Death Americano Part 1/2

0
Death Americano Part 1/2 kyuhyun ff nc
Author              : Sweet.hae
Title                 : Death Americano (Part 1)
Category         : NC21, Yadong, Romance,Angst, Twoshot
Cast                 :
Cho Kyuhyun
Cassandra Choi (OC)
Aiden Lee (Lee Dong hae)
Cover and story line original from sweet.hae . Don’t copy paste without any permission from author
______
Death Americano part 1
Pertama : Aku dan dia tidak akan pernah berakhir.
            Americano, siapa yang tidak suka dengan secangkir Americano? Semua orang menyukainya. Anak-anak suka dengan Americano,terlebih saat mereka meminumnya dengan teman sebaya mereka,saling tertawa lalu meneguk Americano bersama-sama.

Orang tua pun juga menyukainya. Ada kalanya mereka berada dalam situasi rumit dan membuat pikiran mereka kacau. Duduk manis didepan perapian,sambil menjernihkan pikiran dengan secangkir Americano,lalu memikirkan solusi masalah dengan tenang tanpa menimbulkan masalah yang baru lagi.
Anak muda. Oh ayolah,semua anak muda tentu saja menyukai Americano. Bersama dengan orang terkasih,lalu meneguk Americano dengan cangkir yang sama,atau istilah kerennya ‘secangkir berdua’,bukankah itu hal yang sangat romantis?
Hal itulah yang saat ini sedang dilakukan oleh 2 sosok yang sejak tadi pandangan mereka tertuju pada layar tv 50 inch didepan mereka itu. Seorang pria dengan badan kekar yang dilapisi dengan sweater tebal berwarna abu-abu itu melingkarkan tangannya pada pinggang seorang gadis yang saat ini berada dalam pangkuannya itu.
Sang gadis,dengan tangan kecilnya memegang secangkir Americano dan sesekali menyesapnya. Pria dibelakangnya tidak hanya diam. Sadar dengan Americano yang tersisa di daun bibir si gadis,pria itu segera membersihkannya dengan caranya sendiri. Melumat pelan bibir tipis itu,lalu membiarkan lidahnya terulur membelai bibir si gadis sampai Americano yang tadinya menghiasi daun bibir itu kini lenyap tanpa bekas.
“Ughh— hantu yang tadi benar-benar mengerikan. Seharusnya kita tidak menonton film horor seperti ini di hari pertama musim dingin.” ucap si gadis
“Kau menyesal?” tanya si pria yang bernama Aiden itu.
“Tentu saja. Akan lebih baik jika seharusnya kita menonton film genre romantis daripada film horor.”
“Tapi—” Aiden menggantung kalimatnya,hidungnya yang mancung ia gunakan untuk membelai leher jenjang si gadis bernama Cassandra itu. “Itu tidak terlalu menakutkan. Aku tidak menyesal menonton film seperti tadi.”
“Tsk! Yang benar saja! Seingatku kau sangat takut dengan darah,monster,petir dan termasuk film horor seperti tadi.” Cassandra tersenyum meremehkan. Puas dengan kalimatnya,ia kembali meneguk Americano kesukaannya.
“Aku tidak takut dengan hal-hal seperti itu. Ada hal lain yang saat ini lebih aku takutkan daripada petir,darah,hantu dan semacamnya.”
“Apa?”
“Kau.”
“Eh?” Cassandra segera menatap manik hitam prianya. Tertawa singkat lalu menepuk pelan dada bidang milik Aiden, “Kau takut denganku?”
“Aku takut kehilanganmu.” ujar Aiden yang diakhiri dengan senyuman lebarnya.
“Tsk!” lagi-lagi Cassandra menepuk dada Aiden,kali ini sedikit lebih keras daripada yang sebelumnya, “Kau belajar membual dari siapa huh?”
“Yang jelas bukan dari suamimu.”
Cassandra terdiam sejenak mendengar kalimat yang baru saja terucap dari bibir tipis Aiden. Ia mengalihkan pandangannya kembali pada layar tv 50 inch lalu meneguk Americano-nya dengan cepat.
“Aku jelas lebih baik daripada suami mu dalam segala hal.”
Cassandra menganggukkan kepalanya,meneguk Americano –lagi- lalu memberanikan diri untuk menatap Aiden, “Tapi kau mengacaukan suasana tuan Aiden.”
Aiden tertawa lepas. Menatap wajah bareface gadis didepannya itu membuat perutnya geli dan ingin menyemburkan tawanya lebih keras. Ia sangat suka menghancurkan mood gadisnya.
“Maaf— kkk~” Aiden masih dengan tawanya,bahkan hendak berbicara pun sulit. “Sebagai permintaan maaf aku akan membuat secangkir Americano lagi.” ujar Aiden yang sedetik kemudian beranjak menuju meja pantry.
“Hanya itu? Tsk!” Mood Cassandra rupanya tidak akan segera membaik hanya dengan secangkir Americano.
“Bagaimana jika menonton film lagi? Kali ini kau bisa memilih film kesukaanmu.”
“Baiklah.” Cassandra berpikir sejenak. Bibir plumnya menunjukkan senyum lebar ketika sebuah judul film tiba-tiba muncul di benaknya, “Aku ingin Fifty shades of grey!” ujarnya mantap, “Aku ingin disini sampai larut malam. Aku akan menghubungi pria mesum itu agar ia tak mencariku”
<><><> 
Hari kedua musim dingin.
Masih sama seperti pagi yang kemarin. Matahari enggan untuk menunjukkan senyum cerahnya. Berbanding terbalik dengan salju yang berbondong-bondong menjatuhi segala sesuatu yang ada di daratan Seoul ini. Jalanan,pohon sakura,rooftop,semuanya tak terlewatkan oleh titik-titik salju itu.
Hal yang sama juga terjadi pada rumah dengan model western yang berdiri megah di salah satu kawasan elit di kota tak pernah tidur –Seoul-. Atap rumah,jendela,halaman,semuanya diselimuti oleh gumpalan salju. Situasi yang membuat penghuni rumah nyaris membeku jika tungku perapian dan penghangat ruangan tidak segera di komando untuk melaksanakan tugas mereka.
Pria dengan piyama warna putih itu mengerjapkan mata indahnya. Menyingkirkan segala rasa kantuk yang melandanya,lalu mendengus pelan. Saat matanya terbuka sempurna,pandangannya langsung tertuju pada sosok gadis yang masih memejamkan matanya itu.
Cho Kyu Hyun,nama lengkap pria dengan kulit seputih susu itu. Disampingnya, Cassandra Choi. Sosok gadis yang baru satu bulan ia ikat dengan sumpah pernikahannya di altar gereja. Sebuah pernikahan yang sebenarnya tidak pernah terlintas di benak Kyuhyun maupun Cassandra.,namun setelah perdebatan panjang keduanya bisa menerima pernikahan itu dengan lapang dada. Pernikahan itu terjadi setelah insiden meninggalnya Tuan Choi –Ayah Cassandra- dan kemudian perusahaan surat kabar Choice milik keluarga Choi diambil alih oleh perusahaan Cho Corp.
“Sandra—” Kyuhyun mengucapkan nama itu pelan. Tangan kanannya tergerak untuk membelai pipi tirus Cassandra,selanjutnya ia teruskan untuk menjamah wajah gadis itu yang lembut tanpa cacat bak porselen yang harganya selangit. Kyuhyun tersenyum kecil,ia sangat suka dengan wajah innocent milik gadisnya itu saat ia masih tertidur. Entah magnet jenis apa yang Cassandra tanam didalam wajahnya,tapi Kyuhyun merasa ia selalu tertarik ingin mengecupi wajah gadis itu kapanpun dan dimanapun. Seperti saat ini,diatas ranjang king size-nya,Kyuhyun benar-benar terpancing untuk menyerang wajah innocent itu dengan bibir tebalnya.
Sadar dengan perlakuan bibir Kyuhyun terhadap wajahnya,Cassandra segera membuka matanya lebar. Menepuk pelan pipi Kyuhyun lalu menyunggingkan senyum manis andalannya.
“Dasar mesum.” ujarnya singkat lalu segera membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.
Melihat tubuh gadisnya yang tenggelam dibungkus selimut tebal itu,Kyuhyun tidak tinggal diam. Ia segera mengikuti si gadis –masuk kedalam selimut- memberinya kecupan manis di seluruh wajah Cassandra,dan tak lupa memberinya pelukan posesif. Tiga minggu terakhir,entah mengapa Kyuhyun merasakan candu untuk melakukan hal-hal manis seperti ini saat ia membuka matanya. Memeluk-mencium-membelai kulit selembut sutra milik Cassandra,kini menjadi kegiatan favoritnya di pagi hari. Bagaikan ritual wajib yang tidak akan ia lewatkan sebelum memulai rutinitasnya.
<><>
Kedua : Tubuhku milik mu. Tapi tidak dengan hatiku
**
Cassandra POV        
Aku terduduk di meja riasku sesaat setelah mengantarkan Kyuhyun sampai di teras rumah. Pria gila kerja itu benar-benar tidak tahu waktu. Ketika seluruh karyawan perusahaannya mengambil cuti dua hari dalam rangka menyambut musim dingin,pria itu justru bersikeras untuk datang ke perusahaan yang sebelumnya merupakan aset terbesar bagi keluargaku itu,Choice.
Aku menatap pantulan wajahku dari cermin berukuran medium didepanku itu. Meneliti dengan seksama wajahku yang nampaknya menunjukkan perubahan yang sangat kontras dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Bulatan hitam yang mengitari sekeliling mataku,sangat kontras dengan wajah pucatku yang juga memprihatinkan. Sebuah kondisi yang seharusnya menjadi perhatian lebih,tetapi yang bisa ku lakukan hanya memoles wajahku dengan make up tebal,menyembunyikan keadaan yang memprihatinkan ini dihadapan orang-orang disekitarku. Terutama Cho Kyu Hyun.
Musim gugur kemarin,awal bulan November. Merupakan musim gugur terburuk sepanjang sejarah hidupku. Aku seolah mati setelah hari itu.  Saat itu aku benar-benar kehilangan gairah untuk hidup. Padahal bulan-bulan sebelumnya,orang mengatakan bahwa aku adalah sosok yang penuh dengan keceriaan. Tapi predikat itu lenyap entah kemana setelah musim gugur itu datang.
Ayahku,pemilik perusahaan surat kabar Choice. Sosok bertangan dingin dalam mengurus perusahaannya. Aku cukup tahu,betapa diseganinya pria paruh baya itu oleh bawahannya. Pun tangan dinginnya menjadikan dirinya sebagai sosok yang harus dihindari oleh lawan-lawan sesama pebisnis. Sebenarnya ayahku tidak pernah menganggap para pebisnis lain itu sebagai lawannya. Tetapi para pebisnis diluar sana lah yang menganggap ayahku sebagai monter yang harus di taklukan oleh mereka.
Ayahku mempunyai banyak relasi dalam dunia bisnisnya. Bukan hanya relasi sesama pengusaha bidang surat kabar,tetapi juga relasi dari bidang-bidang lain. Seperti perusahaan Apparel,perusahaan pangan,perusahaan otomotif, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyaknya relasi ayahku,ada satu nama yang menurut ayah memiliki prinsip kerja seperti dirinya –Menganggap lawan sebagai kawan- . Ia adalah Mr. Lee,CEO dari perusahaan Lee Apparel.
Mereka berdua adalah duo pebisnis yang saling menjaga hubungan baik. Aku cukup paham dengan rutinitas mereka. Bermain golf bersama saat weekend. Makan malam antara 2 keluarga di setiap tanggal 15. Membicarakan masalah perusahaan lalu saling bertukar pikiran untuk mencari solusi. Sekental itulah persahabatan mereka. Bahkan persahabatan mereka terasa semakin kuat dan kental ketika aku, dan putra semata wayang Mr. Lee yang bernama Aiden itu mulai terikat dalam suatu hubungan selama 2 tahun terakhir.
Sebuah hubungan yang awalnya kami kira akan berjalan dengan mudah. Pasalnya kedua belah pihak keluarga saling mendukung dalam hubungan kami. Bahkan mereka telah menyiapkan tanggal cantik untuk menggelar upacara sakral guna mengikat kami berdua dalam pertalian suami-istri.
Berhenti sampai hari itu,ketika November datang. Sebuah pertemuan 2 keluarga di rumah mewah Mr. Lee. Pertemuan yang seharusnya diakhiri dengan senyuman lebar dari semua orang yang hadir,tapi justru berubah menjadi sebuah dilema ketika mulut ayahku berhenti mengumbar senyum sumringahnya. Aku masih ingat betul ketika busa-busa putih itu keluar dari mulut ayah dengan cepat. Seolah busa-busa itu keluar dan menyeret roh ayahku keluar dari raganya. Sebuah penyiksaan yang kejam bagi psikis ku ketika melihat ayah sekarat didepan mataku sendiri.
Hasil laboratorium menunjukkan racun bernama Aconite itu berhasil merenggut nyawa ayahku.
Sejak saat itulah semuanya berubah.
Kedua keluarga tidak lagi terikat dalam pertalian persahabatan. Pun aku yang ditarik jauh-jauh dari Aiden. Tidak ada lagi golf di hari weekend. Tidak ada pertemuan setiap tanggal 15. Choice nyaris hancur tanpa ayahku. Para investor yang cemas dengan kondisi Choice akhirnya menarik investasi mereka dan mulai menanam investasi di perusahaan lain. Namun disaat-saat genting itu,perusahaan bernama Cho Corp itu mengulurkan tangan mereka pada kami. Mereka membeli Choice yang saat itu nyaris sekarat. Sebagai bonusnya,putra kedua dari Tuan Cho yakni Kyuhyun meminang diriku yang saat itu dalam kondisi depresi. Awalnya aku menolak mentah-mentah. Tapi ibuku, ia terus mendesakku untuk menerima pinangan itu. Ibu menjamin kehidupanku akan lebih baik jika aku menjadi istri dari pria bernama Kyuhyun itu.
Sekali lagi,semuanya berubah setelah hari itu.
Namun satu hal yang sampai sekarang tidak berubah.
Sampai detik ini,hatiku sepenuhnya milik Aiden. Begitu pula sebaliknya.
“Aku tidak tahu perlakuan macam apa yang Kyuhyun berikan padamu. Tapi kenapa kau selalu menangis saat aku berkunjung ke rumahmu?”
Aku tersadar dari lamunanku ketika suara lembut dari wanita paruh baya yang sedang berdiri di ambang pintu itu memecah keheningan. Refleks jari-jariku segera menyeka cairan kristal yang entah sejak kapan sudah menganak sungai di kedua pipi tirusku ini. Setelah merasa cukup,aku segera memberanikan diri menatap manik kecoklatan beliau. Melemparkan senyum lebar kepada wanita yang kupanggil ibu itu, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Apa Kyuhyun menyakitimu?” ibu melangkahkan kakinya masuk lebih dalam. Selanjutnya ia mendaratkan pantatnya diatas ranjang king size di belakang posisiku itu.
“Perlakuan Kyuhyun padaku sangatlah baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,ibu.” ujarku lembut. Aku mengatur posisi agar bisa menatap manik beliau secara langsung.
“Lalu kenapa kau menangis? Apa kau masih berpikiran untuk bisa kembali kepada keluarga yang menghabisi nyawa ayahmu itu?”
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan ibu. Lebih memilih diam daripada harus melontarkan kalimat bohong seperti , ‘Tidak. Aku sudah melupakan keluarga itu’ atau mungkin seperti ini, ‘Sama sekali tidak. Aku justru bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar Cho’ . Diam lebih baik.
“Kau diam, itu artinya kau mengiyakan pertanyaanku.” ibu mencelos setelah mendapati tatapan mataku yang kosong. Sebagai wanita penyandang gelar Sarjana Psikologi, menjadikan ibuku mudah membaca pikiran orang lain,terlebih lagi membaca pikiran putri kesayangannya.
“Aku menyesal telah mengenal keluarga brengsek itu selama 7 tahun. Sungguh. Tapi, bagaimana denganmu Sandra? Kenapa kau masih menganggap keluarga itu bagian dari kita? Apa kau gila?”
Lagi-lagi aku terdiam dengan perkataan ibu. Aku tidak tahu harus melontarkan kalimat seperti apa untuk mengakhiri perdebatan kecil antara ibu dan anak ini.
“Kau sepertinya tidak suka dengan topik pembicaraan kita?” pertanyaan ibu yang lebih condong seperti pernyataan itu langsung ku balas dengan anggukan kepala.
“Maafkan aku ibu.”
“Sudahlah,lupakan. Ngomong-ngomong,bagaimana hubungan antara kau dan Kyuhyun? Apakah kalian sudah mempersiapkan kabar bahagia untuk kami?”
“Kabar bahagia? Apa maksud ibu?”
<><><> 
Seusai menuang sup ayam favorit Aiden ke dalam mangkuk,aku segera melepas celemek warna merah yang sejak tadi melingkar di pinggulku. Dengan langkah tergesa aku segera menuju ke arah pintu. Mendapati sosok Aiden yang berbalut jaket kulit serta wajah kusutnya masuk kedalam apartemen dengan langkah gontai.
“Tsk!” aku buru-buru menghampirinya. Melepas jaket tebalnya lalu menuntun tubuh kekar itu menuju sofa yang berada di ruang tengah.
“Aku hampir saja mendapatkan kembali para investor sialan itu. Tapi usahaku lagi-lagi gagal.” Aku terdiam sejenak. Bahkan tanpa ditanya kalimat itu selalu keluar dari bibir Aiden saat ia kembali ke apartemen setelah usaha panjangnya menggaet para investor.
Akibat insiden malam itu,kini nasib perusahaan milik Tuan Lee  -Lee Apparel-  tidaklah lebih baik daripada Choice. Para Investor yang awalnya bekerja sama dengan Mr. Lee kini mereka menarik investasinya dan enggan bekerja sama lagi dengan perusahaan Lee Apparel. Keadaan finance yang memburuk serta jatuhnya nama baik Lee Apparel membuat Mr. Lee jatuh sakit dan dengan berat hati menyerahkan tugasnya sebagai CEO Lee Apparel kepada priaku,Aiden.
“Tenanglah. Kau akan mendapatkan mereka di lain waktu.” Ujarku,alih-alih untuk menghibur suasana hati Aiden. Namun pria itu tak menggubris kalimatku. Ia kembali mendesah kesal berulang kali. Memijat pelipisnya dan sesekali beralih memijat kepalanya. Aku pun berinisiatif menggunakan kedua tanganku untuk memijat kedua bahu kekarnya.
“Aku bisa gila jika mereka terus menghindar seperti ini.”
Aku mengulum senyum,lalu menarik bahunya hingga dia terbaring dan kepalanya sukses mendarat di kedua pahaku. Ia kembali mendesah. Mengawang kedepan dan mungkin sambil memikirkan suatu cara agar bisa memikat kembali para investor itu.
“Mari kita lihat, apa yang kau tawarkan kepada para investor itu.” Tanganku segera beralih pada tas hitam Aiden,membukanya dengan hati-hati lalu segera merogoh map berwarna biru cerah yang nampaknya menyimpan banyak desain-desain pakaian musim dingin rancangan para desainer andalan Lee Apparel. “Mereka sama sekali tidak tertarik dengan ini?” tanyaku pelan dan ia menjawab dengan gelengan kepala. Lagi-lagi ia kembali mendesah kesal.
“Mereka bilang,perusahaan Apparel lainnya sudah merancang sesuatu yang lebih bagus daripada rancangan desainer ku.” ada nada pasrah dari kalimat yang baru saja aku dengar. Aku menggigit bibir bawahku,berusaha memutar otak berusaha mencari solusi untuk priaku ini.
“Bagaimana jika kau mendesain lingerie khusus musim dingin? Perusahaan apparel lainnya pasti belum pernah menciptakan itu.” ujarku yang sedetik kemudian berhasil membuat mata indahnya membulat sempurna.
“Tinggal satu atap dengan suami mu yang mesum itu,sekarang kau terkontaminasi dengan sifat mesumnya. Tsk!” ucapnya sarkastis. Aku memajukan bibirku beberapa senti. Oh ayolah,ide yang barusan aku lontarkan tidaklah terlalu buruk.
“Mungkin saja para investor itu membutuhkan lingerie khusus musim dingin untuk istri-istri mereka.” ucapku asal.
“Hey—”
“Hum?”
“Berbicara tentang lingerie. Aku hampir lupa,kapan terakhir kali kau memakai lingerie? Tiba-tiba aku rindu dengan tubuhmu yang berbalut lingerie.”
“Hey— lihat ini, bahkan sekarang kau juga tertular virus mesum!” aku terkekeh,mencubit pipinya dengan gemas sampai dia mengerang kesakitan.
“Ayolah Sandra— aku ingin melihatmu dengan lingerie warna merah hadiah dariku itu— ayolah—” jika bukan priaku,mungkin aku sudah menendang bokongnya sampai dia terpental jauh-jauh. Tsk!
“Mr. Aiden, kau tega sekali menyuruh wanitamu memakai lingerie sedangkan diluar sana salju sedang turun dengan lebat. Ish!”
Ia kembali merengek,menunjukkan puppy eyes andalannya. Sial, dia selalu berhasil merayuku. “Aku akan menyalakan penghangat ruangan. Ayo!”
“Baiklah tuan mesum,aku akan memakai lingerie sesuai keinginanmu. Tapi sebelum itu kau harus menghabiskan sup ayam favoritmu terlebih dahulu!”
<><><>
Aku menggigit bibir bawahku. Membolak-balik halaman dari majalah fashion yang aku dapat dari apartemen Aiden. Berisiknya guyuran air yang berasal dari dalam toilet itu semakin membuat pikiranku kacau. Aku mencoba memijat pelipis mataku,berusaha bersikap tetap tenang seolah tidak terjadi masalah apapun.
Tapi sial.
Pikiranku semakin semrawut ketika gemericik air dari dalam toilet itu berhenti. Berganti dengan suara senandung kecil dari seorang pria yang baru saja membalut tubuhnya dengan bathrobe itu. Pintu toilet terbuka lebar,mengeluarkan sosok pria dengan tubuh tegap yang berbalut bathrobe warna putih. Ia menggerakkan kepalanya cepat,lalu mengusap-usap helaian rambutnya dengan handuk kecil motif polkadot.
Ia berjalan ke arahku. Oh ralat. Lebih tepatnya ia berjalan menuju meja nakas yang berada disampingku. Tangan kanannya meraih cangkir putih yang berisi Americano hangat itu lalu menyesapnya pelan.
“Kau sudah mimikirkannya?” dengan segala keberanian,aku mendongak. Menatap manik bulat yang masih terpaku pada cairan hitam rasa manis itu.
“Tentu.” Ia kembali menyesap Americano. Meniupnya pelan lalu kembali menyesap lagi.
“Tolong aku Kyuhyun—”
“Berapa imbalannya?”
“Haruskah aku memberimu imbalan?”
“Tentu saja.”
Aku mendesah pelan. Mengalihkan pandangan pada karpet merah yang menjadi alas lantai dari kamar berukuran medium ini. “Aku tidak memiliki banyak uang. Tetapi aku bisa melakukan apapun yang kau inginkan.” ujarku pasrah.
“Benarkah?”
“Kau bisa memegang kata-kataku.”
To Be Continued
Next part >>>
“Jauhi Aiden maka akan aku pastikan perusahaannya selalu berada di titik aman.” Kyuhyun membelai wajah istrinya,melepas ikatannya lalu mengecupi kedua manik mata Cassandra.
__
            Kyuhyun mengerutkan keningnya,menatap manik wanitanya lalu merogoh saku celemek Cassandra. “Jangan menjadi pribadi yang sombong—”
__
“Bedebah yang tidak tahu sopan santun!”
“Aku bisa memaklumi itu. Insting membunuh dari seorang bedebah sepertimu memang kadang sulit dikendalikan.”
“Apa maksudmu?”
__________________________________________________
%d blogger menyukai ini: