Young Wild & Free Part 5

0
Author : MyLovEvil
Title : Young, Wild & Free
Cast : Cho Kyuhyun, Park Jae In
Category : Romance, Chapter
Sebuah mobil audi berwarna putih memasuki pekarangan rumah Cho Kyuhyun. Sang pemilik keluar dari sana dengan seorang anak kecil dalam gendongannya, kemudian disusul oleh seorang wanita paruh baya. Para pelayan disana menyambut sang majikan dengan membungkuk hormat.

“Kemana anak itu?” Gumam Ahra sambil mengedarkan pandangannya. Kakinya melangkah menaiki tangga rumah. Sedangkan Cho Hana berjalan kearah dapur, memasak makanan untuk anak beserta cucunya.
“AAAAAA… Eomaaaaa…”
Baru saja dirinya ingin membuat bubur, malah terdengar teriakkan Ahra. “Astaga kenapa lagi anak itu?” Kakinya melangkah cepat menghampiri Ahra yang saat ini sedang berdiri mematung di tengah pintu kamar Kyuhyun.
“Ada apa?” Tanyanya gemas. Ahra menunjuk kedepannya, sebelah tangannya menutup mata putranya.
Hana melihat kearah yang ditunjuk Ahra. Matanya melebar melihat adanya punggung telanjang seorang gadis ditambah lagi dengan dada Kyuhyun yang telanjang. Tangan Kyuhyun juga memeluk tubuh gadis itu. Kakinya melangkah menghampiri putranya bersiap mengeluarkan sumpah serapahnya.
Tangannya menarik telinga putranya kencang. “Yakk bangun Cho Kyuhyun!” Kyuhyun yang merasa telinganya sakit langsung membuka matanya dan ia membelalak kaget melihat ibunya datang kemari dengan tatapan murka. Habis sudah hidupnya?
“Eomma.”
“Bangun kau bocah tengik.” Kyuhyun menuruti perintah sang ibu. Ia duduk dengan sebuah selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Tangannya membawa sisa selimut itu untuk menutupi tubuh Jae In.
“Kau pikir apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun? Aku tidak pernah mengajarimu seperti ini? Astaga.. bagaimana jika gadis itu hamil hah? Kau mau bertangung jawab?”
Ahra datang dengan tangan terkepal, matanya menatap adiknya murka. Jae In yang merasa terusik dari tidurnya, mulai membuka matanya. Dia melihat Kyuhyun yang duduk dengan wajah datar. Kepalanya menoleh kesamping dan mendapati dua orang yang tidak dikenalnya, menatap marah padanya.
“Dia Park Jae In, Eomma. Dia gadis yang pernah kuceritakan.” Ucap Kyuhyun malas. Tatapan kedua orang itu sedikit melunak tidak lagi semarah tadi. “Eomma kurasa kita harus menikahkan mereka secepat mungkin. Aku tidak mau gadis itu hamil diluar nikah dan Kyuhyun harus bertanggung jawab.” Bisik Ahra yang masih bisa didengar oleh Kyuhyun maupun Jae In. Kyuhyun diam, mencerna baik-baik bujukan kakaknya pada ibunya. Menikah? Ini yang Kyuhyun tunggu. Menikah dengan Jae In. 
Jae In menoleh cepat pada Kyuhyun, dia sedikit tidak setuju dengan bisikan wanita itu. Dirinya masih harus belajar, masih ingin menggapai cita-citanya. Lalu jika nantinya dia menikah, bagaimana nasib kuliahnya?
“Ma ma ma…” Mereka menoleh serentak saat mendengar panggilan seorang bayi laki-laki berumur dua tahun. Ahra yang merasa terpanggil oleh anaknya menghampiri bocah itu dengan senyumannya. “Eh… Cho Kyuhyun cepat bersiap-siap. Eomma kita harus melamar gadis itu sekarang juga.” Teriaknya setelah mengambil tubuh mungil anaknya dari gendongan pelayan dirumah Kyuhyun. “Eoh Min Woo-ya jangan pernah mengikuti jejak pamanmu yaa.”
“Ahra benar. Cho Kyuhyun kau harus menikahi gadis ini sebelum dia hamil. Ya tuhan kenapa aku memiliki putra yang nakal seperti ini?” Hana pergi dari sana sambil menggelengkan kepalanya. Kyuhyun beranjak dari duduknya, sebelumnya dia mengambil sebuah celana yang tergeletak dipinggiran ranjang.
“Oppa.” Panggil Jae In yang bangun dari tidurnya. Gadis itu menaikkan selimut yang digunakannya untuk menutupi tubuhnya. Kyuhyun menoleh dengan pandangan bertanya. “Apa kita akan menikah?”
“Ya, secepatnya.” Ucap Kyuhyun tegas. Kyuhyun menghela nafasnya saat melihat Jae In tidak menunjukkan raut bahagianya. Apa dengan menikah gadis itu merasa terkekang? “Apa kau tidak senang kita menikah? Aku bisa membatalkannya jika kau mau.”
“Benarkah? Tapi kata wanita tadi kita harus menikah sebelum aku hamil?” Jae In merasa bingung dengan situasi saat ini. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana dengan kuliahnya, cita-citanya. God! Sekarang lihat Park Jae In. ini semua karena rasa penasaranmu!!
Kyuhyun duduk dihadapan Jae In, tangannya menyentuh dagu gadis itu lalu mengangkatnya agar menatap matanya. “Park Jae In kau harus menikah denganku oke. Bagimana jika kau hamil dan anak yang ada didalam kandunganmu tidak memiliki ayah? Apa kau ingin anakmu nanti menjadi bahan gunjingan orang-orang?”
“Tidak. Aku tidak mau.”
Kyuhyun mengusap rambut panjang Jae In kedua sudut bibirnya yang terangkat keatas, membuat sebuah senyuman yang menawan. “Kalu begitu kita bicarakan hal ini pada orang tuamu. Sekarang apa kau mau mandi bersama?” goda Kyuhyun sambil mengangkat kedua alisnya bergantian.
“Oppa.” Gerutu Jae In. Tangannya mengambil sebuah bantal yang bisa ia capa kemudian melemparnya kearah Kyuhyun yang sibuk berlarian sambil tertawa.
.
.
Jae In melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kyuhyun, tetapi baru saja dirinya melangkah keluar ada sebuah bola berukuran kecil jatuh tepat di kakinya. Jae In menunduk untuk mengambil bola itu. “hyu… hyu.. hyu.. ng.. lalala.”
Jae In membelalakan matanya melihat seorang bocah kecil berjalan didekat tangga. Kakinya buru-buru melangkah menghampiri bocah itu. Jika sedikit saja kaki kaki mungil itu melangkah mundur, pastinya bocah itu akan terjatuh kebawah sana. “Yahh.. nanti kau bisa jatuh.” Ujar Jae In lembut. Dia membawa tubuh bocah itu kedalam gendongannya. Min Woo tak memperdulikan perkataan Jae In. Tangan mungilnya sibuk merebut bola berwarna kuning yang ada di tangan Jae In. Jae In membawa tubuh mungil Min Woo menuruni tangga.
Kakinya melangkah kearah ruang tamu dan tidak menemukan siapa pun disana kecuali dua orang pelayan yang sibuk membersihkan ruangan. Dimana orang-orang penghuni rumah ini? Oh iya Jae In ingat tadi disaat dirinya mandi, Kyuhyun sempat bilang ‘Selesai mandi kita makan’
Jae In kembali melangkahkan kakinya melewati sebuah lorong penghubung ruang makan dan dapur. Jae In melihat Ahra yang berlarian menghampirinya, dibelakangnya ada Kyuhyun yang meringis sambil memegangi kepalanya.
Apa ada yang salah? Pikir Jae In bingung.
“Astaga Min Woo-ya. Kau membuat Eomma khawatir.” Ucap Ahra, mengambil putranya dari gendongan Jae In. kemudian tatapan Ahra beralih pada Kyuhyun dengan tatapan marah. “Bagaimana bisa kau menghamili seorang gadis huh? Disuruh menjaga Min Woo saja kau lalai. Aku akan membuang laptopmu Cho Kyuhyun! oh satu lagi, berhenti bermain game. Umurmu sudah tua dan tidak patas main game lagi!”
Jae In dibuat melongo mendapati nada bicara Ahra yang kasar terhadap adiknya sendiri. Seumur-umur Jae In tidak pernah mendapati Dave marah padanya. Mungkin karena wanita itu sangat khawatir pada anaknya. tapi menurut Jae In, Kyuhyun juga salah karena lalai menjaga Min Woo. Untungnya bocah itu tidak jatuh dari tangga. Jae In meringis ngeri membayangkannya. Bagaimana jika tadi Min Woo terjatuh dari tangga?
Jae In mengikuti langkah Ahra dibelakangnya membiarkan Kyuhyun menggerutu kesal. “Oppa bodoh!” bisik Jae In disaat melewati tubuh Kyuhyun. Kyuhyun diam, memang kenyataan seperti itu. Dia mengikuti Jae In, tangannya terulur memeluk gadis itu dari belakang.
“Oppa.” Pekik Jae In. Ahra yang mendengar teriakan Jae In langsung menoleh kebelakang. Diam-diam dia tersenyum tipis melihat adiknya yang merajuk pada Jae In. “Huaaa… ma.. ma.. ma…” tiba-tiba saja Min Woo menangis. Bocah itu memberontak dalam gendongan ibunya sambil mengulurkan tangannya kearah Jae In dan Kyuhyun. Kyuhyun melepaskan pelukannya dari Jae In kemudian menghampiri keponakannya itu, tapi Min Woo tetap menangis. “Dasar bocah tengik, tau saja ada wanita cantik cih.” Cibir Kyuhyun yang langsung meninggalkan ketiga orang itu. “Astaga jaga bicaramu Cho Kyuhyun!” bentak Ahra.
Ahra memberikan Min Woo pada Jae In. Ajaibnya bocah itu langsung terdiam, sekarang Min Woo sudah melupakan bola kuningnya dan lebih memilih memainkan rambut Jae In. “Ahh sepertinya benar apa kata Kyuhyun. Min Woo menyukai Jae In noona?”
“Hyu…hyu..ung.” celoteh Min Woo lengkap dengan cengir.
Ahra mendesis kesal. Sudah berulang kali dia mengajarkan Min Woo untuk memanggil kakak perempuan dengan sebutan ‘Noona’ tapi masih saja bocah itu memanggil ‘Hyung’ “Maaf ya, dia suka salah bicara.”
“Gwaencanha eonnie.” Kekeh Jae In.
.
Mobil Kyuhyun berhenti tepat didepan rumah Jae In, begitu pun dengan mobil Ahra dibelakangnya. Jae In keluar dari sana disusul oleh Kyuhyun lalu Ahra, Hana dan Min Woo. Jae In melihat beberapa pelayan di rumahnya sibuk membawa tas besar yang Jae In kira isinya berupa pakaian. Dia mengerutkan alisnya saat melihat bibi Jung, kepala pelayan dirumahnya yang menangis sambil memeluk para pelayan itu. Ada apa? Kenapa mereka terlihat seperti dipecat?
Jae In berlarian memasuki rumahnya, meninggalkan Kyuhyun beserta keluarganya. Kakinya berlari ke ruang kerja ayahnya. Sesampainya disana, Jae In masuk tanpa mengetuk pintu. Ibu dan ayahnya berada disana, tapi ekspresi mereka terlihat kacau. Apa ada sesuatu yang terjadi disini? Jae In menautkan kedua tangannya. Dia melihat ekspresi ayahnya yang terlihat sedih. terakhir kali Jae In melihat ekspresi ayahnya yang seperti itu saat di pemakaman ibu kandungnya, dan sekarang Jae In melihat ekspresi itu lagi. Betapa khawatirnya Jae In saat ini.
“Appa, Eomma.” Cicitnya sangat pelan, tapi kedua orang itu mendengar bisikkan Jae In. Nuri beranjak dari duduknya, menghampiri Jae In lalu memeluknya. Jae In yang masih bingung dengan ragu mengulurkan tangannya, dia mengusap punggung sang ibu yang menangis. Apa ada yang terjadi dengan Dave?
Nuri melepaskan pelukkannya, wanita paruh baya itu berusaha untuk tersenyum didepan Jae In. Sebelum pergi dari sana, Nuri menepuk bahu Jae In pelan. Sepeninggal ibunya, Jae In kembali melangkah menghampiri sang Ayah yang menatapnya sendu. “Duduklah.” Ucap Daehwa menyuruh anaknya agar duduk disofa. Jae In menuruti perkataan sang ayah dengan duduk diseberang ayahnya. Matanya menatap ayahnya dengan pandangan bertanya. Menunggu ayahnya membicarakan semuanya yang terjadi.
“Maaf.” Bisik Daehwa pelan. Jae In tetap diam, dia tidak mengerti kenapa ayahnya harus meminta maaf.
“Appa tidak sekaya dulu lagi. Perusahaan Appa bangkrut, maafkan Appa.” Ucap Daehwa lagi. Jae In menghela nafasnya pelan. Jadi hanya karena itu, dia pikir terjadi sesuatu dengan Dave.
“Appa.. kenapa harus meminta maaf? Lagi pula selama ini Jae In kasihan melihat Appa kerja berbulan-bulan, jarang pulang. Apa Appa tidak lelah? Jae In malah bersyukur dengan begitu Appa dan Eomma bisa terus berada dirumah keke.” Kekeh Jae In diakhir kalimatnya. Kekehan Jae In terasa menular karena Daehwa tertawa pelan mendengarnya. Didalam hatinya pun Daehwa merasa bersalah. Mungkin ini karma untuknya karena dia tidak pernah meluangkan waktunya untuk keluarga.
“Eoh.. kita juga bisa membuka toko kecil-kecilan. Bukankah eomma menyukai tanaman? Kalau begitu kita bisa membuka toko bunga. Kebetulan aku memiliki tabungan. Walaupun tidak banyak, aku rasa cukup untuk membuka toko.” Ucap Jae In. Hati Daehwa terenyuh mendengarnya. Putrinya yang kecil sudah dewasa. Daehwa bersyukur melihat putrinya yang berubah, kemarin-kemarin Jae In sibuk dengan dunia fashion-nya. Tapi sekarang sifat Jae In yang selalu menghambur-hambur uang itu telah hilang.
Saat ini dave belum pulang dari Venice. Pria itu mengurus banyak hal disana. Perusahaan ayah kandungnya juga mengalami penurunan. Baru saja Dave tiba dikantornya, ratusan karyawan berdiri didepan gedung kantor dengan membawa berbagai macam spanduk yang intinya meminta pimpinan untuk memberikan gajinya. Dave yang saat itu sangat bingung langsung saja turun dari mobil dan menerobos masuk melewati para karyawan itu. Dia butuh banyak penjelasan. Kemana perginya orang-orang yang ia percaya bisa mensejahterakan perusahaan ayahnya. Tapi yang didapatinya adalah perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Untungnya ia tidak datang terlambat.
Masalah yang dihadapi Daehwa pun hampir sama. Tapi perusahaan Daehwa memiliki banyak hutang, hingga harus membayar hutang-hutang itu dengan tabungan yang ia punya dan menjual perusahaannya pada orang lain. Yang terpenting ia masih memiliki tempat tinggal untuk keluarganya, dan dengan berat hati Daehwa juga memecat beberapa pelayan dirumahnya dan sekarang tinggal tersisa satu pembantu rumah tangga dan dua orang tukang kebun.
“Eoh Appa, diluar ada Kyuhyun dan keluarganya.” Ucap Jae In.
“Benarkah? Kenapa kau tidak bilang dari tadi.” Daehwa langsung beranjak dari duduknya. Menurutnya sungguh tidak sopan meninggalkan tamu begitu saja. Tapi baru saja Daehwa melangkah, tangan Jae In menarik bajunya. Daehwa menatap putrinya lalu membalikkan badannya. “Apa?”
“Hmm… Appa.. Kyuhyun ingin melamarku?” gumam Jae In sambil menundukkan wajahnya. Dia tidak ingin melihat ayahnya marah, tapi Jae In siap mendapati kemarahan sang ayah. Maka dari itu Jae In menundukkan wajahnya.
“Itu bagus. Ayo kita sambut calon menantuku.” Ucap Daehwa bahagia. Jae In terkejut, tapi kakinya mengikuti langkah sang ayah keluar ruangan. “Appa tidak marah?” tanya Jae In.
“Tidak, Appa senang.” Jae In bingung kenapa ayahnya malah senang. Bukankah kemarin Kyuhyun bilang Ayahnya, Dave dan Kyuhyun memiliki sebuah perjanjian. Sekarang Jae In malah melihat ayahnya yang bahagia begitu tahu putrinya akan menikah? Aneh sekali?
Sesampainya di ruang tamu, Jae In melihat ibu tirinya memangku Min Woo sambil menyuapi sesendok pisang. Sedangkan Ahra dan Kyuhyun sibuk memainkan tangan mungil bocah itu. Diam-diam Jae In tersenyum membayangkan jika nanti Kyuhyun menjadi seorang ayah. Apa nantinya pria itu lalai menjaga anaknya nanti? Dilihat dari kejadian tadi Jae In takut Kyuhyun tidak suka memiliki seorang anak. Apalagi tadi malam mereka melakukannya tanpa menggunakan pengaman, dan besar kemungkinan Jae In bisa hamil.
“Wah.. tamuku dari jauh datang.” Kekeh ayahnya begitu sampai dihadapan mereka. Jae In melepaskan genggaman ayahnya dan mendudukkan dirinya disamping Kyuhyun.
Daehwa duduk di sofa yang lain disamping Hana. “Sudah lama sekali Hana-ya. Semenjak Yeunghwan meninggal kau jarang sekali main kesini.” Gerutu ayahnya sambil mencubit lengan Hana. Wanita itu tertawa melihat sifat Daehwa yang tidak berubah.
“Arra, Mianhae. Mungkin aku terlalu sibuk dengan kesedihanku dan juga sibuk mengurus cucuku.” Kekehnya. Daehwa mengalihkan tatapannya pada Min Woo yang sudah turun dari pangkuan istrinya. Bocah kecil itu sekarang memainkan piring berisi buah-buahan diatas meja, mengambil buah-buah yang bisa ia capai, menggigitnya lalu meletakkannya lagi. “Min Woo-ya jangan.” Ucap Ahra, menarik tangan anaknya agar menjauh dari sana. Min Woo langsung menangis begitu ibunya menjauhkan dirinya dari mainan barunya.
“Biarkan saja Ahra-ya.” Ucap Nuri. Jae In beranjak dari duduknya, mengajak Min Woo yang masih menangis. Dia menggendong bocah itu dan membawanya kekamar, kebetulan dia memiliki banyak mainan dikamarnya. Semua disana menatap kepergian Jae In. Hana yang sadar alasan datang kesana langsung duduk tegak. “Daehwa-ya.” Panggilnya.
“Ne?”
“Ehmm.. kami datang kemari ingin melamar anakmu.” Ucap Hana tanpa basa-basi. Kyuhyun mencermati setiap ekspresi Daehwa. Dia tidak menemukan raut terkejut ataupun marah. Pria tua itu malah tersenyum senang. “Wah akhirnya anakku yang tua itu memiliki calon pengantin.”
Kyuhyun mengerutkan alisnya bingung. Anak Daehwa yang tua? Dave maksudnya? “Ahjussi, maksud eomma Jae In bukan Dave.” Pekik Kyuhyun ngeri. Setelahnya dia mendengar tawa kencang dari Daehwa, Nuri dan Ahra.
“Ahjussi kurasa Kyuhyun lebih cocok dengan Dave daripada Jae In haha.. kalau begitu, eomma kita nikahkan Kyuhyun dengan Dave saja hahaha.” Ahra terdiam saat melihat mata adiknya yang mendelik tajam kearahnya. “Dasar gila.” Desis Kyuhyun pada kakaknya.
“Cho Kyuhyun kau mengatai calon mertuamu gila?” Bentak Hana. Kyuhyun melambaikan tangannya panik. “Tidak! Bukan eomma… aku mengatai noona.”
“Astaga sopanlah sedikit!” Kyuhyun mengangguk patuh dan lebih memilih diam dari pada bicara dan melakukan kesalahan lagi.
“Daehwa-ya, Maaf anakku telah melakukan kesalahan. Kurasa tadi malam dia melakukannya dengan Jae In. Maka dari itu aku langsung datang kemari dan mempercepat pernikahan mereka. Jangan sampai anakmu hamil sebelum pernikahan itu berlangsung.”
Daehwa diam dengan tatapan mengarah pada Kyuhyun. Sejujurnya dia sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi dan Daehwa juga tidak ingin anaknya mengandung tanpa seorang suami yang mendampinginya. Dan melihat Kyuhyun yang gigih mengejar putrinya membuat Daehwa sedikit merasa tenang. “Tidak apa-apa, anak muda zaman sekarang memang seperti itu.” ucapnya.
“Kurasa kita tidak perlu mengadakan acara pertunangan karena peresmian resort di Jeju batal.” Desah Daehwa frustasi. Kyuhyun memajukan tubuhnya, dari tadi dia melihat wajah Daehwa dan sepertinya ada masalah yang sedang dihadapi pria tua itu. “Ada apa?” tanya Kyuhyun kemudian.
Daehwa mengusap wajahnya kasar, matanya menatap Kyuhyun sendu. “Bisakah kita bicara diluar, berdua saja.” gumam Daehwa yang membuat orang-orang disana bingung. Kyuhyun mengangguk mantap, mengikuti langkah Daehwa yang berjalan keluar rumah. Pria paruh baya itu membawanya kesebuah taman yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Kyuhyun sendiri merasa bingung kenapa Daehwa bisa langsung mengiyakan lamarannya. Padahal jelas-jelas pria itu menyuruhnya untuk menunggu selama 2 tahun hingga umur Jae In genap 20 tahun. Dan yang lebih anehnya lagi, Daehwa tidak marah setelah mengetahui anaknya tidak perawan lagi karena Kyuhyun.
Entah Kyuhyun harus merasa senang atau tidak. Tapi ini benar-benar membingungkan untuknya. Apa setelah ini Daehwa ingin membunuhnya? Astaga hilangkan pikiran negatifmu Cho Kyuhyun! Positif thinking oke!
“Duduklah.”
Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Ternyata mereka telah sampai dan Daehwa duduk disebuah kursi panjang. Kyuhyun langsung duduk disamping pria itu sambil menunggu Daehwa berbicara. Kyuhyun menoleh kesampingnya dan mendapati Daehwa yang sedang mendongak menatap cerah langit malam, bintang-bintang kerlap kerlip, dan bulan yang menampakkan sinarnya.
“Mendiang istriku pasti sedang melihatku sekarang.” Lirih Daehwa. Kyuhyun mengikuti arah pandang Daehwa dengan mendongakkan wajahnya. “Dia pasti senang berada disalah satu bintang itu. Sebelum meninggal pun wajahnya selalu terlihat bersinar dimataku. Benar kata Jae In, istriku pasti sudah menjadi bintang disana dan dia pasti melihatku sekarang ini.”
“Ne?” Kyuhyun bingung. Sejak kapan orang yang sudah meninggal menjadi salah satu bintang itu. Ckck teori Jae In sungguh menggelikan untuknya. Lalu apa ayahnya juga berada disana? Hoho hentikan pemikiran konyolmu Cho Kyuhyun.
“Disaat umurnya beranjak remaja setiap malam dia selalu menyempatkan diri untuk keluar rumah dan berdiam diri ditaman ini. Katanya dia bisa melihat ibu melalui bintang-bintang. Mungkin karena dirinya merindukan Eun Na.”
“Kalau begitu ayahku juga berada disana.” Kekeh Kyuhyun sambil menunjuk keatas. Daehwa menoleh dengan pandangan sedih. Yeunghwan adalah sahabatnya. Pria itu meninggal karena serangan jantung. Awal mulanya juga karena perusahaannya yang mengalami kebangkrutan hingga penyakit itu datang. Saat itu umur Kyuhyun sudah mulai dewasa, jadi dia bertekad belajar dan lulus kuliah diumur yang masih sangat muda. Waktu itu umurnya sekitar 20 tahun, dan sekarang hasil kerja keras Kyuhyun semuanya terbukti. Pria itu sudah mulai membuka cabang-cabang perusahaan di negara lain hanya dalam jangka waktu 5 tahun. Banyak rakyat-rakyat kecil yang mengaguminya sebagai orang tersukses tanpa campur tangan orang tua.
Kyuhyun juga memiliki beberapa panti asuhan dan sebuah yayasan peninggalan ayahnya. Setiap seminggu sekali Kyuhyun selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi itu semua. Tapi Kyuhyun lebih suka mendatangi panti asuhan miliknya karena hatinya selalu merasa hangat melihat bocah-bocah kecil yang berlarian kesana-kemari, bercanda, tertawa senang. Kyuhyun selalu berpikir ingin menjadi salah satu dari mereka, tapi dia juga bersyukur karena memiliki orang tua yang menyayanginya, sedangkan anak-anak itu harus merasa sedih karena dibuang oleh orang tua mereka sendiri.
“Cho Kyuhyun, apa kau yakin ingin menikahi putriku?” gumam Daehwa. Kyuhyun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kemudia dia mengangguk sebagai jawaban. “Ahjussi apa ada masalah dengan perusahaanmu?” tanya Kyuhyun hati-hati. Daehwa mengangguk lemah kemudian ikut menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
“Peresmian resort di Jeju batal karena pihak kepolisian tiba-tiba saja datang dan mereka bilang tempat penginapan itu ilegal. Jelas-jelas aku sudah membuat ijin ke pemerintahan daerah, tapi entah kemana surat-surat penting itu hilang. Saat itu aku memarahi sekretarisku yang lalai menyimpan dokumen penting itu. Belum lagi masalah disana selesai, para karyawan di Seoul mengadakan demo besar-besaran di depan gedung kantorku. Ternyata sudah hampir 3 bulan mereka tidak diberi gaji. Dan orang yang aku percaya bisa memimpin perusahaan telah menipuku, dia membawa seluruh aset perusahaan beserta uang perusahaan.” Ucap Daehwa panjang lebar.
Kyuhyun mendengarkan dengan cermat. Banyak sekali masalah yang dihadapi Daehwa. “Siapa orang itu?” tanya Kyuhyun penasaran. “Jung Ill Woo. Dia pergi entah kemana setelah merampas hartaku. Aku sudah menyuruh polisi untuk mencarinya, tapi polisi belum menemukannya. Kemungkinan besar pria itu sudah pergi meninggalkan korea.” Kyuhyun mengerutkan alisnya. Jika pria itu pergi meninggalkan Korea pasti ada daftar namanya di bandara. “Aku bisa membantumu Ahjussi.”
Daehwa tertawa pelan, tangannya meninju lengan Kyuhyun gemas. “Hei anak muda, tidak perlu repot-repot membantuku. Lebih baik kau urusi pernikahanmu.” Kyuhyun ikut tertawa lalu mendecak kesal. “Aku serius. Aku bisa menemukan pria itu dalam waktu singkat.”
“Memangnya kau polisi.” Kekeh Daehwa. “Aku seorang pengusaha bukan polisi. Lagipula sebentar lagi kau akan menjadi ayahku, jadi wajar jika aku membantumu, Siabeoji.” Ucap Kyuhyun serius. Daehwa mengusap bahu Kyuhyun sambil tersenyum. Jae In tidak salah memilih Kyuhyun. daehwa yakin Kyuhyun bisa melindungi anaknya.
“Kalau begitu aku tidak sabar menanti hari pernikahan kalian. Ah bagaimana kalau 2 minggu lagi.” Daehwa beranjak dari duduknya meninggalkan Kyuhyun yang mematung ditempat.
“Lebih cepat lebih baik.” Gumamnya geli.
***
“Haneul-ah…” Pekik Jae In yang melihat kedatangan Haneul ke rumahnya. Berapa lama mereka tidak bertemu? Yang jelas Jae In sangat merindukan sahabatnya ini. Mereka saling berpelukan ria di teras rumah. Ahra yang saat itu sedang menemani Jae In diam-diam tersenyum lebar sambil menggoyangkan tubuh Min Woo dalam gendongannya.
Haneul datang dengan sebuah koper ditangannya. Sepertinya Haneul baru saja melakukan perjalanan jauh hingga harus membawa koper ukuran besar seperti itu. “Aku butuh banyak penjelasan darimu! Ayo masuk.” Gerutu Jae In sebal. Tangan kanannya menarik lengan Haneul, sedangkan yang sebelahnya lagi membawa koper gadis itu. Wajah Haneul terlihat lesu jadi Jae In tidak tega membiarkan sahabatnya ini kelelahan.
“Apa yang kau lakukan selama ini hah? Kenapa menghilang begitu saja? Kau tidak memberikan informasi apapun padaku. Astaga Kim Haneul kau membuatku khawatir!” Haneul yang berada disampingnya tersenyum lemah. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk mengurus perusahaan ayahnya di Jinan. Waktu pertama kali Haneul tiba disana, tiba-tiba saja tasnya dirampas orang. Dia tidak sempat berteriak karena saat itu dirinya tertidur diterminal. Bodohnya dia, jika saja Haneul pergi menggunakan mobilnya, pasti kejadian itu tidak akan terjadi.
“Maaf, waktu itu aku kehilangan ponselku.” Gumam Haneul. Jae In mengusap punggung Haneul lembut sambil tersenyum senang. “Gwaencanha, yang terpenting kau berada disini jadi aku tidak perlu khawatir lagi.”
Jae In membawa Haneul kearah Ahra yang saat ini sedang menyuapi Min Woo dengan bubur jagung. Jae In memegang bahu Haneul lalu mendudukkan gadis itu disofa. Kakinya kembali melangkah kearah dapur, membuat minuman hangat untuk Haneul. Haneul memejamkan matanya dengan punggungnya yang ia sandarkan pada sandaran sofa. Min Woo mengerjapkan matanya sambil melihat Haneul. Tangan mungilnya menggenggam mug berisi air mineral yang isinya telah tercampur serpihan buburnya. Ia memberikan mugnya pada Haneul.
Haneul yang merasakan sesuatu dikakinya segera membuka matanya sebelah. Dia terlalu lelah untuk menegakkan tubuhnya. “Na… na.. naa…nunaaa.” Celoteh Min Woo . Haneul tersenyum tipis alu menundukkan wajahnya. Tangannya menerima mug pemberian Min Woo, pura-pura meminumnya. “Ahh enak sekalii.. gomawo.” Kekeh Haneul sambil mencolek pipi tembam Min Woo. Min Woo kecil menggelengkan kepalanya, tangan mungilnya terulur menyuruh Haneul meminum minumannya dengan benar. Walaupun masih kecil, Min Woo tahu kalau Haneul pura-pura minum. “Mi… mi…mi.” pekiknya kencang.
Ahra menghampiri anaknya. “Hei noona itu tidak suka minumanmu Min Woo-ya. Kau tidak boleh memaksa arraseo.” Ahra menasehati Min Woo yang mengerjapkan matanya, tangannya memegang lutut Haneul sebagai penopang tubuhnya. Haneul tersenyum tipis dengan sebelah tangannya mengusap rambut tipis Min Woo.
Jae In datang dengan membawa sebuah nampan berisi tiga buah cangkir teh hangat. Jae In tertawa pelan melihat posisi Min Woo yang bergelung manja pada sahabatnya. Jae In meletakkan nampan tersebut diatas meja tamu lalu beralih menghampiri Min Woo. “Jae In menyukai Haneul noona?” tanya Jae In.
“Tidak biasanya dia fasih mengucapkan kata ‘Noona’ biasanya dia memanggil siapa pun dengan sebutan hyung?” gumam Ahra sambil merapihkan peralatan makan Min Woo. Memang benar, tidak biasanya Min Woo mengucapkan kata nuna pada wanita yang lebih tua.
Jae In mengangguk, membenarkan kata Ahra. Dia sendiri bahkan mengalaminya, Min Woo memanggil dirinya dengan sebutan hyung. Ahh Jae In jadi ingin memiliki anak seperti Min Woo, bocah itu benar-benar menggemaskan. Ngomong-ngomong sejak malam tadi Jae In belum bertemu Kyuhyun. Ahra bilang Kyuhyun sedang mencari solusi untuk perusahaan ayahnya. Masalah Jung Ill Woo yang ayahnya ceritakan kemarin malam, membuat Jae In kesal. Pria itu yang membuat perusahaan ayahnya hancur dalam sekejap. Pastinya Jae In mengenal pria tua itu, dia sudah beberapa kali bertemu pria itu. Jae In pikir Jung Ill Woo orang yang baik tapi nyatanya? Dan yang paling mengejutkan lagi, tadi malam ayahnya menerima telephone dari polisi yang memberitahukan jika Jung Ill Woo adalah seorang buronan, selain terjerat kasus perampokkan pria itu juga terjerat kasus mafia.
Jae In sedikit ngeri membayangkan Kyuhyun membantu mencari Ill Woo. Takutnya anak-anak buah Jung Ill Woo itu malah menyerang Kyuhyun. Semoga saja itu tidak terjadi karena Kyuhyun memiliki penjagaan super ketat.
“Jae In-ah ayo kita survei tempat pernikahanmu.” Ucap Ahra. Haneul yang saat itu sibuk memainkan pipi tembam Min Woo terkejut mendengarkan kata Ahra. Menikah? Sahabatnya tidak memberitahukan hal ini padanya. Oh iya dia lupa, ini juga kan salahnya yang tidak bisa menghubungi Jae In. “Kau akan menikah? Dengan siapa?”
Kedua pipi Jae In memerah, dia berusaha menutupi wajahnya dengan menundukkan kepalanya. Ahra tersenyum jahil sambil melirik Jae In. “Tentu saja dengan adikku, Cho Kyuhyun.” pekik Ahra. Haneul mengangakan mulutnya, matanya menatap Jae In penuh keingin tahuan. “Secepat ini? kau bahkan melangkahi kakakmu?” seru Haneul tidak percaya. Mulutnya kembali terbuka ingin menyuarakan isi hatinya, tapi kembali tertutup karena tidak enak hati jika dia bilang ‘Apa Kyuhyun menidurimu?’
“Kemarin malam ada kejadian yang tak terduga hingga kami dengan paksa menikahkan Jae In dengan Kyuhyun.” ucap Ahra lagi yang mengambil Min Woo dari hadapan Haneul. Dengan cekatan Ahra memakaikan jaket untuk anaknya. “Benarkah?” pikiran Haneul benar. Kyuhyun sudah meniduri sahabatnya dan ketahuan oleh keluarga pria itu hingga mereka harus menikah secepatnya. “Yakk. Park Jae In, apa Kyuhyun tidak menggunakan pengaman saat melakukannya?” Pekik Haneul sambil mencondongkan tubuhnya pada Jae In yang duduk disampingnya.
Jae In mengangkat wajahnya, masih dengan pipi yang memerah. “Kim Haneul, tutup mulutmu! Kau mengatakan hal itu dihadapan anak kecil.” Gerutu Jae In sambil melirik Min Woo yang mengerjapkan matanya. Haneul diam, rasa lelahnya hilang begitu saja digantikan dengan rasa penasaran akan penjelasan Jae In selama dirinya pergi ke Jinan. “Aku butuh penjelasan banyak tentangmu.” Gumam Haneul, mendelikkan matanya sebal pada Jae In. Jae In sendiri hanya mengangkat bahunya acuh, dia beranjak dari duduknya kemudian menarik tangan Ahra. “Ayo eonnie kita pergi.”
“Ya! Park Jae In aku ikut!!”
“Yakk tunggu akuuuu.”
.
.
“Kau yakin memilih taman ini sebagai acara resepsinya?” tanya Ahra dengan tatapan matanya yang berpencar menelusuri ramainya taman. Menurutnya pilihan Jae In lumayan bagus. Taman ini sangat indah dengan daun-daun yang berguguran. Banyak juga pengunjung taman ini yang menikmati hari libur mereka bersama keluarga. Mungkin jika taman ini didekorasi dengan tenda-tenda mewah akan terlihat sangat indah. Apalagi ada danau yang cukup luas disebelah kirinya dan juga pancuran air didepannya.
“Sangat yakin.” Ujar Jae In lengkap dengan senyumannya. Disampingnya Haneul menelusuri tatapannya kesekitar. Tempatnya lumayan bagus, dan mungkin mereka akan menyewa tempat ini untuk satu hari. “Aku ingin ada perahu didanau itu sehingga para tamu bisa menikmati indahnya pemandangan.” Gumam Jae In. Haneul mengangguk setuju begitupun Ahra.
“Jae In-ah aku ingin ice cream.” Rajuk Haneul dengan jari telunjuknya yang terarah kesebuah kedai ice cream. “Ayo kita beli.”
Haneul mengangguk semangat, baru beberapa langkah ia berjalan, Haneul kembali membalikkan tubuhnya kearah Ahra sambil mengulurkan tangannya pada Min Woo. “Min Woo ingin ikut eoh.” ucap Haneul. Min Woo mengulurkan tangan mungilnya menerima uluran tangan Haneul hingga tubuh mungilnya pindah kedalam gendongan gadis itu.
Mereka kembali melangkah kearah kedai ice cream meninggalkan Ahra yang menunggu kedatangan pemilik taman itu. Dari sekian banyaknya gedung mewah yang dipilih Hana,  Jae In lebih memilih taman ini sebagai acara resepsinya. Disaat mobil yang mereka tumpangi melewati tempat ini, dengan paksa Jae In menyuruh Ahra berhenti dan dengan keras kepalanya gadis itu ingin tempat ini menjadi acara resepsi pernikahannya dan dengan berat hati Ahra menuruti permintaan Jae In.
Saku celana Jae In bergetar. Dia merogoh saku celananya, melihat nama Dave tertera disana. Jae In senang sekali mendapat panggilan dari kakaknya. “Yaa! Berapa lama kau tidak menghubungiku?” pekik Jae In setelah menekan tombol hijau diponselnya. Setelah Jae In mendengar tawa geli diseberang sana, Dave menertawakannya.
“Kau merindukanku?” gumam Dave dengan nada menggoda.
“Tentu saja, mana mungkin aku tidak merindukanmu. Kau pergi sangat lama? Kapan kembali?”gerutu Jae In kesal. kakinya terus melangkah mengikuti Haneul didepannya hingga mereka ssampai dikesai ice cream. Haneul memesan 4 ice cream, 3 berukuran besar dan 1 berukuran kecil untuk Min Woo. Jae In menerima 2 ice cream untuknya dan Ahra.
“Secepatnya, setelah urusanku disini selesai aku akan pulang. Bagaimana keadaan ayah?”
“Kau tahu, dia tidak terlihat baik-baik saja setelah mengalami kebangkrutan.”
“Ya begitupun aku disini. Perusahaanku mengalami masalah dan besoknya aku mendapati berita tentang pernikahanmu!” Terdengar nada marah disana.
“Maaf, aku tidak memberitahumu tentang ini. Kumohon jangan marah pada Kyuhyun, dia tidak bersalah, aku yang memaksanya untuk melakukan ‘itu’ jadi jangan marahi Kyuhyun.” gumam Jae In takut.
“Sebenarnya aku kecewa pada sahabatku itu, tapi aku tahu nalurinya sebagai lelaki tidak akan kuat jika dia terus digoda. Jadi, apa adikku ini sudah besar eoh?”
“Dave…. aaaww.” Jae In meringis kesakitan, lengannya terasa seperti tersayat. Aliran darah mengalir menembus lengan bajunya. Darah yang keluar begitu banyak hingga Jae In harus berjongkok menahan sakit. Ice cream beserta ponselnya jatuh ketanah. Haneul yang berjalan dibelakangnya terkejut melihat sahabatnya yang bersimbah darah. Dia melihat seorang pria bertopi dan bermasker hitam berlari kencang dengan sebuah pisau lipat ditangannya. Haneul tidak bisa berlari mengejar pria itu karena Min Woo ada didalam gendongannya, Haneul juga tidak bisa meninggalkan jae In, apalagi jalanan yang mereka lewati cukup sepi.
“Park Jae In, astaga! Ahra Eonniieee.” Teriak Haneul. Jarak mereka dengan Ahra lumayan jauh, jadi Haneul berusaha berteriak sekencang-kencangnya. Jae In meringis, setetes air mata turun membasahi pipinya. Ahra yang saat itu baru saja kedatangan sang pemilik taman langsung menolehkan kepalanya. Dia terkejut melihat Jae In yang menunduk sambil memegangi lengannya. Walaupun jaraknya cukup jauh, Ahra yakin lengan Jae In terluka hingga mengeluarkan darah dan kemeja berwarna putih yang digunakan Jae In berubah menjadi merah dibeberapa bagian.
Ahra berlari secepatnya menghampiri Jae In. Sesampainya disana Ahra langsung menggendong Min Woo dan menyuruh Haneul untuk menuntun Jae In. “Haneul-ah, tuntun Jae In. kita harus ke rumah sakit sekarang! Dan hubungi Kyuhyun dengan ponselku.” Usul Ahra sambil memberikan ponselnya pada Haneul. Haneul mengangguk patuh lalu menerima ponsel tersebut, sebelum menuntun Jae In dia merobek kaosnya lalu mengikatnya dilengan Jae In. “Sakitt…” Lirih Jae In sambil terisak, dia sudah berusaha menahan tangisnya tapi tidak bisa.
Ahra meletakkan Min Woo dikursi samping kemudi, sedangkan Jae In dan Haneul duduk dibelakang. Haneul memeluk Jae In, membiarkan darah Jae In melumuri tangan dan pakaiannya. Kondisi Jae In sungguh mengkhawatirkan, dia terlihat lemas karena banyaknya darah yang keluar. Sedalam apa pria itu menggores lengan Jae In, dan apa alasannya pria itu menyakiti sahabatnya? Haneul bertanya-tanya dalam hati.
“Cho Kyuhyun kumohon ke rumah sakit sekarang juga. Terjadi sesuatu pada Jae In.” ujar haneul sambil menahan tangisnya. Sedangkan Ahra fokus menyetir dengan kecepatan tinggi, Min Woo yang duduk disamping Ahra menggeliatkan tubuhnya karena safety belt yang melilit tubuhnya. Haneul langsung memutuskan sambungannya, tanpa mendengarkan jawaban Kyuhyun lagi. Sekarang pria itu pasti sama paniknya sepertinya.
***
“Cho Kyuhyun kumohon ke rumah sakit sekarang juga. Terjadi sesuatu pada Jae In.”
Kyuhyun yang saat itu sedang mengadakan pertemuan rapat dengan koleganya yang berasal dari Austria langsung berdiri dari duduknya. Dia pikir Ahra menelponnya karena masalah pernikahan, tapi yang didapatinya tentang keadaan Jae In. “Dasom nanti jelaskan padaku hasil rapat ini, aku ada urusan penting.” Kyuhyun membungkuk hormat, dan menggumamkan kata maaf untuk para koleganya yang datang dari jauh.
Kyuhyun berlarian menuju lobi, para karyawannya terlebih lagi karyawan wanita menatapnya takjub. Selama ini mereka tidak pernah melihat pimpinan mereka berlarian dengan wajah cemas, yang selalu mereka lihat adalah Cho Kyuhyun yang selalu berjalan santai serta menampilkan wajah ramah. Pria itu memang bukan seorang figuran, tapi diluar sana banyak yang mengaku-ngaku sebagai fans-nya.
Sesampainya di basement, Kyuhyun menaik mobilnya kemudian mengendarinya dengan kecepan penuh. Dia tadi tidak bertanya alamat rumah sakitnya, tapi dia akan mencari rumah sakit yang paling dekat, dan tujuannya adalah Taemin Hospital. Kyuhyun merogoh saku jasnya, mengambil ponselnya dari sana.
“Di ruang nomor berapa dan lantai berapa?” Tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.
“Nomor 5, lantai 12.” Jawab Ahra dari seberang sana. Kyuhyun mematikan ponselnya, kembali fokus pada jalanan.
Sesampainya dirumah sakit, Kyuhyun memarkirkan mobilnya asal. Dirinya sudah terlalu khawatir dengan keadaan Jae In. Bagaimana keadaan gadis itu saat ini? Kyuhyun tidak tahu apa yang terjadi dengan Jae In. Gadis itu pasti memiliki luka cukup parah hingga harus dibawa kemari.
Kyuhyun berlarian menuju lift, beberapa orang sudah masuk kedalam sana. Sebelum pintu lift tertutup, Kyuhyun berusaha lari sekencang-kencangnya hingga berhasil masuk kedalam lift. Napasnya tersenggal-senggal, tangannya memencet nomor 12. Entah kenapa rasanya untuk mencapai lantai yang ditujunya terasa begitu lama. Rambutnya mulai basah karena keringat yang mengalir.
Sesampainya di kamar nomor 5, Kyuhyun mendorong pintu didepannya dengan cepat. Setelahnya Kyuhyun melihat Jae In yang menangis sambil memegangi lengannya. Disamping gadis itu ada Ahra dan Haneul yang menenangkan Jae In. Haneul dengan setia mengusap tangan Jae In, sedangkan Ahra mengusap rambut panjang gadis itu.
Kyuhyun berjalan menghampiri ketiga wanita itu. “Ada apa?” Tanya Kyuhyun sambil membuka jasnya kemudian melemparnya begitu saja keatas sofa. Jae In yang mendengar suara Kyuhyun langsung terdiam, air matanya berhenti mengalir, hanya isakannya saja yang masih terdengar.
Ahra bangun dari duduknya. “Tadi waktu kami survei tempat untuk acara resepsi pernikahan kalian, ada seseorang yang sengaja melukai lengan kiri Jae In. Haneul melihat pria itu, pria yang menggunakan topi, masker hitam dan sebuah pisau lipat ditangannya. Saat itu Haneul tidak bisa mengejar penjahat itu karena dia sedang menggendong Min Woo, dia juga tidak mungkin meninggalkan Jae In ditempat yang jarang dilalui orang.” Ucap Ahra panjang lebar.
Kyuhyun menghela nafasnya pelan. “Eomma sudah datang, sekarang dia berada dikantin bersama Min Woo. Orang tua Jae In sedang dalam perjalanan kemari.” Ucap Ahra lagi yang kemudian keluar dari ruang rawat Jae In, diikuti oleh Haneul dibelakangnya.
Kyuhyun terdiam beberapa saat. Matanya fokus meneliti seluruh tubuh Jae In, memastikan adanya luka lain selain dilengan gadis itu. Setelahnya Kyuhyun tidak menemukan luka lainnya selain dilengan gadis itu. Jae In tidak mengenakan pakaian rumah sakit, gadis itu hanya mengenakan tanktop dan celana jeans yang ia pakai tadi.
“Kenapa tidak mengganti pakaianmu?” Tanya Kyuhyun yang sudah mendudukan dirinya dipinggiran ranjang, menghadap Jae In. Tangannya terulur menghapus sisa air mata yang tadi sempat mengalir dipipi Jae In. Gadis itu tetap diam, Jae In menundukkan wajahnya dengan wajah bersemu merah. Dirinya merasa malu karena tampil begitu terbuka dihadapan Kyuhyun. Padahal nyatanya Kyuhyun sudah pernah melihat Jae In tanpa sehelai benang pun.
“Park Jae In.” Gumam Kyuhyun penuh peringatan.
“Eh.. tadi tidak sempat karena dokter langsung menangani lukaku.” Ucap Jae In kikuk.
“Apa mereka melihatmu seperti ini?” Tanya Kyuhyun sarkastik. Jae In menganggukkan kepalanya pelan.
“Dokter laki-laki?” Tanya Kyuhyun lagi.
“Anni.. Dokternya perempuan begitu juga susternya.” Jawab Jae In cepat.
Raut wajah Kyuhyun yang tadinya terlihat tegang mulai melunak. Tangan pria itu beralih memegang rahang mungil Jae In. “Setelah kejadian ini, aku akan memastikan keselamatanmu. Aku akan memberikan 2 orang bodyguard untukmu.”
Jae In mengerjapkan matanya. Tidak, cukup Jeremy yang mengantar jemputnya, jangan ditambah lagi dengan 2 orang bodyguard.
“Aku tidak menerima penolakkan sayang. Aku tidak ingin kau mengalami kejadian yang lebih mengerikan dari ini arraseo.”
Jae In mengangguk patuh. Apalagi yang dia bisa selain menuruti Kyuhyun. Lagipula dia juga cukup trauma dengan kejadian ini.
Kyuhyun mencondongkan tubuhnya, menarik sebelah tangan Jae In yang tidak terluka lalu membopong gadis itu. Kyuhyun mengambil pakaian rumah sakit yang telah diletakkan diatas meja kecil didepan sofa. Kakinya kembali melangkah kearah kamar mandi. Ahra sengaja memesan ruangan VVIP, hingga semua kebutuhan ada disana. Ruangan itu memiliki satu kamar tidur, satu ruang untuk berkumpul lengkap dengan alat-alat elektronik seperti televisi, satu ruang untuk sang pasien, dan satu kamar mandi.
Sesampainya dikamar mandi Kyuhyun menurunkan tubuh Jae In setelahnya Kyuhyun membuka tanktop beserta celama jeans gadis itu. “Oppa..” cicit Jae In malu.
Kyuhyun tetap diam, kemudian dia membuka seluruh kancing baju rumah sakit itu lalu memakaikannya ditubuh Jae In dengan hati-hati. “Apa kau membawa pakaian dalam?” Tanya Kyuhyun tenang.
Jae In menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah menunduk. Kyuhyun yang melihatnya hanya terkekeh geli. “Eom… Eomma yang akan membawa pakaianku dari rumah.” Guman Jae In gugup.
“Selesai.” Ucap Kyuhyun. “Apa baju ini menyakiti lenganmu? Aku bisa memukulnya jika kau merasa sakit.” Kekeh Kyuhyun.
Jae In cemberut. Sungguh kedatangan Kyuhyun membuat rasa sakitnya menghilang. “Gwaencanha. Lagipula lenganku diperban jadi tidak terasa terlalu sakit.”
“Eoh. Bisa berjalan? Apa perlu aku gendong?”
“Kakiku tidak sakit Oppa.”
Kyuhyun menampilkan wajah cemberutnya. “Kalau begitu tidak ada alasan untuk menggendongmu?”
“Oo.” Jae In mengusap wajah Kyuhyun dengan tangan kanannya lalu tertawa. “Oppa terlihat tua dengan wajah seperti itu.” Ejek Jae In membuat Kyuhyun menajamkan tatapannya.
Gadis itu tidak terpengaruh dengan tatapan Kyuhyun. Jae In malah semakin gencar menusuk-nusuk pipi Kyuhyun dengan jari telunjuknya. Kyuhyun yang kesal, menarik jari tangan Jae In lalu menggigitnya. “Kau harus dihukum karena mengataiku tua.” Desis Kyuhyun. Setelahnya dia mencium kedua pipi Jae In lalu mengecup bibir gadis itu, menempelkan bibirnya disana dengan waktu yang cukup lama.
“Jae In-ah…”
Jae In mendorong bahu Kyuhyun dengan sebelah tangannya. Kepalanya menoleh kearah pintu, itu pasti suara ibunya. Kyuhyun menggenggam tangan Jae In, membawa gadis itu keluar dari sana.
“Astaga apa yang terjadi padamu?” tanya Nuri setelah melihat Jae In keluar dari kamar mandi. Daehwa yang berdiri disamping istrinya menatap Kyuhyun tajam.
“Cho Kyuhyun kau tidak tahu Jae In sedang sakit hah. Kau pasti memaksa Jae In untuk bercinta denganmu lagi!” Daehwa menatap Kyuhyun kesal. Sedangkan pria itu hanya terkekeh mendengar kata Daehwa.
“Appa, kami tidak melakukan ‘itu’ Kyuhyun Oppa hanya membantuku mengganti pakaian.” Gerutu Jae In kesal.
“Benarkah?”
“Aku tidak berbohong.” Gerutu Jae In.
“Yeobo sudahlah, putri kita sedang sakit jangan berbuat ulah disini.” Gerutu Nuri sambil menuntun Jae In agar kembali merebahkan diri diatas ranjang.
“Eomma, aku hanya terluka kecil, tidak perlu khawatir.” Ucap Jae In lembut. Nuri menatap anaknya kesal. “Kau bilang ini luka kecil? Ahra bilang kau kekurangan darah karena darah yang terlalu banyak kau keluarkan. Untungnya rumah sakit ini memiliki stok darah AB, jadi lukamu bisa cepat ditangani.” Jae In mengusap bahu ibunya dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat keatas membentuk sebuah senyuman.
“Aku sudah memantau cctv disana. Orang itu berlari kearah barat, menghilang dibalik tembok yang ia lompati. Aku pikir ini semua ulah Jung Ill Woo, sebaiknya kita hentikan penangkapannya. Aku takut terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini.” gumam Daehwa yang sudah mendudukkan dirinya disofa yang berada disudut ruangan.
Kyuhyun yang duduk disampingnya menggeleng tegas. “Tidak, kita harus menangkapnya. Aku sudah menyuruh beberapa orang suruhanku untuk mencarinya, mereka pasti bisa mendapatkan Jung Ill Woo dalam waktu 24 jam. Masalah keselamatan Jae In dan keluargamu aku akan menyuruh bodyguard untuk menjaga kalian.” Ucap Kyuhyun gigih.
Daehwa tersenyum bangga, tangannya memukul bahu Kyuhyun. “Ayahmu pasti sangat bangga memiliki anak sepertimu.” Kyuhyun tersenyum. “Itu tujuan utamaku, membuat Appa bangga melihatku dari atas sana.”
“Permisi waktunya nona Jae In untuk mengganti perban.”
Suara lembut yang berasal dari pintu ruang rawat Jae In membuat mereka menglihkan matanya. Jae In tersenyum melihat suster itu. Kim Yoo A seorang suster yang sudah bekerja selama 10 tahun di rumah sakit Taemin. Umur suster itu sudah menginjak umur 30 tahun, tapi wajahnya masih terlihat sangat muda.
“Eonnie.”
Suster Yoo A tersenyum tipis melihat wajah Jae In yang senang. Aneh padahal gadis itu sedang menahan sakit dilengannya, tapi Jae In masih bisa tersenyum lebar dihadapan orang lain.
“Apa kita menggantinya dikamar mandi saja?” tanya Yoo A setelah meletakkan perlengkapan obat-obatan diatas nakas. “Tidak perlu, biarkan para lelaki itu keluar. Yeobo, Cho Kyuhyun keluarlah.” Tatapan Nuri beralih menatap suaminya dan Kyuhyun.
“Tidak aku kan calon suaminya.”
“Tidak aku kan ayahnya.”
Kata-kata kedua lelaki itu berbarengan. Yoo A terkekeh pelan begitu pun Jae In, tapi Nuri mendelikkan matanya, dan mengangkat tangannya, bersiap memukul kedua pria itu. Daehwa dan Kyuhyun langsung beranjak dari duduknya, saling berlarian keluar ruangan.
Yoo A mulai membuka perban yang melilit dilengan kiri Jae In sebelumnya dia membuka baju rumah sakit yang dipakai Jae In. Sesekali wanita itu meniupnya pelan, takut jika Jae In merasa  sakit karenanya. Jae In meringis pelan, saat perban itu terbuka semua, lengannya harus dijahit sebanyak 11 jahitan karena dalamnya luka itu.
Yoo A membersihkan luka itu dengan air hangat, mengusapnya pelan setelahnya dia meneteskan obat merah lalu kembali membelit lengan Jae In dengan perban yang baru. Nuri yang berdiri disamping putrinya mengusap kepala Jae In yang mulai menangis karena rasa perih yang dialaminya. “Akuu… Tidak ingin menangiss.. hiks tapi ini sa.. kit.” Yoo A mengusap lengan Jae In yang lain. Jae In menangis sambil memegangi lengannya. Pikiran Jae In kembali berputar saat kejadian ditaman tadi. Saat pertama kali dia merasakan sebuah benda tajam menyentuh lengannya lalu menggeseknya dengan begitu kencang hingga beberapa detik kemudian darah segar mengalir dari lengannya. Jae In ingin menghilangkan kejadian tadi dipikirannya, tapi tidak bisa.
“Hush, menangis saja jika kau merasa tenang setelahnya.” Ucap nuri sambil memakaikan kembali baju Jae In. Yoo A tersenyum lalu mengeluarkan sebuah spidol dari saku jasnya. Tangannya terluru kearah lengan Jae In yang terluka lalu membuat sebuah tulisan disana.
“Supaya kau tidak merasa sakit lagi.” Gumam Yoo A.
Jae In diam, dia melihat lengannya dan melihat sebuah gambar orang tersenyum. Jae In mendesis kesal lalu menatap Yoo A. “Eonnie, aku bukan anak kecil.”
“Benarkah? Tadi kau menangis.” Yoo A menaikkan sebelah alisnya menggoda gadis itu.
“Itu tadi, sekarang tidak.” Elak Jae In membuat Yoo A tertawa pelan. “Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa lagi Jae In-ah.”
Jae In menatap pintu didepannya, daehwa dan Kyuhyun kembali masuk dengan sebuah nampan berisi makanan ditangan Kyuhyun. Pria itu berjalan menghampiri Jae In. menggeser sebuah kursi didekat nakas agar dekat dengan ranjang. Jae In mengernyitkan hidungnya tidak suka. Makanan yang dibawa Kyuhyun adalah bubur, salah satu makanan yang tidak disukai Jae In.
Kyuhyun mengambil sesendok bubur, meniupnya pelan kemudian menyodorkan sendok tersebut kemulut Jae In. Jae In tidak membuka mulutnya, matanya menatap Kyuhyun. “Makan.” Ucap Kyuhyun tegas. Jae In menggeleng pelan, dia ingin meminta pertolongan ibunya agar Kyuhyun berhenti menyodorkan makanan itu. Sialnya Nuri dan Daehwa telah menghilang dari sana. Kemana perginya dua orang itu?
“Park Jae In makan atau kau makan dengan mulutku!” desis Kyuhyun yang membuat Jae In bingung. Makan dengan mulut Kyuhyun? berarti pria itu yang memakan makanannya? Pikir Jae In senang.
“Kalau begitu Oppa saja.”
“Baiklah kau yang meminta.”
Kyuhyun memasukkan sesuap bubur kedalam mulutnya. Tangannya menarik tengkuk Jae In agar mendekat padanya. Jae In yang terkejut langsung mendorong bahu Kyuhyun dengan sebelah tangannya. “A..Apa yang Oppa lakukan? Telan dulu buburnya jika ingin menciumku.” Gumam Jae In dengan wajah tertunduk. Kyuhyun menahan tawanya melihat wajah panik Jae In. Hei dia bukannya ingin mencium Jae In, tapi menyuapi bubur itu dengan mulutnya. Tapi apa yang dipikirkan gadis itu? Jae In mengira jika dirinya akan menciumnya.
“Bodoh! Kau tidak akan mengerti jika kujelaskan. Makan.”
“Aku tidak mau Oppa.”
Kyuhyun menghela nafasnya pelan, tangannya kembali meletakkan mangkuk bubur itu diatas nampan. “Jika kau sembuh aku akan menuruti permintaanmu. Apa yang kau inginkan?” bujuk Kyuhyun. Jae In diam memutar bola mata coklatnya kesegala arah, memikirkan keinginannya.
“Ah aku dapat. Aku ingin… Memelihara ular.” Seru Jae In semangat. Kyuhyun hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Matanya melotot ngeri membayangkan hewan bersisik itu.
“Astaga tidak Park Jae In! untuk yang itu aku tidak ingin mengabulkannya.”
Jae In cemberut kesal. “kalau begitu aku tidak ingin makan selamanya!” ketusnya tanpa pikir panjang. “Coba saja, aku yakin kau tidak akan kuat jika melihat makanan enak.”
“Oppa..”
“Tidak!”
“Ya Ya Ya…”
“Tidak!”
“Oppa tidak mencintaiku? Berarti aku bisa mencari pria lain yang lebih tampan dan kaya darimu.”
“Astaga Park Jae In. Baiklah hanya seekor ular yang berukuran kecil.”
“Yeeeyy…”
“Makan.”
“Arraseo.”
To Be Continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: