Young Wild and Free Part 4

0
Author             : MyLovEvil
Title : Young, Wild, & Free
Cast : Cho Kyuhyun, Park Jae In
Category : NC-21, Romance, Chapter
Desclaimer      : Maaf ya kalo Chapter 4-nya lama. Di part ini ceritanya full of romance, jadi saya sarankan bagi yang tidak suka cerita yang ‘romance-nya kebangetan’ harap tekan tombol back ya.. dan maaf dipart sebelumnya ada yang bingung karena ada nama Lana ya? Itu seharusnya Haneul hehe. Typo menganggu ya T.T
Ff ini tadinya aku buat 2 versi, ada versi korea sama barat. Yang barat khusus buat di wattpad, tapi sekarang lebih fokus yang versi Kyuhyun kok. Terima kasih juga ya atas feedback-nya dari kalian, komentar kalian menambah semangat menulis saya ^^ maaf juga gak bisa bales komentar kalian huhu

Sorry For Typo’s and Happy Reading
===oOo===
Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Hampir setiap jam Kyuhyun selalu terbangun dari tidurnya. Pikirannya kacau, bahkan sepulangnya dari rumah Jae In, Kyuhyun tidak membersihkan dirinya sama sekali. Pemuda itu lebih memilih meratapi kesalahannya tadi daripada membersihkan diri disaat pikirannya sedang kacau.
Mungkin Jae In marah padanya karena dia hampir kehilangan kendali. Nafsu binatangnya muncul disaat yang tidak tepat, dan yang lebih parahnya lagi, Dia pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun. Kyuhyun sempat melihat mata indah Jae In berkaca-kaca. Sungguh sial sekali nasibnya saat ini. Kyuhyun hampir saja mengecewakan Dave dan Park Daehwa, tapi dia juga sudah membuat Jae In sakit hati.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Meminta maaf?
Kyuhyun tidak ingin berada didekat Jae In selama dia belum bisa mengendalikan nafsunya. Butuh waktu lama bagi Kyuhyun untuk menguatkan akal sehatnya sebelum bertemu Jae In. Dua tahun bukanlah waktu yang lama. Tapi, kenapa dalam waktu beberapa minggu ini, kendali dirinya bisa goyah?
“Aku harus meminta maaf pada Jae In.” gerutu Kyuhyun, mengusap wajahnya kasar. Ia bangun dari tidurnya, menyibak selimut tebal dipangkuannya dengan kesal.
sepertinya pergi ke ruang kerjanya adalah pilihan yang tepat. Mungkin Kyuhyun bisa mengalihkan pikirannya tentang Jae In, disana.
Suasana rumah mewah Kyuhyun terlihat sangat sepi di waktu yang sepagi ini. Biasanya para pelayan di rumahnya baru datang pada pukul lima pagi. Sepertinya Jeremy belum terbangun dari tidurnya. Kyuhyun sengaja menyuruh Jeremy untuk tinggal disini. Dia tidak ingin mengambil resiko. Oh jangan lupa juga penjagaan super ketat di pintu pagar, maupun disetiap sudut jendela dan pintu rumahnya.
Kyuhyun bukanlah orang sembarangan. Dia termasuk orang tersukses. Pastinya ada orang-orang yang memiliki niat jahat terhadapnya. Kyuhyun menyewa puluhan Bodyguard bukan karena dirinya terlalu lemah atau apa. Dia bahkan sudah memegang sabuk hitam taekwondo, Kyuhyun juga mahir menembak tepat sasaran, intinya dia mahir dalam ilmu bela diri.
Pria itu membuka pintu ruang kerjanya. Disana terlihat gelap, hanya cahaya sinar rembulan yang menerangi melalui jendela besar yang tirainya tak tertutup. Kyuhyun sudah terbiasa tidak menutup tirai jendela karena keindahan kota Seoul yang selalu menghipnotis matanya. Kerlap-kerlip lampu jalanan dan sejuknya udara malam, membuat Kyuhyun betah berlama-lama berdiri disana sambil menikmati pemandangan. Belum lagi pemandangan saat terbitnya matahari dan Kyuhyun terbiasa bangun pagi untuk melihatnya.
.
Jae In memakan sarapannya dengan lesu. Daehwa dan Nuri yang melihat putri mereka murung hanya bisa berdiam diri. Mereka tidak mungkin menanyakan hal yang terjadi pada putri semata wayangnya disaat gadis itu masih belum mau berbicara. Mereka takut malah semakin membuat Jae In murung jika bertanya sekarang. Yah satu-satunya orang yang bisa membuat Jae In mengeluarkan keluh kesahnya hanya Dave.
“Aku selesai.” Guman Jae In lesu. Park Daehwa dan Nuri hanya menganggukan kepalanya kompak. Mereka tentu saja khawatir dengan kondisi Jae In sekarang ini.
Tadi malam pun mereka sedikit curiga dengan reaksi Kyuhyun yang berulang kali meminta maaf sebelum pergi. Dan sekarang mereka mendapati kondisi buruk putri kesayangannya, mata yang membengkak, kedua pipinya yang terlihat merah, dan juga sifat pendiamnya yang muncul secara tiba-tiba.
“Oh ya, Kyuhyun bilang, supirnya menjemputmu.” Sahut Nuri sebelum putrinya pergi.
Jae In menundukan wajahnya tanpa mau menjawab perkataan sang ibu. Dengan gerakan pelan, Jae In mengambil tas ranselnya, kemudian berlalu dari sana.
Jae In berjalan pelan menuju sebuah mobil Audi hitam yang terparkir tepat di halaman rumahnya. Dia juga melihat Jeremy yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa tukang kebun rumahnya.
Jae In masuk kedalam mobil. Membiarkan Jeremy menyelesaikan perbincangannya. Gadis itu mengambil ponsel di saku celananya. Wajahnya semakin terlihat murung setelah melihat wallpaper ponselnya yang menampilkan wajah tampan Kyuhyun.
“Kenapa harus tersenyum selebar ini didepan kamera!! Aku membencimu Cho Kyuhyun!!” Gerutu Jae In yang tak menyadari posisi Jeremy disampingnya.
“Dia benar-benar pria yang sukses ya diumurnya yang masih muda?”
Jae In menoleh dengan wajah tertekuk. Wajahnya memerah, menahan malu karena tertangkap basah mengumpat Kyuhyun yang jelas-jelas majikan pria disampingnya. Tapi sepertinya Jeremy tidak menanggapi umpatannya, malah mengagumi kesuksesan majikannya sendiri.
“Eh… dia biasa saja, menurutku dia tidak ada hebat-hebatnya sama sekali.” Cibir Jae In. Padahal di dalam hatinya dia sedikit membenarkan perkataan Jeremy.
Jeremy mengerutkan alisnya. Merasa ada yang aneh dengan sikap Jae In yang sekarang. Tadi pagi pun dia sempat melihat raut wajah majikannya yang tertekuk. Apa kedua orang ini sedang ada masalah? Pikirnya.
“Jeremy-ssi.”
“Ne?” Sahut Jeremy dengan tatapan yang fokus kedepan.
“Apa Kyuhyun mengatakan sesuatu?” Tanya Jae In hati-hati.
Jeremy terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Jae In. “Dia tidak mengatakan apapun? Hanya menyuruhku untuk mengantar jemputmu.”
Jae In mendesah kecewa. Kyuhyun tidak mengatakan apa pun? Bahkan pagi ini, pria itu tidak menampakkan batang hidungnya. Pria menyebalkan! Sangat menyebalkan!
“Lalu apa maksudnya semalam dia pergi begitu saja setelah hampir melakukannya denganku?” Gerutu Jae In pelan.
Jeremy menoleh cepat pada Jae In. Jadi itu alasannya Jae In uring-uringan. Bosnya hampir melakukan sesuatu pada gadis ini?
Jae In turun dari mobil Kyuhyun, menghempaskan pintu mobil itu kencang. Dia tidak lagi menoleh kebelakang, masa bodoh dengan keadaan mobil itu jika sewaktu-waktu rusak karena ulahnya tadi. Lagipula Kyuhyun masih bisa mengganti mobil yang baru.
Baru saja dirinya sampai di depan kelas Haneul, Jae In kembali mundur beberapa langkah untuk melihat kedalam kelas Haneul. Tapi sayangnya, dia tidak menemukan gadis itu dimana pun. Kemana perginya Haneul? Selama beberapa hari ini gadis itu pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan pada Jae In. Jae In merasa sangat kesepian sekarang. Tidak ada Dave dan Haneul, kedua orang tersayangnya pergi disaat bersamaan.
Disaat seperti ini dirinya jadi sangat malas belajar. Moodnya sedang memburuk, semuanya karena Kyuhyun! Kapan pria itu menemuinya? Menjelaskan semuanya tentang kejadian kemarin. Tapi setelah dipikir-pikir kenapa Jae In harus marah? Jelas-jelas minggu kemarin dirinya sendiri yang minta Kyuhyun untuk melakukan ‘itu’.
“Huft… Park Jae In kenapa kau bodoh sekali? Sebenarnya kau ini anak siapa! Bagaimana bisa kau memiliki orang tua yang pintar sedangkan dirimu sendiri sangat bodoh.” Gerutu Jae In pada dirinya sendiri. Gadis itu tidak menyadari adanya orang disampingnya, seorang pria yang beberapa kali bertemu denganya dikampus ini.
“Kau kenapa memukuli kepalamu?”
“Hah..” Jae In menghentikan kegiatannya, menoleh kesampingnya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Anni, aku tidak apa-apa hehe.”
“Benarkah? Tadi Kau terlihat sangat frustasi ya, sampai tidak menyadari keberadaanku. Oh iya kita sudah beberapa kali bertemu dan belum mengenal satu sama lain. Namaku Yook Sung Jae.”
“Oh aku Park Jae In.”
“Senang berkenalan denganmu Jae In-ssi. Apa kita bisa menjadi teman?”
“Teman?” gumam Jae In ragu. Selama ini Jae In tidak pernah lagi menerima orang asing datang dikehidupannya. Jika dilihat dari wajahnya, pria didepannya ini orang yang baik-baik. Oh pria ini yang lagi itu satu meja dengannya dikantin kan, pria ini juga yang menabraknya dihari pertama Jae In masuk. Ah sekarang dia mengingatnya.
“Iya tentu saja boleh. Kebetulan sahabatku sedang menghilang entah kemana.” Ujar Jae In penuh semangat.
“Mungkin dia ada urusan mendadak dan tidak bisa mengabarimu. Oh iya apa sahabatmu ada dikelas ini? tadi kau melihat kedalam kelasku?”
Jae In mengalihkan tatapannya kedalam kelas Haneul lalu menganggukan kepalanya, membenarkan perkataan Sung Jae. “Benarkah? Siapa namanya? Mungkin saja aku tahu.” Tanya Sung Jae.
“Kim Haneul.”
“Oh gadis yang duduk dipojokan itu. Beberapa hari ini dia memang tidak pernah masuk kelas. Kami pun tidak tahu kemana perginya dia.”
Jae In mengangguk pelan. Jadi Haneul tidak benar-benar pergi. Apa Dave tahu soal kepergian Haneul? “Sung Jae-ssi, kalau begitu aku kekelas dulu. Annyeong.” Jae In melambaikan tangannya pada Sung Jae.
***
Jae In berjalan tanpa melihat kedepan, wajahnya tertunduk, menatap sepasang sepatu kets miliknya. Pelajaranya telah selesai beberapa menit yang lalu, dan sekarang waktunya pulang. Tapi saat ini gadis itu bingung dengan pikirannya. Apa dia harus pulang kerumah? Tapi Jae In juga ingin melihat pria tampan setengah idiot itu. Jae In tidak menghina Kyuhyun, karena kenyataanya memang benar begitu, pria tampan setengah idiot. Siapa suruh kemarin Kyuhyun pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Kyuhyun memang pantas dipanggil idiot kan?
Jae In mengeratkan mantelnya. Sekarang memasuki musim gugur, dan angin-angin mulai berhembus kencang. Jae In sangat menyukai musim gugur. Dia sangat suka melihat daun-daun jatuh berguguran ditambah kencangnya angin yang berhembus kewajahnya, jadi dia tidak perlu merasa berkeringat. Daun-daun yang berjatuhan disekitarnya membuat Jae In terlihat seperti seorang bidadari yang turun dari kayangan. Semenjak mengenal Kyuhyun, dia memang mengubah penampilannya, tidak semodis seperti dahulu. Sekarang Jae In tidak mementingkah masalah fashion lagi. Yah.. semuanya jadi teralihkan pada pria itu.
“Park Jae In.” Jae In yang merasa namanya dipanggil mengangkat wajahnya. Rambutnya yang tergerai tertiup angin membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri karena kecantikan putri dari keluarga Park itu. Jae In berlarian menghampiri Jeremy yang memanggilnya tadi.
“Oppa, antarkan aku ke kantor Kyuhyun!” Tekad Jae In sudah bulat. Sekarang juga dia harus bertemu Kyuhyun. jika pria itu tidak mau menemuinya, maka Jae In akan memaksa pria itu untuk bertemu dengannya. Keinginannya tidak bisa dibantah oleh siapa pun, termasuk Kyuhyun.
Jeremy mengiyakan keinginan Jae In. Memangnya kenapa, toh bosnya tidak menyuruhnya untuk melarang Jae In bertemu dengan bosnya itu.
Sesampainya disana, Jae In melompat turun dari mobil dengan semangat. Tanpa menunggu Jeremy dirinya berlarian masuk kedalam gedung besar itu. Masa bodoh dengan tatapan para karyawan disana. mungkin beberapa dari mereka sudah pernah melihatnya, karena Jae In dapat melihat beberapa dari mereka yang tersenyum-senyum menatapnya. Memangnya apa yang aneh? Karena dirinya berlari-larian kah?
Sesampainya diruang kerja Kyuhyun. Jae In melihat Dasom yang sibuk berbicara dengan seseorang melalui telephone. Jae In menghampiri Dasom sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Jae In tertawa pelan melihat wajah Dasom yang terkejut. Gadis itu sudah selesai dengan pembicaraannya kemudian menatap Jae In dengan pandangan bertanya.
“Apa Cho Kyuhyun ada didalam?” Tanya Jae In. Dasom melirik pintu besar disebelah kirinya, setelahnya matanya kembali menatap mata Jae In ragu. “Di dalam sedang ada tamu.” Jae In mengikuti arah pandang Dasom lalu menganggukan kepalanya sambil tertawa.
“Aku akan tetap masuk haha. Annyeong Eonnie.”
Jae In berjalan kearah pintu ruang kerja Kyuhyun. Sebelum memutar knop pintu, Jae In menghela napasnya. Berusaha menetralkan pikirannya.
“Oppa…” Pekiknya riang, begitu membuka pintu didepannya. Mulutnya membulat dengan alis yang terangkat. Disana terlihat seorang perempuan yang sedang berusaha menarik dasi Kyuhyun dan posisi Kyuhyun yang berdiri sambil memegang tangan wanita itu membuat hati Jae In terasa panas. Hoho sepertinya perempuan itu sedang menarik perhatian Kyuhyun. Apa dia tidak pernah merasakan kasih sayang hingga harus mencari perhatian Kyuhyun?! Satu lagi, apa maksud Kyuhyun memegang tangan wanita itu?
“Park Jae In.” Gumam Kyuhyun sedikit terkejut.
Jae In tersenyum manis sambil berlarian menghampiri pria itu. Dengan tenaganya yang kecil, Jae In mendorong tubuh perempuan itu dari depan Kyuhyun. Perempuan itu sangat terkejut mendapati perlakuan tak enak dari bocah seumuran Jae In. Sebenarnya hanya umurnya saja yang masih terlihat muda. Jelas-jelas tinggi Jae In melibihi tinggi beberapa senti dari wanita itu.
Jae In menarik rahang Kyuhyun dengan kedua tangan mungilnya, bibirnya mengecup bibir Kyuhyun secepat kilat lalu memeluk lengan pria itu. Matanya sengaja dilebarkan melihat seorang wanita yang tadi sengaja di tabraknya. Dia tersenyum manis pada wanita itu. “Kenapa kau disana? Kurasa tadi kau berada didepan Kyuhyun Oppa?” Tanya Jae In polos. Wanita di depannya benar-benar geram dengan tingkah laku Jae In hingga mengeluarkan tatapan sinis.
“Apa aku mengganggumu Oppa? Sepertinya wanita itu merasa terganggu?” Tanya Jae In sambil mendongakan wajahnya menatap Kyuhyun dengan mata yang berkaca-kaca.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat. Pria itu merasa panik melihat mata Jae In yang kembali berkaca-kaca. Sudah cukup hanya karena kejadian semalam saja dia membuat mata Jae In berkaca-kaca, tidak lagi sekarang! “Astaga kau tidak menggangguku sama sekali sayang. Kumohon jangan menangis.” Pekik Kyuhyun panik. Dia membawa Jae In kedalam pelukannya lalu menggoyangkan badannya kesamping kanan dan kiri sambil mengusap punggung Jae In. Diam-diam Jae In tertawa tanpa suara. Tangannya dia ulurkan untuk memeluk pinggang Kyuhyun, wajahnya ia benamkan dileher pria itu.
“Kurasa kita harus bertemu dilain waktu lagi Kyuhyun-ssi.” Ujar wanita itu setelah melihat sepasang manusia yang saling berpelukan didepannya. Kyuhyun menatap perempuan didepannya lalu mengangguk setuju. “Ya, Sampai jumpa lagi Ara-ssi.” Ujar Kyuhyun.
Perempuan itu hanya mengangguk dan langsung pergi dari sana. Jae In melepaskan pelukan Kyuhyun dengan paksa. Wajahnya memerah menahan malu. Tadi dia biasa-biasa saja, tapi setelah wanita itu pergi dan dia hanya berdua dengan Kyuhyun di suatu ruangan membuat wajahnya memerah mengingat keagresifannya barusan.
Kyuhyun yang melihat Jae In malu-malu terkekeh pelan. Pria itu seolah-olah lupa dengan kejadian semalam karena melihat kondisi Jae In yang baik-baik saja. Apalagi dia baru saja dihadapi sifat Jae In yang agresif. Sepertinya gadis ini ingin membuktikan jika Kyuhyun adalah miliknya. Oh Jae In membuat Kyuhyun gemas.
“Kau memaafkanku?” Goda Kyuhyun.
“Apa?” Tanya Jae In tanpa menatap Kyuhyun. Jae In pura-pura sibuk mencari apa pun yang ingin dibacanya di rak-rak buku milik Kyuhyun. Entah itu majalah bisnis atau apapun itu, lagi pula mana ada komik atapun novel di rak buku seorang CEO perusahaan.
“Kejadian semalam?”
“Bukankah dipertemuan kita waktu itu aku pernah meminta Oppa untuk melakukan ‘itu’? dan Oppa sudah menepatinya, jadi itu tidak masalah untukku.” Sahut Jae In sambil menatap Kyuhyun.
Kyuhyun mengerutkan alisnya mendengar jawaban Jae In. Jelas-jelas dia belum melakukannya sampai ke bagian inti? Kakinya melangkah menghampiri gadis itu. Kyuhyun memutar tubuh Jae In agar menghadapnya. Matanya menatap mata gadis itu sendu dan dia bersumpah, ini terakhir kalinya dia membuat Jae In menangis karenanya. Kedepannya Kyuhyun berjanji tidak akan membuat Jae In menangis. Jika Jae In menangis, dia harus ada disamping gadis itu, menenangkan gadis itu, bukan meninggalkannya.
“Aku tahu kau menangis?” Gumam Kyuhyun menatap lekat-lekat wajah Jae In dan dia melihat kantung mata itu di mata Jae In. Kemudian bibirnya mengecup kedua mata Jae In lembut. “Maafkan aku Park Jae In.” gumam Kyuhyun tulus. “Kau bisa menghukumku jika aku melakukan kesalahan lagi.” Desak Kyuhyun kesal pada dirinya sendiri.
Jae In mengecup bibir Kyuhyun berulang kali, tangannya melingkari leher Kyuhyun. Memeluk tubuh berisi Kyuhyun sambil membenamkan wajahnya dileher pria itu. “Aku lebih suka menampar bibirmu dengan bibirku.” Kekeh Jae In. Kyuhyun tersenyum senang dengan kedua tangannya yang memeluk pinggang ramping Jae In. Pria itu mengangkat tubuh Jae In membuat Jae In semakin mengeratkan pelukannya pada leher Kyuhyun.
“Aku sangat suka hukuman untukku yang kau buat.” Goda Kyuhyun sambil mengerlingkan matanya.
“Jinja?” Tanya Jae In dengan nada menggoda.
“Eoh. Siapa yang mengajarimu menjadi semesum ini?”
Jae In tertawa karena Kyuhyun menggoyangkan badannya. “Oppa.”
“Benarkah? Pasti Dave akan memarahiku karena adiknya telah berubah mesum.” Kekeh Kyuhyun.
“Oppa.” Panggil Jae In sambil menundukan wajahnya, menatap mata Kyuhyun dengan pandangan berbinar.
“Ehm?”
“Apa aku boleh menciummu lagi?” Tanya Jae In malu.
“Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Kyuhyun membuat Jae In mengerucutkan bibirnya.
“Oho baiklah-baiklah sekarang aku akan berbuat salah dan kau bebas menciumku semaumu.”  Kekeh Kyuhyun sambil mencubiti pipi Jae In dengan sebelah tangannya. Jae In tertawa senang dan mulai menciumi seluruh wajah Kyuhyun yang saat ini menjadi bagian terfavoritnya. Membiarkan para Karyawannya melihat kelakuan romantis Kyuhyun melalui  pintu ruang kerja itu yang terbuka lebar.
***
Jae In meluruskan kakinya pada karpet bulu yang didudukinya. Matanya menatap fokus pada layar televisi yang menampilkan film kartun kesukaannya, Doraemon. Mulutnya sibuk mengunyah potongan buah apel yang baru saja dia kupas. Sesekali tangannya membawa potongan buah apel tersebut kearah mulut Kyuhyun hingga harus mendapatkan protesan kesal dari pria itu karena potongan apel itu bukan memasuki mulutnya, malah terkadang mendarat di dagu, pipi ataupun hidungnya. Bagaimana tidak, Jae In menyuapi Kyuhyun dengan tatapan fokus kedepan. Kyuhyun yang saat ini sedang bermain game harus berulang kali menerima kekalahan karena tidak fokus pada permainannya.
Jae In sudah meminta ijin pada kedua orang tuanya untuk menginap dirumah Kyuhyun, dan dengan berat hati kedua orang tuanya mengijinkan permintaan putri mereka. Lagipula Kyuhyun bukanlah orang asing bagi mereka, Kyuhyun, Eunhyuk, Donghae, beserta Haneul sudah mereka anggap seperti keluarga mereka sendiri. Park Daehwa yang penampilannya terlihat gagah sekaligus menyeramkan, pria tua itu menyimpan sebuah kebaikan dihatinya. Apalagi jika dihadapkan dengan putrinya, hatinya akan benar-benar luluh melihat tatapan memelas Jae In.
“Oppa, kau mau membelikanku boneka itu?” Gumam Jae In. Kyuhyun mem-pause gamenya, beralih menatap layar televisi yang ditunjuk Jae In. “Yang mana? Doraemon?”
“Bukan. Eh tapi Doraemonnya juga tidak apa-apa. Maksudku, aku ingin semuanya! Nobita, Sizuka, Doraemon….”
“Adakah keinginan yang lebih gila dari gadis seusiamu? Kemana Boneka panda yang waktu itu kita beli? Kau hanya menggunakan boneka kelincimu.” Gerutu Kyuhyun.
Jae In mengerucutkan bibirnya dan lebih memilih untuk tak menanggapi perkataan Kyuhyun. Kepalanya menoleh ke samping, menatap kedua kucing kesayangannya yang berlarian kesana kemari merebutkan sebuah bola kecil berwarna biru. Jae In tertawa gemas melihat kedua kucing kesayangannya. Kakinya melangkah menghampiri kedua binatang itu.
“Bisakah dia tidak berkeliaran disini dengan baju itu.” gerutu Kyuhyun sambil mengusap wajahnya. Bagaimana tidak, Kyuhyun bisa melihat dengan jelas celana dalam Jae In, disaat Jae In bangun dari duduknya. Jae In hanya mengenakan baju terusan berwarna hitam, bergambar Mickey Mouse, dan tingginya hanya menutupi setengah paha gadis itu. Kyuhyun harus berulang kali mengalihkan tatapannya dari kaki jenjang gadis itu. Belum lagi rambutnya yang digulung keatas hingga harus menampilkan leher putih bersihnya. Oh God! kuatkan iman Kyuhyun sekarang juga!
Jae In mengambil Billy kedalam pelukannya, mengelus bulu-bulu halus berwarna putih kecoklatan kucing itu. Lucy berlarian menghampirinya, seolah-olah tidak terima jika hanya Billy yang mendapatkan pelukannya. Jae In tertawa lalu mengulurkan sebelah tangannya, membawa Lucy kedalam pelukannya. Kedua kucing itu mengeong-ngeong  didalam pelukan Jae In.
Kyuhyun datang dengan membawa semangkuk sereal untuk Kucing milik Jae In. Pria itu berjongkok sambil mengulurkan tangannya kearah mulut-mulut kucing itu. Lucy maupun Billy melompat turun dengan lincah begitu melihat makanannya. “Wah, makan yang banyak eoh.” gumam Jae In, mengelus kepala kucingnya bergantian. “Sudah berapa lama kau merawat kucing ini?”
“Sekitar dua tahun.”
“Apa mereka membuang kotoran sembarangan?” tanya Kyuhyun langsung. Jae In terkejut mendengar pertanyaan Kyuhyun. “Awalnya seperti itu, tapi setelahnya aku mengajari mereka untuk membuang kotoran ditempat Khusus. Dave bahkan menyewa seorang arsitek, untuk membuat sebuah kamar mandi kecil untuk mereka.”
“Kamar mandi khusus?”
“Ya.”
Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Kalau begitu waktu itu umurmu 16 tahun.”
“Ya.”
“Sebenarnya apa yang selama ini kau lakukan Park Jae In? Kau tidak terlalu mengerti dunia luar, dan sangat jarang ada gadis sepolos dirimu diumur yang sudah beranjak dewasa ini? oh kau juga pernah memintaku untuk melakukan seks? Bagaiman bisa kau meminta setiap orang untuk melakukan ‘itu’? Sebenarnya apa yang diajarkan Dave ataupun ayahmu selama ini?” Tanya Kyuhyun, matanya yang tajam menatap mata Jae In yang terlihat bingung.
“A…Apa yang Oppa bicarakan? Dave maupun Appa tidak pernah mengajariku untuk berkata seperti itu. Aku hanya…. pernah mendengar dari teman satu angkatanku waktu SMA, jika mereka sudah melakukan seks dan katanya rasanya sangat luar Bi…”
“Stop.” Kyuhyun menghentikan ocehan gadis itu sebelum gadis di depannya ini berbicara semakin jauh yang malah membuatnya berpikiran kearah hal-hal negatif. Kedua tangan besarnya menangkap kedua bahu Jae In, mencengkramnya erat. Matanya terlihat lebih tajam dari sebelumnya. “Apa Dave dan ayahmu selalu melarangmu keluar rumah? Melarangmu bergaul bersama teman-teman yang seumuran denganmu? Apa selama ini kau hanya berteman dengan Haneul ataupun boneka kelincimu itu?”
“Eoh.” jawab Jae In sambil menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan pria itu. Setelahnya Jae In tersadar jika semuanya tidak benar. Dia buru-buru melambaikan tangannya dengan panik. “Dave maupun Appa tidak pernah melarangku keluar rumah. Selama ini aku memang sering menghabiskan waktuku dirumah daripada diluar rumah. Dan… temanku memang hanya Kim Haneul dan boneka itu. Aku tidak ingin memiliki teman yang tidak benar-benar tulus berteman denganku, maka dari itu aku lebih suka bermain dirumah bersama Dave, Haneul, boneka kelinci, dan para pelayan dirumah.” Jelas Jae In panjang lebar.
Kyuhyun menarik tangan mungil Jae In agar mengikuti langkahnya. “Kalau begitu jangan pernah meminta hal-hal aneh pada siapa pun lagi.”
“Meminta hal-hal aneh apa?”
“Melakukan seks. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayahmu setelah beliau tahu keinginan gilamu itu.”
Jae In hanya cekikikan, setelahnya ia meninju pelan perut Kyuhyun. “Eoh iya, Siapa gadis itu?” Tanya Jae In penasaran dengan gadis yang sengaja di tabraknya diruang kerja pria itu.
Kyuhyun berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Jae In. “Go Ara, dia sahabatku waktu SMA.”
Jae In menganguk-angguk paham. “Sepetinya dia menyukaimu?” Gumam Jae In dengan suaranya yang terdengar sangat kecil, seperti sebuah bisikan hanya untuk dirinya sendiri. Kyuhyun menghentikann langkahnya, mata tajamnya menyaksikan bagaimana sedihnya raut wajah Jae In saat ini. Gadisnya sedang cemburu rupanya?
“Aku tahu.” Ujar Kyuhyun dengan nada menggoda membuat Jae In mendongakan kepalanya. “Eoh.. Oppa sudah tidak menyukaiku? Aku tidak apa-apa. Mungkin Go Ara itu lebih baik dari Jae In dan Oppa pasti sangat menyukai wanita karir sepertinya kan? Jae In senang kalau Oppa senang. Sekarang apa Jae In tidak boleh dekat-dekat dengan Opp…?”
Sebelum Jae In menyelesaikan perkataannya, Kyuhyun menempelkan bibirnya dibibir Jae In. Jae In merasakan sentakan aliran listrik didalam perutnya ketika Kyuhyun menciumnya dengan tergesa-gesa. Ciumannya kali ini terasa berbeda dari biasanya. Biasanya Kyuhyun selalu bersikap lembut, tapi ciuman kali ini sarat akan emosi. Seperti ada suatu masalah yang ditutup-tutupi oleh pria itu. Sebelah tangan Jae In mencengkram lengan Kyuhyun, berusaha menghentikan ciuman kasar yang Kyuhyun berikan.
Tapi pria itu seolah-olah tuli. Yang dipikirkannya hanya ingin membungkam bibir ranum milik Jae In dengan bibirnya. Memberi peringatan gadis itu agar tidak mengulangi perkataan yang merendahkan dirinya sendiri. Setelah puas, Kyuhyun menarik kepalanya sedikit. Hidung beserta keningnya masih menempel dikening serta hidung bangir Jae In, bibirnya hanya berjarak beberapa senti dari bibir Jae In hingga Kyuhyun bisa merasakan hembusan nafas hangat milik Jae In diwajahnya. “Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri jika kau tidak ingin melihatku lepas kendali!” desis Kyuhyun dingin.
Jae In berusaha menjauhkan kepalanya, tapi usahanya sia-sia karena Kyuhyun mengunci pergerakannya dengan tangan besar pria itu yang bertengger di tengkuknya. Matanya tidak berani melihat wajah Kyuhyun. Jae In sudah menduga-duga bagaimana ekspresi Kyuhyun saat ini. pastinya pria itu menampakan wajah yang menyeramkan bagi Jae In. “Aku tidak menyuruhmu diam Park Jae In.” Suara Kyuhyun terdengar serak. Jae In memberanikan diri melirik mata Kyuhyun. dan dia mendapati wajah datar Kyuhyun dengan bibir yang menipis. “Astaga aku ingin segera memasukimu jika saja aku tidak memiliki janji pada mereka!” Bentak Kyuhyun setelah menjauhkan tubuhnya dari tubuh mungil Jae In.
Jae In terkejut mendengar umpatan vulgar yang keluar dari mulut pria itu. Janji? Janji apa yang Kyuhyun buat? “Kau berjanji pada siapa?” tanya Jae In setelah menormalkan deru nafasnya. Kyuhyun berjalan cepat menuju meja pantry, dia menarik kasar pintu kulkas lalu mengeluarkan sebotol air mineral dari sana. Tanpa perlu repot-repot mengambil gelas, dia langsung meneguknya. Jae In yang tadi mengikuti langkah Kyuhyun karena menanti jawaban dari Kyuhyun sontak menghentikan langkahnya sebelum berada lebih dekat lagi dengan pria itu. Dia melihat jakun Kyuhyun yang naik turun karena meneguk cairan bening itu, Jae In juga melihat beberapa bulir air yang turun melewati leher putih pria itu. Shit! Alihkan matamu dari pemandangan indah itu Park Jae In!!
Kyuhyun melempar botol air mineral itu ke tempat sampah, dan shoot.. botol itu masuk kedalam tempat sampah. Tatapan Kyuhyun teralihkan pada Jae In yang saat ini sedang menampakan raut bodohnya. “Dave dan ayahmu.” Jawab Kyuhyun. “Apa yang kalian bicarakan?”
“Tidak menyentuhmu selama 2 tahun.”
“Tapi kau sudah berulang kali menciumku? Apa itu bukan termasuk sentuhan? Oh iya kau juga hampir melakukan ‘itu’ kemarin malam.” Jawab Jae In antusias. Kyuhyun mendesah frustasi, dengan langkahnya yang lebar, dia menghampiri Jae In yang saat ini berdiri disamping meja makan. “Dengar, Aku sudah berusaha untuk mengontrol nafsuku, dan maaf soal kemarin malam. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku harus menjagamu selama dua tahun ini, aku tidak ingin menodaimu sebelum hari pernikahan kita ditetapkan.”
“Apakah setelah hari pernikahan ditetapkan, kau akan melakukannya denganku?” tanya Jae In dengan tatapan berbinar. Kyuhyun mengusap dahinya kasar, rambutnya ia sengaja angkat agar tidak menghalangi matanya. “Astaga tidak Park Jae In! Tidak oke. Aku akan melakukannya setelah kita menikah.” Desis Kyuhyun.
“Kenapa tidak melakukannya sekarang? Tidak ada Dave ataupun Appa. Kita bebas melakukan apa saja. Mungkin sekarang kau sedang menganggapku jalang. Tapi… aku sangat ingin merasakannya. Tidak peduli sesakit apa rasanya nanti, asalkan aku melakukannya dengan orang yang kusukai, tidak salah kan? Kau bilang rasanya tidak akan sakit jika kita melakukannya dengan orang yang kita cintai, lagipula tidak ada bedanya kan melakukan itu dengan orang yang kita sukai?” ujar Jae In panjang lebar. Matanya melihat mata Kyuhyun yang memerah entah karena apa. Kedua tangan pria itu terkepal erat di kedua sisi tubuhnya, rahang tegas itu juga terlihat mengeras, dan tatapan Kyuhyun mulai terlihat tidak fokus.
“Apa  kau menyukaiku?” Tanya Kyuhyun sambil menundukan wajahnya agar sejajar dengan wajah Jae In. Jae In hanya menganggukkan kepalanya sebagi jawaban. “Tapi aku sudah berjanji dengan mer…”
“Persetan dengan mereka Cho Kyuhyun!” Bentak Jae In yang langsung menarik wajah Kyuhyun kearahnya. Bibirnya melumat bibir Kyuhyun, menggigit bibir bawah pria itu. Selanjutnya Jae In memasukkan lidahnya kedalam mulut Kyuhyun. Pria itu masih tak bergeming hingga akhirnya Kyuhyun ikut terhanyut dalam ciuman itu. sekarang bukan Jae In lagi yang memimpin ciuman itu, melainkan Kyuhyun. kepala pria itu bergerak kekanan dan kiri, berusaha mencari posisi yang nyaman untuk Jae In. Sebelah tangannya memeluk pinggang ramping Jae In, membawa gadis itu agar duduk dimeja makan.
“eeeeuunggghh” Jae In berusaha menjauhkan dirinya dari pelukan Kyuhyun dengan mendorong dada bidang pria itu. Tapi bukannya menjauh, Kyuhyun malah semakin memperdalam ciumannya sekaligus menambah intensitas ciumannya. Jika gadis ini tidak masalah dengan hubungan diluar nikah maka Kyuhyun juga sependapat dengan Jae In, walaupun didalam hatinya ia berulang kali menyebutkan kata  maaf untuk Dave dan Park Daehwa.
“Kau yang meminta ini sayang. Apa kau lupa?” bisik Kyuhyun tanpa menjauhkan wajahnya. Deru napasnya beradu dengan napas Jae In yang tersenggal-senggal. Gadis itu terdiam, tidak lagi berusaha menjauhkan tubuh Kyuhyun dari tubuhnya, tapi mata itu menunjukan ketakutan. Kyuhyun yang melihat itu mengecup dahi Jae In dengan sayang. “Lakukan sekarang Oppa.” Gumam Jae In dengan wajah tertunduk. Kyuhyun terkekeh geli. Hei kemana perginya sifat agresif Jae In tadi?
“Kau yakin?”
“Ehem..” Jae In menganggukkan kepalanya semangat. Matanya sesekali melirik Kyuhyun yang saat ini sedang menatap matanya. “Tidak sakit kan?”
Kyuhyun mengangkat bahunya kemudian memeluk pinggang Jae In dan membawa gadis itu kedalam gendongannya. “Kita bisa berhenti jika kau merasa kesakitan.” Ucap Kyuhyun diakhiri dengan ciuman di bibir Jae In.
.
.
.
Kyuhyun POV
Bibirnya terasa sangat manis setiap kali aku menciumnya. Entah karena bibirnya yang memang jarang tersentuh atau memang rasanya seperti ini. yang jelas bibirnya bagaikan candu untukku. Rasanya lebih lezat dibandingkan wine-wine yang selalu kuminum. Bibirnya membuatku ketagihan.
“Ehh… Oooppaaaa.” Oh sial, kedua organ intim kami saling bersentuhan disaat aku menaiki tangga ini. kejantananku terasa semakin sesak dibawah sana. Kenapa jarak kamar terasa begitu lama. Aku sangat ingin mencicipi tubuh indah Jae In. gadis ini harus benar-benar menjadi milikku sekarang juga. Terserah apa yang akan dilakukan Dave maupun Daehwa padaku jika mereka tahu aku menodai kepolosan Jae In.
Tanganku mengusap pahanya. Baju terusan ini semakin mempermudahkanku untuk menjamah tubuh bagian bawahnya. Belum lagi karena kakinya yang melingkari pinggangku membuat baju bagian bawahnya terangkat hingga pinggang.
Aku menggigit bibir bawahnya, gadis itu mendesah kesakitan. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selanjutnya aku memasukkan lidahku kedalam mulutnya, memainkan lidahku didalam mulutnya. Kepalaku berulang kali bergerak kesamping untuk mencari posisi yang nyaman bagi Jae In. “Akhhh.” Dia menjerit tertahan saat jari-jari panjangku menemukan lubang hangat yang terasa basah itu.
Sesampainya dikamar , aku membuka pintu kamarku kemudian menutupnya dengan sebelah kakiku. Aku membawa tubuh mungil Jae In ke arah ranjangku, dan kami belum melepaskan ciuman kami. Aku hanya memberikan jeda sebentar untuk Jae In disaat tangan mungilnya itu memukul bahuku. Aku merebahkan dirinya diatas ranjang dengan lembut, sebelah tanganku meremas dadanya sepelan mungkin.
“Eeehhmmm… Oppa sakittt.” Aku menghentikan kegiatanku yang meremas dadanya. Aku menindih tubuhnya dengan kedua siku-ku sebagi penyangga tubuhku. “Aku akan melakukannya dengan pelan, kau percaya padaku?” Jae In menganggukkan kepalanya dengan bibir yang memerah dan tampilannya yang acak-acakkan. Dia semakin terlihat seksi dilihat dari atas seperti ini.
Tanganku kembali bermain dipahanya.  Aku mengecup bibirnya, berusaha membuat dirinya agar tidak takut. aku melepaskan bajunya dan menariknya keatas melewati kepalanya. Walaupun belum sepenuhnya telanjang, aku harus berulang kali menelan ludah melihat pemandangan indah didepan mataku ini. payudaranya yang tidak terlihat biasa, tidak terlalu kecil ataupun besar. Kedua gundukan kembar ini terasa pas berada dikungkungan tanganku. Kemudian aku membuka kaitan branya dan membuangnya kesembarang tempat. Dia mengangkat punggungnya sehingga mempermudahkan pekerjaanku.
Aku beranjak dari atas tubuhnya. Berdiri dengan kedua lututku sebagi penopang tubuh. aku membuka semua pakaian yang kukenakan. Kedua pipinya terlihat memerah, mungkin karena ini pertama kalinya dia melihat alat kelamin pria. Oh aku ingin sekali menggigit pipinya itu. setelahnya aku membuka celana dalamnya kemudian membuang celana itu asal. Aku melihat daerah kewanitaannya yang tumbuhi bulu-bulu halus.
Aku mengelus payudaranya dengan lembut, mengusap ujung putingnya dengan penuh gairah. Kemudian mengecupnya lembut, dan menjilatnya dengan menggoda membuat Jae In mengerang. Aku memasukkan puting payudara Jae In kedalam mulutku kemudian menyesapnya dengan semangat, membuat tubuh Jae In menggeliat karena nikmat. Sesekali jari-jari mungil Jae In meremas rambutku, menarik kepalaku agar semakin menghisap payudaranya dengan keras. “Oppppaaahhh.”
Jari telunjuk dan jempolku sengaja mencubit puting payudaranya yang lain membuat dia berulang kali mendesahkan namaku. Aku sangat menyukai desahannya. Desahannya bagaikan sebuah permintaan agar aku menjamah tubuhnya lebih.
.
Author POV
Pria itu menurunkan ciumannya semakin kebawah. Bibirnya mengecup perut datar Jae In, berharap suatu saat nanti gadis itu yang akan melahirkan anak-anaknya. Hingga sampailah didaerah kewanitaan milik Jae In. Kemudian pria itu mendunduk, lalu mengecup kewanitaan Jae In lembut. Membuat Jae In menggeliat dan tanpa sengja pergerakkan Jae In membuat bibir Kyuhyun mengecup semakin dalam kewanitaannya. Jae In mencoba merapatkan pahanya dia merasa kaget atas keintiman yang dilakukan Kyuhyun kepadanya.
“Opppaahhh… Berhh…entiii”
Kyuhyun tak mengindahkan perintah Jae In. Lidahnya menelusup, menemukan titik paling sensitif di kewanitaan milik Jae In yang memiliki aroma khas, dan memainkannya dengan ahli. Lidah Kyuhyun sepanas bibirnya yang melumat kewanitaan Jae In tanpa rasa jijik sedikkit pun.
Jae In terbaring di sana dengan mata berkabut gairah, napasnya terengah-engah dan ia merasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya saat ini, yang bersumber di kewanitaannya. Gerakan bibir dan lidah Kyuhyun menjelajahi kewanitaan Jae In, membuat Jae In berkali-kali mendesah nikmat ketika Kyuhyun dengan sengaja menggerakkan lidahnya memutar, menggoda titik sensitifnya. Membuat Jae In seakan dibawa ke sebuah dunia yang penuh dengan kenikmatan.
“Ahhhh… Opppaaaa… akuu… eeuunggghh.” Jae In memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi panas melanda perutnya. Sesuatu didalam perutnya terasa ada yang ingin keluar, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Kyuhyun yang tahu Jae In menahannya malah semakin gencar melakukaN aksinya.
“Opppaaahhhh…. Akkhh…” dan keluarlah cairan bening itu dari pusat tubuh Jae In. Kyuhyun disana meneguk habis cairan itu tanpa rasa jijik. Kemudian pria itu beranjak dari sana, kembali menindih tubuh mungil Jae In dengan kedua siku sebagai penopang tubuhnya. Kyuhyun mencium seluruh wajah Jae In kemudian ciumannya turun keleher gadis itu, menghirup aroma khas Jae In. sedangkan dibawah sana Kyuhyun berusaha mendorongkan pinggulnya. Menekan tubuh Jae In lembut karena ia tahu ini pertama kalinya bagi Jae In.
“Oppppaa… Saaakiiiitt..” Jae In berusaha mendorong bahu Kyuhyun. Pria itu tetap menekan tubuh bagian bawahnya tetapi halangan itu cukup kuat, sehingga Kyuhyun harus menekannya berkali-kali, mencari jalan untuk menyatukan tubuhnya ke dalam tubuh Jae In yang terasa sangat sempit. Dengan lembut, pria itu menggesek-gesekkan tubuhnya di ujung bibir kewanitaan Jae In. Pelan tapi pasti, masuk sedikit demi sedikit, dan kemudian ketika menemukan titik itu Kyuhyun mendorong dan menekannya dengan kuat memasuki tubuh Jae In.
“Appoooo..” desis Jae In kesakitan. Setetes air mata turun melalui ujung matanya. Bibir Kyuhyun beralih mencium bibir Jae In yang bergetar karena menahan sakit dibagian bawah tubuhnya. Kyuhyun merasakan perih disekitar punggungnya karena selama proses penyatuan tubuh mereka, Jae In mencakar punggung Kyuhyun, tapi rasa sakit itu tidak lebih sakit dari sakit yang dialami Jae In. “Maafkan aku. Aku tidak bisa berhenti..” gumam Kyuhyun, setelahnya ia mencium kedua mata gadis itu dengan penuh kasih sayang. Jae In memejamkan matanya erat. Bukankah ini yang dia inginkan. Sekarang Kyuhyun sudah melakukannya, dan dirinya sudah menyerahkan keperawanannya pada orang yang dia sukai. Apa itu salah?
Kyuhyun kembali mengangkat pinggulnya disaat Jae In sudah mulai tenang lalu kembali menurunkannya. Mula-mulanya gadis itu mendesis kesakitan, tapi di ketiga kali hentakkan yang Kyuhyun lakukan, Jae In mulai merasakan rasa nikmat itu walaupun rasa perih itu masih ada.
“Eeehhmmmm… Oppaaa.” Jae In mendesah berkali-kali. Kyuhyun tersenyum miring, dia semakin mempercepat gerakkannya. Jae In memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Kyuhyun yang melihat itu  dengan gemas mencium bibir Jae In penuh kelembutan. Berbeda dengan gerakkannya dibawah sana yang semakin cepat.
“Eeeungghh.. Oppaa adaa yangg… ing..in aaakkh.” Jae In menjerit ketika Kyuhyun menyentuh titik pusatnya. Kyuhyun sudah akan mencapai puncak kenikmatannya begitu juga dengan Jae In. “Astaga… Park Jae In….” teriak Kyuhyun saat merasakan cengkraman erat dipusat tubuhnya. Kyuhyun menautkan jari mereka. Jae In menggenggam erat tangan Kyuhyun saat rasa itu kembali datang.
“Jae In!”
“Opppaa”
Dengan sekali hentakkan keras, Kyuhyun mengeluarkan ribuan spermanya kedalam rahim Jae In. tangannya beralih mengelus perut rata gadis itu. Berharap akan adanya sebuah janin disana. tubuhnya terasa lelah begitu pun dengan Jae In. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan cairan hangat itu memenuhi rahimnya. Sebelah tangannya mengelus punggung telanjang Kyuhyun, sedangkan sebelah tangannya masih dalam genggaman tangan Kyuhyun.
Jae In merasa heran dengan usapan lembut disekitar perutnya. Matanya menatap mata Kyuhyun yang terpejam, bibir pria itu terlihat bergerak seolah-olah sedang memanjatkan sebuah doa, yang Jae In sendiri tidak tahu apa isi dari doa Kyuhyun itu. semakin lama matanya terasa berat, rasa kantuk mulai melandanya. Jae In tertidur dengan membiarkan tubuh Kyuhyun tetap berada diatasnya. Membiarkan rasa hangat tubuh Kyuhyun melindungi tubuhnya yang mulai kedinginan karena ketelanjangan mereka.
To Be Continue

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: