Uncommitted Part 9

0
Uncommitted Part 9 ff nc kyuhyun minho jonghyun
Author             : Red Blue
Title                 : Uncommitted Part 9
Category         : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast                 : Cho Kyuhyun
Shim Changmin
Lee  Jonghyun
Choi Minho
Han Rise
Baek Choa
Yoon Minhye
Kwon Rin
Author mau minta maaf lagi nih ^^. Mungkin kalian akan kesel, pegel, pengen mecahin barang *peace* ending part ini agak ngeselin emang. Baca terus sampe akhir, kalo mau tahu tingkat ngeselinnya.

Happy Reading!
Jonghyun’s story
Jonghyun tidur dengan posisi tengkurap, memamerkan punggungnya yang seputih marmer. Tidurnya sangat nyenyak sekali hingga ia tak menyadari jika gadis yang ia paksa tiduri sudah tak berada di ranjang lagi. Ponsel Jonghyun berdering, memunculkan tulisan ‘appa’. Dengan malas, Jonghyun meraih ponselnya.
“Ada apa?” Suara serak Jonghyun terdengar berat ciri khas orang baru bangun tidur.
Kau tak pulang semalam. Apa kau berencana menculik Kwon Rin? Suara ayah Jonghyun terdengar khawatir karena putranya tak pulang setelah pamit ingin mengantar Kwon Rin.
“Ah. Iya. Aku tidur di kantor.” Jonghyun terpaksa berbohong, ia tahu jika ayahnya sebenarnya lebih mengkhawatirkan keadaan Kwon Rin. Jika ayahnya tahu apa yang ia lakukan pada gadis itu, mungkin hari itu juga nyawanya sudah melayang di tangan ayahnya.
Lee Namgyu akan senang jika anaknya memang memiliki hubungan asmara dengan Kwon Rin, tapi apakah pria paruh baya itu akan senang jika anaknya memaksa Kwon Rin untuk memuaskannya? Mungkin tidak.
Berbagai macam pertanyaan berputar di kepala Jonghyun. Apa yang sudah kulakukan semalam? Apakah gadis itu pergi saat aku sedang tidur? Jonghyun melirik ke sisi ranjang di sebelahnya. Gadis itu bahkan tak meninggalkan pesan untuknya.
“Apa peduliku padanya? Ia bahkan tak menolak saat kusentuh. Ia sama saja seperti yang lain.” Jonghyun bergumam sendiri. Ia mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, bergegas untuk membersihkan dirinya dan pergi ke kantor.
Aston Martin V8 yang dikemudikan Jonghyun membelah jalanan Seoul yang cukup ramai hari itu. Sudah pukul 9 pagi, bahkan Jonghyun masih dalam perjalanan menuju kantor. Ia bukan tipe orang yang sering terlambat bekerja. Setibanya di kantor, seluruh mata pegawai menatap ke arahnya. Bosnya terlambat bekerja, itu adalah hal yang langka. Apalagi atasan mereka ke kantor mengenakan setelan celana jeans belel dan kaos putih polos. Itu lebih langka lagi.
“Daepyonim, ayah anda terus menerus menelepon menanyakan kondisi anda.” Paman Yoonjae, yang juga sekretaris Jonghyun langsung melapor kepadanya begitu Jonghyun menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.
“Kau mengatakan padanya sesuai perintahku?” Pertanyaan Jonghyun dijawab dengan anggukan oleh Paman Yoonjae. Sebelum menuju kantor, Jonghyun langsung menelepon Paman Yoonjae untuk berbohong pada ayahnya.
Jonghyun menghela napasnya panjang. Tangan kirinya memijat bagian atas hidungnya, lanjut menjambak rambutnya sendiri. Pikirannya sedang tak bisa fokus, bahkan ia belum mengganti pakaiannya dengan kemeja.
“Apakah kau sedang ada masalah?” Tiba-tiba Paman Yoonjae berbicara pada Jonghyun menggunakan banmal, jika ia sudah berbicara seperti itu berarti ia menganggap Jonghyun seperti keponakannya sendiri. Paman Yoonjae adalah sekretaris Lee Namgyu saat ia masih menjabat CEO, ia sudah mengenal Jonghyun saat masih kecil. Bahkan saat Jonghyun terpaksa menggantikan ayahnya menjadi CEO saat masih berusia 18 tahun, Paman Yoonjae selalu setia menemani Jonghyun.
“Paman selalu tahu apa yang sedang kurasakan.” Jonghyun menatap kosong meja di hadapannya. Jari-jarinya saling bertaut, raut mukanya tampak sedih sekaligus kosong.
“Aku sudah mengenalmu sepanjang umurmu, Jonghyun-ah.” Pria paruh baya itu menepuk bahu Jonghyun, bermaksud untuk menenangkan.
“Paman tahu? Aku merasa begitu kosong. Aku memiliki segalanya yang kuinginkan. Aku selalu melakukan apapun yang kumau. Tapi ada celah di dalam diriku yang tak bisa kuisi dengan segala hal yang kumiliki.” Seluruh isi hati Jonghyun keluar melalui mulutnya. Jonghyun mengungkapkan apa yang ia rasakan beberapa tahun ini.
“Apa yang kau inginkan saat ini?” Pertanyaan yang sederhana dan nada bicara Paman Yoonjae begitu tenang. Seolah pria ini tahu apa yang harus Jonghyun cari. Begitu mendengar pertanyaan sekretarisnya, Jonghyun mendongakkan kepalanya seraya menatap mata pria yang lebih muda beberapa tahun dari ayahnya. Tatapan Jonghyun seolah menjawab pertanyaan pria itu. Tatapan Jonghyun mengisyaratkan pertanyaan ‘apa yang kuinginkan?’.
“Apa yang selama ini kau cari? Apa yang belum pernah kau lakukan? Apa yang ingin kau lakukan saat ini? Aku yakin, saat ini otakmu penuh dengan pertanyaan semacam itu. Aku merasa sedih saat kau harus menggantikan ayahmu di usia 18 tahun. Kau bahkan tak bisa menikmati masa remajamu. Maafkan aku, aku tak memiliki pilihan lain saat itu.” Air muka Paman Yoonjae yang semula tenang, berubah sedih.
“Bukan salahmu, paman. Aku pasti akan melakukan hal yang sama sepertimu. Lagi pula, hanya ayah yang tersisa di hidupku. Aku tak ingin kehilangannya juga. Paman juga selalu membantuku saat aku kesulitan, bahkan kau membantuku menyelesaikan PR ku saat aku sibuk mengurus perusahaan.” Sudut bibir Jonghyun sedikit terangkat, kenangan masa lalu yang ternyata memiliki sisi lucu.
&&&
Hari itu, Jonghyun bekerja masih menggunakan pakaian kasualnya. Beruntung, hari itu tak ada kunjungan atau rapat dengan petinggi perusahaan maupun relasi bisnis. Tiba-tiba bunyi ‘kato…kato’ keluar dari speaker ponselnya, tanda ada pesan singkat masuk. Ternyata pesan dari Kyuhyun di grup chatting Kyuline.
Kyu-nim: Jonghyun-ah, gwenchana?
Me: Hm
Choi Minus: Jonghyun-ah, kau sedang ada masalah? Kau sakit?
Min-ie: Memangnya kau kenapa Jonghyun-ah?
Me: Kalian tahu dari mana?
Kyu-nim: Yak! Mata dan telingaku ada dimana-mana.
Min-ie: Katakan Jonghyun-ah!
Me: Pasti Paman Yoonjae yang memberitahu kalian. Aish!
Choi Minus: Menurutmu siapa lagi? Dasar bodoh!
Me: Aku baik-baik saja
Min-ie: Ice prince ini masih saja sok kuat. Haruskah aku membuat huru hara di kantormu?
Kyu-nim: Ide bagus Changmin-ah!
Choi Minus: Mari kita lakukan!
Min-ie: Baiklah. Kita memakai pakaian wanita saja, bagaimana?
Choi Minus: Apa konsep kita? Seksi? Glamour?
Kyu-nim: Aku pilih seksi
Me: Baiklah. Aku menyerah. Makan siang di tempat biasa
Kelakuan teman-teman Jonghyun memang diluar dugaan. Saat masih di bangku perkuliahan, Jonghyun pernah memiliki masalah namun ia tak mau cerita pada siapapun termasuk pada Kyuline. Mereka bertiga mengancam akan melakukan kehebohan di kampus jika Jonghyun masih enggan menceritakan masalahnya. Jonghyun kira, mereka hanya menggertak. Ternyata di luar dugaannya, ketiga sahabatnya melakukan ancaman mereka. Mereka berlari setengah telanjang di halaman depan kampus sambil membawa tulisan super besar ‘Saranghae Lee Jonghyun’, ‘Kami sangat menyayangimu Lee Jonghyun’, ‘Kami selalu bersamamu Lee Jonghyun’. Jonghyun sangat malu hari itu, ia bahkan tak masuk kuliah seminggu akibat ulah teman-temannya.
*Jonghyun’s POV*
Kugeletakkan ponselku di atas meja setelah kuakhiri percakapan bodoh dengan para saudaraku. Ya, begitulah aku menyebut mereka. Aku seorang anak tunggal, dengan keluarga yang berantakkan. Saat ibuku meninggalkanku di usiaku yang ke-12 tepat di hari kelulusanku, aku tak pernah lagi percaya pada wanita. Ayahku adalah pria baik yang sangat menyayangi keluarganya, meskipun terkadang dia bekerja hingga lupa waktu. Dari sudut pandangku, tak ada yang salah dari ayahku. Tapi ibuku tega meninggalkan kami demi pria lain? Apakah harta yang dicari oleh ibuku? Apakah ayahku masih kurang kaya? Jika cinta yang ia cari, apakah cinta ayahku masih kurang? Aku tak paham dengan jalan pikiran mereka, para wanita, yang meninggalkan orang yang mencintai mereka hanya demi memuaskan ego.
Sejak ibu meninggalkan kami, aku tak pernah menunjukkan sisi lembutku di hadapan siapapun. Senyum yang tergambar di wajah setiap wanita hanyalah racun yang rasanya semanis madu. Terasa manis saat dikecap, tapi akan membunuhmu perlahan. Ayahku tak pernah lagi meluangkan waktu untuk bermain denganku. Ia bahkan bekerja hingga tak pulang berhari-hari. Mungkin itu satu-satunya cara untuk melupakan ibu. Ayah bekerja sangat keras hingga tangannya tak kuat lagi untuk menggenggam pena.
Duniaku yang semula penuh warna, berubah menjadi abu-abu. Beruntung, aku mengenal Kyuhyun, Changmin, dan Minho. Mereka mewarnai hidupku, meskipun tak secerah dulu. Hanya ada empat warna di dalam hidupku. Abu-abu, biru, merah, dan hijau. Kyuhyun seperti birunya laut, tenang, menyejukkan saat angin laut berhembus, tapi akan menyeretmu dengan ombak dan menenggelamkanmu perlahan. Changmin ibarat api yang merah menyala, menghangatkanmu, menerangimu meskipun hanya seterang lilin, tapi mampu membakar sebuah gedung. Hijau adalah Minho, indah dipandang seperti taman, meneduhkanmu seperti pohon, namun kau akan hilang tersesat di dalam rimba yang gelap karena terlalu rimbun.
Setidaknya,  aku merasa bahagia dan kembali menjadi diriku sendiri jika bersama mereka. Aku tak pernah mengatakan secara langsung pada mereka, tapi aku yakin mereka merasakan hal yang sama denganku. Meskipun aku tak pernah menceritakan keluh kesahku, tapi mereka selalu tahu. Mereka tahu, aku tak lagi bisa mengungkapkan sesuatu dengan mulutku, berkat keingintahuan mereka, aku tak perlu bersusah payah untuk bercerita.
*Jonghyun’s POV off*
“Paman Yoonjae, aku akan pergi makan siang. Beritahu aku jika ada sesuatu.” Jonghyun mampir sejenak di ruangan sekretarisnya sebelum beranjak pergi makan siang dengan teman-temannya.
Jonghyun terdiam di sebelah pintu mobilnya. Tangannya mengenggam knop pintu mobil, namun urung membukanya. Ada sesuatu yang mengusik pikiran Jonghyun. Mata coklat Kwon Rin terus berlalu lalang di pikiran Jonghyun. Kenapa selalu menghantuiku? Ia bahkan bukan siapa-siapa. Jonghyun menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan bayang-bayang gadis bermata coklat itu.
Sekeras apapun Jonghyun berusaha menghindari bayang-bayang Kwon Rin, namun gadis itu seperti hantu yang selalu mengikutinya. Pikiran Jonghyun tak bisa fokus, ia berniat bertemu teman-temannya tapi apa yang ia lakukan di depan rumah sakit tempat Kwon Rin bekerja? Kaki dan tangannya yang mengarahkan ia kesini.
“Aku pasti sudah gila.” Jonghyun masih menatap pintu masuk rumah sakit dari dalam mobilnya. Ia memejamkan mata, membenturkan kepalanya pada sandaran jok mobil. Kepalanya berdenyut, dadanya panas. Ada perasaan marah dalam dirinya, marah karena tak menahan gadis itu saat ia pergi maupun mencarinya. Tetapi ada perasaan membutuhkan yang tak bisa ia tampik, sekeras apapun ia mengelak.
Jonghyun bergegas keluar dari halaman rumah sakit. Ia injak pedal gas dalam-dalam. Jika terlalu lama di sana, pasti ia akan mengacau. Wanita macam apa dia? Ia benar-benar mempengaruhiku saat ini. Aku harus tetap waras agar tidak jatuh lebih dalam. Pikiran Jonghyun sudah tak mampu berpikir lagi.
&&&
“Kenapa kau lama sekali? Jika saja kau tidak sedang murung hari ini, aku pasti sudah makan duluan dan menghabiskan 3 porsi.” Changmin menggerutu saat melihat Jonghyun yang datang terlambat.
“Aku ke rumah sakit.” Jonghyun sudah kembali ke watak aslinya. Dingin.
“Kau sakit? Seingatku, ayahmu baik-baik saja saat ini.” Ada rasa khawatir di dalam pertanyaan Minho.
“Hanya sedang mencari seseorang…………Aku lapar.” Ada jeda panjang saat ia berbicara. Jonghyun membolak-balik daftar menu, memesan banyak sekali makanan. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin teringat lagi dengan gadis yang ia anggap jalang, namun bisa membuat seorang Lee Jonghyun jatuh. Ketiga sahabat Jonghyun, saling menatap. Mereka merasa ada yang aneh dalam dirinya.
“Apa ada yang ingin kau ceritakan?” Kyuhyun buka suara. Ia tahu, Jonghyun tak pernah menceritakan masalahnya meskipun ia bertanya.
“Aku baik-baik saja.” Jonghyun hanya menatap makanan di hadapannya dengan tatapan tak berminat. Pandangannya kosong. Changmin, Minho, Kyuhyun semakin yakin jika ada sesuatu dalam diri Jonghyun.
“Baiklah. Mari makan.” Kyuhyun menatap Changmin dan Minho penuh arti. Seolah ada kode yang tersirat. Ketiga temannya makan dalam diam, tak ada yang berani buka suara. Jonghyun hanya menatap makanannya tanpa minat. Sesekali ia memainkan sumpitnya atau mengaduk-aduk sup tanpa berniat untuk memakannya.
Minho menatap Kyuhyun, lalu Kyuhyun menatap Changmin. Ketiganya saling lempar pandangan, seolah-olah mengeluarkan kode ‘kau saja yang tanya, aku tak berani’. Maklum, Jonghyun adalah orang yang sulit berbagi cerita, sulit didekati, dan menurut ketiga sahabatnya Jonghyun agak menakutkan jika marah.
“Ehm……ehm…..apa yang mengusikmu hingga kau seperti ini?” Akhirnya Kyuhyun memberanikan diri, setelah saling lempar pandangan dengan Minho dan Changmin sekian menit.
“Apakah ini ada hubungannya dengan orang yang kau cari di rumah sakit?” Changmin menimpali, tapi dibalas tatapan membunuh dari Minho dan Kyuhyun seolah ia telah menyentuh bagian yang paling sensitif dan bisa meledak kapanpun.
Mendengar pertanyaan dari Changmin, Jonghyun yang sedari tadi menatap kosong makanannya, kini beralih menatap Changmin. Tatapan membunuh, dingin, sorot matanya tajam. Aura gelap Jonghyun menguar memenuhi ruangan VIP.
Bagus! Hari ini adalah hari kematianku. Aku bahkan belum menulis surat wasiat. Tatapan Jonghyun mampu membuat Changmin gusar. Perasaannya tak enak. Minho dan Kyuhyun saling beradu mata, tubuh keduanya seolah siap menahan tubuh Jonghyun yang akan menerkam Changmin kapan saja. Tapi yang terjadi justru di luar dugaan ketiganya. Jonghyun tak merespon pertanyaan Changmin dengan tinjunya, ia justru memejamkan mata, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Sumpit yang digenggamnya kini patah, lalu ia membuka kedua matanya. Sekuat tenaga ia menahan emosi, berusaha agar tidak mematahkan salah satu leher sahabatnya. Mulut Jonghyun mulai terbuka sedikit, berusaha mengeluarkan suara. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat ketiga sahabatnya cemas.
“Semua ini ada hubungannya dengan orang yang kucari di rumah sakit.” Suara Jonghyun dalam, hampir tak terdengar. Kyuhyun, Changmin, Minho memperhatikan dengan seksama, berkonsentrasi penuh berusaha menangkap apa yang Jonghyun katakan.
“Dia seorang wanita. Aku…..aku….tak tahu apa yang kurasakan saat ini.” Kalimat yang keluar dari mulut Jonghyun sukses membuat ketiga sahabatnya menganga, memandang Jonghyun tak percaya.
“Kau…..sejak kapan? Dimana? Bagaimana?” Kyuhyun ragu untuk bertanya, takut jika monster dalam diri Jonghyun bangun. Namun, ia juga tak bisa menahan diri atas keingintahuannya.
“Entah. Aku baru kenal dengannya. Aku tak tahu.”
&&&
Pertemuan Kyuline siang itu bisa disimpulkan baik dan buruk. Baik, karena mereka sudah tahu masalah Jonghyun. Buruk, karena pasti akan ada sesuatu yang akan terjadi tapi mereka tak tahu apa itu.
Kyuline tanpa Jonghyun (grup chatting baru)
Changmin: YA!!! KALIAN TAHU APA INI????
Kyuhyun: DAEBAK!!!! WHOAAA!!!
Minho: INI LEBIH HEBOH DARI PADA SKANDAL ARTIS!!
Kyuhyun: Minho-ya, Changmin-ah. Kalian tahu ini apa??? JONGHYUN JATUH CINTA!!
Changmin: Aku tak percaya ini!!
Minho: Akhirnya, Jonghyun jatuh cinta untuk pertama kalinya!! Aku tak bisa berkata apa-apa
Changmin: Aku senang, akhirnya Jonghyun bisa merasakannya. Tapi aku turut sedih, siapa gadis malang itu?
Saat ketiga sahabatnya heboh tak karuan di grup chatting Kyuline (tanpa Jonghyun), justru Jonghyun tengah merana. Ia mengendarai mobilnya keliling kota Seoul, tanpa tujuan. Memandang kosong jalanan di depannya. Jonghyun sadar jika ia harus kembali ke kantor, tapi perasaannya sedang kacau, semangat bekerjanya sudah lenyap disapu badai yang menghampirinya sejak pagi, sejak ia membuka mata bangun dari tidurnya. Terlebih lagi, Jonghyun terlalu pengecut untuk memuntahkan segala isi hatinya yang selama ini dikungkung kebencian dan rasa tidak percaya.
Jonghyun menepikan Aston Martin V8-nya di dekat halte bus. Ia menarik napas dalam-dalam seolah paru-parunya tak mampu menyerap oksigen lagi. Kebodohan terbesar seorang Lee Jonghyun, kebodohan yang membuatnya kacau seharian. Kebodohan yang membuatnya tak memiliki tujuan, berputar-putar tak tentu arah di jalanan ibukota selama berjam-jam.
“Aku tak tahu dimana rumahnya. KENAPA KAU SEBODOH INI LEE JONGHYUN!” Jonghyun mengepalkan tangannya, memukul gagang setir yang seharian setia mengantar Jonghyun keliling kota.
“Aku bahkan tak tahu berapa nomor ponselnya. AAAARRGHHH!!” Jonghyun terus merutuki dirinya sendiri.
Jonghyun sejenak memejamkan mata, mengusap wajahnya kasar. Ia berharap Tuhan akan menunjukkan kebaikan-Nya. Merapal doa dalam hati, meskipun ia bukanlah penganut agama yang taat. Saat ia membuka mata, ia tak percaya dengan panca inderanya sendiri. Apa yang ia lihat pastilah sebuah ilusi. Di kota sebesar Seoul, bertemu secara kebetulan dengan satu orang yang paling dicari sangat kecil kemungkinannya. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan kuasa-Nya padaku, pikir Jonghyun.
“Kemana kau? Apa yang kau lakukan? Tak tahukah kau hal gila apa yang hampir aku lakukan jika tak bisa menemukanmu?” Jonghyun tak bisa menahan diri lagi. Rasanya ia ingin meledakkan kepalanya sendiri karena tak bisa menemukan apa yang mengganggu pikirannya. Ya, Kwon Rin adalah gadis yang ia intai dari balik kemudi. Jonghyun ingin sekali rasanya menghambur ke dalam tubuh hangat nan ringkih gadis itu. Gadis yang ia sebut monster berkostum peri.
“Bahkan saat aku menemukanmu, aku tak memiliki keberanian untuk menatapmu langsung.” Jonghyun bergumam pada dirinya sendiri, menyesali sifat pengecutnya. Sifat pengecut yang justru muncul di saat yang tidak tepat. Tak lama berselang, ada sebuah bus berwarna hijau berhenti tepat di depan halte. Jonghyun mengamati setiap gerak gerik Rin, gadis itu berdiri dari duduknya dan mengantri untuk masuk ke dalam bus. Tanpa pikir panjang Jonghyun segera menyalakan mesin mobil dan mengikuti kemana bus itu pergi.
Dua puluh menit telah berlalu, dan seorang Lee Jonghyun, CEO Seirin Corp kini berubah menjadi seorang stalker yang membuntuti seorang gadis di senja hari. Matahari mulai menenggelamkan diri, beberapa sudut Shingil-dong mulai gelap. Jonghyun masih menyembunyikan diri di antara kegelapan yang mulai menyelimuti gedung-gedung apartemen murah. Jadi di sini kau tinggal? Batin Jonghyun saat mengikuti Kwon Rin masuk ke salah satu apartemen murah di Shingil-dong. Kau seorang dokter, dan kau hidup di tempat seperti ini? Kau apakan gajimu? Jonghyun masih tak habis pikir dengan apa yang ia lihat barusan.
&&&
Jonghyun pulang dengan suasana hati yang lebih baik. Saat ia melangkah masuk ke dalam kamarnya, terdengar suara berat yang menyapanya.
“Kemana saja kau kemarin? Kenapa tak pulang setelah mengantar Kwon Rin?” Lee Namgyu, ayah Jonghyun lebih mengkhawatirkan keadaan Kwon Rin dari pada putranya sendiri.
“Kau sudah menanyakannya tadi pagi. Dan aku sudah menjawabnya juga.” Jawab Jonghyun dengan nada datar, sambil melepas jaketnya lalu melemparnya ke ranjang seperti sampah yang dibuang ke tempatnya.
“Apa kalian sudah mengenal lebih jauh?” DEG! Seketika itu juga Jonghyun menghentikan aktivitasnya. Ia bahkan tak berani menatap mata ayahnya yang duduk di sofa di sudut kamarnya.
Ya, kami sudah mengenal lebih jauh. Bahkan aku sudah menidurinya. Hati Jonghyun berkata demikian. Katakan saja kau sudah mengobrol beberapa hal dengan gadis itu, jika ayahmu bertanya lagi tak usah kau hiraukan. Otak Jonghyun menyuruhnya untuk berbohong.
“Kami hanya berbincang sebentar. Tak ada yang menarik darinya.” Sial, aku harus mengalihkan pembicaraan dengan ayahku. Bohong! Mulut dan hati Jonghyun mengungkapkan fakta yang berbeda.
“Aku ingin mandi. Apa kau mau menungguiku hingga aku selesai mandi dan melanjutkan pembicaraan ini?” Bagus Lee Jonghyun! Ayahmu pasti akan meninggalkan kamarmu setelah ini.
“Sepertinya anakku lebih suka menyimpan rahasia jika sudah menyangkut tentang wanita. Ah, sepertinya sebentar lagi aku akan memiliki menantu.” Ayah Jonghyun tersenyum menggoda kepada putranya dan beranjak meninggalkan kamar Jonghyun.
Jonghyun merasa sangat lelah hari itu. Matanya berat, padahal jarum jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Jonghyun bukanlah tipe orang yang mudah tidur cepat. Kegelapan muncul saat matanya mulai terpejam.
*Jonghyun POV on*
Hangat. Tubuhnya sungguh hangat. Tangannya lembut, pantas saja ia jadi dokter. Karena dengan kehangatan dan kelembutannya ia bisa menyembuhkan banyak orang. Aku melihatnya tersenyum manis. Sangat manis. Ia menggenggam tanganku, menatap jauh ke dalam mataku. Tangan kirinya menyentuh pipiku, mengusapnya lembut.
Aku menatapnya dalam diam. Di matanya terpancar sesuatu yang tak bisa aku jelaskan. Aku merasakan kehangatan dan kesedihan di saat yang bersamaan.
“Kau harus mulai belajar mengerti dirimu sendiri, Jonghyun-ssi.” Kwon Rin mengucapkannya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
“Kau adalah orang baik yang mengalami hal buruk. Setiap orang memiliki sisi terang dan gelap. Sisi mana yang akan kau pilih? Itu semua tergantung padamu.” Aku hanya terdiam saat ia mengucapkan semua itu. Entah apa yang ingin ia sampaikan. Saat ia beranjak bangkit dari duduknya, aku berusaha menggapai tangannya. Tubuhku seolah ditarik ke belakang. Bukan dia yang menjauh dariku, tapi aku yang menjauh darinya.
Ada secercah cahaya yang menyilaukan. Apakah ini sudah pagi? Kubuka mata, dan aku masih terbungkus selimut putih di atas ranjangku. Sendirian. Tanpa Kwon Rin di sampingku. Apakah yang ku alami semalam adalah mimpi? Terasa nyata untuk sebuah bunga tidur.
Kau adalah sebuah keajaiban, hingga semuanya terasa seperti fantasi. Padahal kita baru berkenalan dalam hitungan hari. Melepasmu pergi tanpa ekspresi, seolah itu bukan apa-apa. Mencintaimu lebih sulit dari pada melepasmu pergi. Tapi aku adalah orang bodoh yang tak bisa hidup tanpamu. Sejak aku tahu dimana kau tinggal, aku tinggalkan semua urusanku hanya untuk menguntitmu, itu sudah cukup memberiku alasan untuk bertahan hidup. Aku berusaha agar bisa melihatmu meskipun harus bersembunyi diantara kegelapan gedung-gedung apartemen usang di sekitar rumahmu. Aku selalu mengawasimu, tapi aku tak bisa mengatakan apapun.
Aku harus bagaimana? Jika aku tahu akan seperti ini, lebih baik aku tak usah jatuh cinta. Aku merasakan sesak setiap kali melihatmu, tapi aku juga merasakan nikmat di saat bersamaan.
*Jonghyun POV off*
&&&
*Kwon Rin POV on*
Kalian tahu, sejak tubuhku disentuh oleh Lee Jonghyun, aku merasa ada gelenyar di dadaku. Saat membayangkan setiap sentuhan dan hembusan nafasnya di kulitku, kadar esterogen dalam tubuhku seketika memuncak. Aku merasakan sifat posesif dan protektif dari setiap sentuhannya. Selain itu, ada sedikit perasaan haus akan kasih sayang dan perhatian yang berusaha ia tunjukkan padaku malam itu.
Aku ingin disentuh olehnya lagi, tapi jika mengingat kembali apa yang ia katakan aku merasa sakit. Siapa yang tak sakit jika kau dipanggil monster? Aku hanyalah seorang dokter, yang berusaha menyembuhkan siapapun yang sakit. Bukan membunuh maupun mencabik-cabik seseorang. Lalu kenapa ia menyebutku monster? Kami bahkan baru kenal beberapa hari, dan ia sudah mencapku dengan sebutan hina itu. Ini sungguh tak adil.
Padahal mataku sudah terperangkap oleh pesonanya yang bagaikan jaring laba-laba. Menjeratku, membuat tubuhku tak bisa digerakkan saat ia berusaha menyentuhku. Perempuan waras manapun pasti akan terpesona juga olehnya. Kaya, menawan, kulitnya pucat seperti Edward Cullen di Twilight, dan sorot matanya yang setajam elang, uh aku bahkan tak kuat iman jika mengingat wajah tampannya lagi.
Dalam lubuk hatiku, aku berharap ia datang mencariku. Aku berharap ia sadar oleh perbuatannya. Aku ingin ia mencariku, bukan untuk meminta maaf. Aku ingin ia mencariku untuk mengungkapkan seluruh isi hatinya. Tapi aku tak yakin pada opsi kedua, mengingat ia begitu membenci kaum ‘wanita’. Meskipun ia tak akan pernah menampakkan wajahnya lagi di hadapanku, setidaknya biarkan aku berharap jika ia sedang mengawasiku dari suatu tempat. Aku ingin ia tahu, bahwa aku baik-baik saja. Aku tak ingin ia merasa bersalah atas perilaku buruknya, karena aku tak merasa keberatan atas segala sentuhannya.
*Kwon Rin POV off*
&&&
Kyuhyun’s Story
Suasana hati Kyuhyun sedang baik pagi itu. Matanya bersinar, cemerlang. Kenapa Kyuhyun bersemangat dan tampak senang sekali? Padahal ia sedang memiliki setumpuk pekerjaan dan proyek yang belum selesai, namun itu tak mengusiknya sama sekali. Sudah dua hari sejak kotak pandora milik Choa terbuka, dan sudah dua hari Kyuhyun tak bertemu dengannya karena tak ada jadwal recording Fashion Killa. Setelah membuka mata di pagi hari, Kyuhyun tak bisa menemukan Choa dimanapun setelah pergumulan panas mereka. Hari ini Kyuhyun memiliki alasan untuk bertemu dengan Choa lagi.
Langkah kakinya ringan, senyum tipis tergores di mulut tebalnya. Kakinya melangkah menuju studio, tempat recording Fashion Killa. Pagi itu Seoul diselimuti mega mendung, tapi sinar matahari di hati Kyuhyun sedang cerah. Sangat kontras. Studio sudah dipenuhi staff WBS dan para desainer yang akan berkompetisi. Setibanya Kyuhyun di studio, matanya langsung menyapu, mencari sosok sang dewi. Di sana kau rupanya! Perasaan hangat memenuhi dadanya, senyumnya terkembang lebar seolah ujung bibirnya menyentuh kedua telinganya. Tanpa ba bi bu, ia gerakkan sepasang penyangga tubuhnya melangkah menyongsong sang dewi.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Kalimat pertama yang terlontar dari mulutnya, ia tak ingin terang-terangan mengatakan ‘aku merindukanmu’ meskipun ekspresi wajahnya sangat kentara sekali.
“Kau bisa lihat sendiri.” Jawab Choa datar. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya, ekspresinya benar-benar tak terbaca oleh Kyuhyun.
“Apa kau ada waktu siang ini? Aku ingin mengajakmu makan siang.”
“Jika makan siang yang kau maksud seperti waktu itu, lebih baik kau ajak orang lain.” Kentara sekali dari cara Choa berbicara, ia sedang berusaha membenamkan emosinya sedalam mungkin agar tak meluap dan memporak-porandakan pekerjaannya. Kyuhyun paham benar apa yang berusaha disampaikan oleh dewinya. Ia merasa ditelanjangi, kebejatannya diumbar di muka umum. Meskipun hanya mereka berdua yang mendengarnya.
“Ku pikir kau menikmati makan siang saat itu. Aku tak tahu kalo ternyata kau tak menikmatinya.” Kyuhyun seolah-oleh mengejeknya, mengingat bagaimana mereka berdua ‘bermain’ hingga kelelahan. Adu argumen pun tak bisa dihindari.
“Hidangan utamanya memang enak. Aku memang suka makan sushi. Tapi aku tak suka dengan….hidangan penutupnya.” Penuh penekanan saat Choa mengatakan dua kata terakhirnya. Penekanan yang sarat akan kebencian dan rasa jijik. Cho Kyuhyun, calon CEO Winner Grop tak lebih dari seorang bajingan tengik yang hanya menghisap madu seorang wanita terhormat lalu meludahinya begitu madunya ia dapat. Itulah yang dipikirkan Baek Choa saat ini.
“Aku akan menunggumu hingga pekerjaanmu selesai. Tak ada yang pernah menolakku.” Raut muka ramah Kyuhyun lenyap, berganti dengan aura penuh intimidasi dan dominasinya.
“Rupanya kau adalah seseorang yang gila kuasa.” Sindir Choa, masih tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia bahkan tak menatap Kyuhyun barang sedetik pun.
“Aku selalu memegang kendali atas segala hal.” Kyuhyun mengakhiri percakapan mereka dengan senyum kemenangan. Ia beranjak dari tempatnya semula berdiri, meninggalkan Choa dalam kebisuan. Melenggang menjauh dengan arogannya.
*Kyuhyun POV on*
Sekarang aku tahu. Saat kau mulai menyukai seseorang, kau tak bisa berhenti untuk tak melihatnya. Aku akan melakukan segala cara untuk tetap bisa melihatnya, meskipun dengan cara yang paling ia benci sekalipun. Aku rela ia membenciku, asal ia selalu berada dalam jangkauanku. Aku rela ia menatapku dengan rendah, asal ia selalu dalam rengkuhanku.
Baek Choa bukanlah wanita pertama yang kumasuki. Ia juga bukan wanita pertama yang mengisi kekosongan ranjangku. Tapi entah mengapa, menyentuhnya saja tidaklah cukup. Seolah kau sedang bernapas dengan oksigen murni untuk pertama kalinya, saat masker oksigenmu terlepas saat itu juga kau kesulitan untuk bernapas. Entah apa yang merasukiku hingga aku gelap mata, berusaha mengendalikan segala hal termasuk dirinya. Aku tak ingin ia lepas dari pandanganku.
Aku adalah manusia yang buruk. Bahkan kekayaan dan rupawanku tak mampu menutupi sisi hinaku. Aku ingin ia bisa memandang sisi baikku, tapi aku ragu memiliki sisi baik. Aku ingin ia menyukaiku apa adanya, tapi aku ragu jika ia akan menganggapku nista. Jika aku tak bisa membuatnya menyukaiku, aku akan memanfaatkan segala kekuasaanku untuk menahannya. Jika ia tak bisa mencintaiku, aku akan mencintainya seorang diri. Meskipun sakit, aku tetap menikmatinya. Asalkan ia ada dalam genggamanku.
*Kyuhyun POV off*
Kesalahan besar seorang Cho Kyuhyun adalah pria gila kuasa itu terang-terangan mendekati Choa dengan cara yang tidak berperikewanitaan. Ia mengutarakan keinginan untuk bergumul dengan gadis anggun dan berkelas sepertinya. Bukan mendekatinya untuk mendapatkan hatinya. Meskipun misinya sama, tapi visinya berbeda.
Kyuhyun tak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh wanita pujaannya, tapi ada sesuatu yang tak beres. Kyuhyun bahkan tak akan menyadari apa yang direncanakan oleh Choa akan mengacaukan seluruh sistem tubuhnya. Kyuhyun bahkan tak menyadari ada yang aneh dari penampilan Choa kala itu.
Sang dewi yang ia lihat pertama kali tampaklah anggun dan berkelas, dengan gaun cantik, sepatu high heels yang menunjang tubuh indahnya. Sedangkan hari itu, Choa mengenakan celana jeans belel dengan lubang-lubang sebesar bola tenis di kedua lututnya, kemeja putih gading, sepasang sneakers, rambutnya terurai dan tak lupa make up agak kelam yang membuatnya tampak sangar. Di balik penampilannya kala itu, ada sosok lain yang seolah bukanlah Baek Choa.
Benar saja, apa yang mengganggu pikiran Kyuhyun benar-benar terjadi. Desainer favoritnya kalah dalam episode hari itu. Padahal Kyuhyun memperhatikan pujaannya sedang bekerja keras seperti hari-hari sebelumnya. Tapi ia tak tahu, jika Choa berusaha keras agar kalah sehingga ia bisa menjauh darinya. Kekalahan Baek Choa, membuatnya harus tersingkir alias tereliminasi dari variety show. Suatu hal yang sangat ia inginkan semenjak insiden makan siangnya bersama Kyuhyun.
Hari-hari Kyuhyun semakin berat karena ia sudah tak memiliki alasan lagi untuk mengunjungi studio Fashion Killa. Ia juga mudah uring-uringan tanpa sebab, oase di gedung pencakar langit nan megah sudah lenyap karena kekeringan ekstrim. Cho Kyuhyun membutuhkan lebih dari sekedar oase. Tak ada lagi yang mendinginkan kepalanya saat ia dilanda kepenatan. Tak ada lagi pereda nyeri untuk hatinya yang semakin sakit tiap kali ia terserang penyakit rindu.
Kyuhyun berusaha mencari dewinya melalui koneksi yang ia miliki, tapi mereka seakan tak berguna. Keberadaan sang dewi sudah tak terlacak. Mungkinkah dewinya telah kembali ke olympus? Apakah dewinya sudah kembali ke surga? Baek Choa bukanlah manusia fana, ia adalah jelmaan dewi yang turun ke bumi dan memporakporandakan kehidupan seorang Cho Kyuhyun. Bagi Kyuhyun, mengenal Baek Choa adalah sebuah hadiah dari Tuhan. Kehilangannya adalah kutukan. Apakah Tuhan mengambil kembali hadiahku karena aku memperlakukannya dengan buruk? Pikiran Kyuhyun sudah kacau. Ia meracau tak jelas sambil bersandar di kursi kebesarannya. Hari-hari ia lalui dengan bekerja, bahkan ia lupa jika ia masih memiliki rumah beserta isinya.
“Pikirmu bisa pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal? Tak peduli kau dimana, sejauh apapun dirimu, walaupun di belahan dunia lain kau akan selalu kubayangi.” Kyuhyun bertekad akan menemukan kembali dewinya, membawanya lagi turun ke bumi.
TBC
Maaf ya part-nya Kyuhyun pendek, hahahaha. Soalnya author masih nyimpan kejutan di part selanjutnya. Ditunggu aja ya, KHUSUS UNTUK PART-NYA KYUHYUN author kasih ekstra NC di next part hahaha

Fc Populer: