Uncommitted Part 8

0
ff nc Uncommitted Part 8 kyuhyun super junior Shinee
Author             : Red Blue
Title                 : Uncommitted Part 8
Category         : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast                 : Cho Kyuhyun
Shim Changmin
Lee  Jonghyun
Choi Minho
Han Rise
Baek Choa
Yoon Minhye
Kwon Rin
Part 8 ini terinspirasi dari banyak drama dan film yang nggak bisa author sebut satu-satu. Mulai dari yang romance sampai anime juga turut menyumbang ide. Hehehe. Maaf kalau telalu lama menunggu lanjutannya, 4 bulan lebih dikit nggak update cerita. Author lagi banyak jadwal operasi, sehari bisa operasi sampe 2-3 kali. Semoga part ini nggak mengecewakan. Happy reading ^^

Changmin’s Story
Changmin mengurungkan niatnya masuk ke kamar mandi. Ia berbalik, berjalan kembali ke ranjang. Changmin hanya mengenakan celana bahannya, tubuh atasnya ia biarkan telanjang. Changmin duduk di tepi ranjang, menghadap jendela. Ia menunduk, menjambak setiap helai rambutnya dengan frustasi. Suara pancuran air berhenti. Changmin sadar, jika gadis yang ia paksa tiduri kini sudah berdiri di belakangnya. Rise hanya mengenakan jubah mandi, rambut panjangnya basah, matanya masih berair. Siraman air tak menenangkannya sama sekali. Rise menatap punggung kokoh Changmin dengan nanar.
“Inikah yang kau inginkan?” Pertanyaan Rise menggoyahkan pertahanan Changmin. Pria itu semakin frustasi. Tapi Changmin tak berani menatap mata sang penanya. Changmin memilih menatap pemandangan kota di luar jendela.
“Rise-ssi.” Changmin angkat bicara, ia memantapkan hati menatap manik mata sedih Rise. Keheningan menyelimuti kamar itu. Perlahan Changmin melangkahkan kakinya.
“Jangan mendekat!” Seru Rise. Changmin berjalan selangkah mendekati Rise, tapi gadis itu mundur dua langkah menjauh dari Changmin.
“Kumohon jangan membenciku.” Bujuk Changmin, ia masih ingin mendekati tubuh gadis di hadapannya, namun ia juga takut jika sikapnya akan melukai Rise. Pria yang selama ini dikenal pemaksa, kini kehilangan kekuatan dan kekuasaannya di hadapan seorang Han Rise.
“Aku bukanlah yang kau inginkan.” Air asin semakin deras keluar dari mata indah kecoklatan Rise.
“Tidak, hanya kau yang kuinginkan.” Suara Changmin bergetar, ia benar-benar rapuh kali ini. Ia ingin meyakinkan Rise, jika ia bukan pria jahat meskipun ia selama ini terkenal licik dan brengsek.
*Rise POV on*
Apa maksudnya? Selama ini ia menginginkanku? Benar-benar menginginkanku atau hanya tubuhku? Citranya yang buruk benar-benar bias. Aku tak bisa percaya begitu saja. Akal bulusnya saat mengancamku dan memaksaku berbisnis dengannya memperburuk sudut pandangku terhadapnya. Aku ingin menghinanya saat ini, memakinya dengan keras dan lantang.
Tapi saat mendengar ia mengatakan selama ini menginginkanku, ada sedikit perasaan bahagia membuncah di sebagian kecil hatiku. Aku ingat pertama kali ia menciumku malam itu. Ciumannya lembut, aku bisa merasakan jika ia tak bermaksud jahat saat itu. Kalau kalian menanyakan, bagaimana aku bisa tahu jika ia tak bermaksud jahat, aku HANYA tahu. Intuisiku yang mengatakannya.
Shim Changmin yang kini di hadapanku, seperti tak bisa berbuat apa-apa. Ia kehilangan kekuatannya. Matanya berbicara, mata itu tampak frustasi. Aku ingin percaya, tapi aku juga ingin menjaga apa yang tersisa dalam diriku.
“Tinggalkan aku sendiri. Kumohon.” Akhirnya aku memilih opsi kedua. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari lidahku. Kubalikkan tubuhku menghadap pintu lemari yang ada di belakangku. Aku menatap cermin besar yang menempel di pintu lemari. Keadaanku sangat buruk. Mataku tak bisa berhenti memproduksi air mata.
*Rise POV off*
Changmin tahu jika ia tak bisa berbuat banyak. Ia memilih meninggalkan kamar itu. Changmin melangkahkan kakinya keluar kamar dengan enggan. Ia tahu, ia salah. Rise bukanlah wanita pertama yang ia sentuh. Rise juga bukan wanita pertama yang ia sakiti. Tapi Changmin merasakan sakit untuk yang pertama kalinya karena perbuatannya sendiri.
Rise sadar jika ia tak bisa pergi begitu saja dari kehidupan Changmin. Ia terikat hubungan bisnis bernilai ratusan jutaan won dan kontrak kerja samanya dengan Changmin adalah sah di hadapan hukum. Gadis itu menghadapi dilema. Ia ingin pergi, tapi tak punya tempat tujuan lain. Ia ingin membatalkan kontraknya, tapi ia sadar jika ia akan jadi satu-satunya pihak yang dirugikan. Rise memikirkan banyak kemungkinan, ia harus menetapkan pilihan.
Rise mengganti jubah mandinya dengan pakaian kasual. Gadis itu mengenakan celana jeans dan kemeja putih. Ia berjalan menuju pintu kamar, ia mengambil napas dalam-dalam. Rise harus berani, ia tak akan takut lagi. Rise keluar kamar dengan langkah mantap, ia melihat sosok Changmin berdiri di ruang tengah. Penampilan Changmin masih berantakkan, pria itu hanya mengenakan kaos putih polos dan masih mengenakan celana bahannya. Di tangan kanannya, ia memegang cangkir berisi kopi panas.
“Changmin-ssi.” Changmin tersentak saat namanya disebut oleh gadis yang sudah disakitinya. Ia berharap jika gadis itu sudah memaafkannya. Keduanya saling berhadapan, dalam jarak yang cukup jauh.
“Aku ingin menegaskan sesuatu.” Lanjut Rise. Ia berusaha memantapkan suaranya, mengangkat dagunya. Ia tak ingin terlihat tak berdaya karena ulah Changmin.
“Aku tak akan membatalkan kerja sama kita, aku juga tak bisa membatalkan kontrak ‘pasangan pesta’ kita.” Changmin masih memperhatikan apa yang akan diutarakan Rise selanjutnya.
“Setelah kejadian semalam, aku tak bisa membiarkanmu masuk ke apartemen ini seenaknya. Aku memiliki privasi, aku ingin kau menghargai privasiku. Kuharap kau tak kemari lagi. Aku akan mengembalikan apartemenmu, setelah pembangunan tokoku selesai. Oleh karena itu, aku akan mengganti password apartemen ini.” Tubuh Changmin menegang. Secara tidak langsung, Rise membangun benteng pertahanan. Gadis ini tak bisa menerimanya lagi, setidaknya untuk saat ini.
“Jika kau memiliki sesuatu yang penting dan perlu dibicarakan denganku terkait dengan hubungan kerja kita, sebaiknya bicarakan di kantor atau di tempat yang sudah ditentukan.” Rise memaksa agar tubuhnya tetap berdiri, meskipun ia bisa ambruk kapan saja. Changmin masih tak bergeming dari tempatnya.
Dalam hati Changmin, pria itu ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. Ia begitu menginginkan gadis manis nan sederhana yang ada di hadapannya. Tapi karena kebodohannya sendiri, ia malah menggali parit yang memisahkan keduanya.
“Sebaiknya kau pergi sekarang, aku harus bekerja.” Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Rise mencabik-cabik hati Changmin. Apakah aku sehina itu di matanya? Batin Changmin.
&&&
Rise melamun sepanjang hari di toko kuenya. Beberapa pelanggan ia abaikan. Otaknya sudah tak sinkron lagi. Hari itu ia menutup tokonya lebih awal, ia juga tak membuat kue sebanyak biasanya. Pukul 8 malam, kawasan Myeong-dong masih cukup ramai.
“Aku tak tahu, apa yang salah dengan diriku?” Rise berbicara sendiri selama menyusuri trotoar. Kakinya melangkah, entah kemana tujuannya. Yang jelas, gadis itu belum ingin pulang. Ia berjalan ke arah taman kota, tapi saat melihat taman itu dalam keadaan cukup ramai oleh pasangan muda-mudi, Rise mengurungkan niatnya.
Kakinya kembali melangkah. Ia menapaki setiap jalan di Myeong-dong. Bulan April, musim semi sudah tiba. Tapi udara masih cukup dingin, meskipun tak sebeku saat bulan Januari. Rise merapatkan jaketnya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket. Dari tempatnya berdiri, ia melihat warung tenda di pinggir jalan di dekat gang kecil.
“Mungkin sebotol soju bisa menemaniku malam ini.” Rise memilih untuk menghabiskan sejenak waktunya sebelum pulang. Warung itu tak begitu ramai, hanya tampak tiga pengunjung. Rise duduk di dekat etalase makanan. Ia memesan sebotol soju.
Gelas pertama. Ia minum habis sekali teguk. Gelas kedua. Ia tenggak sekaligus. Gelas ketiga. Gelas keempat. Tak terasa ia sudah menghabiskan sebotol soju. Rise masih sadar, ia belum mabuk. Ia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, masih pukul 9 malam.
“Immo, aku pesan sebotol soju lagi.” Pinta Rise. Botol keduanya sudah ada di atas meja. Saat botol keduanya sudah habis separuh, kesadarannya mulai goyah. Rise bukanlah peminum yang buruk, tapi toleransinya terhadap alkohol juga tak begitu tinggi.
Otak Rise mulai mereka ulang kejadian kemarin malam dengan Changmin. Rise menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap kejadian itu tak terlintas lagi di otaknya. Rise menenggak segelas soju lagi. Tangannya seolah bergerak sendiri. Ia mengambil ponsel dalam tasnya. Mencari nama Shim Changmin di daftar kontak. Menekan tombol ‘panggil’ berwarna hijau. Ia bisa mendengar nada sambung, tak lama kemudian sang pemilik suara menjawab panggilannya.
Yeobseyo.
“Selamat malam Changmin-ssi. Kuharap kau tak menungguku di depan apartemen. Aku sudah mengganti passwordnya, dan ku jamin kau tak tahu apa passwordnya. Hahahaha.”
Kau dimana?
“Hahahaha, kau juga tak akan tahu aku ada dimana. Kau pasti tak bisa menemukanku.” Rise sudah melantur, tertawa tidak jelas.
Kau sedang mabuk?
“Kau benar, Tuan Arogan. Hahahaha.”
Aku ingin kau pulang sekarang!
“Memangnya siapa kau? Kau tak bisa menyuruhku, aku berhak mengabaikan perintahmu!”
Katakan kau ada dimana?
“Setidaknya aku jauh dari jangkauanmu. Hahahaha.”
Tunggu disana, aku akan menjemputmu. Changmin menutup sambungan telepon secara sepihak. Ia merasa tak ada gunanya menanyai orang mabuk. Ia berinisiatif mencari Rise.
Rise memandang ponsel yang masih ada di genggamannya. Ekspresinya berubah, kesedihan mulai menjalari perasaannya.
“Brengsek! Memangnya kau bisa menemukanku?” Rise kembali berbicara sendiri. Otaknya sudah tumpul, matanya tak bisa fokus lagi. Alkohol sudah menguasainya.
Rise berniat menghabiskan sisa soju di botol keduanya. Belum sampai ia meminum gelas terakhirnya, Changmin sudah berada di warung tenda itu dengan tatapan geram. Rise tak menyadari kehadiran Changmin di dekatnya. Changmin membayar dengan uang puluhan ribu won. Jumlah yang terlalu banyak untuk dua botol soju. Bahkan pria itu tak memusingkan uang kembaliannya.
“Ayo pulang!” Changmin menarik tangan Rise. Tapi gadis itu masih mampu berontak, meskipun usahanya tak berarti.
“Lepaskan aku. Siapa kau?” Tanpa ba bi bu, Changmin menggendong Rise di punggungnya.
Changmin tahu, ia tak bisa mengantar Rise pulang ke apartemen yang ia pinjamkan. Tapi ia juga tak mungkin membawa Rise pulang ke rumah keluarganya. Kebetulan, Changmin hari itu diantar oleh sopir saat pergi ke kantor.
“Kita pulang ke apartemen di Samsung-dong.” Perintah Changmin pada sopirnya. Mobil sedan mewah Rolls Royce itu memecah jalan raya Myeong-dong yang cukup lengang. Selama 20 menit perjalanan, Changmin tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Rise yang kini sudah terlelap. Dua botol soju sudah membuatnya tak sadar. Changmin bisa melihat gurat kesedihan di wajah gadis yang ada di bahunya. Changmin menggenggam erat tangan Rise. Rasa bersalah kembali menghantuinya.
&&&
Apartemen milik Changmin di kawasan Samsung-dong memang tak sebesar seperti miliknya di Myeong-dong, tapi pemandangannya lebih indah. Changmin menggendong Rise ke dalam kamar utama. Meskipun apartemen itu jarang ia gunakan, tapi kondisinya selalu dalam keadaan bersih dan terawat.
Changmin merebahkan tubuh Rise ke atas ranjang. Changmin mengamati setiap jengkal wajah Rise yang memerah akibat mabuk. Rona merah di pipinya, membuatnya tampak cantik. Perlahan Changmin mendekatkan wajahnya ke wajah Rise, bibirnya mengecup bibir Rise. Kecupan ringan, tapi tak cukup. Changmin ingin lebih. Changmin mencium gadis tak berdaya itu dengan penuh hasrat.
“Eeuum.” Rise bersuara di tengah ketidaksadarannya. Ia mampu merasakan ada sesuatu yang lembab dan basah di bibirnya. Tangan Changmin mulai bergerak melepas kancing teratas kemeja Rise.
Bayangan Rise yang sedang menangis di bawah pancuran air terlintas di otak Changmin. Changmin kembali sadar, ia langsung menjauh dari tubuh Rise. Lutut Changmin lemas, tak mampu menopang tubuhnya lagi. Ia terduduk di lantai dekat ranjang. Changmin menyandarkan punggungnya di tepi ranjang. Kepalanya berdenyut.
*Changmin POV on*
Gadis ini mudah sekali membangkitkan gairahku. Aku ingin menyentuhnya, menggenggam tangannya, memeluk tubuh ringkihnya. Aku ingin, sangat ingin. Ia tak sama dengan wanita jalang di luar sana yang pernah aku tiduri. Dulu aku hanya sekedar ingin melepas nafsu binatangku, bahkan aku tak merasakan apapun saat mereka menahanku, menangis memohon di bawah kakiku. Lalu perasaan apa ini? Gadis ini bahkan tak berdaya untuk membuka matanya, tapi aku tak mampu menyentuhnya lebih jauh seperti yang kuinginkan.
Aku tak mampu berbuat apa-apa saat ia berusaha menjaga jarak denganku. Aku bukan aku, aku bukan Shim Changmin yang biasanya. Rasa bersalahku, menghantuiku sepanjang hari. Padahal kejadian itu baru sehari, tapi rasanya seperti sudah puluhan tahun aku menanggung penyesalan.
Jika ia ingin menjauh dariku, apakah aku bisa jauh darinya? Bahkan dalam jarak yang sedekat ini saja, aku tak mampu menolaknya. Aku sudah berkali-kali mencampakkan wanita, tapi tak pernah sesakit ini.
Tidak, aku takkan melepasnya lagi. Cukup sehari saja aku berada di neraka. Aku tak sanggup lagi disiksa oleh rasa bersalah. Aku akan membayar kesalahanku, bahkan jika itu harus memilikinya dan meninggalkan kehidupanku saat ini.
*Changmin POV off*
Changmin cukup lama duduk bersandar di tepi ranjang. Tak terasa sudah hampir pukul 2 pagi. Rise sudah berlayar di alam mimpinya, sama sekali tak terganggu dengan keberadaan Changmin. Changmin melepas sepatunya dan ikut tidur di sebelah Rise. Tidur dalam arti harfiah. Hanya tidur.
Changmin memeluk tubuh ringkih Rise, seperti keinginannya. Mengecup keningnya sebelum ia memejamkan mata. Keduanya tidur, berpelukkan, sama-sama dalam keadaan lelah. Lelah melewati hari yang panjang.
Matahari masuk melalui jendela kaca besar yang tak tertutup gorden. Sangat menyilaukan hingga mampu menembus mata dua sejoli yang masih rebah dengan nyaman di atas ranjang. Memaksa keduanya bangun.
Rise menyadari ada yang aneh dari posisi tidurnya. Hidungnya mencium sesuatu yang berbeda, aroma maskulin yang wangi. Bantal yang menopang kepalanya lebih nyaman dari bantal yang biasa ia gunakan. Perlahan Rise membuka matanya, silau sinar matahari menghalangi pengelihatannya. Rise menahan sinar matahari dengan tangannya, ia sadar jika ada orang lain yang tidur di sebelahnya. Seorang pria, lengannya tepat berada di bawah kepala Rise. Rise tahu siapa pria ini. Shim Changmin. Mereka tidur saling berhadapan, Changmin bahkan memeluk erat tubuh Rise. Rise segera mengintip ke dalam selimut, keduanya masih berpakaian lengkap. Hanya jaketnya yang tak lagi melekat di tubuhnya.
“Kau terlihat gugup.” Changmin angkat bicara, suaranya serak dan berat khas orang yang baru bangun tidur.
“Aku…takut.” Rise berkata lirih hampir tak terdengar. Ia benar-benar takut kali ini.
“Sudah seharusnya kau merasa begitu.” Changmin berkata dengan santai. Ia bisa merasakan tubuh Rise perlahan menjauh, dengan sigap Changmin menariknya ke dalam dekapan hangatnya.
“Belum lagi, kau suka memaksa.” Sahut Rise menyadari respon Changmin yang begitu cepat saat mendekapnya.
“Aku selalu mendapatkan semuanya dengan caraku.” Changmin menatap iris coklat Rise. Ia menatap mata itu lekat-lekat, berusaha meyakinkan jika ia tak ingin menyakiti gadisnya lagi. Changmin mendekatkan bibir tipisnya ke kening Rise. Gadis itu cukup terkejut dengan perlakuan Changmin.
“Aku tak tahu bagaimana meyakinkanmu, tapi aku bersungguh-sungguh.” Changmin kembali menatap Rise, jauh ke dalam matanya. Rise juga tak mampu berpaling dari mata pria yang kini mendekapnya. Gadis itu tak menemukan keraguan dan kebohongan di dalam mata Changmin.
“Aku menginginkanmu. Benar-benar menginginkanmu. Aku begini karena kau. Aku menghalalkan segala cara untuk memilikimu. Apapun penolakanmu, aku tak bisa terima. Lebih baik kau menyerah saja.” Changmin berbicara dalam sekali tarikan napas. Ia tak akan ragu lagi. Ia tak mau gadis di hadapannya membentangkan jarak lagi.
“Kau ingin menang sendiri.” Ucap Rise, sudut bibirnya sedikit terangkat. Changmin bisa melihatnya.
“Aku memang selalu begitu.” Kecupan ringan ia daratkan di bibir mungil Rise. Rise masih belum merespon, Changmin semakin giat menggerakkan bibirnya.
“Aku tak akan memaksamu untuk menerimaku.Tapi aku juga tak bisa melepasmu. Kau bebas menentukan hidupmu, tapi aku akan terus membayangimu.” Rise menatap tak percaya, seolah pendengarannya rusak.
Apakah pria ini tulus? Apakah ia mengatakan yang sejujurnya? Haruskah aku mempercayainya? Otak Rise sudah kusut. Berbagai pertanyaan memenuhinya, membuat kerja otaknya semakin berat.
“Selamat tinggal Changmin-ssi.” Rise menyentuh pipi pria di hadapannya dengan lembut. Menatapnya sayu. Ini adalah keputusannya, ia harus menata kembali hidupnya. Rise harus meyakinkan perasaannya. Apakah Changmin adalah pria yang tepat untuknya atau ini hanya sekedar perasaan sesaat? Perlahan Rise bangkit dari ranjang. Menjauhkan tangan Changmin dari tubuhnya. Changmin tak bisa bergerak. Ucapan selamat tinggal itu membiusnya. Kesadarannya belum terkumpul. Sedangkan gadis pujaannya sudah tak berada di kamar itu lagi, menghilang dari pengelihatannya.
&&&
Minho’s Story
Choi Minho berangkat bekerja lebih pagi dari karyawan yang lain, bahkan saat ia memasuki gedung perkantoran seorang cleaning service pun belum memunculkan batang hidungnya. Minho berangkat lebih awal karena ada pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan kemarin, tak ada yang istimewa hari itu. Tapi tidak untuk karyawan yang lain khususnya para pegawai pria. Tanpa sepengetahuan Minho, pagi itu Minhye ke kantor dengan pakaian kantor yang modis, rambutnya yang bergelombang digerai, helaian rambutnya menari saat diterpa angin. Kacamata yang selama ini menjadi topengnya tak lagi bertengger di atas hidungnya.
Minho berusaha bekerja lebih awal agar ia bisa berkonsentrasi dan segera menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Tapi bayang-bayang wajah Minhye saat mencapai puncak bersamanya kembali membuyarkan seluruh konsentrasinya. Minho melihat digital yang ada di atas mejanya, sudah pukul 8 pagi. Seharusnya Minhye sudah menunjukkan wajahnya di ruangan Minho untuk memberitahu segala kegiatan Minho hari itu. Minho menunggu, tapi hingga hampir pukul 8.30 Minhye tak juga muncul. Minho merasa diabaikan sebagai atasan, di sisi lain ia juga segera ingin bertemu dengan gadisnya.
Tok tok tok. Pintu berbahan kayu oak diketuk, seseorang masuk ke dalam ruangan Minho. Seorang wanita, memakai rok hitam selutut dan kemeja putih. Ia bukan Yoon Minhye. Minho mengerutkan kening saat tahu siapa yang mengetuk pintu ruangannya.
“Maaf pak, Minhye sunbaenim sedang ada perlu. Saya yang akan membacakan jadwal Anda hari ini.” Wanita itu adalah pegawai baru yang ditugaskan membantu pekerjaan para sekretaris. Di perusahaan Minho, setiap direktur memiliki sekretarisnya sendiri.
“Kemana Yoon Minhye?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Minho. Ia merasa harus tahu, kemana perginya sekretaris kesayangannya itu.
“Minhye sunbaenim sudah ada di kantor pak. Tapi ia sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan yang anda suruh kemarin.” Jawab pegawai wanita sabar.
Minho mengerutkan kening, ia memang memberikan beberapa pekerjaan pada Minhye, namun itu bukanlah pekerjaan yang mendesak dan harus segera diselesaikan. Apakah Minhye berusaha menghindariku? Apakah ini karena kejadian itu? Akhir-akhir ini dia memang kurang berkomunikasi denganku, tak seperti biasanya. Pikiran Minho kembali tak bisa fokus.
“Haruskah saya memanggil Minhye sunbaenim?” Ucap wanita itu membuyarkan lamunan Minho.
“Tak perlu. Bacakan saja jadwalku.” Wanita itu membacakan serentetan jadwal Minho, namun Minho kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.
Jadwal Minho tak seberapa sibuk jika dibandingakan dengan hari-hari lain. Ia ingin sejenak melepas penat, mungkin keluar sebentar bisa menyegarkan pikirannya. Minho mengambil kunci mobil berlogo kuda jingkrak di atas mejanya. Minho berjalan dengan santai di lorong kantornya. Ia bertemu beberapa karyawan yang sibuk bekerja maupun yang berlalu lalang mengantar laporan. Sepertinya para pegawai sedang menggosipkan sesuatu. Sesuatu yang Minho tak tahu. Minho menghampiri bilik kerja seorang karyawan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Apakah ada gosip baru hari ini?” Tanya Minho pada karyawan pria berusia 30an. Karyawan itu cukup kaget ketika Minho menampakkan wajahnya.
“E…itu. Saya pikir ada karyawan baru di kantor ini, karena ia sangat cantik, saya tak hampir tak mengenalinya. Ternyata ia adalah sekretaris Anda, pak. Yoon Minhye berubah, ia benar-benar cantik hari ini.” Pegawai pria itu tampak antusias saat membagi gosip yang beredar dengan Minho. Seolah tak ada rasa sungkan karena sedang membicarakan sekretaris bosnya.
Minho melengos begitu saja. Ia geram, rahangnya mengeras. Sorot matanya berubah, tak lagi memancarkan rasa jengah. Emosinya sudah di ubun-ubun. Berani-beraninya kau Yoon Minhye. Otak dan batin Minho sedang berkecamuk. Kau takkan selamat dariku, Yoon Minhye. Batin Minho.
Tadinya Minho ingin keluar kantor, kini merubah haluannya. Kakinya berjalan mengelilingi gedung, matanya memindai setiap tempat yang ia lihat. Tujuannya hanya satu, mencari Yoon Minhye dan menyeretnya ke dalam ruangan Choi Minho. Minho menanyai setiap karyawan yang ia temui, pertanyaannya sama ‘apa kau tahu dimana Yoon Minhye?’ dengan nada yang sama, penuh emosi, tegas, dan mengandung penekanan di setiap katanya. Setiap karyawan yang ia tanyai memancarkan rasa takut, mungkin mereka berpikir ‘semoga kau selamat Yoon Minhye’.
Lima menit mencari, akhirnya Minho menemukan Minhye sedang sarapan di pantry bersama beberapa karyawan. Informasi yang Minho dapat dari pegawainya ternyata benar. Hari itu Minhye terlihat cantik. Sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari pada saat di club. Minho masuk begitu saja ke dalam pantry, sehingga membuat karyawan yang ada di dalamnya terkejut.
“Yoon Minhye! Ke ruanganku. Sekarang.” Minho langsung pergi setelah mengucapkan titahnya. Tegas, penuh penekanan. Minhye yang tak tahu apa-apa, masih duduk terbengong. Namun ia segera mengekor di belakang Minho. Perasaannya tak enak.
Minho membukakan pintu untuk Minhye, dan menutupnya dengan keras. Jantung Minhye berdegup kencang. Ia tak tahu apakah atasannya sedang emosi karena dirinya atau pekerjaannya. Minho berjalan mondar-mandir sambil memijat pelipisnya. Minho mendekat, berdiri cukup dekat di depan Minhye. Saking dekatnya hingga setiap ucapannya bisa terdengar meskipun berbisik.
“Bukankah aku sudah memperingatkanmu, nona.” Bisikan Minho sarat akan kemarahan  yang tertahan. Bulu kuduk Minhye meremang.
“Jangan pernah menunjukkan pesonamu pada orang lain.” Rahang Minho kembali mengeras. Wajahnya merah padam terbakar emosi.
“Apakah kau ingin mengujiku? Kau tahu. Sangat tahu. Aku bukan pria penyabar.” Minhye hanya diam sedari tadi. Minhye cukup bernyali hari itu. Ia sembunyikan rasa takutnya. Ia kumpulkan seluruh keberaniannya untuk membantah Minho.
“Kau memang atasanku. Tapi ini kehidupan pribadiku. Kau bahkan bukan kekasihku.” Minhye berusaha menatap mata Minho dengan penuh keyakinan. Ia harus tampak yakin. Seolah kejadian kala itu tak berarti bagi Minhye.
“Aku memang bukan priamu. Tapi kau adalah wanitaku. Dan aku tak suka berbagi wanitaku dengan orang lain. Hanya aku yang boleh menikmati pesonamu.” Tangan Minho mencengkram erat bahu Minhye. Setiap emosi yang terluap, ia salurkan ke tubuh Minhye seolah menunjukkan jika ia tak main-main dengan ucapannya.
Minhye tak tahan lagi melihat wajah Minho, ia memalingkan mukanya, beralih menatap ujung sepatunya. Gadis itu tak tahu lagi apakah Minho bisa dipercaya. Sejauh yang ia tahu selama bekerja pada Minho, atasannya itu selalu berganti wanita tiap minggu. Kehidupan malam dan pergaulannya tak bisa dibilang baik. Minhye tak ingin menyerahkan hatinya pada pria yang salah.
“Saya harus kembali bekerja. Permisi.” Minhye melepas cengkraman tangan Minho di bahunya. Gadis itu bahkan tak berani menatap Minho saat berbicara.
&&&
*Minhye POV on*
Sudah hampir 3 tahun aku bekerja di Red Star dan hampir 3 tahun aku menjadi sekretaris Choi Minho. Ia adalah atasan yang tak terlalu buruk, meskipun tak bisa dibilang baik. Waktuku lebih banyak dihabiskan bersamanya, dari pada untuk diriku sendiri. Tentunya, dalam urusan pekerjaan. Aku sudah tahu setiap kebiasaannya, apa yang ia sukai, apa yang ia benci. Bahkan aku lebih baik dalam mengurusnya dari pada para ‘kekasih’ nya yang hanya bertahan tak lebih dari dua minggu.
Saat tahu jika ia suka bermain wanita, aku merubah penampilanku sendiri demi terhindar dari mata jelalatan milik bosku. Beruntung, aku memiliki pengelihatan yang buruk jadi aku membutuhkan kacamata. Aku jadi semakin kelihatan tak menarik di matanya, itu bagus. Semua usahaku sia-sia saat ia memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya. Tak tahu kenapa, aku senang saat diperlakukan bak seorang kekasihnya meskipun hanya pura-pura. Senyumnya yang polos seperti anak kecil, begitu membiusku. Sejak saat itu, setiap berdekatan dengannya walau hanya dalam radius 30 cm, aku tak bisa bernapas dengan normal. Jantungku bekerja ekstra. Ujung-ujung jariku dingin.
Apalagi sejak insiden itu. Meskipun saat itu aku mabuk, tapi aku bisa merasakan setiap jengkal sentuhannya di kulitku. Bisikan seduktifnya dan hembusan napasnya di wajahku, ah aku tahan lagi. Choi Minho benar-benar membuatku lupa diri. Aku sedih karena merasa diperlakukan seperti wanita-wanitanya yang lain. Aku takut jika ia akan membuangku saat ia sudah bosan. Tapi di sisi lain, aku menginginkan lebih dari ini.
*Minhye POV off*
Akhir pekan telah tiba. Saatnya Minho menemani neneknya ke acara amal. Sebenarnya Minho sudah muak dengan acara membosankan seperti ini. Tapi apa daya, melalui acara semacam ini ia mengeratkan ikatan bisnisnya.
“Apakah Minhye tak datang hari ini?” Nenek Minho seolah bisa membaca raut gusar dan gelisah di wajah cucunya.
“Kurasa tidak.” Minho menjawab sekenanya.
“Apa kalian sedang bertengkar?” Kali ini nenek Minho menunjukkan rasa ingin tahu sekaligus khawatir.
“Hubunganku dengannya…..sedang kurang baik.” Pengakuan akhirnya terucap dari mulut Minho.
“Seorang pria memang harus kelihatan tangguh dan kuat di hadapan semua orang. Tapi di hadapan wanitanya, pria juga harus menujukkan sisi lembutnya. Menunjukkan sisi lembut bukan berarti lemah, Minho-ya. Itu artinya kepedulian.” Nenek Minho mengusap punggung cucunya, menyentuhnya lembut.
Kepedulian? Apakah selama ini aku tidak peduli dengannya? Bagaimana menunjukkan padanya jika aku juga peduli? Rentetan pertanyaan muncul di benak Minho. Tubuhnya seperti mengalami panas dalam, rasa panas yang terpendam, ingin didinginkan tapi tak bisa.
“Bagaimana aku harus menunjukkan rasa peduliku?” Kepala Minho tertunduk, matanya tak bisa fokus. Kegelisahan semakin menjalarinya. Ia tampak seperti anak kecil yang sedang dijauhi teman-temannya.
“Tunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Jangan menutupi apapun darinya. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Nenek Minho meyakinkannya. Menguatkan cucunya jika Minhye adalah wanita baik yang layak diperjuangkan.
Semangat Minho mulai bangkit. Rasa percaya dirinya mulai kembali. Matanya menatap wajah wanita keriput di hadapannya seolah mengucapkan terima kasih.
“Aku harus pergi.” Minho menggenggam erat tangan keriput yang bertengger di bahunya.
“Pergilah.” Senyum neneknya cukup ampuh menghilangkan kegelisahannya sekaligus mengembalikan keberaniannya.
&&&
Minho meluncur dengan kecepatan tinggi, menunggangi Ferrari California miliknya menuju kawasan Hanam-dong, ke tempat tinggal Minhye berada. Minho mencengkram erat kemudi, menginjak pedal gas dalam-dalam. Begitu sampai di depan rumah Minhye, ia memarkirkan mobilnya dengan asal. Turun dari mobil dengan terburu-buru.
Ting tong…ting tong…ting tong. Sesampainya di depan pintu rumah Minhye, Minho menekan bel dengan tidak sabar. Seolah tiap detik berjalan sangat lambat, sang pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, Minho menyambar tubuh Minhye, memeluknya erat. Respon Minhye lambat, ia masih perlu waktu untuk mengolah apa yang sedang ia rasakan. Atasannya tiba-tiba muncul di depan rumahnya dan memeluknya erat. Minhye masih bingung, hingga ia tak balas memeluk Minho.
Minho melepas pelukannya. Ditatapnya gadis yang mengenakan kaos kebesaran dan sepotong celana jeans. Kedua tangan Minho menangkup kedua sisi kepala Minhye, diciumnya gadis itu dalam-dalam. Bibir Minho begitu giat menyesapi tiap milimeter bibir Minhye yang polos tak memakai lipstik. Minhye yang terkejut berusaha meronta, tapi saat ciuman Minho semakin dalam, gadis itu tak merasakan adanya ancaman dari sikap Minho. Minhye merasakan ada sesuatu yang lain dari sikap Minho kali ini. Minhye sekuat tenaga berusaha menyudahi pagutan bibir Minho. Ia mendorong tubuh Minho dengan kedua tangannya.
Bisakah ia mengatakannya lebih dulu? Bisakah ia mengatakan isi perasaannya? Hati Minhye mulai sakit jika ia kembali mengingat bahwa selama ini Minho tak kunjung mengungkapkan perasaannya. Minho yang ia kenal akhir-akhir ini, menyentuh tubuh Minhye semaunya, seolah Minhye adalah objek untuk melepas hasrat. Keyakinan Minhye, jika Minho juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, lenyap sudah.
“Maafkan aku. Maaf karena membuatmu terkejut.” Napas Minho terengah karena ciuman tadi.
“Apakah kau menyukaiku? Kau melakukan itu karena kau menyukaiku, benar kan?” Air mata Minhye lolos menuruni pipi lembutnya.
“Kau pikir aku sedang bermain-main?” Minho tak terima dengan tuduhan Minhye, seolah-olah Minho hanya mempermainkan Minhye.
“Kau tak pernah mengatakan sepatah kata pun.” Minhye masih tak mau kalah, ia berusaha memaksa Minho untuk membuat sebuah pengakuan.
“Sejak beberapa minggu yang lalu, saat aku pertama kali melihatmu melepas topengmu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku menyukaimu? Apa yang kusuka darimu? Kenapa aku menyukaimu? Apakah kau juga menyukaiku? Ada banyak pertanyaan di kepalaku.” Minho berbicara dalam sekali tarikan napas. Seorang Choi Minho akhirnya membuat pengakuan yang mampu menggoncang dunia Minhye. Minhye menatapnya tak percaya, ia ragu dengan pendengarannya sendiri.
Pria di hadapannya adalah nyata, apa yang barusan ia dengar juga nyata. Tapi sulit rasanya untuk mempercayai begitu saja ucapan Minho. Minhye berusaha mencari kebohongan di setiap ucapan Minho, menjelajahi mata Minho untuk mencari kebohongan. Tapi pria itu bahkan mengucapkannya tanpa keraguan.
“Aku HANYA menyukaimu. Tanpa alasan apapun. Aku menyukaimu.” Ucapan Minho melembut. Ia berusaha mendekati Minhye. Mengulurkan tangannya untuk memeluk gadis rapuh di hadapannya yang seolah siap ambruk kapan saja.
Apakah ia baru saja membuat pengakuan? Apakah ia baru saja mengatakan bahwa ia menyukaiku? Apakah perkataanya bisa dipercaya? Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Minhye. Ia bahkan tak bisa menghentikan air matanya yang justru keluar lebih banyak. Saat Minho selangkah mendekatinya, Minhye selangkah mundur berusaha menjauh dari jangkuan Minho.
“Keluar. Kumohon, keluar dari rumahku.” Ucapan Minhye lirih, tapi cukup kuat menghempaskan tubuh Minho ke dasar bumi.
Apa yang baru saja ia katakan? Pikir Minho, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apakah aku membuat kesalahan?
TBC
Sekali lagi, author minta maaf. Selama 4 bulan ini kondisi author nggak memungkinkan untuk nulis FF. Tapi author usahakan untuk melanjutkan FF ini sampe selesai. Kurang dikit lagi hehehehe, nanggung kalo nggak diselesaikan. Reader-nim yang sabar ya.
EMAIL

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: