Damn Love Song Part 2

0
Damn Love Song Part 2 ff nc kyuhyun donghae
Damn Love Songs [2]
Author : FK
Tittle : Damn Love Songs [2]
Category : NC21, Yadong, Romance, Kekerasan, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun Super Junior
Lee Shinhyun (OC)
Jo Hyunhwa
Other Cast : Lee Donghae Super Junior
Kim Taeyeon SNSD
Backsong : Bigbang – Lies
Tanpamu, tidak terlihat senyuman didiriku
Bahkan airmata tidak mengalir
Aku tidak ingin hidup lagi
Shinhyun membaca lagi surat yang tadi pagi Taeyeon antarkan. Surat panggilan dari sekolah karena satu bulan ia telah membolos tanpa izin. Tidak, sebenarnya Shinhyun tidak membolos. Ia hanya ingin bersembunyi. Ia hanya… ingin menghindar dari dunia. Setelah semua kejadian yang menimpa dirinya, Shinhyun merasa seperti orang asing.

Orang asing yang sudah tidak punya kehormatan lagi…
Shinhyun malu. Malu pada semua orang, malu pada dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia bisa sampai tidak sadarkan diri dan jatuh pada kurungan Cho Kyuhyun. apa yang sebenarnya terjadi? Apa Kyuhyun ikut bertaruh dengan Hyunhwa untuk mendapatkan tubuhnya? Atau Kyuhyun membelinya dengan harga yang lebih mahal karena setahunya Hyunhwa tidak menyetubuhinya malam itu. Atau ia yang masih pingsan saat disetubuhi Hyunhwa?
Oh Tuhan, rasanya Shinhyun sudah tidak sanggup hidup dengan menanggung malu seperti ini.
“Jangan seperti ini, Shinhyun-ah. Jika yang kau takutkan adalah hamil, bukankah kau bilang minggu lalu kau baru saja datang bulan? Lalu kenapa kau tidak mau kembali ke sekolah?”
Perkataan Taeyeon tadi kembali menggema di kepalanya. Bukan itu masalahnya. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa awalnya ia memang takut hamil, tapi ternyata Tuhan mendengarkan doanya dan hal buruk itu tidak terjadi.
Tapi tetap saja. Ia belum siap menatap dunia luar lagi. Ia belum berani…
Apalagi di sekolah juga ada makhluk bernama Cho Kyuhyun…
“Ayolah Shinhyun-ah. Sebentar lagi kita ujian. Kau tenang saja, tidak akan ada yang berani mengolok-olokmu. Ada aku disini. Memangnya kau tidak mau lulus?”
Tidak semudah itu… Shinhyun menggeram dalam hati. Ia ingin sekali cepat lulus dan meninggalkan SMA itu. Tapi ia takut. Di kelas dia pasti akan bertemu Cho Kyuhyun. Jo Hyunhwa juga. Bagaimana caranya ia menunjukkan sosok ‘tidak suci’nya lagi dihadapan mereka?
Terutama Cho Kyuhyun. Astaga, meskipun Shinhyun menyesal atas apa yang terjadi padanya, tapi ia juga tidak bisa menampik kenyataan bahwa tubuhnya menikmati apa yang pria itu lakukan padanya.
Astaga, Lee Shinhyun, berhenti berpikir yang tidak-tidak!
Gadis itu menggelengkan kepala dan melempar surat yang dipegangnya ke atas meja samping ranjang. Shinhyun mengambil apel dan sebuah pisau kemudian kembali duduk di pinggir ranjang. Sepertinya makan buah favoritnya bisa sedikit mendinginkan kepala. Ketika ia membuka mulut hendak memasukkan sebuah potongan apel ke dalam mulut tiba-tiba ponselnya berdering dan Shinhyun melihat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Aku akan ke apartemenmu sekarang.”
Shinhyun mengerutkan kening. Nomor siapa ini? Gadis itu melihat nomor yang tertera disana sebelum ia tersadar satu hal.
Ini nomor Cho Kyuhyun…
Shinhyun mengetahui itu karena 3 digit angka pada nomor pria itu sama seperti nomor ponselnya. 407. Angka favoritnya.
Ada apa pria itu datang ke apartemennya? Satu bulan berlalu sejak malam itu dan Shinhyun sama sekali tidak pernah melihat wajah Cho Kyuhyun lagi. Tidak, ia tidak boleh membiarkan pria brengsek itu memasuki apartemennya jika ia tidak mau hal buruk terjadi. Tidak, tidak akan pernah.
Shinhyun buru-buru memastikan pintunya terkunci ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan kasar. Gadis itu terkesiap dan memundurkan tubuhnya menaiki ranjang dengan takut. Apakah itu Cho Kyuhyun? Tuhan, selamatkan dirinya…
Seluruh tubuh gadis itu bergetar dan ia sibuk berdoa agar Tuhan bersedia menjaga pertahanan pintu itu dari Kyuhyun. Namun sepertinya doanya tak terkabulkan saat ia mendengar suara pintu didobrak. Mata Shinhyun membelalak dan tubuhnya semakin gemetar.
Bagaimana ini? Harus sembunyi dimana ia?
“Ternyata kau disini.”
Jo Hyunhwa?
“Hy- hyunhwa? A- ada ap-?”
“Sudah berhenti memanggilku ‘oppa’?” pria itu berjalan mendekati Shinhyun dengan seringai menyeramkan di wajahnya. Dan detik itu entah mengapa Shinhyun merasa pria ini lebih menyeramkan dari Cho Kyuhyun.
“A- apa yang kau—“
“Jangan pura-pura jadi gadis polos!” pria itu menarik tangan Shinhyun yang semakin terpojok pada ujung ranjang. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan dengan si brengsek Cho Kyuhyun itu, ha?”
Apa dia bilang tadi? Tunggu, bukankah mereka sekongkol?
Hyunhwa menarik tangan Shinhyun kasar hingga gadis itu terhempas di atas ranjang dengan tubuhnya menindih gadis itu. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, Jo Hyunhwa!” Shinhyun berusaha berontak saat pria itu mengincar bibirnya. Kepalanya bergerak kesana kemari menghindari ciuman Hyunhwa dan tangannya berusaha mendorong tubuh pria itu dari atasnya.
“Apa kau tidak tahu berapa uang yang harus ku bayar pada mereka karena gagal mendapatkan keperawananmu, ha?” bentak Hyunhwa dan tanpa segan menampar pipi Shinhyun begitu keras, membuat pergerakan Shinhyun berhenti akibat rasa sakit yang teramat sangat di wajahnya.
Dan juga hatinya…
Oh Tuhan, kenapa sekarang Shinhyun merasa dirinya tak lebih baik dari seorang pelacur…
Hyunhwa tersenyum puas melihat Shinhyun berhenti memberontak. Gadis itu menangis, tapi ia tak perduli. “Kau harus membayar kerugianku sekarang!”
Pria itu menarik dagu Shinhyun dan mencium bibirnya dengan kasar. Tangannya pun langsung merobek baju Shinhyun, mencengkeram payudaranya yang masih tertutup bra dengan kasar membuat gadis itu merintih. Menangis.
Shinhyun sendiri masih berusaha memberontak dengan tenaganya yang benar-benar habis dan disisa harga diri yang tinggal secuil yang kembali dilecehkan itu. Sakit. Bibirnya berdarah dan payudaranya nyeri dipermainkan secara kasar oleh ‘mantan kekasih’nya ini. Dan hatinya lebih sakit lagi.
Tuhan, tolong aku…
Perhatian Shinhyun tiba-tiba teralih pada pisau yang berada di pinggir ranjang. Tanpa pikir panjang ia berusaha meraih pisau yang cukup jauh itu. Tangannya berusaha terulur sejauh mungkin, sejauh yang ia bisa tapi nyatanya ia tidak sampai. Bagaimana ini?
“Akhh—“ Shinhyun merintih ketika dadanya di lumat dengak kasar oleh Hyunhwa. Ia menggigit bibir, sebisa mungkin tidak mengeluarkan desahan. Dan dengan sisa kesadaran akalnya, Shinhyun menggeliatkan tubuhnya agar bisa bergeser kesamping dan tangannya mampu meraih pisau itu. Beberapa saat berlalu ketika Shinhyun berhasil meraih pisau itu dan tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan aneh berputar di kepalanya.
Haruskah ia menancapkan pisau ini pada Hyunhwa? Haruskah ia membunuh mantan kekasihnya sendiri? Bagaimanapun ia pernah mencintai pria ini dengan sepenuh hatinya.
Tidak, pria brengsek ini harus dibunuh! Separuh hatinya yang lain berbicara, meneriakkan sisa harga dirinya yang masih layak diperjuangkan. Dan ketika Hyunhwa membuka rets celananya, gadis itu tersadar. Sekarang bukan saatnya untuk ragu.
Shinhyun memejamkan matanya. Dan detik kemudian ia menancapkan pisau itu tepat di punggung Jo Hyunhwa.
“Aaarrgghhhh!!!” pria itu berteriak kesakitan, dan Shinhyun bisa melihat darah segar mengucur disana. Gadis itu syok melihat Hyunhwa ambruk menimpa tubuhnya. Tangannya terlepas begitu saja dari pisau yang masih menancap di punggung pria itu.
“Jo… Jo Hyun…”
“Ka- kau mau aarrghh membunuhku?” lelaki itu berdesis tajam. Hyunhwa mencoba menahan tubuhnya dengan sebelah tangan dan tangannya yang satu lagi berada di leher Shinhyun, mencekik gadis itu. “Ka- kau harus i- ikut matiih—“
“Akkhhh… lepaasshhh…” Shinhyun merasakan nafasnya menipis. Ia berusaha melepaskan cengkeraman Hyunhwa di lehernya tapi tak menghasilkan apa-apa. Namun Shinhyun teringat pisau itu. Ya, dia harus menggunakannya lagi. Tidak ada pilihan lain.
Dengan tangan bergetar Shinhyun meraih pisau yang masih tertancap di punggung Hyunhwa, mencabutnya dan menancapkannya lagi hingga membuat pria itu kembali berteriak kesakitan.
Kali ini Shinhyun mencabut pisaunya. Ia mendorong tubuh Hyunhwa dari atasnya sampai pria itu jatuh di sampingnya. Shinhyun menutup mulutnya kaget, melihat sendiri begitu banyak darah yang mengotori sprei putihnya membuat tubuhnya bergetar.
Bagaimana ia bisa melalukan hal sekeji ini pada Jo Hyunhwa?
“Sh- shin… hyuunn… akhh… jangan la- lari kauuh— aku ha- harus mendapatkanmuuh—“
Gadis itu menggeleng. Tidak. Ia tidak mau jatuh di dalam kurungan pria ini. Tidak, diperkosa itu menyakitkan dan Shinhyun tidak ingin mengalami hal itu lagi.
“Kalian harus memberikan masing-masing 1 juta won itu padaku. Sebentar lagi aku pasti akan mendapatkan keperawananya. Hahaha—“
Shinhyun menggelengkan kepalanya frustasi. “Tidaakkk!” dan dengan sisa akalnya yang masih mau bekerja, tangan gadis itu bergerak.
Jlep—
Detik itu juga pisau yang ada di tangan Shinhyun menancap di dada Hyunhwa. Tepat di jantungnya. Pria itu menggeram begitu keras sampai akhirnya jatuh tak sadarkan diri di ranjang itu.
“Tidak—“ Shinhyun menggeleng frustasi. Ia melihat telapak tangannya yang penuh dengan darah dan memekik. “Aku tidak mungkin membunuhnya… Dia tidak mati… tidaaakk!!!”
Shinhyun beringsut turun dari ranjang, berjongkok di pojok kamar sambil menatap lantai dengan kalut. “Aku tidak membunuhnya… Aku tidak membunuhnya…”
“Lee Shinhyun?!”
Gadis itu mendengar suara lain yang menembus telinganya. Ia mendongak dan menemukan Cho Kyuhyun berdiri di ambang pintu kamar, melihat kondisi kamarnya dengan terkejut. Mulut pria itu sampai menganga begitu terkejutnya.
“Shinhyun, apa yang terjadi?” Kyuhyun ikut berjongkok di hadapan Shinhyun, melihat kondisi gadis itu yang begitu mengenaskan. Baju gadis itu robek dan menggantung di lengannya. Branya terlepas, memperlihatkan payudaranya yang menggantung tanpa penyangga. Gadis itu masih menggunakan celana panjang lengkap, tetapi resletingnya terbuka.
“Aku tidak membunuhnya… aku tidak membunuhnya…”
Kyuhyun memejamkan matanya, hatinya teriris melihat kondisi gadis ini. Pasti Jo Hyunhwa penyebabnya. Pasti pria brengsek itu ingin memperkosa Shinhyun. Oh Tuhan, bodohnya ia datang terlambat…
“Kau tidak bersalah, Shinhyun. Kau tidak bersalah…” Kyuhyun melepaskan sisa robekan baju Shinhyun ditubuh gadis itu, kemudian melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Shinhyun. “Kau tidak bersalah. Tenanglah—“
Setelah memberikan sebuah pelukan Kyuhyun berdiri dan mengecek keadaan Hyunhwa. Tubuh pria itu terlihat lebih mengenaskan dengan wajah putih pucat dan pisau yang masih menancap di dadanya. Darah bercucuran dimana-mana.
Kyuhyun panic. Sebelum ia berlari menuju kamar apartemen Shinhyun, ia melihat beberapa orang apartemen ini ribut-ribut di bawah sana. Dan Kyuhyun mendengar satu kata yang mereka katakan. Polisi.
Apakah ada orang yang mengetahui Hyunhwa menyelundup kesini? Apa Shinhyun tadi berteriak lalu ada yang mendengarnya? Astaga, melihat kondisi apartemen Shinhyun begini, ia yakin gadis itu pasti akan terkena masalah besar.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kyuhyun harus bertindak sebelum polisi datang.
Lelaki itu mendekati Shinhyun, memaksanya berdiri dan memegang bahunya mencoba menguatkan. “Dengar aku, Shinhyun. Kau harus cepat pergi dari sini,” ucapnya kemudian buru-buru mengeluarkan dompet dan kunci mobil dari kantongnya. “Pergi dari sini sekarang juga. Jika kau tidak tahu harus kemana, pergi ke apartemenku dan istirahatlah disana. Alamatnya ada di dompet itu. Mengerti?”
Shinhyun yang masih kalut kurang bisa mendengar perkataan Kyuhyun dengan jelas. Tangannya yang bergetar dipaksa menerima dua benda itu. “Kyu…”
“Oh Tuhan…” Kyuhyun segera menarik gadis itu dalam pelukannya. Hatinya begitu sakit melihat Shinhyun seperti ini. Mendengarnya menangis membuat jantung Kyuhyun terasa seperti disayat. Begitu perih. Begitu menyakitkan.
Tapi ia sadar bukan sekarang saatnya ia melepaskan rindu setelah satu bulan tidak bertemu. Lee Shinhyun harus selamat.
Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Shinhyun yang penuh air mata dan mengecup keningnya beberapa saat. Kemudian dengan berat hati ia membalikkan tubuh Shinhyun. “Pergi.”
Gadis itu menoleh, tak menggerakkan kakinya sedikitpun menuruti perintah Kyuhyun. Ia dilanda perasaan tak menentu. Kenapa disaat seperti ini pria inilah yang datang menolongnya? Dan, untuk apa pria ini menolongnya? Bukankah pria ini membencinya? “Kyuhyun…”
“Cepat pergi sekarang juga atau polisi akan menemukan kita disini!” seru Kyuhyun. Ia mendorong gadis itu hingga keluar kamar dan menutup pintunya. Kyuhyun menghela nafas berat sambil menyandarkan punggungnya di pintu kamar. Sejenak ia mendengar langkah kaki berlari dan ia yakin gadis itu pasti sudah pergi.
Sekarang saatnya ia harus menyelesaikan masalah.
Cho Kyuhyun mencabut pisau dari dada Hyunhwa, menggenggam pegangannya dengan begitu erat sambil memejamkan mata. Berdoa.
Tuhan, semoga sidik jariku yang bisa dijadikan bukti tersangka oleh polisi nanti…
Ia juga menempelkan tangannya pada beberapa bagian tubuh Hyunhwa, kemudian mengambil darah pria itu dan ditempelkannya pada tubuhnya sendiri. Semoga ini akan membuahkan hasil. Semoga Shinhyun tidak akan kenapa-napa…
Pintu terdobrak secara tiba-tiba dan memunculkan beberapa pria berseragam polisi. Kyuhyun menoleh dan otomatis mengangkat kedua tangannya keatas. Polisi itu menghampirinya, memborgol kedua tangannya kebelakang. Polisi yang lain memeriksa mayat Hyunhwa dan keadaan sekitar kamar itu.
Kyuhyun menunduk ketika polisi menggiringnya keluar apartemen. Ia sempat melirik ke tempat dimana mobilnya di parkir tadi dan menemukan mobil itu sudah tidak ada disana. Pria itu tersenyum tipis. Senyum tulus pertama yang ia keluarkan setelah sekian lama senyum itu tak pernah Kyuhyun perlihatkan.
Syukurlah kau selamat…
***
Shinhyun turun dari mobil dengan buru-buru. Wajahnya masih penuh air mata dan tangannya masih berlumuran darah. Sejujurnya gadis itu tidak tahu harus kemana sekarang. Kejadian tadi masih berputar jelas di kepalanya, membuatnya frustasi. Dan satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya saat ini adalah Taeyeon, sahabatnya.
Tok tok tok!
Shinhyun mengetuk pintu rumah Taeyeon dengan tidak sabar. Ia menatap sekeliling dengan takut. Takut polisi mengejarnya. Takut semua orang tahu bahwa dia adalah pembunuh.
Tidak, aku bukan pembunuh! Jeritnya dalam hati.
“Shinhyun-ah- astaga! Apa yang terjadi denganmu?” Taeyeon memekik ketika menemukan Shinhyun berdiri di depan rumahnya dalam keadaan kacau. Baru beberapa jam yang lalu ia pulang dari apartemen Shinhyun dan sekarang gadis ini sudah berdiri di depannya dengan keadaan kacau. Ralat, sangat kacau.
“Taeyeon…” Shinhyun berkata lirih. Taeyeon sendiri masih syok melihat kondisi Shinhyun. Ia segera menuntun Shinhyun masuk ke dalam rumah yang sebelumnya telah lebih dulu terisi oleh Donghae, kekasih Taeyeon. Sahabat Kyuhyun.
Melihat Lee Donghae duduk di ruang tamu rumah Taeyeon membuat Shinhyun terperanjat. Ia langsung teringat Cho Kyuhyun dan tanpa sadar ia memundurkan langkahnya, takut.
Bagaimana nasib Kyuhyun sekarang? Kenapa ia malah meninggalkan pria itu sendiri? Bagaimana keadaan Kyuhyun? Bagaimana Cho Kyuhyun sekarang?
“Shinhyun, kenapa?” Taeyeon bingung karena Shinhyun melihat Donghae seperti melihat hantu.
“Kyu… Kyuhyunn…” Shinhyun bergumam tidak jelas, terus mundur sampai hampir menabrak pintu jika Taeyeon tidak menahan tubuhnya.
Donghae sendiri juga ikut kaget melihat Shinhyun. Ia berdiri dan melangkah mendekati Shinhyun. Kenapa gadis itu menangis? Kenapa tangannya penuh darah?
Dan kenapa dia memakai jaket milik Kyuhyun?
“Shinhyun, tenanglah. Ayo duduk dulu,” Taeyeon mencoba menuntun Shinhyun ke tempat duduk, tetapi gadis itu tetap kukuh pada tempatnya, tidak mau bergerak.
Bagaimana ini? Donghae pasti akan membunuhnya jika tahu ia meninggalkan Kyuhyun di apartemennya bersama mayat Hyunhwa…
“Aku tidak melakukannya… Maafkan aku… Aku tidak melakukannya… Ampuunn…”
“Donghae sebaiknya kau menjauh dulu. Aku juga tidak mengerti tapi sepertinya Shinhyun takut padamu,” ujar Taeyeon.
Donghae mengangguk. Ia segera mundur dan kembali pada posisinya di sofa.
“Donghae tidak apa-apa, Shinhyun. Ayo duduk dulu. Tenangkan pikiranmu dan ceritakan pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi padamu,” gadis itu kini berhasil mendudukkan Shinhyun di sofa, agak jauh dari Donghae duduk. Ia menyuruh pembantunya untuk membawakan chocolate panas beserta handuk dan air hangat. “Ini minum dulu.”
Taeyeon membersihkan darah yang mengotori tangan Shinhyun dan beberapa bercak yang menempel di wajahnya. Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya ini. Apa… Cho Kyuhyun memperkosanya lagi hingga membuatnya begitu depresi seperti ini? Karena Shinhyun juga begini ketika Kyuhyun memperkosanya dulu.
Lalu kenapa tangan Shinhyun penuh darah?
Beberapa menit berlalu dengan keheningan, hanya dihiasi oleh isak tangis Shinhyun yang belum juga mereda. Baik Taeyeon maupun Donghae tak ada yang bersuara. Meskipun dalam hati mereka dilingkupi berbagai macam pertanyaan. Terutama Donghae. Baru saja ia mencoba menelpon Kyuhyun tapi tidak ada jawaban. Ia sangat hafal jaket yang saat ini Shinhyun kenakan. Itu jaket favorit Kyuhyun, jaket yang sering pria itu pakai. Dan sekarang jaket itu ada di tangan Shinhyun membuatnya menarik kesimpulan. Apapun yang terjadi pada gadis ini, pasti Kyuhyun ikut terlibat. Tapi apa?
“Shinhyun…” Taeyeon mengelus rambut panjang sahabatnya, menenangkannya. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya ketika tangis Shinhyun perlahan mereda.
“Taeyeon… aku… aku…” ingin sekali ia menceritakan semua yang terjadi padanya. Tapi kenapa rasanya sesulit ini? Kenapa rasanya ada yang mengganjal di tenggorokannya? Begitu sesak, begitu menyakitkan. “Aku…” Oh Tuhan, kenapa sulit sekali. Ia takut. Sangat takut.
Bagaimana nanti jika Taeyeon menyebut dirinya pembunuh? Bagaimana kalau Donghae marah besar padanya karna meninggalkan Kyuhyun begitu saja?
“Iya? Kau kenapa, Shinhyun?” Taeyeon bertanya lembut. Ia merasakan matanya memanas. Melihat kondisi Shinhyun sekarang membuatnya ikut merasakan sakit dan membuatnya ingin menangis. Meskipun ia belum tahu apa yang menimpa Shinhyun, tapi ia yakin pasti bukan hal yang sepele.
Termasuk ketika Kyuhyun memperkosanya dulu…
“A- aku hampir diperkosa lagi… Taeyeon… aku… hiks…”
Taeyeon melebarkan matanya kaget. Sedangkan Donghae memejamkan matanya, menggeram dalam hati. Pasti Kyuhyun lagi. Astaga, bocah itu! Donghae sudah memperingatinya berulang kali agar tidak kelewatan batas membenci seseorang tapi ternyata sama saja.
“Ky- Kyuhyun memperkosamu lagi?” Taeyeon menyuarakan isi hatinya, emosi. Pria itu kenapa, sih? Taeyeon tidak habis pikir. Sebegitu bencikah Kyuhyun dengan Shinhyun sampai ia ingin merusak hidup Shinhyun sampai seperti ini?
“Bu- bukan… Bukan Kyuhyun…” kedua orang itu semakin kaget mendengar penuturannya. Bukan Kyuhyun? Lalu?
“Jo- Jo Hyunhwa…” Shinhyun memejamkan matanya erat. Biarlah. Ia tidak perduli apakah Taeyeon dan Donghae akan menyebutnya pembunuh atau tidak toh dia memang membunuh Hyunhwa. Ia hanya ingin membagi apa yang ia rasakan pada orang lain. Menyimpannya sendiri begitu menyakitkan. Shinhyun tidak kuat.
“Taeyeon… aku… aku membunuh Hyunhwa…”
“Apa?!” Taeyeon dan Donghae berseru kompak. Mereka menatap Shinhyun tak percaya. Apa yang Shinhyun katakan tadi? Membunuh Hyunhwa? Gadis itu tidak mabuk kan?
“Di- dia datang ke- ke apartemenku… da- dan mencoba memperkosaku la- lalu aku menusuknya dengan pi- pisau…” Shinhyun berkata dengan tergagap-gagap. Air matanya kembali mengalir deras tapi ada setitik rasa lega di hatinya bisa membagi perasaannya pada orang lain.
“Lalu kenapa kau bisa memakai jaket itu? Itu jaket Kyuhyun, kan?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Donghae. Shinhyun sempat tersentak dan menatap Donghae takut.
“Kyu… Kyuhyun… A- aku tidak tahu… Di- dia ti- tiba-tiba datang dan menyuruhku pergi me- membawa mo- mobilnya…”
“Jadi Kyuhyun sekarang masih di apartemenmu? Bersama Hyunhwa?” Donghae semakin melebarkan matanya, tak percaya. Taeyeon sampai harus memperingatkan kekasihnya agar tidak bersuara terlalu keras atau Shinhyun akan ketakutan lagi. Taeyeon mengelus punggung Shinhyun bersamaan dengan mengangguknya gadis itu.
“Oh Tuhan…” Taeyeon yang merasa tidak kuat mendengar apa yang menimpa Shinhyun langsung memeluk sahabatnya dengan begitu erat. Begitu banyak cobaan yang harus dialami Shinhyun. Kehilangan mahkota yang paling ia jaga ketika masih di bangku SMA dengan cara yang menyakitkan dan sekarang kejadian yang lebih buruk lagi terjadi. Taeyeon sendiri yakin jika dirinya yang seperti ini pasti ia sudah masuk ke rumah sakit jiwa. “Sabar, sayangku. Kau sudah aman disini. Tidak akan ada yang berani menyakitimu lagi.”
Donghae yang masih terdiam di tempatnya tiba-tiba menyambar kunci mobilnya di atas meja dan berdiri. “Taeyeon, kalau begitu aku ke apartemen Shinhyun dulu,” ucap Donghae dan langsung pergi dari rumah kekasihnya.
Gedung apartemen Shinhyun dipenuhi polisi ketika Donghae sampai disana. Ia berusaha menerobos masuk tapi seorang polisi menahannya.
“Ijinkan saya masuk, Pak. Saya salah satu pemilik kamar apartemen disini,” ucapnya bohong.
“Maaf, tuan. Didalam baru saja terjadi pembunuhan dan polisi sedang dalam proses penyelidikan.”
“Apa? Pembunuhan?” Donghae pura-pura kaget. “Apa pembunuhnya sudah ditemukan?”
“Sudah. Pembunuhnya sudah kami bawa ke kantor polisi untuk di interogasi.”
Cho Kyuhyun, sebenarnya apa yang ada di kepalamu?
***
Omong kosong, melukai perasaan
Aku akan ada di sana, aku pikir aku kembali ke dalam pikiranmu
Aku ingin melihatmu tetapi aku tak bisa
Apakah semua sudah berakhir?
Aku akan berada di sana
“Apa benar anda yang telah membunuh korban?”
Pria itu terdiam sesaat sebelum akhirnya bergumam. “Ya.”
“Menurut informasi kamar apartemen itu milik seorang perempuan bernama Lee Shinhyun. Bagaiman—“
“Hyunhwa sedang berusaha memperkosa kekasih saya maka dari itu saya membunuhnya,” tanpa sadar nada bicara Kyuhyun naik beberapa oktaf. Pikirannya kacau balau. Bukan karena saat ini ia sedang diinterogasi polisi dan ancaman penjara, tetapi karena Shinhyun. Bagaimana keadaan gadis itu? Dia baik-baik saja, kan? Lee Shinhyun sudah berada di tempat yang aman, kan?
Oh Tuhan, jangan paksa ia untuk mengarang cerita disaat pikirannya kalut seperti ini. Tahan saja dirinya, apa susahnya sih? Kyuhyun tidak pandai berbohong dan ia takut jika jawaban yang ia berikan nentinya membuat polisi curiga dan malah mempersulit Shinhyun.
Dua jam interogasi berlangsung dan Kyuhyun tersenyum lega mengetahui dirnyalah yang dinyatakan bersalah. Setelah memakai pakaian tahanan Kyuhyun dituntun untuk memasuki ruangan sempit berjeruji besi. Pria itu berjongkok di sudut ruangan dan menangkup wajahnya menggunakan telapak tangan.
Sepuluh tahun dipenjara, ya? Tidak apa-apa. Paling saat ia keluar nanti teman-temannya sudah sukses di kehidupannya masing-masing. Sedangkan dirinya? Yah, seperti ini. Drop out SMA dan membusuk dipenjara. Kyuhyun tertawa sinis. Tapi sepertinya mendekam sepuluh tahun disini lebih baik daripada Shinhyun yang harus melakukannya. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai Shinhyun yang harus mengalami hal itu.
Pria itu tersenyum miris. Tiba-tiba ia teringat ketika malam itu ia memperkosa Shinhyun. Dan beberapa hari setelah itu Taeyeon datang mencaci maki dirinya karena telah memperlakukan Shinhyun seperti binatang. Kyuhyun sadar. Kyuhyun tahu betul kelakuannya memang tidak bisa dimaafkan. Dan ia menyesal.
Bukan, ia tetap senang karena dirinyalah yang pertama kali melakukan itu pada Shinhyun. Tapi ia menyesal karena telah menghancurkan hidup gadis yang dicintainya. Gadis itu tidak pernah masuk sekolah lagi sejak kejadian itu. Dan itu membuat Kyuhyun selalu tidak bisa tidur tiap malam karena sibuk mencaci maki dirinya sendiri.
Dan tidak ada satu orangpun yang tahu Kyuhyun hampir saja mematahkan tangannya sendiri karena saking ingin menghukum dirinya. Tapi tidak apa-apa. Tuhan sepertinya mencarikannya balasan lain selain harus dengan mematahkan tangan, yaitu dipenjara. Pria itu tersenyum miris -lagi.
“I’m sorry,” gumamnya. Suara terdengar begitu jauh dari telinganya sendiri. “But I love you…”
To Be Continued –
Part ini author terinspirasi dari MV Bigbang – Lies yang juga author jadiin backsong FF ini. Semoga kalian suka ya. Dan maaf jika feelnya ga dapet. Mampir ke blog author yuk di fumiiken.wordpress.com atau follow twitter author @FumiKen_ . arogatou gozaimasu, ditunggu kritik dan sarannya. #bow

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: