Need A Baby chapter 4

1
Need A Baby chapter 4 ff nc kyuhyun eunso
Tittle: Need a Baby  (Chapter 4)
Cast :
Song Eunso
And other cast
Category: Chapter, Romance, NC-17
Author: Mylittlechick
@Bulan Ke dua setelah Sejak kedatangan Eunso dirumah itu…
Mobil sedan berwarna hitam berhenti dihalaman luas sebuah rumah besar yang terletak jauh dari keramaian, kau bisa berjalan cukup jauh hanya untuk menemukan rumah lain disana. Rumah besar itu berdiri sendiri diantara pepohonan tinggi dan besar, udara yang sejuk dan segar membuat siapa saja yang tinggal disana merasa sehat.

Kim Jaewoo keluar dari mobil sedan itu dengan tangan membawa bahan-bahan makanan untuk kebutuhan Eunso dan juga Kyuhyun dirumah besar itu. Sudah dua bulan berlalu dan berkat Eunso, pekerjaan Jaewoo menjadi lebih ringan, ia hanya dibutuhkan ketika persediaan makanan dirumah itu habis. Jaewoo benar-benar terkejut mendapati majikannya itu sama sekali tidak pernah protes ataupun mengeluh tentang Eunso. Jaewoo bisa langsung menebak gadis itu sudah tentu pandai mengurus Kyuhyun, atau dia memang pandai mengurus seorang suami.
Jaewoo melangkah masuk mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah, rumah itu sepi, Jaewoo melirik kearah jam, hari sudah menjelang siang. Kyuhyun kemungkinan sudah bekerja, lalu dimana Eunso?. Jaewoo meletakkan bahan-bahan makanan itu diatas meja lalu mulai mencari keberadaan Eunso. Gadis itu mungkin diteras samping rumah bermain bersama anjing kampung yang sering ia beri makan.
Tidak ada, Jaewoo mengerutkan alisnya, gadis itu tidak ada diteras, Jaewoo kemudian kembali masuk dan berjalan menuju kamar tidur gadis itu. “Eunso-yaa..? aku sudah datang” Jaewoo mengetuk pintu kamar Eunso, tidak ada sahutan dari dalam kamar itu.
Jaewoo pun beranjak dari pintu kamar Eunso menuju perpustakaan, mungkin Eunso disana, gadis itu sering mengisi waktu luangnya dirumah dengan membaca buku yang ada disana. Mendekati pintu perpustakaan Jaewoo mendengar Eunso memekik pelan dari dalam perpustakaan, Jaewoo hendak membuka pintu perpustakaan itu karena takut sesuatu menimpa Eunso kemudian berhenti ketika mendengar suara erangan Kyuhyun menyahuti Eunso.
Jaewoo membuka mulut lalu mengatupnya rapat, cepat-cepat berbalik dan berjalan menjauh, tidak perlu dilihat lagi ia tahu apa yang terjadi didalam sana.
.
Suara nafas yang tersengal-sengal memenuhi ruang perpustakaan itu. Kyuhyun menyandarkan kepalanya disandaran empuk sofa dengan Eunso berada dipangkuannya, nafas Eunso yang menderu menyapu permukaan bahunya, gadis itu jelas terlihat sangat kelelahan. Tentu saja, lelah karena Kyuhyun memintanya bergerak  lebih cepat untuk mendapatkan apa yang ia dan Kyuhyun cari.
Kyuhyun menaikkan kepalanya, mengalungkan tangan kirinya dipinggang Eunso lalu menyurukkan tangan kanannya dirambut kecokelatan Eunso. “kau semakin pandai bercinta” bisikan kata-kata vulgar itu membuat Eunso meremang dan merona karena malu. Bagaiman dia tidak menjadi pandai, jika Kyuhyun dengan ahli dan piawai mengajarinya. Eunso bahkan tidak pernah tahu ada posisi-posisi yang membuatnya tercengang dan juga mendapatkan kenikmatan lebih. Seperti hari ini, Kyuhyun tadinya hanya menyuruhnya duduk dipangkuan namja itu, tetapi entah bagaimana mereka berakhir seperti ini, bercinta dengan menggebu-gebu, seperti tidak akan ada hari esok untuk mereka.
Eunso menjauhkan kepalanya. “tuan harus ke Hotel siang ini” ujar Eunso mengingatkan dan mendapati anggukan dari kepala Kyuhyun. “akan kusiapkan baju kerjanya”
Pelan-pelan Eunso menjauhkan dirinya dari tubuh Kyuhyun. Kyuhyun mendesah karena Eunso melepaskan dirinya dari tubuh hangat Eunso. Bersamaan mereka merapikan pakaian mereka, Kyuhyun memakai kembali celananya yang terbuka hingga lutut begitu juga Eunso yang merapikan rok dan bajunya. Setelah merasa rapi Eunso pun berjalan keluar menuju kamar Kyuhyun, menyiapkan pakaian untuk namja itu.
Kyuhyun berdiri dari sofa lalu berjalan kearah barisan buku yang tadi ditujunya sebelum Eunso masuk hanya untuk bertanya Kyuhyun ingin makan apa, Kyuhyun melupakan barisan buku itu saat itu juga dan menyerang Eunso disofa perpustakaan. Sungguh aneh, pikir Kyuhyun, sebelumnya Kyuhyun tidak pernah dihampiri desakan untuk meniduri seseorang sekuat ini. Tidak bisa dihitung lagi sudah berapa kali Kyuhyun mendesakkan dirinya kepada Eunso, kegiatan bercinta itu bukan lagi hanya untuk menuntaskan proses pembuatan bayi, tapi lebih kepada keinginan pribadi Kyuhyun. Entahlah, mungkin karena hormon didalam tubuh kyuhyun sedang meningkat dan terus ingin menjamah Eunso.
.
.
“oo.. ajhusi? Kau sudah tiba” Eunso terkejut melihat Jaewoo sedang berada didapur memasukkan bahan-bahan makanan kedalam kulkas.
“oo.. kau baru bangung?” tanya Jaewoo
“ne..?” Eunso hendak membantah namun menghentikan bantahanya, sadar bahwa penampilannya mungkin belum kembali rapi seutuhnya. Eunso menyisir rambutnya dengan tangan lalu berjalan kearah washtafel. “oo.. aku kesiangan” jawabnya canggung.
Jaewoo menyembunyikan senyumnya dari balik pintu lemari, berpura-pura tidak pernah tahu apa yang terjadi.
Selesai menyiapkan pakaian Kyuhyun diatas tempat tidur namja itu, Eunso memutuskan untuk membuatkan sarapan. Eunso berhenti, teringat akan sesuatu. “aah.. aku lupa bertanya dia ingin makan apa?”. Tadinya ia memang berniat bertanya Kyuhyun ingin makan apa, tapi pertanyaan itu terlupakan begitu saja karena kyuhyun mengajaknya untuk bercinta.
“masak apapun yang kau inginkan, tuan muda pasti suka” Jaewoo memberikan saran, setelah selesai menyimpan bahan-bahan makanan.
“baiklah..” jawab Eunso, mulai menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.
“apa tuan muda hari ini libur?” tanya jaewoo dari balik punggung Eunso.
“tidak, sebentar lagi tuan Cho berangkat,  siang ini ada jadwal memeriksa salah satu Hotelnya”
“aa..” Jaewoo menganggukkan kepalanya. “apa kau keberatan jika aku disini sebentar Eunso-yaa?. Aku ingin minum minuman punch yang pernah kau buat kemarin”.
“tentu saja aku tidak keberatan, aku senang ajhusi datang kesini, disini terlalu sepi jika ajhusi tidak ada”. Yaah tetapi malam harinya tidaklah sesepi seiang hari. Batin Eunso.
Jaewoo tersenyum memaklumi, ia melirikkan kepalanya kearah koran yang terletak diatas meja lalu mengambilnya cepat setelah membaca satu judul yang tercetak besar.
AKTRIS KIM MINHYE MEMUTUSKAN UNTUK MENINGGALKAN SUAMINYA, DUGAAN ADANYA ORANG KETIGA.
Jaewoo menutup judul itu cepat. “apa tuan muda sudah membaca korannya?”
“oo.., tuan belum kesini, ia langsung keperpustakaan tadi dan..” Eunso terdiam, dan yang terjadi selanjutnya tidak bisa ia ungkapkan.
“aah.. sebaiknya koran seperti ini tidak diberikan kepada tuan muda, tuan muda tidak begitu suka gosip”
“tapi tidak hanya ada gosip disana”
“Eunso-ya.. berjanjilah padaku kau akan menyingkirkan semua koran dirumah ini”
Eunso memutar tubuhnya menghadap Jaewoo bingung. “waeyo..?”
“karena aku tidak mau tuan muda membaca satu berita yang akan membuatnya kesal. Berjanjilah” Jaewoo memasang wajah serius dan mengucapkan kata itu dengan penekanan yang menakutkan.
Eunso memasang ekspresi takut dan ngeri. “baiklah..” jawabnya patuh.
“bagus..” Jaewoo menganggukan kepalanya. Ia juga harus menyuruh orang-orang untuk menyortir koran ataupun surat kabar lainnya, bahkan menyortir saluran tv yang memberitakan tentang perceraian Kim Minhye. Wanita itu kenapa harus seorang aktris?. Semua media memberitakan perceraiannya karena wanita itu adalah seorang aktris yang cukup terkenal. Ia menikah dengan seorang CEO ternama didunia hiburan, karena iming-iming menjadi lebih terkenallah yang membuat gadis itu lebih memilih namja itu dari pada Kyuhyun.
Tentu saja, siapa yang akan berpaling dari Cho Kyuhyun. direktur utama, pemilik dari lima hotel terkenal, dan satu buah mall terkemuka. Semua gadis didunia ini menginginkan posisi sebagai istri dari Cho Kyuhyun. Semua wanita selain Kim Minhye yang lebih tertarik pada ketenaran didunia hiburan dari pada posisi itu. Sungguh sangat disayangkan, setelah menikahpun karir Minhye tidaklah meningkat seperti yang diinginkannya. Gadis itu bahkan harus pindah ke London berdua saja bersama putrinya karena ia tidak lagi memiliki panggilan untuk bermain drama atau film.
“ajhusi” panggilan Eunso membuyarkan lamunan Jaewoo. “memangnya ada berita seperti apa?”
Jaewoo menyimpan koran itu dibalik jas kerjanya. “kau tidak perlu tahu. Yang penting jangan berikan surat kabar ataupun menonton televisi sampai aku memberitahumu bahwa semuanya baik-baik saja”
“arraso, kuharap semua baik-baik saja ajhusi” ujar Eunso tulus.
“aku juga” jawab Jaewoo. Kuharap semua baik-baik saja, dan kau tidak terluka.. tambah Jaewoo didalam hatinya.
Jaewoo hanya berdiam diri duduk dikursi makan selagi Eunso mulai memasak, matanya menatap lekat gadis itu, tanganya yang kecil dan ramping begitu piawai memotong, membelah dan mengaduk penggorengan. Benar-benar cerminan seorang istri idaman.
“Jaewoo ajhusi kau sudah datang?” suara Kyuhyun terdengar dari belakang mereka, Jaewoo memutar tubuhnya lalu melebarkan matanya terkejut, Kyuhyun memakai kemeja berwarna biru dengan dasi bertengger dilehernya dan belum terikat. Seharusnya Kyuhyun memakai kemeja berwarna putih jika ingin mengunjungi hotel, Jaewoo hendak protes namun mengentikan niatnya. Sadar bahwa Kyuhyun tidak protes dengan pemilihan baju yang telah Eunso siapkan. Biasanya Kyuhyun selalu marah jika baju yang disiapkan tidak sesuai dengan keinginannya, tapi sekarang Kyuhyun sama sekali tidak protes.
Eunso memutar tubuhnya dengan membawa mangkuk nasi dan meletakkannya diatas meja. Menghampiri Kyuhyun dan mengikatkan dasi Kyuhyun. Jaewoo lagi-lagi terdiam, Eunso benar-benar melakukannya? Mengikatkan dasi Kyuhyun?. dan Kyuhyun mengizinkan gadis itu melakukannya.
Kyuhyun memandangi wajah Eunso yang berada tidak jauh dari lehernya, mata gadis itu menatap serius kearah dasinya. Kyuhyun menikmati kegiatan ini, sejak hari pertama Eunso dengan tanpa izin mengikatkan dasi Kyuhyun. Entah apa yang Jaewoo perintahkan kepada Eunso, gadis itu benar-benar patuh dan melakukan tugasnya dengan benar, Kyuhyun selalu mengikat dasinya sendiri dan jaewoo tahu itu. Tapi setelah Eunso mengikatkan dasinya Kyuhyun pun terbiasa keluar dari kamar dengan dasi berada dilehernya, menunggu Eunso yang mengikatkan dasinya. Kyuhyun juga tidak pernah marah kepada gadis itu karena pilihan warna baju yang salah, dan ia tidak tahu kenapa.
“dimana korannya?” tanya Kyuhyun.
“oo.. hari ini mereka tidak mengantar korannya” jawab Eunso berbohong.
Kyuhyun mengerutkan alisnya. “itu aneh” ujarnya. Tetapi tidak mempedulikan hal itu, ia juga tidak begitu suka membaca koran, ia lebih suka membaca berita dari situs online. Karena koran biasanya mencampur berita dengan gosip para selebritis.
Selesai memasangkan dasi Kyuhyun, Eunso melanjutkan tugasnya menuangkan sup miso yang baru saja dibuatnya. Keningnya berkerut ketika mencium aroma tajam dari sup itu, sebisa mungkin gadis itu menahan desakan didalam perutnya yang minta dimuntahkan. Cepat-cepat Eunso menutup panci itu.
“Eunso-ya.. ada apa” tanya Jaewoo, menyadari ada yang tidak beres.
“ada yang salah dengan supnya, wanginya tidak enak”. Jaewoo berdiri menghampiri Eunso membuka penutup panci lalu menghirup aromanya. “baunya aneh kan?” tanya Eunso lagi.
“ini terlihat enak, aromanya juga lezat” jawab Jaewoo. “kau tidak apa-apa?” tanya Jaewoo khawatir.
“tapi wanginya membuatku mual” jawab Eunso, dengan alis berkerut, cepat-cepat mengambil penutup panci dan menutup sup itu. Jaewoo menaikkan alisnya, gejala seperti ini. mungkinkah?
“waeyo..?” tanya kyuhyun yang berada diatas meja makan, bingung melihat Eunso dan Jaewoo.
“aku akan pergi membeli alat tes kehamilan” Jaewoo menoleh kearah Kyuhyun. “sekarang, aku permisi tuan muda”.
Eunso terdian dengan mata yang terbelalak, apa maksud Jaewoo tadi? Alat tes kehamilan? Apa maksudnya saat ini Eunso kemungkinan sudah hamil? Eunso menghitung didalam hati, memang sudah lama ia menyadari ia terlambat datang bulan, tetapi Eunso tidak pernah menyadari jika itu tanda-tanda sesuatu sedang terbentuk didalam perutnya.
Pelan-pelan Eunso melirik kearah Kyuhyun, namja itu terlihat sama terkejutnya seperti Eunso. Kyuhyun berdeham. “yaah.. aku juga akan memanggil dokter pribadi untuk mengecek kebenarannya”
.
.
CEKLEEEKK..
Kyuhyun membuka pintu kamar Eunso dengan memegang segelas susu, kali ini bukan susu murni seperti biasanya, namja itu sengaja membuat susu untuk wanita hamil untuk ia berikan kepada Eunso. mata Kyuhyun menyipit karena tidak menemukan gadis itu didalam kamar, kakinya sudah hendak melangkah keluar kamar ketika ia mendengar suara tertahan Eunso dari arah kamar mandi.
Kyuhyun berjalan masuk kedalam kamar, meletakkan gelas susu diatas lemari pendek sebelum membuka pintu kamar mandi. Matanya melebar terkejut melihat Eunso sedang membungkuk diatas washtafel dengan tangan menutup mulutnya, wajah Eunso pucat, seputih kertas.
“gwencana..?” Kyuhyun langsung melangkah masuk lalu memegang tengkuk Eunso dan memijatnya pelan. gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Tenaganya sudah hampir terkuras karena harus memuntahkan isi perutnya.
Kyuhyun mengerutkan alisnya, ia tidak begitu suka melihat kesulitan diwajah Eunso. Apa hamil begitu menyakitkan?. “aku akan memanggil dokter”
“anniya..” Eunso memegang tangan Kyuhyun cepat, sebelum namja itu pergi. “aku tidak apa-aa, hal seperti ini memang sering terjadi pada wanita hamil”
“kau yakin..?”
“oo.. tuan bisa tanya pada Jaewoo ajhusi”
Kyuhyun masih mengerutkan alisnya, wajah Eunso sama sekali tidak berwarna, masih terlihat pucat. “istirahatlah kalau begitu”
“nee..” Eunso menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari kamar mandi, menghampiri tempat tidur dan membaringkan dirinya dibawah selimut.
“minum susunya?” Kyuhyun mengulurkan gelas yang berisi susu yang ia bawa tadi kesini.
Eunso menggelengkan kepalanya lemah. “aku masih merasa mual, nanti saja”
Kyuhyun duduk ditepian tempat tidur memandangi wajah Eunso. ia tidak pernah tahu jika hamil akan membuat wanita itu mengalami hal seperti ini. Yang Kyuhyun tahu, wanita hanya butuh waktu sembilan bulan untuk mengandung. Pelan-pelan Kyuhyun memijat pelipis Eunso, membuat gadis itu memandangi wajah Kyuhyun dalam diam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mereka berdua, terhanyut dalam sentuhan ringan itu, ini bukan sentuhan Kyuhyun yang biasanya yang membuat Eunso bergairah tetapi sentuhan lembut yang membuat hati Eunso menghangat.
Merasa nyaman dengan pijatan dipelipisnya gadis itu pun memejamkan matanya, rasa kantung menghamirinya dan Eunso tertidur detik berikutnya. Kyuhyun menghentikan gerakan jari-jarinya yang memijat pelipis Eunso setelah memastikan gadi itu tertidur. Kyuhyun menolehkan kepalanya kearah tubuh Eunso yang tertutup selimut kemudian tersenyum, akhirnya ia akan menjadi seorang ayah pikirnya, hanya membutuhkan waktu kurang lebih delapan bulan lagi, ia akan memiliki seseorang yang bisa ia manjakan. Seperti yang ia inginkan selama ini.
Kyuhyun mengerutkan alisnya, entah kenapa ada sesuatu yang salah dari ini semua, Kyuhyun merasa bahagia sekaligus merasa aneh. Aneh karena ia merasa tidak suka melihat gadis itu harus mengalami muntah-muntah seperti tadi. Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan, ini semua pasti karena ia merasa khawatir pada calon bayinya. Kyuhyun meyakini dirinya bahwa kekhawatirannya kepada Eunso lebih kepada ia menghawatirkan calon bayinya.
Kyuhyun menarik selimut Eunso hingga menutupi pundak gadis itu lalu mengusap pelan kepala Eunso sebelum akhirnya pergi dari kamar itu.
.
.
@ Bulan ketiga
“eunso –yaa.. kau harus makan ini. ini baik untuk tubuhmu” Nyonya Cho meletakkan sup ayam yang ia campur dengan beberapa rempah-rempah dan gingseng yang sengaja ia masak dari rumahnya dihadapan Eunso.
“anda baik sekali nyonya” Eunso menatap takjub sop ayam itu, Nyonya Cho bahkan memberikan bagian ayam terbaik untuknya daripada untuk putranya. “terima kasih, tapi aku tidak bisa menerimanya”
“eey.. jadi maksudmu kau mau menolak masakan yang sudah susah payah kubuat untukmu?”
“aa..anniya.. bukan begitu, hanya saja, rasanya aku tidak pantas menerima perhatian darimu” Eunso mengibaskan tanganya didepan wajahnya salah tingkah, ia tidak bermaksud menyinggung perasaan nyonya Cho.
“ahahaha.. gwencana, ini semua agar ibu dan calon bayi sehat. Kau harus sehat, jadi makanlah”
Kyuhyun mengamati ibunya dengan pandangan bingung bercampur geli. Ibunya tidak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya, apa karena sekarang ibunya sudah menerima gagasan bahwa ia akan segera menimang cucu?.
“ini untukmu sayang” nyonya Cho menyodorkan mangkuk lain untuk Kyuhyun.
“apa eomma sekarang tinggal disini?” sindir Kyuhyun.
Nyonya Cho mendelikkan matanya kepada Kyuhyun. “kau tidak suka eomma disini?”
“anniya.. aku hanya bingung karena akhir-akhir ini eomma terlihat berbeda”
Nyony Cho tersenyum kemudian melirik Eunso yang sedang menghirup kuah sup itu. Tentu saja ia berbeda, ia menaruh harapan yang sangat tinggi kepada Eunso. Ia yakin gadis itu bisa membuat putranya kembali menjadi Kyuhyun yang dulu, sekarang saja sudah terlihat sedikit perbedaan dari Kyuhyun. Seperti yang Jaewoo katakan padanya Kyuhyun memang tidak pernah memasang ekspresi kosong lagi, bahkan Kyuhyun sering kali terlihat menatap lembut kearah Eunso. Mungkin Kyuhyun tidak menyadarinya, tapi nyonya Cho dan Jaewoo menyadari hal itu.
“ini karena Eunso harus berada dirumah ini sepanjang hari, tanpa teman dan juga keluar. Kau pasti bosan kan?” tanya Nyonya Cho pada Eunso. “bagaimana jika kau ajak Eunso jalan-jalan? Itu bagus untuk bayinya juga” saran nyonya Cho kepada Kyuhyun.
Kyuhyun menaikkan alisnya kemudian menata Eunso, ia tahu gadis itu sudah merasa bosan di bulan pertama ia tinggal dirumah itu, tetapi apa yang harus ia lakukan? Gadis itu harus tetap di rahasiakan keberadaannya, apa lagi sekarang ia sedang hamil. “tidak, dia tetap dirumah ini apapun yang terjadi” jawab Kyuhyun tegas.
Nyonya Cho mengernyitkan hidungnya tidak suka, Kyuhyun belum berubah sepenuhnya.
“ini enak sekali nyonya Cho” puji Eunso kepada Younghwa. Gadis itu memamerkan cengirannya kepada Younghwa, membuat Younghwa tersentuh bahagia.
“benarkah?, kalau begitu dihabiskan ya..”
Eunso tersenyum. “nee..” jawabnya patuh lalu kembali pada kegiatan mengunyahnya, gadis itu membuat suara mengerang nikmat sambil menggerakkan badannya. Membuat Nyonya Cho tersenyum, Eunso selalu bisa membuat suasana menjadi hangat. Younghwa menoleh kearah putranya yang juga tersenyum melihat tingkah Eunso. Diam-diam Younghwa bertanya-tanya, Apa Eunso menyadarinya?, setiap kali gadis itu tersenyum, senyumnya akan menular kepada siapapun.
.
.
“aku masih belum tahu namamu, siapa namamu?” Eunso mengusapkan tanganya kebulu-bulu lembut anjing kampung yang sekarang sudah sangat akrab dengannya, setiap hari anjing itu datang di jam yang sama. Sehingga Eunso sudah sangat hapal kapan tepatnya anjing itu akan berkunjung. “aku akan memberikanmu makanan ini jika kau mau menyebutkan namamu padaku” Eunso memegang piring yang berisikan makanan anjing ditangannya.
“apa namamu blacky?” tanya Eunso. anjing itu bergeming, matanya menatap penuh harap kearah piring ditangan Eunso. “Poci..?” tanyanya lagi, anjing itu tetap bergeming. “ck.. aku sudah menyebutkan semua nama yang bisa kupikirkan.. albert?” anjing itu masih bergeming.
“eeeiiisshhh…”
“Lessie..”
“guk..”
Eunso tersentak kaget mendengar suara lembut dari arah belakangnya yang disambut dengan salakan dari anjing itu. Eunso melihat Kyuhyun berjalan menghampirinya, mengambil piring dari tangan Eunso lalu meletakkan makanan itu diatas lantai, yang langsung disambut gembira oleh anjing itu.
“namanya Lessie..” ujar Kyuhyun,
Eunso mengerjapkan matanya dua kali sebelum menyadari maksud dari ucapan Kyuhyun. “nama anjing itu Lessie..?”
Kyuhyun tersenyum, “aku menamainya seperti nama anjing di film Lessie, berharap anjing ini akan menjadi sehebat anjing difilm itu”
Eunso menelengkan kepalanya kesamping, ia ingat film itu, menceritakan tokoh anjing yang sangat menyayangi majikannya dan sangat melindungi majikannya. Sungguh manis sekali impian bocah kecil itu, pikir Eunso.
“aku tidak tahu kau dekat dengannya, sudah berapa lama kalian akrab?” tanya Kyuhyun, sambil mengusap kepala anjing itu.
“sudah sejak aku tiba dirumah ini”
“jinjja..? Kyuhyun merasa takjub, ia tidak pernah tahu jika Eunso sering bermain bersama Lessie sebelum ini. naru tadi ketika ia mencari keberadaan gadis itu ia menyadarinya. “Lessie jarang suka pada manusia” ujar Kyuhyun.
“dia suka padaku karena aku membawa makanan”
Kyuhyun tersenyum lalu berdiri. “Kau ingin melihat sesuatu yang lucu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. “Lessie duduk” perintah Kyuhyun, anjing yang sedang mengunyah makananya itu seketika langsung duduk manis, lidahnya keluar masuk menjilati mulutnya sendiri. “berdiri dengan satu kaki” anjing itu menaikkan satu kaki depannya keatas.”keluarkan lidahmu dan merengeklah.
Anjing itu mengikuti semua yang Kyuhyun berintahkan bahkan mengeluarkan suara lengkingan pelan. Kyuhyun tertawa detik itu juga.
Eunso terpana, bukan karena melihat anjing itu patuh begitu saja mendengar perintah dari Kyuhyun tapi karena namja itu tertawa begitu renyah, suara tawanya terdengar merdu dari segi manapun juga. Tidak pernah ada yang mengatakan adanya bahwa Kyuhyun bisa sangat mempesona jika sedang tertawa.
Kyuhyun menggaruk kepala anjing itu sambil tertawa pelan. “good boy.. teruskan makanmu..”
Eunso tersenyum melihat pemandangan itu, benar-benar kejadian yang sangat langkah. Pikir Eunso.
.
.
@Bulan ke tujuh
Hamil diusia kandungan ke enam bulan membuat Eunso sedikit lebih gendut, gadis itu makan dengan sangat lahap dan mengunyah apapun yang dihadapkan padanya. Membuat Jaewoo terus merasa kegirangan karena Eunso terlihat sangat sehat. Begitu juga dengan nyonya Cho yang berkunjung kerumah itu seminggu sekali.
Karena hamil dengan diam-diam, Eunso harus bertemu dengan dokter pribadi sebulan sekali dirumah itu. setelah trimester pertama dan mual-mual dipagi hari menghilang, Eunso jadi lebih segar dan wajahnya merona karena terlalu sehat. Kegiatan berjalan-jalan agar Eunso bisa berolahraga dilakukan hanya dengan mengelilingi rumah itu. semua dilakukan secara hati-hati dan tetap menjadi rahasia.
“Eunso harus dibawa keluar, tidak baik untuknya tetap dirumah ini” seru nyonya Cho memandangi Eunso yang saat ini sedang berjalan bolak-balik dari ruangan tamu ke dapur lalu balik lagi dari dapur keruang tamu lagi.
“tapi disini cukup sehat nyonya, jauh dari polusi kota” jawab Jaewoo yang ikut memperhatikan gerakan Eunso.
“aku tahu, hanya saja jika aku menjadi Eunso, aku akan mati kebosanan”
“aku juga” jawab Jaewoo, kali ini menyetujui
“apa Kyuhyun tidak berinisiatif membawanya keluar ? hanya untuk berjalan-jalan?” tanya Younghwa, yang langsung dijawab dengan gelengan kepala dari Jaewoo. “eeii.. anak itu, tidak kah dia memperhatikan Eunso?”
“tuan muda terlalu sibuk dengan pekerjaannya nyonya”
“tapi tetap saja, ini kan anaknya” Younghwa menghembuskan nafasnya. “apa aku bawa saja dia keluar?”
“anniya, nyonya.. tuan muda bisa sangat marah padamu”
“eeeiisshh.. tapi kasihan sekali gadis ini, memangnya kau tidak lihat dia seperti anjing yang berjalan mondar-mandir didalam kurungannya”
“nyonya, apa baru saja anda bermaksud mengatakan Eunso seperti peliharaan?”
“bukan itu.. eeeii jinjja.. kau ini”
Jaewoo tertawa pelan, “aku paham maksudnya nyonya, maafkan saya”
“OO..” seruan kaget Eunso dari arah dapur membuat kedua orang diruang tamu menolehkan kepalanya waspada, cepat-cepat mereka berlari menghampiri Eunso.
“kenapa?” tanya Younghwa dan Jaewoo bersamaan
Eunso memamerkan cengiran kebahagiaan diwajahnya, membuat kedua orang itu semakin bingung. “oo.. sepertinya bayinya baru saja menendangku.. ooh.. datang lagi”
Younghwa dan Jaewoo terdiam sejenak lalu tertawa bersama-sama, Younghwa menghampiri Eunso sambil mengulurkan tangannya keperut gadis itu. Merasakan satu pergerakan, kemudian satu lagi. Younghwa tertawa ringan. “dia bukan menendang tapi sedang cegukan”
“benarkah?” seru Eunso takjub
“oo.. Kyuhyun juga selalu cegukan ketika masih didalam perutku. Aah tapi mungkin semua bayi juga sama”
Eunso mengerutkan alisnya lalu mengusap perutnya pelan. “apa dia baik-baik saja jika cegukan?”
“dia baik-baik saja, itu tandanya dia sehat” Younghwa mengusap pipi Eunso lembut, perasaan sayang kepada gadis itu muncul begitu saja setelah ia melihat Eunso dengan piawai mengurus Kyuhyun juga dirinya sendiri, ditambah lagi saat ini gadis itu sedang mengandung cucu pertamanya. “gadis malang, kau pasti merasa bosan didalam rumah ini terus kan?”
Eunso tersenyum malu. “gwencana, aku cukup sehat disini”
“kau ingin kubawakan sesuatu ketika aku mengunjungimu kesini lagi?”
“tidak perlu nyonya, aku tidak ingin merepotkan”
“eeyy.. ini tidak merepotkan” Nyonya Cho mengusap lembut lengan Eunso. “nanti kubelikan kau baju hamil yang cantik-cantik, cemilan yang sehat, ooh.. juga alat merajut, kau pasti senang jika bisa menghabiskan waktu dengan merajut”
“anda baik sekali nyonya. Terima kasih”
Younghwa tersenyum dengan tulus. Ingin sekali rasanya ia mendengar Eunso berhenti memanggilnya nyonya dan berganti menjadi eommunim.
.
.
“aku tidak mengerti tapi aku melihat sedikit perubahan dari tuan Cho” suara Minri terdengar bingung sekaligus penasaran. “dia jarang sekali marah-marah akhir-akhir ini”
Eunso mengerutkan alisnya bingung. Apa benar Kyuhyun selalu marah-marah?, yang ia kenal Kyuhyun adalah namja yang sangat perhatian dan begitu lembut, mudah tersenyum  dan tertawa. Memang diawal-awal Kyuhyun terlihat menakutkan, tetapi setelah selama 7 bulan hidup bersama Eunso bisa melihat sisi lain dari namja itu. Setiap kali ia menelpon Minri, temannya itu selalu mengeluh karena Kyuhyun benar-benar menyebalkan ditempat kerja, selalu secara langsung menegur Minri, sejak kejadian dimana Minri meninggalkan meja resepsionis dan bertengkar didapur, Kyuhyun benar-benar menaruh pengawasan pada gadis itu. Sedikit saja kesalahan yang Minri buat akan memancing kemurkaan dari Cho Kyuhyun.
“dia benar-benar seperti dijinakkan oleh sesuatu, apa kira-kira yang mengubahnya?” Minri kembali mengungkapkan rasa penasarannya.
Eunso mengigit bibirnya, ingin sekali rasanya ia mengatakan bahwa itu semua karena 4 bulan lagi Kyuhyun akan mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan. Seorang bayi dan Eunso yang bertugas memberikan bayi itu padanya.
“Eunso-ya.. kau mendengarkan aku?”
“oo.. tentu saja.. bagaimana kabar halmoni?”
“halmoni sehat,dia terus mengatakan padaku dia merindukanmu, bagaimana keadaanmu disana? Bagaiaman perutmu? Apa sudah membesar”
Eunso tersenyum, mengusap perutnya pelan. “oo.. aku juga semakin gendut”
“aku ingin sekali melihatnya. Sudahlah, sekarang kau istirahat saja, aku akan mencari tahu apa yang membuat Cho Kyuhyun terlihat begitu jinak”
Minri menutup teleponnya sebelum Eunso mengajukan protes, ia tidak bisa melarang Minri untuk menghentikan rasa penasarannya, sedikit saja dia memberikan clue, sahabatnya itu bisa langsung mengerti. Eunso menyandarkan punggungnya disandaran sofa matanya menatap kosong kedepan, ia merasa bosan terus-terusan terkurung dirumah ini. Memang kyuhyun, Jaewoo dan Younghwa selalu membawakan buku-buku baru atau hal-hal baru dari luar untuk menghibur Eunso, tetapi Eunso tetap merasa bosan. Ia ingin keluar, melihat dunia luar. Berbelanja ke mall atau berkunjung ke taman bermain.
Eunso menghembuskan nafasnya, ia sudah tidak dibolehkan lagi bermain dengan Lessie, mengingat anjing itu tidak begitu baik untuk kehamilan Eunso. Ditambah lagi, musim dingin sudah hampir tiba, menggantikan musim panas. Membuat Jaewoo sibuk dirumah besar, begitu juga dengan nyonya Cho yang disibukkan dengan acara-acara yang sering diadakan diperusahaan. Eunso sering mendengar dari Jaewoo bahwa nyonya Cho selalu menjadi nyonya rumah untuk acara pesta-pesta.
“Eunso-ya..” Eunso menolehkan kepalanya kearah pintu, itu suara Kyuhyun. Matanya melirik kearah jam, hari masih sore dan namja itu sudah pulang. Cepat-ceat Eunso berdiri dan berlari menghampiri Kyuhyun.
Kyuhyun melebarkan matanya terkejut melihat Eunso berlari kearahnya. “yaak.. mouya..? jangan berlari”
Eunso menghentikan langkahnya kemudian tersenyum, tidak pernah ia merasa sebahagia ini melihat Kyuhyun pulang. “tuan sudah pulang?” ujarnya, seyum sumringah terkembang diwajahnya, melihat Kyuhyun secepat ini membuat rasa bosan yang tadi menghampirinya lenyap begitu saja.
“oo.. aku harus menghadiri pesta perayaan dikantor, aku pulang untuk berganti pakaian”
“ooh..”
Kyuhyun menangkap sedikit nada kekecewaan dari suara Eunso.
“waeyo..?” tanya namja itu khawatir.
“anniya..” Eunso menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. Meskipun begitu Kyuhyun bisa melihat sedikit ekspresi kesedihan diwajah itu. “anda mau disiapkan pakaian yang mana?”
“pilih yang mana saja” jawab Kyuhyun, berjalan kekamarnya. Seperti biasa Eunso pun mengikuti Kyuhyun sampai ke kamar, setelah hamil Eunso tidak diizinkan oleh Kyuhyun untuk mengikutinya sampai ke kamar mandi lagi. Eunso hanya akan mengeluarkan baju bersih dan pakaian kotor untuk dicuci.
Selagi Kyuhyun mandi, Eunso mulai memilih-milih baju pesta diantara deretan bleazer berwarna-warna gelap. Eunso menghentikan tangannya di jas berwarna abu-abu. Kemudian mengambil kemeja berwarna putih dan dasi berwarna biru tua. Serta sapu tangan putih yang terlipat disaku jas itu. Eunso selalu bisa melihat Kyuhyun dengan balutan pakaian-pakaian mewah tetapi tidak pernah melihat Kyuhyun berada ditengah-tengah orang banyak. Eunso yakin namja itu akan terlihat sangat mengagumkan diantara orang-orang tersebut.
Eunso menyentuhkan tangannya dipermukaan lembut jas itu kemudian meletakkannya diatas tempat tidur, menghembuskan napasnya sedih, sebesar apapun keinginannya untuk melihat namja itu ditengah-tengah pesta itu tidak akan pernah terwujud. Baik itu sekarang ataupun nanti.
Kyuhyun memang selalu memakai apapun yang Eunso siapkan, meskipun warna yang dipadu oleh Eunso terkadang tidak sesuai dengan kesukaan namja itu, Kyuhyun tetap memakainya. Itu semua sebagai bentuk menghargai apa yang sudah yeoja itu lakukan adanya, tidak lebih. Pikir Kyuhyun.
Eunso menyimpulkan dasi Kyuhyun dalam diam, sesekali matanya menoleh kearah Kyuhyun dan tersenyum kecil ketika matanya bertemu dengan mata Kyuhyun. Kyuhyun tidak menyadari tangannya bergerak menyentuh dagu gadis itu lalu mendongakkan kepala gadis itu menghadap padanya. Ada yang salah dengan ekspresi gadis ini, seperti perasaan kosong dan kesepian.
“eomma tidak kesini?” tanya kyuhyun.
“nyonya sedang mengurusi pesta-pesta”
“ajhusi?”
“Jaewoo ajhusi juga sibuk, sudah..” Eunso tersenyum sebagai tanda ia telah selesai meyimpulkan dasi Kyuhyun. Kyuhyun mengusap dasinya lalu memakai jasnya.
Eunso mengantar Kyuhyun sampai kehalaman rumah, melambaikan tangannya ketika mobil Kyuhyun menjauh. Gadis itu menghembuskan nafasnya sedih, ia ditinggal sendirian lagi dirumah yang sepi itu, seperti sebelumnya kyuhyun akan pulang larut malam setelah menghadiri pesta, dan Eunso dilarang untuk menunggunya. Tetapi, tanpa Kyuhyun ketahui Eunso selalu menunggu didalam kamarnya, setelah mendengar Kyuhyun masuk kedalam kamarnya sendiri Eunso baru bisa tidur dengan nyenyak.
.
Kyuhyun menghentikan mobilnya tepat dibelokan jalan, matanya tidak lepas dari kaca spion memandangi Eunso, gadis itu masih tersenyum ketika melambaikan tangannya tadi, dan langsung berubah tidak lama setelahnya, ia tahu gadis itu pasti bosan berada dirumah itu sepanjang hari. Ini sudah bulan  keketujuh bagi gadis itu tanpa melihat dunia luar sama sekali. Kyuhyun tahu itu bukan urusannya tetapi ada perasaan sesak didadanya ketika melihat ekspresi tidak bahagia gadis itu.
Kyuhyun memutar lagi mobilnya menuju kerumah dan berhenti dihalaman rumah, memanggil gadis itu setelah ia keluar dari mobil. Eunso keluar dengan ekspresi bingung. “ada yang tertinggal tuan?”
“ya.. kau, ambil jaketmu dan naiklah”
“ne..?”
“cepatlah..”
“oo.. ne.. cankaman” Eunso berlari cepat masuk kedalam rumah.
“yaakk.. cepat, tapi tidak berlari” teriak Kyuhyun, Eunso pun memelankan langkahnya mendengar teriakan itu. mengambil jaket miliknya Eunso bergegas menghampiri Kyuhyun lagi. Namja itu berdiri dipintu penumpang dan membuka pintunya untuk Eunso.
Kyuhyun melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah, mereka berdua tidak mengatakan apapun selama perjalana, Eunso tidak bertanya kemana namja itu akan membawanya begitu juga dengan Kyuhyun. Tidak sedikitpun memberikan petunjuk kemana ia akan membawa gadis itu.
Perjalanan menghabiskan waktu hampir satu jam ketika Eunso melihat hamparan luas pemandangan pantai, matahari hampir tenggelam diujung lautan, warnanya yang kemerahan diatas lautan biru membuat siapa saja yang melihatnya berucap kagum. Sungguh indah pemandangan yang dilihatnya saat ini. Eunso perlahan menurunkan kaca mobilnya dan mengeluarkan tanganya keluar jendela, menyentuh angin yang bertiup.
Kyuhyun menolehkan kepalanya melihat Eunso sedang mengeluarkan tangannya keluar jendela, mata gadis itu terpejam ketika kepalanya tertiup angin, rambutnya yang berwarna cokelatpun terkena tiupan angin segar. Kyuhyun tertegun lama, betapa damainya wajah gadis itu. Berat badan gadis itu memang naik semenjak usia kandungannya yang ke empat bulan, aura kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya, membuat gadis itu semakin terlihat cantik.
“kau ingin mampir kesana?” tanya Kyuhyun pelan
Eunso membuka matanya lalu menoleh kearah Kyuhyun. “nee.?”
“kesana” tunjuk Kyuhyun, kearah pantai.
“boleh..?”
“tentu saja.. mau…?”
“ne.. tuan, mau sekali”
Kyuhyun tersenyum, kemudian menepikan mobilnya dipinggir jalan, pantai itu tidak jauh dari jalanan, mereka bisa sampai ditepian ombak pantai hanya dengan sekit berjalan.
Eunso dan Kyuhyun turun dari mobil dan berjalan mendekati ombak pantai, Eunso tersenyum lebar ketika kakinya menginjak pasir yang basah. Ia menoleh kebelakang kearah Kyuhyun yang sudah melepaskan jas dan dasi nya, hanya memakai celana kain dan kemeja yang sudah terbuka kancing bagian atasnya. Gadis itu memegang dadanya yang berdegup kencang, Kyuhyun selalu bisa membuatnya berdebar-debar hanya dengan menatapnya.  bagaiman tidak? Namja itu selalu terlihat mengagumkan, bahkan ketika mereka mulai melakukan proses pumbuatan bayi pun Eunso sudah merasakan hal ini, jantungnya berdegup kencang ketika Kyuhyun menciumnya, membelainya dan memeluknya. Eunso menolehkan kepalanya kedepan, entah kenapa ia merindukan saat-saat itu. Semenjak hamil Kyuhyun tidak pernah lagi menyentuhnya. Itu semua karena tujuannya sudah tercapai bukan.
Eunso menarik nafas panjang, meredakan debaran jantungnya yang cepat, mungkinkah ia sudah jatuh cinta pada namja itu?. Eunso melirikkan ujung matanya kesamping merasakan kehadiran Kyuhyun disebelahnya, tangan Kyuhyun memegang pergelangan tangan Eunso.
“hati-hati” bisik namja itu.
“ne..” Eunso menganggukan kepalanya, tanganya megusap pelan perutnya yang sudah lebih besar. “apa anda tidak jadi ke pesta?”
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “pestanya tidak terlalu penting” jawab kyuhyun. “kau mau berjalan-jalan menyusuri pantai ini?”
“ne..”
“kajja”
Kyuhyun membimbing Eunso berjalan menyusuri pinggiran pantai, langit sudah gelap, tetapi itu tidak menghentikan Eunso ataupun Kyuhyun untuk terus berjalan menyusuri pantai. “sepatu anda jadi kotor” seru Eunso memecahkan kesunyian.
Kyuhyun menoleh kesepatunya. “tidak perlu menghawatirkan sepatuku”
“tapi sepatu anda sangat mahal”
“semahal apapun itu suatu hari juga akan tetap tidak terpakai”
“sungguh menyenangkan menjadi orang kaya, tidak perlu khawatir tentang apapun, selama kau punya uang untuk membeli sepatu yang baru”
Kyuhyun menaikkan bahunya. “memang itulah gunanya uang”
Eunso mengerutkan alisnya, ya memang seperti itulah teori lama, kau bisa mendapatkan apa saja asalkan kau punya uang, seperti Kyuhyun yang bisa mendapatkan apa saja dengan uangnya, termasuk bayi yang ada didalam perutnya saat ini. “dan orang miskin akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang” bisik Eunso, seperti dirinya yang rela mengandung anak Kyuhyun hanya untuk mendapatkan uang.
Kyuhyun menangkap adanya nada kesedihan dari kalimat itu, sebelum ini Kyuhyun tidak pernah perduli dengan kehidupan orang-orang yang berada dibawahnya, tapi mendengar kata seperti itu terucap dari bibir Eunso membuat dada Kyuhyun dipenuhi oleh rasa sesak. “sebelum ini kau pernah bilang kau dipecat dari tempatmu bekerja, apa yang kau lakukan hingga kau dipecat?”.
Eunso menoleh kearah Kyuhyun. “kesalahanku adalah karena aku hanya lulusan SMA”
Kyuhyun mengeraskan rahangnya mendengar hal itu, orang macam apa yang tega melakukan hal seperti itu?. Tunggu, Kyuhyun melakukan itu pada beberapa pegawai dihotelnya. Namja itu memejamkan matanya, ibunya benar, Kyuhyun tidak pernah memikirkan nasib dari orang-orang yang secara sengaja ia pecat hanya karena pendidikan terakhir mereka.
“aku yakin, orang yang memecatmu tidak punya hati” Kyuhyun menyindir dirinya sendiri.
Eunso menggelengkan kepalanya. “tidak tuan, dia punya” jawab Eunso.
Kyuhyun menaikkan alisnya. “bagaimana kau bisa tahu dia punya hati?”
‘karena orang itu adalah kau’ batin Eunso. “aku yakin dia punya alasannya, benar bukan?” seperti apapun yang dilihat oleh orang lain tentang kyuhyun, Eunso tahu yang sebenarnya. Seperti yang selalu Minri katakan padanya bahwa Kyuhyun adalah namja yang dingin dan tidak memiliki belas kasihan, seperti itulah yang orang-orang lihat, tetapi dimata Eunso, Kyuhyun adalah namja yang hangat dan lembut, seperti sekarang, namja ini rela meninggalkan acara pestanya untuk menemani wanita yang sedang mengandung anaknya berjalan-jalan dipinggiran pantai.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “mungkin” jawab Kyuhyun.
“halmoni selalu bilang padaku, apapun yang dilakukan oleh manusia pasti selalu memiliki alasannya, entah itu mereka mengetahuinya atau tidak”
“karena itu kau selalu berfikir positif?. Kau tahu orang seperti itu terlihat lemah, dan mereka selalu bisa diperlakukan seenaknya”
Eunso tertawa pelan. “itulah kenapa temanku selalu marah padaku karena aku begitu lemah, aku bahkan tidak protes dengan keras ketika aku dipecat, berbeda dengannya yang mati-matian membelaku”
“teman yang baik. Aku yakin dia orang yang keras kepala dan merepotkan”
“justru aku yang merepotkan, nenekku kutitipkan padanya saat ini”
“bagaimana kabar nenekmu?” kyuhyun hampir lupa, gadis itu memiliki seorang nenek.
“oo.. dia sehat sekali” Eunso senang mendengar Kyuhyun bertanya tentang keadaan neneknya. “ooh..” Eunso menghentikan langkahnya lalu memegang perutnya.
“wae..?” tanya Kyuhyun cemas.
Eunso diam sejenak, memastikan apa yang sedang terjadi. “bayinya cegukan”
Kedua alis Kyuhyun naik. “cegukan..? dia..? didalam perut dia bisa cegukan?”
“nyonya Cho bilang itu hal yang biasa” Eunso tertawa melihat ekspresi terkejut Kyuhyun.
“benarkah..?” Kyuhyun meletakkan tanganya diatas perut Eunso. Gadis itu menahan nafasnya merasakan sentuhan itu, Kyuhyun tidak pernah mengelus perutnya atau semacamnya sebelum ini.
Tidak merasakan apapun Kyuhyunpun membungkuk diatas perut itu, menempelkan telinganya diatas perut Eunso, membuat gadis semakin menahan nafasnya. Eunso menelan salivanya pelan, dadanya terasa penuh. Nyonya Cho sering mengusap perutnya tetapi rasanya tidak mendebarkan seperti saat ini.
“dia tidak bergerak” suara Kyuhyun terdengar sedih, karena tidak bisa menemukan pergerakan didalam perut Eunso.
Eunso tersenyum lalu menyentuh tangan Kyuhyun dan membawa tangan itu kesisi kiri bawah perutnya. “disebelah sini”
“oo..” Kyuhyun terkejut ketika tanganya merasakan sedikit guncangan diperut Eunso. lalu merasakannya lagi. “dia benar-benar sedang cegukan” Kyuhyun menaikkan kepalanya menatap takjub kearah Eunso, tanganya masih memegang perut Eunso, merasakan lagi guncangan disana. “apa sering seperti ini?”
“sesekali, terkadang dia menendang”
“jinjja..?” Kyuhyun lagi-lagi memasang ekspresi takjub
“oo” Eunso tersenyum lagi, ia terlalu senang melihat perubahan-erubahan ekspresi Kyuhyun. “jika aku diam dia selalu menendang”
“kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Kyuhyun mengerutkan alisnya. benar, kenapa ia baru tahu sekarang adahal Eunso sudah sering merasakannya.
“aku pikir tuan tidak ingin tahu” sesal Eunso.
“jika ini wenyangkut perkembangan bayinya, aku jelas ingin tahu” kyuhyun kembali membungkukkan kepalanya diperut Eunso. “mulai sekarang kau harus memberitahuku tentang perkembangan bayi ini”
“ne.. aku mengerti”
.
.
Dddrrtt…ddrrtt…
Eunso memandang ponsel Kyuhyun yang bergetar sejak mereka memasuki mobil, Kyuhyun menyudahi acara jalan-jalan itu dengan membimbing Eunso kembali kemobilnya lagi. Melihat dari nama yang tertera dilayar ponsel itu Eunso tahu nyonya Cho yang sedang memanggilnya.
Kyuhyun berdecak pelan, lalu mengambil ponsel yang ia letakkan didekat rem tangan. “nee eomma..?” jawab Kyuhyun.
“Cho Kyuhyun, kemana saja kau? Pesta tidak bisa dimulai jika kau tidak datang” suara teriakan nyonya Cho terdengar kencang, bahkan Eunso bisa mendengarnya.
“mulailah tanpaku, aku tidak akan kesana”
“oo wae..? ini acara penting, semua kolega kita datang hanya untuk mendengar kata sambutan darimu” Nyonya Cho terdiam. “memangnya dimana kau sekarang?”
Kyuhyun diam, matanya bergerak kekiri dan kanan, apa ia harus menjawab dengan jujur?. “kami sedang berjalan-jalan eomma”
“kami..? kau pergi dengan siapa?” tanya ibunya curiga.
Kyuhyun menyerahkan ponselnya kepada Eunso. “jawab eomma”
“oo? Nee.. yeobboseyo nyonya Cho, ini aku Eunso”
“Eunso..?” suara terkejut nyonya Cho tidak bisa ditutup-tutupi.
“oo.. tuan Cho tadi mengajakku kepantai, aku akan menyiapkan baju pesta yang lain dengan cepat setibanya dirumah agar tuan Cho bisa datang kepesta tepat waktu”
“anniya.. tidak apa-apa.. kalian teruskan saja jalan-jalannya. Pestanya bisa dimulai tanpa Kyuhyun”
“nee.. maafkan aku nyonya”
“eey.. tidak perlu meminta maaf, dimana Kyuhyun?”
Eunso menyerahkan ponselnya kembali kepada Kyuhyun.
“ne eomma..?”
“eeyy.. seharusnya kau bilang dari tadi jika kau sedang mengajak Eunso jalan-jalan. Ya sudah, tidak perlu kesini, kau temani saja dia”
“oo.. sampaikan permintaan maafku karena tidak bisa hadir”
“oo.. annyeong”
.
.
Kyuhyun menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk, ia melirik kearah Eunso yang saat ini sedang tertidur dengan kepala hampir terjatuh dari sandaran kursi. Kyuhyun mengulurkan tanganya menepiskan anak rambut yang menutupi wajah Eunso, gadis itu terlihat sangat damai dalam tidurnya. Kyuhyun melepaskan sabuk pengamannya lalu melepaskan punya Eunso, keluar dari mobil dan berlari pelan lalu membuka pintu penumpang.
Pelan-pelan Kyuhyun mengulurkan tanganya dipunggung Eunso lalu tangan sebelah lagi dilutut Eunso. Kyuhyun mengangkat Eunso dengan mudah, namja itu terkejut mendapati bahwa gadis itu sama sekali tidak berat, bahkan dengan kondisi perut yang sudah membesar. Kyuhyun membaringkan gadis itu perlahan diatas tempat tidur, terdiam ketika Eunso menggeliat, mata gadis itu terbuka dan bertemu dengan mata Kyuhyun. Wajah mereka sangat dekat karena tangan Kyuhyun masih tertahan dibawah kepala Eunso. Eunso mengerjabkan matanya sekali lalu tersenyum.
Kyuhyun menelan salivanya pelan, itu hanya sebuah senyuman tapi kenapa begitu mempengaruhinya. Kyuhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menundukkan kepalanya lalu mencium ringan bibir Eunso.
Gadis itu melebarkan matanya terkejut, itu ciuman pertama mereka setelah Eunso dinyatakan hamil, gadis itu berfikir Kyuhyun tidak akan pernah mencium ataupun menyentuhnya lagi setelah ia hamil, tapi kenyataanya sekarang namja itu melakukannya. Kyuhyun menjauhkan kepalanya lalu menatap Eunso lama, mencari sebuah jawaban dari wajah itu. Wajah yang awalnya mengingatkan dirinya kepada Minhye, tapi sekarang tidak bisa ia temukan lagi alasan kemiripan mereka.  Setelah melihat Eunso setiap hari Kyuhyun tahu perbedaan mereka, meskipun bentuk bibirnya sama tapi senyum mereka berbeda.
Berbeda dengan Eunso yang terdiam karena perasaan bahagia telah dicium lagi Eunso pun kembali tersenyum, membuat Kyuhyun mengerang tertahan dan kembali menundukkan wajahnya lalu mencium Eunso dengan penuh hasrat. Sudah lama Kyuhyun menahan dirinya untuk tidak menyentuh Eunso lagi, sejak dinyatakan hamil Kyuhyun mengambil keputusan untuk berhenti mendekati Eunso, karena keinginannya sudah tercapai. Tetapi Kyuhyun tidak bisa mengingkari gejolak hasratnya terhadap Eunso ketika ia berdekatan dengan gadis itu.
Untuk menghalau hasrat yang tertahan itu, Kyuhyun pun berusaha menghindari Eunso, tetapi semakin ia menghindari Eunso semakin kuat kebutuhannya untuk kembali meniduri Eunso. Ciuman itu semakin memanas, membuat Kyuhyun tidak lagi bisa menahan dirinya, ia tersenyum senang diatas bibir Eunso ketika meraup payudara Eunso. Ukuran kedua benda itu membesar dari kali terakhir yang bisa ia ingat, Kyuhyun melepaskan bibir Eunso lalu mulai melumat payudara kanan Eunso yang telah ia bebaskan dari balutan pakaian itu.
Gadis itu mendesah pelan merasakan sapuan lidah Kyuhyun didadanya, tangannya mencengkeram rambut Kyuhyun. Kyuhyun menarik kepalanya lalu menunduk diatas wajah Eunso. “izinkan aku bercinta denganmu, aku akan berhati-hati”
Eunso terdiam, terlalu takjub karena Kyuhyun meminta izin padanya. Perlahan Eunso menganggukkan kepalanya. Entah apa artinya ini Eunso tidak mau mencari tahu, saat ini ia hanya ingin Kyuhyun terus mencium dan merengkuhnya kedalam tubuh hangat Kyuhyun. Kyuhyun menepati janjinya dengan bercinta secara lembut dan berhati-hati agar tidak menyakiti bayi yang ada didalam kandungan Eunso. Setelah malam ini Kyuhyun mungkin akan terus bercinta dengan gadis itu.
.
.
TBC…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: