Damn Love Song Part 3 End

0
Damn Love Song Part 3 End ff nc super junior
Damn Love Songs [3]
Author : FK
Tittle : Damn Love Songs [3]
Category : NC17, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun Super Junior
Lee Shinhyun (OC)
Other Cast : Lee Donghae Super Junior
Lee Sungmin Super Junior
Kim Taeyeon SNSD
Aku sangat minta maaf tetapi aku mencintaimu
Aku dulu tidak tahu, sekarang aku tahu
Aku membutuhkanmu
Aku sangat minta maaf tetapi aku mencintaimu, kata yang melukai
Akupun tidak tahu, saat marah aku mencoba kembali padamu

Shinhyun menatap meja kosong yang terletak di pojok kanan depan dengan sedih. Seharusnya sekarang Cho Kyuhyun duduk disana, mengerjakan soal ujian bersama-sama. Tapi nyatanya meja itu tak terisi. Pria itu sudah dikeluarkan dari sekolah dan itu semua karena dirinya. Semua ini salahnya.
Gadis itu menunduk, manatap soal yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Bagaimana dia bisa mengerjakan soal-soal ini jika pikirannya terus melayang pada Cho Kyuhyun? Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian itu, dan selama itu pula Shinhyun belum berani menjenguk Kyuhyun di penjara.
Bodoh. Ia tahu dirinya memang bodoh dan tidak tahu malu. Kyuhyun rela dipenjara demi menyelamatkannya tapi dengan tak tahu dirinya ia belum berani menampakkan sosoknya dihadapan pria itu. Berulang kali Taeyeon menyuruhnya datang kesana untuk melihat keadaan Kyuhyun tapi sebanyak itu pula Shinhyun mengatakan belum siap.
Ia malu… Ia dihantui rasa bersalah yang begitu besar. Entah mengapa ia merasa begitu bodoh telah membenci Kyuhyun selama ini. Ia memang tidak mengerti apa yang ada di kepala Kyuhyun, tapi melihat Kyuhyun rela dituduh bersalah demi dirinya, membuat segala rasa benci dalam hatinya lenyap begitu saja. Ia ingin minta maaf.
Shinhyun-lah yang seharusnya mendekam di penjara, bukan Cho Kyuhyun.
“Sudah selesai mengerjakan?”
Shinhyun terkesiap ketika melihat guru pengawas berdiri di sampingnya dan bertanya padanya. Ia buru-buru menegakkan posisi duduknya dan menyunggingkan senyum pada pengawas itu. “Aku akan menyelesaikannya.” Shinhyun menghela nafas panjang dan menatap soal-soal di hadapannya. Ia harus focus. Ia harus lulus dan memberikan hasil yang terbaik pada orang tuanya di Mokpo sana.
***
“Akh, soal tadi membuat kepalaku mau pecah,” Donghae menggerutu sambil mengacak rambutnya. Taeyeon yang melihat kekasihnya begitu frustasi hanya mampu mengeluarkan tawa.
“Sudah kubilang belajar. Salah sendiri kau malah bermain dengan adikku semalam,” komentar gadis itu.
“Mungkin Donghae sedang berlatih menjadi calon kakak ipar yang baik,” Sungmin menambahkan. Pria itu meminum orange juice nya kemudian menyendokkan sesendok spaghetti ke mulutnya. Saat ini mereka bertiga bersama Shinhyun sedang makan siang di sebuah restoran setelah berkutat dengan soal ujian di hari terakhir. Hanya tinggal berdoa dan menunggu hasil mereka selama ini.
“Semalam Baekhyun mengajakku bertanding video game terbarunya. Mana mungkin aku tega menolak bocah kecil itu?”
Sungmin mendengus. “Bilang saja kalau kau memang membenci matematika.”
Taeyeon tertawa. Memang benar apa yang Donghae katakan. Selamam mereka berniat belajar bersama tapi adiknya malah mengajak Donghae bermain game. Tapi Sungmin juga benar. Donghae selalu menunjukkan tanda tidak beres pada perutnya setiap berhadapan dengan soal matematika. “Sudahlah. Aku yakin kita bisa lulus dengan hasil yang bagus,” kata Taeyeon. Gadis itu hendak memasukkan makanan kemulutnya ketika melihat Shinhyun hanya diam sambil mengaduk-aduk makanannya dengan lemas.
“Hyun-ah, kau tidak apa-apa?”
Shinhyun sedikit terkejut mendengar ucapan Taeyeon. Ia menatap sahabatnya itu sekilas kemudian memakan jajangmyunnya dengan tidak selera. “Aku tidak apa-apa.”
“Bohong. Apa yang kau pikirkan? Apa kau juga pusing karena soal ujian tadi?”
Shinhyun menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya tidak nafsu makan,” jawabnya berbohong. Tidak mungkin kan ia berkata sedang memikirkan Kyuhyun? Sedang apa pria itu di penjara sana? Apa dia tidur dengan nyenyak? Apa makanan disana enak dan cocok dengan perutnya?
“Aku tidak menyangka kau mempunyai selera makan yang sama dengan Kyuhyun,” gumam Sungmin, membuat Shinhyun yang ada disampingnya tersendak. Gadis itu terbatuk-batuk sampai Taeyeon harus menyodorkan minumannya pada Shinhyun.
Kenapa Sungmin harus menyebut nama itu, sih?
“Apa katamu tadi?” tanya Taeyeon, merasa kurang begitu mendengar apa yang Sungmin ucapkan.
“Kyuhyun selalu memesan jajangmyun setiap kali kami kesini. Dan bukankah ini ketiga kalinya kita berempat kesini? Dan ketiga kali itu juga Shinhyun selalu memesan jajangmyun. Bukankah itu artinya mereka punya selera yang sama?” ucap Sungmin menjelaskan.
“Benar juga. Aku baru sadar,” komentar Donghae. “Ngomong-ngomong Kyuhyun, aku jadi merindukan bocah keras kepala itu.”
Aku juga. Aku ingin menemui ‘musuhku’ itu tapi aku takut…
“Bagaimana kalau setelah ini kita menjenguk Kyuhyun di kantor polisi?” usul Taeyeon dan Shinhyun kembali tersendak mendengar usul sahabatnya itu.
Astaga, ada apa sih dengan tenggorokannya?
“Ide bagus. Aku juga sudah dua minggu tidak kesana,” jawab Sungmin yang diikuti anggukan kepala oleh Donghae. “Kau mau ikut atau tidak?”
Shinhyun menoleh ketika sadar Sungmin bertanya pada dirinya. Ikut atau tidak? Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya itu pertanyaan mudah, tapi entah kenapa sulit bagi Shinhyun untuk menjawabnya.
“Kau masih belum berani bertemu Kyuhyun?” tanya Taeyeon. “Apa yang membuatmu takut?”
“Aku… aku tidak tahu harus menyembunyikan rasa malu dan bersalahku dimana jika aku bertemu dengan Kyuhyun,” Oh Tuhan, kenapa dengan menyebut nama pria itu saja sudah membuat hatinya seolah diguncang?
“Kupikir kau tidak perlu malu. Bukankah seharusnya kau malu jika tidak pernah menemuinya sama sekali dan menghilang begitu saja setelah dia menolongmu sampai seperti itu?” kata Sungmin. “Atau kau masih malu karena Kyuhyun memperkosamu dulu?”
Shinhyun terpaku. Memang benar apa yang Sungmin katakan. Ia merasa bersalah karena melibatkan Kyuhyun dalam masalah ini. Dan ia memang malu karena kejadian ‘itu’. Oh astaga, mereka tidak mengerti betapa malunya ia karena malam itu Shinhyun begitu menikmati apa yang Kyuhyun lakukan padanya.
Melihat Shinhyun terdiam Sungmin jadi berpikir mungkin memang benar apa yang dikatakannya bahwa rasa malu gadis ini begitu besar akibat kejadian itu. “Seharusnya Kyuhyun yang malu padamu karena dialah yang memperkosamu. Seharusnya dia yang malu dengan perbuatannya itu.”
“Ya…” Shinhyun menunduk. Ia meminum cokelat panasnya. “Tapi tetap saja…”
“Lalu mau sampai kapan kau seperti ini? Kyuhyun pasti senang kau datang melihatnya.” kata Taeyeon. “Sejujurnya aku tidak mengerti Kyuhyun itu maunya bagaimana. Bukankah Kyuhyun membenci Shinhyun setengah mati sampai memperkosanya seperti itu? Tapi jika memang Kyuhyun membenci Shinhyun, kenapa dia rela dipenjara demi Shinhyun?”
Kedua laki-laki itu kompak mengangkat bahunya. “Jangankan kau. Aku dan Sungmin yang sudah berteman lama dengannya saja juga tidak tahu.”
Tiba-tiba Taeyeon menyadari sesuatu. Ia menatap ketiga orang itu dengan mata berbinar seolah dirinya baru saja menemukan penemuan langka yang telah lama dicari manusia. “Apa Kyuhyun sebenarnya menyukai Shinhyun?”
Shinhyun kembali tersendak. Ia menatap Taeyeon dengan mata membelalak. “Apa yang kau katakan? Jangan bercanda!”
Bukannya menggubris perkataan Shinhyun, Taeyeon malah menatap kedua laki-laki itu dengan penasaran. “Apa Kyuhyun pernah mengatakan sesuatu pada kalian?”
“Tidak. Selama ini Kyuhyun tidak pernah bercerita tentang wanita. Tapi seingatku dia selalu menyeringai tidak jelas jika membicarakan Shinhyun. Kupikir itu untuk mendeskripsikan kebenciannya,” kata Sungmin.
Taeyeon mendengus. “Pria aneh.”
Shinhyun kembali menenggelamkan diri pada dunianya sedangkan mereka bertiga kembali berdebat. Ia menatap jajangmyun yang telah mendingin dihadapannya dengan pandangan kosong. Cho Kyuhyun menyukainya? Tidak mungkin.
Tapi tiba-tiba ada sebuah pertanyaan melintasi pikirannya.
‘Aku akan ke apartemenmu sekarang.’
Apa maksud Kyuhyun sebenarnya datang ke apartemennya waktu itu? Apa dia memang tahu Hyunhwa akan datang? Atau ada maksud lain?
***
Shinhyun meremas rok sekolahnya dengan gugup. Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya mereka bertiga berhasil membawa Shinhyun ke kentor polisi. Dan disinilah mereka sekarang. Duduk di ruangan yang disediakan untuk menjenguk para tahanan, menunggu Kyuhyun yang sedang dipanggil polisi.
“Jangan gugup,” Taeyeon menggenggam tangan Shinhyun yang terlihat gelisah, menenangkannya. Gadis mungil itu bisa merasakan tangan Shinhyun yang berkeringat.
Shinhyun tersenyum pada Taeyeon. “Aku tidak apa-apa,” ucapnya.
Beberapa saat kemudian seorang polisi datang bersama dengan pria berseragam tahanan dibelakangnya. Pria itu berjalan dengan menyeret kakinya, terlihat malas berjalan.
“Kyuhyun,” suara Donghae membuat Shinhyun semakin bergetar. Tanpa sadar ia balas meremas tangan Taeyeon dengan erat melihat sosok yang terlihat pucat itu.
“Kyuhyun…”
***
Kyuhyun terbangun dari tidurnya ketika mendengar sel tahanannya terbuka. Pria itu membalikkan tubuhnya menghadap tembok hendak melanjutkan kembali tidurnya ketika mendengar polisi itu berbicara.
“Bangun! Ada yang ingin menemuimu.”
Kyuhyun mengerang pelan. Siapa sih yang mengganggu tidur siangnya? Ia duduk dan merenggangkan otot tubuhnya yang terasa begitu pegal. Satu bulan tidur di lantai yang hanya terlapisi karpet tipis membuat tubuhnya terasa menua sepuluh tahun lebih cepat. Ia berdiri, membiarkan polisi menggiringnya keluar.
“Kyuhyun…”
Suara itu?
Kyuhyun mengangkat wajahnya dan tertegun melihat seorang gadis duduk disamping teman-temannya. Rasa kantuk yang menyelimutinya lenyap begitu saja melihat sosok itu. Sudah berapa lama ia tidak melihat gadis ini? Rasa rindu yang selama ini ia pendam dalam mendadak keluar dan betapa ia harus menahan dirinya untuk tidak menarik Shinhyun dan memeluknya erat.
Shinhyun sendiri juga sama terkejutnya melihat Kyuhyun. Hatinya mencelos. Pria itu terlihat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Kyuhyun terlihat begitu pucat dan tubuhnya semakin kurus.
“Sh- Shinhyun—“ pria itu bergumam. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Shinhyun kemari? Menjenguknya? Astaga, apa masih ada hal yang lebih indah dari ini?
Shinhyun menoleh pada Taeyeon yang dibalas dengan senyum oleh gadis itu. Shinhyun tanpa sadar berdiri, dan entah mendapat keberanian dari mana ia melangkah mendekati Kyuhyun yang masih terdiam di tempatnya.
Kyuhyun dan Shinhyun berdiri berhadapan. Mata mereka beradu pandang seperti biasa. Hanya saja tidak ada sorot kebencian di keempat bola mata itu. Tidak ada sorot kebencian yang biasanya mereka pancarkan untuk mengibarkan bendera perang. Mereka bertatapan dalam diam, seolah mengerti satu sama lain hanya dengan menatap matanya.
“Ba- bagaimana keadaanmu?” Shinhyun bergumam setelah sekian lama terdiam.
“A- aku?” Kyuhyun merasakan sesuatu yang aneh menjalari hatinya. Sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Sangat baik. Lebih baik dari yang kau lihat.”
Shinhyun tersenyum tipis, membuat kupu-kupu yang terbang di perut Kyuhyun bertambah banyak. “Maafkan ak—“
“Kau baik-baik saja kan?” Kyuhyun memotong ucapan Shinhyun. Gadis itu mengangguk pelan.
Oh Tuhan, bagaimana caranya menunjukkan betapa besar rasa terima kasihnya untuk laki-laki ini?
“Kyuhyun, aku—“
“Kau memakai seragam sekolah,” Kyuhyun kembali memotong perkataan Shinhyun. Ia memperhatikan pakaian Shinhyun. “Apa kau sudah kembali kesekolah lagi?”
Shinhyun mengangguk. “Kyuhyun, aku—“
“Apa kau—“
“Kyuhyun kumohon dengarkan aku dulu,” kata Shinhyun. Ia harus cepat mengatakannya. Ia tidak ingin mendengar kalimat-kalimat menyenangkan Kyuhyun yang akan membuatnya lebih sakit lagi.
“Aku mendengarkanmu.”
Shinhyun menunduk, menarik nafas panjang. Setelah merasa yakin ia kembali mendongak dan menatap manik mata tajam Kyuhyun yang kini terlihat meneduhkan. “Maafkan aku. Aku benar-benar kalut saat itu jadi aku tidak sadar ini malah berakibat fatal untukmu. Jika saat itu aku sadar kau menyuruhku pergi sama artinya kau menyerahkan dirimu sendiri pada polisi, maka aku memilih untuk tidak pergi. Maafkan aku, Kyuhyun. Seharusnya aku yang saat ini mendekam di penjara. Bukan kau…”
Kyuhyun terenyuh mendengar penuturan Shinhyun. Hatinya menghangat. Jika memang dirinya harus dipenjara dulu untuk mendengarkan kalimat itu dari Shinhyun maka ia tidak akan merasa menyesal sama sekali mendekam dipenjara. Rasanya kalimat Shinhyun mengobati seluruh luka yang menempel pada tubuhnya, menyembuhkannya hanya dalam sekali hembusan nafas.
“Kau tahu, aku malah bisa tidur nyenyak selama aku dipenjara,” gumam Kyuhyun. “Jadi kau tidak perlu minta maaf.”
Shinhyun menatap Kyuhyun tak percaya. Astaga, kenapa jawaban Kyuhyun justru seperti itu? Ia kira Kyuhyun akan memakinya seperti biasa atau apapun untuk melampiaskan amarahnya, tapi pria itu malah tersenyum padanya.
“Aku sudah mendengarkanmu jadi sekarang giliran aku yang berbicara.”
Suara Kyuhyun membuyarkan lamunan Shinhyun. Gadis itu mengangguk. “Baiklah.”
“Aku ingin memelukmu.”
Shinhyun tertegun. Apa?
“Boleh?” ulang Kyuhyun. “Sekali saja.”
Dan detik itu tiba-tiba sebulir krystal jatuh dari mata Shinhyun. Kenapa? Kenapa perlakuan Kyuhyun membuatnya merasa bersalah karena telah membenci pria itu selama ini? Gadis itu menyeka air matanya ketika tiba-tiba sepasang tangan merengkuh tubuhnya dan yang ia rasakan berikutnya adalah suara detakan teratur yang menenangkan telinganya. Jantung Kyuhyun.
“Aku menyuruhmu memelukku, bukan menangis bodoh.”
Suara berat Kyuhyun membuat air mata Shinhyun mengalir lebih deras. Ingin sekali rasanya ia mengatakan pada polisi bahwa dirinyalah yang bersalah agar Kyuhyun bisa keluar dari tempat ini. Ia pun ikut melingkarkan tangannya diperut Kyuhyun, membuat laki-laki itu tersenyum bahagia dan mengeratkan pelukannya.
“Kau tahu, aku sangat bahagia mengetahui kau mau kembali ke sekolah. Bukankah hari ini ujian? Kau bisa mengerjakan?”
Shinhyun mengangguk di pelukan Kyuhyun. Menghirup aroma tubuhnya yang menyenangkan. “Soalnya cukup mudah. Dan aku tidak akan merelakan jawabanku salah meski beberapa nomor agar kau bisa mengungguli nilaiku.”
Kyuhyun tersenyum lebar mendengar kalimat gadis ini. Lee Shinhyun-nya telah kembali. “Sayangnya aku sudah tidak bisa mengikuti ujian. Jadi kau tidak mempunyai saingan lagi.”
“Dan aku sedih karena sainganku hilang,” gumam Shinhyun jujur. Kyuhyun menegang mendengar ucapan gadis itu. Apa ini artinya Shinhyun sedih dirinya menghilang? Apa Shinhyun juga merindukannya seperti ia merindukan gadis ini?
“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Shinhyun. Ia mendongak agar bisa menatap wajah Kyuhyun namun pelukan mereka sama sekali tidak melonggar. “Apa yang se—“
“Cho Kyuhyun waktu anda telah habis. Silakan kembali ke sel,” ucap tegas seorang polisi.
Shinhyun dengan enggan melepaskan pelukan Kyuhyun karena polisi itu menarik tangan Kyuhyun paksa. “Tapi pak, lima menit lagi. Kumohon…”
“Maaf, nona, tapi peraturan tetap peraturan.”
Kyuhyun pasrah saja ketika polisi itu menariknya. Tapi ketika hampir sampai pintu pria itu kembali menoleh, “Hey, aku akan mentraktir kalian nanti saat aku keluar karena sudah membawa gadis itu kesini,” serunya pada teman-temannya yang belum sempat ia sapa tadi. Sedangkan Donghae dan Sungmin molongo menatap pintu dimana Kyuhyun baru saja keluar.
Cho Kyuhyun tersenyum! Astaga, tiga tahun mereka bersahabat baru kali ini kedua orang itu melihat Kyuhyun tersenyum tulus.
“Pemikiranku ternyata benar,” kata Taeyeon tiba-tiba, membuat Donghae dan Sungmin menoleh padanya. “Ternyata Kyuhyun menyukai— tidak, ternyata Kyuhyun mencintai Shinhyun.”
Aku mempersembahkan seluruh lagu yang kunyanyikan untukmu
Orang-orang tidak tahu
Aku sendiri, bahkan siapapun tidak ada yang tahu
Benar, aku mengatakan kebohongan
I’m sorry, but I love you
***
Satu minggu berlalu sejak Lee Shinhyun menjenguknya di penjara dan selama itu pula senyum Kyuhyun belum menghilang. Ia bahagia. Bahagia Shinhyun masih mau datang melihatnya. Bukankah itu artinya nama Kyuhyun masih tercatat di otak Shinhyun?
“Apa kau sudah mulai gila?”
Kyuhyun mendongak dan menemukan Soyu, seorang polwan yang bertugas disini mengantarkan sebungkus makanan untuknya.
“Ya, kupikir begitu.”
Soyu melirik sudut ruangan itu dan menemukan dua bungkus makanan yang tergeletak begitu saja. Pasti makanan Kyuhyun semalam dan tadi pagi. “Kau tidak makan  lagi?”
Kyuhyun berbaring di lantai dengan kedua tangan ia jadikan sandaran. Matanya menatap langit-langit ruangan itu, membayangkan Shinhyun sedang tersenyum disana. “Aku tidak suka sayur. Kalau kau ingin aku makan setidaknya berikan aku makanan yang lebih enak sedikit.”
Gadis itu mendengus mendengar ucapan Kyuhyun. Soyu bisa dibilang cukup dekat dengan Kyuhyun sejak awal pria itu dipenjara. Ia baru melihat sekali ini ada orang yang ‘mau’ dipenjara. Selama ini calon tahanan pasti akan mengelak tuduhan-tuduhannya saat diinterogasi. Tapi pria ini justru menyuruh polisi untuk tidak banyak tanya dan segera menjebloskannya ke dalam penjara. Dan baru sekali ini Soyu merasa kasihan pada seorang tahanan. Dan baru kali ini pula seorang polisi dekat dengan tahanannya.
“Memangnya kau pikir ini hotel? Bisa meminta makanan sesuka hatimu.”
Kyuhyun mengangkat bahu. “Kau tidak pulang?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Soyu melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam. “Sebentar lagi. Aku hanya ingin memastikan kau belum mati disini,” jawabnya membuat Kyuhyun tertawa.
“Memang boleh mati disini?”
“Coba saja kalau kau ingin arwahmu menangis melihat jasadmu dibuang di sungai belakang penjara ini.”
Tawa Kyuhyun makin keras mendengar jawaban ketus Soyu. Gadis ini tajam sekali kalau bicara. “Apa menjadi polisi menuntutmu untuk berbicara setajam itu?”
Soyu duduk disamping Kyuhyun yang masih berbaring. Mood pria ini bertambah baik saja sejak satu minggu yang lalu. “Tidak. Kupikir itu sudah bawaan dari lahir.”
Makhluk unik, batin Kyuhyun. Ia baru tahu ada seorang gadis sebangsa dengannya; suka mengeluarkan kata-kata tajam. Dan Kyuhyun pikir ucapan Soyu lebih keren dari yang sering ia katakan.
“Kau tahu, tidurku terasa lebih nyenyak seminggu terakhir ini,” gumam Kyuhyun sambil memejamkan mata. Perlu dicatat, ini adalah pertama kalinya ia membagi perasaannya pada orang lain.
“Apa kau sedang curhat padaku?”
Kyuhyun tersenyum sinis. Pria itu bangun dan duduk bersandar di dinding samping Soyu. “Bisa kupastikan sampai sekarang kau tidak memiliki pacar,” celutuknya membuat Soyu melebarkan mata padanya. Apa maksudnya? Apa Kyuhyun sedang berusaha meledeknya? Sial!
“Jangan sok tahu, Cho Kyuhyun.”
Mendengar jawaban Soyu membuat Kyuhyun semakin yakin bahwa gadis ini memang tidak memiliki kekasih. “Sudah berapa lama kau sendiri? Ah, jangan katakan kalau kau memang tidak pernah pacaran.”
“Sekali lagi bicara akan kutembak kepalamu, Cho Kyuhyun,”
“Makanya jangan ketus begitu kalau bicara dengan pri— aduh!” ucapan Kyuhyun terpotong ketika mendapat pukulan dikepalanya. Pria itu mengelus kepalanya sambil mendengus. “Dasar gadis jelmaan setan.”
Soyu berdiri tanpa memperdulikan gerutuan Kyuhyun. Gadis itu merapikan pakaian polisinya sejenak dan bergumam, “Makan kalau tidak mau mati. Aku harus pulang.”
***
“Saudara Cho Kyuhyun, anda resmi bebas hari ini.”
Kyuhyun melongo mendengar perkataan formal Soyu yang membuka sel penjaranya. Benarkah? Tapi bukankah dirinya baru dua bulan berada disini?
“Aku… bebas?”
Soyu mengangguk. “Kau sudah ditebus. Sekarang keluar dari situ dan temui keluargamu sana.”
Kyuhyun keluar dan mendapati seorang wanita paruh baya sedang duduk menunggunya. Wanita itu langsung berdiri, menghampiri Kyuhyun dan menampar pipi putra semata wayangnya itu dengan keras. Soyu yang berdiri de belakang Kyuhyun pun sampai ikut terlonjak.
“Beginikah kelakuanmu saat eomma tidak ada? Membunuh orang? Astaga, Cho Kyuhyun, eomma tidak pernah mendidikmu membunuh. Kenapa kau mempermalukan keluargamu, ha?” wanita itu terlihat begitu frustasi. Yang benar saja. Dirinya baru pulang dari Jerman untuk urusan bisnis dan menemukan anaknya sudah mendekam di penjara selama dua bulan. Mau diletakkan dimana wajahnya?
Kyuhyun terdiam menatap wajah ibunya. Pikirannya kosong dan saat ini ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Kyuhyun tahu ia sudah mempermalukan keluarganya. Ingin sekali pria itu meminta maaf, tapi ego yang selama bertahun-tahun ia pelihara melarangnya. Hingga akhirnya ia memilih untuk bergumam singkat. “Aku senang eomma pulang,” dan setelah itu Kyuhyun melenggang meninggalkan kantor polisi. Sebesar apapun ia ingin membalas ucapan ibunya bahwa ibunya sama sekali tidak pernah mendidiknya, ia tetap tidak bisa. Sekurang ajar apapun dirinya, ia tidak akan sekalipun mengeluarkan kalimat tajam untuk ibunya.
Lebih baik ia menghindar saja.
Cho Kyuhyun sudah berdiri di depan gedung megah yang sangat ia kenal satu jam setelahnya. Sudah berapa lama ia tidak kemari? Oh, dua bulan tentu saja. Sejak dirinya resmi masuk penjara dan dikeluarkan ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di sekolah ini.
Kyuhyun menatap spanduk besar yang terpampang di depan gerbang. Bibirnya terukir sebuah senyum tipis membaca tulisan pada spanduk itu. Sekolahnya lulus 100%. Syukurlah, berarti teman-temannya juga lulus. Meskipun hati kecilnya seperti teriris mengetahui dirinya tidak bisa ikut merayakan kebahagiaan bersama teman-temannya.
Kyuhyun melihat banyak terparkir mobil dan sepeda motor yang memenuhi halaman sekolahnya. Tentu saja, hari ini adalah hari perpisahan. Apakah ini artinya teman-temannya ada di dalam? Apakah… Lee Shinhyun juga ada di sana? Setelah menghela nafas panjang pria itu melangkahkan kakinya menuju aula. Semoga ia bisa memberi ucapan selamat pada teman-temannya.
Langkah kaki Kyuhyun terhenti tepat di depan pintu aula yang terbuka lebar. Ia bisa melihat keramaian yang ada di dalam. Ah, pasti menyenangkan sekali jika dirinya bisa ikut masuk kedalam mereka yang saat ini sedang berbahagia. Kyuhyun mengedarkan pandangannya hendak mencari Donghae dan Sungmin ketika sebuah pemandangan membuatnya terpaku. Seorang gadis menaiki panggung aula dan diberi penghargaan atas keberhasilannya meraih nilai paling tinggi.
Itu Lee Shinhyun… batin Kyuhyun dalam hati.
Gadis itu tersenyum disana dan Kyuhyun merasakan sesutu yang menyenangkan menyerbu hatinya. Melihat gadis itu tersenyum bahagia membuatnya entah mengapa ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Pria itu tersenyum geli. Kenapa sekarang ia malah merasa seperti seorang ayah yang bangga melihat anaknya meraih nilai tertinggi? Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Oh tentu saja ia bahagia. Siapa yang tidak akan bahagia melihat orang yang dicintai terlihat hebat?
***
Shinhyun merasa begitu senang hari ini. Mengetahui hasil jerih payahnya selama ini ternyata berbuah manis membuat senyum itu tak pernah lepas dari bibir mungilnya. Betapa bahagianya ia melihat orang tuanya yang jauh-jauh datang dari Mokpo melihatnya mendapat nilai yang terbaik. Tak salah mereka menyekolahkan putrinya ke Seoul jika hasilnya seperti ini.
Gadis itu terus menggumamkan kata terima kasih pada mereka yang memberinya ucapan selamat, meskipun separuh hatinya masih merasa ada yang kurang dengan semua ini…
Shinhyun memilih berkeliling sekolah setelah acara selesai. Sedikit mengenang tiga tahun masa-masanya disini sepertinya tidak terlalu buruk. Shinhyun berjalan ke kelas yang dulu ditempatinya waktu kelas satu. Banyak sekali kenangan manis disini. Di kelas ini Shinhyun mendapat sahabat yang begitu baik padanya. Kim Taeyeon. Dan jika diingat lagi, di kelas ini juga dirinya dulu bertemu dengan Cho Kyuhyun untuk pertama kali.
Saat itu Shinhyun terlambat memasuki kelasnya di hari pertama, membuatnya tidak kebagian tempat duduk. Satu-satunya tempat duduk yang tersisa adalah samping Kyuhyun. Mereka semua murid baru kala itu. Dan yang dia pikirkan pertama saat melihat Kyuhyun duduk sendiri adalah laki-laki itu terlalu angkuh. Bisa dilihat dari wajahnya yang memang selalu memasang tampang dingin dan menyeramkan. Karena memang tidak ada pilihan lain, Shinhyun akhirnya memilih untuk duduk di samping pria itu. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan dia mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai?
Sebisa mungkin Shinhyun bersikap baik pada Kyuhyun tapi nyatanya perkiraannya waktu itu memang benar. Pria ini memang menyebalkan sekali. Bisa dihitung dari banyaknya Kyuhyun menjahilinya, seperti berbicara kasar, menguncinya di toilet, memasukkan banyak kecoa ke dalam tas Shinhyun maupun menempelkan bekas permen karet pada bangku Shinhyun. Dasar pria sinting!
Shinhyun terkikik sendiri mengingat semua kenangan itu. Jika sifat Kyuhyun tidak seperti itu, mungkin saja Shinhyun sudah jatuh cinta padanya. Bagaimana tidak? Bahkan seringainya saja terlihat begitu mempesona, meskipun Shinhyun lebih memilih untuk terjun ke jurang dari pada mengakui hal itu.
Ngomong-ngomong Kyuhyun, bagaimana kabar pria itu ya? Shinhyun ingin sekali menjenguknya lagi di penjara. Rasanya rindu sekali. Dan gadis itu langsung menggelengkan kepalanya sendiri menepis apa yang baru saja dipirkannya. Rindu? Yang benar saja.
Shinhyun kembali melangkahkan kakinya menuju kelas dimana ia menghabiskan satu tahun berada ditingkat kedua Senior High School itu. Disana Shinhyun mulai mengenal Jo Hyunhwa yang menjadi teman satu kelasnya. Sikap Hyunhwa sangat baik dan begitu manis padanya, membuat hatinya tersentuh. Padahal Shinhyun sudah menekankan pada hatinya bahwa ia tidak akan pacaran sebelum lulus SMA. Tapi Hyunhwa meruntuhkan janjinya pada dirinya sendiri. Ia mencintai laki-laki itu, tanpa tahu maksud asli Hyunhwa mendekatinya hanyalah untuk sebuah taruhan.
Perih itu kembali terasa di hati Shinhyun. Mengingat pria yang dicintainya menganggap dirinya hanya sebagai barang murahan membuat dirinya sakit. Teramat sakit sampai ia takut untuk jatuh cinta lagi.
Shinhyun bermaksud untuk kembali melangkahkan kakinya menuju tempat lain ketika ia mendengar sebuah permainan piano dari ruang music. Siapa yang bermain disaat acara perpisahan seperti ini? Apakah ada kelas tambahan untuk adik tingkatnya? Sepertinya tidak karena sekolah memang diliburkan.
Gadis itu dengan penasaran melangkahkan kakinya ke ruang music. Dan betapa terkejutnya ia melihat seorang pria sedang menyapukan jemarinya diatas tuts-tuts piano menghasilkan nada yang begitu indah. Cho Kyuhyun. Gadis itu tertegun dan mulutnya tanpa sadar menganga. Apakah ini hanya halusinasi? Atau memang pria itu ada disana? Tapi bagaimana bisa? Bukankah seharusnya saat ini Kyuhyun masih ada di penjara?
Shinhyun masih berdiri di ambang pintu ketika lantunan music itu berhenti. Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan sama terkejutnya melihat Shinhyun berdiri disana. Sejak kapan gadis itu berada disana? Atau, sejak kapan gadis itu menyadari keberadaannya di sekolah ini? Seharusnya Shinhyun sedang ikut acara perpisahan itu, bukannya disini.
“Hai,” pria itu mengeluarkan suaranya lebih dulu setelah beberapa saat terdiam. Shinhyun mengerjap kemudian menundukkan badannya pada Kyuhyun. Hey, sejak kapan gadis itu bersikap formal padanya? Seperti tidak saling kenal saja.
“Kenapa kau ada disini?”
Shinhyun mendongak dan mendapati Kyuhyun yang entah sejak kapan berdiri dihadapannya. Pria ini nyata. Ternyata ini memang bukan sekedar halusinasi. Kyuhyun nyata berada di depannya. “A- aku sedang berkeliling,” jawab gadis itu. “Ka-kau sudah bebas?”
Kyuhyun mengangguk. “Ya, hari ini aku bebas. Selamat atas kelulusanmu,” gumam pria itu pelan. Begitu pelan bahkan nyaris berbisik, namun sayangnya Shinhyun masih bisa mendengar. Dan gadis itu bisa menangkap ketulusan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu dari ucapan itu.
“Aku senang sekali kau sudah bebas.”
***
Taeyeon menggerutu sambil terus mengedarkan pandangannya kesana kemari. Lee Shinhyun kemana sih? Hilang di tengah acara begitu saja. Mereka kan belum mengambil foto bersama. Apa gadis itu juga tidak tahu kalau orang tuanya sibuk mencari?
Gadis itu hampir mengumpat untuk yang ke empat belas kalinya ketika melihat pemandangan yang mengejutkan di dalam ruang music. Itu Shinhyun, kan? Dan pria yang sedang ada dihadapan Shinhyun itu… Kyuhyun kan? Cho Kyuhyun yang masih di penjara –seharusnya-.
Taeyeon buru-buru menghubungi Donghae dan pria itu langsung berada di belakang Taeyeon tiga menit kemudian, sama-sama mengintip Shinhyun dan Kyuhyun dari balik pintu.
“Bagaimana Kyuhyun bisa ada disini?” bisik Taeyeon.
“Aku juga tidak tahu. Apa mungkin Kyuhyun kabur, ya?”
“Mana mungkin bisa kabur. Penjagaan di kantor polisi pasti ketat se— oh astaga! Mereka berpelukan!” Taeyeon tidak menyelesaikan kalimatnya ketika melihat dua orang yang dari tadi mereka perhatikan tiba-tiba menghambur kepelukan masing-masing.
***
Meskipun aku masih tidak dapat melupakanmu
Tidak, hingga kematian bahkan seumur hidup
“Bagaimana kau bisa bebas?”
Kyuhyun mengangkat bahunya malas. “Itu tidak penting.”
“Jangan bilang kau kabur?”
“Tidak. Aku tidak kabur. Ada orang yang menebusku jadi aku bisa keluar,” Kyuhyun memutar otaknya mencari topic lain yang enak untuk dibahas. “Kau mendapat nilai terbaik? Selamat.”
Senyum Shinhyun terbit begitu indah dibibirnya. Kenapa rasanya diberi ucapan selamat dari Kyuhyun lebih membahagiakan dari ucapan manapun yang ia dapat tadi? “Terima kasih.”
Mereka terdiam setelah itu. Shinhyun sibuk menetralkan debaran jantungnya yang terus bekerja tak terkendali sedangkan Kyuhyun sibuk menatap wajah cantik Shinhyun yang tak pernah membuatnya bosan. Bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.
Betapa ia sangat mencintai gadis ini dan betapa bodohnya ia yang tak bisa menunjukkan perasaannya dengan cara yang sebenarnya.
“Shinhyun…”
Gadis itu mendongak, menatap tepat ke manik mata Kyuhyun yang terlihat begitu meneduhkan. Dan entah kenapa Shinhyun merasa hatinya menghangat mendapat tatapan itu.
“Aku ingin memelukmu, boleh?”
Shinhyun terenyuh mendengar permintaan Kyuhyun yang terdengar begitu tulus. Astaga, bagaimana ia bisa menolak jika Kyuhyun meminta dengan tatapan seperti itu? Dengan tidak memperdulikan masa lalu mereka, siapa Kyuhyun ataupun apa yang telah Kyuhyun lakukan pada kehormatannya akhirnya gadis itu mengangguk. Dan detik itu ia mulai mengakui apa yang tadi ia tolak sendiri, bahwa ia merindukan pria ini.
Keduanya berpelukan dengan begitu erat setelah itu. Bahagia bisa merasakan detak jantung pasangannya yang berdetak dengan begitu cepat. Membuat Kyuhyun maupun Shinhyun berpikir satu hal yang sama; dia sama gugupnya denganku.
“Aku senang sekali bisa melihatmu lagi,” bisik Kyuhyun. pelukan Shinhyun membuatnya melupakan segala kesulitan yang telah dilaluinya dalam sekejap mata. Begitu berpengaruhnya Shinhyun untuk Kyuhyun. Dan Kyuhyun bersumpah akan memberikan apapun asalkan gadis ini tetap bersamanya.
Kyuhyun sedikit melonggarkan pelukannya. Tangannya ia gunakan untuk menangkup wajah Shinhyun dan detik berikutnya bibir mereka bertemu. Tidak ada penolakan sama sekali dari Shinhyun. Yang ada gadis itu malah memejamkan matanya dan ikut memegang rahang Kyuhyun yang begitu kokoh.
“Astaga!”
Baik Kyuhyun maupun Shinhyun langsung melepaskan tautan bibir mereka ketika mendengar teriakan wanita yang sangat Shinhyun kenal. Mereka menoleh ke arah pintu dan menemukan kedua orang tua Shinhyun beserta Taeyeon dan Donghae sedang menatap mereka dengan mulut ternganga.
Oh Tuhan, jangan katakan kalau dari tadi mereka mengintip!
“Apa yang baru saja kalian lakukan?” tanya ayah Shinhyun. Wajahnya merah padam, jelas sekali bahwa pria paruh baya itu sedang menahan emosi dan menuntut penjelasan atas apa yang dilakukan putri kesayangannya bersama pria asing yang belum pernah ia lihat.
“A- appa… aku… ta- tadi itu…”
Ucapan Shinhyun terpotong ketika tiba-tiba Kyuhyun menggenggam tangannya, menariknya mendekati orang tua Shinhyun dan kemudian laki-laki itu menunduk hormat pada mereka. “Annyeong, saya Cho Kyuhyun, kekasih Shinhyun.”
END –
Author gak yakin FF ini bermutu atau enggak. Gak dapet feelnya ya? Maaf  banget, author bikinnya juga buru-buru ini jadi maklum lah jika tulisannya emang rada kurang memuaskan. #bow mampir ke blog author yuk di fumiiken.wordpress.com . makasih buat yang udah mau sempetin baca FF gaje ini. Jika ada kritik atau sarah dipersilakan, itung-itung buat meningkatkan kualitas imajinasi author bersama sang suami tercinta *peluk Kyuhyun* 

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: