Eunso yang berdiri jauh dibalik pintu rumah. Biasanya Eunso yang mengantarnya pergi dan Kyuhyun selalu mencium gadis itu sebelum pergi tapi hari ini ia harus melewati kegiatan itu, karena ia ingin membuat gadis itu mendapati pelajaran agar tidak ikut campur lagi dalam urusan kehidupannya. Kyuhyun pun pergi kekantornya dalam keadaan marah. Entah marah karena apa.
.
.
“jadi siapa namamu?” Minhye tidak bisa menutupi rasa penasarannya kepada Eunso.
“Song Eunso imnida” jawab Eunso, tersenyum kepada Minhye. Minhye membalas senyum itu lebih manis darinya.
“jadi apa yang kau lakukan disini Eunso-ssi?”
“aku.. aku bekerja disini”
“bekerja? membersihkan rumah?”
“nee..” hanya itu yang sanggup Eunso jawab.
“ooh.. aku rasa terlalu beresiko untukmu sekarang bekerja membersihkan rumah bukan? Kau hamil berapa bulan?”
“tujuh menjelang delapan bulan”
Minhye menganggukkan kepalanya, “kau seharusnya berhenti bekerja dan mulai beristirahat dirumah. Persalinan tidaklah mudah”
“ne.. tapi aku tidak punya rumah lagi”
“aa.. aku mengerti” Minhye tersenyum kepada Eunso. Wanita itu tidak hanya cantik tapi juga memiliki senyum yang sangat ramah, Eunso yakin wanita itu juga sangat baik. Tidak heran jika Kyuhyun benar-benar mencintai wanita itu. pikir Eunso.
.
.
BRAAAKK… sosok ramping Kim Younghwa melesat kedalam kantor milik Kyuhyun. Wanita yang telah melahirkan Kyuhyun itu terlihat benar-benar berang. Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari tumpukan dokumen kepada ibunya.
“kau benar-benar membawa wanita murahan itu kerumah? Dimana ada Eunso didalamnya?”
“siapa yang eomma sebut wanita murahan?”
“siapa lagi? Kim Minhye..!!” sentak ibunya
“eomma..!!”
“apa yang kau pikirkan dengan membawa wanita itu kerumah itu?”
“itu urusanku bukan urusan eomma”
“tentu saja itu juga urusanku, ini masalah kesejahteraan wanita yang sedang mengandung anakmu”
“eomma tidak perlu menghawatirkan kesejahteraan Eunso”
“apa kau tidak memikirkan perasaan Eunso?”
“apa emma tidak memikirkan perasaanku dengan menyembunyikan berita perceraian Minhye?” ujar Kyuhyun, balik bertanya.
“yang aku lakukan adalah agar kau menjauh dari kehidupan wanita itu, dan memulai hidup baru bersama Eunso”
“Eunso, disana hanya untuk mengandung anakku. Tidak lebih” bentak Kyuhyun.
“kau yakin hanya itu posisi Eunso dirumah itu Kyuhyun-aa..?” tanya ibunya penuh makna.
Kyuhyun terdiam, tentu saja hanya itu. Kyuhyun berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “setelah Eunso melahirkan dia akan pergi sesuai perjanjian yang telah ditetapkan. Berhenti menganggapnya sebagai menantumu, aku tahu kau menganggapnya seperti itu. Karena dia tidak akan pernah menjadi menantumu”
“tapi dia tetap ibu dari cucuku”
“dia hanya wanita yang mengandung anakku”
Younghwa mengeraskan rahangnya, berusaha sebisa mungkin menahan desakan airmatanya. Tidak mungkin putranya bisa benar-benar kejam seperti in?, ia pikir Kyuhyun sudah kembali menjadi Kyuhyunnya yang dulu, kehadiran Eunso benar-benar membawa dampak positif bagi Kyuhyun, tapi semua itu lagi-lagi dirusak karena kehadiran wanita bernama Kim Minhye. “jika kau melakukannya Cho Kyuhyun, aku tidak akan pernah mau menganggapmu anakku lagi”
Younghwa melesat keluar dari ruangan kantor itu meninggalkan Kyuhyun dalam kemarahan yang memuncak, ibunya memarahinya karena Eunso. Kyuhyun pun merasa geram kepada gadis itu.
.
.
Nyonya Cho tidak pernah mengizinkan dirinya sendiri untuk mendatangi rumah itu, karena ia tahu ia tidak akan tahan untuk tidak memaki Minhye. Kyuhyun merasa bersyukur karenanya, ia jadi tidak perlu khawatir Minhye akan merasa bersalah dan berniat untuk pergi dari rumah itu. Ia ingin terus memastikan Minhye aman berada diperlindungannya selagi ia mencari cara untuk merebut kembali putri Minhye. Ia sudah menyewa pengacara handal untuk kasus itu. dan berkat kecekatan kerjanya, Minyoung sebentar lagi akan pulang kepada ibunya.
Kemarahannya kepada Eunso semakin membumbung tinggi, selain ibunya menjadi musuhnya sekarang ia juga tidak suka dengan perasaan bersalahnya kepada gadis itu, ia benci merasa lemah dan bersalah seperti itu, karena itu ia mengumpulkan rasa bersalah itu menjadi rasa marah kepada Eunso. Akibat perasaan itu Eunso harus menerima resikonya, gadis itu tidak hanya diacuhkan tapi ia benar-benar tidak terlihat dimata Kyuhyun. tidak peduli tubuh gaids itu membengkak dengan perutnya yang membulat, Kyuhyun tetap tidak melirik gadis itu sama sekali.
Melihat Eunso mengerutkan keningnya karena terluka semakin membuat Kyuhyun marah, ia membentak dan menjawab pertanyaan eunso dengan sangat ketus. Membuat Minhye bertanya-tanya kenapa Minjun sekejam itu kepada Eunso, tetapi wanita itu tidak berani bertanya, ekspresi keras dan kejam Kyuhyunlah yang membuatnya tidak berani menyebutkan perihal Eunso jika mereka berdua saja.
.
Eunso menyadari keengganan Kyuhyun berada disatu ruangan dengannya saat ini, karena itu ia memutuskan untuk tetap berada didalam lingkup kamarnya. Berbaring ditempat tidurnya sambil mengusap perutnya yang lebih sering merasa keram. Kyuhyun melupakan kebiasaannya menenangkan perutnya, ia juga melupakan kenyataan bahwa Eunso sedang mengandung anaknya, karena namja itu benar-benar mengacuhkan Eunso. bahkan tidak melihat gadis itu sama sekali.
Suara mobil yang berhenti dihalaman rumah mengalihkan perhatian Eunso, gadis itu berjalan kearah jendela lalu melebarkan matanya terkejut melihat Kyuhyun menggandeng tangan seorang gadis kecil. Dilihat dari wajahnya gadis itu terlihat mirip dengan ibunya, Eunso yakin gadis itu adalah anak Minhye.
Eunso berjalan keluar dari kamarnya dan melihat keruang tamu, dimana saat itu Minhye tengah menangis sambil memeluk gadis kecil itu, anak perempuan itupun memeluk ibunya sambil menangis, jelas terlihat perasaan penuh kerinduan diantara keduanya. Mata Eunso terpaku pada senyum yang terkembang diwajah Kyuhyun, entah seperti apa ia harus mengungkapkannya, ia merindukan senyum itu, ia ingin Kyuhyun tersenyum kepadanya, besikap baik padanya. Tidak peduli jika itu hanya sikap hormat karena ia telah mengandung untuk Kyuhyun sekalipun asal Kyuhyun tidak mengacuhkannya seperti ini.
Eunso menundukkan wajahnya menatap kosong ujung sendal rumahnya, airmata tumpah jatuh mengenai ujung sendalnya. Ia kesepian, ia merindukan seseorang yang tidak pernah menjadi miliknya.
“Eunso-ya.. gwencana?” suara Jaewoo mengejutkannya, cepat-cepat Eunso menghapus airmatanya dan menoleh kearah Jaewoo.
“nee. Ajhusi, aku akan tidur sekarang”
“kau lupa minum susumu” Jaewoo menyerahkan gelas berisi susu yang ia bawa kepada Eunso. Eunso mengambil susu itu lalu menghabiskannya dengan cepat.
“gomawo ajhusi, aku permisi”
“beristirahatlah..”
“oo”
.
Kyuhyun menolehkan kepalanya kearah Jaewoo dan Eunso, melihat Jaewoo menyerahkan susu kepada Eunso membuat Kyuhyun teringat bahwa ia sudah melupakan kegiatannya memberikan susu kepada Eunso secara rutin. Matanya bertemu dengan mata Jaewoo, Jaewoo terlihat kesal kepada Kyuhyun. Namja tua itu tidak pernah sekalipun memperlihatkan emosinya kepada Kyuhyun, meskipun tidak suka dengan apa yang Kyuhyun perintahkan namja itu selalu melakukannya dengan tenang.
Kyuhyun menghembuskan nafasnya, sadar ia telah berlaku keterlaluan pada gadis itu, apa ia sudah melukai gadis itu?. Kyuhyun melirik kearah kamar Eunso. Sudah ia putuskan untuk menyudahi ke keras kepalannya dan mulai meminta maaf kepada Eunso. Kyuhyun melirik kearah jam lalu mengurungkan niatnya, mungkin besok pagi saja, pikirnya.
.
.
Keesokan paginya Eunso terbangun karena keram diperutnya, ia mengusap perut bagian bawahnya berkali-kali sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, seperti yang sering dilihatnya diacara televisi yang menampilkan senam-senam untuk wanita hamil. Setelah keramnya mereda Eunso pun bangun dan bergegas untuk mandi, salju diluar sudah semakin banyak. Menumpuk membentuk gumpalan-gumpalan es putih. Lessie tidak pernah berkunjung lagi setelah salju pertama turun, sepertinya anjing itu menemukan tempat lain sebagai rumahnya. Sungguh, bahkan Eunso merindukan anjing itu.
Eunso melihat Kyuhyun keluar dari kamarnya ketika ia berjalan menuju dapur, matanya menatap lekat sosok namja itu, hari ini Kyuhyun telah rapi dengan memakai kemejanya, namun dasinya tetap bertengger dilehernya, belum terikat. Kyuhyun menegakkan kepalanya dan mata mereka bertemu. Ini kali pertama Kyuhyun menatapanya lama sejak Minhye berada dirumah itu. Otomatis Eunso tersenyum, terlalu senang karena Kyuhyun kembali menatapnya.
Kyuhyun terenyuh, sudah lama ia tidak melihat senyum diwajah Eunso, Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekati  Eunso, ketika suara Minhye memanggilnya. “Kyu-aa” Kyuhyun menoleh kebelakang melihat Minhye tersenyum cerah pagi itu. “sarapan sudah siap, oo dasimu belum kau ikat” Minhye mengulurkan tanganya menyentuh dasi Kyuhyun dan mulai mengikatnya. Kyuhyun terdiam, biasanya Eunso yang melakukan hal ini setiap pagi. Tiba-tiba saja Kyuhyun dilanda rasa rindu yang besar untuk melihat Eunso melakukannya lagi.
Kyuhyun menolehkan kepalanya kearah Eunso tetapi gadis itu sudah tidak ada ditempatnya berdiri tadi. Kyuhyun bermaksud mengajak Eunso berbicara pagi ini, tapi sepertinya harus tertunda lagi.
“sudah..” ujar Minhye, mendongakkan kepalanya kearah Kyuhyun. Melihat pemandangan itu membuat Kyuhyun tersadar akan sesuatu, biasanya ia akan langsung mencium Eunso karena posisi wajah mereka yang berdekatan, tetapi tidak jika wanita itu adalah Minhye. Ada apa dengannya? Kenapa Minhye tidak lagi berpengaruh terhadap dirinya?.
“gomawo..” Kyuhyun berjalan kearah ruang makan, disana ia juga tidak melihat Eunso, sejak berhari-hari yang lalu ia memang senang karena Eunso berada jauh dari jangkauan matanya, namun sekarang ia mencari-cari keberadaan gadis itu. “dimana Eunso?” tanyanya..
“ooh.. aku jarang melihatnya dimeja makan bersama kita setiap pagi”
“benarkah?” tanpa Kyuhyun sadari ia menyuarakan pertanyaan itu.
“tentu saja kau tidak sadar bukan?, kau berusaha menghindarinya akhir-akhir ini” Kyuhyun menaikkan alisnya terkejut. “aku tahu kau menghindarinya, sebenarnya aku bertanya-tanya apa hubunganmu dengan gadis itu Kyuu-aa?, dan aku bertanya-tanya apa kau ayah dari bayi yang ia kandung?”
Kyuhyun mengalihkan matanya kelain arah. “itu bukan urusanmu”
“aku tidak tahu kau akan merahasiakan sesuatu dariku, kau tidak pernah merahasiakan apapun dariku”
“tidak sekarang Hye-aa..” jawab Kyuhyun.
“dari jawabanmu aku bisa menyimpulkan kau memang ayah dari bayi itu” Minhye menatap serius wajah kyuhyun. “apa yang terjadi? Kenapa dia bisa hamil anakmu tapi kalian tidak menikah”
“ceritanya panjang” jawab Kyuhyun cepat, tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut.
“apa kau akan menikahinya?” tanya Minhye, tanpa basa-basi.
Kyuhyun diam, matanya menatap kosong mangkuk nasi didepannya. “tidak” jawab Kyuhyun.
“kenapa tidak?”
“karena aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun selain dirimu”
“lalu kenapa dia bisa hamil anakmu?”
“ceritanya panjang dan aku akan menceritakannya padamu nanti”
“kyu-aa..”
“tidak sekarang Hye-aa.. kumohon”
“kyu-aa. Apa kau masih mencintaiku?” Minhye berhati-hati dalam menanyakan hal itu, ia sudah merasa resah melihat tanda-tanda adanya hubungan antara Kyuhyun dan Eunso. Ia tidak berani menanyakan hal ini sebelum bertemu dengan putrinya, tetapi sekarang ia bisa, karena putrinya sudah berada didekatnya lagi.
“tentu saja aku masih mencintaimu” jawab Kyuhyun, tanpa ragu sedikitpun.
Minhye masih belum merasa lega mendengar jawaban itu. ia menyesal, sungguh menyesal telah mencampakkan Kyuhyun demi laki-laki lain. Ia sadar betapa besarnya pengaruh Kyuhyun dihidupnya, mantan suaminya tidak pernah menganggapnya ada, tidak pernah memperlakukannya dengan lembut seperti Kyuhyun.
“kau mau menciumku sebagai buktinya?” tanya Minhye. Kyuhyun terkejut, Minhye tidak pernah meminta hal ini sebelumnya. Dulu mereka pernah berciuman tapi itu karena Kyuhyun yang menciumnya duluan. Kyuhyun berdiri dari kursinya dan menarik Minhye ikut berdiri, ia juga penasaran. Seperti apa rasanya mencium Minhye sekarang.
Kyuhyun menundukkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dibibir Minhye, ia tidak menemukan apa yang ia rasakan ketika mencium Eunso. Tidak puas dengan jawaban itu Kyuhyunpun memperdalam ciumannya, mendesakkan lidahnya agar Minhye membuka mulutnya dan ia mulai menjelajah mulut Minhye. Kyuhyun masih tidak menemukan apapun, tubuhnya tidak memanas ataupun menegang seperti ketika ia mencium Eunso. Kenapa seperti ini, seharusnya Kyuhyun langsung terangsang ketika mencium wanita yang ia cintai bukan?.
Mengerang Frustasi Kyuhyun pun semakin memperdalam ciumannya, tanganya melingkar dipinggang Minhye dan menarik tubuh Minhye menempel pada selangkangannya. Tidak, tubuh bagian bawahnya belum menunjukkan tanda-tanda akan mengeras, kenapa? Jika yang saat ini ia cium adalah Eunso Kyuhyun pasti sudah sangat ingin memasuki tubuh Eunso saat itu juga.
Minhye terengah-engah dibawah tekanan bibir Kyuhyun, Kyuhyun memang pandai berciuman dan Minhye terhanyut oleh ciuman itu tapi ada yang salah dari cara Kyuhyun menciumnya. Minhye menjauhkan bibirnya. “apa yang kau cari dari menciumku seperti ini?” bisik Minhye.
“sebuah jawaban” jawab Kyuhyun. Kyuhyun kembali mencium Minhye, dengan sama menggebu-gebunya, tanganya bergerak kearas hendak menyentuh payudara Minhye tetapi ia mengurungkan niatnya, tidak akan ada gunanya. Kyuhyun menjauhkan kepalanya, nafasnya memburu bukan karena terangsang tetapi karena rasa frustasi. Ada apa dengannya? Sekali lagi pertanyaan itu muncul dikepalanya.
Samar-samar ujung mata Kyuhyun menangkap seseorang dikejauhan, ia menolehkan kepalanya dan melebarkan matanya terkejut, melihat Eunso tidak jauh dari sana dengan tangan sebelah memegang perutnya yang besar dan satu tangan lagi memegang dadanya. Gadis itu berdiri sambil mengigit bibirnya yang bergetar, ekspresi terluka terlihat jelas dimata gadis itu.
Eunso memutuskan kontak mata mereka dengan memalingkan wajahnya, gadis itu bergerak kikuk kekiri dan kanan bingung harus melangkah kemana, sampai akhirnya gadis itu memutuskan untuk kembali kekamarnya.
Kyuhyun terdiam cukup lama ditempatnya sampai akhirnya ia tersadar karena panggilan Minhye yang berulang-ulang. “Kyu-aa..”
“oo..” Kyuhyun menoleh kearah Minhye. “aku berangkat sekarang”
“ne..? tapi sarapannya?”
“aku tidak lapar”
Kyuhyun pun pergi meninggalkan Minhye seorang diri, dalam keadaan bingung karena tubuhnya masih bereaksi karena ciuman panas Kyuhyun dan bingung karena Kyuhyun tiba-tiba meninggalkannya.
.
.
Siang itu, setelah melihat adegan ciuman itu Eunso terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu adalah hal yang wajar, Kyuhyun mencintai Minhye dan sepertinya wanita itu juga mencintai, jadi cinta Kyuhyun terbalaskan?. Eunso menekankan tangannya didadanya, rasanya begitu sakit disana ketika ia mengulang-ulang terus adegan itu. Ia akan menjadi lebih baik jika hanya menjadi seorang madu atau istri muda, karena sudah pasti Kyuyun pasti memiliki perasaan kepadanya,  tapi masalahnya adalah Kyuhyun tidak pernah mencintainya. Dan itu begitu menyakitkan bagi Eunso untuk menyadarinya.
Eunso mengusap airmatanya lalu menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan, rasa sakit didadanya semakin menjadi ketika ia menghembuskan nafasnya lagi.
“noe.. paboya.. Song Eunso.. jinjja..”
.
.
.
TBC…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: