Uncommitted Part 6

0
Uncommitted Part 6 ff nc kyuhyun minho jonghyun shinee super junior
Author : Red Blue
Title : Uncommitted Part 6
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun
  Shim Changmin
  Lee  Jonghyun
  Choi Minho
  Han Rise
  Baek Choa
  Yoon Minhye
  Kwon Rin
3 part sebelumnya udah muncul 3 cast utama, kalian pasti sudah tahu siapa lagi yang akan muncul setelah Jonghyun’s story.
Happy Reading! ^^

Jonghyun’s Story
Gadis itu monster berbalut kostum peri. Pesonanya adalah perangkap yang sangat lengket sehingga tidak memungkinkan mangsanya untuk lari. Suaranya lembut bak beledu, adalah umpan untuk memancing agar mangsanya mendekat. Itulah yang dipikirkan oleh seorang Lee Jonghyun tentang Kwon Rin.
Jonghyun mengusap wajahnya kasar. Malam itu, setelah ia makan siang dengan Kwon Rin, ia tak bisa tidur nyenyak. Matanya tak mau terpejam, otaknya dipenuhi oleh bayang-bayang wajah antusias gadis itu. Telinganya berdengung, samar-samar ia bisa mendengarkan suara gadis itu.
“Argh! Monster itu sudah menjebakku. Aku tak boleh jatuh dalam pesonanya.” Jonghyun bangkit dari ranjangnya. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Setelah meletakkan gelasnya, ia berniat untuk kembali ke kamar. Namun sejenak ia berhenti di depan ruang kerjanya.
“Ini lebih baik dari pada tak bisa tidur.” Jonghyun bergumam pada dirinya sendiri, ia melangkahkan kakiknya masuk ke ruang kerjanya.
Meskipun pekerjaannya tak terlalu banyak, Jonghyun mengerjakan pekerjaannya untuk seminggu ke depan. Benar-benar seorang workaholic. Setidaknya ia bisa menghilangkan bayang-bayang Kwon Rin dari otaknya. Jam digital di atas mejanya sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Tak terasa sudah dini hari, namun pria dingin itu belum didera rasa kantuk. Ia berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk.
Jonghyun berjalan ke arah balkon di luar ruang kerjanya. Ia membuka pintu balkon, udara sejuk musim semi di pagi hari. Jonghyun menghirup udara dalam-dalam, memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin di kulitnya. Bayangan monster itu muncul lagi dengan senyum termanisnya. Sial. Monster itu muncul lagi dan aku masih tak bisa tidur, batin Jonghyun. Ia terlihat frustasi.
&&&
Sudah 3 hari sejak mereka bertemu, Lee Jonghyun tak bisa tidur nyenyak. Ia hanya tidur 6 jam selama 72 jam. Ia terlihat seperti panda, lingkaran hitam di matanya tak bisa ditutupi. Karena kurang tidur, ia sering kehilangan konsentrasi saat bekerja. Jonghyun berniat untuk menghubungi teman-temannya. Ia mengirim pesan singkat di grup chatting mereka. Tak disangka, pesannya dibalas dengan cepat oleh teman-temannya. Minho ia beri nama Choi Minus di daftar kontaknya, Changmin ia panggil Min-ie, sedangkan Kyuhyun ia sebut Kyu-nim.
Me: Ayo makan siang, aku lapar
Choi Minus: Hei! Ini belum jam makan siang!
Kyu-nim: Aku sedang rapat, tapi otakku masih tertinggal di kasur.
Min-ie: Nafsu makanku sudah hilang.
Choi Minus: Aku sedang tak ingin makan siang dengan kalian. Aku sudah punya teman makan siang hari ini, lagi pula kita akan tampak seperti sekelompok pria homo jika terus keluar bersama.
Me: Brengsek!
Kyu-nim: Pergi saja kau ke neraka, Choi Minho!
Jonghyun mengakhiri obrolan mereka begitu saja. Sepertinya ia memang tak bisa mengandalkan teman-temannya untuk membunuh rasa bosannya. Terlintas di pikirannya sebuah ide. Ia menyambar kunci mobil di atas mejanya. Ia keluar dari ruangannya dengan langkah terburu-buru. Sebelum pergi meninggalkan kantor, ia sejenak berhenti di ruangan sekretarisnya, Paman Yoonjae.
“Aku akan pergi sebentar, jika ada yang mencariku kau saja yang mengurusnya.” Tanpa persetujuan dan balasan dari sekretarisnya, ia langsung menghilang begitu saja dari hadapan pria paruh baya itu.
Pria berwajah keras itu kini menatap pintu masuk Sungwon Hospital dari dalam mobilnya. Hari itu hari Kamis, Kwon Rin bekerja shift pagi di hari tersebut. Setiap hari Kamis, gadis itu akan bernyanyi dan memainkan gitarnya untuk pasien anak-anak. Itulah alasan Jonghyun pergi ke rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Jonghyun melepas dasi abu-abunya dan mengambil gitar di bagasi mobil.
Tepat seperti perkiraannya, Kwon Rin telah duduk manis di depan belasan pasien anak-anak di paviliun rawat anak. Jonghyun melangkah mantap dan duduk tepat di sebelah Kwon Rin. Gadis itu diam melongo tak percaya dengan manusia tampan yang ada di sebelahnya sambil memangku gitar.
“Kau ingin memainkan lagu apa?” Tanya Jonghyun langsung pada intinya, tak mempedulikan jika gadis di sebelahnya masih diam mematung menatap ke arahnya.
“Penontonmu sedang menunggu.” Jonghyun menjentikkan jarinya di depan wajah Kwon Rin. Kesadarannya telah kembali, gadis itu sejenak berpikir. Ia memainkan lagu milik IU ‘Good Day’.
Anak-anak cukup senang hari itu, apalagi pasien anak perempuan. Tak henti-hentinya mereka ingin mendekati Jonghyun. Bahkan ada yang bertanya apakah Jonghyun sudah punya kekasih. Ada juga yang mengajukan dirinya menjadi kekasih Jonghyun. Wajah polos dan tingkah anak-anak itu membuat Jonghyun gemas. Ia meladeni setiap permintaan dan pertanyaan anak-anak. Sisi yang sangat berbeda dari seorang Lee Jonghyun. Setelah anak-anak itu kembali ke ruangannya masing-masing, Jonghyun mendekatkan dirinya pada Kwon Rin. Jonghyun melihat jam yang bertengger di tangan kirinya.
“Hari ini jam 11 siang, aku telah jatuh padamu.” Caranya menatap Kwon Rin penuh dengan dominasi dan intens. Tangan kanannya meraih pinggang Kwon Rin mendekat ke tubuhnya. Jonghyun masih menatap setiap lekuk wajah gadis itu, mengamatinya inchi demi inchi. Bibirnya meraup bibir tipis milik Kwon Rin. Ciumannya dalam dan sarat akan keinginan yang lebih. Ciuman itu sepihak, Kwon Rin masih diam mematung otaknya masih mencerna apa yang sedang terjadi.
Jonghyun menghentikan aktivitas bibirnya, ia menarik wajahnya. Mengamati setiap ekspresi gadis yang kini berada dalam kuasanya. Hati dan pikiran Lee Jonghyun sangat bertolak belakang. Otaknya memerintah untuk menjauhi monster berbalut kostum peri yang kini ada dalam dekapannya. Hatinya mendorong tubuhnya untuk bertindak impulsif, hingga pria dingin itu kini memeluk Kwon Rin posesif. Kesadaran Kwon Rin sudah kembali, ia menatap Jonghyun. Terlihat jelas jika gadis itu takut dengan tatapan penuh dominasi Lee Jonghyun.
“Aku tak mengenalmu.” Gadis itu bicara tergagap, suaranya lirih.
“Tak apa, aku mengenalmu.” Jawab Jonghyun singkat, kharismanya sebagai pria benar-benar akan menggoyahkan setiap pertahanan wanita.
“Maaf. Aku tak suka pria yang dingin.” Kwon Rin masih berusaha menolak Jonghyun dengan halus. Gadis itu takut jika ia dilukai atau disakiti oleh pria yang baru ditemuinya dua kali.
“Tak apa, aku menyukaimu.” Mendengar jawaban Jonghyun, Kwon Rin kehabisan kata-kata. Ia tak tahu harus menolak dengan cara apalagi. Jonghyun masih belum melepaskan tangannya dari pinggang Kwon Rin. Mata mereka saling bertemu. Mata Kwon Rin memancarkan ketakutan dan rasa ingin tahu di saat bersamaan. Sedangkan Jonghyun, tatapannya penuh intimidasi, raut mukanya tetap datar.
“Pastikan kau menjauhkan dirimu dari setiap pria selain aku.”
“Ne?” Kwon Rin seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia ditangkap oleh indra pendengarannya. Apakah pria ini sedang mendeklarasikan kepemilikannya? Batin Kwon Rin.
“Jika kau ingin mengenalku lebih jauh, kau bisa memanfaatkan teknologi yang bernama internet.” Jonghyun mengecup ringan bibir Kwon Rin sebelum melepaskan dekapannya. Ia mengambil gitar kesayangannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
“Aku harus kembali bekerja. Terima kasih untuk hari ini.” Pria itu kembali meninggalkan Kwon Rin begitu saja. Setelah Jonghyun berjalan cukup jauh, Kwon Rin seperti orang kebakaran jenggot.
“Whoa! Dia pikir, dia itu siapa? Sejak kapan aku setuju menjadi kekasihnya? Ini hidupku, aku bisa mengaturnya sendiri!” Kwon Rin marah-marah, kakinya menendang udara, tinjunya terangkat. 
&&&
Keesokkan harinya, Jonghyun menjemput Kwon Rin di rumah sakit. Hari itu, Kwon Rin bekerja shift pagi, jadi ia pulang lebih sore. Gadis itu berjalan menuju tempat parkiran sepeda, ia tak menyadari jika Jonghyun sudah berdiri di dekat sepedanya terparkir. Kwon Rin tampak terkejut saat ia melihat pria di hadapannya.
“Jonghyun-ssi.”
“Aku kesini untuk menjemputmu.” Jonghyun memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana. Ia berbicara dengan nada datar, penuh rasa arogan. Bahkan ekspresi mukanya tak menampakkan keramahan.
“Maaf, tapi aku bisa pulang sendiri.” Kwon Rin buru-buru berjalan mendekati sepedanya. Gadis itu tak berani menatap Jonghyun saat berbicara. Seakan ia ingin kabur dari pria di depannya. Jonghyun menahan tangan Kwon Rin saat gadis itu akan mengambil sepedanya. Lalu ia menarik tubuh Kwon Rin mendekat, hanya menyisakan jarak beberapa centimeter. Kepalanya menunduk, matanya menatap gadis yang kini ketakutan lekat-lekat.
“Jangan membuatku mengulang perkataanku sendiri. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan padamu.” Jonghyun tak suka mendengar penolakan Kwon Rin. Nada bicaranya penuh penekanan. Tanpa menunggu persetujuan Kwon Rin, ia menyeret gadis itu ke tempat mobilnya terparkir.
“Lepaskan aku! Kumohon lepaskan aku.” Kwon Rin terus meronta, pergelangan tangannya hampir lepas dari tempatnya karena Jonghyun menariknya begitu kuat. Jonghyun tak menghiraukan Kwon Rin. Saat akan membuka pintu mobil untuk gadis itu, Jonghyun menatapnya tajam dan ekspresinya penuh ancaman.
“Aku tak bermaksud jahat sejak awal. Jika kau ingin kulepaskan, tenanglah dan ikuti aku.” Nyali Kwon Rin menciut. Aura Jonghyun sangat gelap. Selama di perjalanan gadis itu hanya diam saja, bahkan hanya untuk bernapas saja ia sangat berhati-hati agar tak menimbulkan suara. Perjalanan itu cukup singkat, hanya selama 10 menit dari rumah sakit. Mobil Jonghyun memasuki halaman rumah mewah dengan pilar-pilar besar bergaya Yunani. Halaman rumah tertata cantik, lampu-lampu taman berbentuk klasik menambah keindahannya. Jonghyun menghentikkan mobilnya di depan pintu masuk rumah. Dimana aku? Pikir Kwon Rin. Ia benar-benar ketakutan karena dipaksa ikut dengan pria yang tak dikenalnya.
“Kau di rumahku. Ayahku ingin bertemu denganmu.” Jonghyun seakan tahu apa yang sedang dipikirkan gadis ketakutan yang duduk di sebelahnya. Jonghyun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Kwon Rin.
“Kau seharusnya mengatakan itu dari tadi. Tak perlu menyeretku seperti ini.” Kwon Rin mendengus kesal, melepaskan sabuk pengamannya dengan enggan. Setelah turun dari mobil, matanya mengamati setiap detail halaman istana milik Jonghyun.
“Ayo masuk, kau bisa jalan sendiri kan?” Dengan langkah ragu-ragu Kwon Rin mengikuti Jonghyun masuk ke dalam rumah.
* Kwon Rin POV on*
Benar-benar besar rumah ini. Apa pekerjaannya? Aku yakin dia adalah bos mafia. Jika dilihat dari sikapnya, mungkin ia adalah mafia kelas kakap. Berapa pelayan yang ia miliki? Sedari tadi kuperhatikan, mereka sibuk mondar-mandir sambil membawa mangkuk dan piring berisi penuh makanan.
Tak henti-hentinya aku berdecak kagum. Rumah ini benar-benar besar! Gayanya klasik, sangat Yunani, bahkan tubuhku tak mampu memeluk pilar yang ada di depan rumahnya. Apalagi lampu kristal yang menggantung di atasku ini sangat cantik. Ku hirup napas dalam-dalam, baunya enak. Aku bisa mencium bau kare, daging panggang entah itu steak atau bukan. Ah, bau makanan ini mengguncang perut kosongku.
*Kwon Rin POV off*
“Kau sudah datang rupanya.” Sapa pria paruh baya, ayah Jonghyun, pada Kwon Rin. Lee Namgyu muncul dari belakang tubuh Kwon Rin, gadis itu tak menyadari kehadiran pria paruh baya itu. Lee Namgyu tampak cukup sehat, meskipun harus berjalan ditopang oleh tongkat yang ia pegang di tangan kanan.
“A..anyonghaseyo.” Kwon Rin tergagap karena merasa terkejut. Dekorasi rumah itu terlalu cantik, Kwon Rin bahkan tak sadar jika Jonghyun membawanya ke ruang makan.
“Apakah anakku bersikap kasar padamu?” Ucap Lee Namgyu ramah.
“Anniyo.” Senyuman Kwon Rin tergurat paksa di bibir tipisnya.
“Aku sangat ingin bertemu denganmu. Duduk dan buatlah dirimu nyaman. Mari kita makan malam bersama.” Lee Namgyu, pria itu sangat ramah pada gadis yang pernah merawatnya meskipun sehari. Mereka berdua mengobrol selama makan malam berlangsung. Gadis itu merasa nyaman mengobrol dengan ayah seorang pria dingin dan kasar seperti Jonghyun. Mereka berdua benar-benar berbeda, batin Kwon Rin. Apakah vampir ini benar anak Tuan Lee Namgyu? Otak Kwon Rin mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan aneh sejak masuk rumah itu.
Jonghyun tak pernah melepaskan tatapan matanya dari Kwon Rin. Pria itu menangkap setiap ekspresi dan yang terpahat di wajah Kwon Rin. Seakan berusaha memasukkan setiap hal yang berhubungan dengan gadis itu sebagai memori. Tatapannya menggelap saat gadis itu tertawa renyah dan menampilkan eyes smile nya, rahang Jonghyun mengeras. Seolah pria itu siap menerkam Kwon Rin kapan saja. Jonghyun berusaha menahan dirinya, hanya berada di dekat gadis itu Jonghyun merasa ada api yang membakar tubuhnya. Tubuhnya panas, tenggorokannya kering, namun ia berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Ayah Jonghyun sadar jika ada yang salah pada anaknya.
“Jonghyun-ah. Kau kenapa?”
“Aku baik-baik saja. Sebaiknya aku melanjutkan pekerjaanku.” Jonghyun beranjak pergi dari ruang makan menuju kamarnya. Jonghyun berjalan dengan langkah lebar-lebar. Seolah ia ingin segera menjauh dari sisi Kwon Rin.
&&&
Jonghyun ingin mendinginkan kepalanya di bawah kucuran air. Pria itu berlama-lama di kamar mandi, ia merasa air saja tak cukup untuk mendinginkan kepalanya. Jonghyun mengusap wajahnya frustasi. Sehabis mandi, ia mengenakan sepotong celana jeans dan kaos oblong putih polos favoritnya. Ia berjalan menuju ruang kerjanya dan samar-samar dapat mendengar pembicaraan ayahnya dengan Kwon Rin.
“Menginaplah di sini. Aku masih ingin mengobrol lebih banyak denganmu besok pagi.” Lee Namgyu memaksa Kwon Rin dengan halus.
“Maaf, tapi aku harus pulang. Terima kasih atas makan malamnya.” Jonghyun yang mendengar itu langsung mendekati keduanya.
“Aku akan mengantarnya pulang.” Lee Namgyu dan Kwon Rin tampak terkejut dengan kemunculan Jonghyun di tengah-tengah mereka. Jonghyun berjalan kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Sebelum keluar kamar, ia mengetik nama Choi Minus di daftar kontaknya.
“Minho-ya, aku ingin memesan salah satu kamar di hotelmu.” Ternyata Jonghyun menelepon Minho. Ia berbicara dengan nada memerintah.
Apakah aku tampak seperti petugas resepsionis hotel? Kata Minho tak terima. Jonghyun hampir saja marah dan mengumpat namun ia menahannnya.
“Cepatlah, aku tak punya banyak waktu.”
Arrasso! Akan kukirimkan alamatnya padamu! Sahut Minho ikut tersulut emosi.
Tak lama kemudian, ponsel Jonghyun menampilkan pesan singkat yang berisi alamat salah satu jaringan hotel milik Minho. Ia tersenyum licik, wajahnya menampakkan ekspresi kepuasan. Setelah memasukkan ponselnya ke saku celana, ia bergegas keluar kamar.
“Akan kuhabisi monster itu. Ia telah melakukan kesalahan sejak awal, karena ia telah membangkitkan setan.”
Selama di perjalanan, Jonghyun mengemudi dalam diam sedangkan Kwon Rin menahan dirinya untuk tidak bersuara lantaran pria di sebelahnya terlalu menakutkan. Jonghyun perlahan meningkatkan kecepatan mobilnya, gadis itu memekik memegang sabuk pengamannya erat-erat. Ia sekilas melirik Jonghyun, pria itu seolah bukan Lee Jonghyun. Tatapan matanya berbeda, raut mukanya dingin. Ia seperti melihat vampir sedang mengemudikan mobil. Belum hilang rasa paniknya, gadis itu semakin takut saat Jonghyun membawanya ke parkir basement sebuah hotel. Pria itu menariknya keluar dari mobil, menyeretnya masuk ke dalam hotel.
“Aku tak akan menyakitimu, aku hanya ingin bicara.” Jonghyun berjalan dengan langkah lebar-lebar, gadis dengan tinggi 162 cm itu harus setengah berlari mengikuti Jonghyun. Tangan besar Jonghyun menggenggam pergelangan tangan Kwon Rin erat. Gadis itu hampir jatuh saat mereka berdua berhenti di depan lift. Sesampainya di depan kamar yang Jonghyun pesan sebelumnya, pria itu mengeluarkan kartu untuk membuka pintu kamar hotel.
Kwon Rin dipaksa masuk ke dalam kamar, lalu ia menatap Jonghyun bingung. Apa yang ingin ia bicarakan sampai harus membawaku ke hotel? Pikir Kwon Rin penasaran. Pria itu berjalan mondar mandir di depannya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu tampak frustasi. Jonghyun mengerang kesal. Ia menatap gadis di belakannya. Jonghyun berjalan mendekat, kedua tangannya meraih bahu Kwon Rin.
“Jo…Jonghyun-ssi” Kwon Rin tergagap saking takutnya dengan tatapan membunuh Jonghyun.
“Jelaskan padaku! Kenapa kau selalu menggodaku?” Jonghyun mencengkram bahu gadis itu kuat-kuat. Kwon Rin merasa tidak pernah menggoda Jonghyun, ia pun ikut tersulut emosi.
“Aku tak pernah menggodamu. Lepaskan aku!” Kwon Rin menepis kasar tangan Jonghyun. Ia tak terima dengan tuduhan Jonghyun, bahkan nada bicaranya meninggi.
“Kalau begitu berhentilah tersenyum dan berbicara! Suara dan senyumanmu sangat menggodaku.” Kwon Rin yang tadinya sempat memberontak, kini ia terdiam seribu bahasa. Mulutnya bergerak namun tak ada suara yang keluar. Apa maksud pria dingin ini barusan? Pikir Kwon Rin. Jonghyun perlahan melangkah mundur menjauhkan tubuhnya dari Kwon Rin. Kepalanya menunduk menatap ujung sepatunya. Bahkan seorang Lee Jonghyun yang terkenal kasar dan dingin tak berani menatap mata coklat bening milik Kwon Rin.
“Larilah sejauh yang kau bisa. Aku sedang berusaha menahan diriku untuk tidak menyentuhmu.” Jonghyun berbicara lirih, namun perkataannya cukup keras hingga sampai di telinga Kwon Rin. Entah apa yang dipikirkan Kwon Rin, gadis itu justru berjalan mendekat ke arah Jonghyun. Ia seakan tak mempedulikan peringatan pria itu.
“Aku benar-benar tak mengerti. Tolong jelaskan padaku Jonghyun-ssi.” Suara Kwon Rin melembut. Perlahan ia melangkah maju, tangannya terangkat seolah berusaha menggapai Jonghyun. Gadis itu merasa tidak takut lagi, ia yakin jika Jonghyun bukanlah orang jahat. Saat Jonghyun mendengar suara lembut Kwon Rin, pandangan matanya menggelap. Dagunya terangkat, menatap gadis manis yang mengabaikan peringatannya. Saat Kwon Rin berada dalam jangkaunnya, ia merengkuh tubuh gadis itu, menempelkannya pada tubuhnya sendiri. Memangkas jarak, hingga tidak ada sela diantara mereka. Kwon Rin tercekat, matanya terbelalak menatap Jonghyun. Rasa takutnya muncul lagi tapi tak sebesar yang sebelumnnya.
“Sudah kubilang jangan menggodaku! Aku sudah memperingatkanmu. Kini aku sudah tak bisa menahannya lagi.” Hembusan napas Jonghyun menyapu wajah mulus Kwon Rin karena saking dekatnya jarak mereka. Sedangkan Kwon Rin hanya menatap lurus ke dalam mata elang Jonghyun, mencari sebuah jawaban.
“Sekuat apapun kau ingin berhenti, tapi aku tak akan berhenti.” Ada penekanan di setiap kata yang terucap dari bibir Lee Jonghyun. Sedetik kemudian, tangan Jonghyun meraup kedua sisi kepala gadis di hadapannya, mencium Kwon Rin dalam, panas, dan menuntut. Beberapa detik kemudian tangan kanannya berpindah menahan pinggan gadis mungil itu, sedangkan tangan kirinya menekan tengkuk Kwon Rin.
Postur tubuh Jonghyun yang tinggi, memaksa Kwon Rin untuk berjinjit. Awalnya hanya Jonghyun yang aktif, kini gadis itupun membalas ciuman Jonghyun. Jonghyun perlahan mendorong tubuh gadis itu menuju ranjang king size. Kwon Rin membalas ciuman itu karena ia ingin mencari jawaban dari bibir pria dingin itu. Namun gadis itu tak menyadari jika pria itu justru menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Sekilas terlintas perkataan Jonghyun ‘Sekuat apapun kau ingin berhenti, tapi aku tak akan berhenti’ di otak gadis itu. Tamat riwayatmu, Kwon Rin! Kata hati kecil gadis itu.
Kwon Rin terhempas ke atas ranjang, ciuman mereka terlepas. Jonghyun seketika itu juga melanjutkan aktivitas panasnya, bibirnya kembali menikmati bibis tipis Kwon Rin. Kwon Rin terengah-engah kehabisan oksigen, Jonghyun yang menyadari hal itu menurunkan bibirnya untuk menjelajahi leher jenjang gadisnya. Merasa kerah kemeja Kwon Rin mengganggu aktivitasnya, Jonghyun membuka tiga kancing teratasnya hingga terekspos bahu gadis itu.
“Eungh.” Tanpa sadar keluar desahan dari bibir tipis Kwon Rin. Merasa jalannya terbuka lebar, kini giliran tangan Jonghyun yang menjelajah menelusuri perut ramping Kwon Rin perlahan meraba ke bagian dada. Tangan besar itu berhenti di dua gundukkan kenyal, berukuran tidak terlalu besar namun terasa pas di genggaman pria itu. Tangan kanannya berusaha meremas dada yang masih terbungkus itu, tangan kirinya sibuk membuka kancing kemeja Kwon Rin.
“Eungh…aah.” Desahan gadis itu kembali terdengar. Jonghyun sadar jika Kwon Rin sudah masuk ke dalam permainannya. Jonghyun mempercepat pergerakan tangannya untuk melepas kemeja biru laut dan bra gadis itu. Tubuh bagian atas Kwon Rin sudah polos, bra merah marun dan kemejanya sudah tergeletak di lantai. Tangan Jonghyun semakin liar, ia tak bisa berhenti memainkan dada indah Kwon Rin. Mulutnya tak bisa berhenti menyesapi setiap jengkal kulit leher dan dada gadis itu seolah kulitnya dilapisi oleh kokain, membuat Jonghyun ketagihan. Tak puas dengan tubuh bagian atas saja, kini Jonghyun berusaha melepas pelindung tubuh bagian bawah Kwon Rin. Tanpa usaha terlalu keras, celana bahan gadis itu sudah tidak di tempatnya lagi. Perlahan, tangan besar Jonghyun meraba bagian luar celana dalam Kwon Rin, menekankan jari-jarinya.
“Aaakh.” Desahan gadisnya benar-benar memabukkan Jonghyun.
Jonghyun kesetanan. Tangan kiri Jonghyun berusaha menopang tubuhnya, tangan kanannya sudah beralih menelusup masuk ke dalam pertahanan terakhir Kwon Rin, mengoyak pusat tubuh gadis tak berdaya itu dengan memasukkan dua jarinya sekaligus. Jonghyun berhenti mengecap dada Kwon Rin, sejenak ia pandangi wajah gadis yang berada di bawah kuasanya. Rona merah di wajah itu membuat Jonghyun menelan ludah. Tampak seksi dan cantik. Pikiran kotor Jonghyun semakin tak terkontrol. Ia lepas celana dalam Kwon Rin dan pakaiannya sendiri secepat kilat. Senjatanya sudah tegak teracung siap berperang. Setiap jengkal wajah, leher hingga dada Kwon Rin kembali ia ciumi. Menyesapi lagi setiap feromon yang menguar. Jonghyun mengarahkan pusat tubuhnya ke lubang kehidupan Kwon Rin, perlahan namun penuh penekanan. Kwon Rin tersentak, memekik setengah menjerit tertahan saat milik Jonghyun baru separuh masuk ke dalam tubuhnya. Jonghyun sadar jika gadis itu kesakitan, ia mendorong sekuat tenaga memaksa masuk sepenuhnya. Jika ia melakukannya dengan perlahan, Jonghyun berpikir bahwa ia akan semakin menyakiti gadisnya.
“Aaargh.” Pekikan Kwon Rin memenuhi kamar hotel. Ia merasakan sesuatu yang keras, memenuhi miliknya. Tanpa menunggu adaptasi terlebih dahulu, Jonghyun menggerakkan miliknya perlahan semakin lama semakin cepat.
“Aaakh…akh..akh..akh.” Desahan seolah menjadi bahasa utama untuk keduanya. Rasa sakit yang tadi menjalar di bagian kewanitaannya, berubah menjadi kenikmatan tak terbayangkan. Jeritan yang tadi sempat terdengar kini berubah menjadi desahan dan lenguhan tertahan. 
Bibir Jonghyun tak bisa berhenti menyusuri dada dan leher gadis itu. Bercak kemerahan sudah mendominasi kulit putih Kwon Rin. Sejak awal permainan itu dimulai, Jonghyun hanya diam. Ia menggigit bibirnya setiap kali ia merasakan kenikmatan. Hanya suara napas terengah yang keluar dari mulutnya. Desahan-desahan lembut Kwon Rin membuat Jonghyun semakin menggila.
“Akh..akh..akh.” Desahan pendek keluar setiap kali Jonghyun menambah kecepatannya. Peluh membasahi dahinya dan tubuh Kwon Rin. Tangan Kwon Rin menggapai bahu Jonghyun, meremasnya kuat-kuat.
“Akh…akuh…sudahhh takh kuath lagih.” Kwon Rin sudah hampir meledak. Jonghyun semakin mempercepat gerakannya. Bibir dan miliknya semakin brutal bergerak. Jonghyun sadar jika ia juga hampir tiba. Hujaman demi hujaman menyiksa kewanitaan Kwon Rin, bukan rasa sakit yang didapat namun puncak kenikmatan yang ingin ia raih. Jonghyun semakin mempercepat gerakannya.
“AKH..AKH.” Desahan sudah berganti menjadi teriakan. Setengah berteriak lebih tepatnya. Kwon Rin sudah tak tahan lagi, ia ingin memuntahkan magmanya.
“Eeeeugh…aaaaaakh.” Lenguhan panjang tertangkap indera pendengaran Jonghyun. Kwon Rin telah merasakan pelepasan pertamanya. Beberapa detik kemudian disusul oleh Jonghyun.
“Aaargh.” Jonghyun memejamkan matanya, menikmati setiap momen pencapaiannya. Keduanya terengah, napasnya pendek-pendek berusaha memasukkan oksigen sebanyak mungkin.
Kesadaran gadis itu telah kembali, Kwon Rin memalingkan mukanya, ia tak mau menatap wajah Jonghyun yang masih berada di atasnya. Jonghyun masih bertengger di atas tubuh gadisnya, menikmati setiap keindahan yang ada di bawah tubuhnya.
“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Setelah ini, kau tidak akan pernah bisa lari lagi.” Jonghyun mendekatkan mulutnya ke telinga Kwon Rin. Seketika itu Kwon Rin bergidik ngeri.
&&&
Kyuhyun Story
“Hm…jadi namanya Baek Choa, kuliah di Institute of Arts New York karena beasiswa. Ayahnya seorang pelukis, ibunya seorang pengusaha garmen. Punya seorang kakak perempuan yang sempat kuliah dengan Ahra nuna di NYU.” Kyuhyun membaca hasil observasi orang suruhannya. Tangannya membuka lembar demi lembar, matanya bergerak cepat membaca setiap informasi.
Sejak pertemuannya dengan Baek Choa malam itu, Kyuhyun merasa jika gadis itu bukanlah seorang yang mudah dijumpai. Dari luar, gadis itu terkesan angkuh namun tak menghilangkan sifat anggunnya. Siapa sangka jika gadis angkuh itu bukan berasal dari kalangan atas seperti keluarga Kyuhyun. Kyuhyun salut, dibalik keangkuhan gadis itu ternyata Baek Choa menyimpan segudang bakat dan potensi yang mengantarkannya pada Institute of Arts New York. Kau berhasil karena usahamu, aku suka pada wanita yang tangguh, batin Kyuhyun.
Kyuhyun sering bertemu dengan wanita cantik dari kalangan menengah ke atas yang suka memamerkan harta mereka tapi akan tebar pesona di depan Kyuhyun. Namun baru kali ini ia menemui wanita yang bahkan tak melihat Kyuhyun sebagaimana wanita-wanita lain menginginkan Kyuhyun. Gadis normal mana yang tak tertarik dengan Cho Kyuhyun? Muda, kaya, mewarisi perusahan surat kabar dan memiliki stasiun televisi. Tidak dengan Baek Choa. Gadis itu seakan tahu Kyuhyun tipe pria yang suka bermain wanita.
=Flash Back On=
“Choa-ya!!” Seru Cho Ahra saat menghampiri teman lamanya di pesta usai peragaan busana malam itu. Mereka berpelukan erat dengan raut wajah sumringah melepas kerinduan. Keduanya tampak seru bercengkrama, mengenang saat-saat mereka masih di New York. Kyuhyun hanya memperhatikan keduanya dari balik punggung kakaknya.
“Kenalkan ini adikku yang paling tampan, Cho Kyuhyun.” Kyuhyun mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkukkan badan.
“Baek Choa imnida.” Gadis itu membalas jabatan tangan Kyuhyun dengan halus dan khas gaya wanita terhormat. Menampakkan keangkuhannya. Tatapan mata keduanya bertemu. Sejak awal gadis itu mengenal Cho Ahra, ia seolah tahu jika adik temannya itu terbiasa hidup mewah dan bertemu dengan wanita-wanita cantik. Baek Choa tak ingin jatuh dalam pesona Cho Kyuhyun, ia tak ingin hanya menjadi pemanis semalam seorang pria seperti itu. Keangkuhan yang Choa tunjukkan adalah tameng agar Kyuhyun tak mendekatinya. Tapi tak cukup ampuh untuk Kyuhyun jika ia sudah menunjukkan taringnya.
=Flash Back off=
Perkenalan dan percakap yang hanya sejenak itu mengantarkan Kyuhyun pada targetnya. Target sudah ditetapkan, observasi sudah dilakukan, kini saatnya amunisi disiapkan. Kyuhyun siap berperang. Tatapan angkuh Baek Choa menjadi pemantiknya. Sikap jual mahal gadis itu menjadi minyaknya. Kyuhyun sudah terbakar, obsesinya semakin besar seiring kobaran api di dada kirinya.
“Tinggal menunggu waktu, aku seorang Cho Kyuhyun. Apa yang tidak bisa kumiliki?” Tantangan sudah ditentukan. Deklarasi perang sudah diumumkan. Serangai khas seorang Cho Kyuhyun terukir di bibirnya.
TBC
Gimana? Kurang greget? Silahkan tinggalkan jejak kalian. Segala ide atau komentar author terima dengan senang hati. Usahakan idenya yang kreatif ya, siapa tahu di part selanjutnya bisa terwujud beneran hahaha

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: