DEVIL’S TEMPTATION

0
DEVIL’S TEMPTATION ff nc kyuhyun oneshoot super junior
Tittle                : DEVIL’S TEMPTATION
Author             : Moramyun
Main Cast        :
– Choi Yongneul
– Cho Kyuhyun
– Cho Nami
Genre               : Mystery, NC 17
Rate/ Lenght    : Oneshot
Disclaimer       :
Hi, semuanya! Ini pertama kalinya aku kirim FF di blog ini. Semoga bisa diterima dan disukai oleh Admin dan teman-teman semua ya.
Kita flashback ke tanggal 19 April 2007, dimana Kyuhyun mengalami kecelakaan. Coba kalian bayangkan bagaimana jadinya jika kalian bertemu dengan Kyuhyun di rumah sakit saat itu. Dia bukan seorang artis, dia hanya orang biasa. Dan setelah bertahun-tahun Kyuhyun menghilang, kalian tidak sengaja bertemu kembali, tapi dengan Cho Kyuhyun yang berbeda. Apa yang akan terjadi….?

SEOUL, KOREA. 27 June 2007.
=== Yongneul POV ===
Aku berjalan mengendap-endap, tetap waspada, takut sewaktu-waktu ada seseorang mengikutiku. Aku berdiri di depan pintu kantin dan melihat makanan yang berada di ujung sana. Benar-benar menggiurkan, bisakah aku memakan makanan itu saja? Lidahku akan bersahabat dengan makanan seperti itu. Aku kembali berjalan untuk memasuki kantin. Seorang pelayan melihatku dan mengerutkan keningnya. Aku hanya tersenyum kuda padanya dan melambaikan tanganku. Namun di saat aku kembali berjalan, aku merasa seseorang menarik kerah belakangku.
“YAK!!” teriak orang itu. Oh sial! Aku tahu siapa pemilik suara ini. Dia pasti suster Jung. “Mau kemana kau? Huh?”
“Ehehehehe…. tidak kemana-mana.” Aku berbalik namun dia masih menarik kerah belakangku.
“Kau ini benar-benar! Apa kau mencoba untuk memakan makanan kantin lagi? Huh? Sudah kubilang tidak boleh. Mengapa kau sangat keras kepala?”
“Sedikit saja. Oh ayolah. Lidahku bosan memakan makanan rumah sakit, hambar sekali.”
“Itu memang sudah seharusnya. Kau ini satu-satunya pasien yang sulit untuk diatur.” Dia membawaku keluar dari kantin. “Aku akan membawamu ke dokter Kim dan akan melaporkannya.”
“Andwaeyooo~”
“Aku sudah lelah mengurusmu. Mengapa ibumu tidak datang saja dan membawamu keluar dari rumah sakit ini? Seharusnya kau sudah boleh pulang dan menjalani rawat jalan saja. Mengurus pasien sepertimu selama sebulan ini membuat kepalaku ingin pecah.”
Dia masih saja memarahiku disaat kami berjalan di koridor rumah sakit. Suster Jung adalah salah satu suster yang bekerja di rumah sakit ini, juga berstatus sebagai adik ibuku. Karena itu dia berani memarahiku dan aku pun berani mengelabuinya hahahaha. Dia selalu bersikap manis dan baik pada pasien yang lain tapi tidak padaku. Dia akan terus meneriakiku jika aku tidak menurut padanya. Sebenarnya dia orang yang sangat baik padaku, berkali lipat lebih baik dari ibuku yang sekarang tinggal di Paris bersama suami barunya. Iya, suami barunya. Kedua orangtuaku bercerai. Aku tinggal bersama appa di Seoul sementara kakak perempuanku ikut bersama eomma dan tinggal di Paris sejak eomma menikah dua bulan yang lalu.
Aku masuk ke rumah sakit ini sekitar sebulan yang lalu. Saat itu aku mengalami kecelakaan ketika mencoba untuk mengendarai motor. Keseimbanganku goyah lalu dari arah yang berlawanan sebuah mobil truck menabrakku. Motorku hancur total. Saat aku membuka kedua mataku, aku sudah berada di pinggir trotoar. Banyak orang mengerumuniku hingga aku melihat kegelapan di depan mataku. Kukira seperti itulah rasanya jika malaikat menjemputku. Namun aku kembali tersadar, aku sudah berada di ranjang rumah sakit. Saat itu ada appa yang menggenggam tanganku, eomma yang menangis di sebelah kananku, dan Yongseul -kakak perempuanku- yang ikut menangis bersama eomma. Aku mengalami koma selama hampir 24 jam. Wajah dan tubuhku memang tidak mengalami luka goresan parah namun kaki dan tangan kiriku patah. Dan benturan keras dari trotoar membuatku tidak sadarkan diri. Beruntung saat itu juga dokter berhasil mengeluarkan darah yang belum sempat menggumpal di kepalaku.
“Jangan membuatku susah, Yong. Jika kau terus seperti ini, aku akan memulangkanmu secara paksa. Kau mengerti?”
Dia masih saja mengoceh. Sepertinya dia benar-benar ingin mengadukanku pada dokter Kim. Lebih baik aku melarikan diri.
Aku meliriknya yang masih bercuap-cuap, sementara aku mengambil aba-aba untuk berlari. Untung saja kakiku cepat pulih. Tidak sia-sia setiap hari aku berlatih untuk berjalan.
“Imo cerewet!”
“Mwo?”
Aku tidak menyahutinya. Aku segera berlari dan dia kembali berteriak. “Sampai jumpa, imo!”
“YAK! BERHENTI KAU!! Jangan berlari di koridor rumah sakit! Yaish!!!”
Aku berlari ke koridor kanan di saat aku tidak melihatnya di belakangku. Namun tiba-tiba aku terkejut saat aku hampir menabrak seseorang. “WAA~!!!” teriakku karena terkejut.
“OMO!” Dia menjatuhkan barang-barangnya.
Hampir saja aku menabrak wanita cantik ini. Aku membantunya mengambil barang-barangnya yang terjatuh. “Ma-maaf!” ah sial! Aku masih bisa mendengar suara sepatu imo. “Nona, aku butuh bantuan.”
“Apa??”
“Tolong jangan katakan pada suster itu jika aku bertemu denganmu. Kumohon.”
“Suster??”
“Aku mohon.” Aku memegang kedua tangannya. “Dia menyeramkan sekali.”
“Me-menyeramkan??”
Aish! Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Lebih baik aku bersembunyi dulu. Aku membuka sebuah ruang rawat. Aku tidak tahu siapa penghuni ruangan ini, aku harus menyelamatkan diri dulu. “Please.” Kataku padanya dengan suara pelan sebelum aku menutup pintu ruang rawat itu.
Aku bersandar di pintu ruang itu dan menyimak suara yang berasal dari luar sana.
“Eo, nona! Apa anda melihat seorang pasien berlari di sekitar sini?”
“Pasien??”
“Iya, dia memakain kemeja pasien. Rambutnya panjang, tingginya sekitar 167 cm, dan dia memiliki tahi lalat kecil di pinggir mata sebelah kanannya. Apa anda melihatnya?”
Aku tidak mendengar suara berikutnya. Apa wanita tadi akan mengatakannya pada imo? Oh tidak. Aku tidak ingin imo membawaku ke dokter Kim dan mengadukanku lagi. Aku harus kembali ke kamarku dan berakting agar dokter Kim tidak mempercayai ceritanya. Kumohon, nona. Kau harus membantuku.
“Tidak ada. Tidak ada orang sejak tadi.”
“Benarkah?? Tidak ada seorang pun?”
“Aku baru saja keluar dari kamar adikku untuk membuang sampah tapi tidak melihat siapapun berjalan di sekitar sini.”
“Bagitu ya… baiklah, kalau begitu terimakasih.”
“Iya.”
Aku masih memperhatikan suara langkah imo untuk memastikan kepergiannya. Dan aku baru bisa bernafas lega setelah aku tidak mendengarnya lagi. Aku mengusap dadaku, “haa~”
Aku melihat seseorang tertidur di atas ranjang ruang rawat ini. Dia memunggungiku, sepertinya dia sedang tidur. Semoga aku tidak mengganggunya. Dengan sangat pelan aku membuka pintu kamar ini dan keluar secepatnya. Aku mendekati wanita tadi, “terimakasih. Kau baik sekali.” Dia tersenyum padaku. Aku melihat barang-barang yang dibawanya. “Ah biar kubantu.” Baru saja aku akan membawa barang-barang itu, dia justru menahanku.
“Eo, tidak perlu.”
“Tidak apa, aku hanya membantu.”
“Tidak, tidak…”
“Tidak perlu sungkan.”
“Tidak, jangan! Itu sampah.”
“Ne??” aku menatap barang-barang yang ada di tanganku itu.  Ternyata itu memang sampah. “Aaaa… ahahahahahahaha… maaf, kukira….”
Dia mengambil sampah itu dariku kemudian membuangnya di tempat sampah yang berada di samping pintu ruang rawat. “Tidak apa. Ngomong-ngomong… suster tadi sepertinya tidak menyeramkan.”
“Sebenarnya dia adalah bibiku. Dia memang baik, tapi akan terlihat menyeramkan di mataku.” Dia tertawa mendengar kenyataan yang kuceritakan. “Ah iya, aku Choi Yongneul. Kamarku berada di koridor seberang.”
“Aku Cho Ahra, aku sedang menunggu adikku yang di rawat.”
“Dirawat di mana?”
“Di belakangmu.”
Eo, jadi ini kamar rawat adikknya? “Di sini??” dia mengangguk. “Ah maaf. Tapi tenang saja, dia tidak terbangun. Emm… boleh aku memanggilmu dengan sebutan eonni? Aku masih 19 tahun.”
“Tentu saja. Oh ya, kau sakit apa? Sepertinya kau terlihat sehat.”
“Aku sakit jantung.”
“JINJJA?!” dia membulatkan kedua matanya.
“Aku hanya bercanda hehehehe…. Sebenarnya aku sudah sembuh tapi appa belum juga menjemputku, appa masih sibuk dengan pekerjaannya jadi aku harus menunggu beberapa hari lagi untuk keluar dari rumah sakit.”
“Oh.. pantas kau bisa berlari sangat kencang tadi.”
“Eng eonni, boleh aku masuk ke dalam? Aku ingin menjenguk adikmu.”
“Tentu saja boleh. Ayo masuk.”
Dia lebih dulu masuk, dan aku mengikutinya. Ruang rawatnya mewah, semua yang dibutuhkan ada di ruangan ini. Mungkin keluarganya membayar mahal hanya untuk semalaman.
“Dia masih tidur.” Katanya.
Aku mendekatinya. Adiknya masih di posisi yang sama saat terakhir aku melihatnya. “Dia sakit apa?”
“Dia mengalami kecelakaan sebulan yang lalu tapi sekarang kondisinya sudah membaik. Sudah lebih dari sebulan dia dirawat di tempat ini.”
“Aku juga sudah sebulan. Dan aku sudah sangat bosan berada di tempat ini.”
Dia tertawa ringan. “Semua pasien akan berkata seperti itu. Adikku juga.”
Aku memperhatikan setiap bagian dari kamar ini. Sepertinya orang ini memiliki teman yang banyak, terlihat ada banyak bunga di tempat ini. Mungkin karena banyak yang menjenguknya, tidak sepertiku. “Sepertinya adikmu memiliki banyak teman.”
“Iya, dia berteman dengan siapapun. Dia memiliki rasa menghargai yang tinggi terhadap banyak orang dan dia tidak suka melihat orang lain direndahkan. Karena itu banyak yang menyukai Kyuhyun.”
“Kyuhyun??”
“Hm. Adikku.” Dia menatap punggung adiknya yang masih tertidur pulas.
Tiba-tiba pria yang bernama Kyuhyun itu menggeliat pelan. Dia membalikkan tubuhnya dan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia membuka matanya dan tatapan kami bertemu. Indah.. kedua bola matanya sangat indah.
“Kau sudah bangun, Kyuhyun-i?”
“Hmm…” dia mencoba untuk duduk dan Ahra membantunya. “Nuna… di mana samchon?”
“Samchon pulang sebentar. Ah apa kau haus?” adiknya mengangguk. “Tunggu sebentar di sini. Nuna akan membelikan air mineral, airnya habis.”
“Iya.”
“Aku titip Kyuhyun sebentar.” Kata Ahra padaku.
“Eo? I-iya.” Aku melihat Ahra yang meninggalkan kami.
“Kau siapa?” pertanyaan Kyuhyun mengalihkan perhatianku.
“Oh, aku.. Choi Yongneul. Hai…” aku tersenyum padanya.
“Hai,” dia membalas senyumanku. “Aku Cho Kyuhyun.” Astaga….! suara lembutnya menembus gendang telingaku. Dan senyumannya…. “Mau berteman denganku?” tanyanya seraya mengulurkan tangannya padaku.
SEOUL, KOREA. June 2015.
Aku berlari secepat mungkin sembari melihat jam tanganku. Bus sudah berada di depan mata. Aku terlambat berangkat kerja! “BERHENTIII!!!! TUNGGU!!” Teriakku saat bus itu akan segera meninggalkan halte. Bus itu berhenti dan aku terengah-engah sebelum naik.
“Ppalliwa..!” suruh supir bus itu saat melihatku. “Kau selalu terlambat. Apa bossmu tidak marah?”
Aku tertawa hambar, “terimakasih sudah mau menunggu.” Kemudian aku duduk tepat di belakangnya. “Tentu bossku akan marah.”
“Tapi kau selalu mengulanginya lagi. Jika aku menjadi bossmu, tentu aku sudah memecatmu dari perusahaanku.”
“Sayangnya bossku masih memiliki tenggang rasa pada karyawannya.”
“Itu bukan tenggang rasa. Tapi rasa kasihan.”
Aku mengerutkan hidungku dan mencibirnya. Dia selalu menasihatiku macam-macam, seperti orangtuaku saja. Padahal usia kami tidak jauh berbeda. Sebenarnya aku dan supir bus ini berada di sekolah yang sama saat usia kami 14 tahun. Kemudian aku pindah sekolah karena perceraian orangtuaku. Lalu kami tidak sengaja bertemu lagi sekitar setahun yang lalu. Nama temanku ini adalah Han Taehyun. Sebenarnya dia pria yang baik, hanya sedikit cerewet hihihihihi…
“Taehyun-ah, besok ada reuni. Kau sudah dihubungi oleh Hwang Jaein?”
“Dia sudah menghubungiku sejak seminggu yang lalu dan mengancam akan menghancurkan wajahku jika aku tidak datang.”
“Hahahahaha tentu saja dia akan menghajarmu, kau tidak tahu dia adalah gadis berbahaya di sekolah kita dulu? Eo?”
“Kau sendiri bagaimana? Kau akan datang?”
Aku?? Mungkin aku akan lembur sabtu nanti tapi… ah aku rasa aku bisa libur jika aku bisa menyelesaikan pekerjaanku hari ini. “Aku akan usahakan untuk datang. Ah, jika aku datang, kau mau menjemputku?”
“Dan kau akan melihatku dipukuli oleh Jaein?” dia melirikku dari kaca busnya. “Kau lupa dia itu siapa?”
“Eo? Ah… ehehehehehe aku lupa jika kalian sudah berkencan sejak sebulan yang lalu. Kalau begitu tidak perlu. Aku akan pergi sendiri.”
“Lebih baik kau mencari kekasih. Kau ini… seperti tidak ada pria yang menarik perhatianmu saja.”
Aku menyandarkan tubuhku di kursi bus. Itu memang benar. Sampai saat ini belum ada pria yang bisa menarik perhatianku. Tapi… entah kenapa aku masih memikirkannya. Pria yang delapan tahun yang lalu pernah kulihat di rumah sakit. Mungkin dia sudah bertumbuh semakin dewasa dan pasti aku sudah tidak mengenali wajahnya yang sekarang. Lagipula kami tidak pernah berhubungan lagi setelah aku keluar dari rumah sakit lebih dulu. Haa~ mana mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku saja sudah lupa namanya. Hanya sebuah keajaiban jika itu terjad-
Ciiitttt!!!….
Aku terkejut saat Taehyun menghentikan bus secara mendadak. Semua orang yang ada di dalam bus ini pun tersentak. “Waeyo?” tanyaku pada Taehyun.
Nafas Taehyun terengah. “Yong, sepertinya aku menabrak seseorang tadi!”
“APA?!” Kami berdua segera lari keluar bus.
Aku mencari orang di bawah bus Taehyun. Tidak ada siapapun dan memang tidak ada tanda-tanda orang tertabrak.
“YONG!” teriak Taehyun dari belakang bus. “Kemari!” Aku berlari menghampirinya. “Lihat ini…!”
Di belakang bus Taehyun terlihat seorang anak kecil yang tersungkur lemah. “Oh MY!” aku membantu anak kecil itu untuk berdiri. “Kau baik-baik saja?”
Anak itu menatapku datar. Aku memerhatikan tubuhnya, dia tidak terluka sedikitpun.
“Adik kecil, kau baik-baik saja?” Taehyun melambaikan tanganya di hadapan anak kecil tersebut. “Eo?”
“Mungkin dia syok.” Aku membawanya ke pinggir trotoar. “Kau baik-baik saja?” tanyaku lagi. “Bicaralah sesuatu!”
Anak itu menatap datar aku dan Taehyun secara bergantian.
“Yong, coba kau lihat tasnya. Mungkin ada tanda pengenal atau alamat rumah anak ini!”
Aku melepas tas anak itu dari bahunya dan ingin membukanya namun tangan mungil itu menahanku. “Jangan dibuka!” katanya. Dia merampas tasnya dariku.
“Kau bisa bicara?” tanya Taehyun. “Kukira dia bisu.” Aku memelototinya.
“Adik kecil, siapa namamu? Apa kau terluka?” dia menggeleng. “Jadi, siapa namamu?” tanyaku lagi.
“Aku Nami.”
“Nami?? Emm…” aku melirik Taehyun sekilas. “Di mana rumahmu?”
“Di sana.” dia menunjuk ujung jalan dengan sembarang.
“Hey, Yong. Mungkin otak anak ini sedikit bergeser saat busku tidak sengaja menyerempetnya. Di ujung sana mana ada rumah. Yang ada hanya sebuah rumah kosong yang tidak terpakai lagi.”
“Tidak. Itu rumahku. Aku tinggal bersama samchon.”
“Emm… lalu orangtuamu?”
Dia menoleh padaku dengan tatapan datarnya. “Orangtua?? Ah… eomma dan appa?? Mereka tidak ada.”
“Tidak tinggal bersama kalian?”
“Aniyo. Aku tidak memiliki orangtua.”
Aku mengerutkan keningku mendengar jawabannya. Ah mungkin Taehyun benar. Sepertinya otak anak ini sedikit bergeser.
“Yak, tuan supir!” seseorang dari bus memanggil Taehyun. “Mau sampai kapan kita berhenti? Aku sudah terlambat.”
“Itu benar!” tambah beberapa penumpang lainnya.
“Eonni, aku baik-baik saja.” Nami berdiri dan membersihkan sendiri roknya. Dia tersenyum indah. Berbeda dari paras datarnya yang tadi. “Eonni dan oppa pergilah, aku bisa berjalan.”
“Kau yakin?” Taehyun meyakinkannya dan Nami kembali mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu oppa dan eonni bisa pergi?”
“Tentu.” Nami membungkuk pada kami. “Sampai jumpa!” katanya lalu pergi meninggalkan kami.
Aku menatap Taehyun. Kami sama-sama bingung, anak itu aneh sekali. “Taehyun-ah, apa kau merasa anak itu aneh?”
“Iya. Semoga anak itu tidak mengalami gegar otak, Yong. Kajja!”
——————
Ah~ rasanya tubuh ini mulai remuk. Seharian aku duduk depan komputer dan hanya mengerjakan tugasku. Aku bahkan hanya menghabiskan lima menit untuk makan siangku. Semua tugasku sudah selesai dan sudah pasti aku bisa libur besok. Sabtu dan minggu yang menyenangkan. Besok aku akan datang ke reuni dan minggu akan kuhabiskan untuk bermalas-malasan di rumah. Untung saja Yongseul eonni sudah kembali ke Paris.
Bicara tentang kakakku itu, seminggu yang lalu dia datang dan mengatakan padaku bahwa dia akan segera menikah. Dia memintaku untuk kembali datang dan tinggal bersama eomma di Paris. Aku menolaknya dengan alasan bahwa aku ingin menjaga appa. Ya… meskipun pada dasaranya aku sudah tidak tinggal bersama appa. Hampir dua tahun yang lalu appa memutuskan untuk kembali ke desa sementara aku akan bekerja di Seoul. Sebulan sekali aku akan mengunjungi appa yang tinggal bersama samchon di desa. Pada pagi hari appa akan mengajar di sekolah dasar kemudian sorenya appa akan membantu samchon di sawah. Aku melihat appa yang menikmati hari tuanya di desa kelahirannya itu, karena itu aku tidak memaksanya untuk tinggal bersamaku di Seoul. Aku yang mengalah untuk mengunjunginya sesekali dan menginap walau hanya satu atau dua malam.
Aku berjalan santai saat aku sudah menuruni bus di halte. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi Seoul seolah tidak pernah mati. Kota ini selalu ramai. Aku rasa aku tidak akan bisa tidur tenang jika aku tinggal di pinggir jalan besar di kota ini.
Langkahku terhenti saat aku melihat seorang anak kecil di depan gedung apartemen kecilku. Bukankah itu Nami? Gadis kecil yang tadi pagi.
Dia melihatku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya itu. Dia gadis yang cantik. Aku menghampirinya. “Hai, Nami. Kau masih ingat denganku?”
“Tentu saja. Tapi aku tidak tahu siapa nama eonni.”
“Eo, namaku Choi Yongneul. Aku tinggal di sana.” kataku sembari menunjuk apartemen yang ada di belakangnya. “Ini sudah malam. Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku sedang menunggu.”
“Menunggu?? Menunggu siapa?”
“Dia.” Nami menunjuk seseorang di belakangku.
Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang pria berdiri tegap. “OMO!” aku terkejut melihatnya. Astaga! Orang ini mengagetkanku.
“Dia samchon-ku.”
“Oh.. dia pamanmu.” Kataku pelan.
“Nami-ya, ini ice creamnya.” Pria itu memberikan sebungkus ice cream pada Nami. Ah mungkin dia baru saja dari toko yang berada di dekat apartemenku ini. Malam seperti ini memakan ice cream?? “Maaf, apa Nami menggangu anda?”
“Ne?? Ah, tidak. Nami anak yang manis.”
“Saya Cho Kyuhyun. Pamannya.”
Cho Kyuhyun?? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Aku memperhatikan wajahnya yang sedikit terkena bias cahaya. Semakin lama aku memperhatikan wajahnya, semakin kuat perasaan ini. Iya, aku yakin aku pernah melihatnya. Tapi.. dimana?
“Anda baik-baik saja?”
“Eo? I-iya, saya baik-baik saja.”
“Samchon, eonni ini namanya Choi Yongneul. Aku bertemu dengannya tadi pagi.”
“Benarkah?” Pria yang bernama Cho Kyuhyun itu menatapku, seperti meminta penjelasan.
“Eng, itu benar. Bus yang kutumpangi tadi pagi tidak sengaja menyerempet Nami. Aku memeriksa keadaannya tapi Nami bilang dia baik-baik saja.”
Kyuhyun tersenyum sembari mengusap kepala Nami. “Dia memang tidak pernah bisa terluka.”
“Ne??”
Kyuhyun kembali menoleh padaku. “Ah tidak ada. Emm.. sepertinya kami sudah harus pergi. Di mana anda tinggal? Mungkin saya bisa mengantar.”
“Oh tidak perlu. Aku tinggal di apartemen itu.”
“Di sana?” Kyuhyun memperhatikan gedung apartemenku. “Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu. Sampai jumpa!”
“Iya.” Aku membungkuk padanya dan melambaikan tanganku pada Nami. Sampai jumpa?? Bicaranya seperti Nami, seolah kami akan bertemu lagi di lain waktu. Tapi itu memang benar, aku bertemu lagi dengan Nami setelah Nami mengucapkan salamnya tadi pagi. Haa~ mereka keluarga yang aneh.
———————
“BERSULANG!!”
Teriak kami saat kami menikmati minuman kami. Beberapa di antara kami meminum wine tapi tidak denganku. Tidak ada alasan, hanya saja aku takut wine akan membuatku kehilangan kendali. Aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri jika aku sudah meminum cairan merah itu.
“Jadi, kau belum memiliki kekasih?” tanya Jiwon, salah seorang temanku.
“Lebih baik kau berkencan denganku. Bagaimana?” tawar Kwon Jiyoung.
“Hahahahaha… aku berkencan dengamu?? Dunia akan runtuh, Jiyoung-ah.” Jiyoung pernah beberapa kali menyatakan perasaannya padaku tapi berkali-kali juga aku menolaknya. Bukan karena aku tidak menyukainya tapi karena aku sudah menganggap mereka semua yang ada di tempat ini sebagai keluargaku. Mereka begitu mengerti diriku, terutama Taehyun.
“Eo, Taehyun-ah, kemari sebentar!”
Taehyun mendekatiku. “Wae?”
“Kemarin malam aku bertemu lagi dengan Nami.”
“Nami??”
“Gadis kecil yang kemarin pagi kau tabrak.”
“Ah… anak aneh itu?”
Aku mengangguk. “Dia bersama pamannya dan mereka sama-sama aneh.”
“Aneh?? Mungkin itu adalah penyakit keturunan.”
Aku menyeringai mendengar gurauannya. “Haa, bicara denganmu tidak pernah serius.” Aku bangkit dari kursiku.
“Kau mau kemana?”
“Pee. You want to follow me?”
“Aku mau!… Jika Jaein mengijinkanku hehehehe…”
Dasar pria. Otaknya selalu saja mesum. Aku meninggalkan mereka. Malam ini klub dipenuhi banyak sekali orang. Dan aku mulai pening. Mengapa mereka tidak mengadakan reuni di sebuah restoran saja? Di sini terlalu bising.
“Choi Yongneul-ssi?”
Suara seseorang menahan langkahku. Aku tengok ke arah sumber suara itu. Mataku masih samar untuk mengenali orang itu. “Nuguseo?”
“Ini aku. Cho Kyuhyun. Kau lupa?”
Cho Kyuhyun?? Ah~ pamannya Nami. “Oh hai! Maaf, lampu di sini terlalu redup.”
“Tidak masalah. Kau… sering ke tempat ini?”
“Ah tidak.  Kebetulan aku sedang berkumpul dengan teman-teman sekolahku dulu. Em.. kau tidak bersama Nami?”
“Aku tidak mengajak anak di bawah umur untuk datang ke tempat seperti ini.” Oh ya, dia benar juga. Bodohnya aku! “Nami bisa tinggal sendiri di rumah.”
“Sendiri?? Tidak ada yang menemani?” Kyuhyun menggeleng. Hei, bagaimana bisa dia meninggalkan anak kecil sendirian di dalam rumah pada malam hari? “Kau tidak takut akan terjadi sesuatu?”
“Dia anak yang mandiri.”
Dia anak yang mandiri. Dia tidak akan pernah bisa terluka. Ucapannya itu selalu saja menunjukkan bahwa Nami seperti bukan anak manusia biasa. Memangnya Nami itu anak malaikat?
Astaga! Aku harus ke toilet sekarang. Perutku mulai mual. Sepertinya aku akan muntah. “Maaf, aku harus pergi.” Aku segera berlari meninggalkannya tanpa mendengar sahutannya. Seperti inilah jika aku terlalu lama berada di dalam kerumunan ditambah kepulan asap rokok.
Sesampainya aku di dalam toilet, aku memuntahkan seluruh isi perutku. Haa~ aku lupa. Hari ini aku belum makan apapun tapi aku justru meminum banyak bir. Pantas saja lambungku menolak. Sial. Tubuhku menjadi lemas seperti ini. Apa sebaiknya aku pulang saja?
Aku kembali berkumpul bersama teman-temanku. Rasa mual itu sudah mulai hilang tapi aku tetap merasa pening. Aku harus segera pulang dan beristirahat.
“Kau baik-baik saja, Yong?” tanya Jaein.
Aku menggeleng pelan. “Tidak. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Tubuhku lemas sekali.”
“Ada apa?” Taehyun mendekati kami.
“Sepertinya Yongneul sakit. Kau antar dia pulang!”
“Naega wae?”
“Hanya kau yang tahu tempat tinggalnya.” Jaein menyerahkan kunci mobilnya pada Taehyun. “Ini. pakai mobilku. Kau tidak membawa mobil ‘kan?”
“Tapi aku masih ingin bersenang-senang, sayang.”
“Tidak apa, Jaein-ah. Aku akan pulang dengan taksi.”
“Tidak, Yong. Bagaimana jika kau pingsan?”
“Aku juga tidak bisa melakukan apapun jika Yongneul pingsan di dalam mobilmu, sayang.”
“Setidaknya kau ini temannya bukan supir taksi. Kau bisa membawanya ke rumah sakit dan menghubungi ayahnya atau salah satu di antar kita, bodoh!”
Taehyun menyerah. Dia menghembuskan nafasnya. “Baiklah, baiklah… Kajja, Yong!”
“Dan kau harus kembali lagi setelah mengantar Yongneul pulang. Jika tidak, aku akan membunuhmu karena kau sudah membawa mobilku.”
“Kau yang memberikan kunci ini padaku.”
“Kau ini banyak bicara. Cepat antar Yongneul pulang!” Jaein hampir saja memukul kepala Taehyun sebelum akhirnya Taehyun berlari menghindar.
Aku dan Taehyun keluar dari klub bersamaan. “Heuh! Mengapa aku bisa mencintai gadis menyeramkan seperti Jaein?”
Aku hanya tertawa mendengar keluhannya. Dia sudah tahu sejak dulu bahwa Jaein adalah gadis yang tempramen namun baik hati tapi Taehyun tetap saja menyukainya. Bahkan dia tidak menyerah untuk bisa mendapatkan Jaein meskipun Jaein sudah beberapa kali menolaknya.
“Yong, kau beristirahatlah. Nanti aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai.” Kata Taehyun saat kami sudah berada di dalam mobil Jaein.
“Hm, baiklah.” Aku mencoba untuk memejamkan kedua mataku. Namun aku kembali teringat sesuatu. “Ah… Taehyun-ah. Tadi aku bertemu dengannya lagi.”
“Siapa?” tanya Taehyun tanpa melihatku. Dia berkonsentrasi menyetir.
“Cho Kyuhyun. Paman Nami. Tadi aku bertemu dengannya sebelum aku masuk toilet.”
“Dia ada di sana? Lalu Nami bersama siapa di rumah mereka?”
“Dia bilang Nami sendirian di rumah.”
“Astaga! Paman macam apa dia yang meninggalkan keponakannya sendirian malam-malam? Apa dia tidak punya otak?”
“Mungkin ucapanmu benar, Taehyun-ah. Sepertinya aneh adalah penyakit di keluarga mereka hahahahaha….”
“Kau benar hahahahaha….” kami tertawa bersama. “Sudahlah, kau beristriahat saja. Nanti kubangunkan.”
“Hm.”
Aku kembali memejamkan kedua mataku. Taehyun benar, aku butuh istriahat. Tubuhku sudah sangat lemas sekarang ini. Aku mencari posisi yang nyaman untuk tidur hingga akhirnya aku mulai masuk ke dunia mimpi.
———
“Yong, bangun! Hei! Bangunlah!” Aku terkejut saat Taehyun menguncangkan tubuhku. Nafasku naik turun, seperti baru saja mengikuti lomba lari maraton. “Kau baik-baik saja?” aku mengangguk lemah. “Sepertinya kau bermimpi buruk.”
“Aku seperti dikejar oleh seseorang.”
“Siapa?”
“Entahlah.” Aku tidak yakin aku mengenal baik orang itu. “Apa kita sudah sampai?”
“Belum tapi mobil ini mogok.”
“Bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak mengerti.” Taehyun mencoba untuk menyalakan kembali mobil Jaein.
Aku melihat sekelilingku. Ini tidak terlalu jauh dari apartemenku. Apa sebaiknya aku jalan kaki saja? Tapi bagaimana dengan Taehyun? Tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri. Lagipula sepertinya akan turun hujan.
“Belum bisa juga?”
“Sepertinya ada yang salah dengan mobil ini. Aku akan memeriksanya.” Taehyun turun dari mobil dan memeriksa mesin mobil itu.
Aku ikut keluar dari mobil dan memperhatikannya walaupun aku tidak mengerti bagian mana yang harus diperbaiki. Aku menyinari mesin mobil dengan ponsel agar dia bisa memeriksa mesin mobil itu dengan teliti. Kulihat sekeliling kami. Tidak ada orang sama sekali. Tepat di samping mobil ini ada sebuah rumah. Besar sekali rumah ini, seperti sebuah castle. Berapa orang yang menghuni rumah ini ya? “Taehyun-ah, apa tidak sebaiknya kita cari bantuan saja?”
“Bantuan dari siapa? Malam-malam seperti ini mana ada orang.” Taehyun masih sibuk dengan mesin mobil.
Dia benar. Mana mungkin kami mengetuk pintu rumah seseorang hanya untuk meminta bantuan memperbaiki mobil Jaein.
“Yongneul eonni?”
Aku terkejut. Seseorang memanggil namaku. Aku menoleh. “Nami?? Sedang apa kau di sini?”
“Bolaku tadi bergelinding.” Aku melihatnya yang sedang memegang bola merah. “Mobil eonni kenapa?”
“Ehehehehe…. mogok. Taehyun oppa sedang memperbaikinya.”
“Memangnya bisa? Aku bisa memanggil samchon jika eonni mau.”
“Tidak perlu.” sela Taehyun. Dia menoleh pada Nami. “Hai, kita bertemu lagi. Mengapa malam-malam kau masih bermain?”
“Aku memang bermain pada malam hari, oppa. Aku akan tidur jika siang hari.”
Taehyun membisikkan sesuatu padaku. “Seperti vampir saja.” Dia kembali menatap Nami. “Di mana kau tinggal?”
“Di sini.” Nami menunjukkan rumah besar yang tadi sempat menarik perhatianku.
Aku dan Taehyun menatap rumah megah itu. Rumah yang memiliki pilar-pilar besar dengan warna putih itu dilindungi oleh sebuah gerbang mewah yang tingginya kira-kira hampir tiga meter.
Taehyun mendekat padaku. “Tidak mungkin…” katanya.
Aku menoleh. “Waeyo?”
“Seingatku rumah ini sudah tidak pernah dipakai lagi sejak delapan tahun yang lalu, tepatnya semenjak ada seorang wanita yang dibunuh di tahun 2007 lalu. Dan terakhir kali aku melihat rumah ini… keadaannya sangat menyedihkan. Kotor, gerbang yang berkarat, dedaunan yang gugur di dalam sana, dan benalu yang tumbuh liar dari atas pepohonan yang ada di dekat gerbang itu.”
Aku tidak tahu tentang rumah ini. Setahun sudah aku tinggal di apartemen kecilku itu tapi aku tidak pernah memperhatikan jalan di sekitar sini. Tempat tinggalku memang tidak terlalu jauh dari tempat ini tapi sepertinya aku justru baru tahu jika di sekitar sini ada sebuah rumah megah. “Benarkah? Kapan terakhir kali kau melihat rumah ini?”
“Sekitar sebulan yang lalu. Sangat tidak mungkin bagi manusia untuk merenovasi sebagus ini dalam waktu sebulan.”
“Mungkin saja, Hyun. Mereka bisa menggunakan jasa renovasi rumah dengan pekerja yang banyak. Mana mungkin mereka hanya menggunakan lima orang untuk merenovasi tempat semegah ini.”
“Entahlah…” Taehyun masih menatap rumah itu.
“Hyun, apa kita tidak meminta bantuan keluarganya saja? Bukankah kau tidak bisa memperbaiki mobil Jaein, mengapa tidak meminta bantuan pamannya saja?”
“Tidak, Yong. Aku merasa ada yang aneh dengan semua ini.”
“Oppa, eonni, sudah mulai gerimis. Mengapa tidak masuk saja dulu ke dalam rumah? Samchon bisa menyiapkan teh hangat.”
Aku dan Taehyun saling melirik. Dia benar, hujan sudah mulai turun. “Sekarang bagaimana?” bisikku. “Lebih baik kita masuk saja.”
“Kau yakin?”
Aku mengangguk padanya. Kemudian aku menunduk dan bicara pada Nami. “Nami-ya, apa kami tidak akan mengganggu pamanmu?”
“Aniyo, samchon pasti senang melihat eonni datang ke rumah.” Dia berlari pelan melewati gerbang rumahnya. “Ayo, oppa, eonni!”
“Sebaiknya kita waspada, Yong.”
“Atas?”
“Ini semua terlihat aneh. Sungguh.”
Aku dan Taehyun mulai berjalan bersamaan. Saat aku memasuki gerbang ini, aku merasa jantungku berdetak lebih cepat. Sungguh… aku tidak mengerti dengan perasaan aneh ini.
Kami memasuki rumahnya, Nami masih berjalan memimpin kami. Pintu besar berwarna putihnya terbuka oleh dorongan tangan mungil Nami.
“Eonni dan oppa tunggulah di sini, aku akan memanggil samchon.”
Aku mengangguk setelah dia membawa kami ke ruang tamu. Tempat ini benar-benar megah. Aku rasa ruang tamunya saja bisa untuk tempat berpesta tahun baru bersama puluhan orang. Dan anehnya, mengapa mereka memilih cat merah dan hitam untuk mendominasi rumah ini, sementara mereka menggunakan cat putih di bagian luar?
“Sudah kubilang ada yang aneh dengan rumah ini, Yong.”
Aku juga merasakan hal yang sama. Hanya saja aku tidak ingin menaruh curiga. Taehyun berjalan ke arah sebuah lukisan. Di ruang tamu ini terdapat dua buah lukisan besar. Aku mengikuti langkah Taehyun. Kami sama-sama mengamati sebuah lukisan yang memperlihatkan seorang wanita cantik.  Tapi… sepertinya aku pernah melihat wanita ini.
“Itu kakakku.” Seseorang mengagetkan kami. Aku dan Taehyun membalikkan tubuh kami. Itu dia, paman Nami. Cho Kyuhyun. “Kita bertemu lagi, Choi Yongneul. Apa kabar?”
“Eo, ba-baik.”
“Dan kau pasti yang bernama Taehyun.” Katanya pada Taehyun. “Aku Cho Kyuhyun, paman Nami. Senang berkenalan denganmu.”
“Ah, iya.” Taehyun menjabat tangan Kyuhyun. Paman Nami ini terlihat lebih pucat.
“Nami bilang mesin mobil kalian tidak bisa dinyalakan.”
“Oh ya, itu benar. Dan Nami mengajak kami untuk masuk karena gerimis…” Taehyun melihat ke arah jendela, “ah sepertinya sudah hujan lebat.” Terdengar suara petir. Aku terkejut dan sontak mencengram tangan Taehyun. Taehyun memegang bahuku. “Gwaenchanhayo?” aku mengangguk.
“Aku akan menyuruh supirku untuk membawa masuk mobil kalian dan dia akan memperbaiki mobil kalian sementara kita minum teh di sini.”
“Aku rasa aku harus ikut.” Kata Taehyun dan aku menatapnya, aku tidak ingin ditinggal sendirian. Tapi Taehyun tersenyum padaku. “Tenang saja, aku akan kembali.” Bisiknya. “Aku akan memasukkan mobilnya.”
“Baiklah.” Kyuhyun merangkul Nami. “Nami, antar Taehyun oppa untuk menemui tuan Lee. Dan minta tuan Lee untuk memperbaiki mobil mereka di garasi.”
“Arasseo, samchon.” Nami segera menghampiri Taehyun dan mengulurkan tangannya. “Ayo, oppa.”
Taehyun menyambut tangannya sementara aku masih menggenggam tangan kiri Taehyun. Taehyun menatapku dan meyakinkanku untuk segera kembali. Dia kembali tersenyum. “Aku hanya sebentar.” Katanya dengan suara pelan. Tapi.. mengapa aku takut sekali?
Aku mengangguk kemudian aku melepaskan tangannya. Aku masih melihat Taehyun yang menjauh dariku di saat Kyuhyun berjalan ke arahku. Aku segera menyadarinya lalu aku menatapnya was-was. Biar bagaimanapun aku belum mengenal pria ini dengan jelas.
“Kau lupa dengan wanita itu?”
“Ne?”
“Wanita yang ada di lukisan itu.” Aku kembali melihat lukisan wanita bergaun hitam itu. “Dia adalah Cho Ahra.”
Cho Ahra??… tunggu! Cho Ahra… Cho Kyuhyun… nama mereka begitu tidak asing bagiku. Cho Kyuhyun… kyuhyun… EO! Mungkinkah dia…?
Aku menatap Kyuhyun sekali lagi. “Mungkinkah kau… kau adalah Cho Kyuhyun yang waktu itu. Delapan tahun yang lalu. Di rumah sakit!”
Kyuhyun tersenyum indah padaku. Dan senyuman itu… “Kau baru mengingatnya?”
Apa maksud ucapannya barusan? Mungkinkah Kyuhyun sudah mengenaliku sejak kami bertemu kemarin? “Jadi kau…?” mengapa Kyuhyun yang sekarang begitu berbeda? Aku cukup mengenalnya saat kami sama-sama dirawat di rumah sakit dulu, meskipun lima hari setelah itu aku bisa keluar dari rumah sakit. Dia yang dulu begitu ramah, periang, selalu tertawa, dan… entahlah. Kyuhyun yang sekarang seperti seorang pangeran dengan pakaiannya yang begitu mewah. Lihat saja jasnya. Apa dia tidak resah memakai jas di dalam rumah?
“Eng, lalu kemana Ahra eonni? Nami bilang kalian hanya tinggal berdua.”
“Nuna sudah meninggal.” Astaga! “Tujuh tahun yang lalu.” Jadi wanita yang tadi sempat diceritakan oleh Taehyun adalah Ahra eonni. “Dia dibunuh oleh seseorang.”
“Polisi sudah menangkapnya?”
Kyuhyun menunduk dan menggeleng. “Mereka tidak berhasil menangkapnya.” Ia mengangkat wajahnya, “aku menyerah dan aku merelakan kematian kakakku. Ini yang terbaik untuknya.”
Yang terbaik?? Apa kakaknya merenggut nyawa di tangan orang lain adalah hal yang baik menurutnya? “Lalu bagaimana dengan Nami?”
“Aku menemukan Nami tujuh tahun yang lalu di kolong jembatan. Saat itu Nami masih berusia sekitar satu tahun. Aku mengadopsinya.” Menyedihkan sekali anak itu. “Nami yang menemani hari-hariku selama ini. Dia tidak pernah membantahku dan akan selalu menuruti apa ucapanku.”
Itu bagus. Setidaknya dia memiliki orang di sampingnya setelah anggota keluarganya pergi meninggalkannya.
Aku kembali melihat lukisan yang berikutnya. Ada dua orang di lukisan itu, mungkinkah orangtuanya?
“Mereka orangtuaku. Mereka juga sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan aku satu-satunya yang selamat dari kecelakaan itu.” Oh… jadi dia berada di mobil yang sama saat kecelakaan orangtuanya. Aku tidak pernah bertanya tentang kecelakaannya sebelumnya. “Sepertinya air panasnya sudah sudah matang.” Kyuhyun berjalan.. mungkin ke arah dapur.
“Air panas??” aku mengikutinya.
“Saat Nami bilang kalian datang, aku segera ke dapur dan memasakan air panas untuk membuat minuman hangat.”
Aku masuk ke dalam dapurnya. Lihat! Dapurnya saja luas sekali. Aku bisa bermain golf di tempat ini. Orang macam apa Cho Kyuhyun ini? Apa pekerjaannya hingga dia bisa membeli rumah serta perabotan mewah seperti ini?
Kyuhyun meletakkan dua gelas kosong di atas meja makam. Kemudian dia menuangkan air panas ke dalamnya. “Biar kubantu, Kyuhyun-ssi. Dimana gula dan tehnya?”
“Ada di lemari makan yang ada di belakangku.”
Aku mencari teh dan gula. Aku menemukannya dan memasukkan teh ke dalam dua cangkir itu. Gulanya masih dibungkus. “Ada gunting?”
“Tidak ada, pakai pisau saja.” Kyuhyun memberikanku pisau kecil sembari mengambil sebuah sendok.
“Ahk!” aku terkejut saat pisau itu mengenai telunjukku. Jariku mengeluarkan darah, cukup banyak.
“Kau baik-baik saja?” Kyuhyun segera meraih tanganku. Kemudian dia menghisap darah dari jari telunjukku.
Aku sedikit meringis perih sekaligus terkejut. Kyuhyun masih menghisap darahku, dia bahkan memejamkan kedua matanya. Seperti sedang…. menikmati. Dia semakin kuat menghisap darahku. Ini tidak benar! Aku menarik kasar tanganku.
Sontak Kyuhyun membuka matanya. Terlihat darahku berbekas di sudut bibirnya. Kyuhyun menyeringai lalu menghapus darahku yang ada di bibirnya dengan lidah. Aku bergidik ngeri. Mengapa dia terlihat menyeramkan? “Kau…”
“Aku hanya mencoba untuk menghentikan darahmu. Lihat! Jarimu sudah tidak mengeluarkan darah lagi ‘kan?”
Aku kembali melihat jariku. Dia memang benar. Tapi… mengapa dia harus menghisap kuat darahku?
“Tunggu di sini!” Kyuhyun pergi meninggalkanku.
Aku menuang gula dan mengaduk teh itu. Sesekali aku masih memperhatikan rumah ini. Ada berapa orang yang tinggal di sini? Mengapa sepi sekali? Apa mereka hanya tinggal bersama supir mereka?
Kyuhyun kembali. Dia membawa selembar plaster. “Kemari!” Kyuhyun menarik lembut tanganku kemudian membalut luka di jariku dengan plaster itu. “Ini lebih baik.” Kyuhyun masih memegang tanganku kemudian dia menatapku. Tatapannya begitu lembut, dia mendekat dan entah mengapa aku tidak bisa menghindar atau sekedar memalingkan wajahku. Dia seperti sedang menghipnotisku.
Kyuhyun mengusap tanganku dan mendekatkan wajah kami. Membuatku harus menutup mataku karena jarak yang sangat intim ini. Bisa kurasakan hembusan nafas Kyuhyun yang menerpa pipi kananku. “Minumlah tehnya…” bisiknya.
Sontak aku membuka kedua mataku. Kyuhyun sudah mengangkat salah satu cangkir itu dan memberikannya padaku. Aku mengambilnya dengan tangan yang sedikit bergetar. “Te-terimakasih.” Aku meminumnya sedikit. Kemudian aku kembali melihatnya. Kedua mata Kyuhyun masih setia menatap wajahku. “Kau… tidak minum juga?”
“Aku tidak suka teh.”
“Lalu.. apa yang kau suka? Kopi?” Kyuhyun menggeleng. “Wine?”
Dia tetap menggeleng. “Aku suka minuman yang bukan dibuat oleh manusia.” Kyuhyun duduk di kursi makan.
Aku pun duduk di hadapannya. “Maksudmu? Memangnya ada yang seperti itu? Air mineral?”
Kyuhyun tertawa ringan. “Sudahlah, lupakan.”
“Oh ya, apa kalian hanya tinggal bersama supir kalian?”
“Tidak. Tuan Lee akan pulang ke rumahnya jam 12 nanti, lalu dia akan kembali lagi jam enam pagi. Kenapa?”
“Ah tidak. Aku hanya… eng.. apa kalian tidak merasa kesepian jika hanya tinggal berdua? Mungkin kau bisa mengajak saudaramu yang lain untuk tinggal bersama.”
“Aku lebih tertarik jika kalian yang tinggal bersama kami di sini.”
“Aku dan Taehyun??” Kyuhyun mengangguk. “Mana mungkin ehehehehe… kami bukan siapa-siapa kalian.”
“Ngomong-ngomong apa hubunganmu dengan Taehyun?”
“Dia temanku sejak aku masih remaja. Aku sempat pindah sekolah dan kami putus hubungan. Tapi kami bertemu kembali saat aku bekerja di tempatku yang sekarang.”
“Apa pekerjaanmu?” Kyuhyun menggeser kursinya hingga dia duduk tepat di sebelah kiriku.
Jarak dekat ini kembali membuatku gugup. Dia terus mengamati wajahku. “Eng… aku bekerja di salah satu penerbit buku.”
“Kalau begitu.. kau pasti suka membaca buku. Buku apa saja yang kau baca?” Kyuhyun mengangkat tangan kanannya dan memainkan ujung rambutku yang panjang. “Romansa? Petualangan?” ucapnya yang hampir mirip dengan sebuah bisikan di telingaku.
Sial. Ada apa dengan tubuhku? Mengapa tubuh ini sulit sekali untuk menghindar darinya? “A-aku.. aku membaca hampir semua genre.”
“Bagaimana dengan misteri?”
“Misteri?? Ah aku tidak terlalu suka. Aku tidak suka hal-hal yang seperti itu.”
“Mungkin aku harus menunjukkan salah satu koleksi buku misteriku padamu.”
“Kau kolektor buku?”
Kyuhyun mengangguk. Kemudian dia bangkit berdiri dan menjulurkan tangan kanannya. “Ayo!”
Berbeda dengan perasaanku yang tadi, kali ini aku merasa yakin untuk menerima ajakannya. Aku menyambut tangan Kyuhyun. Dia membawaku untuk menaiki sebuah tangga. “Kita mau kemana?”
“Kamarku. Di sana ada banyak buku. Kau pasti suka.”
Kamarnya?? Tunggu! Ini hal yang tidak lazim jika seseorang yang baru kukenal mengajakku ke dalam kamarnya. Apalagi dia seorang pria. Aku berhenti melangkah dan dia menoleh. “Kamarmu?? Aku rasa aku bisa menunggu di bawah saja.”
“Aku tidak suka membawa buku-bukuku keluar dari kamarku.”
“Kalau begitu tidak perlu kau perlihatkan padaku.” Aku melepaskan tanganku lalu menuruni tangga.
“Kau akan menyesal karena tidak membaca bukuku, Yongneul.”
Aku berhenti melangkah dan berbalik. “Mengapa aku harus menyesal?”
Kyuhyun tidak menjawabku. Dia justru menyeringai. Dan kali ini wajah tampan itu mulai terlihat menyeramkan. Aku sempat bergidik ngeri dibuatnya. Aku harus segera keluar dari rumah ini. Aku harus mencari Taehyun. Pria ini benar-benar aneh.
“Mereka sedang sibuk memperbaiki mobil.” Kyuhyun menuruni tangga dan menghampiriku.
Bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan? Aku kembali tidak mempedulikannya. Kali ini aku harus pergi dari manusia menyeramkan ini.
“Semua manusia memang menyeramkan, Choi Yongneul.”
Ya Tuhan! Bagaimana dia bisa tahu apa yang ada di otakku? Pria macam apa dia ini? Tanganku bergetar. Jantungku semakin berdetak cepat di saat dia terus mendekatiku. Sekuat tenaga aku mencoba untuk menghindar. Aku memundurkan langkahku hingga aku merasa punggungku menabrak tembok dingin. “Cho Kyuhyun… siapa kau sebenarnya?”
Kyuhyun menyeringai dan mengusap wajahku dengan tangan dinginnya. “Kau akan tahu setelah kau sudah menjadi istriku nanti.”
Istri?? Apa orang ini gila?
“Aku tidak gila, Choi Yongneul. Aku dalam keadaan waras.”
“Mwo?!” Ini tidak benar! Dia bukan manusia! Dia bisa membaca pikiranku! Aku harus segera pergi dari sini. Dia semakin menyeramkan.
Baru saja aku akan pergi, Kyuhyun sudah menahan kedua bahuku agar tetap bersandar di tembok. Sial!
“Aku manusia, Yongneul. Hanya saja…” Kyuhyun mengamati leherku. “Aku sedikit berbeda dengan kalian.”
“Kau… vampir? Drakula?”
“Cih! Hahahahaha…. sudah kubilang aku ini manusia.”
“Tidak. Kau bukan manusia.” Aku kembali ingin melarikan diri tapi kedua tangan Kyuhyun masih tetap menahan tubuhku. “Biarkan aku pergi, Cho Kyuhyun!”
Kyuhyun menajamkan tatapannya pada kedua mataku. Rahangnya mengeras. Kemudian dia meremas bahuku. Terasa sakit sekali. “Tidak ada yang bisa menolakku!”
Dalam seketika pandanganku gelap. Samar-samar aku merasa kedua tangan Kyuhyun menahan tubuhku dan membawaku. Hingga akhirnya aku benar-benar tidak sadarkan diri.
——–
Aku terbangun saat kepalaku terasa pening. Rasanya berat sekali untuk menggerakkan kepalaku. Tanganku merambat ke sekeliling. Ini sebuah ranjang yang nyaman. Di mana aku?
“Kau sudah sadar?” suara itu!
Kyuhyun menghampiriku dan aku baru sadar… aku berada di atas sebuah ranjang merah dengan pakaian yang berbeda. Apa dia yang mengganti pakaianku. “Mengapa kau ketakutan melihatku, sayang?” Kyuhyun meraih daguku.
Aku menampis sentuhannya. “Jangan sentuh aku! Apa yang kau lakukan padaku?!”
“Tidak ada. Hanya membawamu ke kamarku dan mengganti pakaianmu. Lihat! Kau terlihat cantik dengan gaun malam itu, sayang.”
Aku meringkuk ketakutan. Di mana Taehyun? Mengapa dia tidak mencariku? Kyuhyun merangkak mendekatiku. “Mau apa kau?! Jangan mendekat!”
Kyuhyun menarik paksa diriku hingga aku bertatapan dekat dengannya. “Aku benar-benar merindukanmu. Mengapa kau menghilang dari hadapanku selama delapan tahun? Hm?”
Apa yang dia katakan? Aku rasa otaknya memang tidak beres.
Kyuhyun meraih tengkukku dan berbisik tepat di telingaku. “Kau harus menikah denganku.”
“Sireo!!”
“Sudah kubilang tidak ada yang bisa menolakku.” Kyuhyun menggunakan kedua tangannya untuk meraih wajahku. Kemudian Kyuhyun mencium paksa bibirku.
Aku meronta-ronta. Memukuli dada Kyuhyun dengan kekuatanku yang tidak seberapa. Aku menggerakkan kepalaku tapi tangan kekar Kyuhyun masih bisa menahan gerakkanku.
Kyuhyun pun melepaskan ciumannya. Nafasku terengah tapi tidak dengannya. “Aku tahu kau mencintaiku. Bukankah kau menungguku selama delapan tahun ini? Hm?”
“Aku tidak menunggu Cho Kyuhyun yang seperti ini. Kau bukan Cho Kyuhyun. Kau adalah iblis!”
“Iblis??” Kyuhyun tertawa lepas. Kemudian dia kembali mengusap wajahku. “Tapi seperti inilah aku. Aku tidak pernah berubah, aku masih seperti yang dulu. Kau hanya tidak mengenalku sejak awal, sayang.”
Aku semakin ketakutan. Kyuhyun benar-benar menyeramkan. Dia bukan Kyuhyun yang selama ini kutunggu! Dia berbeda. Dia seperti iblis. Dan airmataku pun menetes dengan sendirinya, ini karena rasa takut yang begitu kuat.
“Jangan menangis! Aku tidak melukaimu, sayang.” Kyuhyun menghapus airmata di pipiku.
“Kalau begitu biarkan aku pergi.”
“Sudah kukatakan kau akan menjadi istriku. Dan kau tidak bisa pergi.” Tangan Kyuhyun bermain-main di bahuku. “Aku akan memberimu apapun jika kau mau menuruti perintahku. Aku tidak akan pernah menyakiti orang yang kucintai.”
“Mengapa kau melakukan ini padaku?”
“Karena aku tidak ingin ada satu orang pun mendekati gadis yang kucintai. Termasuk benalu yang sekarang bersama Nami.”
Taehyun?? “Apa yang kau lakukan pada Taehyun?!”
“Ssssttt…. jangan berteriak. Kita bicara baik-baik.”
Aku mendorong tubuh Kyuhyun sekuat tenaga hingga Kyuhyun terjungkal dari atas tubuhku. Aku berlari secepat mungkin dan berusaha untuk membuka pintu kamar itu. Sial! Pintunya terkunci.
“Hahahahahahaha… mengapa kau ingin sekali keluar dari kamar kita, sayang?” Kyuhyun mendekatiku. “Kau tidak ingin kita bernostalgia? Hm?”
Aku kembali menangis ketakutan. Ya Tuhan, selamatkan aku. Kumohon…
“Berdoalah di dalam hati. Semoga doamu didengar. Tapi sepertinya kau tidak perlu berdoa, karena aku tidak akan menyakitimu.”
Aku meringkuk di bawah pintu dan semakin kuat menangis. Aku memeluk lututku dengan tangan yang bergetar.
Kyuhyun duduk di hadapanku dan mengusap airmataku. “Aku tidak suka kau menangis.”
“Kalau begitu biarkan aku pergi dari rumah ini.”
“Tidak bisa. Kau harus tetap berada di sini. Kau harus menemaniku dan kita akan menghabiskan masa tua kita bersama.” Kyuhyun meraih tubuhku dan memelukku. “Sudah kubilang aku tidak akan menyakitimu jika kau menuruti semua ucapanku.”
Dia tidak akan menyakitiku?? Benarkah? Apa dia juga akan memberikan apa yang kuinginkan? “Apa kau benar-benar akan memberikan apa yang kuinginkan?”
Kyuhyun merenggangkan pelukannya. Dia mengusap wajahku. “Tentu saja.”
Aku mencengkram kemeja putihnya. “Kau janji?” Kyuhyun mengangguk. “Baik. Aku akan menurutimu tapi aku tidak ingin menjadi istrimu.”
“Kau akan tinggal di rumah ini bersamaku sampai kapanpun?” Aku mengangguk. “Good.”
Kyuhyun bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya. “Berdirilah..!”
Dengan gemetar, aku meraih tangannya. Dia tersenyum, kali ini dengan wajahnya yang mulai melembut, tidak sedingin tadi. Kyuhyun menarik pinggangku hingga kami tidak memiliki jarak.
“Ada peraturan yang harus kau ikuti untuk tetap berada di sisiku. Pertama, kau tidak boleh keluar dari kamar ini. Kedua, kau tidak boleh menolakku. Dan yang ketiga, kau harus tidur denganku.”
Aku kembali meneteskan airmata.
Dia mengusap airmataku. “Aku membutuhkan jawaban, sayang. Bukan airmatamu.”
Aku menggigit bibirku yang bergetar. Aku tidak sanggup untuk bicara. Aku hanya bisa mengangguk sembari menahan tangisku.
“Good girl.” Kyuhyun semakin mendekat. Dia kembali mencium bibirku. Kali ini ciumannya terasa lembut, berbeda dengan yang pertama. “Sekarang, tunjukkan bagaimana seharusnya kau menuruti peraturan yang kubuat.”
Kyuhyun masih menatap kedua bola mataku. Dia tersenyum manis sembari membimbing tubuhku untuk mundur. Hingga aku berhenti saat merasa ranjang sudah berada di belakangku. Perlahan Kyuhyun mendorongku untuk berbaring di atas tempat tidur. Apa dia akan melakukannya? Oh tidak…
“Easy, honey. Semua akan baik-baik saja.”
“Kau akan meniduriku?”
“Tidak.” Kyuhyun menggeleng. Dia merendahkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu padaku. “Aku lebih suka menyebutnya dengan kata ‘bercinta’, dan kau akan menyukainya.”
Tidak. Aku tidak akan menyukainya. Tapi… apa yang bisa kulakukan?
Perlahan Kyuhyun mulai mengecup keningku, kemudian turun di kedua kelopak mataku, hidungku, hingga mendarat di bibirku. Aku kembali membuka mataku dan melihatnya yang tersenyum. “Lihat, aku tidak menyakitimu sama sekali.”
Kyuhyun bangkit dari tubuhku. Dia memperbaiki posisi tidurku dan dia pun berbaring di sisiku. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku.
“Menunggu.”
Aku menoleh. “Apa yang kau tunggu?”
Dia menatapku dalam. “Kesiapanmu. Dan aku tidak akan berhenti jika kau sudah mengatakan bahwa kau siap.”
“Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku tidak akan pernah siap?”
Dia menyeringai. “Itu berarti kau menentangku.”
Bukankah itu sama saja dia memaksaku? Mengapa dia melakukan ini semua padaku? Jika dia benar-benar mencintaiku, mengapa dia mengurungku di kamarnya? Dan bagaimana dengan Taehyun?
“Kau memikirkan Taehyun? Hm?” Kyuhyun mengusap wajahku. “Tenang saja. Aku belum memerintahkan apapun pada Nami.”
“Apa kau akan menyakitinya?”
“Tergantung.” Kyuhyun menaikkan tubuhnya. Dia kembali meninduhku. “Dia akan baik-baik saja jika kau menurut padaku.”
Oh tidak… Taehyun…
“Sekarang bagaimana? Masih ingin menolakku?” Kyuhyun merendahkan tubuhnya dan mengecup bibirku beberapa kali. “Aku benar-benar mencintaimu, Choi Yongneul. Karena itu aku tidak ingin melihatmu bersama yang lain.” Katanya di sela-sela kecupannya.
Kyuhyun yang awalnya terlihat menyeramkan, kini dia berbanding terbalik. Dia mulai terlihat lembut. Dia membimbing tanganku untuk melingkari lehernya. Kemudian dia kembali mengecupku, kali ini di leher kananku. Aku memejamkan kedua mataku merasakan sentuhan itu. Menjijikan, tapi aku tergoda. Aku mulai menikmatinya.
Kyuhyun menurunkan kecupannya hingga mendarat di dadaku yang sedikit terekspose. Membuatku sedikit mendesah. Dia mengangkat wajahnya dan menyeringai. “Kau menikmatinya?”
“Tidak.”
“Tapi aku bisa mendengar desahanmu tadi.”
Sial. Aku memalingkan wajahku dan ingin melepaskan tanganku dari lehernya. Namun Kyuhyun menahanku. Aku kembali menatap kedua mata elang itu. Brengsek! Tatapannya begitu menggoda. Dan aku mulai menginginkannya. Terkutuklah aku!
Kyuhyun mulai mengecup bagian kulitku yang lain. Kali ini dia semakin menjalankan kecupannya itu ke dada kiriku. Aku harus mati-matian menahan desahan ini. Dia menarik tali bahu gaun malam ini, hingga aku sendiri bisa menyadari bahwa aku tidak memakai bra. Apa dia mengganti pakaianku hingga melepas pakaian dalamku? Aku menahan tubuh Kyuhyun. “Apa kau yang mengganti pakaianku?”
“Tentu saja.”
“Dan kau melepas pakaian dalamku?”
“Aku menyisahkan pantiesmu. Apa aku perlu membukanya juga?”
“A-ani! Ani!” aku menahan tangannya saat dia ingin membuka pantiesku. “Eng.. em…” Kau harus tenang, Choi Yongneul. “Emm.. ki-kita bisa pelan-pelan melakukannya.”
Kyuhyun kembali tersenyum dan memperbaiki posisinya di atasku. “Aku suka kau mulai menawar.”
“Eng tapi…”
“Wae?”
“Aku haus tapi… kau bilang aku tidak boleh keluar dari kamar ini.”
“Cih!” Kyuhyun kembali melumat bibirku. Dan entah mengapa aku ingin sekali membalasnya.
Hingga aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya dan memejamkan mataku. Aku menekan tengkuknya dan membuat ciuman kami semakin dalam. Tangan Kyuhyun dengan lihai merambat ke tubuhku bagian atas. Dia mengusap lembut dadaku dan menarik tali bahu gaunku yang lainnya. Membuat bahuku benar-benar tidak dilindung oleh apapun lagi. Dadaku diremas. Terasa sedikit sakit tapi… mengapa aku menikmatinya? Telapak tangan dinginnya begitu lembut menyentuh permukaan kulit dadaku.
Kyuhyun melepaskan ciuman kami. Aku mengambil oksigen sebanyak mungkin. Tanganku menuruni tubuhnya dan mengusap dada Kyuhyun yang masih tertutup kemeja.
“Tunggu di sini!” katanya. Kyuhyun meninggalkanku di kamar ini.
Aku memperbaiki posisi gaun sialan ini. Kudengar Kyuhyun mengunci pintu dari luar. Aku melihat jendela kamar itu yang cukup besar. Aku segera berjalan mendekatinya. Kubuka jendela itu dan melihat garasi tepat di bawah kamar ini. Taehyun pasti ada di sana. Tidak mungkin jika aku berteriak, Kyuhyun pasti akan mendengarnya. Aku mencari ide lain. Ah! Mungkin aku bisa turun dengan menggunakan selimut.
Baru saja aku menarik selimut putih itu, Kyuhyun sudah kembali membuka pintu. Sial. Aku segera berpura membereskan ranjangnya.
Dia mendekatiku dengan membawa segelas air. Aku menatapnya dengan ragu. “Minumlah, aku tidak menaru apapun di minuman ini.”
Aku mengerutkan keningku. Benarkah? Bagaimana aku bisa tahu jika dia tidak menaruh apapun di dalam gelas itu selain air?
Kyuhyun tertawa renyah. “Aku akan meminumnya sedikit.” Kyuhyun meminumnya beberapa teguk kemudian dia kembali menjulurkan gelas itu. “See?”
Aku pun mengambilnya. “Ini hanya air putih?”
“Tentu saja, sayang.”
Aku meminum air itu dengan pandangan yang tidak lepas dari Kyuhyun. Dia pun tetap menatapku dalam dengan senyumannya yang menawan. Sebagian dari air itu tumpah karena aku minumnya dengan terburu-buru. Aku menghapus air yang ada di daguku dengan punggung tanganku.
Kyuhyun semakin tajam menatapku. “Shit!” katanya. Kyuhyun segera menarik pinggangku. “Mengapa kau begitu menggoda?” katanya dengan kening kami yang menempel. “Kau keterlaluan!”
Kyuhyun kembali meraup bibirku, sontak membuat tanganku melepaskan gelas itu. Terdengar suara gelas kaca itu pecah di atas lantai. Tanganku yang gemetar memegang kedua bahu Kyuhyun. Aku sedikit mendorong tubuhnya hingga ciuman Kyuhyun terlepas.
“Aku?? Keterlaluan??”
Kyuhyun tidak menanggapiku. Dia justru mendorong tubuhku hingga aku terjatuh di atas ranjang. “Lebih baik kita percepat malam ini.”
Kyuhyun segera mencium bibirku, dia melakukannya dengan sangat dalam. Seolah dia akan kehilangan diriku jika dia lengah sedikitpun. Kedua tangannya menuntun tanganku untuk mengusap punggungnya.
Aku melakukannya. Entah mengapa tubuh Kyuhyun seolah memerintahku untuk berpikir mengikuti segala yang Kyuhyun inginkan. Tanganku pun merambat ke rambut Kyuhyun, aku meremasnya pelan saat Kyuhyun melumat bibir bawahku. “Euughh…” Sial! Apa itu desahanku?
Kyuhyun mengusap pahaku dan menyibakkan gaun minim ini. Aku bersyukur aku masih memakai pantiesku. Tapi tangannya tidak berhenti untuk menggodaku. Sekarang tangan kekar itu mengusap perutku saat dia sudah menyelinapkan tangannya ke balik gaun ini.
Aku terbawa suasana. Kyuhyun melepaskan ciumannya dan beralih mengecupi seluruh tubuhku. Dia duduk di atas tubuhku dan menariku untuk ikut duduk. Tatapan kami bertemu. “Sudah kubilang kau akan menyukainya, Choi Yongneul.”
Aku tidak menanggapinya. Semakin lama aku melihat wajah tampannya, akan semakin jauh aku terbawa godaannya. Aku menarik tengkuk Kyuhyun dan lebih dulu menciumnya. Kyuhyun tersenyum, aku tahu itu. Kudongor tubuh Kyuhyun hingga kini aku berada di atasnya. Tangan Kyuhyun masih dengan mahirnya bermain di punggungku. Aku mengusap dadanya yang entah sejak kapan beberapa kancing kemeja itu sudah lepas. Kuusap tubuh Kyuhyun. Bisa kurasakan bekas luka di dadanya. Apa itu bekas lukanya delapan tahun yang lalu?
Kulihat Kyuhyun yang memejamkan kedua matanya. Sepertinya dia menikmati sentuhanku. Dan tanpa berpikir lama, aku meraih lampu kecil yang ada di meja sebelah ranjang itu. Ku benturkan lampu itu ke kepala Kyuhyun. Dia berteriak kesakitan.
Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Aku tahu dia lupa mengunci pintu. Aku berlari.
“BERHENTI!!” Teriaknya dari dalam kamar.
Aku tidak mempedulikannya. Aku masih berlari secepat mungkin yang kubisa. Aku menuruni tangga dan aku terkejut. Mengapa rumah ini terlihat lebih besar dari sebelumnya? Mengapa jadi ada banyak lorong di tempat ini?
Kulihat Kyuhyun keluar dari kamar dengan darah yang mengalir di kepalanya. “AKU BILANG BERHENTI!”
Nafasku semakin tidak bisa dikendalikan. Aku kembali berlari, kali ini ke arah yang memperlihatkan cahaya. Mungkin itu jalan keluar. Aku berlari ke arah kanan dan melihat sesuatu di sana. Itu seperti… sepatu Taehyun. Mungkinkah Taehyun ada di sana?
Aku segera berlari ke arah itu. “Taehyun?” aku menoleh dan terkejut. “Ya Tuhan…!” aku melihat Taehyun tergeletak di atas lantai dengan darah yang menggenang di sekitar tubuhnya. “TAEHYUN-AH!!”
Kulihat Nami berada di sampingnya dengan memegang sesuatu.
Nami menyeringai padaku. “Eonni? Kau mau lihat? Aku penasaran, karena itu aku ingin melihat seperti apa jantung seorang manusia.”
“Astaga!” apa dia… kulihat dada Taehyun yang robek. Bibirku mengatup bergetar. Airmataku mengucur, aku menangis dan aku menahan teriakanku. Mereka benar-benar gila. Mereka bukan manusia! Mereka iblis!
Aku pun kembali berlari ke arah yang berlawanan. Kulihat Kyuhyun sudah berada di belakangku, dia masih mengejarku. “Ahk!” aku terjatuh saat akan berbelok. Aku berusaha untuk mundur. “Tidak! Jangan mendekat!”
“Sudah kubilang untuk tidak keluar kamar, sayang. Tapi mengapa kau melawanku? Kau sudah melihat akibatnya jika kau melawanku bukan?”
“Kalian gila! Kalian bukan manusia!!”
Apa mereka vampir atau drakula? Jika iya, mereka pasti takut akan ini. Aku mengeluarkan kalung salib kecil yang selalu melingkari leherku. Dan benda ini terbuat dari perak. “Jangan mendekat! Atau aku akan menancapkan salib ini ke jantungmu!!”
“Cih! Sudah kubilang.. aku ini manusia. Bukan iblis.” Kyuhyun semakin mendekat. “Kau harus menerima hukuman dariku!”
Aku bisa berdiri kembali dan aku pun mulai berlari. Kali ini aku melihat sebuah pintu di sana. Aku membukanya dan segera menutup pintu yang terbuat dari kayu itu. Aku melihat sebuah kursi besar di sana. Dengan sekuat tenaga aku menarik kursi itu untuk menahan pintunya.
“Siapa itu?” aku terkejut saat mendengar suara seorang wanita. “Kyuhyun-i?”
Aku melihat ke arah kiriku dan aku terkejut melihat seseorang terpasung di sana. Aku mendekatinya. Oh tidak… bukankah dia… “Eonni? Ahra eonni?!” Kyuhyun bilang Ahra eonni sudah meninggal. Tapi mengapa…?
Dia menatapku bingung. “Siapa kau?”
“Eonni? Apa yang terjadi?” tidak ada waktu untuk menjelaskan padanya tentang siapa aku.
“Apa Kyuhyun yang membawamu ke rumah ini? Eo? Jika iya, kau harus cepat pergi! Kyuhyun bisa membunuhmu seperti wanita-wanita yang lain.”
“Wanita-wanita yang lain?? Sebenarnya apa yang terjadi pada Kyuhyun?”
“Dia menjadi seperti ini sejak menemukan anak itu. Kyuhyun berbeda dan mulai bertingkah aneh. Siapapun kau, kau harus pergi dari rumah ini!! Jika tidak, Kyuhyun ak-”
DORR!!
Timah panas mengenai kening Ahra. Aku berteriak sejadi-jadinya. “AAHKKK!!!” Aku menoleh ke belakang dan melihat Kyuhyun mendekatiku.
Kyuhyun melempar pistolnya ke sembarang arah. “Jangan pernah melawanku, Choi Yongneul!” Kyuhyun menarik kakiku.
“TIDAK! LEPASKAN AKU!! TOLOOONG!!” siapa saja, tolong bangunkan aku jika ini hanya sebuah mimpi buruk. Tolong aku! Kumohon.. Tolong aku! “TIDAAAAAKK!!!”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Yong, bangun! Hei! Bangunlah!” Aku terkejut saat Taehyun menguncangkan tubuhku. Nafasku naik turun. Jadi yang tadi itu sebuah mimpi? Aku sedang bermimpi? “Kau baik-baik saja?” aku mengangguk lemah. “Sepertinya kau bermimpi buruk.”
“Aku seperti dikejar oleh seseorang.”
“Siapa?”
“Entahl-” Tunggu! Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini. Mungkinkah ini sebuah Déja Vu?
Kulirik Taehyun yang sibuk mencoba untuk menyalakan mesin mobil. Mobil Jaein mogok? Lalu aku menoleh ke luar kaca dan melihat sebuah rumah megah di sana. Dan di depan gerbang besar itu berdiri seorang anak kecil. Itu Nami! Dia sedang memeluk bola merahnya. Dan dia… menyeringai padaku. Membuat tubuhku bergidik. Oh tidak… apa.. “Taehyun-ah!” aku mendorong tubuh Taehyun.
“Ah waeee?”
“Kita harus pergi dari tempat ini. Secepatnya!”
“Kau ini kenapa, Yong?”
“Tidak ada waktu. Ppalli!!” di saat aku berteriak dan mencengkram bahu Taehyun, aku baru tersadar akan sesuatu. Kulihat jari telunjukku. Sebuah plaster melingkarinya. “Ini…” ini plaster yang Kyuhyun balutkan. “Tidak… tidak mungkin..!” apa aku yang mulai gila? Mengapa ini bisa terjadi. Tidak. Seseorang harus membangunkanku. Ini semua mimpi buruk. “Tidak…!! Tidak mungkin!! TIDAAAAKKK!!!!”
— THE END —
Aneh?? Hahaha aku juga ngerasa aneh. Tapi ga tau kenapa, cerita inilah yang terbayang di pikiranku waktu pertama kali aku liat highlight medley video-nya Kyuhyun.
Please, jangan protes karena aku bikin Kyuhyun jahat di sini. Oke? Hahahaha…
Thank you buat Admin di blog ini yang sudah mempublish FF-ku ini. Semoga lain kali saya bisa kirim FF lagi ke blog ini.
Dan terima kasih juga untuk kalian yang sudah membaca FF saya yang aneh ini. Kapan-kapan main ya ke blog saya (non-NC) di choiyongneul.wordpress.com 
See ya! ^^~

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: