Young, Wild & Free Part 1

0
Young, Wild & Free Part 1 kyuhyun ff nc
Author             : MyLovEvil
Title                 : Young, Wild, & Free
Cast                 : Cho Kyuhyun, Park Jae In
Category         : NC-17, Romance, Chapter
Desclaimer      : Holla… Aku bawa cerita chapter nih ada yang mau baca? Ini ff NC kedua yang aku buat dari sekian banyaknya ff yang pernah aku tulis haha. Eittss yang liat jangan lupa tinggalkan jejak ya, aku gak terlalu maksa sih.. BAGI YANG MAU AJA 🙂 ff ini murni dari hasil pemikiran saya sendiri ^^ oh ya terima kasih juga buat kak Handa, yang sudah meluangkan waktunya untuk nge-share ff saya ini ^^

Sorry For Typo’s and Happy Reading
“Dave, kumohon lakukan denganku…” Jae In menatap Dave Aguilar dengan pandangan yang memelas. Sejak tadi dia sudah meminta suatu hal yang pastinya tidak akan dituruti oleh sang kakak. Bagaimana tidak! Jae In meminta Dave untuk mengajarkannya melakukan seks. Dan rasa penasaran gadis yang baru berusia 18 tahun itu sukses membuat kakaknya naik pitam.
Adik kecilnya masih sangat polos. Siapa yang mengajarkan Jae In berkata seperti itu! Dave pasti akan memberi pelajaran pada orang yang sudah membuat adiknya seperti ini. “Aku sudah bilang, Park Jae In! Kita ini saudara! Aku tahu jika kita bukan saudara kandung. Tapi, aku sudah sangat menyayangimu seperti saudaraku sendiri! Dan… siapa yang mengajarimu berkata seperti itu!” Seru Dave frustasi.
Jae In tetap menatap kakaknya dengan pandangan yang memelas. Dave tahu tatapan itu adalah kelemahannya. Tapi, tidak untuk saat ini! Dia tidak mungkin meniduri adiknya sendiri!
“Aku hanya penasaran dengan perkataan teman-temanku, Dave. Beberapa dari mereka sudah pernah melakukannya.” Gumam Jae In sedikit takut saat melihat bola mata berwarna kehijauan milik kakaknya yang menatapnya tajam.
“Lebih baik sekarang kau kembali kekamarmu dan tidur! Lupakan keinginan gilamu itu!” suara Dave terdengar dingin, dan Jae In tidak bisa membantah jika sudah seperti ini.
“Dave…” gumamnya.
“Tidurlah Jae… sekarang sudah malam dan besok adalah hari pertamamu kuliah” Suara Dave mulai melembut karena sikap keras kepala adiknya.
“Aku yakin kau pasti pernah melakukannya ‘kan?” bukannya menuruti perkataan kakaknya, Jae In malah bertanya pada Dave sambil berkacak pinggang. Jika dengan tatapan memelas sudah tidak mempan lagi, dia akan melawan kakaknya.
Dave menyandarkan tubuhnya pada meja kerjanya sambil meletakkan kedua tangannya didepan dada. “Ya… itu karena umurku sudah dewasa untuk melakukannya. Sedangkan kau… Astaga kamu bahkan baru saja lulus Senior High School, Jae!”
“Kalau begitu aku ingin melakukannya dengan orang lain tanpa sepengetahuanmu!!” sinis Jae In yang langsung pergi begitu saja dari ruang kerja kakaknya.
Dave membelalakkan matanya. Adiknya benar-benar nekad! Dia harus melakukan pengawasan lebih lagi pada adiknya. Dave tidak ingin adiknya terjerumus pada hal-hal yang tidak benar. Dan sekarang Dave merasa gagal menjadi seorang kakak untuk Jae In! Untung saja kedua orang tuanya sedang tidak ada dirumah. Dave tidak tahu apa yang akan dilakukan ayah tirinya itu pada Jae In.
Park Daehwa adalah ayah kandung dari Jae In, ayah tirinya. Sedangkan Lee Nuri adalah ibu kandung Dave, ibu tiri untuk Jae In. Mereka berdua sudah menikah sekitar 15 tahun yang lalu. saat itu umurnya 10 tahun, sedangkan Jae In berumur 3 tahun. Walaupun dia sudah lama tinggal dikorea, Dave tetap menggunakan nama baratnya dari pada nama korea. Dia lebih suka menggunakan nama pemberian ayah kandungnya daripada Lee Youngje, nama Koreanya. Wajahnya memang campuran antara Korea-Spanyol. Tapi, Dave lebih mirip dengan ayahnya dibandingkan ibunya, hanya warna kulit dan mata yang sangat mirip dengan ibunya. Ayah kandungnya ‘Roy Aguilar’ meninggal karena kecelakaan mobil. Ibunya sudah menjanda selama 5 tahun hingga akhirnya bertemu Park Daehwa. Bahkan Dave sudah sedikit melupakan wajah sang ayah jika ia tidak melihat album foto milik keluarganya disaat waktu luang.
***
Jae In sudah siap dengan gaun hitam satu-satunya yang ia miliki. Kakinya menggunakan high heels berwarna senada dengan gaunnya. Ia bertekad untuk pergi ke sebuah club bersama Choi Haneul, sahabat satu-satunya yang ia miliki sejak kecil. Jae In sangat menyayangi sahabatnya itu. Ia tidak ingin menambah sahabat lagi. Ada satu alasan ia tidak ingin memiliki sahabat. Itu karena orang-orang menatapnya sebagai putri satu-satunya dari seorang pengusaha kaya, bukan sebagai Park Jae In.
Ponselnya bergetar. Ia melirik ponselnya dan senyum sumringah menghiasi bibir mungilnya. Haneul calling…
“Hallo…”
“Aku sudah sampai didepan rumahmu.” 
“Tunggu aku…”
Jae In langsung mengambil tas Chanel-nya. Kemudian berjalan keluar dari kamarnya dengan mengendap-ngendap. Takut jika Dave mengetahuinya. Yah sepertinya pria itu masih sibuk diruang kerjanya.
Dilihatnya Haneul sedang bersandar pada kap mobil. Jae In mengerutkan alisnya saat melihat tatapan gadis itu yang keatas. Jae In mengikuti arah pandang Haneul lalu tertawa pelan karena menyadari apa yang dilihat sahabatnya itu, ruang kerja kakaknya.
“Apa yang kau lihat?”
Haneul tersentak kaget lalu memukul bahu Jae In sambil mengerucutkan bibirnya. “Kau mengagetkanku!” rajuk Haneul.
Jae In mengangkat bahunya tak acuh. Kemudian masuk kedalam mobil Haneul, meninggalkan sahabatnya yang masih marah.
“Sekarang, berapa harga tasmu itu?” sinis Haneul sambil melirik Jae In yang sibuk dengan ponselnya. Jae In memang sangat modis. Gadis itu selalu menggunakan pakaian-pakaian bermerek dengan jumlah yang terbatas. Pernah suatu hari Jae In rela pergi ke Swiss untuk mendapat sebuah tas seharga 45,6 miliyar!! Gila memang, tapi itulah Park Jae In.
“1,3 miliyar. Ini kado dari Dave saat umurku 17 tahun. Ah, aku lupa memberitahumu ya?” kekehnya.
“Lama-lama kau bisa membuat ayah maupun kakakmu itu bangkrut!” sinis Haneul.
Jae In terkekeh pelan lalu menyenggol lengan sahabatnya. “Mereka memiliki perusahaan masing-masing. Jadi, aku harus memanfaatkannya haha.”
“Dasar gadis gila!”
Jae In tertawa pelan. Puas sudah melihat wajah kesal sahabatnya. Keluarga Haneul memang kaya, tapi gadis itu selalu tampil sederhana. Sangat berbeda dengan Jae In yang selalu tampil mewah.
Tak lama Haneul terkekeh pelan saat kepalanya menoleh kearah Jae In. “kau tidak salah dengan pakaianmu?”
Jae In mengerjapkan matanya lalu melihat dirinya sendiri sambil mengerutkan keningnya. “Kenapa dengan gaunku?”
“Gaunmu tidak cocok untuk pergi kesebuah club. Kau seperti ingin menghadiri sebuah pesta ulang tahun anak-anak.” Tawa Haneul meledak saat melihat Jae In yang membelalakkan matanya.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Jae In polos.
“Pakai saja gaunku. Kebetulan aku membawanya.. yah, aku tahu kalau kau tidak memiliki gaun yang seksi.”
Jae In memeluk sahabatnya itu dari samping. “Thank you Haneul… You’re my best friend.”
Haneul menganggukkan kepalanya lalu tatapannya kembali fokus pada jalanan di depannya.
Mereka sudah sampai disebuah club mewah dikawasan Seoul. Jae In sudah mengganti gaunnya dengan gaun milik Haneul. Untung saja ukuran tubuh mereka sama, jadi gaun itu tidak kesempitan ataupun kebesaran ditubuhnya. Gaun yang dikenakannya sekarang berwarna merah dengan belahan dada yang rendah, belum lagi bagian bawahnya yang terlalu pendek. Jika saja Jae In menunduk ia yakin beberapa bagian tubuhnya akan terlihat.
Berulang kali Jae In memaki sahabatnya karena gaun merah itu. Tetapi Haneul malah tertawa. Sahabatnya memang benar-benar aneh.
Pintu besar Club itu terbuka lebar saat Jae In dan Haneul datang. Jae In menatap ngeri kedalamnya. Ruangan itu terasa sesak karena ramainya orang-orang yang sibuk meliuk-liukkan badannya dan suara bising dari musik yang dimainkan itu. Jae In mengalihkan tatapannya kearah lain, ia melihat ada beberapa ruangan yang hanya dipisahkan dengan kaca. Jae In sempat melihat beberapa pasangan diruangan itu yang asik bercumbu mesra.
Lamunannya tersadar saat Haneul menarik tangannya. Kedua pipinya memerah. Ia terlihat seperti seorang anak kecil yang dituntun ibunya.
Haneul membawa Jae In duduk dikursi dekat bar. Jae In  tetap menatap sekelilingnya, sedangkan Haneul memesan minuman pada pelayan pria didepannya. “Pertama kalinya untukmu?” tanya Haneul sambil menatap sahabatnya itu.
Jae In mengalihkan tatapannya lalu menganggukkan kepalanya. Haneul menegakkan duduknya. “Aku memang selalu tampil sederhana, tapi aku tidak sepertimu yang tidak tahu apa-apa tentang dunia malam.” Gumam Haneul.
Jae In membelalakkan matanya lalu mencondongkan tubuhnya kearah Lana. “Kau…” Suara Jae In tercekat.
Haneul memukul kepala Jae In sambil mendesis kesal. “Seorang pelacur! Itu yang ada dipikiranmu? Bukan itu… maksudku! Aku sudah biasa pergi ke tempat seperti ini untuk menghilangkan beban pikiranku!”
Jae In bernafas lega. Dia pikir sahabatnya sudah salah mengambil jalan. “Kau memiliki aku untuk mengeluarkan semua beban pikiranmu, Haneul.”
Haneul tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. “Aku tahu. Tapi, itu saja tidak cukup.”
Jae In menatap sahabatnya prihatin, tangannya mengelus bahu sahabatnya lembut.
Tak lama seorang pelayan datang dengan dua botol minuman anggur. Chateau Mouton-Rothschild Jeroboam seharga 1,3 miliyar. Minuman anggur ini termasuk anggur yang sangat langka dan memiliki kualitas klasik. Jae In tidak tahu jika Haneul suka meminum wine-wine mahal. Tidak terlalu banyak yang Jae In tahu tentang minuman beralkohol itu. Tapi, Dave memiliki minuman Jenis ini dan jenis lainnya diruang kerja pria itu.
Haneul menuangkan minuman itu kegelasnya dan gelas Jae In. “Kau tidak akan mabuk hanya karena segelas alkohol ‘kan?” Tanya Haneul sarkastik.
Jae In mengerjapkan matanya lalu menggeleng lemah. “Aku tidak tahu. Dave selalu melarangku untuk minum itu.”
Haneul mendecakkan lidahnya lalu tertawa sinis. “Kakakmu terlalu over protektif!”
Jae In mengangkat bahunya tak acuh lalu memegang gelasnya. Jae In meneguk wine-nya sekaligus, hingga ia harus mengernyitkan dahinya saat merasakan minuman itu turun melewati tenggorokkannya. Disampingnya, Haneul tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jae In. Wajahnya memerah, dan tiba-tiba saja perutnya bergejolak ingin keluar. Jae In tidak bisa menahannya lagi. Dengan cepat Jae In turun dari kursinya sambil membekap mulutnya. Haneul menghentikan tawanya, lalu menatap Jae In khawatir.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Haneul sambil memapah kedua bahu Jae In. Jae In menggelengkan kepalanya. “Dimana toilet?”
“Disana. perlu kuantar?”
Jae In kembali menggeleng. Tanpa pikir panjang, dia langsung lari kearah yang ditunjuk Haneul. Sesampainya ditoilet, Jae In mengeluarkan semua isi perutnya. Pertama kalinya ia menyentuh minuman itu dan tak ingin mencobanya lagi. Sepertinya ia harus menuruti perkataan sang kakak.
Jae In menatap pantulan dirinya didepan cermin. Wajahnya sedikit memucat dan rasa mual itu masih ada. Wine sialan! Rutuknya dalam hati. Sejak tadi siang ia belum makan sama sekali, dan sekarang Jae In harus mengeluarkan isi perutnya yang kosong.  Setelah selesai, Jae In membasuh wajahnya dengan air, membiarkan make up-nya hilang. Lagipula Ia lebih suka wajahnya yang tanpa make up.
Setelah mengumpulkan seluruh tenaganya, Jae In keluar dari toilet itu dengan sempoyongan. Kepalanya terasa pusing, tapi ia harus bisa sampai ketempat Haneul. Baru beberapa langkah Jae In bisa keluar dari toilet, tiba-tiba saja pandangannya mengabur. Dan terakhir yang di ingatnya hanya suara seorang pria yang memanggilnya, sebelum semuanya menggelap.
***
Kyuhyun memainkan ponselnya. Entah apa yang ingin dilakukannya. Kedua sahabatnya itu sibuk bercumbu ria dengan wanita penggoda, Satu lagi sibuk dengan laptop dipangkuannya. sedangkan dirinya hanya menyibukkan diri dengan ponsel ditangannya dan wine didepan.
Akhir-akhir ini Kyuhyun merasa bosan dengan wanita. Sekarang dia lebih ingin menyibukkan diri dengan pekerjaannya dari pada wanita-wanita yang biasa ia sewa setiap minggunya.
Kyuhyun beranjak dari duduknya, membuat ketiga sahabatnya itu menghentikan kegiatannya. “Mau kemana?” Tanya Dave, mengalihkan tatapannya dari laptop dipangkuannya. “Toilet.” Sahut Kyuhyun cepat.
Kyuhyun berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya. Dia menatap seorang gadis yang berjalan sempoyongan, beberapa meter didepannya, dan sepertinya ia mengenal gadis itu?
Kyuhyun menangkap tubuh mungil gadis itu saat melihat mata gadis dipelukkannya ini mulai terpejam. Dia menepuk pelan kedua pipi gadis ini.
“Hei nona, bangunlah.”
Tapi kesadaran gadis dipelukkannya ini mulai menghilang. Tanpa pikir panjang Kyuhyun melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh bagian bawah gadis itu lalu membopongnya. Membawa gadis mungil itu kedalam mobilnya.
Kyuhyun meletakkan gadis itu disamping kursi pengemudi. Tangannya merogoh saku celananya, mengambil ponselnya disana, lalu mengetikkan sebuah pesan untuk sahabatnya.
Sekarang tidak ada pilihan lain. Dia harus membawa gadis ini kerumahnya. Setelah gadis ini sadar, dia akan mengantarkan gadis ini pulang.
Sedangkan didalam club. Haneul nampak cemas menunggu kedatangan Jae In. Sudah lewat dari sepuluh menit dan sahabatnya itu belum kembali. Haneul berlarian kecil ingin melihat keadaan Jae In didalam toilet.
Sesampainya disana, Haneul hanya melihat beberapa wanita yang sibuk dengan dandanannya. Haneul melihat kedalam pintu toilet, semuanya kosong. Tidak ada Jae In di toilet! Astaga kakinya lemas. Kemana sahabatnya?
Dengan mata yang berkaca-kaca. Haneul mengambil ponselnya lalu mengetikkan sebuah nomor yang diingatnya.
“Halo Dave…” panggil Haneul dengan suaranya yang serak, menahan tangis.
“Ada apa, Haneul?”  Suara diseberang sana terdengar khawatir.
“Jae In…” Haneul mulai terisak. Tubuhnya mulai merosot jatuh karena kakinya sudah tidak kuat untuk menopang tubuhnya.
“Ada apa dengan Jae In? Dia ada dirumah ‘kan? Katakan, kau ada dimana sekarang?”
“Tadi… tadi Jae In pergi ke toilet. Sekarang dia tidak ada…”
“Haneul… tolong katakan dengan jelas!” seru Dave tegas.
“Jae In menghilang! Dia tidak ada disini, Dave.”
“Dimana kau sekarang?” tanya Dave tak sabaran.
“Club…”
Dave langsung mematikan sambungannya. Haneul menahan napasnya saat melihat Dave berlarian kearahnya. Cepat sekali? Apa jangan-jangan Dave ada di club yang sama dengannya?
“Kenapa bisa terjadi?”
Tanya Dave setelah mengangkat tubuh Haneul yang rapuh. Gadis itu memeluk tubuh Dave, masih dengan tangisannya. “Aku tidak tahu. Ini semua salahku. Jika saja aku tidak memberinya wine, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi…”
Dave membuang napasnya kasar. Membodohi sikap kekasihnya sekaligus sahabat adiknya ini. “Kenapa mengajaknya ketempat ini?” tanya Dave lembut. Ia menundukkan wajahnya saat tak mendengar suara isak tangis Haneul. Deru napas Haneul mulai teratur. Tanpa pikir panjang, Dave membopong tubuh lemah Haneul kearah mobilnya.
Ponsel Dave berbunyi saat dirinya baru saja selesai meletakkan Haneul dikursi mobilnya.
“Halo…”
“Adikmu ada bersamaku. Apa aku perlu mengantarnya kerumahmu sekarang?”
“Kyuhyun? Bagaimana bisa?” Dave membelalakkan matanya.
“Aku menemukannya pingsan didepan toilet wanita.” Jawab Kyuhyun.
“Kalau begitu besok kau antar dia kerumah. Tapi ingat, jangan macam-macam pada adikku!” ujar Dave tegas.
“Aku tahu, Dave.” Kekeh Kyuhyun diseberang sana.
***
Jae In mengerjapkan matanya pada cahaya sekitar. Dia mendesis pelan saat merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya. Setelah sepenuhnya sadar, dia mengedarkan pandangannya kesegala arah. Kamar ini bukan kamarnya, bukan juga kamar kakaknya? Dimana dia sekarang?
Pertanyaan yang berkumpul dikepalanya terjawab saat melihat seorang pria yang hanya mengenakan celana jeans hitam tanpa atasan. Kedua pipi Jae In memanas karena melihat dada bidang dan perut sixpack pria itu.
Ia memang sering melihat kakaknya telanjang dada, dan Jae In biasa-biasa saja melihatnya. Tidak seperti sekarang, melihat orang asing itu toples, membuat jantungnya berdegup kencang.
Degupan jantungnya semakin menjadi saat melihat seringain tipis dari pria itu. Pria asing itu berjalan pelan menghampirinya. Oh tidak, kaki jenjang pria itu melewati ranjang. Tubuh tingginya berdiri didepan sebuah lemari besar berwarna hitam.
Jae In melihat semua pergerakkan pria itu dengan pandangan kagum. Ia langsung mengalihkan tatapannya kearah lain saat melihat mata cokelat kegelapan itu menatap tepat kemanik matanya.
“Bersihkan dirimu. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap pria itu dingin.
Jae In mengerjapkan matanya. Ia jadi mengingat percakapan antara dirinya dan Dave, kemarin. Jika kakaknya itu tidak mau, mungkin pria didepannya ini mau menurutinya.
“Mau melakukan seks denganku?”
Jae In melihat mata pria itu yang semakin menatapnya tajam. Oh, apa pria ini marah padanya? Batinnya berkecamuk, hingga tidak menyadari Kyuhyun sudah berada didepannya.
“Kau menawarkan hal itu padaku, nona Park? Apa setiap pria yang bertemu denganmu kau menawarkan hal itu juga?” Desis Kyuhyun.
Jae In tergagap. Dia merasa terintimidasi dengan tatapan Kyuhyun.  “Ya… Tidak! Aku hanya memintanya pada Dave, kemarin…”
Pria itu menegang ditempatnya, lalu menyeringai sinis pada Jae In. “Kau memintanya pada kakakmu sendiri?”
Jae In menganggukkan kepalanya pelan. Bola matanya itu menatap Kyuhyun polos. “Tapi, Dave menolaknya.” Gumamnya.
Kyuhyun hampir saja tertawa keras. Gadis didepannya ini benar-benar luar biasa. Jika tadi Kyuhyun tidak tertarik sama sekali dengan gadis mungil itu, tapi sekarang berbeda. Tingkah polos Jae In membuatnya gemas, ingin melahap gadis mungil ini habis-habisan.
“Kenapa tertawa?” Tanya Jae In bingung.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, tangannya  mengusap rambut gadis itu lembut. Ia akan membicarakan hal ini pada Dave Aguilar, Sahabatnya. Kyuhyun menginginkan Jae In untuk menjadi miliknya, dan mungkin dia juga akan menceritakan keinginan gadis itu pada Dave.
” tidak.”
“Tuan…” cegah Jae In saat Kyuhyun mulai beranjak dari duduknya.
“Namaku Cho Kyuhyun, kau bisa memanggilku Kyuhyun.”
Jae In menganggukkan kepalanya malu. “Kenapa kau tahu namaku?”
Kyuhyun menyeringai. “Karena aku sahabat kakakmu.” Jae In menegang ditempat. Cho Kyuhyun sahabat kakaknya? Pantas saja dia bilang ‘Kau memintanya pada kakakmu sendiri?’
Dunia memang begitu sempit. Oh God! Apa yang akan dilakukan Dave, jika Dave tahu dirinya meminta Kyuhyun untuk melakukan seks dengannya. semoga saja Kyuhyun tidak menceritakan keinginannya itu pada Dave.
“Kau tidak akan bilang pada Dave ‘kan?”
Kyuhyun tersenyum geli. “Kenapa?”
Jae In  menggelengkan kepalanya. “Aku takut Dave marah.”
“Kalau kau takut kakakmu marah, kenapa kau pergi ke club dengan pakaian terbuka seperti itu?” Tanya Kyuhyun dingin.
Jae In mengerjapkan matanya seakan teringat sesuatu lalu menundukkan wajahnya. Pakaiannya berbeda dari semalam. Apa Kyuhyun yang mengganti pakaiannya? Memikirkan seperti itu membuat kedua pipinya semakin memanas.
“Bukan aku yang mengganti pakaianmu, tapi pelayanku.” Ujar Kyuhyun seolah-olah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
Jae In bernapas lega, dan jawaban Kyuhyun membuat Jae In menatap pria itu. “Semalam, kau sangat berbeda hingga aku tidak mengenalimu.” Guman Kyuhyun.
“Berbeda?” tanya Jae In.
Kyuhyun memajukan wajahnya tepat didepan wajah Jae In. Hingga Jae In dapat menghirup aroma maskulin dari tubuh Kyuhyun dan juga deru nafas Kyuhyun. “Semalam kau terlihat lebih dewasa karena gaun itu.”
Kyuhyun menggeram didalam tenggorokkannya karena melihat kedua pipi Jae In yang kembali merona. Sebelah tangannya terulur, menyentuh pipi Jae In lalu mengusapnya lembut.
“Gaun itu bukan milikku. Haneul menyuruhku menggunakan gaun itu jika ingin memasuki club.” Gugup Jae In.
“Kenapa?”
Jae In mengerutkan keningnya karena pertanyaan Kyuhyun. Kenapa apanya?
“Ehm… Aku tidak memiliki gaun yang seksi. Punya satu-satunya, kata Haneul aku seperti ingin menghadiri pesta ulang tahun anak-anak.”
Kyuhyun menatapnya geli. Dengan gemas bibir pria itu menyentuh sudut bibir Jae In, menekannya lembut. Dia semakin terkekeh geli saat mata coklat milik Jae In menatapnya bingung.
“Aku menyukaimu yang seperti ini. Tidak perlu menggunakan pakaian yang seksi atau pun make up yang berlebihan karena kau sudah sangat cantik dimataku.” Goda Kyuhyun.
Jae In memukul bahu Kyuhyun sambil mengerucutkan bibirnya. “Kau pikir, aku menggunakan itu semua untukmu.”
Kyuhyun mengangkat bahunya tak acuh, lalu beranjak dari duduknya. “Pergilah mandi! Kutunggu kau di ruang makan!”
Jae In menatap kepergian Kyuhyun dengan kesal. Sepertinya pria itu sudah terbiasa berkeliaran disekitar rumah dengan bertelanjang dada. Apa tidak masuk angin? Ck, pemikiran apa itu.
Setelah selesai mandi, Jae In melangkahkan kakinya menuruni rumah besar Kyuhyun. Rumah Kyuhyun lebih besar dari pada rumahnya. Rumah Kyuhyun seperti istana kepresidenan. Jae In tidak akan melupakan kejadian tadi, dia tidur dikamar pria itu, mungkin. Dilihat dari interior kamar yang rata-rata berwarna hitam-putih, membuat Jae In langsung terpikirkan jika itu kamar Kyuhyun. Yah, walaupun dia sendiri sedikit tak yakin. Jae In akan menanyakannya langsung pada Kyuhyun, nanti.
Suasana didapur cukup sunyi. Hanya ada beberapa pelayan yang lewat sambil membungkukkan badan saat melihat Jae In. Gadis itu sedikit gugup diperlakukan seperti itu. Dia terbiasa dihormati oleh pelayan-pelayan yang ada dirumahnya. Itu karena Jae In menganggap pelayan-pelayan dirumahnya sebagai keluarganya sendiri. Jae In sangat dekat dengan mereka, sejak kecil dia hanya dekat dengan mereka, Dave, dan kedua orang tuanya. Keluarganya terlalu over protektif pada dirinya, hingga tidak diperbolehkan main bersama teman sebayanya disaat masih anak-anak.
“Melamun, cantik?”
Jae In terlonjak kaget karena mendengar suara rendah tepat ditelinganya. Tangan mungilnya hampir saja memukul kepala Kyuhyun karena melihat seringaian tipis di bibir pria itu. sambil memutar kedua bola matanya, Jae In berjalan mendahului Kyuhyun dengan kaki yang dihentak-hetakkan.
Dibelakangnya, Kyuhyun terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan Jae In. Dia menangkap tubuh mungil itu lalu menggendongnya. Jae In membelalakan matanya. Jae In hampir berteriak, jika saja Kyuhyun tidak menutup bibir mungil gadis itu dengan bibirnya.
Kyuhyun menahan senyumnya saat gadis digendongannya itu mengerjapkan matanya dengan bingung.
“Ka-kau menciumku dua kali?” Desis Jae In seperti bertanya pada dirinya sendiri. Kyuhyun tertawa pelan lalu menurunkan Jae In disebuah kursi. “Semuanya hanya kecupan, bukan ciuman?” Kekeh Kyuhyun sambil mendudukkan dirinya disamping Jae In.
“Kau menyayangiku?” Tanya Jae In lagi. Kyuhyun menatapnya dengan pandangan bertanya.
“Kata Dave, jika dia mengecup dahiku itu tandanya dia sangat menyayangiku. Lalu, kau mengecup bibirku. Berarti kau lebih menyayangiku?” Jelas Jae In sedikit ragu.
Kyuhyun tertawa kencang. Ooh Jae In-ya yang polos, menggemaskan, sekaligus menggairahkan. Gadis sepolos ini siapa yang mengajarinya berkata seperti tadi? Sepertinya pergaulan anak-anak jaman sekarang lebih berbahaya.
“Katakan! Apa kau masih tertarik ingin melalukan seks?” Tanya Kyuhyun serius.
Jae In tersipu malu. Matanya mencoba menatap kearah lain. Tidak ingin menatap mata coklat kegelapan milik Kyuhyun yang menatapnya tajam. Mulutnya sudah terbuka, tapi kata-kata yang ingin dikeluarkan seperti tertahan ditenggorokkannya. Alhasil, Jae In menggelengkan kepalanya dengan lesu.
“Tidak tertarik? Kenapa?” Tanya Kyuhyun lagi. Masih dengan tatapan tajamnya. Jae In merasa seperti sedang ditelanjangi oleh tatapan Kyuhyun saat ini.
“A__Aku tidak akan meminta padamu lagi. Mungkin, aku akan meminta teman-teman priaku…” cicit Jae In.
Kyuhyun menggeram. Matanya seperti api yang membara. Dan Jae In merutuki perkataannya barusan karena melihat tatapan pria itu yang semakin menyeramkan.
“Kau tidak tahu rasanya akan sesakit apa saat pertama kali kau melakukannya?” Gumam Kyuhyun tajam.
Jae In mendongakkan wajahnya. Kilat-kilat kemarahan di mata Kyuhyun sedikit padam. “Memangnya sangat sakit?” Gumamnya bingung.
Kyuhyun tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Jae In, tangannya mengusap rambut kecoklatan Jae In yang tergerai dengan lembut. “SANGAT. Aku yakin, kau tidak akan mau merasakannya lagi setelah tahu rasanya.” Ucap Kyuhyun tegas. Dia melihat raut wajah Jae In yang meringis ngeri. Gadis ini pasti sedang membayangkan perkataannya.
“Kalau begitu, aku tidak akan memintanya pada siapa pun lagi!” Ujar Jae In ketakutan. Kyuhyun tersenyum dalam hati karena berhasil membuat Jae In melupakan keinginannya itu. Gadis ini masih terlalu muda untuk melakukan hubungan diluar nikah.
“Tunggu 2 tahun lagi, hingga umurmu genap 20. Aku akan melakukannya denganmu.” Ujar Kyuhyun.
“Kau bilang rasanya sangat sakit? Aku sudah tidak tertarik lagi. Aku tidak mau…” desis Jae In ngeri.
Kyuhyun terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan Jae In. “Rasanya berbeda jika kau melakukannya dengan orang yang kau cintai.”
“Memangnya aku mencintaimu?” Tanya Jae In bingung.
Kyuhyun mengangkat bahunya tak acuh. “Tanyakan pada dirimu sendiri. Lagipula, jika kau tidak mencintaiku, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku.” Gumam Kyuhyun misterius.
***
Saat ini mobil mewah milik Kyuhyun telah sampai di pekarangan rumah Park Daehwa. Jarak dari pagar hingga sampai dirumah keluarga Park lumayan jauh. Mungkin, jika kita berjalan kaki membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai.
Jae In mengerutkan alisnya saat Kyuhyun ikut turun mobil, lalu berdiri tepat disampingnya. Sialnya dia malah terpesona dengan ketampanan Kyuhyun. Saat ini Kyuhyun mengenakan kemeja berwarna dark blue dengan dua atau tiga kancing teratas yang terbuka sehingga Jae In bisa melihat kaos berwarna hitam didalamnya. Belum lagi celana denim dan rambut Kyuhyun yang sengaja dibuat acak-acakkan, Sangat sexy.
Ugh… Jae In ingin sekali merasakan kelembutan rambut coklat Kyuhyun. Ingin jari-jari lentiknya tertanam dirambut pria itu.
“Kenapa melamun, sayang?” Bisik Kyuhyun geli.
Jae In terlonjak kaget karena mendengar suara rendah Kyuhyun tepat ditelinganya. Pipinya merona merah. Jae In merasa seperti seorang penjahat  yang tertangkap basah sedang mencuri.
“A… Aku tidak melamun.” Jawab Jae In berusaha tenang, walaupun gagal. Kyuhyun tertawa kecil lalu mengecup pipi Jae In yang masih merona merah. Dia melakukan kesalahan karena pipi gadis itu semakin memerah, dan Kyuhyun harus lebih bisa mengendalikan diri agar tidak menyeret Jae In ke ranjangnya saat itu juga.
“Aku ingin bertemu dengan Dave, ayo.” Ujar Kyuhyun sambil membawa tangan mungil Jae In kedalam genggamannya.
Kyuhyun membuka pintu rumah Jae In dengan mudahnya. Bahkan Jae In bingung, sebenarnya siapa yang punya rumah?
“Jae…” Jae In melihat Dave yang menghampirinya dengan pandangan khawatir. Dibelakang Dave ada Haneul yang berlarian kearahnya. Dia melepaskan genggaman Kyuhyun lalu merentangkan tangannya menerina pelukan sahabatnya itu. Jae In terkekeh pelan saat Haneul menangis dibahunya.
“Hei.. Why you cry?” Tanya Jae In lembut, dan Jae in hampir saja tertawa melihat Haneul menangis. Ini kejadian langka! Jae In sangat tahu bagaimana Haneul. Haneul sangat jarang menangis. Sekarang lihatlah, Haneul menangis karena mengkhawatirkannya. Oh sahabatnya yang manis..
“Stupid girl! Aku takut kau dibawa oleh pria tua dengan perut buncit yang ingin memperkosamu! Aku takut kau kenapa-kenapa karena aku.”
See.. Jae In sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia menggelengkan kepalanya pelan, masih dengan tawanya. Haneul yang melihat Jae In tertawa malah menghentakkan kakinya kesal. Percuma, dia menangis dari kemarin karena Jae In menghilang, dan sekarang Jae In berdiri didepannya lengkap dengan kekonyolannya.
Jae In mengusap ujung matanya yang berair, lalu membawa Kyuhyun kesampingnya. “Ini yang kau bilang pria tua dengan perut buncit?” Goda Jae In.
Diam-diam Dave dan Kyuhyun saling melirik sambil terkekeh. Persahabatan kedua gadis itu memang aneh. Kadang kala Jae In yang berperilaku seperti anak kecil, dan juga kadang sebaliknya. Haneul mengerjapkan matanya takjub. Pikirannya selama ini salah. Pria itu tampan, tidak seperti yang ia pikirkan.
Jae In tersenyum lebar saat melihat kucing kesayangannya. Kucing scottish fold kecil berwarna putih kecoklatan yang berlarian dengan lincahnya menghampirinya. “Lucy…” pekiknya.
Jae In membawa kucing itu kedalam pelukannya lalu menciumi seluruh wajah kucing kesayangannya. kucing lucu itu mengeong-ngeong dalam pelukan Jae In sambil mengusapkan bulu halusnya kepipi gadis itu. Jae In tertawa pelan melihat Lucy yang bermanja-manja dengannya.
“Astaga…”
Jae In mengalihkan tatapannya ke Kyuhyun. Pria itu sedang berusaha menahan tawanya dengan pandangan yang lurus kedepan. Jae In mengikuti arah pandang Kyuhyun, dia tersenyum lebar saat melihat Billy (kucing jantan pasangan lucy) yang terlihat kesusahan berjalan karena pakaiannya yang seperti seorang bajak laut.
Jae In mendelikkan matanya kearah Dave dan Haneul bergantian. Haneul melambaikan tangannya sambil menggelengkan kepalanya, seolah-olah tahu apa arti tatapan Jae In. Jae In menghela nafasnya kasar lalu menatap Dave sinis. “Kau mengenakannya baju seperti itu, Dave?” Tanya Jae In sarkastik.
Dave mengangkat bahunya acuh lalu tertawa pelan. “Dia lucu.” Jawab Dave konyol.
Jae In menghentakkan kakinya kesal melihat kakaknya yang cekikikkan. “Aku tahu Billy memang kucing yang lucu, Dave!”
Kyuhyun membawa Billy kedalam gendongannya sambil memainkan kedua kaki depan Billy yang dipasang sarung seperti seorang bajak laut. Kucing itu mengeong-ngeong dalam pelukkan Kyuhyun. “Hai kapten Billy.. senang bertemu denganmu, boy.”
Jae In tertawa pelan melihat tingkah Billy yang tidak biasa pada orang asing. Biasanya kucing itu takut dengan orang yang baru dikenalnya, tapi sekarang malah bermanja-manja dipelukan Kyuhyun.
“Come on Captain Billy… kau harus ikut denganku..” seru Haneul sambil membawa kucing kesayangan Jae In kedalam gendongannya. Jae In tersenyum lebar. Dia mengikuti langkah kaki Haneul yang berjalan didepannya.
Baru beberapa langkah Jae In berjalan, gadis itu kembali lagi ketempatnya semula lalu mengecup pipi Kyuhyun singkat. “Thank you, Oppa.” Gumamnya malu.
Kyuhyun tersenyum tipis. Pandangan matanya menatap kepergian Jae In yang berlarian menaiki tangga rumah. Dari sudut matanya, Kyuhyun melihat Dave yang menatapnya tajam.
“Kau tidak mempersilahkanku untuk duduk?” Gumam Kyuhyun sedikit geli melihat Dave yang kesal.
Dave mendengus kasar. Tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun, dia duduk disofa sambil mendesis geram. “Apa yang terjadi semalam?” Gumam Dave sambil memijat keningnya. Dia berusaha menetralkan pikiran negatif yang berkeliaran dikepalanya.
Kyuhyun duduk didepan Dave sambil menyandarkan tubuhnya. “Kau tidak menawarkanku minum?” Goda Kyuhyun dengan sebelah alis yang sengaja dinaikkan. Kyuhyun tertawa kencang karena Dave melototinya sambil menggeram marah. Kyuhyun memang suka sekali membuat Dave naik darah. Jika pria itu sudah berteriak padanya, maka pada saat itu juga Kyuhyun langsung berlari menjauh dari Dave sambil tertawa sepuas-puasnya.
“Ahjumma… bawakan sebotol red wine kemari.” Teriak Dave. Tak lama datang seorang wanita paruh baya membawa nampan berisi dua gelas kosong dan sebotol red wine, seperti yang diperintahkan Dave. “Terimakasih.” gumam Dave.
Kyuhyun menuangkan minuman tersebut kedalam gelas miliknya dan milik Dave. Dia mengambil gelasnya lalu menyesapnya pelan.
“Jawab pertanyaanku Cho Kyuhyun!” Sinis Dave.
Kyuhyun menegakkan bahunya lalu berdeham pelan. Dia menatap mata Dave lekat sambil menyeringai. “Aku tidak melakukan apapun padanya.” Jawab Kyuhyun jujur.
Dave mengerutkan alisnya, dia menatap mata Kyuhyun. Berusaha mencari kebenaran disana. Dave tahu kalau Kyuhyun tidak pernah berbohong. Pria itu sangat mementingkan kejujuran dikehidupannya.
Jadi jangan macam-macam dengan Kyuhyun. Jika dia dibohongi, maka pada saat itu juga Kyuhyun mengeluarkan sifat aslinya.
“Hanya kecupan dibibir.” Kyuhyun kembali tertawa saat Dave menatapnya garang.
“Hei… aku tidak melakukan apapun lagi selain itu. Lagipula Jae masih begitu polos ya… dia memintaku untuk melakukan seks dengannya.” Ujar Kyuhyun panjang lebar.
Dave kembali dibuat kaget oleh perkataan Kyuhyun. “Dia memintamu…” gumam Dave deengan bodohnya. Adiknya benar-benar meminta pada orang lain?
Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan, lalu menegakkan tubuhnya. “Tenang saja, Bung. Aku tidak menuruti keinginannya. Sekarang aku jamin dia tidak akan memintanya pada siapapun lagi.”
“Kenapa kau bisa seyakin itu?” Gumam Dave sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan mata yang terpejam.
“Aku menakutinya.” Kekeh Kyuhyun.
“Menakutinya?”
“Aku bilang rasanya akan sangat sakit.” Jawab Kyuhyun.
Dave menghela nafasnya, sedikit lega karena Kyuhyun bisa mengatasi keinginan aneh adiknya.
“Aku tertarik padanya.”
Kyuhyun tertawa pelan saat melihat raut bingung Dave. “Jae In..”
Dave menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja dia merasakan pusing dikepalanya. Kyuhyun, sahabatnya yang kaku, sahabatnya yang jarang sekali bersikap hangat pada perempuan, sekarang tertarik pada adik tiri kesayangannya.
Oh God!
Dave melihat mata cokelat tajam Kyuhyun, dan melihat keseriusan disana. Yah, Dave tidak mungkin melarang Kyuhyun untuk menyukai adiknya. Dia tidak mungkin sejahat itu pada sahabatnya sendiri.
“Kenapa?” Tanya Kyuhyun saat melihat keraguan di mata Dave.
Dave menegakkan tubuhnya. Dia tersenyum kikuk. “Kau benar-benar tertarik padanya?” Tanya Dave.
Kyuhyun menatapnya geli. “Ya, aku ingin menikahinya dua tahun lagi.”
“Kau serius dengan ucapanmu, Cho Kyuhyun?”
Kyuhyun menganggukkan kepalanya cepat.
“Baiklah, kau harus bisa menahan diri selama dua tahun. Kau tidak boleh menidurinya sebelum kalian menikah! jangan berbungan dengan wanita lain dan jangan sekali-kali kau menyakitinya, mengerti!” Tegas Dave.
Kyuhyun tersenyum lebar. “Aku tahu, Dave. Aku berjanji untuk tidak selingkuh atau pun menyakitinya. Aku akan mencintainya seumur hidupku, membuatnya nyama bersamaku, dan tidak ada wanita lain yang bisa menggantikannya”
Dave tersenyum tipis. Baru kali ini dia melihat Kyuhyun yang tersenyum sumringah. Sepertinya Kyuhyun sedang jatuh cinta? Yah Dave pernah merasakannya belum lama ini. Jadi dia tahu apa yang dirasakan Kyuhyun.
“Karena ada kau, aku titipkan adikku padamu. Besok aku harus pergi ke Venice, mengurus perusahaanku disana. Jadi, sebaiknya Jae In menginap dirumahmu selama aku pergi.”
Kyuhyun mengerutkan alisnya, setelahnya ia menyeringai. “Kau tidak takut aku melakukan sesuatu pada adikmu?” goda Kyuhyun.
Dave mengangkat bahunya. “Aku percaya padamu. Lagipula aku hanya pergi tiga hari.”
“Kalau begitu terima kasih sudah percaya padaku.”
***
Jae In menggerutu kesal karena Dave baru pamit sekarang. Bagaimana tidak kesal, disaat kau masih terlelap tidur dan kakakmu itu tiba-tiba membangunkanmu lalu pamit ingin pergi. Yah walaupun hanya beberapa hari, itu terasa sulit bagi Jae In yang selalu bermanja-manja pada Dave.
Bahkan Dave terlihat biasa-biasa saja. Tidak merasa bersalah sedikit pun. Padahal sejak tadi Jae In selalu mendesis kesal. Dave malah sibuk bercanda dengan kedua sahabatnya, yang Jae In tahu namanya kalau tidak salah Eunhyuk dan Donghae. Mereka semua tampan, Jae In akui itu. Lagi pula mana mungkin Dave mau berteman dengan orang jelek!
Kemana Kyuhyun? Dari tadi Jae In tidak melihat pria itu. Mobilnya pun belum ada di halaman rumahnya. Oh iya, sekarang hari pertamanya kuliah. Seharusnya kemarin, tapi karena insiden itu, Jae In terpaksa meninggalkan hari pertamanya menduduki bangku perguruan tinggi.
Sebuah mobil Lamborghini Veneno Roadster memasuki pekarangan rumahnya. Jae In menganga. Kyuhyun terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Rambut kecoklatan pria itu berterbangan tertiup angin. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya dan sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat.
T-shirt berlengan pendek berwarna hitam dengan celana jeans hitam dan sepatu kets berwana putih. Jae In ingin sekali melarikan tangannya kewajah Kyuhyun. Jae In tidak munafik, sahabatnya Dave memang tampan, tapi tidak lebih tampan dari Kyuhyun.
Oh sial!!
Pria itu malah menyeringai tipis kearahnya. Jae In lagi-lagi tertangkap basah sedang mengagumi ketampanan Kyuhyun. Oh pipinya…
“Hoho Mobil baru lagi?” pekik Eunhyuk sambil merangkul bahu Kyuhyun. Kyuhyun mengangkat bahunya dengan pandangan yang terarah ke Jae In. Ketiga sahabatnya yang tahu arah pandang Kyuhyun diam-diam tersenyum. Dave merangkul bahu Eunhyuk dan Donghae agar mengikuti langkahnya. Sebelum pergi dia melihat kebelakang dan mengedipkan sebelah matanya untuk Jae In.
“Ingin pergi?” Tanya Kyuhyun.
Jae In mengerjapkan matanya lalu mengangguk. Pipinya kembali memanas karena Kyuhyun menatapnya lekat-lekat. Setelahnya dia mendengar desisan kesal dari pria di depannya. “bajumu terlalu terbuka!” Geram Kyuhyun.
Jae In mengerutkan alisnya. Apa yang salah dari bajunya? Dia hanya mengenakan dress bermotif bunga-bunga dengan tali spageti, panjangnya diatas lutut dan tidak terlalu pendek. Tidak lupa juga rambutnya yang dikuncir kuda.
Tiba-tiba Kyuhyun maju beberapa langkah, hingga berdiri tepat didepannya. Tangan pria itu melepaskan kunciran rambut Jae In hingga rambut gelombang Jae In tergerai indah. “Aku tidak ingin mereka melihat bahu indahmu, sayang.”
“Kenapa?” Gumam Jae In.
“Karena kau milikku.”
To Be Continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: