ELEGY | FF Korean

1
ff exo kai ELEGY
Elegy
With EXO’s Kim Jongin and OC’s Jacquelline Wang
A dystopia, sci-fi, tragedy, slight!family, slight!friendship story rated by T in vignette length
“…jangan pernah membuat janji yang tak bisa kau tepati…”
██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██
In Jacquelline’s Eyes…
Ledakan itu membangunkanku, menyadarkanku bahwa aku tak seharusnya tidur dan berdiam diri. Aku menarik dan menghembuskan nafas panjang sesekali. Mengingat sesuatu yang tadi sempat tak kusadari. Bahwa kini aku sendiri.

Kupaksa tubuh ini untuk bangkit dan berdiri. Walau sekujur tubuh ini meronta merasakan nyeri. Netraku berusaha beradaptasi dengan kabut yang mendominasi. Otakku kembali memberiku ingatan tajam bahwa adikku, Jesslyn, sudah dibawa pergi oleh orang-orang bersenjata api. Dan Kai, satu-satunya harapan kami, telah hilang di telan kekacauan ini.
Lalu kemana gerangan aku harus membawa diri ini pergi?
Peperangan di luar sana sungguh kutakuti. Namun kesunyian dan kesendirian ini lebih menyiksa dan mengingatkanku bahwa tak ada seorangpun yang kini kumiliki. Aku harus menemukan Jesslyn, memastikan bahwa ia berhasil melewati ketakutannya sendiri. Tapi aku bahkan terlalu takut untuk menghadapi ketakutan yang kumiliki.
Kai… kemana gerangan kau pergi? Kenapa aku kini rindu pada Kai yang penuh proteksi?
Perang dunia telah tiga tahun kulalui. Namun tak ada tanda perdamaian sama sekali. Aku tahu aku tidak seharusnya ada di sini. Ini bukan rumah, aku kembali mengingatkan diri. Karena rumah yang sebenarnya, sudah hancur berkeping akibat ledakan bom milik para petinggi. Merenggut nyawa orang-orang yang berarti bagi kami. Tak hanya bagiku dan Jesslyn, tapi seluruh penduduk negeri yang tak lagi bisa kusebut jika kubayangankan keadaannya kini.
Aku bahkan tak bisa mengenali tempatku sekarang berlindung diri. Gangnam, mungkin, karena gedung yang dulu menjadi kebanggaan kota ini bahkan hampir sepenuhnya tenggelam ditelan sungai lava yang kemunculnya tidak pernah kuketahui dengan pasti.
Korea tak lagi bisa kusebut sebagai sebuah negeri. Kemerdekaannya telah terenggut di tahun 2021, bersamaan dengan hancurnya Seoul dalam ledakan yang tiga tahun lalu telah menghampiri. Sementara petugas berseragam yang kukenali sebagai tentara negara asing sekarang memburu kami dengan senjata api.
Sungguh terlalu banyak kehancuran yang harus kuhadapi. Peperangan ini bahkan telah menakuti sang mentari. Kini, ia bahkan enggan bersinggah karena tak ingin melawan asap hitam dan kabut yang selalu melingkupi. Tangisan dan rintihan seringkali kudengar sebagai pengantar tidur di malam hari. Untuk kemudian berganti dengan ledakan di waktu yang tak lagi bisa kuberi deskripsi sebagai pagi.
Tembakan kerap terdengar sebagai tanda perlawanan pemuda-pemudi yang berusaha mempertahankan negeri. Suaranya berbaur dengan teriakan dari jenderal-jenderal dengan bahasa asing yang tak sepenuhnya kumengerti. Meski kuyakini mereka pasti memberi sebuah perintah yang membuatku bergidik ngeri. Ketika sekon selanjutnya hanya ledakan keras dan debuman tiada henti, beradu dengan desingan ratusan peluru dari senjata api yang ikut menyertai.
Kenapa gerangan manusia tak jua ingin berhenti? Tidakkah mereka sadar bahwa mereka telah menghancurkan lebih dari separuh bumi ini?
Derap langkah berat dan terlatih kini masuk dalam runguku dan menghantui. Mencipta ketakutan lebih dari hari kemarin saat kumasih merasakan Jesslyn menautkan jemari pada jemariku yang basah karena ketakutan yang tak bisa kupungkiri.
Tanpa menunggu waktu, segera kusembunyikan diriku di balik runtuhan tembok yang tadi kusandari. Kudengar gerutuan pelan di balik tembok rapuh yang kini jadi satu-satunya pelindung diri. Pembatas antara aku dan pasukan kaukasian pemilik paras dengan garis wajah tegas yang sama dengan Kai yang telah pergi.
Perlu keberanian bagiku untuk menyembulkan kepala dan mencari jawaban atas kuriositas yang sedari tadi membayangi. Seorang yang kuyakini pemimpin pasukan itu lantas mengucap satu kalimat yang tak kumengerti. Sekon selanjutnya sudut bibir lelaki berusia kisaran empat puluh itu menjungkit membentuk kurva yang membangkitkan kuriositas lainnya dalam diri ini.
Netraku mendapati sebuah tank gelap melintas di belakang sang pemimpin yang masih tegap berdiri. Pintu belakangnya terbuka dan beberapa orang di dorong dengan kasar untuk berlutut seolah memohon keselamatan diri. Orang-orang yang kukenali sebagai penduduk negeri yang untuk membayangkan kebebasannya saja aku bahkan tak berani.
“Tuhan tidak akan diam melihat kekejaman ini!”
Ucapan yang merupakan kalimat keputus asaan dan juga do’a itu jadi kalimat pertama yang menyambangi runguku dengan jelas setelah tangisan dan rintihan selama hampir dua minggu ini juga ucapan lain dengan bahasa yang tak pernah kumengerti.
Derap langkah lainnya terdengar, kali ini nyaringnya logam beradu dengan runtuhan bangunan yang telah menyatu dengan tanah, apa gerangan yang akan terjadi?
Aku tak lantas menenggelamkan diri dan bersembunyi. Sebuah keputusan yang kemudian kusesali. Karena nyatanya aku menjadi saksi bisu atas pembunuhan massal yang terjadi di depanku dengan keji. Sementara bergerak pun aku tak berani.
Puluhan, tidak, ratusan tembakan kini jadi satu-satunya suara yang kudengar saat netraku tak sanggup beralih dari tubuh-tubuh yang tertembus mesiu dan jatuh tak sadarkan diri. Di sana, beberapa meter dari tempatku bersembunyi, kutemukan pemikiran bahwa negeri ini tak akan lagi bisa ditinggali. Negeri ini telah mencapai batas akhir kelayakannya untuk berpenghuni.
Bagaimana tidak, bahkan seorang sepertiku hanya sanggup berdiam saat bangsanya meregang nyawa karena senjata api. Lantas, haruskah kukatakan dengan gamblang bahwa aku tak tahu berapa lama lagi aku akan bertahan hidup dan terus bersembunyi?
Segera kusadarkan diri, aku akan memohon pengampunan pada Tuhan karena telah membiarkan pembunuhan keji terjadi. Namun aku pun ingin bertahan hidup, aku ingin menemukan Jesslyn, harapan untuk menemukannya adalah sebuah asa bagiku untuk bertahan hidup hari ini.
Entah karma apa yang akan ku terima nanti. Tapi kutahu Tuhan mengerti kebimbangan yang kualami. Aku ingin hidup, aku ingin hidup bahkan jika pada akhirnya harus menghadapi kehancuran negeri ini.
Kini kuketahui langkah-langkah berat berbeda itu berasal dari beberapa orang dengan pakaian titanium dan beberapa cahaya berkilat di bagian sang pakaian besi. Tidak salah lagi, mereka pasti dilengkapi dengan perlengkapan perang canggih lainnya milik musuh luar negeri.
Sesuatu dengan kecanggihan teknologi atau hanya sekedar pakaian pelindung diri. Aku tak bisa mengetahuinya dengan pasti. Karena mereka kini memunggungiku dan aku hanya seorang saksi bisu dari pembantaian yang tak kunjung berhenti.
Kembali kusembunyikan diri ini. Seolah tubuh ringkihku bisa terlipat dua, aku memeluk lutut dan berusaha bernafas teratur yang beradu dengan degup jantung membentuk sebuah irama yang sarat akan ironi. Timbul kekhawatiran jika saja mereka bisa mendengar lompatan jantungku yang ingin keluar dari persinggahannya karena keberadaan mereka di sini.
Kupandangi buku jariku, kusadari aku tak lagi ingat kapan terakhir kali aku merasakan air, kulit ini bahkan berkerut seolah aku mengalami penuaan dini. Usiaku belum menginjak delapan belas tahun saat perang ini terjadi. Apa daya, dibanding air, atau makanan, bertahan hidup adalah satu-satunya yang bisa kuharapkan untuk sekarang ini.
Jesslyn, aku tak boleh menyerah sekarang dan berhenti mencari. Mengingatnya, senyum Jesslyn yang dipaksakan untuk muncul di tengah ketakutan adalah penghibur bagiku ditengah elegi. Ucapannya bahwa kami akan bertahan hingga akhir adalah do’a yang terpanjat dari gadis kecil berusia sepuluh tahun yang tak lagi kuketahui keberadaannya kini.
Likuid bening sekarang mengalir dan mencipta genangan di pipi. Tak lagi aku sanggup membendung sesak yang menusuk dada dan ingin meledak di tengah kekacauan yang terjadi. Aku sangat ketakutan, di waktu yang sama, aku ingin menghilangkan ketakutanku karena aku tahu jika aku takut dan terus bersembunyi, aku tak akan bisa menemukan Jesslyn lagi.
Kututupi bibirku dengan jemari kotor yang membuatku merasakan debu masuk ke dalam mulut, bercampur dengan asinnya air mata dan isakan menyedihkan yang menyusup lewat celah kecil yang tercipta di antara jemari.
Deru mesin tank, suara langkah terlatih menjauh, dan sisa rintihan yang terdengar nampaknya menjadi pertanda bahwa mereka sudah pergi. Sekarang yang kulakukan hanyalah merenungi. Haruskah aku bangkit dan berlari? Haruskah aku berdiam dan kembali bersembunyi?
Bayangan Jesslyn kembali menghantui. Aku harus menemukannya, aku harus menemukan adikku apapun yang terjadi. Bahkan jika aku mati, aku harus pastikan bahwa Jesslyn akan hidup dan bisa melalui semua ini. Peperangan ini memang bagaikan sebuah ironi. Tapi apa hal lain selain kehidupan yang kami bisa harapkan dari perang yang sudah tak terelakkan lagi?
Netraku memanas, tubuhku bergetar tanpa kusadari. Tangisan ku kembali terdengar berbaur dengan rintihan orang-orang yang meregang nyawa dan tak dapat tertolong lagi. Tak bisa, aku tak bisa berdiam diri, karena nasib dan kesempatan bertahan hidupku tak akan berubah jika hanya kurenungi.
Walau tubuh ini mungkin menyerah jika terus begini. Walau aku harus menerima luka karena ingin mempertahankan diri. Semuanya akan terbayar suatu hari nanti. Aku tahu Tuhan memiliki takdir untukku yang telah menanti.
Kupaksa tungkaiku untuk berdiri. Sementara tubuhku sempoyongan berusaha menyeimbangkan diri. Tanganku berpegang pada runtuhan tembok yang tadi melindungi. Tatapanku berkunang-kunang karena energi yang telah terkuras tanpa henti.
Sekali lagi aku memaksa irisku menatap orang-orang yang kehidupannya telah terenggut dan mati. Namun netraku menangkap sesuatu yang tak seharusnya masih kudapati. Di sana, di balik balutan titanium perkasa yang tadi turut menyumbangkan puluhan mesiu, dua orang masih tegap berdiri. Dan salah satunya adalah seorang yang sangat kukenali.
Rambut coklat keemasan miliknya tertiup angin pagi yang sekaligus membekukanku karena di waktu yang bersamaan tatapanku bertumbuk dengan sepasang iris hazelnya yang masih sama seperti yang kuingat dalam memori. Dan kini Ia ada di sana, baik-baik saja, padahal aku telah putus asa mencarinya dan menganggap Ia telah mati.
“Kai, kau di sini.” lirih itu dengan lancang berhasil keluar dari bibir ini.
Di sana, Kai, pemuda yang telah kukenal selama hampir separuh usiaku kini berdiri. Dengan balutan titanium milik tentara kaukasian yang tadi merenggut nyawa anak negeri. Menatap dengan sepasang hazelnya yang tak lagi terlihat seperti dalam memori. Tercekat, kusadari ia tak lagi Kai yang kukenali.
Tubuhku terhuyung, lututku seolah tak sanggup berdiri lebih lama lagi, tungkaiku memberi isyarat pada pemiliknya untuk berlari. Bertahan hidup kini telah tumbuh dan berkembang menjadi sebuah naluri alami. Ya, dia Kai, dia memang Kai, tapi satu hal yang pasti, dia kini tak sama lagi.
Aku berbalik, mengikuti keinginan tungkaiku yang ingin berlari. Kubuang jauh kerinduan dan keinginan untuk merengkuh tubuh Kai yang selama ini selalu tegap melindungi.
Tangisku pecah seiring dengan kenangan yang muncul bergilir dalam otak ini. Berat langkah Kai memburuku dan terdengar makin dekat pada diri yang tungkainya bahkan tak lagi sanggup berlari. Kini, entah mengapa bukannya takut yang menguasai. Namun kekecewaan yang sepenuhnya berhasil menyergapi.
Langkahku terhenti, sungai lava kini kuhadapi. Kubalikkan badan, tegapnya tubuh pemilik nama asli Kim Jongin telah menanti. Canggung, ingatanku tentang beberapa tahun lalu saat ia muncul sebagai seorang pemuda pindahan dari luar negeri yang tak tahu apa-apa tentang negeri ini muncul silih berganti.
Sementara kini aku bergeming karena hidupku akan berakhir di tangannya yang dulu penuh proteksi. Di tangan seorang yang kuanggap sebagai sahabat sekaligus pelindung bagiku dan Jesslyn yang telah bertahun-tahun hidup sendiri.
Sekilas, hanya beberapa sekon, aku seolah terjebak dalam delusi yang memaksa neuron dalam otakku untuk percaya bahwa aku melihat Kai tersenyum samar pada diri ini. Tapi kuyakinkan diriku bahwa itu hanya sebuah harapan yang mencipta halusinasi.
Karena sosok tegap di hadapanku kini tengah memainkan jari telunjuknya pada pelatuk senapan yang terarah ke kepalaku, sementara aku tak lagi ingin berlari menyelamatkan diri karena pasrah telah menyelimuti.
“Kai, kenapa kau melakukan semua ini?”
Kecewa, ya aku kecewa karena aku tahu aku telah dikhianati. Oleh seorang yang sangat kupercaya dan bahkan menjadi satu-satunya tameng dalam hidupku yang menyedihkan ini. Tak lantas menyahut apapun, kurasakan dingin moncong senapan itu di dahi. Mencipta kesedihan lain yang menyusup masuk dalam kalbu, memaksa likuid bening untuk kembali keluar dan membuat genangan lain di pipi.
“Kai, apa yang terjadi? Tolong katakan padaku bahwa semua ini hanya halusinasi.” Kai bergeming, irisnya lekat menatapku, mengunci tubuhku dari usaha berlari yang seharusnya kulakukan untuk menyelamatkan diri.
“Aku bukan Kai yang kau kenal, aku hanya seorang robot yang di tugaskan menunggu waktu untuk melenyapkan tempat menyedihkan ini.” kurasakan jantungku sejenak kehilangan fungsi normalnya saat mendengar ucapan Kai bahwa ia hanya seorang robot dari tentara kaukasian itu, memangnya ini dunia fantasi?
“Kai, kau tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda seperti ini.”
Sekon selanjutnya, Kai mengalihkan pandangnya dariku, namun kembali, sepasang hazel itu menatapku dengan keyakinan dan ketegasan di masing-masing maniknya, manik dengan tatapan hangat milik Kai yang dulu selalu terpatri.
“Aku sudah berjanji aku akan menyelamatkan Jesslyn, aku… aku sudah berjanji.” lirihku bercampur dengan tangisan menyedihkan yang menemani sekon-sekon terakhir hidupku yang sebentar lagi akan berakhir di tangan seorang yang selama ini membuatku merasa terlindungi.
“Sudah pernah kukatakan, jangan pernah membuat janji yang tidak bisa kau tepati.”
Nafasku tercekat, tungkaiku tak lagi sanggup menahan bobot diri ini. Konversasi ini pernah ia utarakan bertahun lalu dan kini kembali kuingat, sebuah perdebatan saat kuminta oa berjanji tak akan meninggalkan kami namun ditolaknya karena ia enggan membuat janji yang tak bisa ia tepati. Tapi setelah semua waktu yang kami lalui, mengapa ucapannya membuatku sekecewa ini?
Kalimatnya sekaligus menjadi jawaban bagi pertanyaan yang sedari tadi bergelayut di pikiran ini. Ia ingat ucapan yang dulu pernah di katakannya, kini semua asumsiku tentang Kai di hadapanku masih Kai yang dulu kukenal telah terealisasi.
“Cepat atau lambat, kau juga akan mati. Jika bukan di tanganku, maka di tangan rekanku, kau tahu kau tak lagi bisa bertahan dalam perang ini.”
Aku limbung, ucapan Kai adalah alarm yang menyadarkan tubuh ini dari delusi dan asa tentang sebuah kehidupan, tubuh ini tahu bahwa pemiliknya akan meregang nyawa, dan kini ingatan-ingatan juga kenangan dalam benakku menari-nari. Menjadi sebuah bayangan hangat yang mengantarku pada tidur abadi.
Senyuman Jesslyn, tawa kami bersama Kai yang kukenal, bahkan ingatan terburuk tentang bagaimana aku menjadi sumber kesedihan bagi keluarga kecilku, semuanya menjadi rangkaian film dalam otakku yang mulai membeku karena ketakutan ini.
Bayangan Ayah yang tertabrak karena kecerobohanku melepas genggaman dari Jesslyn saat kami berbelanja di supermarket, bagaimana Ibu berusaha melukaiku karena kepergian Ayah dan membuatnya mendekam di rumah sakit jiwa hingga akhirnya meregang nyawa dengan menggantung diri. Semua ini karenaku, kesedihan ini, hidupku hanya akan dipenuhi ratapan dan lantunan kesedihan tanpa henti.
Dan kemarin, untuk kedua kalinya aku menyesal telah melepas genggamanku pada Jesslyn karena aku tak bisa berbuat apapun ketika netraku menangkap Jesslyn yang di seret masuk dalam truk tentara asing sementara ia meneriakkan namaku dalam tangisan menyedihkan yang ia miliki.
“Aku harus menyelamatkan Jesslyn, aku tak bisa mati sebelum melihatnya dengan mataku sendiri.” garis wajah tegas itu mengeras, sementara iris hazelnya menatapku tanpa simpati.
Seolah memberi isyarat bahwa ucapan apapun yang kukatakan tak akan membuat senapan itu beralih dari kepala ini. Dan sebentar lagi, mesiu akan menembusnya untuk membawaku dalam kesakitan yang sama seperti yang tadi hanya dapat kupandangi.
“Maafkan aku Jac, tapi ini semua harus di akhiri.”
DOR!
Tubuhku terhempas, dengan menyedihkan jatuh ke tanah sementara aku tak lagi merasakan sakit di tubuh ini. Aku berusaha menarik nafas, tapi tak ada lagi oksigen memenuhi alveoli. Kugerakkan jemariku menyentuh luka memanas yang telah dicipta Kai. Dadaku terasa basah dan likuid mengalir keluar, darah, kuyakini, mesiu sudah berhasil menghancurkan paru-paruku dan tak lagi mengizinkanku bernafas lagi.
“K-Kai…”
Kupandangi punggung Kai yang kini menjauhi. Tanpa bisa kucegah, pandanganku mulai tertutupi kabut bening yang merupakan luapan kesedihan dan kekecewaanku karenanya, karena ia tak hanya pergi dengan meninggalkan luka di tubuh ini, tapi juga telah meninggalkan luka di relung terdalam hati ini.
Aku memejamkan mataku, berharap kematian tak akan sesakit yang selalu kutonton selama ini. Berharap Tuhan akan memberi sedikit keringanan pada insan lemah yang bahkan tak bisa menyelamatkan saudarinya karena ancaman sebuah senjata api.
Perlahan, walau dengan menyakitkan, aku memaksa tubuhku untuk terus memasok oksigen untuk bertahan hidup walau hanya untuk beberapa detik lagi. Suara langkah familiar di dekatku kini menginterupsi. Aku menggerakkan tubuhku, menangkap tegap tubuh Kai berdiri di sebelahku yang sebentar lagi mati. Aku memejamkan sejenak mataku, berusaha membedakan ilusi dan kenyataan yang mungkin telah berbaur menjadi satu bayangan yang nampak nyata dan sekarang kualami.
“Hey, gadis pemberani.” kelopak mataku berusaha terangkat, suara bariton itu terdengar bagai delusi. Menyebut satu panggilanku yang selalu ia sukai.
Tubuh tegap itu kini menatapku, sementara tatap bersahabatnya dulu tak kutemukan lagi. Samar, aku melihat bayangan wajah sempurna Kai yang selalu kugilai, menatapku dalam kekhawatiran yang sarat di sepasang iris hazel lembut yang Ia miliki.
Oh Tuhan, apa aku kembali terjebak dalam delusi? “Walaupun ini hanya tidak nyata, aku senang Kai, karena kau ada di sini dan menemani.”
Lagi-lagi pemuda itu berbalik dariku, sungguh, aku tak keberatan bahkan jika ia kembali pergi. Toh, aku sebentar lagi aku akan mati. Bayangan Jesslyn kembali ingin membuatku berharap untuk hidup dan bisa berlari.
Tapi aku bahkan sudah terlalu menyedihkan untuk sekedar bernafas dan bertahan hidup di bumi yang tak lagi berbentuk ini. Aku ingin hidup, tapi aku takut untuk menghadapi semuanya lagi. Selain kematian, memangnya apa yang jadi akhir indah bagi peperangan tiada akhir ini?
“S-Selamatkan Jesslyn, Kai…”
“Kenapa?” kudengar Kai bertanya pada diri ini. “Aku… menyerah, Kai.”
Aku kembali melempar pandang, dan ilusi itu datang lagi. Kai yang namanya selalu kugumamkan dalam ketakutanku kini menjadi ilusi nyata dalam pandangan ini. Kedua telapak tangannya kurasakan di tubuh rapuhku, paras sempurnanya menjadi sebuah fatamorgana bagi netra yang tak lagi sanggup menatap ini. Tegas wajahnya tak lantas hilang meski lengkung sempurna telah terpatri.
Untuk apa semua delusi indah ini? Jika semuanya tidaklah nyata dan pasti menghilang lagi?
“Jesslyn bersamaku, Jac, dia sudah jadi salah satu dari kami.”
Benarkah, Kai? Aku ingin bertanya pada Kai tentang kebenaran ucapannya, aku ingin sekali percaya bahwa Jesslyn benar-benar bersamanya walau menjadi mesin pembunuh penduduk negeri.
Tapi tubuhku tak sanggup memberi energi. Paru-paruku telah berhenti bekerja, membuat neuron di otakku tak lagi mendapat asupan oksigen dan akhirnya… aku tak lagi bisa mendapatkan kesadaran untuk sekedar bertahan hidup dan bertanya pada Kai.
“Terima kasih… Kai.”
Kurasakan jemari Kai mengusap pipiku, lembut, sebelum aku menutup mataku, membiarkan kematian menjemput dan membawaku ke persinggahan abadi.
“Pergilah dengan tenang, Jac, kematian adalah akhir yang baik untuk kau yang kucintai tapi tak bisa kulindungi.”
FIN.
%d blogger menyukai ini: