Young, Wild & Free Part 3

0
Young, Wild & Free Part 3 ff nc kyuhyun
Author             : MyLovEvil
Title                 : Young, Wild, & Free
Cast                 : Cho Kyuhyun, Park Jae In
Category         : NC-17, Romance, Chapter
Desclaimer      :  . Eittss yang liat jangan lupa tinggalkan jejak ya, aku gak terlalu maksa sih.. BAGI YANG MAU AJA 🙂 Satu lagi, ff ini murni dari ide saya sendiri ^^

Sorry For Typo’s and Happy Reading
“Apa ada hantu?” Gumam Kyuhyun geli.
Jae In menggelengkan kepalanya. “Sekarang sudah malam, dan kemungkinan besar banyak hantu-hantu yang berkeliaran diruangan sebesar ini.”
Kyuhyun pura-pura menampilkan wajah ketakutan. Setelahnya dia beranjak dari duduknya, berlari pelan, keluar dari dapur. Jae In yang melihat Kyuhyun lari, langsung melompat dari duduknya. Jae In berlari cepat, menyamakan langkah kaki Kyuhyun.
“Oppa….” Pekik Jae In ketakutan.
Kyuhyun menghentikan larinya. Dia tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah memerah Jae In. Kyuhyun menerima pelukkan Jae In dengan senang hati. Gadis itu mengeratkan pelukkannya sambil membenamkan wajahnya disela-sela leher Kyuhyun.
“Tenanglah, disini tidak ada hantu.” Bisik Kyuhyun, dengan sebelah tangan yang mengusap punggung Jae In, dan Jae In merasa nyaman dengan usapan tangan Kyuhyun di punggungnya.
“Apa yang membuatmu takut?” tanya Kyuhyun.
Jae In mendongakkan wajahnya. “Tadi Haneul mengirimiku foto hantu mulut robek. Dia bilang, dia sedang menonton filmnya di rumah.”
Kyuhyun tersenyum tipis. Dengan mudahnya dia membawa tubuh Jae In kedalam gendongannya. “Aku akan menemanimu malam ini. Ayo kita pulang.”
Young, Wild, & Free
Kyuhyun benar-benar menepati janjinya. Semalaman pria itu menemaninya hingga tertidur lelap. Sosok Kyuhyun yang dewasa membuat Jae In nyaman. Dia jadi merindukan kedua orang tuanya. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Ibu tirinya, Lee Nuri persis seperti ibu kandungnya. Mereka selalu mengikuti kemana pun ayah pergi. Dari cerita kepala pelayan di rumahnya. Park Eun-Na, ibu kandungnya meninggal saat umurnya 3 tahun. Saat itu mobil yang dikendarai ayahnya mengalami kecelakaan di jalan tol hingga menewaskan ibunya. Jae In tidak ingat betul wajah ibunya. Tapi, melalui mimpinya dia selalu bertemu dengan seorang wanita cantik yang mengaku ibunya. Kejadian itu sudah lama terjadi, sekarang dia sudah tidak pernah memimpikan sosok ibunya lagi.
Wajahnya memang sangat mirip dengan mendiang Eun-Na. Kata Park Daehwa wajah Jae In benar-benar menuruni kecantikkan Park Eun-Na. Katanya, sifat Park Daehwa sedikit berubah setelah kematian istrinya. Yang tadinya lemah lembut berubah menjadi lebih keras,  suka mabuk-mabukkan, melakukan cinta satu malam dengan pelacur-pelacur bayaran, hingga akhirnya bertemu dengan Lee Nuri, janda beranak satu. Ayahnya menemukan sosok ibunya didalam diri wanita paruh baya itu. Sifat keduanya hampir sama, dan pada saat itulah ayahnya mulai jatuh cinta lagi.
Walaupun sudah menikah lagi, ayahnya makin sering meninggalkan rumah. Dia bilang, jika berada di rumah selalu mengingatkan dirinya akan mendiang sang istri. Jae In tahu bagaimana kesedihan ayahnya, karena dia pun merasakannya. Tapi setidaknya ada yang menggantikan ibunya. Lee Nuri perempuan yang sangat baik. Jika wanita itu ada di rumah, beliau sangat sayang kepadanya. Waktu dirinya mulai masuk sekolah, dengan sabarnya Lee Nuri mengajarinya mengerjakan pekerjaan rumah, selalu membuatkan bekal sekolah, menemaninya bermain.
Belum lagi ada seorang kakak yang selalu menemaninya. Dave adalah sosok kakak idaman bagi Jae In. Sikap lemah lembut Dave membuat Jae In sangat bergantung pada pria itu. sejak kecil Park Daehwa selalu melarang Jae In bermain keluar rumah, apalagi hanya sendirian tanpa ada yang mengawasinya. Dan pada saat itulah, Jae In sedikit susah bergaul. Ayahnya sangat over protektif, jika Jae In berteman dengan seseorang, ayahnya akan langsung mencari informasi tentang orang itu, persis seperti Dave. mungkin sifat Dave menuruni ayah tirinya. Semoga saja Kyuhyun tidak seperti dave maupun ayahnya.
Oh iya sekarang waktunya kuliah!! Astaga Park Jae In apa yang kau pikirkan! Kenapa malah melamun diatas tempat tidur!!!
“Sudah bangun?”
Jae In yang tadinya berlarian kesana-kemari langsung berhenti saat mendengar suara Kyuhyun. Pria itu sudah rapih dengan pakaian kerjanya, kemeja putih, celana hitam, dan jas hitam dilengannya.
“Eh… aku terlambat.” Gumamnya yang mulai panik lagi. Jae In berlarian ke kamar mandi tanpa mengambil handuk. Kyuhyun yang melihatnya terkekeh geli. Dia meletakkan jas-nya diatas ranjang lalu melangkahkan kakinya ke lemari putih besar mengambil handuk dari sana. Setelahnya dia melangkahkan kakinya sampai didepan pintu kamar mandi. Tanpa mengetuk pintu, Kyuhyun masuk dan melihat Jae In yang terpekik kaget.
“Kau melupakan handukmu, sayang.” Kekeh Kyuhyun sambil menarik tangan Jae In lalu meletakkan handuk tersebut disana. Jae In menundukkan wajahnya lalu mendongak, menatap Kyuhyun dengan alis mengkerut.
“Oppa masuk tanpa mengetuk pintu. Apa kau melihatku…” gumam Jae In tanpa ingin melanjutkan suaranya.
Kyuhyun mengacak rambut Jae In gemas. “Kau masih mengenakan baju, apa yang harus kulihat?” ujar Kyuhyun sambil menaikkan sebelah alis matanya.
“Kecuali… Celana dalam hello kitty-mu hahaha.” Tawa Kyuhyun meledak. Sebelum Jae In melemparinya dengan benda-benda disekitar, Kyuhyun berlari keluar. Jae In kembali menundukkan wajahnya. Bagaimana Kyuhyun tahu masalah celana dalamnya? Astaga, jadi dia sudah melepas celananya??
“OPPAAA….” teriak Jae In histeris, dan gadis itu mendengar gelak tawa Kyuhyun yang membahana di kamar.
***
“Kau masih marah?” goda Kyuhyun dengan jari telunjuknya yang mencolek dagu Jae In. Gadis itu tetap pada pendiriannya. Tetap diam walau Kyuhyun sudah mencoba menggodanya. Nafsu makannya hilang dalam sekejap karena mendapati sikap jahil Kyuhyun. Sebenarnya berapa banyak kepribadian pria itu yang tidak diketahui Jae In? Dari yang tegas penuh karisma, berhati dingin, lemah lembut, sampai jahil. Sifat apalagi yang tidak Jae In ketahui. Jae In memang tidak suka dijahili, tapi dia sendiri sangat suka menjahili orang, terlebih lagi pada Haneul. Mungkin ini karma untuknya.
“Aku akan membelikanmu banyak boneka jika kau tidak marah..”
Dalam sekejap mata, wajah Jae In berubah sumringah. Pendiriannya selalu gagal jika sudah seperti ini, dibujuk dengan barang-barang kesukaannya maka pada saat itu juga hatinya luluh.
“Really? Aku ingin boneka panda yang besar.”
Kyuhyun mengulum senyumnya karena berhasil membuat mood Jae In berubah. “Okey, aku akan membelikannya untukmu. Aku bisa membelikanmu seratus jika kau mau.”
Jae In menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. “Kamarku tidak akan muat untuk menampung semuanya.”
“Aku bisa membuatkan ruangan khusus untuk boneka-bonekamu.” Ucap Kyuhyun serius.
“Aku hanya ingin satu yang besar.” Jawab Jae In.
“Baiklah satu boneka panda yang besar untukmu, Honey.” Kekeh Kyuhyun.
Jae In mengangguk semangat dan mulai memakan makanannya dengan lahap. Dia melirik jam tangannya sekilas, beberapa menit lagi waktunya kuliah dan dia masih melahap makanannya dengan tenang. Kau dalam masalah besar Park Jae In!
Kyuhyun mencekal lengan Jae In saat dilihatnya gadis itu mulai beranjak dengan tergesa-gesa. Dia tahu soal keterlambatan gadis itu dan dengan sengaja pula Kyuhyun tidak memberitahu Jae In. Kyuhyun hanya ingin Jae In memakan sarapannya sampai kenyang, tapi gadis itu sudah sadar dengan waktu sempitnya.
“Aku yang mengantarmu.” Ujar Kyuhyun tak terbantahkan. Jae In pasrah saja saat Kyuhyun menarik tangannya. Toh waktunya sangat sempit, Jae In yakin Kyuhyun pasti bisa membawanya kesana tak kurang dari sepuluh menit, padahal jarak sebenarnya adalah 20 menit.
Jae In benar. Kyuhyun sampai ditempat kuliahnya tak lebih dari sepuluh menit. Ini semua berkat mulutnya yang terus-terusan menyuruh Kyuhyun mempercepat laju mobilnya. Tadinya pria itu tidak mengindahkan permintaan Jae In, setelah dia berteriak tepat ditelinga Kyuhyun, Pria itu langsung menuruti permintaannya.
Sekarang lihatlah bagaimana wajah masam Kyuhyun. Oh ayolah dirinya sudah sangat terlambat dan ada satu lagi masalah yang muncul.
“Oppa marah?” Jae In menjauhi rasa takutnya karena melihat rahang mengeras Kyuhyun, terlebih lagi tatapan tajam yang fokus menatap kedepan membuat Jae In bergidik ngeri.
“Oppa…” Rengeknya.
“Aku tidak tahu jika kau sangat sensitif sekali.” Lanjut Jae In kesal.
Kyuhyun mengalihkan tatapannya. Menatap Jae In dengan sebelah alis di naikkan keatas. Jae In yang melihat itu langsung mengalihkan tatapannya. Dengan cepat dia membuka safety belt-nya dan pintu disampingnya.
“Maafkan ulahku tadi. Aku tahu Oppa marah karena aku berteriak ditelinga Oppa. Aku benar-benar minta maaf.” Gumam Jae In dengan wajah yang menunduk takut. gadis itu tidak menyadari sudut bibir Kyuhyun tertarik atas hingga menampilkan sebuah senyuman tipis.
Tangan Kyuhyun menarik dagu Jae In hingga mata gadis itu menatap matanya. Setelahnya Kyuhyun memberikan sebuah kecupan singkat dibibir Jae In. Mata gadis itu mengerjap lucu dengan sebelah tangan yang memegangi bibirnya, seolah-olah Kyuhyun baru saja mencuri ciuman pertamanya. Nyatanya ciuman pertama Jae In sudah diambil Kyuhyun beberapa hari yang lalu.
“Belajar yang benar, Honey.” Ujar Kyuhyun sambil menghadiahi sebuah kecupan singkat di dahi Jae In.
“Ngomong-ngomong waktu kuliahmu hampir tiba.”
Dan Jae In melompat turun dari mobil Kyuhyun tanpa memperdulikan Kyuhyun yang menganga ditempat karena melihat bagaimana pedulinya Jae In terhadap pelajaran dari pada dengan Kyuhyun. Oh Jae In harus menerima balasannya nanti karena berani mengabaikan Kyuhyun!
***
Jae In berlari sekencang mungkin. Oh tidak! Bisa gawat kalau sang dosen telah tiba dan dirinya baru saja sampai. Mungkin jika dosen itu Hyena, Jae In masih bisa mengikuti pelajaran. Lalu kalau dosen itu pria dengan perut buncit atau ibu-ibu dengan rambut disanggul bagaimana nasibnya??
Jae In menggelengkan kepalanya memikirkan kejadian nanti, tangannya memegang kedua pipinya sambil meringis, sedangkan kakinya tetap melangkah cepat menuju kelasnya. Jae In tidak fokus pada jalanan didepannya. Tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang hingga menyebabkan dia terjungkal kebelakang dengan bokongnya yang menyentuh lantai duluan.
“Akhh… Appo….” Ringisnya sambil memegangi bokongnya.
“Astaga! Kau tidak apa-apa?” ucap seorang pria yang berjongkok didepannya.
Jae In mendongak dengan kesal. Jae In tersentak kaget melihat seorang pria yang kemarin duduk didepannya waktu di kantin. “Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu lagi.
Jae In mengangguk gugup. Matanya melirik tangan pria itu yang terulur kearahnya. Dengan ragu Jae In menerima uluran tangan pria itu.
“Gamsahamnida.” Gumamnya.
“Park Jae In!!”
Belum hilang rasa sakit di bokongnya, Jae In terlanjur mendengar geraman seseorang yang sangat dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Kyuhyun. Dengan pelan Jae In memutar tubuhnya, dia melihat Kyuhyun dengan  tas ranselnya di tangan pria itu. Oh jadi dia lupa membawa tasnya? Dasar bodoh!!
“Oppa…” Gumamnya.
Setiap langkah Kyuhyun membuat jantung Jae In bergedup kencang. Entah karena takut dengan tatapan tajam dan rahang mengeras itu atau karena ketampanan Kyuhyun. Tatapan tajam pria itu seolah-olah menghipnotisnya. Satu lagi kesukaan Jae In akan diri Kyuhyun, matanya.
Jae In tersentak kaget saat Kyuhyun mengangkat tubuhnya, membuat kedua tangannya dengan cepat mengalung di leher pria itu. Jae In pasrah saja, apa yang bisa dilakukannya? Para mahasiswa maupun mahasiswi disana sudah terlanjur melihat kejadian ini. Jae In mendengar beberapa pekikkan kegirangan para gadis disana karena ketampanan Kyuhyun. Belum lagi para gadis jurusan administrasi, mereka pasti sangat mengenal Kyuhyun. Yah, Kyuhyun merupakan salah satu orang tersukses se-asia, dan pria itu pantas untuk dijadikan panutan bag mereka karena kesuksesannya.
“Jangan pernah menemui gadisku lagi tuan!!” Desis Kyuhyun pada pria yang menolong Jae In tadi. Setelah kejadian ini, Kyuhyun mungkin saja akan mencarikan beberapa bodyguard untuk melindungi Jae In. Kyuhyun bisa menjadi lebih protektif dibanding dave dan ayah gadis itu.
***
BRAKK
“Apa yang Oppa pikirkan? Kenapa Oppa menyuruh Jeremy untuk menjagaku? Kau tahu bagaimana malunya aku.. mereka bilang aku seperti bocah kecil yang harus dijaga oleh ayahnya! Aaaah Oppa membuatku kesal!”
Kyuhyun yang saat itu sedang sibuk dengan berkas-berkas tentang pengeluaran biaya untuk membuat sebuah resort terpaksa harus menunda pekerjaannya. Padahal sebentar lagi pekerjaannya selesai dan Jae In datang dengan wajah memerah menahan marah. Kyuhyun harus ekstra sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan Jae In. Dia tahu bagaimana keluarga Park mendidik anak gadisnya ini. Yang Kyuhyun dengar dari Dave, Jae In biasa dirumah sejak kecil, pergi hanya disaat ada tugas kelompok. Dave maupun Park Daehwa tidak memperbolekan Jae In pacaran diumurnya yang masih muda. Bahkan Jae In baru diperbolehkan memegang ponsel sendiri diumurnya yang ke 17 tahun.
“Aku hanya ingin menjagamu.” Jawab Kyuhyun tenang.
“Aku bukan lagi anak kecil yang harus dijaga. Aku bisa menjaga diriku sendiri!” gerutu Jae In.
“Aku tahu kau sudah besar, umurmu tidak lagi muda…”
“Kau mengataiku tua???” Cerocos Jae In.
Kyuhyun mendesis geram, kedua tangannya terkepal erat berusaha menahan emosinya. Tidak ada yang berani berteriak marah padanya, kecuali ibu dan ayahnya. Dosa apa yang diperbuat Kyuhyun hingga dirinya menyukai gadis labil seperti Jae In.
“Aku tidak mengataimu tua?” Jawab Kyuhyun polos.
“Tapi dari kata-katamu seperti itu!! Kau pikir kau masih muda?”
“Kau lupa keinginanmu tadi pagi?” Tanya Kyuhyun mengalihkan topik permasalahan. Pria itu berusaha menahan senyumnya saat melihat kerutan didahi Jae In. Jae In-nya mulai penasaran.
“Boneka panda besar?”
Mata Jae In berbinar-binar senang. Mengingat keinginannya akan boneka panda besar untuk menemaninya tidur. Dalam sekejap gadis itu lupa akan kemarahannya.
“Tunggu beberapa menit, sebentar lagi pekerjaanku selesai.”
Jae In mengangguk semangat. Dia membiarkan Kyuhyun kembali ke tempat duduknya. Saking tidak sabarnya, Jae In mengikuti Kyuhyun, berdiri disamping pria itu dengan tatapan penuh keingin tahuan. Kyuhyun tersenyum lebar, tangannya menarik pinggang Jae In agar duduk dipangkuannya. Gadis itu duduk menyamping dengan tatapan yang fokus pada sebuah kertas ditangan Kyuhyun.
“Apa ini?” Tanya Jae In dengan tangannya yang usil membolak-balikkan kertas ditangan Kyuhyun.
“Aku yakin kau tidak akan mengerti setelah kujelaskan secara rinci.” Jawab Kyuhyun sambil mengunci pergerakkan tangan Jae In dengan sebelah tangannya. Jae In mengerucutkan bibirnya kesal. Kyuhyun memang benar. Dia tidak akan mengerti walau dijelaskan secara rinci. Dibaca saja Jae In tetap tidak mengerti. Dia tidak seperti ayahnya atau pun Dave yang hebat dalam urusan berbisnis.
“Orang tuamu kembali ke Korea nanti malam dan aku harus membawamu pulang kerumah.” Gumam Kyuhyun dengan tatapan yang fokus pada kertas di tangannya. Jae In menghela napasnya pelan. Sebulan lebih ayah dan ibu tirinya meninggalkan rumah. Yah Jae In sudah terbiasa ditinggal sendirian dirumah dengan Dave yang selalu menemaninya.
“Aku tidak mau pulang.”
Kyuhyun melipat kertas ditangannya lalu meletakkannya kembali kedalam amplop. Kedua tangannya memeluk pinggang Jae In, menarik gadis itu semakin merapat pada tubuhnya.
“Apa alasanmu?” gumam Kyuhyun tajam.
Jae In menundukkan wajahnya walaupun percuma karena dia masih bisa melihat tatapan tajam Kyuhyun melalui sudut matanya.
“Tidak ada.” Jawab Jae In sedikit gugup. Kyuhyun meremas pinggang Jae In, memaksa gadis itu untuk bicara jujur.
“Sekarang aku tidak terlalu dekat dengan mereka.” Jawab Jae In cepat, sebelum Kyuhyun murka.
“Kenapa?”
Jae In melirik Kyuhyun sedikit kesal, tapi apa yang bisa diperbuatnya? Badannya terlalu kecil untuk Kyuhyun. Jae In takut salah sedikit bicara, mungkin saja Kyuhyun akan meremukkan tubuhnya jika dia salah bicara.
“Kebiasaan mereka meninggalkan rumah, mungkin…”
“Hanya itu?”
“Ya… Oh aku lupa! Kau bilang ingin membelikanku boneka panda besar! Ayo kita beli!!”
Kyuhyun tersenyum tipis melihat kedua mata bening Jae In yang berbinar-binar. “Baik, Ayo kita beli!” ujar Kyuhyun sambil mengangkat tubuh Jae In tinggi-tinggi, membuat gadis itu memekik ketakutan.
***
Jae In memeluk boneka panda yang baru saja dibelinya dengan Kyuhyun, sedangkan sebelah tangannya digenggam Kyuhyun sangat erat. Gadis itu sengaja memaksa Kyuhyun untuk tidak mengendari mobil. Lagi pula jarak dari gedung kantor milik Kyuhyun tidak begitu jauh dengan toko boneka. Untungnya Kyuhyun tidak menolak permintaannya, Kyuhyun dengan senang hati langsung menyetujui permintaan Jae In tanpa membantah! Kejadian langka…
Dengan ukuran boneka yang lebih besar dari badannya sendiri, membuat Jae In kesusahan melihat jalanan didepan. Beruntungnya Kyuhyun menuntunnya dengan hati-hati. Jae In tahu beberapa pasang mata jelas-jelas menatap Kyuhyun penuh kagum, terlebih lagi para gadis seumurannya. Tapi Jae In masa bodoh dengan mereka, yang penting Kyuhyun-nya tidak melirik para gadis tersebut. Tatapan pria itu fokus pada jalanan didepan, lengkap dengan raut wajah dinginnya.
“Sudah kubilang, tidak seharusnya kita berjalan kaki!!”
Jae In menoleh cepat lalu menggelengkan kepalanya keras kepala. “Aku tidak mau menggunakan mobil mewahmu, Oppa!”
Kyuhyun mendengus kesal. “Setidaknya kita bisa menyuruh Jeremy untuk membawa bonekamu.”
“Tidak mau!” ketus Jae In. Kyuhyun menghela napasnya. Percuma saja melawan gadis keras kepala seperti Jae In.
Tak terasa, mereka sudah sampai dikantor Kyuhyun. Kyuhyun menarik boneka panda dalam pelukan Jae In, lalu membawanya. Sedangkan sebelah tangannya tetap menggenggam tangan mungil Jae In. Membawa gadis itu menuju parkiran.
Kyuhyun meletakkan boneka Jae In di belakang kursi kemudi. Setelahnya dia membuka pintu untuk Jae In. Gadis itu masuk ke dalam mobil dengan riangnya. Sebelah tangannya mengusap kepala boneka pandanya. “Selamat datang, Pandaku ckck.”
Kyuhyun yang baru saja masuk tersenyum tipis melihat tingkah Jae In. Dia memakai safety belt-nya kemudian beralih pada Jae In. Jae In menatap Kyuhyun dengan cengirannya.
“Oppa…” panggil Jae In.
Kyuhyun menoleh pelan, dia mengangkat sebelah alis matanya karena melihat senyum Jae In. Tiba-tiba saja kedua tangan mungil Jae In memegang rahangnya.
Chu
Jae In memundurkan wajahnya dengan sebelah tangan yang memegangi bibirnya. Kedua pipinya merona merah. Apalagi dengan diamnya Kyuhyun membuat Jae In semakin salah tingkah. Gadis itu lebih memilih mengalihkan tatapannya daripada harus melihat wajah Kyuhyun. Jae In takut pria itu marah dengan kelancangannya.
“Apa tadi itu adalah ucapan terima kasihmu?” goda Kyuhyun yang mulai melajukan mobilnya. Pipi Jae In semakin merona mendengar godaan Kyuhyun.
***
“Eomma…”
Jae In meninggalkan Kyuhyun yang kesusahan membawa boneka pandanya. Dalam waktu beberapa jam, Kyuhyun pindah profesi sebagai pelayan untuk Jae In. Beruntungnya gadis itu karena tidak mendapatkan bentakkan marah dari Kyuhyun.
“Jae In, Sayang….”
Lee Nuri memeluk Jae In begitu eratnya. Rasa rindu yang selama sebulan ini dipendamnya hilang sudah karena melihat anak gadis-nya. Walaupun Jae In anak tirinya, Nuri memperlakukan Jae In dengan baik, beliau sangat menyayangi Jae In seperti anaknya sendiri. Apalagi semenjak Dave beranjak dewasa, Nuri sangat ingin memiliki anak perempuan dan keinginannya tercapai.
Kyuhyun meletakkan boneka panda besar tersebut di sebuah sofa. Tanpa disuruh sang empunya, ia duduk begitu saja dihadapan Tuan Park yang fokus menatap anak serta istrinya. Hati pria paruh baya itu terasa hangat, hanya karena melihat keakraban Jae In dan Nuri. Park Daehwa sungguh bersyukur mendapatkan pengganti seorang ibu untuk Jae In. Yah walaupun dihatinya masih diisi oleh mendiang istrinya dahulu. Setidaknya dia sedikit mencintai Lee Nuri, dan wanita itu tidak mempermasalahkan hal tersebut selama keluarga kecilnya hidup bahagia.
“Appa…”
Jae In beralih pada ayahnya. Gadis itu melompat duduk disamping sang ayah, memeluk pria paruh baya itu dari samping. Walaupun sosok Park Daehwa yang tegas, dan Jae In sering sekali mendapati kemurkaan sang ayah, gadis itu tidak takut sedikit pun pada ayahnya. Jae In tahu, ayahnya berperilaku seperti itu hanya karena ingin menutupi rasa sedihnya pasca meninggalnya Park Eun-Na. Jae In pun merasakan hal yang sama seperti Daehwa. Bedanya, Jae In menutupi itu semua dengan raut wajah bahagianya. Dia hanya tidak ingin terlihat sedih dihadapan siapa pun, apalagi Dave. Pria itu bisa jadi lebih cerewet dibandingkan ibunya sendiri jika melihat adiknya murung.
“Kelakuannya memang seperti itu. Kuharap kau memakluminya.”
Kyuhyun mengalihkan tatapannya pada Nuri yang tersenyum ramah padanya. Dia membalas senyuman wanita paruh baya itu, kemudian menganggukkan kepalanya. Dia sangat memaklumi sifat Jae In yang manja.
“Tidak biasanya Jae In dekat dengan sahabat Dave? Dan sekarang aku melihat kau bersama putriku. Dave sudah menceritakan semuanya pada kami.”
Kyuhyun terdiam, menyimak perkataan Park Daehwa. Mendengarkan pembicaraan pria paruh baya itu dengan baik.
“Yeobo… bisa kau antarkan Jae In kekamarnya.”
Lee Nuri menganggukkan kepalanya lalu menarik lengan Jae In pelan. Gadis itu sedikit tak terima dengan usiran halus ayahnya. Sepanjang perjalanan menaiki tangga, Jae In menggerutu kesal disamping ibunya.
Kyuhyun maupun Daehwa menatap kepergian Jae In dan Nuri. Setelahnya Daehwa mengalihkan matanya, menatap Kyuhyun dengan tatapan menilai.
“Apa kau serius ingin menikahi putriku?”
“Ya.” Jawab Kyuhyun tegas.
Park Daehwa berdeham pelan sebelum kembali berbicara. “Apa kau bisa menunggu selama dua tahun?”
Kyuhyun mengedikkan kedua bahunya tak acuh. “Kurasa, dua tahun bukan waktu yang lama. Lagipula aku harus bisa membuat Jae In jatuh cinta kepadaku selama dua tahun itu.”
Daehwa tertawa pelan. “Yayaya kau benar anak muda. Putriku masih sangat polos, belum mengerti apa artinya cinta. Aku merasa bersalah padanya karena kepolosannya. Dave pernah bilang kalau Jae In memintanya untuk melakukan sebuah hubungan one night stand. Saat itu aku sangat terkejut, tetapi Dave melanjutkan perkataannya kalau kau berhasil membujuk Jae In untuk tidak meminta hal itu lagi. Aku sangat berterima kasih padamu, Cho Kyuhyun.”
Kyuhyun tertawa pelan mengingat pertemuan pertamanya dengan sifat Jae In yang kelewat polos.
“Apa kau tidak ingin mengadakan acara pertunangan?”
Kyuhyun merenung sejenak. Dia bingung, jika dirinya mengadakan acara pertunangan, jelas-jelas Kyuhyun belum mengetahui isi hati Jae In. Sepertinya gadis itu masih menganggap dirinya sebagai seorang kakak, dan Kyuhyun harus bisa membuat Jae In memiliki perasaan lain selain kasih sayang kepadanya.
“Dua bulan lagi akan ada acara peresmian sebuah resort di Jeju, kurasa itu waktu yang tepat untuk acara pertunanganmu dengan Jae In.”
Kyuhyun menghela napasnya. “Aku takut dia menolakku.” Gumam pesimis.
Daehwa tertawa keras melihat raut wajah sedih Kyuhyun. Tidak biasanya dia melihat wajah Kyuhyun seperti sekarang. Daehwa sangat mengenal keluarga Cho, terlebih lagi anak dari Cho Yeung Hwan ini. Kyuhyun sangat dekat dengan Daehwa, biasanya pria itu selalu mencurahkan isi hatinya pada Daehwa dibandingkan ayahnya sendiri.
“Aku bisa membantumu, Kyuhyun-ah. Lagipula Jae In anakku, kenapa kau harus merasa takut ditolak? Aku bisa membicarakan hal ini padanya baik-baik.”
Kyuhyun tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepalanya. Tak lama seorang pelayan membawakan dua cangkir kopi hangat lalu meletakkan diatas meja.
“gomawo Jung-ah.” Ucap Daehwa pada kepala pelayan yang baru saja mengantarkan minuman.
“Kapan Dave pulang dari Venice? Anak itu tidak memberitahuku soal kepulangannya nanti?”
Kyuhyun meneguk minumannya. Membiarkan rasa pahit kopi tersebut meluncur turun melewati tenggorokkannya. “Aku belum menghubunginya lagi semenjak dia pergi.”
Daehwa mengangguk pelan. Sebelah tangannya mengambil koran yang tadi sempat dibaca olehnya. Pria paruh baya itu membenarkan letak kaca mata-nya sebelum mulai membaca. “Aku ingin mengundang keluargamu makan malam dirumahku, apa bisa?” ujar Daehwa tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas buram ditangannya.
Kyuhyun berpikir sebentar sebelum meng-iyakan perkataan Daehwa. “ Bisa.” Jawab Kyuhyun mantab.
“Cho Kyuhyun…”
Kyuhyun mengalihkan tatapannya pada Nuri yang berjalan menuruni tangga rumah. Wanita paruh baya yang masih terlihat anggun itu mengumbar senyumnya. “Jae In ingin bertemu denganmu.”
Kyuhyun mengulum senyumnya. Sebelum pergi menghampiri Jae In, dia membungkukkan sedikit badannya, pamit untuk pergi.
Ssesampainya dikamar Jae In. Tanpa mengetuk pintu, Kyuhyun masuk dengan langkah yang pelan. Niatnya ingin membuat Jae In kaget, tapi gadis itu sudah menolehkan kepalanya.
“Oppa… kemari” Panggil Jae In yang menyuruh Kyuhyun untuk menghampirinya.
Kyuhyun meletakkan kedua tangannya didepan dada dengan tatapan yang tajam. Dia kesal karena Jae In berada di luar ruangan dengan pakaian yang sedikit terbuka. Baju terusan dengan gambar kartun rillakuma, dan lengan pendek. Rambut coklat bergelombang Jae In dibiarkan tergerai, hingga tiupan angin membuat sulur-sulur rambutnya berterbangan.
“Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak merasakan dinginnya udara disekitar!” Gerutu Kyuhyun.
Jae In tersenyum tipis dengan sebelah tangan yang memeluk boneka kelinci putihnya. Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tadinya aku memang kedinginan tapi setelah ada Oppa aku tidak kedinginan lagi.”
Kyuhyun menyentil dahi Jae In, membuat gadis itu meringis kesakitan sambil memegangi dahinya. Badannya ia bungkukkan agar tingginya sejajar dengan tinggi Jae In yang tingginya hanya sebahunya.
“Ingin aku peluk?”
Jae In mengerjapkan matanya dengan kedua pipi yang memerah. Wajahnya ia mundurkan. Rasanya sangat gugup berada sedekat ini dengan Kyuhyun. Apalagi Jae In bisa merasakan hembusan napas hangat Kyuhyun yang menerpa wajahnya. Sesaat, Jae In melirik Kyuhyun yang tetap diposisinya.
”Op… Oppa tidak marah jika aku peluk?”
Kyuhyun mendongakkan wajah Jae In dengan kedua tangannya. Dia menekan kedua pipi tembam Jae In hingga bibir merah gadis itu terlihat mengerucut, kemudian Kyuhyun menggoyangkan kepala Jae In ke kanan dan ke kiri.
“Dasar bodoh! Bukankah aku sudah pernah melakukan yang lebih dari sekedar pelukan!”
“Lebih dari sekedar pelukan?” tanya Jae In.
Kyuhyun tersenyum miring, dan dia tidak bisa menghilangkah kekehan gelinya. “Kisseu…”
Jae In tersentak. Kedua pipinya kembali memerah, lebih parah dari sebelumnya, belum lagi dengan udara di Balkon kamarnya yang dingin semakin membuat wajah Jae In memerah karena dingin bercampur malu.
“Eoh… A.. Aku lupa soal itu.” gumamnya dengan wajah yang menunduk sedangkan sebelah tangannya memainkan telinga kelinci dipelukanya.
“Apa perlu kuingatkan?” goda Kyuhyun.
“TIDAK!” pekik Jae In spontan. Kedua matanya melototi Kyuhyun yang sibuk tertawa melihat reaksinya.
“Oppa!!” sebelah tangan Jae In berniat memukul Kyuhyun, tapi pria itu terlebih dahulu mencekal tangannya. Kyuhyun menarik tangan Jae In, membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya, sebelumnya dia mengambil boneka Jae In lalu meletakanya di atas kursi disana.
“Jae In—ah.”
“Eoh?”
Kyuhyun menghela napasnya sebelum mulai berbicara. “Bagimana jika seandainya kau bertunangan denganku?”
Gadis itu terdiam. Kyuhyun tidak bisa melihat ekspresi wajah Jae In karena gadis itu lebih pendek darinya. Sekarang Kyuhyun merasa sangat takut, takut jika Jae In menolaknya atau mungkin setelah dia bertanya seperti itu, Jae In tidak ingin menemuinya lagi.
“Aku tidak tahu.” Gumam Jae In pelan.
Saat itu juga kaki Kyuhyun terasa lemas, pemikirannya selama ini benar. Jae In pasti menolaknya.
“Apa Oppa mau memiliki seorang calon istri sepertiku? Aku takut Oppa kecewa nantinya karena memiliki seorang calon istri yang kekanak-kanakan dan manja sepertiku. Aku tidak bisa  merubah sifatku menjadi sedikit dewasa, dan aku butuh waktu untuk merubah sifatku..”
Kyuhyun terkekeh pelan setelah mendengar penuturan Jae In. Jadi hanya karena sifat yang Jae In khawatirkan. Lagipula Kyuhyun menerima semuanya yang ada pada diri Jae In.
“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk merubah sifatmu ini. Aku lebih menyukai Park Jae In yang kekanak-kanakan daripada Jae In yang berubah menjadi wanita dewasa. Itu… terdengar aneh. Tapi… seiring berjalannya waktu, aku yakin sifatmu berubah.”
Jae In mendongakkan wajahnya. Kedua tangannya tanpa ragu melingkari pinggang Kyuhyun. “Apa Oppa suka jika sifatku berubah?”
Kyuhyun mengecup kening Jae In lembut. “Ya. Apapun itu, asalkan dirimu tetap berada disampingku, aku menyukainya.”
Jae In melihat kedua mata jernih Kyuhyun. kedua sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman. Kyuhyun menundukkan wajahnya, sebelah tangannya menarik dagu Jae In lembut. Bibir Kyuhyun menyentuh bibir Jae In, mendiamkannya, Kyuhyun merasakan dinginnya bibir Jae In dan hangatnya deru napas gadis itu. Kemudian mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Jae In, dan memagut bibir bawah dan atas Jae In bergantian. Kyuhyun menyesapnya dengan lembut, menikmati manisnya bibir Jae In. Pria itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Jae In supaya merangkul lehernya, kedua tangannya memeluk pinggang ramping Jae In erat-erat dan sedikit mengangkat tubuh gadis itu.
Kyuhyun menggigit bibir bawah Jae In, membuat Jae In merintih sakit. Ketika bibir Jae In membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Jae In dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat. Ciuman Kyuhyun turun ke rahang mungil Jae In. Mula-mulanya dia mengecup, menyesap, kemudian menggigitnya.
Jae In mendongakkan wajahnya, membiarkan Kyuhyun melakukan pekerjaannya. Rasanya sangat awam bagi Jae In. Baru kali ini dia merasakan sentuhan se-intim ini.
“Akkhhh… Eumm.” Jae In berusaha menahan desahannya disaat tangan Kyuhyun dengan sengaja meremas sebelah payudaranya. Bibir pria itu kembali melumat bibir Jae In yang membengkak karena ciumannya barusan. Kyuhyun menggendong Jae In dengan bibirnya yang tak lepas dari bibir mungil Jae In.
Kyuhyun membawa Jae In menuju ranjang king size milik gadis itu. Tubuh Jae In dibaringkan dengan lembut di atas seprai sutra berwarna biru muda. Tangan Kyuhyun menelusup masuk kedalam baju terusan Jae In, membiarkan rok baju tersebut terangkat sampai ke perut Jae In hingga Kyuhyun bisa melihat celana dalam berwarna putih yang menutupi organ intim gadis itu.
“Opppaaahhh…” Jae In mendesah kencang saat Kyuhyun mengusap lembut perut ratanya lalu beralih di pinggangnya. Mata Kyuhyun fokus melihat ekspresi Jae In. Akal sehatnya sudah tidak sejalan lagi dengan pergerakan tubuhnya. Pikirannya menyuruh Kyuhyun untuk berhenti melakukan kegiatan tersebut, tapi tubuhnya tidak.
***
“Baiklah, kau harus bisa menahan diri selama dua tahun. Kau tidak boleh menidurinya sebelum kalian menikah! jangan berbungan dengan wanita lain dan jangan sekali-kali kau menyakitinya, mengerti!” Tegas Dave.
Kyuhyun tersenyum lebar. “Aku tahu, Dave. Aku berjanji untuk tidak selingkuh atau pun menyakitinya. Aku akan mencintainya seumur hidupku, membuatnya nyama bersamaku, dan tidak ada wanita lain yang bisa menggantikannya”
Park Daehwa berdeham pelan sebelum kembali berbicara. “Apa kau bisa menunggu selama dua tahun?”
Kyuhyun mengedikkan kedua bahunya tak acuh. “Kurasa, dua tahun bukan waktu yang lama. Lagipula aku harus bisa membuat Jae In jatuh cinta kepadaku selama dua tahun itu.”
***
Kyuhyun menarik diri dari atas tubuh Jae In, napasnya tersenggal-senggal begitu juga dengan napas Jae In. Kyuhyun teringat akan janjinya dengan Dave dan Daehwa. Dia tidak akan menyentuh Jae In sebelum pernikahan itu berlangsung. Bodohnya dia karena hampir melakukannya dengan Jae In. Nafsu sialan!!
Kyuhyun mengalihkan tatapannya, menatap wajah Jae In yang menatapnya bingung. Sepertinya gadis itu sedikit syok dengan apa yang di alaminya. Kyuhyun menjambak rambutnya kasar. Dia menurunkan rok baju Jae In yang tersingkap lalu mengambil boneka kelinci putih dari balkon kemudian meletakanya disamping tubuh Jae In. Setelahnya, Kyuhyun menarik selimut untuk menutupi tubuh Jae In.
Gadis itu belum berbicara sama sekali. Matanya fokus melihat Kyuhyun, tapi tidak ada kata-kata yang bisa dikeluarkannya. Kyuhyun tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Jae In. Mungkin tidak sekarang dia menjelaskan kejadian tadi, sedangkan kondisi gadis itu sungguh mengenaskan, terdiam di tempatnya dengan tatapan fokus menatap Kyuhyun sambil menggigit bibirnya.
“Maaf.” Gumam Kyuhyun. Niatnya yang ingin mengecup kening Jae In ia urungkan. Belum saatnya ia melakukan kontak fisik lagi dengan Jae In. Mungkin gadis itu butuh waktu untuk kembali berbicara dengannya, dan mungkin saja Jae In menganggapnya sebagai pria brengsek.
Astaga Kyuhyun tidak bisa memikirkan kejadian selanjutnya!
Dengan langkah kakinya yang lebar. Kyuhyun keluar dari kamar Jae In, meninggalkan gadis itu dengan sejuta pertanyaan untuk Jae In. Jae In memang gadis yang lugu, tapi dia tahu dengan apa yang baru saja di alaminya. Sekarang dia merasakan apa yang dirasakan teman-temannya waktu Senior High School. Tapi kenapa rasanya sesakit ini? bukan sakit dibagian lain, tapi hatinya.
Kyuhyun pergi meninggalkannya seolah-olah Jae In adalah hama yang harus dijauhi. Kenapa Kyuhyun pergi? Apa dirinya tidak seperti gadis-gadis dewasa lainnya? Apa Kyuhyun merasa jijik? Setetes air mata tak bisa dibendung lagi oleh Jae In. Gadis itu memeluk bonekanya dan tetesan air matanya yang semakin banyak hingga membasahi bantal dibawahnya. Dia terisak dengan hebat hingga terlelap tidur karena lelah menangis.
TBC

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: