Young, Wild & Free Part 2

0
Young, Wild & Free Part 2 kyuhyun ff nc
Author             : MyLovEvil
Title                 : Young, Wild, & Free
Cast                 : Cho Kyuhyun, Park Jae In
Category         : NC-17, Romance, Chapter
Desclaimer      : Holla… Aku bawa cerita chapter nih ada yang mau baca? Ini ff NC kedua yang aku buat dari sekian banyaknya ff yang pernah aku tulis haha. Eittss yang liat jangan lupa tinggalkan jejak ya, aku gak terlalu maksa sih.. BAGI YANG MAU AJA 🙂 Satu lagi, ff ini murni dari ide saya sendiri ^^

Sorry For Typo’s and Happy Reading
“Ingin pergi?” Tanya Kyuhyun.
Jae In mengerjapkan matanya lalu mengangguk. Pipinya kembali memanas karena Kyuhyun menatapnya lekat-lekat. Setelahnya dia mendengar desisan kesal dari pria di depannya. “bajumu terlalu terbuka!” Geram Kyuhyun.
Jae In mengerutkan alisnya. Apa yang salah dari bajunya? Dia hanya mengenakan dress bermotif bunga-bunga dengan tali spageti, panjangnya diatas lutut dan tidak terlalu pendek. Tidak lupa juga rambutnya yang dikuncir kuda.
Tiba-tiba Kyuhyun maju beberapa langkah, hingga berdiri tepat didepannya. Bahkan Jae In bisa merasakan hembusan napas Kyuhyun di puncak kepalanya. Tangan pria itu melepaskan kunciran rambut Jae In hingga rambut gelombang Jae In tergerai indah. “Aku tidak ingin mereka melihat bahu indahmu, sayang.”
“Kenapa?” Gumam Jae In.
“Karena kau milikku.”
Young, Wild, & Free
Selama pelajaran berlangsung, Jae In tidak fokus pada materi yang diberikan sang dosen. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri tentang perkataan Kyuhyun yang membuat hatinya berbunga-bunga. Oh pria itu hanya mengatakan jika dirinya adalah milik Kyuhyun, dan membuat Jae In seperti gadis bodoh yang menyukai seseorang. Yah anggaplah seperti itu, Jae In mulai tertarik pada Kyuhyun. Beruntungnya tadi dosen itu tidak memarahi Jae In yang tidak memerhatikannya. Jae In hanya mendapatkan teguran halus dari Song Hyena, dosen cantik itu.
Saat ini kantin terlihat sedikit lenggang. Sepertinya hanya kelas Jae In yang sedang tidak ada pelajaran saat ini. Jae In mengambil jurusan Psikologi, berbeda dengan Haneul yang mengambil jurusan Business Management. Saat ini tahun kedua Haneul belajar disini, dan Jae In baru saja menjadi mahasiswa di Kyunghee.
Sahabatnya yang hiperaktif itu ingin menjadi penerus ayahnya. Yah tipe gadis yang menyayangi keluarga, mungkin. Faktanya, Haneul selalu saja menggerutu jika ayah maupun sang ibu yang menyuruhnya ini dan itu. jurusan yang diambil Haneul pun karena paksaan sang ayah, bukan kemauan sahabatnya itu.
Membicarakan soal Haneul, membuat Jae In teringat percakapan mereka kemarin. Dimana Jae In yang baru saja pulang dari rumah Kyuhyun yang menolongnya malam itu. Setelah mendengar cerita Haneul, membuatnya merasa senang sekaligus marah.
Flashback On
Jae In duduk diatas ranjang dengan lucy, kucing kesayangannya yang diletakkan diatas pangkuannya. Sedangkan Haneul mengambil makanan sereal yang diletakkan ditempat kusus lalu diberikannya pada Billy. Lucy mengeong-ngeong, melompat dari pangkuan Jae In, menghampiri Billy yang sibuk dengan makanannya.
Haneul mengusap kedua kucing itu dengan lembut. Matanya terarah kearah Jae In  yang memainkan ponsel dengan mimik wajah yang serius. Gadis itu berjalan menghampiri Jae In, mencoba mengintip pekerjaan Jae In.
Jae In sendiri tidak sadar jika Haneul sedang memperhatikannya. Dia hanya fokus pada ponsel yang menampilkan biodata Cho Kyuhyun. Banyak berita tentang bisnis yang Jae In tidak mengerti sama sekali. Dia hanya melihat biodata singkat Kyuhyun.
Ternyata umur Kyuhyun tak jauh berbeda dari kakaknya, hanya lebih muda beberapa bulan dari Dave. Jae In juga melihat foto Kyuhyun bersama ketiga sahabatnya, siapalagi kalau bukan Dave, Eunhyuk, dan Donghae. Mereka terkenal dengan keakrabannya sebagai sahabat.
“Menjadi seorang stalker huh?”
Jae In mendongakkan wajahnya. Hampir saja dia menghancurkan ponsel barunya. Dia mencibir saat Haneul sibuk tertawa melihat dirinya yang salah tingkah.
“Berhenti menggodaku, Haneul! Kau pikir apa yang kau lakukan dirumahku sepagi ini? Dan kau hanya berdua dengan Dave, yah walaupun ada para pelayan yang bekerja.”
God
Perkataan Jae In tepat sasaran. Haneul tak berkutik sama sekali, malah kedua pipi gadis itu merona merah. Jae In mencium sesuatu yang tak beres disini. Melihat sikap malu-malu Haneul membuat Jae In dapat menyimpulkan ada apa-apa antara kedua orang tersayangnya itu.
“Kami tidak ada hubungan apa pun, Jae In.”
“Memangnya aku bertanya tentang hubungan kalian? Kami? Kau berbohong, Haneul.”
Jae In tersenyum puas melihat Haneul yang mengerjapkan kedua matanya. Sekarang bukan hanya pipinya yang memerah, tapi juga lehernya. Oh Haneulnya yang manis sekaligus menyebalkan sedang malu.
“Baiklah! Kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih sejak seminggu yang lalu. Maaf aku tidak menceritakan tentang ini padamu.”
Jae In sudah tidak tertarik lagi pada ponselnya. Sekarang dia lebih tertarik mendengarkan penjelasan dari Haneul mengenai hubungan gadis itu dengan kakaknya. Dia tidak marah jika mereka benar-benar berpacaran, hanya sedikit kecewa karena Haneul maupun Dave tidak jujur padanya. Tapi melihat reaksi Haneul yang gugup sekaligus takut padanya membuat Jae In tersenyum dalam hati karena berhasil mengerjai sahabatnya
“seminggu yang lalu? Apa kalian sudah pernah melakukannya?”
Pekikkan Jae In yang tiba-tiba membuat Haneul memundurkan tubuhnya dari Jae In yang saat ini mencondongkan tubuhnya. Jae In menaikkan kedua alis matanya bergantian. Dia tertawa keras sambil memegangi perutnya. Membiarkan Haneul memukuli lengannya.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa kau melakukannya dengan Kyuhyun, semalam?”
Jae In menghentikan tawanya. Kemudian dia menggeleng.
“Tidak. Dia hanya mencium bibirku?” gumamnya bingung.
“Menciummu?”
“ya.”
“Apa dia hebat dalam hal itu?”
Jae In mengangkat bahunya lemah. Sekarang dia lebih memilih berbaring di ranjangnya sambil memeluk boneka kelinci putih kesayangannya, sedangkan Haneul tetap duduk disampingnya.
“Entahlah? Dia hanya mencium singkat di sudut bibirku lalu tepat di bibirku?”
“Aww.”
Lengan Jae In terasa panas menerima cubitan tiba-tiba dari Haneul. Dia mendelik kesal. Lama-lama dia jadi takut juga melihat Haneul yang melototinya.
“Itu bukan ciuman tapi kecupan, bodoh!”
Jae In memainkan bibir bawahnya sambil mengedarkan pandangannya kesegala arah.
“Haneul-ah.” Panggil Jae In pelan.
“Apa?”
“Aku belum menceritakan ini padamu kan?”
“Apa?”
Jae In mendengus kesal. “Kenapa kau selalu menjawab ‘Apa’ hah?”
“Hahaha.. oke oke, sekarang ceritakan!”
“Aku pernah meminta Dave untuk melakukan seks padaku.”
“KAU GILA!”
Jaae In sudah menduga kalau Haneul pasti berteriak histeris seperti ini.
“Tenang saja. Dave menolaknya. Aku juga pernah meminta pada Kyuhyun. Tapi, dia bilang rasanya akan sangat sakit untuk pertama kalinya. Apakah sesakit itu?”
Kedua pipi Haneul kembali memanas. Dalam hatinya dia merutuki sifat Jae In yang kelewatan polos. Dia mengangguk cepat. Jae In memejamkan matanya. Haneul tersenyum tipis.
“Kau tertarik padanya?”
“Entahlah.”
Flashback off
“Bolehkah aku duduk disini?”
Jae In menoleh, dia hampir saja tersedak minuman digenggamannya. Kepalanya hanya menggangguk, memperbolehkan pria itu untuk duduk didepannya. Sebenarnya Jae In merasa risih dekat-dekat dengan seseorang yang tidak dikenalnya.
“Kau sendirian?”
“Ya. Temanku belum keluar kelas.” Sahut Jae In.
Ponsel Jae In bergetar. Dia mengerutkan alisnya melihat sebuah nomor yang tidak dikenali. Tadinya Jae In ingin mengabaikan panggilan itu, tapi rasa penasarannnya memenuhi pikirannya. Akhirnnya dia mengangkat ponselnya.
“Halo.”
“Kenapa lama?”
Oh itu suara Kyuhyun, Jae In yakin itu.
“Hei..” panggil Kyuhyun saat tak mendengar jawaban Jae In.
“Oh, ada apa?”
“Apa jam pelajaranmu sudah selesai?”
Jae In menggeleng cepat. Dia tersadar jika Kyuhyun tidak bisa melihatnya.
“Belum. Mungkin sekitar 2 atau 3 jam lagi.” Gumamnya.
“Arraseo. Aku sudah menyuruh supirku untuk menjemputmu.”
“Kenapa menjemputku?” tanya Jae In.
“Kau lupa jika Dave menitipkanmu padaku, manis.”
Sialnya Jae In benar-benar lupa.
“Supirku menunggumu didepan gerbang.”
“ya… Gomawo.” Gumam Jae In.
Jae In menatap ponselnya nanar. Dari mana Kyuhyun mendapatkan nomor ponselnya? Oh pasti Dave yang melakukannya.
“pacarmu?”
Jae In mendongakkan wajahnya. Dia lupa jika ada orang didepannya.
“Bukan.”
Jae In tidak tahu jika pria itu menyeringai penuh kemenangan. Entah apa yang dipikirkan pria itu terhadap Jae In. Yang jelas itu bukan pikiran yang baik.
***
Jae In menatap takjub gedung pencakar langit milik Kyuhyun. Jeremy Lee , sang supir, membukakan pintu untuk Jae In. Jae In melihat Kyuhyun berdiri didepan lobi dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya. Ughh, pria itu tampil dengan ketampanannya lagi. Jas armani berwarna putih begitu pun celana bahannya yang berwarna sama. Ditambah kemeja berwarna dark blue dangan sepatu pantofel hitam mengkilap.
Tanpa sadar, Jae In menggigiti kukunya.
Kakinya berjalan semakin dekat kearah Kyuhyun, hingga akhirnya dia bisa melihat ketampanan Kyuhyun tanpa celah. Walaupun di dunia ini tidak ada yang sempurna. Bagi Jae In, Kyuhyun benar-benar sempurna.
“Jangan menggigiti kukumu, sayang.”
Kyuhyun berkata sangat lembut. Tangan besarnya menarik tangan mungil Jae In dari bibir mungil gadis itu. Kyuhyun menarik tubuh Jae In mendekat. Kepalanya menunduk hingga bibirnya menyentuh hidung bangir jae In lalu mengecupnya ringan. Tak menghiraukan seluruh tatapan para karyawannya yang menatap dirinya penuh keingin tahuan.
Kyuhyun menarik tangan Jae In, membawa gadis itu kesampingnya.
“A__apa yang kau lakukan?” gumam Jae In gugup.
Kyuhyun tersenyum saat melihat kedua pipi Jae In yang memerah. “Menurutmu?” jawabnya. Kyuhyun semakin bersorak gembira didalam hatinya karena berhasil membuat wajah Jae In merona.
Mereka memasuki sebuah lift khusus untuk para petinggi perusahaan. Selama didalam lift, Jae In berusaha menjaga jarak dari Kyuhyun. Tapi pria itu terus saja menggenggam tangannya. “Kenapa?” tanya Kyuhyun yang menyadari kegelisahan Jae In disampingnya.
“Ehm… tolong lepaskan tanganmu.”
“Kenapa aku harus melepaskannya?” goda Kyuhyun. Jae In memilih diam dari pada menjawab pertanyaan Kyuhyun.
Pintu lift terbuka, mereka telah sampai dilantai paling tinggi perusahaan Kyuhyun. langkah kaki Kyuhyun membawa Jae In memasuki ruang kerjanya. Jae In tersenyum kikuk saat melihat seorang gadis yang membungkuk hormat pada Kyuhyun. mungkin itu sekretaris Kyuhyun? pikirnya.
Jae In semakin takjub pada ruang kerja milik Kyuhyun. Ruangan kerja pria itu jauh lebih besar dari ruang kerja Dave maupun ayahnya. Sebuah meja dan kursi kerja yang dengan kokohnya berdiri ditengah-tengah ruangan, sofa mahal terletak diujung ruangan, dua rak besar yang berisi buku-buku. Jae In yakin jika semua isi rak itu adalah buku tentang bisnis. Oh satu lagi, disamping rak itu ada sebuah lorong penghubung dua ruangan. Dapur dan satu lagi yang Jae In tidak ketahui karena pintu itu tertutup rapat.
“Sudah puas melihat-lihatnya, nona manis.” Kekeh Kyuhyun geli.
Jae In menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun karena bisikan pria itu. Kyuhyun yang menyadari keterkejutan Jae In malah menarik pinggang gadis itu, membawa Jae In kedalam gendongannya. Kedua kaki Jae In melingkari pinggang Kyuhyun dengan kedua lengannya yang dikalungkan dileher pria itu.
Kyuhyun membawa tubuh ramping Jae In kearah meja kerjanya. Pria itu mendudukkan dirinya diatas kursi kebesarannya dengan Jae In berada dipangkuannya. Jae In mengendurkan pelukkannya. Matanya mengerjap lucu dengan kedua pipi yang merona merah. “Kau belum makan siang?” bisik Kyuhyun tepat didepan bibir mungil Jae In.
Jae In menatap mata hitam Kyuhyun lalu menggelengkan kepalanya. Kyuhyun tersenyum tipis, bibir tebalnya mengecup kedua pipi Jae In berkali-kali. “Ingin makan apa?” tanya Kyuhyun lagi.
“Apa saja.” gumam Jae In yang sibuk memainkan dasi Kyuhyun.
“Jeremy, bawakan aku dua porsi Bruschetta, Ayam Saltimbocca, dua gelas air putih, segelas susu dan segelas Cappucino.”
Kyuhyun sibuk dengan ponselnya. Bahkan Jae In tidak melihat pergerakkan pria itu. kapan mengambil ponsel dan mengetikkan nomor supirnya itu. Mungkin karena Jae In terlalu sibuk dengan dasi Kyuhyun, hingga tidak menyadarinya. Jae In menatap mata Kyuhyun yang saat ini juga sedang menatap matanya. Tangan kanan Kyuhyun membelai rambutnya dengan lembut.
Kyuhyun mencondongkan kepalanya, matanya menatap lekat mata Jae In. Jantung kedua insan itu berdegup kencang, terdengar begitu jelasnya diruangan yang besar itu. Sebelah tangan Kyuhyun memegang dagu Jae In lembut, kepalanya sedikit dimiringkan. Saat jarak wajahnya dengan wajah Jae In sudah sangat dekat, Kyuhyun memejamkan matanya. Membiarkan bibirnya mengecup bibir Jae In pelan.
Jae In yang merasa kaget oleh tindakkan Kyuhyun hanya bisa terdiam ditempatnya. Dia tidak bisa bergerak sama sekali. Tangan kiri Kyuhyun memeluk pinggangnya sangat erat, sedangkan tangan kanan Kyuhyun memegang tengkuknya. Bibir Kyuhyun melumat bibirnya penuh perasaan. Lama-lama Jae In terbuai oleh ciuman Kyuhyun. Dia memejamkan matanya, membiarkan Kyuhyun mencium bibirnya. Jae In tidak tahu harus bagaimana karena ini ciuman pertamanya.
Bibir Kyuhyun melumat bibir bawah Jae In. Kyuhyun tersenyum disela-sela ciuman mereka karena Jae In membalas ciumannya. Kyuhyun tahu Jae In belum terbiasa dengan ciuman seperti ini, dan sekarang dia yang mengajari Jae In. Bibir Jae In terasa manis dibibirnya. Hingga tanpa sadar Kyuhyun menggigit bibir bawah Jae In, membuat Jae In membuka bibirnya karena gigitan Kyuhyun.
Kyuhyun tidak menyia-nyiakannya. Dia memasukkan lidahnya kedalam mulut Jae In, membelai lidah gadisnya, menggoda Jae In agar membalas tarian lidahnya. Kyuhyun semakin tersenyum senang karena Jae In belajar cepat darinya. Lidah mereka saling menyentuh, menari-nari didalam mulut Jae In.
Keduanya baru melepaskan ciuman saat mereka benar-benar membutuhkan oksigen. Napas keduanya terengah-engah. Kyuhyun mengecup hidung bangir Jae In, begitu pun pipi gadis itu yang merona merah. Oh sial celana Kyuhyun semakin sesak karena melihat bibir merah Jae In. Sabar Cho Kyuhyun! batinnya menguatkan.
Didalam ruangan kerja Kyuhyun yang hening, terdengar ketukan pintu diluar sana. Kyuhyun berteriak menyuruh orang itu masuk. Jae In berusaha melepaskan dirinya untuk turun dari pangkuan Kyuhyun, tapi kedua lengan Kyuhyun memeluk erat pinggangnya. Dan Jae In hanya bisa pasrah. Dia menyembunyikan wajahnya didada bidang Kyuhyun.
“Pesanan anda Sir.” Suara seorang perempuan sambil membawa nampan berisi makanan pesanan mereka.
“Letakkan saja dimeja.” Gumam Kyuhyun tanpa mengalihkan tatapannya. Tangannya sibuk mengusap punggung Jae In, matanya terpejam, menikmati harumnya tubuh Jae In.
Tanpa berkata-kata sang sekretaris meletakkan nampannya ditempat yang diperintahkan oleh Kyuhyun. Saat pekerjaannya telah selesai, sang sekretaris membungkuk hormat pada atasannya lalu pergi dari ruangan itu.
Jae In mendorong dada Kyuhyun dengan pipi yang semakin memerah. Dia berusaha turun dari pangkuan Kyuhyun, lagi-lagi pria itu memeluk erat pinggangnya. Hingga Jae In melihat seringaian jahat tercetak jelas disudut bibir pria itu. Dan… sekarang tubuhnya diangkat dengan mudahnya oleh kedua tangan Kyuhyun. Mengangkatnya tinggi-tinggi seperti seorang anak kecil.
“Oppa!!”
Kyuhyun tertawa pelan melihat Jae In yang melebarkan bola mata indahnya. Dia membawa Jae In kedalam gendongannya, membiarkan kaki jenjang Jae In melingkari pinggangnya. Kyuhyun meletakkan tubuh Jae In duduk diatas sofa, membiarkan gadisnya fokus untuk makan.
“Masakan Italy?” tanya Jae In.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Tangannya sibuk memotong ayam saltimbocca dengan sendoknya. Setelahnya Kyuhyun mengambil nasi dalam sendoknya lalu menyuapkannya pada Jae In. Gadis itu menerima suapan Kyuhyun dengan antusias. Walaupun umurnya sudah terbilang dewasa, disaat makan Jae In biasanya suka disuapin oleh salah satu pelayannya, atau pun Dave. Jika ada waktu luang, pria itu yang biasanya menyuapinya.
Ayam Saltimbocca, Dalam istilah bahasa Italia, ‘Saltimbocca’ berarti ‘melompat ke dalam mulut seseorang’ Nama makanan ini sangat cocok digunakan karena hidangan ini sangat lezat dan digemari banyak orang di seluruh dunia. Kebanyakan cara memasak hidangan ini adalah menggabungkan daging ayam dengan prosciutto ham, bayam, dan keju mozzarella. Dan yang sekarang dimakan oleh Jae In ini adalah gabungan ayam dengan keju mozzarella. Lelehan keju yang meleleh itu menambahkan kesan nikmat saat dikunyah didalam mulutnya.
Jae In mengambil sendok lalu menyendokkan Bruschetta, terdiri dari roti panggang yang dimasak dengan bawang putih dan atasnya diberi taburan minyak zaitun, garam dan merica. selain itu Bruschetta bisa juga diberi topping berupa tomat, sayuran, kacang-kacangan, daging ayam, atau keju. Resep yang paling populer di luar italia biasanya menambahkan daun kemangi, tomat segar, bawang putih dan bawang merah atau mozarella.
Tanpa terasa Jae In menghabiskan dua porsi makanannya. Dia meminum segelas air putih dengan cepat, menghilangkan rasa serat ditenggorokkannya. Kyuhyun mengusap rambut Jae In, terkekeh pelan karena melihat gadisnya yang makan seperti orang kelaparan.
“Makanannya sangat enak, beda jauh dari buatan Dave yang aneh.” Kekeh Jae In.
“Aku bisa membuatkannya jika kau mau.”
“Kau bisa memasak?” pekik Jae In.
Kyuhyun menyeringai tipis. “Itu hal biasa untukku.” Guraunya.
Jae In menatap Kyuhyun penuh harap. “Aku ingin mencicipi masakanmu.” Seru Jae In antusias. Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang merekah dikedua sudut bibirnya. Sebelah tangannya menyentuh segelas susu lalu memberikannya pada Jae In. “Minum.”
Jae In bergidik ngeri menatap segelas susu putih dihadapannya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah ingin mencicipi seteguk pun susu putih itu. Pernah suatu hari, Jae In mencoba meminum susu dan saat itu pula Jae In mengeluarkan seluruh isi perutnya karena bau menyengat dari susu. Dia tidak menyukai minuman itu, sangat tidak suka! Dan sekarang apa?? Kyuhyun menyuruhnya minum susu! Minuman yang sangat dihindarinya.
“Rasanya enak. Lagi pula ini sangat bagus untuk kesehatanmu, Jae.” Gumam Kyuhyun setelah meminum susu itu.
Jae In beringsut mundur, dia tidak peduli dengan roknya yang tersingkap hingga memperlihatkan paha putihnya. Yang dipikirkannya saat ini hanyalah berusaha untuk menjauh dari minuman sial itu. Kyuhyun yang melihat Jae In seperti itu langsung meletakkan gelasnya. Dia mengambil cappucino yang tadi sempat diminumnya lalu memberikannya pada Jae In. Kyuhyun tertawa pelan melihat keantusiasan Jae In yang menerima cappucino.
“Kopi lebih enak daripada susu.” Rajuk Jae In.
Kyuhyun memutar bola matanya malas. “Ya lebih enak dari pada susu, tapi tidak begitu baik untuk tubuhmu jika diminum setiap hari!”
Jae In mengangkat bahunya malas. Dia lebih sibuk menghabiskan segelas cappucino-nya daripada membalas perkataan Kyuhyun.
Kyuhyun menyentuh dagu Jae In, sebelah tangannya mengambil gelas ditangan gadisnya. Kepalanya condong kedepan, dia memejamkan matanya sebelum bibirnya yang mengambil alih bibir ranum Jae In. Mengecup pelan bibir Jae In, melumat bibir gadisnya hingga merasakan cappucino didalam mulut Jae In.
“Permisi tuan… Astaga!”
Kyuhyun menggeram marah, dengan terpaksa ia melepaskan kulumannya, menghentikan kegiatannya. Dilihatnya sang sekretaris yang mengangakan mulutnya. Perempuan itu berusaha kembali bersikap normal walaupun wajahnya memerah. Dia menggumamkan kata maaf pada Kyuhyun.
“Maaf tuan. Saya hanya ingin menyampaikan jadwal anda. 10 menit lagi rapat di mulai, permisi.” Gumam sang sekretaris yang langsung berlalu dari pintu kerja Kyuhyun.
“Siapa namanya?” tanya Jae In yang tak bisa menghilangkan senyum gelinya.
Kyuhyun menoleh pada Jae In, mengulurkan tangannya, menggapai wajah Jae In lalu mengecupi seluruh wajah gadis itu. “Lee Dasom.” Gumam Kyuhyun dengan bibirnya yang masih menempel di pipi Jae In. Gadis itu mendorong bahu Kyuhyun yang berlama-lama mencium pipinya.
“Apa ada yang salah?”
Jae In menggelengkan kepalanya. Tangannya menggapai dasi Kyuhyun, dimainkannya dengan jari-jari lentiknya. ”Kau tidak tertarik padanya, kan?” gumam Jae In sedikit sedih.
Kyuhyun yang menyadari ekspresi Jae In tersenyum sumringah. Dia menarik pinggang Jae In, mendudukan gadis itu dipangkuannya. “Tidak. Lagipula dia sudah memiliki calon suami.”
Jae In memberanikan diri menatap mata hitam pekat milik Kyuhyun. Memperhatikan seluruh wajah tampan Kyuhyun. Dari dahinya, kedua alisnya yang hitam pekat, mata tajamnya, hidung mancungnya, bibir tebal nan manis yang sudah beberapa kali mencium bibirnya dalam kurun waktu beberapa menit. Oh dia menyukai keseluruhan milik Kyuhyun. Tuhan begitu baik karena menciptakan pria tampan ini untuknya.
“Kau menyukai bibirku!”
Sial..
Jae In tidak tahu kalau tangannya ikut bekerja dengan pikirannya. Buktinya saat ini tangan kecilnya sedang menyentuh bibir bawah Kyuhyun. Memalukan, sangat memalukan!! Dia tertangkap basah. Yang lebih parah lagi, Kyuhyun malah menatapnya geli lengkap dengan senyuman miringnya. Apa ada oksigen disekitar sini? Jae In sampai lupa caranya bernapas dengan benar.
“Aku harus pergi sebentar, kau mau menunggu disini?”
Lagi-lagi Jae In tersadar dari lamunannya. Dia menganggukkan kepalanya tanpa memahami apa yang dibicarakan Kyuhyun. Tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh Kyuhyun lalu diletakkan disofa. Kyuhyun mengecup dahinya lembut lalu mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Jae In membelalakan matanya.
“Mau kemana?” tanya-nya refleks.
Kyuhyun menyipitkan kedua matanya, setelahnya dia tertawa. “Aku tidak lama, honey. Hanya rapat disekitar sini. Aku bisa menyuruh Dasom untuk menemanimu, kau mau?”
Jae In menganggukkan kepalanya pelan. Kedua pipi Jae In semakin merona, lagi-lagi dia bertindak bodoh dihadapan Kyuhyun.
“Aku pergi.” Gumam Kyuhyun lalu mengecup kedua pipi Jae In.
Tak lama Kyuhyun keluar, Dasom masuk dengan sepiring buah anggur dan boneka kelinci milik Jae In ditangannya. Gadis itu terlihat anggun dengan pakaian kerjanya. Rambutnya yang dikuncir rapih membuat Dasom terlihat seperti wanita karir yang sukses. Jae In  menundukan kepalanya melihat penampilannya yang seperti anak kecil. Yah dia tidak bisa seperti gadis-gadis lainnya yang berhubungan dengan make up, tapi Jae In tahu style masa kini. Aneh kan? Itulah Jae In.
“Miss Park.”
Panggilan Dasom membuat Jae In tersadar dari lamunannya. Dia tertawa pelan lalu mempersilahkan Dasom duduk didepannya. Mata Jae In berbinar-binar melihat anggur kesukaannya. Refleks, tangan mungilnya mengambil buah tersebut, memakannya sambil tersenyum pada Dasom.
“Kau tahu ini boneka kesayanganku?”
Dasom mengangkat bahunya tak acuh. “Kyuhyun meminta Jeremy untuk mengambil bonekamu.”
Jae In menipiskan bibirnya, berpikir sebentar sebelum kembali memakan buahnya. Kyuhyun pasti tahu masalah boneka itu dari Dave. Tapi bagaimana dengan kucing-kucing kesayangannya??
“Ehm… Eonnie… kau tahu dimana kucingku berada?” Tanya Jae In ragu.
Dasom tersenyum tipis, dia melihat raut wajah ketakutan Jae In di depannya. Kyuhyun tidak salah memilih gadis polos seperti Jae In. Laki-laki itu sangat beruntung mendapatkan gadis langka seperti Jae In.
“Dirumah Kyuhyun.”
Jae In melebarkan mata beningnya. Kyuhyun membawa Billy dan Lucy, itu artinya Jae In juga harus mengungsi ke rumah Kyuhyun selama Dave pergi!!
Ughh!! Beginilah nasibnya jika memiliki seorang kakak yang sangat over protektif! Lagipula kenapa harus menginap dirumah Kyuhyun jika dirumahnya sendiri ada pelayan-pelayannya yang setia melayani majikannya dengan baik.
Jae In hanya tidak terbiasa menginap ditempat orang lain. Dahulu Jae In pernah menginap dirumah Haneul, disaat tengah malam Jae In terbangun, dia menangis sesenggukkan saking takutnya. Takut karena berada dikamar sendirian terlebih lagi lampu utama dimatikan, hanya lampu tidur saja yang menyala. Untungnya Haneul terbangun karena suara isak tangis Jae In yang lumayan kencang. Sahabatnya itu dengan sabar menemani Jae In kembali tertidur sambil memeluknya. Bagi Jae In, Haneul sudah seperti kakaknya sendiri begitu pun sebaliknya.
“Kyuhyun bilang, Jika kau lelah tidur saja. Aku akan menemanimu sampai Kyuhyun datang.”
Jae In menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia tidak merasa lelah sama sekali. Lagi pula apa yang dikerjakannya. Dia hanya pergi kuliah dan tidak melakukan pekerjaan berat sama sekali. Jadi, untuk apa merasa lelah. “Eonnie… aku boleh tahu ruang apa itu?” tunjuk Jae In pada sebuah pintu berwarna hitam mengkilap yang tertutup rapat.
Dasom terkejut karena lupa. Bodohnya dia menyuruh Jae In tidur, sedangkan dia tidak menunjukkan tempat tidur untuk istirahat gadis itu. Bagaimana jika bos tahu kalau Jae In tidur disofa karena kebodohannya.
“Ah iya, aku lupa, maaf… Ayo.” Seru Dasom sambil menarik tangan Jae In agar mengikuti langkahnya.
Jae In pasrah saja saat Dasom menarik tangannya. Langkah kakinya berhenti didepan pintu hitam itu. Dasom mengambil sebuah kunci dari saku blazer-nya. Setelah pintu tersebut dibuka, Jae In mengerutkan kening. ‘Kenapa Dasom memiliki kunci kamar pribadi milik Kyuhyun? Apa kamar ini dipakai untuk umum?’ Pikiran-pikiran itu terus menghantui kepala Jae In sebelum Dasom menjawab semua kebingungannya.
“Ini kamar pribadi milik bos. Kamar ini hanya miliknya seorang. Yah, sesekali kamar ini sebagai tempat penitipan keponakkannya yang masih kecil, haha….”
Keponakkannya?
“Kyuhyun memiliki kakak?” tanya Jae In.
Dasom mengerjapkan matanya bingung. “kau tidak tahu?”
Jae In menautkan kedua tangannya. Dia memang tidak terlalu dekat dengan sahabat-sahabat kakaknya. Selama ini Jae In jarang sekali berbincang-bincang dengan seorang laki-laki kecuali Dave dan ayahnya. Hingga akhirnya Jae In bertemu dengan Kyuhyun yang merubah ketakutannya pada seorang pria.
“Ahh… lebih baik kau mendengarkannya dari Kyuhyun langsung. Aku takut salah bicara nantinya…” Ringis Dasom.
Jae In menganggukkan kepalanya. Sekarang Jae In lebih sibuk memandangi nuansa kamar Kyuhyun. Kaki jenjangnya membawa Jae In berlarian kearah jendela besar yang menampilkan padatnya kota Seoul. Dia semakin tersenyum lebar saat disamping jendela itu ada sebuah pintu yang terbuat dari kaca yang menghubungkannya dengan balkon diluar sana.
Dengan semangat, Jae In membuka pintu itu lalu berlari keluar. Hembusan angin yang lumayan kencang membuat anak-anak rambutnya berterbangan. Panasnya sinar matahari tak membuatnya ketakutan. Jae In bahkan sangat suka dengan musim panas seperti sekarang ini.
Dasom yang melihat kelakuan Jae In hanya bisa tersenyum geli. Jika saja dia memiliki seorang adik, Dasom pasti sangat bahagia. Tapi tuhan berkata lain, orang tuanya pergi disaat umurnya masih sangat belia, sekitar 8 tahun. Dan dengan terpaksa dirinya harus tinggal disebuah panti asuhan karena sudah tidak memiliki saudara lagi.
“Eonnie.”
Jae In melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Dasom. Dia melihat mata bening dasom yang berkaca-kaca. Gadis itu tersadar dari lamunannya. Dasom tersenyum sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Eonnie tidak apa-apa? Wajahmu sedikit pusat.” Jae In memiringkan kepalanya, memperhatikan Dasom dengan teliti. Apa Kyuhyun terlalu memaksa Dasom untuk bekerja keras? Ahh dia harus memperingati pria itu.
“Jae In-ah kau ingin tidur? Kurasa, Tuan Cho keluar sedikit lama daripada biasanya karena mereka sedang membicarakan sebuah proyek baru.” Gumam Dasom sambil melirik jam tangannya.
Jae In menipiskan bibirnya. Kyuhyun masih lama? Itu artinya, dia bisa bersantai-santai ria di tempat indah ini..
“Ehmm… Eonnie temani aku membaca buku saja yaa…” rajuk Jae In sambil menarik-narik lengan Dasom layaknya anak kecil. Diam-diam Dasom menahan cengirannya mendapati tingkah Jae In yang seperti ini.
Jae In berhasil membujuk Dasom untuk menemaninya membaca sebuah komik doraemon yang terselip di rak-rak buku milik Kyuhyun. Sepertinya Kyuhyun memiliki hoby membaca. Semuanya terbukti dari banyaknya rak-rak buku yang dimilikinya. Jae In sangat senang karena setelah hampir setengah jam ia menemukan 2 buah komik dan beberapa buku dongeng anak-anak.
Jae In menelungkup diatas ranjang, matanya sibuk membaca komik yang ditemukannya. Sedangkan Dasom membaca beberapa buku tentang bisnis yang dikuasainya. Dia sengaja tidak membawa pekerjaannya disaat dirinya diperintahkan untuk menemani kekasih bos-nya ini. Dasom tidak ingin mengambil resiko lebih, seperti dipecat mungkin.
Saking sibuknya, Jae In sampai menguap, rasa kantuk mulai menghampirinya. Matanya sudah sangat sayu, mungkin dalam hitungan detik dia akan tertidur dengan lelap. Dan… benar saja tak butuh waktu lama gadis itu tertidur dengan beralaskan kedua lengannya. Posisinya masih tengkurap seperti sebelumnya.
Dasom meringis pelan melihat posisi tidak nyaman Jae In. Dia tidak memiliki tenaga lebih, lalu bagaimana memindahkan tubuh berisi Jae In agar tidur dengan nyaman?
Ceklek
“Ternyata kalian disini.”
Selesai sudah hidupnya! Sang bos telah tiba, sedangkan dirinya belum memindahkan posisi tidur Jae In. Oh tuhan jangan pecat Dasom dari pekerjaannya ini.
Kyuhyun melangkahkan kakinya. Tatapan Kyuhyun terpokus pada gadis bertubuh mungil itu. Park Jae In-nya tertidur dengan pulasnya. Kyuhyun melihat senyuman tipis diwajah manis Jae In. Sepertinya gadis itu sedang bermimpi indah.
“Sudah berapa lama dia tertidur?”
Dasom terpekik pelan. Dia berusaha menormalkan raut wajahnya, namun gagal. Jika biasanya Dasom sangat profesional dalam menghadapi masalah perusahaan, sekarang rasa itu tidak ada lagi. Yang dipikirkannya hanya ketakutan!
“Be… lum lama, Tuan.”
“Kau boleh pergi.” Kyuhyun berkata sambil mengusap rambut gelombang Jae In. Dasom membungkuk hormat walau Kyuhyun tak melihatnya.
Kamar Kyuhyun terasa sunyi setelah kepergian Dasom. Laki-laki itu masih sibuk mengusap rambut Jae In. Sesekali, dia menghirup aroma sampo yang menguar dari rambut gadisnya. Wangi buah-buahan. Ck, gadis sebesar Jae In masih saja memakai sampo aroma buah. Biasanya gadis seumuran Jae In mulai menggunakan wangi-wangian dewasa. Yahh, Jae In-nya masih kecil, dan Kyuhyun menyukainya.
Melihat pergerakkan pelan dari tubuh mungil Jae In, membuat Kyuhyun dengan sigap mengubah posisi tidur gadis itu menjadi telentang. Sepertinya tertidur dengan posisi seperti tadi terasa menyakitkan dibagian leher. Baru saja Kyuhyun ingin beranjak dari duduknya, tangan mungil Jae In menarik lengan bajunya. Kedua mata gadis itu sedikit terbuka, dan sepertinya Jae In belum sadar sepenuhnya.
“Dave?? Temani aku..”
Kyuhyun mengerjapkan matanya. Dave? Sejak kapan dirinya merubah nama menjadi Dave?
“Oppaaa….” rajuk Jae In dengan mata yang kembali terpejam.
Kyuhyun menuruti kemauan Jae In. Dia membaringkan tubuhnya, membiarkan Jae In bergelung manja ditubuhnya. Sebelah tangan Jae In mengusap dada Kyuhyun, sedangkan hidung gadis itu sibuk mengendus-endus bahu Kyuhyun sambil tersenyum.
“Wangimu berbeda? Aku lebih suka yang ini. Lana pasti juga suka.” Kekeh Jae In dalam tidurnya.
Apa gadisnya ini sengaja membuatnya harus menelan salivanya dengan berat? Jantung dan paru-parunya terasa berhenti bekerja karena kelakuan aneh Jae In. Sialnya lagi bagian bawah tubuhnya terasa menegang. Oh sial! Jae In hanya mengigau dan efeknya luar biasa bagi Kyuhyun!
“Jae In.” Bisiknya dengan suaranya yang terdengar serak, menahan gairah.
“Ehmm….” Gumam Jae In.
“Aku Kyuhyun, bukan Dave.” Tak ada sahutan dari gadis itu, napasnya pun sudah mulai teratur. Kyuhyun tersenyum geli sambil mengeratkan pelukannya. Park Jae In, gadis polos yang penasaran akan dunia bebas berada didekapannya. Jae In, gadis polos yang bisa membuat hatinya bergetar, tersenyum-senyum sendiri jika membayangkan bagaimana lugunya gadis ini. Hanya Park Jae In yang membuatnya seperti ini. 2 tahun bukanlah waktu yang lama, Kyuhyun yakin itu.
***
Jae In mengerjapkan kedua matanya. Tenggorokkannya terasa kering. Beruntung dia menemukan segelas air mineral diatas nakas. Tanpa menunggu lama, Jae In meraih gelas tersebut lalu meminum airnya dengan rakus. Rasa dingin air yang mengalir melewati tenggorokkannya terasa begitu nikmat. Tunggu, sudah berapa lama dia tertidur di…
Dimana ini?
Ya ampun, Jae In lupa… ini kamar Kyuhyun. Tapi, kemana Dasom? Apa Kyuhyun sudah selesai rapat?
Jae In melihat langit-langit yang mulai gelap. Sepertinya sudah beranjak malam. Ugh, Ini kebiasaannya. Jika tidur siang, Jae In pasti bangun telat. Belum lagi malamnya yang ia habiskan untuk tidur lagi. Dirinya persis seperti beruang yang hibernasi.
Jae In menyibakkan selimutnya, kemudian merenggangkan otot-otot tubuhnya. Badannya terasa lengket, dia butuh mandi air hangat. Kaki jenjangnya melangkah ke dapur. Jae In hampir saja melompat takut karena melihat Kyuhyun yang berdiri membelakanginya. Baju pria itu telah diganti. T-shirt hitam dengan celana jeans hitam dan rambutnya yang acak-acakkan. Punggung lebar Kyuhyun membuat Jae In hampir meneteskan air liurnya. Andai saja dia berlari kepelukkan pria itu, memeluknya dari belakang. Jae In ingin sekali melakukannya jika dia tidak malu. Sifat pemalunya mulai lagi.
“Sudah bangun.”
Jae In terlonjak kaget. Matanya melihat Kyuhyun yang tersenyum geli sambil menepukkan kedua tangannya. Tatapan Jae In terpokus pada langkah kaki Kyuhyun yang berjalan menghampirinya. Seakan tahu apa yang ingin dilakukan Kyuhyun, Jae In melangkah mundur.
“STOP!!”
Kyuhyun menghentikan langkahnya dengan sebelah alis yang terangkat. Kenapa reaksi Jae In harus se-histeris itu?
“Kenapa?” tanya Kyuhyun.
“A… Aku bisa berjalan sendiri.”
Kyuhyun tertawa pelan. Tahu isi kepala cantik Jae In tentang dirinya.
“Kau takut aku menggendongmu seperti sebelumnya?”
Tepat sasaran! Jae In tidak bisa berkutik lagi karena tebakkan Kyuhyun benar adanya. Oh pipinya!! Sialnya, Kyuhyun malah menampilkan senyuman miring disudut bibirnya. Bisakah Jae In berteriak sekarang? Berteriak sekencang-kencangnya tentang ketampanan Kyuhyun.
“Melamun lagi?”
Ya, Jae In merasa lebih bodoh sekarang. Sudah berapa kali dirinya ketahuan melamun didepan Kyuhyun! Kau sungguh memalukan Park Jae In..
“Aku memasak omelet, apa kau mau?” tanya Kyuhyun. Melangkah lagi kearah pantri, kemudian membawa dua piring omelet dan meletakkannya diatas meja makan.
Jae In mengangguk semangat melihat makanan yang menggoda lidahnya. Kebetulan sekali perutnya terasa sangat lapar. Kyuhyun benar-benar pahlawannya.
Kyuhyun membiarkan Jae In memakan makanannya, sedangkan dirinya membuat jus strawberry dan kopi untuk Jae In dan dirinya sendiri. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas, melihat bagaimana lahapnya Jae In makan. Dan dalam hitungan beberapa menit, satu porsi omelet dilahap habis oleh Jae In. Kyuhyun yang duduk didepannya tersenyum senang, Jae In makan tanpa malu-malu ada orang yang melihatnya. Tak lama setelah meminum jus strawberry-nya, Jae In beranjak dari duduknya, pindah tempat menjadi disamping Kyuhyun.
“Ada apa?” Tanya Kyuhyun setelah melihat tatapan ngeri Jae In.
“Aku takut.” Desis Jae In.
“Takut?” Tanya Kyuhyun membeo.
Jae In mengangguk pelan. “Aku takut ada hantu yang tiba-tiba muncul dibelakangku.” Gumam Jae In sambil menggigiti kuku jari tangannya.
Kyuhyun tak bisa menahan senyum gelinya. Jae In-nya begitu menggemaskan.
“Astaga.”
Kyuhyun melihat pergerakan refleks Jae In yang memutar tubuhnya menjadi membelakangi meja makan. Kedua tangan mungil Jae In menutup wajahnya. Sesekali gadis itu mengintip melalui celah-celah jari tangannya.
“Apa ada hantu?” Gumam Kyuhyun geli.
Jae In menggelengkan kepalanya. “Sekarang sudah malam, dan kemungkinan besar banyak hantu-hantu yang berkeliaran diruangan sebesar ini.”
Kyuhyun pura-pura menampilkan wajah ketakutan. Setelahnya dia beranjak dari duduknya, berlari pelan, keluar dari dapur. Jae In yang melihat Kyuhyun lari, langsung melompat dari duduknya. Jae In berlari cepat, menyamakan langkah kaki Kyuhyun.
“Oppa….” Pekik Jae In ketakutan.
Kyuhyun menghentikan larinya. Dia tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah memerah Jae In. Kyuhyun menerima pelukkan Jae In dengan senang hati. Gadis itu mengeratkan pelukkannya sambil membenamkan wajahnya disela-sela leher Kyuhyun.
“Tenanglah, disini tidak ada hantu.” Bisik Kyuhyun, dengan sebelah tangan yang mengusap punggung Jae In, dan Jae In merasa nyaman dengan usapan tangan Kyuhyun di punggungnya.
“Apa yang membuatmu takut?” tanya Kyuhyun.
Jae In mendongakkan wajahnya. “Tadi Haneul mengirimiku foto hantu mulut sobek. Dia bilang, dia sedang menonton filmnya di rumah.”
Kyuhyun tersenyum tipis. Dengan mudahnya dia membawa tubuh Jae In kedalam gendongannya. “Aku akan menemanimu malam ini. Ayo kita pulang.”
To Be Continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: