Demon in Him

0
Demon in Him ff nc kyuhyun super junior
Author : izzEvil
Tittle               : Demon in Him
Category         : NC-21, Yadong, Romance, Kekerasan, Oneshot.
Cast                : Cho Kyuhyun
Lee Yunhee (OC)
***
I’m a violence. I do violent things. I am a bastard.
I am that demon.
But, she still loves me.
-Kyuhyun
***
Dia menarik rambutku ke belakang dengan kasar, membenamkan—tidak, membantingkan—miliknya jauh di dalam bagian tubuhku yang paling sensitif lewat belakang. Aku berusaha menahan teriakanku, bagaimanapun, menahan dorongan untuk tidak mengatakan ‘kata aman’ itu atau dia akan berhenti, dan aku tidak akan mendapatkan pelepasanku.

Aku tidak mau dia berhenti, sebenci apapun diriku pada sisi gelapnya yang satu ini. Aku menginginkan ini, menginginkannya, sebanyak dia menginginkanku. Kami sama-sama membutuhkan ini. Dia terus menghantamku dengan miliknya yang besar seperti tiada hari esok. Di selalu melakukannya dalam-dalam, cepat, dan kasar. Tiada ampun karena dialah yang mendominasiku. Ya, begitu. Hanya saja, aku atas dasar pemenuhan diri dan dia pelarian dari segala sisi gelapnya. Dari iblis yang terpendam jauh di dalam dirinya.

Iblis itu sedang merasukinya saat ini.
Iblis itu sedang, lagi, mengambil seluruh esensi pria yang selama hampir sembilan tahun aku kenal, secara brutal.
Aku berbaring tengkurap di atas meja kerjanya beberapa menit kemudian, menitikkan air mata dan menahan isakanku. Aku begitu puas dan terisi. Kakiku menggantung di udara dan masih berpakaian lengkap ala kantoran, kecuali tentunya celana dalamku yang entah sudah berbentuk seperti apa saat ini. Aku tidak peduli jika dia harus merobek atau bahkan membuangnya, aku tidak keberatan menerima sisi kasarnya dan aku percaya padanya. Itu yang kami perlukan sekarang ini, kepercayaan satu sama lain. Lagipula aku tidak menangis karena sedih, melainkan lebih kepada kelegaan yang aku dapatkan. Aku tertawa kecil sambil merasakan dinginnya permukaan meja marmer yang menempel pada pipiku. Aku mendengarkan dengan khidmat setiap gerakan yang pria di belakangku lakukan. Dia sedang membetulkan resleting celananya, hembusan nafas dalam keluar dengan mulus dari mulutnya.
Ini bukan pertama kalinya—pria ini—meniduriku di atas meja kerja di dalam kantornya. Mungkin sudah tujuh kali, mungkin bisa lebih dari itu. Aku lupa dan aku tidak peduli. Selama kebutuhanku dan pelariannya terlampiaskan, itu sudah lebih dari cukup untuk disyukuri. Dan dia jarang melakukannya dengan lembut, dia selalu kasar dan tidak sabaran. Aku suka itu, bagaimanapun.
“Kau sudah makan siang?” Tanyanya seraya menyentuh pinggangku dan membantuku untuk berdiri. Dia sudah menanyakan pertanyaan itu tiga kali, empat dengan yang sekarang.
Saat aku sudah berdiri tegap, tangannya meraih rok hitamku dan menurunkan lipatannya kembali hingga ke pahaku. Aku tidak perlu repot-repot menggunakan celana dalam, toh dalam beberapa jam kemudian, kami akan melakukan ini lagi. Oh, tidak, tidak di sini melainkan di penthouse miliknya di daerah Gangnam, tidak jauh dari kantornya ini.
Aku menganggukkan kepala, kemudian menoleh untuk menatapnya tepat di mata.
Sampai saat ini, kadang kurasa aku begitu beruntung. Memiliki pria tampan dengan kulit hampir seputih susu, rambut hitam kecoklatan yang begelombang, hidung mancung, bibir penuh dan sensual, tangan dan jari-jari yang panjang, badan yang tidak terlalu besar namun pas untuk ukuranku, dan spesial dia memiliki bokong yang seksi. Di samping itu semua, aku merasa dalam waktu yang bersamaan kasihan untuk bisa mengenal pria ini. Pria di hadapanku ini, berbeda dari kebanyakan para pria pembisnis pada umumnya, adalah jenis yang paling jarang. Memang, dia adalah pria kaya—sangat kaya—dan pekerja keras yang memiliki hampir semua yang dia inginkan. Hampir setengah dari seluruh saham di segala jenis bisnis yang ada di Korea Selatan adalah miliknya. Tekstil, properti, makanan, hotel, dan masih banyak lagi. Cho Enterprises mereka menyebutnya.
Aku sendiri sering kebingungan untuk menggambarkan seberapa kaya dirinya. Mungkin semua itu terdengar klasik dan umum, namun satu yang membuatnya berbeda. Dia memiliki sisi gelap yang orang lain tidak pernah bayangkan ada di dalam dirinya.
“Aku sudah makan siang dengan adikmu.” Kataku, lagi, sambil mengawasi setiap ekspresi yang kapan-kapan bisa berubah dengan cepat dari wajahnya. Namun, aku tidak mendapatkan indikasi apapun jika sekarang dia marah akan pengakuanku.
“Itu yang membuatmu mendapat hukuman, kau pantas untuk didisplinkan.” Komentarnya enteng, dia melangkah ke arahku dengan elegan, kedua tangan di dalam saku celananya. “Lain kali, aku akan membuatmu memohon untuk maafku.”
Aku tersenyum sinis. Dia tahu aku tidak pernah meminta maaf padanya, dia tidak akan mendapatkan itu sekeras apapun dia mencoba. Dan pemikiran bahwa mungkin saja aku akan makan siang dengan adiknya lagi tidak begitu menarik lagi bagiku, yah, selain ancamannya yang malah mengejutkannya membuatku mengharapkannya.
“Adikmu adalah pria yang manis, Cho Kyuhyun.” Aku menggodanya, kecemburuannya membuatku terlampau senang.
Itu memang benar. Cho Jaehyun memang manis, terlepas dari kemiripan mereka berdua, keduanya memiliki ketampanan yang sangat kontras. Kyuhyun dengan tampan yang memabukkan dan mengintimidasi dan Jaehyun yang manis dan lembut.
Kyuhyun tidak pernah suka aku menyebutkan tentang hal itu—adiknya, apalagi makan siang bersamanya. Bukan berarti dia membenci adiknya, justru dia sangat menyayangi adiknya. Dia hanya sangat protektif dan posesif. Dia tidak suka aku berada dalam jarak dekat dengan adiknya, lupakan kenyataan bahwa kami makan siang hanya berdua. Aku tidak mau menambahkan itu, karena sudah pasti dia akan lebih meledak dari ini. Kemarahannya yang tak nampak di wajahnya sudah membuatku merinding, apalagi lebih dari itu. Dia akan mengikatku dan memukulku dengan ikat pinggangnya jika itu terjadi, sebetulnya itu tak masalah selama dia tidak melakukannya di sini. Di manapun asal jangan di kantor atau tempat umum. Aku hanya tak ingin membuat kesan jelek atas dirinya kepada para pegawainya.
“Persetan dengannya.” Dia mencondongkan tubuhnya maju dan berbisik dengan suara sangat pelan dan rendah, membuatku bergetar penuh antisipasi. “Kau. Milikku. Hanya. Milikku. Ingat itu, Lee Yunhee.” Katanya sambil memukul pelan bokongku dengan tangan kanannya.
Aku terkikik dan berjalan menuju pintu sambil membetulkan rambutku, penampilanku. Aku sempat menemukannya menggelengkan kepala, sebuah senyum geli terbentuk sepanjang bibirnya.
“Oh, terserah.” Ucapku sebelum menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
***
Cho Kyuhyun selalu memiliki sisi ini, sejak kali pertama aku mengenalnya. Sembilan tahun yang lalu. Ya, sudah selama itu aku berada di sisinya. Kau mungkin tidak akan percaya, tapi aku melalui semua penderitaan dan cobaan bersama dengannya. Aku membantunya untuk kembali, bangkit dari keterpurukan. Karena percaya atau tidak, dulu dia bukanlah pria kaya dan sombong seperti sekarang ini. Dia hanya bocah miskin dengan latarbelakang keluarga hancur.
Jika kau membuka google dan mengetik namanya, kau akan menemukan keterkejutan yang tak terduga. Terlahir dari seorang wanita kampung biasa dan seorang pria kota kaya dengan segala ketenaran dan kesuksesannya. Ya, Ayah Kyuhyun adalah seorang seniman. Dia adalah pria terkenal yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk berkarir dalam musik. Mengapa dia bisa bertemu dengan Ibu Kyuhyun, itu adalah sebuah keajaiban. Namun, keajaiban tidak berlangsung lama. Saat anak kedua lahir—yakni Cho Jaehyun—tiba-tiba Ayah Kyuhyun mencampakan mereka, saat itu Kyuhyun baru berumur dua tahun setengah. Hingga detik ini, Kyuhyun bahkan tidak akan ingat bagaimana sosok Ayahnya jika saja dia tidak melihatnya dari internet.
Sejak saat itu, hidup keluarga mereka berubah jungkir balik. Mereka miskin, mereka menjadi keluarga terabaikan. Umur tiga belas tahun, Kyuhyun dikeluarkan dari sekolah karena berbuat onar. Kau bisa bayangkan betapa ketakutannya para orang tua murid saat menemukan anak mereka pulang dengan wajah berdarah dan babak belur, dan kau tahu siapa pelakunya? Cho Kyuhyun. Entah apa yang merasukinya, tapi dia berubah menjadi sangat nakal, kasar, dan susah diatur. Dia menjadi seorang berandalan dan tidak punya teman. Setiap hari setelah hari di mana dia dikeluarkan dari sekolah, Kyuhyun menghabiskan seluruh waktunya di danau yang tak jauh dari rumahnya. Ibunya di rumah sakit-sakitan sepeninggal Ayahnya, sehingga mereka diurus oleh neneknya. Tidak lama, nenek mereka meninggal dan akhirnya Kyuhyun, Jaehyun, dan ibunya tinggal bersama pamannya.
Awalnya, pamannya bersikap begitu baik. Namun, lambat laun, Kyuhyun mengetahui bahwa sang paman tidak lebih dari seorang pemabuk dan gelandangan. Sementara dirinya sendiri, masih sama dan tidak berubah, nakal dan susah di atur. Pamannya akan pulang pada malam hari dan memukulinya dan adiknya. Kyuhyun memilih berhenti untuk bersikap ugal-ugalan, dan dia mulai mencari pekerjaan, apapun, demi adik dan ibunya. Sia-sia, karena pada akhirnya pamannya akan pulang dan melakukan hal yang sama. Setiap malam, meskipun Kyuhyun dan adiknya tidak melakukan kesalahan.
Pada suatu hari, Kyuhyun bertekad untuk keluar dari desa itu. Tepat saat kematian sang ibu, Kyuhyun memutuskan untuk melakukan hal itu. Dia segera keluar dari desa bersama adiknya menggunakan mobil sayur yang berangkat ke kota. Mereka bersembunyi di sana sampai supir dari mobil itu menemukan mereka, dia membawa mereka ke panti asuhan. Di sana Kyuhyun belajar keras demi merubah kehidupannya. Sampailah pada Kyuhyun yang saat ini.
Semua masa lalunya bisa kau temukan di sana, di internet. Tapi tidak dengan seluruh jati dirinya. Dia pandai sekali menyembunyikan jati dirinya yang asli, dirinya yang hanya aku saja yang tahu. Baik, setidaknya aku, dia, dan psikiaternya. Kau mungkin hanya akan menemukan sebagian saja dari seorang Cho Kyuhyun. Seorang pengusaha sukses, kaya, dan tak tertandingi. Dia memiliki semua yang dia inginkan, dia menganggap dirinya memiliki jagat raya. Ya, semua, kecuali kewarasannya sendiri. Itu, hanya aku dan psikiaternya yang tahu.
Kyuhyun sedang duduk di kursi panjang di kamar tidur kami, laptop di pangkuannya. Dia memasang wajah serius menatap layar laptop itu, tangannya bergerak mengetik dan mengetik. Aku memandangi sosoknya dari tempat tidur. Rambutnya acak-acakan, dia hanya mengenakan celana lonngar panjang yang menggantung dari pinggang, dadanya terekspos. Dia memang tidak memiliki six packs seorang olahragawan, tapi dia cukup kekar. Pemandangan di depanku menggiurkan. Kyuhyun menggiurkan. Sangat.
Dia tidak menyadari bahwa aku sudah bangun dan sedang menatapnya, namun saat aku menggerakkan kakiku dan menimbulkan suara selimut yang bergesek, akhirnya Kyuhyun menoleh. Dia melemparku sebuah senyuman hangat.
“Pagi,” Sahutnya dari sofa.
“Pagi.” Balasku seraya memberinya senyum sensualku. Dia tidak begeming. Matanya malah kembali ke layar. Tangannya mengetik, mengetik, dan mengetik. “Hari apa ini?”
Aku tahu hari apa ini, Minggu. Aku hanya memastikannya agar Kyuhyuns sadar, dan menghentikan apapun yang sedang dia lakukan dengan laptopnya.
“Minggu.” Jawabnya singkat tanpa menoleh ke arahku.
“Tentu hari Minggu,” Sindirku, nada sinis tak lepas dari kalimatku. “lalu kenapa kau masih bekerja?”
“Hanya membalas beberapa email penting, kau tahu aku tidak bisa meninggalkan ini.”
“Oh, aku tahu.” Aku bangkit dari tempat tidur, tidak repot-repot untuk membungkus tubuhku dengan selimut. Aku melangkah ke arah Kyuhyun, tanpa busana. “Tapi sejak hari jumat—yang mana sudah masuk hari libur—kau melakukan hal yang sama. Apa sekarang aku dilupakan?” Protesku.
“Kau tahu aku tidak pernah melupakanmu, Yunhee.” Akunya pelan, mata tetap pada layar. “Jangan mengalihkan perhatianku, tolong.”
Aku menyeringai, dia tahu dia tidak bisa konsentrasi jika aku berusaha melakukan ini padanya. Menggodanya dengan tubuhku. Aku duduk dipangkuannya, mencondongkan tubuhku untuk mengintip pekerjaannya. Kyuhyun sama sekali tidak terganggu dengan itu. Belum. Saat aku meraih miliknya dari kain yang menutupi, dia tercekat. Miliknya langsung menegang di tanganku. Aku mendengar dengan jelas helaan nafasnya yang berat, kurasa di sedang mengontrol dirinya.
“Bagaimana?” Tanyaku seraya mengelusnya, maju dan mundur. Mataku mencermati setiap ekspresinya, bahkan saat dia mulai menutup matanya.
Dia menggeram, suaranya serak dan aku suka itu. “Kau akan membuatku mati sebelum aku sempat menyelesaikan ini.”
“Biar saja.” Kataku acuh.
Dia mencengkeram tanganku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meletakkan laptopnya di lantai. Akhirnya.
“Gadis nakal,” Erangnya. Dengan itu, dia membalikku sehingga punggungku mendarat di sofa dan Kyuhyun berada di atasku, mengurungku dengan tubuh besarnya. Dia menjepit kedua tanganku dengan tangannya di atas kepalaku, memenjaraku. “kau akan mendapatkan hukumanmu.”
Aku menyeringai. “Yes, please.” Suara yang keluar dari mulutku tidak lebih dari hembusan penuh antisipasi, penyerahan. Ya, aku adalah budaknya dan Kyuhyun adalah tuanku. Aku rela diperlakukan seperti apa saja, karena aku adalah miliknya. Dan dia milikku.
Hanya milikku.
Mendadak, Kyuhyun menurunkan celananya. Tanpa aba-aba, dia memasukiku dengan erangan liarnya. Mulanya dia hanya membenamkan saja dan diam untuk beberapa saat, tapi kemudian saat dia bergerak, gerakannya tak terkendali. Aku menjerit keras, namun tangan kanan Kyuhyun menutup mulutku. Dia membungkamku dengan cukup kuat, membuat air mata terbentuk di sudut mataku. Too much. Aku tidak bisa menahannya lagi dan aku hancur detik itu juga, mencapai pelepasanku dan menyerah sepenuhnya pada Kyuhyun. Dia menegang dan saat milikku di dalam mencengkeram miliknya, Kyuhyun sampai pada bintang. Matanya membulat, sangat lebar dan bibirnya membentuk O. Beberapa detik kemudian, dia menyembunyikan kepalanya di leherku,, mengigitnya keras letak di mana nadiku berada, menandaiku. Aku melenguh dan tersenyum.
“Kau masih berpikir untuk melanjutkan pekerjaanmu?” Bisikku di telinganya. Kyuhyun hanya menjawab dengan sebuah gelengan lemah. “Bagus.”
***
Mungkin aku harus menceritakan tentang pertemuanku dengan Kyuhyun. Saat itu, Kyuhyun berumur dua puluh enam tahun. Begitu muda, beitu rentan. Namun, dia telah memiliki sebanyak ini. Memiliki segalanya. Kyuhyun adalah orang yang sangat berpengaruh di Seoul, dia merintis karirnya dari bawah. Mendapatkan beasiswa dari satu sekolah ke sekolah berikutnya, dia melanjutkan kuliah dan mendapatkan semua ini setelah lulus. Tentu dengan usaha yang keras. Dia adalah seorang CEO Cho Enterprises, CEO termuda yang pernah ada dalam sejarah pembisnis. Tapi aku sama sekali tidak mengenalnya, aku hanya tahu bahwa dia muda dan tampan. Itu pun dari internet. Aku tidak pernah bertemu langsung atau bertatap muka dengannya.
Waktu itu, aku hanya seorang mahasiswi yang baru lulus dan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Usiaku masih dua puluh dua tahun, dan aku mencoba peruntunganku melamar di salah satu gedung pencakar langit milik Cho Enterprises. Aku tidak menyangka dari sekian banyak gedung Cho Enterprises, akan bertemu dengan CEOnya di gedung itu, gedung yang aku tuju. Itu adalah perusahaan penerbitan buku dan majalah, aku akan melakukan wawancara untuk bisa diterima bekerja di sana. Kesan pertama saat melihat Kyuhyun, baik, aku sangat terkejut. Dan terangsang. Bagaimana tidak? Dia tinggi, sangat tampan, elegan, dan dia memiliki tatapan yang bisa melelehkan setiap wanita dalam sekali lihat. Itulah yang aku rasakan.
Wawancara tidak berlangsung mulus karena tiba-tiba Kyuhyun menyarankan bahwa aku tidak perlu bekerja menjadi pengedit atau perancang sampul majalah, dia malah memberiku pekerjaan untuk menjadi asisten pribadinya. Aku sempat menolaknya, sebelum akhirnya dia malah menggodaku dan kami melakukan sex di kantornya. Kau bisa bayangkan, pertemuan pertama dan aku sudah melakukan sebuah hubungan terlarang dengan calon bosku, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menerima pekerjaan itu. Tidak hanya menjadi sekertaris pribadinya, tetapi juga haremnya.
Aku memiliki kecurigaan bahwa aku bukanlah satu-satunya wanita yang pernah dia goda atau dia tiduri, dia memiliki banyak wanita sebelum aku. Tapi dia tidak pernah mengkhianatiku dengan berhubungan dengan wanita lain di belakangku, kami benar-benar ekslusif satu sama lain. Aku hanya miliknya dan dia hanya milikku.
Lama setelah itu aku baru mengetahui kebiasaan buruknya. Setiap malam saat aku tertidur pulas karena kelelahan meladeninya, dia akan bangun dari mimpi buruknya dan dia segera minum-minuman di ruang pribadinya satu lantai dari kamar tidur. Baru setelah itu aku mempelajari bahwa dia memiliki masa lalu kelam. Aku mencari tahu tentang latar belakangnya dari google, mencari dari berbagai sumber dan menggali semua koran untuk mendapatkan artikel tentangnya. Tapi semua itu tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana dia bisa mendapatkan mimpi buruk setiap malam hingga membuatnya mabuk-mabukan untuk melampiaskan itu. Selama tiga tahun aku bersamanya, aku mencoba untuk menggali dirinya lebih jauh sampai dia akhirnya mau membuka diri. Selam tahun-tahun itu, Kyuhyun acap kali keluar masuk rumah rehabilitasi untuk para pecandu alkohol dan aku membantunya untuk keluar dari mimpi buruk dan kebiasannya itu. Setelah sembilan tahun, semua semakin membaik. Namun, bayang-bayang masa lalunya masih membenak di kepalanya.
“Kyuhyun, bangun!” Aku mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun terus menerus dan dia tidak juga sadar dari tidurnya, dari penjara mimpi kelamnya. “Kyuhyun, kumohon bangunlah!”
Aku tidak tega melihatnya seperti ini, meskipun kami sering membawanya ke psikiater. Dokter itu tidak bisa menyembuhkannya, tidak juga aku. Kyuhyun dapat lepas dari alkohol, tapi dia tidak bisa bebas dari mimpinya. Tubuh Kyuhyun terus meronta-ronta di bawah tangan mungilku, tangan lemahku. Aku tak tahu harus berbuat apa, sampai akhirnya Kyuhyun membuka matanya dalam ketakutan. Dia kemudian berbisik penuh penderitaan.
“Yunhee,” Erangnya lemah, matanya berkaca-kaca. “Yunhee.” Katanya terus memanggil namaku.
“Hush, Kyuhyun, hush. Aku di sini.” Aku membungkus tubuh kekarnya dengan kedua tanganku, memegangnya dengan kuat. “Semua baik-baik saja, semua akan baik-baik saja.”
Tiba-tiba Kyuhyun bangkit, menindihku. Dia menurunkan celana panjangnya dengan tergesa-gesa, kemudian menyingkap gaun tidurku sampai ke dada. Dia menenggelamkan miliknya dalam satu dorongan kuat sehingga membuatku menjerit kesakitan, aku harus mencengkeram pundaknya untuk bertahan dari serangannya. Aku tidak siap, aku sangat tidak siap. Dia begitu besar dan keras, aku sama sekali tidak siap.
“Dia menyakitiku dan adikku!” Racaunya di leherku, sambil terus bergerak masuk dan keluar. “Dia membuat kami merasa jijik pada diri kami sendiri!”
“Kyuhyun!” Aku menggigit pundak kirinya, mencoba memikul penderitaannya tapi gagal.
“Kau tidak tahu rasanya, kau tidak mengerti! Dia menyakiti kami dan membuat kami tidak melupakan itu seumur hidup kami!”
“Kyuhyun, kumohon…” Pintaku, terisak.
“Dia membuat kami berada di dalam penjara neraka dan tidak bisa keluar dari cengkeramannya!”
“Kumohon… kau menyakitiku, Kyuhyun.”
“Kau tidak akan pernah mengerti!”
“Fiend! Fiend!” Teriakku keras. “Kyuhyun, lepaskan aku, Fiend, Kyuhyun, kumohon.”
Kyuhyun mendadak berhenti tepat saat aku mengatakan ‘kata aman’ kami: Fiend yang pertama, dia menjadi benar-benar kaku dan mematung. Fiend adalah caraku menggambarkan diri Kyuhyun, jati diri Kyuhyun karena di dalam pria itu terdapat fiend yang terpendam. Aku memakai kata itu sebagai batas terlarang untuknya melakukan apapun yang sekiranya membuatku tidak nyaman, membuatku merasa tidak aman.
Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan menatapku sendu, matanya dipenuhi air mata. Dengan cepat, Kyuhyun menarik keluar miliknya. Dia segera duduk tegap, menghadapku. Mulanya dia hanya menatapku tanpa berkedip, wajahnya penuh penyesalan, namun matanya benar-benar hampa.
Segera, Kyuhyun membenamkan wajahnya pada kedua tangannya sambil terus menerus membisikkan, “Oh, Yunhee, maafkan aku. Maaf, maaf, maaf.”
Aku langsung memeluknya erat, mengelus rambutnya dengan lembut. “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Tidak apa-apa, Kyuhyun.”
“Maafkan aku, Yunhee. Maaf.” Isaknya penuh sesal.
Aku memegangnya semalaman itu, melupakan nyeri luar biasa pada bagian kewanitaanku akibat ulahnya. Aku tidak peduli senyeri apapun itu, asalkan Kyuhyun baik-baik saja.
Pria ini tidak sempurna. Aku tahu pasti akan hal itu. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan siapa dia dalam keadaan seperti ini, karena aku tahu pria ini adalah pria terbaik untuk kujaga. Pria yang tepat untukku.
Tuhan, tolong aku. Aku sangat mencintai pria ini.
***
Kyuhyun mungkin saja tak bisa tertolong, mungkin saja. Tapi aku yakin aku bisa membantunya meringankan bebannya, membantunya melupakan masa kelam itu sedikit demi sedikit. Meskipun, ya, aku tahu aku tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Kau tahu kenapa aku bertahan di sisinya? Karena aku sangat mencintainya dan itu menyakitkan. Seseorang akan melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya, aku.
Aku tidak dapat membayangkan berada di posisi dua bocah malang ini, Cho Kyuhyun dan Cho Jaehyun. Aku bahkan tidak tega harus membayangkan Jaehyun mengalami masa-masa sulit seperti ini karena tidak heran bahwa dia juga mengalami mimpi buruk seperti Kyuhyun setiap malamnya.
Pernah dengar kejahatan seksual? Mereka—media manapun—tidak pernah tahu bahwa Cho Kyuhyun, CEO Cho Enterprises merupakan pria dengan iblis di dalam dirinya. Dia dan Jaehyun tidak hanya dianiaya secara fisik oleh pamannya, mereka dilecehkan. Paman mereka yang tidak berperikemanusiaan itu telah merenggut masa depan kedua bocah malang itu, mental mereka down sejak kejadian itu. Terkutuklah orang-orang yang telah merenggut kebahagiaan dan masa depan dari dua orang anak yang masih berumur 13 dan 10 tahun.
Namun, bagaimanapun Kyuhyun terus berusaha untuk menjadi pria yang berbeda. Begitupula Jaehyun. Sekarang, apa yang kau ragukan dari usaha mereka? Mereka adalah dua bersaudara sukses, kaya, dan dikagumi semua orang. Meskipun nyatanya mereka memerlukan perhatian khusus, ya perhatian dari orang yang mencintai mereka.
Kyuhyun membutuhkanku dan aku pun membutuhkannya. Itulah kenapa aku rela bertahan untuk tetap menopangnya, berada di sisinya siang dan malam.
Karena Kyuhyun adalah semua yang kubutuhkan di dunia ini.
Siang itu, aku melihat Kyuhyun uring-uringan di ruang kerjanya di penthouse kami. Dia mondar-mandir di balik meja kerjanya. Aku memerhatikannya dari ambang pintu dengan segelas wine di tangan kiriku. Dia menemukanku berada di sana, aku mengernyit, dia tersenyum.
“Ada masalah?” Tanyaku cemas.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak ada.” Suaranya terdengar kacau, kebingungan.
“Kau yakin?”
“Jaehyun akan kemari.” Dia mengaku, tatapannya khawatir.
Aku tersenyum miring, melangkah mendekatinya. Saat wajah kami berjarak satu inci saja, aku mengalungkan tanganku di lehernya seraya berbisik di bibirnya. “Aku tidak akan makan siang dengannya kali ini.” Bisikku, tersenyum lebar.
“Aku yakin kau tidak akan melakukan itu.” Dia mengecup bibirku singkat. “Ini hanya…”
Aku mengangkat sebelah alisku, menunggu kelanjutan kalimatnya tapi dia memilih bungkam.
“Aku tidak suka ketika kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Aku memperingatinya tajam.
Dia mengelus pipiku menggunakan punggung tangan kanannya, sementara tangan kirinya meraih wine dariku. Dia menghabiskan isi gelas itu dalam sekali teguk. “Kembalilah ke kamar, aku akan menyusulmu nanti. Jangan keluar sampai aku memberitahumu sebaliknya.”
“Kenapa?”
“Maukah kau melakukan ini untukku?”
Aku tidak punya pilihan lain ketika Kyuhyun sudah memohon padaku, aku langsung meleleh. “Baiklah.”
Aku mengangguk kemudian menciumnya tepat di bibir, melumatnya dalam-dalam kemudian melepasnya. Kyuhyun menyeringai padaku. Dengan itu aku keluar dari ruangannya dengan penasaran yang membuncah.
Saat aku sampai di tangga dan hendak menuju kamar, aku mendengar pintu ruang kerja Kyuhyun ditutup rapat. Rupanya Jaehyun sudah datang. Aku bukan Lee Yunhee jika aku menuruti perkataan Kyuhyun begitu saja, jadi aku berdiri di anak tangga untuk beberapa saat. Tak lama, aku mendengar suara bising dari dalam ruangan Kyuhyun. Teriakan-teriakan yang memekakkan telinga terdengar dari sana, aku mencurigai bahwa mereka sedang meributkan sesuatu. Aku tidak tahu apa, tapi sepertinya serius. Perselisihan itu terus berlangsung selama beberapa menit sampai aku mendengar suara pintu terbanting, terbuka lebar dan memperlihat sosok Jaehyun yang sedang memegangi pipi kanannya, cairan merah marun menempel di bibir bawahnya. Dia menoleh ke arahku dan aku tidak yakin harus melakukan apa jadi aku memberinya sebuah senyuman ramah, tapi Jaehyun tidak menghiraukanku. Dia membuang muka, malah melangkah melewatiku dengan tampang geramnya, kemudian beringsut keluar dari penthouse.
Apakah Kyuhyun baru saja memukul Jaehyun? Apa yang sebenarnya mereka ributkan?
Kyuhyun tidak pernah menyakiti adiknya, sekalipun dia sering mengatakan padaku bahwa dia mengancam akan membunuh adiknya jika dia berani mendekatiku. Apakah ini hanya karena makan siang waktu itu? Kalau iya, aku yang akan membunuh Kyuhyun karena tega menyakiti adiknya sendiri.
Malamnya, saat aku berusaha menanyakan apa yang telah Kyuhyun lakukan pada Jaehyun, dia hanya mendiamkanku. Dia tidak mau mengatakan kenapa dan wajahnya tampak geram dan kesal saat itu, wajah geram yang sama seperti yang Jaehyun perlihatkan tadi siang.
***
“Kyuhyun, apa yang—”
Aku tercekat dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Tangan kiri Kyuhyun naik ke leherku, mencengkeramku kuat. Tangan kanannya mendorongku mundur sehingga punggungku membentur pintu kamar kami dengan dentuman yang cukup keras. Aku tidak tahu ada apa dengan Kyuhyun, tapi dia masuk ke dalam kamar dengan sangat tergesa-gesa setelah dia kembali dari perjalanan bisnisnya. Dia tidak mengatakan apapun, alih-alih meraihku dan memojokkanku ke pintu.
Kyuhyun meraih rokku dan mengangkatnya naik, dia merobek celana dalamku. Dia mengangkat tubuhku dari lantai lalu membungkuskan kedua kakiku di pinggangnya, dia membuka resleting celananya kemudian dalam satu hentakan dia membenamkan miliknya jauh sekali di dalam kewanitaanku. Aku terengah tapi tidak bisa membawa masuk oksigen ke dalam paru-paruku karena tangan Kyuhyun yang mencengkeram kuat leherku, aku menatapnya dalam kengerian. Dia kemudian melepaskan leherku pelan dan mulai bergerak keluar-masuk. Berkali-kali membuat punggungku sakit karena berbenturan dengan kayu, tapi aku menikmainya.
Pria ini jauh selama tujuh hari tanpa mengabariku sehari setelah pertengkarannya dengan Jaehyun, lalu tiba-tiba dia kembali tanpa mengatakan apa-apa dan langsung melakukan blowing sex di pintu kamar kami. Seharusnya aku marah, tapi tidak. Aku terlalu merindukannya sampai semua amarahku luluh lantah, tak berbekas. Semua yang aku butuhkan sekarang adalah kehangatannya berada terpendam jauh di dalam tubuhku, di mana aku sangat menginginkannya.
“Yunhee, lihat aku.”
Otomatis aku membuka mata mendengar perintahnya, aku melihat nafsu dan kerinduan yang begitu besar di dalam mata cokelatnya. Aku merasa tenggelam di dalamnya, dan aku rela.
“Aku… merindukanmu, Kyuhyun.” Aku berusaha membisikkannya.
Kyuhyun tersenyum puas mendengar itu, dia tidak segan-segan mempercepat gerakannya. Bibirnya turun mengklaim mulutku dalam ciuman panas dan rakus yang membuatku pusing, aku meremas rambutnya dan membalas ciumannya dengan sama rakusnya.
“Kita membutuhkan ini, kan?” Dia berkata di antara bibirku.
Aku melenguh, “Ya, Kyuhyun.”
“Kau mencintaiku, kan?”
Aku merasakan Kyuhyun meremas payudaraku dengan sangat kuat, menyentil bagian puncaknya. Aku meringis tapi tetap menjawab. “Ya.”
“Ya, apa?” Tuntutnya, gerakannya di bawah sana semakin tak terkendali.
Aku hampir tak dapat fokus. “Ya, aku sangat, sangat mencintaimu, Cho Kyuhyun.”
Kyuhyun tersenyum lebar, “Dan kau percaya padaku.” Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah deklarasi.
“Ya, aku mempercayaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku.”
Aku melihat ekspresi Kyuhyun berubah seperti orang kesakitan, dia sedang menahan pelepasannya. “Tuhan…” Gerutunya sambil menggertakkan gigi, wajahnya bersembunyi di leherku. “Kau sangat cantik, sangat rela, itu membuatku sakit. Aku sangat mencintaimu, Lee Yunhee.” Racaunya.
Saat aku mencapai pelepasanku, dia melenguh keras dan lama, dia sampai.
***
“Kita harus segera pergi dari sini.” Kyuhyun berkata sambil melemparkan seluruh isi lemari pakaian ke dalam koper besar.
Aku duduk di atas tempat tidur sambil menatap punggungnya, dia sama sekali tidak mau menoleh ke arahku, apalagi menjelaskan apa yang sedang terjadi.
“Aku tidak mau.” Protesku pelan. Sejak tadi aku terus bertanya kenapa kami harus pergi secara mendadak seperti ini, aku tidak suka ketergesaan untuk sebuah perjalanan yang tak aku ketahui akan ke mana. Namun, dia tidak menggubrisku. Baru setelah aku mengatakan tidak, dia langsung menoleh padaku. “Aku tidak akan pergi sampai kau mau menjelaskan kenapa kita harus pergi.”
“Yunhee,”
“Jangan pernah gunakan nada itu padaku! Tak ada gunanya, Kyuhyun!” Aku membentaknya.
“Aku akan memberitahumu sesampainya di sana.” Dia berusaha meraih tanganku tapi aku menepisnya.
“Dan di mana ‘di sana’ yang kau maksudkan?”
“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, Yunhee. Kumohon, mengertilah.”
“Tidak bisa atau tidak mau?”
Aku melihat Kyuhyun mendesah putus asa, dia mengacak rambutnya dalam kegusaran. Aku lebih gusar di sini, jangan salahkan aku jika aku menjadi keras kepala. Aku tidak suka ketika dia menyembunyikan sesuatu dariku.
“Kau bilang kau mencintaiku?” Tanyanya, menatapku dalam-dalam. Aku mengangguk. “Dan kau mempercayaiku?” Aku mengangguk lagi. “Jadi, kenapa kau tidak mau pergi bersamaku?”
Aku mencintainya, ya. Aku mempercayainya, ya. Tapi…
“Apakah semua berjalan baik dengan Jaehyun?” Tanyaku, keluar dari topik karena tiba-tiba saja penasaran dengan keadaannya.
“Harusnya dia lebih baik sekarang.” Kyuhyun berkata sambil menatap langit-langit, pandangannya menerawang entah ke mana. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, seandainya aku tahu apa yang dia pikirkan. Namun, tiba-tiba dia melirik tajam padaku. “Sekarang, cepat kemasi barangmu dan ikutlah denganku.”
Itu adalah perintah, bukan permohonan.
***
Selama tiga hari ini aku mendapatkan telepon dari nomor-nomor asing. Berkali-kali Kyuhyun mengambil alih ponselku dan memutuskan sambungan telepon, dia bahkan memblokir nomor-nomor asing itu.
Saat ini, aku sedang memegang ponselku dan saat telepon asing masuk, Kyuhyun segera meraihnya dan membantingnya ke lantai.
“Apa sih!?” Teriakku marah, mataku melebar dan memelototinya tajam sambil bekacak pinggang. “Apa yang sedang merasukimu, Kyuhyun?”
“Iblis.” Jawabnya singkat.
“Kyuhyun,”
“Yunhee, kita harus pindah.”
“Apa yang kau katakan?”
Aku tahu apa yang dia katakan, aku hanya tidak percaya dia baru saja mengatakan untuk pindah. Lagi. Kami belum seminggu berada di sebuah pondok terpencil di pedesaan kecil yang berada di Nami Island, dan apa katanya? Dia ingin pindah lagi? Gila.
“Kubilang, kita harus pindah.” Dia menekankan setiap katanya.
“Kenapa kau ini, Kyuhyun? Aku sama sekali tidak mengerti dengan cara berpikirmu.” Baik, aku memang selalu tidak mengerti tentangnya. Tapi kali ini sudah keterlaluan. “Selama tiga hari ini kau tidak bisa tenang duduk di kursimu, kau selalu mondar-mandir kesana-kemari tanpa alasan yang jelas. Setiap malam kau tidak pernah tidur lelap, kau selalu berguling kesana-kemari. Apa yang salah dengan otakmu? Kau seperti sedang dikejar setan! Demi Tuhan!”
Itu membuatnya diam, namun dia tampak seperti habis dihantam sesuatu. Aku tidak mengerti.
“Yunhee,” Kyuhyun melangkah mendekatiku, dia mendekapku. Aku membiarkannya, aku tidak menangis melainkan menahan amarahku yang hampir tidak bisa dibendung lagi. “aku takut.” Akunya tiba-tiba.
Aku segera mendongak dan menatapnya heran. “Kau… takut?”
Kyuhyun mengangguk pelan, dia memelukku lagi. “Aku takut kehilanganmu.”
Aku tersenyum geli mendengar itu, sangat gombal. “Aku di sini, aku tidak akan pergi ke mana pun.” Aku berbisik pelan. “Apa yang terjadi, Kyuhyun? Kau menyembunyikan sesuatu dariku.”
“Aku…” Kyuhyun terhenti. “kau percaya padaku, kan?”
Lagi, Kyuhyun menanyakan hal itu berulang kali padahal jelas sekali dia tahu jawabannya. Aku mengangguk, bagaimanapun. “Katakan padaku, Kyuhyun.”
“Kau akan membenciku, kau akan meninggalkanku.” Dia meracau.
Kenapa dia bisa mengatakan hal seperti itu? Mana mungkin aku tega meninggalkannya? Aku membutuhkannya, aku tidak bisa jauh darinya.
Kali ini aku yang mendekapnya, memeluknya erat. “Tidak, Kyuhyun. Aku tidak akan meninggalkanmu, akan akan bertahan untukmu. Katakan apa yang terjadi, aku akan berusaha untuk tidak menghakimimu.”
Mulanya, dia melapas pelukanku kemudian mata berairnya menatapku penuh rasa sesal dan bersalah. Dia tidak sedang meminta maaf padaku melalui matanya, dia sedang meminta maaf pada dirinya sendiri melalui mataku. Saat itu aku benar-benar merasa seperti orang bodoh, apakah dia…
“Aku telah membunuh pamanku.”
***
Aku menunduk, benar-benar menunduk di dalam pesawat. Aku harus mencerna kalimat itu berulang kali di benakku.
Aku telah membunuh pamanku.
Aku telah membunuh pamanku.
Aku telah membunuh pamanku.
Sial. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Tidak saat Kyuhyun, pria yang baru saja membunuh pamannya, duduk di sampingku dan tertidur pulas. Tidak juga saat kami menerima berita bahwa Jaehyun ditangkap polisi karena dituduh sebagai satu-satunya orang yang mempunyai motif kuat membunuh pamannya. Sekarang, kami kembali ke Seoul untuk melihat keadaan Jaehyun.
Tolol mungkin karena akhirnya setelah tiga hari, Kyuhyun mengaku padaku dan sekarang dia bisa tertidur lelap. Maksudku, bagaimana mungkin dia bisa terlelap saat dia mengetahui bahwa adiknya baru saja tertangkap polisi karena ulah gegabahnya?
Kyuhyun bilang, selama seminggu kepergiannya, dia telah merencakan segala cara untuk melakukan pembunuhan itu. Tentunya tanpa meninggalkan sidik jari atau bukti lainnya. Dia berhasil, namun dia tetap ketakutan. Aku yakin seratus persen bahwa Kyuhyun lega, dia ketakutan bukan karena akan masuk penjara atau tertangkap polisi. Dia mengaku bahwa dia takut jika aku akan meninggalkannya karena perbuatannya itu, aku cukup terharu mendengar itu. Dia membawaku ke Nami Island adalah untuk membuatku tetap bersamanya dan agar aku tidak bisa lari darinya, selain membuat alibi tentu saja. Pamannya meninggal tepat saat Kyuhyun dan aku berada di Nami Island, aku tidak tahu bagaimana Kyuhyun melakukan itu dan aku tidak peduli asalahkan Kyuhyun lebih tenang sekarang. Tapi tetap saja pebuatannya sangat salah, aku bahkan masih belum bisa mempercayai hal tersebut terjadi. Dan pria di sampingku ini lah satu-satunya si pelaku sebenarnya.
Aku menoleh ke sampingku. Priaku sedang tertidur pulas, dia tidak tahu betapa leganya aku bisa melihatnya tidur nyenyak seperti ini. Aku memerhatikan bentuk wajah Kyuhyun yang tampak lebih tua dari biasanya, dia kelihatan begitu lelah dan kehabisan tenaga. Rambutnya tak teratur, kantung matanya besar, pipinya sedikit tirus, dan bibirnya kering. Tanganku bergerak untuk mengelus pipinya yang sedikit kasar, lalu turun ke bibirnya. Dia bergerak sedikit sebelum akhirnya membuka mata dengan sangat perlahan, senyuman indah terulas di bibirnya.
“Hai.” Sapanya lembut.
“Hai.” Aku menciumnya singkat. Saat aku mau melepasnya, dia menarik maju leherku dan memperdalam ciuman kami. Oh, kami berada di dalam pesawat! “Kyu—”
“Aku tahu.” Katanya yang kini mencium hidungku, dia tersenyum lagi.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Lebih baik. Terima kasih.” Aku menyeringai. Kyuhyun jarang mengatakan terima kasih, kepada siapapun itu termasuk aku. Aku senang melihatnya membaik. “Apakah kita sudah sampai?” Tanyanya.
“Sebentar lagi.” Kataku. “Kau tidur sangat pulas.”
Dia mengangguk. “Aku akan mengeluarkan Jaehyun dari sana. Kuharap uangku bisa membantu.”
“Uangmu selalu membantu.” Kataku, sedikit mengejek kekakayaannya. “Apakah itu berarti kau tidak akan…”
Dia menggeleng. “Aku tidak akan masuk ke penjara manapun, Lee Yunhee. Meskipun aku harus masuk sana, aku tidak akan pernah keberatan.”
“Kenapa?”
“Karena setidaknya aku masih memilikimu.”
Air mataku jatuh begitu saja dari pelupuk mataku, Kyuhyun menyekanya dengan ibu jarinya. Tangannya yang kasar terasa begitu hangat dipipiku. “Aku tidak akan mampu hidup tanpamu, Kyu.”
“Kukira aku yang lebih membutuhkanmu.”
“Perkataan yang manis.” Ejekku sambil memukul dadanya pelan.
“Aku tidak bohong.”
“Aku tahu.”
“Aku mencintaimu, Lee Yunhee.”
Aku tidak peduli bagaimana dia membunuh pamannya dan kenapa. Aku tidak peduli bagaimana dia akan mengeluarkan Jaehyun dari penjara. Aku tidak peduli dengan iblis di dalam dirinya, aku tidak keberatan menanggung penderitaan bersamanya. Karena aku tidak perlu penjelasan apapun lagi darinya. Cukup kalimat sederhana itu saja yang aku perlukan.
Aku menciumnya penuh, dalam-dalam, dan singkat. “Aku tahu.”
Dan aku juga mencintaimu, Cho Kyuhyun.
***
She loves me and it’s more than enough for me.
-Kyuhyun
***

Fc Populer:

  • amie eunhyuk

    Mengharukan… bagus cerita nya.. tapi kaya buru” gtu.

%d blogger menyukai ini: