Uncommitted Part 7

0
uncommitted ff nc kyuhyun
Author : Red Blue
Title : Uncommitted Part 7
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun
  Shim Changmin
  Lee  Jonghyun
  Choi Minho
  Han Rise
  Baek Choa
  Yoon Minhye
  Kwon Rin
Member Kyuline terakhir nih! Udah pada nunggu kan? Happy Reading ^^
Kyuhyun’s Story
Tik tok tik tok. Jam terus berdetak, jarum pendek berada di angka 11 dan jarum panjang ada di angka 12. Kyuhyun bangkit dari kursi kebesarannya, membenahi jasnya, mengambil gadget tablet dari atas mejanya. Kakinya melangkah membawanya ke ruang rapat. Siang itu agenda rapat dengan staf produksi akan dilaksanakan. Tak biasanya Kyuhyun secara pribadi memantau rapat itu. Siapa sangka jika otaknya telah dipenuhi sejuta rencana.

Perusahaan Kyuhyun bergerak di bidang penyiaran, ia memiliki stasiun televisi dan surat kabar serta majalah fashion. Sebulan yang lalu, stasiun televisinya memiliki program baru yaitu Fashion Killa. Sebuah acara kompetisi yang mengusung tema fashion dan desain. Desainer baru dan beberapa desainer senior mengikuti acara itu. Setiap minggu akan ada desainer yang ditantang untuk menunjukkan kemampuannya. Setiap ada desainer yang datang, akan ada desainer yang pergi. Tingkat keberhasilan desainer itu ditentukan oleh polling SNS. Mereka yang bertahan akan berlanjut ke tahap selanjutnya. Dan yang tersingkir, harus rela meninggalkan acara.
Hari itu, rapat membahas tentang siapa saja kandidat desainer yang akan dipilih untuk mengisi tempat yang kosong. Selama ini Kyuhyun tak pernah menghadiri rapat staf produksi. Namun ia memiliki misi tersendiri yang mengharuskannya hadir. Saat Kyuhyun menampakkan wajahnya di ruangan rapat khusus tim produksi berukuran 5×5 meter itu, para PD dan staf produksi lainnya tampak terkejut. Presiden direktur mereka muncul di ruangan sempit yang berisi 6 orang mengitari meja lonjong. Kyuhyun mengambil tempat duduk di ujung meja. Dengan penuh karisma, ia mulai membuka mulut.
“Aku kemari karena ingin tahu sejauh mana rencana kalian untuk keberhasilan program baru kita.” Ucap Kyuhyun membuka rapat hari itu.
“Kami cukup terkejut, tapi akan dengan senang hati mendiskusikannya dengan anda.” Balas salah satu PD. Ekpresi wajahnya tampak cukup gugup, senyumnya dipaksakan.
Kyuhyun mendengarkan dengan seksama setiap rincian dan detail konsep yang diutarakan oleh pemilik ide. Para screen writer dan PD sibuk memilih kandidat desainer untuk minggu selanjutnya. Hingga akhirnya Kyuhyun angkat bicara.
“Jadi kalian akan memasukkan 2 orang desainer baru?” Pertanyaan Kyuhyun dibalas dengan anggukkan pegawainya.
“Aku mengenal seorang desainer muda, ia baru saja pulang dari New York. Minggu lalu ia mengadakan peragaan busananya yang pertama.” Kyuhyun menjelaskan dengan detail siapa desainer yang ia maksud. Siapa lagi kalau bukan Baek Choa.
“Jika anda sendiri yang merekomendasikannya, pasti dia bukanlah desainer sembarangan.” Ucap seorang screen writer yang duduk bersebrangan dengan Kyuhyun.
Senyum puas mengembang di wajah tampan Kyuhyun saat ia keluar dari ruangan rapat. Rencana pertamanya berhasil. Baek Choa tak akan mampu menolak tawaran untuk tampil di acara baru namun cukup menarik minat penonton. Apalagi untuk desainer baru sepertinya, acara seperti ini tentu akan menaikkan pamornya sebagai desainer profesional.
                        &&&
Seminggu setelah rapat dengan para staf produksi, Kyuhyun mendapat kabar jika Baek Choa memberi konfirmasi untuk penampilannya di Fashion Killa. Ikan telah memakan umpan, kini tinggal menarik kailnya. Mood Kyuhyun sedang baik hari itu. Ia tak sabar menunggu hingga proses recording acara dua jam lagi. Kyuhyun menahan keinginannya untuk segera bertemu Baek Choa. Perasaannya gusar, kakinya sudah gatal ingin segera berlari ke studio.
“Tidak, aku harus bertahan. Mau kau taruh dimana harga dirimu jika kau menemuinya sekarang Cho Kyuhyun?” Kyuhyun merutuki dirinya sendiri. Kakinya sibuk bergerak-gerak di bawah meja. Setumpuk berkas di hadapannya hanya teronggok tak tersentuh. Kyuhyun lebih memilih bermain game di PSP yang selalu ia bawa. Kyuhyun bermaksud mengurangi kegelisahannya dengan menyelesaikan game yang baru ia unduh kemarin.
Benar saja, perhatiannya terlalu fokus pada game hingga lupa waktu. Untung saja ada yang mengetuk ruangannya sehingga perhatiannya teralihkan sejenak. Sekretaris Im, pria berusia 35 tahun, masuk dengan langkah mantap ke dalam ruangan Kyuhyun.
“Proses recording sudah dimulai pak. Apakah anda jadi ke sana?” Kyuhyun mendongak menatap pria di hadapannya.
“Tentu saja.” Akhirnya saat itu tiba juga. Kyuhyun merapikan jasnya, melangkah mantap menuju studio. Sebenarnya pria itu ingin tersenyum lebar hingga ke telinga saking senangnya. Tapi ia menahan keinginannya untuk tersenyum, wanita angkuh harus di balas dengan keangkuhan juga pikir Kyuhyun.
Setibanya di studio, Kyuhyun melihat seorang dewi sedang menggerakkan jemarinya di atas kain-kain indah yang membalut tubuh seorang model. Tubuh Kyuhyun menegang, gadis incarannya sangat cantik hari itu. Choa mengenakan dress hitam polos selutut dengan rambut tergerai lurus. Sederhana namun tak mengurangi kadar kecantikkannya. Jika saja sekretaris Im tak menyadarkan Kyuhyun, pria itu pasti terlihat bodoh dengan tampang penuh nafsunya.
Kyuhyun berjalan dengan penuh karisma sebagai tamengnya. Staf produksi cukup terkejut melihat Kyuhyun memantau kegiatan produksi. Mereka membungkuk hormat setiap kali Kyuhyun lewat di hadapan mereka. Kyuhyun menghentikan langkahnya di sebelah model yang sedang ditangani oleh Choa.
“Terima kasih telah merekomendasikan acara ini untukku, Kyuhyun-ssi.” Choa menatap Kyuhyun sejenak sebelum kembali beralih ke pekerjaanya. Nada bicaranya datar dan dingin, caranya menatap Kyuhyun seolah pria di hadapannya ini bukanlah siapa-siapa.
“Setelah melihat rancangan busanamu waktu itu, aku tahu kau orang yang berbakat.” Senyum tipis terulas di bibir Kyuhyun.
“Aku akan berusaha menunjukkan seluruh kemampuanku. Jika kau tidak keberatan, aku sedang berkonsentrasi dengan pekerjaanku.” Dingin, bahkan seorang Baek Choa berani mengusir Kyuhyun yang notabenenya adalah calon CEO Winner Group sekaligus pemilik stasiun televisi WBS secara halus karena ia merasa terganggu.
“Maafkan aku. Lanjutkan pekerjaanmu.” Kyuhyun pamit dengan sopan. Padahal di dalam hatinya ia sedang mengumpat habis-habisan. Niatnya untuk menunjukkan keangkuhan dan kekuasaan seorang Cho Kyuhyun di hadapan gadis incarannya hancur sudah. Justru gadis itu sudah menjatuhkannya secara telak.
Kyuhyun berjalan dengan langkah lebar-lebar kembali ke ruangannya. Rencananya hari ini kacau. Ia pikir, ia bisa sedikit ‘bermain’ dengan Baek Choa. Kyuhyun masuk ruangan setelah membanting pintu kantornya. Gadget tablet yang tadi ia bawa, kini sudah merana di atas lantai dengan lecet di beberapa sisinya.
“Sial! Aku tak pernah merasa terhina seperti ini.” Kini giliran PSP kesayangannya yang terbang ke udara dan berakhir mendarat di depan pintu. Emosi Kyuhyun memuncak. Dasi yang tadinya masih rapi melingkar di leher, kini sudah tergeletak di sofa yang ada di ruangan Kyuhyun.
Kepalanya berdenyut, paru-parunya bergemuruh, tangannya mengepal panas. Baru kali ini ada wanita yang menolak seorang Cho Kyuhyun, bahkan wanita itu bukanlah anak bangsawan maupun hartawan. Gadis itu tak punya kekuasaan, harusnya memiliki rasa takut terhadap pria berkuasa seperti Kyuhyun. Setelah kembali dari studio, mood Kyuhyun memburuk seharian. Hingga ponselnya bervibrasi, tanda pesan masuk. Rupanya itu kakao dari ShimChang di grup chatting Kyuline, Kyuhyun menamai kontak Changmin demikian. Minho ia namai MinMin, sedangkan Jonghyun ia beri nama Jjong-ie.
ShimChang: Sedang apa kalian?
Me: Sedang memikirkanmu ?
MinMin : Merindukanmu :* (emot cium)
Jjong-ie : Mati saja kalian berdua!
ShimChang : Nanti malam mari ke Hilarious, aku sudah gila seharian.
Me : Aku sudah gila sejak seminggu yang lalu.
Jjong-ie : Sejak kapan kalian waras?
MinMin : Hari ini saatnya aku menjadi anak baik-baik.
ShimChang : Minho-ya, tega sekali kau padaku. Apa kau sudah tak sayang padaku lagi?
Me : Saranghae ShimChang :*
Jjong-ie : Hhhh….kenapa aku harus terjebak dengan sekumpulan idiot ini?
Me, ShimChang, MinMin : Saranghae Lee Jonghyun :*  ? ? ? . ketiganya mengirim pesan yang sama secara bersamaan, seketika itu juga Jonghyun offline).
Tadinya Kyuhyun ingin bercerita tentang masalahnya, namun niat itu ia urungkan. Menggoda mereka akan lebih asik, batin Kyuhyun. Hanya dengan mengobrol dengan Kyuline di grup chatting sudah cukup membalikkan mood Kyuhyun. Tingkah ketiga temannya sudah mampu menghiburnya. Entah apa jadinya dunia Cho Kyuhyun tanpa mereka. Masalah pelik dan harus dihadapinya hampir setiap hari mampu mampu mengurangi tingkat kewarasan Kyuhyun. Bersama Kyuline, kewarasannya akan langsung hilang namun akan cepat kembali.
                                 &&&
Baek Choa berjalan dengan dagu terangkat ke atas, melangkah dengan anggun dan dibuntuti oleh asistennya yang senantiasa membawa-bawa tas besar berisi sketsa gambar. Gedung stasiun televisi WBS (Winner Broadcasting Station) milik Kyuhyun menjulang tinggi layaknya gedung pencakar langit. Hari itu adalah hari kedua proses recording yang harus Choa jalani. Seluruh mata memandang ke arahnya sejak gadis anggun itu berjalan masuk hingga mencapai pintu lift. Sebelum pintu lift tertutup, ada tangan besar yang menahan pintu. Kala itu, di dalam lift hanya ada Choa dan asistennya hingga akhirnya sang pemilik tangan besar itu ikut masuk ke dalam lift. Cho Kyuhyun, sang pemilik tangan besar itu menekan tombol 20, lantai di mana ruangannya berada. Tubuh Kyuhyun berada di depan Choa, pria itu bahkan tak menyapanya. Punggungnya kokoh bak dinding beton, menutupi tubuh Choa yang berada di belakangnya.
Ekspresi Choa yang mulanya datar, kini berubah masam. Bisa-bisanya pria ini tak menyapaku? Padahal kemarin terang-terangan ia mendekatiku, otak Choa dipenuhi pertanyaan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menyapa Kyuhyun dahulu. Lift berhenti di lantai 11, dimana studio untuk Fashion Killa berada. Choa berlalu begitu saja keluar dari lift. Saat pintu lift tertutup lagi, bau parfum gadis itu masih tertinggal di dalamnya. Kyuhyun yang sejak tadi mati-matian menahan napas, kini ia bisa bernapa lega. Bahkan untuk bernapas dan berbagi udara yang sama, Kyuhyun tak bisa melakukannya. Bukan karena gugup, tapi ia takut tak bisa menahan diri jika terlalu dekat dengan gadis itu. Black Flower dari Dame, parfum yang digunakan Choa, Kyuhyun bahkan tahu hingga sejauh itu. Aroma yang seksi, menerobos masuk lubang hidung Kyuhyun. Tak henti-hentinya ia menghirup udara yang telah terkontaminasi dengan wewangian itu.
“Sial!” Pikirannya semakin liar hanya karena mencium bau wewangian yang telah membaur dengan aroma tubuh Choa. Celananya semakin sempit di bagian terlarang. Begitu pintu lift terbuka, buru-buru Kyuhyun berjalan ke ruangannya. Begitu masuk ke dalam kantornya, ia langsung menuju kamar mandi, menyelesaikan panggilan hasratnya.
Hari berikutnya setelah pertemuan tak terduga di lift, Kyuhyun dan Choa bertemu lagi. Kali ini mereka bertemu di lobi. Kyuhyun memperlihatkan sikap arogannya, Choa tak mau kalah ia  menampakkan keangkuhannya. Sejak penolakan Choa waktu itu, Kyuhyun bersumpah bahwa ia akan pegang kendali permainan itu. Ia tak akan menunjukkan ketertarikannya pada Choa, sulit memang. Wanita seperti Choa tipikal wanita yang senang di puja, aku tak akan berlutut di hadapannya dengan sukarela, batin Kyuhyun. Aku Cho Kyuhyun, pandai bermain tarik ulur. Senyuman licik tergambar jelas di wajahnya saat ia berpapasan dengan Choa.
=Choa POV ON*
Tak kusangka akan bertemu dengannya lagi hari ini. Apakah gedung ini terlalu sempit untuk kami berdua? Kuangkat daguku, aku berjalan seperti biasanya. Tak akan kuperlihatkan ketertarikanku padanya. Pria itu berlalu begitu saja? Bahkan ia tak menatapku sama sekali. Dan berani-beraninya ia menyeringai seperti itu!
Sial! Ia bahkan terlihat tampan. Ah, tidak! Aku tak boleh melihatnya. Harga diriku sangat mahal untuk mengakui ketampanan Cho Kyuhyun. Jadi hanya sebatas itu ia mendekatiku? Cih, bahkan pria-pria di luar sana banyak yang mengantri untuk mendapatkanku. Baru kutolak beberapa hari yang lalu, kini ia sudah berjalan menjauh. Pria macam apa itu? Harusnya ia lebih menunjukkan usaha kerasnya. Tunggu, apakah aku barusan berharap jika ia mendekatiku lagi?
=Choa POV off=
Choa menggelengkan kepalanya, bahkan asisten yang selama ini setia mengekor, menatapnya heran. Sejenak Choa kehilangan fokus, sedikit demi sedikit pikirannya di penuhi bayang-bayang Kyuhyun. Kyuhyun menjaga jarak dengan Choa berlanjut hingga beberapa hari kemudian. Choa seperti kehilangan salah satu penggemar beratnya. Choa terbiasa dikejar-kejar oleh pria yang memujanya, tapi saat melihat Kyuhyun yang bahkan menatapnya saja tak sudi, harga diri Choa seperti diturunkan paksa.
Ketika Choa berhasil menjadi pemenang di episode perdananya dalam Fashion Killa, Kyuhyun memberinya buket besar mawar merah. Tentu saja Kyuhyun tak memberikannya secara langsung, tapi melalui sekretaris Im.
“Apakah ia menghinaku?” Choa mendesis marah, menatap asistennya.
“Sepertinya ia sibuk, jadi tak bisa memberikan ucapan selamat secara langsung.” Jawab asisten yang kira-kira lebih tua 2-3 tahun dari Choa.
“Bukan itu maksudku. Kemarin ia bahkan tak menyapaku sama sekali, bahkan ia tersenyum mengejek dan berlalu begitu saja. Lalu kini, ia mengirimiku bunga?” Suara Choa meninggi, untung saja di ruang tunggu artis itu hanya ada Choa dan asistennya. Gadis itu melepas sepatu hak tingginya, berjalan mondar mandir sambil berkacak pinggang dengan kaki telanjangnya.
“Eonni, bukankah ini keterlaluan? Jika ia ingin memberiku selamat sekaligus meminta maaf, seharusnya ia menunjukkan batang hidungnya di depanku!” Choa mendenguskan hidungnya, sisi lain seorang Baek Choa dibalik topeng keangkuhan telah terungkap.
Cho Kyuhyun pintar memainkan perannya sebagai pria yang senang tarik ulur. Jika kemarin ia memberikan sebuket bunga, hari ini ia memberikan setumpuk kekesalan pada Baek Choa. Kemarin ia bersikap manis, kini ia bersikap cuek. Choa kali ini tak bisa menahan amarahnya lagi. Selesai berdiskusi dengan tim produksi untuk Fashion Killa episode selanjutnya, Choa menghentak-hentakkan kakinya, berjalan cepat, dengan ekspresi muka yang mengerikan untuk dijelaskan. Choa cukup pintar untuk tahu dimana ruangan Kyuhyun, karena ia sudah bertanya dengan staf produksi.
“Apakah Cho Kyuhyun ada di dalam?” Choa berusaha sopan saat bertanya pada seorang wanita yang mejanya berada di depan ruangan Kyuhyun. Pegawai wanita itu mengangguk kaku, bahkan berkedip pun tak mampu. Aura jahat Baek Choa cukup membuat pegawai itu takut. Tanpa mengetuk pintu, Choa menyelonong masuk begitu saja.
“Cho Kyuhyun-ssi, apa maksud segala sikapmu?” Choa sudah berdiri di depan meja Kyuhyun. Nada bicaranya meninggi, dengan suara lantang ia menumpahkan uneg-unegnya yang berhari-hari ia pendam.
“Apakah kau Baek Choa? Dimana keangkuhanmu hari ini? Es di kepalamu sudah mencair dan mendidih ternyata.” Kyuhyun menjawab santai, matanya masih fokus pada laptop di hadapannya.
“Bersikap baik, berperan menjadi pria brengsek, lalu bersikap manis lagi, dan kini kau bahkan lebih buruk dari sekedar pria brengsek.” Kata-kata pedas meluncur begitu saja dari bibir seksi Choa. Penampilan cantiknya masih mampu membungkus wujudnya yang kini seperti penyihir jahat.
“Jadi, kau suka dengan segala perhatian yang kuberikan? Kau berharap aku bersikap manis padamu?” Pertanyaan Kyuhyun membuat Choa diam mematung. Lidahnya yang tadi tajam kini mendadak tumpul. Choa tak menyangka jika respon Kyuhyun tak seperti dugaannya. Choa tak siap dengan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan Kyuhyun menohoknya tepat di ulu hati. Sikap diam Choa dianggap ‘iya’ oleh Kyuhyun. Kyuhyun bangkit dari kursinya, menggulung lengan kemejanya sesiku. Berjalan mendekati gadis penyihir itu.
“Matamu berpaling, tapi tubuhmu tidak. Kita lihat, sejauh mana kau mampu bertahan.” Kyuhyun mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Choa. Bisikan provokatif dan seduktif serta seringai di mulut tebalnya menambah kadar keseksian Cho Kyuhyun.
Ya Tuhan, kenapa aku tak mampu mengontrol detak jantungku? Berkedip dan bernapas pun aku tak mampu. Tubuhku menolak segala perintah dari otakku. Pikiran Baek Choa berkecamuk. Otaknya memerintahkan gadis itu untuk menampar wajah tampan Kyuhyun, tapi kenyataannya ia bahkan tak bisa bernapas.
“Aku tahu, aku mampu mempesonamu. Tanpa kau mengakuinya.” Sedetik kemudian, Kyuhyun mendaratkan bibirnya di bibir merah Choa. Mengecupnya singkat. Kemudian ia menciumnya lagi lembut dan menggoda. Ciuman kedua menyadarkan Choa, tangan kanannya sudah melayang hendak menampar Kyuhyun yang lancang. Namun Kyuhyun menahan tangan Choa, lalu mengusapnya lembut.
“Jangan gunakan kekerasan untuk menyangkal isi hatimu. Tanganmu bahkan terlalu cantik untuk memukul pria brengsek sepertiku.” Kyuhyun mengusap tangan kanan Choa, matanya memandang tangan cantik itu. Kini tatapannya beralih tepat di pupil mata coklat Choa.
“Jika aku sudah menetapkan pilihanku, aku pasti mendapatkannya. Bersiaplah!” Kyuhyun membalikkan tubuhnya setelah selesai berbicara. Baru beberapa langkah, ia berhenti dan berbicara tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Choa.
“Pergilah, sebelum aku menerjangmu. Aku berusaha menahan diriku sendiri. Kau tahu? Ini sangat sulit.” Beberapa detik kemudian Choa sudah melangkah mendekati pintu. Choa kesal setengah mati. Jika sebelum masuk ke ruangan Kyuhyun ia mengeluarkan aura hitam, kini aura itu sudah memenuhi gedung. Asistennya bahkan tak berani mendekat.
                             &&&
Minggu kedua Choa sebagai desainer Fashion Killa semakin berat. Tidak hanya tantangan berat yang ia terima, tapi juga ia harus bertemu Kyuhyun setiap kali ia menjejakkan kakinya di gedung WBS. Tampaknya pria brengsek itu berusaha menampakkan dirinya di hadapanku. Apakah ia tak punya pekerjaan lain? Lagi-lagi, otak Choa dipenuhi oleh sosok Kyuhyun.
Hari itu, proses recording lebih lama dari biasanya karena setiap desainer harus menampilkan dua karyanya. Karena lamanya proses itu, staf produksi memberikan waktu istirahat untuk semua kru dan desainer serta para model. Tiba-tiba sekretaris Im datang, diikuti oleh beberapa orang membawa tas-tas besar.
“Presdir Cho mengirim makan siang untuk para staf dan desainer yang sudah bekerja keras hari ini, tolong dibagikan.” Dengan sopan, sekretaris Im menyerahkan tas-tas besar itu pada staf produksi. Lalu sekretaris Im berjalan mendekat pada Choa.
“Presdir Cho menitipkan ini untuk anda. Mohon diterima.” Sekretaris Im menyerahkan amplop putih yang berisi surat untuk Choa.
Lekas ke ruanganku jika kau telah membaca surat ini. Jika kau tidak berada di ruanganku dalam 5 menit, aku bisa lebih nekat dari sekedar menciummu. Haruskah aku melakukannya?
Choa meremas surat itu menjadi gumpalan kertas tak berguna. Gadis itu lelah secara mental dan fisik, lalu masalahnya bertambah karena Cho Kyuhyun. Rasa kesalnya meningkat berkali lipat dari sebelumnya.
“Eonni, aku sudah menyelesaikan 80% pekerjaanku. Sisanya, tolong kau selesaikan. Kau hanya perlu mengarahkan modelnya saja. Aku pergi sebentar.” Choa mengikuti langkah sekretaris Im yang berjalan lebih dulu darinya. Ia tak percaya jika ia sedang mengikuti permainan Kyuhyun.
Sekretaris Im mengantar Choa hingga ke depan ruangan Kyuhyun. Saat gadis itu akan membuka pintu, sekretaris Im pamit. Choa masuk ruangan Kyuhyun untuk kedua kalinya. Ia melihat Kyuhyun duduk santai di sofa menghadap makanan yang tertata rapi di meja.
“Duduklah. Aku sudah lapar.” Kyuhyun menepuk sofa, memerintahkan gadis itu untuk duduk di sebelahnya. Choa melangkah enggan menuju sofa.
“Mari makan!” Kyuhyun begitu bersemangat menyantap makan siangnya. Sedangkan gadis di sebelahnya hanya diam dan menatap makanan di depannya tanpa nafsu.
“Kau tak lapar?” Kyuhyun menurunkan mangkuk nasi dan sumpitnya. Meletakkan keduanya di atas meja. Seketika ekspresinya berubah. Mendadak atmosfernya menjadi tak nyaman untuk Choa. Tadinya gadis itu mengacuhkan Kyuhyun, kali ini ia harus menghadapi Kyuhyun meskipun enggan.
“Aku sedang berusaha bersikap halus padamu.” Nada suara Kyuhyun dingin, menggetarkan tubuh Choa yang sedari tadi diam tak merespon. Kyuhyun menggeser letak duduknya, mendekatkan diri ke tubuh Choa. Cukup dekat hingga hembusan napasnya hinggap di kulit gadis itu.
“Haruskah aku melakukan ancamanku?” Choa bergidik. Kyuhyun adalah pria tak terduga, Choa merasa was-was. Choa kini menatap Kyuhyun dengan tatapan ngerinya.
“Apa maumu?” Choa yang sedari tadi diam, kini angkat bicara.
“Temani aku makan. Menurutmu apalagi?” Ekspresi Kyuhyun sudah berubah lagi. Nada bicaranya melunak.
Kyuhyun bersikap manis siang itu. Berusaha mengajak Choa mengobrol meskipun gadis itu menjawabnya dengan ketus. Kyuhyun bahkan mengantar Choa kembali ke studio. Tentu saja, sikapnya itu menjadi bahan gosip di kalangan staf produksi yang kemudian menyebar di seluruh penjuru gedung WBS.
Berhari-hari kemudian gosip mengenai hubungan Kyuhyun dan Baek Choa belum mereda. Telinga Choa sudah panas. Kali ini Choa tak ingin diam saja apalagi menuruti permainan konyol Kyuhyun. Senja menjelang malam, proses recording telah selesai. Choa menyuruh asistennya untuk pulang terlebih dahulu. Ia bermaksud menyelesaikan urusannya dengan Cho Kyuhyun.
“Eonni, kau pulanglah dulu. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan si brengsek Kyuhyun.” Tanpa persetujuan asistennya, Choa menyambar tasnya dan berjalan tak sabar ke ruangan Kyuhyun. Seperti dugaannya, pria itu belum beranjak dari kursi kebesarannya. Padahal hampir sebagian pegawainya sudah bersiap untuk pulang.
“Kau sengaja menyebarkan gosip tentang hubungan kita?” Nada bicara Choa terkesan tidak terima. Kyuhyun masih berkutat dengan setumpuk berkas di tangan kanannya, dan segelas kopi di tangan kirinya.
“Memangnya kita memiliki hubungan apa?” Tanya Kyuhyun santai, masih menyesapi aroma harum kopinya. Kyuhyun pandai membuat Choa kehabisan kata-kata.
Pria brengsek ini benar. Memangnya aku punya hubungan apa dengannya? Batin Choa. Gadis itu diam, ia kembali dihadapkan pada pertanyaan tak terduga. Kyuhyun meletakkan cangkir kopi dan lembaran kertas di tangannya. Ia berjalan mendekati Choa.
“Apakah hubungan yang seperti ini?” Pria itu sudah mendaratkan bibirnya di bibir seksi Choa. Jantung Choa harus bekerja ekstra, lensa matanya tak bisa fokus. Kakinya membatu tak bisa digerakkan. Kyuhyun asik mengecap setiap milimeter bagian bibir Choa. Ciumannya lembut, sikap Kyuhyun tak menandakan adanya bahaya. Choa perlahan memejamkan matanya. Kyuhyun menyadari jika gadis itu mulai menikmati tubuhnya. Pegangan Kyuhyun di pinggang Choa semakin erat, salah satu tangannya merangkak naik menekan tengkuk Choa untuk memperdalam ciumannya.
Choa yang bertubuh lebih pendek dari Kyuhyun harus mendongakkan kepalanya saat berciuman. Seperti berada di jalan tol, keadaan ini justru dimanfaatkan Kyuhyun menuruni leher Choa dengan bibir tebalnya. Tubuh Choa merespon positif perlakuan Kyuhyun, sedangkan otaknya memerintahkannya untuk berhenti. Saat bibir Kyuhyun menggigit lembut telinga Choa, saat itu juga otak gadis itu berhenti bekerja.
“Aaah.” Desahan pertama Choa lolos begitu saja saat Kyuhyun menjilat bagian belakang telinganya. Tangan Kyuhyun sudah menemukan pintu surganya, resleting dress biru langit itu dibukanya secara perlahan. Jemari Kyuhyun sudah menari-nari di punggung telanjang gadis itu. Kemudian berlanjut meloloskan gaun selutut itu begitu saja. Kyuhyun kembali memagut bibir gadis dalam rengkuhannya penuh hasrat, mereka bertukar saliva. Saling mengigit gemas bibir pasangannya. Kyuhyun mengangkat tubuh ramping Choa, melingkarkan kedua kaki gadis itu di dipinggangnya. Langkah Kyuhyun tertuju pada ranjang di balik pintu cermin besar yang berada di sebelah meja kerjanya. Ternyata di balik pintu geser itu ada ruangan yang berisi ranjang dan lemari besar. Kyuhyun sengaja tak menyalakan lampu ruangan pribadinya itu. Ruangan itu hanya diterangi cahaya matahari senja yang perlahan menghilang di cakrawala. Kyuhyun menghempaskan tubuh Choa ke ranjang besar berseprai putih. Ciuman mereka tak terlepas, bahkan saat Kyuhyun melepas dasi dan kemejanya.
“Aaah.” Desahan kedua keluar saat Kyuhyun mencoba mengigit leher Choa. Tangan Choa yang tadinya pasif, kini sudah menjelajah di tubuh berotot Kyuhyun. Meraba setiap lekukan otot padat sempurna pria yang ia anggap brengsek itu. Tangan Kyuhyun sudah bekerja lagi, kini giliran bra putih yang menempel di dada Choa yang jadi sasarannya. Tak begitu sulit untuk seorang Cho Kyuhyun melepas pengait bra itu. Pemandangan di hadapan Kyuhyun membuatnya takjub. Leher Choa seakan tidak mampu memuaskan bibirnya. Giliran dada gadis itu yang ia terkam. Kyuhyun seperti bayi lapar, ia menghisap, mengecap, bahkan menggigit puncak gunung kembar itu.
“Aaaah….ah.” Tatapan Choa menggelap. Matanya terpejam menikmati setiap sentuhan. Tangan cantiknya merayap di punggung Kyuhyun. Tiap kali Kyuhyun mengenai titik sensitifnya, tangan Choa meremas kuat punggung Kyuhyun. Desahan yang keluar dari mulutnya semakin panjang.
Entah sejak kapan, tangan kiri Kyuhyun sudah berada di pangkal paha Choa. Dan sejak kapan, celana dalam gadis itu sudah tergeletak di lantai. Kyuhyun benar-benar seorang profesional. Sang gadis bahkan tak menyadari jika tubuhnya sudah polos. Sedangkan celana Kyuhyun masih berada di tempatnya. Kyuhyun membuka lebar kedua paha Choa, memposisikan diri di atas tubuh gadisnya, menikmati setiap lekuk indah tubuh polos gadis itu. Saat Kyuhyun kembali menyesapi dadanya, Choa merasakan sesuatu yang keras milik Kyuhyun yang masih terbalut kain hitam di pangkal pahanya. Nafsu Kyuhyun sudah memuncak, berada di ubun-ubun. Buru-buru ia lepaskan celananya sendiri berikut boxernya. Miliknya sudah menegang keras, siap bertempur. Choa merasakan bahaya sudah mendekat saat Kyuhyun menempelkan tubuhnya pada gadis itu. Kesadaran Choa akhirnya kembali. Saat Kyuhyun siap mengarahkan miliknya ke dalam tubuh Choa, gadis itu juga bersiap untuk kabur. Namun, refleks Kyuhyun lebih cepat darinya. Tak ada singa yang melepaskan buruannya, tak peduli secepat apapun buruan itu berlari.
“Sudah terlambat.” Kyuhyun mencengkram kedua pergelangan tangan Choa yang hendak kabur. Pria itu lapar, Kyuhyun sudah membuka pembungkus makanannya, mencium aroma sedapnya. Sedetik kemudian, Kyuhyun menancapkan miliknya di dalam tubuh gadis itu.
“Aaaarrgh!!” Choa mengerang, ada sesuatu yang keluar meleleh di pangkal pahanya. Kyuhyun sadar jika ia telah membuka kotak pandora milik Choa. Milik Kyuhyun lah yang menjadi kuncinya. Kyuhyun menunggu reaksi Choa, saat gadis itu mulai bernapas teratur lagi Kyuhyun mulai bergerak perlahan. Rasa sakit yang melanda pangkal paha Choa perlahan sirna. Kenikmatan yang tak bisa dijelaskan menghilangkan rasa sakitnya.
“Akh…akh.” Choa mendesah, bibir Kyuhyun kini beralih kembali ke dada gadis di bawahnya. Tangan besarnya yang tadi menahan kedua tangan Choa, kini sudah beraktivitas lagi di dada Choa. Leher, dada, bibir, telinga sudah ia jelajahi dengan bibirnya namun Kyuhyun tak pernah bosan.
Kyuhyun menaikkan kecepatannya secara signifikan. Rupanya ia sudah benar-benar tak bisa menahan diri. Hujaman-hujamannya menyentuh tepat titik rangsang Choa. Gadis itu tak henti-hentinya mendesah kenikmatan dengan permainan Kyuhyun. Apalagi saat milik Kyuhyun mengenai titik rangsang Choa, gadis itu mendesah lebih keras, Kyuhyun semakin kesetanan bergerak brutal.
“Aaaakh…aaaaakh.” Tubuh gadis itu berguncang karena gerakkan Kyuhyun yang semakin cepat. Peluh mulai menetes dari dahi Kyuhyun. Napas pria itu memburu, begitu juga Choa. Tangan Choa kini memegang bahu Kyuhyun, meremasnya kuat tiap Kyuhyun menghentakkan miliknya. Kyuhyun terus bergerak, kini desahan juga keluar dari mulutnya.
“Akh. Inih..nikhmath.” Kyuhyun semakin menggila. Tubuh Choa membuatnya bergerak membabi buta. Tangannya meremas kuat dada Choa, mulutnya kembali bermain dengan puncak dada gadis di bawah kuasanya itu.
“Akuh..akh….takh..kuath lagih.” Choa hampir sampai di pelepasannya. Kyuhyun menghujamnya lebih dalam lagi. Pria itu juga hampir sampai. Choa meremas bahu Kyuhyun kuat-kuat.
“Aaaaaaakhhh….hhhh.” Choa melenguh panjang, diikuti Kyuhyun. Bagian kecil dari tubuh Kyuhyun menancap sempurna dan meledak di dalam tubuh gadis itu.
“AAAAAAKH.” Akhirnya Kyuhyun merasakan ledakan hasrat yang selama ini ia tahan. Kyuhyun ambruk di atas tubuh ramping gadis itu. Napasnya terengah, peluh membasahi tubuh berototnya. Choa sudah kembali pada kesadarannya. Kini gadis itu diam seribu bahasa, memalingkan wajahnya dari Kyuhyun.
“Matamu berpaling, tapi tubuhmu tidak.” Kyuhyun kembali mengucapkan kalimat itu, sama persis seperti yang pernah ia ucapkan beberapa hari yang lalu.
“Setelah ini kau akan semakin kesulitan menghentikanku.” Kyuhyun menghembuskan napasnya di telinga kanan Choa. Gadis itu seketika meremang. Apakah Kyuhyun mengajakku bermain lagi? Pikir Choa.
TBC
Kurang panas? Kurang puas? Kurang apa? Keluarkan isi kepala kalian lewat komentar-komentar tentang part ini. Siapa tahu bisa author jadikan bahan tulisan untuk part selanjutnya. Gomawo

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: